Month: March 2015

Syariah Islam Versus Jam Malam

heningMaha besar Allah Swt Yang telah memperedarkan malam dan siang, malam yang gelap gulita berhiaskan rembulan perak, dan bintang gemintang nan bertaburan; dan siang terang benderang yang berhias mentari yang kilau kemilau.

Tidaklah Allah Swt memperedarkan malam dan siang itu, dua hal yang saling bertolak belakang secara frontal, kecuali pada kedua hal tersebut Allah Swt telah mengiringi keduanya dengan hikmat untuk maslahat umatNya.

Mengapa Allah Swt menciptakan siang sebagai suatu hal yang terang benderang, yang dikawal matahari yang kilau cahayanya tidak dapat dikalahkan oleh pijar lilin mana pun? Dan mengapa pada siang hari itu, seluruh anak manusia berkeinginan untuk bekerja memperoleh rejeki, dan ingin membereskan seluruh pekerjaan mereka sebaik mungkin?

Kemudian, mengapa Allah Swt menciptakan malam gelap gulita, kalaupun ada cahaya maka hanya lamat-lamat yang dipancarkan rembulan perak, sementara gemintang tidak dapat menghempaskan bayang benda ke atas tanah? Dan mengapa, malam membuat manusia ingin berbaring di atas pembaringan? Mengapa ketika malam menjelang anak-anak manusia ingin tidur dan beristirahat, sehingga senyaplah pelataran kampung dan sepanjang jalan kota?

Islam sesuai fitrah.

Secara fitrah, manusia selalu mengasosiasikan siang sebagai tempat / saat untuk bekerja, dan juga untuk memperbaiki keadaan. Seluruh manusia mempunyai nurani, bahwa siang adalah saat untuk melelahkan badan untuk segala hal yang bermanfaat, untuk dirinya, masyarakatnya, negaranya, dan agamanya.

Dan akhirnya, fitrah jugalah, nurani jugalah, yang membuat manusia berfikir bahwa malam merupakan tempat dan saat beristirahat di rumah, berkumpul bersama anak, keluarga dan handai-taulan. Malam-lah saat mereka menikmati rejeki yang mereka peroleh pada siang harinya dengan bersusah payah.

Islam merupakan satu-satunya agama di dalam kehidupan ini yang sesuai fitrah manusia. Di dalam hal ini, fitrah manusia adalah menjadikan siang sebagai tempat untuk bekerja mencari nafkah dan membangun bangsa, kemudian menjadikan malam sebagai tempat untuk beristirahat dan menikmati rejeki yang mereka peroleh pada siang harinya.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Ar-rum, 30:30).

Tidak pernah Islam menghadirkan dirinya untuk menentang fitrah. Dan dari sini, Islam menyerukan umatnya untuk berteguh dengan fitrah. Jadi bukan saja Islam itu selalu bersesuaian dengan fitrah, Islam juga memerintahkan umatnya untuk hidup menurut fitrah, jangan pernah menentang dan melanggar fitrah tersebut.

Oleh karena itu, mengenai siang dan malam ini, manusia sudah sepatutnya konsisten dengan fitrah mereka: jadikanlah siang sebagai tempat untuk bekerja dan mencari nafkah, dan kemudian menjadikan malam sebagai tempat untuk beristirahat dan bercengkrama dengan keluarga di rumah.

Manusia mulai melanggar fitrah.

Terdapat kecenderungan dewasa ini, di mana ada segolongan manusia yang menjadikan malam sebagai kesempatan / peluang mereka untuk bekerja mencari uang dan penghasilan. Mereka banyak yang membuka usaha restoran, membuka usaha transportasi, membuka usaha pertunjukan hiburan, membuka toko dan pasar, menjalankan profesi sebagai tenaga pengaman, dsb.

Dengan adanya peluang memperoleh uang pada malam hari ini, yaitu dengan adanya restoran yang buka malam hari, atau bisnis transportasi pada malam hari, atau panggung hiburan, maka pada babak berikutnya mengakibatkan golongan masyarakat lainnya tersedot untuk keluar rumah pada malam hari untuk menikmati malam, menikmati restoran di malam hari, atau berjual-beli, atau menikmati panggung hiburan, yang keseluruhan itu juga ditunjang adanya bisnis transportasi.

Malam, yang seharusnya tempat anak manusia beristirahat, telah diselewengkan oleh segolongan manusia untuk mencari keuntungan finansial. Pada fenomena ini terdapat fakta bahwa pada akhirnya umat manusia sudah tidak lagi istiqomah (konsisten) dengan fitrah. Mereka tampak tergesa-gesa untuk menyimpangi fitrah, yaitu tergesa-gesa keluar rumah pada malam hari untuk memenuhi kerumunan manusia, kemudian melakukan transaksi finansial di tempat-tempat restoran atau hiburan malam. Tidak jarang mereka pulang ke rumah pada saat malam sudah larut sekali, dan sesampai di rumah mereka sudah mendapati tubuh mereka begitu lelah.

Pada awalnya, umat manusia taat akan fitrah, dan pada setiap saat mereka berkata, malam merupakan kuil yang disediakan Tuhan untuk beristirahat. Kala itu mereka teguh memegang pendirian tersebut. Namun, sejak ditemukan listrik, mobil, lampu, manusia mulai membenci fitrah tersebut, bahkan mulai melawan fitrah, dan melawan Hukum alam. Caranya adalah dengan keluar rumah pada malam hari, dan enggan menjadikan malam sebagai tempat untuk beristirahat di rumah. Hanya karena ditemukan listrik dan kendaraan yang hangat, mereka mulai membunuhi fitrah. Dan ini artinya, manusia tidak lagi berminat untuk tetap menjadi ‘seorang penguasa yang konsisten’ dengan kata-katanya sendiri. Hanya segitulah kekuatan manusia dengan kata-katanya sendiri, betapa manusia mahluk rapuh, hanya dengan sedikit hempasan kemajuan jaman berupa listrik dan kendaraan, manusia mulai mengingkari fitrah, dan limbung kepada kehancurannya sendiri.

Bagaimana mereka dapat memelihara kejiwaan mereka? Bagaimana mereka dapat memelihara kebugaran? Dan bagaimana mereka dapat memelihara kewarasan? Malam yang seharusnya tempat mereka mengumpulkan kesegaran dan kewarasan, telah mereka ubah menjadi tempat untuk berhura-hura di luar rumah.

Tanpa mereka sadari, mereka telah melanggar fitrah. Dan tanpa mereka sadari pula, mereka telah mencabik-cabik hak tubuh mereka, yaitu hak untuk beristirahat. Di dalam hal ini, Muhammad Saw telah bersabda,

“Tubuhmu juga mempunyai hak atas dirimu”.

Arti dari Alhadis ini adalah, bahwa tubuh mempunyai hak yang proporsional untuk istirahat di malam hari. Ketika tubuh bekerja di siang hari dengan seluruh kekuatan dan tenaga yang ada, maka pada malam harinya tubuh butuh istirahat, untuk dtempatkan pada suasana yang hening dan tenang. Tempat itu adalah rumah yang dikelilingi anak dan keluarganya. Namun kemudian ternyata manusia telah mengingkari hak tubuh, dengan cara membawa sang tubuh ke luar rumah, hanya untuk mereguk kenikmatan duniawi di malam hari.

Jam malam, amanat Islam.

Sungguh, Allah Swt melalui Alquran dan Alhadis RasulNya, telah menggariskan bahwa malam merupakan tempat untuk beristirahat, bukan tempat untuk bekerja mencari penghasilan. Di dalam kaitan ini, malam hanya dapat digunakan untuk tiga tujuan yang bernuansa penguatan jiwa dan raga, yaitu:

  1. Beristirahat di rumah;
  2. Atau beribadah mendekatkan diri kepada Allah Swt di rumah;
  3. Atau bercengkrama dengan keluarga di rumah;

Adalah suatu kesesatan untuk menggunakan malam di luar ketiga tujuan di atas, seperti keluar rumah untuk mengunjungi restoran, atau menikmati hiburan, atau berbelanja, atau bekerja mencari uang tambahan.

Singkat kata, Islam menerapkan sistem jam malam kepada umatnya, jam malam yang berarti bahwa sebaiknya umat pada malam hari tidak keluar rumah, melainkan tetap tinggal di dalam rumah, yang bertujuan untuk beristirahat, atau beribadah bersama keluarga untuk mempertahankan dan meningkatkan kesalehan, atau pun bercengkrama dengan keluarga. Pada malam hari itulah, sang ayah akan memperhatikan anak-anaknya, dan anak-anak pun akan terhindar dari pergaulan malam yang menyesatkan.

Malam untuk bekerja mencari rejeki?

Ada yang berpendirian, bahwa pada siang hari mereka bekerja mencari rejeki, namun malam juga mereka lewatkan untuk mencari rejeki (tambahan). Ingatlah, bahwa rejeki sudah ada yang mengatur, yaitu Allah Swt. Dan kalau dikatakan bahwa rejeki yang didapat pada siang hari tidak mencukupi, maka harus dipertanyakan kepada mereka, apakah uang pernah ada cukupnya? Seberapa banyak uang yang mereka peroleh, toh tidak akan pernah ada cukupnya. Hanya keserakahan-lah yang menggiring manusia keluar rumah pada malam hari untuk bekerja mencari rejeki.

Oleh karena itu, seseorang tidak mempunyai alasan untuk menjadikan malam sebagai saat untuk mencari uang. Sebenarnya-lah, rejeki yang mereka dapat pada siang hari sudah mencukupi mereka, namun keserakahan telah menuntut lain yang berlebihan. Dan itu hanya karena telah ditemukan listrik, lampu dan kendaraan.

Pada jaman yang penuh penyimpangan ini, banyak ditemui manusia yang sudah kehilangan kewarasan, dan juga sudah hilang fleksibilitas. Mulai ditemukan banyak penyakit yang menggejala di tengah masyarakat. Banyak orang yang berkata, bahwa jaman sekarang ini adalah jaman edan, alias jamannya orang sudah gila, gila massal, karena tidak lagi faham mana kaki mana kepala, mana anak dan mana tetangga. Benar sekali, jaman sekarang sudah dapat dikatakan sebagai jaman edan. Itu semua disebabkan pada malam hari mereka tidak beristirahat yang cukup. Yang mereka cari hanya uang, uang dan uang. Padahal Allah Swt telah berfirman bahwa malam hanya untuk beristirahat, bukan untuk bekerja mencari rejeki.

Tinjauan Alquran.

Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha (25:47).

Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (27:86)

Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (28:72).

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya (28:73).

Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (40:61).

Ayat-ayat di atas sudah bertitah, bahwa Allah Swt berkehendak bahwa umat Muslim tidak menjadikan malam kecuali sebagai saat untuk beristirahat, bukan untuk bekerja, karena saat untuk bekerja adalah siang hari.

Apakah ayat-ayat Alquran di atas mempunyai arti lain, yaitu bahwa umat manusia dapat menjadikan malam sebagai saat untuk bekerja dan berusaha mencari uang? Sudah jelas bahwa ayat-ayat Alquran tidak mempunyai arti lain, kecuali bahwa seluruh Muslim harus memperlakukan malam sebagai saat untuk beristirahat (dan juga untuk ibadah), dan ini berarti Allah Swt akan menjatuhkan dosa dan laknatNya kepada siapa saja yang menyalah-gunakan malam.

Kalaulah memang Allah Swt ridha umat bekerja di malam hari, umat menggunakan malam hari sebagai tempat untuk berusaha buat penghasilan, maka mengapa Allah Swt menurunkan ayat-ayat sedemikian seperti yang di atas? Sungguh ayat Alquran tidak dapat lagi diubah oleh siapa pun, dan itu artinya siapa pun juga tidak boleh mengubah makna dari ayat-ayat Alquran tersebut.

Ayat berikut ini,

Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, (78:11).

Pada ayat Alquran 78:11 ini, Allah Swt menitahkan, bahwa tempat dan saat untuk mencari penghidupan, yaitu bekerja mencari penghasilan, adalah siang. Ayat ini tidak menyebut malam untuk tujuan tersebut, melainkan siang. Maka dari itu mengapa ada sebagian umat yang mempergunakan malam sebagai tempat dan saat untuk bekerja mencari penghidupan? Nyata sekali, bahwa menggunakan malam sebagai saat untuk bekerja, merupakan penyimpangan terhadap firman Allah Swt. Dan tidak ada satu pun ayat khususnya di dalam Alquran yang menyatakan bahwa umat boleh menggunakan malam sebagai saat untuk bekerja mencari rejeki.

Ayat berikut di bawah ini,

Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, (113:3).

Ayat ini bertitah bahwa malam selalu mempunyai kejahatan bagi siapa saja yang keluar rumah pada malam hari. Tidak ada yang dapat menyangkal kandungan ayat ini, maka dari itu tidak ada juga yang dapat menyangkal makna dari ayat ini, bahwa setiap malam mempunyai kejahatannya sendiri. Terlebih, tidak ada satu pun manusia yang dapat menyangkal fakta bahwa selama ini malam memang selalu mempunyai kejahatan bagi manusia yang keluar rumah padanya.

Terdapat dua jenis kejahatan malam yang telah menunggu umat manusia, yaitu kejahatan sosial dan kejahatan spiritual. Kejahatan spiritual malam adalah, di mana manusia yang selalu keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam (dengan tidak menggunakan malam sebagai moment untuk istirahat dan beribadah di rumah) akan berubah menjadi manusia yang hedonis, manusia yang hanya memikirkan harta dan kekayaan, manusia yang tidak lagi memperdulikan Haram dan halal, manusia yang menganggap agama hanya festival yang diselenggerakan di dalam rumah ibadah, manusia yang gersang dari nilai kesalehan dan ketuhanan, manusia yang egois, dsb.

Malam merupakan saat yang tepat bagi seluruh keluarga untuk beristirahat di dalam rumah, karena pada saat yang bersamaan, di luar rumah, malam telah siap dengan segala jenis kerusakan dan kemaksiatan sosial yaitu:

  • Ajang perzinahan, prostitusi, striptis.
  • Ajang mabuk-mabukan.
  • Ajang menghambur-hamburkan uang.
  • Ajang bermain judi.
  • Penggunaan narkoba.
  • Kehidupan malam menjauhkan umat dari kesalehan, dan mendekatkan kepada keduniawian.
  • Menjauhkan keluarga dari nilai kesederhanaan, ibadah dan kekhusyukan.
  • Menimbulkan kelelahan jiwa dan raga.

Melalui ayat ini Allah Swt bertitah bahwa satu-satunya cara untuk terhindar dari kejahatan malam adalah tidak keluar rumah pada malam hari, melainkan tinggal dan beristirahat di dalam rumah bersama keluarganya hingga fajar menjelang.

Dengan mensyariahkan jam malam ini, maka Allah Swt berkehendak bahwa pada saat malam kota menjadi kota mati, desa menjadi desa mati, karena tidak ada lagi aktivitas di luar rumah, karena pada saat itu seluruh manusia berdiam di dalam rumah untuk beristirahat, atau beribadah mau pun bercengkerama dengan keluarga.

Mengapa Islam mensyariahkan jam-malam, karena berdasarkan lima hal:

  1. Malam adalah saat untuk beristirahat. Ini adalah fitrah. Ini adalah Hukum alam.
  2. Rejeki tidak bisa dipaksakan, dan seberapa rejeki yang didapat pada siang hari, harus disyukuri. Ingatlah, bahwa manusia tidak pernah puas dengan seberapa banyak rejeki yang diperoleh.
  3. Malam mempunyai kejahatannya sendiri.
  4. Tidak ada kesalehan yang didapat umat dari kehidupan malam di luar rumah, melainkan justru mendekatkan umat manusia pada hedonisme dan hubud-dunya, yaitu cinta-dunia. Kebalikannya, saat yang tepat bagi umat untuk memperkuat ruhani dan kesalehan adalah malam hari, yaitu banyak beribadah pada malam hari di rumah bersama keluarga.
  5. Ingatlah, bahwa kehidupan malam mempunyai kontribusi terbesar atas terjadinya fenomena jaman-edan. Bagaimana tidak edan? Siang mereka bekerja mencari rejeki, malam pun juga mereka gunakan untuk mencari rejeki. Itu artinya siang malam mereka jungkir-balik mencari rejeki, dan tidak ada lagi waktu untuk mengistirahatkan jiwa-raga mereka, dan tidak ada waktu untuk kesalehan dan ibadah, tidak ada lagi waktu untuk bercengkerama dengan anak dan keluarga, dan tidak ada lagi waktu untuk bermunajat kepada Allah YME. Semakin banyak uang yang mereka peroleh (karena bekerja juga di malam hari) maka semakin tamaklah mereka, apalagi ditunjang dengan putusnya akses mereka dengan santapan rohani berupa istirahat jiwa-raga, ibadah malam dan bermunajat kepada Tuhan, yang membutuhkan suasana hening, maka makin edanlah mereka, makin jauhlah mereka dari Tuhan, kewarasan dan kesalehan.

Biarlah malam menjadi sepi dan senyap, karena memang itulah fitrah manusia, dan karena memang itulah skenario alam semesta.

Biarlah saat malam manusia diam di rumah, untuk istirahat dan bercengkerama dengan keluarga. Dengan berdiam di rumah (mulai senja hingga subuh menjelang), maka terjagalah kesederhanaan dan kesalehan mental dan nurani seluruh manusia.

Dengan adanya jam malam ini maka tercapailah maksud ketuhanan, yaitu efisiensi yang sangat signifikan atas dinamika kehidupan baik kota mau pun desa. Syariah jam-malam akan menghemat bahan bakar, menghemat listrik, energi, tenaga, dan mengurangi polusi. Ketahuilah bahwa jam malam yang dapat menghemat banyak sumberdaya ini, sedikit pun tidak akan mengubah atau mengurangi rejeki.

Malam adalah moment ibadah keluarga.

Pada banyak bagian di dalam Alquran, Allah Swt menurunkan sinyalemen bahwa malam lebih baik digunakan untuk beribadah. Ingatlah, Alquran menegaskan bahwa ibadah-malam mempunyai efek ketenangan yang luarbiasa, oleh karena itu manusia dapat berharap banyak dari malam yang diibadahi, untuk kemapanan dan stabilitas ruhani. Apapun agama yang dianut seorang manusia, ibadah-malam merupakan solusi terindah untuk tujuan tersebut. Demikian seperti yang dititahkan Allah Swt di dalam Alquran,

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) (Alquran 17:78).

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (Alquran 17:79).

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (Alquran 25:64).

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan (Alquran 73:6).

Namun dikarenakan ditemukannya listrik, kendaraan dan berbagai jenis lampu yang indah, manusia telah melupakan saat penciptaan alam semesta, dan kemudian juga melupakan makna dari terjadinya malam. Dengan adanya listrik dan kendaraan, manusia telah berusaha sekeras mungkin keluar rumah untuk menikmati angin-malam, bersenang-senang, makan-makan, menonton hiburan dan konser murahan, yang keseluruhan hal tersebut mengakibatkan manusia-manusia menjauh dari poros kesalehan.

Beribadah di siang hari, sebenarnya memberi efek psikologis yang tidak terlalu signifikan, namun ibadah di malam hari mempunyai pengaruh ketenangan dan kedamaian yang fundamental atas penguatan ruh dan kesalehan. Itulah sebabnya malam merupakan saat terbaik untuk beribadah di tingkat keluarga. Harap diperhatikan, adalah tidak sama citarasanya, antara makan siang di Kantor bersama rekan sejawat, dengan makan malam bersama keluarga di rumah. Mana yang lebih lezat dan berkesan? Tentu santap makan-malam bersama keluarga di rumah, dikelilingi orang-orang yang dicintai, itulah yang lebih berkesan dan yang lebih lezat. Maka demikian jugalah dengan ibadah, antara beribadah di siang hari dengan ibadah di malam hari bersama keluarga di rumah.

Tidak ayal lagi, kehidupan malam di luar rumah yang dengan sendirinya telah menTIADAkan beribadah bersama keluarga, mengakibatkan umat manusia digulung gelombang kekeringan jiwa dan kemiskinan iman. Hal ini merupakan media terbaik bagi munculnya berbagai kejahatan, baik kejahatan kriminal mau pun kejahatan hati (serakah, tamak, egois, cinta-harta, apathis, hedonis, dsb).

Keseluruhan hal tersebut sebenarnya adalah penyakit. Dan satu-satunya cara menyembuhkan manusia dari penyakit tersebut adalah, menarik diri dari aktivitas malam di luar rumah (secara massal), dan kembali berdiam di dalam rumah untuk mengibadahi malam tersebut, untuk kemudian beristirahat bersama keluarga hingga fajar menjelang. Tepat seperti pada masa ketika manusia masih hidup di dalam kesucian dan kepolosan (age of innocence), yaitu ketika belum ditemukannya listrik dan kendaraan berikut lampu-lampu kota yang seronok.

Inilah makna dan urgensi jam malam di dalam syariah Islam.

Implementasi.

  1. Syariah jam-malam ini, menurut fiqih, tidak berlaku untuk Mekah, Madinah dan Yerusalem, karena pada ketiga kota tersebut berlaku Alhadis Nabi saw, “aku mementingkan perjalanan ketiga Masjid ini yaitu Masjid Al- Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Aqsa”. Ini berarti baik siang mau pun malam, maka adalah lebih baik setiap Muslim keluar rumah untuk shalat di ketiga tempat suci tersebut, bukan untuk tujuan lain.
  2. Dua lapis masyarakat sebaiknya tidak keluar rumah di waktu malam. Lapis masyarakat pertama adalah yang keluar rumah untuk mencari uang (sektor usaha seperti buka restoran, hiburan malam, perkuliahan, Pusat kebugaran, Pusat belanja, transportasi, dsb). Masyarakat lapis kedua adalah masyarakat yang keluar rumah sebagai konsumen.
  3. Saat matahari sudah tergelincir ke Barat, itulah saatnya semua orang pulang ke rumah. Dan kemudian seluruh bus berhenti beroperasi, pasar tutup, restoran tutup, dsb.
  4. Tidak juga mempunyai landasan keluar rumah yang tujuannya adalah ke Masjid untuk shalat fardu atau ibadah lainnya. Beribadah malam hari justru dianjurkan untuk ditunaikan di rumah bersama anak dan keluarga, bukan di Masjid.
  5. Shalat tarawih pun, sebenarnya menurut sunnah Nabi, tetap diselenggarakan di rumah, bukan di Masjid, karena Nabi saw dan para sahabat juga selalu shalat tarawih di rumah, bukan di Masjid.
  6. Keluar rumah di malam hari adalah sebaiknya dihindari, karena malam sebenarnya adalah moment penguatan iman dan rohani level keluarga. Namun kalau manusia mempunyai tujuan yang mendesak, pada hematnya tidak mengapa keluar rumah di malam hari, seperti mereka yang bekerja sebagai dokter jaga, atau petugas penjaga gedung, personel rumahsakit, polisi, operator bus antarkota, dsb.
  7. Tidak mengapa keluar rumah di malam hari namun tidak jauh dari rumah, sekedar menikmati sepoi-angin malam, atau menikmati terang-bulan bersama bintang.
  8. Bertamu pun sebaiknya tidak ditunaikan malam hari, melainkan siang hari.

