Month: September 2014

Hak Asasi Manusia Versus Hak Parlente Manusia

hakparlente

Hak asasi manusia adalah hak yang membuat manusia terlihat sebagai manusia. Penekanan hak asasi manusia sebenarnya adalah pada memanusiakan manusia, selama memanusiakan manusia itu tidak mempersulit manusia lainnya mau pun dirinya sendiri. Dan perbuatan untuk memanusiakan manusia ini akan terus berlangsung tanpa kenal henti, misalnya saat perang, saat bencana, saat ketiadaan Hukum negara, dan lain lain. Di dalam memperoleh hak ini, seorang individu manusia TIDAK DIPERLUKAN MENUNAIKAN KEWAJIBAN TERTENTU terlebih dahulu. Inilah yang membedakan antara hak asasi manusia di satu pihak dengan hak biasa lainnya, di lain pihak, yang pemenuhannya harus didahului dengan menunaikan suatu kewajiban.

Karena hak asasi manusia merupakan hak yang akan memanusiakan manusia, maka hak tersebut HANYA terdiri dari 5 butir, yaitu,

  1. Hak kemerdekaan atas kampung halamannya sendiri.
  2. Hak atas kebutuhan biologis (makan, minum, tempat tinggal, beristirahat, cahaya matahari, udara yang sehat, dan lain lain).
  3. Hak untuk memilih dan menjalankan agama sesuai dengan panggilan hatinya.
  4. Hak untuk menjalankan tradisi warisan leluhurnya.
  5. Hak untuk diperlakukan setara di dalam hal kemerdekaan, kehormatan dan Hukum dengan manusia lain secara proporsional, di mana saja dia berada.

Karena hak asasi manusia tersebut terdiri atas lima butir, maka hak ini dapat disebut dengan PANCA-HAM.

Harus diingat bahwa hak asasi manusia adalah hak mendasar: mendasar artinya tetaplah ‘mendasar’, bukan meluas. Oleh karena itu hak asasi manusia harus benar-benar dibatasi jangan sampai meluas sehingga menimbulkan banyak interpretasi dan tuntutan yang pada akhirnya akan menyusahkan penegakan hak asasi manusia itu sendiri.

Sementara ini ditemukan banyak maklumat dari berbagai badan mau pun institusi baik dari Pemerintahan, lembaga luar Negeri mau pun LSM yang memberikan banyak point dari hak asasi manusia. Dan setelah dipelajari, ternyata point-point yang di-klaim sebagai hak asasi manusia itu bukan merupakan hak mendasar, terlihat dari spiritnya yang tidak mendasar, dan tidak urgent. Hak asasi yang mereka ajukan hanya merupakan klaim supaya kepentingan politik mereka terakomodir dan tidak dihalangi oleh kepentingan politik lainnya yang bertentangan dengan mereka, dan oleh karenanya mereka mempunyai misi supaya hak asasi yang mereka usung dapat melancarkan pandangan politik mereka sendiri.

Hak asasi manusia (atau PANCA-HAM) tidak berhubungan dengan, tidak mengakomodir, tidak menghalangi, tidak mencerminkan, suatu pandangan mau pun ajaran politik dan kemiliteran mana pun. Oleh karena itu hak asasi manusia atau PANCA-HAM ini murni dari aspirasi politik mana pun. Dan sudah jelas, PANCA-HAM tidak dapat dikait-kaitkan dengan grand-design suatu aktivitas kemiliteran.

Di bawah ini adalah beberapa point yang mereka usung dan mereka klaim sebagai hak asasi manusia (padahal sebenarnya bukan):

  • Hak memilih dan dipilih di dalam politik.
  • Hak menyatakan pendapat di muka umum.
  • Hak mengekspresikan diri.
  • Hak berserikat dan berkumpul.
  • Hak informasi.
  • Hak pendidikan, dan lain lain.

Butir-butir tersebut di atas sebenarnya tidak dapat dihubungkan dengan hak asasi manusia untuk memanusiakan manusia yang beradab dan sempurna. Dan oleh karena itu butir-butir di atas bukanlah bagian dari hak asasi manusia, melainkan HAK PARLENTE MANUSIA yang mereka siapkan untuk meluluskan agenda politik dan kemiliteran mereka.

Oleh karena itu butir-butir di atas sebenarnya harus ditolak sebagai bagian dari HAM karena HAM versi parlente ini sangat berbahaya, terindikasi dari afiliasi politik dan kemiliteran mereka kepada pihak tertentu. Kalau HAM tidak dapat dihubung-hubungkan dan mendukung aliran politik dan kemiliteran, maka butir-butir di atas sudah menjelaskan agenda politik mau pun kemiliteran, akibatnya HAM versi ini sudah tidak lagi memurnikan kemanusiaan. Bahaya, karena butir-butir HAM ini di dalam implementasinya dapat membahayakan manusia lain, menyusahkan kelompok manusia lain. HAM tentunya tidak dapat ditahbis sebagai malapetaka atas kelompok manusia lainnya. Untuk itulah HAM harus netral dan membahagiakan semua manusia tanpa pandang latar belakang masing-masing.

