Month: January 2014

Usulan Petunjuk Teknis SKB 3 Menteri Tentang Pelarangan Gerakan Ahmadiyah Indonesia

alamandang-rezayuliSKB 2 Menteri dan 1 Pejabat Negara setingkat Menteri mengeluarkan larangan kepada jemaat Ahmadiyah untuk melakukan aktivitasnya dan menyiarkan ajarannya.

Pendahuluan

Ahmadiyah di mana juga, termasuk di Indonesia tetap menjadi duri dalam daging bagi kehidupan Muslim mainstream yaitu Muslim Ahlus Sunnah Waljamaah. Khususnya di Indonesia, keberadaan kaum ini terus menjadi kendala dan dilematis bagi seluruh pihak. Pemerintah NKRI sudah mengeluarkan SKB 3 Menteri mengenai restriksi atas kelompok ini, namun toh tampaknya penyelesaiannya masih jauh dari harapan.

Penyelesaian masalah kaum ini umumnya terkendala pada  level HAM. Penggerak HAM beranggapan bahwa apapun yang menjadi kepercayaan kaum Ahmadiyah harus dihormati dan harus dibela karena merupakan bagian dari kebebasan azazi umat manusia. Dengan demikian umat Ahlus Sunnah Waljamaah tidak berhak melarang aktivitas dan eksistensi kaum Ahmadiyah ini. Di pihak lain, umat Muslim terus meyakinkan semua pihak bahwa kaum Ahmadiyah ini telah melanggar HAM, yaitu pada level penistaan suatu agama yang diakui secara sah di NKRI yaitu Islam. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa ada Rasul setelah Rasul Muhammad Saw. Ini jelas merupakan penistaan, dan penistaan suatu agama sebenarnya dapat diseret ke muka Hukum. SKB 3 Menteri tampaknya bukan merupakan suatu titik paling cerah untuk menyelesaikan masalah Ahmadiyah ini.

Berikut ini mungkin kita sebagai Ahlus Sunnah Waljamaah dapat memberikan suatu set restriksi, suatu titik tengah yang dapat menghancurkan jalan buntu penyelesaian masalah Ahmadiyah ini. Titik tengah ini tetap berbasis pada anti kekerasan, namun juga akan dapat memastikan bahwa Muslim Ahlus Sunnah Waljamaah akan dapat menjalankan fungsi amar maruf nahi mungkarnya terhadap kaum sesat ini. Pun, set restriksi ini tetap mempertahankan pernyataan sikap dari kaum Ahmadiyah sendiri, bahwa mereka tetaplah Muslim.

A. Umum.

Secara umum petunjuk pelarangan ini adalah berdasarkan pembagian antara ranah privat / domestik dan ranah publik. SKB 3 Menteri ini tidak melarang aktivitas keagamaan Ahmadiyah selama kegiatan keagamaan ini berada pada ranah privat. Termasuk tidak melarang jemaat Ahmadiyah untuk mengelola situs internet dengan menggunakan bahasa Qadian sebagai bahasa pengantar mereka di situs internet tersebut, shalat di rumah masing-masing, mengkaji kitabsuci Ahmadiyah di rumah masing-masing dan seterusnya.

B. Jenis Pelarangan.

Pelarangan aktivitas jemaat Ahmadiyah meliputi aktivitas keagamaan yang berifat organisasional / organisatoris dan keumatan. Pelarangan aktivitas Ahmadiyah tidak meliputi praktek / ibadah yang bersifat privat / domestik seperti shalat wajib 5 waktu, puasa, zikir, mengaji Alquran dan seterusnya.