Kesimpulan.

Selama umat manusia (apapun agamanya):

  1. Keluar rumah di malam hari untuk menikmati kehidupan malam dan bekerja mencari rejeki,
  2. Tidak menggunakan malam sebagai moment istirahat total dan juga ibadah bersama keluarga di dalam rumah, …….

Maka selama itu juga kejahatan dan penyakit jiwa akan terus menggerogoti mereka, sedikit demi sedikit. Bagian terpenting dari ajaran Tuhan mengenai malam ini adalah, bahwa tidak ada kesalehan yang dapat dituai satu manusia pun saat mereka keluar rumah di malam hari. Kebalikannya, kesalehan dan penguatan ruhani hanya dapat dituai pada malam hari bersama keluarga di dalam rumah masing-masing.

Dengan tetap tinggal dan beristirahat di malam hari di rumah bersama keluarga, dengan mematikan kehidupan malam, dengan menjadikan kota dan desa sepi dan lengang di malam hari, maka secara permukaan telah terjadi penghematan dan efisiensi atas seluruh sumberdaya, dan itu sedikit pun tidak mengganggu atau mengurangi rejeki.

  1. Tidak mungkin benar, bahwa hanya karena ditemukan mobil, listrik, lampu dsb, maka budaya keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam menjadi benar.
  2. Tidak mungkin benar, hanya karena ditemukan kemajuan teknologi, maka manusia menjadi berhak untuk menentang Hukum alam, menentang fitrah, menentang firman Tuhan, dan menentang jam biologis mereka sendiri untuk mengistirahatkan jiwa dan raga mereka.
  3. Tidak mungkin benar, firman Tuhan, fitrah dan Hukum alam menjadi jungkirbalik hanya karena ditemukannya mobil, listrik, lampu, dsb.
  4. Tidak mungkin benar, bahwa budaya keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam tidak mengandung kekhawatiran atau efek negatif. Fakta memperlihatkan meningkatnya hedonisme, kegilaan, egoisme, ketidak-warasan dan ketidaksalehan umat manusia sejak berkembangnya kehidupan malam. Banyak terjadi kasus kejahatan di malam hari.
  5. Tidak mungkin benar, tidak bekerja mencari uang di malam hari akan mengakibatkan kemiskinan dan ketertinggalan. Tidak mungkin benar, bahwa uang yang didapat dari bekerja di siang hari tidak mencukupi untuk hidup.
  6. Tidak mungkin benar, bahwa keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam juga dibutuhkan untuk kesehatan jiwaraga.
  7. Tidak mungkin benar, kesalehan tidak diperlukan di akhir jaman ini, sehingga oleh karenanya tidak mengapa berlarut-larut di dalam kehidupan malam.
  8. Tidak mungkin benar, kesalehan dan kewarasan dapat berparalel dengan maraknya kehidupan malam. Yang benar adalah, kesalehan dan kewarasan merupakan antitesis dari budaya kehidupan malam.

Penutup.

Kalau Kerajaan Muslim di seluruh muka bumi ini masih menganggap kesalehan sebagai harta jiwa yang lebih berharga dari emas dan intan berlian, maka itulah saatnya bagi seluruh Kerajaan Muslim untuk menerapkan jam-malam bagi kota dan desa-desa mereka, sekaligus untuk menumbangkan dan mengkudeta kehidupan malam, karena hal tersebut seutuhnya benar-benar mendurhakai firman Allah Swt.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.
Advertisements

Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim

tarbiyah-anak-shalatMuhammad Saw telah menitahkan melalui beberapa Alhadis yang termahsyur, bahwa shalat di Masjid Al-haram mengandung pahala sebanyak 100.000, shalat di Masjid Nabawi mengandung pahala sebanyak 10.000, dan shalat di Masjid Al-aqsa mengandung pahala sebanyak 1000. Ini artinya shalat di Masjid selain ketiga Masjid tersebut tidak mengandung keistimewaan seperti halnya shalat di ketiga Masjid suci ini.

Hal ini diperkuat oleh satu Alhadis yang juga termahsyur yaitu, “Aku mengutamakan perjalanan ke tiga Masjid ini, yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-aqsa”. Alhadis ini menyiratkan makna, bahwa melangkahkan kaki ke Masjid selain ketiga Masjid suci tersebut bukanlah suatu keutamaan. Oleh karena itu patut dipertimbangkan akan nilai keutamaan untuk shalat di rumah. Penting sekali untuk juga diingat berkenaan dengan kedua Alhadis ini, bahwa Muhammad Saw telah bertitah, “terangilah rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran”. Makna dari Alhadis ini adalah, bahwa penting sekali bagi setiap umat untuk menunaikan shalat di rumah, apalagi bersama keluarga secara berjamaah, sebisa mungkin.

Jangan berpantang untuk shalat di rumah, untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga, itulah makna terpenting dari ketiga Alhadis di atas. Bahkan banyak Alhadis yang menyiratkan, bahwa Muhammad Saw dan para sahabat pun tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah.

Muhammad Saw telah bertitah melalui beberapa Alhadis-nya, bahwa sebaiknya setiap umat berteguh untuk shalat di rumah (khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh), karena justru umat akan dihadiahi hikmat yang begitu Agung melalui ritus shalat berjamaah di rumah. Dan yang terpenting adalah, adanya hikmah tarbiyah keluarga Muslim melalui agenda shalat Maghrib dan Isya dan Shubuh berjamaah di rumah.

Waktu shalat Maghrib dan Isya jika ditunaikan secara berjamaah di rumah di mana sang ayah atau datuk bertindak sebagai Imam shalat, merupakan moment pendidikan Iman dan spiritual anak dan keluarga. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah, khususnya shalat Maghrib dan Isya dan juga Shubuh, tidak boleh ada yang absen. Dan agenda keluarga ini mempunyai arti bahwa telah terjadi pemupukan dan penguatan ruh keagamaan dan kesalehan secara fundamental terhadap jiwa dan mentalitas anak-anak.

Kebalikannya, kalau tidak dibudayakan shalat Maghrib dan Isya (juga Shubuh) di rumah, maka pendidikan iman dan spiritual keluarga (khususnya anak-anak) terkendala, sehingga nasib kesalehan anak-anak dan keluarga tidak ada yang memperhatikan, terkatung-katung tidak menentu. Mereka anak-anak dan keluarga jadi tidak pernah menikmati suasana keagamaan di rumah, karena tidak pernah dilibatkan di dalam kesalehan beribadah.

Shalat Maghrib dan Isya (juga shalat Shubuh) secara berjamaah di rumah, yang menjadi Imam adalah semua anggota keluarga (secara bergantian) sehingga setiap anak tercambuk untuk hafal surah-surah Alquran, dengan demikian ada kaderisasi dan regenerasi Imam. Point ini menjadi kontribusi tersendiri bagi lahirnya generasi yang hafal surah Alquran secara maksimal, karena dengan terus shalat berjamaah di rumah maka anak-anak yang saat itu menjadi makmum akan tertantang dan terinspirasi untuk menjadi Imam kelak saat mereka sudah besar. Itu artinya mereka sejak dini harus hafal surah-surah Alquran, dan ini artinya merupakan landasan untuk membumikan kecenderungan hafal surah-surah Alquran.

Sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam. Sebenarnya tidaklah demikian. Shalat sebenarnya bukanlah perintah, melainkan PEMBIASAAN. Kalau seorang anak sejak kecil sudah dibiasakan shalat berjamaah secara terus menerus, maka sampai kapan pun sang anak akan tetap shalat meski dilempar ke Negeri yang jauh sekali pun.

Dan pembiasaan shalat ini hanya dapat dipastikan melalui tradisi shalat berjamaah di rumah, khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh. Membangun kebiasaan dan pembiasaan shalat yang berujung pada shalat-minded tidak bisa diupayakan hanya di dalam waktu satu minggu atau satu tahun, atau melalui ceramah sedahsyat apapun, melainkan butuh waktu bertahun-tahun di dalam frame shalat berjamaah di rumah, mulai dari sang anak berusia belia hingga remaja dengan cara terus dilibatkan di dalam shalat berjamaah di dalam rentang waktu sekian lama.

Singkat kata, suatu frame shalat berjamaah khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh di rumah, akan memastikan bahwa kelak sang anak akan menjadi bagian di dalam Generasi Shalat Minded. Kalau dibalik: cara melahirkan Generasi Shalat Minded, atau cara supaya sang anak kelak akan tetap kukuh menunaikan shalat, hanyalah dengan melalui frame shalat di rumah.

Situasi / frame di mana Maghrib, Isya dan Shubuh tidak dijadikan moment untuk shalat berjamaah di rumah, maka pada saat tersebut, sang anak dan seluruh keluarga sedang asyik menyia-nyiakan waktu shalat dengan kesenangan duniawi. Waktu yang berharga untuk membangun pembiasaan shalat bagi anak-anak akhirnya terbuang dan tergusur kalau jadwal Maghrib dan Isya tidak dijadikan agenda shalat berjamaah di rumah, sementara di pihak lain anak-anak pun akibatnya jadi asyik sibuk berhamburan di sepanjang jalan pada jam-jam shalat. Dengan keadaan seperti ini, tidak pernah terjadi pembiasaan shalat atas anak-anak dan keluarga, karena justru mereka dibiasakan berhamburan di jalan-jalan kampung untuk menikmati kesenangan duniawi di dalam kesia-siaan. Kalau sejak kecil tidak diadakan pembiasaan shalat, maka bagaimana kelak mereka akan terbiasa untuk shalat?

Outputnya jelas: di kemudian hari sang anak akan menjadi generasi yang berpantang shalat, mereka bukan bagian dari Generasi Shalat Minded. Mereka bukanlah umat Allah Swt.

Kecil sekali kemungkinannya seorang anak di kala dewasa akan tetap teguh menunaikan shalat di mana pun ia berada – kalau semasa kecilnya ia tidak menerima pembiasaan shalat dari keluarganya; dan pembiasaan shalat yang paling mungkin dan alami di sini adalah pembiasaan shalat melalui frame shalat berjamaah di rumah secara rutin. Oleh karena itu, tidak menunaikan shalat berjamaah di rumah untuk shalat Maghrib dan Isya akan berparalel dengan jauhnya generasi muda (yaitu anak-anak mereka) dari shalat minded. Itu merupakan kerugian terbesar yang akan diderita seorang ayah (atau paman / datuk) di kemudian hari.

Alangkah patut untuk diperhatikan, bahwa shalat Maghrib dan Isya yang ditunaikan secara berjamaah di rumah akan menciptakan rumus: “bapak saleh, anak pun jadi saleh”. Hal ini disebabkan karena shalat berjamah di rumah secara terus-menerus, akan mengakibatkan anak-anak dan keluarganya ikut menjadi saleh.

Kesalehan yang bersemi pada anak-anak dan keluarga dapat terwujud karena selalu shalat berjamaah di rumah tersebut, terjadi karena tiga hal:

  1. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah. Dengan shalat di rumah, ayah (atau paman / datuk) akan memastikan bahwa anak-anak dan keluarganya harus ikut shalat, harus berada di belakangnya sebagai makmum untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah, tidak boleh ada yang absent apapun alasannya, yang tujuannya adalah untuk beraktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.
  2. Dengan anak-anak dan keluarga terus shalat berjamaah di rumah, maka alokasi waktu yang biasa dilewatkan anak-anak untuk berhamburan dan berceceran di luar rumah di sepanjang jalan kampung TERGANTIKAN dengan duduk khusyuk di belakang Imam. Ini artinya telah menTIADAkan waktu untuk dihabiskan anak-anak dan keluarga di dalam kesia-siaan duniawi yaitu berkeliaran di luar rumah sepanjang jalan kampung di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, nonton konser murahan, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Kebalikannya, waktu yang dimiliki anak-anak dan keluarga akan digunakan untuk shalat berjamaah di rumah masing-masing.
  3. Dengan shalat berjamaah di rumah khususnya untuk jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh, maka itu berarti terbangun suatu kondisi untuk memperhatikan dan melakukan kontrol perkembangan rohani, jiwa, penerimaan dan intelektualitas sang anak dan keluarganya terhadap bibit iman dan taqwa, dan memang itulah tujuan utama dari mengapa jadwal Maghrib amat singkat menjelang jadwal Isya. Dengan shalat berjamaah di rumah, setiap anak jadi merasa bahwa mereka diperhatikan oleh keluarga mereka secara lebih intim dan terus-menerus.

Di siang hari sang anak dan keluarga telah bermain dengan kawan-kawan mereka di sekolah, taman kampung, pasar, di kampus, dan tanah lapang. Cukuplah hal itu merupakan waktu mereka untuk bersosialisasi dan bermain di luar rumah di kala siang. Dan ketika senja dan malam menjelang, bermain di luar rumah sudah berakhir, dan itulah saatnya mereka membangun karakter keagamaan dan rohani melalui shalat berjamaah di rumah.

Pembangunan kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga: pembangunan rohani dan kesalehan akan mengguyur semua individu di dalam keluarga dan perkampungan Muslim tanpa kecuali, karena teknisnya adalah di dalam setiap rumah akan diselenggarakan shalat berjamaah khususnya Maghrib dan Isya, ini berarti shalat berjamaah tersebut akan melibatkan seluruh unsur yang ada di dalam perkampungan Muslim. Tidak akan ada satu anak pun, satu individu pun, yang lolos dan luput dari aktivitas pembangunan rohani ini, karena setiap mereka adalah anggota keluarga yang, akan dipanggil untuk ikut shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absen satu pun, untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Teramat besar kemungkinannya bahwa setiap anak yang terus shalat berjamaah di rumahnya akan menjadi saleh di kemudian hari seperti salehnya sang ayah (atau paman / datuk), karena shalat berjamaah yang terus diselenggarakan di dalam keluarga mempunyai kekuatan dan wewenang kuat untuk menyentuh dan menundukkan jiwa dan spiritualitas setiap anak sejak kecil.

Bagaimana mungkin anak-anak di dalam suatu keluarga dapat menjadi saleh di saat dewasa, sementara anak-anak tersebut dibiarkan terus berkeliaran di luar rumah di sepanjang jalan kampung tidak memperdulikan masuknya waktu shalat khususnya Maghrib, Isya dan Shubuh? Mereka terus asyik bermain dengan kawan-kawannya malah pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, shopping, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dan itu bukanlah ciri-ciri umat Muslim, melainkan ciri-ciri umat di dalam kekafiran dan kerugian. Dan hal tersebut terjadi karena kg tersebut tidak menjadikan moment Maghrib dan Isya sebagai moment tarbiyah keluarga, yang mana itu berarti keluarga tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan pertumbuhan rohani sang anak, tidak memperdulikan siklus shalat sang anak dan keluarga. Dengan tidak menyelenggarakan shalat berjamaah di rumah, berarti mereka tidak memanfaatkan kesempatan dan peluang untuk menjadikan anak-anak mereka sebagai manusia saleh saat dewasa kelak.

Tarbiyah berbasis keluarga.

Jika setiap keluarga menyelenggarakan shalat berjamaah di rumah, maka kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga. Ini artinya pembangunan rohani dan kesalehan seutuhnya merupakan wewenang dan inisiatif setiap keluarga, dan memang demikianlah seharusnya. Dan di sini, posisi Ayah, biar bagaimana pun adalah manusia yang paling bertanggungjawab atas perkembangan rohani dan kesalehan seluruh keluarganya, tidak bisa tidak. Itulah sebabnya Muhammad Saw menitahkan bahwa seluruh laki-laki wabil khususnya ayah (paman / datuk) harus senantiasa shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya (selama mereka berdomisili jauh dari lokasi Masjid Al-haram, Nabawi dan Masjid Aqsa).

Islam tidak menghendaki pembangunan rohani dan kehidupan beragama mengambil basis di Masjid (atau rumah ibadah), karena hal tersebut tak ubahnya seperti kaum kafir atau jahiliyah. Di Dunia ini kita melihat pembangunan rohani umat Katholik berbasis di Gereja, di mana tugas dan wewenang untuk memimpin peribadatan seluruh jemaat berada di tangan pendeta Gereja. Sungguh setiap keluarga di dalam lingkungan umat nonmuslim tidak mempunyai wewenang mau pun tanggungjawab untuk membina kebangunan rohani dan kehidupan beragama khususnya keluarganya sendiri. Jangankan membangun / membina rohani dan kehidupan beragama anak dan keluarganya, bahkan pemantapan iman dan rohani diri setiap ayah pun juga hanya boleh dikelola oleh staf pendeta di rumah ibadat. Dengan kata lain, setiap anggota keluarga tidak mempunyai hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan di dalam bermunajat kepada Tuhan, karena hak dan wewenang tersebut merupakan hak eksklusif para staf pendeta di rumah ibadat.

Islam tidaklah demikian, Islam mengajarkan bahwa hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan merupakan tugas dan tanggungjawab setiap keluarga, karena memang demikianlah logikanya: ayah yang melahirkan dan memberi makan anak dan keluarganya, maka ayah (paman / datuk) jugalah yang paling bertanggungjawab di dalam pembinaan rohani dan iman anak dan keluarganya, tidak bisa ditawar lagi dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Bagaimana mungkin Islam mengadopsi sistem di luar Islam di mana pembinaan rohani dan iman seluruh keluarga diserahkan kepada staf rumah ibadat (yaitu Imam Masjid, sebagaimana halnya staf pendeta di Gereja), sementara staf rumah ibadat tersebut tidak mempunyai hubungan darah dan kasihsayang atas mereka (anak dan seluruh keluarga)?

Penting untuk diketahui, bahwa pada umat nonmuslim yang bersistem pembangunan rohani berporos rumah ibadat, telah menjadikan setiap ayah, paman, datuk, anak dan seluruh keluarga tidak mempunyai derajat kesalehan di dalam beragama. Karena lebih tepatnya lagi, derajat kesalehan hanya dimiliki staf rumah ibadat yang jumlahnya hanya segelintir di tengah mereka. Ini menyedihkan. Maka kemudian apakah umat Muslim di seluruh Dunia juga mempunyai takdir yang harus sedemikian sama, dengan cara bahwa hak dan wewenang untuk menyelenggarakan ritus ibadah terletak pada staf rumah ibadat, dalam hal ini Imam Masjid? Ingatlah bahwa Muhammad Saw pun melarang umatnya ber-tasyabuh, yaitu mempersama-kan diri dengan kaum kafir di dalam cara dan berfikir, dan bertasyabuh merupakan dosa di sisi Allah Swt.

Dampaknya jelas: umat nonmuslim yang mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani keluarga merupakan wewenang rumah ibadat – melahirkan kesenjangan dan kemiskinan rohani di tengah umat secara akar-rumput, belum lagi ditambah sekuleritas yang menggejala pada masyarakat mereka, masyarakat nonmuslim. Hal seperti ini harus dijauhkan umat Muslim universal, caranya adalah dengan mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani merupakan hak dan wewenang penuh keluarga masing-masing.

Pembumian hafal Alquran.

Karena shalat berjamaah terus ditunaikan di setiap rumah keluarga Muslim (khususnya jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh) maka sejak kecil mereka sudah dipersiapkan untuk hafal Alquran. Ini merupakan siklus kebaikan yang akan terwujud di dalam keluarga Muslim kalau mentradisikan shalat berjamaah.

Dengan kata lain, tradisi shalat di rumah akan memunculkan tongkat estafet untuk generasi mendatang, yaitu mengakibatkan anak-anak yang menjadi makmum kala itu akan terpacu juga untuk hafal surah Alquran karena kelak mereka akan menjadi Imam juga atas anak-anak mereka di kemudian hari. Tongkat estafet keimaman dan tahfiz Alquran merupakan kata kunci di sini.

Karena tugas menjadi Imam merupakan tugas seluruh lelaki (karena kelak mereka akan menjadi suami / ayah / paman / datuk) maka tugas keimaman menjadi rata di tengah umat, dan akibatnya semua orang (harus) hafal surah Alquran: inilah moment kemunculan tahfiz publik, yaitu tahfiz yang membumi sampai ke akar-rumput.

Tarbiyah kesalehan di dalam pengawasan yang kokoh.

Kasih-sayang dan pengawasan keluarga atas anak-anak menjadi efektif dan sistematis – jika shalat berjamaah terus ditunaikan di rumah khususnya untuk jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh, baik pengawasan itu di dalam hal siklus shalat pada khususnya, mau pun di dalam hal mental spiritual pada umumnya. Dengan shalat berjamaah di rumah, maka sayang dan kepedulian sebuah keluarga terhadap anak-anak adalah nyata senyata matahari. Pada dasarnya, shalat Maghrib dan Isya di rumah merupakan wujud dan bukti bahwa sebuah keluarga sayang kepada anak-anaknya sendiri.

Setiap anak dan seluruh keluarga akan tetap di dalam siklus shalatnya selama ada yang mengawasi, shalat berjamaah di rumah, khususnya untuk jadwal Maghrib dan Isya. Dan seseorang yang paling efektif pengawasannya terhadap siklus shalat anak-anak pastilah keluarga sendiri. Pengawasan yang dilakukan orang lain atas diri seorang anak terhadap siklus shalatnya, tidak akan mempan, tidak akan mengena, tidak akan efektif, tidak akan bertaji, karena orang lain tersebut bukanlah siapa-siapa bagi sang anak; dan sang anak sendiri akan menganggap dan melihat orang lain tersebut sebagai orang yang tidak berhak untuk mengawasi dan mengontrol siklus shalatnya. Terlebih, sang anak bukannya akan patuh pada pengawasan orang tersebut untuk shalat, malah akan berbalik untuk bergumam, ‘keluarga saya tidak menyuruh dan tidak mengawasi saya shalat, lantas mengapa orang ini menyuruh saya shalat?’.

Pendek kata, hanya keluarga-lah yang berada pada posisi untuk mengawasi siklus shalat anak dan keluarganya. Dan hal tersebut hanya dapat diimplementasikan jika seorang keluarga tersebut shalat berjamaah di rumah.

Sayang kepada anak dan keluarganya bukan hanya di dalam bentuk memberi rumah, memberi makan yang banyak, memberi mainan yang handal, melainkan juga terjadi di dalam bentuk ‘mempersembahkan’ mereka ke hadhirat Allah Swt di dalam seremoni shalat berjamaah di rumah. Biarlah Allah Swt dan para MalaikatNya melihat bahwa sebuah keluarga sedang membawa seluruh anak ke hadlirat-Nya di dalam suatu shalat berjamaah, dan itulah yang indah dan yang sepatutnya, karena memang itulah tugas keluarga.

