Sebuah Konflik Di Jalan Raya

alamandang-nawir

Teman saya seorang bapak-bapak pada suatu hari kembali menemui saya dan mengajak ngobrol, setelah sekian lama tidak bertemu dikarenakan kesibukan masing-masing. Ketika asyik ngobrol itu terlihat oleh saya betapa di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka yang cukup mengerikan. Tentulah perhatian saya menjadi beralih.

Saya tanya mengapa. Bapak ini menjelaskan bahwa beberapa minggu lalu ia mengalami kecelakaan luntas (lalu-lintas), lumayan parahlah. Kala itu ia mengendarai sepeda motornya  hendak pulang ke rumah sehabis dari Kantor – sedang melintas di daerah Universitas Indonesia Depok. Jalan kala itu lumayan sepi, karena hanya ia yang melintas di jalan itu. Dari arah berlawanan, melintas juga sepeda motor yang dikendarai anak muda, dan karena suatu alasan, anak muda ini mengambil jalur yang akan dilintasi bapak ini, padahal itu tidak dibenarkan secara peraturan luntas. Mungkin anak muda ini ingin putar-balik. Namun yang jelas bapak ini melintas di dalam keadaan ngebut, sementara anak-muda tidak.

Akibatnya terjadi benturan keras alias tabrakan, antara bapak dengan si anakmuda yang putarbalik ini. Kedua-duanya langsung terpelanting, katanya. Bapak ini merasakan sakit yang luar biasa di daerah rusuk badannya, dan juga di sekitar pundak, tidak ketinggalan luka gores yang banyak di sekitar lengan, kaki dan lain lain.

Bapak si teman saya menuturkan bahwa kala itu ingin sekali ia menggampar si anak muda ini, karena kecelakaan ini timbul karena si anakmuda menyalahi aturan luntas. Si anakmuda sempat berkata “lagian bapak ngebut siiih …..”, katanya menirukan si anakmuda kala yang juga meringis kesakitan itu. Si bapak langsung menimpali dengan lebih sengit, “lha kalau kamu endak salah jalan, endak mungkin saya nabrak kamu!!”.

Si bapak berteori, kalau lah anakmuda itu tidak menyalahi aturan luntas pastilah kecelakaan itu tidak akan terjadi, walau pun sang bapak kita ini melaju dengan ngebut. Singkat kata, kecelakaan itu terjadi murni karena kesalahan si anakmuda, bukan dirinya. Itu kata si bapak.

Benarkah demikian?

Sebenarnya rumit untuk dapat mengetahui, atau ‘menghakimi’ siapa yang paling bersalah di dalam kasus ini. Kalau si anakmuda tidak salah jalur pastilah kecelakaan tidak terjadi. Namun kebalikannya juga: kalau lah si bapak tidak ngebut pastilah kecelakaan itu tidak terjadi. Mana yang benar?

Sekarang mari kita urai permasalahannya secara sendiri-sendiri.

Anggaplah a dan b sama-sama melintas di jalur masing-masing, tidak menyalahi aturan luntas. Namun baik a mau pun b sama-sama ngebut. Dengan ngebut ini, bukankah kecelakaan mungkin terjadi? Ya benar sekali, kendati masing-masing pihak melintas di jalur yang benar sekali pun, namun kalau salah satu atau masing-masing ngebut maka kecelakaan berpotensi terjadi. Silahkan buktikan sendiri kalau tidak percaya.

Kebalikannya, anggap saja di suatu perempatan yang amat rumit dan luas, arus luntas mengarah ke berbagai titik dan volumenya menjadi begitu semrawut tidak berketentuan arah, namun kalau setiap kendaraan melaju dengan lambat (sekali lagi, dengan lambat) pasti kecelakaan tidak akan pernah terjadi. Buktikan sendiri kalau tidak percaya.

Jadi kesimpulannya, kalau lah pengendara melintas dengan melewati jalur yang salah (sekali pun), namun melintasnya dengan lambat, pasti kecelakaan tidak akan terjadi. Jadi di sini yang menjadi masalah bukan salah jalur, melainkan ngebut, atau tidak ngebutnya.

Rumus Luntas alamandang ©:

Romawi I.

Jalur benar x ngebut = kecelakaan.

Jalur salah x ngebut = kecelakaan.

Jalur benar x tidak ngebut = tidak terjadi kecelakaan.

Jalur salah x tidak ngebut = tidak terjadi kecelakaan.

Romawi II.

Kendaraan lambat + kendaraan lambat = tidak terjadi kecelakaan.

Kendaraan lambat + kendaraan ngebut = kecelakaan.

Kendaraan ngebut + kendaraan ngebut = kecelakaan.

———————

Ingatlah, kalau kita melintas di jalur yang benar, pun tidak ada kendaraan lain selain kita, itu tidak menjadi pembenar bagi kita untuk ngebut. Ngebut adalah mata-uang yang tidak berlaku di negara mana pun. Artinya, untuk setiap kasus, kalau ada unsur ngebutnya, maka kasus itu menjadi salah. Ngebut tidak pernah membawa keuntungan.

Namun kebalikannya, kalau pun kita melintas di jalur yang salah, namun kita tidak ngebut, kecelakaan tidak akan terjadi.

Jadi dapat saya simpulkan, bahwa yang salah di dalam kasus si bapak ini adalah, bahwa si bapak lah yang salah karena ia ngebut di jalanan. Ia kala itu berkilah bahwa ia berada di jalurnya, dan tidak ada kendaraan lain. Oleh karena itu ia berfikir ia berhak untuk ngebut. Wah ini salah sekali.

Mengapa ia harus ngebut? Kalau lah bapak ini tidak ngebut pasti ia mempunyai waktu yang cukup untuk mengantisipasi manuver si anakmuda yang putarbalik itu dengan menge-rem kendaraannya sehingga yang terpenting benturan tidak terjadi. Namun faktanya ia ngebut sehingga ketika ia melihat si anakmuda nongol, bapak ini tidak lagi sempat untuk menge-rem motornya. Jangan salahkan si anakmuda; salahkanlah dia yang ngebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s