Menyelingkuhi Rumah Kontrakan

rumahselingkuh

Pemaparan ini diangkat dari kisah nyata, dan sengaja saya angkat ke blog saya dengan harapan menjadi bagian dari sensitivitas kita di dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

Abdul hidup berbahagia bersama keluarganya di Jakarta. Secara formal Abdul adalah seorang karyawan Perusahaan bonafid. Dengan uang yang banyak, Abdul menjalankan usaha lain yaitu bisnis rumah kontrakan.
Abdul mempunyai beberapa rumah kontrakan, atau dengan bahasa khasnya, mempunyai rumah petakan beberapa pintu. Pun lokasi rumah kontrakan itu ada yang berjauhan.

Salah satu rumah kontrakan milik Abdul berada di Jl. Sujud. Seseorang yang bernama Benny mendatangi Abdul untuk mengontrak di rumah kontrakan Abdul ini. Abdul menerima keinginan Benny, karena kebetulan rumah kontrakan di Jl. Sujud memang di dalam keadaan kosong.
Singkat kata, Benny segera menempati rumah kontrakannya di Jl. Sujud tersebut. Rumah kontrakan ini lokasinya dapat dikatakan berjauhan dari kediaman Abdul.

Karena jauhnya lokasi antara kediaman Abdul dengan rumah kontrakannya di Jl. Sujud ini, Abdul jarang sekali meninjau kontrakannya ini yang sekarang ditempati / disewa oleh Benny.

Benny adalah manusia jahat, dia akan berbuat jahat kalau memang ada kesempatan dan kemungkinan. Di dalam kasus ini, Benny melihat bahwa Abdul jarang sekali bertandang ke Jl. Sujud. Timbullah niat jahat di dalam fikiran Benny.

Seorang kawan yang bernama Cecep, di suatu tempat mendatangi Benny. Cecep mengutarakan isi hatinya kepada Benny bahwa ia ingin membeli rumah. Mendengar hal itu, Benny menyatakan bahwa ia bersedia menjual rumahnya yang sekarang ia tempati itu kepada Cecep dengan harga yang menarik. Tentu saja Cecep tertarik, dan menyatakan bersedia untuk membeli rumah Benny.

Harap diketahui, bahwa yang dimaksud rumah Benny adalah, rumah kontrakan yang ia tempati sekarang ini, yang merupakan property milik Abdul.

Benny segera memalsukan seluruh surat yang berkenaan dengan tanah dan bangunan rumah kontrakan di Jl. Sujud tersebut. Di dalam hal ini, Benny memang lihai di dalam hal mengatur dokumen dari satu Kantor ke Kantor lain. Setelah seluruh surat (palsu) selesai dibuat, maka siapa pun pasti akan terkecoh, pasti akan diyakinkan bahwa tanah dan bangunan rumah kontrakan yang berada di Jl. Sujud memang benar milik Benny.

Transaksi dengan Cecep pun dilakukan. Cecep menyerahkan uang pembelian rumah kepada Benny sekian ratus juta, dan Benny menyerahkan seluruh surat tanah dan bangunan yang berlokasi di Jl. Sujud tersebut. Setelah seluruhnya selesai, Benny segera mengemasi barang-barangnya, dan kemudian angkat kaki dari rumah kontrakan Jl. Sujud, beserta uang ratusan juta rupiah yang ia peroleh dari Cecep. Dan setelah itu, Cecep langsung mengisi dan menempati rumah barunya itu, yang sebenarnya adalah sah milik Abdul. Singkat kata, Benny segera pergi dan menghilang entah kemana dengan uang ratusan juta rupiah.

Sampai pada suatu titik, Abdul hendak bertandang ke rumah kontrakannya yang berlokasi di Jl. Sujud tersebut, maksud hati ingin bersilaturahmi dengan Benny, rekan bisnisnya.