Ketika sebuah keluarga shalat berjamaah di rumah, maka pada saat itu keluarga tersebut sedang memasukkan keluarganya ke dalam Surga dan menyelamatkan mereka dari jilatan api Neraka sebagai bukti sayang dan pemeliharaan keluarga yang kuat dan fundamental.

Alangkah patutnya untuk direnungkan, setiap keluarga akan dapat memastikan bahwa anggota keluarganya tetap menunaikan shalat karena shalat tersebut ditunaikan di rumah khususnya Maghrib dan Isya. Sudah sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam, dan perintah shalat ini adalah rata untuk seluruh umat tanpa kecuali. Masalah akan timbul kalau ada satu individu tidak menunaikan shalatnya, dan terlebih kalau individu tersebut merupakan anggota keluarga yang, seharusnya tetap memelihara siklus shalatnya. Hal ini seharusnya merupakan kepedulian dan concern setiap keluarga atas seluruh anak dan anggota-nya. Adalah sulit untuk dicerna bahwa ada seorang ayah begitu memelihara siklus shalatnya sementara anak dan keluarganya tidaklah demikian. Kalau anak dan keluarga tidak serius di dalam siklus shalatnya maka dapat dipastikan itu semua berawal dari tidak adanya shalat berjamaah di rumah. Dan kalau hal ini benar-benar terjadi, seluruh ulama sepakat bahwa kesalahan justru berada pada diri kepala keluarga, tidak bisa tidak.

Pada saat seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya, maka sebenarnya pada saat tersebut sang ayah telah dapat memastikan bahwa anak dan keluarganya sudah paripurna menunaikan shalat: “dia yakin karena dia melihat”, karena dia sendiri yang mengimamkan mereka. ‘Kepastian’ merupakan kata kunci di sini, dan tidak ada yang dapat memastikan mereka (anak dan keluarga) menunaikan shalat kecuali adanya perintah, perhatian dan keimaman sang ayah (paman / datuk). Itulah satu-satunya jalan bagi seorang kepala keluarga untuk memastikan bahwa seluruh anggotanya tetap di dalam siklus shalat. Ingatlah bahwa kebanyakan dari anggota keluarga adalah anak-anak manusia yang masih di dalam usia pertumbuhan, yang mana itu berarti bahwa mereka belum mengerti kedisiplinan dan ketaatan. Anak-anak biasanya hanya melewatkan hari-hari dengan bermain dan naluri untuk tidak taat.

Tidak mungkin ada seorang anak kecil yang taat memelihara siklus shalatnya. Sebaliknya, setiap anak hanya memikirkan main bersama kawan-kawannya. Dan kemudian, tidak mungkin ada seorang anak kecil yang ketika ditanya ayahnya apakah sudah shalat, kemudian sang anak akan menjawab “sudah” dengan penuh kebenaran, tanggungjawab, dan bermartabat. Sulit mengharapkan kesalehan tumbuh dan bersemi pada diri seorang anak yang sedang senang-senangnya bermain.

Namun di luar itu semua, tentunya keluarga mempunyai perhatian yang lebih besar atas mereka. Wujudnya hanya satu: memanggil mereka untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah di rumah, hari demi hari, minggu demi minggu, dan tahun demi tahun, hingga anak-anak tersebut tumbuh menjadi dewasa, yaitu usianya untuk taat dan sadar akan kewajiban dan kesalehan. Dengan terus memanggil mereka untuk berpartisipasi shalat berjamaah di rumah, maka tidak perlu keluarga bertanya kepadanya apakah sudah shalat, karena keluarganya sendirilah yang mengimamkannya. Dengan dipanggil shalat berjamaah, maka berhentilah main-mainnya untuk sementara, untuk shalat tersebut. Dan ikut shalat berjamaah tidak akan mencederai haknya untuk bermain.

Dengan diselenggarakannya shalat berjamaah di rumah khususnya pada jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh, maka:

  1. Tarbiyah keluarga berlangsung secara konstan dan intim.
  2. Tarbiyah terhadap keluarga terjadi secara alami, membumi, dan gratis karena tarbiyah merupakan tanggungjawab keluarga.
  3. Keluarga secara otomatis dan alami harus menjadi pengajar dan pembimbing atas anak-anaknya / ponakannya / sepupunya / cucunya / adik-adiknya, dll, itu semua atas dasar tanggungjawab keluarga tersebut.

Tarbiyah Maghrib dan Isya melumpuhkan malapetaka dunia.

Dengan menyelenggarakan shalat berjamaah di rumah maka tidak mungkin terjadi malapetaka umat, karena dengan shalat berjamaah di rumah, maka jelaslah seluruh keluarga sedang berada di rumah sedang menunaikan shalat bersujud kepada Illahi, sehingga menjadi sepi-lah seluruh hiruk-pikuk keduniawian: jalan-jalan menjadi sepi, lapangan menjadi sepi, mal-mal menjadi sepi, perempatan menjadi sepi, Pusat jajan menjadi sepi, karena anak-anak dan wargakota yang biasa meramaikan tempat-tempat keduniawian tersebut saat itu justru sedang menjadi makmum shalat berjamaah yang diimami oleh ayah-ayah / datuk-datuk mereka di rumah masing-masing.

Jelas sekali, ketika terjadi shalat berjamaah bersama keluarga di rumah (khususnya untuk shalat Maghrib dan Isya), maka keluarga tersebut tengah dan telah mengubah dunia (dari suatu tempat yang penuh malapetaka) menjadi tempat yang penuh ibadat dan taqwa kepada Illahi, karena anak-anak dan warga kota yang biasa meramaikan pelataran dunia tersebut, sedang shalat sebagai makmum di belakang sang ayah / paman. Inilah keagungan dan kekuatan shalat berjamaah di rumah bersama keluarga, khususnya untuk shalat Maghrib dan Isya. Inilah marwah umat Muslim seluruh Dunia!

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa shalat berjamaah di rumah bersama keluarga merupakan:

  1. satu-satunya kekuatan yang paling misterius dan paling berwibawa yang dapat merontokkan dan mengkudeta huru-hara duniawi khususnya pada malam hari; shalat berjamaah di rumah telah menggulingkan malapetaka dunia.
  2. dan menggantinya dengan suasana ibadat yang hikmat dan kudus,
  3. bentuk kasih-sayang orang-tua dan keluarga Muslim kepada anak-anaknya.
  4. terakhir, mengklaim anak-anak dunia sebagai anak-anak yang penuh ibadat dan kesalehan.

Terbebaslah umat dan seluruh anak dari malapetaka duniawi dikarenakan shalat berjamaah di rumah bersama keluarga yang diimamkan oleh setiap ayah, itulah titah Nabawi.

Jarak waktu antara Maghrib dan Isya sangat singkat, tidak sampai dua jam. Sengaja Allah Swt menyingkatkan waktu Maghrib supaya dengan demikian dekat jaraknya dengan Isya yaitu hanya berkisar tidak sampai dua jam.

Hikmahnya adalah bahwa supaya waktu tersebut digunakan umat Muslim untuk moment tarbiyah di mana sebuah keluarga menjadi pembimbing rohani bagi seluruh anak-anaknya. Cukup dua jam setiap hari (antara Maghrib menuju Isya) merupakan masa tarbiyah yang sangat ampuh bagi anak-anak yang sedang di dalam masa pertumbuhan rohani. Di awal Maghrib sang ayah memanggil anggota keluarga dan seluruh anaknya untuk shalat berjamaah (di rumah). Kemudian sang ayah tidak akan mengijinkan anak-anaknya untuk beranjak kembali kepada aktivitasnya seusai shalat Maghrib berjamaah, melainkan sang Imam (ayah atau datuk atau paman) menyuruh anak-anaknya untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, melantunkan doa, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Dan tidak terasa adzan Isya telah berkumandang, maka berakhirlah sesi tarbiyah untuk anak-anaknya pada malam hari itu. Shalat Isya berjamaah segera didirikan, dan anak-anak sudah mendapatkan pengajaran dan pertumbuhan rohani di dalam rumahnya sendiri.

Setelah usai shalat Isya berjamaah, keluarga tersebut langsung ke meja untuk santap malam, mereka makan, dan akhirnya mereka siap untuk beristirahat sampai fajar menjelang.

Shalat Shubuh juga demikian. Sang ayah / datuk / paman akan membangunkan anak-anak dan anggota lainnya untuk shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absent, semua dibangunkan dari tidurnya. Setiap hari berlangsung demikian, maka kukuhlah anak-anak di dalam disiplin dan keteguhan shalat.

Demikian agenda anak-anak dan keluarga Muslim setiap hari sehingga tumbuhlah anak-anak itu di dalam persemaian rohani yang kukuh dari keluarganya sendiri. Itu semua karena shalat berjamaah di rumah.

Tarbiyah keluarga adalah level atomik terhadap kesalehan umat.

Shalat berjamaah di rumah adalah tombol pertama untuk menimbulkan kesalehan tingkat keluarga, tingkat atomik, yang tidak dapat dihindari, merupakan cikal-bakal kesalehan umat secara keseluruhan.

Mudah sekali untuk direnungkan, ketika shalat berjamaah ditunaikan di rumah, maka seluruh keluarga akan mengikuti seremoni tersebut dengan penuh hikmat dan khusyuk, dan itu berarti seluruh keluarga terhindar dari fitnah kota, khususnya di malam hari, dengan cara bermunajat kepada Illahi dan berbuat tindakan yang benar untuk kesejahteraan hati dan jiwa: mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Ketika sang ayah shalat berjamaah di rumah, maka dekat sekali sang ayah kala itu kepada anak-anaknya untuk dapat memperhatikan rona-wajah anak-anak, memperhatikan kesehatannya, mencermati penerimaan sang anak atas pelajaran sekolah, kemajuannya di dalam menghafal surah dan Alhadis, dsb. Dekat sekali, intim sekali ……….

Kesalehan tingkat atomik dengan demikian telah terwujud, maka hal berikutnya akan terwujudlah kesalehan tingkat yang lebih luas, yaitu kesalehan yang menggelora pada tingkat Kerajaan Allah Swt di muka bumi ini. Adalah mustahil mendapatkan kesalehan pada tingkat sosial yang lebih luas, sementara kesalehan tingkat atomik yaitu tingkat keluarga hancur-lebur, ditolak dan dikesampingkan. Kalau kesalehan tingkat atomik telah tercapai, maka otomatis kesalehan tingkat sosial yang lebih luas, tercipta.

Karakteristik shalat Maghrib.

Pada dasarnya, setiap shalat fardu terdari empat rakaat. Namun dari kelima shalat fardu, hanya Isya, Zuhur dan Ashar yang mempunyai empat rakaat. Selebihnya, yaitu shalat Shubuh dan shalat Maghrib, tidak mempunyai empat rakaat sebagaimana yang seharusnya. Apakah tidak harus ada penjelasan mengapa kedua shalat fardu tersebut, yaitu shalat Shubuh dan shalat Maghrib, tidak mempunyai empat rakaat? Kemana perginya-kah rakaat lainnya itu, sehingga hanya menjadi tiga dan dua rakaat?

Sama kita ketahui bahwa shalat Zuhur mempunyai empat rakaat. Ketika di hari Jumat, shalat Zuhur berubah menjadi dua rakaat saja, sementara dua rakaat yang lainnya dikonversi menjadi khotbah Jumat. Oleh karena itu berkhotbah dan mendengar khotbah Jumat sebenarnya merupakan dua rakaat milik shalat Zuhur tersebut, dan setiap jemaah shalat Jumat haruslah turut dan tetap mendengar khotbah tersebut, karena khotbah tersebut merupakan bagian dari shalat Jumat. Kalau seorang jemaah tidak mendengar khotbah Jumat, maka gugurlah shalat Zuhur-nya di hari Jumat tersebut.

Sama kita ketahui bahwa shalat Dhuha, jamaknya, seharusnya, adalah empat rakaat dengan dua salam. Pada shalat Idul Fitri mau pun Idul Adha, shalat Dhuha tersebut hanya ditunaikan sebanyak dua rakaat, karena dua rakaat lainnya telah Allah Swt konversi menjadi khotbah Ied. Dengan kata lain, khotbah Ied merupakan bagian integral dari shalat Dhuha yang ditunaikan pada hari raya tersebut, baik Idul Fitri mau pun Idul Adha.

Allah Swt telah memberi penjelasan mengenai ingredient shalat Jumat (dua rakaat pertama di dalam bentuk shalat, dan dua rakaat lainnya di dalam bentuk khotbah) dan khotbah shalat Ied kepada umat, untuk dapat menerangkan mengapa shalat Maghrib dan shalat Shubuh tidak mempunyai empat rakaat, melainkan tiga dan dua rakaat.

Pada shalat Maghrib, satu rakaat-nya telah Allah Swt konversi menjadi moment tarbiyah keluarga, yaitu dikonversi menjadi aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb. Demikian juga dengan shalat Shubuh, dua rakaatnya telah Allah Swt konversi menjadi moment tarbiyah, di mana salah satunya adalah komitmen untuk bangkit dari tidur, kemudian disempurnakan dengan mengaji Alquran dan dzikir. Subhanallah!

Artinya, kalau shalat Maghrib yang tiga rakaat tidak disandingkan dengan tarbiyah keluarga, maka seutuhnya shalat Maghrib tersebut tidaklah paripurna di mata para MalaikatNya. Demikian juga dengan shalat Shubuh.

Demikianlah Allah Swt telah menerangkan kepada umat Muslim tentang hakikat rakaat shalat dengan menggunakan cara-cara para Malaikat ketika menerangkannya kepada Allah Swt.

Penutup.

Muhammad Saw hanya mengajarkan umatnya untuk shalat di rumah supaya para ayah menjadi Imam shalat berjamaah atas anak dan keluarganya, sesuai dengan titahnya, bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, dan kelak kepemimpinannya harus ia pertanggungjawabkan kepada Allah Swt di Hari Penghakiman kelak.

Selebihnya, shalat berjamaah di rumah mempunyai begitu banyak rahasia keagungan dan kesalehan yang akan tertebar merata atas keseluruhan orang yang beriman, dan kesalehan tersebut kelak akan menjadi gelombang yang akan menghempaskan fitnah dunia tanpa kenal garis perbatasan Negeri dan Pemerintahan.

Selama ini umat mentradisikan shalat di Masjid, dan hasilnya terlihat jelas, di mana anak-anak manusia menjadi terkatung-katung di sepanjang jalan kampung berhamburan di tengah huru-hara dunia, dan setiap anak manusia menjadi tidak dapat dihadirkan di dalam seremoni kesalehan keluarga, yang merupakan cikal-bakal kesalehan umat keseluruhan. Ketika seorang ayah shalat di Masjid, maka anak-anak memeriahkan kekacauan duniawi di Pusat keramaian, khususnya di malam hari, dan ketika mereka pulang ke rumah, mereka membawa kehancuran yang mereka dapat dari Pusat keramaian tersebut ke rumah masing-masing.

Tidak dapat dihindari untuk diungkapkan, bahwa tradisi shalat di Masjid memberi kontribusi signifikan atas meriahnya kekacauan duniawi di Pusat keramaian, tempat di mana anak-anak manusia terhambur-hambur di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, makan permen karet, tawuran, godain cewek, main raket, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Artinya, kalau kekacauan dan kesia-siaan duniawi tersebut ingin ditumpas habis, maka satu-satunya jalan adalah mentradisikan shalat di rumah berjamaah atas anak dan keluarganya.

Dan kalau kekacauan bin kesia-siaan duniawi harus tumbuh subur, maka satu-satunya cara mewujudkannya adalah dengan membiarkan para ayah shalat di Masjid sehingga meninggalkan anak dan keluarganya di rumah untuk kemudian berserakan di pelataran dunia di dalam kesia-siaan fitnah kota.

Inilah maksud Nabawi, inilah maksud Illahiah, dengan shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Inilah makna doa yang tertera di dalam Alquran mengenai keluarga Muslim yang penuh dengan agenda shalat berjamaah di rumah di mana sang ayah merupakan Imam shalat berjamaah,

QS Furqaan 74: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Shalat berjamaah di Masjid merupakan lawan dari shalat berjamaah di rumah, dan akibat dari kedua frame tersebut juga saling berlawanan, untuk menghemat kata.

Alangkah patut untuk direnungkan, bahwa tarbiyah keluarga adalah sarapan pagi bagi rohani anak-anak, sementara tarbiyah keluarga itu telah Allah Swt setting pada jadwal shalat Maghrib menuju Isya.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.

Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah

sujudMuhammad Saw telah menitahkan melalui beberapa Alhadis yang termahsyur, bahwa shalat di Masjid Al-haram mengandung pahala sebanyak 100.000, shalat di Masjid Nabawi mengandung pahala sebanyak 10.000, dan shalat di Masjid Al-aqsa mengandung pahala sebanyak 1000. Ini artinya shalat di Masjid selain ketiga Masjid tersebut tidak mengandung keistimewaan seperti halnya shalat di ketiga Masjid suci ini.

Hal ini diperkuat oleh satu Alhadis yang juga termahsyur yaitu, “Aku mengutamakan perjalanan ke tiga Masjid ini, yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-aqsa”. Alhadis ini menyiratkan makna, bahwa melangkahkan kaki ke Masjid selain ketiga Masjid suci tersebut bukanlah suatu keutamaan. Oleh karena itu patut dipertimbangkan nilai keutamaan untuk shalat di rumah. Penting sekali untuk juga diingat berkenaan dengan kedua Alhadis ini, bahwa Muhammad Saw telah bertitah, “terangilah rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran”. Makna dari Alhadis ini adalah, bahwa penting sekali bagi setiap umat untuk menunaikan shalat di rumah, sebisa mungkin.

Jangan berpantang untuk shalat di rumah, untuk menjadi Imam atas anak dan seluruh keluarga, itulah makna terpenting dari ketiga Alhadis di atas. Bahkan banyak Alhadis yang menyiratkan, bahwa Muhammad Saw dan para sahabat pun tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah. Maka dari itu merupakan suatu ketergesa-gesaan kalau ada individu yang berpantang untuk shalat di rumah, sembari selalu mementingkan untuk melangkahkan kaki ke Masjid untuk menunaikan shalat berjamaah di sana, yang mana ini berarti individu tersebut tidak pernah atau bahkan menolak untuk shalat di rumah.

Muhammad Saw telah bertitah melalui beberapa Alhadis-nya, bahwa sebaiknya setiap umat berteguh untuk shalat di rumah, kalau umat tersebut berada jauh dari jangkauan KETIGA MESJID ALHARAM. Pada sisi yang lain, umat Muslim harus mencermati risalah kenabian tersebut, karena justru umat akan dihadiahi hikmat yang begitu Agung melalui ritus shalat berjamaah di rumah.

Di bawah ini akan dipaparkan beberapa hikmat Agung dari menunaikan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga.

Hikmah shalat di rumah bukan di Masjid,

Pertama. Salat di rumah, maka kampung menjadi sepi karena semua keluarga sedang shalat di rumah masing-masing, karena ayah (atau paman / datuk) shalat di rumah menjadi Imam. Memang sepatutnya demikian karena Muslim merupakan mayoritas di setiap kampung di bumi Allah Swt ini, maka logikanya adalah di saat jam shalat (shalat Maghrib, Isya atau Shubuh wabil khusus) kampung dan tempat tinggal mereka menjadi lengang karena seluruh anak-anak dan remaja sedang menunaikan shalat berjamaah di rumah masing-masing.

Shalat di Masjid: kampung akan tetap ramai dengan hiruk-pikuk keduniawin karena anak-anak dan remaja bukannya shalat berjamaah di rumah masing-masing dengan ayah / datuk / paman sebagai Imam, melainkan tumpah-ruah berhamburan di sepanjang jalan pada jam-jam shalat karena ayah (paman / datuk) mereka justru shalat di Masjid. Kebanyakan kampung di bumi Allah Swt ini adalah mayoritas Muslim, namun gaya hidup mereka tidak mencerminkan umat Muslim, karena asyik bermain kejar-kejaran di sepanjang jalan tidak karu-karuan, pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, shopping, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb.

Dua. Shalat di rumah: lantunan ayat suci terdengar dari setiap rumah di dalam suasana hening karena pada setiap rumah terdapat satu Imam yang sedang memimpin shalat berjamaah. Setiap ayah (atau paman / datuk) yang shalat dan menjadi Imam di rumah, pasti akan melantunkan ayat suci di dalam shalatnya, sementara makmum (yaitu anak dan keluarganya) mengikutinya di dalam keheningan. Dan di luar rumah pun terjadi keheningan karena seluruh anak sedang berada di dalam rumahnya sedang shalat berjamaah. Akibatnya di seantero kampung itu kala jam shalat (seperti Maghrib, Isya dan Shubuh) dilanda keheningan, tidak ada yang terdengar kecuali lantunan ayat suci saling bersahut-sahutan dari rumah-rumah keluarga Muslim. Inilah suasana hening penuh hikmat kesalehan.

Shalat di mesjid: lantunan ayat suci hanya terdengar dari Masjid dari sang Imam besar, itu pun tidak ada yang mendengar karena seantero kampung tetap hiruk-pikuk karena tidak ada yang shalat di rumah, pun anak-anak tetap asyik bermain kejar-kejaran di sepanjang jalan tidak karu-karuan, pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, shopping, nonton konser murahan, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb. Pendek kata, lantunan ayat-suci yang dibacakan di dalam Masjid oleh Imam Masjid hanya didengar oleh makmum Masjid tersebut, tidak mungkin anak-anak dan para remaja yang asyik berhamburan di sepanjang jalan di luar Masjid turut menyimak. Inilah kehidupan yang jauh dari kesalehan, melainkan kehidupan yang penuh dengan huru-hara yang menyesakkan dada.

Tiga. Shalat di rumah: pendidikan Iman dan spiritual anak dan keluarga terjamin karena diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk) sendiri di rumah. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absen. Dan ini artinya telah terjadi pemupukan dan penguatan ruh keagamaan dan kesalehan secara fundamental terhadap jiwa dan mentalitas sang anak.

Shalat di mesjid: pendidikan iman dan spiritual keluarga terkendala karena tidak ada shalat berjamaah di rumah karena ayah (atau paman / datuk) malah shalat di Masjid sehingga nasib kesalehan anak-anak dan anggota keluarga lainnya tidak ada yang memperhatikan, terkatung-katung tidak menentu. Mereka anak-anak dan keluarga jadi tidak pernah menikmati suasana keagamaan di rumah, karena tidak pernah dilibatkan di dalam kesalehan beribadah. Singkat kata, tradisi shalat di Masjid yang dikembangkan dewasa ini mengakibatkan perkembangan rohani kesalehan dan mentalitas imtaq di kalangan anak-anak dan remaja menjadi terhambat dan terpuruk.

