Mari Meredefinisi Hak Asasi Manusia.

hakasasimanusia

Banyak tokoh yang mencoba untuk mendefinisikan hak asasi manusia di dalam berbagai konsep, dan pada intinya keseluruhan definisi itu mempunyai kesamaan.

Secara perkata, penekanan hak asasi manusia ada pada kata ‘asasi’ yang berarti ‘mendasar’. Berarti hak asasi manusia adalah hak manusia yang sangat mendasar. Dengan demikian sebenarnya hak asasi manusia sudah dapat dijelaskan, karena sebenarnya hak asasi ini pastilah hak-hak mendasar bagi seorang manusia, yang bukan merupakan hak tambahan, atau hak dapatan, atau hak di dalam bernegara.

Namun kemudian juga harus diakui, bahwa kebanyakan dari definisi hak asasi manusia yang diusung banyak tokoh itu, umumnya tetap mengandung kesalahan dan ketidakjelasan. Banyak artikel di internet mengenai hak asasi ini menulis bahwa definisi hak asasi manusia masih dalam perdebatan sengit, dan oleh karena itu definisi yang sudah ada juga tidak jelas.

Ironisnya adalah, ketika seluruh (kebanyakan) tokoh filsafat Hukum masih berada di dalam kebingungan dan juga perdebatan sengit mengenai definisi hak asasi manusia, negara dan aparat sudah menerapkan sanksi dan hukuman atas beberapa individu yang dianggap melanggar HAM. Bagaimana mungkin? Kalau definisi hak asasi manusia saja masih belum jelas, maka bagaimana definisi tersebut dapat di-implementasikan di dalam bentuk penjatuhan hukuman kepada pelanggar HAM?

Hak asasi manusia adalah:

  1. Hak yang membuat manusia itu terlihat sebagai manusia. Penekanan hak asasi manusia sebenarnya adalah pada memanusiakan manusia, selama memanusiakan manusia itu tidak mempersulit manusia lainnya mau pun dirinya sendiri. Dan perbuatan untuk memanusiakan manusia ini akan terus berlangsung tanpa kenal henti, misalnya saat perang, saat bencana, saat ketiadaan Hukum negara, dan lain lain.
  2. Di dalam memperoleh hak ini, seorang individu manusia TIDAK DIPERLUKAN MENUNAIKAN KEWAJIBAN TERTENTU terlebih dahulu. Inilah yang membedakan antara hak asasi manusia di satu pihak dengan hak biasa lainnya, di lain pihak, yang pemenuhannya harus didahului dengan menunaikan suatu kewajiban.

Karena hak asasi manusia merupakan hak yang akan memanusiakan manusia, maka hak tersebut HANYA terdiri dari 5 butir, yaitu,

  1. Hak kemerdekaan atas kampung halamannya sendiri.
  2. Hak atas kebutuhan biologis (makan, minum, tempat tinggal, beristirahat, butuh cahaya matahari, udara yang sehat, dan lain lain).
  3. Hak untuk memilih dan menjalankan agama sesuai dengan panggilan hatinya.
  4. Hak untuk menjalankan tradisi warisan leluhurnya.
  5. Hak untuk diperlakukan setara dengan orang lain di dalam hal kemerdekaan, kehormatan dan Hukum dengan manusia lain secara proporsional, di mana saja dia berada.

Karena hak asasi manusia tersebut terdiri atas lima butir, maka hak ini dapat disebut dengan PANCA-HAM.

Perlakuan atas PANCA-HAM.

Atas PANCA-HAM ini, terdapat tiga perlakuan, yaitu,

  1. Setiap butir pada PANCAHAM ini harus di-implementasikan atau dijabarkan secara arti sempit, bukan arti luas. Dengan demikian setiap butir pada PANCA-HAM ini tidak dapat lagi diinterpretasikan supaya meluas. Hak asasi adalah hak mendasar, tentu saja ‘mendasar’ berarti ‘mendasar’, bukan meluas. Itulah sebabnya setiap butir pada PANCA-HAM ini tidak dapat lagi diperluas.
  2. Hak asasi manusia (atau PANCA-HAM) tidak berhubungan, tidak mengakomodir, tidak menghalangi, tidak mencerminkan, terhadap suatu pandangan mau pun ajaran politik mana pun. Oleh karena itu hak asasi manusia atau PANCA-HAM ini murni dari aspirasi politik mana pun. Dan sudah jelas, PANCA-HAM tidak dapat dikait-kaitkan dengan perpolitikan mau pun grand-design suatu aktivitas kemiliteran.
  3. PANCAHAM, atau hak asasi manusia, hanya dibahas secara konstruktif dan ideal, bukan secara destruktif dan kriminal.

