Mendefinisikan kemesjidan sebuah Masjid

mesjid dan masjid jamikMasjid adalah sebuah bangunan publik yang mencirikan umat Muslim di seluruh Dunia, dengan ciri utamanya kubah besar dan kemudian satu atau beberapa menara. Ada juga beberapa Masjid yang tidak menggunakan kubah, melainkan bentuk atap biasa, bahkan ada juga yang atapnya menyerupai piramida Mesir, seperti halnya Masjid Raya Pondok Indah di Jakarta Selatan.

Secara perkata, Masjid terambil dari kata sa-ja-da, yang dari akar kata ini turun kata ‘sujud’. Dengan mendapat awalan ‘mim’ maka menjadilah ‘ma-sa-ja-da’ dan diucapkan Masjid. Awalan ‘mim’ membuat kata sa-ja-da menjadi berarti tempatnya, atau orangnya. Maka, Masjid bukan lagi berarti sujud, melainkan ‘tempat’ sujud.

Masjid sebagai tempat ibadah kaum Muslim, akan lebih ‘afdol’ lagi kalau di depan bangunannya dipampang nama kata ‘Masjid’, maka genaplah bangunan tersebut dikatakan sebagai Masjid.

Selain Masjid, juga terdapat bangunan lain yang dinamakan mushala dan langgar. Mushala identik dengan langgar, suatu bangunan publik digunakan untuk menunaikan shalat. Kemudian, apakah bedanya antara Masjid dengan mushala?

Masjid dan shalat Jumat.

Secara syariah, Masjid adalah bangunan publik untuk ibadah yang di dalamnya boleh diselenggarakan shalat Jumat. Lebih tepat lagi, menurut syariah shalat Jumat hanya boleh diselenggarakan di Masjid; shalat Jumat tidak dibenarkan diselenggarakan di tempat selain Masjid, jadi shalat Jumat tidak boleh diselenggarakan di mushala.

Umat Muslim mempunyai logika: karena suatu bangunan merupakan Masjid, maka di tempat itulah diselenggarakan shalat Jumat. Dan karena logika tersebut, shalat Jumat tidak boleh ditunaikan di tempat lain selain Masjid.

Benarkah demikian?

Masjid bukanlah bangunan yang ‘ditahbiskan’ oleh seluruh umat sebagai Masjid. Masjid bukan status perdata yang diberikan kepada suatu gedung, juga bukan karena di depan bangunan tersebut terdapat tulisan besar ‘Masjid’, mempunyai kubah, beberapa menara dan kemudian tempat wudhu. Bukan.

Ketika umat menunaikan shalat Jumat di suatu tempat, maka praktis tempat tersebut mendapat status Illahiah yang baru: Masjid. Dan shalat Jumat tersebut akan menjadi shalat Jumat perdana di tempat Masjid tersebut. Jadi, shalat Jumat-lah yang membuat suatu tempat (atau bangunan) menjadi Masjid: shalat Jumat-lah yang ‘mentahbis’ suatu tempat sebagai Masjid. Bukan karena suatu tempat dikatakan Masjid maka dari itu di sana dapat ditunaikan shalat Jumat, namun kebalikannya: karena shalat Jumat ditunaikan di tempat tersebutlah, maka tempat itu menjadi Masjid di sisi Allah Swt.

Itulah sebabnya, di dalam syariah diajarkan, bahwa shalat Jumat tidak boleh ditunaikan dengan ‘berpindah’. Arti berpindah di sini adalah, shalat Jumat tidak boleh ditunaikan di segala tempat secara sembarangan, dan bahwa kepanitiaan shalat Jumat di sebuah Masjid haruslah selalu membuka Masjidnya untuk shalat Jumat umat, tidak boleh libur misalnya. Tidak dibenarkan kepanitiaan shalat Jumat di sebuah Masjid mengeluarkan pengumuman: “shalat Jumat untuk minggu depan akan diselenggarakan di lapangan Parkir Timur; bus transportasi disediakan gratis oleh pihak Masjid”.