Empat. Shalat di rumah: yang menjadi Imam shalat adalah semua anggota keluarga sehingga setiap anak tercambuk untuk hafal surah-surah Alquran karena kelak harus menjadi Imam, dengan demikian ada kaderisasi dan regenerasi Imam. Point ini jadi kontribusi tersendiri bagi lahirnya generasi yang hafal surah Alquran secara maksimal, karena dengan terus shalat berjamaah di rumah (karena sang ayah (atau paman / datuk) selalu menjadi Imam shalat berjamaah) maka anak-anak yang saat itu menjadi makmun akan tertantang dan terinspirasi untuk menjadi Imam kelak saat mereka sudah besar. Itu artinya mereka sejak dini harus hafal surah-surah Alquran, dan ini artinya merupakan landasan untuk membumikan kecenderungan hafal surah-surah Alquran.

Shalat di mesjid: yang hafal ayat-suci hanya para Imam Masjid atau segelintir orang, Muslim lain (di dalam hal ini ayah atau paman / datuk) tidak tercambuk untuk hafal surah Alquran karena mereka tidak akan menjadi Imam. Setiap laki-laki yang shalat di Masjid, tidak akan pernah mempunyai tantangan dan tanggungjawab untuk hafal surah Alquran, karena keperluan mereka akan hal itu untuk shalat sudah dipenuhi oleh Imam Masjid. Mereka para laki-laki yang shalat di Masjid hanya tinggal datang ke Masjid, kemudian ikut shalat berjamaah, kemudian diam saja mendengarkan Imam melantunkan ayat suci, kemudian hanya berkata “Aamiin …….!”, setelah itu selesai, dan kemudian pulang ke rumah. Kalau begini keadaannya buat apa susah-susah berusaha untuk hafal surah Alquran? Dan background ini mengakibatkan tidak ada satu jamaah pun yang tergerak untuk hafal surah Alquran.

Apakah mereka, laki-laki atau para ayah yang selalu shalat dan menjadi makmum di Masjid, merupakan individu-individu yang banyak hafalan surah Alqurannya? Tidaklah demikian. Atau, apakah mereka mempunyai kecenderungan untuk hafal lebih banyak surah Alquran? Tidaklah demikian. Bagi mereka, laki-laki atau para ayah yang selalu shalat berjamaah dan menjadi makmum di Masjid, shalat berjamaah di Masjid adalah sudah teramat baik, jadi tidak perlu lagi menghafal lebih banyak surah Alquran. Akibat dan kerugian yang akan diderita umat Muslim kalau shalat di Masjid adalah, bahwa menghafal lebih banyak surah Alquran bukan prestasi taqwa.

Lima. Shalat di rumah: pembentukan Generasi Shalat Minded terjamin.

Sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam. Sebenarnya tidaklah demikian. Shalat sebenarnya bukanlah perintah, melainkan PEMBIASAAN. Kalau seorang anak sejak kecil sudah dibiasakan shalat berjamaah secara terus menerus, maka sampai kapan pun sang anak akan tetap shalat meski dilempar ke Negeri yang jauh sekali pun. Dan pembiasaan shalat ini hanya dapat dipastikan melalui tradisi shalat berjamaah di rumah, di mana sang ayah (paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak-anak dan keluarga secara simultan dan kontinyu. Membangun kebiasaan dan pembiasaan shalat yang berujung pada shalat-minded tidak bisa diupayakan hanya di dalam waktu satu minggu atau satu tahun, atau melalui ceramah sedahsyat apapun, melainkan butuh waktu bertahun-tahun di dalam frame shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk), mulai dari sang anak berusia belia hingga remaja dengan cara terus dilibatkan di dalam shalat berjamaah di dalam rentang waktu sekian lama.

Singkat kata, suatu frame di mana seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya akan memastikan bahwa kelak sang anak akan menjadi bagian di dalam Generasi Shalat Minded. Kalau dibalik: cara melahirkan Generasi Shalat Minded, atau cara supaya sang anak kelak akan tetap kukuh menunaikan shalat hanyalah dengan melalui frame shalat di rumah yaitu sang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya.

Shalat di mesjid: pembentukan GSM terkendala.

Saat seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di Masjid, maka pada saat yang bersamaan, di rumah, sang anak dan seluruh keluarganya sedang asyik menyia-nyiakan waktu shalat dengan kesenangan duniawi. Bagaimana mungkin anak-anak di dalam suatu keluarga Muslim selalu terlibat di dalam kesempatan shalat berjamaah kalau sang ayah (atau paman / datuk) shalat di Masjid? Dan waktu yang berharga untuk membangun pembiasaan shalat bagi anak-anak terbuang dan tergusur karena di satu pihak ayah (atau paman / datuk) shalat di Masjid, sementara di pihak lain anak-anak pun akibatnya jadi asyik sibuk berhamburan di sepanjang jalan pada jam-jam shalat. Dengan keadaan seperti ini, tidak pernah terjadi pembiasaan shalat atas anak-anak dan keluarga, karena justru mereka dibiasakan berhamburan di jalan-jalan kampung untuk menikmati kesenangan duniawi di dalam kesia-siaan. Kalau sejak kecil tidak diadakan pembiasaan shalat, maka bagaimana kelak mereka akan terbiasa untuk shalat?

Outputnya jelas: di kemudian hari sang anak akan menjadi generasi yang berpantang shalat, mereka bukan bagian dari Generasi Shalat Minded. Mereka bukanlah umat Allah Swt.

Kecil sekali kemungkinannya seorang anak di kala dewasa akan tetap teguh menunaikan shalat di mana pun ia berada – kalau semasa kecilnya ia tidak menerima pembiasaan shalat dari keluarganya; dan pembiasaan shalat yang paling mungkin dan alami di sini adalah pembiasaan shalat melalui frame shalat berjamaah di rumah secara rutin yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk). Oleh karena itu seorang ayah (atau paman / datuk) yang selalu shalat di Masjid akan berparalel dengan jauhnya generasi muda (yaitu anak-anak mereka) dari shalat minded. Itu merupakan kerugian terbesar yang akan diderita seorang ayah (atau paman / datuk) di kemudian hari.

Enam. Shalat di rumah: Muhammad Saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluargamu …..”. Maka dari itu setiap ayah (atau paman / datuk) harus shalat di rumah supaya dapat menjadi Imam pemimpin shalat atas anak dan keluarga. Alhadis ini tidak dapat diartikan lain, kecuali setiap ayah (atau paman / datuk) harus shalat di rumah. Bagaimana seorang ayah (atau paman / datuk) dapat menunaikan amanat Alhadis tersebut yaitu menjadi Imam shalat atas keluarganya kalau ia selalu shalat di Masjid? Mutlak sekali, bahwa tafsir dan interpretasi dari Alhadis tersebut adalah bahwa setiap ayah (atau paman / datuk) harus shalat di rumah, karena dengan demikian setiap anak, setiap wanita, setiap remaja akan terpimpin juga untuk shalat di rumah karena mereka harus menerima dan tunduk pada Imamnya ayah (atau paman / datuk) mereka di rumah-rumah keluarga Muslim.

Shalat di mesjid: tidak ada landasannya. Banyak ayah (atau paman / datuk) yang berupaya untuk shalat di Masjid dengan pertimbangan beberapa Alhadis, misalnya Alhadis yang menyatakan bahwa Muhammad Saw akan membakar rumah umat yang enggan shalat di Masjid. Ketahuilah bahwa implementasi Alhadis tersebut hanya terbatas pada kota tiga Masjid suci, yaitu Mekah, Madinah dan Yerusalem. Di luar ketiga kota tersebut maka Alhadis mengenai pentingnya shalat di Masjid Suci (yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa) tidak berlaku, kebalikannya yang berlaku adalah Alhadis lain dari Baginda Muhammad Saw yaitu “Aku mementingkan perjalanan ketiga tempat ini, yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa …..”.

Ayah (atau paman / datuk) yang lainnya selalu mengupayakan shalat di Masjid dengan mendasarkan fikiran mereka pada ajaran bahwa Masjid dan shalat di Masjid merupakan poros kesalehan dan kedekatan umat kepada Allah Swt. Ketahuilah, bahwa kesalehan itu sendiri pasti berarti patuh pada pesan dan amanat Muhammad Saw. Dan amanat Muhammad Saw di sini adalah bahwa setiap ayah (atau paman / datuk) haruslah shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak-anak dan keluarganya.

Singkat kata, tidak ada landasan baik secara aqli mau pun naqli bagi setiap ayah (atau paman / datuk) untuk shalat di Masjid, selebihnya seluruh umat mempunyai alasan dan landasan logika kuat untuk selalu shalat di rumah, demi menjalankan amanah Muhammad Saw.

Muhammad Saw bertitah, “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu”, namun di lain pihak seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di Masjid. Ini berarti setiap laki-laki (atau ayah atau paman / datuk) bukanlah seorang pemimpin atas anak-anak dan keluarganya – seperti yang dititahkan Muhammad Saw; ini berarti setiap laki-laki adalah makmum. Maka jelaslah bahwa tradisi shalat di Masjid yang sementara ini terus dilakukan para lelaki atau ayah (atau paman / datuk) sehingga dengan tradisi ini para ayah (atau paman / datuk) tidak pernah menjadi Imam atas anak dan keluarganya – merupakan bentuk penyimpangan atas ajaran Rasul Muhammad Saw. Tidak pernah Muhammad Saw bertitah bahwa setiap laki-laki adalah dipimpin oleh laki-laki lainnya, maka mengapa seluruh pria mentradisikan untuk selalu diimamkan oleh laki-laki lainnya di suatu tempat dan bukannya memimpin anak dan keluarga di rumahnya sendiri?

Tujuh. Shalat di rumah: dengan tetapnya seorang ayah (atau paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya maka akan tercipta rumus: “bapak saleh, anak pun jadi saleh”. Hal ini dikarenakan di mana kalau ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah menjadi Imam shalat atas seluruh anak dan keluarganya secara terus-menerus, akan mengakibatkan anak-anak dan keluarganya ikut menjadi saleh. Dengan kata lain, kesalehan yang ada pada diri seorang ayah (atau paman / datuk) akan otomatis turun kepada anak dan keluarganya melalui kegiatan shalat berjamaah di rumah yang mereka imamkan setiap hari sepanjang tahun.

Kesalehan yang bersemi pada diri anak-anak dan keluarga dapat terwujud karena selalu shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk) tersebut adalah terjadi karena tiga hal:

  1. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah. Dengan shalat di rumah, ayah (atau paman / datuk) akan memastikan bahwa anak-anak dan keluarganya harus ikut shalat, harus berada di belakangnya sebagai makmum untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah, tidak boleh ada yang absent apapun alasannya, yang tujuannya adalah untuk beraktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.
  2. Dengan anak-anak dan keluarga terus shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk), maka alokasi waktu yang biasa dilewatkan anak-anak untuk berhamburan dan berceceran di luar rumah di sepanjang jalan kampung TERGANTIKAN dengan duduk khusyuk di belakang Imam yang adalah ayah (atau paman / datuk) mereka sendiri. Ini artinya telah menTIADAkan waktu untuk dihabiskan anak-anak dan keluarga di dalam kesia-siaan duniawi yaitu berkeliaran di luar rumah sepanjang jalan kampung di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, nonton konser murahan, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Kebalikannya, waktu yang dimiliki anak-anak dan keluarga akan digunakan untuk shalat berjamaah di rumah masing-masing dengan ayah (atau paman / datuk) sebagai Imam.
  3. Dengan ayah (atau paman / datuk) terus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak-anak dan keluarganya, maka itu berarti sang ayah terkondisikan untuk terus memperhatikan dan melakukan kontrol perkembangan rohani, jiwa, penerimaan dan intelektualitas sang anak dan keluarganya terhadap bibit iman dan taqwa, dan memang itulah tugas utama sang ayah (atau paman / datuk). Dengan ayah shalat berjamaah di rumah, setiap anak jadi merasa bahwa mereka diperhatikan oleh ayah mereka secara lebih intim dan terus-menerus.

Di siang hari sang anak dan keluarga telah bermain dengan kawan-kawan mereka di sekolah, taman kampung, pasar, di kampus, dan tanah lapang. Cukuplah hal itu merupakan waktu mereka untuk bersosialisasi dan bermain di luar rumah di kala siang. Dan ketika senja dan malam menjelang, bermain di luar rumah sudah berakhir, dan itulah saatnya mereka membangun karakter keagamaan dan rohani melalui shalat berjamaah di rumah dengan sang ayah (atau paman / datuk) menjadi Imam.

Pembangunan kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga: pembangunan rohani dan kesalehan akan mengguyur semua individu di dalam keluarga dan perkampungan Muslim tanpa kecuali, karena teknisnya adalah setiap ayah (atau paman / datuk) akan menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya, ini berarti shalat berjamaah tersebut akan melibatkan seluruh unsur yang ada di dalam kampung Muslim. Tidak akan ada satu anak pun, satu individu pun, yang lolos dan luput dari aktivitas pembangunan rohani ini, karena setiap mereka adalah anggota keluarga yang, akan dipanggil oleh ayah (atau paman / datuk) untuk ikut shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absen satu pun, untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Teramat besar kemungkinannya bahwa setiap anak yang terus shalat berjamaah di rumahnya akan menjadi saleh di kemudian hari seperti salehnya sang ayah (atau paman / datuk), karena shalat berjamaah yang terus diselenggarakan di dalam keluarga mempunyai kekuatan dan wewenang kuat untuk menyentuh dan menundukkan jiwa dan spiritualitas setiap anak sejak kecil.

Shalat di Masjid: bagaimana mungkin anak-anak di dalam suatu keluarga dapat menjadi saleh di saat dewasa, sementara anak-anak tersebut dibiarkan terus berkeliaran di luar rumah di sepanjang jalan kampung tidak memperdulikan masuknya waktu shalat khususnya Maghrib, Isya dan Shubuh? Mereka terus asyik bermain dengan kawan-kawannya malah pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, shopping, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dan itu bukanlah ciri-ciri umat Muslim, melainkan ciri-ciri umat di dalam kekafiran dan kerugian. Dan hal tersebut terjadi karena ayah mereka berketerusan shalat di Masjid, yang mana itu berarti sang ayah (atau paman / datuk) tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan pertum-buhan rohani sang anak, tidak memperdulikan siklus shalat sang anak dan keluarga. Dengan ayah shalat di Masjid, berarti mereka tidak memanfaatkan kesempatan dan peluang untuk menjadikan anak-anak mereka sebagai manusia saleh saat dewasa kelak.

Delapan. Shalat di rumah: kalau setiap ayah (paman / datuk) selalu shalat di rumah maka kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga. Ini artinya pembangunan rohani dan kesalehan seutuhnya merupakan wewenang dan inisiatif sang ayah (paman / datuk) atas seluruh anak dan keluarganya, dan memang demikianlah seharusnya. Ayah, biar bagaimana pun adalah manusia yang paling bertanggungjawab atas perkembangan rohani dan kesalehan seluruh keluarganya, tidak bisa tidak. Itulah sebabnya Muhammad Saw menitahkan bahwa seluruh laki-laki wabil khususnya ayah (paman / datuk) harus senantiasa shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya (selama mereka berdomisili jauh dari lokasi Masjid Al-haram, Nabawi dan Masjid Aqsa).

Shalat di mesjid: kalau setiap ayah selalu shalat di Masjid maka pembangunan rohani dan kehidupan beragama adalah berbasis Masjid (atau rumah ibadah), tak ubahnya seperti kaum kafir atau jahiliyah. Di Dunia ini kita melihat pembangunan rohani umat Katholik berbasis di Gereja, di mana tugas dan wewenang untuk memimpin peribadatan seluruh jemaat berada di tangan pendeta Gereja. Sungguh setiap ayah di dalam lingkungan umat nonmuslim tidak mempunyai wewenang mau pun tanggungjawab untuk membina kebangunan rohani dan kehidupan beragama khususnya keluarganya sendiri. Jangankan membangun / membina rohani dan kehidupan beragama anak dan keluarganya, bahkan pemantapan iman dan rohani diri setiap ayah (paman / datuk) pun juga hanya boleh dikelola oleh staf pendeta di rumah ibadat. Dengan kata lain, setiap ayah dan juga anak dan seluruh keluarga tidak mempunyai hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan di dalam bermunajat kepada Tuhan, karena hak dan wewenang tersebut merupakan hak eksklusif para staf pendeta di rumah ibadat.

Islam tidaklah demikian, Islam mengajarkan bahwa hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan merupakan tugas dan tanggungjawab setiap ayah (paman / datuk), karena memang demikianlah logikanya: ayah yang melahirkan dan memberi makan anak dan keluarganya, maka ayah (paman / datuk) jugalah yang paling bertanggungjawab di dalam pembinaan rohani dan iman anak dan keluarganya, tidak bisa ditawar lagi dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Bagaimana mungkin Islam mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani dan iman seluruh keluarga diserahkan kepada staf rumah ibadat (yaitu Imam Masjid, sebagaimana halnya staf pendeta di Gereja), sementara staf rumah ibadat tersebut tidak mempunyai hubungan darah dan kasihsayang atas mereka (anak dan seluruh keluarga)?

Penting untuk diketahui, bahwa pada umat nonmusiim yang bersistem pembangunan rohani berporos rumah ibadat, telah menjadikan setiap ayah, paman, datuk, anak dan seluruh keluarga tidak mempunyai derajat kesalehan di dalam beragama. Karena lebih tepatnya lagi, derajat kesalehan hanya dimiliki staf rumah ibadat yang jumlahnya hanya segelintir di tengah mereka. Ini menyedihkan. Maka kemudian apakah umat Muslim di seluruh Dunia juga mempunyai takdir yang harus sedemikian sama, dengan cara bahwa hak dan wewenang untuk menyelenggarakan ritus ibadah terletak pada staf rumah ibadat, dalam hal ini Imam Masjid? Ingatlah bahwa Muhammad Saw pun melarang umatnya ber-tasyabuh, yaitu mempersamakan diri dengan kaum kafir di dalam cara dan berfikir, dan bertasyabuh merupakan dosa di sisi Allah Swt.

Dampaknya jelas: umat nonmuslim yang mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani keluarga merupakan wewenang rumah ibadat – melahirkan kesenjangan dan kemiskinan rohani di tengah umat secara akar-rumput, belum lagi ditambah sekuleritas yang menggejala pada masyarakat mereka, masyarakat nonmuslim. Hal seperti ini harus dijauhkan umat Muslim universal, caranya adalah dengan mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani keluarga merupakan hak dan wewenang penuh atas ayah (paman / datuk) masing-masing.

Sembilan. Shalat di rumah: karena para ayah / suami harus menjadi Imam shalat di rumah maka sejak kecil mereka sudah dipersiapkan untuk hafal Alquran. Ini merupakan siklus kebaikan yang akan terwujud di dalam keluarga Muslim kalau mentradisikan shalat berjamaah di rumah dengan ayah (paman / datuk) sebagai Imam. Seorang ayah, ketika ia kecil selalu shalat berjamaah di rumah dengan diimamkan datuknya. Ayah yang masih kecil ini terpacu untuk hafal surah karena kelak ia juga akan harus berperan sebagaimana yang ditunjukkan datuknya. Ini merupakan dinamika Illahiyah yang luar-biasa yang akan memunculkan tahfiz-tahfiz pada usia remaja. Hikmah mentradisikan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan seluruh keluarga menjadi kenyataan dan semakin jelas.

Dengan kata lain, tradisi shalat di rumah di mana para ayah menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya, memunculkan tongkat estafet untuk generasi mendatang, yaitu mengakibatkan anak-anak yang menjadi makmum kala itu akan terpacu juga untuk hafal surah Alquran karena kelak mereka akan menjadi Imam juga atas anak-anak mereka di kemudian hari. Tongkat estafet keimaman dan tahfiz Alquran merupakan kata kunci di sini.

Karena tugas menjadi Imam merupakan tugas seluruh lelaki (karena kelak mereka akan menjadi suami / ayah / paman / datuk) maka tugas keimaman menjadi rata di tengah umat, dan akibatnya semua orang (harus) hafal surah Alquran: inilah moment kemunculan tahfiz publik, yaitu tahfiz yang membumi sampai ke akar-rumput.

Shalat di mesjid: menjadi tahfiz Alquran hanya untuk kalangan tertentu alias segmented, dan hal ini merupakan bentuk penolakan terhadap rahmat Allah Swt. Dengan mentradisikan shalat di Masjid, setiap ayah tidak mempunyai cambuk dan motivasi untuk hafal surah Alquran, karena mereka tidak akan pernah di-rolling-kan untuk menjadi Imam pada saat yang lain. Akibatnya target menghafal surah Alquran hanya bergulir di kalangan tertentu. Pada kenyataannya banyak para ayah (paman / datuk) yang sama sekali tidak hafal banyak surah Alquran, karena sejak kecil mereka tidak melihat senior mereka shalat di rumah menjadi Imam shalat, dan itu akibatnya para ayah (paman / datuk) tersebut tidak mempunyai tongkat estafet untuk menghafal surah Alquran.

Karena tugas menjadi Imam adalah segmented yaitu hanya untuk kalangan staf dan Imam Masjid maka tidak semua orang hafal Alquran, bahkan sedikit. Kalau tugas menjadi Imam hanya berkisar pada Imam Masjid, berarti setiap ayah tidak perlu mempunyai motivasi untuk hafal surah Alquran. Dengan mentradisikan shalat di Masjid, umat tidak akan menemukan moment kemunculan tahfiz publik, karena tradisi ini hanya melahirkan tahfiz yang segmented, yaitu khususnya dari kalangan pesantren dan sejenisnya.

Sepuluh. Shalat di rumah merupakan sumbu / poros dari sistem tahfiz publik yang melahirkan mekanisme pemurnian Alquran. Kemurnian Alquran, pada sejarahnya, terpelihara karena adanya tahfiz publik, yang mana tahfiz publik hanya akan terwujud jika seluruh ayah (paman / datuk) shalat di rumah menjadi Imam atas seluruh keluarganya. Dengan adanya mekanisme yang melahirkan tahfiz publik, keutuhan dan kemurnian Alquran terjaga, karena setiap individu hafal Alquran.

Jika di dalam 1000 orang hanya dua orang yang hafal Alquran, besar kemungkinan kedua orang ini akan mengubah-ubah ayat Alquran sesuka hati mereka, karena toh 998 individu lainnya tidak mengetahui konfigurasi ayat-ayat Alquran yang sebenarnya. Namun kalau ke-1000 individu tersebut hafal Alquran, maka tidak mungkin satu individu dapat leluasa mengubah satu ayat Alquran karena 999 yang lainnya sama-sama mengetahui konfigurasi surah dan ayat Alquran. Satu orang merupakan penjaga kemurnian ayat yang dilantunkan orang lainnya, begitulah seterusnya – karena mereka sama-sama hafal ayat Alquran. Itulah mekanisme pemurnian Alquran yang terjadi secara alami dan matematis!

