Month: March 2013

Teks Berita Mungkin Lebih Baik Kalau Begini

alamandang-ray

Di dalam menikmati berita di dalam bentuk tulisan (bukan media dengar), pasti teks dari berita tersebut harus menyisipkan narasumber. Bagi saya, untuk membaca atau melahap informasi tentang narasumber, cukup membuat kenikmatan membaca berita jadi kacau dan membingungkan. Mungkin akan lebih baik kalau di dalam teks suatu berita, narasumber ‘disembunyikan’ saja, atau juga dijadikan seperti ‘catatan kaki’ saja, supaya pembacaan teks berita menjadi lancar. Hal ini didasarkan pada, bahwa informasi narasumber sebenarnya tidak lah begitu penting. Penting memang penting, namun menurut saya, kelancaran di dalam menikmati suatu berita harus didahulukan daripada mengetahui si narasumber.

Sebagai contoh.

Berikut ini adalah teks berita yang biasa disuguhkan yang saya ambil dari http://id.berita.yahoo.com/arab-saudi-minta-moratorium-tki-dicabut-070938309.html , 20 Maret 2013. Perhatikan teks yang saya bold yang merupakan informasi narasumber.

Arab Saudi Minta Moratorium TKI Dicabut

Kuta (ANTARA) – Arab Saudi meminta Pemerintah Indonesia untuk segera mencabut moratorium pengiriman tenaga kerja asal Tanah Air ke negeri tersebut.

“Hal itu karena mereka membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia yang dikenal pekerja keras dan merasa sudah sangat dekat” kata Deputi Bidang Koordinasi Kerja sama Ekonomi dan Pembiayaan Internasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dr Rizal Affandi Lukman, di sela-sela pertemuan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dengan pengusaha dari Arab Saudi, di Kuta, Senin.

Dia mengatakan, pihak Pemerintah Arab Saudi menjamin dan melindungi hak-hak yang diperoleh para tenaga kerja Indonesia selama berada di negara tersebut.

“Saya rasa mereka telah berupaya memperbaiki serta melindungi apa yang menjadi hak para TKI selama bekerja di sana, dan tampaknya komitmen itu ditunjukkan dengan cukup serius,” ujarnya.

Rizal menuturkan, dengan dicabutnya moratorium pengiriman TKI tersebut, akan memberikan peluang bagi tenaga kerja dari Tanah Air yang lainnya menjajaki sektor formal, seperti di bidang jasa dan perhotelan.

Seperti diketahui, lanjut dia, banyak warga Indonesia yang datang untuk melaksanakan ibadah haji atau umroh sehingga hotel-hotel di sana membutuhkan tenaga profesional untuk melayani para jemaah tersebut.

“Hampir sepertiga jumlah jemaah yang akan melaksanakan ibadah haji berasal dari Indonesia sehingga akan lebih enak jika mereka dilayani oleh pekerja hotel dari Tanah Air juga,” ucapnya.

Rizal menjelaskan, jumlah TKI di Arab Saudi sampai sekarang sekitar 1,5 juta orang dengan pemasukan dari pekerja itu selama 2011 sebesar Rp5,7 triliun. (rr)

Demikian asli dari teks beritanya.

Di bawah ini adalah format dari teks berita di atas yang menurut saya pasti lebih nyaman untuk dibaca, karena informasi mengenai narasumber dijadikan catatan kaki saja yaitu di dalam simbol bintang di dalam tanda kurung.

Arab Saudi Minta Moratorium TKI Dicabut

Kuta (ANTARA) – Arab Saudi meminta Pemerintah Indonesia untuk segera mencabut moratorium pengiriman tenaga kerja asal Tanah Air ke negeri tersebut.

“Hal itu karena mereka membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia yang dikenal pekerja keras dan merasa sudah sangat dekat,” (*)

Pihak Pemerintah Arab Saudi menjamin dan melindungi hak-hak yang diperoleh para tenaga kerja Indonesia selama berada di negara tersebut.(*)

“Saya rasa mereka telah berupaya memperbaiki serta melindungi apa yang menjadi hak para TKI selama bekerja di sana, dan tampaknya komitmen itu ditunjukkan dengan cukup serius,” (*)

Dengan dicabutnya moratorium pengiriman TKI tersebut, akan memberikan peluang bagi tenaga kerja dari Tanah Air yang lainnya menjajaki sektor formal, seperti di bidang jasa dan perhotelan.(*)

Seperti diketahui, banyak warga Indonesia yang datang untuk melaksanakan ibadah haji atau umroh sehingga hotel-hotel di sana membutuhkan tenaga profesional untuk melayani para jemaah tersebut.(*)

“Hampir sepertiga jumlah jemaah yang akan melaksanakan ibadah haji berasal dari Indonesia sehingga akan lebih enak jika mereka dilayani oleh pekerja hotel dari Tanah Air juga,” (*).

jumlah TKI di Arab Saudi sampai sekarang sekitar 1,5 juta orang dengan pemasukan dari pekerja itu selama 2011 sebesar Rp5,7 triliun. (rr) (*).

* – Deputi Bidang Koordinasi Kerja sama Ekonomi dan Pembiayaan Internasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dr Rizal Affandi Lukman, di sela-sela pertemuan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dengan pengusaha dari Arab Saudi, di Kuta, Senin.

Bagaimana? Dengan format penulisan berita seperti ini, dijamin pembaca jadi lebih lancar dan mudah di dalam menikmati suatu berita karena informasi mengenai narasumber dijadikan catatan kaki saja, dan itu pun ditulis sekali saja yaitu di bagian paling bawah dari badan teks berita.

Mudah-mudahan ‘jeritan’ saya ini dibaca dan disambut baik oleh insan pers para penulis berita. Amin.

Advertisements

Papah Mamah Datang Dari Mana?

alamandang-fero

Seorang wanita yang masih muda, memanggil “Bapak … Bapak … masih ada duitnya, ga?” kepada suaminya. Yang dipanggil ‘bapak’ itu menoleh, dan memberi jawaban. Dan ternyata sang suami itu masih berwajah anak muda juga. Pasangan suami istri itu sudah mempunyai satu anak, masih berusia 3 Tahun. Jadinya, umur pernikahan mereka masih belum seberapa.

Yang menjadi perhatian saya bukan kecantikan atau mobil mewah yang dimiliki pasangan suami istri itu. Namun ada hal lain. Apakah itu?

Sang istri itu, memanggil suaminya dengan ‘Bapak’. Dan, kebalikannya, sang suami memanggil sang istri dengan ‘Mama’. Cara mereka memanggil pasangannya, tidakkah terasa janggal dan agak genit? Apakah harus seorang istri yang merupakan seorang wanita muda, alias masih bisa dibilang anak kecil, memanggil suami mereka, yang umurnya sebaya, dengan panggilan ‘Bapak’ atau ‘Papah’, dan lain lain?

Babak Pertama.

Indonesia, di tahun-tahun awal kemerdekaannya. Anggap saja tahun 60an atau 70an. Pada saat itu, dapat dikatakan bahwa rakyat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Maklumlah, baru saja merdeka.

