Haji dan Arab Saudi

pelayanmekah

Sebagai rukun Islam yang kelima, menunaikan haji menjadi dambaan setiap muslim di seluruh dunia. Walaupun membutuhkan biaya yang tidak sedikit, animo kaum muslimin untuk menyambut  panggilan ilahi ini tetap besar. Setiap tahunnya, jumlah jemaah haji dari berbagai negara yang mengunjungi dua tanah suci semakin besar, termasuk Indonesia. Jumlah ini belum ditambah dengan jemaah umrah yang hilir mudik, silih berganti memadati Masjidil Haram setiap harinya, terutama di bulan Ramadhan yang hampir mirip dengan jumlah jemaah haji. Betapa besar upaya dan kesungguhan Arab Saudi dalam melayani para tamu Allah yang datang dari berbagai penjuru dunia itu.

Fluktuasi Jumlah Jemaah Haji

Tahun 2014 yang lalu Arab Saudi memprediksi bahwa jumlah jemaah haji dalam sepuluh tahun terakhir adalah 24,8 juta. Jumlah terbesar terjadi pada tahun 2012. Saat itu, 3,16 juta jemaah haji dari seluruh dunia memadati kota Makkah. Pada tahun 2014, sejumlah 2,1 juta jemaah haji dari seluruh dunia kembali membanjiri Arab Saudi. Dari angka-angka tersebut, jemaah haji Indonesia merupakan jemaah terbanyak.

Jika diprosentase, jumlah jemaah haji Indonesia adalah 21 persen. Peringkat kedua disusul jemaah haji Pakistan. Jumlah di atas dipastikan akan terus meningkat dengan adanya proyek perluasan Masjidil Haram yang sudah menjadi sebuah tuntutan. Wajar, bila sampai tahun 2020 mendatang jumlah total jemaah haji dan umrah diperkirakan mencapai angka 80 juta. Jumlah yang sangat besar, bukan? Jumlah ini adalah angka yang luar biasa. Sebab, terjadi kenaikan yang sangat besar pada jumlah jemaah yang mengunjungi tanah suci dalam kurun seratus tahun terakhir. Data resmi pemerintah Arab Saudi memperlihatkan pada tahun 1920, jumlah jemaah haji dari seluruh dunia hanya 60 ribu orang saja.

Minat Umat Islam Meningkat

Ada beberapa sebab yang menjadikan jumlah jemaah haji semakin membengkak. Tentunya, penyebab utama peningkatan kuantitas jemaah haji adalah semakin tingginya kesadaran beragama umat Islam. Perkembangan teknologi transportasi yang memberikan kemudahan dan kecepatan perjalanan juga menjadi faktor penentu. Hal lain yang tidak kalah menentukan adalah bagusnya pelayanan Arab Saudi terhadap jemaah haji. Faktor inilah yang menjadikan orang yang sudah pernah berkunjung ke tanah suci kembali datang untuk yang kesekian kalinya. Apalagi bagi jemaah yang sama sekali belum pernah berkunjung.

Proyek Masjidil Haram

Permintaan penambahan kuota, baik haji maupun umrah, dari semua negara terus berdatangan. Melihat kenyataan ini pemerintah Arab Saudi berusaha melakukan renovasi perluasan kawasan Masjidil Haram. Tujuannya tidak lain adalah agar jemaah haji, tamu-tamu Allah, bisa mendapatkan pelayanan seoptimal mungkin dan kebutuhan kuota terpenuhi. Dalam hal ini, pemerintah Arab Saudi patut dihargai / diberi nilai positif karena telah berupaya mengakomodir berbagai permintaan tersebut. Sehingga tidak tepat bila  dikatakan bahwa pemerintah Arab Saudi terlalu ambisius dalam proyek perluasan ini. Apalagi, sampai ada yang mengatakan bahwa megaproyek ini demi mengatrol pemasukan devisa Arab Saudi. Cara pandang semacam ini adalah cara pandang sempit, terkesan egois, tendensius dan tidak objektif.

Sekali lagi, langkah Arab Saudi memperluas Masjidil Haram merupakan wujud sambutan dari berbagai permintaan penambahan kuota jemaah haji dan umrah dari berbagai negara dan sama sekali bukan tujuan bisnis. Berbagai fasilitas yang disediakan pemerintah Arab Saudi untuk para jemaah haji adalah fasilitas umum. Dengan kata lain, jemaah haji memanfaatkannya tanpa dipungut biaya. Adapun keuntungan dari hasil sewa hotel, penginapan, produk makanan dan souvenir kembali kepada person-person pengusaha yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kas negara. Sebab, di Arab Saudi tidak ada pajak.

Fakta berbicara

Melihat fakta di atas, agaknya tidak bijak bila ada yang mengatakan bahwa etos yang dibangun pemerintah Arab Saudi adalah etos bisnis, bukan etos melayani. Ungkapan tersebut tentu sangat bertentangan dengan fakta di lapangan. Apalagi sampai mengatakan, kesucian Makkah telah ternodai oleh berbagai bangunan. Bagi Anda yang pernah naik haji, pemerintah Arab Saudi selalu membagikan buku bimbingan haji secara gratis.

Taruhlah biaya cetak satu buku adalah Rp. 3.000,- sedangkan jumlah jemaah haji rata-rata 2 juta, maka untuk buku saja minimalnya pemerintah Arab Saudi harus mengeluarkan 6 milyar rupiah. Jumlah yang tidak sedikit bukan?

Pembaca rahimakumullah, mengurus dan mengatur orang dengan jumlah banyak bukan hal yang mudah.  Saya yakin, ketika mengurus putra-putri kita yang jumlahnya tidak lebih dari 10 orang, pasti terdapat kekurangan di sana-sini. Lalu, bagaimana dengan mengurus jemaah haji dengan jumlah hampir 3 juta orang? Mereka pun berasal dari berbagai negara dengan bahasa, budaya, sifat dan karakter yang tentu sangat heterogen. Pastinya, membutuhkan kerja keras luar biasa, yang didasari ikhlas semata-mata mengharap pahala dari Allah. Bagaimana jika jemaah haji sebanyak itu tidak terlayani dengan optimal?

Keseriusan Arab Saudi

Mari kita menyoroti sejauh mana keseriusan pemerintah Arab Saudi melayani jemaah haji. Melayani jemaah haji membutuhkan manajemen ekstra tinggi dan kerja keras tiada henti. Contoh sederhana keseriusan pemerintah Arab Saudi bisa kita lihat pada kasus-kasus berikut; Bayangkan, jika 1 orang jemaah membutuhkan 20 liter air bersih untuk standar minimal MCK selain air zam-zam, maka dalam sehari Makkah memerlukan sekitar 20 liter x 2 juta orang (40 juta liter air bersih).

Pertanyaannya, bagaimana menyediakan 40 juta liter air bersih setiap hari untuk keperluan MCK jemaah haji, padahal di Makkah tidak ada sumber air selain sumur Zamzam?! Sumber air bersih untuk kebutuhan MCK adalah Laut Merah yang disuling. Itupun harus dialirkan sejauh 60 KM. Anda yang pernah haji atau umrah, pernahkah kesulitan mendapatkan air bersih? Atau pernahkah terdengar keluhan dari jemaah yang kekurangan air atau tandon yang kosong atau kran yang macet? Lalu bagaimana menyediakan 12 juta liter air zam-zam setiap hari untuk kebutuhan minum dan wudhu jemaah, belum lagi air Zamzam yang disediakan pemerintah Arab Saudi untuk dibawa pulang secara gratis?

Pernahkah terdengar ada jemaah yang mengeluh karena kehausan atau tidak kebagian air Zamzam? Justru yang sering kita dengar, jemaah haji membawa pulang air Zamzam melebihi ukuran yang ditentukan. Pembaca, mari kita beralih ke masalah sampah. Jika seorang jemaah menghasilkan sampah 20 gram saja sehari. Berarti dalam sehari ada 20 gram x 2 juta sampah atau 40 juta gram.

Artinya, setiap hari ada 4 ton sampah kering yang harus dibersihkan dan disediakan tempat penampungan. Tidak harus ke kota Jakarta, berapa banyak sampah di lingkungan sekitar kita yang belum terselesaikan sampai sekarang. Selanjutnya masalah sanitasi. Untuk bisa BAB, tentu membutuhkan sarana dan prasarana. Terus, berapa kotoran padat dan cair manusia di Makkah yang harus dibersihkan? Jika seorang jemaah buang kotoran padat 5 gram dan ½ liter kotoran cair setiap harinya, tentu jumlahnya mencapai sekitar 10 ton kotoran padat dan 1 juta liter kotoran cair setiap harinya.

Adakah jamaah yang mengeluh terkena penyakit akibat sanitasi yang mampet? Atau masalah MCK yang tidak beres?

Pembaca, mungkin Anda perlu tahu bahwa pengelola Masjidil Haram setiap hari harus menumpahkan cairan desinfektan untuk mencegah pencemaran lingkungan. Tenaga kerja pembersih Masjidil Haram terbagi dalam 3 shift dan beberapa jenis pekerjaan. Singkatnya, ratusan tenaga pembersih harus dikerahkan setiap shift agar Masjidil Haram tetap bersih dan nyaman.

Mari kita hitung, jika seorang tenaga kerja dibayar 500 riyal saja per-bulan (ini angka kasar minimal), berapa juta riyal yang harus dikeluarkan untuk biaya tenaga kerja?

Adakah jemaah diminta untuk infak? Atau Anda pernah melihat ada kotak infak diletakkan di area Masjidil Haram?

Jutaan riyal dikeluarkan pengurus Masjidil Haram, sementara kita tidak diminta iuran sepeser pun? Satu lagi yang tidak bisa dihitung dengan uang secara instan, yaitu keamanan dan stabilitas kota Makkah. Tanpa ini, Anda tidak mungkin bisa berhaji atau berangkat umrah dengan aman dan nyaman.

Hal-hal di atas hanya sekelumit penggambaran bagaimana kerja keras dan jerih payah pemerintah Arab Saudi untuk jamaah haji. Jika hanya memperhatikan ini saja, mestinya kita harus banyak berterima kasih dan merasa berhutang budi kepada pemerintah Arab Saudi. Bayangkan, pemerintah Arab Saudi menghabiskan 100 miliar dolar AS untuk meningkatkan fasilitas haji.

Berbagai usaha dan upaya telah dilakukan dan sedang direncanakan oleh raja Arab Saudi untuk melayani para peziarah tanah suci tersebut. Sehingga, gelar sebagai Khadimul Haramain Pelayan Dua Tanah Suci disematkan kepada setiap Raja Arab Saudi. Gelar tersebut bukan hanya sebatas gelar saja, akan tetapi telah diwujudkan dalam berbagai bentuk yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Adalah sebuah ketidakdewasaan berpikir, apabila ada yang justru menuduh bahwa segala upaya pemerintah Arab Saudi selama ini adalah bentuk eksploitasi terhadap jemaah haji. Lebih parah lagi, jika yang menuduh tersebut adalah salah satu dari sekian jemaah yang telah merasakan segala pelayanan Arab Saudi tersebut. Benarlah ungkapan, tidak akan bersyukur kepada Allah orang yang tidak mau berterima kasih kepada orang lain.

Saatnya Jujur

Mungkin, ada yang menjadikan tragedi musim haji 2015 ini sebagai alasan kegagalan Arab Saudi dalam mengelola ibadah haji. Jawabannya, untuk musibah crane pemerintah Arab Saudi sangat bertanggung jawab. Pemerintah memberikan santunan Rp. 3,8 milyar untuk korban meninggal dan korban cacat seumur hidup, dan Rp. 1,9 milyar untuk korban luka-luka. Besarnya santunan ini belum pernah diberikan kepada korban musibah lain di negara manapun di dunia ini.

Kerabat korban yang dirawat di rumah sakit berhak mendapat visa kunjung khusus selama masa penyembuhan hingga kembali ke negara masing-masing. Bahkan, dua kerabat korban meninggal dunia akan mendapat undangan haji khusus pada tahun depan. Cukuplah, ungkapan salah seorang jemaah haji dari Inggris, Taheer Zaman, sebagai bukti dan saksi. Pengaturan (haji, red) dari pemerintah Arab Saudi sangat luar biasa. Saya sudah naik haji beberapa kali dalam 20 tahun terakhir. Langkah  pengamanannya lebih dari cukup, bahkan berlebihan, bebernya.

Ini masih sebatas pelayanan Arab Saudi terhadap jemaah haji dan umrah. Kita belum bicara tentang bagaimana Arab Saudi menerjemahkan al-Qur’an ke dalam berbagai bahasa dan dibagikan cuma-cuma ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Bagaimana Arab Saudi membantu negara-negara yang ditimpa musibah seperti musibah tsunami Aceh tahun 2004 Arab Saudi membantu sebesar US$ 530 juta (sekitar Rp. 4,8 triliun).

Dan masih banyak peran Saudi lainnya yang tidak mungkin kami sebutkan semua di sini. Wallahu a’lam.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah Majdy

Sumber,

http://buletin-alilmu.net/2015/10/23/haji-dan-arab-saudi/

Alamandang,

Alhamdulillah, situs Alamandang mengucap puji syukur ke hadhirat Allah Swt karena menemukan artikel ini di belantara internet, yang kandungannya menyampaikan bahwa Raja Arab Saudi selaku Pelayan Dua Tanah Suci begitu serius dan komit untuk membenahi dua Masjid suci dan sekaligus melayani jemaah haji seluruh dunia, dan itu pun tanpa jemaah haji / umrah harus mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya operasionalnya.

Mengapa Alamandang begitu bersyukur menemuikan artikel ini? Jelas itu ada sebabnya.

Begini. Di internet banyak ditemui artikel sinis yang dilontarkan individu antimuslim, yang kandungannya menghina dan mendiskreditkan Islam, Ka’bah, ibadah haji dan orang Arab.

Orang-orang antimuslim umumnya mencibiri Ka’bah dan ibadah haji / umrahnya. Kata mereka Ka’bah, Mekkah, Islam dan segala hal yang terpaut dengannya tidak lebih dari proyek akal-akalan Nabi Muhammad Saw supaya negeri Arab banyak didatangi jemaah haji saban tahun, dan dengan demikian negeri Arab menjadi kaya karena setiap jemaah haji pasti dimintai duit atau pajak per kepala supaya bisa beribadah di Ka’bah. Hal ini praktis membuat rakyat dan Raja Arab menjadi kaya-raya. Itulah cibiran dan tuduhan kaum antimuslim.

Saya sebenarnya faham sekali bahwa cibiran tersebut sama sekali tidak berdasar, toh seluruh jemaah haji / umrah tidak pernah dimintai uang apa pun ketika mereka akan beribadah. Namun masalahnya sulit bagi saya untuk mengartikulasikan diri saya bahwa saya faham kemegahan Masjidil-haram dan juga Nabawi bukan berasal dari minta-minta uang jemaah.

Dan ternyata artikulasi tersebut sudah ada, yaitu artikel ini. Itulah sebabnya saya begitu bersyukur mendapatkan artikel ini, dan kemudian saya putuskan untuk saya tayang (copas) di situs Alamandang ini, dengan tujuan semoga lebih banyak khalayak yang membaca artikel ini dan akhirnya faham bahwa kaum antimuslim hanya bisa mencibiri dan menuduh umat Muslim dengan Ka’bahnya. Mereka hanya syirik kepada kemegahan Masjidil-haram dan Masjid Nabawi, dan kepada kemegahan ritus haji / umrah yang diselengga-rakan di kedua tempat kudus tersebut, dan juga iri karena jutaan Muslim yang berbondong-bondong mengalir ke Mekkah untuk beribadah saban tahun dan saban bulan, hal yang tidak pernah terwujud di dalam agama mereka, selain Islam.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Oh Televisi Oh Tahajjud

tvvvvvv

Televisi  sudah menjadi kebutuhan primer umat manusia di belahan dunia mana pun. Tanpa pikir panjang, semua orang pasti butuh televisi, dan pasti akan berkata bahwa televisi  membawa kebaikan dan manfaat bagi siapa pun. Mereka berkata, apa jadinya kalau hidup tidak dilengkapi televisi.

Sangat sedikit orang yang memahami, bahwa sebenarnya tanpa televisi pun hidup dapat berjalan dengan normal tanpa kekurangan apa pun. Mungkin seseorang akan berkata bahwa televisi adalah hiburan, namun bukankah manusia itu sendiri hanya butuh keheningan dan ketenangan untuk menyegarkan seluruh urat dan syarafnya? Jadi, sebenarnya manusia tidak butuh hiburan, yang dibutuhkan manusia justru keheningan dan kesahajaan. Dan itu tanpa televisi!

Lihatlah kepada sekelompok anak muda yang berkemah di tengah bentangan Alam. Mereka menikmati kesunyian dan keheningan Alam, dan itu mereka nikmati tanpa kehadiran televisi. Bahkan sebenarnya mereka pergi ke Alam Semesta untuk menikmati keheningan adalah demi dapat menghindari televisi!! Dari sini jelaslah sudah bahwa televisi bukanlah keharusan, bahkan ketiadaan televisi dapat membawa kenikmatan tersendiri.

Mari melihat ke masa lampau. Ketika itu kehidupan tidak dilengkapi televisi. Jangankan televisi, listrik saja tidak ada. Namun justru masa lampau telah berhasil melahirkan Candi Borobudur nan megah. Bahkan tanpa televisi, umat manusia berhasil menemukan benua baru. Jadi sebenarnya di mana posisi televisi? Kalau saja manusia mau memahami, maka sebenarnya siapa saja akan dengan mudah dapat mengesampingkan televisi, dan lebih mengutamakan keheningan dan kedamaian, karena hanya itulah yang dibutuhkan psikologi manusia.

Namun ada satu hal yang mungkin patut untuk direnungkan terkait keberadaan televisi ini. Kalau seseorang mematikan pesawat televisi pada pukul 9 malam dan kemudian pergi tidur, pasti orang itu akan mudah terbangun tengah malam untuk menunaikan salat tahajjud, dan setelah tahajjud pasti orang itu akan tergerak untuk berzikir dan mengaji. Jadi adalah jauh lebih bermanfaat kalau televisi dimatikan lebih awal menjelang tidur.

Namun kebalikannya, kalau seseorang ngotot untuk mempertahankan menonton televisi hingga larut malam demi bisa menonton acara semisal film maupun berita dari aneka channel, maka pasti orang tersebut tidak akan dapat terbangun di tengah malam untuk salat tahajjud (dan ibadah malam lainnya), karena jam tidur nya sudah digerogoti oleh kegiatan nonton berkepanjangan. Di lain pihak pun, menonton televisi hingga larut malam juga tidak ada faedahnya sama sekali buat orang itu, padahal otot dan syaraf mata nya pun menjadi lelah dan letih. Akhirnya, ibadah malam ia keteteran, pun kesehatan fisik dan psikologi nya juga keteteran. Itulah segi racun nya televisi. Namun siapakah yang menyadari aspek toxicitas dari televisi ini?

Seluruh umat faham bahwa salat tahajjud merupakan ibadah emas di segala jaman. Siapa pun pasti ingin salat tahajjud, ingin sekali ….. namun masalahnya bukan pada salat  tahajjud nya, melainkan pada kemampuan untuk terbangun di malam hari untuk salat tahajjud. Hal tersebut disebabkan bukan karena lemahnya Iman, melainkan keberadaan televisi telah membuat jam tidur tergerus dan terserobot oleh keasyikan menonton televisi hingga berjam-jam.

Pada masa lampau, salat tahajjud ditunaikan oleh banyak umat Muslim. Mengapa? Karena pada saat itu belum ada televisi, yang mana hal tersebut membuat setiap insan pergi tidur lebih awal. Tidak ada televisi, artinya pergi tidurnya menjadi selalu lebih awal. Dan kalau pergi tidur lebih awal, maka itu adalah jaminan bahwa kelak nanti tengah malam akan mudah terbangun untuk tahajjud, karena jatah tubuh untuk istirahat sudah terpenuhi. Ah alangkah enaknya hidup ketika jaman belum mengenal televisi!!!

Sulit juga untuk mendeklarasikan gerakan “Matikan Tv Jam 9 Malam Dan Langsung Pergi Tidur”, alias “MTvJ9MDLPT” supaya menjadi gerakan bangsa demi tercapainya pemenuhan jatah istirahat tubuh baik secara fisik maupun psikis, dan sekaligus demi tertunaikannya salat tahajjud berkampung-kampung. Hal tersebut pasti sulit, sesulit mengenyampingkan televisi dari kehidupan umat manusia.

Sebagai perbandingan dan perenungan, mengapa Sultan Muhammad Al Fatih berhasil menaklukan Konstantinopel, dan sekaligus menjadi penggenapan dari hadits Nabi Muhammad bahwa kelak umat Muslim akan menaklukkan kota agung tersebut di bawah kepemipinannya?

“Konstantinopel akan ditaklukkan oleh Islam. Pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan (Nabi Muhammad SAW)”.

Jawabannya adalah jelas, bahwa karena baik Sultan Muhammad Alfatih mau pun seluruh tentaranya tidak pernah meninggalkan shalat sunnah tahajjud ini. Tertulis demikian,

Diceritakan bahwa tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib sejak baligh & separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajjud sejak baligh. Hanya Sulthan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan solat wajib, tahajud & rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya”.

Ini menunjukkan keagungan dan kesaktian dari shalat sunnah tahajjud, sehingga kalau shalat sunnah ini diamalkan secara berkampung-kampung secara konstan, maka kemenangan Allah swt pasti akan turun ke atas kampung tersebut. Kisah Sultan Muhammad Alfatih beserta bala tentaranya yang menaklukkan Konstantinopel adalah bukti akan kegemilangan dan kesaktian shalat sunnah tahajjud. Singkatnya, satu-satunya alasan mengapa Sultan Muhammad Alfatih beserta tentaranya berhasil menaklukkan Konstantinopel, adalah karena sang sultan beserta tentaranya unggul dalam menunaikan shalat sunnah tahajjud.

Ketika Nabi Muhammad saw menyatakan dalam hadistnya bahwa pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara, maka itu artinya Nabi Muhammad saw merujuk kepada tradisi shalat sunnah tahajjud yang selalu ditunaikan sang Sultan beserta bala tentaranya. Jadi, mengapa Nabi Muhammad saw mengatakan bahwa pemimpin dan balatentaranya merupakan yang terbaik? Jawabannya adalah karena sang pemimpin dan balatentaranya selalu shalat sunnah tahajjud! Dan shalat sunnah tahajjud-lah yang membawa kemenangan Allah swt kepada Sultan Muhammad Alfatih beserta tentaranya.

Artinya, adalah rugi besar kalau umat berkampung-kampung sampai meninggalkan amalan shalat sunnah  tahajjud. Namun faktanya, umat Muslim pun jadi menelantarkan dan meninggalkan tradisi shalat sunnah tahajjud berkampung-kampung ini, dan itu hanya karena adanya pesawat televisi dengan berbagai acaranya yang sebenarnya tidak berfaedah sama sekali. Buktinya pun jelas, kekalahan demi kekalahan harus diderita umat Muslim di berbagai penjuru dunia. Jelas, itu semua karena ditinggalkannya shalat sunnah tahajjud, dan itu karena benda yang bernama televisi.

Bagaimana kemenangan Allah swt akan turun kepada umat Muslim, sementara umat Muslim saja tidak mempunyai tekad untuk menunaikan shalat sunnah tahajjud berkampung-kampung? Itu semua karena televisi.

Jadi, singkat kata, televisi sama sekali tidak ada manfaatnya, atau setidaknya lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Dan pada segi ibadah, televisi merupakan musuh bebuyutan-nya salat tahajjud: karena televisi-lah, salat tahajjud menjadi terpinggirkan. Namun yang lebih mendasar adalah, sangat sedikit orang yang menyadari hal tersebut.

Wallahu a’lam bishawab.

Tips Membuat Artikel Di Internet

artikel-internetInternet telah menjadi gaya hidup sebagian besar warga kota dunia. Ketika seseorang membuka internet, banyak artikel yang bisa mereka peroleh untuk memperluas wawasan pemahaman mereka. Dan dari sekedar menemukan artikel kemudian membacanya, banyak para netizen yang beralih dan tertarik untuk menulis artikel juga untuk mengungkapkan isi fikirannya.

Sekarang ini internet telah menyediakan berbagai channel untuk mengungkapkan isi fikiran mereka, mulai dari sekedar ‘say hello’, memberikan komentar, dan pada akhirnya membuat ungkapan yang panjangnya beberapa paragraf. Blogsite gratis telah memungkinkan setiap netizen mengunggah artikel tulisan mereka ke internet, sehingga dapat ditemukan dan kemudian dibaca oleh banyak netizen lainnya.

Adakalanya, artikel yang diunggah ke internet, hadir di dalam kekacauan, baik di dalam penulisan, susunan, urutan, maupun juga gaya bahasa. Artikel seperti ini mau-tidak-mau membuat netizen yang membacanya harus berusaha lebih keras lagi saat membaca artikel tersebut untuk dapat memahami kandungan dari artikel dimaksud. Di bawah ini akan disajikan beberapa panduan yang mungkin dapat dicoba saat membuat / menulis artikel, untuk memudahkan menulis artikel.

Pertama. Berapa jumlah halamannya?

Jumlah halaman, usahakan jumlah halaman untuk setiap artikel yang akan ditayangkan di internet, dibatasi. Minimal 2 halaman Msword, idealnya adalah 6 halaman Msword, dan paling mentok adalah 10 halaman Msword.

Kalau anda membuat sebuah artikel di Msword, dan ternyata halamannya melebihi 10 halaman, maka pecah-pecahlah artikel tersebut sehingga didapat jumlah halaman ideal, yaitu sekitar 6 halaman per artikel. Dan kalau satu artikel tersebut dipecah-pecah, maka judulnya pun harus menyebutkan kata seperti ‘Bag 1’, ‘Bag 2’ dan seterusnya. Hal ini akan membuat pembaca betah untuk membacanya sampai tamat.

Hindari penulisan artikel yang panjangnya hanya satu halaman Msword. Oleh karena itu, suatu artikel minimal panjangnya dua halaman Msword. Intinya, satu halaman adalah ‘kesedikitan’ untuk pembaca, dan lebih dari sepuluh halaman Msword adalah ‘kebanyakan’ buat pembaca.

Kedua. Paragraf yang baik harus seperti apa?

Di dalam penulisan, hindari paragraf yang kelewat panjang. Patut untuk diingat bahwa paragraf yang kelewat panjang akan membuat pembaca sudah merasa pusing dan mumet duluan sebelum membacanya. Kebalikannya, kalau suatu artikel terdiri dari paragraf yang singkat, maka pembaca akan melihat bahwa artikel tersebut menarik untuk dibaca, serasa ringan untuk dibaca. Pembaca akan betah untuk membaca artikel tersebut sampai tamat. Paragraf sebaiknya hanya terdiri dari 5 sampai 6 baris.

Ketiga. Tata-cara membuat judul artikel.

Di dalam hal penulisan judul, hindari kalimat judul yang panjang. Usahakan judulnya paling banyak 7 kata, tidak perduli perkatanya panjang-panjang. Banyak dijumpai judul suatu artikel di internet begitu panjang hingga mencapai dua atau tiga baris. Itu adalah suatu bencana!

Hindari juga penggunaan tanda baca pada kalimat judul, seperti tanda-tanya, tanda-seru, titik-koma, dsb. Tidak dianjurkan menulis judul dengan menggunakan huruf besar / kapital. Ada lagi: judul adalah kalimat yang tidak diakhiri sebuah titik.

Empat. Bahasa apa yang paling baik untuk artikel?

Penggunaan bahasa juga harus diperhatikan. Gunakanlah bahasa yang formal namun santai, sehingga terkesan ringan dan bersahabat. Hindari penggunaan bahasa gaul, lucu-lucuan, dan terkesan sok-akrab. Pembaca menginginkan bahasa penyampaian yang netral / fair, ini artinya bahasa yang digunakan haruslah bahasa formal.

Banyak-banyaklah membaca artikel lain, apakah artikel yang dibuat oleh penulis dalam negeri, maupun penulis luar negeri (yang telah diterjemahkan). Semakin banyak membaca artikel orang lain, maka semakin banyaklah referensi di dalam hal menulis artikel, dan itu akan membantu penulis untuk menemukan gaya bahasanya sendiri di dalam menulis artikel, supaya lebih berkarakter.

Ingatlah, bahwa cara mencurahkan suatu fikiran ke dalam baris kata dan kalimat, bukanlah perkara sepele. Butuh masukan beragam supaya dapat mengetahui bahwa kebanyakan penulis mencurahkan fikiran dengan cara yang unik, diplomatis dan mendalam. Kalau seseorang membaca banyak artikel orang lain, pasti ia akan melihat bahwa ternyata ada ‘politik kata-kata’ untuk menyatakan suatu ide, hal mana itu membuat artikelnya jadi menarik. Dan hal tersebut hanya dapat diketahui melalui banyak membaca artikel orang lain.

Bagaimana mungkin seseorang ingin menulis artikel, dan mengharap artikelnya mengkilap, kalau ia saja tidak pernah membaca artikel orang lain yang telah mapan?

Lima. Bagaimana dengan subjudul?

Usahakan memecah-mecah artikel ke dalam beberapa subjudul. Hal ini akan membuat pembaca merasa ringan saat membaca, dan membuat keinginan membaca dari pembaca lebih tinggi. Satu subjudul mengandung satu isi fikiran / ide. Dengan adanya subjudul, pembaca jadi terangsang untuk tahu kandungan pada teks di bawah subjudul tersebut. Subjudul ini haruslah diketik menggunakan huruf tebal, alias bold. Satu lagi, jangan menulis subjudul dengan menggunakan huruf besar / kapital.

Masalah huruf besar. Kadang dijumpai suatu portal / website yang kolom koment-nya tidak menyediakan fasilitas untuk menebalkan subjudul. Baiklah, untuk kasus seperti ini maka satu-satunya solusi adalah menulis subjudul dengan menggunakan huruf besar pada semua hurufnya.

Enam. Formatting text diperlukan?

Hindari menggunakan huruf tebal / bold (kecuali untuk menebalkan subjudul). Beberapa penulis menebalkan huruf beberapa kata untuk menekankan maksud dari suatu kalimat. Hal ini sepatutnya dihindari di dalam penulisan artikel yang baik. Menekankan maksud dari suatu kalimat / paragraf, maka itu adalah inisiatif pembaca, dan biarlah pembaca sendiri yang me-‘raise’ penekanan suatu maksud yang terkandung di dalam suatu paragraf / kalimat. Kalau suatu artikel mengandung banyak huruf tebal, maka artikel akan terlihat ‘blepotan sana-sini’.

Tujuh. Artikel anda untuk siapa?

Artikel yang akan ditayangkan di internet, berarti artikel tersebut ditujukan untuk kalangan umum, bukan segmented. Maka hindari artikel yang terkesan berat dan ilmiah. Triknya adalah, kalau memang harus menyajikan tabel, maka minimalisir-lah jumlah tabelnya, jangan banyak-banyak. Untuk suatu topik, tabel mungkin membantu untuk memudahkan pemahaman, namun usahakan tabel tersebut ringan, dan janganlah tabel tersebut ditampilkan ‘apa adanya’.

