Apakah Onani Membatalkan Puasa?

alamandang-sukri

Onani Membatalkan Puasa?

Jawabannya adalah TIDAK.

Pertama:

Asal dari perkara ibadah (yang dilakukan) adalah sah, dan penetapan atas pembatalannya membutuhkan dalil. Berdasarkan atas hal ini, dituntut bagi orang yang mendakwakan batalnya (ibadah tersebut) untuk membawakan dalil. Di sini, tidak ada dalil sharih yang menyatakan batalnya puasa akibat onani.

Kedua:

Penyamaan onani dengan jima’ (jima’ = senggama dan atau coitus, sama dengan istilah ‘campur’) adalah penyamaan secara qiyas, dan itu merupakan qiyas faasid ditinjau dari dua sisi:

1. Tidak sahnya ‘illat.

Orang yang meng-qiyaskan onani dengan jima’  meninjaunya dari dua hal berikut:

a. Kesenangan / kenikmatan (al-ladzdzah – اللذّة) atau syahwat (الشهوة).

Jawab: Kenikmatan dalam jima’ itu lebih kuat dan lebih jelas dibandingkan kenikmatan dalam onani, sedangkan syarat adanya penyamaan (dalam qiyas) adalah keberadaan sifat yang ada dalam cabang (al-far’) sebanding dengan pokoknya (al-ashl) atau lebih kuat.

b. Keluarnya mani.

Jawab: Hal ini tidak sah dijadikan ‘illat dalam qiyas, karena tidak ada hubungannya dengan sifat yang diqiyaskan. Jima’ tanpa disertai keluarnya mani tetap membatalkan puasa berdasarkan ijma’. Seandainya ‘illat-nya adalah keluarnya mani, konsekuensinya: jima’ tidaklah membatalkan puasa kecuali jima’ yang mengeluarkan mani. Oleh karena itu, selama keluarnya mani dalam jima’ tidak dianggap sebagai pembatal puasa, maka tidak sah menjadikannya sebagai ‘illat dalam qiyas (terhadap onani).

2. Keseimbangan Hukum

Penempatan onani pada jima’ mengkonsekuensikan penetapan hukum-hukum jima’ pada onani. Dengan itu dikatakan: Onani itu seperti jima’ yang membatalkan puasa dan wajib membayar kaffarah. Akan tetapi kenyataannya, orang yang mengatakan onani membatalkan puasa tidak mewajibkan kaffarah padanya.

Seandainya dikatakan kaffaarah hanya masuk dalam bab celaan, maka onani yang statusnya diharamkan (dalam segala kondisi) lebih layak untuk mengkonsekuensikan kaffaarah dibandingkan jima’ yang hanya dilarang pada waktu puasa. Seandainya dikatakan kaffaarah merupakan bentuk celaan dan pemaksaan (untuk melakukannya), maka hukum jima’ dan onani hakekatnya satu (sama) dikarenakan pelanggaran kehormatan hari puasa akibat syahwat.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

يَتْرُكُ طَعَامَهُ، وَشَرَابَهُ، وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي

“….Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya dikarenakan puasanya untuk-Ku…” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1894 & 7492, Muslim no. 1151, Ibnu Maajah no. 1638, Ad-Daarimiy no. 1770, dan yang lainnya dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu].

Hadits ini dijadikan dalil bahwa onani membatalkan puasa. Jika dikatakan bahwa lafadh syahwat dalam hadits ini adalah umum, sehingga dipahami mencakup jima’ dan onani, namun mengapa mereka tidak memasukkan bermesra-mesraan dan mencium dengan istri sebagai pembatal puasa (tanpa mengeluarkan mani)? padahal ia masuk dalam keumuman lafadh tersebut (syahwat).

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ: عَنْ شُعْبَةَ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الْأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: ” كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ “

Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, ia berkata: Dari Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Ibraahiim, dari Al-Aswad, dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bermesraan (dengan istrinya) ketika sedang berpuasa. Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kuat menahan keinginannya (hawa nafsunya) di antara kalian” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1927].

Dan dengan hadits ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhu ini dapat diketahui bahwa syahwat yang dimaksudkan dalam hadits sebelumnya adalah jima’.

