Papah Mamah Datang Dari Mana?

alamandang-fero

Seorang wanita yang masih muda, memanggil “Bapak … Bapak … masih ada duitnya, ga?” kepada suaminya. Yang dipanggil ‘bapak’ itu menoleh, dan memberi jawaban. Dan ternyata sang suami itu masih berwajah anak muda juga. Pasangan suami istri itu sudah mempunyai satu anak, masih berusia 3 Tahun. Jadinya, umur pernikahan mereka masih belum seberapa.

Yang menjadi perhatian saya bukan kecantikan atau mobil mewah yang dimiliki pasangan suami istri itu. Namun ada hal lain. Apakah itu?

Sang istri itu, memanggil suaminya dengan ‘Bapak’. Dan, kebalikannya, sang suami memanggil sang istri dengan ‘Mama’. Cara mereka memanggil pasangannya, tidakkah terasa janggal dan agak genit? Apakah harus seorang istri yang merupakan seorang wanita muda, alias masih bisa dibilang anak kecil, memanggil suami mereka, yang umurnya sebaya, dengan panggilan ‘Bapak’ atau ‘Papah’, dan lain lain?

Babak Pertama.

Indonesia, di tahun-tahun awal kemerdekaannya. Anggap saja tahun 60an atau 70an. Pada saat itu, dapat dikatakan bahwa rakyat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Maklumlah, baru saja merdeka.

Namun bukan berarti tidak ada sama sekali rakyat Indonesia yang kaya atau berkecukupan. Ada juga rakyat Indonesia yang kaya dan berkecukupan. Apalagi di tahun 1970an, karena pada masa itu Indonesia sudah menemukan ladang minyak, dan juga di Indonesia sudah ada beberapa investor yang beroperasi sehingga dapat mengkayakan para pekerjanya yaitu orang Indonesia. Singkat kata, ada juga yang kaya dan berkecukupan, namun tidak banyak, hanya segelintir saja.

Orang Indonesia yang masih berada di garis kemiskinan, kita namakan saja kelompok A. Sementara orang Indonesia yang kaya berkecukupan, kita namakan saja kelompok B.

Kelompok A, adalah orang Indonesia yang lugu, dan hidup penuh dengan kesejatian, alias tidak ‘bergaya’ atau ‘banyak gaya’. Jadi, di dalam hal rumah tangga, para istri memanggil suami mereka tidak dengan sebutan ‘papa’ atau ‘bapak’ atau yang lainnya, namun dengan sebutan yang wajar dan generik saja, seperti ‘akang’, ‘mas’,  ‘bang’, ‘uda’, ‘kangmas’, dan lain lain. Pun, kebalikannya juga begitu. Sang suami memanggil istri dengan panggilan generik juga, seperti ‘nyai’, ‘dek’, atau bahkan hanya dengan sebut nama saja. Hanya dengan cara itu mereka saling panggil, sederhana saja, tidak macam-macam, tidak bergaya ini-itu.

Namun di luar itu, ada orang Indonesia di kelompok B. Kelompok ini terbiasa hidup dengan kecukupan, dan umumnya mereka kebarat-baratan. Bagaimana tidak? Yang jelas sang suami pastilah terbiasa berhadapan dengan orang luar Negeri di tempat kerja.

Jadinya, di dalam kelompok B ini, seorang istri akan memanggil suami mereka dengan ‘Papa’ atau ‘Papih’. Dan kebalikannya sang suami akan panggil istri mereka dengan ‘Mamih’ atau ‘Mama’. Dengan cara panggil seperti ini, mereka menunjukkan status sosial mereka, yaitu golongan manusia yang mampu secara ekonomi. Secara permukaan, memang diakui, memanggil pasangan dengan sebutan seperti itu terdengar wah. Kalau dibanding dengan memanggil pasangan dengan sebutan-sebutan generik, pastilah memanggil dengan ‘papah’ dan ‘mamah’ akan lebih berkelas dan lebih bergaya.

Itulah perilaku orang Indonesia yang kaya berkecukupan (kala itu), yang penuh gaya, yang kebarat-baratan, yang genit dan di luar nalar.