Namun bukan berarti tidak ada sama sekali rakyat Indonesia yang kaya atau berkecukupan. Ada juga rakyat Indonesia yang kaya dan berkecukupan. Apalagi di tahun 1970an, karena pada masa itu Indonesia sudah menemukan ladang minyak, dan juga di Indonesia sudah ada beberapa investor yang beroperasi sehingga dapat mengkayakan para pekerjanya yaitu orang Indonesia. Singkat kata, ada juga yang kaya dan berkecukupan, namun tidak banyak, hanya segelintir saja.

Orang Indonesia yang masih berada di garis kemiskinan, kita namakan saja kelompok A. Sementara orang Indonesia yang kaya berkecukupan, kita namakan saja kelompok B.

Kelompok A, adalah orang Indonesia yang lugu, dan hidup penuh dengan kesejatian, alias tidak ‘bergaya’ atau ‘banyak gaya’. Jadi, di dalam hal rumah tangga, para istri memanggil suami mereka tidak dengan sebutan ‘papa’ atau ‘bapak’ atau yang lainnya, namun dengan sebutan yang wajar dan generik saja, seperti ‘akang’, ‘mas’,  ‘bang’, ‘uda’, ‘kangmas’, dan lain lain. Pun, kebalikannya juga begitu. Sang suami memanggil istri dengan panggilan generik juga, seperti ‘nyai’, ‘dek’, atau bahkan hanya dengan sebut nama saja. Hanya dengan cara itu mereka saling panggil, sederhana saja, tidak macam-macam, tidak bergaya ini-itu.

Namun di luar itu, ada orang Indonesia di kelompok B. Kelompok ini terbiasa hidup dengan kecukupan, dan umumnya mereka kebarat-baratan. Bagaimana tidak? Yang jelas sang suami pastilah terbiasa berhadapan dengan orang luar Negeri di tempat kerja.

Jadinya, di dalam kelompok B ini, seorang istri akan memanggil suami mereka dengan ‘Papa’ atau ‘Papih’. Dan kebalikannya sang suami akan panggil istri mereka dengan ‘Mamih’ atau ‘Mama’. Dengan cara panggil seperti ini, mereka menunjukkan status sosial mereka, yaitu golongan manusia yang mampu secara ekonomi. Secara permukaan, memang diakui, memanggil pasangan dengan sebutan seperti itu terdengar wah. Kalau dibanding dengan memanggil pasangan dengan sebutan-sebutan generik, pastilah memanggil dengan ‘papah’ dan ‘mamah’ akan lebih berkelas dan lebih bergaya.

Itulah perilaku orang Indonesia yang kaya berkecukupan (kala itu), yang penuh gaya, yang kebarat-baratan, yang genit dan di luar nalar.

Demikianlah, kalau kita tengok film-film Indonesia di era tahun 60an atau 70an yang banyak melukiskan kehidupan orang-orang Indonesia yang kaya yang hidup di rumah megah nan mewah, lantai marmer, jendela kaca lebar, mobil sedan mentereng, dan pembantu ibu-ibu gaek yang sederhana dan papa. Banyak orang berpendapat bahwa film Indonesia di era ini adalah film yang berporos pada kehidupan orang Indonesia kayaraya, alias kayaraya-centris. Jarang sekali film Indonesia di era itu yang melukiskan kehidupan orang Indonesia yang miskin, hidup di desa dan lain lain. Jadi, dari film ini terlihat para karakternya di mana para istri memanggil suami mereka dengan sebutan ‘papah’ dan para suami memanggil istri mereka dengan ‘mamah’ atau pun ‘mamih’. Nah itulah gaya mereka.

Namun, apakah kelompok A juga (ingin) ikut-ikutan panggil pasangan mereka dengan sebutan papah dan mamah seperti yang dilakukan kelompoak B?

Tidak. Tidak ada indikasi ke arah sana, dan tidak ada bukti untuk hal itu. Yang jelas, orang Indonesia di dalam kelompok A adalah orang Indonesia yang hidup dengan penuh kesejatian, tidak blagu, tidak banyak gaya, tidak kebarat-baratan. Alhasil, kelompok A merasa aneh alias melongo saat mereka melihat atau menyaksikan suami istri dari kelompok B panggil pasangan mereka dengan sebutan papah mamah.

Babak Kedua

Fenomena kelompok B yang memanggil pasangan mereka dengan sebutan yang genit dan bergaya itu (yaitu papah-mamah dan yang senada dengan itu) sebenarnya ‘terlokalisir’ di kalangan orang berkecukupan saja. Artinya, cara panggil pasangan dengan sebutan seperti itu tidak meluber ke kelompok A. Kelompok A tetaplah hidup dengan kesejatian dan kesahajaan mereka, dan tidak terpengaruh gaya hidup kelompok B. Pun, kelompok A tidak iri dengan cara mereka panggil pasangan mereka. Amit-amit!

Namun, eng-ing-eng…… Tahun berganti, dan era pun berganti.

Di awal tahun 90an, merebaklah tivi swasta di Indonesia. Pertama kali muncul RCTI. Kemudian tivi swasta lainnya.

Nah, tivi swasta ini banyak menampilkan dan menayangkan film-film Indonesia di era Tahun 70an tersebut. Pun, tivi-tivi swasta ini juga kerap menamplkan gaya hidup yang mentereng, seperti menayangkan sinetron ‘penjual mimpi’ yaitu sinetron yang hanya memamerkan kekayaan dan rumah megah berlantai 10, yang anaknya masih kecil namun sudah menjadi direksi Perusahaan bonafit (ampun!).

Materal-material tayangan tersebut, sudah pasti menawarkan dan memamerkan gaya hidup yang tidak lagi sejati, tidak lagi generik; yang ada hanya gaya yang berlebih-lebihan alias blagu. Sudah pasti, tayangan-tayangan tersebut berpusar pada adegan ‘papah-mamah’ seperti yang sudah-sudah.

Dan tayangan ini ditonton oleh lebih banyak manusia-manusia Indonesia sampai jauh ke pelosok pedalaman. Artinya, kelompok-kekompok masyarakat yang sebenarnya tidak kaya dan berkecukupan, menonton tayangan murahan seperti itu setiap hari.

Akibatnya jelas. Orang Indonesia di dalam kelompok A jadi ikut-ikutan. Sekarang mereka fasih sekali panggil pasangan mereka dengan panggilan ‘papah-mamah’ seperti yang biasa dilakoni orang Indonesia di dalam kelompok B. Itu semua hanya bermula dari merebaknya dan menjamurnya tv swasta yang selalu memamerkan gaya hidup lebay dan genit seperti jualan utama mereka.

Babak Ketiga

Jadi, adegan ‘papahmamah’ itu dibedakan di dalam dua kategori.

Kategori pertama adalah masa pra-tv-swasta. Masa ini adalah masa Indonesia masih pada awal-awal kemerdekaannya, yang tv-nya hanya satu yaitu TVRI. Dan TVRI amat terbatas di dalam hal mengumbar kehidupan kaum mapan karena dikhawatirkan akan menimbulkan cemburu sosial dan berujung pada disintegrasi bangsa.

Pada masa ini, adegan memanggil papahmamah hanya terlokalisir pada kelompok masyarakat atas. Kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah, tidaklah demikian. Justru kelompok ini amat menjauhi lifestyle seperti itu, yang menurut pandangan mereka adalah genit, lebay, dan blagu.

