Month: April 2014

Hukum Mendoakan Nonmuslim

Hukum Mendoakan Nonmuslim

Nonmuslim merupakan kelompok manusia yang jelas-jelas mengingkari keesaan Allah Swt melalui kerasulan Muhammad Saw. Dan oleh karenanya nonmuslim merupakan manusia-manusia yang berbuat kerusakan di bumi Allah Swt ini, karena dengan menjadi nonmuslim, mereka sebenarnya telah beragama kepada agama yang tidak mengajarkan kesantunan terhadap diri sendiri, seluruh manusia, kepada para Nabi, kepada para Malaikat as, dan terhadap alam semesta.

Islam mengajarkan, bahwa karena mereka yang selalu berbuat kerusakan di bumi Allah Swt ini, maka sudah jelas laknat dan kutuk Allah Swt tertimpa atas mereka buat selama-lamanya (kecuali mereka bertobat). Dengan latar belakang hal ini, maka bagaimana mungkin Muslim dapat dibenarkan untuk mendoakan kaum nonmuslim (kafir) ini? Sebenarnya-lah, mendoakan kaum nonmuslim merupakan suatu perbuatan zalim yang dicatat Allah Swt sebagai dosa. Dengan kata lain, seorang Muslim akan berdosa kalau mendoakan (kebaikan) kaum nonmuslim ini. Sejatinya, bagaimana kita bisa mendoakan kebaikan untuk kaum nonmuslim, sementara kutuk dan laknat Allah Swt saja sudah pasti tertimpa atas mereka buat selama-lamanya? Maka bukankah mendoakan kaum non Muslim merupakan suatu kelancangan terhadap ketetapan Allah Swt?

Di lain pihak, kita semua adalah umat manusia yang harus saling berbagi karunia, dan saling menghormati satu sama lain. Islam juga mengajarkan supaya kita senantiasa menjalin hubungan yang baik dan harmonis dengan siapa saja, dan khususnya di dalam hal ini kepada kaum nonmuslim. Islam sama sekali tidak mengajarkan kita supaya selalu berwajah bengis kepada kaum non-Muslim. Ramah dan santun tetaplah merupakan kata yang terbersit di wajah kita saat menemui mereka. Itulah Islam: agama yang diturunkan kepada umat manusia untuk membuat manusia tetap pada nilai kemanusiaannya yang agung, bukan yang bertujuan untuk membuat manusianya menjadi monster yang tidak berakal sehat sama sekali.

Islam mengajarkan bahwa Muslim adalah terlarang untuk mendoakan kaum non-Muslim. Dan pada situasi tertentu semisal saudara non-Muslim kita sedang sakit, kita pun terlarang untuk mendoakan kesembuhan mereka. Benarkah demikian?

Di dalam berbahasa, terdapat kosakata “ingin”, atau “menginginkan”, atau “keinginan”; padanan katanya adalah cita-cita, mau, semoga, dan lain lain. Kata “menginginkan” ini terbagi menjadi dua jenis yaitu HARAP dan DOA. Dua kata ini tentulah ada perbedaannya dan juga ada persamaannya.

Persamaan antara kedua kata ini adalah, sama-sama suatu keinginan, yang terbersit di dalam jiwa seorang manusia. Dan baik harap mau pun doa, merujuk pada suatu hal yang belum ada di masa depan.

Perbedaaannya adalah, bahwa suatu “keinginan” akan dikatakan DOA, kalau pada ungkapan “keinginan” itu dilibatkan (atau disisipkan, disebutkan) nama Allah Swt. Dan kebalikannya, kalau pada ungkapan “keinginan” tidak disebutkan nama Allah Swt, maka keinginan tersebut adalah harap.

HARAP = ungkapan “keinginan” yang tidak mengandung nama Allah.

DOA = ungkapan “keinginan” yang mengandung nama Allah Swt.

HARAPDANDOA

Contoh 1,

Versi HARAP = semoga Anda lekas sembuh.

Versi DOA = semoga Allah Swt segera menurunkan kesembuhan kepada Anda, amin!

Contoh 2,

Versi HARAP = semoga bisnis Anda selalu sukses buat selama-lamanya.

Versi DOA = semoga Allah Swt selalu mensukseskan bisnis Anda buat selama-lamanya, amin!

Contoh 3,

Versi HARAP = semoga Anda sekeluarga selalu sehat dan bahagia.

Versi DOA = semoga Allah Swt selalu menurunkan kesehatan dan kebahagiaan untuk Anda sekeluarga, amin!

Contoh 4,

Versi HARAP = semoga Anda berdua menjadi suami istri yang selalu bahagia, rukun dan banyak keturunan.

Versi DOA = semoga Allah Swt menjadikan Anda suami istri yang selalu rukun, bahagia, sakinah, mawaddah, marrohmah dan segera mendapatkan keturunan yang sehat dan saleh salehah. Amin!

Contoh kasus.

Abdul adalah seorang Muslim. Ia mempunyai dua kawan Hasan dan Frans. Hasan adalah Muslim, dan Frans adalah nonmuslim. Suatu saat Hasan dan Frans dirawat di rumahsakit. Abdul mengunjungi dua kawannya itu untuk memberi dukungan moral.

Kepada Hasan, Abdul akan berkata, “Semoga Allah Swt menurunkan kesehatan kepada Anda, dan mengampuni seluruh dosa Anda dan kita semua. Semoga Allah Swt membalas seluruh kesabaran Anda selama sakit ini dan menggantikannya dengan rejeki yang melimpah. Amin!”.

Sementara itu, kepada Frans, kawannya yang nonmuslim, Abdul akan berkata, “semoga Anda cepat sembuh seperti sedia kala”.

-o0o-

Harus difahami, bahwa DOA adalah suatu keinginan yang dipanjatkan kepada Allah Swt. Jadi dengan kata lain, DOA adalah permintaan kepada Allah Swt, meminta supaya Allah Swt berkenan untuk mengabulkan DOA-nya. Dengan background ini, maka sudah pasti, hanya DOA yang dipanjatkan Muslim saja yang akan didengar Allah Swt, dan DOA itu pun hanya boleh ditujukan kepada sesama Muslim. Singkat kata, DOA adalah sakral, karena merupakan ruh yang menjiwai hubungan antara Muslim dengan Allah Swt.

Di lain pihak, HARAP, merupakan suatu ungkapan yang umurnya setua umat manusia, yang tinggal di muka bumi ini. HARAP adalah ungkapan yang universal, melebihi keuniversalan DOA. HARAP adalah suatu pertalian yang tidak dapat diingkari dan tidak dapat diputus oleh agama mana pun, karena manusia itu sendiri mempunyai kehormatan di sisi Allah Swt sejak semula. Tidak mungkin Allah Swt berkehendak memutus TALI HARAP antara satu manusia dengan manusia lain, karena Allah Swt sendirilah Yang memerintahkan manusia untuk hidup rukun di bumi. HARAP-lah yang menghubungkan satu manusia dengan manusia lainnya secara rohani, dan keridhaannya bangkit di sisi Allah Swt: suatu Hablum Minannas yang diridhai Allah Swt.

