Hak Asasi Manusia Versus Hak Parlente Manusia

hakparlente

Hak asasi manusia adalah hak yang membuat manusia terlihat sebagai manusia. Penekanan hak asasi manusia sebenarnya adalah pada memanusiakan manusia, selama memanusiakan manusia itu tidak mempersulit manusia lainnya mau pun dirinya sendiri. Dan perbuatan untuk memanusiakan manusia ini akan terus berlangsung tanpa kenal henti, misalnya saat perang, saat bencana, saat ketiadaan Hukum negara, dan lain lain. Di dalam memperoleh hak ini, seorang individu manusia TIDAK DIPERLUKAN MENUNAIKAN KEWAJIBAN TERTENTU terlebih dahulu. Inilah yang membedakan antara hak asasi manusia di satu pihak dengan hak biasa lainnya, di lain pihak, yang pemenuhannya harus didahului dengan menunaikan suatu kewajiban.

Karena hak asasi manusia merupakan hak yang akan memanusiakan manusia, maka hak tersebut HANYA terdiri dari 5 butir, yaitu,

  1. Hak kemerdekaan atas kampung halamannya sendiri.
  2. Hak atas kebutuhan biologis (makan, minum, tempat tinggal, beristirahat, cahaya matahari, udara yang sehat, dan lain lain).
  3. Hak untuk memilih dan menjalankan agama sesuai dengan panggilan hatinya.
  4. Hak untuk menjalankan tradisi warisan leluhurnya.
  5. Hak untuk diperlakukan setara di dalam hal kemerdekaan, kehormatan dan Hukum dengan manusia lain secara proporsional, di mana saja dia berada.

Karena hak asasi manusia tersebut terdiri atas lima butir, maka hak ini dapat disebut dengan PANCA-HAM.

Harus diingat bahwa hak asasi manusia adalah hak mendasar: mendasar artinya tetaplah ‘mendasar’, bukan meluas. Oleh karena itu hak asasi manusia harus benar-benar dibatasi jangan sampai meluas sehingga menimbulkan banyak interpretasi dan tuntutan yang pada akhirnya akan menyusahkan penegakan hak asasi manusia itu sendiri.

Sementara ini ditemukan banyak maklumat dari berbagai badan mau pun institusi baik dari Pemerintahan, lembaga luar Negeri mau pun LSM yang memberikan banyak point dari hak asasi manusia. Dan setelah dipelajari, ternyata point-point yang di-klaim sebagai hak asasi manusia itu bukan merupakan hak mendasar, terlihat dari spiritnya yang tidak mendasar, dan tidak urgent. Hak asasi yang mereka ajukan hanya merupakan klaim supaya kepentingan politik mereka terakomodir dan tidak dihalangi oleh kepentingan politik lainnya yang bertentangan dengan mereka, dan oleh karenanya mereka mempunyai misi supaya hak asasi yang mereka usung dapat melancarkan pandangan politik mereka sendiri.

Hak asasi manusia (atau PANCA-HAM) tidak berhubungan dengan, tidak mengakomodir, tidak menghalangi, tidak mencerminkan, suatu pandangan mau pun ajaran politik dan kemiliteran mana pun. Oleh karena itu hak asasi manusia atau PANCA-HAM ini murni dari aspirasi politik mana pun. Dan sudah jelas, PANCA-HAM tidak dapat dikait-kaitkan dengan grand-design suatu aktivitas kemiliteran.

Di bawah ini adalah beberapa point yang mereka usung dan mereka klaim sebagai hak asasi manusia (padahal sebenarnya bukan):

  • Hak memilih dan dipilih di dalam politik.
  • Hak menyatakan pendapat di muka umum.
  • Hak mengekspresikan diri.
  • Hak berserikat dan berkumpul.
  • Hak informasi.
  • Hak pendidikan, dan lain lain.

Butir-butir tersebut di atas sebenarnya tidak dapat dihubungkan dengan hak asasi manusia untuk memanusiakan manusia yang beradab dan sempurna. Dan oleh karena itu butir-butir di atas bukanlah bagian dari hak asasi manusia, melainkan HAK PARLENTE MANUSIA yang mereka siapkan untuk meluluskan agenda politik dan kemiliteran mereka.