Kategori kedua adalah kategori masa pasca-tv-swasta. Jadinya paling tidak setelah beroperasinya RCTI di Tahun 90an. Masa ini adalah masa di mana tv-tv swasta berparade mengumbar adegan papahmamah dan gaya hidup mentereng yang sudah pasti para karakternya akan memanggil pasangan mereka dengan sebutan seperti itu.

Pada masa ini, adegan papahmamah sudah rata ke seluruh lapisan rakyat Indonesia, tidak lagi pandang bulu. Baik kalangan atas mau pun kalangan menengah ke bawah sudah fasih memanggil pasangan-pasangan mereka dengan panggilan papah-mamah. Berkat tv swasta, ya itu intinya.

.-o0o-.

Setidaknya kita mempunyai 3 pilar untuk berkaca soal memanggil pasangan hidup dengan panggilan papah mamah ini.

Masyarakat Barat.

Masyarakat Barat sama sekali tidak mempraktekkan panggilan papah mamah ini kepada pasangan-pasangan mereka. Setiap istri di Masyarakat Barat memanggil suami mereka dengan ‘honey’ – ‘darling’ – dan lain lain. Bahkan mungkin hanya dengan sebut nama saja. Begitu juga dengan para suami di masyarakat tersebut, tidak pernah panggil istri mereka dengan ‘mamah’ atau yang senada. Mereka panggil istri dengan panggilan mesra dan generik, seperti ‘sweet’ – sweetheart’, ‘sugar’ dan lain lain. Atau juga justru cukup panggil nama saja.

Lantas apa dasarnya orang Indonesia (yaitu orang Indonesia yang super genit dan lebay) panggil pasangan hidup mereka dengan sebutan papah-mamah? Berguru kepada siapakah mereka? Masyarakat Barat saja yang terkenal akan romantisme-annya, tidak pernah panggil pasangan mereka dengan panggilan genit seperti itu.

Ajaran Muhammad Saw / Islam.

Apakah Muhammad Saw memberikan ajaran bahwa seorang istri harus memanggil suami dengan sebutan ‘papa’? Apakah Islam memerintahkan para suami untuk panggil istri dengan sebutan ‘mama’?

Tidak ada. Islam tidak pernah ajarkan gaya hidup yang penuh kegenitan dan blagu seperti itu. Muhammad Saw saja panggil istrinya dengan panggilan-panggilan mesra, seperti ‘ya humaira’ yang artinya ‘wahai merah jambu’. Tidak pernah Muhammad Saw panggil istri nya dengan mamah.

Lebih tegas lagi, di dalam Alquran mau pun fiqih berumah tangga, ada istilah zihar, yaitu menyamakan antara istri dengan ibu kandung. Dapat dikatakan, seorang pria tidak boleh menyamakan panggilan antara memanggil ibu kandung dengan memanggil istri. Jadi, seorang suami Muslim yang panggil istri dengan kata ‘mamah’ dapat dikatakan telah menzihar istrinya.

Kehidupan leluhur.

Sekarang lihat kehidupan para leluhur. Apakah para leluhur panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah? Tidak ada catatan sejarah yang mengkonfirmasi hal itu.

Justru kebalikannya, kita mengetahui bahwa para leluhur panggil pasangan-pasangan mereka dengan panggilan yang generik dan luhur, tidak genit dan tidak lebay. Mereka panggil suami mereka dengan mas, kangmas, akang, uda, abang dan lain lain. Begitu juga sang suami panggil istri mereka dengan panggilan yang normal dan tidak genit.

Paling banter, di masyarakat Jawa misalnya, seorang suami panggil istrinya dengan ‘bune’, dan sang istri panggil suaminya dengan ‘pane’. Arti bune, sebenarnya adalah ‘ibu-nya’; /nya/ di dalam frase ini adalah anak-anak. Jadi, saat seorang suami panggil istrinya dengan sebutan ‘bune’, sebenarnya sang suami panggil istri dengan panggilan ‘wahai ibu-nya anak-anak ….’. Begitu juga kebalikannya, sang istri panggil suaminya dengan sebutan ‘pane’ yang mana itu artinya adalah ‘bapak-nya anak-anak’.

Berarti tidak genit, kan?

Dari ketiga pilar kehidupan ini saja, tidak ada satu pun yang memberi kita contoh dan inspirasi untuk panggil papah-mamah bagi pasangan suami istri. Lantas dari mana orang Indonesia punya ide untuk panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah?

Lagi pula, apakah sama antara papah yang berarti suami dengan papah yang membenihkan kita? Apakah sama antara mamah yang berarti istri dengan mamah yang melahirkan kita? Tentu saja tidak sama. Lantas mengapa panggilannya sama? Lantas di mana logikanya saat seorang suami panggil istrinya dengan sebutan mamah? Dan di mana juga logikanya saat seorang istri panggil suaminya dengan sebutan papah? Biar bagaimana pun, seorang istri tetaplah seorang istri bagi sang suami, dan seorang suami tetaplah seorang suami bagi sang istri. Lantas mengapa tiba-tiba menjadi papah dan mamah? Itu pun usia mereka masih muda, dan anak-anak masih kecil. Kalau usia mereka sudah tua, dan anak-anak pun sudah besar, sudah berumah-tangga, baiklah panggilan mamah-papah sudah bisa dikompromikan, karena faktor usia dan sudah besarnya anak-anak tadi. Namun kalau pasangan suami istri itu masih muda, dan anak pun masih kecil, apa alasannya panggil papah-mamah?

Berikut adalah paparan artikel islami seputar pemanggilan papah-mamah ini.

-oOo-

HUKUM SEPUTAR ZHIHAR (Larangan Memanggil Ummi atau Ibu Kepada Istri)

Definisi Zhihar

Secara bahasa Zhihar adalah pecahan dari Zhahrun (punggung). Sedangkan menurut Istilah Zhihar adalah ungkapan suami yang menyerupakan istri dengan punggung ibunya. Seperti ungkapan “Anti kazhahri ummi – Engkau bagiku laksana punggung ibuku”.

Hukum Zhihar

Hukum Zhihar berdasarkan kesepakatan para ulama adalah haram. Ini dilandaskan kepada Firman Allah:

Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”. (QS. Al-Mujadalah: 3).

Dalam ayat ini ada frasa kalimat “Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta” adalah indikasi (Qarinah) akan keharaman Zhihar.

