Month: November 2013

Doa Kita Untuk Siapa

alamandang-frans

Sebagai mahluk yang mengenal Tuhan tentunya kita akan banyak berharap pada doa-doa yang kita panjatkan kepada Allah Swt. Dan di dalam Islam doa itu sendiri sebenarnya  merupakan salah satu ibadah, atau juga bagian dari ibadah. Di dalam suatu Alhadis disebutkan bahwa Allah Swt membenci dia yang tidak pernah berdoa kepadaNya: tandanya orang itu sombong terhadap Allah Swt. Dan ada juga Alhadis yang menjelaskan bahwa doa adalah senjata umat Muhammad Saw.

Doa secara bahasa berasal dari kata yang berarti menyeru atau berseru. Jadi doa di dalam Islam sebenarnya berarti seruan seorang umat kepada Allah Swt. Dari akar kata doa ini turun juga kata dakwah (atau da’wah), yang berarti seorang ulama menyeru umatnya untuk menuju jalan Allah Swt. Orang yang menyeru umat disebut dengan da’i yang juga berasal dari akar kata yang sama.

Dengan berdoa maka kita akan mendapat pahala, karena dengan berdoa kita telah beribadah, dan dengan beribadah kita menghambakan diri di hadhirat Allah Swt. Untuk individu-individu yang salih, tentunya doa mereka selalu di-ijabah oleh Allah Swt. Di-ijabah artinya dijawab, dan atau dipenuhi oleh Allah Swt. Dan bagi umat kebanyakan, tentunya mereka berusaha sebaik mungkin supaya doanya di-ijabah oleh Allah Swt, yang pasti usahanya adalah dengan memperbanyak ibadah yang lain.

Islam merupakan agama yang sempurna, maka sempurna jugalah seluruh ajarannya. Termasuk di dalam hal doa ini Islam telah memberikan panduan yang kukuh untuk seluruh umat Nabi Muhammad Saw. Ajaran mengenai doa ini berangkat dari pertanyaan: untuk siapakah kita berdoa?

Doa secara garis besar terbagi ke dalam dua golongan yaitu doa untuk kebaikan (doa berkah) dan doa untuk keburukan atau yang biasa disebut dengan kutukan.

Di dalam hal doa berkah, untuk siapakah umat Muslim memanjatkan doa berkah mereka? Bagaimanakah ajaran dan tuntunan Muhammad Saw mengenai untuk siapa saja doa berkah ini ditujukan?

Pertama. Doa berkah adalah untuk sesama Muslim.

Setiap Muslim berhak mendapatkan doa berkah kita, baik Muslim yang jauh mau pun Muslim yang dekat, Muslim yang masih hidup mau pun Muslim yang sudah wafat (mendoakan arwah mereka), Muslim yang hidup di masa lalu, di masa sekarang mau pun Muslim yang akan hidup di masa mendatang. Dan kita sebagai Muslim pun wajib mendoakan mereka, selama mereka adalah Muslim. Muslim artinya adalah manusia-manusia yang tetap di dalam dua kalimat syahadat.

Pun, Muslim yang durjana, Muslim yang banyak berbuat dosa, Muslim yang masih di dalam kesesatan, tetap berhak mendapatkan doa kita, dan kita wajib mendoakan mereka, mendoakan kebaikan atas mereka, mendoakan supaya ampunan Allah Swt melimpah atas mereka, doa semoga hidayah Allah Swt lebih dulu turun atas mereka ….. Seperti apapun sesatnya mereka, selama mereka adalah Muslim yang tetap di dalam dua kalimat syahadat, tetap kita wajib mendoakan mereka.