Oleh karena itu butir-butir di atas sebenarnya harus ditolak sebagai bagian dari HAM karena HAM versi parlente ini sangat berbahaya, terindikasi dari afiliasi politik dan kemiliteran mereka kepada pihak tertentu. Kalau HAM tidak dapat dihubung-hubungkan dan mendukung aliran politik dan kemiliteran, maka butir-butir di atas sudah menjelaskan agenda politik mau pun kemiliteran, akibatnya HAM versi ini sudah tidak lagi memurnikan kemanusiaan. Bahaya, karena butir-butir HAM ini di dalam implementasinya dapat membahayakan manusia lain, menyusahkan kelompok manusia lain. HAM tentunya tidak dapat ditahbis sebagai malapetaka atas kelompok manusia lainnya. Untuk itulah HAM harus netral dan membahagiakan semua manusia tanpa pandang latar belakang masing-masing.

Dikatakan hak parlente, karena hak tersebut terlahir dan tercetus dari manusia yang menghendaki lebih dari sekedar manusia, padahal sebenarnya manusia hanya butuh kemurnian untuk dapat hidup damai dan bersahaja. Dapat dikatakan hak parlente lahir dari individu-individu yang berpendidikan terlalu tinggi yang sudah tidak dapat membedakan mana yang urgen dan mana yang kesia-siaan. Oleh karena itu hak parlente sebenarnya dinyatakan secara subjektif dari mereka yang terlalu banyak idealisme. Hak parlente mereka nyatakan hanya untuk meng-gol-kan kepentingan mereka, dan kepentingan (fikiran) mereka itu pun sudah terkontaminasi oleh aliran politik dan cita-cita milliteristik mereka. Jadi, hak parlente tidak ditujukan untuk umat manusia keseluruhan.

Kesimpulan.

Hak Parlente Manusia terdiri atas:

  • Hak memilih dan dipilih di dalam politik.
  • Hak menyatakan pendapat.
  • Hak menyatakan pendapat di muka umum.
  • Hak mengekspresikan diri.
  • Hak berserikat dan berkumpul.
  • Hak informasi.
  • Hak pendidikan, dan lain lain.

Seluruh butir di atas berkebalikan dengan Hak Asasi Manusia yang hanya menegaskan kebutuhan manusia sebagai manusia, yang terbebas dari afiliasi politik dan kemiliteran tertentu. Dan Hak Asasi Manusia di dalam implementasinya tidak akan membahayakan manusia lainnya.

Pada intinya, semua pihak harus dapat membedakan mana yang merupakan hak asasi manusia, dan mana yang merupakan hak parlente manusia. Lebih dari itu, siapa pun tidak dapat memaksakan diri untuk menuntut pemenuhan hak parlente manusia karena hak tersebut merupakan urusan pribadi masing-masing individu, tidak ada kewajiban Pemerintah mana pun untuk mewujudkannya.

Fenomena dewasa ini menunjukkan di mana Negara-negara kuat mengambil tindakan untuk menekan Negara-negara lemah lainnya untuk menegakkan hak asasi manusia, padahal sebenarnya hak asasi manusia ‘versi’ mereka adalah hak parlente manusia, seperti menyatakan pendapat di muka umum, hak mendapatkan informasi dan lain sebagainya. Tindakan Negara-negara kuat tersebut, jelas sekali, sebenarnya merupakan agenda mereka untuk dapat mendikte Negara lain. Hal ini jelas merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang paling inti. Di balik itu, ironisnya, banyak Negara-negara kuat telah melanggar hak asasi manusia di Negara mereka, namun mereka tutup mata terhadap jeritan dari pihak luar. Pelanggaran hak asasi manusia tersebut antara lain seperti pelarangan pembangunan mesjid di Negara mayoritas nonmuslim, memberi perlakuan berbeda terhadap pendatang yang di Negara mereka para pendatang tersebut merupakan minoritas, dan lain sebagainya.

Adalah memprihatinkan, isu hak asasi manusia telah dijadikan Negara-negara kuat sebagai alasan untuk mendikte dan mengintervensi kedaulatan / integritas Negara lain. Kalau hal tersebut memang harus terjadi (mengintervensi kedaulatan Negara lain), maka sebelumnya adalah lebih baik kalau hak asasi manusia tersebut dijernihkan terlebih dahulu, supaya dengan demikian, intervensi Negara kuat terhadap Negara lemah, tidak pernah berarti atau menjadi agenda hegemoni suatu Negara atas Negara lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s