Ibnu Katsir menuturkan ayat di atas turun berdasarkan peristiwa yang menimpa Khuwailah Binti Tsa’labah. Dia berkata, demi Allah, karena peristiwa saya dan suami saya Aus bin Shamit. Allah menurunkan surat Al-Almujadalah. Khuwailah melanjutkan ceritanya. “Pada suatu hari, saya berada di sisisuamiku, sedang dia adalah orang yang sudah tua renta. Perangainya menjadi jelek dan suka membentak-bentak saya. Pada suatu saat dia masuk ketempat saya untuk memberikan sesuatu kepada saya. Lalu dia marah-marah seraya berkata “Engkau bagiku laksana punggu Ibuku”. Kemudian dia keluar, lalu duduk-duduk di kebun kurma beberapa lama. Kemudian dia masuk lagi kepada saya, maka tiba-tiba dia sangat menginginkan saya (untuk bersetubuh). Saya berkata kepadanya “jangan kau dekati saya. Demi Allah yang jiwa saya berada ditanganNya, jangan sekali-kali kamu menyentuh saya. Karena kamu telah mengucapkan kata-kata itu (zhihar). Lalu Allah memutuskan perselisihan keduanya”. (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Ungkapan-Ungkapan Zhihar

Sudah lazim diketahui bahwa zhihar adalah penyerupaan Istri dengan ibu. Dalam ayat dan hadist zhihar diidentikkan dengan punggung, maka maksud dari ungkapan tersebut adalah seluruh hal yang bisa menyerupai ibu. Karena kalimat Zhihar (punggung) adalah ungkapan sebagaian yang dimaksudkan untuk seluruhnya.

Maka, menyamakan Istri dengan tangan, rambut, betis dan anggota tubuh lain dari ibu merupakan bentuk zhihar. Ini adalah pendapat mayoritas ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hambaliyah. Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa memanggil istri dengan panggilan ibu, umi, mami, mamah, dan semisalnya adalah haram karena sudah masuk dalam kategori zhihar. Hal ini bisa di fahami dalam sebuah hadits bahwa ada seorang suami yang memanggil isterinya “Wahai ukhti!”. Mendengar hal tersebut Nabi saw bertanya kepadanya, “Apakah dia memang saudarimu?!”. Nabi membenci hal tersebut dan melarangnya. (HR Abu Daud No.  2210 dan 2211).

Ulama’ berbeda pendapat ketika menyamakan Istri dengan mahram-mahram lain selain dari ibu. Seperti kepada kaka perempuan, adik perempuan, bibi, atau saudara perempuan sepersusuan. Imam Maliki, Syafi’ie dan Abu Hanifah berpendapat; bahwa penyerupaan istri dengan mahram selain dari ibu itu menjadi zhihar sekalipun penyerupaannya dengan mahram dari sepersusuan. Imam Ahmad menegaskan “sesungguhnya penyerupaan istri dengan mahram selain dari ibu adalah zhihar”.

Pengharaman penyerupaan kepada mahram selain dari ibu, berdasarkan qiyas di mana yang menjadi ‘Illatnya adalah pengharaman yang abadi, dan pengharaman yang abadi ini hanya ada pada mahram. Penjelasan ini masih menyisakan satu pertanyaan, bagaimana bila suami yang memanggil istrinya dengan sebutan ibu, mamah, Ummi, dan sebagainya, tidak diniatkan untuk zhihar??   Dalam masalah ini adalah bahwa ungkapan zhihar sama dengan ungkapan pada akad-akad muamalah yang lain; sepeti jual jual beli, nikah, cerai, dan sebagainya. Di sini yang dilihat bukan niatnya tetapi apa yang diucapkan. Sehingga walau tidak diniatkan zhihar tetapi ucapannya adalah ucapan zhihar, maka hal tersebut jatuh ke dalam zhihar.

Suami yang telah menzhihar istrinya haram, haram menyetubuhi istrinya sebelum dia membayar kifarat (Denda). Hal ini berdasarkan ayat:

Dan orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan maka (wajib atasnya) memerdekakan orang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur”. ( Al-Mujadalah: 3).

Juga hadist Nabi Saw dari Ibnu Abbas “Sesungguhnya seorang menzhihar istrinya, kemudian dia mencampurinya, kemudian dia datang menghadap Rasulullah SAW seraya berkata “Sesungguhnya saya sudah mencampuri Istri saya sebelum saya kifarat. Rasulullah SAW bersabda “janganlah kamu dekati dia (menyetubuhi istrinya). Sehingga melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan”.( HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Annasa’ie dan Ibnu Majah).

Kifarat (Denda) Bagi Suami yang Menzhihar Istrinya

Suami yang menzhihar Istrinya, maka dia wajib membayar kifarat (Denda) sebelum dia bercampur dengan Istrinya. Sebagaimana yang termaktub dalam surat Al-Mujadalah. Allah SWT Berfirman,

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih”. ( QS. Al-Mujadalah: 3-4).

Dan juga hadist Nabi SAW,

“Dari Salamah bin Shakhr al-Bayadhl bercerita, Dahulu aku adalah laki-laki yang mempunyai hasrat besar kepada wanita tidak seperti kebanyakan orang. Ketika tiba bulan Ramadhan, aku pernah menzhihar isteriku hingga bulan Ramadhan berakhir. Pada suatu malam tatkala ia berbincang-bindang denganku, tiba-tiba tersingkaplah kepadaku kain yang menutupi sebagian dari anggota tubuhnya maka akupun melompatinya lalu kucampuri ia. Dan pada pagi harinya aku pergi menemui kaumku lalu aku memberitahukan mengenai diriku kepada mereka. Aku berkata kepada mereka, ”Tanyakanlah kepada Rasulullah saw. mengenai persoalan ini. Maka jawab mereka, ’kami tidak mau. Kami khawatir jangan-jangan ada wahyu yang turun mengenai kita atau Rasulullah saw bersabda tentang sesuatu mengenai diri kita sehingga tercela selamanya. Tetapi nanti akan kamu serahkan sepenuhnya kepadamu persoalan ini. Pergilah dan sebutkanlah urusanmu itu kepada Rasulullah saw. ”Maka akupun langsung berangkat menghadap Nabi saw. kemudian aku utarakan hal tersebut kepada Beliau. Maka Beliau saw bertanya ”Apakah benar kamu melakukan hal itu?” Saya jawab ”Ya, dan inilah supaya Rasulullah aku akan sabar dan tabah menghadapi putusan Allah atas diriku,” Sabda Beliau ”Merdekakanlah seorang budak.” Saya jawab, ”Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa yang haq, aku tidak pernah memiliki (seorang budak) kecuali diriku ini.” Sabda Beliau, ”Kalau begitu puasalah dua bulan berturut-turut.” Saya jawab, ”Ya Rasulullah, bukankah cobaan yang telah menimpaku ini terjadi ketika aku sedang berpuasa”, Sabda Beliau, ”Kalau begitu bershadaqahlah, atau berilah makan kepada enam puluh orang miskin.” Saya jawab, ”Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa yang Haq sesungguhnya kami telah menginap semalam (tatkala terjadi perselisihan itu sedang kami akan makan malam. ’Maka sabda Beliau ”Pergilah kamu kepada siapa saja yang akan bershadaqah dari Bani Zuraiq. Kemudian katakanlah kepada mereka supaya memberikannya kepadamu. Lalu (dari shadaqah itu) berilah makan enam puluh orang miskin, dan selebihnya gunakanlah (untuk dirimu dan keluargamu).”( Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1677, Ibnu Majah I : 665 no:2062 dan ’Aunul Ma’bud VI:298 no:2198, Tirmidzi.

Sumber – http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/15/hukum-seputar-zihar/

-oOo-

Kesimpulan.