Dikatakan hak parlente, karena hak tersebut terlahir dan tercetus dari manusia yang menghendaki lebih dari sekedar manusia, padahal sebenarnya manusia hanya butuh kemurnian untuk dapat hidup damai dan bersahaja. Dapat dikatakan hak parlente lahir dari individu-individu yang berpendidikan terlalu tinggi yang sudah tidak dapat membedakan mana yang urgen dan mana yang kesia-siaan. Oleh karena itu hak parlente sebenarnya dinyatakan secara subjektif dari mereka yang terlalu banyak idealisme. Hak parlente mereka nyatakan hanya untuk meng-gol-kan kepentingan mereka, dan kepentingan (fikiran) mereka itu pun sudah terkontaminasi oleh aliran politik dan cita-cita milliteristik mereka. Jadi, hak parlente tidak ditujukan untuk umat manusia keseluruhan.

Kesimpulan.

Hak Parlente Manusia terdiri atas:

  • Hak memilih dan dipilih di dalam politik.
  • Hak menyatakan pendapat.
  • Hak menyatakan pendapat di muka umum.
  • Hak mengekspresikan diri.
  • Hak berserikat dan berkumpul.
  • Hak informasi.
  • Hak pendidikan, dan lain lain.

Seluruh butir di atas berkebalikan dengan Hak Asasi Manusia yang hanya menegaskan kebutuhan manusia sebagai manusia, yang terbebas dari afiliasi politik dan kemiliteran tertentu. Dan Hak Asasi Manusia di dalam implementasinya tidak akan membahayakan manusia lainnya.

Pada intinya, semua pihak harus dapat membedakan mana yang merupakan hak asasi manusia, dan mana yang merupakan hak parlente manusia. Lebih dari itu, siapa pun tidak dapat memaksakan diri untuk menuntut pemenuhan hak parlente manusia karena hak tersebut merupakan urusan pribadi masing-masing individu, tidak ada kewajiban Pemerintah mana pun untuk mewujudkannya.

Fenomena dewasa ini menunjukkan di mana Negara-negara kuat mengambil tindakan untuk menekan Negara-negara lemah lainnya untuk menegakkan hak asasi manusia, padahal sebenarnya hak asasi manusia ‘versi’ mereka adalah hak parlente manusia, seperti menyatakan pendapat di muka umum, hak mendapatkan informasi dan lain sebagainya. Tindakan Negara-negara kuat tersebut, jelas sekali, sebenarnya merupakan agenda mereka untuk dapat mendikte Negara lain. Hal ini jelas merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang paling inti. Di balik itu, ironisnya, banyak Negara-negara kuat telah melanggar hak asasi manusia di Negara mereka, namun mereka tutup mata terhadap jeritan dari pihak luar. Pelanggaran hak asasi manusia tersebut antara lain seperti pelarangan pembangunan mesjid di Negara mayoritas nonmuslim, memberi perlakuan berbeda terhadap pendatang yang di Negara mereka para pendatang tersebut merupakan minoritas, dan lain sebagainya.

Adalah memprihatinkan, isu hak asasi manusia telah dijadikan Negara-negara kuat sebagai alasan untuk mendikte dan mengintervensi kedaulatan / integritas Negara lain. Kalau hal tersebut memang harus terjadi (mengintervensi kedaulatan Negara lain), maka sebelumnya adalah lebih baik kalau hak asasi manusia tersebut dijernihkan terlebih dahulu, supaya dengan demikian, intervensi Negara kuat terhadap Negara lemah, tidak pernah berarti atau menjadi agenda hegemoni suatu Negara atas Negara lain.

Advertisements

Mari Meredefinisi Hak Asasi Manusia.

hakasasimanusia

Banyak tokoh yang mencoba untuk mendefinisikan hak asasi manusia di dalam berbagai konsep, dan pada intinya keseluruhan definisi itu mempunyai kesamaan.

Secara perkata, penekanan hak asasi manusia ada pada kata ‘asasi’ yang berarti ‘mendasar’. Berarti hak asasi manusia adalah hak manusia yang sangat mendasar. Dengan demikian sebenarnya hak asasi manusia sudah dapat dijelaskan, karena sebenarnya hak asasi ini pastilah hak-hak mendasar bagi seorang manusia, yang bukan merupakan hak tambahan, atau hak dapatan, atau hak di dalam bernegara.

Namun kemudian juga harus diakui, bahwa kebanyakan dari definisi hak asasi manusia yang diusung banyak tokoh itu, umumnya tetap mengandung kesalahan dan ketidakjelasan. Banyak artikel di internet mengenai hak asasi ini menulis bahwa definisi hak asasi manusia masih dalam perdebatan sengit, dan oleh karena itu definisi yang sudah ada juga tidak jelas.

