Fenomena Mubaligh Teriak-Teriak

alamandang-frans-pn

Jumat ini saya shalat Jumat di salah satu Masjid di Jakarta Pusat. Seperti biasa saya selalu menyimak pesan-pesan Islam yang disampaikan oleh sang khatib.

Kali ini, sang khatib berbicara mengenai kisah kehidupan Rasul Muhammad Saw yang ditawari oleh kaum kafir akan kekuasaan dan jabatan, asalkan Muhammad Saw bersedia meninggalkan dakwah Islamiyahnya. Terlihat sekali bahwa kaum kafir sudah mulai ketakutan akan daya-pancar cahaya Islam yang semakin hari semakin jaya  dan tidak dapat dibendung oleh siapa pun. Jawaban Muhammad Saw pun sudah jelas, bahwa tidak ada satu pun di Dunia ini yang dapat menghentikan dan menghancurkan komitmen Muhammad Saw untuk meratakan pesan Allah Swt di muka bumi ini yaitu Islam; hanya Islam agama yang hak di muka bumi ini. Oleh karena itu adalah hak seluruh manusia untuk mendapat hidayah Islam ini. Tercatatlah pernyataan sang Nabi ketika menjawab tawaran kaum kafir itu:

Walau pun Anda letakkan matahari di tangan kananku, rembulan di tangan kiriku, maka sungguh aku tidak akan meninggalkan dakwah Islam ini, sampai kalimat Allah benar-benar tegak di muka bumi ini, atau aku hancur karenanya …..

Sungguh luar biasa kehebatan dan ketangguhan mental sang Nabi. Dan pada akhirnya memang terbukti, Islam sebagai jalan Tuhan, rata di muka bumi ini. Dapat dikatakan, bahwa hal itu berkat kegigihan dan sifat istiqomah sang Nabi Muhammad Saw.

Namun sebenarnya yang ingin saya sampaikan di dalam tulisan ini bukanlah sejarah kenabian ini. Ada hal lain yang saya rasa amat urgent untuk disampaikan.

Sang khatib, di dalam menyampaikan pesan Islam tersebut dari atas mimbarnya, sungguh mengganggu. Sang khatib (saya tidak ingat nama beliau. Kalau pun ingat, tidak akan saya nyatakan di sini) menyampaikan khutbahnya di dalam nada suara yang teramat tinggi, bahkan dapat dikatakan ‘dengan berteriak’ sehingga memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya.

Sebenarnya fenomena ‘khatib teriak’ ini sudah umum di tengah masyarakat kita. Kerap kali kita menghadiri suatu acara tabligh agama, di mana sang ulama mau pun penceramah menyampaikan tausiyahnya dengan cara berteriak-teriak, menjerit-jerit tidak karu-karuan. Padahal tanpa berteriak pun para hadirin sudah dapat mendengar seluruh pesannya karena acara tersebut sudah didukung oleh sound system yang baik.

Bukan itu saja. Bukan saat menyampaikan pesan agama saja mereka teriak-teriak dengan suara yang memekakkan telinga. Bahkan saat memimpin doa pun mereka juga teriak-teriak di depan mikrophon. Tidak jarang, ada sebagian hadirin yang terpaksa menutup liang telinga mereka dengan ujung jari supaya suara yang memekakkan itu tidak menyakiti gendang telinga.

Mengapa tetap ada khatib atau penceramah atau mubaligh yang teriak-teriak dari atas mimbarnya di dalam menyampaikan ajaran agama? Kalau beliau-beliau menyampaikannya dengan suara yang biasa-biasa saja, dengan suara yang lemah lembut, bukankah justru akan lebih menyejukkan bagi para hadirin? Sebenarnya mikrophon yang ada di depan mereka sudah cukup membantu untuk memastikan bahwa seluruh pembicaraan dapat didengar oleh hadirin.

Ada kemungkinan, bahwa cara penyampaian yang teriak-teriak, sudah merupakan ‘style’ atau bahkan ‘trademark’ dari sang mubaligh. Mungkin saja sang mubaligh mafhum dengan baik bahwa tanpa teriak pun, hadirin tetap dapat mendengar penyampaiannya. Namun bisa jadi sang mubaligh merasa ‘kurang pas’ atau ‘kurang afdol’ kalau tidak teriak-teriak di depan mikrophon. Jangan-jangan ada mubaligh yang berpendapat, bahwa dengan teriak-teriak, maka seluruh pesan dan penyampaiannya akan mudah resap ke dalam sanubari para hadirin. Jelas itu salah.

Untuk itu, saya berharap pejabat-pejabat mau pun tokoh yang membidangi masalah ini, seperti MUI, mengeluarkan fatwa mengenai hal ini. Ada baiknya MUI mengeluarkan fatwa yang melarang para mubaligh berteriak-teriak apalagi menjerit-jerit tidak karu-karuan di depan mikrophon saat memberikan tausiyah kepada umat. MUI harus memberi pengarahan kepada para mubaligh bahwa menyampaikan tausiyah harus lah dengan bahasa dan suara yang penuh dengan kelembutan, bukannya dengan teriak-teriak. Kita yakin, bahwa Muhammad Saw pun tidak pernah teriak-teriak saat memberi ajaran Islam kepada para pengikutnya. Lebih dari itu, kelembutan merupakan bagian dari ajaran Islam.

Maka akhir kata, fenomena mubaligh yang teriak-teriak di dalam memberikan tausiyahnya merupakan suatu kesalahan yang harus diakhiri. Dan oleh karena itu, MUI sebaiknya mengeluarkan fatwa pelarangan menyampaikan tausiyah dengan cara-cara seperti itu. Dan saya yakin, hanya fatwa MUI seperti itulah yang dapat menghentikan ‘kecendrungan’ yang sebenarnya negatif ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s