Kalau ada seorang Muslim yang berbuat aniaya kepada kita sehingga kita sengsara dan rusak binasa karena kekejian perbuatannya, adalah haram bagi kita untuk mendoakan mereka binasa (yaitu mendoakan kutukan). Kita tidak pernah diutus ke Dunia ini untuk mendoakan kebinasaan atas kaum Muslim walau pun Muslim tersebut telah berbuat aniaya terhadap kita – atau kepada siapa pun. Kebalikannya, ketika kita menghadapi kekejian mereka dan kita sengsara karenanya, maka hendaklah kita:

  1. Bersabar dan bertawakal kepada Allah Swt.
  2. Berdoa semoga Allah Swt melindungi kita dari kejahatan-kejahatan mereka.
  3. Kemudian berdoa semoga Allah Swt mengampuni Muslim-Muslim yang aniaya tersebut,
  4. Dan sekaligus berdoa semoga Allah Swt mencurahkan hidayahNya atas Muslim-Muslim aniaya tersebut sehingga mereka menjadi Muslim yang saleh dan pilihan. Dan sehingga pada akhirnya terjalinlah persaudaraan antara kita dengan mereka sebagai sesama Muslim umat dan pengikut Muhammad Saw.

Muhammad Saw pada saat hendak berdakwah ke Thaif mendapatkan perlakuan yang amat menyengsarakan dari kaum kafir, lemparan batu, caci maki dan hujatan yang keji. Pada saat itulah Malaikat Jibril as turun kepada Muhammad Saw dan berkata bahwa kalau Muhammad Saw menghendaki Jibril as akan mengangkat sebuah bukit dan menimpakannya atas kaum kufar yang ingkar tersebut. Muhammad Saw menjawab Jibril as dengan penuh kelembutan bahwa Muhammad Saw tidaklah diutus untuk mengutuki dan membinasakan manusia, melainkan untuk menebarkan rahmat.

Kedua. Doa berkah adalah untuk para Malaikat.

Bolehkah kita sebagai Muslim memanjatkan doa berkah untuk para Malaikat? Tentu saja boleh, dan lebih dari itu memanjatkan doa berkah untuk para Malaikat juga akan mendatangkan pahala bagi kita.

Mengapa Malaikat harus didoakan berkah? Bukankah Malaikat sudah pasti terbebas dari kebinasaan? Dan bukankah para Malaikat itu sudah pasti mendapat rejeki, berkah dan ridha dari Allah Swt? Pertama, mendoakan para Malaikat merupakan salah satu ibadah yang akan mendatangkan pahala bagi kita. Kedua, dengan memanjatkan doa untuk para Malaikat, kita telah menunjukkan karib dan rahmah kita kepada para Malaikat. Kita harus akui bahwa sebenarnya para Malaikat pun juga selalu mendoakan kebaikan untuk kita, tidak ada satu hari pun berlalu di kalangan para Malaikat, kecuali mereka melewatinya dengan selalu memanjatkan doa kepada Allah Swt untuk kebaikan kita semua, kaum Muslim. Dan sudah sepantasnya umat Muslim berbalik turut mendoakan mereka para Malaikat, itulah yang indah di mata Allah Swt.

Saat seorang Muslim mendoakan berkah untuk para Malaikat, pastilah para Malaikat akan membalas pula doa kita itu dengan mendoakan kebaikan atas kita. Artinya nanti para Malaikat akan berdoa kepada Allah Swt supaya kita selalu mendapatkan karunia dan berkah dari Allah Swt. Dan bukankah doa para Malaikat akan selalu di-ijabah Allah Swt?

Ketiga. Doa berkah adalah untuk anak-anak.

Saat berdoa, jangan kita lupa mendoakan keberkahan untuk anak-anak manusia yaitu anak-anak yang masih di bawah umur. Yang harus diperhatikan di sini adalah, anak-anak yang berhak atas doa berkah kita adalah seluruh anak-anak di Dunia ini, walau pun anak-anak itu merupakan anak-anak dari kalangan umat non-Muslim. Jadi kalau ada kanak-kanak nonmuslim yang masih di bawah umur, sangat baik sekali kalau kita mendoakan mereka supaya kelak mendapat hidayah Allah Swt untuk menerima Islam.

Anak-anak adalah manusia-manusia muda yang masih netral, belum dipandang beragama satu pun. Oleh karena itu adalah hak dan kewajiban kita untuk mendoakan supaya kehidupan mereka kelak dijalani sebagai manusia-manusia Muslim yang saleh yang menjalankan syariah dan risalah Nabi Muhammad Saw. Dan dengan mendoakan mereka tentunya kita akan mendapatkan pahala tersendiri dari Allah Swt.