Larangan kegiatan Ahmadiyah yang bersifat organisasional / organisatoris:

  1. Tidak melakukan kegiatan yang bersifat organisasi massa atau organisasi struktural berbasis Ahmadiyah seperti rekruitmen mubaligh Ahmadiyah, kaderisasi, lembaga pendidikan berbasis Ahmadiyah dan lain-lain.
  2. Tidak melakukan kegiatan kepemimpinan massa formal Ahmadiyah (seperti MUI untuk umat Muslim Sunnah Wal Jamaah) – berikut dengan agenda-agenda organisatorisnya.
  3. Tidak melakukan kegiatan kepartaian berbasis Ahmadiyah.
  4. Tidak memasang foto / icon Ahmadiyah di tempat / medua umum untuk tujuan tujuan Ahmadiyah sendiri.
  5. Tidak mengelola lembaga penerbitan Ahmadiyah seperti buku-buku Ahmadiyah, koran, media cetak, lembaran dakwah dan lain lain yang berbasis Ahmadiyah.
  6. Tidak mengelola lembaga media elektronik yang berbasis Ahmadiyah.
  7. Tidak mengelola situs internet baik berbahasa Indonesia (atau bahsa mansa pun yang dimengerti oleh masyarakat secara luas seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Arab, dan lain lain) mau pun berbasis di NKRI yang ditujukan untuk kepentingan Ahmadiyah.
  8. Tidak membina hubungan keorganisasian dan mau pun hubungan struktural dengan Ahmadiyah Dunia.

Larangan kegiatan Ahmadiyah yang bersifat keumatan:

  1. Shalat Jumat.
  2. Shalat Idul Fitri.
  3. Shalat Idul Adha.
  4. Shalat Tarawih.
  5. Mengelola Masjid mau pun mushala.
  6. Penyelenggaraan pemotongan hewan qurban.
  7. Selamatan / tahlilan, pengajian, tabligh dan lain lain yang diselenggarakan di tempat umum mau pun di kediaman pribadi pengikut Ahmadiyah.
  8. Lembaga pengumpulan zakat, infaq, sadaqah dan lain lain.
  9. Perayaan Maulid, perayaan Isra Mikraj, perayaan Tahun Baru Islam, perayaan milad Ahmadiyah.
  10. Sunatan massal.
  11. Mengajarkan faham Ahmadiyah di sekolah-sekolah di dalam bentuk apapun seperti di dalam bentuk kurikulum.

Dalam hal aktivitas keumatan ini maka individu Ahmadiyah DIHARUSKAN bergabung dengan aktivitas keumatan yang diselenggarakan oleh Sunnah Wal-Jamaah seperti shalat Jumat, Idul Fitri dan seterusnya. Menyekolahkan anak-anak kaum Ahmadiyah di sekolah yang dikelola Muslim Ahlus Sunnah Waljamaah merupakan suatu keharusan.

Warga Sunnah Waljamaah WAJIB secara santun dan penuh persaudaraan menerima individu Ahmadiyah ini sebagai saudara mereka (sepanjang mereka masih mengaku Muslim) di setiap kesempatan kegiatan keumatan Sunnah Waljamaah mereka, individu Ahmadiyah adalah individu yang harus dibina.

C. Asset Ahmadiyah.

Asset Ahmadiyah disita / di-klaim oleh negara dan kemudian berdasarkan persetujuan akan difungsikan berdasarkan arahan MUI.

D. Pembinaan Masyarakat.

Di dalam hal masyarakat luas seperti umat Sunnah Waljamaah mempropagandakan atau mensosialisasikan kesesatan Ahmadiyah di tengah masyarakat (khususnya yang ditujukan untuk membina faham ketauhidan masyarakat itu sendiri) setiap individu Ahmadiyah TIDAK BERHAK untuk melakukan gugatan, protes, mau pun memberikan klarifikasi.

Penutup.