Kalau suatu topik memang mengharuskan adanya tabel, maka terlebih dahulu ‘remake’-lah tabel tersebut, supaya ada data yang bisa dihilangkan, sehingga data yang dihadirkan pada tabel merupakan data yang diperlukan saja untuk kalangan umum.

Kalau tabel yang ingin dikemukakan terlalu panjang, maka pecah-pecahlah tabel menjadi beberapa bagian, guna membuat artikel tampak ringan dan renyah sehingga pembaca betah untuk melahapnya bagian per bagian. Pecahlah tabel berdasarkan jenis datanya. Tabel yang memuat database terlalu panjang, jelaslah membuat pembaca mumet duluan. Pun, tabel yang terlalu panjang, membuat pembaca merasa bahwa data yang disajikan tidak penting untuk diikuti. Sebaliknya, tabel yang dipecah-pecah, pembaca pun akan senang hati mengikutinya, terlepas apakah datanya penting atau tidak. Itulah gunanya memecah-mecah tabel.

Setelah tabel dipecah-pecah, maka kemudian sajikanlah dengan caption atau subjudul masing-masing: satu tabel satu subjudul / caption.

Delapan. Apa kabar dengan gambar artikel?

Akan lebih baik kalau artikel dilengkapi gambar, dan usahakan gambar tersebut adalah full-color, karena kehadiran gambar akan membuat artikel menjadi lebih ringan dan santai untuk dibaca. Bayangkan sebuah artikel yang tidak dilengkapi gambar, suatu hal yang akan membuat artikel terlihat berat, sehingga pembaca sudah mumet duluan sebelum membacanya.

Sembilan. Bolehkan artikel ‘bertanya’ kepada pembaca?

Ya, boleh. Adanya kalimat tanya di dalam suatu artikel, justru membuat artikel terkesan ringan. Kebalikannya, suatu artikel yang tidak mengandung pertanyaan akan terkesan begitu berat, terlalu ilmiah, kaku, dan tidak hidup.

Sebaiknya, untuk membuat artikel menjadi menarik dan terkesan renyah, maka hadirkanlah kalimat tanya, satu, dua, lima atau tujuh. Dengan adanya pertanyaan lengkap dengan tanda-tanya-nya, pembaca merasa seolah diajak berkomunikasi langsung dengan sang penulis. Tentunya ini sangat baik.

Pada point ketujuh di atas, dipaparkan bahwa kesan artikel berat dan ilmiah, harus dihindari. Cara yang lebih mudah untuk menghindari hal tersebut adalah, menghadirkan kalimat-kalimat bergaya pertanyaan ini.

Sepuluh. Ke bawah atau ke samping.

Kalau suatu artikel mengandung data berurut, usahakan data tersebut disusun ke bawah. Hal ini dapat membuat pembaca semakin mudah melihat data apa saja yang disajikan, ketimbang data berurut dipaparkan secara biasa. Contoh, “Negara Indonesia mempunyai lima pulau besar, yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua”. Data berurut ini sebaiknya disusun ke bawah, sehingga menjadi seperti ini,

Negara Indonesia mempunyai lima pulau besar, yaitu,

–    Sumatera.
–    Jawa.
–    Kalimantan.
–    Sulawesi.
–    Papua.

Sebelas. Jangan yang ini.

Beberapa hal di bawah ini harus dihindari di dalam penulisan artikel.

  • Artikel yang keseluruhan atau sebagian teksnya ditulis menggunakan huruf besar / kapital. Perhatikanlah, bahwa huruf besar sama sekali tidak mempunyai tempat di dalam artikel. Huruf besar hanya digunakan di dalam pembuatan banner. Ya, banner adalah pesan (pendek) yang keseluruhan hurufnya adalah huruf besar, alias kapital.
  • Artikel yang keseluruhan atau sebagian teksnya ditulis dengan menggunakan huruf miring / italik. Biasanya, huruf miring hanya cocok untuk penulisan bait-bait syair, atau lagu. Fungsi huruf miring adalah untuk romantisasi tulisan.
  • Artikel yang mengandung banyak teks yang ditulis dengan huruf tebal / bold.
  • Adakalanya suatu artikel menyajikan petikan kalimat, seperti kalimat ayat suci, petikan Alhadis, petikan kalimat filsafat, petikan kalimat tokoh terkenal, dsb. Adalah baik kalau petikan tersebut disajikan di dalam paragraf tersendiri dan ditulis dengan menggunakan huruf miring. Sungguh pun demikian, tidak masalah kalau petikan tersebut tidak disajikan dengan menggunakan huruf miring, cukup dengan memberikan tanda-kutip-ganda di awal dan di akhir kutipan.
  • Artikel yang view-nya terlihat seperti novel, yaitu terdiri dari begitu banyak petikan kalimat pendek tersusun ke bawah, seolah sedang memaparkan percakapan dua orang. Artikel adalah artikel, bukan novel.

Duabelas. Review berulang-ulang.

Ketika seseorang telah selesai menulis artikelnya (atau teks sanggahan maupun komentar), maka hal berikutnya yang akan ia lakukan adalah langsung mengunggahnya ke internet. Itu sebenarnya terlalu cepat.

Seorang siswa yang sudah selesai mengerjakan seluruh soal ujian, apakah ia langsung menyerahkannya kepada guru / dosen pengawas? Pada kenyataannya, seorang siswa pasti akan me-review terlebih dahulu seluruh hasil pekerjaannya -sebelum ia menyerahkan lembar soal dan jawaban kepada guru. Itulah yang tepat!

Harus ada jeda tiga hari, antara waktu diselesaikannya artikelnya, dengan waktu untuk mengunggahnya ke internet. Dan jeda tiga hari itu harus digunakan untuk me-review artikel hasil tulisannya, satu hari usahakan terjadi 50 kali overall-review!

Setiap kali me-review artikel, pasti penulis secara tidak disadari akan menemukan kesalahan demi kesalahan, dan akibatnya penulis akan melakukan perbaikan demi perbaikan …… tentunya itu sangat baik.

Ketahuilah, bahwa bahasa tulisan jauh berbeda dengan bahasa lisan. Bahasa lisan tidak membutuhkan struktur, apakah struktur bahasa, kosakata, struktur point, struktur penekanan, dsb. Di dalam bahasa lisan, struktur tidaklah penting, karena yang terpenting adalah maksud dari pembicaraan dapat sampai kepada lawan bicara. Bahasa tulisan di lain pihak, sangat tergantung pada aneka struktur tersebut. Oleh karena itu, kalau gaya bahasa lisan dituangkan ‘begitu saja’ ke dalam tulisan artikel, maka yang didapat adalah malapetaka bagi pembaca.

Di sini jelaslah, bahasa apa pun yang kita tulis, pasti akan terbaca aneh kalau dibaca lagi pada saat yang lain. Ini mengakibatkan akan terjadi perbaikan saat pembacaan ulang / review, supaya pada akhirnya bahasa artikel tersebut menjadi terstruktur, lebih fair dan manusiawi. Itulah gunanya review.

Tigabelas.

Akhiri artikel dengan subjudul ‘Penutup’. Subjudul ini berisi intisari dari kandungan yang dipaparkan artikel, sehingga pembaca merasa semakin dimudahkan di dalam memahami kandungan artikel, dan sekaligus ‘taktik’ supaya pembaca menyetujui maksud dan kandungan dari artikel. Subjudul ‘Penutup’ dapat saling menggantikan dengan subjudul ‘Kesimpulan’. Namun adakalanya juga, satu artikel mengandung subjudul ‘Kesimpulan’ dan ‘Penutup’, masing-masing dengan muatan yang berbeda.

Penutup.

Di dalam hal membuat artikel, apalagi yang akan diunggah di internet, berlaku juga hukum keabadian intan: “walau pun terkubur di dalam lumpur, toh intan akan bersinar juga”. Artikel yang baik akan banyak memperoleh simpati dari para pembaca, dan artikel yang buruk akan banyak ditinggalkan oleh netizen.

Namun, keseluruhan artikel tersebut, diusahakanlah menerapkan kaidah-kaidah artikel yang baik seperti yang telah dipaparkan di atas.

Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya

tamanbermainBerikut ini, Alamandang menurunkan satu artikel yang merupakan rubrik tanya-jawab seputar syariah Islam. Kali ini tanya-jawab tersebut seputar Alhadis Nabi bahwa anak-anak dilarang keluar rumah saat Maghrib dan Isya, yang kemudian dikonfrontir dengan ajaran / tradisi yang selama ini dianut umat Muslim bahwa anak-anak harus dibawa keluar rumah untuk shalat di Masjid saat Maghrib dan Isya.

Bagaimanakah akhirnya solusi yang diberikan sang ustadz atas pertanyaan kontradiksi tersebut?

Setelah jawaban sang ustadz dipaparkan, kemudian Alamandang akan memberikan ulasan mengenai jawaban / ajaran yang diberikan oleh sang ustadz. Mudah-mudahan hidayah Allah Swt meliputi seluruh umat Muslim. Amin. ***

Pertanyaan: 

Ya Abaa Fairuz, bagaimana dengan mengajak anak-anak untuk shalat maghrib dan isya’ di Masjid? Karena ada hadits yang memerintahkan untuk menahan  anak-anak keluar pada waktu maghrib datang?

Jawab: 

Nabi saw telah memerintahkan kita untuk menahan anak-anak kita saat datangnya malam, karena para setan ketika itu bertebaran. Maka bagaimana dengan orang yang ingin hadir dars setelah maghrib bersama anaknya misalkan?

Kita jawab dengan taufiq Allah semata:

Nabi saw mengabarkan:

“Bahwasanya jika matahari telah terbenam, para setanpun bertebaran”.

Karena itulah beliau bersabda:

“Maka tahanlah anak-anak kalian, dan tahan juga ternak-ternak kalian sampai hilangnya awal kegelapan Isya”. Hadits riwayat Al Bukhariy (3280) dan Muslim (2012) [dari Jabir ra].

Hadits ini menunjukkan bahwasanya saat datangnya malam adalah waktu diduganya gangguan setan terhadap anak-anak. Tapi telah datang dalil-dalil yang banyak tentang perlindungan dengan dzikir kepada Allah. Di antaranya adalah: perlindungan khusus bagi anak-anak, seperti hadits Ibnu Abbas ra yang berkata:

Dulu Nabi saw melindungi Hasan dan Husain dan berkata: “Sesungguhnya ayah kalian (yaitu Ibrahim as) dulu melindungi Isma’il dan Ishaq dengan doa ini: (yang artinya) “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa dan dari setiap mata pencela” (HR. Al Bukhariy (3371)).

Dan anak-anak diajari dzikrullah ketika keluar rumah.

Dari Ummu Salamah ra. yang berkata:

Tidak pernah Nabi saw keluar dari rumahku sama sekali kecuali beliau mengangkat pandangan mata beliau ke langit seraya berdoa (yang artinya): “Ya Allah sungguh saya berlindung kepadaMu dari tersesat atau disesatkan orang, tergelincir atau digelincirkan orang, atau menzhalimi atau dizhalimi orang, atau berbuat bodoh, atau ada orang berbuat badah terhadapku” (HR. Abu Dawud (5094) dan At Tirmidziy (3427) / shahih).

Dan dari Anas bin Malik ra yang berkata:

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa ketika keluar rumah dia berkata: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal pada Allah. Dan tiada upaya dan tiada daya kecuali dengan pertolongan Allah”. Dikatakan padanya: “Engkau telah dicukupi, dan engkau telah dilindungi”. Dan setan menyingkir darinya” (HR. At Tirmidziy (3426)).

Di dalam sanadnya ada ‘an’anah Ibnu Juraij, dan dia itu mudallis.

Hadits ini punya pendukung dari hadits Ka’b bin Malik ra secara mauquf (ucapan Shahabat saja), diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al Mushannaf” (29203). Dalam sanadnya ada ‘an’anah Al A’masy dari Mujahid.

Tapi Al A’masy didukung oleh Manshur yang meriwayatkan juga dari Mujahid dari Ka’b secara mauquf, diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam “Al Mushannaf” (19827). Dan sanadnya shahih.

Maka hadits ini hasan lighairih.

Ada juga dzikir perlindungan ketika singgah di suatu tempat:

Khaulah binti Hakim As Sulamiyyah ra berkata:

“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa singgah di suatu per-singgahan lalu dia berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan” (HR. Muslim (2708).

Dan termasuk dzikir sore yang mudah dihapalkan oleh anak-anak adalah: hadits Abu Hurairah  ra. yang berkata:

Ada orang datang pada Nabi saw seraya berkata: “Wahai Rasulullah, alangkah menyakitkannya apa yang saya dapati dari kalajengking yang menyengat saya tadi malam”. Maka beliau bersabda: “Adapun andaikata engkau ketika masuk di waktu sore berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan”.  Niscaya dia tak akan membahayakanmu” (HR. Muslim (2709)).

Dan masih banyak dzikir yang lain.

Kemudian sesungguhnya hadits Jabir tadi punya dua hikmah, sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian ulama:

Ibnul Jauziy berkata: “Dan hanyalah dikhawatirkan anak-anak secara khusus akan diganggu setan karena dua perkara.

Yang pertama: karena najis yang ada pada anak-anak, yang mana itulah yang menjadikan setan senang bernaung di situ.

Yang kedua: bahwasanya dzikir yang menjadi perlindungan itu tidak ada pada anak-anak, dan para setan ketika bertebaran, akan bergantung pada tempat-tempat yang memungkinkan untuk mereka bergantung (tempat yang tiada dzikir di situ)” (“Kasyful Musykil Min Haditsish Shahihain” / hal. 691).

Jika sebabnya adalah anak-anak tidak berlindung dengan dzikir-dzikir, maka kita perintahkan mereka untuk berdzikir, sebagaimana telah lewat. Jika sebab yang kedua adalah najisnya badan dan pakaian anak-anak, kita jaga kesucian mereka, sebagaimana itu memang sunnah ketika keluar menuju Masjid.

Dari Abu Hurairah ra. yang berkata: Rasulullah saw bersabda:

Shalat seorang pria di jamaah itu dilipatkan daripada shalatnya di rumahnya dan di pasarnya sebanyak dua puluh lima lipatan. Yang demikian itu dikarenakan dirinya berwudhu lalu memperbagus wudhunya, lalu keluar ke Masjid, tidak ada yang mengeluarkannya kecuali shalat …” (HR. Al Bukhariy (647) dan Muslim (649)).

Maka tidak apa-apa anak-anak keluar bersama para wali mereka ke Masjidketika matahari terbenam.

Kemudian sesungguhnya mereka itu keluar ke Masjidadalah untuk amalan shaleh, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka insya Allah, bahkan Allah gembira dengan mereka dan menjaga mereka.

Dari Abu Hurairah  ra yang berkata: Rasulullah saw bersabda:

Tidaklah ada satu orang yang berwudhu dan memperbagus wudhunya dan menyempurnakannya, lalu dia mendatangi Masjid, tidak menginginkan kecuali shalat di situ, kecuali Allah menyambutnya dengan gembira sebagaimana orang yang ditinggal pergi menyambut gembira kedatangan orang itu” (HR. Al Imam Ahmad (8051) dan dishahihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy  dalam “Al Jami’ush Shahih Mimma Laisa Fish Shahihain” no. (838)).

Ini adalah dalil untuk jawaban ini dan sekaligus jawaban yang sebelumnya.

Keluarnya mereka adalah untuk ibadah, maka Allah akan mencukupi mereka dan menjaga mereka. Dan pencukupan dan penjagaan Allah itu sesuai kadar ibadah sang hamba. Allah swt berfirman:

“Bukankah Allah itu cukup untuk melindungi hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakutimu dengan yang selain Allah. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka dia tak akan punya pemberi petunjuk. Dan barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tak akan ada yang bisa menyesatkannya. Bukankah Allah itu Maha Perkasa lagi Maha memiliki pembalasan?”

Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Maka kecukupan yang sempurna itu bersama ibadah yang sempurna. Dan kecukupan yang kurang itu bersama ibadah yang kurang. Maka barangsiapa mendapatkan kebaikan, maka hendaknya dia memuji Allah. Dan barangsiapa mendapatkan yang selain itu, maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri” (“Al Wabilush Shayyib” / hal. 11).

(kita lanjutkan besok insya Allah, barakallahu fikum)

Kemudian sesungguhnya mereka itu keluar untuk beramal shalih, maka para malaikat adalah wali dan pelindung mereka dengan seidzin Allah.

Dari Abu Hurairah  ra. yang berkata: Nabi saw bersabda:

Tidak ada orang yang keluar dari rumahnya kecuali di tangannya ada dua bendera: bendera yang ada di tangan malaikat dan bendera yang ada di tangan setan. Jika dia keluar kepada perkara yang dicintai Allah, malaikat akan mengikutinya dengan benderanya. Maka dia senantiasa di bawah bendera malaikat sampai pulang ke rumahnya. Tapi jika dia keluar kepada perkara yang dimurkai Allah, setan akan mengikutinya dengan benderanya. Maka dia senantiasa di bawah bendera setan sampai pulang ke rumahnya” (HR. Ahmad (8269).

Di dalam sanadnya ada Abdullah bin Ja’far, yaitu Bin  Abdurrahman ibnul Miswar bin Makhramah Al Madaniy, shaduq (“Tahdzibut Tahdzib” (5 / hal. 150).

Dan di dalam sanadnya juga ada Utsman bin Muhammad, yaitu Ibnul Mughirah ibnul Akhnas bin Syariq Ats Tsaqafiy, shaduq (“Tahdzibut Tahdzib” (7 / hal. 138)).

Sisa rawinya tsiqat terkenal.

Maka hadits ini hasan.

Maka barangsiapa keluar dari rumahnya untuk ketaatan pada Allah, maka para malaikat adalah wali-walinya dan mereka akan memerangi para setan untuk membelanya

Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Maka tiada seorangpun yang lebih bermanfaat bagi sang hamba daripada persahabatan malaikat untuknya. Dan malaikat adalah walinya di saat terjaga dan tidur, saat hidupnya dan ketika kematiannya, dan di dalam kuburnya, teman akrabnya ketika kesepian, sahabatnya ketika sendirian, membisikinya dalam suasana rahasia, dan memerangi para setan untuk membela dirinya, menolongnya untuk menghadapi setan, menjanjikan kebaikan untuknya, memberinya kabar gembira, mendorongnya untuk membenarkan kebenaran” (“Al Jawabul Kafi” / hal. 74).

Maka hadits Jabir ra tersebut berlaku untuk anak-anak yang sedang bermain-main –dan semisalnya- di luar rumah saat itu. Adapun yang keluar ke Masjid bersama walinya untuk beribadah pada Allah, maka Allah dan para malaikat adalah wali dia.

Oleh karena itulah maka Fadhilatu syaikhina Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy saat ana tanya tentang masalah ini beliau berkata: “Hadits ini mengenai anak-anak yang sedang bermain-main di jalanan dan sebagainya. Adapun orang yang keluar rumah bersama anaknya untuk menunaikan shalat maghrib dan mendengarkan dars di Masjid, maka itu tidak apa-apa”. Selesai jawaban beliau.

Jika ada yang berkata: “Hadits Jabir ra. itu umum!”.

Maka kita jawab –dengan taufiq Allah semata: Alangkah banyaknya dalil yang umum itu dimasuki oleh pengkhususan. Yang demikian itu dikarenakan hadits-hadits Rasulullah saw itu satu sama lain saling menjelaskan.

Al Imam Ibnu Qudamah berkata: Tiada satu lafazh umumpun kecuali dia telah dimasuki oleh pengkhususan, kecuali beberapa lafazh saja, seperti firman Allah ta’ala:

Dan tiada satu binatang melatapun di bumi kecuali menjadi tanggungan Allahlah rizqinya”.

Dan:

“Sesungguhnya Allah itu Mahatahu terhadap segala sesuatu” (“Raudhatun Nazhir Wa Jannatul Munazhir” / hal. 238-239).

Maka keumuman hadits Jabir itu dikhususkan dengan dalil-dalil penjagaan Allah untuk orang berdzikir, yang keluar rumah untuk melakukan suatu ketaatan pada-Nya. Telah lewat penyebutan sebagian dari dalil-dalil tersebut. Di antaranya juga hadits Al Harits Al Asy’ariy ra: Bahwasanya Nabi saw bersabda:

Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat untuk beliau menjalankannya dan memerintahkan Bani Israil untuk mengerjakannya: “Dan aku memerintahkan kalian untuk berdzikir pada Allah, karena permisalannya adalah bagaikan orang yang keluar, sementara musuhnya itu mengikuti jejaknya dengan cepat, hingga ketika dia mendatangi benteng yang kokoh, dia melindungi dirinya dari mereka. Demikianlah sang hamba, dia itu tidak bisa melindungi dirinya dari setan kecuali dengan dzikir pada Allah”. Al hadits (HR. At Tirmidziy (2863) / shahih).

Maka barangsiapa keluar dari rumahnya untuk suatu ketaatan kepada Allah di waktu kapanpun, dan dia berdzikir kepada Allah, maka Allah adalah Walinya dan Penjaganya, maka setan tak bisa mengganggunya. Bahkan setan sendiri mengakui hal itu.

Dari Abdullah bin Amr ibnul ‘Ash:

Dari Nabi saw bahwasanya beliau biasa jika masuk Masjid berdoa (yang artinya): “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha agung, dan dengan wajah-Nya yang mulia, dan kekuasaan-Nya yang telah berlangsung sejak dulu, dari setan yang terkutuk”. Dan beliau bersabda: Jika berdoa demikian, setan berkata: “Dia telah dilindungi dariku di sepanjang hari” (HR. Abu Dawud (466) / shahih).

Dan banyak ulama menyebutkan bahwasanya hadits Jabir tersebut bentuknya adalah bimbingan, bukan wajib.

Fatwa Lajnah Daimah Lil Buhutsil ‘Ilmiyyah Wal Ifta (27/69/ no. 21349): “Perintah-perintah yang datang di dalam hadits ini menurut kebanyakan ulama dibawa ke anjuran dan bimbingan, sebagaimana telah ditetapkan oleh sejumlah ulama, di Antara mereka adalah: Ibnu Muflih dalam “Al Furu’” (1/hal. 132) dan Al Hafizh Ibnu Hajar dalam “Fathul Bari” (11/87). Wallahu a’lam.” Selesai.

Dan penunaian shalat maghrib dan mendengarkan dars di Masjid memiliki maslahat-maslahat yang agung, maka tidak mengapa anak dibawa ke Masjid saat itu dan saat yang lain. ***

-o0o-

Alamandang,

Bagian pertama.

Alhadist Nabi, Maka tahanlah anak-anak kalian, dan tahan juga ternak-ternak kalian sampai hilangnya awal kegelapan Isya. Hadits riwayat Al Bukhariy (3280) dan Muslim (2012) [dari Jabir ra].

Makna dari Alhadist ini adalah luar biasa jelas, yaitu bahwa pada saat Maghrib dan Isya, setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah. Maksud dan tujuan dari amanat Nabi Muhammad Saw tersebut pun juga sudah sangat jelas, yaitu bahwa supaya pada saat Maghrib dan Isya, setiap anak harus tetap di rumahnya untuk shalat Maghrib dan Isya berjamaah diimamkan oleh ayah (atau datuk atau paman) masing masing.

Pada bagian lain, terdapat dua hadist lain yang harus diperhatikan.

Pertama,

Setiap kamu adalah pemimpin atas anak Dan keluarga kamu.

Hadist ini mempunyai arti bahwa setiap laki-laki khususnya para ayah atau suami atau kakek atau paman, harus shalat di rumah untuk menjadi imam atas anak dan keluarganya.

Mungkin pada pagi, dan siang hari para ayah tidak bisa berada di rumah karena bekerja di tempat kerja. Maka dari itu sang ayah tidak dapat shalat di rumah untuk menjadi imam atas anak dan keluarganya. Namun sore hari sang ayah pulang dan kembali berada di rumah. Maka itulah saatnya sang ayah harus shalat berjamaah dan menjadi imam atas anak Dan keluarganya.

Kedua.

Aku (Muhammad saw) hanya mementingkan perjalanan ke tiga tempat ini, yaitu Masjid Haram di Mekah, Mesjidku ini Nabawi, dan Masjid Aqsa di Jerusalem.

Hadist ini mempunyai pesan, bahwa Masjid yang wajib untuk dikunjungi hanyalah ketiga Masjid suci tersebut. Artinya, Masjid selain ketiga Masjid suci tersebut tidak mempunyai keutamaan untuk dikunjungi untuk tujuan shalat, kecuali dalam rangka shalat jumat tentunya.

Sehingga, hadist ini mempunyai arti, bahwa setiap ayah haruslah lebih memilih untuk shalat di rumah untuk menjadi imam atas anak dan keluarganya, ketimbang harus melangkahkan kakinya ke Masjid untuk menunaikan shalat berjamaah di dalamnya, karena Masjid tersebut tidak wajib dijunjungi.

Dengan demikian adalah salah persepsi selama ini yang dianut sebagian besar Muslim bahwa setiap laki-laki harus shalat di Masjid. Kalau setiap laki-laki harus shalat di Masjid, maka kapan mereka menjadi imam atas anak dan keluarganya?

Maka kemudian, bagaimana dengan anak-anak? Nah itulah sebabnya, Nabi menyatakan Alhadist ini, yaitu setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah, supaya dengan demikian sang anak dapat dihimpunkan oleh ayah atau datuk masing-masing di rumah untuk turut shalat berjamaah, khususnya untuk jadwal Maghrib dan Isya.

Alhasil, gabungan ketiga Alhadist ini adalah, bahwa di satu pihak, setiap ayah haruslah shalat di rumah, bukan di Masjid, khususnya untuk jadwal Maghrib, Isya dan subuh, maka di pihak lain, setiap anak pun juga dilarang keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya, supaya dapat shalat berjamaah yang diimamkan oleh ayah atau datuk masing-masing.

Dengan kata lain, tidak ada pertentangan antara ketiga Alhadist tersebut (dan banyak Alhadist lain tentunya). Justru kebalikannya, ketiga Alhadist tersebut malah saling mendukung dan memperkuat shg tercipta satu kesatuan untuk menciptakan satu konsep yang kuat dan jelas, yaitu bahwa setiap keluarga haruslah shalat di rumah, bukan di Masjid.

Maka jelaslah sudah, Alhadist ini (tahanlah anak-anakmu di rumah saat Maghrib dan Isya …. dst), merupakan amanat Muhammad saw supaya setiap keluarga senantiasa shalat di rumahnya dalam keadaan shalat berjamah yang diimamkan oleh ayah mereka masing-masing. Ketiga Alhadist ini merupakan satu kesatuan untuk meneguhkan konsep bahwa sang ayah haruslah shalat di rumah untuk menjadi imam atas anak dan keluarganya.

Kalau masih ada umat yang terus berfikir bahwa setiap laki-laki harus shalat di Masjid (seperti yang selama ini dijalani umat), maka itu berarti ketiga Alhadist ini (dan banyak Alhadist lainnya) akan diingkari dan dilanggar. Dan pada akhirnya, kita harus sampai pada pemahaman final, bahwa setiap rumah umat harus menjadi tempat shalat berjamaah bagi seluruh anggota keluarganya, khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh, demi untuk mengamalkan seluruh amanat dan Alhadist Nabi. Selama ini umat menjadikan Masjid sebagai tempat untuk aktivitas shalat mereka – dengan meninggalkan kewajiban mereka untuk menjadi imam shalat atas anak dan keluarga. Dan tentunya hal ini adalah salah dan sesat, karena yang jelas, hal tersebut tidak logis dan tidak ada dasarnya menurut tuntunan Islam.

Bagian kedua.

Paparan yang dikemukakan pada rubrik tanya-jawab ini menukilkan suatu Alhadist penting di mana Nabi Muhammad saw memerintahkan setiap keluarga untuk menahan anak-anak mereka di dalam rumah khususnya di saat Maghrib dan Isya. Sebenarnya bunyi dan makna dari Alhadist ini sudah begitu jelas, yaitu bahwa setiap keluarga harus memastikan anak-anak mereka tetap berada di dalam rumah saat Maghrib dan Isya (supaya dengan demikian anak-anak dapat berpartisipasi shalat berjamaah dengan ayah mereka, di rumah). Sungguh sangat tidak dibutuhkan ilmu dan daya imaginasi yang tinggi untuk dapat memahami kandungan dan makna Alhadist ini, dikarenakan bunyi dan susunan kata dari Alhadist ini sendiri sudah begitu jelas.

Kalau Alhadist ini berbunyi bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka dalam rumah pada waktu Maghrib dan Isya, maka tentu makna dan pengamalannya jugalah harus demikian, yaitu pada saat datangnya Maghrib dan Isya, maka setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah, supaya tidak keluar rumah. Tidak mungkin ada makna yang lain lagi setelahnya.

Namun pada rubrik ini beberapa ahli tafsir tampak mencoba memberikan tafsir lain, yang mana tafsir tersebut justru menentang makna dan bunyi dari Alhadist yang ditafsir tersebut. Bagaimana mungkin?

Alhadist yang ingin ditafsir berbunyi: tahanlah anak-anakmu di rumah … dst. Dan ternyata kemudian hasil dari penafsiran tersebut adalah: anak-anak boleh keluar rumah …. Ini sungguh menjadi pertanyaan buat logika sehat.

Sama diketahui, bahwa pesan Muhammad saw adalah bahwa supaya setiap keluarga tidak memperbolehkan anak-anak mereka keluar rumah pada jam-jam Maghrib dan Isya. Namun kemudian mengapa tafsir yang diberikan para ahli atas Alhadist tersebut menjadi berupa penentangan nyata atas Alhadist yang ditafsir?

Apakah suatu Alhadist boleh ditentang melalui / oleh penafsirannya sendiri? Haruslah diperhatikan, bahwa kalau memang Muhammad saw merestui dan membenarkan umatnya untuk membiarkan anak-anak mereka keluar rumah saat Maghrib dan Isya, maka mengapa Nabi Muhammad saw harus menyatakan Alhadist tersebut? Bukankah tanpa adanya Alhadist tersebut, umat pun sudah dengan sendirinya membiarkan anak-anak mereka berkeliaran di luar rumah saat Maghrib dan Isya?

Kalaulah memberi ijin anak-anak untuk keluar rumah pada jam-jam Maghrib dan Isya merupakan kebolehan yang diberikan Nabi Muhammad saw, maka kemudian mengapa Muhammad saw menyatakan Alhadist yang demikian? Bukankah hal tersebut harus terlebih dahulu dijawab oleh para ahli tafsir sebelum mereka mengeluarkan hasil tafsir yang demikian?

Pada akhirnya, seluruh umat Muslim harus mengambil kesimpulan mandiri untuk menanggapi / menyikapi tafsiran yang dibuat para ahli tersebut, yaitu bahwa apa yang mereka fatwakan itu merupakan kesesatan, dan sekaligus merupakan pemelintiran dan penjungkir-balikan pesan dan ajaran Nabi Muhammad saw.