Keempat. Doa berkah kita adalah untuk benda mati dan mahluk hidup lainnya.

Sebagai manusia yang daif, lemah dan sangat bergantung kepada kemurahan Allah Swt tentunya kita sadar bahwa bukan kita saja yang mengharapkan belas kasihan dari Allah Swt. Benda mati pun juga selalu mengharapkan belas kasih Allah Swt, seperti gunung, angin, awan, air, lembah, planet bumi, matahari, dan lain lain, kesemuanya merupakan mahluk Allah Swt juga yang selalu mengharapkan belas kasih dari Allah Swt. Pun begitu juga, hewan dan pepohonan juga mengharapkan belas kasih dan rahmat dari Allah Swt, karena hanya Allah-lah Yang dapat mencurahkan rahmat dan belaskasihNya kepada seluruh mahluk itu. Kalau tidak ada belaskasih dan rahmat dari Allah Swt tentulah seluruh mahluk itu akan binasa tak berdaya. Maka dari itu mereka pun juga berhak mendapatkan doa berkah kita. Dari pihak kita pun, kalau kita selalu mendoakan keberkahan dan rahmat Allah Swt atas seluruh mahluk lemah itu, pahala Allah Swt yang mulia pasti akan tercurah atas kita karena kita telah berkenan mendoakan kemaslahatan mereka.

Jangan pernah sungkan untuk mendoakan gunung atau bebatuan atau sekawanan burung atau pun juga rengat-rengat yang malang, karena dari mendoakan mereka itu kita akan beroleh pahala dari Allah Swt. Dan kelak di dalam alam ruh seluruh mahluk itu pun akan turut mendoakan kita supaya rahmat dan belaskasih Allah juga tercurah atas kita semua, umat Muhammad Saw.

Kita mengetahui bahwa Allah Swt adalah Maha Pengasih dan Penyayang, dan Allah Swt juga Maha Pemelihara. Tanpa kita mendoakan berkah untuk mahluk-mahluk tersebut tetap Allah Swt selalu merawat – memelihara dan mengasihi seluruh mahlukNya tanpa pembedaan. Yang menjadi penekanan adalah kalau kita mendoakan seluruh mahluk itu, tentulah kita akan memperoleh pahala dari Allah Swt karena sudah berkenan mendoakan mereka.

Doa untuk umat Nonmuslim.

Kepada saudara-saudara kita yang Nonmuslim, Islam mempunyai ajaran yang sangat jelas berkenaan dengan doa ini. Pada dasarnya, ketika seorang manusia menjadi Nonmuslim, maka sebenarnya Allah-lah yang menentukan takdir demikian atas orang tersebut. Jadi hanya karena kehendak Allahlah seseorang menjadi Nonmuslim atau pun menjadi Muslim, bukan karena kehendak mau pun keingingan kita.

Pada segi inilah Islam melarang kaum Muslim untuk mendoakan kebaikan atas mereka – karena nasib mereka seutuhnya berada di tangan Allah Swt.

Pertama, Islam melarang umat Muslim untuk mendoakan kebaikan atas kaum Nonmuslim. Mendoakan kebaikan atas kaum Nonmuslim terbagi dalam dua jenis doa yaitu doa supaya kaum Nonmuslim mendapatkan kebaikan seperti mendapat limpahan rejeki, sukses di dalam berbisnis, sembuh dari penyakit, jauh dari marabahaya dan lain lain. Kemudian jenis doa yang kedua adalah mendoakan supaya kaum Nonmuslim itu mendapat hidayah dari Allah Swt untuk masuk Islam, atau supaya Allah Swt mengampuni seluruh dosa mereka, atau berdoa supaya mereka diperkenankan masuk Surga. Secara bagannya,

Pertama, doa kebaikan untuk Nonmuslim:

  • Mendapat limpahan rejeki,
  • Selalu bahagia.
  • Sukses di dalam bisnis,
  • Sukses di dalam studi,
  • Sembuh dari penyakit, dan lain lain.

Doa jenis pertama ini merupakan doa untuk kemaslahatan hidup di Dunia.