حَدَّثَنَا رَبِيعٌ الْمُؤَذِّنُ، قَالَ: ثنا شُعَيْبٌ، قَالَ: ثنا اللَّيْثُ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الأَشَجِّ، عَنْ أَبِي مُرَّةَ، مَوْلَى عَقِيلٍ عَنْ حَكِيمِ بْنِ عِقَالٍ، أَنَّهُ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ” مَا يَحْرُمُ عَلَيَّ مِنَ امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ ؟ قَالَتْ: فَرْجُهَا “

Telah menceritakan kepada kami Rabii’ Al-Muadzdzin, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’aib, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Bukair bin ‘Abdillah bin Al-Asyajj, dari Abu Murrah maulaa ‘Aqiil, dari Hakiim bin ‘Iqaal: Bahwasannya ia pernah bertanya kepada ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa: Apa yang diharamkan dari istriku sedangkan aku berpuasa?”. Ia menjawab: “Farji (kemaluan)-nya” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar no. 2190; sanadnya shahih].

عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي قِلابَةَ، عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنَ امْرَأَتِهِ صَائِمًا؟ قَالَتْ: كُلُّ شَيْءٍ إِلا الْجِمَاعَ “

Dari Ma’mar, dari Ayyuub, dari Abu Qilaabah, dari Masruuq, ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aaisyah tentang apa yang dihalalkan bagi seorang laki-laki yang berpuasa terhadap istrinya. Ia menjawab: “Semua hal, kecuali jima” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 8439].

Riwayat Ma’mar dari Ayyuub diperbincangkan oleh sebagian ahli hadits, namun dikuatkan oleh riwayat sebelumnya sehingga shahih.

Ash-Shan’aniy berkata:

الأظهر أنه لا قضاء ولا كفارة إلا على من جامع وإلحاق غير المجامع به بعيد.

“Tapi pendapat yang paling benar adalah tidak perlu qadla’ dan tidak perlu kaffarat, kecuali bagi orang yang melakukan jima’. Dan menyamakan sebab lain dengan jima’ adalah tidak benar” [Subulus-Salaam oleh Ash-Shan’aniy, 2/226; Daarul-Hadiits, Cet. Thn. 1425].

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

Semoga bahasan sederhana ini bermanfaat.

[abul-jauzaa’ – wonokarto, wonogiri – 30072012 – direvisi tanggal 02082012 dengan penambahan riwayat ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa].

Tanggapan.

Tholibul ilmi – 3 Agustus 2012 23.32:

Qiyas memang ada aturannya dan jumhur ulama sudah memahaminya kemudian menerapkannya dalam kasus ini. Sedangkan jawaban Aisyah sama sekali tidak menyinggung masalah onani. Adapun pertanyaan: mengapa mereka tidak memasukkan bermesra-mesraan dan mencium dengan istri sebagai pembatal puasa (tanpa mengeluarkan mani) padahal ia masuk dalam keumuman lafadh tersebut (syahwat)? Jawabannya: sebab mencium dan memeluk saja tidak memuaskan syahwat seksual sehingga tidak membatalkan puasa, berbeda dengan onani yang memuaskan syahwat seksual dengan keluarnya air mani. Dan tidak ada kaidah bahwa kenikmatan dalam jima’ itu lebih kuat dibandingkan kenikmatan dalam onani. Ilmu Psikologi modern membuktikan bahwa pecandu onani lebih puas dengan aktivitas onaninya daripada berhubungan seks dengan istrinya.

Jadi, alasan kaum Zhohiriyah bahwa onani tidak membatalkan puasa sangat rapuh dari berbagai sisi.

———————–

Abu Al-Jauzaa’ – 4 Agustus 2012 00.41:

Kalau memang kata antum qiyas itu ada aturannya, sudah semestinya antum menjelaskan ‘illat qiyasnya. Dalam komentar antum di atas, ‘illat nya gak jelas. Ujug-ujug ‘qiyas aula’.

Dan ingat kaedah:

الْعِبرَةُ لِلْغَالِبِ الشَّائِعِ لاَ لِلنَّادِرِ

“Ibrah itu didapat dari kondisi yang umum terjadi, bukan kondisi yang jarang terjadi”.