Maka dari itu, umat Muslim harus kembali kepada Alhadist tersebut (yaitu: tahanlah anak-anakmu di rumahmu pada saat Maghrib dan Isya …. ), yang mana itu berarti pada saat-saat tersebut, anak-anak Muslim harus ditahan di dalam rumah, jangan keluar rumah, yang tujuannya adalah supaya mereka berpartisipasi dalam shalat berjamaah yang diimamkan oleh ayah mereka masing-masing.

Kalau Muhammad saw menyatakan melalui Alhadis-nya bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka jangan keluar rumah saat Maghrib dan Isya, maka akuilah, bahwa makna dan kandungan dari Alhadist tersebut pun juga demikian, yaitu bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka jangan keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya. Itu sudah jelas, dan para ahli tafsir jangan lagi mencari-cari penafsiran lain untuk mengingkari atau mengkudeta Alhadist tersebut.

Analogi.

Sila pertama pada Pancasila berbunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Semua bangsa Indonesia sudah faham bahwa makna dan kandungan dari sila tersebut adalah bahwa negara dan bangsa Indonesia hanya mengakui satu Tuhan. Dengan demikian, melalui sila tersebut bangsa Indonesia menolak dengan tegas setiap faham yang mengakui adanya banyak Tuhan.

Namun kemudian, datang sekelompok manusia yang mengaku sebagai ahli tafsir. Mereka melakukan tafsir atas sila pertama tersebut. Hasil dari penafsiran mereka adalah, bahwa melalui sila pertama tersebut, sebenarnya negara dan bangsa Indonesia mengakui adanya TUJUH TUHAN.

Bagaimana mungkin? Sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, ternyata mempunyai tafsir yang justru berlawanan dengan sila yang ditafsir? Apakah mungkin dan masuk akal, bahwa suatu penafsiran berlawanan dengan yang ditafsir?

Kalau memang benar bahwa NKRI mengakui adanya tujuh Tuhan, maka lantas mengapa negara ini harus mempunyai sila tersebut dalam dasar negaranya? Bukankah itu mubazir? Bukankah itu akan menjadi lelucon murahan?

Bagian ketiga.

Artikel ini mengajukan suatu wacana, di mana adanya suatu Alhadist yang mengajarkan bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah saat Maghrib dan Isya. Kemudian disusul dengan mengusung penafsiran dari para ahli bahwa Alhadist tersebut boleh dan sah untuk dilawan, yaitu dengan menggunakan Alhadis lain untuk menggugurkan Alhadis dimaksud. Bagaimana mungkin logika seperti ini dapat diterima?

Kaum Muslim yang mengaku sebagai ahli tafsir (pada rubrik ini) sengaja dan berniat mengingkari makna dan kandungan dari Alhadis ini, dengan menggunakan Alhadis lainnya. Ini berarti, terdapat gejala di mana para ahli mencoba menggunakan satu Alhadis untuk melawan Alhadis lainnya. Maka kemudian, apakah dapat dibenarkan oleh logika, di mana satu Alhadis dapat digunakan untuk melawan Alhadis lainnya?

Pada satu bagian, mereka para ahli tafsir menulis,

“ …….. Tapi telah datang dalil-dalil yang banyak tentang perlindungan dengan dzikir kepada Allah. Di antaranya adalah: perlindungan khusus bagi anak-anak, seperti hadits Ibnu Abbas ra yang berkata:

Dulu Nabi saw melindungi Hasan dan Husain dan berkata: “Sesungguhnya ayah kalian (yaitu Ibrahim as) dulu melindungi Isma’il dan Ishaq dengan doa ini: (yang artinya) “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa dan dari setiap mata pencela” (HR. Al Bukhariy (3371)). ……”.

Keterangan.

Tampak sekali, bahwa pada bagian ini, para ahli mencoba untuk membenturkan antara:

  1. Alhadis bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya.

………………. dengan ……………….

  1. Alhadis Nabi seperti pada HR. Al Bukhariy (3371) di atas.

Bagaimana mungkin Muhammad Saw mengijinkan umat pengikutnya untuk membenturkan antara satu Alhadis dengan Alhadis lainnya, sementara keseluruhan Alhadis tersebut berasal dari diri Nabi Muhammad Saw sendiri? Apakah mungkin Nabi Muhammad Saw mengajarkan begitu banyak Alhadis yang kelak akan saling berbenturan satu dengan yang lainnya?

Pun sama difahami, bahwa makna dari Alhadis No. 3371 ini adalah bahwa doa tersebut untuk melindungi kanak-kanak Ismail dan Ishak (maknanya untuk seluruh anak Muslim di segala jaman secara umum), namun kemudian, untuk melindungi mereka pada saat Maghrib dan Isya, maka caranya adalah dengan tetap berdiam di dalam rumah.

Intinya, kalau di satu pihak Muhammad Saw menyatakan Alhadis No. 3371 Bukhari ini, maka di lain pihak, Alhadis No. 3280 Bukhari merupakan ajaran yang spesifik mengenai perlindungan terhadap Setan untuk anak-anak. Tidak bisa diperbenturkan.

Pada Alhadis No. 3280 Bukhari ini, Muhammad Saw telah memberi ajaran yang spesifik dan matang mengenai perlindungan anak-anak dari Setan (yaitu dengan diam di dalam rumah saat Maghrib dan Isya), maka kemudian mengapa harus dimentahkan lagi dengan menyosorkan Alhadis No. 3371 Bukhari ini? Kedua Alhadis ini bukanlah untuk diperbenturkan (satu dengan yang lainnya), melainkan untuk (saling) mematangkan.

Kalau sudah jelas bahwa anak-anak akan mendapat perlindungan dari Setan dengan cara diam di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya (Alhadis No. 3280 Bukhari), maka kemudian mengapa anak-anak tersebut harus dikeluarkan dari rumah pada saat tersebut supaya terpapar Setan, dan kemudian supaya harus berdoa supaya tidak diganggu Setan (dengan berdasarkan Alhadis No. 3371 Bukhari)? Apakah hal tersebut efisien menurut logika? ***

Kemudian, pada bagian lain, mereka para ahli tafsir menerangkan lebih lanjut,

“ ……….. Dan anak-anak diajari dzikrullah ketika keluar rumah.

Dari Ummu Salamah ra. yang berkata:

Tidak pernah Nabi saw keluar dari rumahku sama sekali kecuali beliau mengangkat pandangan mata beliau ke langit seraya berdoa (yang artinya): “Ya Allah sungguh saya berlindung kepadaMu dari tersesat atau disesatkan orang, tergelincir atau digelincirkan orang, atau menzhalimi atau dizhalimi orang, atau berbuat bodoh, atau ada orang berbuat badah terhadapku” (HR. Abu Dawud (5094) dan At Tirmidziy (3427) / shahih). …..”.

Keterangan.

Dengan demikian, para ahli tafsir ini, ingin membenturkan antara Alhadis No. 3280 Bukhari ini dengan Alhadis No. 5094 Abu Dawud.

Ingatlah, bahwa Alhadis No. 5094 Abu Daud ini merupakan Alhadis yang cakupannya begitu umum, tidak mengenai saat Maghrib – Isya, dan tidak mengenai anak-anak. Setiap saat umat Muslim memang diajarkan dan diwajibkan untuk memanjatkan doa supaya dilindungi dari godaan Setan, namun yang jelas Alhadis No. 3371 Bukhari ini telah mempunyai autoritas dan cakupannya sendiri, yaitu untuk anak-anak dan di saat Maghrib – Isya. Tidak mungkin menurut logika, anak-anak yang sudah terjamin aman dari Setan dengan cara diam di dalam rumah, tiba-tiba harus dikeluarkan dari rumah supaya terpapar Setan, dan kemudian supaya berdoa diselamatkan dari Setan. Hal tersebut sungguh tidak efisien. Kalau jaminan aman sudah ada, maka mengapa harus ambil resiko untuk mencari bahaya lain? ***

Begitu juga dengan Alhadis lainnya yang digunakan para ahli tafsir untuk menjungkirbalikkan Alhadis bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya.

Pada dasarnya, kalau memang benar bahwa anak-anak boleh keluar rumah saat Maghrib dan Isya – berdasarkan beberapa Alhadis ini:

  1. Dulu Nabi saw melindungi Hasan dan Husain dan berkata: “Sesungguhnya ayah kalian (yaitu Ibrahim as) dulu melindungi Isma’il dan Ishaq dengan doa ini: (yang artinya) “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa dan dari setiap mata pencela” (HR. Al Bukhariy (3371)).
  2. Tidak pernah Nabi saw keluar dari rumahku sama sekali kecuali beliau mengangkat pandangan mata beliau ke langit seraya berdoa (yang artinya): “Ya Allah sungguh saya berlindung kepadaMu dari tersesat atau disesatkan orang, tergelincir atau digelincirkan orang, atau menzhalimi atau dizhalimi orang, atau berbuat bodoh, atau ada orang berbuat badah terhadapku” (HR. Abu Dawud (5094) dan At Tirmidziy (3427) / shahih).
  3. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa ketika keluar rumah dia berkata: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal pada Allah. Dan tiada upaya dan tiada daya kecuali dengan pertolongan Allah”. Dikatakan padanya: “Engkau telah dicukupi, dan engkau telah dilindungi”. Dan setan menyingkir darinya” (HR. At Tirmidziy (3426)).
  4. “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa singgah di suatu per-singgahan lalu dia berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan” (HR. Muslim (2708).
  5. Ada orang datang pada Nabi saw seraya berkata: “Wahai Rasulullah, alangkah menyakitkannya apa yang saya dapati dari kalajengking yang menyengat saya tadi malam”. Maka beliau bersabda: “Adapun andaikata engkau ketika masuk di waktu sore berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan”.  Niscaya dia tak akan membahayakanmu” (HR. Muslim (2709)).

…… maka kemudian mengapa Muhammad Saw pada saat yang lain harus menyatakan Alhadis yang ini:

Maka tahanlah anak-anak kalian, dan tahan juga ternak-ternak kalian sampai hilangnya awal kegelapan Isya”. Hadits riwayat Al Bukhariy (3280) dan Muslim (2012) [dari Jabir ra].

Kalau dicermati dengan baik, sebenarnya Nabi Muhammad Saw tidak perlu mengemukakan Alhadis seperti yang dicatat pada Bukhari No. 3280 ini, karena keselamatan dan keamanan anak-anak dari godaan Setan sudah terjamin melalui Alhadis No. 1 sd No. 5 di atas. Artinya, kalau keselamatan dan keamanan anak-anak sudah terjamin dengan doa, seperti yang dilukiskan melalui Alhadis dari No. 1 sd No. 5 ini, maka Alhadis No. 3280 Bukhari sudah tidak diperlukan lagi. Dan itu artinya, setiap anak-anak boleh dan sah untuk keluar rumah di saat Maghrib dan Isya. Itu jelas.

Namun faktanya, Muhammad Saw telah mengajarkan dan menyatakan Alhadis-nya seperti yang dicatat dengan No. 3280 Bukhari, kendati sudah ada Alhadis lain seperti yang dinomorkan No. 1 sd No. 5 di atas. Ini berarti, Muhammad Saw mengajarkan harus adanya perlakuan berbeda untuk anak-anak pada saat Maghrib dan Isya. … yaitu bahwa setiap anak-anak tidak boleh keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya. Dan ini tidak ada hubungannya dengan titah Nabi Muhammad Saw mengenai doa dan dzikir untuk menjauhkan diri dari gangguan Setan.

Nabi Muhammad Saw tidak pernah memberi peluang dan kemungkinan kepada umatnya untuk dapat mengakali mau pun melawan Alhadis Bukhari 3280 ini (juga Alhadis lainnya). Kalau Muhammad Saw memberi peluang dan idea kepada umatnya untuk melawan Alhadistnya ini, maka buat apa Muhammad Saw menyatakan Alhadis tersebut pada saat pertama? Bukankah itu mubazir?

Alhadis No. 3280 Bukhari ini melukiskan adanya jaminan keamanan dan keselamatan untuk anak-anak dari gangguan Setan, selama mereka tetap berada di dalam rumah, pada saat Maghrib dan Isya. Maka kemudian mengapa ada sebagian Muslim yang berkeinginan supaya anak-anak dibolehkan keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya, sehingga dengan demikian anak-anak akan terpapar Setan, dan kemudian supaya anak-anak berdoa terhadap gangguan Setan? Bukankah jaminan keselamatan dan keamaan dari gangguan Setan sudah ada dan terjamin di dalam rumah?

Bagian keempat.

Pada saat pertama Nabi Muhammad Saw bersabda, “Tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya …… dst”. Alhadis ini mengajarkan umat Muslim supaya melarang anak-anak mereka keluar rumah pada saat tersebut, supaya mereka justru dapat berpartisipasi di dalam shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah mereka.

Namun pada saat kemudian, beberapa ahli tafsir memfatwakan, bahwa Alhadis Nabi ini dapat dilawan, dapat dilanggar, dapat diakali, dengan menggunakan Alhadis lainnya, yaitu seperti Alhadis membaca doa dan dzikir saat keluar rumah supaya terbebas dari fitnah Setan dan Iblis.

Benarkah demikian?

Sudah jelas Alhadis Nabi saw, bahwa setiap keluarga harus melarang anak-anak mereka keluar rumah saat Maghrib dan Isya, dan perbuatan yang melanggar ajaran tersebut pastilah akan dikatakan sebagai perbuatan yang haram dan nista, karena telah mendurhakai titah Nabi Muhammad Saw.

Dan sekarang ada pertanyaan, dapatkah para ahli fatwa dibenarkan dengan tindakan mereka, yaitu menggunakan satu Alhadis untuk melawan Alhadis lainnya? Dan dapatkah dibenarkan, bahwa suatu perbuatan yang jelas-jelas diharamkan menurut suatu Alhadis, dapat DIHALALKAN dengan memperbanyak doa dan dzikir?

Mudahnya begini.

Jelas sekali Islam mengharamkan umatnya berzina: terdapat banyak Alhadis yang mengutuk zina. Namun kemudian apakah akhirnya berzina dapat dibenarkan dengan cara / melalui memperbanyak doa, membaca Alquran, shalat sunnah, dan dzikir?

Jelas sekali Islam mengharamkan umatnya meminum arak. Namun kemudian apakah akhirnya meminum arak dapat dibenarkan dengan cara / melalui memperbanyak doa, membaca Alquran, shalat sunnah, dan dzikir?

Tidak perlu dijabarkan, bahwa doa, shalawat, mengaji, berdzikir dsb tidak pernah dimaksudkan untuk tujuan menghalalkan kemaksiatan, untuk menentang ajaran Nabi Muhammad Saw sendiri. Kalau sudah jelas bahwa berzina, meminum arak, berjudi, perbuatan syirik dsb merupakan perbuatan maksiat yang terlarang dan dikutuk Nabi Muhammad Saw, maka itu berarti tidak ada satu amalan pun (seperti doa, shalawat, mengaji, berdzikir dsb) yang dapat menghalalkannya.

Kalau ada sebagian ahli tafsir berpendapat ajaran Muhammad Saw menahan anak-anak di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya BOLEH DITENTANG dengan cara memperbanyak doa dan dzikir, maka mau-tidak-mau implementasinya adalah, pengharaman atas berzina, meminum arak, makan daging babi dan kemaksiatan lainnya pun juga dapat dihalalkan dengan memperbanyak doa, dzikir, shalat sunnah, mengaji dsb. Apakah itu mungkin?

Sampai di sini pun sudah jelas, bahwa titah Nabi Muhammad Saw mengenai perintah untuk menahan anak-anak di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya, tidak dapat dijungkirbalikkan sehingga menjadi membolehkan anak-anak keluar rumah, dengan cara memperbanyak doa mau pun zikir. Demikianlah logika bertitah.

Bagian kelima.

Tampaknya para ahli tafsir mempunyai kecenderungan kuat untuk memberikan tafsir / fatwa bahwa anak-anak diperbolehkan keluar rumah saat Maghrib dan Isya, khususnya untuk tujuan menghadiri shalat berjamaah di Masjid, kendati tuntunan dari Muhammad Saw sudah jelas di dalam hal ini, yaitu bahwa setiap anak dilarang keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya, UNTUK TUJUAN APAPUN …. termasuk untuk tujuan shalat berjamaah di Masjid.

Anak-anak jangan keluar rumah saat Maghrib dan IsyaPara ahli tampaknya sudah terlanjur terkooptasi dan terkonsumsi oleh PRA-PERSEPSI oleh suatu faham, yaitu bahwa shalat yang baik dan ideal haruslah ditunaikan di Masjid, bukan di rumah. Inilah kesalahan awal yang diderita para ahli – saat mereka menafsirkan Alhadis “tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya ...” ini.

Dikarenakan mereka terkooptasi oleh pemikiran bahwa shalat yang ideal haruslah ditunaikan di dalam Masjid, maka hal tersebut mengakibatkan mereka berbenturan dengan Alhadis Nabi ini, yaitu “tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya ...” ini. Mereka melihat adanya kontradiksi, antara shalat yang ideal (yaitu ditunaikan di Masjid, menurut fikiran mereka), dengan titah Nabi bahwa anak-anak harus dilarang keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya.

Oleh karena itu, untuk ‘mengakali’ titah dari Alhadis tersebut, akhirnya mereka mencari-cari dalih dan dalil untuk melawan Alhadis Nabi tersebut (padahal saat Maghrib dan Isya setiap anak-anak harus dicegah keluar rumah), demi untuk bisa shalat di Masjid. Padahal tidak ada ketentuan dan keharusan bagi setiap Muslim untuk shalat di Masjid, baik untuk para dewasa mau pun anak-anak. Hasilnya, lahirlah beberapa statement dan fatwa dari kalangan mereka, yaitu bahwa anak-anak DIBOLEHKAN keluar rumah saat Maghrib dan Isya, dengan cara mereka harus perbanyak membaca doa dan dzikir.

Umat Muslim, khususnya para ahli tafsir, justru seharusnya melihat, bahwa Alhadis Nabi ini (tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya …) merupakan sinyal bahwa yang dikehendaki oleh Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw mengenai pengamalan shalat adalah, bahwa shalat haruslah ditunaikan di rumah, bukan di Masjid.

Pentup.

Sama diketahui bahwa tidak ada satu pun tuntunan, khususnya berupa Alhadis, yang menekankan bahwa shalat seharusnya (dan sebaiknya) ditunaikan di Masjid. Kebalikannya, terdapat banyak Alhadis yang menyatakan bahwa shalat sebaiknya ditunaikan di rumah, apalagi ditunaikan bersama anak-anak dan keluarga, di dalam apa yang dinamakan dengan shalat berjamaah. Namun melihat begitu banyak umat mau pun ulama yang mempunyai ‘firasat’ alias terkooptasi oleh tradisi shalat terbaik haruslah ditunaikan di Masjid, tentu menjadi perkara lain – yang tidak ada hubungannya dengan tuntunan Nabi Muhammad Saw.

Dan kemudian, Alhadis ini, tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya, merupakan salah satu Alhadis yang meneguhkan ajaran Islam, bahwa shalat idealnya harus ditunaikan di rumah, bersama antara ayah / suami sebagai Imam, dengan anak-anak dan keluarga sebagai makmum shalat.

Tidak pelak lagi, Alhadis ini merupakan petunjuk bahwa shalat harus ditunaikan di rumah, bagi anak-anak. Dan kemudian bagi para orang dewasa (khususnya para ayah dan suami / datuk / paman dsb), shalat pun juga harus di rumah, untuk menjadi Imam atas anak-anak dan keluarga, karena memang sudah ada Alhadisnya untuk itu, yaitu,

  1. Setiap kamu adalah Imam / pemimpin atas anak-anak dan keluarga kamu.
  2. Terangilah rumah-rumah kalian dengan shalat dan mengaji.
  3. Aku (Muhammad saw) hanya mementingkan perjalanan ke tiga tempat ini, yaitu Masjid Haram di Mekah, Mesjidku ini Nabawi, dan Masjid Aqsa di Jerusalem. Makna dari Alhadis ini adalah, bahwa selain dari ketiga Masjid tersebut, adalah tidak mempunyai keutamaan dan fadilah untuk dishalati. Artinya, setiap umat haruslah shalat di rumah, bukan di Masjid, untuk supaya menjadi Imam atas anak-anak dan keluarganya.

Kesimpulan.

Adanya tafsir sementara para ahli, yang memelintir Alhadis Nabi Muhammad Saw “tahanlah anak-anak kalian di rumah pada saat Maghrib dan Isya”, benar-benar harus dijauhi dan dihindari dari kehidupan ini. Semua implementasi yang diberikan kepada tafsir ini pasti mendatangkan dosa di sisi Allah Swt.

Alhadis tersebut, pasti mau-tidak-mau berarti bahwa setiap keluarga harus melarang anak-anak mereka keluar rumah, maka impementasinya jugalah demikian. Bukan sebaliknya, yaitu MEMBOLEHKAN anak-anak keluar rumah, dengan menggunakan berbagai macam dalih dan teori yang dipaksakan.

Kembalikanlah bunyi Alhadis tersebut kepada diri Nabi Muhammad Saw, bukan kepada kehendak dan prasangka para ahli tafsir. Ingatlah, bahwa para ahli tafsir adalah manusia juga adanya, mereka bukanlah para Nabi, dan mereka bukanlah para Malaikat.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.

Ternyata Bahasa Melayu Dan Bahasa Inggris Adalah Seumur

bahasaTidak bisa diingkari bahwa pada jaman sekarang ini, bahasa Inggris merupakan bahasa terunggul di dunia karena penggunaannya yang meluas. Tampaknya ketangguhan angkatan perang Inggris di dunia menjadi satu-satunya alasan bahasa Inggris menjadi bahasa yang paling banyak digunakan di dunia ini.

Kita sebagai bangsa Melayu, tentunya merupakan bangsa yang bangga dengan bahasa Melayu, yang di Indonesia disebut sebagai bahasa Indonesia. Memang harus diakui bahwa porsi yang didapat bahasa Melayu di tengah kancah pergaulan dunia, tidak seluas dan seperkasa bahasa Inggris. Bahasa Melayu paling banyak digunakan sebagai lingua franca di kawasan Asia Tenggara, yang meliputi Malaysia, Indonesia, Brunei, Singapura, sebagian Thailand, dan sedikit Philipina.

Ada satu fakta yang unik, bahwa ternyata bahasa Inggris dan bahasa Melayu mempunyai umur yang sama secara sejarah, tidak berpaut jauh. Baiklah akan dipaparkan di bawah ini sejarah masing-masing sejarah kedua bahasa tersebut.

Bahasa Melayu (Kuno)

Bahasa Melayu tergolong dalam keluarga bahasa Nusantara di bawah golongan bahasa Sumatera. Bahasa Melayu kuno digunakan pada abad ke-7 hingga abad ke-13 pada zaman kerajaan Sriwijaya. Pada waktu itu, BM kuno telah menjadi lingua franca dan bahasa pentadbiran karena sifat bahasa Melayu yang bersifat sederhana dan mudah menerima pengaruh luar. Bahasa Melayu juga tidak terikat kepada perbedaan susun lapis masyarakat dan mempunyai sistem yang lebih mudah dibanding bahasa Jawa.

Oleh sebab agama Hindu menjadi pegangan orang Melayu ketika itu, bahasa Melayu banyak dipengaruhi sistem bahasa Sanskrit yang menyumbang pengayaan kosakata dan ciri-ciri keilmuaan (kesarjanaan) Bahasa Melayu. Bahasa Sanskrit dianggap sebagai bahasa sarjana dan digunakan oleh bangsawan. Bahasa Melayu juga mudah dilentur menurut keadaan dan keperluan.

Bukti penggunaan Bahasa Melayu kuno dapat dilihat pada batu-batu bersurat abad ke-7 yang ditulis dengan huruf Palawa yaitu:

  1. Batu bersurat di Kedukan Bukit, Palembang (683 M)
  2. Batu bersurat di Talang Ruwo, dekat Palembang (684 M)
  3. Batu bersurat di Kota Kampur, Pulau Bangka (686 M)
  4. Batu bersurat di Karang Brahi, Meringin, daerah Hulu Jambi (686 M)

Berdasarkan isinya, penulisan di batu bersurat tersebut dibuat atas arahan raja Srivijaya, sebuah kerajaan yang mempunyai kekuasaan meliputi Sumatera, Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, Segenting Kra dan Sri Lanka. Oleh karena itu, ini menunjukkan bahwa Bahasa Melayu telah digunakan sebagai bahasa resmi dan bahasa pentadbiran kerajaan Srivijaya, sekaligus meluaskan Bahasa Melayu ke tanah jajahan takluknya. Walaupun bahasa pada batu bersurat itu masih berbahasa Sanskrit, akan tetapi masih terdapat pengaruh Bahasa Melayu Kuno di dalamnya.

Istilah Melayu timbul buat pertama kali dalam tulisan Cina pada tahun 644 dan 645 Masehi. Tulisan ini menyebut mengenai orang Mo-Lo-Yue yang mengirimkan utusan ke Negeri China untuk mempersembahkan hasil-hasil bumi kepada Raja China. Letaknya kerajaan Mo-Lo-Yue ini tidak dapat dipastikan tetapi ada yang mencatatkan di Semenanjung Tanah Melayu dan di Jambi, Sumatera.

Sumber, http://bmstpm.blogspot.com/2008/11/sejarah-perkembangan-dan-asal-usul.html?m=1

Dari paparan sejarah di atas, terlihat bahwa bahasa Melayu telah lahir ke dunia ini pada tahun 600-an Masehi, atau sejaman dengan abad di mana Muhammad Saw menjalankan tugas kenabiannya.

Bagaimana dengan umur bahasa Inggris? Berikut paparan sejarahnya.

Sejarah bahasa Inggris

Sejarah bahasa Inggeris bermula dari lahirnya bahasa Inggris di pulau Britania kurang lebih 1.500 tahun yang lalu.

Bahasa Inggris adalah sebuah bahasa Jermanik Barat yang berasal dari dialek-dialek Anglo-Frisia yang dibawa ke pulau Britania oleh para imigran Jermanik dari beberapa bagian barat laut daerah yang sekarang disebut Belanda dan Jerman.

Pada awalnya, bahasa Inggris Kuno adalah sekelompok dialek yang mencerminkan asal usul beragam kerajaan-kerajaan Anglo-Saxon di Inggris. Salah satu dialek ini, Saxon Barat akhirnya yang berdominasi. Lalu bahasa Inggris Kuno yang asli kemudian dipengaruhi oleh dua gelombang invasi.

Sumber, https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sejarah_bahasa_Inggris

Dari paparan ilmiah yang berasal dari portal wikipedia ini, terungkap bahwa bahasa Inggris terlahir ke dunia ini sekitar 1500 tahun yang lalu (sekarang tahun 2015), yang mana itu berarti bahwa ‘bayi’ bahasa Inggris lahir pada tahun 500-an masehi.

Dapat disimpulkan, bahwa jarak lahir antara bahasa Melayu dengan bahasa Inggris hanya terpaut 100 tahun, di mana bayi bahasa Melayu lahir ke dunia pada tahun 600-an, sementara bayi bahasa Inggris terlahir pada tahun 500-an.

Wallahu a’lam bishawab.

Mengukur Vonis Pidana Untuk Koruptor

hukumSaya yakin. Yakin. Satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas”, kata Anas.

Korupsi merupakan momok menakutkan di dalam kehidupan bernegara bagi bangsa mana pun di dunia ini. Semua negara, tanpa kecuali, pasti memiliki koruptornya masing-masing, tanpa kecuali, apakah ia negara maju, negara miskin, negara industri, negara terbelakang, dsb.

Berbagai cara telah ditempuh oleh banyak kalangan untuk menumpas korupsi, pun juga berbagai teori dan kajian telah banyak diajukan oleh para ilmuwan untuk mengupas akar penyebab korupsi ini, namun toh tetap saja keseluruhan usaha tersebut tampaknya sekarang ini belum membuahkan hasil yang memuaskan: korupsi tetap saja meraja-lela di berbagai belahan dunia.

Di Indonesia khususnya, jelas sekali bahwa runtuhnya Orde Baru terutama disebabkan karena rakyat Indonesia telah muak dengan beranak-pinaknya korupsi di berbagai lini Pemerintahan. Semua sektor dan aspek kehidupan bernegara dan berpolitik telah kadung digerayangi oleh tindak korupsi yang membabi-buta. Pada akhirnya, kesimaharajaan korupsi di Indonesia pada masa Orde Baru mencapai titik anti-klimaksnya, yaitu dengan tumbangnya sumbu Orde Baru, yaitu Presiden Soeharto himself.

Tumbangnya Orba segera diganti dengan diberdirikannya Orde Reformasi, yang salah satu tujuan terpentingnya adalah mengikis habis tindak korupsi sampai ke akar-akarnya.

Pada level ini, akhirnya publik menyadari, bahwa ternyata tidak mudah memerangi korupsi. Dan pada puncak kegalauan seluruh insan Indonesia mengenai merajalelanya korupsi, timbul beberapa pemikiran untuk memberi hukuman terberat kepada koruptor, yang dengan hukuman tersebut diharapkan korupsi dapat segera dimusnahkan dari setiap lini kehidupan ini.

Pemikiran tersebut setidaknya terdari dua ide, yaitu:

  • Pertama, menjatuhkan hukuman mati kepada para koruptor.
  • Kedua, menjatuhkan larangan untuk menshalati jenazah koruptor.

Dengan kedua hukuman ini, bangsa Indonesia menaruh harapan besar akan dapat terwujudnya suatu bangsa yang bebas dari tindak korupsi.

Hukuman mati bagi koruptor.

Banyak kalangan yang menyuarakan diberlakukannya hukuman mati untuk para koruptor. Alasan mereka adalah, bahwa korupsi merupakan kejahatan yang paling keji dan menyengsarakan banyak orang. Oleh karena itu hukuman yang paling setimpal kepada para koruptor adalah hukuman mati. Pun dengan diberlakukannya hukuman mati ini, insan beradab dapat berharap terciptanya efek jera dan rasa takut pada siapa pun untuk melakukan tindak korupsi. Dengan demikian menurut perhitungan insan beradab, pemberlakukan hukuman mati dapat menumpas tindak korupsi dari persada Indonesia ini.

Kalau kita cermati, sebenarnya dunia peradilan tidaklah sembarangan di dalam hal menjatuhkan hukuman mati. Yang tampak jelas pada sistem peradilan di Indonesia mengenai hukuman mati ini adalah, bahwa:

  1. Hukuman mati dijatuhkan kepada pelaku pembunuhan berantai, alias pembunuhan beruntun.
  2. Hukuman mati dijatuhkan kepada pelaku pembunuhan berencana.
  3. Hukuman mati dijatuhkan kepada pengedar narkoba di dalam ukuran tertentu.

Khusus hukuman mati yang dijatuhkan kepada pengedar narkoba, tampaknya alasan menjatuhkan hukuman mati kepada pelaku kejahatan ini adalah, karena kejahatan mereka mengakibatkan kematian yang diderita pengguna narkoba. Kalau pun tidak mati / tewas, maka hidupnya sengsara dan tidak berguna bagi bangsa dan keluarganya. Dan pun, korban mati akibat narkoba ini tidak satu, melainkan lebih dari satu, sehingga dengan demikian kejahatan narkoba dapat dipersamakan atau dianalogikan dengan kejahatan pembunuhan berantai atau pembunuhan berencana. Pantaslah, pelaku pengedar narkoba diganjar hukuman mati.

