Kauskaki Putih Dan Saya

alamandang-nawir

Wahai kaus-kaki yang ada di seluruh Indonesia …..,

Saya bangga sekali dan tidak menyangka bahwa saya telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah kauskaki putih di Indonesia ini ….

Wahai kauskaki putih ……,

Ijinkanlah saya sekarang untuk memaparkan kisah unik saya berkenaan dengan dominasi kauskaki putih di Indonesia ini, supaya dapat dibaca dan diketahui seluruh bangsa Indonesia ini ……

Begini kisahnya.

Pada awalnya, di dalam kehidupan ini terdapat dikotomi yang tegas di dalam hal kaus-kaki ini. Dikotomi itu adalah berkenaan dengan warna kauskaki. Kauskaki putih, adalah kauskaki yang hanya boleh digunakan oleh anak-anak kecil, khususnya anak-anak sekolah. Oleh karena itu pada masa itu seluruh anak sekolah selalu mengenakan kauskaki berwarna putih. Tidak pada tempatnya kalau ada anak sekolah, baik dari kalangan SD, SMP dan juga SMA untuk mengenakan kauskaki yang tidak berwarna putih, seperti warna hitam, merah, biru tua, biru, dan lain lain.

Di pihak lain, kauskaki berwarna, adalah kauskaki untuk kalangan dewasa dan para karyawan. Istilahnya kala itu adalah ‘kauskaki bapak-bapak’, karena yang mengenakannya adalah kaum bapak. Pokoknya untuk dikenakan oleh mereka yang bekerja, bukan sekolah dasar.

Dikotomi ini diberlakukan secara tegas, seolah hal itu merupakan peraturan yang amat sakral dan tidak boleh dilanggar oleh siapa pun. Lebih pula, pun anak-anak sekolah juga tidak mau mengenakan kauskaki berwarna, karena dari warnanya saja jadi terkesan ‘tua’, ringkih, segala macem deh. Kalau ada anak sekolah yang mengenakan kauskaki yang berwarna (bukan kauskaki putih), bisa-bisa ‘disorakin’ oleh teman-teman sekelasnya: “hey lihat si anu make kauskaki bapaknya … hahahaaa ……”. Maka mana ada anak sekolah yang mau mengenakan kauskaki yang berwarna?

Hingga suatu saat, kala itu Tahun 1995. Saya diterima bekerja di sebuah Perusahaan mulitnasional yang bergerak di bidang toiletris dan kelengkapan sabun bayi, yang kala itu berkantor di sebuah gedung perkantoran di daerah Kuningan, Jakarta. Saya seperti manusia dewasa lainnya tentulah bekerja dengan mengenakan kauskaki yang berwarna, di dalam hal ini saya pilih warna biru tua.

Suatu saat saya sedang shalat Ashar di mushala gedung tersebut. Setelah saya selesai shalat saya bergegas untuk kembali ke meja saya. Saya perhatikan bahwa seluruh sepatu yang ada di mushala itu berikut dengan kauskakinya, seluruhnya berwarna, alias bukan putih. Saya jadi bertanya, apakah ada ayat suci yang menyatakan bahwa kaum pekerja, karyawan, dan apalagi bapak-bapak, harus mengenakan kauskaki warna, dan tidak boleh kauskaki putih? Atau, apakah akan ada kutukan alam semesta kalau kaum pekerja, karyawan dan juga bapak-bapak mengenakan kauskaki putih polos? Kalau memang ada kutukannya, maka apakah ada data statistik mengenai kasus kutukan tersebut? Saya jadi bertanya-tanya di dalam hati.

Saya bertanya, mengapa kaum dewasa tidak diperkenankan mengenakan kaus-kaki putih? Kemudian pun, saya di lain pihak sebenarnya lebih senang mengenakan kauskaki putih, karena terkesan manis dan imut. Kalau pun kala itu saya mengenakan kauskaki berwarna, itu hanya karena saya menganggap bahwa peraturannya memang demikian, bahwa bapak-bapak atau para karyawan harus mengenakan kauskaki warna ……

Saya jadi tergoda untuk memikirkan hal lain berkenaan dengan mengenakan kauskaki putih. Bagaimana kalau saya mengenakan kauskaki putih? Bukankah hal itu tidak ada larangannya? Kalau saya mengenakan kauskaki putih, maka pastilah saya senang karena saya kembali jadi imut dan innocent, seperti halnya anak-anak sekolah itu. Dan yang jelas, kauskaki putih itu memberi kesan bersih dan rapi dan: muda lagi.

