Kakak Yang Memeras dan Mempersulit Adik

adikaka

Tersebutlah suatu kasus di dalam suatu keluarga, dan pemaparan ini merupakan kisah nyata.

Di dalam keluarga tersebut hidup si anak sulung yang bernama Yusuf. Yusuf mempunyai adik kandung, bernama Fadel. Fadel mempunyai istri bernama Yara, dan Fadel adalah seorang pegawai Negeri. Karena seorang pegawai Negeri, maka uangnya juga banyak alias melimpah.

Yusuf sebenarnya manusia yang kurang beruntung. Dia tidak pernah tercatat sebagai karyawan dari suatu Perusahaan, apalagi pegawai Negeri. Kerjanya tidak jelas. Satu hal yang akhirnya diketahui oleh seluruh keluarga adalah, bahwa Yusuf adalah manusia yang tidak jujur di dalam hal uang. Banyak kasus di mana uang keluarga yang jatuh ke tangan Yusuf, hilang alias menguap begitu saja.

Kasusnya bermula di Tahun 1995an, Yusuf meminjam uang kepada Fadel sebesar Rp. 25 juta. Fadel menyanggupi, dan mengajak Yusuf ke rumah Fadel untuk penyerahan uangnya. Sesampai di rumah, istri Fadel yaitu Yara merasa sedikit kecewa mengenai hal ini, mengapa Fadel tidak berkonsultasi dulu dengan istrinya, karena uang suami pastilah uang istri juga. Namun begitulah, akhirnya uang Fadel sebesar Rp. 25 juta dipindah-tangankan ke Yusuf.

Beberapa tahun kemudian, Fadel dan Yara berniat untuk meminta pengembalian uang yang dulu dipinjam Yusuf yaitu Rp. 25 juta. Fadel dan Yara sudah menyampaikan hal demikian kepada Yusuf, mengharap supaya Yusuf mengembalikan uangnya.

Ternyata saatnya kurang tepat. Yusuf juga mengalami kesulitan keuangan. Sebagai jalan keluar, Yusuf mempunyai sebidang tanah di daerah Bogor, dan tanah itu selama ini dibiarkan mangrak bertahun-tahun. Yusuf menawarkan Fadel dan istrinya untuk mengembalikan uang Rp. 25 juta itu di dalam bentuk tanah Yusuf yang di Bogor tersebut, dan pemberian tanah itu dianggap sebagai pelunasan hutang Yusuf kepada Fadel dan istrinya. Sebenarnya, nilai tanah itu jauh lebih tinggi dari Rp. 25 juta, namun yang penting sudah ada kesepakatan di antara kedua belah pihak.

Singkat kata, Fadel dan istri sepakat. Hal selanjutnya adalah, Yusuf menyerahkan surat tanah milik Yusuf kepada Fadel dan Yara, dan hal itu dianggap sebagai pelunasan hutang. Harap dicatat, bahwa surat tanah itu TETAPLAH atas nama Yusuf, dan Fadel tidak pernah berfikiran untuk BALIKNAMA. Hal itu semua didasari pada rasa kekeluargaan dan saling percaya.

Setelah hari berganti berbilang tahun, Fadel memasuki masa pensiun, uang pemasukan tidak lagi semenggembirakan seperti sedia kala. Fadel dan Yara tentu saja butuh uang, untuk kuliah anak, biaya perbaikan rumah, makan sehari-hari dan lain lain.

Saatnya Fadel ingin menjual tanah miliknya yang berada di Bogor, yang merupakan tanah pelunasan hutang Yusuf. Pembeli tanah sudah datang, dan sepakat dengan harga yang diajukan Fadel. Hal selanjutnya adalah, Fadel harus menyerahkan surat tanah tersebut kepada pembeli, dengan kata lain, pengurusan surat-surat tanah.

Untuk keperluan tersebut, Fadel menghubungi Yusuf, meminta supaya Yusuf menandatangai akta jual beli tanah tersebut, karena secara surat, tanah tersebut adalah milik Yusuf karena masih atasnama Yusuf.

Di sinilah letak kekacauan kisah ini. Jaulbeli tanah itu hanya akan berlangsung dan sah, kalau Yusuf menandatangani akta jual beli. Namun Yusuf menolak menandatangani akta jual beli. Alasan Yusuf adalah, Yusuf TIDAK SETUJU dengan besaran harga per meter yang ditetapkan atas tanah tersebut. Kedua, Yusuf meminta bagian dari hasil penjualan tanah tersebut, dan Yusuf minta bagiannya LEBIH BESAR dari bagian Fadel.

Fadel dan istri tidak bisa memahami fikiran Yusuf. Mengapa Yusuf minta bagian? Dan itu pun mengapa Yusuf minta bagian lebih besar dari bagian Fadel? Bukankah tanah itu adalah sah milik Fadel, sebagai pelunasan hutang Yusuf kepada Fadel dari meminjam uang Rp. 25 juta? Dan bukankah Yusuf sudah menikmati uang Rp. 25 juta itu sendirian? Dan sekarang mengapa ia minta bagian dari (uang) tanah tersebut?

Praktis, penjualan batal. Dan kemudian, hubungan antara Fadel dengan Yusuf menjadi renggang, dendam kesumat. Sampai kini, Yusuf tetap tidak bergeming, tetap menolak menandatangani akta jual beli tanah, untuk membiarkan Fadel di dalam keadaan kesulitan keuangan. Seolah, Yusuf hanya memberi dua pilihan kepada Fadel kalau Fadel ingin menjual tanah tersebut, atau kalau Fadel ingin mendapat uang segar dari menjual tanah tersebut. Dua pilihan itu adalah, Yusuf harus mendapat bagian terbesar dari hasil penjualan tanah tersebut. Atau kedua, kalau Fadel tidak mau memberi bagian terbesar kepada Yusuf, maka Fadel tidak usah sekalian menjual tanah tersebut sampai mati, dan biarkan saja Fadel dan istri dirundung kesulitan uang sampai mati.

Padahal faktanya, Fadel telah berbuat baik kepada Yusuf, dengan meminjamkan uangnya kepada Yusuf Rp. 25 juta. Dan padahal, Fadel tetap percaya bahwa Yusuf tidak akan bermain kotor, karena rasa kekeluargaan dan saling percaya. Namun sekarang nyatanya, jauh terbalik. Yusuf benar-benar bermain kotor, mempersulit orang, memeras harta orang, dan bahkan menahan orang lain untuk menikmati hartanya sendiri yang halal.

Kisah ini berakhir dengan pendiaman dari pihak Fadel; Fadel dan istri tidak tahu harus berbuat apa. Kalau Fadel ingin mengajukan hal ini ke polisi, tentunya Fadel tidak ingin mempolisikan Yusuf. Pun bisa dikatakan bahwa tidak ada bukti bahwa Fadel telah meminjamkan uang kepada Yusuf beberapa tahun sebelumnya. Pun Fadel juga yakin, kalau pun hal ini dilaporkan ke polisi, selain urusannya jadi akan panjang, pasti juga Yusuf akan berkelit kesana kemari.

Siapa pun bisa menerka maksud lain mengapa Yusuf berbuat demikian. Kelak suatu saat Fadel dan Yara wafat, sementara surat tanah tersebut tetap atasnama Yusuf. Kalau Fadel dan Yara sudah wafat, praktis tanah itu akan menjadi sah milik Yusuf lagi.

Hanya kepada Allah Swt Fadel dan istrinya menyerahkan perbuatan Yusuf. Allah Swt tidak pernah tidur. Fadel hanya tidak mengerti, mengapa saudara kandung tega berbuat seperti itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s