Jadi kalau antum mengatakan bahwa menurut psikologi modern – dan alhamdulillah saya sedikit mengetahui tentang ini – bahwa kenikmatan onani itu lebih besar daripada jima’, ini merupakan hukum umum ataukah tidak? Saya rasa kita semua sudah tahu kok jawabannya, kecuali antum bukan termasuk orang yang pernah menikah, tentu akan sangat-sangat saya pahami.

Dan mengherankan antum mengeluarkan aktifitas berciuman dan bercumbu antara suami istri sebagai pengecualian dari bahasan syahwat. Memangnya kalau dikatakan syahwat itu mesti mengeluarkan mani? Di mana kamusnya saya dapat penjelasan ini?

Dan yang lebih mengherankan lagi antum mengatakan bahwa jawaban ‘Aaisyah itu tidak menyinggung masalah onani, dan kemudian mengesampingkan istinbath hukum dari perkataannya tersebut. Antum paham makna: kullu syain illal-jimaa’? (segala sesuatu boleh, kecuali jima’)?

Dan coba antum baca kitab Al-Mushannaf nya ‘Abdurrazzaaq, yaitu di nomor 1260:

    عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي قِلابَةَ، عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ، فَقُلْتُ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ ! مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنِ امْرَأَتِهِ حَائِضًا؟، قَالَتْ: ” مَا دُونَ الْفَرْجِ “، قَالَ: فَغَمَزَ مَسْرُوقٌ بِيَدِهِ رَجُلا كَانَ مَعَهُ أَيِ اسْمَعْ، قَالَ: قُلْتُ: فَمَا يَحِلُّ لِي مِنْهَا صَائِمًا؟، قَالَتْ: ” كُلُّ شَيْءٍ، إِلا الْجِمَاعَ “، قَالَ مَعْمَرٌ: ” بَلَغَنِي أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ ابْنِ عُمَرَ كَانَتْ تُنَاوِلُهُ الْخُمْرَةَ حَائِضًا “

Sanad… : Dari Masruuq: Aku pernah menemui ‘Aaisyah dan berkata: ‘Wahai Ummul-Mukminiin, apakah yang dihalalkan seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haidl?”. ‘Aaisyah menjawab: “Segala hal selain kemaluannya”. Lalu Masruuq berisyarat dengan tangannya kepada seorang laki-laki yang bersamanya, yang artinya: ‘Dengarkanlah’. Masruuq berkata: “Lalu apa yang dihalalkan bagiku darinya (istri) yang sedang puasa?”. ‘Aaisyah menjawab: “Segala sesuatu kecuali jimaa'” [selesai].

Jawaban ‘Aaisyah maa duunal-farj (saat ditanya tentang wanita haidl), dalam riwayat lain ia menjawab dengan kalimat sama dengan jawaban ketika ia ditanya tentang dalam keadaan puasa.

Jadi, ‘Aaisyah menyamakan jawaban antara keadaan haidl dan keadaan puasa. Sekarang, apa yang diperbolehkan bagi seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haidl? Saya yakin antum pun paham, bahwa seorang suami tetap diperbolehkan mencumbui istri meskipun keluar maninya asalkan tidak menjimai kemaluannya. Nah, sekali lagi, jawaban tentang wanita haidl itu sama dengan puasa. Segala sesuatu kecuali farji (alat kelamin)-nya. Segala sesuatu kecuali jima’. Inilah yang diperbolehkan bagi seorang suami terhadap istrinya ketika berpuasa.

Jika antum fasih bicara qiyas aula, niscaya antum tidak kesusahan memahami konsekuensi hukum keadaan ini terhadap hukum onani. Bukan dalam hal boleh dan tidak bolehnya, tapi dari segi batal dan tidak batalnya.

Adalah hak bagi siapapun untuk mengatakan pendapat yang tidak ia setujui sebagai pendapat yang rapuh.

—————-

Sumber,

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/07/onani-membatalkan-puasa_30.html – 12 Juli 2013.