Dari sini kita dapat melihat, bahwa ternyata hukuman mati hanya dijatuhkan kepada para pelaku yang mengakibatkan kematian orang lain ‘secara sengaja’, yang mana kematiannya merupakan keniscayaan (pasti mati). Kata sengaja dan keniscayaan di sini merupakan kata kunci untuk dijatuhkannya hukuman mati. Atau dengan kata lain, terdapat ‘niat’ untuk melakukan perbuatan menghilangkan nyawa orang lain.

Singkat kata, terdapat hubungan yang kuat antara hukuman mati dengan kejahatan yang dijatuhi hukuman mati, yaitu nyawa. Lebih tepatnya lagi adalah, hukuman mati hanya dijatuhkan kepada pelaku penghilangan nyawa orang lain, yang dilakukan dengan sengaja, atau dengan adanya niat terlebih dahulu.

Sekarang bagaimana dengan koruptor? Apakah kejahatan mereka (yaitu korupsi) ada hubungannya dengan kegiatan menghilangkan nyawa (kematian) orang lain dengan sengaja atau dengan niat, sehingga layak dianalogikan dengan membunuh orang dengan berantai, atau dengan berencana? Dan apakah korupsi merupakan kejahatan yang ‘niscaya / pasti’ mengakibatkan kematian para korbannya?

Jelaslah tidak ada hubungannya sama sekali, sehingga dengan demikian kejahatan korupsi tidak dapat dijatuhi hukuman mati. Tidak masuk akal. Dan tidak proporsional.

Apa yang diakukan koruptor adalah menggelapkan uang publik, dan sungguh menggelapkan uang publik sama sekali tidak dapat menghilangkan nyawa orang lain. Patut untuk direnungkan, bahwa uang seutuhnya adalah masalah rejeki, sementara rejeki sudah ada yang mengatur, yaitu Tuhan. Artinya, kalau publik tidak dapat rejeki (karena uangnya digelapkan oleh koruptor), maka pastilah rejeki publik akan mengalir dari arah lain. Terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa korupsi mengakibatkan kematian, karena bukti statistiknya pun tidak ada.

Oleh karena itu, wacana menjatuhkan hukuman mati kepada para koruptor merupakan suatu tindakan yang kelewat demonstratif yang tidak perlu. Yang terpenting bagi insan beradab adalah, hendaklah mereka melihat titik proporsional dari permasalahan hukuman mati ini: mengapa hukuman mati dijatuhkan. Tentu semua orang harus ingat, bahwa sebaiknya kita tidak semudah itu di dalam hal menjatuhkan hukuman mati. Buktinya, para Hakim dan insan peradilan saja melihat bahwa hukuman mati hanya dapat dijatuhkan kepada tiga jenis kejahatan, yang masing-masingnya berhubungan dengan penghilangan nyawa orang lain secara sengaja dan atau secara terencana.

Kalau korupsi sudah jelas tidak berimplikasi atau berakibat pada kematian orang lain, maka itu artinya tindak korupsi tidak dapat dijatuhi hukuman mati.

Larangan menshalati jenazah koruptor.

TEMPO.CO, Madiun -Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Madiun mewacanakan usulan fatwa tentang larangan salat jenazah untuk koruptor. “Karena koruptor tidak kapok meski sudah dijatuhi hukuman. Maka perlu diberi sanksi sosial seperti ini,” kata Ketua MUI Kota Madiun, Sutoyo, Rabu, 28 Januari 2015.

Menurut dia, wacana pemberian sanksi itu muncul dari aspirasi warga muslim yang disampaikan kepada MUI. Masukan ini melatarbelakalangi MUI menggelar pertemuan dengan sejumlah aktivis anti korupsi dan tokoh agama beberapa hari lalu. “Mereka mengatakan korupsi semakin menggurita ……

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/01/28/173638331/mui-madiun-usulkan-jasad-koruptor-haram-disalati

Wacana berikutnya yang diusung penggiat anti-korupsi adalah mengupayakan larangan menshalati jenazah koruptor. Dengan diberlakukannya larangan ini diharapkan tindak korupsi dapat dihilangkan, dan dapat menimbulkan opini bahwa tindak korupsi merupakan suatu kehinaan sehingga jenazah pelakunya tidak berhak untuk dishalatkan.

Islam mengajarkan bahwa penyelenggaraan jenazah hukumnya adalah fadhu (kifayah) atas seorang Muslim yang wafat, selama Muslim tersebut masih bersyahadat. Kalau ada seorang manusia yang sudah keluar dari syahadat (alias bukan Muslim lagi) maka haramlah hukumnya orang tersebut untuk dishalati jenazah oleh umat Muslim.

Seorang Muslim, yang artinya ia masih bersyahadat, tetaplah seorang Muslim, kendati ia:

  • Tidak (pernah) shalat, atau tidak mengamalkan keempat rukun Islam lainnya.
  • Banyak berbuat dosa, termasuk syirik / musyrik.
  • Munafik, seperti lebih banyak (cenderung) membela umat agama lain, suka mendeskreditkan Islam – agamanya sendiri, dsb.

Walau pun terdapat Muslim seperti yang digambarkan di atas, tetaplah ia seorang Muslim, yang artinya umat Muslim lainnya wajib untuk menshalati jenazahnya saat Muslim tersebut wafat.

Kejahatan, kejahatan apapun, sebesar apapun, yang dilakukan seorang Muslim, selama ia masih bersyahadat, tidak dan tidak pernah menghilangkan haknya untuk dishalati jenazahnya saat wafat. Sama diketahui, bahwa Muhammad Saw tidak pernah mengajarkan bahwa terdapat beberapa dosa yang mengakibatkan seorang Muslim kehilangan haknya untuk dishalatkan jenazahnya (kecuali murtad, tentunya).

Oleh karena itu, tindak kejahatan korupsi yang dilakukan seorang Muslim (sebesar apapun nominal korupsinya), tidak dapat dijadikan alasan untuk diberlakukannya larangan untuk menshalati jenazahnya, karena pada dasarnya ia adalah seorang Muslim, yang tetap bersyahadat hingga akhir hayatnya.

Patut untuk direnungkan, bahwa shalat jenazah bukanlah hak istimewa yang diberikan hanya kepada Muslim sejati yang luarbiasa, yang banyak beramal saleh, yang bertaqwa, dsb. Shalat jenazah adalah hak seluruh Muslim, ini termasuk Muslim-Muslim yang berperangai buruk, termasuk para koruptor, karena sejatinya mereka masih bersyahadat.

Memberlakukan larangan menshalati jenazah koruptor Muslim, justru akan menjadi perbuatan dosa bagi umat Muslim yang masih hidup. Maka apakah seluruh Muslim siap menanggung dosa di akhirat karena menolak menshalati jenazah Muslim lainnya, yang notabene adalah koruptor?

Kalau seorang Muslim faham agama, faham akan bidang Fiqih, terlebih lagi kalau seorang Muslim adalah seorang ulama, maka haruslah ia faham bahwa larangan menshalati jenazah koruptor merupakan suatu bentuk penistaan terhadap ajaran Islam yang luhur. Islam tidak pernah mengajarkan bahwa umat diharamkan untuk menshalati jenazah koruptor. Jadi, larangan menshalati jenazah koruptor merupakan bidah di dalam Islam, dan setiap bidah tempatnya adalah di Neraka.

Penutup.

Setiap umat, setiap bangsa, setiap filsuf, pastilah membenci dan mengutuk korupsi. Harus ada usaha yang besar untuk menumpas tindak korupsi. Namun tentunya harus tetap pada koridor kepantasan dan kepatutan di dalam usaha menggulung tindak korupsi. Proporsionalitas harus dikedepankan, logika haruslah tetap memandu setiap wacana untuk memusnahkan korupsi.

Menjatuhkan hukuman mati kepada koruptor, dan memberlakukan larangan menshalati jenazah koruptor, merupakan bentuk irrasionalitas di dalam menghadapi tindak korupsi.

Wallahu a’lam bishawab.

Mempermasalahkan Dunia Keartisan Indonesia

dunia artisKeberadaan artis di dalam kehidupan suatu masyarakat tentulah merupakan suatu keniscayaan. Dapat dipastikan bahwa tidak mungkin suatu masyarakat dapat mempunyai kehidupan, tanpa adanya artis. Artis-lah yang merupakan ujung tombak pemeragaan budaya, dan itu berarti artislah yang paling bertanggungjawab atas kelangsungan dan kelestarian suatu budaya. Apa jadinya kalau di dalam kehidupan ini tidak ada artis, karena kalau tidak ada artis, maka tidak ada seni dan budaya.

Karena keberadaan artis merupakan keniscayaan di dalam kehidupan ini, maka tentu haruslah ada juga forum untuk membicarakan keartisan, suatu forum yang membahas bagaimana layaknya menjadi artis, apa itu artis, apa itu batasan artis, guna dan fungsi artis, tujuan dari menjadi artis, dsb.

Satu hal yang mungkin harus ditekankan di sini adalah, bahwa artis adalah seorang manusia yang selayaknya merupakan ‘etalase’ kebudayaan. Seorang manusia artis adalah, selayaknya, merupakan tempat di mana suatu budaya diusung, dipamerkan, diperagakan, dipromosikan dan disemarakkan, sebagaimana mestinya.

Tidak ubahnya dengan seorang pelayan toko atau restoran. Haruslah seorang pelayan toko itu seseorang yang mempunyai paras yang indah, enak untuk dipandang mata, mempunyai senyum nan menawan, muda, sehat, ramah, dsb. Begitu juga dengan pelayan restauran, bahkan begitu juga dengan profesi pramugara / pramugari. Keseluruhan sosok tersebut harus merupakan seseorang yang mempunyai penampilan yang menarik, tampan, cantik, segar, muda, dsb.

Apa jadinya kalau sebuah toko mempekerjakan seseorang yang berwajah jelek untuk menjadi pelayannya? Dan apa jadinya kalau suatu pesawat terbang mempekerjakan seseorang yang berwajah jelek, hitam, menyeramkan, tidak ramah, sebagai pramugara / pramugari-nya? Tidak usah dibahas, karena pasti tidak ada orang yang cukup gila untuk mempekerjakan seseorang yang berwajah jelek sebagai pelayan toko, atau pelayan restauran, atau bahkan seorang pramugara, penyiar tv, dsb.

Untuk pemikiran yang sama, maka sudah sepatutnya suatu masyarakat mempekerjakan seseorang yang berwajah menarik sebagai pengusung dan pemeraga budaya pada masyarakat tersebut. Artinya, seorang artis haruslah mempunyai penampilan yang menarik, tampan, cantik, ramah, senyum yang menawan, segar, cerah, muda dan berseri-seri.

Intinya, seorang artis, yang merupakan etalase dari suatu kebudayaan, pastilah akan menjadi ‘pusat perhatian’ dan ‘sasaran pandang’ khalayak ketika sebuah budaya dipamerkan atau diperagakan olehnya. Maka dari itu, artis tersebut harus berwajah yang enak dipandang.

Singkat kata, suatu masyarakat tidak boleh mempekerjakan seseorang manusia yang berwajah jelek, sebagai artis untuk memperagakan kebudayaan masyarakat tersebut. Jadinya, suatu masyarakat (apakah itu stasiun tv, atau production-house, atau paguyuban lawak, gerombolan kesenian, sanggar seni, dsb) haruslah mempekerjakan seseorang yang berwajah indah untuk dijadikan artisnya.

Kenyataannya?

Alangkah sangat menyedihkan, bahwa kenyataannya di tengah masyarakat Indonesia ini, terdapat BANYAK artis yang berwajah jelek, tidak sedap dipandang mata, membuat mata pemirsa dan khalayak, sakit. Banyak sekali individu-individu yang berwajah jelek, ternyata telah didapuk oleh sebagian masyarakat Indonesia ini, untuk dijadikan artis Indonesia, untuk membawakan dan memperagakan budaya Indonesia, entah itu budaya nyanyian, tarian, lawak, drama sinetron, dsb. Jeleknya wajah mereka di lain pihak, tentu tidak dapat disembunyikan oleh kamera mana pun, maka menjadilah kejelekan wajah mereka satu padu dengan budaya Indonesia yang sedang diperagakan tersebut. Ini menyedihkan.

Memang di satu pihak, dapat dikatakan, bahwa individu-individu berwajah jelek tersebut, mempunyai suatu keterampilan di dalam hal tertentu yang pantas untuk dinikmati publik (seperti melawak, menari, menembang, dsb), namun tetap saja hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan dan pembenar untuk mendapuk mereka sebagai artis dan seniman Indonesia.

Harus dipertimbangkan, bahwa sebenarnya masih banyak individu lain yang berwajah menarik, namun di lain pihak mereka juga mempunyai ketrampilan di dalam suatu bidang budaya. Maka bukankah seharusnya individu-individu ini yang didapuk / direkrut untuk menjadi seniman atau selebriti Indonesia?

Bahkan lebih parahnya, terdapat beberapa stasiun tv swasta yang mendapuk atau mengorbitkan seseorang individu yang berwajah jelek, sebagai seniman atau selebriti Indonesia, padahal individu tersebut tidak mempunyai ketrampilan apapun, hanya saja individu tersebut mempunyai ‘keberanian’ dan kesudian untuk menjadi bahan olok-olok dan objek kekonyolan. Mau dibawa kemana dunia keartisan Indonesia ini?

Di lain pihak, ada faktor yang memperparah kekacauan cara berfikir orang Indonesia khususnya di dalam hal rekrut artis ini. Faktor tersebut amat menentukan di dalam kekacauan keartisan Indonesia. Faktor tersebut adalah, bahwa ternyata publik Indonesia pun mempunyai animo dan antusiasme yang tinggi terhadap keberadaan artis-artis yang berwajah jelek ini, hal mana ini membuat rating penampilan artis ini semakin tinggi.

Dengan kata lain, tampaknya justru publik Indonesia gemar melihat manusia-manusia berwajah jelek untuk ditampilkan di atas panggung untuk memperagakan budaya Indonesia. Hal ini terlihat dari rating setiap tivi yang terus meningkat manakala tv tersebut menampilkan artis-artis berwajah jelek.

Bukankah hal seperti ini harus diubah? Bukankah hal seperti ini seharusnya tidak ada?

Mengapa Indonesia, baik sebagai rakyat dan bangsa, sebagai kelompok budaya, mau pun sebagai negara, mempunyai cara berfikir yang aneh dan anomali, menentang cara berfikir lumrah yang berlaku di seluruh dunia? Mengapa bangsa Indonesia ini gemar melakukan suatu hal yang tidak ‘dunia-level’, yaitu hanya merekrut manusia-manusia berwajah menarik dan rupawan untuk dijadikan / diorbitkan sebagai artis pengusung dan pemeraga budaya?

Bukan di dalam hal keartisan saja publik Indonesia ini mempunyai cara berfikir yang aneh dan janggal, sebenarnya di dalam banyak hal dan aspek pun sebenarnya bangsa Indonesia juga janggal cara berfikirnya. Namun untuk menghemat waktu, hal-hal tersebut akan dibahas di lain kesempatan saja, karena kesempatan ini baiklah hanya untuk membahas dunia keartisan in yang kadung kacau.

Selera keartisan di luar negeri.

Baiklah kita perhatikan kehidupan keartisan di luar negeri. Di luar negeri, hanya manusia-manusia yang berwajah menarik dan menawan saja yang didapuk / direkrut untuk menjadi artis, dan tentunya hal tersebut juga disandingkan dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi artis. Jadi dengan kata lain, kalau ada individu mempunyai ketrampilan seni yang mumpuni, namun individu tersebut tidak berwajah rupawan, pastilah individu itu tidak akan direkrut: jangan harap. Alhasil, di luar negeri tidak pernah ada satu pun artis yang berwajah jelek. Semua artis luar negeri berwajah menawan dan sedap dipandang mata.

Mengapa demikian? Itu karena semua punggawa seni-budaya di luar negeri mempunyai fikiran yang waras; mereka tidak neko-neko. Mereka ingat bahwa artis adalah etalase pengusung dan pemeraga budaya masyarakat mereka sendiri. Oleh karena itu seorang artis haruslah berwajah rupawan dan menawan, supaya publik selalu mempunyai waktu dan minat untuk mencurahkan perhatian dan antusiasme-nya.

Publik seni internasional tentunya ingat, bahwa terdapat beberapa video-klip lagu yang begitu terkenal karena lagu-nya sangat diterima oleh publik, ternyata video tersebut tidak menampilkan wajah sang penyanyi. Mengapa demikian? Hal tersebut karena ternyata sang penyanyi tidak mempunyai wajah yang menarik untuk dilihat publik. Dengan kata lain, lagu dan juga video musiknya, hanya mengusung lagu itu sendiri, namun tidak mengusung wajah sang penyanyi.

Apa yang melatar-belakangi hal ini adalah, karena pekerja seni di luar negeri begitu faham bahwa seorang artis (yang mengusung budaya) haruslah mereka yang berwajah molek – sehingga etis untuk ditampilkan dan diperagakan. Dan kalau ternyata ada individu seni yang mempunyai kemampuan musikalitas yang prima, namun tidak didukung wajah yang molek, maka MAU-TIDAK-MAU wajah individu tersebut tidak perlu ditampilkan, tidak perlu diungkapkan; cukuplah musikalitasnya saja yang diusung dan di-apresiasi.

Hal seperti inilah yang tidak ada di Indonesia. Masyarakat panggung Indonesia tidak pernah sadar bahwa artis adalah etalase budaya. Yang ada di dalam fikiran masyarakat-panggung Indonesia adalah hanya memikirkan rating dan pendapatan keuangan, lain tidak. Akibatnya, mereka, para masyarakat-panggung, gemar sekali mengetengahkan artis-artis berwajah jelek, selama artis tersebut dapat mendatangkan keuntungan keuangan. Intinya, tidak ada kewarasan. ***

Ada dua hal yang harus diperhatikan di dalam hal merekrut artis untuk dijadikan etalase seni dan budaya:

  1. Seni dan budaya yang ada pada suatu masyarakat, haruslah ditampilkan semenarik mungkin. Ini mutlak. Oleh karena itu, personel-nya harus juga menarik dan rupawan. Itu artinya personel artis yang direkrut untuk tujuan menampilkan, memperagakan mau pun mempromosikan seni dan budaya Indonesia, haruslah individu-individu yang berwajah menarik, rupawan, menawan, muda, dan sehat.
  2. Publik pun, di lain pihak, juga berhak untuk memperoleh suguhan pentas seni-budaya yang diusung oleh personel-personel yang berwajah molek dan menawan. Jangan biarkan publik terlena melihat personel seni berwajah buruk dan kusam. Publik seni berhak melihat artis-artis berwajah dewa-dewi.

Di luar itu pun, publik juga harus dididik untuk sadar bahwa artis haruslah berwajah molek, bukan personel yang berwajah jelek, karena apa yang mereka (para artis) usung, merupakan suatu hal yang serius dan agung, yaitu budaya leluhur bangsa Indonesia. Publik seni harus diajarkan, bahwa tidak logis dan tidak etis untuk melihat manusia-manusia berwajah jelek disuguhkan dan ditampilkan di atas panggung untuk memperagakan budaya masyarakat Indonesia yang adiluhung. Publik seni, harus protes kalau budaya Indonesia yang luhur ternyata diusung dan diperagakan oleh personel yang tidak mencerminkan budaya itu sendiri.

Bagaimana publik dapat mengenal dan mencintai budaya-nya sendiri, kalau publik itu malas menikmati suguhan budaya, karena suguhan budaya tersebut ditampilkan oleh personel artis yang buruk-rupa? ***

Untuk kedua hal tersebut, tak ayal lagi bahwa seluruh elemen publik Indonesia, khususnya yang berkiprah di dalam hal pentas seni-budaya, haruslah merekrut personel yang berwajah molek dan rupawan sebagai artis. Dan untuk itu, maka seluruh bangsa Indonesia harus begitu komit untuk tidak lagi menampilkan artis-artis berwajah jelek di atas panggung seni-budaya, karena hal tersebut tidak logis, dan juga tidak etis.

Syariah Islam Versus Jam Malam

heningMaha besar Allah Swt Yang telah memperedarkan malam dan siang, malam yang gelap gulita berhiaskan rembulan perak, dan bintang gemintang nan bertaburan; dan siang terang benderang yang berhias mentari yang kilau kemilau.

Tidaklah Allah Swt memperedarkan malam dan siang itu, dua hal yang saling bertolak belakang secara frontal, kecuali pada kedua hal tersebut Allah Swt telah mengiringi keduanya dengan hikmat untuk maslahat umatNya.

Mengapa Allah Swt menciptakan siang sebagai suatu hal yang terang benderang, yang dikawal matahari yang kilau cahayanya tidak dapat dikalahkan oleh pijar lilin mana pun? Dan mengapa pada siang hari itu, seluruh anak manusia berkeinginan untuk bekerja memperoleh rejeki, dan ingin membereskan seluruh pekerjaan mereka sebaik mungkin?

Kemudian, mengapa Allah Swt menciptakan malam gelap gulita, kalaupun ada cahaya maka hanya lamat-lamat yang dipancarkan rembulan perak, sementara gemintang tidak dapat menghempaskan bayang benda ke atas tanah? Dan mengapa, malam membuat manusia ingin berbaring di atas pembaringan? Mengapa ketika malam menjelang anak-anak manusia ingin tidur dan beristirahat, sehingga senyaplah pelataran kampung dan sepanjang jalan kota?

Islam sesuai fitrah.

Secara fitrah, manusia selalu mengasosiasikan siang sebagai tempat / saat untuk bekerja, dan juga untuk memperbaiki keadaan. Seluruh manusia mempunyai nurani, bahwa siang adalah saat untuk melelahkan badan untuk segala hal yang bermanfaat, untuk dirinya, masyarakatnya, negaranya, dan agamanya.

Dan akhirnya, fitrah jugalah, nurani jugalah, yang membuat manusia berfikir bahwa malam merupakan tempat dan saat beristirahat di rumah, berkumpul bersama anak, keluarga dan handai-taulan. Malam-lah saat mereka menikmati rejeki yang mereka peroleh pada siang harinya dengan bersusah payah.

Islam merupakan satu-satunya agama di dalam kehidupan ini yang sesuai fitrah manusia. Di dalam hal ini, fitrah manusia adalah menjadikan siang sebagai tempat untuk bekerja mencari nafkah dan membangun bangsa, kemudian menjadikan malam sebagai tempat untuk beristirahat dan menikmati rejeki yang mereka peroleh pada siang harinya.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Ar-rum, 30:30).

Tidak pernah Islam menghadirkan dirinya untuk menentang fitrah. Dan dari sini, Islam menyerukan umatnya untuk berteguh dengan fitrah. Jadi bukan saja Islam itu selalu bersesuaian dengan fitrah, Islam juga memerintahkan umatnya untuk hidup menurut fitrah, jangan pernah menentang dan melanggar fitrah tersebut.

Oleh karena itu, mengenai siang dan malam ini, manusia sudah sepatutnya konsisten dengan fitrah mereka: jadikanlah siang sebagai tempat untuk bekerja dan mencari nafkah, dan kemudian menjadikan malam sebagai tempat untuk beristirahat dan bercengkrama dengan keluarga di rumah.

Manusia mulai melanggar fitrah.

Terdapat kecenderungan dewasa ini, di mana ada segolongan manusia yang menjadikan malam sebagai kesempatan / peluang mereka untuk bekerja mencari uang dan penghasilan. Mereka banyak yang membuka usaha restoran, membuka usaha transportasi, membuka usaha pertunjukan hiburan, membuka toko dan pasar, menjalankan profesi sebagai tenaga pengaman, dsb.

Dengan adanya peluang memperoleh uang pada malam hari ini, yaitu dengan adanya restoran yang buka malam hari, atau bisnis transportasi pada malam hari, atau panggung hiburan, maka pada babak berikutnya mengakibatkan golongan masyarakat lainnya tersedot untuk keluar rumah pada malam hari untuk menikmati malam, menikmati restoran di malam hari, atau berjual-beli, atau menikmati panggung hiburan, yang keseluruhan itu juga ditunjang adanya bisnis transportasi.

Malam, yang seharusnya tempat anak manusia beristirahat, telah diselewengkan oleh segolongan manusia untuk mencari keuntungan finansial. Pada fenomena ini terdapat fakta bahwa pada akhirnya umat manusia sudah tidak lagi istiqomah (konsisten) dengan fitrah. Mereka tampak tergesa-gesa untuk menyimpangi fitrah, yaitu tergesa-gesa keluar rumah pada malam hari untuk memenuhi kerumunan manusia, kemudian melakukan transaksi finansial di tempat-tempat restoran atau hiburan malam. Tidak jarang mereka pulang ke rumah pada saat malam sudah larut sekali, dan sesampai di rumah mereka sudah mendapati tubuh mereka begitu lelah.

Pada awalnya, umat manusia taat akan fitrah, dan pada setiap saat mereka berkata, malam merupakan kuil yang disediakan Tuhan untuk beristirahat. Kala itu mereka teguh memegang pendirian tersebut. Namun, sejak ditemukan listrik, mobil, lampu, manusia mulai membenci fitrah tersebut, bahkan mulai melawan fitrah, dan melawan Hukum alam. Caranya adalah dengan keluar rumah pada malam hari, dan enggan menjadikan malam sebagai tempat untuk beristirahat di rumah. Hanya karena ditemukan listrik dan kendaraan yang hangat, mereka mulai membunuhi fitrah. Dan ini artinya, manusia tidak lagi berminat untuk tetap menjadi ‘seorang penguasa yang konsisten’ dengan kata-katanya sendiri. Hanya segitulah kekuatan manusia dengan kata-katanya sendiri, betapa manusia mahluk rapuh, hanya dengan sedikit hempasan kemajuan jaman berupa listrik dan kendaraan, manusia mulai mengingkari fitrah, dan limbung kepada kehancurannya sendiri.

Bagaimana mereka dapat memelihara kejiwaan mereka? Bagaimana mereka dapat memelihara kebugaran? Dan bagaimana mereka dapat memelihara kewarasan? Malam yang seharusnya tempat mereka mengumpulkan kesegaran dan kewarasan, telah mereka ubah menjadi tempat untuk berhura-hura di luar rumah.

Tanpa mereka sadari, mereka telah melanggar fitrah. Dan tanpa mereka sadari pula, mereka telah mencabik-cabik hak tubuh mereka, yaitu hak untuk beristirahat. Di dalam hal ini, Muhammad Saw telah bersabda,

“Tubuhmu juga mempunyai hak atas dirimu”.

Arti dari Alhadis ini adalah, bahwa tubuh mempunyai hak yang proporsional untuk istirahat di malam hari. Ketika tubuh bekerja di siang hari dengan seluruh kekuatan dan tenaga yang ada, maka pada malam harinya tubuh butuh istirahat, untuk dtempatkan pada suasana yang hening dan tenang. Tempat itu adalah rumah yang dikelilingi anak dan keluarganya. Namun kemudian ternyata manusia telah mengingkari hak tubuh, dengan cara membawa sang tubuh ke luar rumah, hanya untuk mereguk kenikmatan duniawi di malam hari.

Jam malam, amanat Islam.

Sungguh, Allah Swt melalui Alquran dan Alhadis RasulNya, telah menggariskan bahwa malam merupakan tempat untuk beristirahat, bukan tempat untuk bekerja mencari penghasilan. Di dalam kaitan ini, malam hanya dapat digunakan untuk tiga tujuan yang bernuansa penguatan jiwa dan raga, yaitu:

  1. Beristirahat di rumah;
  2. Atau beribadah mendekatkan diri kepada Allah Swt di rumah;
  3. Atau bercengkrama dengan keluarga di rumah;

Adalah suatu kesesatan untuk menggunakan malam di luar ketiga tujuan di atas, seperti keluar rumah untuk mengunjungi restoran, atau menikmati hiburan, atau berbelanja, atau bekerja mencari uang tambahan.

Singkat kata, Islam menerapkan sistem jam malam kepada umatnya, jam malam yang berarti bahwa sebaiknya umat pada malam hari tidak keluar rumah, melainkan tetap tinggal di dalam rumah, yang bertujuan untuk beristirahat, atau beribadah bersama keluarga untuk mempertahankan dan meningkatkan kesalehan, atau pun bercengkrama dengan keluarga. Pada malam hari itulah, sang ayah akan memperhatikan anak-anaknya, dan anak-anak pun akan terhindar dari pergaulan malam yang menyesatkan.

Malam untuk bekerja mencari rejeki?

Ada yang berpendirian, bahwa pada siang hari mereka bekerja mencari rejeki, namun malam juga mereka lewatkan untuk mencari rejeki (tambahan). Ingatlah, bahwa rejeki sudah ada yang mengatur, yaitu Allah Swt. Dan kalau dikatakan bahwa rejeki yang didapat pada siang hari tidak mencukupi, maka harus dipertanyakan kepada mereka, apakah uang pernah ada cukupnya? Seberapa banyak uang yang mereka peroleh, toh tidak akan pernah ada cukupnya. Hanya keserakahan-lah yang menggiring manusia keluar rumah pada malam hari untuk bekerja mencari rejeki.

Oleh karena itu, seseorang tidak mempunyai alasan untuk menjadikan malam sebagai saat untuk mencari uang. Sebenarnya-lah, rejeki yang mereka dapat pada siang hari sudah mencukupi mereka, namun keserakahan telah menuntut lain yang berlebihan. Dan itu hanya karena telah ditemukan listrik, lampu dan kendaraan.

Pada jaman yang penuh penyimpangan ini, banyak ditemui manusia yang sudah kehilangan kewarasan, dan juga sudah hilang fleksibilitas. Mulai ditemukan banyak penyakit yang menggejala di tengah masyarakat. Banyak orang yang berkata, bahwa jaman sekarang ini adalah jaman edan, alias jamannya orang sudah gila, gila massal, karena tidak lagi faham mana kaki mana kepala, mana anak dan mana tetangga. Benar sekali, jaman sekarang sudah dapat dikatakan sebagai jaman edan. Itu semua disebabkan pada malam hari mereka tidak beristirahat yang cukup. Yang mereka cari hanya uang, uang dan uang. Padahal Allah Swt telah berfirman bahwa malam hanya untuk beristirahat, bukan untuk bekerja mencari rejeki.

Tinjauan Alquran.

Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha (25:47).

Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (27:86)

Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (28:72).

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya (28:73).

Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (40:61).

Ayat-ayat di atas sudah bertitah, bahwa Allah Swt berkehendak bahwa umat Muslim tidak menjadikan malam kecuali sebagai saat untuk beristirahat, bukan untuk bekerja, karena saat untuk bekerja adalah siang hari.

Apakah ayat-ayat Alquran di atas mempunyai arti lain, yaitu bahwa umat manusia dapat menjadikan malam sebagai saat untuk bekerja dan berusaha mencari uang? Sudah jelas bahwa ayat-ayat Alquran tidak mempunyai arti lain, kecuali bahwa seluruh Muslim harus memperlakukan malam sebagai saat untuk beristirahat (dan juga untuk ibadah), dan ini berarti Allah Swt akan menjatuhkan dosa dan laknatNya kepada siapa saja yang menyalah-gunakan malam.

