Memahami Kemajuan Kebudayaan Jawa

alamandang-bilal

Pertanyaan:

Atap rumah warga Indonesia, umumnya terbuat dari seng …

Hanya di pulau Jawa dan Bali tampaknya yang atapnya terbuat dari genteng …..

Dan rasanya, atap rumah yang terbuat dari seng membuat pemandangan menjadi sejuk ….

Bagaimana pendapat Anda?

—————————————

Justru Kebalikannya, seng mengakibatkan panas jika tertimpa sinar matahari.

BTW, atap seng di luar Jawa dan atap genteng di Jawa, itu tidak sesederhana sekedar mode atau pilihan bahan bangunan seperti yang lo pikirkan. Perbedaan atap itu dipengaruhi oleh sejarah, atau bahkan perbedaan tingkat peradaban antara Jawa dan luar Jawa.

DI Jawa, atap genteng memang secara tradisional sudah dibuat dan dikenal di Jawa sejak dulu kala, sudah merupakan bagian dari budaya dan peradaban Jawa, mungkin lebih dari seribu tahun, sudah digunakan sebagai alternatif atap ijuk atau jalinan rumput. Sejarah penggunaan atap genteng yang sudah berabad-abad bisa dilihat dari relief candi, atau peninggalan bangunan-bangunan jaman kuno, misalnya bangunan Majapahit, yang menyisakan peninggalan atap genteng, selain bata merah, sebagai elemen bangunan. Jadi, atap genteng sudah jauh sejarahnya di Jawa, sama seperti di Cina atau Jepang yang juga punya tradisi atap genteng (walau bentuk gentengnya beda, disesuaikan dengan iklim dan bentuk atap yang harus lebih curam dibuat untuk meluruhkan salju).

Atap genteng adalah sesuatu yang secara peradaban “lebih tinggi” dibanding atap ijuk atau rumput, karena genteng sudah mengandung “teknologi dan ilmu” dalam pembuatannya, dan biasanya dihasilkan oleh “industri” (“industri” hanya terdapat pada masyarakat dengan peradaban yang lebih tinggi).

Sedangkan di luar Jawa, kemungkinan besar memang tak ada tradisi membuat genteng yang meluas. Atau, pembuatan atap genteng bukan merupakan bagian dari budaya / peradaban di luar Jawa. Kemungkinan besar tradisinya adalah atap ijuk, atap jalinan rumput, atau rumbia. Nah begitu luar Jawa memasuki jaman “modern”, ketika atap ijuk dan sebangsanya dipandang “primitif”, mereka beralih menggunakan atap seng (karena mereka di luar Jawa memang tidak punya tradisi pembuatan genteng seperti di Jawa). DI Jawa, banyak pembuatan genteng tradisional (bukan genteng buatan pabrik modern seperti KIA).

Jadi, di Jawa banyak rumah menggunakan atap genteng, di luar Jawa atap seng, itu bukan sekedar preferensi bangunan. Itu menyiratkan perbedaan sejarah dan tingkat peradaban di antara keduanya.

Kalau sekarang Jawa lebih maju dari pulau-pulau lain, it’s only natural, sudah  sewajarnya. Bukankah Jawa memang lebih maju dari jaman sejarah, ratusan atau  malah ribuan tahun lalu, dibanding wilayah lain di Asia Tenggara??? Jawa lebih maju bukan baru kemaren, bukan sejak merdeka atau Orba.

Sejak jaman dulu kala, Jawa adalah penguasa politik dan pemegang hegemoni  budaya dan kawasan kepulauan Asia Tenggara (Nusantara). Siapa yang mampu  mendirikan Kerajaan besar dengan pengaruh yang luas (bahkan sampai ke Kamboja,  Thailand) kalau bukan Jawa? Bahkan hegemoni budaya, sehingga sebagian besar  cerita rakyat yang ada di Nusantara bisa ditelusuri sejaranya berakar dari cerita Panji di Jawa, sehingga koreografi tari dan seni di Kamboja dan  Thailand mengambil akarnya dari tari Jawa kuno. Sampai Jaman ketika Malaka (sekarang Malaysia) meminta bantuan kepada kesultanan Demak (sebagai penerus  Mahapahit di era Islam) untuk melindungi dari serangan dan okupasi Portugis.  Kenapa Jawa?

