Menuju Umat Anti-Freesex

alamandang-wijisitami

Manusia jelaslah berbeda dari binatang. Manusia mempunyai akal, yang dengan keberakalannya itu diharapkan manusia menjadi santun, alias mempunyai etika dan estetika. Dan kemudian dengan kesantunannya itu, manusia mampu menunjukkan keagungan dan keanggunannya. Dan dari keagungan dan keanggunannya itu, manusia akan segera membuktikan posisinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi.

Singkat kata, dengan keberkalannya itu, manusia – diharapkan – mampu  menunjukkan perannya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, pengganti Tuhan di muka bumi.

Akal >> santun / etika dan estetika >> agung dan anggun >> khalifah Tuhan.

Manusia yang Menjadi khalifah Tuhan, adalah berangkat dari keinginan dua pihak. Pihak pertama yang ingin manusia menunjukkan perannya sebagai khalifah Tuhan, adalah Allah Swt sendiri. Allah Swt lah Yang paling berkepentingan supaya manusia itu segera menunjukkan kekhalifahannya di bumi ini. Jadi, kalau Allah Swt adalah suci, maka manusia hendaknya juga suci. Kemudian, pihak kedua yang ingin manusia menjadi khalifah Allah, tentunya adalah manusia itu juga. Seluruh manusia sudah pasti ingin menjadi khalifah Allah, karena jabatan tersebut adalah jabatan yang paling mulia dan suci. Jadi, bukan Allah atau manusia saja yang ingin manusia itu menjadi khalifah Tuhan.

Namun masalahnya adalah, apakah seluruh manusia dapat dengan mudah mewujudkan perannya sebagai khalifah Tuhan dengan bantuan akal tersebut? Ingatlah, Allah Swt juga sudah memperlengkapi kehidupan ini dengan ‘instrumen’ yang disebut godaan. Godaan lah yang akan membuat manusia terpelanting jauh dari tujuan semula. Jadi, adalah tidak semudah itu manusia dapat membuktikan dirinya sebagai khalifah Tuhan, karena godaan yang maha dahsyat telah menunggu tepat di depan mereka.

Dari pihak Allah Swt sendiri pun, Allah Swt tidak kurang-kurangnya menurunkan ‘instrumen’-Nya yang lain untuk membantu manusia dapat menjalani kehidupan yang agung tersebut. Hal ini memperlihatkan, bahwa Allah Swt TIDAK SAJA menuntut, namun sebenarnya Allah Swt pun juga sudah ‘berbuat’ untuk membantu manusia untuk mencapai tujuan tersebut. Allah Swt berbuat, tentunya sesuai dengan porsi, alias proporsional.

Satu hal atau rintangan yang paling besar yang membuat manusia terpelanting jauh dari maksud ketuhanan tersebut, adalah freesex. Bermula dari perbuatan zina (sex di luar nikah ). Kemudian dari zina ini biasanya akan berkembang menjadi hubungan freesex. Freesex (sex bebas) adalah bentuk kekejian di dalam hal seksual di mana satu orang akan bersenggama dengan siapa saja yang dia kehendaki, tanpa ada bentuk tanggungjawab apapun setelah hubungan senggama tersebut. Freesex menjamin bahwa siapa pun dapat bersenggama dengan siapa saja tanpa ada penghalang.

Freesex membuat manusia dengan seluruh derajat dan martabatnya TERJUN BEBAS ke derajat binatang yang tidak berakal sedikit pun. Manusia jadi tidak berharga sama sekali di mata Allah Swt, bahkan di mata para MalaikatNya yang suci.

Allah Swt sangat mengutuk fenomena freesex, setelah mengutuk fenomena zina. Terlebih, dengan zina dan freesex ini, runtuhlah satu-satunya tonggak besar yang menyokong manusia sebagai khalifah Allah Swt di muka bumi.

