Definisi Ulama Adalah

alamandang-irawan

Apakah mudah bagi siapa pun untuk menjadi atau dikatakan sebagai ulama? Dan apakah yang harus dilakukan oleh seseorang agar dapat menjadi ulama?

Seseorang adalah ulama, jika dia mempunyai dua properti, yaitu kesalehan dan tausiyah.

Kesalehan.

Seorang ulama harus mempunyai kesalehan. Dan kesalehan ini mempunyai dua bentuk:

  1. Ahli ibadah. Seorang ulama haruslah seorang yang ahli ibadah: rajin shalatnya, rajin mengajinya, rajin khatam Alqurannya, rajin puasanya, rajin zikirnya, rajin salawatnya, dst.
  2. Menjauhi kesia-siaan. Seorang ulama pasti akan menghindari kesia-siaan, seperti berbicara ngalor ngidul berpanjang-panjang, begadang, tampil dengan celana pendek, menjauhi maksiat, tertawa terbahak-bahak dengan suara yang mengguntur, dan lain lain. Seorang ulama akan lebih memilih pulang ke rumah kalau urusannya sudah selesai. Dan kalau malam, seorang ulama hanya mempunyai dua pilihan: kalau tidak tidur, maka dia akan memperbanyak ibadah seperti shalat, mengaji atau pun berzikir. Di dalam hal penampilan, selain dia selalu menutup auratnya dengan rapi, ulama pun pasti akan selalu mengenakan busana yang bersih, dan tidak lupa mengenakan wewangian. Seorang ulama biasanya akan lebih menyenangi busana yang berwarna putih, dan busana yang tidak bercorak ramai penuh gaya.

Tausiyah.

Seorang ulama ketika memberi tausiyah (ceramah agama mau pun khotbah), maka point tausiyahnya hanya berkisar pada dua hal:

  1. Sang ulama hanya mengajarkan, menganjurkan dan mempromosikan kesalehan kepada umat. Dan tentunya kesalehan itu sangat luas cakupannya, dari shalat, puasa, naik haji, berbakti kepada kedua orang tua, menghormati tetangga, toleransi beragama, makanan dan usaha yang halal, nilai kepahlawanan dan cinta Negeri, hal berumah tangga, dan lain lain, sampai kepada hal-hal menuntut ilmu, perlakuan terhadap hewan, pemahaman yang benar soal jin, perdukunan, dan masih banyak lagi. Ibadah, akidah dan syariah selalu menjadi tanggungjawab seorang ulama untuk disampaikan kepada umat karena ketiga hal tersebut mengakomodasi seluruh kesalehan.
  2. Seorang ulama pasti akan selalu menekankan cinta Rasul Muhammad Saw. Seorang ulama selalu menekankan bahwa Rasul Muhammad Saw (dan juga Rasul lain sebelum baginda Muhammad Saw) merupakan tokoh panutan dan junjungan umat sepanjang masa.

Ulama secara perkata berasal dari kata ‘alama’ yang dari kata tersebut turun kata ‘ilmu’. Jadi, ulama berarti ‘paling tahu’ atau ‘lebih tahu’. Ulama terdiri dari ustadz, mubaligh, dai dan juga mufti. Ustadz berarti seorang guru, guru pengajar Islam. Mubaligh berarti penyampai, yaitu penyampai pesan Illahi, berasal dari kata ‘balagha’ yang artinya sampai. Dai, berarti seorang penyeru yaitu menyeru umat ke jalan Tuhan; berasal dari akar kata yang turun juga kata ‘doa’: menyeru Tuhan. Kemudian mufti, yang berarti ‘pemberi fatwa’; fatwa sendiri berarti nasihat.

Pemikir

Ulama harus dibedakan dari pemikir, di dalam hal ini pemikir keislaman, sekali pun. Sekilas seorang pemikir keislaman tampak seolah dia adalah seorang ulama, namun sesungguhnya dia bukanlah seorang ulama dikarenakan orang itu tidak mempunyai dua properti yang harus dimiliki seorang ulama yaitu kesalehan dan tausiyah.

Ulama pastilah selalu benar (dan tidak pernah salah), karena dia hanya menyampaikan apa yang sudah dikunyah para pendahulunya. Harus lah dipahami bahwa seorang ulama biar bagaimana pun adalah manusia juga yang pasti akan berbuat salah. Oleh karena itu pasti ulama bisa salah. Namun ketika seorang guru SD mengajar di depan kelas bahwa 1 + 1 = 2, apakah sang guru bisa salah di depan kelas? Dapat dikatakan bahwa guru SD itu tidak pernah salah. ‘Tidak pernah salah’ adalah ketika ia berada di depan kelas ketika mengajar 1 + 1 = 2. Maka demikian juga lah halnya dengan seorang ulama.