  1. Implementasi ini tidak menitik-beratkan atau menyebutkan kata MEMPERTOBATKAN kaum Ahmady mengingat keyakinan individu terhadap suatu hal bersifat pribadi (privat) dan tidak dapat diukur dengan instrumen apapun. Hal terjauh yang dapat dilakukan oleh Ahlus Sunnah Waljamaah (khususnya di dalam hal ini Pemerintah NKRI) terhadap kaum Ahmadiyah adalah dengan membaurkan kehidupan keseharian dan keberagamaan kaum Ahmadiyah ke dalam kehidupan kaum Ahlus Sunnah Waljamaah (seperti bergabung di dalam shalat Jumat bergabung dengan umat Sunnah Waljamaah). Pengkotakan yang selama ini terjadi yaitu kaum Ahmadiyah membatasi kehidupan mereka hanya pada sesama mereka saja harus segera diakhiri dengan dijalankannya implementasi ini yaitu dengan cara pembauran secara merata. Salah satunya adalah pada butir bahwa kaum Ahmadiyah tidak diperkenankan untuk mengelola Masjid mau pun mushala mereka, dengan tujuan agar Masjid mereka dikelola oleh Sunnah Waljamaah dan agar tempat itu tidak lagi dijadikan basis pengajaran ajaran Ahmadiyah.
  2. Implementasi ini seutuhnya menggunakan pendekatan hak azasi manusia dan anti-kekerasan, yang fokusnya adalah menitik-beratkan pada usaha supaya Ahmadiyah tidak dapat established, tidak dapat berkembang dan tidak dapat mandiri. Hal yang paling mendasari implementasi ini adalah adanya pernyataan sikap dari pihak Ahmadiyah sendiri bahwa mereka adalah tetap Muslim. Dengan pernyataan tersebut Sunnah Waljamaah BERHAK DAN WAJIB mengambil tindakan yang perlu (namun tidak mengandung unsur kekerasan dan pelanggaran hak azasi manusia) untuk memastikan mereka adalah Muslim seutuhnya, bukan golongan Muslim yang sesat.
  3. Dengan set restriksi ini, seluruh pihak mempunyai kesempatan dan peluang sistematis untuk memutuskan mata-rantai dan mentiadakan next generation golongan Ahmadiyah ini.
  4. Pada dasarnya SKB 3 Menteri sudah memenuhi aspirasi Muslim NKRI, namun harus diakui bahwa SKB ini jauh dari harapan dilihat dari implementasi realnya. Usulan ini merupakan sikap bahwa mungkin Muslim NKRI (Ahlus Sunah Waljamaah) dapat meng-improvisasikan dan memberdayakan SKB 3 Menteri ini tanpa merugikan pihak mana pun, dan juga tanpa adanya tindak kekerasan dan irrasionalitas yang keji.
Advertisements

Masuk Surga Tanpa Hisab

alamandang-nasari

Kabar dari Rasulullah SAW

Wahai saudaraku, Sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas, telah meriwayatkan bahwa Rasululloh SAW bersabda:

“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat. Maka aku melihat seorang nabi disertai oleh beberapa orang, aku juga melihat seorang nabi hanya disertai satu orang, ada lagi yang disertai dua orang, dan ada seorang nabi yang tidak disertai seorang pun. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sejumlah besar orang, aku mengira mereka adalah umatku, ternyata dikatakan kepadaku: “Ini adalah Musa dan kaumnya. Akan tetapi, lihatlah ke arah ufuk.’ Maka aku melihat, ternyata ada sejumlah banyak orang. Kemudian dikatakan kepadaku: Lihatlah ke arah ufuk yang lain.’ Maka aku pun melihat, ternyata (di sana) ada sejumlah besar manusia. Maka dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan adzab”. Kemudian Rasulullah SAW bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Maka orang-orang ramai membicarakan mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Sebagian sahabat ada yang berkata: “Barangkali mereka adalah orang-orang yang menjadi sahabat Rasulullah SAW”. Sebagian lagi ada yang mengatakan: “Barangkali mereka adalah orang-orang yang dilahirkan di dalam masa Islam dan tidak menyekutukan Allah SWT”. Begitulah, mereka menyebutkan banyak kemungkinan. Kemudian Rasulullah SAW keluar menemui mereka seraya bersabda: “Apa yang sedang kalian perbincangkan?”. Para sahabat menceritakan perbincangan mereka. Maka Rasulullah SAW bersabda:

“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah (jampi), tidak meminta di-kayy, tidak ber-tathoyyur, dan mereka bertawakal hanya kepada Robb mereka”. Lalu Ukhasyah bin Mihshon berdiri dan berkata: “(Ya Rasulullah) mohonkanlah kepada Allah SWT agar Dia menjadikan saya termasuk golongan mereka.” Beliau menjawab: “Engkau termasuk mereka.” Kemudian berdirilah seorang yang lain dan berkata: “(Wahai Rasulullah) do’akanlah kepada Allah SWT agar menjadikan saya termasuk mereka”. Rasulullah SAW menjawab: “Kamu sudah didahului Ukasyah” (HR. al-Bukhori: 6541 dan Muslim: 220).

Dan dalam hal yang sama Imam Ahmad dan Imam al-Baihaqi meriwayatkan hadits yang bersumber dari sahabat Abu Huroiroh dengan lafazh: “Maka saya minta tambah kepada Robbku, kemudian Allah SWT memberi saya tambahan setiap seribu orang itu membawa tujuh puluh ribu orang lagi”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata mengomentari sanad hadits ini: “Sanadnya jayyid (bagus)” (Fathul Bari: 11/410).

Agar Bisa Masuk Surga Tanpa Hisab dan Adzab

Wahai saudaraku, telah kami jelaskan di atas tadi bahwa golongan yang masuk surga tanpa hisab dan adzab adalah mereka yang telah berhasil merealisasikan tauhid secara bersih dan nyata dalam kehidupannya. Dan termasuk bentuk realisasi tauhid adalah bersikap hati-hati terhadap hal-hal yang mungkin dapat merusakkan tauhid. Mereka itu adalah orang-orang yang:

1.   Tidak minta di-ruqyah

Ruqyah artinya memberikan pengobatan dengan cara membacakan ayat al-Qur’an kepada orang yang sakit atau kerasukan jin, dan boleh dilakukan dengan disertai memberikan semburan ludah pada tempat yang terkena gigitan binatang berbisa atau yang lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa mustarqi (orang yang meminta di-ruqyah) adalah orang yang minta diobati, dan hatinya sedikit berpaling kepada selain Allah SWT. Hal ini akan mengurangi nilai tawakalnya kepada Allah SWT. Sedangkan ar-roqi (orang yang me-ruqyah) adalah seorang yang muhsin (murah hati) atau orang yang hanya ingin berbuat baik dan memberi manfaat kepada saudaranya.3 (Majmu’ Fatawa: 1/182, 328)

2.   Tidak minta di-kayy

Kayy adalah menempeli luka dengan besi yang dipanaskan. Tidak minta di-kayy maknanya ialah mereka tidak minta kepada orang lain untuk meng-kayy sebagaimana mereka tidak minta di-ruqyah. Mereka menerima qodho’ (ketentuan) dan menikmati musibah yang menimpanya mereka.

Hukum kayy itu sendiri dalam Islam tidak dilarang. Islam membolehkan selama tidak menjadi pilihan pertama. Hanya, seorang yang tidak minta di-kayy itu menunjukkan akan kesempurnaan tawakalnya kepada Allah SWT.

3.   Tidak melakukan tathoyyur

Tathoyyur adalah beranggapan sial (merasa pesimis) berdasarkan burung-burung, suara-suara burung, arah terbangnya burung, atau berdasarkan tempat-tempat tertentu, lafazh-lafazh tertentu, hari-hari tertentu, angka-angka tertentu, bulan-bulan tertentu dan seterusnya. Ini batil menurut Islam karena termasuk syirik.