Ironisnya adalah, ketika seluruh (kebanyakan) tokoh filsafat Hukum masih berada di dalam kebingungan dan juga perdebatan sengit mengenai definisi hak asasi manusia, negara dan aparat sudah menerapkan sanksi dan hukuman atas beberapa individu yang dianggap melanggar HAM. Bagaimana mungkin? Kalau definisi hak asasi manusia saja masih belum jelas, maka bagaimana definisi tersebut dapat di-implementasikan di dalam bentuk penjatuhan hukuman kepada pelanggar HAM?

Hak asasi manusia adalah:

  1. Hak yang membuat manusia itu terlihat sebagai manusia. Penekanan hak asasi manusia sebenarnya adalah pada memanusiakan manusia, selama memanusiakan manusia itu tidak mempersulit manusia lainnya mau pun dirinya sendiri. Dan perbuatan untuk memanusiakan manusia ini akan terus berlangsung tanpa kenal henti, misalnya saat perang, saat bencana, saat ketiadaan Hukum negara, dan lain lain.
  2. Di dalam memperoleh hak ini, seorang individu manusia TIDAK DIPERLUKAN MENUNAIKAN KEWAJIBAN TERTENTU terlebih dahulu. Inilah yang membedakan antara hak asasi manusia di satu pihak dengan hak biasa lainnya, di lain pihak, yang pemenuhannya harus didahului dengan menunaikan suatu kewajiban.

Karena hak asasi manusia merupakan hak yang akan memanusiakan manusia, maka hak tersebut HANYA terdiri dari 5 butir, yaitu,

  1. Hak kemerdekaan atas kampung halamannya sendiri.
  2. Hak atas kebutuhan biologis (makan, minum, tempat tinggal, beristirahat, butuh cahaya matahari, udara yang sehat, dan lain lain).
  3. Hak untuk memilih dan menjalankan agama sesuai dengan panggilan hatinya.
  4. Hak untuk menjalankan tradisi warisan leluhurnya.
  5. Hak untuk diperlakukan setara dengan orang lain di dalam hal kemerdekaan, kehormatan dan Hukum dengan manusia lain secara proporsional, di mana saja dia berada.

Karena hak asasi manusia tersebut terdiri atas lima butir, maka hak ini dapat disebut dengan PANCA-HAM.

Perlakuan atas PANCA-HAM.

Atas PANCA-HAM ini, terdapat tiga perlakuan, yaitu,

  1. Setiap butir pada PANCAHAM ini harus di-implementasikan atau dijabarkan secara arti sempit, bukan arti luas. Dengan demikian setiap butir pada PANCA-HAM ini tidak dapat lagi diinterpretasikan supaya meluas. Hak asasi adalah hak mendasar, tentu saja ‘mendasar’ berarti ‘mendasar’, bukan meluas. Itulah sebabnya setiap butir pada PANCA-HAM ini tidak dapat lagi diperluas.
  2. Hak asasi manusia (atau PANCA-HAM) tidak berhubungan, tidak mengakomodir, tidak menghalangi, tidak mencerminkan, terhadap suatu pandangan mau pun ajaran politik mana pun. Oleh karena itu hak asasi manusia atau PANCA-HAM ini murni dari aspirasi politik mana pun. Dan sudah jelas, PANCA-HAM tidak dapat dikait-kaitkan dengan perpolitikan mau pun grand-design suatu aktivitas kemiliteran.
  3. PANCAHAM, atau hak asasi manusia, hanya dibahas secara konstruktif dan ideal, bukan secara destruktif dan kriminal.

Pembahasan Panca-HAM secara konstruktif dan ideal.

Hak asasi manusia yang hanya terdiri dari lima point tersebut, merupakan suatu wacana dan batasan yang hanya dibahas secara konstruktif dan di dalam situasi ideal. Hak asasi haruslah merupakan suatu program dari Pemerintah mau pun masyarakat yang beradab (atau ingin beradab). Hak asasi manusia jadinya tidak ada hubungannya dengan insiden pidana mau pun kasus kekerasan dan ketidakadilan. Dikarenakan hak asasi manusia dibicarakan di dalam situasi konstruktif dan ideal, maka hak asasi manusia ini bukanlah suatu komoditas untuk dihubung-hubungkan dengan suatu tindak pidana mau pun insiden kekerasan lainnya.

Insiden pidana mau pun kekerasan tetaplah suatu kasus pidana, suatu insiden yang pada dasarnya merugikan individu lain, dan hal tersebut jelas berbeda dari apa yang dinamakan dengan pelanggaran hak asasi manusia.

Dengan demikian dapat dijelaskan, bahwa di dalam suatu insiden kekerasan misalnya, tidak dapat dikatakan bahwa telah terjadi ‘pelanggaran hak asasi manusia’. Yang terjadi sebenarnya hanya kasus pidana biasa.

Contoh kasus 1.

Kasus Tanjung Priok (1984) >> Kasus tanjung Priok terjadi tahun 1984 antara aparat dengan warga sekitar yang berawal dari masalah SARA dan unsur politis. Dalam peristiwa ini diduga terjadi pelanggaran HAM dimana terdapat ratusan korban meninggal dunia akibat kekerasan dan penembakan (Diambil dari http://kasusham.blogspot.com/ ).