Note,

Bagi Anda yang ingin mengomentari artikel ini, diharapkan untuk langsung saja memberikan komentarnya ke sumber dari artikel ini yaitu ‘ http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/07/onani-membatalkan-puasa_30.html’, karena beliau adalah ulama yang sangat berkompeten di dalam hal ini. Sementara saya (‘alamandang’), di dalam hal ini hanya lah ‘MENYEBARKAN-LUASKAN’ artikel beliau ini. Dengan kata lain saya tidak mengerti apa-apa di dalam subjek ini.

Terima kasih.

Advertisements

5 comments

  1. Afwan, izin menshare pendapat (ijma’) para ulama yang lebih utama untuk diikuti. dan ijma’ para ulama berdasar atas ketentuan di dalam al-qur’an.

    Jawab :
    Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/ kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” [QS. Al-Mu`minun: 5 – 6]

    Tanggapan Mod:
    Terdapat dua sikap mengenai hal ini:

    prtama.
    juga banyak ulama yg membolehkan onani, lengkap dg dalil dan logikanya.

    kedua.
    tidak ada hadis mau pun ayat yg jelas-jelas mengharamkan onani.

    Terima kasih.

  2. Lha komen pertama di atas itu kan sudah ada dalil dalam Quran, jelas lagi kok dibilang ga ada? Ya Allah ente ini termasuk orang nyeleneh juga rupanya. Siapa bilang tak ada ulama yang mengharamkan onani, ijma ulama sepakat mengharamkan onani, hanya sedikit yang membolehkan onani itu pun harus dengan syarat2, tidak dibuka lebar. Kesimpulan onani itu diharamkan, kalau memang ia ditolerir agama, sudah pasti Rasulullah membolehkan, tapi Rasulullah menyuruh kita untuk berpuasa bukan beronani!

    Tulisan2 ente banyak mengandung syubhat ya?

    Alamandang,
    lha kenapa nabisaw harus berbuat demikian? apakah sama keadaannya antara pribadi nabisaw dg manusia lain??? nabisaw adl pribadi yg mulia, jadi jangan disamakan dg manusia lain.

    oleh karena itu, HANYA KARENA NABISAW tidak berbuuat demikian, maka itu bukan alasan dan dasar utk st teori …

    terima k asih.

  3. Ana Setuju dengan komentar saudara Muslim. Ini yg punya blog sepertinya pengen provokasi dan memecah belah persatuan umat Islam deh.

    Saya perhatikan isi2 artikel si Alamandang ini byk membelokkan hukum2 syariat dan hadist Rasulullah SAW.

    Onani jelas2 HARAM hukumnya di bulan puasa. Sudah jelas no more debate, Anak TK juga tau soal itu haram.

    *Di akhir artikel Anda bilang hanya menyebarluaskan artikel milik Abul Jauzza, dan TIDAK MENGERTI APA2 tentang subjek onani di bulan puasa haram/tidak.

    Lah Terus ngapain ente nambah2in bilang kalo onani tidak membatalkan puasa??? Dasar Bahlul bin Goblok bin Oon ente Alamandang!!!

    Ente Alamandang mending kalo gak tau apa 2 soal Islam lebih baik DIAM saja, sperti saran baginda Rasulullah SAW jika tidak tahu mengenai pengetahuan yang ingin disampaikan lebih baik diam.

    Semoga Anda diberi hidayah oleh Allah SWT agar berhenti menulis dan menyebarluaskan artikel2 yang MENYESATKAN dan MEMECAHBELAH umat Islam Indonesia.

    Alamandang,
    :::)) Ana Setuju dengan komentar saudara Muslim. Ini yg punya blog sepertinya pengen provokasi dan memecah belah persatuan umat Islam deh.

    ::: jawab,
    ada buktinya??? atau sdr cuma main tuduh??? silahkan ajukan bukti bhw blogsite ini ingin provokasi dan memecah belah umat. silahkan.

    :::)) Saya perhatikan isi2 artikel si Alamandang ini byk membelokkan hukum2 syariat dan hadist Rasulullah SAW.

    ::: jawab,
    membelokkan hukum dan syariat hadis nabisaw yg mana???? bisa ajukan ke sini??? silahkan …

    kalau sdr kalah bukti dan argumen di thread lain di blogsite ini, maka sebaiknya sdr terima saja kekalahan tsb …. jangan mencak2 tidak karu2an spt ini … sebaiknya sdr diem saja. faham??