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa kemurnian Alquran dapat terjaga karena adanya tradisi shalat di rumah di mana para ayah menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya, yang kelak hal ini akan mengakibatkan seluruh laki-laki termotivasi untuk hafal seluruh surah Alquran (karena mereka harus menjadi Imam keluarga di rumah mereka sendiri), demikian juga anak-anak yang satu masa menjadi makmum di rumah, akan juga termotivasi untuk hafal surah Alquran karena kelak mereka akan berperan sebagai Imam di dalam kehidupan mereka mendatang. Maka meratalah, maka membumilah gelora menghafal surah Alquran! Ingatlah, lebih banyak orang yang hafal Alquran, maka lebih banyak manusia yang menjadi penjaga kemurnian Alquran.

Ketahuilah, bahwa tradisi shalat di rumah bagi ayah (paman / datuk) untuk menjadi Imam atas anak-anak dan seluruh keluarganya – pada skala mikro – merupakan sistem yang akan melahirkan tahfiz publik – pada skala makro yang berimbas pada pemurnian Alquran.

Shalat di mesjid: sejarah menunjukkan bahwa kitab-kitab suci pra-Alquran (Perjanjian-lama dan Perjanjian-baru dsb) berhasil dipalsukan karena kehidupan dan ritus agama berbasis rumah-ibadat sehingga kitabsuci menjadi monopoli kaum biarawan. Definisi monopoli di sini adalah, bahwa memiliki, memegang, merawat, membaca dan menghafal kitabsuci merupakan hak istimewa para biarawan, selebihnya umat awam tidak diperkenankan untuk memiliki, memegang, membaca dan menghafal kitabsuci, hal mana semangat ini lahir dari kepercayaan bahwa suatu kitabsuci adalah suci, oleh karena itu kitabsuci hanya boleh dipegang dan disentuh oleh manusia suci, dan manusia suci di sini pastilah berarti para biarawan, sementara umat awam tidak termasuk suci, oleh karena itu umat awam tidak diperkenankan memiliki, memegang, membaca dan menghafal kitabsuci.

Monopoli memungkinkan terjadinya pemalsuan kitab. Kalau satu individu (yaitu biarawan) mengubah ayat kitabsuci sesuka hati, bagaimana mungkin awam dapat mengetahui pengubahan ayat tersebut? Bukankah awam tidak hafal kitabsuci dan tidak juga memegang kitabsuci? Itulah sebabnya kitabsuci pra-Alquran mudah sekali dipalsukan, karena tidak adanya sistem yang melahirkan tahfiz publik di tengah mereka, karena penguasaan kitabsuci terpusat pada segelintir manusia.

Dan bagaimana pula kalau umat Muslim merupakan umat yang mentradisikan dan mensentralisasikan shalat di Masjid, di mana para ayah (paman / datuk) dan juga anak-anaknya menjadi tidak termotivasi untuk hafal Alquran karena urusan menghafal Alquran merupakan tugas para Imam Masjid semata, dan kemudian karenanya sistem ini tidak melahirkan tahfiz publik? Bukankah nasib kemurnian Alquran seutuhnya berada pada kesemena-menaan segelintir manusia yang hafal Alquran itu?

Sebelas. Shalat di rumah: kasih sayang dan pengawasan ayah (paman / datuk) atas anak-anak dan keluarga menjadi efektif dan sistematis, baik pengawasan itu di dalam hal siklus shalat pada khususnya, mau pun di dalam hal mental spiritual pada umumnya. Dengan shalat di rumah menjadi Imam atas anak-anak dan seluruh keluarganya, maka sayang dan kepedulian seorang ayah (paman / datuk) terhadap mereka adalah nyata senyata matahari. Pada dasarnya, shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas anak-anaknya merupakan wujud dan bukti bahwa seorang ayah, Imam tersebut, sayang kepada keluarganya sendiri, dan tidak ada yang lebih pantas dan lebih indah untuk menjadi Imam atas mereka, kecuali sang ayah sendiri, tidak bisa tergantikan.

Setiap anak dan seluruh keluarga akan tetap di dalam siklus shalatnya selama ada yang mengawasi, yaitu ayah mereka, tidak lain dan tidak bukan. Dan seseorang yang paling efektif pengawasannya terhadap siklus shalat anak-anak pastilah ayah (paman / datuk) mereka sendiri. Pengawasan yang dilakukan orang lain atas diri seorang anak terhadap siklus shalatnya, tidak akan mempan, tidak akan mengena, tidak akan efektif, tidak akan bertaji, karena orang lain tersebut bukanlah siapa-siapa bagi sang anak; dan sang anak sendiri akan menganggap dan melihat orang lain tersebut sebagai orang yang tidak berhak untuk mengawasi dan mengontrol siklus shalatnya. Terlebih, sang anak bukannya akan patuh pada pengawasan orang tersebut untuk shalat, malah akan berbalik untuk bergumam, ‘ayah saya tidak menyuruh dan tidak mengawasi saya shalat, lantas mengapa orang ini menyuruh saya shalat?’.

Pendek kata, hanya sang ayah (paman / datuk)-lah yang berada pada posisi untuk mengawasi siklus shalat anak dan keluarganya. Dan hal tersebut hanya dapat diimplementasikan jika seorang ayah (paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam atas keluarganya, seperti yang dititahkan oleh Muhammad Saw di dalam Alhadis: “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu”.

Sayang kepada anak dan keluarganya bukan hanya di dalam bentuk memberi rumah, memberi makan yang banyak, memberi mainan yang handal, melainkan juga terjadi di dalam bentuk ‘mempersembahkan’ mereka ke hadhirat Allah Swt di dalam seremoni shalat berjamaah di rumah. Biarlah Allah Swt dan para MalaikatNya melihat bahwa seorang ayah sedang membawa seluruh anak dan keluarganya ke hadlirat-Nya di dalam suatu shalat berjamaah, dan itulah yang indah dan yang sepatutnya, karena memang itulah tugas seorang ayah (paman / datuk).

Ketika seorang ayah (paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya, maka pada saat itu sang ayah sedang memasukkan keluarganya ke dalam Surga dan menyelamatkan mereka dari jilatan api Neraka sebagai bukti sayang dan pemeliharaan sang ayah yang kuat dan fundamental.

Tidak benar kalau seorang ayah hanya sayang pada dirinya sendiri, melainkan ia harus sayang kepada anak dan keluarganya, dan wujudkanlah itu di dalam bentuk shalat berjamaah di rumah dengan dirinya menjadi Imam shalat atas mereka.

Shalat di mesjid: kasih sayang dan pengawasan ayah (paman / datuk) terhadap anak-anak dan keluarga adalah semu, tidak efektif, dan hanya slogan. Bagaimana mungkin seorang ayah (paman / datuk) dapat dikatakan sayang kepada anak dan keluarganya kalau ayah ini selalu shalat di Masjid yang, itu berarti mereka tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan siklus shalat anak mereka, darah-daging mereka sendiri? Apakah mungkin seorang ayah yang sayang kepada anak-anaknya justru meninggalkan anak-anaknya tersebut di rumah dan membiarkan mereka terkatung-katung sepanjang jalan kampung berhamburan di dalam kesia-siaan duniawi dan tumpah-ruah di pelataran dunia di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb, sementara sang ayah asyik shalat di Masjid? Apakah sang ayah tidak ingin menjadi Imam untuk mengimamkan shalat anak-anak mereka, darah-daging mereka? Kalaulah seorang ayah sayang kepada anak-anak dan keluarganya, maka pastilah lebih mudah untuk mereka mengerti bahwa sebaiknya mereka sendiri yang mengimamkan shalat anak-anak itu.

Tidak mungkin rasa sayang seorang ayah kepada anak-anaknya justru mengakibatkan anak-anak tersebut harus terkatung-katung di dalam hiruk-pikuk duniawi, sementara sang ayah shalat di Masjid.

Anggaplah, bahwa shalat di Masjid memang merupakan kebajikan, sehingga dia yang mengamalkannya akan masuk Surga. Namun kemudian mengapa sang ayah membiar-kan anak-anak dan keluarganya tercecer di sepanjang jalan kampung berhamburan di dalam kesia-siaan Duniawi? Apakah seperti itu yang dinamakan sayang kepada anak dan keluarga? Apakah sang ayah ingin selamat di akhirat sendirian, dan anak-anaknya dibiarkan tumpah ke Neraka, tidak memperdulikan keselamatan-akhirat anak-anaknya? Maka dari sini jelas, bahwa tradisi shalat di Masjid merupakan kesalahan, karena tradisi ini mengakibatkan setiap ayah tidak sempat memikirkan nasib ukhrawi anak-anak dan keluarganya.

Jelas sekali, tradisi shalat di Masjid (yang bukan ajaran kenabian Muhammad Saw) sama sekali tidak mencerminkan rasa sayang seorang ayah (paman / datuk) kepada anak-anak dan keluarganya.

Duabelas. Shalat di rumah: kekuatan spiritualitas keagamaan menjadi nyata dan kuat. Ingatlah, bahwa kekuatan spiritualitas keagamaan (saleh, taqwa, tawadhu, tawakal, jujur, rendah-hati, sederhana, dsb) hanya dapat bangkit dan menjadi fenomena kalau proses pembentukannya terjadi secara:

  1. gotong-royong alias massal,
  2. di dalam jangka waktu yang lama (long-term), dan terakhir,
  3. semua fitnah / kekuatan dan efek negatif ditiadakan.

Di lain pihak, seorang ayah (paman / datuk) yang shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya di dalam jangka waktu yang lama, telah menjadi fondasi dasar pemupukan dan penguatan ruh keagamaan dan kesalehan secara fundamental terhadap jiwa dan mentalitas sang anak. Kuatnya spiritualitas ayah (paman / datuk) yang terlihat saat memimpin shalat berjamaah di rumah, dan kuatnya spiritualitas dari shalat berjamaah itu sendiri akan mempengaruhi spiritualitas anak-anak dan keluarganya.

Dan pada akhirnya seluruh umat yang shalat berjamaah di rumah (dilakukan secara massal atau gotong-royong) karena diimamkan oleh ayah masing-masing, yang karenanya seluruh jalan dan perempatan dan juga Pusat keramaian menjadi sepi (mentiadakan fitnah dan kekuatan negatif), telah menjadi kekuatan spiritualitas tertinggi yang dapat diperoleh umat Allah Swt di muka bumi ini. Dengan terciptanya suasana spiritualitas yang ajaib ini, terlihat jelas bahwa satu individu telah bergotong-royong dengan banyak individu lainnya di dalam gelombang kesalehan yang tiada tara, dan inilah yang memberikan gambaran kekuatan spiritualitas keagamaan yang kental dan prima.

Shalat di mesjid: kekuatan spiritualitas dalam menjalankan agama menjadi pudar: yang tercipta hanyalah poros: “loe loe, gue gue” dikarenakan setiap ayah (paman / datuk) selalu shalat di Masjid yang dampaknya setiap anak dan anggota keluarga lainnya di rumah tidak pernah mendapat sokongan dan dukungan untuk kesalehan. Intinya, tidak pernah terjadi di mana satu individu telah bergotong-royong dengan banyak individu lainnya di dalam gelombang kesalehan. Lebih tepatnya, tidak pernah seorang ayah (paman / datuk) membantu anak dan keluarganya untuk memupuk kesalehan yang shalat merupakan inti dari kesalehan tersebut. Ketika seorang ayah selalu shalat di Masjid (yang dengan demikian meninggalkan anak dan keluarganya di rumah) maka itu berarti sang ayah membiarkan anak-anaknya untuk memilih takdirnya sendiri, dan apakah itu takdir kesalehan yang dipilih sang anak, selamanya akan tetap menjadi misteri, tidak ada satu pun yang dapat menjaminkan. Dan bagaimana mungkin takdir kesalehanlah yang dipilih anak-anaknya, sementara dukungan dan sokongan dari sang ayah tidak mereka dapat?

Intinya, kesalehan tidak datang dengan sendirinya, dan tidak dapat diusahakan orang per-orang, melainkan sebagai suatu usaha bersama, berjamaah, di dalam suatu kedisiplinan dan ketaatan. Pendek kata, kalau seorang ayah tidak ingin anak dan keluarganya saleh, maka cukuplah baginya untuk terus shalat di Masjid, dan biarkan anak dan keluarganya memilih takdirnya sendiri di tengah hingar-bingarnya kehidupan di luar rumah.

Tigabelas. Shalat di rumah: hak wanita dan anak-anak untuk shalat berjamaah berikut untuk memperoleh pahalanya, terpenuhi. Para wanita, yang mereka adalah para anak perempuan, istri, ibu, bibi, nenek, merupakan umat Tuhan yang harus dilibatkan di dalam seremoni shalat berjamaah berkenaan dengan keutamaan pahala shalat berjamaah. Di lain pihak, shalat berjamaah hanya dapat diimamkan oleh laki-laki yaitu para ayah atau suami / paman / datuk. Berarti kalau seorang ayah (paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas seluruh anak dan keluarganya, maka hak, pahala dan takdir para wanita di dalam keluarga tersebut telah terpenuhi.

Intinya, Islam telah mengajarkan bahwa tempat terbaik bagi seorang wanita adalah tetap di rumahnya sendiri, yang mana ini berarti para wanita tidak dianjurkan untuk melangkahkan kaki mereka menuju Masjid untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah. Di satu pihak Islam mengajarkan bahwa para wanita harus turut disertakan di dalam shalat berjamaah, dan juga menitahkan bahwa tempat terbaik bagi wanita untuk beribadah adalah di dalam rumahnya sendiri. Ini berarti bahwa setiap ayah (paman / datuk) haruslah shalat di rumah untuk menjadi Imam atas mereka.

Tidak ada satu kepentingan yang ingin dipenuhi oleh seorang ayah ketika ia memilih untuk shalat di rumah menjadi Imam atas keluarganya, kecuali kepentingan untuk menjadi Imam atas anggota keluarganya khususnya yang perempuan, seperti anak perempuannya, istrinya, ibunya, neneknya, bibinya dsb. Dan memang demikianlah seharusnya pilihan yang harus direnungkan seorang ayah (paman atau datuk). Adalah mutlak seorang ayah untuk harus sayang kepada anak-anaknya yang perempuan, kepada ibunya, neneknya, dsb, dan satu-satunya cara untuk menyayangi mereka adalah dengan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas mereka dari waktu ke waktu.

Shalat di mesjid: dengan para ayah / laki-laki selalu shalat di Masjid, maka kemudian apakah para istri, anak perempuan, para ibu tidak berhak untuk diimamkan oleh ayah / suami, lantaran kaum wanita lebih baik tinggal di rumah?

Ketika seorang ayah memutuskan untuk shalat di Masjid, para wanita (termasuk anak-anak perempuan) yang tinggal di rumah tidak mempunyai gambaran bagaimana hak mereka untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah dapat terpenuhi secara terus menerus. Kenyataannya, para wanita ini untuk dalam jangka waktu yang sekian lama akan tetap shalat sendirian di rumahnya, dan itu pun tidak ada yang dapat memastikan apakah wanita-wanita ini benar-benar menunaikan shalat di rumah – sementara ayah-ayah mereka shalat di Masjid.

Pendek kata, ketika para lelaki shalat di Masjid, kesia-siaan telah terjadi di tengah umat, yaitu pensia-siaan hak para wanita untuk diimamkan di rumah, sementara Muhammad Saw sudah jelas dengan Alhadis-nya, yaitu bahwa “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu”. Satu-satunya cara yang tepat untuk mengamalkan Alhadis tersebut adalah para lelaki (termasuk para ayah, paman, datuk, abang, suami dsb) memilih shalat di rumah, dan menghentikan tradisi untuk shalat di Masjid, karena shalat di Masjid tidak mempunyai landasan argumentasi baik aqli mau pun naqli.

Empatbelas. Shalat di rumah: setiap ayah / suami dapat memastikan sendiri bahwa anggota keluarganya tetap menunaikan shalat karena ayah / suami sendirilah yang mengimamkan mereka. Sudah sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam, dan perintah shalat ini adalah rata untuk seluruh umat tanpa kecuali. Masalah akan timbul kalau ada satu individu tidak menunaikan shalatnya, dan terlebih kalau individu tersebut merupakan anggota keluarga yang, seharusnya tetap memelihara siklus shalatnya. Hal ini seharusnya merupakan kepedulian dan concern seorang ayah atas seluruh anak dan keluarganya. Adalah sulit untuk dicerna bahwa ada seorang ayah begitu memelihara siklus shalatnya sementara anak dan keluarganya tidaklah demikian. Kalau anak dan keluarga tidak serius di dalam siklus shalatnya maka dapat dipastikan itu semua berawal dari tidak adanya perhatian sang ayah (atau paman / datuk). Dan kalau hal ini benar-benar terjadi, seluruh ulama sepakat bahwa kesalahan justru berada pada diri sang ayah (atau paman / datuk), tidak bisa tidak.

Pada saat seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya, maka sebenarnya pada saat tersebut sang ayah telah dapat memastikan bahwa anak dan keluarganya sudah paripurna menunaikan shalat: “dia yakin karena dia melihat”, karena dia sendiri yang mengimamkan mereka. Kepastian merupakan kata kunci di sini, dan tidak ada yang dapat memastikan mereka (anak dan keluarga) menunaikan shalat kecuali adanya perintah, perhatian dan keimaman sang ayah (paman / datuk). Itulah satu-satunya jalan bagi seorang kepala keluarga untuk memastikan bahwa seluruh anggotanya tetap di dalam siklus shalat. Ingatlah bahwa kebanyakan dari anggota keluarga adalah anak-anak manusia yang masih di dalam usia pertumbuhan, yang mana itu berarti bahwa mereka belum mengerti kedisiplinan dan ketaatan. Anak-anak biasanya hanya melewatkan hari-hari dengan bermain dan naluri untuk tidak taat.

Tidak mungkin ada seorang anak kecil yang taat memelihara siklus shalatnya. Sebaliknya, setiap anak hanya memikirkan main bersama kawan-kawannya. Dan kemudian, tidak mungkin ada seorang anak kecil yang ketika ditanya ayahnya apakah sudah shalat, kemudian sang anak akan menjawab “sudah” dengan penuh kebenaran, tanggungjawab, dan bermartabat. Sulit mengharapkan kesalehan tumbuh dan bersemi pada diri seorang anak yang sedang senang-senangnya bermain.

Namun di luar itu semua, tentunya sang ayah mempunyai perhatian yang lebih besar atas mereka. Wujudnya hanya satu: memanggil mereka untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah di rumah, hari demi hari, minggu demi minggu, dan tahun demi tahun, hingga anak-anak tersebut tumbuh menjadi dewasa, yaitu usianya untuk taat dan sadar akan kewajiban dan kesalehan. Dengan terus memanggil mereka untuk berpartisipasi shalat berjamaah, maka tidak perlu sang ayah bertanya kepadanya apakah sudah shalat, karena sang ayah sendirilah yang mengimamkannya. Dengan dipanggil shalat, maka berhentilah mai-mainnya untuk sementara, untuk shalat tersebut. Dan ikut shalat berjamaah tidak akan mencederai haknya untuk bermain.

Shalat di mesjid: dapatkah ayah / datuk memastikan bahwa anak dan keluarganya sudah shalat, sementara ayah tersebut shalat di Masjid? Dan apakah masuk akal ada seorang ayah yang selalu shalat di Masjid sebagai wujud dari kesalehannya, sementara ia menuntut anak-anaknya untuk juga saleh di rumah dengan tetap memelihara siklus shalat?

Ketika seorang ayah bertanya kepada anaknya apakah sudah shalat, dan dijawab “sudah” oleh sang anak, berapa persenkah validitas jawaban sang anak untuk ayah tersebut pertanggung-jawabkan di depan Allah Swt di hari berbangkit kelak? Bukankah ia tidak melihat? Dan bukankah ia tidak boleh yakin akan validitasnya? Apakah mungkin nilai keyakinan dapat disamakan antara “melihat sendiri” dengan “tidak melihat sendiri”? Jelas seorang ayah tidak pernah melihat dengan matanya sendiri bahwa anaknya telah menunaikan shalat, maka bagaimana ia yakin bahwa anak-anak dan keluarganya sudah shalat, cukup hanya dengan mendengar mereka menjawab “kami sudah shalat”?

Apakah membesarkan anak di dalam ketaatan untuk shalat caranya cukup dengan bertanya apakah kamu sudah shalat Maghrib dan Isya tadi, sementara sang ayah selalu shalat di Masjid yang mana itu berarti selalu meninggalkan anak dan keluarganya di dalam ketidakpastian akan memelihara shalat? Dus, berarti meninggalkan tanggung-jawabnya untuk memastikan bahwa anak dan keluarganya tetap memelihara siklus shalat? Ketahuilah, bahwa ketika sang ayah shalat di Masjid, maka semua anak justru sedang asyik berhamburan di pelataran dunia di dalam kesia-siaan larut di dalam kesenangan duniawi yang tidak terperikan.

Limabelas. Shalat di rumah: karena ayah (paman / datuk) menjadi Imam di rumah yang mengakibatkan aktivitas shalat berjamaah berpusat di rumah-rumah maka:

  1. Tarbiyah keluarga berlangsung secara konstan dan intim.
  2. Tarbiyah terhadap keluarga terjadi secara alami, membumi, dan gratis karena tarbiyah merupakan tanggungjawab ayah (paman / datuk).
  3. Ayah (paman / datuk) secara otomatis dan alami harus menjadi pengajar dan pembimbing atas anak-anaknya / ponakannya / sepupunya / cucunya / adik-adiknya, dll, itu semua atas dasar sayang sang dari sang ayah (atau paman / datuk).

Shalat di mesjid: tarbiyah hanya berlangsung terhadap jemaah Masjid, itu pun hanya untuk kalangan para ayah / orang-tua; tarbiyah untuk anak-anak dan keluarga terbengkalai karena Ayah (paman / datuk) pergi shalat ke mesjid. Akibatnya jika memang anak-anak faham agama itu karena mereka disekolahkan, yang artinya Ayah (paman / datuk) lempar tanggung-jawab kepada lembaga sekolah tersebut.

Biar bagaimana pun tarbiyah yang didapat anak dari sekolah adalah bersifat darurat, tidak menyeluruh, tidak permanen, dan serba kaku. Adalah tidak mungkin dapat mempersamakan antara tarbiyah yang didapat anak di rumahnya, dengan tarbiyah yang mereka dapat dari sekolah.

