Adab Muhammad Saw Di Hari Idul Fitri.

alamandang-yitno

Seorang Muslim hendaknya memperhatikan adab berhari raya. Rasulullah SAW telah memberi contoh dan teladan tentang adab berhari raya. Ada banyak hal yang harus diperhatikan dari Rasulullah SAW kala merayakan hari raya Idul Fitri.

Pertama.

Rasulullah menganjurkan bagi kaum Muslimin untuk terus mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid, sejak matahari terbenam di malam Idul Fitri, hingga imam shalat Idul Fitri naik mimbar. Ini menjadi sunnah sebagai tanda kemenangan kita yang kembali fitri.

Kedua.

Rasulullah selalu mandi sebelum shalat Idul Fitri. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, bahwa ia mandi pada hari raya Idul Fitri, sebelum berangkat ke tempat shalat. (HR Malik dalam kitab al-Muwaththa).

Ketiga.

Setelah mandi, Rasulullah SAW kemudian memakai wewangian saat akan shalat Idul Fitri. Hal ini dimaksudkan agar saat berkumpul bersama keluarga dan sesama kaum Muslimin, tampak harum dan bersih.

Keempat.

Memakai pakaian baru. Jika seseorang mampu, disunahkan memakai pakaian baru pada hari raya Idul Fitri atau pakaian yang paling baru (bagus) di antara pakaian yang ada. Hal itu menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dan menunjukkan kegembiraan pada hari raya. Ibnu Umar RA memakai pakaian terbaiknya pada kedua hari raya. (HR Al-Baihaki).

Kelima.

Mengeluarkan zakat fitrah sebelum melaksanakan shalat. Sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, seorang Muslim hendaknya mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat untuk menggembirakan fakir-miskin dan orang yang membutuhkan pada hari Ied tersebut. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk mengeluarkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk shalat (HR Bukhari-Muslim).

Keenam.

Memakan kurma sebelum berangkat dari rumah pada hari raya Idul Fitri. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ath-Thabrani, Rasulullah SAW sebelum berangkat shalat pada hari raya Idul Fitri memakan kurma terlebih dahulu. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi SAW tak berangkat shalat Idul Fitri kecuali setelah makan, sedangkan beliau tidak makan pada hari raya Idul Adha, kecuali setelah pulang dan makan dari hewan kurbannya (HR at-Tirmidzi).

Ketujuh.

Bersegera menuju tempat shalat. Pada hari raya Idul Fitri, hendaknya setiap Muslim bergegas menuju tempat dilakukannya shalat Id.

Kedelapan.

Wanita diminta untuk hadir ke tempat (lapangan) dilaksanakannya shalat Id. Sehingga, mereka dapat menyaksikan dan mendapat kemuliaan hari raya serta merasakan kebahagiaan bersama orang lain. Bagi wanita yang haid tetap dianjurkan hadir dengan memisahkan diri dari tempat shalat. Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim, Nabi SAW memerintahkan gadis-gadis pingitan, anak-anak, serta wanita haid untuk keluar, namun wanita haid yang menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Mukminin, hendaklah mereka memisahkan diri dari tempat shalat.

Kesembilan.

Anak-anak juga dianjurkan hadir di tempat (lapangan) dilaksanakannya shalat Id, sehingga mereka ikut merasakan kebahagiaan hari raya, bersenang-senang dengan pakaian baru, dan menyaksikan jamaah kaum Muslimin walaupun mereka tidak shalat karena masih kecil. Ibnu Abbas RA berkata, ‘’Aku keluar bersama Nabi SAW pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, kemudian beliau shalat dan berkhutbah…’’ (HR Bukhari-Muslim). Ibnu Abbas kala itu masih anak kecil (Mod).

Kesepuluh.

Keluar untuk shalat dengan berjalan kaki. Keluar berjalan kaki untuk shalat termasuk sunah. Sebagaimana Nabi SAW keluar pada dua hari raya dengan berjalan kaki dan pulang berjalan kaki melalui jalan lain. (HR Ibnu Majah). Tentu selama tak memberatkan baik karena uzur atau halangan lainnya.

Kesebelas.

Disunahkan bertasbih, bertahmid, dan tahlil mulai dari keluar rumah sampai ke tempat shalat. Hal ini untuk menunjukkan syi’ar Islam.

Keduabelas.

Bersalaman dan saling mengucapkan kata-kata yang baik, misalnya selamat semoga kebahagiaan bersama kita di hari raya, atau, “Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian” (taqabbalallah minna wa minkum).

Ketigabelas.

Menjalin silaturahim wajib pada setiap waktu. Namun, semakin dianjurkan pada saat hari raya Idul Fitri.

Keempatbelas.

Saling berbagi dan memberi sebagai bentuk kasih sayang kita pada sesama. Sudah menjadi tradisi, pada hari raya setiap kita berbagi dan memberi makanan dan hidangan pada tetangga atau orang lain sebagai bentuk kegembiraan dan kepedulian pada sesama.

Itulah beberapa tuntunan yang bisa dilakukan pada hari Raya sebagai upaya penemuan kembali fitrah kita sebagaimana Rasulullah contohkan. Semoga kita dapat mencontohnya dan mendapatkan kesucian di hari yang fitri ini.

Hatta Rajasa | Menko Perekonomian RI | Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN)

Sumber alamandang – http://ramadan.okezone.com/read/2012/08/19/330/679632/redirect

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s