    :::)) Onani jelas2 HARAM hukumnya di bulan puasa. Sudah jelas no more debate, Anak TK juga tau soal itu haram.

    ::: jawab,
    dalil yg membatalkan puasa nya, mana??? apakah sdr ingin menyamakan antara onani dg jima??? bukankah hal tsb jelas2 tidak valid dan tidak fair??? bukankah jima dan onani jelas2 berbeda?? dan tidak ada satu pun hadis nabisaw yg menyatakan bhw onani membatalkan puasa.

    :::)) *Di akhir artikel Anda bilang hanya menyebarluaskan artikel milik Abul Jauzza, dan TIDAK MENGERTI APA2 tentang subjek onani di bulan puasa haram / tidak. Lah Terus ngapain ente nambah2in bilang kalo onani tidak membatalkan puasa??? Dasar Bahlul bin Goblok bin Oon ente Alamandang!!!

    ::: jawab,
    jawawb saja pertanyaan2 saya di atas. berani??? kebenaran selalu perkasa setelah diuji berbagai pertanyaan. setuju???

    kalau sdr TIDAK “Bahlul bin Goblok bin Oon” …. maka seharusnya sdr bisa jawab pertanyaan2 saya //// setuju????? hahahahahaaaa …….

    :::)) Ente Alamandang mending kalo gak tau apa 2 soal Islam lebih baik DIAM saja, sperti saran baginda Rasulullah SAW jika tidak tahu mengenai pengetahuan yang ingin disampaikan lebih baik diam. Semoga Anda diberi hidayah oleh Allah SWT agar berhenti menulis dan menyebarluaskan artikel2 yang MENYESATKAN dan MEMECAHBELAH umat Islam Indonesia.

    ::: jawab,
    bagian mana yg saya tidak faham??? bisa ajukan di sini???

    kalau saya tidak faham, lantas mengapa SDR2 TIDAK BISA MENJAWAB PERTANYAAN2 SAYA …. apa susahnya menjawab pertanyaan2 ssaya itu???? atau saya harus ajukan pertanyaan saya itu dalam bahasa planet sekalian??

    oke, saya tidak faham islam …. nah maka dari itu saja ajukan pertanyaan2 kepada sdr … lantas mengapa sdr tidak bisa menjawabnya???? apaan kayak begitu???

    GIMANE SAYA BISSA FAHAM ISLAM, nah sdr2-nya saja tidak bisa menjawab pertanyaan2 saya …..

    MEKERRRRRRRR ……!!!

  4. ini alamandang sebaiknya ditutup aja soalnya kalo dilihat pake hadits,haditsnya dhaif sama logika dah simple banget isinya was was syaiton. apa jangan2 yahudi ente.

    Alamandang,
    hadist dhaif yg mana??? bisa tunjukkan ke sini??

    Ada juga yang melarang onani berdasarkan hadits ini :

    “Ada tujuh golongan yang Allah tidak akan memandang kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan membersihkan mereka (dari dosa-dosa) dan berkata kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk ke dalamnya!’ (di antaranya): … dan orang yang menikahi tangannya (melakukan onani/masturbasi) (H.R. Ibnu Bisyran)

    Hadits di atas adalah hadits dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Abdullah bin Lahi’ah dan Abdurrahman bin Ziyad bin An’um Al-Ifriqi, keduanya dha’if (lemah) hafalannya. Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqolani telah menjelaskan hal ini dalam At-Talkhish Al-Habir Hadits no. 1666. Demikian pula Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil no. 2401 serta As-Silsilah Adh-Dha’ifah no. 319.

    coba silahkan baca artikel ini, yg meng info kan bhw hukum onani itu bermacam2 … jadi tidak MUTLAK HARAM: https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-onani-menurut-islam

    http://wwwalmahabbah.blogspot.co.id/p/hukum-onani-dalam-syariat-islam-dan.html

    https://rumaysho.com/2052-hukum-onani-masturbasi.html

    https://seteteshidayah.wordpress.com/2013/01/16/onani-dan-masturbasi-apakah-boleh/

    makasih.

