Nasib Ramadhan Di Tahun 2014

ramadhan2014

Saya adalah Muslim, warga Jakarta, lahir di Jakarta dan bekerja di Jakarta. Bisa saya katakan bahwa saya dan keluarga berasal dari keluarga Muslim yang taat, karena sejak kecil saya sekeluarga selalu diajarkan untuk selalu shalat berjamaah, apalagi kalau bulan suci Ramadhan, selalu ambil bagian untuk ikut shalat tarawih di Masjid Agung Al-azhar, Kebayoran Baru. Saya dan kakak-kakak pun semuanya disekolahkan di madrasah, sehingga dapat mengerti pelajaran-pelajaran keislaman seperti sejarah Islam, sejarah para Nabi, fiqih, ibadah-syariah, akidah akhlak, bahasa Arab, khat (kaligrafi Arab) dan lain lain.

Sebagai Muslim taat, tentulah saya dan sekeluarga menyambut Ramadhan dengan penuh suka-cita, ribuan rindu selama 11 bulan serasa terbayar sudah ketika memasuki hari pertama Ramadhan. Tidak terperikan kebahagian Ramadhan yang menyentuh sanubari kami sekeluarga melalui agenda shalat tarawihnya, berebut tempat di Masjidnya, sahur bersamanya, berbuka puasanya, tadarus Alqurannya, menonton tausiyah Ramadhan di tv-nya, dan masih banyak lagi, itu semua merupakan berkah Ramadhan yang akan siap mengguyur kami sekeluarga dan sekampung …….

Tampaknya, kebahagiaan ini bukanlah milik saya sekeluarga. Di sepanjang jalan menuju Masjid yang kami lalui pun, juga dipenuhi umat Muslim yang larut dalam kesemarakan dan kegairahan dalam menyambut dan menyemarakkan malam-malam Ramadhan. Singkat kata, kebahagiaan dan keberkahan Ramadhan ternyata milik seluruh Muslim, khususnya di Jakarta ini, tempat hidup saya dan sekeluarga.

Jadi, seluruh umat menyambut Ramadhan dengan penuh kebahagiaan dan kesemarakan yang menggugah jiwa. Tidak ada semenit pun lewat dari malam-malam Ramadhan kecuali dengan memperbanyak ibadah, di Jakarta ini. Pada jam-jam setelah berbuka, tidak ada saudara-saudara seiman yang nongkrong-nongkrong di pinggir jalan dengan mengobrol tidak karu-karuan, karena semuanya justru sedang sibuk mencari tempat di Masjid untuk ikut shalat tarawih.

Namun itu dulu, sekira tiga atau empat tahun yang lalu. Dan bagaimana dengan sekarang ini (tahun 2014) jiwa dan psikologi umat Muslim dalam menyambut Ramadhan?

Jawabannya amatlah negatif, amatlah suram. Pada hari-hari pertama Ramadhan, tampak sekali Masjid ternyata sepi, banyak shaf yang kosong karena ketiadaan umat Muslim. Biasanya pada tahun-tahun sebelumnya, Masjid mana pun selalu kelimpahan jemaah tarawih hingga meluber ke pekarangan. Itu pun seluruh Muslim berebut tempat di dalam Masjid dengan cara buru-buru berangkat ke Masjid. Di sepanjang jalan tidak terlihat warga yang ongkang-ongkang kaki, semuanya sibuk mencari kain sarung, sajadah dan mukenah untuk dibawa ke Masjid. Namun sekarang, hal tersebut sudah tidak ada lagi. Masjid sekarang menjadi kosong, kebalikannya, jalan-jalan selalu penuh dengan hiruk-pikuk warga yang sibuk dan asyik dengan kehidupan malam seperti makan somay, bbm-an, bocah-bocah main bola, memenuhi warnet untuk main game-online dan masih banyak lagi.

