Inilah Kronologis dan Penyebab Munculnya Faham Atheisme

penolakanApakah Allah / Tuhan benar-benar ada?

Allah Swt, Tuhan semesta alam, benar-benar ada, dan berkuasa.

Bukti yang paling mudah yang dapat digunakan untuk membuktikan bahwa Allah Swt ada adalah Alquran.

Pertama dari segi nubuat: nubuat yang terkandung baik di dalam Alquran mau pun Alhadis, seluruhnya terbukti. Kalau Allah Swt / Tuhan tidak ada, mustahil nubuat itu ada, dan kemudian terbukti. Terlalu sulit untuk menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, sementara nubuat Alquran mau pun Alhadis satu per satu terbukti di depan mata.

Kedua, Alquran merupakan karya ilmiah intelektual yang paling mencengangkan. Satu contohnya, Alquran dirancang dengan design 19 (miraculous 19). Dari sini sudah jelas bahwa Alquran bukan buatan Muhammad. Seluruh jumlah ayat di dalam Alquran habis dibagi 19, seluruh jumlah huruf Alquran habis dibagi 19, jumlah basmalah habis dibagi 19, jumlah ayat pendek habis dibagi 19, jumlah ayat panjang habis dibagi 19, seluruh surah yang dimulai dengan huruf hijaiyah, jumlahnya habis dibagi 19, DAN SETERUSNYA ……

Adalah mustahil untuk menyatakan bahwa Tuhan / Allah Swt tidak ada, sementara Muhammad sendiri tidak mungkin membuat Alquran. Kalau bukan Tuhan, maka Muhammad Saw mau pun manusia lainnya “semakin tidak mungkin lagi” berada di belakang keajaiban Alquran.

Dari teori-teori tentang pencahayaan kemudian dilanjutkan penginderaan mata berlanjut lagi ke otak, yang saya baca, entahlah disebut teori apa itu, mengarahkan segala sesuatu itu bersumber dari otak kita sendri.

Seorang bayi yang baru keluar dari rahim, langsung ingin menyusu ke ibunya, seolah sang bayi sudah tahu bahwa di dalam kehidupan di luar rahim terdapat organ susu. Pengetahuan itu sebenarnya BUILT-IN di dalam fikiran sang bayi. Sang bayi tidak butuh citra apapun dari dunia ini untuk masuk dulu ke otaknya hanya untuk bisa menyusu!!! Memang benar instink itu datang dari otak. Namun kemudian akan jelas bahwa sang bayi tidak perlu menunggu masukan ke otaknya. Jadi pemahaman sang bayi akan organ susu sifatnya BUILT-IN.

Berikutnya: menangis. Manusia mau pun bayi tidak butuh suatu citra terlebih dulu untuk masuk ke otaknya, yang kemudian diproses oleh otak, dan produknya adalah MENANGIS. Kemampuan menangis adalah BUILT-IN di dalam diri seorang manusia.

Hal yang sama juga menjelaskan hubungan antara Tuhan dengan manusia. Sejak jaman dahulu kala manusia sudah mempunyai wacana mengenai Tuhan, sense mereka sudah mengenal dan membutuhkan Tuhan, dan sense itu datangnya dari internal mereka sebagai manusia yang waras. Itu namanya BUILT-IN. Hal senada sebenarnya sudah dijelaskan oleh Tuhan sendiri di dalam Alquran:

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya – -QS. Qaaf : 16..”.

Ayat ini menegaskan bahwa eksistensi Tuhan / Allah sudah BUILT-IN di dalam fikiran manusia, itulah sebabnya dikatakan bahwa Tuhan itu lebih dekat daripada batang leher manusia itu sendiri.

Jadi agama bukan bikinan manusia, melainkan sudah BUILT-IN di dalam fikiran manusia. Sebelum manusia mampu membuat karya apapun, maka agama TERLEBIH DULU sudah BUILT-IN di dalam kemanusiaan. Dengan demikian mudah difahami bahwa tidak ada satu pun manusia yang dapat menyatakan bahwa agama merupakan bikinan otak manusia.

Kaum atheis berpendapat bahwa agama adalah karya otak manusia. Teori mereka ada kurangnya, yaitu bahwa mereka belum mengenai apa itu BUILT-IN.

Apakah Tuhan hasil pemikiran manusia sendiri?

Tuhan bukanlah hasil pemikiran manusia, melainkan sesuatu yang keberadaannya sudah BUILT-IN di dalam kemanusiaan: sebelum sempat manusia menghasilkan (merekayasa) Tuhan melalui fikiran mereka, Tuhan tersebut sudah terlebih dulu ada di dalam fikiran manusia, dan tidak dapat diingkari dengan cara apapun.

