Inilah Cara Jitu Mengatasi Masalah Sampah.

sampahdddd

Sampah merupakan masalah lingkungan yang sangat mengganggu masyarakat, kendati masyarakat itu sendiri yang menghasilkan sampah. Dan masalah sampah ini tampaknya justru tidak menarik minat para pemangku Pemerintah sehingga terkesan sampah dibiarkan ada tanpa ada penanganan holistik dari pihak pemerintah. Pun juga harus disadari bahwa penanganan sampah biar bagaimana pun merupakan tanggungjawab semua pihak, bukan tanggungjawab pemerintah saja.

Secara alami, sebenarnya sampah dapat terurai oleh mekanisme pembusukan, yang mana proses tersebut akan menghasilkan pupuk untuk kesuburan tanah itu sendiri. Sampai di sini tentunya sampah tidak akan menjadi masalah, karena sebanyak apa pun sampah, toh akan diuraikan oleh alam semesta dan kemudian menjadi pupuk.
Namun kemudian, masalah sampah dewasa ini tidaklah sesederhana itu.
Tampaknya sampah sekarang ini tidak lagi mengalami pembusukan, melainkan tetap tertahan dalam ujud awalnya. Dari sinilah awal munculnya tragedi sampah.
Sebenarnya definisi sampah adalah apapun yang tidak diperlukan manusia, dan kemudian diuraikan oleh alam sehingga terjadilah proses pembusukan yang pada akhirnya berubah menjadi pupuk yang akan menyuburkan tanah.

Sampah plastik.

Seluruh sampah yang non-plastik, sudah pasti akan mengalami pembusukan alami sehingga di dalam waktu relatif singkat akan musnah menjadi pupuk yang bermanfaat untuk alam semesta. Sampah non plastik antara lain adalah bahan makanan, daun-daunan, kue, kayu, besi, seng, alumunium, kertas. Keseluruhan jenis sampah ini merupakan sampah organik, yaitu jenis yang berasal murni dari alam, bukan kimiawi.

Kebalikannya, jenis plastik merupakan jenis yang tidak dapat diuraikan oleh alam semesta, sehingga tidak akan dapat berproses di dalam pembusukan. Akibatnya alam menjadi tercemar, dan juga akan menghambat pembusukan unsur lain yang menyertai sampah plastik ini.

Karena sampah plastik tidak ikut berproses dalam siklus pembusukan, maka ujud sampah ini akan tetap sepanjang waktu. Gilirannya, kelak sampah ini akan menghambat saluran air, dan juga terus menumpuk di tempat sampah sehingga menimbulkan bau dan berbagai penyakit, terlebih lagi merusak keasrian lingkungan. Inilah sebenarnya yang merupakan masalah sampah: YAITU PLASTIK.

Pra industrial.

Keberadaan Barang yang terbuat dari plastik dapat ditarik keberadaannya dari masa industri, karena plastik tidak bisa dilepaskan dari pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan khususnya bidang kimia, dan kemudian diperbanyak di dalam siklus industri. Industri lah kemudian yang memperbanyak barang-barang plastik ini untuk mengejar keuntungan uang. Perusahaan melalui pabrik yang industrialis menawarkan barang-barang yang terbuat dari plastik kepada seluruh warga kota yang menjanjikan kepraktisan, ringan dan awet karena tidak akan membusuk selama ribuan tahun.

Pada saat inilah plastik mulai membanjiri kehidupan manusia, mulai di dalam bentuk kantong plastik, piring plastik, kursi plastik, tas plastik, sendal plastik, dan masih banyak lagi.

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa bencana sampah dimulai dengan munculnya PLASTIK melalui bangkitnya industri dan pesatnya ilmu pengetahuan, karena keseluruhan hal tersebut seutuhnya berawal dari keinginan untuk mengejar kepraktisan dan murah, dan plastik merupakan jawaban yang paling tepat.