  5. Onani Tidak Membatalkan Puasa
    ……………………………

    Tidak lama lagi bulan ramadhan akan menjelang tiba dan sedikit pembahasan dari saya mengenai sesuatu permasalahan yang sering terjadi khilaf diantara para ulama.Yaitu permasalahan onani disiang bulan ramadhan tatkala puasa. Adapun jumhur ulama, diantaranya syaikh Muhammad bin Shalih al utsaimin mengatakan bahwasanya onani adalah sesuatu pembatal puasa.

    Namun setelah kami telaah kembali bahwasanya onani tidaklah membatalkan puasa. Karena tidak adanya dalil shorih yg mengatakan hal tersebut. Tidak ada satu ayatpun dan hadits rasul yg menyatakan oanani membatalkan puasa. Namun perlu diketahui bahwasanya onani tetaplah haram dan mengundang dosa namun dia bukanlah pembatal puasa.Sebagaimana mencuri, mencuri adalah perkara haram dan mengundang dosa akan tetapi jika dilakukan disiang hari ramadhan tatkala puasa dia tidaklah membatalkan puasa seseorang. Tidak ada ulama manapun yang menyatakan bahwasanya mencuri adalah pembatal puasa, dengan beralasan seseorang melakukan keharaman tatkala puasa pada siang ramadhan. Maka dari itu telah datang suatu riwayat dari salaf

    حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، عَنْ حَبِيبٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ هَرِمٍ، قَالَ: سُئِلَ جَابِرُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ رَجُلٍ نَظَرَ إلَى امْرَأَتِهِ فِي رَمَضَانَ فَأَمْنَى مِنْ شَهْوَتِهَا هَلْ يُفْطِرُ؟ قَالَ: لَا وَيُتِمُّ صَوْمَهُ

    Telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Haaruun, dari Habiib, dari ‘Amru bin Harim, ia berkata : Jaabir bin Zaid pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang memandang istrinya di bulan Ramadhaan, lalu ia keluar mani akibat syahwatnya tersebut, apakah batal puasanya ?”.
    Ia berkata : “Tidak, hendaknya ia sempurnakan puasanya”

    [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dengan sanad hasan, Syaikh Al-Albani berkata dalam silsilah as-shahihah Isnadnya jayyid]

    Dan inilah pendapatnya syaikh al albani dalam kitabnya tamamul minnah dalam mengomentari kitab fiqh sunnah, syaikh Al Albani berkata dalam kitabnya:

    قوله: “الاستمناء إخراج المني سواء أكان سببه تقبيل الرجل لزوجته أو ضمها إليه أو كان باليد فهذا يبطل الصوم ويوجب القضاء”.

    قلت: لا دليل على الإبطال بذلك وإلحاقه بالجماع غير ظاهر ولذلك قال الصنعاني “الأظهر أنه لا قضاء ولا كفارة إلا على من جامع وإلحاق غير المجامع به بعيد”.

    وإليه مال الشوكاني وهو مذهب ابن حزم فانظر “المحلى” 6 / 175 – 177 و205

    “Perkataannya –syaikh sayyid sabiq- : adalah onani (mengeluarkan mani) sama saja baik sebabnya dikarenakan seorang lelaki mencium istrinya atau memuluknya ataupun dengan tangan, maka ini membatalkan puasa dan wajib baginya untuk mengqadha puasa”.

    Aku berkata -syaikh al albany- : tidak ada dalil atas batalnya puasa karena onani dan menghubungkannya dengan jima’ tidaklah dzahir. Maka dari itu, berkata Ash Shana’ani rahimahullah: Yang lebih jelas adalah bahwasanya istimna tidak perlu qadha ataupun kaffarah kecuali orang yang berjima’ dan menyambung-nyambungkan orang yang tidak jima’ dengan orang yang jima’ adalah sesuatu yang sangat jauh untuk disamakan”

    Maka dari itu Asy Syaukani condong kepada pendapat ini dan inilah pendapat Ibnu Hazm, lihat Al Muhalla 6/175-177 dan 205” Tamam Al Minnah 408

    >>>>>>>>

    Adapun ulama yang mengatakan bahwasanya onani adalah pembatal puasa, dikarenakan mereka mengqiyaskan onani dengan jima dalam hal ladzzah / syahwat (keenakannya) dan dua-duanya sama-sama mengeluarkan mani.