Kalau memang terdapat tarbiyah di dalam kehidupan ini, maka mengapa tarbiyah itu hanya untuk kalangan ayah / paman? Mengapa tarbiyah tidak diperuntukkan bagi anak-anak di rumah? Apakah anak dan keluarga tidak membutuhkan tarbiyah? Mengapa bisa terjadi, di mana para ayah / datuk menikmati tarbiyah di dalam Masjid, sementara anak dan keluarga tidak menikmati tarbiyah tersebut, malah justru asyik tenggelam di dalam kesia-siaan tercecer sepanjang jalan kampung dan tumpah-ruah di pelataran dunia di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main kejar-kejaran, tawuran, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb?

Enambelas. Shalat di rumah: tidak akan mungkin terjadi malapetaka umat, karena ayah / suami shalat berjamaah di rumah menjadi Imam atas seluruh anggota keluarga, maka jelaslah seluruh anggota keluarga sedang berada di belakang mereka sebagai makmum menunaikan shalat bersujud kepada Illahi, sehingga menjadi sepi-lah seluruh hiruk-pikuk keduniawian: jalan-jalan menjadi sepi, lapangan menjadi sepi, mal-mal menjadi sepi, perempatan menjadi sepi, Pusat jajan menjadi sepi, karena anak-anak dan wargakota yang biasa meramaikan tempat-tempat keduniawian tersebut saat itu justru sedang menjadi makmum shalat berjamaah yang diimami oleh ayah-ayah / datuk-datuk mereka di rumah masing-masing.

Dengan ayah / paman shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan seluruh anggota keluarganya, maka kesibukan dan kesenangan keduniawian di pelataran dunia musnah dan terhenti, karena anak-anak manusia yang biasanya meramaikan kesibukan dan kesenangan keduniawian tersebut, saat itu sedang berada di belakang ayah / paman / kakek mereka masing-masing sebagai makmum dalam ketaatan dan kesalehan, penuh ridha Illahi.

Jelas sekali, ketika seorang seorang ayah (paman, datuk, abang, suami) shalat di rumah menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya, maka ia tengah dan telah memusnahkan dan memadamkan hiruk-pikuk duniawi di seluruh perempatan jalan dan Pusat belanja, dan kemudian mengubah dunia menjadi tempat yang penuh ibadat dan taqwa kepada Illahi, karena anak-anak dan warga kota yang biasa meramaikan pelataran dunia tersebut sedang shalat sebagai makmum di belakang sang ayah / paman. Inilak keagungan dan kekuatan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh setiap ayah / datuk. Inilah marwah umat Muslim seluruh Dunia!

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah / paman / datuk merupakan:

  1. satu-satunya kekuatan yang paling misterius dan paling berwibawa yang dapat merontokkan dan mengkudeta huru-hara duniawi khususnya pada malam hari; shalat berjamaah di rumah telah menggulingkan malapetaka dunia.
  2. dan menggantinya dengan suasana ibadat yang hikmat dan kudus,
  3. terakhir, mengklaim anak-anak dunia sebagai anak-anak yang penuh ibadat dan kesalehan.

Terbebaslah umat dan seluruh anak dari malapetaka duniawi dikarenakan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh setiap ayah, itulah titah Nabawi.

Shalat di Masjid: ketika seorang ayah / paman / datuk shalat di Masjid maka terjadilah malapetaka umat. Ketika para ayah / suami shalat berjamaah di Masjid, berarti anak-anak dan anggota keluarga lainnya sedang tumpah-ruah di pelataran dunia di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, tawuran, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb.

Ayah / paman shalat di mesjid maka kesibukan dan kesenangan keduniawian di pelataran dunia tetap menggejala karena terus memikat, menyedot dan dihadiri anak-anak manusia karena mereka tidak diimamkan oleh Ayah (paman / datuk) mereka masing-masing. Ketika seorang ayah shalat di Masjid, maka sama saja sang ayah telah melontarkan anak-anaknya dihambur-hamburkan ke pelataran dunia penuh kesia-siaan.

Seorang ayah yang shalat di Masjid sebenarnya sedang menghidupkan dan menyemarakkan kehidupan huru-hara di seluruh perempatan jalan tempat di mana seluruh anak manusia tumpah ruah di dalam kesia-siaan. Di dalam kancah seperti ini bagaimana mungkin setiap jiwa dan setiap anak tumbuh di dalam kesalehan dan ketaqwaan yang Nabawi?

Tujuhbelas. Shalat di rumah: khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh, ketiga waktu tersebut merupakan waktu tarbiyah untuk anak dan keluarga. Jarak waktu antara Maghrib dan Isya sangat singkat, tidak sampai dua jam. Sengaja Allah Swt menyingkatkan waktu Maghrib supaya dengan demikian dekat jaraknya dengan Isya yaitu hanya berkisar tidak sampai dua jam. Hikmahnya adalah bahwa supaya waktu tersebut digunakan umat Muslim untuk moment tarbiyah di mana sang ayah / datuk / suami menjadi pembimbing rohani bagi seluruh anak dan anggota keluarganya. Cukup dua jam setiap hari (antara Maghrib menuju Isya) merupakan masa tarbiyah yang sangat ampuh bagi anak-anak yang sedang di dalam masa pertumbuhan rohani . Di awal Maghrib sang ayah memanggil anggota keluarga dan seluruh anaknya untuk shalat berjamaah (di rumah). Kemudian sang Imam tidak akan mengijinkan anak-anaknya untuk beranjak kembali kepada aktivitasnya seusai shalat Maghrib berjamaah, melainkan sang Imam (ayah atau datuk atau paman) menyuruh anak-anaknya untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, menghafal surah-surah pendek, dsb. Dan tidak terasa adzan Isya telah berkumandang, maka berakhirlah sesi tarbiyah untuk anak-anaknya pada hari itu. Shalat Isya berjamaah segera didirikan, dan anak-anak sudah mendapatkan pengajaran dan pertumbuhan rohani di dalam rumahnya sendiri. Setelah usai shalat Isya berjamaah, keluarga tersebut langsung ke meja untuk santap malam, mereka makan, dan akhirnya mereka siap untuk beristirahat sampai fajar menjelang.

Shalat Shubuh juga demikian. Sang ayah / datuk / paman akan membangunkan anak-anak dan anggota lainnya untuk shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absent, semua dibangunkan dari tidurnya. Setiap hari berlangsung demikian maka kukuhlah anak-anak di dalam disiplin dan keteguhan shalat.

Demikian agenda anak-anak dan keluarga Muslim setiap hari sehingga tumbuhlah anak-anak itu di dalam persemaian rohani yang kukuh dari keluarganya sendiri. Itu semua karena sang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk memimpin shalat berjamaah atas keluarganya.

Shalat di Masjid: moment tarbiyah yang di-skenariokan Allah Swt supaya setiap Ayah (paman / datuk) menjadi pemimpin shalat dan pengajaran disiplin beragama bagi anak-anak di rumah, menjadi terkendala secara fundamental. Waktu Maghrib, Isya dan Shubuh menjadi sia-sia tidak dapat dioptimalkan untuk moment pengajaran anak-anak, dan anak-anak akhirnya mengalami kemarau-jiwa karena tidak pernah dihadirkan di dalam shalat berjamaah di rumah setiap hari. Hal itu semua karena ayah (atau suami / paman / datuk) pergi shalat di Masjid yang mana itu berarti mereka tidak lagi memperdulikan pertumbuhan rohani anak-anak. Ibarat kata, Pemerintah telah membangun jembatan penyeberangan jalan buat warga, namun ternyata warga lebih memilih menyeberang jalan karena tidak ingin menggunakan jembatan tersebut, akibatnya sering terjadi kecelakaan dan kemacetan lalu-lintas.

Delapanbelas. Shalat di rumah: Ayah (paman / datuk) sadar bahwa keselamatan keluarganya merupakan tanggung-jawabnya di dunia dan akhirat. Dengan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh keluarganya, Ayah (paman / datuk) telah melaksanakan tanggung-jawabnya atas keselamatan keluarganya. Dengan shalat di rumah, seorang ayah akan memastikan bahwa anak-anak dan keluarganya harus shalat, harus berada di belakangnya sebagai makmum untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah, tidak boleh ada yang absent apapun alasannya. Televisi akan dimatikan, komputer akan dimatikan, gamesonline harus dimatikan, chatting internet harus dimatikan, kelayapan dan keluyuran di luar rumah dilarang, karena mereka harus berdiri di belakang Imam untuk shalat berjamah, karena shalat merupakan hal fundamental bagi iman dan ketaqwaan, tidak bisa dikalahkan oleh semua fasilitas keduniawian apapun.

Shalat di Masjid: seorang ayah / datuk yang shalat di Masjid, merupakan individu yang tidak pernah menyadari bahwa anak dan keluarga merupakan tanggungjawab mereka dunia akhirat. Atau, mereka sadar bahwa anak dan keluarga merupakan tanggungjawab dunia akhirat, namun mereka tidak melaksanakan tanggungjawab tersebut dengan semestinya, mereka telah menelantarkan tanggungjawab dunia akhirat yang untuk memastikan bahwa anak dan keluarga tetap shalat untuk memperoleh keselamatan dunia akhirat. Akibatnya, anak dan keluarga menjadi kering, rohani mereka tidak tumbuh dan berkembang dengan baik, dan menjadi pribadi yang tidak menunaikan shalat. Mereka, anak dan keluarga, menjadi keluyuran, terkatung-katung, berceceran dan kelayapan keluar rumah di sepanjang jalan, tidak shalat, tidak mengaji, tidak berzikir, tidak bershalawat, tidak melantunkan doa, tidak bersimpuh di hadapan Illahi, tidak menikmati suasana religius di dalam rumahnya, dan itu mengerikan. Mereka malah pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, shopping, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dan itu bukanlah ciri-ciri umat Muslim, melainkan ciri-ciri umat di dalam kekafiran dan kerugian.

Seorang laki-laki yang selalu shalat di Masjid, tidak berfikir bahwa anak dan keluarganya merupakan tanggungjawabnya untuk diimamkan. Mereka hanya berfikir bahwa shalat merupakan kesalehan, dan merupakan kesalehan prima kalau ditunaikan di Masjid. Itu saja yang ada di dalam fikiran mereka. Para ayah yang shalat di Masjid sehingga tidak pernah menjadi Imam atas anak dan keluarganya, hanya berfikir bahwa shalat di Masjid merupakan kesalehan, kebalikannya tidak pernah berfikir bahwa menjadi Imam atas anak dan keluarganya di rumah merupakan kesalehan. Para ayah ini, berfikir bahwa shalat atau tidaknya anak dan keluarganya, bukanlah urusannya, bukanlah tanggungjawabnya, melainkan urusan masing-masing anak dan keluarganya.

Singkat kata, seorang ayah / suami yang selalu shalat di Masjid, tidak pernah sadar bahwa anak dan keluarganya adalah tanggung-jawabnya dunia akhirat.

Sembilanbelas. Shalat di rumah, adalah gelombang rohani yang akan menjadikan rumah keluarga Muslim sebagai tempat suci dan kudus yang di dalamnya umat Allah Swt sedang bermunajat dan mensucikan diri mereka dari fitnah dunia dan fitnah jaman. Ketahuilah bahwa dengan lebih banyak tinggal di dalam rumah, maka seluruh anggotanya terbebas dari marabahaya dan godaan Iblis, karena Iblis lebih banyak beroperasi di luar rumah, terlebih di malam hari. Jadi dengan demikian dapat dikatakan, bahwa lebih banyak tinggal di dalam rumah di malam hari merupakan perjuangan setiap anggota keluarga untuk tetap suci. Inilah alasan mengapa rumah keluarga Muslim merupakan tempat suci.

Di dalam suatu Alhadis disebutkan bahwa Malaikat Rahmat as tidak akan masuk ke dalam rumah keluarga Muslim kalau di dalam rumah tersebut terdapat seekor anjing. Alhadis ini menyiratkan makna bahwa sejatinya Malaikat Rahmat as selalu berada di dalam rumah-rumah keluarga Muslim untuk menabur rahmat Allah Swt. Dan pada akhirnya Alhadis ini ingin menegaskan bahwa setiap rumah keluarga Muslim adalah tempat suci dan kudus, ditandai dengan bersemayamnya Malaikat Rahmat as di dalam rumah tersebut.

Lebih dari itu, kalau di dalam rumah itu selalu ditunaikan shalat berjamaah maka kesucian dan kekudusan rumah tersebut semakin mudah difahami. Shalat berjamaah di rumahlah yang paling berkontribusi di dalam menjadikan suatu rumah keluarga Muslim suci. Teknisnya, kalau shalat berjamaah sering dan rutin ditunaikan di dalam rumah (karena ayah / paman / datuk selalu menjadi Imam shalat di dalamnya), maka nyatalah rahmat Allah Swt yang ditabur sang Malaikat Rahmat di atas rumah tersebut.

Ada sebagian Muslim yang berfikir bahwa rumah bukanlah tempat suci – sehingga tidak layak untuk dijadikan tempat shalat berjamaah. Ketahuilah, bagaimana rumah tersebut akan menjadi suci kalau di rumah tersebut tidak pernah ditunaikan shalat berjamaah? Semakin sering shalat berjamaah ditunaikan di rumah maka semakin sucilah rumah tersebut di mata Allah Swt dan para MalaikatNya.

Pada moment inilah Muhammad Saw bersabda, “terangilah rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran”. Alhadis ini menegaskan betapa pentingnya menjadikan rumah sebagai ‘pangkalan’ shalat yang permanen untuk seluruh anggota keluarga turun temurun, demi menunaikan makna dari Alhadis Muhammad Saw tersebut.

Dan dengan terus menunaikan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh sang ayah, yang mana seremoni tersebut melibatkan anak dan seluruh anggota keluarga, dan dikarenakan shalat itu sendiri adalah suci dan Agung, dan membuat rumah tempat diselenggarakannya shalat berjamaah itu jadi suci dan Agung juga, maka akibat akhirnya adalah bahwa anak dan keluarga pun menjadi suci dan saleh. Itu sudah jelas, itu sudah logis, itu adalah efek kartu domino-nya!

Praktis, kalau seorang ayah (paman / datuk) selalu shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan keluarganya maka rumah tersebut menjadi tempat suci dan kudus di mata Allah Swt. Dan setiap jiwa yang tinggal di dalam rumah tersebut pun juga menjadi suci dan saleh, jauh dari fitnah dunia. Dengan seorang ayah memilih untuk shalat di rumah, ia telah menegaskan bahwa rumahnya merupakan tempat suci, dan shalat berjamaah adalah pantas untuk ditunaikan di dalamnya.

Shalat di Masjid, adalah suatu gelombang yang didasari oleh kebiasaan berfikir bahwa Masjid adalah tempat suci. Dan ketika para ayah pulang kembali ke rumah dari shalat berjamaah dari Masjid, maka kesucian itu tetaplah berada di Masjid: kesucian tersebut tidaklah ikut terbawa ke rumah, dan tidak juga membuat anak dan keluarganya menjadi suci sesuci Masjid. Anak dan keluarganya tetaplah berhamburan di jalanan kampung asyik bermain kejar-kejaran di sepanjang jalan tidak karu-karuan, pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, godain cewek, nonton bioskop, tawuran, main raket, makan permen karet, nonton bola, bermain futsal, main bola, shopping, jual-beli, main internet, kongkow-kongkow, dsb.

Ketika sang ayah shalat di Masjid berketerusan, maka perbuatan tersebut tidak membuat rumahnya menjadi suci, tidak juga membuat anak dan keluarganya saleh. Masjid tetaplah suci, namun apakah keluarganya menjadi saleh, tetap menjadi misteri yang tidak terpecahkan sepanjang abad.

Duapuluh. Shalat di rumah: adalah tombol pertama untuk menimbulkan kesalehan tingkat keluarga, tingkat atomik, yang tidak dapat dihindari, merupakan cikal-bakal kesalehan umat secara keseluruhan.

Mudah sekali untuk direnungkan, ketika seorang ayah shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya, maka seluruh keluarga akan mengikuti seremoni tersebut dengan penuh hikmat dan khusyuk, dan itu berarti seluruh keluarga terhindar dari fitnah kota, khususnya di malam hari, dengan cara bermunajat kepada Illahi dan berbuat tindakan yang benar untuk kesejahteraan hati dan jiwa: mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Ketika sang ayah shalat dan menjadi Imam atas keluarganya, maka dekat sekali sang ayah kala itu kepada anak-anaknya untuk dapat memperhatikan rona-wajah anak-anak, memperhatikan kesehatannya, mencermati penerimaan sang anak atas pelajaran sekolah, kemajuannya di dalam menghafal surah dan Alhadis, dsb. Dekat sekali, intim sekali ……….

Kesalehan tingkat atomik dengan demikian telah terwujud, maka hal berikutnya akan terwujudlah kesalehan tingkat yang lebih luas, yaitu kesalehan yang menggelora pada tingkat Kerajaan Allah Swt di muka bumi ini. Adalah mustahil mendapatkan kesalehan pada tingkat sosial yang lebih luas, sementara kesalehan tingkat atomik yaitu tingkat keluarga hancur-lebur, ditolak dan dikesampingkan. Kalau kesalehan tingkat atomik telah tercapai, maka otomatis kesalehan tingkat sosial yang lebih luas, tercipta.

Penutup.

Tidak ada kebajikan di dalam tradisi shalat di Masjid untuk para ayah / paman, karena sebaliknya, Muhammad Saw hanya mengajarkan umatnya untuk shalat di rumah supaya para ayah menjadi Imam shalat berjamaah atas anak dan keluarganya, sesuai dengan titahnya, bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, dan kelak kepemimpinannya harus ia pertanggungjawabkan kepada Allah Swt di Hari Penghakiman kelak.

Selebihnya, shalat berjamaah di rumah mempunyai begitu banyak rahasia keagungan dan kesalehan yang akan tertebar merata atas keseluruhan orang yang beriman, dan kesalehan tersebut kelak akan menjadi gelombang yang akan menghempaskan fitnah dunia tanpa kenal garis perbatasan Negeri dan Pemerintahan.

Selama ini umat mentradisikan shalat di Masjid, dan hasilnya terlihat jelas, di mana anak-anak manusia menjadi terkatung-katung di sepanjang jalan kampung berhamburan di tengah huru-hara dunia, dan setiap anak manusia menjadi tidak dapat dihadirkan di dalam seremoni kesalehan keluarga, yang merupakan cikal-bakal kesalehan umat keseluruhan. Ketika seorang ayah shalat di Masjid, maka anak-anak memeriahkan kekacauan duniawi di Pusat keramaian khususnya di malam hari, dan ketika mereka pulang ke rumah, mereka membawa kehancuran yang mereka dapat dari Pusat keramaian tersebut ke rumah masing-masing.

Tidak dapat dihindari untuk diungkapkan, bahwa tradisi shalat di Masjid memberi kontribusi signifikan atas meriahnya kekacauan duniawi di Pusat keramaian, tempat di mana anak-anak manusia terhambur-hambur di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, makan permen karet, tawuran, godain cewek, main raket, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Artinya, kalau kekacauan dan kesia-siaan duniawi tersebut ingin ditumpas habis, maka satu-satunya jalan adalah mentradisikan shalat di rumah di mana sang ayah mengimamkan shalat berjamaah atas anak dan keluarganya. Dan kalau kekacauan bin kesia-siaan duniawi harus tumbuh subur, maka satu-satunya cara untuk mewujudkannya adalah dengan membiarkan para ayah shalat di Masjid sehingga meninggalkan anak dan keluarganya di rumah untuk kemudian berserakan di pelataran dunia di dalam kesia-siaan fitnah kota.

Inilah maksud Nabawi, inilah maksud Illahiah, dengan shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Inilah makna doa yang tertera di dalam Alquran mengenai keluarga Muslim yang penuh dengan agenda shalat berjamaah di mana sang ayah merupakan Imam shalat berjamaah,

QS Furqaan 74: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Ayat ini, tidak dapat tidak, merupakan titah Allah Swt sebagai dasar untuk mewujudkan tradisi shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga. Kata ‘kami’ pada ayat tersebut pastilah posisi seorang ayah, karena dinisbatkan dengan phrase berikutnya ‘anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami’, yang mana itu berarti seorang ayah bermunajat kepada Allah Swt semoga istri dan anak-anaknya menjadi kesenangan hatinya: itulah kesalehan. Sudah dijelaskan melalui paparan ini, bahwa kesalehan hanya terjadi dan tercipta jika sang ayah berteguh untuk shalat di rumah dan menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Phrase berikutnya semakin menegaskan bahwa seorang ayah hendaklah bercita-cita supaya menjadi Imam atas anak dan keluarganya yang penuh taqwa, yaitu phrase “jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Bagaimana mungkin seorang ayah memperoleh keluarganya sebagai kesenangan hatinya, kalau keluarganya tidaklah saleh. Kemudian, kesalehan itu sendiri hanya dapat tercapai dengan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh sang ayah sendiri. Dan kemudian, bagaimana seorang ayah dapat menjadi pemimpin (Imam) atas keluarganya yang saleh dan bertaqwa, kalau keluarganya tidak bertaqwa dan saleh lantaran tidak pernah diimamkan shalat berjamaah di rumah?

Apakah mungkin ayat ini mengandung makna, bahwa seorang ayah ingin agar keluarganya menjadi keluarga yang bertaqwa, sementara ia sendiri tidak mengusahakan hal tersebut (dengan cara menjadi Imam shalat atas mereka di rumah)? Dan apakah mungkin, seorang ayah ingin menjadi pemimpin atas orang-orang yang bertaqwa, sementara orang-orang bertaqwa tersebut bukan keluarganya, melainkan orang lain?

Tepat sekali cara Allah Swt menyusun kata-kataNya di dalam ayat Al-furqan 74 ini untuk mewartakan betapa strategisnya shalat berjamaah di rumah dengan diimamkan oleh seorang ayah di dalam keluarga tersebut.

Shalat berjamaah di Masjid merupakan lawan dari shalat berjamaah di rumah, dan akibat dari kedua frame tersebut juga saling berlawanan, untuk menghemat kata.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.

Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah

jengkaltanahuntukmesjid

Rumah merupakan tempat suci di mata Allah Swt, karena di rumah tersebutlah Allah Swt mencurahkan seluruh rahmat dan hidayahNya kepada seluruh anggota keluarga yang diam di dalam rumah tersebut. Itu artinya, rumah ini mengharuskan penghuninya untuk terus menunaikan shalat di dalam rumah, bukan di Masjid. Dan kalau dari waktu ke waktu shalat berjamaah terus ditunaikan di dalam suatu rumah, maka akan semakin sucilah rumah tersebut.