Allah Swt mengutuk, namun tidak tinggal diam setelah mengutuk tersebut. Allah Swt sudah menurunkan beberapa instrumen supaya fenomena tersebut tidak wujud di dalam kehidupan ini. Dan di dalam hal ini, instrumen tersebut diharapkan dapat menjauhkan manusia dari fenomen zina dan freesex. Berikut ini adalah instrumen-instrumn yang telah Allah Swt turunkan supaya manusia terbebas dari segala kejatuhan moral, dan dengan demikian manusia dapat membuktikan perannya sebagai khalifah Allah Swt.

1. Moral.

Kepada kerajaan manusia itu, pertama-tama Allah turunkan seperangkat aturan moralitas. Tujuannya jelas, untuk membendung wujudnya fenomena zina dan terkhusus lagi freesex. Dengan moralitas, manusia dapat dipandu untuk berkeyakinan, bahwa zina dan freesex adalah kekejian dan kekonyolan. Sebenarnya, dengan moralitas ini manusia jadi dapat berfikir bahwa kehidupan yang ideal adalah kehidupan yang berpantang dari zina dan apalagi freesex.

Moralitas adalah akar dan sumber seluruh cabang filosofi / filsafat. Dengan filsafat seluruh guru mampu menerangkan bahwa zina dan freesex adalah kebangkrutan. Oleh karena itu, dengan moralitas, manusia jadi dapat menyimpulkan bahwa zina dan freesex harus dimusuhi dan dimusnahkan.

Namun kemudian, moralitas ternyata TIDAK TERLALU KUAT untuk membendung zina dan freesex. Setelah bertahun-tahun dan berabad-abad kerajaan manusia hidup berdampingan dengan moralitas yang agung sekali pun, toh akhirnya zina dan freesex tetap membeludak ke permukaan. Untuk pertama kalinya, umat manusia jatuh ke dalam lembah paling menjijikkan, bahkan lebih menjijikkan dari sekawanan binatang berbulu mana pun digabung jadi satu, walau pun kerajaan manusia tersebut sudah dikawal moralitas pemberian Tuhan.

Jadinya, kala itu moralitas tidak mampu membendung arus freesex.

2. Agama.

Setelah moralitas gagal membendung meruapnya freesex, kemudian Tuhan menurunkan perangkatNya yang lain, yaitu agama.

Dengan menurunkan agama, manusia dapat kembali memperoleh penguatan untuk terus berkeyakinan bahwa zina dan freesex adalah tertolak.

Namun ternyata, agama yang diturunkan Tuhan pun (agama mana saja: Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, Zoroaster, Konghucu, Shinto dll) tidak sanggup membendung arus freesex. Bahkan menyedihkannya, ada beberapa agama tersebut yang berhasil dipelintir oleh pendetanya sehingga agama tersebut menjadi agama yang mengabsahkan freesex.

3. Penyakit Kelamin.

Setelah moralitas dan agama gagal membendung arus freesex, Tuhan menurunkan instrumen berikutnya untuk membendung freesex, yaitu wabah penyakit kelamin, seperti Rajasinga, sipilis, gonorrhea, herpes dan lain lain. Dengan wabah penyakit kelamin ini, Tuhan mem-plot-kan bahwa efeknya umat manusia akan menjauhi zina dan freesex sehingga dengan demikian manusia akan mudah menjadi khalifahNya di muka bumi ini.

Namun sungguh ternyata Iblis jauh lebih kuat dari penyakit kelamin yang diturunkan Tuhan. Kerajaan manusia kala itu menemukan alat yang dinamakan kondom, dan juga manusia berhasil menemukan obat untuk menjinakkan penyakit ini. Dengan kondom ini, manusia mana pun tetap bisa tumpah ruah untuk menikmati sexbebas di mana saja tanpa harus takut akan tertular penyakit kelamin ini.

Singkat kata, instrumen Tuhan kali ini yaitu penyakit kelamin, akhirnya juga jebol – karena toh akhirnya manusia tetap larut di dalam perbuatan freesex. Dan itu semua berkat adanya kondom dan metode penyembuhan yang ampuh untuk mengatasi penyakit tersebut.