Kembali ke pertanyaan semula, bolehkah kita mendoakan kesembuhan untuk saudara kita yang nonmuslim? Jawabannya adalah, bahwa mengharapkan kesembuhan, boleh, bahkan dianjurkan. Namun Muslim tetaplah terlarang untuk MENDOAKAN orang tersebut.

Wallahu a’lam bishawab.

Untuk melengkapi pemahaman antara doa dan harap ini, silahkan lanjut membaca artikel ini, Doa Kita Untuk Siapa

Advertisements

Benarkah Nabi Muhammad Saw Memelihara Kucing

hewanpeliharaan

Banyak di antara kita yang suka memelihara dan menyayangi kucing. Tahukah Anda bahwa Nabi Muhammad memiliki seekor kucing kesayangan yang Baginda namakan ‘Mueeza’?

Muezza Kesayangan Rasulullah

Setiap kali Rasulullah menerima tamu di rumah, Baginda selalu menggendong Mueeza dan diletakkan di atas paha Baginda. Salah satu sifat Mueeza yang paling Rasulullah suka ialah Mueeza selalu mengiaw sewaktu mendengar azan, seolah-olah bunyi suaranya seperti mengikuti alunan suara azan tersebut.

Suatu saat Rasulullah hendak mengambil jubahnya, ternyata Muezza sedang tidur dengan santai di atas jubah Baginda. Oleh kerana tidak ingin mengganggu kucing kesayangannya itu, Rasulullah pun memotong lengan jubah Baginda yang dibaringi oleh Mueeza supaya tidak membangunkan Muezza.

Ketika Baginda pulang ke rumah, Muezza terbangun dan menundukkan kepala kepada tuannya. Rasulullah menunjukkan kasih sayangnya dengan mengusap lembut ke badan kucing itu.

Kucing Tidak Najis

Nabi menekankan bahwa kucing itu tidak najis. Bahkan dibenarkan untuk berwudhuk menggunakan air bekas minum kucing karena tidak najis.

Abu Qatadah Radliyallaahu ra berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia adalah termasuk hewan yang suka berkeliaran di rumah (hewan pemeliharaan).” [HR At-Tirmidzi, An-Nasa’I, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah].

Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan bahawa Rasulullah pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah. Lalu, Baginda berkata, “Ya Anas! Tuangkan air wudhuk untukku ke dalam bekas.” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Rasulullah menuju ke arah bekas tersebut.

Namun, seekor kucing datang dan menjilat bekas tersebut. Melihat itu, Rasulullah berhenti sehingga kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhuk.

Rasulullah ditanya mengenai kejadian tersebut, Baginda menjawab, “Ya Anas! Kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, malah tidak ada najis”.

Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang mendirikan solat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk meletakkannya.

Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia terlupa pada buburnya. Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, ‘Aisyah ra. membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah memakannya.

Rasulullah bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliaran di rumah”. Aisyah juga pernah melihat Rasulullah berwudhuk dari sisa jilatan kucing, [Hadis Riwayat alBaihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-Daruquthni].

Hadis ini diriwayatkan dari Malik, Ahmad dan imam hadis yang lain. Oleh karena itu, kucing adalah binatang yang badan, peluh, dan bekas makanannya adalah suci.

Demikianlah kisah tentang kucing Nabi Muhammad yaitu Mueeza. Semoga dengan menghayati kisah di atas, kita akan ketahui betapa kasih dan sayangnya Rasulullah terhadap hewan.

Rasulullah berpesan supaya menyayangi kucing kesayangan sebagaimana kita menyayangi keluarga sendiri. Aisyah binti Abu Bakar As-Shiddiq, isteri Rasulullah juga amat menyayangi kucing dan berasa amat kehilangan jika ditinggal pergi oleh kucingnya. Beberapa orang terdekat Nabi turut memelihara kucing. Abdul Rahman bin Sakhr Al Azdi. diberi gelaran Abu Hurairah (bapa para kucing jantan), karena kegemarannya menjaga dan memelihara berbagai jenis kucing jantan di rumahnya.

Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah berat, dalam sebuah hadis sahih Al-Bukhari, dikisahkan seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan, Nabi SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah neraka.

Abdullah bin Umar ra. juga meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Seorang wanita disiksa karena mengurung kucing sampai mati. Kemudian wanita itu masuk neraka karenanya, yaitu karena ketika mengurungnya dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum sebagaimana dia tidak juga melepasnya mencari makan dari serangga-serangga tanah (Hadis Riwayat Muslimr.a.)”.

Sumber,

http://shafiqolbu.wordpress.com/2013/05/26/mueeza-kucing-kesayangan-nabi-muhammad-saw/ – 22 April 2014.

————————————–

Assalamu ‘alaikum wr wb ….

Tentulah tidak demikian adanya.

Islam tetap melarang umatnya untuk memelihara hewan kesayangan, karena memelihara hewan dengan tujuan untuk kesenangan dan kebanggaan, maka tempatnya adalah di neraka. Kalimat ini merupakah Alhadis dari baginda Muhammad saw.

Adapun kisah Nabi saw mempunyai kucing kesayangan, itu memang benar. Namun tentu saja pemandangannya harus diluruskan. Kucing yang dimaksud dalam kisah Nabi saw, merupakan kucing yang berkeliaran.

Jadi, Nabi saw tidak pernah mempunyai ANGGARAN baik keuangan maupun makanan yang baik-baik, yang tayib, untuk dijatahkan kepada kucing. Karena kalau Nabi saw mempunyai ANGGARAN TERSENDIRI BAIK BERUPA UANG MAUPUN MAKANAN MAUPUN PAKAIAN (DLL) YANG BAIK-BAIK YANG KHUSUS DIJATAHKAN UNTUK KUCING, maka barulah itu akan menjadi HUJJAH bagi kita untuk mengatakan bahwa memelihara kucing merupakan suatu sunnah Nabi saw.

Apakah kita di sini mempunyai Alhadis yang menjelaskan bahwa Nabi saw mempunyai anggaran tersendiri (BAIK DALAM BENTUK UANG, MAKANAN, SELIMUT DLL yang dalam kondisi baik) untuk dijatahkan kepada kucing??? Kalau kita mempunyai Alhadis tersebut, maka tentu saja hal itu akan menjadi hujjah bahwa Muslim dibenarkan untuk mempunyai hewan peliharaan, dan di dalam hal ini memelihara kucing.

Masalah bahwa Nabi saw suka menggendong kucing apalagi menimangnya di atas pangkuannya, maka hal itu adl wajar. Jadi bukan merupakan suatu syariah. Adalah tidak mungkin Nabi saw harus mengingkari perasaan kemanusiaannya terhadap kucing yang lucu-lucu …. NAMUN bukan berarti kucing itu merupakan hewan peliharaan Nabi saw.

Nabi saw akan dikatakan memelihara kucing, KALAU Nabi saw mempunyai anggaran tersendiri untuk memberi makanan, pakaian, perkakas yang baik-baik untuk kucing …. Di satu pihak Nabi saw mengajarkan kita untuk menyediakan anggaran (rancangan keuangan) untuk disedekahkan kepada manusia fakir lain (memanusiakan manusia), ternyata di pihak lain Nabi saw malah memberikan anggaran itu untuk seekor kucing (memanusiakan kucing), dan lebih menelantarkan manusia-manusia fakir lainnya. Apakah mungkin Nabi saw berlaku demikian?