Bukan cuma unggul di jaman Hindu-Buddha, tapi juga sampai well-into-eighteenth  bahkan twentieth century ketika sudah memasuki jaman Islam. Setelah memasuki  jaman Islam (Mataram Islam) pun hegemoni itu masih berlangsung. Jika kita  pelajari buku sejarah, ada jaman-jaman tertentu ketika di keraton-keraton di Sumatera  (Palembang, Jambi dll) orang-orang di keraton diwajibkan berbahasa Jawa, berkiblat pada tata cara pemerintahan Jawa. Bahkan sampai sekarang pun, kalau orang  bicara budaya Indonesia, yang masuk mainstraim adalah budaya-budaya Jawa dan  turunannya (SUnda, Bali, atau yang ada di pulau Jawa), karena tak bisa  dipungkiri kebudayaan di wilayah ini dari segi tingkatan budaya berada satu  tingkat di atas kebudayaan etnis-etnis lain di Nusantara, sehingga produk seninya  (tari, musik, dll) paling advanced dan secara visual paling menarik untuk  ditonton (diakui atau tidak) seperti Gamelan, wayang dll. Di saat tari / musik suku-suku  lain cuma gerakan monoton yang diulang-ulang, musiknya cuma beberapa nada monoton yang diulang-ulang, gamelan menjanjikan kompleksitas nada dan idiom gerak serta idiom nada yang setara dengan musik tradisionalnya orang Eropa.

COba bandingkan mana yang lebih menarik secara visual dan audial: tari dan  musik tradisional orang Eropa dengan gerakan yang indah, dengan musik yang  indah, atau tari dan musik suku di Kendari misalnya yang monoton. Tak bisa  dimugkiri, tari yang merupakan produk peradaban yang lebih tinggi jauh lebih  menarik secara visual dan audial dibanding tari / musik suku yang jauh lebih  primitif. Itu berlaku juga dengan tari Jawa dan Papua (sekedar contoh).

JAWA UBER ALLESS!!!!!!!!

———————————-

Dan mengapa  masyarakat / peradaban Jawa lebih maju dari masyarakat di pulau lain di Indonesia? Jawabannya hanya merujuk kepada hukum alam, khususnya di sini hukum matematika, yaitu, karena populasi Jawa itu lebih banyak dari suku lain ….

Secara logika matematika, jelas bahwa / karena:

4 orang ber-rembuk, dengan 100 orang ber-rembuk untuk mendapat ide cemerlang… Mana yang akan lebih berwarna?? Tentunya ide-ide yang mencuat dari kelompok 100.

Kalau suatu masyarakat jumlah populasinya tinggi, pasti peradabannya tinggi. Bandingkanlah dengan China, India, dan Eropa …. Mereka sejak awal populasinya memang tinggi.

Semakin banyak orang maka makin banyak juga ide-ide yang terlontar. Apalagi  dengan banyaknya orang, maka akan tercipta persaingan. dan untuk menang persaingan setiap yang terlibat harus putar otak sekeras mungkin.

kalau kita renungkan, yang cerdas mungkin orang Minang, dengan melihat pada jumlah intelektualnya yang banyak. Mengapa bukan Jawa? Dan mengapa Jawa yang maju peradabannya? Karena Jawa itu sejak awal memang tinggi populasinya.

Sebagai contoh bandingkanlah dengan masyarakat Bugis. Wiki menulis bahwa Bugis merupakan suku terbesar ketiga setelah Jawa dan Sunda. Dan terbukti, Bugis Lebih  maju ketimbang yang lain. Bugis mempunyai epik mitos terpanjang di dunia yaitu la Galigo ….