Pembahasan Panca-HAM secara konstruktif dan ideal.

Hak asasi manusia yang hanya terdiri dari lima point tersebut, merupakan suatu wacana dan batasan yang hanya dibahas secara konstruktif dan di dalam situasi ideal. Hak asasi haruslah merupakan suatu program dari Pemerintah mau pun masyarakat yang beradab (atau ingin beradab). Hak asasi manusia jadinya tidak ada hubungannya dengan insiden pidana mau pun kasus kekerasan dan ketidakadilan. Dikarenakan hak asasi manusia dibicarakan di dalam situasi konstruktif dan ideal, maka hak asasi manusia ini bukanlah suatu komoditas untuk dihubung-hubungkan dengan suatu tindak pidana mau pun insiden kekerasan lainnya.

Insiden pidana mau pun kekerasan tetaplah suatu kasus pidana, suatu insiden yang pada dasarnya merugikan individu lain, dan hal tersebut jelas berbeda dari apa yang dinamakan dengan pelanggaran hak asasi manusia.

Dengan demikian dapat dijelaskan, bahwa di dalam suatu insiden kekerasan misalnya, tidak dapat dikatakan bahwa telah terjadi ‘pelanggaran hak asasi manusia’. Yang terjadi sebenarnya hanya kasus pidana biasa.

Contoh kasus 1.

Kasus Tanjung Priok (1984) >> Kasus tanjung Priok terjadi tahun 1984 antara aparat dengan warga sekitar yang berawal dari masalah SARA dan unsur politis. Dalam peristiwa ini diduga terjadi pelanggaran HAM dimana terdapat ratusan korban meninggal dunia akibat kekerasan dan penembakan (Diambil dari http://kasusham.blogspot.com/ ).

Paragraf di atas yang melaporkan kasus Tanjung Priok oleh banyak pihak (khususnya pihak berwenang) telah dikategorikan sebagai ‘pelanggaran HAM’, di mana pada insiden tersebut jatuh banyak korban jiwa, dan juga terjadi kekerasan yang dilakukan aparat Pemerintah terhadap warga sipil.

Kasus Tanjung Priok adalah kasus kekerasan biasa, kasus pidana biasa, dan oleh karenanya penanganannya hanya dapat dilakukan dengan pemidanaan (biasa) atas para pelaku. Dan karena kasus ini merupakan kasus pidana biasa, maka selanjutnya kasus Tanjung Priok ini tidak ada hubungannya, dan tidak dapat dihubungkan dengan HAM, baik apakah pelanggaran HAM, kesenjangan HAM, dan lain lain.

Apa yang terjadi pada kasus Tanjung Priok tidak ada hubungannya dengan HAM yang terdiri atas 5 butir tersebut. Dapat diakui bahwa dengan pecahnya insiden Tanjung Priok, beberapa individu / warga telah kehilangan hak atas kemerdekaannya di kampung halamannya sendiri, namun sebenarnya situasinya tidaklah demikian.

Adalah lebih tepat untuk menyatakan bahwa insiden tersebut hanyalah insiden kekerasan, kekerasan biasa antara beberapa individu, di mana terjadi kericuhan atas suatu hal mendasar (di dalam hal ini kesucian Masjid), dan oleh karenanya insiden ini tidak bisa dibahas kecuali sebagai tindak pidana biasa.

Contoh kasus 2.