Kalau shalat Jumat ditunaikan ‘berpindah’ maka tempat baru tersebut praktis akan menjadi Masjid. Itulah bahayanya.

Konsekwensi Masjid.

Kalau shalat Jumat ditunaikan di suatu tempat secara serampangan, tetap tempat tersebut akan tertahbis menjadi Masjid di mata Allah Swt. Dan kalau tempat tersebut sudah menjadi Masjid maka berlakulah seluruh Hukum Masjid, seperti:

  1. Di tempat tersebut harus terus ditunaikan shalat Jumat.
  2. Di tempat tersebut tidak boleh ada najis. Manusia yang lewat harus lepas alas kaki, dan nonmuslim tidak diperkenankan masuk. Tidak boleh ada yang meludah, buang sampah, berkata keji dan lain sebagainya.
  3. Di tempat tersebut tidak boleh masuk atau melintas wanita haid, nifas, dan manusia yang berhadas besar lainnya.
  4. Di tempat inilah diselenggarakan itikaf.
  5. Muslim yang memasukinya disunnahkan untuk menunaikan shalat sunnah tahiyatul-mesjid.

Ketika shalat Jumat ditunaikan di suatu tempat yang mengakibatkan tempat tersebut tertahbis sebagai Masjid, maka selanjutnya tempat tersebut (yang sudah menjadi Masjid) ‘menuntut’ untuk terus ditunaikan shalat Jumat pada (di dalam)-nya untuk seterusnya.

Oleh karena itu, umat Muslim harus faham bahwa shalat Jumat tidak dibenarkan untuk ditunaikan di sembarang tempat, seperti di lapangan olahraga, tempat parkir, dan lain sebagainya. Kalau shalat Jumat ditunaikan di tempat-tempat seperti itu praktis tempat tersebut menjadi Masjid dan berlakulah seluruh Hukum kemesjidan. Dan kalau setelahnya umat tidak memperlakukan tempat tersebut sebagai layaknya Masjid, maka seluruh dosa harus ditanggung umat.

Contoh kasus.

Di suatu gedung gelanggang olahraga yang di dalamnya mempunyai lapangan yang luas, seperti lapangan bola basket, badminton, bola volley dan lain sebagainya, pada hari Jumat disulap menjadi tempat untuk shalat Jumat untuk umat Muslim sekitarnya. Panitia menggelar karpet, kemudian menempatkan mimbar portable, dan menyiapkan soundsystem. Kemudian satu per satu umat Muslim berdatangan ke tempat tersebut, menuju tempat berwudhu, kemudian mengambil tempat di atas karpet yang sudah rapi tergelar. Setelah umat memenuhi seluruh karpet maka shalat Jumat pun dimulai.

Contoh berikutnya, lapangan parkir di sebuah basement gedung, pada hari Jumat juga diperlakukan demikian. Mereka menggelar karpet panjang berwarna hijau, kemudian menempatkan mimbar portable. Tidak lama satu demi satu jemaah shalat Jumat berdatangan, dan kemudian shalat Jumat pun digelar.

Yang lebih aneh lagi adalah, ketika / kalau terjadi demo mahasiswa yang bertepatan dengan hari Jumat. Ketika hari telah menunjukkan jam 11-an, para mahasiswa memutuskan untuk menggelar shalat Jumat di tengah jalan aspal tempat di mana mereka menggelar aksi unjuk rasa. Untuk keperluan wudhu mereka mencari toilet di gedung sekitar, dan kemudian mereka duduk bersimpuh di tengah jalan aspal tersebut, entah dari mana mereka dapat sajadah sebagai alas untuk shalat, atau mungkin mereka shalat tanpa alas apapun, atau mungkin juga hanya cukup menggelar koran bekas yang memang mudah didapat. Mereka tinggal memilih rekan mereka yang senior atau alim untuk didaulat menjadi khatib Jumat. Demikianlah mereka menggelar shalat Jumat di tempt yang tidak semestinya.