Siapa pun tidak dapat mengajukan bukti mau pun teori bahwa atheisme (faham yang menolak keberadaan Tuhan) sudah muncul di tengah manusia pada tahun 1700an, atau 1600an. Atau bahkan 900an Masehi. Atau lebih awal lagi. Pada masa itu belum ada masyarakat atheis yang tidak mengakui Tuhan. Diketahui bahwa atheisme muncul HANYA di tahun 1800an, tidak pernah lebih awal lagi dari tahun itu.

1 + 1 = 2 adalah suatu kebenaran, dan itu munculnya seiring kemunculan manusia. Dan itu pun universal, artinya 1 + 1 = 2 berlaku di seluruh muka bumi, bukan di Jawa saja, atau di Inggris saja.

Itulah sebabnya, agama, yang merupakan kebenaran akan Tuhan, sudah setua umur manusia di bumi (walau pun agama-agama tersebut masih primitif, belum sesempurna Islam, karena Islam disempurnakan pada saat Haji Wada’).

Cinta seorang anak kepada ibu, merupakan suatu kebenaran: tidak ada satu peradaban yang mengharamkan cintakasih seorang anak kepada ibunya. Maka dari itu cintakasih anak-anak kepada ibu mereka sudah eksis setua manusia: itulah kebenaran. Dan itu universal.

Sementara itu atheisme muncul di Dunia ini paling cepat di akhir tahun 1700an. Kalau atheisme merupakan kebenaran maka tidak mungkin hadirnya HANYA DIMULAI TAHUN 1700AN.

Siapa pun TIDAK AKAN DAPAT mengajukan bukti bahwa atheisme telah muncul di bumi ini jauh di jaman purba. Pun atheisme itu tidak universal, karena dikatakan bahwa atheisme muncul hanya di Eropa – kala itu. Bagaimana kemudian atheisme dapat dikatakan kebenaran?

Di tahun 1700an ada peristiwa penting yang mengubah wajah Dunia secara fundamental, yaitu Revolusi Industri (Revolusi Industri) dengan pemicu ditemukannya mesin-uap oleh James Watt. Dengan ditemukannya mesin uap manusia mulai mempunyai alat yang dapat bergerak sendiri sesuai dengan mekanisme yang diinginkan -selama ada penggeraknya yaitu kayu bakar, api dan air untuk dididihkan (kemudian kayu bakar ini akan diganti dengan listrik) supaya menghasilkan uap yang mempunyai daya dorong yang kuat.

Tahap pertama: Mesin uap ini digunakan di banyak aplikasi (sesuai design yang diinginkan), maka muncullah Industri untuk menghasilkan banyak barang kebutuhan seperti sepatu, tas, pelana kuda, baju, pemintal benang, perajut kain, kuali, kompor, kertas, pemotong kayu, pencetak adonan batu dsb.

Tahap kedua: muncul dan mudah dihasilkannya barang kebutuhan hidup, akibatnya adalah, muncul dinamika ekonomi: arus uang mengalir deras dari satu orang ke lainnya. Selain uang melimpah, manusia Eropa kala itu berlimpah harta kebutuhan, karena mudah dibuat.

Tahap ketiga: karena Industri / pabrik menjamur di mana-mana, maka banyak menimbulkan orang kaya baru, yang ring pertamanya adalah para pemodal. Ring kedua adalah buruh pabrik. Ring ketiga adalah para pelaku pasar. Ring keempat adalah masyarakat biasa yang mempunyai banyak barang karena tersedia di pasar.

Orang kaya baru ini, menjadi fenomena sosial yang paling menggila yang berkait dengan Revolusi Industri. Sebelumnya, harta kekayaan dunia hanya berputar di kalangan bangsawan, sementara kalangan jelata tidak mungkin mempunyai harta dunia yang melimpah, karena kalau pun melimpah pasti sudah dikenakan pajak berlipat dari para Raja. Yang semula orang kaya hanya para bangsawan, kini orang kaya telah meluber definisinya.

Tahap keempat: kekayaan (duit) yang didapat oleh lebih banyak manusia (karena bukan lagi monopoli bangsawan) tentu saja tidak dianggurkan begitu saja. Uang banyak yang mereka miliki – mereka kelola untuk manfaat yang lebih besar. Maka muncullah penemuan-penemuan dan terobosan yang tujuan keseluruhannya adalah untuk (1) mempermudah hidup manusia, dan juga untuk (2) memperkaya manusia.

