Nangka Dan Kisah Aki-Aki

alamandang-angga-rahardja

Pohon nangka (artocarphus heterophillus), tidak lah semua rumah mempunyainya. Apalagi kata orang, pohon nangka termasuk pohon yang paling diminati oleh kalangan jin untuk ditinggali. Buahnya terasa enak dan gurih. Buah nangka sebenarnya terbagi dua jenis, yaitu nangka buah dan nangka sayur. Nangka buah, maksudnya adalah bahwa nangka itu enak untuk dimakan sebagai buah, karena mungkin ukuran buahnya besar-besar. Sementara nangka sayur adalah nangka yang ukuran buahnya kecil-kecil sehingga lebih enak untuk disayur saja. Jangan pernah terbalik: nangka buah dijadikan nangka sayur karena nanti hasilnya tidak terasa enak saat disantap dengan nasi.

Di Tahun 80an atau menjelang 90an, rumah saya masih mempunyai pohon nangka di pekarangan. Maklumlah kala itu tempat kediaman saya masih banyak kebonnya, jadi masih rimbun – tidak seperti sekarang yang sudah menjadi hutan beton yang banyak mengorbankan pohon-pohon ditebang untuk dibangun rumah. Itulah jaman.

Pohon nangka mempunyai spesifikasi biologis di mana pohon ini akan terus berbuah; jadi berbuahnya tidak mengenal istilah musim atau periode. Jadinya seperti pohon belimbing yang terus berbuah. Karena terus berbuah, maka pastilah kita akan selalu melihat ada buah-buah nangka bergelantungan di kayu sang pohon, dari berbagai ukuran. Kalau ada yang sudah matang ya sudah dipetik saja untuk disantap. Tuhan memang maha pemurah!

Kala itu, ada seorang aki-aki lalu-lalang mondar-mandir di depan rumah. Dan kalau sedang melintas tepat di depan rumah pasti si aki-aki itu mendongakkan wajahnya ke pohon nangka. Kebetulan kala itu ibu saya (almh) sedang nangkring-nangkring di pekarangan menikmati desau angin siang. Kala itu saya masih kecil lagi lucu-lucunya.

Sang aki-aki itu menyapa sang ibu dengan gaya bahasa lokal. Kemudian aki-aki itu berkata bahwa ia ingin menawarkan bisnis, yaitu si aki-aki akan memberikan sejumlah uang kepada ibu saya, dan sebagai imbalannya aki-aki akan mengambil / memetik buah nangka itu untuk dia jual di pasar. Begini dia bilang kala itu kepada ibu saya, “Bu, saya bayarin deh buah nangkanya. Ibu mau saya bayar berapa? Daripada tidak dipetik-petik lebih baik saya beli ….. Bagaimana?”.

Ibu saya tentu saja menolak. Pertama karena tidak butuh uang (Alhamdulillah kami keluarga kerkecukupan dengan papah sebagai PNS). Kedua, karena kami sekeluarga memang tidak mempunyai niat berdagang atau menjual sesuatu. Ketiga, konsep bisnis model tersebut masih membuat kami terheran-heran: kok ada sih ya bisnis gaya seperti itu?

Keesokan harinya aki-aki itu kembali lagi, tampaknya dia masih penasaran dengan jawaban ibu saya. Berkali-kali dengan bahasa standar ibu saya menegaskan bahwa nangka di pekarangannya tidak dijual. Ternyata aki-aki itu insist sekali ingin membayar ibu saya untuk memetiki buah nangka.

Setelah berdiskusi dengan papah, akhirnya disepakati untuk menerima saja tawaran bisnis si aki-aki ini. Daripada setiap hari direcoki oleh si aki-aki ini, akhirnya ibu saya menerima tawaran si aki-aki. Keesokan harinya, benar saja si aki-aki datang lagi dan memberikan penawaran yang sama dengan yang kemarin, itu pun dengan gaya bahasa yang sangat insist. Sekejap aki-aki itu langsung menyebut nilai rupiah – saya tidak tahu persis. Ibu saya minta ditambah. Ya sudah daripada tawar-menawar alot, disepakati saja nilai rupiahnya pada level sekian. Uang pun beralih ke tangan ibu saya. Setelah itu, si aki-aki langsung menyingsingkan lengan bajunya, dan dengan sigap memanjat kayu-kayu kekar dari sang pohon sambil menenteng karung goni yang kosong.

Ibu saya langsung masuk saja ke rumah mencari tempat yang teduh, dan membiarkan si aki-aki sendirian memetiki buah nangka yang sudah menjadi miliknya. Tak lama kemudian aki-aki turun dari pohon sambil menggotong karung goni yang terlihat sudah penuh. Aki-aki minta pamit kepada ibu saya karena ia sudah selesai dengan pekerjaannya.