Ingatlah, shalat Jumat yang mereka lakukan – yang bukan di Masjid – dengan sendirinya akan MENTAHBIS tempat tersebut sebagai Masjid. Dan kalau sudah tertahbis menjadi Masjid maka berlakulah Hukum Masjid atas tempat tersebut, dengan kata lain seluruh umat harus MEMPERLAKUKAN TEMPAT TERSEBUT sebagai Masjid sebagaimana layaknya. Dan kalau umat tidak memperlakukan demikian, maka umat tersebut harus menanggung dosa di kemudian hari.

Adanya fenomena ini haruslah menjadi KEPRIHATINAN seluruh umat, khususnya para pemangku umat seperti Imam, para Ulama, dewan Mesjid, dan lain sebagainya. Semua elemen masyarakat harus dapat memastikan supaya tidak ada lagi kelompok masyarakat yang sembarangan memilih tempat untuk penyelenggaraan salat Jumat.

Mushala, Masjid, dan Masjid Jamik.

Apa bedanya antara ketiganya?

Mushala adalah bangunan publik untuk shalat, atau untuk menumpang shalat, namun di dalamnya umat tidak boleh menunaikan shalat Jumat. Kalau di bangunan mushala tersebut ditunaikan shalat Jumat, maka mushala itu akan meningkat statusnya, yaitu Masjid. Oleh karena itu umat tidak akan menunaikan shalat Jumat di sebuah mushala – supaya bangunan tersebut tetap menjadi mushala.

Masjid dan Masjid Jamik? Ada beberapa ahli yang menyatakan bahwa Masjid merupakan nama lain untuk mushala. Dengan demikian mereka berpendapat bahwa Masjid hanya tempat untuk shalat mau pun menumpang shalat, dan tidak boleh digunakan untuk shalat Jumat. Sementara itu, Masjid Jamik itulah yang merupakan bangunan publik untuk ibadah shalat Jumat. Untuk point ini sebenarnya para ahli masih berselisih pendapat.

Intinya, kalau mushala adalah bangunan publik untuk menumpang shalat namun tidak boleh digunakan untuk shalat Jumat, maka Masjid adalah bangunan publik untuk penyelenggaraan shalat Jumat. Dengan demikian terdapat beberapa perbedaan antara Masjid dengan Masjid Jamik.

Istilah Masjid Jamik tidak dikenal pada masa Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad Saw hanya mengajarkan istilah ‘Masjid’, lain tidak. Jadi, kalau Masjid dan Masjid Jamik sama-sama digunakan untuk shalat Jumat, maka letak perbedaannya hanyalah pada ukurannya. Masjid Jamik adalah bangunan publik untuk shalat Jumat yang berukuran sangat besar, sementara Masjid, ukurannya cukup untuk skala lokal: Masjid biasanya untuk ukuran kampung. Walau pun begitu, tidak dipermasalahkan kalau suatu Masjid yang berukuran besar TIDAK DINAMAKAN Masjid Jamik, dan sebaliknya. Itu semua karena istilah Masjid Jamik tidak dikenal pada masa Nabi Muhammad Saw.

Kesimpulan.

  • Jangan berpatokan bahwa Masjid adalah bangunan yang secara sosial dikatakan sebagai Masjid.
  • Shalat Jumat mempunyai kekuatan dan wewenang untuk mentahbis tempatnya sebagai Masjid.
  • Shalat Jumat harus ditunaikan di Masjid. Dan kalau tempat tersebut bukan Masjid, maka shalat Jumat tersebut akan mentahbis tempat tersebut sebagai Masjid.
  • Dan kalau tempat tersebut sudah tertahbis sebagai Masjid (karena ditunaikan shalat Jumat di atas tempat tersebut) maka konsekwensinya umat harus memperlakukan tempat tersebut sebagai Masjid dengan seluruh tatakrama syariah-nya. Salah satu perlakuan terhadap Masjid itu adalah, bahwa setiap minggu harus diselenggarakan shalat Jumat.
  • Dan kalau kemudian umat tidak memperlakukan tempat tersebut sebagai Masjid, maka umat akan menanggung dosa.

Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s