  1. Suami istri yang panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah, tidak mempunyai dasar sama sekali.
  2. Satu-satunya dasar dan penyebab suami istri panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah adalah psikologi genit, dan blagu. Hal ini terlihat pada masa pra-tivi-swasta, di mana keluarga-keluarga kaya berkecukupan panggil pasangan mereka dengan panggilan papah-mamah tersebut, sementara keluarga-keluarga pra-sejahtera tidak mempunyai perilaku tersebut. Itu pun akhirnya keluarga pra-sejahteria ikut-ikutan panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah setelah merebaknya tivi swasta yang memamerkan kehidupan berkelimpahan.
  3. Oleh karena itu, memanggil pasangan dengan papah-mamah, tidak boleh ditiru dan tidak boleh dijadikan nilai di dalam kehidupan ini, khususnya kehidupan berumah tangga. Intinya, genit dan blagu bukanlah nilai kehidupan. Justru hal itu harus dihindari.

Fenomena Mubaligh Teriak-Teriak

alamandang-frans-pn

Jumat ini saya shalat Jumat di salah satu Masjid di Jakarta Pusat. Seperti biasa saya selalu menyimak pesan-pesan Islam yang disampaikan oleh sang khatib.

Kali ini, sang khatib berbicara mengenai kisah kehidupan Rasul Muhammad Saw yang ditawari oleh kaum kafir akan kekuasaan dan jabatan, asalkan Muhammad Saw bersedia meninggalkan dakwah Islamiyahnya. Terlihat sekali bahwa kaum kafir sudah mulai ketakutan akan daya-pancar cahaya Islam yang semakin hari semakin jaya  dan tidak dapat dibendung oleh siapa pun. Jawaban Muhammad Saw pun sudah jelas, bahwa tidak ada satu pun di Dunia ini yang dapat menghentikan dan menghancurkan komitmen Muhammad Saw untuk meratakan pesan Allah Swt di muka bumi ini yaitu Islam; hanya Islam agama yang hak di muka bumi ini. Oleh karena itu adalah hak seluruh manusia untuk mendapat hidayah Islam ini. Tercatatlah pernyataan sang Nabi ketika menjawab tawaran kaum kafir itu:

Walau pun Anda letakkan matahari di tangan kananku, rembulan di tangan kiriku, maka sungguh aku tidak akan meninggalkan dakwah Islam ini, sampai kalimat Allah benar-benar tegak di muka bumi ini, atau aku hancur karenanya …..

Sungguh luar biasa kehebatan dan ketangguhan mental sang Nabi. Dan pada akhirnya memang terbukti, Islam sebagai jalan Tuhan, rata di muka bumi ini. Dapat dikatakan, bahwa hal itu berkat kegigihan dan sifat istiqomah sang Nabi Muhammad Saw.

Namun sebenarnya yang ingin saya sampaikan di dalam tulisan ini bukanlah sejarah kenabian ini. Ada hal lain yang saya rasa amat urgent untuk disampaikan.

Sang khatib, di dalam menyampaikan pesan Islam tersebut dari atas mimbarnya, sungguh mengganggu. Sang khatib (saya tidak ingat nama beliau. Kalau pun ingat, tidak akan saya nyatakan di sini) menyampaikan khutbahnya di dalam nada suara yang teramat tinggi, bahkan dapat dikatakan ‘dengan berteriak’ sehingga memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya.

Sebenarnya fenomena ‘khatib teriak’ ini sudah umum di tengah masyarakat kita. Kerap kali kita menghadiri suatu acara tabligh agama, di mana sang ulama mau pun penceramah menyampaikan tausiyahnya dengan cara berteriak-teriak, menjerit-jerit tidak karu-karuan. Padahal tanpa berteriak pun para hadirin sudah dapat mendengar seluruh pesannya karena acara tersebut sudah didukung oleh sound system yang baik.

Bukan itu saja. Bukan saat menyampaikan pesan agama saja mereka teriak-teriak dengan suara yang memekakkan telinga. Bahkan saat memimpin doa pun mereka juga teriak-teriak di depan mikrophon. Tidak jarang, ada sebagian hadirin yang terpaksa menutup liang telinga mereka dengan ujung jari supaya suara yang memekakkan itu tidak menyakiti gendang telinga.

Mengapa tetap ada khatib atau penceramah atau mubaligh yang teriak-teriak dari atas mimbarnya di dalam menyampaikan ajaran agama? Kalau beliau-beliau menyampaikannya dengan suara yang biasa-biasa saja, dengan suara yang lemah lembut, bukankah justru akan lebih menyejukkan bagi para hadirin? Sebenarnya mikrophon yang ada di depan mereka sudah cukup membantu untuk memastikan bahwa seluruh pembicaraan dapat didengar oleh hadirin.

Ada kemungkinan, bahwa cara penyampaian yang teriak-teriak, sudah merupakan ‘style’ atau bahkan ‘trademark’ dari sang mubaligh. Mungkin saja sang mubaligh mafhum dengan baik bahwa tanpa teriak pun, hadirin tetap dapat mendengar penyampaiannya. Namun bisa jadi sang mubaligh merasa ‘kurang pas’ atau ‘kurang afdol’ kalau tidak teriak-teriak di depan mikrophon. Jangan-jangan ada mubaligh yang berpendapat, bahwa dengan teriak-teriak, maka seluruh pesan dan penyampaiannya akan mudah resap ke dalam sanubari para hadirin. Jelas itu salah.

Untuk itu, saya berharap pejabat-pejabat mau pun tokoh yang membidangi masalah ini, seperti MUI, mengeluarkan fatwa mengenai hal ini. Ada baiknya MUI mengeluarkan fatwa yang melarang para mubaligh berteriak-teriak apalagi menjerit-jerit tidak karu-karuan di depan mikrophon saat memberikan tausiyah kepada umat. MUI harus memberi pengarahan kepada para mubaligh bahwa menyampaikan tausiyah harus lah dengan bahasa dan suara yang penuh dengan kelembutan, bukannya dengan teriak-teriak. Kita yakin, bahwa Muhammad Saw pun tidak pernah teriak-teriak saat memberi ajaran Islam kepada para pengikutnya. Lebih dari itu, kelembutan merupakan bagian dari ajaran Islam.

Maka akhir kata, fenomena mubaligh yang teriak-teriak di dalam memberikan tausiyahnya merupakan suatu kesalahan yang harus diakhiri. Dan oleh karena itu, MUI sebaiknya mengeluarkan fatwa pelarangan menyampaikan tausiyah dengan cara-cara seperti itu. Dan saya yakin, hanya fatwa MUI seperti itulah yang dapat menghentikan ‘kecendrungan’ yang sebenarnya negatif ini.

Definisi Definisi Adalah

alamandang-petrus74

Kalau kita membaca buku teksbuk (textbook) khususnya semasa di pendidikan formal, pasti kita diharuskan menghafal sebuah definisi. Definisi biologi adalah, definisi negara adalah, definisi kurva adalah ….. Demikianlah kira-kira bacaan yang harus kita lahap kalau kita ingin naik kelas dan menjadi anak pintar di sekolah.

Sebenarnya, apakah definisi itu? Mungkin yang kita tahu tentang definisi adalah, mengartikan suatu ilmu di dalam kata-kata yang sederhana dan singkat yang harus dapat dimengerti oleh orang awam.