Akhirnya saya mantapkan diri saya untuk mengenakan kauskaki putih untuk bekerja. Saya pergi ke pasar dan membeli beberapa pasang kauskaki, keseluruhannya berwarna putih, seolah saya adalah anak sekolahan yang masih bau kencur. Ah tidak mengapa.

Keesokannya saya kenakan kauskaki putih tersebut ke Kantor, dan yang jelas hal itu membuat saya senang. Reaksi pertama dari orang-orang, tentu saja saya tidak mendapat kecaman. Begitu juga di mushala Kantor, tidak ada tuh yang menegur saya, atau jadi bertanya-tanya kepada saya. Ah masasih begitu saja dikecam? Yang jelas saya yakin sekali bahwa sayalah satu-satunya manusia pekerja / karyawan yang kala itu mengenakan kauskaki putih.

Demikianlah, hari pertama, hari kedua, minggu pertama – minggu kedua, bulan pertama – bulan kedua, saya selalu mengenakan kauskaki putih, dan kauskaki berwarna sudah saya tinggal dan saya lupakan di rumah. Dan kalau sedang shalat di mushala Kantor, saya lihat hanya saya dan sepatu saya yang kauskakinya berwarna putih, karena seluruh sepatu lainnya selalu didampingi kauskaki berwarna.

Tidak disangka sama sekali! Ternyata mereka melihat, di mana pun, kapan pun, siapa pun, bahwa saya sebagai karyawan mengenakan kauskaki putih. Dan tidak disangka, ternyata hal itu membuat mereka mendapat insipirasi bahwa kauskaki putih pun juga layak digunakan untuk pergi bekerja. Si A melihat saya mengenakan kauskaki putih, maka di A ikut-ikutan mengenakan kauskaki putih. Kemudian B, C dan D melihat A mengenakan kauskaki putih. Akhirnya mereka pun ikut-ikutan mengenakan kauskaki putih …. Begitu seterusnya … Akhirnya banyaklah para pria dewasa, kaum pekerja atau karyawan yang beralih mengenakan kauskaki putih untuk bekerja …..

Sekarang ini sudah menjadi jamak di mana para pria dewasa mengenakan kauskaki putih untuk bekerja. Dengan kata lain, sekarang kauskaki putih tidak lagi monopoli anak sekolahan ….

Dan itu semua berkat saya yang memulainya ……

Jam tangan.

Kisah dengan jam tangan / arloji pun juga demikian. Kala itu, seolah sudah menjadi peraturan yang sangat sakral bahwa jam tangan hanya boleh dikenakan di tangan kiri. Adalah tidak pada tempatnya untuk mengenakan jam tangan di tangan kanan, karena nanti pasti akan ditertawakan banyak orang, bahkan nanti dianggap orang gila atau apa. Saya masih ingat kala itu, ketika saya dibelikan jam tangan, kakak-kakak saya bilang bahwa mengenakan jam tangan harus di tangan kiri, ‘tidak boleh’ di tangan kanan.

Saya jadi bertanya, mengapa harus di tangan kiri? Apakah mengenakan jam tangan di tangan kanan merupakan suatu kesalahan fatal?

Pada saat itu, saya bertekad untuk mengubah hal itu, dan ingin beralih mengenakan jam tangan di tangan kanan, padahal semua orang mengenakan jam tangan di tangan kiri, tidak ada seorang pun yang berani mengenakan jam tangan di tangan kanan. Berarti sayalah satu-satunya manusia yang mengenakan jam tangan di tangan kanan.

Setelah sekian lama, atau sekian bulan, saya melihat ada kejutan …..

Saya melihat mulai ada beberapa teman saya, atau karyawan lain yang masih satu gedung yang mengenakan jam tangan di tangan kanan. Ikut-ikutan saya? Mudah-mudahan iya, karena toh pada saat itu semua orang mengenakan jam tangan pasti di tangan kiri, kecuali saya.

Mungkin dengan melihat saya mengenakan jam tangan di tangan kanan, hal itu menjadi inspirasi buat mereka bahwa mengenakan jam tangan di tangan kanan juga keren dan cool, istilahnya. Mengenakan jam tangan di  tangan kanan terkesan berwibawa dan berat. Tampaknya memang begitu.

Sejak saat itulah, saya jadi melihat banyak orang mengenakan jam tangan di tangan kanan. Jadi peraturan sakral itu dikemanakan? Bagaimana nasib peraturan tersebut, yaitu bahwa mengenakan jam tangan harus di tangan kiri? Ternyata kesakralan dari peraturan tersebut hanya lah halusinasi, isapan jempol belaka. Dan Alhamdulillah sayalah orang pertama yang mendobrak halusinasi tersebut, berkenaan dengan kauskaki putih dan jam tangan ini. Ruar biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s