Apakah Onani Membatalkan Puasa?

alamandang-sukri

Onani Membatalkan Puasa?

Jawabannya adalah TIDAK.

Pertama:

Asal dari perkara ibadah (yang dilakukan) adalah sah, dan penetapan atas pembatalannya membutuhkan dalil. Berdasarkan atas hal ini, dituntut bagi orang yang mendakwakan batalnya (ibadah tersebut) untuk membawakan dalil. Di sini, tidak ada dalil sharih yang menyatakan batalnya puasa akibat onani.

Kedua:

Penyamaan onani dengan jima’ (jima’ = senggama dan atau coitus, sama dengan istilah ‘campur’) adalah penyamaan secara qiyas, dan itu merupakan qiyas faasid ditinjau dari dua sisi:

1. Tidak sahnya ‘illat.

Orang yang meng-qiyaskan onani dengan jima’  meninjaunya dari dua hal berikut:

a. Kesenangan / kenikmatan (al-ladzdzah – اللذّة) atau syahwat (الشهوة).

Jawab: Kenikmatan dalam jima’ itu lebih kuat dan lebih jelas dibandingkan kenikmatan dalam onani, sedangkan syarat adanya penyamaan (dalam qiyas) adalah keberadaan sifat yang ada dalam cabang (al-far’) sebanding dengan pokoknya (al-ashl) atau lebih kuat.

b. Keluarnya mani.

Jawab: Hal ini tidak sah dijadikan ‘illat dalam qiyas, karena tidak ada hubungannya dengan sifat yang diqiyaskan. Jima’ tanpa disertai keluarnya mani tetap membatalkan puasa berdasarkan ijma’. Seandainya ‘illat-nya adalah keluarnya mani, konsekuensinya: jima’ tidaklah membatalkan puasa kecuali jima’ yang mengeluarkan mani. Oleh karena itu, selama keluarnya mani dalam jima’ tidak dianggap sebagai pembatal puasa, maka tidak sah menjadikannya sebagai ‘illat dalam qiyas (terhadap onani).

2. Keseimbangan Hukum

Penempatan onani pada jima’ mengkonsekuensikan penetapan hukum-hukum jima’ pada onani. Dengan itu dikatakan: Onani itu seperti jima’ yang membatalkan puasa dan wajib membayar kaffarah. Akan tetapi kenyataannya, orang yang mengatakan onani membatalkan puasa tidak mewajibkan kaffarah padanya.

Seandainya dikatakan kaffaarah hanya masuk dalam bab celaan, maka onani yang statusnya diharamkan (dalam segala kondisi) lebih layak untuk mengkonsekuensikan kaffaarah dibandingkan jima’ yang hanya dilarang pada waktu puasa. Seandainya dikatakan kaffaarah merupakan bentuk celaan dan pemaksaan (untuk melakukannya), maka hukum jima’ dan onani hakekatnya satu (sama) dikarenakan pelanggaran kehormatan hari puasa akibat syahwat.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

يَتْرُكُ طَعَامَهُ، وَشَرَابَهُ، وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي

“….Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya dikarenakan puasanya untuk-Ku…” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1894 & 7492, Muslim no. 1151, Ibnu Maajah no. 1638, Ad-Daarimiy no. 1770, dan yang lainnya dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu].

Hadits ini dijadikan dalil bahwa onani membatalkan puasa. Jika dikatakan bahwa lafadh syahwat dalam hadits ini adalah umum, sehingga dipahami mencakup jima’ dan onani, namun mengapa mereka tidak memasukkan bermesra-mesraan dan mencium dengan istri sebagai pembatal puasa (tanpa mengeluarkan mani)? padahal ia masuk dalam keumuman lafadh tersebut (syahwat).

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ: عَنْ شُعْبَةَ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الْأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: ” كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ “

Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, ia berkata: Dari Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Ibraahiim, dari Al-Aswad, dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bermesraan (dengan istrinya) ketika sedang berpuasa. Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kuat menahan keinginannya (hawa nafsunya) di antara kalian” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1927].

Dan dengan hadits ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhu ini dapat diketahui bahwa syahwat yang dimaksudkan dalam hadits sebelumnya adalah jima’.

حَدَّثَنَا رَبِيعٌ الْمُؤَذِّنُ، قَالَ: ثنا شُعَيْبٌ، قَالَ: ثنا اللَّيْثُ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الأَشَجِّ، عَنْ أَبِي مُرَّةَ، مَوْلَى عَقِيلٍ عَنْ حَكِيمِ بْنِ عِقَالٍ، أَنَّهُ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ” مَا يَحْرُمُ عَلَيَّ مِنَ امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ ؟ قَالَتْ: فَرْجُهَا “

Telah menceritakan kepada kami Rabii’ Al-Muadzdzin, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’aib, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Bukair bin ‘Abdillah bin Al-Asyajj, dari Abu Murrah maulaa ‘Aqiil, dari Hakiim bin ‘Iqaal: Bahwasannya ia pernah bertanya kepada ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa: Apa yang diharamkan dari istriku sedangkan aku berpuasa?”. Ia menjawab: “Farji (kemaluan)-nya” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar no. 2190; sanadnya shahih].

عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي قِلابَةَ، عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنَ امْرَأَتِهِ صَائِمًا؟ قَالَتْ: كُلُّ شَيْءٍ إِلا الْجِمَاعَ “

Dari Ma’mar, dari Ayyuub, dari Abu Qilaabah, dari Masruuq, ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aaisyah tentang apa yang dihalalkan bagi seorang laki-laki yang berpuasa terhadap istrinya. Ia menjawab: “Semua hal, kecuali jima” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 8439].

Riwayat Ma’mar dari Ayyuub diperbincangkan oleh sebagian ahli hadits, namun dikuatkan oleh riwayat sebelumnya sehingga shahih.

Ash-Shan’aniy berkata:

الأظهر أنه لا قضاء ولا كفارة إلا على من جامع وإلحاق غير المجامع به بعيد.

“Tapi pendapat yang paling benar adalah tidak perlu qadla’ dan tidak perlu kaffarat, kecuali bagi orang yang melakukan jima’. Dan menyamakan sebab lain dengan jima’ adalah tidak benar” [Subulus-Salaam oleh Ash-Shan’aniy, 2/226; Daarul-Hadiits, Cet. Thn. 1425].

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

Semoga bahasan sederhana ini bermanfaat.

[abul-jauzaa’ – wonokarto, wonogiri – 30072012 – direvisi tanggal 02082012 dengan penambahan riwayat ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa].

Tanggapan.

Tholibul ilmi – 3 Agustus 2012 23.32:

Qiyas memang ada aturannya dan jumhur ulama sudah memahaminya kemudian menerapkannya dalam kasus ini. Sedangkan jawaban Aisyah sama sekali tidak menyinggung masalah onani. Adapun pertanyaan: mengapa mereka tidak memasukkan bermesra-mesraan dan mencium dengan istri sebagai pembatal puasa (tanpa mengeluarkan mani) padahal ia masuk dalam keumuman lafadh tersebut (syahwat)? Jawabannya: sebab mencium dan memeluk saja tidak memuaskan syahwat seksual sehingga tidak membatalkan puasa, berbeda dengan onani yang memuaskan syahwat seksual dengan keluarnya air mani. Dan tidak ada kaidah bahwa kenikmatan dalam jima’ itu lebih kuat dibandingkan kenikmatan dalam onani. Ilmu Psikologi modern membuktikan bahwa pecandu onani lebih puas dengan aktivitas onaninya daripada berhubungan seks dengan istrinya.

Jadi, alasan kaum Zhohiriyah bahwa onani tidak membatalkan puasa sangat rapuh dari berbagai sisi.

———————–

Abu Al-Jauzaa’ – 4 Agustus 2012 00.41:

Kalau memang kata antum qiyas itu ada aturannya, sudah semestinya antum menjelaskan ‘illat qiyasnya. Dalam komentar antum di atas, ‘illat nya gak jelas. Ujug-ujug ‘qiyas aula’.

Dan ingat kaedah:

الْعِبرَةُ لِلْغَالِبِ الشَّائِعِ لاَ لِلنَّادِرِ

“Ibrah itu didapat dari kondisi yang umum terjadi, bukan kondisi yang jarang terjadi”.

Jadi kalau antum mengatakan bahwa menurut psikologi modern – dan alhamdulillah saya sedikit mengetahui tentang ini – bahwa kenikmatan onani itu lebih besar daripada jima’, ini merupakan hukum umum ataukah tidak? Saya rasa kita semua sudah tahu kok jawabannya, kecuali antum bukan termasuk orang yang pernah menikah, tentu akan sangat-sangat saya pahami.

Dan mengherankan antum mengeluarkan aktifitas berciuman dan bercumbu antara suami istri sebagai pengecualian dari bahasan syahwat. Memangnya kalau dikatakan syahwat itu mesti mengeluarkan mani? Di mana kamusnya saya dapat penjelasan ini?

Dan yang lebih mengherankan lagi antum mengatakan bahwa jawaban ‘Aaisyah itu tidak menyinggung masalah onani, dan kemudian mengesampingkan istinbath hukum dari perkataannya tersebut. Antum paham makna: kullu syain illal-jimaa’? (segala sesuatu boleh, kecuali jima’)?