Demikianlah, kalau kita tengok film-film Indonesia di era tahun 60an atau 70an yang banyak melukiskan kehidupan orang-orang Indonesia yang kaya yang hidup di rumah megah nan mewah, lantai marmer, jendela kaca lebar, mobil sedan mentereng, dan pembantu ibu-ibu gaek yang sederhana dan papa. Banyak orang berpendapat bahwa film Indonesia di era ini adalah film yang berporos pada kehidupan orang Indonesia kayaraya, alias kayaraya-centris. Jarang sekali film Indonesia di era itu yang melukiskan kehidupan orang Indonesia yang miskin, hidup di desa dan lain lain. Jadi, dari film ini terlihat para karakternya di mana para istri memanggil suami mereka dengan sebutan ‘papah’ dan para suami memanggil istri mereka dengan ‘mamah’ atau pun ‘mamih’. Nah itulah gaya mereka.

Namun, apakah kelompok A juga (ingin) ikut-ikutan panggil pasangan mereka dengan sebutan papah dan mamah seperti yang dilakukan kelompoak B?

Tidak. Tidak ada indikasi ke arah sana, dan tidak ada bukti untuk hal itu. Yang jelas, orang Indonesia di dalam kelompok A adalah orang Indonesia yang hidup dengan penuh kesejatian, tidak blagu, tidak banyak gaya, tidak kebarat-baratan. Alhasil, kelompok A merasa aneh alias melongo saat mereka melihat atau menyaksikan suami istri dari kelompok B panggil pasangan mereka dengan sebutan papah mamah.

Babak Kedua

Fenomena kelompok B yang memanggil pasangan mereka dengan sebutan yang genit dan bergaya itu (yaitu papah-mamah dan yang senada dengan itu) sebenarnya ‘terlokalisir’ di kalangan orang berkecukupan saja. Artinya, cara panggil pasangan dengan sebutan seperti itu tidak meluber ke kelompok A. Kelompok A tetaplah hidup dengan kesejatian dan kesahajaan mereka, dan tidak terpengaruh gaya hidup kelompok B. Pun, kelompok A tidak iri dengan cara mereka panggil pasangan mereka. Amit-amit!

Namun, eng-ing-eng…… Tahun berganti, dan era pun berganti.

Di awal tahun 90an, merebaklah tivi swasta di Indonesia. Pertama kali muncul RCTI. Kemudian tivi swasta lainnya.

Nah, tivi swasta ini banyak menampilkan dan menayangkan film-film Indonesia di era Tahun 70an tersebut. Pun, tivi-tivi swasta ini juga kerap menamplkan gaya hidup yang mentereng, seperti menayangkan sinetron ‘penjual mimpi’ yaitu sinetron yang hanya memamerkan kekayaan dan rumah megah berlantai 10, yang anaknya masih kecil namun sudah menjadi direksi Perusahaan bonafit (ampun!).

Materal-material tayangan tersebut, sudah pasti menawarkan dan memamerkan gaya hidup yang tidak lagi sejati, tidak lagi generik; yang ada hanya gaya yang berlebih-lebihan alias blagu. Sudah pasti, tayangan-tayangan tersebut berpusar pada adegan ‘papah-mamah’ seperti yang sudah-sudah.

Dan tayangan ini ditonton oleh lebih banyak manusia-manusia Indonesia sampai jauh ke pelosok pedalaman. Artinya, kelompok-kekompok masyarakat yang sebenarnya tidak kaya dan berkecukupan, menonton tayangan murahan seperti itu setiap hari.

Akibatnya jelas. Orang Indonesia di dalam kelompok A jadi ikut-ikutan. Sekarang mereka fasih sekali panggil pasangan mereka dengan panggilan ‘papah-mamah’ seperti yang biasa dilakoni orang Indonesia di dalam kelompok B. Itu semua hanya bermula dari merebaknya dan menjamurnya tv swasta yang selalu memamerkan gaya hidup lebay dan genit seperti jualan utama mereka.

Babak Ketiga

Jadi, adegan ‘papahmamah’ itu dibedakan di dalam dua kategori.

Kategori pertama adalah masa pra-tv-swasta. Masa ini adalah masa Indonesia masih pada awal-awal kemerdekaannya, yang tv-nya hanya satu yaitu TVRI. Dan TVRI amat terbatas di dalam hal mengumbar kehidupan kaum mapan karena dikhawatirkan akan menimbulkan cemburu sosial dan berujung pada disintegrasi bangsa.