Jadi tampaknya sekarang seluruh umat sudah tidak lagi tertarik dengan kehidupan ukhrawi, dan lebih tergiur pada pemuasan keduniawian, itulah yang tampak. Jelas sekali hal ini terasa, di mana Masjid kosong melompong, jumlah shaf-nya amat menyedihkan. Singkat kata, sudah terjadi kebangkrutan iman umat Muslim di tahun 2014 ini, terlihat dari penyambutan Ramadhan-nya.

Setidaknya kebangkrutan iman ini terlihat pada tiga hal:

Pertama, Masjid terlihat kosong dan sepi. Tidak ada lagi terlihat limpahan jemaah yang membanjir hingga ke pekarangan Masjid. Shaf jemaah hanya sampai pada baris ke-enam, itu sudah paling banyak.

Kita lihat ke tahun-tahun silam. Beberapa menit setelah berbuka puasa, Masjid langsung dipenuhi dan disesaki jemaah. Warga Muslim terlihat begitu gesit mencari sajadah, kain sarung dan mukenah untuk segera dikenakan ke Masjid supaya tidak kehabisan tempat di Masjid. Tidak ada acara ongkang-ongkang kaki di pinggir jalan, atau menikmati jajanan malam, seluruh warga justru sibuk mencari tempat di Masjid untuk melaksanakan shalat Isya dan tarawih berjamaah di Masjid.

Tahun ini (2014) adalah kebalikannya. Warga Muslim tidak ada lagi yang sibuk dan tergesa-gesa mencari tempat di Masjid, malah asyik tercerai-berai di sepanjang jalan, ada yang ongkang-ongkang kaki, asyik mengobrol, makan jajanan malam, bbm-an, bahkan main game online di warnet, pacaran, main bola di lapangan erte, dan lain lain. Mereka tidak lagi antusias untuk mensesaki Masjid untuk melaksanakan shalat Isya dan tarawih berjamaah supaya dapat pahala dan masuk Surga bersama Muhammad Saw Nabi junjungan seluruh umat.

Kedua, jalan-jalan, persimpangan dan perempatan menjadi ajang seluruh warga untuk menikmati malam-malam Ramadhan, bukannya tumpah-ruah di dalam Masjid. Tampaknya konsentrasi umat sudah berpindah di bulan Ramadhan di tahun 2014 ini, dari yang semula terkonsentrasi di Masjid-Masjid mau pun mushalla, kini berpindah ke sepanjang jalan, sepanjang persimpangan dan perempatan, bahkan di sekitar Pusat jajanan ringan. Di tempat-tempat itu mereka perbuat apa saja asalkan dapat memenuhi kepuasan Duniawi mereka, seperti makan jajanan, berpacaran, bbm-an, ngobrol, mencari teman kencan, bercanda semalaman, dan lain lain.

Kalaulah seluruh warga terkonsentrasi di Masjid (sebagaimana memang seharusnya, seperti tahun-tahun silam), tentunya tempat-tempat terbuka di seluruh kota menjadi sepi, hanya ada satu-dua warga saja yang menampakkan diri. Jelas sekali kebangkrutan iman umat Muslim sudah menggejala di Jakarta ini, dan terlihatnya konsentrasi warga di sepanjang jalan ini merupakan indikator yang sama sekali tidak bisa diingkari.

Warga Muslim sudah tidak lagi melihat Ramadhan sebagai bulan penuh berkah untuk mencari dan menjaring pahala sebanyak-banyaknya guna bekal di hari kebangkitan, bahkan mungkin sekali, mereka jadi berfikir bahwa ‘tarawih-sentris’ yang menggejala pada tahun-tahun silam merupakan ‘kesalahan’? Dan oleh karena itu tahun ini mereka tidak ingin mengulangi kesalahan itu lagi?

Ketiga, kebangkrutan iman kaum Muslim juga dimulai dari media, baik media elektronik (televisi) mau pun media cetak (surat kabar).

Pada Ramadhan tahun ini (2014) sudah terlihat keengganan televisi-televisi Nasional dalam mensemarakkan bulan suci Ramadhan. Sudah jarang televisi-televisi yang menawarkan acara bernuansa Ramadhan, karena kalau pun ada, program mereka hanya sedikit, sekena-nya saja.

