Jangan Mendewakan Imam Mahzab Mau Pun Para Ahli Fiqih

mendewakanparafakih

al-Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata,

  1. Apabila aku berkata satu perkataan yang menyelisihi kitabullah (Alqur’an) dan khabar Rasulullah (hadits), maka tinggalkanlah perkataanku.
  2. Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil pendapat kami selama ia tidak mengetahui dari mana kami telah mengambilnya.
  3. Haram bagi seseorang yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan perkataanku.
  4. Celakalah engkau wahai Ya’kub (yaitu Abu Yusuf). Janganlah engkau selalu mencatat semua yang kamu dengar dariku. Karena aku pada hari ini berpendapat dengan suatu pendapat namun aku akan meninggalkannya esok. Atau aku esoknya berpendapat suatu pendapat lalu lusanya aku meninggalkannya pula.
  5. Apabila hadits itu shahih maka ia adalah madzhab (pendirian)-ku. (Shifat Sholat an-Nabiy halaman 46).

al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,

  1. Aku ini hanyalah manusia, bisa salah dan bisa juga benar. Oleh sebab itu perhatikanlah pendapatku itu dengan seksama. Maka semua yang sesuai dengan Alquran dan sunnah maka ambillah. Dan semua yang tidak sesuai dengan Alquran dan sunnah maka tinggalkanlah.
  2. Tidak ada seseorang sesudah Nabi yang diambil dan ditinggalkan kecuali Nabi saw.

al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

  1. Apabila kalian mendapatkan di dalam kitabku ada yang menyelisihi sunnah Rasulullah maka hendaklah kalian berkata dengan sunnah Rasulullah dan tinggalkan apa yang telah aku katakan. Di dalam satu riwayat: Maka ikutilah sunnah tersebut dan janganlah kalian berpaling kepada perkataan seseorang.
  2. Kaum muslimin telah ber-ijmak bahwasanya orang yang telah jelas baginya satu sunnah dari Rasulullah, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya lantaran pendapat seseorang.
  3. Setiap persoalan yang telah shahih hadits tentangnya dari Rasulullah menurut ahli naql (ahli hadits) yang berselisih dengan apa yang kukatakan. Maka aku merujuk kepadanya di masa hidupku dan setelah kematianku.
  4. Apabila kalian melihat aku mengatakan suatu perkataan sedangkan telah shahih dari Nabi yang menyelisihinya maka ketahuilah bahwasanya telah hilang akalku.
  5. Semua yang kukatakan sedangkan yang shahih dari Nabi menyelisihi ucapanku maka hadits Nabi adalah yang lebih utama. Janganlah kalian taklid kepadaku.
  6. Semua hadits dari Nabi adalah ucapanku meskipun kalian tidak mendengarnya dariku.

al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata,

  1. Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Awza’iy dan juga ats-Tsauriy. Tetapi ambillah dari arah mana mereka mengambil.
  2. Pendapat al-Awza’iy, pendapat Malik dan pendapat Abu Hanifah, semuanya itu hanyalah pendapat. Di sisiku semuanya itu sama. Hujjah itu hanyalah ada pada atsar.
  3. Berkata Abu Dawud, Aku pernah bertanya kepada Imam Ahmad, ”Apakah al-Awza’iy itu pengikut Imam Malik?”. Ia menjawab, ”Janganlah engkau taklid kepada seseorang dari mereka di dalam agamamu. Apa yang datang dari Nabi dan para shahabatnya maka ambillah”.
  4. Sebahagian dari minimnya pemahaman seseorang terhadap agamanya adalah ia taklid kepada orang-orang di dalam agamanya.
  5. Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah maka berarti ia berada di tepi jurang kebinasaan.

Sumber,

http://cintakajiansunnah.wordpress.com/2012/06/06/perlukah-ber-ashobiyah-fanatisme-golongan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s