Paragraf di atas yang melaporkan kasus Tanjung Priok oleh banyak pihak (khususnya pihak berwenang) telah dikategorikan sebagai ‘pelanggaran HAM’, di mana pada insiden tersebut jatuh banyak korban jiwa, dan juga terjadi kekerasan yang dilakukan aparat Pemerintah terhadap warga sipil.

Kasus Tanjung Priok adalah kasus kekerasan biasa, kasus pidana biasa, dan oleh karenanya penanganannya hanya dapat dilakukan dengan pemidanaan (biasa) atas para pelaku. Dan karena kasus ini merupakan kasus pidana biasa, maka selanjutnya kasus Tanjung Priok ini tidak ada hubungannya, dan tidak dapat dihubungkan dengan HAM, baik apakah pelanggaran HAM, kesenjangan HAM, dan lain lain.

Apa yang terjadi pada kasus Tanjung Priok tidak ada hubungannya dengan HAM yang terdiri atas 5 butir tersebut. Dapat diakui bahwa dengan pecahnya insiden Tanjung Priok, beberapa individu / warga telah kehilangan hak atas kemerdekaannya di kampung halamannya sendiri, namun sebenarnya situasinya tidaklah demikian.

Adalah lebih tepat untuk menyatakan bahwa insiden tersebut hanyalah insiden kekerasan, kekerasan biasa antara beberapa individu, di mana terjadi kericuhan atas suatu hal mendasar (di dalam hal ini kesucian Masjid), dan oleh karenanya insiden ini tidak bisa dibahas kecuali sebagai tindak pidana biasa.

Contoh kasus 2.

Kasus terbunuhnya Marsinah, seorang pekerja wanita PT Catur Putera Surya Porong, Jatim (1994) >> Marsinah adalah salah satu korban pekerja dan aktivitas yang hak-hak pekerja di PT Catur Putera Surya, Porong Jawa Timur. Dia meninggal secara mengenaskan dan diduga menjadi korban pelanggaran HAM berupa penculikan, penganiayaan dan pembunuhan (diambil dari http://kasusham.blogspot.com/ ).

Di dalam kasus Marsinah pun, pihak berwenang dan pihak berkompeten lainnya telah mengkategorikan kasus ini sebagai tindak pelanggaran HAM. Bila dicermati, kasus terbunuhnya Marsinah merupakan kasus pidana biasa, dan tidak ada hubungannya dengan hak asasi manusia: tidak ada bagian mana pun di dalam kasus ini yang merefleksikan salah satu butir pada PANCA-HAM.

Demikian juga dengan kasus lainnya, seperti insiden kekerasan Ahmadiyah di Cikeusik, insiden kekerasan yang melibatkan aparat keamanan dengan warga di dalam sengketa lahan, dan lain lainnya, tidak dapat dikatakan sebagai pelanggaran HAM.

HAM hanya dibahas di dalam situasi konstruktif dan ideal, artinya bahwa HAM dibahas di dalam nafas pembangunan suatu negara, konsep dan grand design yang diinginkan suatu negara dan Pemerintah dan disetujui oleh seluruh rakyat. Jadi HAM tidak ada hubungannya dengan insiden kekerasan, apalagi seluruh insiden yang dikategorikan pelanggaran HAM tersebut tidak mengandung butir-butir PANCA-HAM.

Pada kedua contoh kasus di atas, sebenarnya terdapat beberapa pertanyaan.

  • Mengapa insiden tersebut dikatakan sebagai pelanggaran HAM?
  • Bagian mana pada kedua insiden tersebut yang merupakan bukti pelanggaran HAM?
  • Dan apakah insiden tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai pelanggaran pidana biasa?
  • Mengapa insiden tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai pelanggaran pidana biasa?

Jelas sekali bahwa kedua insiden tersebut hanya merupakan pelanggaran pidana biasa, bukan dan tidak ada hubungannya dengan pelanggaran HAM, karena HAM hanya dibahas di dalam situasi konstruktif dan ideal.

Adalah tidak mungkin satu hal dapat dikategorikan ke dalam dua hal yang berbeda, yaitu pidana biasa dan pelanggaran HAM. Kedua Insiden tersebut di atas sebenarnya adalah kasus pidana biasa, maka kemudian mengapa juga bisa dikategorikan sebagai pelanggaran HAM? Itu pun HAM sebenarnya tidak dapat dihubungkan dengan insiden kekerasan mana pun.

Sebagai permisalan, bagian tumbuhan yang masuk ke dalam tanah dan berfungsi menyerap air dan unsur hara dari tanah, disebut akar. Namun kemudian bagian ini juga disebut batang tanaman. Adalah sudah jelas mana yang akar dan mana yang batang tanaman, maka mengapa bagian yang dinamakan akar juga dikatakan batang tanaman? Tidak mungkin bagian tumbuhan yang masuk ke dalam tanah mempunyai dua nama yang berbeda, sementara masing-masing nama tersebut mempunyai makna, penjelasan dan fungsi yang berbeda pula.