Terima kasih.

———————————

Populasi yang tinggi memang mungkin bisa mengakibatkan peradaban suatu kelompok manusia lebih maju. Namun ingatlah bahwa populasi yang banyak itu juga ADA SEBABNYA. Tidak terjadi begitu saja tanpa sebab.

Sebabnya adalah karena kelompok manusia itu mampu mengembangkan budayanya (termasuk budaya pertanian, budaya menghasilkan pangan / bukan sekedar berburu meramu), sehingga mereka mampu memberi makan banyak mulut, yang pada gilirannya memicu populasi kelompok manusia itu tumbuh menjadi besar, jadi banyak.

Jadi apakah peradaban maju karena populasinya sudah banyak lebih dulu, ataukah peradabannya musti maju dulu supaya populasinya bisa tumbuh menjadi banyak? Itu seperti sebuah teka-teki: “lebih dulu mana, ayam atau telur?”.

Dalam kasus ini (Jawa), mungkin kejadiannya justru terbalik: karena peradabannya maju dan bisa menyediakan pangan dalam jumlah besar, maka memungkinkan populasi untuk tumbuh menjadi banyak, dan pada gilirannya akan makin mempermaju peradaban itu sendiri, karena jumlah populasi yang banyak dan menetap (karena tidak perlu berladang yang berpindah-pindah) memungkinkan suatu kelompok masyarakat mengembangkan kebudayaan yang lebih rumit, kompleks, dan tinggi, serta pranata sosial yang lebih rumit dan kompleks pula, dibanding kelompok masyarakat yang berburu dan meramu, karena masyarakat yang berburu meramu TAK PUNYA WAKTU untuk mengembangkan budayanya, karena tiap hari mereka berkutat mencari sumber pangan. Beda dengan  masyarakat yang pertaniannya sudah maju, mereka tinggal mengolah pertanian, dan setelah itu ada waktu JEDA PANJANG / MENGANGGUR yang bisa digunakan untuk mengembangkan budaya / politik / sosial dll.

Di samping itu, besar kecilnya populasi suatu etnis atau kelompok manusia bukan ditentukan oleh tingginya frekwensi aktivitas seksual dan sebangsanya. Kecendrungan untuk mempunyai banyak atau sedikit anak adalah preferensi individu, yang tidak mempunyai hubungan dengan etnis tertentu.

Di dunia pada masa yang lebih awal yang belum ada rekayasa untuk mengendalikan populasi, banyak sedikitnya pupulasi suatu etnis ditentukan oleh SELEKSI ALAM, FAKTOR-FAKTOR SOSIAL, dan lain lain; tidak ada korelasi sedikit pun dengan aktivitas seksual.

Dan pertanyaannya sekarang adalah mengapa populasi Jawa begitu besar sejak masa awal?

KARENA, seleksi alam dan sosialnya memang memungkinkan tumbuhnya populasi menjadi jumlah yang sangat besar sejak jaman dulu. Sejak masa awal orang di PULAU JAWA (bukan cuma orang Jawa tapi juga Sunda) sudah mengenal pertanian yang sistematis dan intensif, sudah menguasai ilmu bertani (hal yang secara peradaban beberapa tingkat LEBIH TINGGI dibanding sekedar berburu atau berladang seperti orang luar Jawa). Adanya pertanian intensif memungkinkan untuk mendapatkan bahan makanan dalam jumlah besar, dan pasokan persediaan makanan yang terjamin sepanjang tahun – sehingga memungkinkan tumbuhnya populasi besar yang menetap. Petak-petak sawah di PULAU JAWA sudah ada sejak lebih dari dua ribu tahun yang lalu.