Kalaulah memang Allah Swt ridha umat bekerja di malam hari, umat menggunakan malam hari sebagai tempat untuk berusaha buat penghasilan, maka mengapa Allah Swt menurunkan ayat-ayat sedemikian seperti yang di atas? Sungguh ayat Alquran tidak dapat lagi diubah oleh siapa pun, dan itu artinya siapa pun juga tidak boleh mengubah makna dari ayat-ayat Alquran tersebut.

Ayat berikut ini,

Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, (78:11).

Pada ayat Alquran 78:11 ini, Allah Swt menitahkan, bahwa tempat dan saat untuk mencari penghidupan, yaitu bekerja mencari penghasilan, adalah siang. Ayat ini tidak menyebut malam untuk tujuan tersebut, melainkan siang. Maka dari itu mengapa ada sebagian umat yang mempergunakan malam sebagai tempat dan saat untuk bekerja mencari penghidupan? Nyata sekali, bahwa menggunakan malam sebagai saat untuk bekerja, merupakan penyimpangan terhadap firman Allah Swt. Dan tidak ada satu pun ayat khususnya di dalam Alquran yang menyatakan bahwa umat boleh menggunakan malam sebagai saat untuk bekerja mencari rejeki.

Ayat berikut di bawah ini,

Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, (113:3).

Ayat ini bertitah bahwa malam selalu mempunyai kejahatan bagi siapa saja yang keluar rumah pada malam hari. Tidak ada yang dapat menyangkal kandungan ayat ini, maka dari itu tidak ada juga yang dapat menyangkal makna dari ayat ini, bahwa setiap malam mempunyai kejahatannya sendiri. Terlebih, tidak ada satu pun manusia yang dapat menyangkal fakta bahwa selama ini malam memang selalu mempunyai kejahatan bagi manusia yang keluar rumah padanya.

Terdapat dua jenis kejahatan malam yang telah menunggu umat manusia, yaitu kejahatan sosial dan kejahatan spiritual. Kejahatan spiritual malam adalah, di mana manusia yang selalu keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam (dengan tidak menggunakan malam sebagai moment untuk istirahat dan beribadah di rumah) akan berubah menjadi manusia yang hedonis, manusia yang hanya memikirkan harta dan kekayaan, manusia yang tidak lagi memperdulikan Haram dan halal, manusia yang menganggap agama hanya festival yang diselenggerakan di dalam rumah ibadah, manusia yang gersang dari nilai kesalehan dan ketuhanan, manusia yang egois, dsb.

Malam merupakan saat yang tepat bagi seluruh keluarga untuk beristirahat di dalam rumah, karena pada saat yang bersamaan, di luar rumah, malam telah siap dengan segala jenis kerusakan dan kemaksiatan sosial yaitu:

  • Ajang perzinahan, prostitusi, striptis.
  • Ajang mabuk-mabukan.
  • Ajang menghambur-hamburkan uang.
  • Ajang bermain judi.
  • Penggunaan narkoba.
  • Kehidupan malam menjauhkan umat dari kesalehan, dan mendekatkan kepada keduniawian.
  • Menjauhkan keluarga dari nilai kesederhanaan, ibadah dan kekhusyukan.
  • Menimbulkan kelelahan jiwa dan raga.

Melalui ayat ini Allah Swt bertitah bahwa satu-satunya cara untuk terhindar dari kejahatan malam adalah tidak keluar rumah pada malam hari, melainkan tinggal dan beristirahat di dalam rumah bersama keluarganya hingga fajar menjelang.

Dengan mensyariahkan jam malam ini, maka Allah Swt berkehendak bahwa pada saat malam kota menjadi kota mati, desa menjadi desa mati, karena tidak ada lagi aktivitas di luar rumah, karena pada saat itu seluruh manusia berdiam di dalam rumah untuk beristirahat, atau beribadah mau pun bercengkerama dengan keluarga.

Mengapa Islam mensyariahkan jam-malam, karena berdasarkan lima hal:

  1. Malam adalah saat untuk beristirahat. Ini adalah fitrah. Ini adalah Hukum alam.
  2. Rejeki tidak bisa dipaksakan, dan seberapa rejeki yang didapat pada siang hari, harus disyukuri. Ingatlah, bahwa manusia tidak pernah puas dengan seberapa banyak rejeki yang diperoleh.
  3. Malam mempunyai kejahatannya sendiri.
  4. Tidak ada kesalehan yang didapat umat dari kehidupan malam di luar rumah, melainkan justru mendekatkan umat manusia pada hedonisme dan hubud-dunya, yaitu cinta-dunia. Kebalikannya, saat yang tepat bagi umat untuk memperkuat ruhani dan kesalehan adalah malam hari, yaitu banyak beribadah pada malam hari di rumah bersama keluarga.
  5. Ingatlah, bahwa kehidupan malam mempunyai kontribusi terbesar atas terjadinya fenomena jaman-edan. Bagaimana tidak edan? Siang mereka bekerja mencari rejeki, malam pun juga mereka gunakan untuk mencari rejeki. Itu artinya siang malam mereka jungkir-balik mencari rejeki, dan tidak ada lagi waktu untuk mengistirahatkan jiwa-raga mereka, dan tidak ada waktu untuk kesalehan dan ibadah, tidak ada lagi waktu untuk bercengkerama dengan anak dan keluarga, dan tidak ada lagi waktu untuk bermunajat kepada Allah YME. Semakin banyak uang yang mereka peroleh (karena bekerja juga di malam hari) maka semakin tamaklah mereka, apalagi ditunjang dengan putusnya akses mereka dengan santapan rohani berupa istirahat jiwa-raga, ibadah malam dan bermunajat kepada Tuhan, yang membutuhkan suasana hening, maka makin edanlah mereka, makin jauhlah mereka dari Tuhan, kewarasan dan kesalehan.

Biarlah malam menjadi sepi dan senyap, karena memang itulah fitrah manusia, dan karena memang itulah skenario alam semesta.

Biarlah saat malam manusia diam di rumah, untuk istirahat dan bercengkerama dengan keluarga. Dengan berdiam di rumah (mulai senja hingga subuh menjelang), maka terjagalah kesederhanaan dan kesalehan mental dan nurani seluruh manusia.

Dengan adanya jam malam ini maka tercapailah maksud ketuhanan, yaitu efisiensi yang sangat signifikan atas dinamika kehidupan baik kota mau pun desa. Syariah jam-malam akan menghemat bahan bakar, menghemat listrik, energi, tenaga, dan mengurangi polusi. Ketahuilah bahwa jam malam yang dapat menghemat banyak sumberdaya ini, sedikit pun tidak akan mengubah atau mengurangi rejeki.

Malam adalah moment ibadah keluarga.

Pada banyak bagian di dalam Alquran, Allah Swt menurunkan sinyalemen bahwa malam lebih baik digunakan untuk beribadah. Ingatlah, Alquran menegaskan bahwa ibadah-malam mempunyai efek ketenangan yang luarbiasa, oleh karena itu manusia dapat berharap banyak dari malam yang diibadahi, untuk kemapanan dan stabilitas ruhani. Apapun agama yang dianut seorang manusia, ibadah-malam merupakan solusi terindah untuk tujuan tersebut. Demikian seperti yang dititahkan Allah Swt di dalam Alquran,

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) (Alquran 17:78).

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (Alquran 17:79).

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (Alquran 25:64).

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan (Alquran 73:6).

Namun dikarenakan ditemukannya listrik, kendaraan dan berbagai jenis lampu yang indah, manusia telah melupakan saat penciptaan alam semesta, dan kemudian juga melupakan makna dari terjadinya malam. Dengan adanya listrik dan kendaraan, manusia telah berusaha sekeras mungkin keluar rumah untuk menikmati angin-malam, bersenang-senang, makan-makan, menonton hiburan dan konser murahan, yang keseluruhan hal tersebut mengakibatkan manusia-manusia menjauh dari poros kesalehan.

Beribadah di siang hari, sebenarnya memberi efek psikologis yang tidak terlalu signifikan, namun ibadah di malam hari mempunyai pengaruh ketenangan dan kedamaian yang fundamental atas penguatan ruh dan kesalehan. Itulah sebabnya malam merupakan saat terbaik untuk beribadah di tingkat keluarga. Harap diperhatikan, adalah tidak sama citarasanya, antara makan siang di Kantor bersama rekan sejawat, dengan makan malam bersama keluarga di rumah. Mana yang lebih lezat dan berkesan? Tentu santap makan-malam bersama keluarga di rumah, dikelilingi orang-orang yang dicintai, itulah yang lebih berkesan dan yang lebih lezat. Maka demikian jugalah dengan ibadah, antara beribadah di siang hari dengan ibadah di malam hari bersama keluarga di rumah.

Tidak ayal lagi, kehidupan malam di luar rumah yang dengan sendirinya telah menTIADAkan beribadah bersama keluarga, mengakibatkan umat manusia digulung gelombang kekeringan jiwa dan kemiskinan iman. Hal ini merupakan media terbaik bagi munculnya berbagai kejahatan, baik kejahatan kriminal mau pun kejahatan hati (serakah, tamak, egois, cinta-harta, apathis, hedonis, dsb).

Keseluruhan hal tersebut sebenarnya adalah penyakit. Dan satu-satunya cara menyembuhkan manusia dari penyakit tersebut adalah, menarik diri dari aktivitas malam di luar rumah (secara massal), dan kembali berdiam di dalam rumah untuk mengibadahi malam tersebut, untuk kemudian beristirahat bersama keluarga hingga fajar menjelang. Tepat seperti pada masa ketika manusia masih hidup di dalam kesucian dan kepolosan (age of innocence), yaitu ketika belum ditemukannya listrik dan kendaraan berikut lampu-lampu kota yang seronok.

Inilah makna dan urgensi jam malam di dalam syariah Islam.

Implementasi.

  1. Syariah jam-malam ini, menurut fiqih, tidak berlaku untuk Mekah, Madinah dan Yerusalem, karena pada ketiga kota tersebut berlaku Alhadis Nabi saw, “aku mementingkan perjalanan ketiga Masjid ini yaitu Masjid Al- Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Aqsa”. Ini berarti baik siang mau pun malam, maka adalah lebih baik setiap Muslim keluar rumah untuk shalat di ketiga tempat suci tersebut, bukan untuk tujuan lain.
  2. Dua lapis masyarakat sebaiknya tidak keluar rumah di waktu malam. Lapis masyarakat pertama adalah yang keluar rumah untuk mencari uang (sektor usaha seperti buka restoran, hiburan malam, perkuliahan, Pusat kebugaran, Pusat belanja, transportasi, dsb). Masyarakat lapis kedua adalah masyarakat yang keluar rumah sebagai konsumen.
  3. Saat matahari sudah tergelincir ke Barat, itulah saatnya semua orang pulang ke rumah. Dan kemudian seluruh bus berhenti beroperasi, pasar tutup, restoran tutup, dsb.
  4. Tidak juga mempunyai landasan keluar rumah yang tujuannya adalah ke Masjid untuk shalat fardu atau ibadah lainnya. Beribadah malam hari justru dianjurkan untuk ditunaikan di rumah bersama anak dan keluarga, bukan di Masjid.
  5. Shalat tarawih pun, sebenarnya menurut sunnah Nabi, tetap diselenggarakan di rumah, bukan di Masjid, karena Nabi saw dan para sahabat juga selalu shalat tarawih di rumah, bukan di Masjid.
  6. Keluar rumah di malam hari adalah sebaiknya dihindari, karena malam sebenarnya adalah moment penguatan iman dan rohani level keluarga. Namun kalau manusia mempunyai tujuan yang mendesak, pada hematnya tidak mengapa keluar rumah di malam hari, seperti mereka yang bekerja sebagai dokter jaga, atau petugas penjaga gedung, personel rumahsakit, polisi, operator bus antarkota, dsb.
  7. Tidak mengapa keluar rumah di malam hari namun tidak jauh dari rumah, sekedar menikmati sepoi-angin malam, atau menikmati terang-bulan bersama bintang.
  8. Bertamu pun sebaiknya tidak ditunaikan malam hari, melainkan siang hari.

Kesimpulan.

Selama umat manusia (apapun agamanya):

  1. Keluar rumah di malam hari untuk menikmati kehidupan malam dan bekerja mencari rejeki,
  2. Tidak menggunakan malam sebagai moment istirahat total dan juga ibadah bersama keluarga di dalam rumah, …….

Maka selama itu juga kejahatan dan penyakit jiwa akan terus menggerogoti mereka, sedikit demi sedikit. Bagian terpenting dari ajaran Tuhan mengenai malam ini adalah, bahwa tidak ada kesalehan yang dapat dituai satu manusia pun saat mereka keluar rumah di malam hari. Kebalikannya, kesalehan dan penguatan ruhani hanya dapat dituai pada malam hari bersama keluarga di dalam rumah masing-masing.

Dengan tetap tinggal dan beristirahat di malam hari di rumah bersama keluarga, dengan mematikan kehidupan malam, dengan menjadikan kota dan desa sepi dan lengang di malam hari, maka secara permukaan telah terjadi penghematan dan efisiensi atas seluruh sumberdaya, dan itu sedikit pun tidak mengganggu atau mengurangi rejeki.

  1. Tidak mungkin benar, bahwa hanya karena ditemukan mobil, listrik, lampu dsb, maka budaya keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam menjadi benar.
  2. Tidak mungkin benar, hanya karena ditemukan kemajuan teknologi, maka manusia menjadi berhak untuk menentang Hukum alam, menentang fitrah, menentang firman Tuhan, dan menentang jam biologis mereka sendiri untuk mengistirahatkan jiwa dan raga mereka.
  3. Tidak mungkin benar, firman Tuhan, fitrah dan Hukum alam menjadi jungkirbalik hanya karena ditemukannya mobil, listrik, lampu, dsb.
  4. Tidak mungkin benar, bahwa budaya keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam tidak mengandung kekhawatiran atau efek negatif. Fakta memperlihatkan meningkatnya hedonisme, kegilaan, egoisme, ketidak-warasan dan ketidaksalehan umat manusia sejak berkembangnya kehidupan malam. Banyak terjadi kasus kejahatan di malam hari.
  5. Tidak mungkin benar, tidak bekerja mencari uang di malam hari akan mengakibatkan kemiskinan dan ketertinggalan. Tidak mungkin benar, bahwa uang yang didapat dari bekerja di siang hari tidak mencukupi untuk hidup.
  6. Tidak mungkin benar, bahwa keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam juga dibutuhkan untuk kesehatan jiwaraga.
  7. Tidak mungkin benar, kesalehan tidak diperlukan di akhir jaman ini, sehingga oleh karenanya tidak mengapa berlarut-larut di dalam kehidupan malam.
  8. Tidak mungkin benar, kesalehan dan kewarasan dapat berparalel dengan maraknya kehidupan malam. Yang benar adalah, kesalehan dan kewarasan merupakan antitesis dari budaya kehidupan malam.

Penutup.

Kalau Kerajaan Muslim di seluruh muka bumi ini masih menganggap kesalehan sebagai harta jiwa yang lebih berharga dari emas dan intan berlian, maka itulah saatnya bagi seluruh Kerajaan Muslim untuk menerapkan jam-malam bagi kota dan desa-desa mereka, sekaligus untuk menumbangkan dan mengkudeta kehidupan malam, karena hal tersebut seutuhnya benar-benar mendurhakai firman Allah Swt.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.

Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim

tarbiyah-anak-shalatMuhammad Saw telah menitahkan melalui beberapa Alhadis yang termahsyur, bahwa shalat di Masjid Al-haram mengandung pahala sebanyak 100.000, shalat di Masjid Nabawi mengandung pahala sebanyak 10.000, dan shalat di Masjid Al-aqsa mengandung pahala sebanyak 1000. Ini artinya shalat di Masjid selain ketiga Masjid tersebut tidak mengandung keistimewaan seperti halnya shalat di ketiga Masjid suci ini.

Hal ini diperkuat oleh satu Alhadis yang juga termahsyur yaitu, “Aku mengutamakan perjalanan ke tiga Masjid ini, yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-aqsa”. Alhadis ini menyiratkan makna, bahwa melangkahkan kaki ke Masjid selain ketiga Masjid suci tersebut bukanlah suatu keutamaan. Oleh karena itu patut dipertimbangkan akan nilai keutamaan untuk shalat di rumah. Penting sekali untuk juga diingat berkenaan dengan kedua Alhadis ini, bahwa Muhammad Saw telah bertitah, “terangilah rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran”. Makna dari Alhadis ini adalah, bahwa penting sekali bagi setiap umat untuk menunaikan shalat di rumah, apalagi bersama keluarga secara berjamaah, sebisa mungkin.

Jangan berpantang untuk shalat di rumah, untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga, itulah makna terpenting dari ketiga Alhadis di atas. Bahkan banyak Alhadis yang menyiratkan, bahwa Muhammad Saw dan para sahabat pun tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah.

Muhammad Saw telah bertitah melalui beberapa Alhadis-nya, bahwa sebaiknya setiap umat berteguh untuk shalat di rumah (khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh), karena justru umat akan dihadiahi hikmat yang begitu Agung melalui ritus shalat berjamaah di rumah. Dan yang terpenting adalah, adanya hikmah tarbiyah keluarga Muslim melalui agenda shalat Maghrib dan Isya dan Shubuh berjamaah di rumah.

Waktu shalat Maghrib dan Isya jika ditunaikan secara berjamaah di rumah di mana sang ayah atau datuk bertindak sebagai Imam shalat, merupakan moment pendidikan Iman dan spiritual anak dan keluarga. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah, khususnya shalat Maghrib dan Isya dan juga Shubuh, tidak boleh ada yang absen. Dan agenda keluarga ini mempunyai arti bahwa telah terjadi pemupukan dan penguatan ruh keagamaan dan kesalehan secara fundamental terhadap jiwa dan mentalitas anak-anak.

Kebalikannya, kalau tidak dibudayakan shalat Maghrib dan Isya (juga Shubuh) di rumah, maka pendidikan iman dan spiritual keluarga (khususnya anak-anak) terkendala, sehingga nasib kesalehan anak-anak dan keluarga tidak ada yang memperhatikan, terkatung-katung tidak menentu. Mereka anak-anak dan keluarga jadi tidak pernah menikmati suasana keagamaan di rumah, karena tidak pernah dilibatkan di dalam kesalehan beribadah.

Shalat Maghrib dan Isya (juga shalat Shubuh) secara berjamaah di rumah, yang menjadi Imam adalah semua anggota keluarga (secara bergantian) sehingga setiap anak tercambuk untuk hafal surah-surah Alquran, dengan demikian ada kaderisasi dan regenerasi Imam. Point ini menjadi kontribusi tersendiri bagi lahirnya generasi yang hafal surah Alquran secara maksimal, karena dengan terus shalat berjamaah di rumah maka anak-anak yang saat itu menjadi makmum akan tertantang dan terinspirasi untuk menjadi Imam kelak saat mereka sudah besar. Itu artinya mereka sejak dini harus hafal surah-surah Alquran, dan ini artinya merupakan landasan untuk membumikan kecenderungan hafal surah-surah Alquran.

Sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam. Sebenarnya tidaklah demikian. Shalat sebenarnya bukanlah perintah, melainkan PEMBIASAAN. Kalau seorang anak sejak kecil sudah dibiasakan shalat berjamaah secara terus menerus, maka sampai kapan pun sang anak akan tetap shalat meski dilempar ke Negeri yang jauh sekali pun.

Dan pembiasaan shalat ini hanya dapat dipastikan melalui tradisi shalat berjamaah di rumah, khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh. Membangun kebiasaan dan pembiasaan shalat yang berujung pada shalat-minded tidak bisa diupayakan hanya di dalam waktu satu minggu atau satu tahun, atau melalui ceramah sedahsyat apapun, melainkan butuh waktu bertahun-tahun di dalam frame shalat berjamaah di rumah, mulai dari sang anak berusia belia hingga remaja dengan cara terus dilibatkan di dalam shalat berjamaah di dalam rentang waktu sekian lama.

Singkat kata, suatu frame shalat berjamaah khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh di rumah, akan memastikan bahwa kelak sang anak akan menjadi bagian di dalam Generasi Shalat Minded. Kalau dibalik: cara melahirkan Generasi Shalat Minded, atau cara supaya sang anak kelak akan tetap kukuh menunaikan shalat, hanyalah dengan melalui frame shalat di rumah.

Situasi / frame di mana Maghrib, Isya dan Shubuh tidak dijadikan moment untuk shalat berjamaah di rumah, maka pada saat tersebut, sang anak dan seluruh keluarga sedang asyik menyia-nyiakan waktu shalat dengan kesenangan duniawi. Waktu yang berharga untuk membangun pembiasaan shalat bagi anak-anak akhirnya terbuang dan tergusur kalau jadwal Maghrib dan Isya tidak dijadikan agenda shalat berjamaah di rumah, sementara di pihak lain anak-anak pun akibatnya jadi asyik sibuk berhamburan di sepanjang jalan pada jam-jam shalat. Dengan keadaan seperti ini, tidak pernah terjadi pembiasaan shalat atas anak-anak dan keluarga, karena justru mereka dibiasakan berhamburan di jalan-jalan kampung untuk menikmati kesenangan duniawi di dalam kesia-siaan. Kalau sejak kecil tidak diadakan pembiasaan shalat, maka bagaimana kelak mereka akan terbiasa untuk shalat?

Outputnya jelas: di kemudian hari sang anak akan menjadi generasi yang berpantang shalat, mereka bukan bagian dari Generasi Shalat Minded. Mereka bukanlah umat Allah Swt.

Kecil sekali kemungkinannya seorang anak di kala dewasa akan tetap teguh menunaikan shalat di mana pun ia berada – kalau semasa kecilnya ia tidak menerima pembiasaan shalat dari keluarganya; dan pembiasaan shalat yang paling mungkin dan alami di sini adalah pembiasaan shalat melalui frame shalat berjamaah di rumah secara rutin. Oleh karena itu, tidak menunaikan shalat berjamaah di rumah untuk shalat Maghrib dan Isya akan berparalel dengan jauhnya generasi muda (yaitu anak-anak mereka) dari shalat minded. Itu merupakan kerugian terbesar yang akan diderita seorang ayah (atau paman / datuk) di kemudian hari.

Alangkah patut untuk diperhatikan, bahwa shalat Maghrib dan Isya yang ditunaikan secara berjamaah di rumah akan menciptakan rumus: “bapak saleh, anak pun jadi saleh”. Hal ini disebabkan karena shalat berjamah di rumah secara terus-menerus, akan mengakibatkan anak-anak dan keluarganya ikut menjadi saleh.

Kesalehan yang bersemi pada anak-anak dan keluarga dapat terwujud karena selalu shalat berjamaah di rumah tersebut, terjadi karena tiga hal:

  1. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah. Dengan shalat di rumah, ayah (atau paman / datuk) akan memastikan bahwa anak-anak dan keluarganya harus ikut shalat, harus berada di belakangnya sebagai makmum untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah, tidak boleh ada yang absent apapun alasannya, yang tujuannya adalah untuk beraktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.
  2. Dengan anak-anak dan keluarga terus shalat berjamaah di rumah, maka alokasi waktu yang biasa dilewatkan anak-anak untuk berhamburan dan berceceran di luar rumah di sepanjang jalan kampung TERGANTIKAN dengan duduk khusyuk di belakang Imam. Ini artinya telah menTIADAkan waktu untuk dihabiskan anak-anak dan keluarga di dalam kesia-siaan duniawi yaitu berkeliaran di luar rumah sepanjang jalan kampung di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, nonton konser murahan, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Kebalikannya, waktu yang dimiliki anak-anak dan keluarga akan digunakan untuk shalat berjamaah di rumah masing-masing.
  3. Dengan shalat berjamaah di rumah khususnya untuk jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh, maka itu berarti terbangun suatu kondisi untuk memperhatikan dan melakukan kontrol perkembangan rohani, jiwa, penerimaan dan intelektualitas sang anak dan keluarganya terhadap bibit iman dan taqwa, dan memang itulah tujuan utama dari mengapa jadwal Maghrib amat singkat menjelang jadwal Isya. Dengan shalat berjamaah di rumah, setiap anak jadi merasa bahwa mereka diperhatikan oleh keluarga mereka secara lebih intim dan terus-menerus.

Di siang hari sang anak dan keluarga telah bermain dengan kawan-kawan mereka di sekolah, taman kampung, pasar, di kampus, dan tanah lapang. Cukuplah hal itu merupakan waktu mereka untuk bersosialisasi dan bermain di luar rumah di kala siang. Dan ketika senja dan malam menjelang, bermain di luar rumah sudah berakhir, dan itulah saatnya mereka membangun karakter keagamaan dan rohani melalui shalat berjamaah di rumah.

Pembangunan kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga: pembangunan rohani dan kesalehan akan mengguyur semua individu di dalam keluarga dan perkampungan Muslim tanpa kecuali, karena teknisnya adalah di dalam setiap rumah akan diselenggarakan shalat berjamaah khususnya Maghrib dan Isya, ini berarti shalat berjamaah tersebut akan melibatkan seluruh unsur yang ada di dalam perkampungan Muslim. Tidak akan ada satu anak pun, satu individu pun, yang lolos dan luput dari aktivitas pembangunan rohani ini, karena setiap mereka adalah anggota keluarga yang, akan dipanggil untuk ikut shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absen satu pun, untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Teramat besar kemungkinannya bahwa setiap anak yang terus shalat berjamaah di rumahnya akan menjadi saleh di kemudian hari seperti salehnya sang ayah (atau paman / datuk), karena shalat berjamaah yang terus diselenggarakan di dalam keluarga mempunyai kekuatan dan wewenang kuat untuk menyentuh dan menundukkan jiwa dan spiritualitas setiap anak sejak kecil.

Bagaimana mungkin anak-anak di dalam suatu keluarga dapat menjadi saleh di saat dewasa, sementara anak-anak tersebut dibiarkan terus berkeliaran di luar rumah di sepanjang jalan kampung tidak memperdulikan masuknya waktu shalat khususnya Maghrib, Isya dan Shubuh? Mereka terus asyik bermain dengan kawan-kawannya malah pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, shopping, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dan itu bukanlah ciri-ciri umat Muslim, melainkan ciri-ciri umat di dalam kekafiran dan kerugian. Dan hal tersebut terjadi karena kg tersebut tidak menjadikan moment Maghrib dan Isya sebagai moment tarbiyah keluarga, yang mana itu berarti keluarga tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan pertumbuhan rohani sang anak, tidak memperdulikan siklus shalat sang anak dan keluarga. Dengan tidak menyelenggarakan shalat berjamaah di rumah, berarti mereka tidak memanfaatkan kesempatan dan peluang untuk menjadikan anak-anak mereka sebagai manusia saleh saat dewasa kelak.

Tarbiyah berbasis keluarga.

Jika setiap keluarga menyelenggarakan shalat berjamaah di rumah, maka kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga. Ini artinya pembangunan rohani dan kesalehan seutuhnya merupakan wewenang dan inisiatif setiap keluarga, dan memang demikianlah seharusnya. Dan di sini, posisi Ayah, biar bagaimana pun adalah manusia yang paling bertanggungjawab atas perkembangan rohani dan kesalehan seluruh keluarganya, tidak bisa tidak. Itulah sebabnya Muhammad Saw menitahkan bahwa seluruh laki-laki wabil khususnya ayah (paman / datuk) harus senantiasa shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya (selama mereka berdomisili jauh dari lokasi Masjid Al-haram, Nabawi dan Masjid Aqsa).

Islam tidak menghendaki pembangunan rohani dan kehidupan beragama mengambil basis di Masjid (atau rumah ibadah), karena hal tersebut tak ubahnya seperti kaum kafir atau jahiliyah. Di Dunia ini kita melihat pembangunan rohani umat Katholik berbasis di Gereja, di mana tugas dan wewenang untuk memimpin peribadatan seluruh jemaat berada di tangan pendeta Gereja. Sungguh setiap keluarga di dalam lingkungan umat nonmuslim tidak mempunyai wewenang mau pun tanggungjawab untuk membina kebangunan rohani dan kehidupan beragama khususnya keluarganya sendiri. Jangankan membangun / membina rohani dan kehidupan beragama anak dan keluarganya, bahkan pemantapan iman dan rohani diri setiap ayah pun juga hanya boleh dikelola oleh staf pendeta di rumah ibadat. Dengan kata lain, setiap anggota keluarga tidak mempunyai hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan di dalam bermunajat kepada Tuhan, karena hak dan wewenang tersebut merupakan hak eksklusif para staf pendeta di rumah ibadat.

Islam tidaklah demikian, Islam mengajarkan bahwa hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan merupakan tugas dan tanggungjawab setiap keluarga, karena memang demikianlah logikanya: ayah yang melahirkan dan memberi makan anak dan keluarganya, maka ayah (paman / datuk) jugalah yang paling bertanggungjawab di dalam pembinaan rohani dan iman anak dan keluarganya, tidak bisa ditawar lagi dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Bagaimana mungkin Islam mengadopsi sistem di luar Islam di mana pembinaan rohani dan iman seluruh keluarga diserahkan kepada staf rumah ibadat (yaitu Imam Masjid, sebagaimana halnya staf pendeta di Gereja), sementara staf rumah ibadat tersebut tidak mempunyai hubungan darah dan kasihsayang atas mereka (anak dan seluruh keluarga)?

Penting untuk diketahui, bahwa pada umat nonmuslim yang bersistem pembangunan rohani berporos rumah ibadat, telah menjadikan setiap ayah, paman, datuk, anak dan seluruh keluarga tidak mempunyai derajat kesalehan di dalam beragama. Karena lebih tepatnya lagi, derajat kesalehan hanya dimiliki staf rumah ibadat yang jumlahnya hanya segelintir di tengah mereka. Ini menyedihkan. Maka kemudian apakah umat Muslim di seluruh Dunia juga mempunyai takdir yang harus sedemikian sama, dengan cara bahwa hak dan wewenang untuk menyelenggarakan ritus ibadah terletak pada staf rumah ibadat, dalam hal ini Imam Masjid? Ingatlah bahwa Muhammad Saw pun melarang umatnya ber-tasyabuh, yaitu mempersama-kan diri dengan kaum kafir di dalam cara dan berfikir, dan bertasyabuh merupakan dosa di sisi Allah Swt.

Dampaknya jelas: umat nonmuslim yang mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani keluarga merupakan wewenang rumah ibadat – melahirkan kesenjangan dan kemiskinan rohani di tengah umat secara akar-rumput, belum lagi ditambah sekuleritas yang menggejala pada masyarakat mereka, masyarakat nonmuslim. Hal seperti ini harus dijauhkan umat Muslim universal, caranya adalah dengan mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani merupakan hak dan wewenang penuh keluarga masing-masing.

Pembumian hafal Alquran.