Singkat kata, kita harus dapat membedakan, apakah Muhammad Saw sayang kepada kucing, atau Muhammad Saw memelihara kucing? Karena tentunya ada perbedaan, antara “sayang kucing” dengan “memelihara kucing”.

Sayang kucing memang dibenarkan, namun memelihara kucing tentu saja dilarang. Intinya, memelihara hewan dengan tujuan untuk kebanggaan dan kesenangan, merupakan suatu perbuatan maksiat.

Logikanya saja, kalau kita memelihara hewan kesayangan seperti kucing, burung, musang, hamster, dlll, maka pasti kita akan mengeluarkan uang untuk makanannya, minumannya, kandangnya, dan biaya perawatan medisnya; belum lagi aksesorisnya. Dan uang itu pastilah di dalam jumlah yang lumayan besar. Ingat, bukankah sebaiknya uang itu kita gunakan untuk memberi makan fakir miskin? Atau setidaknya, akan lebih baik kalau uang itu kita belanjakan untuk memberi makan anak, keponakan, cucu dlll?

Pun di lain pihak, ada dua hal yang ada pada hewan-hewan peliharaan tersebut – kalau kita ingin memeliharanya:

Pertama, hewan-hewan kesayangan itu, tanpa kita beri makan, tanpa kita beri kandang, tanpa kita beri minum, toh sudah ada yang memberi makan dan rejekinya, yaitu Allah Swt. Jadi mengapa kita harus bersusah payah memberi makan hewan-hewan tersebut – sementara kita tahu bahwa rejeki hewan itu saja sudah ditanggung oleh Allah Swt? Maka bukankah lebih baik kalau uang yang kita miliki itu kita belanjakan saja untuk kaum fakir miskin?

Kedua, dengan memelihara hewan kesayangan, sebenarnya kita telah mengekang kebebasan hewan tersebut. Dengan memelihara hewan kesayangan, kita telah mengurungnya, telah memenjarakannya, dan telah melanggar kebebasannya untuk bisa bertemu dengan sekawanannya, seperti pasangannya, anak-anaknya, sarang kesayangannya, makanan kesukaannya, dlll. Memelihara hewan di dalam kandang misalnya, tahukah bahwa kita telah mengakibatkan hewan tersebut tidak lagi dapat bebas terbang atau berkeliaran? Tentulah hal ini merupakan dosa.

Tentang jilatan kucing yang tidak najis.

Alhadis di atas menguraikan bahwa bekas jilatan kucing tidak najis. Hal ini bukan menjadi dasar bahwa kucing mempunyai keistimewaan, sehingga dengan demikian kita dianjurkan untuk memelihara kucinng.

Ingatlah, bahwa ayam, musang, hamster, dlll juga tidak najis perihal bekas jilatannya. Di dalam Islam, satu-satunya hewan yang najis adalah ANJING, yang mana adalah najis liurnya, bekas jilatannya, bahkan najis untuk berada di dalam rumah. Memegang mau pun membelai anjing pun juga najis kalau tubuh / bulu si anjing di dalam keadaan basah.

Jadi, kalau ada Alhadis yang menyatakan bahwa jilatan kucing tidak najis, hal tersebut bukanlah keistimewaan untuk kucing, karena hal itu juga berlaku untuk seluruh satwa KECUALI anjing.

Memelihara hewan yang dibenarkan

Muslim dibenarkan memelihara hewan, kalau tujuan dan maksudnya adalah SELAIN kesenangan dan kebanggaan. Hal ini seperti:

  • Memelihara ikan untuk dimakan,
  • Memelihara ayam dan itik untuk dimakan dagingnya mau pun telurnya,
  • Memelihara kuda dan keledai untuk tenaganya,
  • Memelihara kambing, sapi dan kerbau untuk daging, susu dan tenaganya buat membajak sawah mau pun menarik pedati,
  • Memelihara domba untuk diambil daging, susu dan bulunya, dlll.

Memelihara satwa-satwa tersebut dengan tujuan di atas tentu saja dibenarkan di dalam Islam, karena hal itu merupakan nafkah di dalam kehidupan ini. Intinya, memelihara hewan adalah dibenarkan kalau tujuan adalah untuk nafkah mau pun teknis.

Contoh kasus

Memelihara kuda tentu saja dibenarkan di dalam Islam kalau tujuannya adalah untuk kuda beban seperti untuk menarik pedati. Namun lain halnya, kalau seseorang memelihara kuda yang digunakan untuk dipelihara di lingkungan villa-nya, di mana kalau ia berlibur di villa-nya, ia ingin bersenang-senang dengan menunggangi kuda berkeliling desa. Hal ini berbalik menjadi dosa dan maksiat.

Yang dimaksud dibenarkan memelihara kuda sebagai kuda beban atau kuda pedati adalah, kalau pedati yang digunakan adalah untuk mencari nafkah buat keluarganya, atau untuk mempermudahnya bertransportasi di pedesaan yang mobil sulit untuk diaplikasikan. Sedangkan di dalam kasus di atas, si orang kaya ini menunggangi kudanya hanya untuk senang-senang, padahal mobil sudah bisa diaplikasikan, dan pun bukan untuk mencari nafkah buat keluarganya. Itulah sebab dosanya ia memelihara kuda dengan situasi seperti ini.

Kasus berikutnya, seseorang memelihara ikan. Di dalam Islam dibenarkan memelihara ikan kalau tujuannya adalah untuk dimakan atau untuk dijual. Namun lain halnya, ketika seseorang memelihara ikan untuk dilepaskan di dalam aquariumnya yang cantik dan mewah. Hal ini berbalik menjadi dosa. Ikan aquarium tentu saja tidak dapat dimakan, dimakan rasanya tidak enak. Inilah tersebab dosanya kalau memelihara ikan hias, karena jatuhnya adalah mubazir tersebab membeli makanan ikan hias itu yang adalah mahal: lebih baik uang itu diberikan kepada fakir miskin. Dan daripada waktunya dihabiskan untuk memelihara ikan hias di aquarium, lebih baik waktunya dihabiskan untuk memperhatikan anak-anaknya, atau fakir miskin, seperti itu.

Kasus lainnya, seseorang memelihara burung (atau hewan cantik lainnya) untuk dijual sebagai pencarian nafkahnya. Bagaimana hukumnya?

Di satu pihak, menurut logikanya, adalah haram memelihara burung karena dipelihara hanya untuk kesenangan, seperti didengar kicaunya, atau dilihat bulu-bulunya yang menawan. Namun di pihak lain, menjual burung peliharaan (bisa jadi) merupakan nafkah pencarian bagi seseorang. Memelihara burung yang tujuannya adalah untuk dijadikan pencarian karena akan dijual di pasar, merupakan suatu dosa. Ingat, di dalam Islam menurut bab muamalah, adalah terlarang memperjual-belikan benda-benda yang diharamkan, seperti menjual / membeli khamr, babi, patung dan lain lain. Ini juga termasuk menjual hewan (peliharaan) yang tujuan pemeliharaannya adalah hanya untuk kesenangan dan kebanggaan. Hal ini juga berlaku untuk hewan lainnya seperti hamster, musang, kelinci, marmut, aneka unggas cantik dan eksotik, aneka hewan melata seperti kadal, ular, biawak, iguana, mau pun kura-kura, dan lain lain.