Tahap kelima: akhirnya kehidupan manusia mulai diwarnai kelapangan hidup, baik dari segi (1) uang, (2) banyaknya barang kebutuhan, dan juga (3) peralatan yang mempermudah hidup, seperti mobil, penghangat ruang, mesin cuci, kereta api, lampu dsb.

Tahap keenam: Pada tahap kelima inilah, manusia mulai lupa seluruh kesulitan hidup, lupa seluruh kepapaan di dalam hidup. Manusia mulai menikmati dunia lebih dari sebelumnya. Tidak ada lagi rakyat jelata, karena mereka telah mempunyai akses setara dengan para bangsawan untuk menjadi orang kaya. Hidup mulai ringan, karena sudah ada kereta, mobil, penghangat ruang, lampu penerang berbahan gas, dsb. Musim dingin / salju yang tadinya menakutkan, kini sudah berganti menjadi menyenangkan, karena mobil yang mereka miliki bisa menahan hempasan salju, pun juga tersedia penghangat ruang yang bisa mengusir dinginnya salju. Tadinya musim salju dianggap penebar maut, kini musim salju dianggap sebagai musim rekreasi keluarga.

Tahap ketujuh: manusia sudah jauh dari kepapaan hidup, hidup sudah tidak lagi menyengsarakan, pun itu merata ke seluruh Negeri Eropa. Sekarang sudah banyak manusia yang hidup BERLEHA-LEHA, yang tadinya hanya monopoli kaum bangsawan. Uang banyak, pekerjaan ringan karena mesinisasi, barang pun banyak, waktu luang pun juga banyak.

Saat itulah manusia mulai mengarahkan perhatian mereka kepada filsafat, memikirkan segala hal khususnya tentang kehidupan dan Tuhan. Itu semua karena mereka telah mempunyai banyak waktu luang dan hidup dalam kelapangan.

Pada tahap ketujuh inilah manusia mulai merasakan bahwa Tuhan tidak lagi mempunyai peran signifikan. Mudah dan nikmatnya hidup telah membuat manusia MEREMEHKAN Tuhan, mereka tidak lagi butuh Tuhan, karena seluruh kebutuhan mereka telah dipenuhi oleh hasil Revolusi Industri seperti barang yang banyak, uang yang banyak, dan perkakas yang mudah digunakan. Mereka mulai merasa setara dan sehebat Tuhan. Mereka mempunyai banyak pelayan, mempunyai banyak kebun, mempunyai banyak persediaan makanan, mempunyai banyak tentara! Singkatnya, mereka tidak lagi mempunyai ruang untuk Tuhan.

Inilah saat lahirnya ATHEISME di muka bumi!!!

Dari sini dapat difahami bahwa atheisme lahir sebagai ekses negatif dari Revolusi Industri, di saat manusia mulai merasa sudah tidak lagi butuh Tuhan karena seluruh kebutuhan hidup sudah dipenuhi oleh kemajuan jaman. Atheisme bukanlah kebenaran, namun ATHEISME ADALAH TAIK-NYA REVOLUSI INDUSTRI!!!

Revolusi Industri mempunyai banyak ekses negatif, satu di antaranya adalah melahirkan kelompok manusia yang mabuk kepayang oleh keajaiban yang dibawa Revolusi Industri. Kelompok manusia inilah yang menamai diri mereka ATHEISME.

Apakah mungkin kebenaran adalah tidak lebih dari ekses negatif dari suatu hal? Apakah mungkin kebenaran adalah TAIK dari proses jaman? Seharusnya kebenaran adalah tujuan dari suatu proses, bukannya ampas dari proses.

Apakah Tuhan merupakan hasil pemikiran manusia? Jawabannya: BUKAN. Sebaliknya, atheisme yang menolak keberadaan Tuhan ternyata adalah teori sempalan, ekses negatif dari keangkuhan manusia yang sudah merasa setara dengan Tuhan, dan itu semua GARA-GARA Revolusi Industri yang mengakibatkan manusia menjadi lebih powerful. Kalau atheisme memang kebenaran, maka mengapa tidak muncul sebelum pecahnya Revolusi Industri?

Sekali lagi: apakah Tuhan merupakan hasil pemikiran manusia sendiri? Bukan. Kebalikannya, atheisme –lah yang merupakan hasil pemikiran manusia-manusia yang mabuk kepayang oleh kemudahan jaman yang diakibatkan oleh Revolusi Industri.