Keterjaminan pasokan makanan juga memungkinkan orang di PULAU JAWA untuk tinggal menetap (tidak berpindah-pindah seperti peladang luar Jawa). Dengan menetap, memungkinkan timbulnya masyarakat yang besar, sehingga memungkinkan terbentuknya PRANATA sosial yang lebih kompleks, budaya yang lebih rumit dan kompleks, kerajaan, kabupaten kelurahan dst – sehingga secara politik lebih berkembang dibanding masyarakat peladang luar Jawa.

Dengan adanya PASOKAN MAKANAN yang berlimpah dan terjamin (karena pertanian yang intensif itu), maka memungkinkan adanya hasil pangan yang banyak untuk mencukupi seluruh populasi itu. SEHINGGA, dengan hasil pangan yang mencukupi untuk seluruh populasi, SETIAP ORANG TIDAK TERPAKU PADA TUGAS untuk memproduksi / menghasilkan mencari pangan. Proses menghasilkan pangan cukup ditekuni sebagian orang di populasi itu, dan orang-orang lainnya terbebas dari kewajiban menghasilkan pangan. SEHINGGA lebih berkembang pembagian tugas / pekerjaan dalam masyarakat. TIDAK HARUS SEMUA MENCARI MAKAN, tapi ada yang berprofesi sebagai politikus, ahli tata negara, artis, seniman dll. Bandingkan dengan orang di Dayak atau Papua misalnya, yang semuanya tiap hari harus berkutat ikut mencari makanan untuk kelompoknya.

INILAH YANG PADA GILIRANNYA MEMUNGKINKAn peradaban di Pulau Jawa berkembang lebih tinggi. Kesenian dan kebudayaan juga berkembang dalam tingkatan lebih tinggi, sehingga bisa tercipta karya-karya sastra kuno sejak ratusan bahkan hampir seribu tahun lalu, kerajaan-kerajaan besar dengan pranata masyarakat yang elaborate, repertoar-repertoar klasik semacam tari dengan  koreografi yang rumit, musik tradisional yang rumit (gamelan) dll dll, SEMENTARA DI SAAT YANG SAMA etnis-etnis di pulau lain hanya menghasilkan tari-tari dan kesenian musik yang ala kadarnya.

Itu sesuatu yang tak bisa dicapai masyarakat peladang dan berburu.

JIka kita amati, semua peradaban yang mencapai tingkatan tinggi pasti diawali dengan pertanian yang bagus. Tercukupinya kebutuhan pangan yang memungkinkan masyarakat bisa tinggal menetap dan tidak semua orang harus bertugas menghasilkan pangan, pada gilirannya akan memicu peradaban lebih cepat berkembang dalam tingkat yang tak terbayangkan – dibanding masyarakat yang tiap orangnya harus berkutat menghasilkan pangan.

—————————————–

Analisa Anda meleset.

Pertama Anda menulis bahwa ini seperti teka-teki, mana lebih dulu, ayam atau telur ayam?

Kalau mau adil, harusnya Anda bilang, ayam boleh, telur pun boleh. Namun di dalam paparan Anda ini, Anda sudah menegaskan bahwa telur lah yang lebih dulu, baru ayam. Mengapa bisa begitu? Kalau Anda sudah menegaskan hal yang demikian, mengapa Anda melibatkan teka-teki tersebut? Bukankah teka-teki itu hanya to emphasize bahwa segala sesuatu remains confusing all the time?

Kedua, Anda ingin menegaskan bahwa KECERDASAN lah yang lebih dulu ada di pulau Jawa, baru kemudian “populasi tinggi” (kita singkat saja: polgi), begitu kan? Anda ingin memaparkan bahwa masyarakat di pulau Jawa sejak masa awal adalah cerdas, sehingga dengan kecerdasannya itu muncullah skill bertani yang mengakibatkan kelimpahan pangan yang berimbas pada polgi (saya juga tidak bermaksud bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa adalah bodoh).