4.   Bertawakal kepada Allah SWT

Ini yang paling utama, seseorang harus bertawakal hanya kepada Allah SWT. Insya Allah dengan tawakal yang utuh, tauhid akan dapat terwujud secara bersih dan nyata. Dan ketahuilah bahwa makna hadits di atas tidak menunjukkan bahwa mereka tidak mencari sebab sama sekali. Karena mencari sebab (supaya sakitnya sembuh) termasuk fitrah dan sesuatu yang tidak terpisahkan darinya. Mereka meninggalkan perkara-perkara makruh walaupun mereka sangat butuh dengan cara bertawakal kepada Allah SWT. Seperti kayy dan ruqyah, mereka meninggalkan hal itu karena termasuk sebab yang makruh. Apalagi perkara yang haram.

Adapun mencari sebab yang bisa menyembuhkan penyakit dengan cara yang tidak dimakruhkan, maka hal itu tidak membuat cacat dalam tawakal. Dengan demikian kita tidaklah meninggalkan sebab-sebab yang disyari’atkan sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang bersumber dari Abu Huroiroh bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit melainkan (Dia pun) menurunkan obat untuknya, ada yang mengetahui obat itu dan ada (pula) yang tidak mengetahuinya” (HR. al-Bukhori: 5678 dan Ahmad: 1/377).

Beliau SAW juga bersabda: “Wahai hamba-hamba Allah SWT, bertobatlah kalian. Sesungguhnya Allah SWT tidaklah menimpakan sesuatu melainkan Dia telah meletakkan obat baginya, kecuali satu penyakit saja, yaitu pikun.” (HR. Ahmad: 4/278, Abu Dawud: 3855, dishohihkan Syaikh al-Albani dalam shohih Sunan Abu Dawud: 2/461)

WAllahu A’lam.

http://forum.dudung.net/index.php?topic=18841.0

Orang-Orang yang Dijamin Masuk Surga

alamandang-agungbudi-s

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirahmaanirrahiim…

Keinginan menjadi penghuni surga tidak cukup hanya berdo’a, tapi kita harus berusaha memiliki sifat dan amal calon penghuninya dan usaha itu sekarang dalam kehidupan kita di dunia ini.

Memberi Makan

Rasulullah Saw. bersabda:

“Sembahlah Allah Yang Maha Rahman, berikanlah makan, tebarkanlah salam, niscaya kamu masuk surga dengan selamat ” (HR. Tirmidzi)

Di dalam hadits lain, Rasulullah Saw. juga bersabda:

“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang luarnya dapat dilihat dari dalamnya dan dalamnya dapat dilihat dari luarnya, Allah menyediakannya bagi orang yang memberi makan, menebarkan salam dan shalat malam sementara orang-orang tidur ” (HR. Ibnu Hibban).

Menyambung Silaturrahim

Rasulullah Saw. bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang suka memutuskan, Sufyan berkata dalam riwayatnya: yakni memutuskan tali persaudaraan ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Shalat Malam

Tempat terpuji di sisi Allah SWT. adalah surga yang penuh dengan kenikmatan yang tiada terkira, karenanya salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk bisa diberi tempat yang terpuji itu adalah dengan melaksanakan shalat tahajjud saat banyak manusia yang tertidur lelap, Allah SWT. berfirman:

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji ” (QS Al Isra [17]:79).

Memudahkan Orang Lain

Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya seorang lelaki masuk  surga. Dia ditanya: “Apa yang dulu kamu kerjakan?”. Dia menjawab, dia ingat atau diingatkan, dia menjawab: “Aku berjual beli dengan manusia lalu aku memberi tempo kepada orang yang dalam kesulitan dan mempermudah urusan dengan pembayaran dengan dinar atau dirham”. Maka dia diampuni.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Berjihad

Manakala kaum muslimin hendak berjihad, maka AllahSWT menyediakan surga untuk siapa saja yang berjihad di jalan-Nya, bahkan orang yang berjihad dan mati syahid meskipun dahulunya ia kafir dan pernah membunuh kaum muslimin dijamin masuk surga, Rasulullah Saw. bersabda:

“Allah tertawa kepada dua orang yang saling membunuh yang keduanya masuk surga. Para sahabat bertanya: “Bagaimana yang Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Yang satu (muslim) terbunuh (dalam peperangan) lalu masuk surga. Kemudian yang satunya lagi (si kafir) taubatnya diterima oleh Allah ke dalam Islam, kemudian dia berjihad di jalan Allah lalu mati syahid.” (HR. Muslim dah Abu Hurairah ra).