Dan coba antum baca kitab Al-Mushannaf nya ‘Abdurrazzaaq, yaitu di nomor 1260:

    عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي قِلابَةَ، عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ، فَقُلْتُ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ ! مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنِ امْرَأَتِهِ حَائِضًا؟، قَالَتْ: ” مَا دُونَ الْفَرْجِ “، قَالَ: فَغَمَزَ مَسْرُوقٌ بِيَدِهِ رَجُلا كَانَ مَعَهُ أَيِ اسْمَعْ، قَالَ: قُلْتُ: فَمَا يَحِلُّ لِي مِنْهَا صَائِمًا؟، قَالَتْ: ” كُلُّ شَيْءٍ، إِلا الْجِمَاعَ “، قَالَ مَعْمَرٌ: ” بَلَغَنِي أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ ابْنِ عُمَرَ كَانَتْ تُنَاوِلُهُ الْخُمْرَةَ حَائِضًا “

Sanad… : Dari Masruuq: Aku pernah menemui ‘Aaisyah dan berkata: ‘Wahai Ummul-Mukminiin, apakah yang dihalalkan seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haidl?”. ‘Aaisyah menjawab: “Segala hal selain kemaluannya”. Lalu Masruuq berisyarat dengan tangannya kepada seorang laki-laki yang bersamanya, yang artinya: ‘Dengarkanlah’. Masruuq berkata: “Lalu apa yang dihalalkan bagiku darinya (istri) yang sedang puasa?”. ‘Aaisyah menjawab: “Segala sesuatu kecuali jimaa'” [selesai].

Jawaban ‘Aaisyah maa duunal-farj (saat ditanya tentang wanita haidl), dalam riwayat lain ia menjawab dengan kalimat sama dengan jawaban ketika ia ditanya tentang dalam keadaan puasa.

Jadi, ‘Aaisyah menyamakan jawaban antara keadaan haidl dan keadaan puasa. Sekarang, apa yang diperbolehkan bagi seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haidl? Saya yakin antum pun paham, bahwa seorang suami tetap diperbolehkan mencumbui istri meskipun keluar maninya asalkan tidak menjimai kemaluannya. Nah, sekali lagi, jawaban tentang wanita haidl itu sama dengan puasa. Segala sesuatu kecuali farji (alat kelamin)-nya. Segala sesuatu kecuali jima’. Inilah yang diperbolehkan bagi seorang suami terhadap istrinya ketika berpuasa.

Jika antum fasih bicara qiyas aula, niscaya antum tidak kesusahan memahami konsekuensi hukum keadaan ini terhadap hukum onani. Bukan dalam hal boleh dan tidak bolehnya, tapi dari segi batal dan tidak batalnya.

Adalah hak bagi siapapun untuk mengatakan pendapat yang tidak ia setujui sebagai pendapat yang rapuh.

—————-

Sumber,

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/07/onani-membatalkan-puasa_30.html – 12 Juli 2013.

Note,

Bagi Anda yang ingin mengomentari artikel ini, diharapkan untuk langsung saja memberikan komentarnya ke sumber dari artikel ini yaitu ‘ http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/07/onani-membatalkan-puasa_30.html’, karena beliau adalah ulama yang sangat berkompeten di dalam hal ini. Sementara saya (‘alamandang’), di dalam hal ini hanya lah ‘MENYEBARKAN-LUASKAN’ artikel beliau ini. Dengan kata lain saya tidak mengerti apa-apa di dalam subjek ini.

Terima kasih.

2 comments

  1. Afwan, izin menshare pendapat (ijma’) para ulama yang lebih utama untuk diikuti. dan ijma’ para ulama berdasar atas ketentuan di dalam al-qur’an.

    Jawab :
    Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/ kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” [QS. Al-Mu`minun: 5 – 6]

    Tanggapan Mod:
    Terdapat dua sikap mengenai hal ini:

    prtama.
    juga banyak ulama yg membolehkan onani, lengkap dg dalil dan logikanya.

    kedua.
    tidak ada hadis mau pun ayat yg jelas-jelas mengharamkan onani.

    Terima kasih.

  2. Lha komen pertama di atas itu kan sudah ada dalil dalam Quran, jelas lagi kok dibilang ga ada? Ya Allah ente ini termasuk orang nyeleneh juga rupanya. Siapa bilang tak ada ulama yang mengharamkan onani, ijma ulama sepakat mengharamkan onani, hanya sedikit yang membolehkan onani itu pun harus dengan syarat2, tidak dibuka lebar. Kesimpulan onani itu diharamkan, kalau memang ia ditolerir agama, sudah pasti Rasulullah membolehkan, tapi Rasulullah menyuruh kita untuk berpuasa bukan beronani!

    Tulisan2 ente banyak mengandung syubhat ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s