Pada masa ini, adegan memanggil papahmamah hanya terlokalisir pada kelompok masyarakat atas. Kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah, tidaklah demikian. Justru kelompok ini amat menjauhi lifestyle seperti itu, yang menurut pandangan mereka adalah genit, lebay, dan blagu.

Kategori kedua adalah kategori masa pasca-tv-swasta. Jadinya paling tidak setelah beroperasinya RCTI di Tahun 90an. Masa ini adalah masa di mana tv-tv swasta berparade mengumbar adegan papahmamah dan gaya hidup mentereng yang sudah pasti para karakternya akan memanggil pasangan mereka dengan sebutan seperti itu.

Pada masa ini, adegan papahmamah sudah rata ke seluruh lapisan rakyat Indonesia, tidak lagi pandang bulu. Baik kalangan atas mau pun kalangan menengah ke bawah sudah fasih memanggil pasangan-pasangan mereka dengan panggilan papah-mamah. Berkat tv swasta, ya itu intinya.

.-o0o-.

Setidaknya kita mempunyai 3 pilar untuk berkaca soal memanggil pasangan hidup dengan panggilan papah mamah ini.

Masyarakat Barat.

Masyarakat Barat sama sekali tidak mempraktekkan panggilan papah mamah ini kepada pasangan-pasangan mereka. Setiap istri di Masyarakat Barat memanggil suami mereka dengan ‘honey’ – ‘darling’ – dan lain lain. Bahkan mungkin hanya dengan sebut nama saja. Begitu juga dengan para suami di masyarakat tersebut, tidak pernah panggil istri mereka dengan ‘mamah’ atau yang senada. Mereka panggil istri dengan panggilan mesra dan generik, seperti ‘sweet’ – sweetheart’, ‘sugar’ dan lain lain. Atau juga justru cukup panggil nama saja.

Lantas apa dasarnya orang Indonesia (yaitu orang Indonesia yang super genit dan lebay) panggil pasangan hidup mereka dengan sebutan papah-mamah? Berguru kepada siapakah mereka? Masyarakat Barat saja yang terkenal akan romantisme-annya, tidak pernah panggil pasangan mereka dengan panggilan genit seperti itu.

Ajaran Muhammad Saw / Islam.

Apakah Muhammad Saw memberikan ajaran bahwa seorang istri harus memanggil suami dengan sebutan ‘papa’? Apakah Islam memerintahkan para suami untuk panggil istri dengan sebutan ‘mama’?

Tidak ada. Islam tidak pernah ajarkan gaya hidup yang penuh kegenitan dan blagu seperti itu. Muhammad Saw saja panggil istrinya dengan panggilan-panggilan mesra, seperti ‘ya humaira’ yang artinya ‘wahai merah jambu’. Tidak pernah Muhammad Saw panggil istri nya dengan mamah.

Lebih tegas lagi, di dalam Alquran mau pun fiqih berumah tangga, ada istilah zihar, yaitu menyamakan antara istri dengan ibu kandung. Dapat dikatakan, seorang pria tidak boleh menyamakan panggilan antara memanggil ibu kandung dengan memanggil istri. Jadi, seorang suami Muslim yang panggil istri dengan kata ‘mamah’ dapat dikatakan telah menzihar istrinya.

Kehidupan leluhur.

Sekarang lihat kehidupan para leluhur. Apakah para leluhur panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah? Tidak ada catatan sejarah yang mengkonfirmasi hal itu.

Justru kebalikannya, kita mengetahui bahwa para leluhur panggil pasangan-pasangan mereka dengan panggilan yang generik dan luhur, tidak genit dan tidak lebay. Mereka panggil suami mereka dengan mas, kangmas, akang, uda, abang dan lain lain. Begitu juga sang suami panggil istri mereka dengan panggilan yang normal dan tidak genit.

Paling banter, di masyarakat Jawa misalnya, seorang suami panggil istrinya dengan ‘bune’, dan sang istri panggil suaminya dengan ‘pane’. Arti bune, sebenarnya adalah ‘ibu-nya’; /nya/ di dalam frase ini adalah anak-anak. Jadi, saat seorang suami panggil istrinya dengan sebutan ‘bune’, sebenarnya sang suami panggil istri dengan panggilan ‘wahai ibu-nya anak-anak ….’. Begitu juga kebalikannya, sang istri panggil suaminya dengan sebutan ‘pane’ yang mana itu artinya adalah ‘bapak-nya anak-anak’.

Berarti tidak genit, kan?