Yang lebih menyedihkan adalah, kalau ada sebuah program bernuansa Ramadhan di sebuah televisi, maka program itu justru merupakan acara mengumbar canda dan tawa yang konyol, bukannya program untuk mengajak kepada kekhusyukan di dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Hal ini diperparah, dengan maraknya tivi-tivi swasta yang meluncurkan program konser musik gila-gilaan, di mana para penyanyi dibebaskan untuk melenggok-lenggok di atas panggung di dalam balutan jubah Timur Tengah lengkap dengan sorban, dan para penontonnya pun juga dibebaskan untuk ikut asyik bergoyang-goyang joget tidak karu-karuan, persis seperti umat Nabi Musa yang asyik gila-gilaan menyembah patung sapi ketika sang Nabi bermunajat kepada Allah Swt di bukit Thursina! Mungkin benar lagu-lagu yang mereka bawakan merupakan lagu-lagu bernuansa Islami, namun pembawaan dan konsepsi mereka SEUTUHNYA mengadopsi konsep jahiliyah yang menjijikkan. Namun toh harus diakui, itu juga lagu-lagu yang mereka bawakan sama sekali tidak membawa pesan-pesan Islami (dakwah)!

Juga terungkap, bahwa terdapat tivi-tivi swasta yang meluncurkan program acara yang bertajuk Ramadhan, namun toh ternyata substansi dari acara yang dimaksud sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ramadhan: demikianlah, ada tivi swasta meluncurkan tajuk “FILM BIOSKOP SPECIAL RAMADHAN”, yang substansinya menyajikan film Hollywood. Namun kemudian apakah film yang dimaksud ada kaitannya dengan keberkahan Ramadhan? Tidak sama sekali. Film yang dimaksud ternyata film Hollywood biasa, yang menampilkan adegan kekerasan, wanita membuka aurat atas-bawah, kehidupan sekuler, balap-balapan, dar-der-dor sana sini, adegan ciuman, minum sempein (champanye) dlsb …….. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Singkat kata, sudah pun tivi-tivi swasta sedikit sekali mengusung acara bertema Ramadhan, pun dari program yang sedikit itu saja juga sudah membawa aroma kebangkrutan iman bagi seluruh umat Muslim, khususnya kalangan muda yang belum mengerti apa-apa.

Ada lagi yang membuat miris jiwa iman ini. Pada Ramadhan tahun-tahun silam, beberapa tivi swasta menghadirkan pembaca berita wanita di dalam balutan kerudung untuk paket acara berita. Hal ini merupakan sinyal cukup kuat untuk menunjukkan bahwa Ramadhan masih mempunyai kharisma untuk diguyurkan kepada seluruh umat melalui tivi-tivi. Namun tahun ini, hal itu sudah sirna! Tidak ada lagi tampak tivi-tivi swasta yang mengetengahkan pembaca berita wanita yang mengenakan kerudung saat membaca berita. Lengkaplah sudah bahwa tahun ini, Ramadhan sudah tidak lagi sesemarak tahun-tahun silam. Sudah sekulerkah bangsa ini?

Di tengah-tengah kebangkrutan iman umat Muslim di tahun 2014 ini, kita melihat antusiasme yang tinggi pada bagian mudik lebaran, ini cerita lain lagi. Ketika umat sudah tidak lagi memandang Ramadhan sebagai berkah di dalam kehidupan agamis, toh umat tetap MENGGILA di dalam hal pulang kampung untuk berlebaran di tanah kelahiran. Dan banyak media memberitakan agenda ini dengan berapi-api secara berkala. Itu pun mudik lebaran yang mereka lakukan, SAMA SEKALI tidak mereka kaitkan dengan nuansa Ramadhan: seolah mereka tidak lagi menganggap bahwa mereka mudik lebaran dikarenakan adanya bulan Ramadhan, melainkan sebagai rutinitas untuk ‘memanfaatkan’ libur Ramadhannya.