Maka demikian juga dengan insiden kekerasan tersebut, bahwa hal tersebut sebenarnya adalah kasus pidana biasa, bukan pelanggaran HAM. Kalau insiden tersebut merupakan insiden pidana, kemudian mengapa insiden tersebut juga dinamakan pelanggaran HAM? Adalah mutlak terdapat perbedaan antara kasus pidana dan pelanggaran HAM.

Atau, kalau kedua insiden tersebut dikategorikan sebagai pelanggaran HAM, maka itu artinya kedua insiden tersebut BUKAN KASUS PIDANA. Pertanyaannya adalah, apakah yang menjadi batasan kasus pidana, sehingga kedua kasus tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai kasus pidana?

Intinya, apapun yang mendasari kedua kasus tersebut tidak ada hubungannya dengan butir-butir pada PANCA-HAM. Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa kedua insiden tersebut bukan pelanggaran HAM, melainkan kasus pidana biasa.

Jangan Mendewakan Imam Mahzab Mau Pun Para Ahli Fiqih

mendewakanparafakih

al-Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata,

  1. Apabila aku berkata satu perkataan yang menyelisihi kitabullah (Alqur’an) dan khabar Rasulullah (hadits), maka tinggalkanlah perkataanku.
  2. Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil pendapat kami selama ia tidak mengetahui dari mana kami telah mengambilnya.
  3. Haram bagi seseorang yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan perkataanku.
  4. Celakalah engkau wahai Ya’kub (yaitu Abu Yusuf). Janganlah engkau selalu mencatat semua yang kamu dengar dariku. Karena aku pada hari ini berpendapat dengan suatu pendapat namun aku akan meninggalkannya esok. Atau aku esoknya berpendapat suatu pendapat lalu lusanya aku meninggalkannya pula.
  5. Apabila hadits itu shahih maka ia adalah madzhab (pendirian)-ku. (Shifat Sholat an-Nabiy halaman 46).

al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,

  1. Aku ini hanyalah manusia, bisa salah dan bisa juga benar. Oleh sebab itu perhatikanlah pendapatku itu dengan seksama. Maka semua yang sesuai dengan Alquran dan sunnah maka ambillah. Dan semua yang tidak sesuai dengan Alquran dan sunnah maka tinggalkanlah.
  2. Tidak ada seseorang sesudah Nabi yang diambil dan ditinggalkan kecuali Nabi saw.

al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

  1. Apabila kalian mendapatkan di dalam kitabku ada yang menyelisihi sunnah Rasulullah maka hendaklah kalian berkata dengan sunnah Rasulullah dan tinggalkan apa yang telah aku katakan. Di dalam satu riwayat: Maka ikutilah sunnah tersebut dan janganlah kalian berpaling kepada perkataan seseorang.
  2. Kaum muslimin telah ber-ijmak bahwasanya orang yang telah jelas baginya satu sunnah dari Rasulullah, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya lantaran pendapat seseorang.
  3. Setiap persoalan yang telah shahih hadits tentangnya dari Rasulullah menurut ahli naql (ahli hadits) yang berselisih dengan apa yang kukatakan. Maka aku merujuk kepadanya di masa hidupku dan setelah kematianku.
  4. Apabila kalian melihat aku mengatakan suatu perkataan sedangkan telah shahih dari Nabi yang menyelisihinya maka ketahuilah bahwasanya telah hilang akalku.
  5. Semua yang kukatakan sedangkan yang shahih dari Nabi menyelisihi ucapanku maka hadits Nabi adalah yang lebih utama. Janganlah kalian taklid kepadaku.
  6. Semua hadits dari Nabi adalah ucapanku meskipun kalian tidak mendengarnya dariku.

al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata,

  1. Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Awza’iy dan juga ats-Tsauriy. Tetapi ambillah dari arah mana mereka mengambil.
  2. Pendapat al-Awza’iy, pendapat Malik dan pendapat Abu Hanifah, semuanya itu hanyalah pendapat. Di sisiku semuanya itu sama. Hujjah itu hanyalah ada pada atsar.
  3. Berkata Abu Dawud, Aku pernah bertanya kepada Imam Ahmad, ”Apakah al-Awza’iy itu pengikut Imam Malik?”. Ia menjawab, ”Janganlah engkau taklid kepada seseorang dari mereka di dalam agamamu. Apa yang datang dari Nabi dan para shahabatnya maka ambillah”.
  4. Sebahagian dari minimnya pemahaman seseorang terhadap agamanya adalah ia taklid kepada orang-orang di dalam agamanya.
  5. Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah maka berarti ia berada di tepi jurang kebinasaan.

Sumber,

http://cintakajiansunnah.wordpress.com/2012/06/06/perlukah-ber-ashobiyah-fanatisme-golongan/

Inilah Cara Jitu Mengatasi Masalah Sampah.

sampahdddd

Sampah merupakan masalah lingkungan yang sangat mengganggu masyarakat, kendati masyarakat itu sendiri yang menghasilkan sampah. Dan masalah sampah ini tampaknya justru tidak menarik minat para pemangku Pemerintah sehingga terkesan sampah dibiarkan ada tanpa ada penanganan holistik dari pihak pemerintah. Pun juga harus disadari bahwa penanganan sampah biar bagaimana pun merupakan tanggungjawab semua pihak, bukan tanggungjawab pemerintah saja.