Kebalikannya, seorang pemikir bisa saja salah. Pada dasarnya, seorang pemikir akan memikirkan atau memperjuangkan banyak hal. Itu artinya seorang pemikir bisa saja salah, mengingat point / muatan ide yang dikandung seorang pemikir dapat dipastikan hal yang baru karena selalu tergantung pada perkembangan jaman. Tidak lah demikian halnya dengan ulama, karena seluruh ucapannya tidak pernah merupakan hal baru, melainkan sudah menjadi tema ulangan yang sudah dibawakan oleh para ulama pendahulu.

Kalau seseorang sudah dapat dikatakan ulama, maka kemudian umat harus dapat menempatkan ulama pada tempatnya, dan menempatkan pemikir pada tempatnya pula, jangan terbalik.

Tempat ulama adalah untuk mengisi atau menjadi (1) khatib shalat Jumat dan (2) khatib shalat idul fitri mau pun (3) khatib idul adha. Dan juga menjadi (4) khatib pada acara pernikahan dan (5) khotbah arafah. Sementara seorang pemikir dapat diundang hanya untuk menjadi penceramah pada shalat tarawih, mau pun Majelis taklim biasa.

Ulama mempunyai medan yang fleksibel, yaitu bahwa dia juga dapat mengisi acara yang biasa diisi oleh pemikir, yaitu menjadi penceramah pada shalat tarawih, menjadi ustad pengisi ceramah Majelis taklim, dan lain lain. Namun di lain pihak, posisi pemikir tidak dapat mengisi acara yang harus diisi para ulama, yaitu menjadi khotib shalat Jumat, shalat idul fitri / idul adha, memberi khotbah nikah, dan khotbah arafah. Dengan demikian, seolah jabatan ulama adalah lebih tinggi dari jabatan pemikir. Memang demikian adanya.

Seorang ulama pastilah seorang pria dewasa dan (biasanya) sudah menikah, sementara seorang pemikir bisa jadi seorang wanita, apalagi bisa juga seorang anak remaja yang masih sangat muda, dan terkadang belum menikah.

Guru spiritual?

Islam tidak pernah mengajarkan adanya guru spiritual, mau pun pembimbing spiritual, semacam itu.  Islam hanya mengajarkan adanya ulama, ustadz, dai mau pun mubaligh. Dan keempat hal tersebut adalah posisi publik, artinya tokoh tersebut mengajari umat secara publik, tidak secara privat. Sementara, guru spiritual adalah tokoh yang mengajarkan Islam kepada individu-individu tertentu secara privat. Islam tidak mengenal teknik pengajaran Islam dengan cara privat ini. Tentunya harus dibedakan kalau peserta didiknya adalah anak-anak kecil. Kalau anak kecil, dapat dibenarkan kalau pengajar Islamnya diselenggarakan secara privat, itu tidak mengapa.

Seluruh ulama sepakat atas hirarki pengajaran Islam, demikian:

(1) – Nabi.

(2) – Sahabat.

(3) – Tabi’in.

(4) – Tabi’ut – Tabi’in.

(5) – Ulama.

(6) – Ulama.

(7) – Ulama dst sampai hari Kiamat.

Di dalam hirarki di atas tidak termaktub posisi guru spiritual sekali pun. Itu menandakan bahwa Islam tidak mengenal guru spiritual mau pun yang sejenisnya.

Guru spiritual terkesan seolah, bahwa antara dirinya dengan peserta didiknya terbentuk hubungan yang amat intens dan pribadi, serta permanen. Hal ini amat tidak diinginkan di dalam Islam. Oleh karena itu guru spiritual tidak dikenal di dalam Islam. Sementara untuk ulama saja, tidak dikenal bentuk hubungan seperti itu – karena pasti hal itu tidak akan terjadi. Bentuk hubungan yang terjadi antara seorang ulama (atau ustadz, juga) dengan peserta didiknya (di dalam hal ini umat, jemaah) pastilah tidak intens, apalagi pribadi dan permanen.

Karena Islam tidak mengenal dan mengajarkan adanya guru spiritual, berarti Muslim mana pun harus menghindari pemanfaatan jasa guru spiritual ini. Dan di luar itu, posisi guru spiritual adalah bathil di mata Illahi.

Harap diketahui, bahwa yang menjadi ‘benda termahal’ di dalam hal ke-ulama-an mau pun menjadi guru spiritual, tentunya adalah pengetahuan. Sekali lagi: pengetahuan. Jadi mengapa harus sampai terjadi suatu hubungan yang intens, pribadi dan permanen antara seorang jemaah dengan gurunya (di dalam hal ini ulama mau pun guru spiritual)? Kalau yang dipentingkan hanya pengetahuan, maka seharusnya bentuk hubungan yang intens dan pribadi tidak perlu terbentuk. Maka dari itu, sudah final, bahwa guru spiritual tidak dikenal di dalam Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s