Wikipedia menyebutkan demikian,

Definisi adalah suatu pernyataan mengenai ciri-ciri penting suatu hal, dan biasanya lebih kompleks dari arti, makna, atau pengertian suatu hal. Ada berbagai jenis definisi, salah satunya yang umum adalah definisi perkataan dalam kamus (lexical definition). (Sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Definisi ).

Definisi berasal dari bahasa asing, tentunya. Kata pokok di dalam kata definisi adalah fine. Di dalam bahasa Inggris, arti fine adalah,

  1. Murni.
  2. Baik / sempurna.
  3. Yang paling akhir, final.
  4. Di dalam konteks yang lain, fine berarti denda. Namun arti ini di luar konteks pembicaraan mengenai arti definisi.

Di dalam industri parfum misalnya, ada istilah refinery, yang artinya adalah penyulingan. Kata ini juga berpokok pada kata fine, yang artinya seperti yang tertera pada 3 point pertama di atas.

Di dalam proses refinery, cairan yang kira-kira masih mentah, dimasukkan ke dalam semacam tabung, kemudian akan digodok. Hasil dari godokan ini, akan didapat cairan yang paling murni yang tidak lagi mengandung atau bersama-sama unsur lain yang tidak diinginkan. Jadi, hasil akhir dari penyulingan adalah unsur yang hanya benar-benar diinginkan, meninggalkan unsur lain yang sama sekali tidak diinginkan.

Jadi, penyulingan akan memberikan:

  1. Produk yang sudah murni.
  2. Produk yang sudah benar-benar sempurna karena sudah siap untuk dinikmati.
  3. Produk yang sudah melewati tahap akhir.

Kembali ke kata definisi.

Kata definisi, berpokok pada kata fine, mendapat awalan /de/, dan mendapat akhiran /si/. Jadi, arti dari definisi adalah, sebaris kalimat yang terdiri dari kata-kata, yang mana jumlah dan penggunaan kata-kata tersebut adalah yang paling minim dan sederhana, untuk melukiskan suatu istilah, namun sebaris kalimat tersebut merupakan sebaris kalimat yang paling sempurna untuk tujuan tersebut.

Itulah sebabnya, tidak ada di dalam Dunia pendidikan / retorika di mana definisi hadir di dalam lebih dari satu kalimat. Definisi selalu hanya berjumlah satu kalimat. Kalau lebih dari satu / sebaris kalimat, maka hal itu tidak lagi disebut definisi. Dengan sebaris kalimat itu, setiap orang khususnya orang awam pun segera mengerti apa yang dimaksud dengan sebaris kalimat itu, yang pada pokoknya merujuk pada suatu hal.

Definisi Mineral Adalah

alamandang-bayu74

Mineral diketahui sebagai bahan / unsur / zat yang bermanfaat bagi tubuh. Makanan yang bergizi pasti harus mengandung mineral, seperti zinc, zat besi, zat kapur, kalsium dan lain lain. Air mineral, disebut demikian, karena di dalam air kemasan tersebut sudah mengandung mineral yang amat diperlukan oleh tubuh, untuk membedakan dengan air biasa yang dimasak di rumah.

Sebenarnya, apakah mineral itu?

Menurut artikel wikipedia, mineral adalah,

…….. senyawa alami yang terbentuk melalui proses geologis. Istilah mineral termasuk tidak hanya bahan komposisi kimia tetapi juga struktur mineral. Mineral termasuk dalam komposisi unsur murni dan garam sederhana sampai silikat yang sangat kompleks dengan ribuan bentuk yang diketahui (senyawaan organik biasanya tidak termasuk). Ilmu yang mempelajari mineral disebut mineralogi.

Agar dapat diklasifikasikan sebagai mineral sejati, senyawa tersebut haruslah berupa padatan dan memiliki struktur kristal. Senyawa ini juga harus terbentuk secara alami dan memiliki komposisi kimia yang tertentu. Definisi sebelumnya tidak memasukkan senyawa seperti mineral yang berasal dari turunan senyawa organik. Bagaimanapun juga, The International Mineralogical Association tahun 1995 telah mengajukan definisi baru tentang definisi material:

Mineral adalah suatu unsur atau senyawa yang dalam keadaan normalnya memiliki unsur kristal dan terbentuk dari hasil proses geologi.

Klasifikasi modern telah mengikutsertakan kelas organik kedalam daftar mineral, seperti skema klasifikasi yang diajukan oleh Dana dan Strunz. (Sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Mineral ).

-o0o-

Mineral, berasal dari kata mine, di dalam bahasa Inggris yang berarti ‘tambang’, ‘pertambangan’. Kemudian, miner, berarti ‘penambang’, ‘petambang’, alias orang yang bekerja di pertambangan. Dan akhirnya, diberi akhiran ‘al’, maka jadilah kata mineral.

Definisi mineral adalah bahan-bahan atau zat-zat, baik ia bermanfaat bagi tubuh masalah mau pun yang berbahaya, yang pada awalnya zat tersebut dikenal melalui atau sebagai hasil pertambangan – yang digali dari perut bumi.

Itulah sebabnya, di dalam makanan kita dikenal gizi yang disebut zat besi. Apakah manusia sebenarnya makan besi? Tentu saja tidak. Manusia mana yang kuat makan besi? Namun dikatakan zat besi karena kandungan tersebut pertama kali dikenal sebagai barang tambang. Demikian juga dengan zinc alias seng. Seng kita kenal sebagai logam yang biasanya wujud di dalam bentuk atap seng yang diletakkan di atas rumah, mau pun sebagai dinding pembatas ruang sementara. Namun apakah itu berarti kita makan seng? Zinc sangat bermanfaat bagi tubuh kita. Dan unsur-unsur kimia yang membentuk zinc tersebut, adalah unsur-unsur yang membentuk seng, hanya saja kadarnya jauuuuuuuuuuh berbeda.

Nah, kalau zat kapur yang harus ada di dalam menu makanan? Apakah Anda pernah makan kapur yang biasa digunakan pak dan bu guru ketika mengajari anak-anak di kelas?

Menuju Umat Anti-Freesex

alamandang-wijisitami

Manusia jelaslah berbeda dari binatang. Manusia mempunyai akal, yang dengan keberakalannya itu diharapkan manusia menjadi santun, alias mempunyai etika dan estetika. Dan kemudian dengan kesantunannya itu, manusia mampu menunjukkan keagungan dan keanggunannya. Dan dari keagungan dan keanggunannya itu, manusia akan segera membuktikan posisinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi.

Singkat kata, dengan keberkalannya itu, manusia – diharapkan – mampu  menunjukkan perannya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, pengganti Tuhan di muka bumi.

Akal >> santun / etika dan estetika >> agung dan anggun >> khalifah Tuhan.

Manusia yang Menjadi khalifah Tuhan, adalah berangkat dari keinginan dua pihak. Pihak pertama yang ingin manusia menunjukkan perannya sebagai khalifah Tuhan, adalah Allah Swt sendiri. Allah Swt lah Yang paling berkepentingan supaya manusia itu segera menunjukkan kekhalifahannya di bumi ini. Jadi, kalau Allah Swt adalah suci, maka manusia hendaknya juga suci. Kemudian, pihak kedua yang ingin manusia menjadi khalifah Allah, tentunya adalah manusia itu juga. Seluruh manusia sudah pasti ingin menjadi khalifah Allah, karena jabatan tersebut adalah jabatan yang paling mulia dan suci. Jadi, bukan Allah atau manusia saja yang ingin manusia itu menjadi khalifah Tuhan.