Sesampainya di lokasi, Abdul tidak melihat Benny. Justru Abdul melihat ada orang lain yang menempati rumah kontrakannya. Orang itu memperkenalkan dirinya sebagai Cecep, pemilik baru atas rumah itu. Abdul tercenung; ia tegaskan bahwa rumah itu adalah kontrakan miliknya, dan ia kontrakkan kepada Benny. Namun hal berbeda dinyatakan Cecep; ia tegaskan bahwa tanah dan rumah itu adalah sah miliknya, karena telah ia beli secara sah dari Benny. Cecep dapat menunjukkan surat-surat tanah dan bangunan yang sah yang berasal dari Benny. Dengan kata lain, terdapat ketidak-sepahaman antara Abdul dengan Cecep mengenai kepemilikan tanah dan bangunan rumah petakan yang berlokasi di Jl. Sujud tersebut.
Abdul meminta Cecep untuk keluar dan meninggalkan rumahnya, sementara Cecep berkeras bahwa rumah itu adalah miliknya, berdasarkan surat-surat tanah yang sah. Akhirnya kedua pihak sepakat untuk berbicara di Kantor polisi.

Di Kantor polisi, Abdul melaporan Cecep sebagai pihak yang telah menempati rumah milik Abdul secara tidak sah. Setelah melalui beberapa tahap interogasi dan pemberkasan, akhirnya kasus tanah dan bangunan rumah yang berlokasi di Jl. Sujud bergulir di meja hijau.

Di dalam persidangan yang digelar beberapa tahap, Hakim memutuskan bahwa tanah dan bangunan yang berlokasi di Jl. Sujud adalah SAH MILIK Cecep. Dengan kata lain, Abdul kalah di Pengadilan. Alasan Majelis Hakim adalah, pertama, Abdul lalai dari kewajibannya memelihara hartanya sendiri sehingga bisa jatuh ke tangan orang lain yang tidak berhak. Kedua, Majelis Hakim melihat tidak ada satu pun indikasi bahwa Cecep mempunyai itikad buruk di dalam pembelian objek yang diperkarakan.

Abdul langsung lemas mendapati putusan Hakim yang tidak berpihak kepadanya, padahal Abdul telah menunjukkan surat-surat sah bahwa objek yang diperkarakan memang miliknya. Dan Abdul pun dapat menunjukkan bahwa Benny telah memalsukan surat tanah sehingga akhirnya dijual kepada Cecep. Namun toh akhirnya Majelis Hakim tidak memberi perhatian kepada argumentasi Abdul.

Mengapa Abdul kalah di persidangan?
Sebenarnya, dan seharusnya, Abdul menang di Pengadilan, karena kebenaran tetaplah kebenaran sampai kapan pun. Semua orang di sekitar Jl. Sujud pun mengetahui bahwa tanah dan rumah di Jl. Sujud itu memang sah milik Abdul, dan semua orang pun melihat bahwa Benny lah yang bersalah.

Namun Abdul telah salah langkah.
Di dalam kasus ini, Abdul melaporan Cecep. Kalau Abdul melaporan Cecep, maka tentu saja Cecep tidak bersalah sama sekali.

Seharusnya, Abdul melaporkan Benny, karena seluruh kekacauan ini berasal dari Benny. Kalau Abdul melaporkan Benny, maka pastilah Majelis Hakim akan menyatakan bahwa Benny telah bersalah karena telah memalsukan surat-surat, dan akibatnya tanah dan bangunan tersebut akan jatuh ke pihak Abdul. Konsekwensinya, Cecep harus keluar dari tanah dan bangunan yang diperkarakan. Abdul jangan melaporan Cecep, karena Cecep sama sekali tidak bersalah. Benny lah yang harus dilaporkan ke polisi.

Mengenai menghilangnya Benny sehingga tidak mungkin diajukan ke Kantor polisi mau pun Pengadilan, maka itu adalah hal lain. Yang penting Abdul melaporkan Benny atas tuduhan telah memalsukan surat. Dan untuk itu, kepolisian mau pun Kejaksaan dan juga Pengadilan dapat mengeluarkan surat panggilan kepada Benny melalui media cetak. Kalau ternyata Benny tidak muncul juga, maka Pengadilan dapat menggelar sidang secara in absentia, yaitu sidang tanpa kehadiran terlapor.

Dan dari sidang in absentia itulah, Majelis Hakim akan memutuskan bahwa Benny telah bersalah atas tuduhan memalsukan surat-surat. Dan akibat dari putusan yang memenangan Abdul ini, otomatis Cecep harus keluar dari tanah dan rumah tersebut. Abdul menang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s