Demikianlah tuntunan Islam mengenai hewan peliharaan, antara hewan yang diperbolehkan untuk dipelihara karena tujuannya adalah untuk dimakan, dibeban, mau pun untuk pencarian nafkah, dan hewan yang terlarang untuk dipelihara karena tujuan pemeliharaannya adalah hanya untuk kesenangan dan kebanggaan. Tujuan Islam tentulah mulia dan Agung:

  • Pertama, adalah alasan kemubaziran.
  • Kedua, adalah lebih baik menyantuni sesama manusia daripada membelanjai hewan yang sebenarnya rejekinya sudah ditanggung oleh Allah Swt.
  • Ketiga, menjaga keamanan hewan tersebut untuk bebas hidup di luar kandang, supaya tidak menganiaya hak para hewan.
  • Keempat, menjaga hewan tersebut dari ancaman kepunahan karena diperjualbelikan.

Wallahu a’lam bishawab.

Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid

jalan-ke-masjid

Saya mempunyai seorang sahabat yang tinggal di rumah kontrakan. Di rumah kontrakan itu ia hidup bersama seorang istri dan dua anak gadisnya. Tampaknya mereka keluarga yang bahagia tidak kekurangan suatu apa.

Di dekat rumah (kontrakan)-nya itu ada sebuah Masjid, tidak seberapa jauh. Jadi kalau sang sahabat ingin shalat berjamaah ia tidak perlu berjalan kaki jauh-jauh, karena Masjid sudah ada di pelupuk mata.

Sebenarnya rumah kontrakannya yang sekarang ini adalah kontrakannya yang kedua. Sebelumnya, sang sahabat mengontrak rumah di tempat lain. Dan yang saya perhatikan adalah, rumah kontrakan yang ia tempati pasti berdekatan dengan Masjid. Sahabat ini berkata kepada saya, bahwa ia memang sengaja mencari rumah kontrakan yang dekat dengan Masjid, supaya masalah shalat berjamaahnya tidak keteter. Maklum, sahabat ini termasuk Muslim yang taat.

Sahabat ini adalah seorang Muslim yang mempunyai visi, bahwa shalat yang baik menurut tuntunan Islam adalah shalat yang dilakukan secara berjamaah di Masjid, dan menghindari shalat (berjamaah) di rumah.

Benarkah demikian?

Saya sampaikan kepadanya, bahwa menurut ajaran Rasulullah, shalat (berjamaah) haruslah di rumah, bukan di Masjid. Jadi, menurut ajaran Rasulullah, shalat berjamaah di Masjid itulah yang tidak Islami, dan yang IslamI adalah shalat berjamaah di rumah masing-masing.

  • Shalat berjamaah di Masjid = tidak Islami.
  • Shalat berjamaah di rumah = Islami.

Saya katakan kepadanya, “kalau Anda shalat di Masjid, lantas anak-anak Anda ini, siapa yang meng-imami? Bukankah sebagai ayah mereka Andalah yang harus meng-imami shalat mereka? Dan bukankah anak-anak Anda adalah tanggungjawab Anda Dunia akhirat?”. Sahabat terdiam tidak mempunyai jawaban.

Tidak ada Alhadis Nabi

Tidak ada satu pun Alhadis yang menyatakan bahwa shalat berjamaah harus lah di Masjid. Atau, tidak ada satu pun Alhadis yang menyatakan bahwa shalat berjamaah akan lebih besar pahalanya kalau ditunaikan di Masjid.

Kalau shalat berjamaah yang nilai dan derajatnya lebih tinggi daripada shalat sendiri, memang ada Alhadisnya; semua Muslim pun sudah tahu Alhadis tersebut. Namun kalau Alhadis yang menyatakan bahwa shalat berjamaah adalah lebih besar pahalanya kalau ditunaikan di Masjid, jelas tidak ada Alhadisnya. Atau juga, Alhadis yang menyatakan shalat berjamaah harus ditunaikan di Masjid, tidak ada.

Oleh karena itu, kalau kita melihat kecendrungan kaum bapak atau kaum pria Muslim berduyun-duyun ke Masjid untuk shalat berjamaah, baik shalat Maghrib, Isya mau pun shubuh, maka hal itu dapat dikatakan sebagai suatu hal yang bathil – karena tidak ada dasarnya di dalam fiqih Islam: Muhammad Saw tidak pernah ajarkan hal yang demikian.

Dan terlebih lagi, kalau pria Muslim shalat (berjamaah) di Masjid, maka pertanyaannya adalah, siapakah yang meng-imami shalatnya anak-anak dan istri mereka? Bukankah para lelaki itu adalah ayah dan suami mereka?

Muhammad Saw selalu shalat di Masjid.

Banyak Muslim yang shalat (berjamaah) di Masjid, karena mereka berkeyakinan bahwa hal itu merupakan sunnah Rasulullah. Memang menurut fakta dan sejarahnya, Muhammad Saw dan seluruh sahabatnya selalu menunaikan shalat di Masjid, baik itu Masjid Al-haram, mau pun Masjid Nabawi (dan juga Masjid Al-Aqsa). Dapat dikatakan bahwa Muhammad Saw tidak pernah shalat di rumahnya sendiri. Kisah hidup Nabi dan para sahabat inilah yang dijadikan dasar mengapa seluruh Muslim selalu shalat di Masjid.

Sampai pada level ini, benarkah shalat di Masjid merupakan sunnah Rasulullah karena Rasul dan seluruh sahabatnya selalu shalat di Masjid?

Jawabannya adalah tidak benar. Shalatnya Muhammad Saw dan para sahabat yang selalu di Masjid, bukanlah tuntunan bahwa seluruh Muslim harus shalat di Masjid, karena sebenarnya seluruh Muslim harus shalat di rumahnya untuk menjadi imam atas istri dan seluruh anak-anaknya, keponakannya, dan juga cucu-cucunya.

Alasan pertama.

Nabi Muhammad Saw bersabda,

“Aku mengutamakan perjalanan ke tiga tempat ini, yaitu Masjid Al-Haram di Mekah, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsa (di Yerusalem)”.

Alhadis ini mengajarkan bahwa, tidak ada tempat yang diutamakan untuk dikunjungi selain ketiga tempat tersebut. Artinya, selain ketiga tempat itu tidaklah diutamakan untuk dikunjungi, termasuk di dalam hal ini Masjid selain ketiga Masjid ini.

Mengapa Muhammad Saw dan para sahabatnya selalu shalat di Masjid, adalah karena Masjid Nabawi mau pun Masjid Masjid Al-Haram (dan juga Masjid Al-Aqsa) merupakan keutamaan untuk dikunjungi. Pada bagian lain pun Muhammad Saw bersabda yang kita sudah sama-sama mengetahui,

“Pahala shalat di Masjid Nabawi adalah 10.000 kali dari pada shalat di Masjid lain kecuali di Masjid Al-Haram, dan pahala shalat di Masjid Al-Haram adalah 100.000 kali daripada shalat di tempat lain”.