Anda mengajukan statement begini,

Namun ingatlah bahwa populasi yang banyak itu juga ADA SEBABNYA. Tidak terjadi begitu saja tanpa sebab. Dan sebabnya adalah karena kelompok manusia itu mampu mengembangkan budayanya (termasuk budaya pertanian, budaya menghasilkan pangan / bukan sekedar berburu meramu), sehingga mereka mampu memberi makan banyak mulut, yang pada gilirannya memicu populasi kelompok manusia itu tumbuh menjadi besar, jadi banyak.

Dengan paparan ini Anda mengklaim bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa lah yang lebih cerdas dibanding masyarakat lain. Sumatera tidaklah cerdas, Kalimantan tidaklah cerdas, Sulawesi tidaklah cerdas, Bima tidaklah cerdas dllll …… Anda ingin menegaskan bahwa masyarakat lain tidak mampu mengembangkan budayanya seperti pertanian, pangan dan lain lain – mampunya hanya berkutat pada meramu dan berburu.

Polgi (populasi tinggi), alias banyak anak, seutuhnya merupakan Kuasa Tuhan. Polgi  merupakan hak prerogatif Tuhan, kepada umat mana saja yang Dia kehendaki. Anggap saja kampung a dan b sama-sama mempunyai aktivitas seksual yang tinggi. Namun faktanya hanya kampung a yang memperoleh polgi, sementara b tidaklah demikian. Itulah kehendak Tuhan.

Di dalam hal ini, Tuhan berkehendak bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa lah yang akan memperoleh polgi. Dengan polgi ini masyarakat manusia yang tinggal di pulau Jawa menjadi lebih maju karena lebih banyak otak di dalam ber-rembug dan menuangkan ide bagusnya. Dengan demikian peradaban tinggi tidak mempunyai hubungan dengan skill pertanian dlsb. Apalagi juga tidak ada hubungannya dengan seleksi alam.

Masalah seleksi alam, penempatan Anda sangat primitif. Seleksi alam itu hanya berlaku pada masa pra-sejarah (mungkin pada jaman plestosin), juga berlaku hanya kepada hewan dan tumbuhan. Saat umat manusia sudah mengenal huruf, sistem Pemerintah, agama, dan lain lain, seleksi alam sudah tidak berlaku lagi atas spesies manusia. Kalau pun Anda ingin menempatkan seleksi alam di dalam masalah ini, pertanyaan saya adalah, seleksi alam pada periode Tahun berapa? Tahun 600 Masehi? Tahun 1000 Masehi? Atau Tahun 400 Sebelum Masehi? Ingatlah bahwa pada masa itu pun seleksi alam sudah tidak berlaku lagi atas manusia, karena justru manusia lah yang mengendalikan alam, bukan sebaliknya. Bahkan di gurun ada peradaban manusianya: Arabia, Afrika Utara, Mesir, dlll …. di tempat-tempat itu sudah ada peradaban manusia. Bandingkan juga dengan masyarakat Eskimo yang hidup di alam es membeku. Bukankah itu aneh?

Anda menekankan bahwa polgi di Jawa dikarenakan kecerdasan tinggi yang berimbas pada skill pertanian di Jawa yang tinggi. Kekeliruan Anda adalah Anda tidak mengetahui bahwa di mana-mana pun juga ditemukan petak sawah, bukan di Jawa saja. Tidak  mungkin orang di Sumatera (dllllll) tidak ahli di dalam hal bertani, karena bertani adalah amat mendasar buat mereka.

Anda sudah me-MUTLAK-kan bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa lah yang cerdas, sehingga walau pun populasi masih rendah, teknik dan skillnya sudah tinggi – yang berimbas pada kesuksesan bertani. Dan dengan demikian mendongkrak polgi.

Saya pastikan bahwa Anda sudah me-MUTLAK-kan bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawalah yang cerdas. Mengapa? Karena Rincian logika dari paparan Anda adalah begini:

  • Di dalam waktu yang bersamaan:
  • Sumatera (dllll) populasinya rendah yaitu 50 orang – kala itu.
  • Manusia yang tinggal di pulau Jawa populasinya juga rendah yaitu 50 orang – kala itu.