Terdapat kondisi dan tradisi di mana kebanyakan Muslim memilih shalat di Masjid, bukannya di rumah. Dan mereka berfikir bahwa shalat di Masjidlah yang merupakan ajaran Muhammad Saw. Tak pelak lagi, pendirian mereka jadi menempatkan rumah bukan lagi sebagai tempat suci. Ini jelas bertentangan dengan kemurahan dan maharahmat Allah Swt.

Di bawah ini akan dipaparkan bahwa tidak ada satu pun dalil / nash agama yang dapat dijadikan landasan untuk shalat di Masjid.

Satu.

Alhadis: Setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu.

Alhadis di atas benar-benar menitahkan, bahwa setiap laki-laki haruslah menjadi Imam shalat di rumah atas seluruh keluarganya. Khususnya yang dimaksud laki-laki di sini adalah para ayah, paman, datuk mau pun suami, yaitu mereka yang sudah dewasa dan dituntut dari mereka kepemimpinan dan tanggungjawab mereka atas kemaslahatan keluarganya. Laki-laki anak kecil tentulah bukan termasuk yang disinggung di dalam Alhadis ini, karena mereka belum mempunyai tanggungjawab, belum dewasa, sehingga oleh karena itu belum dapat dituntut kepemimpinannya atas keluarganya.

Kalau di satu pihak sudah jelas bahwa setiap laki-laki, ayah, paman, datuk mau pun suami merupakan pemimpin atas anak dan keluarganya, maka di pihak lainnya pun jelas, bahwa adalah tugas dan kewajiban setiap dari mereka untuk shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Kalau Muhammad Saw telah bertitah bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin, maka bagian paling perdana dari menjadi pemimpin tersebut adalah menjadi Imam shalat di rumahnya atas anak dan keluarganya. Hal tersebut teramat mudah untuk difahami.

Kalau seorang laki-laki, di dalam hal ini, seorang ayah mau pun paman atau datuk selalu shalat di Masjid, bukan di rumah, maka bagaimana ia dapat menjalankan perannya sebagai Imam atas keluarganya di rumah? Ketika seorang ayah shalat berjamaah di Masjid, maka pada saat itu ia bukanlah pemimpin, melainkan seseorang yang dipimpin (yaitu makmum), sementara sabda Muhammad Saw sudah jelas, bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin, yang arti perdana di sini adalah pemimpin shalat atas anak dan keluarganya.

Tak pelak lagi, adalah penting bagi setiap laki-laki untuk shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya demi mengamalkan titah Baginda Muhammad Saw.

Dua.

Alhadis: Aku mementingkan perjalanan ke tiga Masjid ini yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-aqsa.

Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa, merupakan tiga Masjid suci di dalam agama Islam. Keberadaan Ketiga Masjid ini disinggung di dalam Alquran, yang menandakan keutamaan dan kesucian dari ketiga Masjid ini. Selain itu, ketiga Masjid ini merupakan saksi dari perjalanan seluruh Nabi dan Rasul Allah di dalam menjalankan tugas Surgawi mereka melawan kekafiran umat jahil.

Adalah pada tempatnya Muhammad Saw bersabda yang sedemikian di atas, untuk menegaskan posisi penting dari ketiga Masjid tersebut. Umat akan mendapat keberkahan yang luar biasa kalau berada di dalam Masjid ini, khususnya untuk setiap shalat yang mereka tunaikan di dalam ketiga Masjid tersebut.

Arti lain yang penting dari Alhadis di atas adalah, bahwa seluruh Masjid selain ketiga Masjid Haram, merupakan tempat yang tidak mempunyai keutamaan bagi umat, khususnya untuk setiap shalat yang mereka tunaikan di dalamnya. Kalau Muhammad Saw sendiri telah bersabda bahwa diri-nya hanya mementingkan perjalanan kepada tiga Masjid Haram tersebut, maka itu artinya Muhammad Saw tidak melihat adanya keutamaan dari mengunjungi atau berada di Masjid selainnya, khususnya untuk setiap shalat yang ditunaikan di dalamnya. Bagi umat ini pun jelas, bahwa kalau Muhammad Saw telah berpendirian sedemikian, maka umat pun harus sepakat bahwa berada atau mengunjungi Masjid selain tiga Masjid Haram tidak mempunyai nilai keutamaan, khususnya untuk setiap shalat yang ditunaikan di dalamnya.

Kalau seorang Muslim berada di kota Mekah, atau perjalanan dari tempatnya berdiam menuju Masjid Al- Haram tidak menyusahkan dirinya, maka berlakulah Alhadis tersebut di atas, yaitu bahwa dia harus mementingkan perjalanannya ke Masjid Al- Haram. Begitu juga kalau ia berada di Madinah mau pun di Yerusalem, yang perjalanannya dari tempatnya berdiam menuju Masjid Haram di masing-masing kota tidak menyusahkan dirinya, maka wajiblah baginya untuk mengunjungi Masjid tersebut untuk beribadah di dalamnya.

Namun sebaliknya, kalau perjalanannya dari tempatnya berdiam menuju ketiga Masjid Haram menyusahkan dirinya, maka tiada wajib baginya untuk shalat di ketiga Masjid tersebut, karena telah berlaku atasnya Alhadis Nabi Muhammad Saw ini, yaitu bahwa siapa pun harus mementingkan perjalanan menuju ketiga Masjid Haram saja, selainnya tidak mempunyai keutamaan.

Kata kuncinya adalah ‘menyusahkan atau tidak menyusahkan’, karena Islam tidak pernah menyusahkan umatnya. Kalau suatu perjalanan dari sebuah tempat berdiam menuju salah satu Masjid Haram tidak menyusahkannya, maka wajiblah ia berperjalanan menuju Masjid Haram tersebut. Namun kebalikannya, kalau perjalanan dari tempatnya berdiam menuju satu Masjid Haram adalah menyusahkannya, maka tidak wajib atasnya untuk mengunjungi Masjid tersebut, cukuplah ia shalat di rumah untuk menjadi Imam atas keluarganya.

Oleh karena itu kalau seorang umat berada di Jakarta atau di Beijing, yang perjalanannya menuju ketiga Masjid Al- Haram tersebut menyusahkan baginya, maka tidak adalah keutamaan dan kepentingan baginya untuk shalat di Masjid tempat kediaman kotanya. Ingatlah, bahwa Muhammad Saw telah bertitah, bahwa hanya ketiga Masjid suci saja yang mempunyai keutamaan, maka itu berarti Masjid selainnya tidak mempunyai kepentingan dan keutamaan.

Konsekwensinya adalah, lebih baik bagi seorang umat yang jauh dari ketiga Masjid Haram tersebut untuk senantiasa shalat di rumah, untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya.

Tiga.

Alhadis: Terangilah rumah kamu dengan shalat dan membaca Alquran.

Alhadis ini mempunyai ketegasan tingkat tinggi mengenai betapa pentingnya bagi umat Muslim untuk shalat di rumah agar dengan demikian dapat menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Tidak dapat lagi disangkal, tidak dapat lagi dicarikan dalih lain, karena Alhadis ini tidak mempunyai arti lain kecuali dengan terang menyebutkan bahwa seluruh Muslim, seluruh ayah, paman dan datuk tetaplah harus shalat di rumah di dalam rangka membawa cahaya shalat bagi rumah mereka masing-masing di dalam rangka menunaikan titah Muhammad Saw ini.

Oleh karena itu dari mana lagi dalih yang ingin dipertahankan seorang umat Muslim untuk berketerusan shalat di Masjid, sehingga dengan demikian ia meninggalkan kewajibannya untuk menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya di rumah masing-masing? Kalau seorang Muslim shalat di Masjid, berarti ia tidak shalat di rumah. Dan kalau ia tidak shalat di rumah, maka bagaimana mungkin rumahnya mendapatkan cahaya Illahiah yang dipancarkan shalat berjamaah di rumah?

Kalau seorang Muslim shalat di Masjid, kalau berketerusan shalat di Masjid, maka jelaslah bahwa ia-nya telah menyimpangi ajaran dan titah Muhammad Saw. Berkata tidak kepada Alhadis Nabi saw merupakan suatu dosa. Ketahuilah, ketika seorang Muslim shalat di Masjid, bukannya di rumah, maka pada saat itu ia bukan seorang hamba yang menjalankan sunnah Rasul.

Empat.

Alhadis: “Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi mereka pada hari tiada naungan selain naungan Allah yaitu -di antaranya- seorang yang terikat (hatinya) dengan Masjid ketika ia keluar hingga ia kembali ke Masjid (HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Banyak Muslim yang senantiasa shalat di Masjid, bukannya di rumah, tersebab adanya Alhadis di atas. Alhadis ini mengisyaratkan, bahwa manusia yang akan mendapat naungan pada hari kiamat adalah manusia yang terikat cintanya kepada Masjid, serta-merta umat menerjemahkannya dengan cara harus senantiasa berada di Masjid selama mungkin, shalat di Masjid, mengaji Alquran di Masjid, dzikir di Masjid, shalawat di Masjid, intinya berada lama di dalam Masjid merupakan tolok-ukur kecintaan dan kesalehan seorang manusia. Luar biasa, kesalehan yang diagung-agungkan Islam ternyata hanya bernuansa satu warna, yaitu berada lebih lama di dalam Masjid.

Ketika seorang manusia harus cinta kepada Masjid – seperti yang dititahkan Muhammad Saw – maka apakah implementasinya adalah dengan terus shalat di Masjid, dengan meninggalkan kewajibannya untuk menjadi imam di rumahnya???

Kalau memang landasannya adalah selalu berada di Masjid untuk mencintai Masjid di dalam rangka untuk mencapai kesalehan dan naungan Allah Swt di hari kiamat, maka itu berarti:

  • Tidak usah kerja sekalian,
  • Tidak usah ngantor sekalian,
  • Tidak usah ke pasar sekalian,
  • Tidak usah maju ke medan pertempuran sekalian,
  • Tidak usah membangun rumah sekalian,
  • Tidak usah menikah sekalian,
  • Tidak usah mengurus anak sekalian,
  • Tidak usah berbakti kepada orang-tua sekalian,
  • Tidak usah menuntut ilmu sekalian,
  • Tidak usah bergotong-royong membersihkan desa sekaian,

Tidur saja di mesjid buat selama-lamanya …. Shalat saja terus-terusan di Masjid, tinggal saja di Masjid sekalian buat selama-lamanya.

Apakah itu yang diinginkan Allah Swt dan RasulNya?

Terdapat suatu Alhadis yang mengisahkan adanya seorang sahabat yang terus-terusan shalat di Masjid, siang, malam, shubuh, sore, fajar …… selalu shalat di Masjid. Hal ini menjadi perhatian Muhammad Saw.

Kemudian Nabi saw bertanya kepada Muslim tersebut, “apakah kamu tidak bekerja mencari nafkah untuk keluarga?”. Muslim tersebut menjawab, “sudah ada kesepakatan antara saya dengan saudara saya, bahwa cukuplah saya shalat terus-menerus di Masjid ini, dan saudara sayalah yang akan bekerja untuk menafkahi keluarga saya”.

Muhammad Saw bersabda, “tidak demikian. Keluarlah kamu untuk bekerja mencari nafkah untuk keperluan kamu sekeluarga. Kalau kamu sudah selesai dengan pencarian nafkahmu, maka kembali lah kamu ke Masjid ini”.

Kisah ini memberi pemikiran segar, bahwa kalau mencintai Masjid berarti setiap Muslim harus lebih banyak melewatkan waktu di Masjid, maka mengapa ada kisah seperti yang termaktub di dalam Alhadis ini? Bukankah Muhammad Saw sendiri yang melarang setiap umat (laki-laki) untuk selalu berada di Masjid, untuk selalu shalat di Masjid? Faktanya sahabat tersebut tengah menunjukkan cintanya kepada Masjid, namun bukankah kemudian Muhammad Saw memerintahkan sahabat tersebut untuk keluar dari Masjid supaya bisa bekerja mencari nafkah, yang merupakan kewajibannya yang lain?

Intinya, cinta kepada Masjid, sama sekali tidak bermakna bahwa seorang Muslim harus terus-terusan berada dan shalat di Masjid. Ingatlah bahwa setiap laki-laki, ayah, paman, datuk, mempunyai kewajiban atas anak dan keluarganya. Maka dari itu wajiblah setiap dari mereka menunaikan kewajiban mereka atas keluarganya yaitu shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas mereka (khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan shubuh). Kalau mereka sudah selesai dengan tugas keimaman mereka, baiklah mereka berada di Masjid.

Kalau seorang Muslim berketerusan berada di Masjid, shalat di Masjid, dzikir di Masjid, shalawat di Masjid, itikaf di Masjid, khatam Alquran di Masjid, demi memenuhi titah Alhadis bahwa mencintai Masjid merupakan jaminan kesalehan dan jaminan akan mendapatkan naungan Allah Swt pada hari kiamat, maka bagaimana Muslim tersebut dapat dikatakan Muslim yang bermanfaat buat sesama? Islam mengajarkan bahwa kesalehan adalah ketika seorang Muslim bermanfaat secara positif bagi sesamanya. Dan itu artinya Muslim tersebut harus berada di luar Masjid untuk menunjukkan sumbangsihnya bagi masyarakat. Artinya, kalau seorang Muslim ingin menjadi saleh, maka adalah salah kalau ia menempuhnya dengan selalu berada di dalam Masjid, karena dengan berada berketerusan di dalam Masjid, maka praktis menjadilah ia tidak berguna buat sesamanya.

Singkat kata, mencintai Masjid, bukan inspirasi untuk membuat setiap Muslim harus berketerusan berada di Masjid.

Lima.

Alhadis: Shalat berjama’ah itu lebih baik 27 kali lipat daripada shalat sendiri”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

Alhadis ini menitahkan bahwa shalat berjamaah mempunyai derajat 27 kali lebih tinggi dari shalat seorang diri. Namun apakah Alhadis ini menyebutkan bahwa suatu shalat akan bernilai 27 derajat lebih tinggi jika ditunaikan di dalam Masjid? Tidaklah demikian.

Ingatlah, bahwa di mana pun suatu shalat ditunaikan, asalkan ditunaikan secara berjamaah, maka tetaplah nilainya 27 derajat lebih tinggi daripada shalat seorang diri. Tidak perlu suatu shalat berjamaah ditunaikan di dalam Masjid supaya shalat berjamaah tersebut bernilai 27 derajat lebih tinggi. Tidak ada Alhadis mau pun nash lainnya yang menyebutkan, bahwa shalat berjamaah akan bernilai 27 derajat lebih tinggi jika ditunaikan di dalam Masjid, tidak ada Alhadis demikian.

Artinya, kalau suatu shalat ditunaikan secara berjamaah, dan ditunaikan di dalam sebuah rumah keluarga Muslim di mana sang ayah menjadi Imam atas anak dan keluarganya, maka tetaplah shalat tersebut bernilai 27 derajat lebih tinggi.

Enam.

Alhadis: “Sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar” (HR. At-Thabarani dan al-Hakim. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 3271).

Banyak Muslim yang berteguh untuk memilih Masjid sebagai tempat untuk menunaikan seluruh jadwal shalat mereka, dengan menggunakan dalil yang salah satunya adalah Alhadis di atas. Tersebab Masjid merupakan tempat terbaik di dalam pandangan Allah Swt, maka hal ini membuat Muslim berfikir, bahwa shalat haruslah ditunaikan di dalam Masjid.

Sebenarnya-lah, tidak ada hubungan apapun antara Alhadis ini dengan fikiran bahwa shalat harus ditunaikan di dalam Masjid. Alhadis ini hanya menitahkan bahwa sebaik-baik tempat di dunia adalah Masjid, dan seburuk-buruk tempat di dunia ini adalah pasar, itu saja. Alhadis ini tidak menyiratkan bahwa shalat harus ditunaikan di dalam Masjid.

Kalau Masjid merupakan sebaik-baik tempat di bumi ini, dan ini mengakibatkan Muslim berfikir bahwa shalat sebaiknya ditunaikan di dalam Masjid, maka kemudian, apakah yang menghalangi Muslim untuk turut berfikir, bahwa sebaiknya mengurus anak dilakukan di Masjid, memasak sayur dan gulai sebaiknya ditunaikan di Masjid, berbakti kepada orang tua sebaiknya ditunaikan di Masjid? Apakah memang harus demikian?

Tujuh.

Alhadis: “dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun ketentraman kepada mereka; rahmat akan menyelimuti mereka, para Malaikat menaungi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para Malaikat di sisi-Nya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Alhadis ini juga dijadikan salah satu dalih beberapa Muslim untuk terus berteguh untuk shalat di Masjid.

Alhadis ini menitahkan adanya kebaikan atas suatu golongan yang selalu berhimpun di dalam Masjid untuk tujuan mendalami Alquran. Namun apakah Alhadis ini dengan serta-merta berarti bahwa seluruh Muslim harus berketerusan shalat di Masjid? Atau, apakah Alhadis ini merupakan sinyalemen bahwa Allah Swt mengharamkan setiap Muslim untuk shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya?

Kalaulah memang Allah Swt mengharamkan setiap Muslim untuk shalat di rumah menjadi Imam atas keluarganya tersebab adanya Alhadis ini, maka mengapa pada bagian lain Muhammad Saw bersabda bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin dan Imam atas anak dan keluarganya? Mengapa juga pada suatu saat Muhammad Saw bersabda bahwa sebaiknya setiap Muslim menerangi rumah-rumah mereka dengan shalat dan membaca Alquran? Atau, apakah umat Muslim harus melihat ada pertentangan yang keras di dalam Dienullah ini?

Delapan.

Muhammad Saw dan para sahabatnya tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah.

Seluruh buku sejarah yang menghadirkan kisah kehidupan Muhammad Saw dan para sahabatnya memperlihatkan bahwa Muhammad Saw dan hamba-hamba beriman tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa shalat di rumah merupakan suatu kebajikan yang lain di dalam Islam, terlebih misi dari shalat di rumah adalah supaya setiap ayah menjadi Imam atas anak dan keluarganya, karena hal tersebut merupakan bagian terpenting dari menjadi ayah.

Sejarah mengakui bahwa Muhammad Saw dan para sahabatnya tidak pernah berpantang shalat di rumah, maka mengapa kemudian umat Muslim justru berpendirian seolah mereka berpantang shalat di rumah, demi untuk berketerusan shalat di Masjid? Dan kalau mereka berpendirian bahwa Masjid merupakan simbol kesalehan Islami, maka ketahuilah bahwa mereka salah. Kesalehan yang Islami adalah bahwa setiap ayah menjadi Imam shalat di rumah atas anak dan keluarganya secara berketerusan.

Harus dipertanyakan, apakah mereka mendapatkan sumber pendirian mereka tersebut dari perikehidupan Muhammad Saw dan para sahabatnya?

Sembilan.

Islam mengajarkan bahwa setiap jengkal tanah di muka bumi merupakan Masjid, yang mana itu merupakan ajaran bahwa setiap jengkal tanah adalah tempat sujud. Kalau jengkal tanah itu adalah rumah keluarga Muslim, maka bukankah teramat baik kalau rumah dijadikan tempat untuk shalat bagi keluarga tersebut?

Terdapat Muslim yang berpendirian bahwa shalat harus ditunaikan di Masjid – dengan berpantang shalat di rumah. Pendirian tersebut jelas tidak mempunyai dalil dari nash agama. Dan kalau setiap jengkal tanah merupakan tempat untuk sujud, maka mereka telah menolak untuk menjadikan jengkal tanah di rumah mereka sebagai tempat untuk sujud kepada Allah Swt. Maka bukankah hal tersebut merupakan pendurhakaan terhadap ajaran Illahi?

Tidak ada larangan syariah untuk menjadikan jengkal tanah yang ada di rumah sebagai tempat untuk sujud kepada Allah Swt. Maka shalatlah di rumah, karena tempat tersebut telah Allah Swt tetapkan sebagai tempat untuk bersujud. Dan bersujudlah bersama anak dan keluarga.

Sepuluh.

Alquran: “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam Masjid-Masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (Masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (QS. al-Baqarah:114).

Tidak ada satu huruf pun di dalam ayat Al-baqarah 114 ini yang mengindikasikan baik secara implisit mau pun eksplisit bahwa setiap laki-laki Muslim harus shalat di Masjid mana pun (kecuali ketiga Masjid Al-haram).

Ingatlah bahwa ayat Al-baqarah 114 ini TIDAK SPESIFIK menyatakan Masjid yang mana, apakah hanya sebatas @ketiga Masjid Al-haram (yaitu Masjid alharam, Masjid nabawi dan Masjid aqsa), atau hanya sebatas @Masjid di luar ketiga Masjid Al-haram, atau @keseluruhan Masjid yang mencakup ketiga Masjid Al-haram dan Masjid universal lainnya?

Karena Allah Swt tidak spesifik di dalam ayat Al-baqarah 114 ini, maka itu berarti bahwa yang dimaksud di dalam ayat tersebut ADALAH HANYA SEBATAS PADA KETIGA MESJID ALHARAM YAITU MESJIDIL HARAM, MESJID NABAWI DAN MESJID AQSA. Ini berarti ayat ini tidak mencakup untuk Masjid lainnya.

Ingatlah bahwa domain yang disinggung oleh ayat Al-baqarah 114 adalah terlalu luas. Di situ ada kata MENGHALANG-HALANGI MANUSIA DARI MENYEBUT NAMA ALLAH DI DALAM MESJID-NYA.

Apakah ini berarti bahwa di sini ada yang menghalang-halangi manusia dari menyebut nama Allah di dalam MasjidNya? Ingat, setiap Jumat seluruh Muslim akan ke Masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Apakah mereka akan dihalangi? Saat Muslim bepergian jauh pasti mereka akan mampir ke Masjid untuk shalat. Apakah mereka akan dihalangi? Saat Muslim laki-laki berada di tempat kerja / Kantor dan mereka shalat Zuhur dan Ashar di Masjid, apakah mereka akan dihalangi? Jawabannya adalah, TIDAK.

Intinya, makna dari phrase MENGHALANG-HALANGI MANUSIA DARI MENYEBUT NAMA ALLAH DI DALAM MESJID-NYA adalah, bahwa,

  • Ada manusia jahat, yang melarang Muslim menyebut nama Allah Swt di dalam Masjid.
  • Ada manusia jahat, yang ingin agar Muslim di dalam Masjid tidak menyebut nama Allah Swt, melainkan menyebut seluruh urusan dunia saja.
  • Ada manusia jahat, yang tidak ingin umat Muslim menyebut-nyebut nama Allah Swt dalam Masjid.

Manusia-manusia jahat inilah yang disasar Allah Swt melalui ayat Al-baqarah 114.

Pun yang DIHALANG-HALANGI manusia jahat ini BUKAN PERGI KE MASJIDNYA, melainkan MENYEBUT NAMA ALLAHSWT – NYA yang dihalang-halangi oleh manusia jahat ini.