Alhadis ini menurut permukaannya saja sudah jelas, bahwa hanya shalat di ketiga tempat itu saja yang pahalanya berlipat ganda. Namun ada juga arti lain yang lebih mendalam, yaitu bahwa shalat di Masjid lain selain ketiga tempat itu, tidak mempunyai keutamaan apapun.

Jadi mengapa Muhammad Saw dan seluruh sahabatnya selalu shalat di Masjid, adalah karena ketiga tempat itu merupakan keutamaan untuk dikunjungi. Ketiga tempat itu dikunjungi bukan karena kemesjidannya, melainkan karena kemonumentalan-nya. Harus difahami, bahwa Masjid lain selain ketiga tempat tersebut tentulah tidak monumental.

Maka dari hal ini sudah jelas, mengapa seluruh Muslim tidak mempunyai alasan untuk shalat di Masjid, karena shalatnya Rasulullah di Masjid itu sendiri mempunyai background yang berbeda: bukan karena ketiga tempat itu adalah Masjid, namun karena ketiga tempat tersebut adalah monumental.

jadikan-rmh-t4-shalat

Alasan kedua.

Muhammad Saw bersabda,

“Setiap kamu adalah pemimpin atas istri dan anak-anakmu”.

Alhadis ini menunjukkan, bahwa kehadiran seorang pria, suami mau pun ayah di muka bumi ini adalah untuk menjadi pemimpin dan imam atas istri dan anak-anaknya. Kalau hal ini sudah difahami dengan baik, maka artinya, menjadi imam shalat di rumah atas istri dan anak-anaknya (juga keponakan dan cucu) merupakan hal terpenting dari menjadi pemimpin / imam di dalam Alhadis tersebut, tidak bisa dihindari sama sekali. Tidak masuk akal, seluruh Muslim menerima Alhadis tersebut (bahwa mereka adalah pemimpin dan imam atas istri dan keturunan), sambil menolak untuk menjadi imam shalat di rumah.

Oleh karena itu kalau seorang pria shalat di Masjid, bagaimana ia dapat menunaikan tugasnya sebagai imam atas istri dan anak-anaknya? Kalau seorang pria shalat di Masjid berarti ia menanggalkan kewajibannya sebagai imam atas keluarganya, darah dagingnya. Dan ini merupakan suatu penyimpangan menurut azas-azas Islam.

Alhadis teritorial.

Dari Abu Hurairah, dia berkata,

“Seorang buta menemui Nabi saw dan berujar, “wahai Rasul, saya tidak mempunyai seseorang yang akan menuntunku ke Masjid”. Lalu dia meminta keringanan kepada Muhammad Saw untuk shalat di rumah maka beliau saw pun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar adzan?”. Laki-laki itu menjawab Ya. Muhammad Saw bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri shalat berjamaah di Masjid)”.

Di dalam Alhadis yang lain, ibnu Ummi Maktum (ia buta matanya) berkata,

“Wahai Rasul, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas”. Nabi berkata “apakah kamu mendengar adzan hayya alash shalah, hayya alal falah?”. Jika Ya, penuhilah adzan tersebut”.

Di bagian lain, Muhammad Saw bersabda,

Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka”. – HR Al-Bukhari No. 141 dan Muslim No. 651.

Alhadis di atas menggariskan (dengan tegas) bahwa seluruh Muslim haruslah shalat di Masjid, dan Allah Swt menjanjikan hukuman yang keras bagi Muslim yang menolak untuk shalat di Masjid. Sekaligus, Alhadis di atas (dan banyak Alhadis lainnya yang senada) menjadi dalil dan alasan bahwa seluruh Muslim harus shalat di Masjid, bukan di rumah.

Secara permukaan, tampaknya ketiga Alhadis di atas benar-benar mengindikasikan bahwa shalat WAJIB ditunaikan di Masjid, tidak bisa tidak. Satu hal yang harus diperhatikan adalah, bahwa Alhadis tersebut adalah Alhadis TERITORIAL.

Memang benar bahwa ketiga Alhadis di atas mengisyaratkan bahwa shalat harus ditunaikan di Masjid, dan juga berjamaah. Namun ketiga Alhadis di atas tidak bisa dilepaskan dari konteks kewilayahannya, yaitu kota Mekah mau pun Madinah: inilah yang disebut dengan Alhadis teritorial.

Kalau seorang Muslim pria berada di salah satu kota suci Islam (Mekah, Madinah, atau Yerusalem), maka haruslah ia shalat di ketiga Masjid monumental tersebut, apakah dia di Mekah, atau di Madinah mau pun ada di kota Yerusalem. Kalau perjalanan dari tempat kediamannya menuju ke salah satu Masjid monumental tersebut tidak lah menyulitkan, maka hendaklah ia shalat di salah satu ketiga Masjid tersebut.

Aplikasinya, kalau Abdul berada di Mekah, maka haruslah ia shalat di Masjid Al-Haram. Dan kalau perjalanannya dari tempatnya menginap di Mekah menuju Masjid Al-Haram tidaklah menyulitkan, maka hendaklah ia shalat di Masjid monumental tersebut. Begitu pula kalau Abdul berada di Madinah mau pun di Yerusalem.

Kemudian, kalau Abdul berada di Baghdad, dan perjalanan dari rumahnya di Baghdad ke Masjid Al-Haram tidaklah menyulitkannya, maka wajiblah baginya untuk shalat di Masjid Al-Haram; dengan kata lain, wajiblah ia melakukan perjalanannya dari rumahnya di Baghdad ke Masjid Al-Haram untuk menunaikan shalat. Atau kalau Abdul berada di Kuala Lumpur, begitu juga. Namun, karena pada dasarnya perjalanan mana pun dari suatu tempat di Baghdad, Kuala Lumpur, London, atau Netherland, atau Kinsasha dan lain lain, menuju Masjid Al-Haram (mau pun Masjid Nabawi mau pun Masjid Yerusalem) pasti menyulitkan, maka TIDAK ADA KEWAJIBAN atasnya untuk shalat di ketiga tempat monumental tersebut.

Ketiga Alhadis di atas menunjukkan bahwa adalah wajib untuk shalat di Masjid suci bagi umat yang sedang berdomisili di sekitar Masjid suci yang mana perjalanan dari kediamannya ke Masjid suci tidak lah menyulitkan. Jadi, ketiga Alhadis tersebut (dan banyak lagi yang lainnya) hanya menunjukkan betapa wajibnya shalat di Masjid suci khusus bagi umat yang berdomisili di sekitar ketiga Masjid suci. Dengan kata lain, Alhadis tersebut TIDAK BERLAKU untuk Muslim yang tidak berdomisili di sekitar Masjid tersebut, atau yang perjalanan dari rumahnya menuju ketiga Masjid suci tersebut menyulitkan (Islam tidak pernah menyulitkan umat).

Ketiga Alhadis di atas harus diselaraskan dengan satu Alhadis lainnya yaitu,

“Aku mengutamakan perjalanan ke tiga tempat ini, yaitu Masjid Al-Haram di Mekah, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsa (di Yerusalem)”.