Kasus terbunuhnya Marsinah, seorang pekerja wanita PT Catur Putera Surya Porong, Jatim (1994) >> Marsinah adalah salah satu korban pekerja dan aktivitas yang hak-hak pekerja di PT Catur Putera Surya, Porong Jawa Timur. Dia meninggal secara mengenaskan dan diduga menjadi korban pelanggaran HAM berupa penculikan, penganiayaan dan pembunuhan (diambil dari http://kasusham.blogspot.com/ ).

Di dalam kasus Marsinah pun, pihak berwenang dan pihak berkompeten lainnya telah mengkategorikan kasus ini sebagai tindak pelanggaran HAM. Bila dicermati, kasus terbunuhnya Marsinah merupakan kasus pidana biasa, dan tidak ada hubungannya dengan hak asasi manusia: tidak ada bagian mana pun di dalam kasus ini yang merefleksikan salah satu butir pada PANCA-HAM.

Demikian juga dengan kasus lainnya, seperti insiden kekerasan Ahmadiyah di Cikeusik, insiden kekerasan yang melibatkan aparat keamanan dengan warga di dalam sengketa lahan, dan lain lainnya, tidak dapat dikatakan sebagai pelanggaran HAM.

HAM hanya dibahas di dalam situasi konstruktif dan ideal, artinya bahwa HAM dibahas di dalam nafas pembangunan suatu negara, konsep dan grand design yang diinginkan suatu negara dan Pemerintah dan disetujui oleh seluruh rakyat. Jadi HAM tidak ada hubungannya dengan insiden kekerasan, apalagi seluruh insiden yang dikategorikan pelanggaran HAM tersebut tidak mengandung butir-butir PANCA-HAM.

Pada kedua contoh kasus di atas, sebenarnya terdapat beberapa pertanyaan.

  • Mengapa insiden tersebut dikatakan sebagai pelanggaran HAM?
  • Bagian mana pada kedua insiden tersebut yang merupakan bukti pelanggaran HAM?
  • Dan apakah insiden tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai pelanggaran pidana biasa?
  • Mengapa insiden tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai pelanggaran pidana biasa?

Jelas sekali bahwa kedua insiden tersebut hanya merupakan pelanggaran pidana biasa, bukan dan tidak ada hubungannya dengan pelanggaran HAM, karena HAM hanya dibahas di dalam situasi konstruktif dan ideal.

Adalah tidak mungkin satu hal dapat dikategorikan ke dalam dua hal yang berbeda, yaitu pidana biasa dan pelanggaran HAM. Kedua Insiden tersebut di atas sebenarnya adalah kasus pidana biasa, maka kemudian mengapa juga bisa dikategorikan sebagai pelanggaran HAM? Itu pun HAM sebenarnya tidak dapat dihubungkan dengan insiden kekerasan mana pun.

Sebagai permisalan, bagian tumbuhan yang masuk ke dalam tanah dan berfungsi menyerap air dan unsur hara dari tanah, disebut akar. Namun kemudian bagian ini juga disebut batang tanaman. Adalah sudah jelas mana yang akar dan mana yang batang tanaman, maka mengapa bagian yang dinamakan akar juga dikatakan batang tanaman? Tidak mungkin bagian tumbuhan yang masuk ke dalam tanah mempunyai dua nama yang berbeda, sementara masing-masing nama tersebut mempunyai makna, penjelasan dan fungsi yang berbeda pula.

Maka demikian juga dengan insiden kekerasan tersebut, bahwa hal tersebut sebenarnya adalah kasus pidana biasa, bukan pelanggaran HAM. Kalau insiden tersebut merupakan insiden pidana, kemudian mengapa insiden tersebut juga dinamakan pelanggaran HAM? Adalah mutlak terdapat perbedaan antara kasus pidana dan pelanggaran HAM.

Atau, kalau kedua insiden tersebut dikategorikan sebagai pelanggaran HAM, maka itu artinya kedua insiden tersebut BUKAN KASUS PIDANA. Pertanyaannya adalah, apakah yang menjadi batasan kasus pidana, sehingga kedua kasus tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai kasus pidana?

Intinya, apapun yang mendasari kedua kasus tersebut tidak ada hubungannya dengan butir-butir pada PANCA-HAM. Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa kedua insiden tersebut bukan pelanggaran HAM, melainkan kasus pidana biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s