Tidak Sombong

Manakala seseorang berlaku sombong, sangat kecil peluang baginya untuk bisa masuk ke dalam surga, di dalam hadits, Rasulullah Saw. bersabda:

”Tidak masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan.” (HR. Muslim).

Tidak Memiliki Fanatisme yang Berlebihan

Hal ini terdapat dalam hadits Nabi Saw.:

“Bukan golongan kamu orang yang menyeru kepada ashabiyah, bukan golongan kami orang yang berperang atas ashabiyah dan bukan golongan kami orang yang mati atas ashabiyah ” (HR. Abu Daud)

Terbebas dari Hutang

Rasulullah Saw. bersabda:

“Berhati-hatilah dalam berutang, sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) pada siang hari. ” (HR. Baihaki)

Peka Terhadap Peringatan

Orang seperti ini digambarkan oleh Rasulullah Saw sebagai orang yang berhati seperti burung sebagaimana disebutkan dalam sabdanya:

“Akan masuk surga kelak kaum-kaum yang hati mereka seperti hati burung.” (HR. Ahmad dan Muslim).

Menahan Amarah

Rasulullah Saw. bersabda:

“Marah itu dapat merusak iman seperti pahitnya jadam merusak manisnya madu ” (HR. Baihaki).

Allah SWT. berfirman sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Qudsi:

“Wahai anak Adam, ingatlah kepada-Ku ketika kamu marah. Maka Aku akan mengingatmu jika Aku sedang marah (pada hari akhir) “.

Ikhlas Menerima Kematian Anak dan Orang yang Dicintai

Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda dalam hadits qudsi:

“Tidak ada pembalasan bagi seorang hamba-Ku yang percaya, jika Aku mengambil kekasihnya di dunia, kemudian ia ridha dan berserah kepada-Ku, melainkan surga.” (HR. Bukhari).

Bersaksi Atas Kebenaran Al-Qur’an

Bersaksi atas kebenaran Al-Qur’an juga harus ditunjukkan dengan penyebaran nilai-nilainya dalam kehidupan masyarakat dan yang lebih penting lagi adalah kebenaran Al-Qur’an itu ditunjukkan dalam sikap dan perilakunya sehari-hari. Orang seperti inilah yang mendapat jaminan masuk surga oleh Allah SWT. sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari Kitab-Kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka catatlah Kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Ouran dan kenabian Muhammad saw). Mengapa Kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada Kami, Padahal Kami sangat ingin agar Tuhan Kami memasukkan Kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?”. Maka Allah memberi mereka pahala terhadap Perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).” (QS. Al-Maidah: 5]: 83-85).

Berbagi Kepada Orang Lain

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah Saw.:

“Empat puluh kebaikan yang paling tinggi adalah pemberian seekor kambing yang diperah susunya. Tidak seorangpun yang melakukan salah satu darinya dengan mengharapkan pahala dan membenarkan apa yang dijanjikan karenanya, kecuali Allah memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Bukhari).

Hakim yang Benar

Rasulullah saw bersabda:

“Hakim-hakim itu ada tiga golongan, dua golongan di neraka dan satu golongan di surga: Orang yang mengetahui yang benar lalu memutus dengannya, maka dia di surga. Orang yang memberikan keputusan kepada orang-orang di atas kebodohan, maka dia itu di neraka dan orang yang mengetahui yang benar lalu dia menyeleweng dalam memberikan keputusan, maka dia di neraka.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim).

Mudahan-mudahan kita termasuk orang yang mau berusaha untuk bisa masuk ke dalam surga. Aamiin……

http://ekasepiani.blogspot.com/2012/07/orang-orang-yang-dijamin-masuk-surga.html