Kedua, doa hidayah – bisa berupa,

  • Semoga mereka masuk Islam,
  • Supaya Allah Swt mengampuni seluruh dosa mereka,
  • Supaya mereka diperkenankan masuk Surga.
  • Supaya Tuhan yang mereka sembah di dalam kekafiran mengampuni dosa mereka.
  • Semoga amal saleh mereka tetap diperkenankan Allah Swt, dan lain lain.

Doa jenis kedua ini merupakan doa yang berhubungan dengan aqidah Islamiyah.

Baik doa jenis pertama (doa untuk kemaslahatan hidup) mau pun doa jenis kedua (doa yang berkaitan dengan aqidah / theologi) adalah terlarang atas seluruh Muslim untuk dipanjatkan kepada umat Nonmuslim. Adalah sudah jelas mereka menolak untuk beriman kepada Allah Swt dan Rasulullah saw, dan sudah jelas mereka menginginkan kebinasaan atas seluruh umat Muslim, maka adalah jauh lebih logis untuk menjelaskan bahwa mendoakan kebaikan atas mereka merupakan suatu kesia-siaan.

Pada dasarnya laknat Allah Swt sudah mutlak atas mereka (dikarenakan kekafiran mereka terhadap Allah Swt dan Rasul Muhammad Saw), maka bukankah itu berarti suatu kelancangan mendoakan kebaikan untuk mereka? Kalau Allah Swt sudah menetapkan laknatNya atas mereka maka berarti tidak ada lagi harapan bagi kita untuk mendoakan kebaikan atas mereka.

Kedua, Islam melarang kaum Muslim mendoakan kutukan kepada Allah Swt atas mereka. Kutukan, adzab mau pun laknat Allah Swt atas mereka seutuhnya merupakan urusan Allah Swt – bukan urusan kaum Muslim. Banyak terdapat ayat di dalam Alquran yang mengajarkan bahwa Muslim dilarang untuk mendoakan kutukan mau pun adzab – dan juga mempercepat azab Allah Swt untuk ditimpakan atas mereka. Allah Swt sudah berkehendak bahwa biarlah mereka mendapatkan kenikmatan Dunia ini selama yang Allah Swt kehendaki – oleh karena itu Muslim dilarang untuk mendoakan kebinasaan atas mereka.

Nasib mereka, nasib baik (kenikmatan, kesehatan, kesejahteraan) mau pun nasib buruk (kutukan, laknat, masuk Neraka dan lain lain) hanya diserahkan kepada tangan dan kehendak Allah Swt semata – dan Muslim dilarang untuk turut campur di dalam urusan Allah Swt.

Daripada Muslim mendoakan laknat, adzab dan kutuk Allah Swt atas mereka – lebih baik Muslim memperkuat iman dan ibadah mereka sebagai Muslim kepada Allah Swt.

Walau pun kaum Nonmuslim tersebut berbuat aniaya terhadap umat Muslim, tetaplah umat Muslim dilarang untuk mendoakan kutukan dan kebinasaan atas mereka. Berarti kalau kaum Nonmuslim menjatuhkan aniaya mereka terhadap umat Muslim itulah saatnya Muslim untuk,

  1. Bersabar dan tawakal kepada Allah Swt – dan berdoa semoga Allah Swt mempertebal iman kaum Muslim di dalam menghadapi aniaya mereka.
  2. Berdoa kepada Allah Swt semoga Allah Swt menjauhkan Muslim dari aniaya mereka.

Dengan demikian di dalam kondisi kaum Nonmuslim menganiaya kaum Muslim, tidak boleh ada doa yang,

  1. Bernada semoga Allah menurunkan hidayah kepada Nonmuslim tersebut supaya mereka tidak lagi aniaya terhadap Muslim, tidak  boleh.
  2. Juga tidak boleh ada doa kaum Muslim supaya Allah Swt mengampuni Nonmuslim itu yang telah menganiaya kaum Muslim, tidak boleh ada.

Muslim hanya diajarkan untuk berdoa supaya sabar, tawakal, berdoa semoga dikuatkan iman, dan berdoa semoga Allah Swt menjauhkan seluruh Muslim dari kejahatan kaum Nonmuslim tersebut.