Ibu saya keluar menemui aki-aki itu. Namun ibu terheran-heran memandangi karung goni itu, mengapa penuh sekali? Ia intip sedikit karung goni itu untuk melihat berapa banyak buah yang sudah diambil si aki-aki. Ibu saya semakin terheran-heran. Kemudian ibu saya mengalihkan pandangannya ke atas ke pohon nangka itu. Ya Tuhan! Semua buah nangka yang masih kecil, alias masih pentil pun juga digasak habis oleh sang aki-aki, tidak bersisa sebutir pun! Apa urusannya dengan buah yang kecil-kecil? Bukankah belum enak dimakan?

Ibu saya langsung menukas kepada si aki-aki, “kok yang kecil-kecil juga dipetik, bang? Kan belum enak dimakan?”. Apa jawab si aki-aki itu? Begini katanya, “kan seluruh buah itu sudah saya bayar. Jadi semua buah itu adalah hak saya, terserah saya mau saya ambil atau tidak”.

Ibu saya pun langsung tercekat, tidak bisa lagi berkata-kata. Marah.

Kesimpulan.

Aki-aki pun segera berlalu, dan cerita berakhir sampai di situ.

Mengapa aki-aki itu juga menggasak buah nangka yang masih kecil-kecil? Bukankah mereka belum terasa enak dimakan? Pahit, sepet, kelet, getir, segala macam yang berhubungan dengan tidak enak.

Jawaban untuk pertanyaan tersebut hanya satu: kepicikan. Picik.

Pertama.

Aki-aki itu berbuat demikian karena ia merasa seluruh buah yang ada di pohon sudah ia bayar; artinya sudah ia beli. Dengan kata lain, seluruh buah ini adalah termasuk buah-buah yang masih kecil, yang masih pentil. Jadi di dalam fikirannya, seluruh buah itu dan yang masih kecil-kecil sekali pun, adalah miliknya. Jadi dia berhak berbuat demikian.

Kedua.

Seluruh buah yang ada di pohon itu sudah ia beli, yang mana itu artinya seluruh buah di pohon adalah miliknya, sang aki-aki. Dengan kata lain, ibu saya jadi tidak boleh memiliki lagi. Konsekwensinya adalah, kalau ada buah-buah yang kecil itu tidak diambil oleh aki-aki, buah itu akan kembali menjadi milik ibu saya, padahal buah-buah itu sudah dibayar oleh aki-aki kepada ibu saya.

Di sinilah letak kepicikan si aki-aki. Aki-aki tetap akan menggasak buah-buah yang masih kecil, hanya karena supaya buah-buah itu tidak memberi keuntungan kepada ibu saya, dengan dalih bahwa aki-aki sudah membelinya. Bisa dipastikan di tengah jalan buah-buah yang kecil itu pasti akan dibuang oleh aki-aki itu karena memang tidak berguna, dan hanya memberatkan perjalanannya saja. Yang penting, buah-buah itu sudah dibayar si aki-aki, dan ibu saya tidak boleh mendapat keuntungan dari buah-buah itu …….. Picik.

Keuntungan buat si aki-aki tidak ada – dari menggasak buah-buah yang kecil itu, memang benar. Namun kemudian toh aki-aki itu juga tidak ingin membuat ibu saya mendapat keuntungan dari buah-buah kecil itu, karena buah-buah itu sudah dibayar oleh aki-aki. Jadi solusinya, menurut si aki-aki, buah yang kecil-kecil itu akan tetap ia gasak, namun kemudian akan ia buang di tengah jalan …. picik – picik – picik ….

Kontra picik.

Kalau kita mau berfikir secara dewasa, tentulah kejadiannya tidak akan jadi seperti itu. Si aki-aki tidak akan memetik buah yang masih kecil-kecil itu karena toh tidak enak rasanya. Dan kalau toh buah yang kecil-kecil itu akan tumbuh besar sehingga menjadi keuntungan buat ibu saya, maka apakah itu salah? Kita harus ingat bahwa semua orang pasti sudah ada rejekinya, yang penting kita tidak berbuat aniaya.

Kalau toh buah-buah yang kecil itu di kemudian hari menjadi keuntungan buat ibu saya, artinya buah itu akan menjadi rejeki ibu saya. Kita ingat bahwa kita tidak boleh menghalangi rejeki orang (asalkan dengannya rejeki kita tidak terganggu). Sementara aki-aki di dalam kasus ini tidaklah demikian. Aki-aki itu merasa bahwa ia tidak ingin buah-buah itu kelak akan menjadi rejeki buat ibu saya. Pertanyaannya adalah, mengapa aki-aki itu mensiriki rejeki orang lain? Dan pun mensiriki rejeki orang itu dengan cara berbuat aniaya dan kerusakan? Supaya ibu saya tidak dapat rejeki, aki-aki ini berbuat kerusakan (yaitu membuangi buah-buah yang masih kecil), padahal objek itu sendiri tidak mendatangkan keuntungan buat dirinya.

Inilah yang disebut dengan picik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s