Namun masalahnya adalah, apakah seluruh manusia dapat dengan mudah mewujudkan perannya sebagai khalifah Tuhan dengan bantuan akal tersebut? Ingatlah, Allah Swt juga sudah memperlengkapi kehidupan ini dengan ‘instrumen’ yang disebut godaan. Godaan lah yang akan membuat manusia terpelanting jauh dari tujuan semula. Jadi, adalah tidak semudah itu manusia dapat membuktikan dirinya sebagai khalifah Tuhan, karena godaan yang maha dahsyat telah menunggu tepat di depan mereka.

Dari pihak Allah Swt sendiri pun, Allah Swt tidak kurang-kurangnya menurunkan ‘instrumen’-Nya yang lain untuk membantu manusia dapat menjalani kehidupan yang agung tersebut. Hal ini memperlihatkan, bahwa Allah Swt TIDAK SAJA menuntut, namun sebenarnya Allah Swt pun juga sudah ‘berbuat’ untuk membantu manusia untuk mencapai tujuan tersebut. Allah Swt berbuat, tentunya sesuai dengan porsi, alias proporsional.

Satu hal atau rintangan yang paling besar yang membuat manusia terpelanting jauh dari maksud ketuhanan tersebut, adalah freesex. Bermula dari perbuatan zina (sex di luar nikah ). Kemudian dari zina ini biasanya akan berkembang menjadi hubungan freesex. Freesex (sex bebas) adalah bentuk kekejian di dalam hal seksual di mana satu orang akan bersenggama dengan siapa saja yang dia kehendaki, tanpa ada bentuk tanggungjawab apapun setelah hubungan senggama tersebut. Freesex menjamin bahwa siapa pun dapat bersenggama dengan siapa saja tanpa ada penghalang.

Freesex membuat manusia dengan seluruh derajat dan martabatnya TERJUN BEBAS ke derajat binatang yang tidak berakal sedikit pun. Manusia jadi tidak berharga sama sekali di mata Allah Swt, bahkan di mata para MalaikatNya yang suci.

Allah Swt sangat mengutuk fenomena freesex, setelah mengutuk fenomena zina. Terlebih, dengan zina dan freesex ini, runtuhlah satu-satunya tonggak besar yang menyokong manusia sebagai khalifah Allah Swt di muka bumi.

Allah Swt mengutuk, namun tidak tinggal diam setelah mengutuk tersebut. Allah Swt sudah menurunkan beberapa instrumen supaya fenomena tersebut tidak wujud di dalam kehidupan ini. Dan di dalam hal ini, instrumen tersebut diharapkan dapat menjauhkan manusia dari fenomen zina dan freesex. Berikut ini adalah instrumen-instrumn yang telah Allah Swt turunkan supaya manusia terbebas dari segala kejatuhan moral, dan dengan demikian manusia dapat membuktikan perannya sebagai khalifah Allah Swt.

1. Moral.

Kepada kerajaan manusia itu, pertama-tama Allah turunkan seperangkat aturan moralitas. Tujuannya jelas, untuk membendung wujudnya fenomena zina dan terkhusus lagi freesex. Dengan moralitas, manusia dapat dipandu untuk berkeyakinan, bahwa zina dan freesex adalah kekejian dan kekonyolan. Sebenarnya, dengan moralitas ini manusia jadi dapat berfikir bahwa kehidupan yang ideal adalah kehidupan yang berpantang dari zina dan apalagi freesex.

Moralitas adalah akar dan sumber seluruh cabang filosofi / filsafat. Dengan filsafat seluruh guru mampu menerangkan bahwa zina dan freesex adalah kebangkrutan. Oleh karena itu, dengan moralitas, manusia jadi dapat menyimpulkan bahwa zina dan freesex harus dimusuhi dan dimusnahkan.

Namun kemudian, moralitas ternyata TIDAK TERLALU KUAT untuk membendung zina dan freesex. Setelah bertahun-tahun dan berabad-abad kerajaan manusia hidup berdampingan dengan moralitas yang agung sekali pun, toh akhirnya zina dan freesex tetap membeludak ke permukaan. Untuk pertama kalinya, umat manusia jatuh ke dalam lembah paling menjijikkan, bahkan lebih menjijikkan dari sekawanan binatang berbulu mana pun digabung jadi satu, walau pun kerajaan manusia tersebut sudah dikawal moralitas pemberian Tuhan.

Jadinya, kala itu moralitas tidak mampu membendung arus freesex.

2. Agama.

Setelah moralitas gagal membendung meruapnya freesex, kemudian Tuhan menurunkan perangkatNya yang lain, yaitu agama.

Dengan menurunkan agama, manusia dapat kembali memperoleh penguatan untuk terus berkeyakinan bahwa zina dan freesex adalah tertolak.

Namun ternyata, agama yang diturunkan Tuhan pun (agama mana saja: Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, Zoroaster, Konghucu, Shinto dll) tidak sanggup membendung arus freesex. Bahkan menyedihkannya, ada beberapa agama tersebut yang berhasil dipelintir oleh pendetanya sehingga agama tersebut menjadi agama yang mengabsahkan freesex.

3. Penyakit Kelamin.

Setelah moralitas dan agama gagal membendung arus freesex, Tuhan menurunkan instrumen berikutnya untuk membendung freesex, yaitu wabah penyakit kelamin, seperti Rajasinga, sipilis, gonorrhea, herpes dan lain lain. Dengan wabah penyakit kelamin ini, Tuhan mem-plot-kan bahwa efeknya umat manusia akan menjauhi zina dan freesex sehingga dengan demikian manusia akan mudah menjadi khalifahNya di muka bumi ini.

Namun sungguh ternyata Iblis jauh lebih kuat dari penyakit kelamin yang diturunkan Tuhan. Kerajaan manusia kala itu menemukan alat yang dinamakan kondom, dan juga manusia berhasil menemukan obat untuk menjinakkan penyakit ini. Dengan kondom ini, manusia mana pun tetap bisa tumpah ruah untuk menikmati sexbebas di mana saja tanpa harus takut akan tertular penyakit kelamin ini.

Singkat kata, instrumen Tuhan kali ini yaitu penyakit kelamin, akhirnya juga jebol – karena toh akhirnya manusia tetap larut di dalam perbuatan freesex. Dan itu semua berkat adanya kondom dan metode penyembuhan yang ampuh untuk mengatasi penyakit tersebut.

4. HIV/AIDS.

Moral gagal. Agama gagal. Penyakit kelamin pun gagal. Ketiga instrumen tersebut gagal, dan berhasil dijebol oleh manusia untuk tetap dapat berasyikria menikmati zina dan freesex.

Tuhan menurunkan instrumenNya yang terakhir, yaitu HIV/AIDS. Dengan instrumen ini, diharapkan manusia menjauhi zina dan freesex, atau setidaknya mengurangi merebaknya fenomena tersebut.