Singkat kata, terhadap kaum Nonmuslim, Muslim dilarang mendoakan kebaikan mau pun mendoakan kebinasaan (doa kutukan). Urusan kaum Nonmuslim (kaum kafir) seutuhnya adalah urusan Allah Swt, bukan urusan kaum Muslim. Kalau Muslim mendoakan kebaikan / keselamatan atas mereka, maka sesungguhnya kutukan dan laknat Allah Swt atas mereka sudah jelas: adalah lancang untuk mendoakan kebaikan untuk mereka sementara kita sudah jelas bahwa kutukan dan laknat Allah pun sudah jelas akan menimpa mereka. Kebalikannya, kalau Muslim mendoakan kutukan (kebinasaan) atas kaum kafir (Nonmuslim), bukankah Allah Swt sudah menetapkan bahwa biarlah mereka mendapat kenikmatan di Dunia ini sampai batas waktu yang Allah Swt telah tentukan?

Serahkanlah nasib kaum kufar kepada Allah Swt; milik Allah lah kaum kufar tersebut, terserah hendak Allah diperbuat seperti apa mereka seluruhnya.

Doa kutukan untuk siapa?

Islam mengajarkan bahwa Muslim dilarang memanjatkan doa kutukan untuk kaum Muslim, walau pun mereka adalah manusia-manusia yang jahat dan keji. Pun Islam mengajarkan bahwa Muslim dilarang memanjatkan doa kutukan untuk kaum Nonmuslim, karena atas mereka Allah Swt telah berkehendak biarlah mereka menikmati hidup di Dunia ini sampai batas waktu yang Allah Swt sudah tentukan sejak jaman azali, dan Allah juga tidak akan mengurangi sedikit pun rezekiNya atas mereka; adalah Allah Swt maha adil dan penuh rahmat atas seluruh mahluk.

Kemudian untuk siapakah doa kutukan dari kaum Muslim dipanjatkan?

Adalah wajib sekali bagi Muslim untuk memanjatkan doa supaya kutukan Allah Swt dijatuhkan atas Iblis dan sekutu-sekutunya: jin, dan Setan. Hanya Iblis, Setan dan jin-lah yang harus mendapatkan doa kutuk kaum Muslim. Iblis, jin dan Setan-lah awal malapetaka yang ada di atas Dunia ini; jin, Iblis dan Setan amat memusuhi kita manusia, sangat menginginkan supaya seluruh manusia terjerumus ke Neraka, sangat menginginkan agar seluruh manusia binasa dan merugikan diri sendiri. Iblis, Setan dan jin adalah mahluk yang tidak suka dan tidak ridha melihat manusia taat dan memelihara diri mereka dari dosa dan aniaya.

Kalau Muslim melihat ada manusia yang berhasil dijerumuskan oleh bisikan Iblis untuk melakukan kekejian (pekerjaan-pekerjaan ahli Neraka), bukan manusia itu yang dikutuk oleh Muslim, melainkan Iblisnya lah yang harus dikutuk dengan sekutuk-kutuknya.

Kesimpulannya adalah, bahwa hanya Iblis, jin dan Setan (Setan dari kalangan jin, bukan Setan dari kalangan manusia) lah yang harus mendapatkan kutukan dari kaum Muslim. Muslim diperbolehkan bahkan diperintahkan untuk mendoakan kutuk kepada hanya Iblis saja.

Prasangka kepada siapa?

Islam sudah tegas di dalam ajarannya mengenai doa, mengenai untuk siapa saja doa kaum Muslim ditujukan. Tidak ubahnya dengan doa, prasangka pun juga demikian. Muslim diajarkan untuk selalu berprasangka baik kepada siapa pun. Islam juga mengajarkan bahwa Muslim harus senantiasa berprasangka baik kepada kaum Nonmuslim. Sejahat dan sekeji apapun kaum Nonmuslim, adalah berdosa jika Muslim melancarkan prasangka buruknya kepada mereka. Kaum Nonmuslim biar bagaimana pun adalah manusia juga yang sewaktu-waktu fikiran dan niatnya bisa saja berubah. Menghormati kaum Nonmuslim adalah termasuk tidak berprasangka buruk terhadap mereka. Berprasangka baiklah terhadap mereka – sekali pun mereka adalah kaum kuffar yang mengingkari keesaan Allah Swt dan kerasulan Muhammad Saw.