Karena shalat berjamaah terus ditunaikan di setiap rumah keluarga Muslim (khususnya jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh) maka sejak kecil mereka sudah dipersiapkan untuk hafal Alquran. Ini merupakan siklus kebaikan yang akan terwujud di dalam keluarga Muslim kalau mentradisikan shalat berjamaah.

Dengan kata lain, tradisi shalat di rumah akan memunculkan tongkat estafet untuk generasi mendatang, yaitu mengakibatkan anak-anak yang menjadi makmum kala itu akan terpacu juga untuk hafal surah Alquran karena kelak mereka akan menjadi Imam juga atas anak-anak mereka di kemudian hari. Tongkat estafet keimaman dan tahfiz Alquran merupakan kata kunci di sini.

Karena tugas menjadi Imam merupakan tugas seluruh lelaki (karena kelak mereka akan menjadi suami / ayah / paman / datuk) maka tugas keimaman menjadi rata di tengah umat, dan akibatnya semua orang (harus) hafal surah Alquran: inilah moment kemunculan tahfiz publik, yaitu tahfiz yang membumi sampai ke akar-rumput.

Tarbiyah kesalehan di dalam pengawasan yang kokoh.

Kasih-sayang dan pengawasan keluarga atas anak-anak menjadi efektif dan sistematis – jika shalat berjamaah terus ditunaikan di rumah khususnya untuk jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh, baik pengawasan itu di dalam hal siklus shalat pada khususnya, mau pun di dalam hal mental spiritual pada umumnya. Dengan shalat berjamaah di rumah, maka sayang dan kepedulian sebuah keluarga terhadap anak-anak adalah nyata senyata matahari. Pada dasarnya, shalat Maghrib dan Isya di rumah merupakan wujud dan bukti bahwa sebuah keluarga sayang kepada anak-anaknya sendiri.

Setiap anak dan seluruh keluarga akan tetap di dalam siklus shalatnya selama ada yang mengawasi, shalat berjamaah di rumah, khususnya untuk jadwal Maghrib dan Isya. Dan seseorang yang paling efektif pengawasannya terhadap siklus shalat anak-anak pastilah keluarga sendiri. Pengawasan yang dilakukan orang lain atas diri seorang anak terhadap siklus shalatnya, tidak akan mempan, tidak akan mengena, tidak akan efektif, tidak akan bertaji, karena orang lain tersebut bukanlah siapa-siapa bagi sang anak; dan sang anak sendiri akan menganggap dan melihat orang lain tersebut sebagai orang yang tidak berhak untuk mengawasi dan mengontrol siklus shalatnya. Terlebih, sang anak bukannya akan patuh pada pengawasan orang tersebut untuk shalat, malah akan berbalik untuk bergumam, ‘keluarga saya tidak menyuruh dan tidak mengawasi saya shalat, lantas mengapa orang ini menyuruh saya shalat?’.

Pendek kata, hanya keluarga-lah yang berada pada posisi untuk mengawasi siklus shalat anak dan keluarganya. Dan hal tersebut hanya dapat diimplementasikan jika seorang keluarga tersebut shalat berjamaah di rumah.

Sayang kepada anak dan keluarganya bukan hanya di dalam bentuk memberi rumah, memberi makan yang banyak, memberi mainan yang handal, melainkan juga terjadi di dalam bentuk ‘mempersembahkan’ mereka ke hadhirat Allah Swt di dalam seremoni shalat berjamaah di rumah. Biarlah Allah Swt dan para MalaikatNya melihat bahwa sebuah keluarga sedang membawa seluruh anak ke hadlirat-Nya di dalam suatu shalat berjamaah, dan itulah yang indah dan yang sepatutnya, karena memang itulah tugas keluarga.

Ketika sebuah keluarga shalat berjamaah di rumah, maka pada saat itu keluarga tersebut sedang memasukkan keluarganya ke dalam Surga dan menyelamatkan mereka dari jilatan api Neraka sebagai bukti sayang dan pemeliharaan keluarga yang kuat dan fundamental.

Alangkah patutnya untuk direnungkan, setiap keluarga akan dapat memastikan bahwa anggota keluarganya tetap menunaikan shalat karena shalat tersebut ditunaikan di rumah khususnya Maghrib dan Isya. Sudah sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam, dan perintah shalat ini adalah rata untuk seluruh umat tanpa kecuali. Masalah akan timbul kalau ada satu individu tidak menunaikan shalatnya, dan terlebih kalau individu tersebut merupakan anggota keluarga yang, seharusnya tetap memelihara siklus shalatnya. Hal ini seharusnya merupakan kepedulian dan concern setiap keluarga atas seluruh anak dan anggota-nya. Adalah sulit untuk dicerna bahwa ada seorang ayah begitu memelihara siklus shalatnya sementara anak dan keluarganya tidaklah demikian. Kalau anak dan keluarga tidak serius di dalam siklus shalatnya maka dapat dipastikan itu semua berawal dari tidak adanya shalat berjamaah di rumah. Dan kalau hal ini benar-benar terjadi, seluruh ulama sepakat bahwa kesalahan justru berada pada diri kepala keluarga, tidak bisa tidak.

Pada saat seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya, maka sebenarnya pada saat tersebut sang ayah telah dapat memastikan bahwa anak dan keluarganya sudah paripurna menunaikan shalat: “dia yakin karena dia melihat”, karena dia sendiri yang mengimamkan mereka. ‘Kepastian’ merupakan kata kunci di sini, dan tidak ada yang dapat memastikan mereka (anak dan keluarga) menunaikan shalat kecuali adanya perintah, perhatian dan keimaman sang ayah (paman / datuk). Itulah satu-satunya jalan bagi seorang kepala keluarga untuk memastikan bahwa seluruh anggotanya tetap di dalam siklus shalat. Ingatlah bahwa kebanyakan dari anggota keluarga adalah anak-anak manusia yang masih di dalam usia pertumbuhan, yang mana itu berarti bahwa mereka belum mengerti kedisiplinan dan ketaatan. Anak-anak biasanya hanya melewatkan hari-hari dengan bermain dan naluri untuk tidak taat.

Tidak mungkin ada seorang anak kecil yang taat memelihara siklus shalatnya. Sebaliknya, setiap anak hanya memikirkan main bersama kawan-kawannya. Dan kemudian, tidak mungkin ada seorang anak kecil yang ketika ditanya ayahnya apakah sudah shalat, kemudian sang anak akan menjawab “sudah” dengan penuh kebenaran, tanggungjawab, dan bermartabat. Sulit mengharapkan kesalehan tumbuh dan bersemi pada diri seorang anak yang sedang senang-senangnya bermain.

Namun di luar itu semua, tentunya keluarga mempunyai perhatian yang lebih besar atas mereka. Wujudnya hanya satu: memanggil mereka untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah di rumah, hari demi hari, minggu demi minggu, dan tahun demi tahun, hingga anak-anak tersebut tumbuh menjadi dewasa, yaitu usianya untuk taat dan sadar akan kewajiban dan kesalehan. Dengan terus memanggil mereka untuk berpartisipasi shalat berjamaah di rumah, maka tidak perlu keluarga bertanya kepadanya apakah sudah shalat, karena keluarganya sendirilah yang mengimamkannya. Dengan dipanggil shalat berjamaah, maka berhentilah main-mainnya untuk sementara, untuk shalat tersebut. Dan ikut shalat berjamaah tidak akan mencederai haknya untuk bermain.

Dengan diselenggarakannya shalat berjamaah di rumah khususnya pada jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh, maka:

  1. Tarbiyah keluarga berlangsung secara konstan dan intim.
  2. Tarbiyah terhadap keluarga terjadi secara alami, membumi, dan gratis karena tarbiyah merupakan tanggungjawab keluarga.
  3. Keluarga secara otomatis dan alami harus menjadi pengajar dan pembimbing atas anak-anaknya / ponakannya / sepupunya / cucunya / adik-adiknya, dll, itu semua atas dasar tanggungjawab keluarga tersebut.

Tarbiyah Maghrib dan Isya melumpuhkan malapetaka dunia.

Dengan menyelenggarakan shalat berjamaah di rumah maka tidak mungkin terjadi malapetaka umat, karena dengan shalat berjamaah di rumah, maka jelaslah seluruh keluarga sedang berada di rumah sedang menunaikan shalat bersujud kepada Illahi, sehingga menjadi sepi-lah seluruh hiruk-pikuk keduniawian: jalan-jalan menjadi sepi, lapangan menjadi sepi, mal-mal menjadi sepi, perempatan menjadi sepi, Pusat jajan menjadi sepi, karena anak-anak dan wargakota yang biasa meramaikan tempat-tempat keduniawian tersebut saat itu justru sedang menjadi makmum shalat berjamaah yang diimami oleh ayah-ayah / datuk-datuk mereka di rumah masing-masing.

Jelas sekali, ketika terjadi shalat berjamaah bersama keluarga di rumah (khususnya untuk shalat Maghrib dan Isya), maka keluarga tersebut tengah dan telah mengubah dunia (dari suatu tempat yang penuh malapetaka) menjadi tempat yang penuh ibadat dan taqwa kepada Illahi, karena anak-anak dan warga kota yang biasa meramaikan pelataran dunia tersebut, sedang shalat sebagai makmum di belakang sang ayah / paman. Inilah keagungan dan kekuatan shalat berjamaah di rumah bersama keluarga, khususnya untuk shalat Maghrib dan Isya. Inilah marwah umat Muslim seluruh Dunia!

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa shalat berjamaah di rumah bersama keluarga merupakan:

  1. satu-satunya kekuatan yang paling misterius dan paling berwibawa yang dapat merontokkan dan mengkudeta huru-hara duniawi khususnya pada malam hari; shalat berjamaah di rumah telah menggulingkan malapetaka dunia.
  2. dan menggantinya dengan suasana ibadat yang hikmat dan kudus,
  3. bentuk kasih-sayang orang-tua dan keluarga Muslim kepada anak-anaknya.
  4. terakhir, mengklaim anak-anak dunia sebagai anak-anak yang penuh ibadat dan kesalehan.

Terbebaslah umat dan seluruh anak dari malapetaka duniawi dikarenakan shalat berjamaah di rumah bersama keluarga yang diimamkan oleh setiap ayah, itulah titah Nabawi.

Jarak waktu antara Maghrib dan Isya sangat singkat, tidak sampai dua jam. Sengaja Allah Swt menyingkatkan waktu Maghrib supaya dengan demikian dekat jaraknya dengan Isya yaitu hanya berkisar tidak sampai dua jam.

Hikmahnya adalah bahwa supaya waktu tersebut digunakan umat Muslim untuk moment tarbiyah di mana sebuah keluarga menjadi pembimbing rohani bagi seluruh anak-anaknya. Cukup dua jam setiap hari (antara Maghrib menuju Isya) merupakan masa tarbiyah yang sangat ampuh bagi anak-anak yang sedang di dalam masa pertumbuhan rohani. Di awal Maghrib sang ayah memanggil anggota keluarga dan seluruh anaknya untuk shalat berjamaah (di rumah). Kemudian sang ayah tidak akan mengijinkan anak-anaknya untuk beranjak kembali kepada aktivitasnya seusai shalat Maghrib berjamaah, melainkan sang Imam (ayah atau datuk atau paman) menyuruh anak-anaknya untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, melantunkan doa, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Dan tidak terasa adzan Isya telah berkumandang, maka berakhirlah sesi tarbiyah untuk anak-anaknya pada malam hari itu. Shalat Isya berjamaah segera didirikan, dan anak-anak sudah mendapatkan pengajaran dan pertumbuhan rohani di dalam rumahnya sendiri.

Setelah usai shalat Isya berjamaah, keluarga tersebut langsung ke meja untuk santap malam, mereka makan, dan akhirnya mereka siap untuk beristirahat sampai fajar menjelang.

Shalat Shubuh juga demikian. Sang ayah / datuk / paman akan membangunkan anak-anak dan anggota lainnya untuk shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absent, semua dibangunkan dari tidurnya. Setiap hari berlangsung demikian, maka kukuhlah anak-anak di dalam disiplin dan keteguhan shalat.

Demikian agenda anak-anak dan keluarga Muslim setiap hari sehingga tumbuhlah anak-anak itu di dalam persemaian rohani yang kukuh dari keluarganya sendiri. Itu semua karena shalat berjamaah di rumah.

Tarbiyah keluarga adalah level atomik terhadap kesalehan umat.

Shalat berjamaah di rumah adalah tombol pertama untuk menimbulkan kesalehan tingkat keluarga, tingkat atomik, yang tidak dapat dihindari, merupakan cikal-bakal kesalehan umat secara keseluruhan.

Mudah sekali untuk direnungkan, ketika shalat berjamaah ditunaikan di rumah, maka seluruh keluarga akan mengikuti seremoni tersebut dengan penuh hikmat dan khusyuk, dan itu berarti seluruh keluarga terhindar dari fitnah kota, khususnya di malam hari, dengan cara bermunajat kepada Illahi dan berbuat tindakan yang benar untuk kesejahteraan hati dan jiwa: mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Ketika sang ayah shalat berjamaah di rumah, maka dekat sekali sang ayah kala itu kepada anak-anaknya untuk dapat memperhatikan rona-wajah anak-anak, memperhatikan kesehatannya, mencermati penerimaan sang anak atas pelajaran sekolah, kemajuannya di dalam menghafal surah dan Alhadis, dsb. Dekat sekali, intim sekali ……….

Kesalehan tingkat atomik dengan demikian telah terwujud, maka hal berikutnya akan terwujudlah kesalehan tingkat yang lebih luas, yaitu kesalehan yang menggelora pada tingkat Kerajaan Allah Swt di muka bumi ini. Adalah mustahil mendapatkan kesalehan pada tingkat sosial yang lebih luas, sementara kesalehan tingkat atomik yaitu tingkat keluarga hancur-lebur, ditolak dan dikesampingkan. Kalau kesalehan tingkat atomik telah tercapai, maka otomatis kesalehan tingkat sosial yang lebih luas, tercipta.

Karakteristik shalat Maghrib.

Pada dasarnya, setiap shalat fardu terdari empat rakaat. Namun dari kelima shalat fardu, hanya Isya, Zuhur dan Ashar yang mempunyai empat rakaat. Selebihnya, yaitu shalat Shubuh dan shalat Maghrib, tidak mempunyai empat rakaat sebagaimana yang seharusnya. Apakah tidak harus ada penjelasan mengapa kedua shalat fardu tersebut, yaitu shalat Shubuh dan shalat Maghrib, tidak mempunyai empat rakaat? Kemana perginya-kah rakaat lainnya itu, sehingga hanya menjadi tiga dan dua rakaat?

Sama kita ketahui bahwa shalat Zuhur mempunyai empat rakaat. Ketika di hari Jumat, shalat Zuhur berubah menjadi dua rakaat saja, sementara dua rakaat yang lainnya dikonversi menjadi khotbah Jumat. Oleh karena itu berkhotbah dan mendengar khotbah Jumat sebenarnya merupakan dua rakaat milik shalat Zuhur tersebut, dan setiap jemaah shalat Jumat haruslah turut dan tetap mendengar khotbah tersebut, karena khotbah tersebut merupakan bagian dari shalat Jumat. Kalau seorang jemaah tidak mendengar khotbah Jumat, maka gugurlah shalat Zuhur-nya di hari Jumat tersebut.

Sama kita ketahui bahwa shalat Dhuha, jamaknya, seharusnya, adalah empat rakaat dengan dua salam. Pada shalat Idul Fitri mau pun Idul Adha, shalat Dhuha tersebut hanya ditunaikan sebanyak dua rakaat, karena dua rakaat lainnya telah Allah Swt konversi menjadi khotbah Ied. Dengan kata lain, khotbah Ied merupakan bagian integral dari shalat Dhuha yang ditunaikan pada hari raya tersebut, baik Idul Fitri mau pun Idul Adha.

Allah Swt telah memberi penjelasan mengenai ingredient shalat Jumat (dua rakaat pertama di dalam bentuk shalat, dan dua rakaat lainnya di dalam bentuk khotbah) dan khotbah shalat Ied kepada umat, untuk dapat menerangkan mengapa shalat Maghrib dan shalat Shubuh tidak mempunyai empat rakaat, melainkan tiga dan dua rakaat.

Pada shalat Maghrib, satu rakaat-nya telah Allah Swt konversi menjadi moment tarbiyah keluarga, yaitu dikonversi menjadi aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb. Demikian juga dengan shalat Shubuh, dua rakaatnya telah Allah Swt konversi menjadi moment tarbiyah, di mana salah satunya adalah komitmen untuk bangkit dari tidur, kemudian disempurnakan dengan mengaji Alquran dan dzikir. Subhanallah!

Artinya, kalau shalat Maghrib yang tiga rakaat tidak disandingkan dengan tarbiyah keluarga, maka seutuhnya shalat Maghrib tersebut tidaklah paripurna di mata para MalaikatNya. Demikian juga dengan shalat Shubuh.

Demikianlah Allah Swt telah menerangkan kepada umat Muslim tentang hakikat rakaat shalat dengan menggunakan cara-cara para Malaikat ketika menerangkannya kepada Allah Swt.

Penutup.

Muhammad Saw hanya mengajarkan umatnya untuk shalat di rumah supaya para ayah menjadi Imam shalat berjamaah atas anak dan keluarganya, sesuai dengan titahnya, bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, dan kelak kepemimpinannya harus ia pertanggungjawabkan kepada Allah Swt di Hari Penghakiman kelak.

Selebihnya, shalat berjamaah di rumah mempunyai begitu banyak rahasia keagungan dan kesalehan yang akan tertebar merata atas keseluruhan orang yang beriman, dan kesalehan tersebut kelak akan menjadi gelombang yang akan menghempaskan fitnah dunia tanpa kenal garis perbatasan Negeri dan Pemerintahan.

Selama ini umat mentradisikan shalat di Masjid, dan hasilnya terlihat jelas, di mana anak-anak manusia menjadi terkatung-katung di sepanjang jalan kampung berhamburan di tengah huru-hara dunia, dan setiap anak manusia menjadi tidak dapat dihadirkan di dalam seremoni kesalehan keluarga, yang merupakan cikal-bakal kesalehan umat keseluruhan. Ketika seorang ayah shalat di Masjid, maka anak-anak memeriahkan kekacauan duniawi di Pusat keramaian, khususnya di malam hari, dan ketika mereka pulang ke rumah, mereka membawa kehancuran yang mereka dapat dari Pusat keramaian tersebut ke rumah masing-masing.

Tidak dapat dihindari untuk diungkapkan, bahwa tradisi shalat di Masjid memberi kontribusi signifikan atas meriahnya kekacauan duniawi di Pusat keramaian, tempat di mana anak-anak manusia terhambur-hambur di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, makan permen karet, tawuran, godain cewek, main raket, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Artinya, kalau kekacauan dan kesia-siaan duniawi tersebut ingin ditumpas habis, maka satu-satunya jalan adalah mentradisikan shalat di rumah berjamaah atas anak dan keluarganya.

Dan kalau kekacauan bin kesia-siaan duniawi harus tumbuh subur, maka satu-satunya cara mewujudkannya adalah dengan membiarkan para ayah shalat di Masjid sehingga meninggalkan anak dan keluarganya di rumah untuk kemudian berserakan di pelataran dunia di dalam kesia-siaan fitnah kota.

Inilah maksud Nabawi, inilah maksud Illahiah, dengan shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Inilah makna doa yang tertera di dalam Alquran mengenai keluarga Muslim yang penuh dengan agenda shalat berjamaah di rumah di mana sang ayah merupakan Imam shalat berjamaah,

QS Furqaan 74: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Shalat berjamaah di Masjid merupakan lawan dari shalat berjamaah di rumah, dan akibat dari kedua frame tersebut juga saling berlawanan, untuk menghemat kata.

Alangkah patut untuk direnungkan, bahwa tarbiyah keluarga adalah sarapan pagi bagi rohani anak-anak, sementara tarbiyah keluarga itu telah Allah Swt setting pada jadwal shalat Maghrib menuju Isya.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.

Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah

sujudMuhammad Saw telah menitahkan melalui beberapa Alhadis yang termahsyur, bahwa shalat di Masjid Al-haram mengandung pahala sebanyak 100.000, shalat di Masjid Nabawi mengandung pahala sebanyak 10.000, dan shalat di Masjid Al-aqsa mengandung pahala sebanyak 1000. Ini artinya shalat di Masjid selain ketiga Masjid tersebut tidak mengandung keistimewaan seperti halnya shalat di ketiga Masjid suci ini.

Hal ini diperkuat oleh satu Alhadis yang juga termahsyur yaitu, “Aku mengutamakan perjalanan ke tiga Masjid ini, yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-aqsa”. Alhadis ini menyiratkan makna, bahwa melangkahkan kaki ke Masjid selain ketiga Masjid suci tersebut bukanlah suatu keutamaan. Oleh karena itu patut dipertimbangkan nilai keutamaan untuk shalat di rumah. Penting sekali untuk juga diingat berkenaan dengan kedua Alhadis ini, bahwa Muhammad Saw telah bertitah, “terangilah rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran”. Makna dari Alhadis ini adalah, bahwa penting sekali bagi setiap umat untuk menunaikan shalat di rumah, sebisa mungkin.

Jangan berpantang untuk shalat di rumah, untuk menjadi Imam atas anak dan seluruh keluarga, itulah makna terpenting dari ketiga Alhadis di atas. Bahkan banyak Alhadis yang menyiratkan, bahwa Muhammad Saw dan para sahabat pun tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah. Maka dari itu merupakan suatu ketergesa-gesaan kalau ada individu yang berpantang untuk shalat di rumah, sembari selalu mementingkan untuk melangkahkan kaki ke Masjid untuk menunaikan shalat berjamaah di sana, yang mana ini berarti individu tersebut tidak pernah atau bahkan menolak untuk shalat di rumah.

Muhammad Saw telah bertitah melalui beberapa Alhadis-nya, bahwa sebaiknya setiap umat berteguh untuk shalat di rumah, kalau umat tersebut berada jauh dari jangkauan KETIGA MESJID ALHARAM. Pada sisi yang lain, umat Muslim harus mencermati risalah kenabian tersebut, karena justru umat akan dihadiahi hikmat yang begitu Agung melalui ritus shalat berjamaah di rumah.

Di bawah ini akan dipaparkan beberapa hikmat Agung dari menunaikan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga.

Hikmah shalat di rumah bukan di Masjid,

Pertama. Salat di rumah, maka kampung menjadi sepi karena semua keluarga sedang shalat di rumah masing-masing, karena ayah (atau paman / datuk) shalat di rumah menjadi Imam. Memang sepatutnya demikian karena Muslim merupakan mayoritas di setiap kampung di bumi Allah Swt ini, maka logikanya adalah di saat jam shalat (shalat Maghrib, Isya atau Shubuh wabil khusus) kampung dan tempat tinggal mereka menjadi lengang karena seluruh anak-anak dan remaja sedang menunaikan shalat berjamaah di rumah masing-masing.

Shalat di Masjid: kampung akan tetap ramai dengan hiruk-pikuk keduniawin karena anak-anak dan remaja bukannya shalat berjamaah di rumah masing-masing dengan ayah / datuk / paman sebagai Imam, melainkan tumpah-ruah berhamburan di sepanjang jalan pada jam-jam shalat karena ayah (paman / datuk) mereka justru shalat di Masjid. Kebanyakan kampung di bumi Allah Swt ini adalah mayoritas Muslim, namun gaya hidup mereka tidak mencerminkan umat Muslim, karena asyik bermain kejar-kejaran di sepanjang jalan tidak karu-karuan, pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, shopping, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb.

Dua. Shalat di rumah: lantunan ayat suci terdengar dari setiap rumah di dalam suasana hening karena pada setiap rumah terdapat satu Imam yang sedang memimpin shalat berjamaah. Setiap ayah (atau paman / datuk) yang shalat dan menjadi Imam di rumah, pasti akan melantunkan ayat suci di dalam shalatnya, sementara makmum (yaitu anak dan keluarganya) mengikutinya di dalam keheningan. Dan di luar rumah pun terjadi keheningan karena seluruh anak sedang berada di dalam rumahnya sedang shalat berjamaah. Akibatnya di seantero kampung itu kala jam shalat (seperti Maghrib, Isya dan Shubuh) dilanda keheningan, tidak ada yang terdengar kecuali lantunan ayat suci saling bersahut-sahutan dari rumah-rumah keluarga Muslim. Inilah suasana hening penuh hikmat kesalehan.

Shalat di mesjid: lantunan ayat suci hanya terdengar dari Masjid dari sang Imam besar, itu pun tidak ada yang mendengar karena seantero kampung tetap hiruk-pikuk karena tidak ada yang shalat di rumah, pun anak-anak tetap asyik bermain kejar-kejaran di sepanjang jalan tidak karu-karuan, pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, shopping, nonton konser murahan, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb. Pendek kata, lantunan ayat-suci yang dibacakan di dalam Masjid oleh Imam Masjid hanya didengar oleh makmum Masjid tersebut, tidak mungkin anak-anak dan para remaja yang asyik berhamburan di sepanjang jalan di luar Masjid turut menyimak. Inilah kehidupan yang jauh dari kesalehan, melainkan kehidupan yang penuh dengan huru-hara yang menyesakkan dada.

Tiga. Shalat di rumah: pendidikan Iman dan spiritual anak dan keluarga terjamin karena diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk) sendiri di rumah. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absen. Dan ini artinya telah terjadi pemupukan dan penguatan ruh keagamaan dan kesalehan secara fundamental terhadap jiwa dan mentalitas sang anak.

Shalat di mesjid: pendidikan iman dan spiritual keluarga terkendala karena tidak ada shalat berjamaah di rumah karena ayah (atau paman / datuk) malah shalat di Masjid sehingga nasib kesalehan anak-anak dan anggota keluarga lainnya tidak ada yang memperhatikan, terkatung-katung tidak menentu. Mereka anak-anak dan keluarga jadi tidak pernah menikmati suasana keagamaan di rumah, karena tidak pernah dilibatkan di dalam kesalehan beribadah. Singkat kata, tradisi shalat di Masjid yang dikembangkan dewasa ini mengakibatkan perkembangan rohani kesalehan dan mentalitas imtaq di kalangan anak-anak dan remaja menjadi terhambat dan terpuruk.

Empat. Shalat di rumah: yang menjadi Imam shalat adalah semua anggota keluarga sehingga setiap anak tercambuk untuk hafal surah-surah Alquran karena kelak harus menjadi Imam, dengan demikian ada kaderisasi dan regenerasi Imam. Point ini jadi kontribusi tersendiri bagi lahirnya generasi yang hafal surah Alquran secara maksimal, karena dengan terus shalat berjamaah di rumah (karena sang ayah (atau paman / datuk) selalu menjadi Imam shalat berjamaah) maka anak-anak yang saat itu menjadi makmun akan tertantang dan terinspirasi untuk menjadi Imam kelak saat mereka sudah besar. Itu artinya mereka sejak dini harus hafal surah-surah Alquran, dan ini artinya merupakan landasan untuk membumikan kecenderungan hafal surah-surah Alquran.

Shalat di mesjid: yang hafal ayat-suci hanya para Imam Masjid atau segelintir orang, Muslim lain (di dalam hal ini ayah atau paman / datuk) tidak tercambuk untuk hafal surah Alquran karena mereka tidak akan menjadi Imam. Setiap laki-laki yang shalat di Masjid, tidak akan pernah mempunyai tantangan dan tanggungjawab untuk hafal surah Alquran, karena keperluan mereka akan hal itu untuk shalat sudah dipenuhi oleh Imam Masjid. Mereka para laki-laki yang shalat di Masjid hanya tinggal datang ke Masjid, kemudian ikut shalat berjamaah, kemudian diam saja mendengarkan Imam melantunkan ayat suci, kemudian hanya berkata “Aamiin …….!”, setelah itu selesai, dan kemudian pulang ke rumah. Kalau begini keadaannya buat apa susah-susah berusaha untuk hafal surah Alquran? Dan background ini mengakibatkan tidak ada satu jamaah pun yang tergerak untuk hafal surah Alquran.

Apakah mereka, laki-laki atau para ayah yang selalu shalat dan menjadi makmum di Masjid, merupakan individu-individu yang banyak hafalan surah Alqurannya? Tidaklah demikian. Atau, apakah mereka mempunyai kecenderungan untuk hafal lebih banyak surah Alquran? Tidaklah demikian. Bagi mereka, laki-laki atau para ayah yang selalu shalat berjamaah dan menjadi makmum di Masjid, shalat berjamaah di Masjid adalah sudah teramat baik, jadi tidak perlu lagi menghafal lebih banyak surah Alquran. Akibat dan kerugian yang akan diderita umat Muslim kalau shalat di Masjid adalah, bahwa menghafal lebih banyak surah Alquran bukan prestasi taqwa.

Lima. Shalat di rumah: pembentukan Generasi Shalat Minded terjamin.

Sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam. Sebenarnya tidaklah demikian. Shalat sebenarnya bukanlah perintah, melainkan PEMBIASAAN. Kalau seorang anak sejak kecil sudah dibiasakan shalat berjamaah secara terus menerus, maka sampai kapan pun sang anak akan tetap shalat meski dilempar ke Negeri yang jauh sekali pun. Dan pembiasaan shalat ini hanya dapat dipastikan melalui tradisi shalat berjamaah di rumah, di mana sang ayah (paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak-anak dan keluarga secara simultan dan kontinyu. Membangun kebiasaan dan pembiasaan shalat yang berujung pada shalat-minded tidak bisa diupayakan hanya di dalam waktu satu minggu atau satu tahun, atau melalui ceramah sedahsyat apapun, melainkan butuh waktu bertahun-tahun di dalam frame shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk), mulai dari sang anak berusia belia hingga remaja dengan cara terus dilibatkan di dalam shalat berjamaah di dalam rentang waktu sekian lama.

Singkat kata, suatu frame di mana seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya akan memastikan bahwa kelak sang anak akan menjadi bagian di dalam Generasi Shalat Minded. Kalau dibalik: cara melahirkan Generasi Shalat Minded, atau cara supaya sang anak kelak akan tetap kukuh menunaikan shalat hanyalah dengan melalui frame shalat di rumah yaitu sang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya.

Shalat di mesjid: pembentukan GSM terkendala.

Saat seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di Masjid, maka pada saat yang bersamaan, di rumah, sang anak dan seluruh keluarganya sedang asyik menyia-nyiakan waktu shalat dengan kesenangan duniawi. Bagaimana mungkin anak-anak di dalam suatu keluarga Muslim selalu terlibat di dalam kesempatan shalat berjamaah kalau sang ayah (atau paman / datuk) shalat di Masjid? Dan waktu yang berharga untuk membangun pembiasaan shalat bagi anak-anak terbuang dan tergusur karena di satu pihak ayah (atau paman / datuk) shalat di Masjid, sementara di pihak lain anak-anak pun akibatnya jadi asyik sibuk berhamburan di sepanjang jalan pada jam-jam shalat. Dengan keadaan seperti ini, tidak pernah terjadi pembiasaan shalat atas anak-anak dan keluarga, karena justru mereka dibiasakan berhamburan di jalan-jalan kampung untuk menikmati kesenangan duniawi di dalam kesia-siaan. Kalau sejak kecil tidak diadakan pembiasaan shalat, maka bagaimana kelak mereka akan terbiasa untuk shalat?