HIV/AIDS adalah wabah penyakit yang berasal dari kalangan virus. Dan virus ini ketika menginfeksi manusia, akan menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia dalam menghadapi penyakit apapun. Dan properti lainnya dari virus ini adalah, bahwa pada tahun-tahun pertama penderita virus ini (resipien) tidak akan menyadari bahwa dirinya sudah kemasukan (terinfeksi) virus ini. Dengan kata lain, si penderita / resipien akan tetap merasa sehat segar bugar, padahal di dalam tubuhnya virus HIV/AIDS ini sudah bercokol dan sedang ‘menggerogoti’ kemampuan tubuh di dalam melawan berbagai penyakit, secara perlahan-lahan. Diistilahkan, pada masa ini sang resipien berada di dalam fase ‘sehat-semu’. Dikatakan sehat-semu, karena sebenarnya resipien sudah mengandung virus yang mematikan ini, namun sang resipien tetap merasa sehat.

Pada masa sehat-semu ini, sang resipien akan terus bersenggama dengan kekasih-kekasihnya. Baik si resipien mau pun para kekasihnya, tidak menyadari bahwa si resipien tersebut sudah membawa virus tersebut yang siap untuk ditransfer ke kekasih-kekasihnya, untuk menjadi resipien berikutnya.

Virus ini masih mempunyai properti lain yang lebih mengerikan, yaitu virus ini tidak dapat disembuhkan, tidak dapat diatasi. Belum ada satu pun tindakan mau pun obat yang dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS ini. Artinya, manusia mana pun yang terinfeksi HIV/AIDS ini, maka kematian sebenarnya sudah di ambang mata.

Apakah kondom dapat membendung kedahsyatan virus ini?

Menurut teori, kondom dapat membendung transfer virus HIV/AIDS. Namun para ahli sepakat bahwa virus ini berukuran amat kecil sehingga dapat menembus lubang terkecil sekali pun yang ada pada kondom. Bahkan kondom pun juga tidak dapat dipercaya 100%, karena di dalam penggunaannya kondom bisa saja pecah sehingga virus dapat mengekspos ke tubuh seberang.

Itu pun, banyak manusia yang ENGGAN menggunakan kondom. Menurut sekelompok manusia, menggunakan kondom adalah suatu keterlaluan, dan tidak alami.

Ingat, bagian yang paling membahayakan dari virus ini adalah, bahwa penderita akan melewati fase sehatsemu. Dengan fase ini, banyak penderita yang tidak sadar dan tidak mengetahui bahwa dirinya sebenarnya adalah penderita / resipien HIV/AIDS. Dengan ketidaktahuan ini, sang penderita / resipien akan tenang-tenang saja untuk bersenggama dengan orang yang lain lagi yang sebenarnya masih sehat. Dengan kasus ini, maka orang yang sehat tanpa sadar segera terekspos HIV/AIDS ini dari pasangan senggamanya.

Pemerintah setiap negara telah menyerukan warganya untuk melakukan test HIV/AIDS. Test ini amat penting untuk mengetahui status setiap warga, apakah HIV/AIDS positif atau pun negatif. Kalau seseorang mengetahui bahwa dirinya adalah HIV/AIDS positif, setidaknya dia akan berhenti untuk terus meluapkan kecendrungan zina mau pun freesexnya, karena hal itu akan mentransfer virus ke orang lain. Pun, orang lain akan berhati-hati jika ingin bersenggama dengan penderita, karena statusnya sudah jelas yaitu HIV/AIDS positif. Itu semua berkat test HIV/AIDS.

Namun faktanya, tidak semua orang bersedia untuk menjalani test HIV/AIDS. Kebalikannya, setiap orang (dengan predikat berresiko tinggi, seperti PSK, playboy dan lain lain) justru merasa bahwa dirinya TERBEBAS dari virus tersebut. Itu semua dikarenakan orang-orang tersebut sedang di dalam fase sehatsemu (kalau orang tersebut memang resipien HIV/AIDS).

Maka dari ‘modus’ inilah, HIV/AIDS menjadi benteng milik Tuhan yang paling ampuh untuk membendung zina dan freesex. Dengan wujudnya HIV/AIDS, umat pelaku zina dan freesex terpaksa berfikir berulang-ulang untuk meluapkan kecendrungan mereka yaitu zina dan freesex.

Kalau di Dunia ini TIDAK ada HIV/AIDS, pastilah zina dan freesex tetap marak, bahkan makin menjadi-jadi. Namun dengan wujudnya HIV/AIDS, fenomena zina dan freesex dapat  di-rem dan ditekan seoptimal mungkin.

Sampai detik ini, instrumen ini telah berhasil membendung fenomena freesex tersebut. Dan sampai detik ini, HIV/AIDS belum dapat dijebol oleh manusia.

–o0o–

Adalah fair sekali jika Tuhan menurunkan HIV/AIDS ini. Memang terdengarnya Tuhan amat kejam saat menurunkan instrumenNya yang bernama HIV/AIDS ini. Namun sisi fairnya adalah, apakah manusia pantas untuk menjadi pelaku-pelaku zina dan freesex? Mengapa manusia selalu berbuat segala sesuatu yang menurunkan kemuliaan dan martabatnya sebagai manusia khalifah Allah Swt di muka bumi?

Sudah berkali-kali Tuhan menurunkan instrumenNya supaya manusia menjauhi zina dan freesex. Namun tampaknya manusia tetap tidak mengerti bahwa menjauhi hal tersebut adalah suatu kehormatan dan keagungan. Dan saat Tuhan menurunkan HIV/AIDS ini, adalah saat-saat di mana Tuhan ingin melihat manusia tetap berjalan di muka bumi ini sebagai khalifahNya di muka bumi ini. Bagaimana seorang manusia dapat mengemban tugasnya sebagai khalifah Allah, kalau perilakunya selalu berhubungan dengan aktivitas zina dan freesex, yang tidak beda dari sekawanan binatang yang tidak berakal?

Allah Swt sudah berhasil dengan instrumenNya kali ini, sehingga zina dan freesex berhasil dibendung secara signifikan. Namun yang jelas, tampaknya manusia masih tidak mengerti betapa zina dan freesex adalah keji dan tidak bermartabat. Itulah sebabnya, wacana Dunia dewasa ini selalu berkisar pada usaha untuk menemukan cara untuk menyembuhkan dan mengatasi HIV/AIDS ini. Seharusnya, umat manusia mempunyai wacana yang berkisar pada isu Tuhan, yaitu apakah manusia pantas untuk dikatakan sebagai khalifah Allah Swt di muka bumi ini? Bukannya pada usaha untuk menemukan obat HIV/AIDS.

Kalau seluruh umat manusia sadar bahwa dirinya berakal, pasti dia akan bersikap santun penuh etika dan estetika. Kemudian, kalau manusia menjadi santun, pasti dia akan menjadi anggun dan agung. Kemudian, kalau manusia sudah agung dan anggun, maka dia akan menjauhi zina dan freesex. Pada akhirnya, kalau manusia sudah menjauhi zina dan freesex, pasti HIV/AIDS akan lenyap dari muka bumi ini.

Akal >> santun / etika dan estetika >> agung dan anggun >> khalifah Tuhan menjauhi zina dan freesex >> terbebas dari HIV/AIDS >> khalifah Tuhan.

Wallahu alam bishawab.