Satu-satunya mahluk yang harus mendapatkan prasangka buruk kita adalah Iblis dan sekutu-sekutunya yaitu jin dan Setan (Setan dari kalangan jin, bukan Setan dari kalangan manusia). Justru, melancarkan prasangka buruk kepada Iblis dan sekutunya merupakan suatu ibadah yang akan mendatangkan pahala bagi kita kaum Muslim.

Wallahu alam bishawab.

Advertisements

Misteri Nama Muhammad

Banyak makna yang tersirat dalam kebesaran nama Muhammad yang sederhana itu. Entah apakah ini merupakan salah satu mukjizat atau sekedar kebetulan saja, bahwa ada fakta menarik di balik abjad / huruf-huruf yang tersusun dari nama itu:

1. Kata Muhammad, jika kita gabungkan dalam bentuk normal mim ha mim dal, maka akan menjadi sebuah sketsa seorang manusia. Sudah maklum adanya bahwa sebaik-baik mahluk / ciptaan yang pernah diciptakan oleh Tuhan di alam semesta ini adalah manusia dengan kelebihan aqal mereka, sementara mahluk lain hanyalah hewan dan planet-planet yang penuh rahasia.

alamandang-bowo-saputro

2. Kata Ahmad, jika kita cermati satu-persatu hurufnya mak huruf-huruf itu akan menggambarkan sosok orang yang sedang melakukan sholat, tahukah kita bahwa sholat merupakan sebaik-baik doa dan ibadah yang pernah diperintahkanNya?

alamandang-ulay

3. Kata Muhammad jika digabungkan huruf-hurufnya maka akan berbentuk layaknya manusia yang sedang sujud dalam shalat. Dalam ritual sholat Sujud merupakan inti dari semua rukun-rukunnya, karena pada saat sujud manusia menundukkan 8 bagian tubuhnya di bumi sebagai bukti kepasrahan total kepada sang pencipta. Betapa rahasia Tuhan sangat menggetarkan hati, saya yakin masih banyak tersirat rahasia-rahasia lain di balik sosok Rasulullah Muhammad Saw.

alamandang-haryo-par

Sebuah Konflik Di Jalan Raya

alamandang-nawir

Teman saya seorang bapak-bapak pada suatu hari kembali menemui saya dan mengajak ngobrol, setelah sekian lama tidak bertemu dikarenakan kesibukan masing-masing. Ketika asyik ngobrol itu terlihat oleh saya betapa di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka yang cukup mengerikan. Tentulah perhatian saya menjadi beralih.

Saya tanya mengapa. Bapak ini menjelaskan bahwa beberapa minggu lalu ia mengalami kecelakaan luntas (lalu-lintas), lumayan parahlah. Kala itu ia mengendarai sepeda motornya  hendak pulang ke rumah sehabis dari Kantor – sedang melintas di daerah Universitas Indonesia Depok. Jalan kala itu lumayan sepi, karena hanya ia yang melintas di jalan itu. Dari arah berlawanan, melintas juga sepeda motor yang dikendarai anak muda, dan karena suatu alasan, anak muda ini mengambil jalur yang akan dilintasi bapak ini, padahal itu tidak dibenarkan secara peraturan luntas. Mungkin anak muda ini ingin putar-balik. Namun yang jelas bapak ini melintas di dalam keadaan ngebut, sementara anak-muda tidak.

Akibatnya terjadi benturan keras alias tabrakan, antara bapak dengan si anakmuda yang putarbalik ini. Kedua-duanya langsung terpelanting, katanya. Bapak ini merasakan sakit yang luar biasa di daerah rusuk badannya, dan juga di sekitar pundak, tidak ketinggalan luka gores yang banyak di sekitar lengan, kaki dan lain lain.

Bapak si teman saya menuturkan bahwa kala itu ingin sekali ia menggampar si anak muda ini, karena kecelakaan ini timbul karena si anakmuda menyalahi aturan luntas. Si anakmuda sempat berkata “lagian bapak ngebut siiih …..”, katanya menirukan si anakmuda kala yang juga meringis kesakitan itu. Si bapak langsung menimpali dengan lebih sengit, “lha kalau kamu endak salah jalan, endak mungkin saya nabrak kamu!!”.