Praktis, pada masa pra-industri kehidupan manusia belum mengenal benda yang bernama plastik ini – karena memang tidak ada plastiknya. Dan sungguh indah, pada masa itu tentunya limbah tidak pernah menjadi masalah lingkungan, karena kala itu umat manusia hanya mengenal sampah organik, yaitu sampah yang pada awalnya terbuat dari alam secara murni, kemudian ketika dibuang ke tempat sampah, ikut dan larut di dalam siklus pembusukan sehingga di dalam waktu yang tidak relatif lama musnah menjadi pupuk yang menyuburkan tanah.

Masa itu adalah masa penuh keindahan, karena tidak ada sampah yang bertebaran, apalagi yang menumpuk di tempat sampah sehingga menimbulkan bau busuk dan sumber penyakit; jangan pula memikirkan tumpukan sampah yang menyumbat saluran pembuangan air, karena biang keladinya, yaitu sampah plastik, tidak ada.

Kalau jaman sekarang ini (Tahun 2014) tidak ada plastik di Dunia, pastilah seluruh umat manusia tidak akan pernah mempunyai masalah lingkungan hidup yang bernama sampah ini. Adalah benar manusia pasti memproduksi sampah, namun sampah yang diproduksi manusia merupakan sampah organik belaka, yang ketika dicampakkan ke tempat sampah akan segera terlibat di dalam siklus pembusukan alami sehingga pada akhirnya lenyap menjadi pupuk. Dengan tidak adanya plastik, keasrian lingkungan akan tetap terjaga, bersih, bebas bau, bebas penyakit, bebas penyumbatan saluran air pembuangan, dan juga bebas banjir karena jalur pelepasan air tidak terhambat oleh sampah.

Bakda Industrial.

Kisah indah itu berakhir dengan pecahnya jaman industri yang gegap gempita khususnya ketika para ahli kimia berhasil menemukan zat baru yang dinamakan plastik. Mulailah mereka mengaplikasikan plastik hasil temuan mereka ke dalam berbagai barang kebutuhan dikarenakan sifat unggul yang dimiliki plastik ini, ringan, murah, tidak bisa pecah atau rusak, mudah dibentuk, dapat diwarnai, dan fleksibel. Dengan gegap gempita umat manusia menyambut benda-benda plastik di dalam kehidupan mereka. Mulailah plastik merajai kehidupan manusia di dalam sektor home appliances.

Ekses negatif dari plastik sungguh tidak diperkirakan sebelumnya. Benda-benda dari plastik yang tidak berguna, mereka buang ke tempat sampah, dan malang sekali sampah plastik tersebut tidak dapat ikut terlibat di dalam proses pembusukan alami. Dan akhirnya sampah plastik menjadi masalah lingkungan karena merusak keasrian pemandangan, meningkatkan eskalasi bau dan sumber penyakit, dan juga menghambat proses pembusukan sampah organik lainnya.

Kebutuhan versus kerusakan.

Tidak dapat diingkari bahwa manusia butuh benda yang terbuat dari plastik, dan ingatlah bahwa apapun di Dunia ini dibutuhkan oleh manusia walau pun manusia faham bahwa hal tersebut berbahaya. Fikiran manusia sulit untuk mengendalikan produksi plastik karena kebutuhan mereka jauh lebih kuat dari kesadaran akan bahayanya.

Tampaknya mereka lebih memilih untuk memperbanyak produksi plastik, dan kehancuran lingkungan sebagai akibat plastik tersebut – walau pun mereka benci dan tidak menginginkannya – mereka serahkan pengendaliannya kepada pihak lain yang sama tidak kompetensinya dengan mereka.

Gerakan antiplastik.

Pada masa pra-industrial, manusia dapat menjalani hidup kendati pada masa itu mereka hidup tanpa plastik. Dan ternyata kehidupan mereka sama sekali tidak terganggu, bahkan kehidupan mereka jauh lebih baik dan indah, dan sehat dengan ketiadaan plastik. Namun keberadaan plastik membuat manusia merasa ketergantungan terhadap plastik, seolah tanpa plastik kehidupan mereka akan berakhir lebih cepat.