    Namun qiyas ini adalah qiyas faasid (rusak). Dikarenakan mengqiyaskan onani dengan jima dalam perkara laddzah (enak) tentulah berbeda. Dikarenakan enaknya seseorang yang melakuka onani dengan tangannya berbeda dengan enaknya seseorang yang berjima’ dengan istrinya. Jelas dan tentulah lebih enak dilakukan dengan jima untuk mengeluarkan maninya.

    Adapun mengqiyaskan onani dengan jima bahwasanya dua-duanya adalah sama-sama mengeluarkan mani. Lantas bagaimana jika seseorang jima’ dengan istrinya namun tidak mengelkuarkan mani? jika menurut qiyas seperti ini, maka jelaslah jika jima’ jika tidak mengeluarkan mani adalah sesuatu yang tidak membatalkan puasa.

    Maka dari penjelasan diatas, maka onani tidak membatalkan puasa. Karena jima dengan istri baik dia mengeluarkan mani maupun tidak itu adalah pembatal puasa dan wajib membayar kaffarat.

    Begitupula mereka berdalil untuk menyatakan bahwasanya onani adalah pembatal puasa dengan mengatakan onani adalah salah satu bentuk bentuk syahwat. Dan syahwat termasuk pembatal puasa dengan dalil:

    يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى

    “Orang yang berpuasa itu meninggalkan makan, minum dan syahwat karena-Ku.” (HR. Ahmad, 2: 393, sanad shahih)atau (HR. Bukhari no. 7492)

    Onani dan mengeluarkan mani dengan paksa termasuk bentuk syahwat. Mengeluarkan mani termasuk syahwat

    Maka kami menjawab sanggahan mereka dengan mengatakan:

    Dalil yang anda kemukakan, kurang tepat. Jika anda mengatakan onani adalah bentuk dari syahwat dan menyatakannya bahwasanya ia adalah pembatal puasa. Namun bagaimana anda menyikapi dengan bermesra mesraan dan bercumbu di bulan ramadhan? Jelas ini adalah bentuk dari syahwat. Kenapa anda tidak menyatakannya sebagai pembatal puasa?

    Lihat lah Rasul bercumbu dan bermesraan dengan istrinya dibulan ramadhan.

    حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ: عَنْ شُعْبَةَ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الْأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: ” كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ ”

    Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, ia berkata : Dari Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Ibraahiim, dari Al-Aswad, dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bermesraan (dengan istrinya) ketika sedang berpuasa. Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kuat menahan keinginannya (hawa nafsunya) di antara kalian” HR Bukhari

    Bukankah mencium dan bercumbu adalah bagian dari syahwat?

    Dan diantara dalil yang mengatakan bahwasanya onani tidak membatalkan puasa adalah

    قول عائشة رضي الله عنها لمن سألها : ما يحل للرجل من امرأته صائما ؟ قالت : ” كل شئ إلا الجماع
    أخرجه عبد الرزاق في ” مصنفه ” ( 4 / 190 / 8439 ) بسند صحيح كما قال الحافظ في ” الفتح

    Perkataan aisyah Radhiyallahu anha untuk seseorang yang bertanya kepadanya: Apa yang diperbolehkan untuk lelaki dari istrinya tatkala puasa? maka Aisyah berkata: Semuanya boleh kecuali jima'” Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam mushannafnya (4/190/8439) dengan sanad yang shohih sebagaimana yang dikatakan oleh al hafidz Ibnu Hajar dalam fathul baari.

    Dan ketahuilah, bukan berarti onani tidak membatalkan puasa berarti ia tidak termasuk perbuatan berdosa. Tidak. Akan tetapi onani tetaplah haram dan dosa akan tetapi tidak membatalkan puasa. Seperti berbohong ataupun berdusta, ia adalah perbuatan yang haram namun bukanlah pembatal puasa.

    Allahu a’lam bis showaab.

    Penulis: Muhammad Abdurrahman Al Amiry

    Artikel: alamiry.net (Kajian Al Amiry)

    Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.

    sumber,
    https://www.alamiry.net/2013/06/onani-tidak-membatalkan-puasa_22.html?m=1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s