Si bapak berteori, kalau lah anakmuda itu tidak menyalahi aturan luntas pastilah kecelakaan itu tidak akan terjadi, walau pun sang bapak kita ini melaju dengan ngebut. Singkat kata, kecelakaan itu terjadi murni karena kesalahan si anakmuda, bukan dirinya. Itu kata si bapak.

Benarkah demikian?

Sebenarnya rumit untuk dapat mengetahui, atau ‘menghakimi’ siapa yang paling bersalah di dalam kasus ini. Kalau si anakmuda tidak salah jalur pastilah kecelakaan tidak terjadi. Namun kebalikannya juga: kalau lah si bapak tidak ngebut pastilah kecelakaan itu tidak terjadi. Mana yang benar?

Sekarang mari kita urai permasalahannya secara sendiri-sendiri.

Anggaplah a dan b sama-sama melintas di jalur masing-masing, tidak menyalahi aturan luntas. Namun baik a mau pun b sama-sama ngebut. Dengan ngebut ini, bukankah kecelakaan mungkin terjadi? Ya benar sekali, kendati masing-masing pihak melintas di jalur yang benar sekali pun, namun kalau salah satu atau masing-masing ngebut maka kecelakaan berpotensi terjadi. Silahkan buktikan sendiri kalau tidak percaya.

Kebalikannya, anggap saja di suatu perempatan yang amat rumit dan luas, arus luntas mengarah ke berbagai titik dan volumenya menjadi begitu semrawut tidak berketentuan arah, namun kalau setiap kendaraan melaju dengan lambat (sekali lagi, dengan lambat) pasti kecelakaan tidak akan pernah terjadi. Buktikan sendiri kalau tidak percaya.

Jadi kesimpulannya, kalau lah pengendara melintas dengan melewati jalur yang salah (sekali pun), namun melintasnya dengan lambat, pasti kecelakaan tidak akan terjadi. Jadi di sini yang menjadi masalah bukan salah jalur, melainkan ngebut, atau tidak ngebutnya.

Rumus Luntas alamandang ©:

Romawi I.

Jalur benar x ngebut = kecelakaan.

Jalur salah x ngebut = kecelakaan.

Jalur benar x tidak ngebut = tidak terjadi kecelakaan.

Jalur salah x tidak ngebut = tidak terjadi kecelakaan.

Romawi II.

Kendaraan lambat + kendaraan lambat = tidak terjadi kecelakaan.

Kendaraan lambat + kendaraan ngebut = kecelakaan.

Kendaraan ngebut + kendaraan ngebut = kecelakaan.

———————

Ingatlah, kalau kita melintas di jalur yang benar, pun tidak ada kendaraan lain selain kita, itu tidak menjadi pembenar bagi kita untuk ngebut. Ngebut adalah mata-uang yang tidak berlaku di negara mana pun. Artinya, untuk setiap kasus, kalau ada unsur ngebutnya, maka kasus itu menjadi salah. Ngebut tidak pernah membawa keuntungan.

Namun kebalikannya, kalau pun kita melintas di jalur yang salah, namun kita tidak ngebut, kecelakaan tidak akan terjadi.

Jadi dapat saya simpulkan, bahwa yang salah di dalam kasus si bapak ini adalah, bahwa si bapak lah yang salah karena ia ngebut di jalanan. Ia kala itu berkilah bahwa ia berada di jalurnya, dan tidak ada kendaraan lain. Oleh karena itu ia berfikir ia berhak untuk ngebut. Wah ini salah sekali.

Mengapa ia harus ngebut? Kalau lah bapak ini tidak ngebut pasti ia mempunyai waktu yang cukup untuk mengantisipasi manuver si anakmuda yang putarbalik itu dengan menge-rem kendaraannya sehingga yang terpenting benturan tidak terjadi. Namun faktanya ia ngebut sehingga ketika ia melihat si anakmuda nongol, bapak ini tidak lagi sempat untuk menge-rem motornya. Jangan salahkan si anakmuda; salahkanlah dia yang ngebut.