4. HIV/AIDS.

Moral gagal. Agama gagal. Penyakit kelamin pun gagal. Ketiga instrumen tersebut gagal, dan berhasil dijebol oleh manusia untuk tetap dapat berasyikria menikmati zina dan freesex.

Tuhan menurunkan instrumenNya yang terakhir, yaitu HIV/AIDS. Dengan instrumen ini, diharapkan manusia menjauhi zina dan freesex, atau setidaknya mengurangi merebaknya fenomena tersebut.

HIV/AIDS adalah wabah penyakit yang berasal dari kalangan virus. Dan virus ini ketika menginfeksi manusia, akan menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia dalam menghadapi penyakit apapun. Dan properti lainnya dari virus ini adalah, bahwa pada tahun-tahun pertama penderita virus ini (resipien) tidak akan menyadari bahwa dirinya sudah kemasukan (terinfeksi) virus ini. Dengan kata lain, si penderita / resipien akan tetap merasa sehat segar bugar, padahal di dalam tubuhnya virus HIV/AIDS ini sudah bercokol dan sedang ‘menggerogoti’ kemampuan tubuh di dalam melawan berbagai penyakit, secara perlahan-lahan. Diistilahkan, pada masa ini sang resipien berada di dalam fase ‘sehat-semu’. Dikatakan sehat-semu, karena sebenarnya resipien sudah mengandung virus yang mematikan ini, namun sang resipien tetap merasa sehat.

Pada masa sehat-semu ini, sang resipien akan terus bersenggama dengan kekasih-kekasihnya. Baik si resipien mau pun para kekasihnya, tidak menyadari bahwa si resipien tersebut sudah membawa virus tersebut yang siap untuk ditransfer ke kekasih-kekasihnya, untuk menjadi resipien berikutnya.

Virus ini masih mempunyai properti lain yang lebih mengerikan, yaitu virus ini tidak dapat disembuhkan, tidak dapat diatasi. Belum ada satu pun tindakan mau pun obat yang dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS ini. Artinya, manusia mana pun yang terinfeksi HIV/AIDS ini, maka kematian sebenarnya sudah di ambang mata.

Apakah kondom dapat membendung kedahsyatan virus ini?

Menurut teori, kondom dapat membendung transfer virus HIV/AIDS. Namun para ahli sepakat bahwa virus ini berukuran amat kecil sehingga dapat menembus lubang terkecil sekali pun yang ada pada kondom. Bahkan kondom pun juga tidak dapat dipercaya 100%, karena di dalam penggunaannya kondom bisa saja pecah sehingga virus dapat mengekspos ke tubuh seberang.

Itu pun, banyak manusia yang ENGGAN menggunakan kondom. Menurut sekelompok manusia, menggunakan kondom adalah suatu keterlaluan, dan tidak alami.

Ingat, bagian yang paling membahayakan dari virus ini adalah, bahwa penderita akan melewati fase sehatsemu. Dengan fase ini, banyak penderita yang tidak sadar dan tidak mengetahui bahwa dirinya sebenarnya adalah penderita / resipien HIV/AIDS. Dengan ketidaktahuan ini, sang penderita / resipien akan tenang-tenang saja untuk bersenggama dengan orang yang lain lagi yang sebenarnya masih sehat. Dengan kasus ini, maka orang yang sehat tanpa sadar segera terekspos HIV/AIDS ini dari pasangan senggamanya.

Pemerintah setiap negara telah menyerukan warganya untuk melakukan test HIV/AIDS. Test ini amat penting untuk mengetahui status setiap warga, apakah HIV/AIDS positif atau pun negatif. Kalau seseorang mengetahui bahwa dirinya adalah HIV/AIDS positif, setidaknya dia akan berhenti untuk terus meluapkan kecendrungan zina mau pun freesexnya, karena hal itu akan mentransfer virus ke orang lain. Pun, orang lain akan berhati-hati jika ingin bersenggama dengan penderita, karena statusnya sudah jelas yaitu HIV/AIDS positif. Itu semua berkat test HIV/AIDS.