Sebenarnya kehidupan akan dapat berlangung dengan baik, tanpa plastik: walau pun tidak ada plastik. Dan demi memperoleh kehidupan yang bermutu tanpa adanya masalah sampah, sumber penyakit dan hal lain yang menyertainya, hidup yang anti-plastik harus menjadi pilihan utama bagi kita semua.

Produksi plastik harus dihentikan, dan tidak ada pilihan lain kecuali menghentikan produksi plastik sama sekali.

Pilihan kedua.

Pemanfaatan plastik dapat dibijaksanakan untuk meminimalisir dampak lingkungan yang destruktif dan merugikan. Di dalam penggunaan plastik di dalam kehidupan yang terkait dengan kadar kesampahannya, maka Plastik dapat dibedakan menjadi dua kategori.

Kategori aman.

Produk plastik dengan kadar kesampahan yang berkategori aman, adalah produk plastik dengan kriteria:

  1. Ukuran besar,
  2. Pemakaian untuk jangka panjang.
  3. Diproduksi atau di-launch ke masyarakat di dalam populasi yang sedikit.

Contoh produk plastik dengan kategori aman ini adalah seperti kursi plastik dan ember plastik. Produk dengan kategori ini dapat ditoleransi untuk terus diproduksi, karena kriterinya yang dipergunakan di dalam waktu lama, dapat meminimalisir tercetusnya sampah nonorganik yang menyengsarakan lingkungan.

Kategori bahaya.

Produk sampah dengan kadar kesampahan yang berkategori bahaya adalah produk plastik dengan kriteria:

  1. Ukuran kecil;
  2. Pemakaian untuk jangka waktu singkat.
  3. Diproduksi atau di-launch ke masyarakat di dalam populasi yang tinggi / banyak.

Contoh produk plastik dengan kategori bahaya ini adalah seperti kantong plastik, plastik kemasan untuk berbagai produk eceran, perkakas rumahtangga plastik yang berukuran kecil, kotak plastik, sachet plastik, mainan anak-anak plastik, air minum di dalam kemasan plastik, dan lain lain.

Produk plastik dengan kriteria ini merupakan ancaman yang sangat mengerikan atas kelestarian lingkungan mau pun kesehatan. Produk plastik dengan kategori inilah yang sebenarnya sumber malapetaka, dan harus dihentikan siklus produksinya.

Dengan menghentikan jalur produksi plastik yang berkriteria bahaya ini, dapat dipastikan bahwa masalah sampah di tengah masyarakat dapat segera teratasi dengan baik dan murah. Proses pembusukan yang terjadi pada alam semesta akan terjadi tanpa hambatan atas seluruh jenis sampah, sehingga dengan demikian sampah di dalam bentuk apapun – minus sampah plastik, cepat terurai menjadi pupuk. Tidak akan ada lagi masalah bau busuk, sumber penyakit mau pun malapetaka banjir yang menyengsarakan. Hal itu semua karena sudah tidak ada lagi materi sampah yang terbuat dari plastik.

Pengganti plastik.

Banyak orang yang sudah telanjur tergantung pada plastik sebagai pemudah kebutuhan mereka, seperti untuk kemasan minum, tempat makan dan minum yang ringan, sebagai kemasan makanan, sebagai alat pengemas yang mudah untuk dibawa, dan sebagai kemasan yang sekali pakai bisa langsung dibuang (disposable).