Setidaknya, agama mempunyai satu keunggulan dibanding atheisme, yaitu bahwa agama ‘keluar’ dari hasil fikiran manusia yang waras, sementara atheisme merupakan hasil pemikiran manusia yang mabuk kepayang akibat begitu kuatnya tekanan Revolusi Industri.

Kesimpulan.

  1. Eksistensi Tuhan di dalam kemanusiaan adalah BUILT-IN pada kemanusiaan itu sendiri. Dengan demikian mustahil untuk menyatakan bahwa Tuhan merupakan hasil pemikiran manusia. Sesuatu dianggap karya fikiran manusia selama fikiran manusia sebelumnya mendapat masukan dari luar otak untuk kemudian berproses. Sementara itu, untuk menyatakan “Tuhanku!”, fikiran manusia tidak membutuhkan masukan terlebih dahulu untuk diproses. Sesuatu yang BUILT-IN tidak membutuhkan masukan terlebih dahulu dari luar environment-nya.
  2. Kaum atheis berpendapat bahwa atheisme merupakan kebenaran, untuk kemudian dibenturkan kepada agama (yang dianggap tidak lebih dari karya fikiran manusia). Adalah penting untuk menempatkan kesepakatan, bahwa kalau sesuatu hal adalah kebenaran, maka seharusnya hal tersebut sudah ada ribuan tahun seiring eksisnya umat manusia itu sendiri. Sementara itu, athisme muncul belakangan yaitu pada tahun 1700an akhir. Dugaan bahwa atheisme merupakan kebenaran – sudah meleset jauh.
  3. Adalah fakta bahwa atheisme muncul setelah pecahnya Revolusi Industri yang mana revolusi tersebut membuat seluruh manusia mabuk-kepayang tidak kepalang-tanggung karena begitu banyak kelapangan dan gegap gempita kehidupan yang diakibatkan olehnya. Mengapa atheisme muncul pada moment yang teramat salah tersebut? Apakah atheisme yang di-klaim sebagai kebenaran tidak bisa muncul di suatu masa yang tidak dapat dihubungkan dengan Revolusi Industri? Setelah nyata bahwa atheisme muncul berbarengan dengan Revolusi Industri maka jelaslah sudah bahwa atheisme merupakan kesesatan dan ekspresi kemabukan.
  4. Atheisme, dengan demikian adalah TAIK-JAMAN, saat di mana kondisi manusia diliputi kelebihan-kelapangan. Sementara itu, agama (atau percaya kepada Tuhan) muncul dari eksistensi manusia tanpa pandang kondisi, baik kondisi susah mau pun kondisi senang.
  5. Apapun yang sudah BUILT-IN di dalam fikiran manusia tidak bisa diingkari – apalagi ditolak, termasuk di dalam hal ini hubungan antara manusia dengan Tuhan. Kalau kaum atheis meminta umat manusia untuk menolak dan menyingkirkan Tuhan, maka cara termudah dan paling masuk akal adalah dengan mengingkari kemanusiaan itu sendiri: bunuh-diri.

Dan karena atheisme (sudah terbukti) merupakan hasil fikiran manusia yang sesat dan disesatkan oleh kemajuan jaman, maka jelaslah sudah bahwa atheisme merupakan kesesatan dan kekafiran di mata Tuhan Pencipta Alam.

Kaum atheis sesumbar bahwa mereka ingin memusnahkan agama dan Tuhan, karena kedua hal tersebut mereka anggap sebagai karangan dan khayalan manusia. Dan mereka sendiri sebagai atheist, telah lebih dulu memusnahkan Tuhan dan agama dari fikiran mereka. Ingatlah, sampai kapan pun mereka tidak akan dapat memusnahkan Tuhan dari fikiran mereka, karena keberadaan Tuhan itu sudah BUILT-IN di dalam fikiran mereka sendiri. Dan dengan demikian juga, adalah mustahil Tuhan dan seluruh agama dapat dimusnahkan, karena tempat kedua hal tersebut bukan di muka bumi, melainkan di dalam fikiran manusia itu sendiri.

Satu-satunya cara untuk memusnahkan seluruh agama dan Tuhan, gampang: musnahkan dulu manusia dengan fikirannya dari muka bumi, niscaya agama dan Tuhan akan ikut musnah. Dan kelompok pertama yang seharusnya musnah untuk tujuan tersebut, ya tentu saja kelompok atheis dulu, sebagai bentuk penghormatan kepada mereka atas ide mereka, bahwa Tuhan hanyalah karangan fikiran manusia. Monggo!

Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s