Secara alami, sebenarnya sampah dapat terurai oleh mekanisme pembusukan, yang mana proses tersebut akan menghasilkan pupuk untuk kesuburan tanah itu sendiri. Sampai di sini tentunya sampah tidak akan menjadi masalah, karena sebanyak apa pun sampah, toh akan diuraikan oleh alam semesta dan kemudian menjadi pupuk.
Namun kemudian, masalah sampah dewasa ini tidaklah sesederhana itu.
Tampaknya sampah sekarang ini tidak lagi mengalami pembusukan, melainkan tetap tertahan dalam ujud awalnya. Dari sinilah awal munculnya tragedi sampah.
Sebenarnya definisi sampah adalah apapun yang tidak diperlukan manusia, dan kemudian diuraikan oleh alam sehingga terjadilah proses pembusukan yang pada akhirnya berubah menjadi pupuk yang akan menyuburkan tanah.

Sampah plastik.

Seluruh sampah yang non-plastik, sudah pasti akan mengalami pembusukan alami sehingga di dalam waktu relatif singkat akan musnah menjadi pupuk yang bermanfaat untuk alam semesta. Sampah non plastik antara lain adalah bahan makanan, daun-daunan, kue, kayu, besi, seng, alumunium, kertas. Keseluruhan jenis sampah ini merupakan sampah organik, yaitu jenis yang berasal murni dari alam, bukan kimiawi.

Kebalikannya, jenis plastik merupakan jenis yang tidak dapat diuraikan oleh alam semesta, sehingga tidak akan dapat berproses di dalam pembusukan. Akibatnya alam menjadi tercemar, dan juga akan menghambat pembusukan unsur lain yang menyertai sampah plastik ini.

Karena sampah plastik tidak ikut berproses dalam siklus pembusukan, maka ujud sampah ini akan tetap sepanjang waktu. Gilirannya, kelak sampah ini akan menghambat saluran air, dan juga terus menumpuk di tempat sampah sehingga menimbulkan bau dan berbagai penyakit, terlebih lagi merusak keasrian lingkungan. Inilah sebenarnya yang merupakan masalah sampah: YAITU PLASTIK.

Pra industrial.

Keberadaan Barang yang terbuat dari plastik dapat ditarik keberadaannya dari masa industri, karena plastik tidak bisa dilepaskan dari pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan khususnya bidang kimia, dan kemudian diperbanyak di dalam siklus industri. Industri lah kemudian yang memperbanyak barang-barang plastik ini untuk mengejar keuntungan uang. Perusahaan melalui pabrik yang industrialis menawarkan barang-barang yang terbuat dari plastik kepada seluruh warga kota yang menjanjikan kepraktisan, ringan dan awet karena tidak akan membusuk selama ribuan tahun.

Pada saat inilah plastik mulai membanjiri kehidupan manusia, mulai di dalam bentuk kantong plastik, piring plastik, kursi plastik, tas plastik, sendal plastik, dan masih banyak lagi.

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa bencana sampah dimulai dengan munculnya PLASTIK melalui bangkitnya industri dan pesatnya ilmu pengetahuan, karena keseluruhan hal tersebut seutuhnya berawal dari keinginan untuk mengejar kepraktisan dan murah, dan plastik merupakan jawaban yang paling tepat.

Praktis, pada masa pra-industri kehidupan manusia belum mengenal benda yang bernama plastik ini – karena memang tidak ada plastiknya. Dan sungguh indah, pada masa itu tentunya limbah tidak pernah menjadi masalah lingkungan, karena kala itu umat manusia hanya mengenal sampah organik, yaitu sampah yang pada awalnya terbuat dari alam secara murni, kemudian ketika dibuang ke tempat sampah, ikut dan larut di dalam siklus pembusukan sehingga di dalam waktu yang tidak relatif lama musnah menjadi pupuk yang menyuburkan tanah.

Masa itu adalah masa penuh keindahan, karena tidak ada sampah yang bertebaran, apalagi yang menumpuk di tempat sampah sehingga menimbulkan bau busuk dan sumber penyakit; jangan pula memikirkan tumpukan sampah yang menyumbat saluran pembuangan air, karena biang keladinya, yaitu sampah plastik, tidak ada.

Kalau jaman sekarang ini (Tahun 2014) tidak ada plastik di Dunia, pastilah seluruh umat manusia tidak akan pernah mempunyai masalah lingkungan hidup yang bernama sampah ini. Adalah benar manusia pasti memproduksi sampah, namun sampah yang diproduksi manusia merupakan sampah organik belaka, yang ketika dicampakkan ke tempat sampah akan segera terlibat di dalam siklus pembusukan alami sehingga pada akhirnya lenyap menjadi pupuk. Dengan tidak adanya plastik, keasrian lingkungan akan tetap terjaga, bersih, bebas bau, bebas penyakit, bebas penyumbatan saluran air pembuangan, dan juga bebas banjir karena jalur pelepasan air tidak terhambat oleh sampah.