Alhadis ini merupakan titik-tengah di dalam pembahasan mengenai di mana sebaiknya seorang Muslim menunaikan salatnya, apakah di rumah atau di Masjid, berkenaan dengan adanya Alhadis bahwa shalat haruslah ditunaikan di Masjid. Ya, Alhadis mengenai betapa wajibnya shalat ditunaikan di Masjid harus selalu diiringi dengan Alhadis ini, bahwa berkunjung ke tiga Masjid ini merupakan suatu keutamaan, yang mana Masjid di luar dari tiga Masjid ini tidaklah merupakan suatu keutamaan untuk dikunjungi. Aplikasinya adalah, untuk seorang Muslim yang berdomisili di Jakarta, mau pun di Bangkok, di Beijing, di Nebraska, di Manila, di Adelaide, di Manchester, di Bronx dlll, tetaplah ia harus shalat di rumah masing-masing untuk menjadi imam atas seluruh anggota keluarganya, bukan di Masjid setempat: itu mutlak.

Ada suatu kontradiksi di dalam pembahasan ini. Kontradiksi itu adalah,

  1. Di satu pihak, terdapat Alhadis yang mewajibkan Muslim untuk shalat di Masjid.
  2. Di pihak lain, terdapat Alhadis yang menyatakan bahwa setiap pria adalah pemimpin atas keluarganya: ia harus menjadi imam di rumahnya.

Kalau seorang Muslim shalat di Masjid, maka bagaimana ia dapat menjadi imam atas keluarganya? Dan kalau seorang Muslim shalat di rumahnya untuk menjadi imam atas keluarganya, maka bagaimana dengan Alhadis yang mewajibkan setiap Muslim untuk shalat di Masjid? Kalau pilihan SATU yang ditunaikan, maka pililhan DUA harus ditinggalkan, begitu juga sebaliknya. Sementara kita Muslim percaya bahwa di dalam Islam tidak pernah ada satu kontradiksi pun.

Jawabannya adalah mudah, yaitu dengan Alhadis di atas yang menerangkan bahwa Muhammad Saw hanya mengutamakan perjalanan ke tiga Masjid suci, yaitu Al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa. Jadi, Alhadis ini hanya berlaku untuk Muslim yang berdomisili di ketiga tempat di sekitar 3 Masjid suci ini. Dengan Alhadis ini, maka jelaslah bahwa merupakan suatu kebathilan untuk beranggapan bahwa seluruh Muslim harus shalat di Masjid, karena dengan demikian maka kewajibannya untuk menjadi imam atas keluarganya harus ditelantarkan. Dan dengan Alhadis ini, maka tidak ada lagi kontradiksi di dalam ajaran Islam.

Nabi tinggal di Beijing.

Sejarah menulis bahwa Muhammad Saw hanya berdomisili di Mekah mau pun di Madinah. Kalau Muhammad Saw sedang tidak berada di Mekah, berarti Muhammad Saw sedang berada di Madinah, begitu juga sebaliknya. Dan di tempat domisilinya itu, Muhammad Saw dan para sahabatnya selalu menunaikan shalat di Masjid suci yaitu di Masjid Al-Haram kalau di Mekah, dan Masjid Nabawi kalau berada di Madinah. Dan dari fakta ini, umat Muslim jadi berpatokan kepada kehidupan Nabi Muhammad Saw dan sahabatnya yang selalu shalat di Masjid, dan menjadikannya dasar untuk shalat selalu di Masjid.

Kalau Muhammad Saw dan para sahabatnya pernah berdomisili di Beijing, maka apakah Muhammad Saw dan sahabatnya akan juga shalat di Masjid? Tentu saja tidak: Muhammad Saw dan para sahabat pasti akan shalat di rumah masing-masing karena di Beijing tidak ada Masjid suci.

Ketika sejarah menunjukkan bahwa Muhammad Saw dan para sahabatnya selalu shalat di Masjid suci, itu sebenarnya karena Muhammad Saw dan para sahabatnya tinggal di dekat Masjid suci ini, atau perjalanannya dari rumah ke Masjid suci tidak lah mempersulit kehidupan. Latar belakang inilah yang menjiwai perkataan Muhammad Saw tadi: “Aku mengutamakan perjalanan pada ketiga tempat ini”. Kalau Muhammad Saw dan para sahabatnya berdomisili tidak di Mekah mau pun di Madinah, atau kalau perjalanannya ke Masjid suci itu merupakan suatu kesulitan, pastilah Muhammad Saw dan para sahabatnya akan shalat di rumah untuk menjadi imam atas seluruh keluarganya.

Bagaimana dengan shalat Zuhur dan Ashar?

Untuk setiap Muslim, khususnya kaum pria yang telah berkeluarga, SEDAPATNYA untuk shalat di rumah untuk menjadi imam atas seluruh anggota keluarganya, karena itu merupakan perintah dan kewajiban di dalam Islam atas seluruh pria Muslim. Kata SEDAPATNYA di sini, adalah diusahakan untuk selalu shalat di rumah supaya menjadi imam: untuk imam shalat shubuh, Zuhur, Ashar, Maghrib dan terakhir Isya.

Namun di siang hari di mana setiap pria biasanya berada di tempat kerja tentulah tidak mungkin untuk shalat Zuhur dan Ashar di rumah dan menjadi imam atas anak-anaknya. Tidak mengapa untuk shalat di Kantor, karena keadaan memang demikian. Namun untuk shalat malam yang meliputi shalat Maghrib, Isya dan shubuh maka sudah sepatutnya seorang pria tetap shalat di rumah sehingga dapat menjadi imam atas keluarganya.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya

Kakak Yang Memeras dan Mempersulit Adik

adikaka

Tersebutlah suatu kasus di dalam suatu keluarga, dan pemaparan ini merupakan kisah nyata.

Di dalam keluarga tersebut hidup si anak sulung yang bernama Yusuf. Yusuf mempunyai adik kandung, bernama Fadel. Fadel mempunyai istri bernama Yara, dan Fadel adalah seorang pegawai Negeri. Karena seorang pegawai Negeri, maka uangnya juga banyak alias melimpah.

Yusuf sebenarnya manusia yang kurang beruntung. Dia tidak pernah tercatat sebagai karyawan dari suatu Perusahaan, apalagi pegawai Negeri. Kerjanya tidak jelas. Satu hal yang akhirnya diketahui oleh seluruh keluarga adalah, bahwa Yusuf adalah manusia yang tidak jujur di dalam hal uang. Banyak kasus di mana uang keluarga yang jatuh ke tangan Yusuf, hilang alias menguap begitu saja.

Kasusnya bermula di Tahun 1995an, Yusuf meminjam uang kepada Fadel sebesar Rp. 25 juta. Fadel menyanggupi, dan mengajak Yusuf ke rumah Fadel untuk penyerahan uangnya. Sesampai di rumah, istri Fadel yaitu Yara merasa sedikit kecewa mengenai hal ini, mengapa Fadel tidak berkonsultasi dulu dengan istrinya, karena uang suami pastilah uang istri juga. Namun begitulah, akhirnya uang Fadel sebesar Rp. 25 juta dipindah-tangankan ke Yusuf.