Outputnya jelas: di kemudian hari sang anak akan menjadi generasi yang berpantang shalat, mereka bukan bagian dari Generasi Shalat Minded. Mereka bukanlah umat Allah Swt.

Kecil sekali kemungkinannya seorang anak di kala dewasa akan tetap teguh menunaikan shalat di mana pun ia berada – kalau semasa kecilnya ia tidak menerima pembiasaan shalat dari keluarganya; dan pembiasaan shalat yang paling mungkin dan alami di sini adalah pembiasaan shalat melalui frame shalat berjamaah di rumah secara rutin yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk). Oleh karena itu seorang ayah (atau paman / datuk) yang selalu shalat di Masjid akan berparalel dengan jauhnya generasi muda (yaitu anak-anak mereka) dari shalat minded. Itu merupakan kerugian terbesar yang akan diderita seorang ayah (atau paman / datuk) di kemudian hari.

Enam. Shalat di rumah: Muhammad Saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluargamu …..”. Maka dari itu setiap ayah (atau paman / datuk) harus shalat di rumah supaya dapat menjadi Imam pemimpin shalat atas anak dan keluarga. Alhadis ini tidak dapat diartikan lain, kecuali setiap ayah (atau paman / datuk) harus shalat di rumah. Bagaimana seorang ayah (atau paman / datuk) dapat menunaikan amanat Alhadis tersebut yaitu menjadi Imam shalat atas keluarganya kalau ia selalu shalat di Masjid? Mutlak sekali, bahwa tafsir dan interpretasi dari Alhadis tersebut adalah bahwa setiap ayah (atau paman / datuk) harus shalat di rumah, karena dengan demikian setiap anak, setiap wanita, setiap remaja akan terpimpin juga untuk shalat di rumah karena mereka harus menerima dan tunduk pada Imamnya ayah (atau paman / datuk) mereka di rumah-rumah keluarga Muslim.

Shalat di mesjid: tidak ada landasannya. Banyak ayah (atau paman / datuk) yang berupaya untuk shalat di Masjid dengan pertimbangan beberapa Alhadis, misalnya Alhadis yang menyatakan bahwa Muhammad Saw akan membakar rumah umat yang enggan shalat di Masjid. Ketahuilah bahwa implementasi Alhadis tersebut hanya terbatas pada kota tiga Masjid suci, yaitu Mekah, Madinah dan Yerusalem. Di luar ketiga kota tersebut maka Alhadis mengenai pentingnya shalat di Masjid Suci (yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa) tidak berlaku, kebalikannya yang berlaku adalah Alhadis lain dari Baginda Muhammad Saw yaitu “Aku mementingkan perjalanan ketiga tempat ini, yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa …..”.

Ayah (atau paman / datuk) yang lainnya selalu mengupayakan shalat di Masjid dengan mendasarkan fikiran mereka pada ajaran bahwa Masjid dan shalat di Masjid merupakan poros kesalehan dan kedekatan umat kepada Allah Swt. Ketahuilah, bahwa kesalehan itu sendiri pasti berarti patuh pada pesan dan amanat Muhammad Saw. Dan amanat Muhammad Saw di sini adalah bahwa setiap ayah (atau paman / datuk) haruslah shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak-anak dan keluarganya.

Singkat kata, tidak ada landasan baik secara aqli mau pun naqli bagi setiap ayah (atau paman / datuk) untuk shalat di Masjid, selebihnya seluruh umat mempunyai alasan dan landasan logika kuat untuk selalu shalat di rumah, demi menjalankan amanah Muhammad Saw.

Muhammad Saw bertitah, “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu”, namun di lain pihak seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di Masjid. Ini berarti setiap laki-laki (atau ayah atau paman / datuk) bukanlah seorang pemimpin atas anak-anak dan keluarganya – seperti yang dititahkan Muhammad Saw; ini berarti setiap laki-laki adalah makmum. Maka jelaslah bahwa tradisi shalat di Masjid yang sementara ini terus dilakukan para lelaki atau ayah (atau paman / datuk) sehingga dengan tradisi ini para ayah (atau paman / datuk) tidak pernah menjadi Imam atas anak dan keluarganya – merupakan bentuk penyimpangan atas ajaran Rasul Muhammad Saw. Tidak pernah Muhammad Saw bertitah bahwa setiap laki-laki adalah dipimpin oleh laki-laki lainnya, maka mengapa seluruh pria mentradisikan untuk selalu diimamkan oleh laki-laki lainnya di suatu tempat dan bukannya memimpin anak dan keluarga di rumahnya sendiri?

Tujuh. Shalat di rumah: dengan tetapnya seorang ayah (atau paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya maka akan tercipta rumus: “bapak saleh, anak pun jadi saleh”. Hal ini dikarenakan di mana kalau ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah menjadi Imam shalat atas seluruh anak dan keluarganya secara terus-menerus, akan mengakibatkan anak-anak dan keluarganya ikut menjadi saleh. Dengan kata lain, kesalehan yang ada pada diri seorang ayah (atau paman / datuk) akan otomatis turun kepada anak dan keluarganya melalui kegiatan shalat berjamaah di rumah yang mereka imamkan setiap hari sepanjang tahun.

Kesalehan yang bersemi pada diri anak-anak dan keluarga dapat terwujud karena selalu shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk) tersebut adalah terjadi karena tiga hal:

  1. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah. Dengan shalat di rumah, ayah (atau paman / datuk) akan memastikan bahwa anak-anak dan keluarganya harus ikut shalat, harus berada di belakangnya sebagai makmum untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah, tidak boleh ada yang absent apapun alasannya, yang tujuannya adalah untuk beraktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.
  2. Dengan anak-anak dan keluarga terus shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk), maka alokasi waktu yang biasa dilewatkan anak-anak untuk berhamburan dan berceceran di luar rumah di sepanjang jalan kampung TERGANTIKAN dengan duduk khusyuk di belakang Imam yang adalah ayah (atau paman / datuk) mereka sendiri. Ini artinya telah menTIADAkan waktu untuk dihabiskan anak-anak dan keluarga di dalam kesia-siaan duniawi yaitu berkeliaran di luar rumah sepanjang jalan kampung di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, nonton konser murahan, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Kebalikannya, waktu yang dimiliki anak-anak dan keluarga akan digunakan untuk shalat berjamaah di rumah masing-masing dengan ayah (atau paman / datuk) sebagai Imam.
  3. Dengan ayah (atau paman / datuk) terus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak-anak dan keluarganya, maka itu berarti sang ayah terkondisikan untuk terus memperhatikan dan melakukan kontrol perkembangan rohani, jiwa, penerimaan dan intelektualitas sang anak dan keluarganya terhadap bibit iman dan taqwa, dan memang itulah tugas utama sang ayah (atau paman / datuk). Dengan ayah shalat berjamaah di rumah, setiap anak jadi merasa bahwa mereka diperhatikan oleh ayah mereka secara lebih intim dan terus-menerus.

Di siang hari sang anak dan keluarga telah bermain dengan kawan-kawan mereka di sekolah, taman kampung, pasar, di kampus, dan tanah lapang. Cukuplah hal itu merupakan waktu mereka untuk bersosialisasi dan bermain di luar rumah di kala siang. Dan ketika senja dan malam menjelang, bermain di luar rumah sudah berakhir, dan itulah saatnya mereka membangun karakter keagamaan dan rohani melalui shalat berjamaah di rumah dengan sang ayah (atau paman / datuk) menjadi Imam.

Pembangunan kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga: pembangunan rohani dan kesalehan akan mengguyur semua individu di dalam keluarga dan perkampungan Muslim tanpa kecuali, karena teknisnya adalah setiap ayah (atau paman / datuk) akan menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya, ini berarti shalat berjamaah tersebut akan melibatkan seluruh unsur yang ada di dalam kampung Muslim. Tidak akan ada satu anak pun, satu individu pun, yang lolos dan luput dari aktivitas pembangunan rohani ini, karena setiap mereka adalah anggota keluarga yang, akan dipanggil oleh ayah (atau paman / datuk) untuk ikut shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absen satu pun, untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Teramat besar kemungkinannya bahwa setiap anak yang terus shalat berjamaah di rumahnya akan menjadi saleh di kemudian hari seperti salehnya sang ayah (atau paman / datuk), karena shalat berjamaah yang terus diselenggarakan di dalam keluarga mempunyai kekuatan dan wewenang kuat untuk menyentuh dan menundukkan jiwa dan spiritualitas setiap anak sejak kecil.

Shalat di Masjid: bagaimana mungkin anak-anak di dalam suatu keluarga dapat menjadi saleh di saat dewasa, sementara anak-anak tersebut dibiarkan terus berkeliaran di luar rumah di sepanjang jalan kampung tidak memperdulikan masuknya waktu shalat khususnya Maghrib, Isya dan Shubuh? Mereka terus asyik bermain dengan kawan-kawannya malah pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, shopping, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dan itu bukanlah ciri-ciri umat Muslim, melainkan ciri-ciri umat di dalam kekafiran dan kerugian. Dan hal tersebut terjadi karena ayah mereka berketerusan shalat di Masjid, yang mana itu berarti sang ayah (atau paman / datuk) tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan pertum-buhan rohani sang anak, tidak memperdulikan siklus shalat sang anak dan keluarga. Dengan ayah shalat di Masjid, berarti mereka tidak memanfaatkan kesempatan dan peluang untuk menjadikan anak-anak mereka sebagai manusia saleh saat dewasa kelak.

Delapan. Shalat di rumah: kalau setiap ayah (paman / datuk) selalu shalat di rumah maka kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga. Ini artinya pembangunan rohani dan kesalehan seutuhnya merupakan wewenang dan inisiatif sang ayah (paman / datuk) atas seluruh anak dan keluarganya, dan memang demikianlah seharusnya. Ayah, biar bagaimana pun adalah manusia yang paling bertanggungjawab atas perkembangan rohani dan kesalehan seluruh keluarganya, tidak bisa tidak. Itulah sebabnya Muhammad Saw menitahkan bahwa seluruh laki-laki wabil khususnya ayah (paman / datuk) harus senantiasa shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya (selama mereka berdomisili jauh dari lokasi Masjid Al-haram, Nabawi dan Masjid Aqsa).

Shalat di mesjid: kalau setiap ayah selalu shalat di Masjid maka pembangunan rohani dan kehidupan beragama adalah berbasis Masjid (atau rumah ibadah), tak ubahnya seperti kaum kafir atau jahiliyah. Di Dunia ini kita melihat pembangunan rohani umat Katholik berbasis di Gereja, di mana tugas dan wewenang untuk memimpin peribadatan seluruh jemaat berada di tangan pendeta Gereja. Sungguh setiap ayah di dalam lingkungan umat nonmuslim tidak mempunyai wewenang mau pun tanggungjawab untuk membina kebangunan rohani dan kehidupan beragama khususnya keluarganya sendiri. Jangankan membangun / membina rohani dan kehidupan beragama anak dan keluarganya, bahkan pemantapan iman dan rohani diri setiap ayah (paman / datuk) pun juga hanya boleh dikelola oleh staf pendeta di rumah ibadat. Dengan kata lain, setiap ayah dan juga anak dan seluruh keluarga tidak mempunyai hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan di dalam bermunajat kepada Tuhan, karena hak dan wewenang tersebut merupakan hak eksklusif para staf pendeta di rumah ibadat.

Islam tidaklah demikian, Islam mengajarkan bahwa hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan merupakan tugas dan tanggungjawab setiap ayah (paman / datuk), karena memang demikianlah logikanya: ayah yang melahirkan dan memberi makan anak dan keluarganya, maka ayah (paman / datuk) jugalah yang paling bertanggungjawab di dalam pembinaan rohani dan iman anak dan keluarganya, tidak bisa ditawar lagi dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Bagaimana mungkin Islam mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani dan iman seluruh keluarga diserahkan kepada staf rumah ibadat (yaitu Imam Masjid, sebagaimana halnya staf pendeta di Gereja), sementara staf rumah ibadat tersebut tidak mempunyai hubungan darah dan kasihsayang atas mereka (anak dan seluruh keluarga)?

Penting untuk diketahui, bahwa pada umat nonmusiim yang bersistem pembangunan rohani berporos rumah ibadat, telah menjadikan setiap ayah, paman, datuk, anak dan seluruh keluarga tidak mempunyai derajat kesalehan di dalam beragama. Karena lebih tepatnya lagi, derajat kesalehan hanya dimiliki staf rumah ibadat yang jumlahnya hanya segelintir di tengah mereka. Ini menyedihkan. Maka kemudian apakah umat Muslim di seluruh Dunia juga mempunyai takdir yang harus sedemikian sama, dengan cara bahwa hak dan wewenang untuk menyelenggarakan ritus ibadah terletak pada staf rumah ibadat, dalam hal ini Imam Masjid? Ingatlah bahwa Muhammad Saw pun melarang umatnya ber-tasyabuh, yaitu mempersamakan diri dengan kaum kafir di dalam cara dan berfikir, dan bertasyabuh merupakan dosa di sisi Allah Swt.

Dampaknya jelas: umat nonmuslim yang mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani keluarga merupakan wewenang rumah ibadat – melahirkan kesenjangan dan kemiskinan rohani di tengah umat secara akar-rumput, belum lagi ditambah sekuleritas yang menggejala pada masyarakat mereka, masyarakat nonmuslim. Hal seperti ini harus dijauhkan umat Muslim universal, caranya adalah dengan mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani keluarga merupakan hak dan wewenang penuh atas ayah (paman / datuk) masing-masing.

Sembilan. Shalat di rumah: karena para ayah / suami harus menjadi Imam shalat di rumah maka sejak kecil mereka sudah dipersiapkan untuk hafal Alquran. Ini merupakan siklus kebaikan yang akan terwujud di dalam keluarga Muslim kalau mentradisikan shalat berjamaah di rumah dengan ayah (paman / datuk) sebagai Imam. Seorang ayah, ketika ia kecil selalu shalat berjamaah di rumah dengan diimamkan datuknya. Ayah yang masih kecil ini terpacu untuk hafal surah karena kelak ia juga akan harus berperan sebagaimana yang ditunjukkan datuknya. Ini merupakan dinamika Illahiyah yang luar-biasa yang akan memunculkan tahfiz-tahfiz pada usia remaja. Hikmah mentradisikan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan seluruh keluarga menjadi kenyataan dan semakin jelas.

Dengan kata lain, tradisi shalat di rumah di mana para ayah menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya, memunculkan tongkat estafet untuk generasi mendatang, yaitu mengakibatkan anak-anak yang menjadi makmum kala itu akan terpacu juga untuk hafal surah Alquran karena kelak mereka akan menjadi Imam juga atas anak-anak mereka di kemudian hari. Tongkat estafet keimaman dan tahfiz Alquran merupakan kata kunci di sini.

Karena tugas menjadi Imam merupakan tugas seluruh lelaki (karena kelak mereka akan menjadi suami / ayah / paman / datuk) maka tugas keimaman menjadi rata di tengah umat, dan akibatnya semua orang (harus) hafal surah Alquran: inilah moment kemunculan tahfiz publik, yaitu tahfiz yang membumi sampai ke akar-rumput.

Shalat di mesjid: menjadi tahfiz Alquran hanya untuk kalangan tertentu alias segmented, dan hal ini merupakan bentuk penolakan terhadap rahmat Allah Swt. Dengan mentradisikan shalat di Masjid, setiap ayah tidak mempunyai cambuk dan motivasi untuk hafal surah Alquran, karena mereka tidak akan pernah di-rolling-kan untuk menjadi Imam pada saat yang lain. Akibatnya target menghafal surah Alquran hanya bergulir di kalangan tertentu. Pada kenyataannya banyak para ayah (paman / datuk) yang sama sekali tidak hafal banyak surah Alquran, karena sejak kecil mereka tidak melihat senior mereka shalat di rumah menjadi Imam shalat, dan itu akibatnya para ayah (paman / datuk) tersebut tidak mempunyai tongkat estafet untuk menghafal surah Alquran.

Karena tugas menjadi Imam adalah segmented yaitu hanya untuk kalangan staf dan Imam Masjid maka tidak semua orang hafal Alquran, bahkan sedikit. Kalau tugas menjadi Imam hanya berkisar pada Imam Masjid, berarti setiap ayah tidak perlu mempunyai motivasi untuk hafal surah Alquran. Dengan mentradisikan shalat di Masjid, umat tidak akan menemukan moment kemunculan tahfiz publik, karena tradisi ini hanya melahirkan tahfiz yang segmented, yaitu khususnya dari kalangan pesantren dan sejenisnya.

Sepuluh. Shalat di rumah merupakan sumbu / poros dari sistem tahfiz publik yang melahirkan mekanisme pemurnian Alquran. Kemurnian Alquran, pada sejarahnya, terpelihara karena adanya tahfiz publik, yang mana tahfiz publik hanya akan terwujud jika seluruh ayah (paman / datuk) shalat di rumah menjadi Imam atas seluruh keluarganya. Dengan adanya mekanisme yang melahirkan tahfiz publik, keutuhan dan kemurnian Alquran terjaga, karena setiap individu hafal Alquran.

Jika di dalam 1000 orang hanya dua orang yang hafal Alquran, besar kemungkinan kedua orang ini akan mengubah-ubah ayat Alquran sesuka hati mereka, karena toh 998 individu lainnya tidak mengetahui konfigurasi ayat-ayat Alquran yang sebenarnya. Namun kalau ke-1000 individu tersebut hafal Alquran, maka tidak mungkin satu individu dapat leluasa mengubah satu ayat Alquran karena 999 yang lainnya sama-sama mengetahui konfigurasi surah dan ayat Alquran. Satu orang merupakan penjaga kemurnian ayat yang dilantunkan orang lainnya, begitulah seterusnya – karena mereka sama-sama hafal ayat Alquran. Itulah mekanisme pemurnian Alquran yang terjadi secara alami dan matematis!

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa kemurnian Alquran dapat terjaga karena adanya tradisi shalat di rumah di mana para ayah menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya, yang kelak hal ini akan mengakibatkan seluruh laki-laki termotivasi untuk hafal seluruh surah Alquran (karena mereka harus menjadi Imam keluarga di rumah mereka sendiri), demikian juga anak-anak yang satu masa menjadi makmum di rumah, akan juga termotivasi untuk hafal surah Alquran karena kelak mereka akan berperan sebagai Imam di dalam kehidupan mereka mendatang. Maka meratalah, maka membumilah gelora menghafal surah Alquran! Ingatlah, lebih banyak orang yang hafal Alquran, maka lebih banyak manusia yang menjadi penjaga kemurnian Alquran.

Ketahuilah, bahwa tradisi shalat di rumah bagi ayah (paman / datuk) untuk menjadi Imam atas anak-anak dan seluruh keluarganya – pada skala mikro – merupakan sistem yang akan melahirkan tahfiz publik – pada skala makro yang berimbas pada pemurnian Alquran.

Shalat di mesjid: sejarah menunjukkan bahwa kitab-kitab suci pra-Alquran (Perjanjian-lama dan Perjanjian-baru dsb) berhasil dipalsukan karena kehidupan dan ritus agama berbasis rumah-ibadat sehingga kitabsuci menjadi monopoli kaum biarawan. Definisi monopoli di sini adalah, bahwa memiliki, memegang, merawat, membaca dan menghafal kitabsuci merupakan hak istimewa para biarawan, selebihnya umat awam tidak diperkenankan untuk memiliki, memegang, membaca dan menghafal kitabsuci, hal mana semangat ini lahir dari kepercayaan bahwa suatu kitabsuci adalah suci, oleh karena itu kitabsuci hanya boleh dipegang dan disentuh oleh manusia suci, dan manusia suci di sini pastilah berarti para biarawan, sementara umat awam tidak termasuk suci, oleh karena itu umat awam tidak diperkenankan memiliki, memegang, membaca dan menghafal kitabsuci.

Monopoli memungkinkan terjadinya pemalsuan kitab. Kalau satu individu (yaitu biarawan) mengubah ayat kitabsuci sesuka hati, bagaimana mungkin awam dapat mengetahui pengubahan ayat tersebut? Bukankah awam tidak hafal kitabsuci dan tidak juga memegang kitabsuci? Itulah sebabnya kitabsuci pra-Alquran mudah sekali dipalsukan, karena tidak adanya sistem yang melahirkan tahfiz publik di tengah mereka, karena penguasaan kitabsuci terpusat pada segelintir manusia.

Dan bagaimana pula kalau umat Muslim merupakan umat yang mentradisikan dan mensentralisasikan shalat di Masjid, di mana para ayah (paman / datuk) dan juga anak-anaknya menjadi tidak termotivasi untuk hafal Alquran karena urusan menghafal Alquran merupakan tugas para Imam Masjid semata, dan kemudian karenanya sistem ini tidak melahirkan tahfiz publik? Bukankah nasib kemurnian Alquran seutuhnya berada pada kesemena-menaan segelintir manusia yang hafal Alquran itu?

Sebelas. Shalat di rumah: kasih sayang dan pengawasan ayah (paman / datuk) atas anak-anak dan keluarga menjadi efektif dan sistematis, baik pengawasan itu di dalam hal siklus shalat pada khususnya, mau pun di dalam hal mental spiritual pada umumnya. Dengan shalat di rumah menjadi Imam atas anak-anak dan seluruh keluarganya, maka sayang dan kepedulian seorang ayah (paman / datuk) terhadap mereka adalah nyata senyata matahari. Pada dasarnya, shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas anak-anaknya merupakan wujud dan bukti bahwa seorang ayah, Imam tersebut, sayang kepada keluarganya sendiri, dan tidak ada yang lebih pantas dan lebih indah untuk menjadi Imam atas mereka, kecuali sang ayah sendiri, tidak bisa tergantikan.

Setiap anak dan seluruh keluarga akan tetap di dalam siklus shalatnya selama ada yang mengawasi, yaitu ayah mereka, tidak lain dan tidak bukan. Dan seseorang yang paling efektif pengawasannya terhadap siklus shalat anak-anak pastilah ayah (paman / datuk) mereka sendiri. Pengawasan yang dilakukan orang lain atas diri seorang anak terhadap siklus shalatnya, tidak akan mempan, tidak akan mengena, tidak akan efektif, tidak akan bertaji, karena orang lain tersebut bukanlah siapa-siapa bagi sang anak; dan sang anak sendiri akan menganggap dan melihat orang lain tersebut sebagai orang yang tidak berhak untuk mengawasi dan mengontrol siklus shalatnya. Terlebih, sang anak bukannya akan patuh pada pengawasan orang tersebut untuk shalat, malah akan berbalik untuk bergumam, ‘ayah saya tidak menyuruh dan tidak mengawasi saya shalat, lantas mengapa orang ini menyuruh saya shalat?’.

Pendek kata, hanya sang ayah (paman / datuk)-lah yang berada pada posisi untuk mengawasi siklus shalat anak dan keluarganya. Dan hal tersebut hanya dapat diimplementasikan jika seorang ayah (paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam atas keluarganya, seperti yang dititahkan oleh Muhammad Saw di dalam Alhadis: “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu”.

Sayang kepada anak dan keluarganya bukan hanya di dalam bentuk memberi rumah, memberi makan yang banyak, memberi mainan yang handal, melainkan juga terjadi di dalam bentuk ‘mempersembahkan’ mereka ke hadhirat Allah Swt di dalam seremoni shalat berjamaah di rumah. Biarlah Allah Swt dan para MalaikatNya melihat bahwa seorang ayah sedang membawa seluruh anak dan keluarganya ke hadlirat-Nya di dalam suatu shalat berjamaah, dan itulah yang indah dan yang sepatutnya, karena memang itulah tugas seorang ayah (paman / datuk).

Ketika seorang ayah (paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya, maka pada saat itu sang ayah sedang memasukkan keluarganya ke dalam Surga dan menyelamatkan mereka dari jilatan api Neraka sebagai bukti sayang dan pemeliharaan sang ayah yang kuat dan fundamental.

Tidak benar kalau seorang ayah hanya sayang pada dirinya sendiri, melainkan ia harus sayang kepada anak dan keluarganya, dan wujudkanlah itu di dalam bentuk shalat berjamaah di rumah dengan dirinya menjadi Imam shalat atas mereka.

Shalat di mesjid: kasih sayang dan pengawasan ayah (paman / datuk) terhadap anak-anak dan keluarga adalah semu, tidak efektif, dan hanya slogan. Bagaimana mungkin seorang ayah (paman / datuk) dapat dikatakan sayang kepada anak dan keluarganya kalau ayah ini selalu shalat di Masjid yang, itu berarti mereka tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan siklus shalat anak mereka, darah-daging mereka sendiri? Apakah mungkin seorang ayah yang sayang kepada anak-anaknya justru meninggalkan anak-anaknya tersebut di rumah dan membiarkan mereka terkatung-katung sepanjang jalan kampung berhamburan di dalam kesia-siaan duniawi dan tumpah-ruah di pelataran dunia di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb, sementara sang ayah asyik shalat di Masjid? Apakah sang ayah tidak ingin menjadi Imam untuk mengimamkan shalat anak-anak mereka, darah-daging mereka? Kalaulah seorang ayah sayang kepada anak-anak dan keluarganya, maka pastilah lebih mudah untuk mereka mengerti bahwa sebaiknya mereka sendiri yang mengimamkan shalat anak-anak itu.

Tidak mungkin rasa sayang seorang ayah kepada anak-anaknya justru mengakibatkan anak-anak tersebut harus terkatung-katung di dalam hiruk-pikuk duniawi, sementara sang ayah shalat di Masjid.

Anggaplah, bahwa shalat di Masjid memang merupakan kebajikan, sehingga dia yang mengamalkannya akan masuk Surga. Namun kemudian mengapa sang ayah membiar-kan anak-anak dan keluarganya tercecer di sepanjang jalan kampung berhamburan di dalam kesia-siaan Duniawi? Apakah seperti itu yang dinamakan sayang kepada anak dan keluarga? Apakah sang ayah ingin selamat di akhirat sendirian, dan anak-anaknya dibiarkan tumpah ke Neraka, tidak memperdulikan keselamatan-akhirat anak-anaknya? Maka dari sini jelas, bahwa tradisi shalat di Masjid merupakan kesalahan, karena tradisi ini mengakibatkan setiap ayah tidak sempat memikirkan nasib ukhrawi anak-anak dan keluarganya.

Jelas sekali, tradisi shalat di Masjid (yang bukan ajaran kenabian Muhammad Saw) sama sekali tidak mencerminkan rasa sayang seorang ayah (paman / datuk) kepada anak-anak dan keluarganya.

Duabelas. Shalat di rumah: kekuatan spiritualitas keagamaan menjadi nyata dan kuat. Ingatlah, bahwa kekuatan spiritualitas keagamaan (saleh, taqwa, tawadhu, tawakal, jujur, rendah-hati, sederhana, dsb) hanya dapat bangkit dan menjadi fenomena kalau proses pembentukannya terjadi secara:

  1. gotong-royong alias massal,
  2. di dalam jangka waktu yang lama (long-term), dan terakhir,
  3. semua fitnah / kekuatan dan efek negatif ditiadakan.

Di lain pihak, seorang ayah (paman / datuk) yang shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya di dalam jangka waktu yang lama, telah menjadi fondasi dasar pemupukan dan penguatan ruh keagamaan dan kesalehan secara fundamental terhadap jiwa dan mentalitas sang anak. Kuatnya spiritualitas ayah (paman / datuk) yang terlihat saat memimpin shalat berjamaah di rumah, dan kuatnya spiritualitas dari shalat berjamaah itu sendiri akan mempengaruhi spiritualitas anak-anak dan keluarganya.

Dan pada akhirnya seluruh umat yang shalat berjamaah di rumah (dilakukan secara massal atau gotong-royong) karena diimamkan oleh ayah masing-masing, yang karenanya seluruh jalan dan perempatan dan juga Pusat keramaian menjadi sepi (mentiadakan fitnah dan kekuatan negatif), telah menjadi kekuatan spiritualitas tertinggi yang dapat diperoleh umat Allah Swt di muka bumi ini. Dengan terciptanya suasana spiritualitas yang ajaib ini, terlihat jelas bahwa satu individu telah bergotong-royong dengan banyak individu lainnya di dalam gelombang kesalehan yang tiada tara, dan inilah yang memberikan gambaran kekuatan spiritualitas keagamaan yang kental dan prima.

Shalat di mesjid: kekuatan spiritualitas dalam menjalankan agama menjadi pudar: yang tercipta hanyalah poros: “loe loe, gue gue” dikarenakan setiap ayah (paman / datuk) selalu shalat di Masjid yang dampaknya setiap anak dan anggota keluarga lainnya di rumah tidak pernah mendapat sokongan dan dukungan untuk kesalehan. Intinya, tidak pernah terjadi di mana satu individu telah bergotong-royong dengan banyak individu lainnya di dalam gelombang kesalehan. Lebih tepatnya, tidak pernah seorang ayah (paman / datuk) membantu anak dan keluarganya untuk memupuk kesalehan yang shalat merupakan inti dari kesalehan tersebut. Ketika seorang ayah selalu shalat di Masjid (yang dengan demikian meninggalkan anak dan keluarganya di rumah) maka itu berarti sang ayah membiarkan anak-anaknya untuk memilih takdirnya sendiri, dan apakah itu takdir kesalehan yang dipilih sang anak, selamanya akan tetap menjadi misteri, tidak ada satu pun yang dapat menjaminkan. Dan bagaimana mungkin takdir kesalehanlah yang dipilih anak-anaknya, sementara dukungan dan sokongan dari sang ayah tidak mereka dapat?

Intinya, kesalehan tidak datang dengan sendirinya, dan tidak dapat diusahakan orang per-orang, melainkan sebagai suatu usaha bersama, berjamaah, di dalam suatu kedisiplinan dan ketaatan. Pendek kata, kalau seorang ayah tidak ingin anak dan keluarganya saleh, maka cukuplah baginya untuk terus shalat di Masjid, dan biarkan anak dan keluarganya memilih takdirnya sendiri di tengah hingar-bingarnya kehidupan di luar rumah.

Tigabelas. Shalat di rumah: hak wanita dan anak-anak untuk shalat berjamaah berikut untuk memperoleh pahalanya, terpenuhi. Para wanita, yang mereka adalah para anak perempuan, istri, ibu, bibi, nenek, merupakan umat Tuhan yang harus dilibatkan di dalam seremoni shalat berjamaah berkenaan dengan keutamaan pahala shalat berjamaah. Di lain pihak, shalat berjamaah hanya dapat diimamkan oleh laki-laki yaitu para ayah atau suami / paman / datuk. Berarti kalau seorang ayah (paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas seluruh anak dan keluarganya, maka hak, pahala dan takdir para wanita di dalam keluarga tersebut telah terpenuhi.

Intinya, Islam telah mengajarkan bahwa tempat terbaik bagi seorang wanita adalah tetap di rumahnya sendiri, yang mana ini berarti para wanita tidak dianjurkan untuk melangkahkan kaki mereka menuju Masjid untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah. Di satu pihak Islam mengajarkan bahwa para wanita harus turut disertakan di dalam shalat berjamaah, dan juga menitahkan bahwa tempat terbaik bagi wanita untuk beribadah adalah di dalam rumahnya sendiri. Ini berarti bahwa setiap ayah (paman / datuk) haruslah shalat di rumah untuk menjadi Imam atas mereka.