Dari ketiga pilar kehidupan ini saja, tidak ada satu pun yang memberi kita contoh dan inspirasi untuk panggil papah-mamah bagi pasangan suami istri. Lantas dari mana orang Indonesia punya ide untuk panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah?

Lagi pula, apakah sama antara papah yang berarti suami dengan papah yang membenihkan kita? Apakah sama antara mamah yang berarti istri dengan mamah yang melahirkan kita? Tentu saja tidak sama. Lantas mengapa panggilannya sama? Lantas di mana logikanya saat seorang suami panggil istrinya dengan sebutan mamah? Dan di mana juga logikanya saat seorang istri panggil suaminya dengan sebutan papah? Biar bagaimana pun, seorang istri tetaplah seorang istri bagi sang suami, dan seorang suami tetaplah seorang suami bagi sang istri. Lantas mengapa tiba-tiba menjadi papah dan mamah? Itu pun usia mereka masih muda, dan anak-anak masih kecil. Kalau usia mereka sudah tua, dan anak-anak pun sudah besar, sudah berumah-tangga, baiklah panggilan mamah-papah sudah bisa dikompromikan, karena faktor usia dan sudah besarnya anak-anak tadi. Namun kalau pasangan suami istri itu masih muda, dan anak pun masih kecil, apa alasannya panggil papah-mamah?

Berikut adalah paparan artikel islami seputar pemanggilan papah-mamah ini.

-oOo-

HUKUM SEPUTAR ZHIHAR (Larangan Memanggil Ummi atau Ibu Kepada Istri)

Definisi Zhihar

Secara bahasa Zhihar adalah pecahan dari Zhahrun (punggung). Sedangkan menurut Istilah Zhihar adalah ungkapan suami yang menyerupakan istri dengan punggung ibunya. Seperti ungkapan “Anti kazhahri ummi – Engkau bagiku laksana punggung ibuku”.

Hukum Zhihar

Hukum Zhihar berdasarkan kesepakatan para ulama adalah haram. Ini dilandaskan kepada Firman Allah:

Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”. (QS. Al-Mujadalah: 3).

Dalam ayat ini ada frasa kalimat “Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta” adalah indikasi (Qarinah) akan keharaman Zhihar.

Ibnu Katsir menuturkan ayat di atas turun berdasarkan peristiwa yang menimpa Khuwailah Binti Tsa’labah. Dia berkata, demi Allah, karena peristiwa saya dan suami saya Aus bin Shamit. Allah menurunkan surat Al-Almujadalah. Khuwailah melanjutkan ceritanya. “Pada suatu hari, saya berada di sisisuamiku, sedang dia adalah orang yang sudah tua renta. Perangainya menjadi jelek dan suka membentak-bentak saya. Pada suatu saat dia masuk ketempat saya untuk memberikan sesuatu kepada saya. Lalu dia marah-marah seraya berkata “Engkau bagiku laksana punggu Ibuku”. Kemudian dia keluar, lalu duduk-duduk di kebun kurma beberapa lama. Kemudian dia masuk lagi kepada saya, maka tiba-tiba dia sangat menginginkan saya (untuk bersetubuh). Saya berkata kepadanya “jangan kau dekati saya. Demi Allah yang jiwa saya berada ditanganNya, jangan sekali-kali kamu menyentuh saya. Karena kamu telah mengucapkan kata-kata itu (zhihar). Lalu Allah memutuskan perselisihan keduanya”. (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Ungkapan-Ungkapan Zhihar

Sudah lazim diketahui bahwa zhihar adalah penyerupaan Istri dengan ibu. Dalam ayat dan hadist zhihar diidentikkan dengan punggung, maka maksud dari ungkapan tersebut adalah seluruh hal yang bisa menyerupai ibu. Karena kalimat Zhihar (punggung) adalah ungkapan sebagaian yang dimaksudkan untuk seluruhnya.

Maka, menyamakan Istri dengan tangan, rambut, betis dan anggota tubuh lain dari ibu merupakan bentuk zhihar. Ini adalah pendapat mayoritas ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hambaliyah. Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa memanggil istri dengan panggilan ibu, umi, mami, mamah, dan semisalnya adalah haram karena sudah masuk dalam kategori zhihar. Hal ini bisa di fahami dalam sebuah hadits bahwa ada seorang suami yang memanggil isterinya “Wahai ukhti!”. Mendengar hal tersebut Nabi saw bertanya kepadanya, “Apakah dia memang saudarimu?!”. Nabi membenci hal tersebut dan melarangnya. (HR Abu Daud No.  2210 dan 2211).