Bisa dikatakan bahwa kebangkrutan iman Muslim di bulan Ramadhan tahun 2014 ini tidak bisa dipisahkan dari pengaruh agenda Piala Dunia 2014, dan kemudian Pilpres 2014. Kedua agenda akbar ini tentu saja tidak beres hanya di dalam satu hari, melainkan berhari-hari sehingga utuh menyita perhatian publik, khususnya publik Muslim di dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Dengan adanya kedua agenda akbar ini, fokus umat menjadi terbelah, dan konsentrasi mereka pun terpecah sehingga tidak bisa diingkari keintiman mereka dengan keagungan Ramadhan 2014 menjadi luntur dan payau.

Namun sungguh pun begitu, kita tidak bisa secara ‘saklek’ dan begitu saja menghubungkan dua agenda akbar ini dengan kebangkrutan umat, atau mengkambing-hitam-kan kebangkrutan umat kepada dua agenda besar ini. Pada dasarnya kalau-lah iman umat Muslim kuat dan romantis, pasti sepuluh agenda besar sekali pun tidak akan mempengaruhi kekhusyukan mereka menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Dengan kata lain, terlalu cepat untuk menuding dua agenda besar tersebut sebagai biangkerok kebangkrutan iman umat di bulan Ramadhan 2014 ini.

Intinya, tetap saja indikasi kebangkrutan iman umat Muslim tetap terasa dan harus mendapat perhatian kita semua. Minimnya acara bernuansa Ramadhan di tivi-tivi tetap merupakan alarm bagi pemangku umat untuk mulai merasa khawatir. Terlebih, tidak bisa diingkari, bahwa semakin tahun pun sebenarnya kebangkrutan iman umat sudah menggejala, dan tampaknya tahun ini sudah melewati kewajaran. Intinya, Ramadhan sudah tidak lagi senikmat dan selezat tahun-tahun 90-an, di mana Masjid kelimpahan jemaah, dan seluruh anak muda di sepanjang jalan sibuk mencari sarung dan sajadah untuk berebut tempat di Masjid.

Saran untuk restorasi dan rehabilitasi iman umat Muslim.

Keprihatinan seluruh Muslim sudah nyata mengenai kebangkrutan iman Muslim Jakarta yang terindikasi di bulan Ramadhan 2014 ini. Hal ini tentulah harus dicegah sedini mungkin, dan seluruh pemimpin serta pemangku umat harus mengambil tindakan untuk dapat merestorasi serta merehabilitasi kualitas iman Muslim Jakarta yang sudah kadung karatan. Keintiman antara umat Muslim dengan Ramadhan harus dipulihkan, karena mereka hidup tidak di Dunia ini saja, melainkan akan dihadirkan pula di hari akhirat, ini artinya umat Muslim harus memanfaatkan kehadiran Ramadhan untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya, dan jangan disia-siakan dengan cara berhura-hura di sepanjang jalan dan perempatan dengan bermain game online mau pun ber-bbm ria berkepanjangan. Tugas para pemimpin dan pemangku umatlah untuk menyelamatkan nasib umat Muslim yang kebanyakan berasal dari kalangan muda-mudi yang tidak mengetahui apa-apa.

Pertama, di setiap level RT pengurus Masjid harus menggalakkan tadarus bersama secara bergilir dari satu rumah ke rumah warga yang lainnya sebulan penuh, baik tadarus untuk kalangan anak sekolah, anak muda, untuk kalangan ibu-ibu mau pun untuk kalangan bapak-bapak.

Dengan menggalakkan tadarus RT ini, maka terbendunglah juga kecendrungan kaum muda dari kebiasaan kongkow-kongkow di pinggir jalan semalam suntuk secara sia-sia. Dan dengan menggalakkan tadarus RT ini, kekhusyukan pasti akan menggejala dan bersemi di jiwa setiap anak muda.