Beberapa tahun kemudian, Fadel dan Yara berniat untuk meminta pengembalian uang yang dulu dipinjam Yusuf yaitu Rp. 25 juta. Fadel dan Yara sudah menyampaikan hal demikian kepada Yusuf, mengharap supaya Yusuf mengembalikan uangnya.

Ternyata saatnya kurang tepat. Yusuf juga mengalami kesulitan keuangan. Sebagai jalan keluar, Yusuf mempunyai sebidang tanah di daerah Bogor, dan tanah itu selama ini dibiarkan mangrak bertahun-tahun. Yusuf menawarkan Fadel dan istrinya untuk mengembalikan uang Rp. 25 juta itu di dalam bentuk tanah Yusuf yang di Bogor tersebut, dan pemberian tanah itu dianggap sebagai pelunasan hutang Yusuf kepada Fadel dan istrinya. Sebenarnya, nilai tanah itu jauh lebih tinggi dari Rp. 25 juta, namun yang penting sudah ada kesepakatan di antara kedua belah pihak.

Singkat kata, Fadel dan istri sepakat. Hal selanjutnya adalah, Yusuf menyerahkan surat tanah milik Yusuf kepada Fadel dan Yara, dan hal itu dianggap sebagai pelunasan hutang. Harap dicatat, bahwa surat tanah itu TETAPLAH atas nama Yusuf, dan Fadel tidak pernah berfikiran untuk BALIKNAMA. Hal itu semua didasari pada rasa kekeluargaan dan saling percaya.

Setelah hari berganti berbilang tahun, Fadel memasuki masa pensiun, uang pemasukan tidak lagi semenggembirakan seperti sedia kala. Fadel dan Yara tentu saja butuh uang, untuk kuliah anak, biaya perbaikan rumah, makan sehari-hari dan lain lain.

Saatnya Fadel ingin menjual tanah miliknya yang berada di Bogor, yang merupakan tanah pelunasan hutang Yusuf. Pembeli tanah sudah datang, dan sepakat dengan harga yang diajukan Fadel. Hal selanjutnya adalah, Fadel harus menyerahkan surat tanah tersebut kepada pembeli, dengan kata lain, pengurusan surat-surat tanah.

Untuk keperluan tersebut, Fadel menghubungi Yusuf, meminta supaya Yusuf menandatangai akta jual beli tanah tersebut, karena secara surat, tanah tersebut adalah milik Yusuf karena masih atasnama Yusuf.

Di sinilah letak kekacauan kisah ini. Jaulbeli tanah itu hanya akan berlangsung dan sah, kalau Yusuf menandatangani akta jual beli. Namun Yusuf menolak menandatangani akta jual beli. Alasan Yusuf adalah, Yusuf TIDAK SETUJU dengan besaran harga per meter yang ditetapkan atas tanah tersebut. Kedua, Yusuf meminta bagian dari hasil penjualan tanah tersebut, dan Yusuf minta bagiannya LEBIH BESAR dari bagian Fadel.

Fadel dan istri tidak bisa memahami fikiran Yusuf. Mengapa Yusuf minta bagian? Dan itu pun mengapa Yusuf minta bagian lebih besar dari bagian Fadel? Bukankah tanah itu adalah sah milik Fadel, sebagai pelunasan hutang Yusuf kepada Fadel dari meminjam uang Rp. 25 juta? Dan bukankah Yusuf sudah menikmati uang Rp. 25 juta itu sendirian? Dan sekarang mengapa ia minta bagian dari (uang) tanah tersebut?

Praktis, penjualan batal. Dan kemudian, hubungan antara Fadel dengan Yusuf menjadi renggang, dendam kesumat. Sampai kini, Yusuf tetap tidak bergeming, tetap menolak menandatangani akta jual beli tanah, untuk membiarkan Fadel di dalam keadaan kesulitan keuangan. Seolah, Yusuf hanya memberi dua pilihan kepada Fadel kalau Fadel ingin menjual tanah tersebut, atau kalau Fadel ingin mendapat uang segar dari menjual tanah tersebut. Dua pilihan itu adalah, Yusuf harus mendapat bagian terbesar dari hasil penjualan tanah tersebut. Atau kedua, kalau Fadel tidak mau memberi bagian terbesar kepada Yusuf, maka Fadel tidak usah sekalian menjual tanah tersebut sampai mati, dan biarkan saja Fadel dan istri dirundung kesulitan uang sampai mati.

Padahal faktanya, Fadel telah berbuat baik kepada Yusuf, dengan meminjamkan uangnya kepada Yusuf Rp. 25 juta. Dan padahal, Fadel tetap percaya bahwa Yusuf tidak akan bermain kotor, karena rasa kekeluargaan dan saling percaya. Namun sekarang nyatanya, jauh terbalik. Yusuf benar-benar bermain kotor, mempersulit orang, memeras harta orang, dan bahkan menahan orang lain untuk menikmati hartanya sendiri yang halal.

Kisah ini berakhir dengan pendiaman dari pihak Fadel; Fadel dan istri tidak tahu harus berbuat apa. Kalau Fadel ingin mengajukan hal ini ke polisi, tentunya Fadel tidak ingin mempolisikan Yusuf. Pun bisa dikatakan bahwa tidak ada bukti bahwa Fadel telah meminjamkan uang kepada Yusuf beberapa tahun sebelumnya. Pun Fadel juga yakin, kalau pun hal ini dilaporkan ke polisi, selain urusannya jadi akan panjang, pasti juga Yusuf akan berkelit kesana kemari.

Siapa pun bisa menerka maksud lain mengapa Yusuf berbuat demikian. Kelak suatu saat Fadel dan Yara wafat, sementara surat tanah tersebut tetap atasnama Yusuf. Kalau Fadel dan Yara sudah wafat, praktis tanah itu akan menjadi sah milik Yusuf lagi.

Hanya kepada Allah Swt Fadel dan istrinya menyerahkan perbuatan Yusuf. Allah Swt tidak pernah tidur. Fadel hanya tidak mengerti, mengapa saudara kandung tega berbuat seperti itu.

Menyelingkuhi Rumah Kontrakan

rumahselingkuh

Pemaparan ini diangkat dari kisah nyata, dan sengaja saya angkat ke blog saya dengan harapan menjadi bagian dari sensitivitas kita di dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

Abdul hidup berbahagia bersama keluarganya di Jakarta. Secara formal Abdul adalah seorang karyawan Perusahaan bonafid. Dengan uang yang banyak, Abdul menjalankan usaha lain yaitu bisnis rumah kontrakan.
Abdul mempunyai beberapa rumah kontrakan, atau dengan bahasa khasnya, mempunyai rumah petakan beberapa pintu. Pun lokasi rumah kontrakan itu ada yang berjauhan.

Salah satu rumah kontrakan milik Abdul berada di Jl. Sujud. Seseorang yang bernama Benny mendatangi Abdul untuk mengontrak di rumah kontrakan Abdul ini. Abdul menerima keinginan Benny, karena kebetulan rumah kontrakan di Jl. Sujud memang di dalam keadaan kosong.
Singkat kata, Benny segera menempati rumah kontrakannya di Jl. Sujud tersebut. Rumah kontrakan ini lokasinya dapat dikatakan berjauhan dari kediaman Abdul.