Dengan ketiadaan produksi plastik, akan banyak orang yang bertanya, tanpa plastik, dengan apa mereka akan memperoleh kemudahan di dalam mengemas seperti pengemas makanan, minuman, alat yang ringan dan anti-pecah, dan lain lain. Pihak pabrik makanan (ringan) akan mempunyai pertanyaan besar kalau plastik ditiadakan, bahwa bagaimana mereka akan mengemas produk mereka kalau tidak ada plastik, bahwa mengemas makanan mereka dengan unsur lain seperti besi mau pun kaca tentunya akan membutuhkan biaya tambahan, dan juga berat di dalam pengangkutan, dan juga tidak praktis dan tidak efisien.

Ketiadaan (atau penghilangan produksi) plastik yang berfokus pada penyelamatan lingkungan dan kebutuhan untuk dapat mengatasi masalah sampah, akan merupakan awal kehidupan dengan ritme dan paradigma yang baru. Jangan takut dengan akan datangnya kehidupan dengan ritme baru, paradgma baru, di mana plastik sudah tidak ada di dalam hidup tersebut. Kehidupan akan menjadi lebih baik dan asri, sejuk, dan juga sehat, berapa banyak uang yang akan bisa dihemat karena tidak ada lagi masalah sampah.

Masyarakat, pengusaha, LSM dan Pemerintah.

Untuk mencapai kondisi ini di mana tidak ada lagi sampah plastik di dalam kategori bahaya, maka tekad dan pemahaman yang baik dari seluruh komponen baik masyarakat, pegusaha, LSM dan juga Pemerintah akan menjadi penentu keberhasilan di dalam usaha mengeliminir bahaya sampah. Harus ditekankan bahwa sebenarnya hidup dapat tetap berjalan dengan baik walau pun tidak ada plastik, dan kehidupan di masa lalu yang tidak diwarnai plastik, merupakan babak di mana kehidupan berjalan dengan baik dan asri, yang kala itu seluruh masyarakat dan kota tidak pernah mempunyai masalah sampah yang menumpuk di tengah kota dengan seluruh ekses negatifnya. Dengan ketiadaan sampah plastk, kualitas hidup dapat terpelihara, dan keseimbangan alam pun dapat terjaga.

Pada akhirnya, masalah sampah yang menghantui seluruh kota, ternyata hanya berujung pada satu kata kunci, tidak lebih: yaitu sampah plastik. Sementara ketiadaan sampah plastik membuat masalah sampah tidak pernah tercetus dari jaman ke jaman, maka sebaliknya eksistensi sampah plastik telah mencetus masalah sampah yang teramat pelik untuk diatasi. Dan satu kata kunci ini, membuat logika sampah menjadi teramat mudah untuk difahami, yaitu seluruhnya hanya berpangkal dari memproduksi sampah plastik atau TIDAK. Satu hal yang mendasar: bahwa tanpa plastik pun hidup juga mudah untuk dinikmati, adalah tidak benar ketiadaan plastik membuat hidup menjadi mustahil.

Kesimpulan.

  1. Masalah sampah ternyata hanya berpangkal pada keberadaan sampah plastik.
  2. Seluruh sampah dapat diuraikan oleh alam secara alami, untuk selanjutnya akan menjadi pupuk yang menyuburkan tanah. Seluruh sampah akan teruraikan dengan baik, KECUALI SAMPAH PLASTIK.
  3. Untuk mengatasi masalah sampah, maka komponen plastik harus dihilangkan dari sampah.
  4. Hidup akan tetap dapat berjalan dengan baik kendati tidak diwarnai dengan kebutuhan akan plastik.
  5. Pada masa pra-industri, seluruh kota tidak mempunyai masalah dengan sampah. Pada masa itu, plastik belum muncul. Sebenarnya terdapat hubungan paralelitas yang kuat antara ketiadaan masalah sampah dengan ketiadaan unsur plastik.
  6. Seluruh kota, seluruh Pemerintahan, seluruh masyarakat harus menghentikan produksi plastik, karena pertama, kehidupan tidak membutuhkan plastik, dan yang kedua, plastik merupakan biang masalah sampah yang menghancurkan seluruh kota di Dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s