Kedua, menggalakkan dan mengintensifkan pesantren kilat di sekolah-sekolah yang selama ini memang digiatkan. Penambahan durasi dan penambahan paket materi sebaiknya dipertimbangkan demi memupuk kekhusyukan dan keintiman jiwa dengan Ramadhan yang berkah ini.

Ketiga, untuk Masjid yang berukuran lebih besar, agenda tarawih sebaiknya ditambah dengan agenda yang lebih menarik dan serius karena akan dapat memupuk kekhusyukan umat, misalnya dengan cara mendatangkan qory dari luar Negeri, mendatangkan khatib kharismatik dari luar Negeri, mungkin juga dengan mengetengahkan perbincangan yang hangat yang merangsang atensi umat khususnya dari kalangan muda.

Keempat, pemangku umat (ulama) bersama Pemerintah mengarahkan media elektronik khususnya televisi untuk mentiadakan atau mengurangi sajian acara tivi yang berbau mengumbar kekonyolan canda yang biasanya diusung artis-artis muda. Tivi diarahkan untuk menyajikan acara keislaman yang bernuansa khusyuk dan serius, terlebih tanpa adanya sentilan tawa senda gurau yang lepas kendali. Konsep ini dijamin akan dapat memupuk kembali jiwa khusyuk dan intim terhadap keberkahan Ramadhan.

Contoh ideal untuk point ini adalah sajian acara “Tafsir Misbah” di Metrotv yang dibawakan oleh KH. Quraisy Shihab, yang mana acara itu disajikan dengan tingkat keseriusan dan kesakralan yang pas sehingga dapat memupuk jiwa khusyuk dan intim kepada keberkahan Ramadhan. Program acara seperti ini harus diperbanyak di seluruh tivi nasional untuk tujuan kemaslahatan umat Dunia akhirat.

Sebenarnya-lah, sajian acara tivi yang bernuansa penuh sentilan tawa senda gurau telah membuat pemirsa – khususnya dari kalangan muda- menjadi mati rasa terhadap kesakralan dan keagungan. Dengan banyaknya sajian acara tivi yang penuh kekonyolan dengan sentilan tawa, pemirsa (khususnya kalangan muda) jadi merasa bahwa tidak ada yang penting di dalam beragama; tentu saja ini berbahaya.

Sebagai perbandingan: upacara bendera Merah Putih digelar dengan penuh keseriusan, keagungan dan kesakralan. Upacara pelantikan pejabat digelar dengan penuh nuansa Agung dan sakral. Seluruh upacara tersebut (dan lain lainnya) digelar dengan mengedepankan keseriusan, keagungan dan kesakralan, jauh dari sentilan tawa canda yang konyol. Pertanyaan sekarang adalah, kalau upacara bendera dan pelantikan pejabat saja digelar dengan nuansa keseriusan dan keagungan, maka mengapa dakwah agama digelar dengan nuansa kebalikannya, yaitu penuh sentilan tawa canda yang konyol yang memabukkan? Apakah dakwah agama dapat dijadikan main-main yang tidak ada artinya sama sekali?

Jadikanlah acara dakwah keislaman di tivi (apalagi dakwah di bulan Ramadhan) menyerupai kesakralan dan keagungan dakwah saat shalat Jumat, di mana dakwah dan khotbah shalat Jumat digelar penuh dengan suasana sakral, Agung dan serius.

Kalau pesan di dalam point ini (dan point-point lainnya) dapat dicapai / dipenuhi, dapat dipastikan keintiman dan kekhusyukan umat di dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah dapat kembali bersemi seperti tahun-tahun silam.

Kelima, pemangku umat (ulama) bersama Pemerintah menyerukan kepada tivi swasta untuk mengentikan sementara tayangan acara yang jauh dari keberkahan Ramadhan, seperti acara pertandingan bola, konser musik, sinetron ngebodor, dan lain lain.