Karena jauhnya lokasi antara kediaman Abdul dengan rumah kontrakannya di Jl. Sujud ini, Abdul jarang sekali meninjau kontrakannya ini yang sekarang ditempati / disewa oleh Benny.

Benny adalah manusia jahat, dia akan berbuat jahat kalau memang ada kesempatan dan kemungkinan. Di dalam kasus ini, Benny melihat bahwa Abdul jarang sekali bertandang ke Jl. Sujud. Timbullah niat jahat di dalam fikiran Benny.

Seorang kawan yang bernama Cecep, di suatu tempat mendatangi Benny. Cecep mengutarakan isi hatinya kepada Benny bahwa ia ingin membeli rumah. Mendengar hal itu, Benny menyatakan bahwa ia bersedia menjual rumahnya yang sekarang ia tempati itu kepada Cecep dengan harga yang menarik. Tentu saja Cecep tertarik, dan menyatakan bersedia untuk membeli rumah Benny.

Harap diketahui, bahwa yang dimaksud rumah Benny adalah, rumah kontrakan yang ia tempati sekarang ini, yang merupakan property milik Abdul.

Benny segera memalsukan seluruh surat yang berkenaan dengan tanah dan bangunan rumah kontrakan di Jl. Sujud tersebut. Di dalam hal ini, Benny memang lihai di dalam hal mengatur dokumen dari satu Kantor ke Kantor lain. Setelah seluruh surat (palsu) selesai dibuat, maka siapa pun pasti akan terkecoh, pasti akan diyakinkan bahwa tanah dan bangunan rumah kontrakan yang berada di Jl. Sujud memang benar milik Benny.

Transaksi dengan Cecep pun dilakukan. Cecep menyerahkan uang pembelian rumah kepada Benny sekian ratus juta, dan Benny menyerahkan seluruh surat tanah dan bangunan yang berlokasi di Jl. Sujud tersebut. Setelah seluruhnya selesai, Benny segera mengemasi barang-barangnya, dan kemudian angkat kaki dari rumah kontrakan Jl. Sujud, beserta uang ratusan juta rupiah yang ia peroleh dari Cecep. Dan setelah itu, Cecep langsung mengisi dan menempati rumah barunya itu, yang sebenarnya adalah sah milik Abdul. Singkat kata, Benny segera pergi dan menghilang entah kemana dengan uang ratusan juta rupiah.

Sampai pada suatu titik, Abdul hendak bertandang ke rumah kontrakannya yang berlokasi di Jl. Sujud tersebut, maksud hati ingin bersilaturahmi dengan Benny, rekan bisnisnya.

Sesampainya di lokasi, Abdul tidak melihat Benny. Justru Abdul melihat ada orang lain yang menempati rumah kontrakannya. Orang itu memperkenalkan dirinya sebagai Cecep, pemilik baru atas rumah itu. Abdul tercenung; ia tegaskan bahwa rumah itu adalah kontrakan miliknya, dan ia kontrakkan kepada Benny. Namun hal berbeda dinyatakan Cecep; ia tegaskan bahwa tanah dan rumah itu adalah sah miliknya, karena telah ia beli secara sah dari Benny. Cecep dapat menunjukkan surat-surat tanah dan bangunan yang sah yang berasal dari Benny. Dengan kata lain, terdapat ketidak-sepahaman antara Abdul dengan Cecep mengenai kepemilikan tanah dan bangunan rumah petakan yang berlokasi di Jl. Sujud tersebut.
Abdul meminta Cecep untuk keluar dan meninggalkan rumahnya, sementara Cecep berkeras bahwa rumah itu adalah miliknya, berdasarkan surat-surat tanah yang sah. Akhirnya kedua pihak sepakat untuk berbicara di Kantor polisi.

Di Kantor polisi, Abdul melaporan Cecep sebagai pihak yang telah menempati rumah milik Abdul secara tidak sah. Setelah melalui beberapa tahap interogasi dan pemberkasan, akhirnya kasus tanah dan bangunan rumah yang berlokasi di Jl. Sujud bergulir di meja hijau.

Di dalam persidangan yang digelar beberapa tahap, Hakim memutuskan bahwa tanah dan bangunan yang berlokasi di Jl. Sujud adalah SAH MILIK Cecep. Dengan kata lain, Abdul kalah di Pengadilan. Alasan Majelis Hakim adalah, pertama, Abdul lalai dari kewajibannya memelihara hartanya sendiri sehingga bisa jatuh ke tangan orang lain yang tidak berhak. Kedua, Majelis Hakim melihat tidak ada satu pun indikasi bahwa Cecep mempunyai itikad buruk di dalam pembelian objek yang diperkarakan.

Abdul langsung lemas mendapati putusan Hakim yang tidak berpihak kepadanya, padahal Abdul telah menunjukkan surat-surat sah bahwa objek yang diperkarakan memang miliknya. Dan Abdul pun dapat menunjukkan bahwa Benny telah memalsukan surat tanah sehingga akhirnya dijual kepada Cecep. Namun toh akhirnya Majelis Hakim tidak memberi perhatian kepada argumentasi Abdul.

Mengapa Abdul kalah di persidangan?
Sebenarnya, dan seharusnya, Abdul menang di Pengadilan, karena kebenaran tetaplah kebenaran sampai kapan pun. Semua orang di sekitar Jl. Sujud pun mengetahui bahwa tanah dan rumah di Jl. Sujud itu memang sah milik Abdul, dan semua orang pun melihat bahwa Benny lah yang bersalah.

Namun Abdul telah salah langkah.
Di dalam kasus ini, Abdul melaporan Cecep. Kalau Abdul melaporan Cecep, maka tentu saja Cecep tidak bersalah sama sekali.

Seharusnya, Abdul melaporkan Benny, karena seluruh kekacauan ini berasal dari Benny. Kalau Abdul melaporkan Benny, maka pastilah Majelis Hakim akan menyatakan bahwa Benny telah bersalah karena telah memalsukan surat-surat, dan akibatnya tanah dan bangunan tersebut akan jatuh ke pihak Abdul. Konsekwensinya, Cecep harus keluar dari tanah dan bangunan yang diperkarakan. Abdul jangan melaporan Cecep, karena Cecep sama sekali tidak bersalah. Benny lah yang harus dilaporkan ke polisi.

Mengenai menghilangnya Benny sehingga tidak mungkin diajukan ke Kantor polisi mau pun Pengadilan, maka itu adalah hal lain. Yang penting Abdul melaporkan Benny atas tuduhan telah memalsukan surat. Dan untuk itu, kepolisian mau pun Kejaksaan dan juga Pengadilan dapat mengeluarkan surat panggilan kepada Benny melalui media cetak. Kalau ternyata Benny tidak muncul juga, maka Pengadilan dapat menggelar sidang secara in absentia, yaitu sidang tanpa kehadiran terlapor.

Dan dari sidang in absentia itulah, Majelis Hakim akan memutuskan bahwa Benny telah bersalah atas tuduhan memalsukan surat-surat. Dan akibat dari putusan yang memenangan Abdul ini, otomatis Cecep harus keluar dari tanah dan rumah tersebut. Abdul menang.