Bakda Industrial.

Kisah indah itu berakhir dengan pecahnya jaman industri yang gegap gempita khususnya ketika para ahli kimia berhasil menemukan zat baru yang dinamakan plastik. Mulailah mereka mengaplikasikan plastik hasil temuan mereka ke dalam berbagai barang kebutuhan dikarenakan sifat unggul yang dimiliki plastik ini, ringan, murah, tidak bisa pecah atau rusak, mudah dibentuk, dapat diwarnai, dan fleksibel. Dengan gegap gempita umat manusia menyambut benda-benda plastik di dalam kehidupan mereka. Mulailah plastik merajai kehidupan manusia di dalam sektor home appliances.

Ekses negatif dari plastik sungguh tidak diperkirakan sebelumnya. Benda-benda dari plastik yang tidak berguna, mereka buang ke tempat sampah, dan malang sekali sampah plastik tersebut tidak dapat ikut terlibat di dalam proses pembusukan alami. Dan akhirnya sampah plastik menjadi masalah lingkungan karena merusak keasrian pemandangan, meningkatkan eskalasi bau dan sumber penyakit, dan juga menghambat proses pembusukan sampah organik lainnya.

Kebutuhan versus kerusakan.

Tidak dapat diingkari bahwa manusia butuh benda yang terbuat dari plastik, dan ingatlah bahwa apapun di Dunia ini dibutuhkan oleh manusia walau pun manusia faham bahwa hal tersebut berbahaya. Fikiran manusia sulit untuk mengendalikan produksi plastik karena kebutuhan mereka jauh lebih kuat dari kesadaran akan bahayanya.

Tampaknya mereka lebih memilih untuk memperbanyak produksi plastik, dan kehancuran lingkungan sebagai akibat plastik tersebut – walau pun mereka benci dan tidak menginginkannya – mereka serahkan pengendaliannya kepada pihak lain yang sama tidak kompetensinya dengan mereka.

Gerakan antiplastik.

Pada masa pra-industrial, manusia dapat menjalani hidup kendati pada masa itu mereka hidup tanpa plastik. Dan ternyata kehidupan mereka sama sekali tidak terganggu, bahkan kehidupan mereka jauh lebih baik dan indah, dan sehat dengan ketiadaan plastik. Namun keberadaan plastik membuat manusia merasa ketergantungan terhadap plastik, seolah tanpa plastik kehidupan mereka akan berakhir lebih cepat.

Sebenarnya kehidupan akan dapat berlangung dengan baik, tanpa plastik: walau pun tidak ada plastik. Dan demi memperoleh kehidupan yang bermutu tanpa adanya masalah sampah, sumber penyakit dan hal lain yang menyertainya, hidup yang anti-plastik harus menjadi pilihan utama bagi kita semua.

Produksi plastik harus dihentikan, dan tidak ada pilihan lain kecuali menghentikan produksi plastik sama sekali.

Pilihan kedua.

Pemanfaatan plastik dapat dibijaksanakan untuk meminimalisir dampak lingkungan yang destruktif dan merugikan. Di dalam penggunaan plastik di dalam kehidupan yang terkait dengan kadar kesampahannya, maka Plastik dapat dibedakan menjadi dua kategori.

Kategori aman.

Produk plastik dengan kadar kesampahan yang berkategori aman, adalah produk plastik dengan kriteria:

  1. Ukuran besar,
  2. Pemakaian untuk jangka panjang.
  3. Diproduksi atau di-launch ke masyarakat di dalam populasi yang sedikit.

Contoh produk plastik dengan kategori aman ini adalah seperti kursi plastik dan ember plastik. Produk dengan kategori ini dapat ditoleransi untuk terus diproduksi, karena kriterinya yang dipergunakan di dalam waktu lama, dapat meminimalisir tercetusnya sampah nonorganik yang menyengsarakan lingkungan.

Kategori bahaya.

Produk sampah dengan kadar kesampahan yang berkategori bahaya adalah produk plastik dengan kriteria:

  1. Ukuran kecil;
  2. Pemakaian untuk jangka waktu singkat.
  3. Diproduksi atau di-launch ke masyarakat di dalam populasi yang tinggi / banyak.

Contoh produk plastik dengan kategori bahaya ini adalah seperti kantong plastik, plastik kemasan untuk berbagai produk eceran, perkakas rumahtangga plastik yang berukuran kecil, kotak plastik, sachet plastik, mainan anak-anak plastik, air minum di dalam kemasan plastik, dan lain lain.

Produk plastik dengan kriteria ini merupakan ancaman yang sangat mengerikan atas kelestarian lingkungan mau pun kesehatan. Produk plastik dengan kategori inilah yang sebenarnya sumber malapetaka, dan harus dihentikan siklus produksinya.