Tidak ada satu kepentingan yang ingin dipenuhi oleh seorang ayah ketika ia memilih untuk shalat di rumah menjadi Imam atas keluarganya, kecuali kepentingan untuk menjadi Imam atas anggota keluarganya khususnya yang perempuan, seperti anak perempuannya, istrinya, ibunya, neneknya, bibinya dsb. Dan memang demikianlah seharusnya pilihan yang harus direnungkan seorang ayah (paman atau datuk). Adalah mutlak seorang ayah untuk harus sayang kepada anak-anaknya yang perempuan, kepada ibunya, neneknya, dsb, dan satu-satunya cara untuk menyayangi mereka adalah dengan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas mereka dari waktu ke waktu.

Shalat di mesjid: dengan para ayah / laki-laki selalu shalat di Masjid, maka kemudian apakah para istri, anak perempuan, para ibu tidak berhak untuk diimamkan oleh ayah / suami, lantaran kaum wanita lebih baik tinggal di rumah?

Ketika seorang ayah memutuskan untuk shalat di Masjid, para wanita (termasuk anak-anak perempuan) yang tinggal di rumah tidak mempunyai gambaran bagaimana hak mereka untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah dapat terpenuhi secara terus menerus. Kenyataannya, para wanita ini untuk dalam jangka waktu yang sekian lama akan tetap shalat sendirian di rumahnya, dan itu pun tidak ada yang dapat memastikan apakah wanita-wanita ini benar-benar menunaikan shalat di rumah – sementara ayah-ayah mereka shalat di Masjid.

Pendek kata, ketika para lelaki shalat di Masjid, kesia-siaan telah terjadi di tengah umat, yaitu pensia-siaan hak para wanita untuk diimamkan di rumah, sementara Muhammad Saw sudah jelas dengan Alhadis-nya, yaitu bahwa “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu”. Satu-satunya cara yang tepat untuk mengamalkan Alhadis tersebut adalah para lelaki (termasuk para ayah, paman, datuk, abang, suami dsb) memilih shalat di rumah, dan menghentikan tradisi untuk shalat di Masjid, karena shalat di Masjid tidak mempunyai landasan argumentasi baik aqli mau pun naqli.

Empatbelas. Shalat di rumah: setiap ayah / suami dapat memastikan sendiri bahwa anggota keluarganya tetap menunaikan shalat karena ayah / suami sendirilah yang mengimamkan mereka. Sudah sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam, dan perintah shalat ini adalah rata untuk seluruh umat tanpa kecuali. Masalah akan timbul kalau ada satu individu tidak menunaikan shalatnya, dan terlebih kalau individu tersebut merupakan anggota keluarga yang, seharusnya tetap memelihara siklus shalatnya. Hal ini seharusnya merupakan kepedulian dan concern seorang ayah atas seluruh anak dan keluarganya. Adalah sulit untuk dicerna bahwa ada seorang ayah begitu memelihara siklus shalatnya sementara anak dan keluarganya tidaklah demikian. Kalau anak dan keluarga tidak serius di dalam siklus shalatnya maka dapat dipastikan itu semua berawal dari tidak adanya perhatian sang ayah (atau paman / datuk). Dan kalau hal ini benar-benar terjadi, seluruh ulama sepakat bahwa kesalahan justru berada pada diri sang ayah (atau paman / datuk), tidak bisa tidak.

Pada saat seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya, maka sebenarnya pada saat tersebut sang ayah telah dapat memastikan bahwa anak dan keluarganya sudah paripurna menunaikan shalat: “dia yakin karena dia melihat”, karena dia sendiri yang mengimamkan mereka. Kepastian merupakan kata kunci di sini, dan tidak ada yang dapat memastikan mereka (anak dan keluarga) menunaikan shalat kecuali adanya perintah, perhatian dan keimaman sang ayah (paman / datuk). Itulah satu-satunya jalan bagi seorang kepala keluarga untuk memastikan bahwa seluruh anggotanya tetap di dalam siklus shalat. Ingatlah bahwa kebanyakan dari anggota keluarga adalah anak-anak manusia yang masih di dalam usia pertumbuhan, yang mana itu berarti bahwa mereka belum mengerti kedisiplinan dan ketaatan. Anak-anak biasanya hanya melewatkan hari-hari dengan bermain dan naluri untuk tidak taat.

Tidak mungkin ada seorang anak kecil yang taat memelihara siklus shalatnya. Sebaliknya, setiap anak hanya memikirkan main bersama kawan-kawannya. Dan kemudian, tidak mungkin ada seorang anak kecil yang ketika ditanya ayahnya apakah sudah shalat, kemudian sang anak akan menjawab “sudah” dengan penuh kebenaran, tanggungjawab, dan bermartabat. Sulit mengharapkan kesalehan tumbuh dan bersemi pada diri seorang anak yang sedang senang-senangnya bermain.

Namun di luar itu semua, tentunya sang ayah mempunyai perhatian yang lebih besar atas mereka. Wujudnya hanya satu: memanggil mereka untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah di rumah, hari demi hari, minggu demi minggu, dan tahun demi tahun, hingga anak-anak tersebut tumbuh menjadi dewasa, yaitu usianya untuk taat dan sadar akan kewajiban dan kesalehan. Dengan terus memanggil mereka untuk berpartisipasi shalat berjamaah, maka tidak perlu sang ayah bertanya kepadanya apakah sudah shalat, karena sang ayah sendirilah yang mengimamkannya. Dengan dipanggil shalat, maka berhentilah mai-mainnya untuk sementara, untuk shalat tersebut. Dan ikut shalat berjamaah tidak akan mencederai haknya untuk bermain.

Shalat di mesjid: dapatkah ayah / datuk memastikan bahwa anak dan keluarganya sudah shalat, sementara ayah tersebut shalat di Masjid? Dan apakah masuk akal ada seorang ayah yang selalu shalat di Masjid sebagai wujud dari kesalehannya, sementara ia menuntut anak-anaknya untuk juga saleh di rumah dengan tetap memelihara siklus shalat?

Ketika seorang ayah bertanya kepada anaknya apakah sudah shalat, dan dijawab “sudah” oleh sang anak, berapa persenkah validitas jawaban sang anak untuk ayah tersebut pertanggung-jawabkan di depan Allah Swt di hari berbangkit kelak? Bukankah ia tidak melihat? Dan bukankah ia tidak boleh yakin akan validitasnya? Apakah mungkin nilai keyakinan dapat disamakan antara “melihat sendiri” dengan “tidak melihat sendiri”? Jelas seorang ayah tidak pernah melihat dengan matanya sendiri bahwa anaknya telah menunaikan shalat, maka bagaimana ia yakin bahwa anak-anak dan keluarganya sudah shalat, cukup hanya dengan mendengar mereka menjawab “kami sudah shalat”?

Apakah membesarkan anak di dalam ketaatan untuk shalat caranya cukup dengan bertanya apakah kamu sudah shalat Maghrib dan Isya tadi, sementara sang ayah selalu shalat di Masjid yang mana itu berarti selalu meninggalkan anak dan keluarganya di dalam ketidakpastian akan memelihara shalat? Dus, berarti meninggalkan tanggung-jawabnya untuk memastikan bahwa anak dan keluarganya tetap memelihara siklus shalat? Ketahuilah, bahwa ketika sang ayah shalat di Masjid, maka semua anak justru sedang asyik berhamburan di pelataran dunia di dalam kesia-siaan larut di dalam kesenangan duniawi yang tidak terperikan.

Limabelas. Shalat di rumah: karena ayah (paman / datuk) menjadi Imam di rumah yang mengakibatkan aktivitas shalat berjamaah berpusat di rumah-rumah maka:

  1. Tarbiyah keluarga berlangsung secara konstan dan intim.
  2. Tarbiyah terhadap keluarga terjadi secara alami, membumi, dan gratis karena tarbiyah merupakan tanggungjawab ayah (paman / datuk).
  3. Ayah (paman / datuk) secara otomatis dan alami harus menjadi pengajar dan pembimbing atas anak-anaknya / ponakannya / sepupunya / cucunya / adik-adiknya, dll, itu semua atas dasar sayang sang dari sang ayah (atau paman / datuk).

Shalat di mesjid: tarbiyah hanya berlangsung terhadap jemaah Masjid, itu pun hanya untuk kalangan para ayah / orang-tua; tarbiyah untuk anak-anak dan keluarga terbengkalai karena Ayah (paman / datuk) pergi shalat ke mesjid. Akibatnya jika memang anak-anak faham agama itu karena mereka disekolahkan, yang artinya Ayah (paman / datuk) lempar tanggung-jawab kepada lembaga sekolah tersebut.

Biar bagaimana pun tarbiyah yang didapat anak dari sekolah adalah bersifat darurat, tidak menyeluruh, tidak permanen, dan serba kaku. Adalah tidak mungkin dapat mempersamakan antara tarbiyah yang didapat anak di rumahnya, dengan tarbiyah yang mereka dapat dari sekolah.

Kalau memang terdapat tarbiyah di dalam kehidupan ini, maka mengapa tarbiyah itu hanya untuk kalangan ayah / paman? Mengapa tarbiyah tidak diperuntukkan bagi anak-anak di rumah? Apakah anak dan keluarga tidak membutuhkan tarbiyah? Mengapa bisa terjadi, di mana para ayah / datuk menikmati tarbiyah di dalam Masjid, sementara anak dan keluarga tidak menikmati tarbiyah tersebut, malah justru asyik tenggelam di dalam kesia-siaan tercecer sepanjang jalan kampung dan tumpah-ruah di pelataran dunia di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main kejar-kejaran, tawuran, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb?

Enambelas. Shalat di rumah: tidak akan mungkin terjadi malapetaka umat, karena ayah / suami shalat berjamaah di rumah menjadi Imam atas seluruh anggota keluarga, maka jelaslah seluruh anggota keluarga sedang berada di belakang mereka sebagai makmum menunaikan shalat bersujud kepada Illahi, sehingga menjadi sepi-lah seluruh hiruk-pikuk keduniawian: jalan-jalan menjadi sepi, lapangan menjadi sepi, mal-mal menjadi sepi, perempatan menjadi sepi, Pusat jajan menjadi sepi, karena anak-anak dan wargakota yang biasa meramaikan tempat-tempat keduniawian tersebut saat itu justru sedang menjadi makmum shalat berjamaah yang diimami oleh ayah-ayah / datuk-datuk mereka di rumah masing-masing.

Dengan ayah / paman shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan seluruh anggota keluarganya, maka kesibukan dan kesenangan keduniawian di pelataran dunia musnah dan terhenti, karena anak-anak manusia yang biasanya meramaikan kesibukan dan kesenangan keduniawian tersebut, saat itu sedang berada di belakang ayah / paman / kakek mereka masing-masing sebagai makmum dalam ketaatan dan kesalehan, penuh ridha Illahi.

Jelas sekali, ketika seorang seorang ayah (paman, datuk, abang, suami) shalat di rumah menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya, maka ia tengah dan telah memusnahkan dan memadamkan hiruk-pikuk duniawi di seluruh perempatan jalan dan Pusat belanja, dan kemudian mengubah dunia menjadi tempat yang penuh ibadat dan taqwa kepada Illahi, karena anak-anak dan warga kota yang biasa meramaikan pelataran dunia tersebut sedang shalat sebagai makmum di belakang sang ayah / paman. Inilak keagungan dan kekuatan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh setiap ayah / datuk. Inilah marwah umat Muslim seluruh Dunia!

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah / paman / datuk merupakan:

  1. satu-satunya kekuatan yang paling misterius dan paling berwibawa yang dapat merontokkan dan mengkudeta huru-hara duniawi khususnya pada malam hari; shalat berjamaah di rumah telah menggulingkan malapetaka dunia.
  2. dan menggantinya dengan suasana ibadat yang hikmat dan kudus,
  3. terakhir, mengklaim anak-anak dunia sebagai anak-anak yang penuh ibadat dan kesalehan.

Terbebaslah umat dan seluruh anak dari malapetaka duniawi dikarenakan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh setiap ayah, itulah titah Nabawi.

Shalat di Masjid: ketika seorang ayah / paman / datuk shalat di Masjid maka terjadilah malapetaka umat. Ketika para ayah / suami shalat berjamaah di Masjid, berarti anak-anak dan anggota keluarga lainnya sedang tumpah-ruah di pelataran dunia di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, tawuran, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb.

Ayah / paman shalat di mesjid maka kesibukan dan kesenangan keduniawian di pelataran dunia tetap menggejala karena terus memikat, menyedot dan dihadiri anak-anak manusia karena mereka tidak diimamkan oleh Ayah (paman / datuk) mereka masing-masing. Ketika seorang ayah shalat di Masjid, maka sama saja sang ayah telah melontarkan anak-anaknya dihambur-hamburkan ke pelataran dunia penuh kesia-siaan.

Seorang ayah yang shalat di Masjid sebenarnya sedang menghidupkan dan menyemarakkan kehidupan huru-hara di seluruh perempatan jalan tempat di mana seluruh anak manusia tumpah ruah di dalam kesia-siaan. Di dalam kancah seperti ini bagaimana mungkin setiap jiwa dan setiap anak tumbuh di dalam kesalehan dan ketaqwaan yang Nabawi?

Tujuhbelas. Shalat di rumah: khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh, ketiga waktu tersebut merupakan waktu tarbiyah untuk anak dan keluarga. Jarak waktu antara Maghrib dan Isya sangat singkat, tidak sampai dua jam. Sengaja Allah Swt menyingkatkan waktu Maghrib supaya dengan demikian dekat jaraknya dengan Isya yaitu hanya berkisar tidak sampai dua jam. Hikmahnya adalah bahwa supaya waktu tersebut digunakan umat Muslim untuk moment tarbiyah di mana sang ayah / datuk / suami menjadi pembimbing rohani bagi seluruh anak dan anggota keluarganya. Cukup dua jam setiap hari (antara Maghrib menuju Isya) merupakan masa tarbiyah yang sangat ampuh bagi anak-anak yang sedang di dalam masa pertumbuhan rohani . Di awal Maghrib sang ayah memanggil anggota keluarga dan seluruh anaknya untuk shalat berjamaah (di rumah). Kemudian sang Imam tidak akan mengijinkan anak-anaknya untuk beranjak kembali kepada aktivitasnya seusai shalat Maghrib berjamaah, melainkan sang Imam (ayah atau datuk atau paman) menyuruh anak-anaknya untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, menghafal surah-surah pendek, dsb. Dan tidak terasa adzan Isya telah berkumandang, maka berakhirlah sesi tarbiyah untuk anak-anaknya pada hari itu. Shalat Isya berjamaah segera didirikan, dan anak-anak sudah mendapatkan pengajaran dan pertumbuhan rohani di dalam rumahnya sendiri. Setelah usai shalat Isya berjamaah, keluarga tersebut langsung ke meja untuk santap malam, mereka makan, dan akhirnya mereka siap untuk beristirahat sampai fajar menjelang.

Shalat Shubuh juga demikian. Sang ayah / datuk / paman akan membangunkan anak-anak dan anggota lainnya untuk shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absent, semua dibangunkan dari tidurnya. Setiap hari berlangsung demikian maka kukuhlah anak-anak di dalam disiplin dan keteguhan shalat.

Demikian agenda anak-anak dan keluarga Muslim setiap hari sehingga tumbuhlah anak-anak itu di dalam persemaian rohani yang kukuh dari keluarganya sendiri. Itu semua karena sang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk memimpin shalat berjamaah atas keluarganya.

Shalat di Masjid: moment tarbiyah yang di-skenariokan Allah Swt supaya setiap Ayah (paman / datuk) menjadi pemimpin shalat dan pengajaran disiplin beragama bagi anak-anak di rumah, menjadi terkendala secara fundamental. Waktu Maghrib, Isya dan Shubuh menjadi sia-sia tidak dapat dioptimalkan untuk moment pengajaran anak-anak, dan anak-anak akhirnya mengalami kemarau-jiwa karena tidak pernah dihadirkan di dalam shalat berjamaah di rumah setiap hari. Hal itu semua karena ayah (atau suami / paman / datuk) pergi shalat di Masjid yang mana itu berarti mereka tidak lagi memperdulikan pertumbuhan rohani anak-anak. Ibarat kata, Pemerintah telah membangun jembatan penyeberangan jalan buat warga, namun ternyata warga lebih memilih menyeberang jalan karena tidak ingin menggunakan jembatan tersebut, akibatnya sering terjadi kecelakaan dan kemacetan lalu-lintas.

Delapanbelas. Shalat di rumah: Ayah (paman / datuk) sadar bahwa keselamatan keluarganya merupakan tanggung-jawabnya di dunia dan akhirat. Dengan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh keluarganya, Ayah (paman / datuk) telah melaksanakan tanggung-jawabnya atas keselamatan keluarganya. Dengan shalat di rumah, seorang ayah akan memastikan bahwa anak-anak dan keluarganya harus shalat, harus berada di belakangnya sebagai makmum untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah, tidak boleh ada yang absent apapun alasannya. Televisi akan dimatikan, komputer akan dimatikan, gamesonline harus dimatikan, chatting internet harus dimatikan, kelayapan dan keluyuran di luar rumah dilarang, karena mereka harus berdiri di belakang Imam untuk shalat berjamah, karena shalat merupakan hal fundamental bagi iman dan ketaqwaan, tidak bisa dikalahkan oleh semua fasilitas keduniawian apapun.

Shalat di Masjid: seorang ayah / datuk yang shalat di Masjid, merupakan individu yang tidak pernah menyadari bahwa anak dan keluarga merupakan tanggungjawab mereka dunia akhirat. Atau, mereka sadar bahwa anak dan keluarga merupakan tanggungjawab dunia akhirat, namun mereka tidak melaksanakan tanggungjawab tersebut dengan semestinya, mereka telah menelantarkan tanggungjawab dunia akhirat yang untuk memastikan bahwa anak dan keluarga tetap shalat untuk memperoleh keselamatan dunia akhirat. Akibatnya, anak dan keluarga menjadi kering, rohani mereka tidak tumbuh dan berkembang dengan baik, dan menjadi pribadi yang tidak menunaikan shalat. Mereka, anak dan keluarga, menjadi keluyuran, terkatung-katung, berceceran dan kelayapan keluar rumah di sepanjang jalan, tidak shalat, tidak mengaji, tidak berzikir, tidak bershalawat, tidak melantunkan doa, tidak bersimpuh di hadapan Illahi, tidak menikmati suasana religius di dalam rumahnya, dan itu mengerikan. Mereka malah pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, shopping, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dan itu bukanlah ciri-ciri umat Muslim, melainkan ciri-ciri umat di dalam kekafiran dan kerugian.

Seorang laki-laki yang selalu shalat di Masjid, tidak berfikir bahwa anak dan keluarganya merupakan tanggungjawabnya untuk diimamkan. Mereka hanya berfikir bahwa shalat merupakan kesalehan, dan merupakan kesalehan prima kalau ditunaikan di Masjid. Itu saja yang ada di dalam fikiran mereka. Para ayah yang shalat di Masjid sehingga tidak pernah menjadi Imam atas anak dan keluarganya, hanya berfikir bahwa shalat di Masjid merupakan kesalehan, kebalikannya tidak pernah berfikir bahwa menjadi Imam atas anak dan keluarganya di rumah merupakan kesalehan. Para ayah ini, berfikir bahwa shalat atau tidaknya anak dan keluarganya, bukanlah urusannya, bukanlah tanggungjawabnya, melainkan urusan masing-masing anak dan keluarganya.

Singkat kata, seorang ayah / suami yang selalu shalat di Masjid, tidak pernah sadar bahwa anak dan keluarganya adalah tanggung-jawabnya dunia akhirat.

Sembilanbelas. Shalat di rumah, adalah gelombang rohani yang akan menjadikan rumah keluarga Muslim sebagai tempat suci dan kudus yang di dalamnya umat Allah Swt sedang bermunajat dan mensucikan diri mereka dari fitnah dunia dan fitnah jaman. Ketahuilah bahwa dengan lebih banyak tinggal di dalam rumah, maka seluruh anggotanya terbebas dari marabahaya dan godaan Iblis, karena Iblis lebih banyak beroperasi di luar rumah, terlebih di malam hari. Jadi dengan demikian dapat dikatakan, bahwa lebih banyak tinggal di dalam rumah di malam hari merupakan perjuangan setiap anggota keluarga untuk tetap suci. Inilah alasan mengapa rumah keluarga Muslim merupakan tempat suci.

Di dalam suatu Alhadis disebutkan bahwa Malaikat Rahmat as tidak akan masuk ke dalam rumah keluarga Muslim kalau di dalam rumah tersebut terdapat seekor anjing. Alhadis ini menyiratkan makna bahwa sejatinya Malaikat Rahmat as selalu berada di dalam rumah-rumah keluarga Muslim untuk menabur rahmat Allah Swt. Dan pada akhirnya Alhadis ini ingin menegaskan bahwa setiap rumah keluarga Muslim adalah tempat suci dan kudus, ditandai dengan bersemayamnya Malaikat Rahmat as di dalam rumah tersebut.

Lebih dari itu, kalau di dalam rumah itu selalu ditunaikan shalat berjamaah maka kesucian dan kekudusan rumah tersebut semakin mudah difahami. Shalat berjamaah di rumahlah yang paling berkontribusi di dalam menjadikan suatu rumah keluarga Muslim suci. Teknisnya, kalau shalat berjamaah sering dan rutin ditunaikan di dalam rumah (karena ayah / paman / datuk selalu menjadi Imam shalat di dalamnya), maka nyatalah rahmat Allah Swt yang ditabur sang Malaikat Rahmat di atas rumah tersebut.

Ada sebagian Muslim yang berfikir bahwa rumah bukanlah tempat suci – sehingga tidak layak untuk dijadikan tempat shalat berjamaah. Ketahuilah, bagaimana rumah tersebut akan menjadi suci kalau di rumah tersebut tidak pernah ditunaikan shalat berjamaah? Semakin sering shalat berjamaah ditunaikan di rumah maka semakin sucilah rumah tersebut di mata Allah Swt dan para MalaikatNya.

Pada moment inilah Muhammad Saw bersabda, “terangilah rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran”. Alhadis ini menegaskan betapa pentingnya menjadikan rumah sebagai ‘pangkalan’ shalat yang permanen untuk seluruh anggota keluarga turun temurun, demi menunaikan makna dari Alhadis Muhammad Saw tersebut.

Dan dengan terus menunaikan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh sang ayah, yang mana seremoni tersebut melibatkan anak dan seluruh anggota keluarga, dan dikarenakan shalat itu sendiri adalah suci dan Agung, dan membuat rumah tempat diselenggarakannya shalat berjamaah itu jadi suci dan Agung juga, maka akibat akhirnya adalah bahwa anak dan keluarga pun menjadi suci dan saleh. Itu sudah jelas, itu sudah logis, itu adalah efek kartu domino-nya!

Praktis, kalau seorang ayah (paman / datuk) selalu shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan keluarganya maka rumah tersebut menjadi tempat suci dan kudus di mata Allah Swt. Dan setiap jiwa yang tinggal di dalam rumah tersebut pun juga menjadi suci dan saleh, jauh dari fitnah dunia. Dengan seorang ayah memilih untuk shalat di rumah, ia telah menegaskan bahwa rumahnya merupakan tempat suci, dan shalat berjamaah adalah pantas untuk ditunaikan di dalamnya.

Shalat di Masjid, adalah suatu gelombang yang didasari oleh kebiasaan berfikir bahwa Masjid adalah tempat suci. Dan ketika para ayah pulang kembali ke rumah dari shalat berjamaah dari Masjid, maka kesucian itu tetaplah berada di Masjid: kesucian tersebut tidaklah ikut terbawa ke rumah, dan tidak juga membuat anak dan keluarganya menjadi suci sesuci Masjid. Anak dan keluarganya tetaplah berhamburan di jalanan kampung asyik bermain kejar-kejaran di sepanjang jalan tidak karu-karuan, pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, godain cewek, nonton bioskop, tawuran, main raket, makan permen karet, nonton bola, bermain futsal, main bola, shopping, jual-beli, main internet, kongkow-kongkow, dsb.

Ketika sang ayah shalat di Masjid berketerusan, maka perbuatan tersebut tidak membuat rumahnya menjadi suci, tidak juga membuat anak dan keluarganya saleh. Masjid tetaplah suci, namun apakah keluarganya menjadi saleh, tetap menjadi misteri yang tidak terpecahkan sepanjang abad.

Duapuluh. Shalat di rumah: adalah tombol pertama untuk menimbulkan kesalehan tingkat keluarga, tingkat atomik, yang tidak dapat dihindari, merupakan cikal-bakal kesalehan umat secara keseluruhan.

Mudah sekali untuk direnungkan, ketika seorang ayah shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya, maka seluruh keluarga akan mengikuti seremoni tersebut dengan penuh hikmat dan khusyuk, dan itu berarti seluruh keluarga terhindar dari fitnah kota, khususnya di malam hari, dengan cara bermunajat kepada Illahi dan berbuat tindakan yang benar untuk kesejahteraan hati dan jiwa: mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Ketika sang ayah shalat dan menjadi Imam atas keluarganya, maka dekat sekali sang ayah kala itu kepada anak-anaknya untuk dapat memperhatikan rona-wajah anak-anak, memperhatikan kesehatannya, mencermati penerimaan sang anak atas pelajaran sekolah, kemajuannya di dalam menghafal surah dan Alhadis, dsb. Dekat sekali, intim sekali ……….

Kesalehan tingkat atomik dengan demikian telah terwujud, maka hal berikutnya akan terwujudlah kesalehan tingkat yang lebih luas, yaitu kesalehan yang menggelora pada tingkat Kerajaan Allah Swt di muka bumi ini. Adalah mustahil mendapatkan kesalehan pada tingkat sosial yang lebih luas, sementara kesalehan tingkat atomik yaitu tingkat keluarga hancur-lebur, ditolak dan dikesampingkan. Kalau kesalehan tingkat atomik telah tercapai, maka otomatis kesalehan tingkat sosial yang lebih luas, tercipta.

Penutup.

Tidak ada kebajikan di dalam tradisi shalat di Masjid untuk para ayah / paman, karena sebaliknya, Muhammad Saw hanya mengajarkan umatnya untuk shalat di rumah supaya para ayah menjadi Imam shalat berjamaah atas anak dan keluarganya, sesuai dengan titahnya, bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, dan kelak kepemimpinannya harus ia pertanggungjawabkan kepada Allah Swt di Hari Penghakiman kelak.

Selebihnya, shalat berjamaah di rumah mempunyai begitu banyak rahasia keagungan dan kesalehan yang akan tertebar merata atas keseluruhan orang yang beriman, dan kesalehan tersebut kelak akan menjadi gelombang yang akan menghempaskan fitnah dunia tanpa kenal garis perbatasan Negeri dan Pemerintahan.

Selama ini umat mentradisikan shalat di Masjid, dan hasilnya terlihat jelas, di mana anak-anak manusia menjadi terkatung-katung di sepanjang jalan kampung berhamburan di tengah huru-hara dunia, dan setiap anak manusia menjadi tidak dapat dihadirkan di dalam seremoni kesalehan keluarga, yang merupakan cikal-bakal kesalehan umat keseluruhan. Ketika seorang ayah shalat di Masjid, maka anak-anak memeriahkan kekacauan duniawi di Pusat keramaian khususnya di malam hari, dan ketika mereka pulang ke rumah, mereka membawa kehancuran yang mereka dapat dari Pusat keramaian tersebut ke rumah masing-masing.

Tidak dapat dihindari untuk diungkapkan, bahwa tradisi shalat di Masjid memberi kontribusi signifikan atas meriahnya kekacauan duniawi di Pusat keramaian, tempat di mana anak-anak manusia terhambur-hambur di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, makan permen karet, tawuran, godain cewek, main raket, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Artinya, kalau kekacauan dan kesia-siaan duniawi tersebut ingin ditumpas habis, maka satu-satunya jalan adalah mentradisikan shalat di rumah di mana sang ayah mengimamkan shalat berjamaah atas anak dan keluarganya. Dan kalau kekacauan bin kesia-siaan duniawi harus tumbuh subur, maka satu-satunya cara untuk mewujudkannya adalah dengan membiarkan para ayah shalat di Masjid sehingga meninggalkan anak dan keluarganya di rumah untuk kemudian berserakan di pelataran dunia di dalam kesia-siaan fitnah kota.

Inilah maksud Nabawi, inilah maksud Illahiah, dengan shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Inilah makna doa yang tertera di dalam Alquran mengenai keluarga Muslim yang penuh dengan agenda shalat berjamaah di mana sang ayah merupakan Imam shalat berjamaah,

QS Furqaan 74: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Ayat ini, tidak dapat tidak, merupakan titah Allah Swt sebagai dasar untuk mewujudkan tradisi shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga. Kata ‘kami’ pada ayat tersebut pastilah posisi seorang ayah, karena dinisbatkan dengan phrase berikutnya ‘anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami’, yang mana itu berarti seorang ayah bermunajat kepada Allah Swt semoga istri dan anak-anaknya menjadi kesenangan hatinya: itulah kesalehan. Sudah dijelaskan melalui paparan ini, bahwa kesalehan hanya terjadi dan tercipta jika sang ayah berteguh untuk shalat di rumah dan menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Phrase berikutnya semakin menegaskan bahwa seorang ayah hendaklah bercita-cita supaya menjadi Imam atas anak dan keluarganya yang penuh taqwa, yaitu phrase “jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Bagaimana mungkin seorang ayah memperoleh keluarganya sebagai kesenangan hatinya, kalau keluarganya tidaklah saleh. Kemudian, kesalehan itu sendiri hanya dapat tercapai dengan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh sang ayah sendiri. Dan kemudian, bagaimana seorang ayah dapat menjadi pemimpin (Imam) atas keluarganya yang saleh dan bertaqwa, kalau keluarganya tidak bertaqwa dan saleh lantaran tidak pernah diimamkan shalat berjamaah di rumah?

Apakah mungkin ayat ini mengandung makna, bahwa seorang ayah ingin agar keluarganya menjadi keluarga yang bertaqwa, sementara ia sendiri tidak mengusahakan hal tersebut (dengan cara menjadi Imam shalat atas mereka di rumah)? Dan apakah mungkin, seorang ayah ingin menjadi pemimpin atas orang-orang yang bertaqwa, sementara orang-orang bertaqwa tersebut bukan keluarganya, melainkan orang lain?

Tepat sekali cara Allah Swt menyusun kata-kataNya di dalam ayat Al-furqan 74 ini untuk mewartakan betapa strategisnya shalat berjamaah di rumah dengan diimamkan oleh seorang ayah di dalam keluarga tersebut.

Shalat berjamaah di Masjid merupakan lawan dari shalat berjamaah di rumah, dan akibat dari kedua frame tersebut juga saling berlawanan, untuk menghemat kata.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.