Namun faktanya, tidak semua orang bersedia untuk menjalani test HIV/AIDS. Kebalikannya, setiap orang (dengan predikat berresiko tinggi, seperti PSK, playboy dan lain lain) justru merasa bahwa dirinya TERBEBAS dari virus tersebut. Itu semua dikarenakan orang-orang tersebut sedang di dalam fase sehatsemu (kalau orang tersebut memang resipien HIV/AIDS).

Maka dari ‘modus’ inilah, HIV/AIDS menjadi benteng milik Tuhan yang paling ampuh untuk membendung zina dan freesex. Dengan wujudnya HIV/AIDS, umat pelaku zina dan freesex terpaksa berfikir berulang-ulang untuk meluapkan kecendrungan mereka yaitu zina dan freesex.

Kalau di Dunia ini TIDAK ada HIV/AIDS, pastilah zina dan freesex tetap marak, bahkan makin menjadi-jadi. Namun dengan wujudnya HIV/AIDS, fenomena zina dan freesex dapat  di-rem dan ditekan seoptimal mungkin.

Sampai detik ini, instrumen ini telah berhasil membendung fenomena freesex tersebut. Dan sampai detik ini, HIV/AIDS belum dapat dijebol oleh manusia.

–o0o–

Adalah fair sekali jika Tuhan menurunkan HIV/AIDS ini. Memang terdengarnya Tuhan amat kejam saat menurunkan instrumenNya yang bernama HIV/AIDS ini. Namun sisi fairnya adalah, apakah manusia pantas untuk menjadi pelaku-pelaku zina dan freesex? Mengapa manusia selalu berbuat segala sesuatu yang menurunkan kemuliaan dan martabatnya sebagai manusia khalifah Allah Swt di muka bumi?

Sudah berkali-kali Tuhan menurunkan instrumenNya supaya manusia menjauhi zina dan freesex. Namun tampaknya manusia tetap tidak mengerti bahwa menjauhi hal tersebut adalah suatu kehormatan dan keagungan. Dan saat Tuhan menurunkan HIV/AIDS ini, adalah saat-saat di mana Tuhan ingin melihat manusia tetap berjalan di muka bumi ini sebagai khalifahNya di muka bumi ini. Bagaimana seorang manusia dapat mengemban tugasnya sebagai khalifah Allah, kalau perilakunya selalu berhubungan dengan aktivitas zina dan freesex, yang tidak beda dari sekawanan binatang yang tidak berakal?

Allah Swt sudah berhasil dengan instrumenNya kali ini, sehingga zina dan freesex berhasil dibendung secara signifikan. Namun yang jelas, tampaknya manusia masih tidak mengerti betapa zina dan freesex adalah keji dan tidak bermartabat. Itulah sebabnya, wacana Dunia dewasa ini selalu berkisar pada usaha untuk menemukan cara untuk menyembuhkan dan mengatasi HIV/AIDS ini. Seharusnya, umat manusia mempunyai wacana yang berkisar pada isu Tuhan, yaitu apakah manusia pantas untuk dikatakan sebagai khalifah Allah Swt di muka bumi ini? Bukannya pada usaha untuk menemukan obat HIV/AIDS.

Kalau seluruh umat manusia sadar bahwa dirinya berakal, pasti dia akan bersikap santun penuh etika dan estetika. Kemudian, kalau manusia menjadi santun, pasti dia akan menjadi anggun dan agung. Kemudian, kalau manusia sudah agung dan anggun, maka dia akan menjauhi zina dan freesex. Pada akhirnya, kalau manusia sudah menjauhi zina dan freesex, pasti HIV/AIDS akan lenyap dari muka bumi ini.

Akal >> santun / etika dan estetika >> agung dan anggun >> khalifah Tuhan menjauhi zina dan freesex >> terbebas dari HIV/AIDS >> khalifah Tuhan.

Wallahu alam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s