Dengan menghentikan jalur produksi plastik yang berkriteria bahaya ini, dapat dipastikan bahwa masalah sampah di tengah masyarakat dapat segera teratasi dengan baik dan murah. Proses pembusukan yang terjadi pada alam semesta akan terjadi tanpa hambatan atas seluruh jenis sampah, sehingga dengan demikian sampah di dalam bentuk apapun – minus sampah plastik, cepat terurai menjadi pupuk. Tidak akan ada lagi masalah bau busuk, sumber penyakit mau pun malapetaka banjir yang menyengsarakan. Hal itu semua karena sudah tidak ada lagi materi sampah yang terbuat dari plastik.

Pengganti plastik.

Banyak orang yang sudah telanjur tergantung pada plastik sebagai pemudah kebutuhan mereka, seperti untuk kemasan minum, tempat makan dan minum yang ringan, sebagai kemasan makanan, sebagai alat pengemas yang mudah untuk dibawa, dan sebagai kemasan yang sekali pakai bisa langsung dibuang (disposable).

Dengan ketiadaan produksi plastik, akan banyak orang yang bertanya, tanpa plastik, dengan apa mereka akan memperoleh kemudahan di dalam mengemas seperti pengemas makanan, minuman, alat yang ringan dan anti-pecah, dan lain lain. Pihak pabrik makanan (ringan) akan mempunyai pertanyaan besar kalau plastik ditiadakan, bahwa bagaimana mereka akan mengemas produk mereka kalau tidak ada plastik, bahwa mengemas makanan mereka dengan unsur lain seperti besi mau pun kaca tentunya akan membutuhkan biaya tambahan, dan juga berat di dalam pengangkutan, dan juga tidak praktis dan tidak efisien.

Ketiadaan (atau penghilangan produksi) plastik yang berfokus pada penyelamatan lingkungan dan kebutuhan untuk dapat mengatasi masalah sampah, akan merupakan awal kehidupan dengan ritme dan paradigma yang baru. Jangan takut dengan akan datangnya kehidupan dengan ritme baru, paradgma baru, di mana plastik sudah tidak ada di dalam hidup tersebut. Kehidupan akan menjadi lebih baik dan asri, sejuk, dan juga sehat, berapa banyak uang yang akan bisa dihemat karena tidak ada lagi masalah sampah.

Masyarakat, pengusaha, LSM dan Pemerintah.

Untuk mencapai kondisi ini di mana tidak ada lagi sampah plastik di dalam kategori bahaya, maka tekad dan pemahaman yang baik dari seluruh komponen baik masyarakat, pegusaha, LSM dan juga Pemerintah akan menjadi penentu keberhasilan di dalam usaha mengeliminir bahaya sampah. Harus ditekankan bahwa sebenarnya hidup dapat tetap berjalan dengan baik walau pun tidak ada plastik, dan kehidupan di masa lalu yang tidak diwarnai plastik, merupakan babak di mana kehidupan berjalan dengan baik dan asri, yang kala itu seluruh masyarakat dan kota tidak pernah mempunyai masalah sampah yang menumpuk di tengah kota dengan seluruh ekses negatifnya. Dengan ketiadaan sampah plastk, kualitas hidup dapat terpelihara, dan keseimbangan alam pun dapat terjaga.

Pada akhirnya, masalah sampah yang menghantui seluruh kota, ternyata hanya berujung pada satu kata kunci, tidak lebih: yaitu sampah plastik. Sementara ketiadaan sampah plastik membuat masalah sampah tidak pernah tercetus dari jaman ke jaman, maka sebaliknya eksistensi sampah plastik telah mencetus masalah sampah yang teramat pelik untuk diatasi. Dan satu kata kunci ini, membuat logika sampah menjadi teramat mudah untuk difahami, yaitu seluruhnya hanya berpangkal dari memproduksi sampah plastik atau TIDAK. Satu hal yang mendasar: bahwa tanpa plastik pun hidup juga mudah untuk dinikmati, adalah tidak benar ketiadaan plastik membuat hidup menjadi mustahil.

Kesimpulan.

  1. Masalah sampah ternyata hanya berpangkal pada keberadaan sampah plastik.
  2. Seluruh sampah dapat diuraikan oleh alam secara alami, untuk selanjutnya akan menjadi pupuk yang menyuburkan tanah. Seluruh sampah akan teruraikan dengan baik, KECUALI SAMPAH PLASTIK.
  3. Untuk mengatasi masalah sampah, maka komponen plastik harus dihilangkan dari sampah.
  4. Hidup akan tetap dapat berjalan dengan baik kendati tidak diwarnai dengan kebutuhan akan plastik.
  5. Pada masa pra-industri, seluruh kota tidak mempunyai masalah dengan sampah. Pada masa itu, plastik belum muncul. Sebenarnya terdapat hubungan paralelitas yang kuat antara ketiadaan masalah sampah dengan ketiadaan unsur plastik.
  6. Seluruh kota, seluruh Pemerintahan, seluruh masyarakat harus menghentikan produksi plastik, karena pertama, kehidupan tidak membutuhkan plastik, dan yang kedua, plastik merupakan biang masalah sampah yang menghancurkan seluruh kota di Dunia.