Ulama’ berbeda pendapat ketika menyamakan Istri dengan mahram-mahram lain selain dari ibu. Seperti kepada kaka perempuan, adik perempuan, bibi, atau saudara perempuan sepersusuan. Imam Maliki, Syafi’ie dan Abu Hanifah berpendapat; bahwa penyerupaan istri dengan mahram selain dari ibu itu menjadi zhihar sekalipun penyerupaannya dengan mahram dari sepersusuan. Imam Ahmad menegaskan “sesungguhnya penyerupaan istri dengan mahram selain dari ibu adalah zhihar”.

Pengharaman penyerupaan kepada mahram selain dari ibu, berdasarkan qiyas di mana yang menjadi ‘Illatnya adalah pengharaman yang abadi, dan pengharaman yang abadi ini hanya ada pada mahram. Penjelasan ini masih menyisakan satu pertanyaan, bagaimana bila suami yang memanggil istrinya dengan sebutan ibu, mamah, Ummi, dan sebagainya, tidak diniatkan untuk zhihar??   Dalam masalah ini adalah bahwa ungkapan zhihar sama dengan ungkapan pada akad-akad muamalah yang lain; sepeti jual jual beli, nikah, cerai, dan sebagainya. Di sini yang dilihat bukan niatnya tetapi apa yang diucapkan. Sehingga walau tidak diniatkan zhihar tetapi ucapannya adalah ucapan zhihar, maka hal tersebut jatuh ke dalam zhihar.

Suami yang telah menzhihar istrinya haram, haram menyetubuhi istrinya sebelum dia membayar kifarat (Denda). Hal ini berdasarkan ayat:

Dan orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan maka (wajib atasnya) memerdekakan orang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur”. ( Al-Mujadalah: 3).

Juga hadist Nabi Saw dari Ibnu Abbas “Sesungguhnya seorang menzhihar istrinya, kemudian dia mencampurinya, kemudian dia datang menghadap Rasulullah SAW seraya berkata “Sesungguhnya saya sudah mencampuri Istri saya sebelum saya kifarat. Rasulullah SAW bersabda “janganlah kamu dekati dia (menyetubuhi istrinya). Sehingga melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan”.( HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Annasa’ie dan Ibnu Majah).

Kifarat (Denda) Bagi Suami yang Menzhihar Istrinya

Suami yang menzhihar Istrinya, maka dia wajib membayar kifarat (Denda) sebelum dia bercampur dengan Istrinya. Sebagaimana yang termaktub dalam surat Al-Mujadalah. Allah SWT Berfirman,

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih”. ( QS. Al-Mujadalah: 3-4).

Dan juga hadist Nabi SAW,

“Dari Salamah bin Shakhr al-Bayadhl bercerita, Dahulu aku adalah laki-laki yang mempunyai hasrat besar kepada wanita tidak seperti kebanyakan orang. Ketika tiba bulan Ramadhan, aku pernah menzhihar isteriku hingga bulan Ramadhan berakhir. Pada suatu malam tatkala ia berbincang-bindang denganku, tiba-tiba tersingkaplah kepadaku kain yang menutupi sebagian dari anggota tubuhnya maka akupun melompatinya lalu kucampuri ia. Dan pada pagi harinya aku pergi menemui kaumku lalu aku memberitahukan mengenai diriku kepada mereka. Aku berkata kepada mereka, ”Tanyakanlah kepada Rasulullah saw. mengenai persoalan ini. Maka jawab mereka, ’kami tidak mau. Kami khawatir jangan-jangan ada wahyu yang turun mengenai kita atau Rasulullah saw bersabda tentang sesuatu mengenai diri kita sehingga tercela selamanya. Tetapi nanti akan kamu serahkan sepenuhnya kepadamu persoalan ini. Pergilah dan sebutkanlah urusanmu itu kepada Rasulullah saw. ”Maka akupun langsung berangkat menghadap Nabi saw. kemudian aku utarakan hal tersebut kepada Beliau. Maka Beliau saw bertanya ”Apakah benar kamu melakukan hal itu?” Saya jawab ”Ya, dan inilah supaya Rasulullah aku akan sabar dan tabah menghadapi putusan Allah atas diriku,” Sabda Beliau ”Merdekakanlah seorang budak.” Saya jawab, ”Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa yang haq, aku tidak pernah memiliki (seorang budak) kecuali diriku ini.” Sabda Beliau, ”Kalau begitu puasalah dua bulan berturut-turut.” Saya jawab, ”Ya Rasulullah, bukankah cobaan yang telah menimpaku ini terjadi ketika aku sedang berpuasa”, Sabda Beliau, ”Kalau begitu bershadaqahlah, atau berilah makan kepada enam puluh orang miskin.” Saya jawab, ”Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa yang Haq sesungguhnya kami telah menginap semalam (tatkala terjadi perselisihan itu sedang kami akan makan malam. ’Maka sabda Beliau ”Pergilah kamu kepada siapa saja yang akan bershadaqah dari Bani Zuraiq. Kemudian katakanlah kepada mereka supaya memberikannya kepadamu. Lalu (dari shadaqah itu) berilah makan enam puluh orang miskin, dan selebihnya gunakanlah (untuk dirimu dan keluargamu).”( Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1677, Ibnu Majah I : 665 no:2062 dan ’Aunul Ma’bud VI:298 no:2198, Tirmidzi.