Karena manusia yang tinggal di pulau Jawa lebih cerdas, yang 50 orang itu berhasil berteknik tani yang tinggi yang akibatnya pasokan pangan melimpah. Konsekswensinya terciptalah polgi. Dan dari polgi ini, majulah peradaban manusia yang tinggal di pulau Jawa.

Bagan: Cerdas > teknik tani yang tinggi > pangan tinggi > populasi tinggi > peradaban tinggi.

Sumatera (dllll) karena tidak cerdas, yang 50 tidak bisa berbuat apa-apa dengan teknik tani mereka. Akibatnya populasi mereka tidak tinggi.

Bagan: Tidak cerdas > teknik tani primitif > pangan rendah > populasi rendah > peradaban rendah.

Dengan paparan ini, Anda sudah me-MUTLAK-kan bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa lah yang cerdas, sementara Sumatera – Kalimantan – Sulawesi – Bima – Papua – Ambon – Piliphina – Myanmar – Malaysia dlllll tidak cerdas secerdas manusia yang tinggal di pulau Jawa. Anda terlalu jauh di dalam hal ini.

Kita sudah punya fakta dan logika matematika yang tidak bisa dikesampingkan, apalagi dinafikan. Fakta itu adalah, bahwa kalau ada masyarakat dengan polgi, pasti kehidupannya lebih maju, ITU MUTLAK. Karena lebih banyak otak, maka lebih banyak ide yang bermunculan, juga lebih banyak individu yang mempunyai waktu luang untuk menemukan ide. Hal itu terjadi pada masyarakat China, India, Mesopotamia dllll. Hal itu tidak bisa dibantah. Dan di dalam hal ini, masyarakat manusia yang tinggal di pulau Jawa itu merupakan suku dengan populasi tertinggi di Indonesia.

Sebaiknya Anda mencoba menggunakan perspektif ini: mengapa peradaban tinggi selalu paralel dengan polgi? Dan, apakah ada peradaban tinggi yang muncul tanpa adanya polgi? Kalau memang ada peradaban tinggi yang muncul tanpa diparalelkan dengan polgi, konsekwensinya kita bisa percaya bahwa Jawa memang cerdas, karena sudah ada bukti empirisnya.

Kemudian, ini statement Anda di bagian terakhir,

JIka kita amati, semua peradaban yang mencapai tingkatan tinggi pasti diawali dengan pertanian yang bagus. Tercukupinya kebutuhan pangan yang memungkinkan masyarakat bisa tinggal menetap dan tidak semua orang harus bertugas menghasilkan pangan, pada gilirannya akan memicu peradaban lebih cepat dalam tingkat yang tak terbayangkan dibanding masyarakat yang tiap orangnya harus berkutat menghasilkan pangan.

Penjelasan saya: Ya, itu juga berawal karena mereka adalah masyarakat dengan polgi. Dengan polgi lah maka ada sistem pertanian, mulai ada spesialisasi. Pertanian (dan instrumen lain dari masyarakat maju) merupakan hal kedua ada, dan yang pertama ada adalah polgi, bukan kecerdasan, bukan juga seleksi alam. Dan polgi itu urusannya ada di tangan Tuhan.

Dan saya harap Anda jangan lagi meMUTLAKkan bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa-lah yang lebih cerdas ketimbang suku / pulau lain – karena hal itu sangat tidak mendasar. Kalau Anda masih ingin mendasarkan kemajuan Jawa pada allegedly kecerdasan manusia yang tinggal di pulau Jawa, konsekwensinya adalah teori, fakta dan logika matematika yang sudah saya paparkan di sini akan diperlakukan seperti apa?

