Indonesia Sejati Yang Menyedihkan

alamandang-frans-umum

Geachte Zev,

Langsung aja… Saya juga ingin berbagi pengalaman, tepatnya keluh kesah (yang aneh). Saya sudah lama tinggal di Belanda, di kota kecil / kota pelajar Leiden yang tenang, sejak 1998. Istri dan anak menyusul tahun 2001.

Kami tinggal di rumah kecil saja. Kemana-mana pakai sepeda. Saya kerja di universitas, tapi gaji tidak begitu besar juga. Istri juga kerja di sebuah restoran, gajinya juga tak besar. Tapi cukuplah buat kami untuk hidup bulan ke bulan. Dan menabung sedikit buat hari tua. Juga ada pensiun sedikit. Kami senang-senang saja, sebab ada jaminan kesehatan (disubsidi lagi oleh pemerintah Belanda); anak juga hampir dibilang gratis masuk sekolah. Kami enjoy-enjoy saja: toh bukan kami sendiri yang hidup dengan cukup-cukupan begitu. Saya sering lihat orang-orang bule, terutama mahasiswa, dengan sisa 20 atau 50 euro di rekeningnya. Malah sering juga minus. Tak ada masalah. Anak-anak SMA atau mahasiswa biasa kerja part-time di restoran, ngantar koran, dan macam-macam lagi. Anak professor saya mengantar koran. Mereka sudah biasa hidup mandiri. Tak ada yg mengetawain: “Eh…ayah professor kok ngantar koran? Malu dong”. Tak ada yg memandang hina mereka yg naik sepeda atau nganggur kurang uang.

Ya, enjoynya di situ: senang saja lihat gadis cantik bahenol pake sepeda omprengan kriuk-kriuk; lihat rektor saya (Rektor Univ. Leiden) jinjing tas sendiri jalan kaki atau pake sepeda ke kantor; lihat orang-orang berperahu hilir mudik di musim panas; lihat orang-orang mabok di taman dengan minta uang sesen-dua dengan sopan: “Mag ik heb een euro Meneer. Ik ben honger”! Kalau tidak diberi, tetap bilang “Als u blijf meneer!”; lihat cewek-cewek putih bule…pacaran sama orang-orang hitam seperti pantat kuali. Ya…senangnya di situ: kalau ketemu orang hampir selalu bilang “goede morgen”, “Goede Middag”; kalau masuk ke gedung, orang di depan kita menahan pintu untuk kita, dan selalu terdengar ucapan “mersi” atau “bedank” kepada kita; kalau berdiri di pinggi jalan dengan zebra cross, otomatis mobil-mobil berhenti sambil sopirnya memberi tanda silakan lewat dari belakang kemudi; kalau ngurus surat di kantor Balaikota tunggu 10-15 menit, dan pegawainya tak sok kuasa.

Ya…enjoynya di situ aja: bukan karena uang banyak; kalau hari agak panas pergi saja ke taman sambil membentangkan tikar atau kain, minum, beri makan remah-remah roti kepada burung-burung yang mendekat. Ya..enjoynya di situ: anak saya bergurau dengan polisi, minta dicobain pakai borgol. Anak kecil 5 tahun itu berani saja nanya orang besar atau orang tua di kereta: ” Hoe oud bent u Meneer? Orang tua jawab seperti dengan temannya saja.

Pokoknya enjoy-nya sulit juga dijelaskan.

Nah masalah timbul kalau kami pulang ke Indonesia, ke Sumatra sana. Kami selalu pulang paling tidak sekali setahun. Kami selalu rindu pulang. Dari Belandanya serasa ingin mati mau pulang; sebulan sebelum berangkat kopernya sudah penuh. Sampai di kampung yang ditanya orang-orang: kapan beli mobil baru? Atau mau pinjam uang buat modal usaha. Wah…hebat! Banyak duitnya. Istri saya biasanya pulang dengan gaya biasa saja (seperti biasa di Belanda). Teman-temanya tanya: sudah jauh merantau gitu kok nggak mampu beli emas? Nggak ada yg kuning di badanmu?

Kami bingung. Sepertinya yang ada dalam pikiran orang-orang kampung kami uang saja. Apa ya yang terjadi dengan masyarakat kita kini? Orang memandang hormat orang lain dengan melihat materi saja. Uang.. .uang… uang.. itu saja ukuran sukses.

Juga di mana-mana: di jalan, di pelabuhan, di kantor-kantor. Kami merasakan sesuatu yang aneh: suatu aroma kekerasan, kasar, tidak jujur, tipu muslihat, kekuasaan yang kuat menindas yang lemah. Semua orang seperti memburu sesuatu dan diburu sesuatu, tak sabar, … pokoknya sulit mencari titik-titik ketulusan, kesederhanaan, tampil apa adanya.

Anak saya lebih bingung lagi: ia pergi ke sekolah sepupunya, lihat gurunya marah-marah. Ia bilang: Ik wil niet gaat naar school hier”. Ia merasakan pengalaman yang lain sama sekali dengan di sekolahnya di Leiden. Sekali ia berteriak marah lihat orang membunuh burung dengan senapan angin, membiarkan bangkai burung itu tergeletak. Itu dilakukan demi kepuasan saja. Lalu kami merasa dikepung oleh sesuatu yang tidak tampak tapi mengerikan. Cepat-cepat kami ingin menghindar darinya.

Biasanya setelah tiga-empat minggu di Indonesia kami kembali ke Belanda. Sampai di Belanda ada rasa lega: kami melihat lagi gadis-gadis cantik dengan sepeda kriuk-kriuk, melihat lagi penghormatan orang-orang kaya kepada pejalan kaki atau pengendara sepeda seperti kami. Tapi setiap tahun kami ingin pulang lagi melihat kampung halaman di Sumatra sana. Tapi yang kami temukan hal yang sama lagi, malah terasa makin parah.

Suatu saat kami ingin pulang. Tapi saya kuatir dengan anak saya. Kami sendiri mungkin dapat berdamai. Mungkin ini sudah nasib kami atau orang-orang Indonesia lain yang punya jalan hidup seperti kami.

Sumber – http://niadilova.blogdetik.com/index.php/archives/200#comment-2616

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s