Sumber – http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/15/hukum-seputar-zihar/

-oOo-

Kesimpulan.

  1. Suami istri yang panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah, tidak mempunyai dasar sama sekali.
  2. Satu-satunya dasar dan penyebab suami istri panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah adalah psikologi genit, dan blagu. Hal ini terlihat pada masa pra-tivi-swasta, di mana keluarga-keluarga kaya berkecukupan panggil pasangan mereka dengan panggilan papah-mamah tersebut, sementara keluarga-keluarga pra-sejahtera tidak mempunyai perilaku tersebut. Itu pun akhirnya keluarga pra-sejahteria ikut-ikutan panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah setelah merebaknya tivi swasta yang memamerkan kehidupan berkelimpahan.
  3. Oleh karena itu, memanggil pasangan dengan papah-mamah, tidak boleh ditiru dan tidak boleh dijadikan nilai di dalam kehidupan ini, khususnya kehidupan berumah tangga. Intinya, genit dan blagu bukanlah nilai kehidupan. Justru hal itu harus dihindari.

3 comments

  1. menyamakan kasus ini dengan zhihar sama sekali tidak tepat. Silakan baca lagi tentang konsep zhihar dalam buku-buku fikih berbahasa Arab, terutama pada syarat-syarat keabsahan zhihar.

    Saya pikir terlalu ceroboh jika disimpulkan bahwa panggilan papa-mama di antara suami-istri adalah suatu bentuk kegenitan. Salah seorang temanku awalnya memanggil suaminya dengan panggilan “Kangmas”. Ternyata anak mereka ikut-ikutan sang ibu memanggil ayahnya “Kangmas”. Jadilah si ibu mengubah panggilannya menjadi “Ayah” dengan maksud mengajarkan kepada anaknya.

    Panggilan papa-mama, ayah-ibu, pakne-bune, kangmas-adek, dan lain-lain di antara suami-istri, saya pikir, hanyalah soal budaya yang bisa saja berubah dari satu masa ke masa yang lain dan bisa saja dipengaruhi oleh budaya yang lain. Islam, setahu saya, sama sekali tidak memberikan panduan teknis mengenai hal ini. Batasan yang diberikan Islam adalah sopan santun. Coba saya tanyakan, bagaimana Nabi MUhammad memanggil Saudah, Maria, dan istri-istrinya yang lain. Lalu bagaiamana mereka memanggil Nabi?

    Salam

  2. Assalamualaikum…
    Semoga yang Menulis Artikel, Pembaca, dan Komentator semua mendapat Rahmat Allah.. amin..
    ehem…. saya sih sependapat dan se7 ama Abu Hamid, menurutku GENIT dan BLAGU tidak selamanya bermakna tidak baik, kadang itu penting dan diperlukan seperti loe punya istri yang lebih muda dari loe yang suka GENIT dan BLAGU, menurutku itu asik, menarik dan menyenangkan, tapi kalo yang GENIT dan BLAGU itu istri yang seumuran auat yang lebih tua dari loe.. wao… mungking itu sedikit menyebalkan..
    ulasannya lumayan bagus… zazakallah.. udah nambah wawasan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s