Saya sangat cemas dengan paragraf Anda yang ini:

Namun ingatlah bahwa populasi yang banyak itu juga ADA SEBABNYA. Tidak terjadi begitu saja tanpa sebab. Dan sebabnya adalah karena kelompok manusia itu mampu mengembangkan budayanya (termasuk budaya pertanian, budaya menghasilkan pangan / bukan sekedar berburu meramu), sehingga dia mampu memberi makan banyak mulut, yang pada gilirannya memicu populasi kelompok manusia itu tumbuh menjadi besar, jadi banyak.

Jawaban saya: apakah hal itu, di dalam fikiran Anda, juga terjadi pada masyarakat Sumatera? Kalimantan? Papua? Sulawesi – Ambon – Bima – Flores? Bukankah Anda  memaparkan bahwa hanya manusia yang tinggal di pulau Jawa-lah yang maju peradabannya?

Terkesan sekali Anda hanya ingin menceritakan bahwa skenario itu hanya terjadi pada masyarakat Jawa yang artinya bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa-lah yang cerdas, dan yang lain tidak.

Rincian dari logika Anda itu adalah begini,

Sumatera (dllll) populasinya hanya 50 orang. Namun yang 50 ini tidak cerdas. Akibatnya Sumatera tidak skillful bertani. Akibatnya populasi tidak berkembang menjadi polgi. Akibatnya peradaban Sumatera (dllll) tidak maju.

Jawa populasinya hanya 50 orang. Namun yang 50 ini cerdas. Akibatnya manusia yang tinggal di pulau Jawa sangat skillful bertani. Akibatnya populasi mereka  menjadi tinggi. Akibatnya peradaban masyarakat manusia yang tinggal di pulau Jawa jadi maju.

Lagi pula, tidak ada yang bermasalah dengan bertani: cukup dengan modal lahan, air, bibit, seseorang sudah dapat bertani. Bertani tidak memerlukan kecerdasan S-3 atau S-4. Itu baru masalah bertaninya, belum yang lain. Bukankah paparan Anda mendasarkan keunggulan manusia yang tinggal di pulau Jawa pada kecerdasan yang ter-refleksi pada skill bertani (sehingga mendatangkan kelimpanan pangan dan kemudian polgi), sementara yang lain (Sumatera dllllll) masih berkutat pada berburu dan meramu? Terlalu banyak kalau Anda memaparkan bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa adalah cerdas yang berimbas pada kesuksesan bertani. Apakah bertani itu susah? Apakah berkebun singkong adalah susah? Apakah mengambil ikan di sungai dan danau adalah susah? Apakah mengusahakan perkebunan jagung akan mendatangkan kesulitan? Sejak kapan?

Sekaligus Anda ingin mengesankan bahwa kelahiran BUKAN URUSAN DAN HAK PREROGATIF TUHAN. Anda hanya ingin menandaskan bahwa kelahiran yang banyak (alias polgi) pada masyarakat Jawa seutuhnya adalah Kuasa dan inisiatif manusia yang tinggal di pulau Jawa sejak masa-masa awal.

Pada bagian terdahulu saya sudah menyampaikan, bahwa kalau Anda ingin mengetahui suku mana yang cerdas di Indonesia, saya bisa sampaikan bahwa suku  Minangkabau-lah jawabannya – karena  dengan populasi yang tidak tinggi, suku ini sudah mempunyai intelektual di dalam jumlah yang tinggi.

Artinya, Anda bisa menyatakan bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa lah yang cerdas, asalkan (sekali lagi, ASALKAN) Anda bisa memberi bukti, bahwa saat populasi manusia yang tinggal di pulau Jawa masih rendah, limpahan intelektualnya sudah dilaporkan di mana-mana.

Intinya, jumlah kelahiran adalah hak prerogatif Tuhan. Jadi bukan karena suatu masyarakat lebih cerdas atau yang lainnya. Dan di dalam hal ini, hak Tuhan itu jatuh kepada masyarakat manusia yang tinggal di pulau Jawa sehingga mengakibatkan polgi. Dengan polgi inilah peradaban manusia yang tinggal di pulau Jawa jadi lebih maju: ada batik, gamelan, sastra, gerak tari, sistem musik, sistem pengobatan, sistem kepercayaan, dllllll ……

Kesimpulan finalnya adalah, kebudayaan manusia yang tinggal di pulau Jawa maju hanya karena polgi – alias populasi tinggi, karena memang demikian Hukum alam, dan berlaku di seluruh Dunia.