Sama diketahui bahwa pada tahun-tahun silam, tivi-tivi Nasional banyak yang menghentikan sementara penayangan tivi yang jauh dari nuansa keberkahan Ramadhan. Dan tampaknya sikap tersebut tahun ini sudah pupus sama sekali secara paripurna, artinya seluruh tayangan tivi yang jauh dari nuansa keberkahan Ramadhan TETAP SIARAN tanpa ada tedeng aling-aling. Hal ini memicu lunturnya kekhusyukan umat di dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Efek psikologis yang negatif atas jiwa seluruh umat Muslim segera terlihat di mana-mana. Buktinya, iman umat di dalam menyambut Ramadhan betul-betul terpuruk, terlihat dari sepinya Masjid saat tarawih, dan justru membeludaknya anak-anak muda di sepanjang jalan dan perempatan dengan melakukan segala hal yang sia-sia. Pertanyaannya adalah, mengapa sikap tivi-tivi swasta yang biasa menghentikan secara sementara atas tayangan yang jauh dari nuansa keberhakan Ramadhan sekarang sudah tidak ada lagi?

Keenam, sama diketahui bahwa acara anak muda berupa konser musik (yang pasti hingar-bingar dan jauh dari kesan kesalehan) benar-benar berperan sebagai racun dari kesalehan itu sendiri. Konser musik pasti digelar dengan aura yang mengerahkan massa penonton untuk turut bergoyang di depan panggung semalam suntuk tidak karu-karuan seperti kesetanan.

Di lain pihak, sama diketahui bahwa konser musik, musik itu sendiri, bergoyang joget, dan bergoyang joget semalam suntuk merupakan suatu kebathilan dalam Islam. Kesalehan tidak dapat dipupuk melalui acara koser musik berikut dengan tetek-bengeknya yang sama-sama keji dan jahiliyah.

Ironis, terdapat event organizer yang menggelar konser musik untuk konsumsi anak muda di malam Ramadhan / malam tarawih. Akibatnya jelas, banyak anak muda yang berduyun-duyun menyaksikan konser musik tersebut, yang konsekwensinya adalah anak muda yang mayoritas Muslim itu MASA-BODOH dengan keberkahan Ramadhan. Mereka justru asyik bergoyang joget dan bersorak-sorak di depan panggung konser seperti orang kesetanan semalam suntuk, sementara Masjid-Masjid di sekitarnya kosong melompong dengan hanya segelintir jemaah yang khusyuk shalat tarawih.

Belum lagi dengan aksi panggung yang benar-benar maksiat, seperti artis-artis berambut gondrong, bertelanjang dada, melantunkan lagu-lagu birahi, artis-artis wanita yang berlenggak-lenggok dengan busana yang menjijikkan, melantunkan nada-nada birahi yang murahan dan jahiliyah. Itu masih ditambah dengan lengkingan suara gitar elektrik yang membahana di malam tarawih, gebukan drum yang hancur-hancuran membuat massa penonton yang mayoritas Muslim makin menggila.

Di tempat lain, masih di bulan Ramadhan, juga digelar konser musik, yang kali ini thema konsernya adalah bernada reliji, yang melantunkan lagu-lagu keislaman. Sama saja: kesalehan tidak dapat dipupuk melalui konser musik, sekali pun konser musik tersebut digelar oleh para ulama dan ustadz, astaghfirullah!

Oleh karena itu, para pemangku umat bersama Pemerintah mengeluarkan larangan untuk diadakannya konser musik selama bulan suci Ramadhan, APAPUN TEMA-NYA, demi terciptanya kekhusyukan dan keintiman terhadap bulan yang penuh barokah ini.

 -o0o-

Demikianlah beberapa point yang dapat dilakukan demi kebaikan umat Muslim Dunia akhirat ini di dalam kaitannya menghidupkan kembali kegairahan dan kesemarakan bulan suci Ramadhan. Ingatlah bahwa umat berhak untuk mendapat bimbingan dari umara dan ulama, sementara di lain pihak umat (massa) selalu hadir sebagai komponen yang tidak mengetahui / menyadari apa-apa. Kalau bukan ulama dan umara yang menyelamatkan umat / massa, siapa lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s