Jadi teori ini akan kembali kepada ajaran Muhammad Saw: “perbanyaklah anakmu”. Artinya Muhammad Saw berharap banyak pada polgi karena dengan demikian umat Muslim bisa (lebih) menonjol dibanding umat lain.

5 comments

  1. Polgi = kemajuan peradaban? Lalu mengapa China memberlakukan KB ketat ya? Lalu mengapa dunia barat dengan kepadatan penduduk yang tidak terlalu tinggi bisa maju? Ah, kudhu kembali belajar aku ini…

    —> Tanggapan:
    china menerapkan KB hanya pada masa modern ini saja, mbak. pada masa archaic, tidak ada yg namanya program KB di china ….

    eropa, kepadatan penduduknya rendah, hanya tjd pada masa modern ini saja, mbak. pada masa archaic, eropa itu tinggi populasinya.

    lihat saja yunani, romawi, inggris dll, pada masa silam itu populasinya tinggi …..

    pada masa modern ini, barat mulai melihat bhw anak banyak adl konyol, memalukan. jadi oleh karena itu, masyarakat barat mjd enggan utk punya banyak anak ….

    1. maaf, mas. Tapi bukannya kerajaan besar yang dapat menguasai Thailand, Filipina, bahkan seluruh Asia Tenggaa itu adalah kerajaan Sriwijaya ya?:)

      Kerajaan Sriwijaya di Sumatera berdiri dari abad 7 sampai abad ke 13. Dan bahkan, Candi Borobudur (candi Budha) itupun dibuat oleh kerajaan Sriwijaya.

      Maaf, bukan maksud untuk menggurui.

      1. candi borobudur itu dibangun oleh bangsa jawa pada jaman dinasti syailendra sbg akibat persaingan dgn dinasti sanjaya (sesama bangsa jawa yg membangun prambanan). periode pembangunan borobudur diperkirakan sama dgn periode sri wijaya, namun bukan berarti sriwijaya yang membangun. walaupun relief pada borobudur menunjukkan kapal sri wijaya itu hanya menandakan interaksi bangsa jawa dgn sri wijaya yg saat itu sedang digdaya. logikanya buat apa membangun sebuah bangunan raksasa di luar ibukota kerajaan. lihatlah piramida mesir, taj mahal, bahkan menara petronas semua bangunan itu dibangun di ibukota kerajaan saat itu. jadi tidak mungkin sri wijaya membangun borobudur di jawa sementara ibukotanya di sekitar palembang. sri wijaya sendiri jaman dulu tdk terlalu diperhatikan sejarawan karena sangat kurangnya peninggalan dan mungkin orang2 sumatera sendiri tidak tahu adanya sri wijaya ini sampai sejarawan prancis meneliti dan mengangkatnya.

        hal ini tentu berbeda dgn majapahit dimana majapahit digunakan untuk legitimasi kerajaan berikutnya (walaupun mitos tp masyarakat jawa jadi tahu kalo dulu ada kerajaan majapahit), jadi jika suatu kerajaan didirikan maka harus dipastikan bahwa rajanya adalah keturunan majapahit. ini dilakukan agar walau kerajaan majapahit sudah runtuh namun memiliki kerajaan2 penerus. ditambah lagi dengan tersebarnya puluhan candi dan prasati yg mengkokohkan keyakinan ttg majapahit.

        sri wijaya sendiri dikalahkan oleh singosari dgn ekspedisi pamalayu dan juga serangan kerajaan india. kalaupun sriwijaya menguasai asia tenggara maka harus dibuktikan dgn bukti sejarah. bukan hanya dari dongeng atau film saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s