Ayat ini bermakna, jangan ada manusia jahat yang menghalangi Muslim untuk meyebut nama Allah Swt di dalam Masjid, dan berarti AYAT INI TIDAK BERARTI BAHWA SELURUH MUSLIM LAKI-LAKI HARUS SHALAT DI MASJID.

Kemudian, kalau ayat ini berarti ada kebinasaan buat siapa saja yang menghalangi manusia dari mengunjungi Masjid, maka itu berarti bahwa setiap Muslim boleh ke Masjid kapan pun. Nah sekarang pertanyaannya adalah, kalau memang setiap Muslim boleh ke Masjid kapan pun, maka berarti setiap Muslim tinggal di Masjid saja seumur hidup, tidak usah bekerja, tidak usah sekolah, tidak usah berbakti kepada orang tua, tidak usah mengurus anak, tidak usah menikah, tidak usah mengurus kampung, tidak usah mengunjungi saudaranya yang sakit, dsb. Apakah memang demikian yang dikehendaki Allah Swt dan RasulNya?

Harus ditegaskan, bahwa ayat Al-baqarah 114 tersebut cakupannya terlalu luas. Oleh karena itu ayat Al-baqarah ini tidak bisa dijadikan argumentasi untuk menyatakan bahwa setiap Muslim harus shalat di Masjid, karena kebalikannya, yang benar adalah bahwa setiap Muslim harus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya.

Dan sekarang anggaplah bahwa MEMANG ayat Al-baqarah ini mempunyai makna bahwa seluruh laki-laki harus shalat di Masjid mana pun, tidak boleh dihalang-halangi, tidak boleh dilarang. Maka bukankah itu berarti AKAN ADA PERTENTANGAN DAN KONTRADIKSI antara Alquran dengan Alhadis Muhammad Saw bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin? Bukankah ini berarti ada pertentangan antara Alquran dengan Alhadis bahwa Muhammad Saw hanya mementingkan perjalanan ketiga Masjid suci? Bagaimana Muslim dapat menjawab pertanyaan ini?

Ingatlah bahwa nash Islam tidak mempunyai pertentangan. Maka kalau di satu pihak Muhammad Saw bersabda bahwa,

  1. Setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, yang mana itu berarti setiap laki-laki harus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas mereka,
  2. Muhammad Saw hanya mementingkan perjalanan ke tiga Masjid Al-haram yaitu masjidil haram, Masjid nabawi dan Masjid aqsa, yang ke selainnya tidaklah penting,

……. yang mana kedua point ini berarti setiap laki-laki harus shalat di rumah untuk menjadi Imam keluarga ………… maka di pihak lain tidak ada satu pun ayat di dalam Alquran yang menyatakan bahwa setiap laki-laki harus shalat di Masjid.

Maka jelaslah sekarang, bahwa tidak ada satu nash pun dapat Islam yang memerintahkan laki-laki Muslim untuk shalat di Masjid, karena kebalikannya, seluruh Muslim laki-laki harus shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat di rumahnya sendiri atas anak dan keluarganya.

Sebelas.

Alquran: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka mereka-lah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. at-Taubah:18).

Memakmurkan Masjid di sini, BUKAN BERARTI, DAN TIDAK SELALU BERARTI harus shalat di Masjid sehingga anak-anak dan keluarga terlantar di rumah! Harus diingat, bahwa Muhammad Saw telah bersabda bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, maka mengapa masih ada manusia yang berpendapat lain? Bukankah Alhadis tersebut berarti setiap laki-laki harus menjadi Imam atas anak dan keluarganya di rumah? Bukankah itu berarti setiap laki-laki Muslim harus shalat di rumah?

Alangkah baiknya untuk diperhatikan dengan baik. Pada ayat Attaubah 18 itu disebutkan ciri Muslim yang memakmurkan Masjid, yaitu:

  • Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,
  • Serta tetap mendirikan sholat,
  • Menunaikan zakat,
  • Dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah.

Nah perhatikan, apakah ada tersebut di atas bahwa ciri Muslim yang memakmurkan Masjid adalah manusia yang selalu shalat di Masjid (kecuali ketiga Masjid Haram)? Keempat ciri yang diterangkan di dalam Alquran sama sekali tidak menjelaskan bahwa Muslim yang memakmurkan Masjid merupakan Muslim yang selalu shalat di Masjid.

Ini berarti menguatkan suatu pandangan, bahwa setiap Muslim laki-laki harus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya, karena itu pun merupakan amanah Muhammad Saw (kecuali kalau Muslim tersebut berada dekat dengan ketiga Masjid Al- Haram).

Jadi, berdasarkan perspektif ayat Attaubah 18 ini, dapat disimpulkan bahwa Muslim mana pun yang selalu mempertahankan siklus shalatnya, alias rajin shalat, maka ia termasuk Muslim yang memakmurkan Masjid. Jadi tidak ada urusannya dengan Muslim tersebut harus shalat di Masjid.

Sungguh tidak dapat dipertanggungjawabkan adanya Muslim yang menyerukan bahkan ngotot bahwa shalat harus di Masjid (kecuali di ketiga Masjid Al-Haram). Ingatlah bahwa setiap Muslim harus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Itu saja yang harus dicerna baik-baik.

Duabelas.

QS Furqaan 74: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Ayat ini, tidak dapat tidak, merupakan titah Allah Swt sebagai dasar untuk mewujudkan tradisi shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga.

Kata ‘kami’ pada ayat tersebut pastilah posisi seorang ayah, karena dinisbatkan dengan phrase berikutnya ‘anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami’, yang mana itu berarti seorang ayah bermunajat kepada Allah Swt semoga istri dan anak-anaknya menjadi kesenangan hatinya: itulah kesalehan. Sudah dijelaskan melalui paparan ini, bahwa kesalehan hanya terjadi dan tercipta jika sang ayah berteguh untuk shalat di rumah dan menjadi Imam atas anak dan keluarganya.

Phrase berikutnya semakin menegaskan bahwa seorang ayah hendaklah bercita-cita supaya menjadi Imam atas anak dan keluarganya yang penuh taqwa, yaitu phrase “jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Bagaimana mungkin seorang ayah memperoleh keluarganya sebagai kesenangan hatinya, kalau keluarganya tidaklah saleh. Sementara, kesalehan itu sendiri hanya dapat tercapai dengan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh sang ayah sendiri. Dan kemudian, bagaimana seorang ayah dapat menjadi pemimpin (Imam) atas keluarganya yang saleh dan bertaqwa, kalau keluarganya tidak bertaqwa dan saleh lantaran tidak pernah diimamkan shalat berjamaah di rumah?

Apakah mungkin ayat ini mengandung makna, bahwa seorang ayah ingin agar keluarganya menjadi keluarga yang bertaqwa, sementara ia sendiri tidak mengusahakan hal tersebut (dengan cara menjadi Imam shalat atas mereka di rumah)? Dan apakah mungkin, seorang ayah ingin menjadi pemimpin atas orang-orang yang bertaqwa, sementara orang-orang bertaqwa tersebut bukan keluarganya, melainkan orang lain?

Kesimpulannya adalah, bahwa ayat Al-furqan 74 ini benar-benar mendeskripsikan suatu keluarga yang shalatnya selalu diimamkan oleh sang ayah di rumah, dan oleh karena itu keluarga ini menjadi keluarga yang saleh sehingga menjadi kesenangan mata sang ayah, dan pada akhirnya sang ayah inilah yang menjadi pemimpin atas keluarganya sendiri yang penuh taqwa.

Tepat sekali cara Allah Swt menyusun kata-kataNya di dalam ayat Al-furqan 74 ini untuk mewartakan betapa strategisnya shalat berjamaah di rumah dengan diimamkan oleh sang ayah di dalam keluarga tersebut.

Alangkah baiknya untuk diperhatikan, bahwa sementara banyak Muslim yang berdalih bahwa shalat harus ditunaikan di Masjid (kecuali tiga Masjid Haram), maka sebaliknya ayat Al-furqan 74 ini menjadi argumentasi terdepan untuk berteguh dengan shalat di rumah bagi setiap ayah atau laki-laki agar menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Shalat di rumah kata kuncinya adalah pemeliharaan keluarga, sementara ayat Al-furqaan 74 ini kata kuncinya pun juga keluarga. Intinya adalah keluarga, pemeliharaan keluarga, sementara keluarga pastilah menempati rumah, rumah kediaman, bukan Masjid atau pasar sekali pun.

Penutup.

Demikianlah, Alquran mau pun Alhadis, dan juga kisah kehidupan Muhammad Saw, tidak memberi satu dalil pun bagi umat Muslim untuk berketerusan shalat di Masjid (kecuali tiga Masjid Haram) sehingga meninggalkan anak dan keluarganya di rumah di dalam keadaan tidak terimamkan shalat mereka. Kebanyakan Muslim berfikir bahwa Masjid merupakan episentrum kesalehan, maka dari itu mereka mempertahankan keterlibatan mereka kepada aktivitas Masjid dari waktu ke waktu, dan itu artinya mereka meninggallkan kewajiban mereka untuk menjadi Imam atas keluarga, yang sebenarnya merupakan amanah dan titah Baginda Muhammad Saw.

Banyak Muslim yang berkeyakinan bahwa saleh adalah Masjid, sehingga mereka berfikir bahwa semakin banyak waktu yang mereka luangkan di Masjid, maka akan semakin salehlah mereka di mata Allah Swt. Kalau kesalehan itu tidak memberi manfaat bagi sesama manusia, khususnya keluarga sendiri, maka dapat dipastikan bahwa hal tersebut bukanlah kesalehan, untuk menghemat kata. Kesalehan adalah suatu hal yang bermanfaat buat sesama, dan kalau seorang ayah selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya – sehingga mendatangkan manfaat yang penuh hikmat, maka itulah kesalehan, tepat pada intinya.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya

Mari Menggagas Mahkamah Ampera

nuranirakyat

DPR merupakan lembaga perwujudan kehendak dan kedaulatan rakyat yang berkedudukan di ibukota negara yaitu Jakarta. Di dalam DPR, karena berisi ratusan manusia yang bermartabat dan dipilih seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, terdapat sumber-sumber daya yang penuh nurani dan nalar, pertimbangan-pertimbangan dan inspirasi kemanusiaan yang dapat dipertanggung-jawabkan.

Selama ini lembaga DPR berfungsi di dalam hal legislasi, yaitu membuat dan mensahkan Undang-undang bersama Pemerintah, di dalam hal ini Presiden. Mengingat DPR merupakan lembaga yang berisi nalar, nurani, inspirasi kemanusiaan dan pertimbangan-pertimbangan, maka sebenarnya masih ada satu lagi fungsi yang seharusnya diemban DPR. Fungsi tersebut mari kita namakan dengan Mahkamah Ampera.

Latar belakang dibentuknya lembaga Mahkamah Ampera.

Mahkamah Ampera mempunyai sasaran-tembak pada lembaga kepolisian negara yaitu Polisi Republik Indonesia, Polri. Yang akan disasar tentu bukan Polri-nya, melainkan sistem pelaporan tindak pidananya.

Sama kita ketahui bahwa di dalam hal penegakan Hukum khususnya pada kasus-kasus pidana, kerap terjadi pelaporan kasus yang menyayat nurani dan perasaan, yang dilaporkan oleh warga masyarakat untuk ditindak-lanjuti oleh kepolisian. Di antaranya, adalah seperti,

  • Pada suatu ketika, seorang nenek dari keluarga miskin yang sedang berjalan di tepi hutan produksi, memungut sebutir buah yang jatuh dari pohonnya dan kemudian ia bawa pulang untuk ia makan. Apa yang terjadi selanjutnya adalah, personel dari Perusahaan hutan produksi tersebut melaporkan sang nenek ke polisi dengan laporan tindak pidana pencurian. Maka hari-hari berikutnya berubah menjadi malapetaka buat si nenek renta nan miskin ini, di mana ia harus bolak-balik ke Kantor polisi untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Publik mengikuti kasus ini melalui media massa, dan sudah barang tentu publik mengikutinya dengan perasaan trenyuh.
  • Pada suatu ketika, seorang karyawan hotel mengambil roti sisa yang basi dari tempatnya bekerja. Apa yang terjadi selanjutnya adalah, bahwa staf hotel melaporkan karyawan tersebut ke polisi dengan laporan tindak pidana pencurian. Sama kita ketahui bahwa harga roti sisa yang basi itu tidak seberapa.
  • Pada suatu ketika, seorang nenek dilaporkan ke polisi oleh anak dan menantunya sendiri dengan laporan tindak pidana memasuki pekarangan rumah orang tanpa izin, padahal semua orang tahu bahwa rumah tersebut adalah rumah ibu dari sang anak sendiri, dan mereka semua adalah satu keluarga. Tidak ayal lagi, sang nenek harus berurusan dengan polisi dan terancam mendapat hukuman pidana untuk suatu hal yang sebenarnya bukan kesalahannya.
  • Seorang anak melaporkan ibunya sendiri yang telah renta ke polisi dengan tuduhan telah mencuri pohon yang tumbuh di pekarangan rumah sang anak. Tak pelak lagi kepolisian harus memanggil sang ibu tua ini dan kemudian menahannya sehingga menjadi sakit-sakitan.

Banyak sekali kasus yang dipolisikan yang beraroma demikian. Di lain pihak, tentunya kepolisian haruslah menindak-lanjuti laporan tersebut, karena sudah merupakan tanggungjawabnya sebagai penegak Hukum untuk menjamin tegaknya keadilan di tengah masyarakat. Namun tentunya masyarakat dan umat manusia mempunyai nurani dan nalar. Mereka bisa membuat penilaian atas apa yang sebenarnya tengah terjadi. Dan harus diakui bahwa masyarakat tidaklah bodoh, masyarakat tidaklah mati-rasa.

Tentunya hal ini membuat publik menjadi miris dan nelangsa. Namun toh demikian masyarakat juga tidak bisa begitu saja menyerukan kepada kepolisian untuk meng-aborsi perkara tersebut, karena memang tidak ada Undang-undangnya.

Terdapat dua hal yang dapat digaris-bawahi di sini:

  1. Perkara tersebut merupakan perkara yang konyol, tidak masuk akal, tidak sesuai nalar, tidak berperi-kemanusiaan, tidak memihak kepada rakyat, dan terlalu dipaksakan. Perkara tersebut mematikan hubungan silaturahmi antar manusia yang seharusnya ada. Perkara tersebut mencerminkan egosentrisme, mencerminkan pendirian ‘tutup-mata’. Perkara ni mencerminkan arogansi pihak pelapor.
  2. Pihak kepolisian, tentu saja harus menindak-lanjuti laporan tersebut. Adalah salah kalau pihak kepolisian mendiamkan laporan kasus tersebut, karena ‘diwacanakan’ akan melukai hak sang pelapor. Memang sama diketahui, untuk setiap pelaporan tindak pidana yang masuk, maka hal pertama yang dilakukan pihak kepolisian adalah mengajak kedua belah pihak (atau para pihak) untuk berdamai, dengan kata lain mencari kemungkinan agar kasus tersebut tidak dilanjutkan, atau ‘diseriuskan’ ke tingkat Kejaksaan. Namun bukankah fakta yang ada justru menunjukkan bahwa tahap pendamaian kadang ditolak mentah-mentah oleh pelapor. Buktinya, toh kasus tersebut akhirnya terlimpah ke Kejaksaan dan kemudian bergulir di tingkat Pengadilan. Bukankah ini menandakan bahwa tahap pendamaian yang digagas kepolisian tidak bertaji?

Pertanyaannya sekarang adalah, dapatkan perkara-perkara yang beraroma miris tersebut dapat diaborsi di tingkat kepolisian supaya tidak dilimpahkan ke Kejaksaan, demi menjaga dan melegakan nurani setiap manusia?

Dewi keadilan, selalu hadir dengan mata tertutup, satu tangannya memegang pedang keadilan, sementara pada tangan lainnya tergantung timbangan keadilan. Sosok ini merupakan simbol, bahwa keadilan tidak pernah melihat kepada siapa, apakah ia orang miskin, apakah ia orang kaya, apakah ia pejabat, apakah kasus tersebut remeh, apakah kasus tersebut konyol, apakah kasus tersebut tidak mengiris nurani, dsb. Oleh karena itu setiap kasus yang masuk ke kepolisian harus mendapat perlakuan yang sama, karena keadilan haruslah sama antara satu warga dengan warga lainnya. Kalau seorang nenek tua nan miskin mencuri, tetaplah ia harus dihukum dan dipenjara dengan hukuman seberat-beratnya.

Keseluruhan ide tersebut, dikarenakan Dewi Keadilan hadir sebagai sosok dengan mata tertutup, yang menandakan bahwa ia, sang keadilan, tidak memihak kepada siapa pun. Keadilan hanya memihak kepada keadilan.

Namun juga harus diingat, bahwa publik tidaklah bodoh, publik bisa melihat dengan nurani dan nalar. Sering kali publik melihat bahwa sosok Dewi Keadilan ini membawa hal-hal yang outputnya adalah ketidak-berperi-kemanusiaan dan ketidak-berperi-perasaan.

Nah pada level inilah peran Mahkamah Ampera diperlukan, yang mana lembaga Mahkamah Ampera ini merupakan wewenang DPR RI.

Tugas dan wewenang Mahkamah Ampera.

Tugas dan wewenang Mahkamah Ampera DPR adalah menggelar sidang untuk menentukan apakah suatu perkara yang beraroma miris yang tengah bergulir di kepolisian layak dilanjutkan atau sebaliknya, diaborsi, melalui suatu ketetapan Mahkamah Ampera DPR.

Ketika DPR mengetahui, memperhatikan dan mengikuti suatu kasus perkara yang beraroma miris, DPR akan segera bersikap. DPR bersikap, karena suatu kasus perkara dinilai merupakan kasus yang amat miris, tidak masuk akal, mencerminkan arogansi, tidak berperi-kemanusiaan, dan perkara ini melawan kepentingan rakyat miskin yang sengsara. Dan DPR memang harus bersikap untuk menanggapi (atau mengantisipasi) mekanisme kepolisian yang memang tidak dapat mengaborsi kasus suatu perkara. Sesuatu hal yang mendasar harus diperlihatkan oleh DPR untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa suatu kasus tidak selayaknya diperkarakan.

Atas dasar hak inisiatif yang dimiliki DPR, lembaga kedaulatan rakyat ini menggelar sidang Mahkamah Ampera atas perkara sedemikian. Di dalam sidang Mahkamah Ampera DPR ini akan dipaparkan duduk permasalahan perkara tersebut seobjektif mungkin. Dan pada akhirnya, nurani wakil-rakyat inilah yang akan menentukan apakah perkara ini akan dilanjut, atau diaborsi.

Apapun yang menjadi ketetapan (keputusan) Mahkamah Ampera DPR ini atas suatu perkara yang di-Mahkamah Ampera-kan, maka kepolisian wajib mentaati dan mematuhinya.

Pencetus penggelaran sidang Mahkamah Ampera DPR.

Ketika terjadi suatu perkara yang miris dan tidak masuk akal yang sedang ditangani kepolisian, maka DPR dapat menggunakan wewenang dan haknya untuk menggelar Mahkamah Ampera untuk mengantisipasi semakin liarnya perkara tersebut di tingkat kepolisian, demi untuk menunjukkan keberpihakan DPR kepada Amanat Penderitaan Rakyat.

Ada tiga hal yang merupakan pencetus digelarnya sidang Mahkamah Ampera DPR ini:

  1. Adanya permohonan dari pihak terlapor, yang ia-nya merasa sangat dirugikan dan disengsarakan oleh kekuatan yang kelewat besar.
  2. Adanya / menggeloranya demo massa yang bangkit untuk mendesak DPR agar segera menggelar Mahkamah Ampera-nya, supaya keadilan tetap berpihak kepada rakyat yang menderita.
  3. Adanya inisiatif dari DPR sendiri setelah mengetahui, memperhatikan dan mengikuti suatu kasus perkara yang beraroma miris ini.

Mahkamah Ampera sebagai pengawas kepolisian.

Dengan adanya Mahkamah Ampera DPR ini, maka dapat dikatakan bahwa mulai sejak saat itu kepolisian mempunyai lembaga yang menjadi pengendali dan penyeimbang atas dirinya. Sama kita ketahui bahwa semua lembaga negara mempunyai lembaga penyeimbangnya. Hal ini dimaksudkan supaya suatu lembaga tidak menjadi lembaga ‘superbody’ saat menjalankan tugas dan wewenangnya. Sungguh pun demikian, Indonesia tidak / belum mempunyai lembaga yang akan berperan sebagai penyeimbang wewenang kepolisian. Itulah sebabnya banyak kasus yang tidak masuk akal yang tetap bergulir di tingkat kepolisian – karena lembaga kepolisian ini tidak mempunyai kekuatan penyeimbang. Tentunya, yang diseimbangkan bukan kepolisiannya, melainkan alur pelaporan perkaranya.

Dan di luar itu, jelas sekali bahwa DPR merupakan satu-satunya lembaga yang paling berhak untuk menjadi kekuatan penyeimbang lembaga kepolisian, karena pada intinya lembaga kepolisian bekerja atas dasar nurani terdalam anak manusia (ingat, keadilan harus sesuai nurani), sementara nurani itu sendiri ada di dalam DPR, yaitu nurani-nya seluruh rakyat dan bangsa Indonesia. Ingatlah, bahwa yang paling berhak menjadi Hakim yang adil adalah nurani, bukan siapa-siapa. Nurani tidak pernah salah, nurani adalah misi Tuhan yang terus menuntut dan menuntun manusia menuju keadilan.

Juga harus dicermati, bahwa kepolisian merupakan lembaga yang seutuhnya bersinggungan dengan rakyat banyak. Di sisi lain, rakyat banyak inilah yang menjelma di dalam suatu lembaga yang disebut DPR. Maka dari itu patutlah jika DPR merupakan satu-satunya lembaga yang layak menjadi mitra kepolisian (penyeimbang kepolisian), karena sama-sama berbasis rakyat banyak.

Jenis perkara miris yang merupakan domain Mahkamah Ampera.

Terdapat dua jenis perkara miris yang akan menjadi domain atau tanggungjawab Mahkamah Ampera DPR RI.

Pertama.

Perkara miris seperti yang dideskripsikan pada bagian awal, di mana seorang nenek miskin dilaporkan oleh staf Perusahaan dengan tuduhan pencurian buah yang jatuh di tanah, atau seorang nenek renta yang dilaporkan ke polisi oleh anak dan menantunya dengan tuduhan memasuki pekarangan rumah orang tanpa ijin, dsb.

Kedua.

Perkara kriminalisasi atas pribadi-pribadi tertentu yang sebenarnya merupakan grand-design untuk melumpuhkan suatu lembaga Pemerintahan / publik yang di dalam pandangan pihak tertentu, lembaga tersebut telah menghalangi suatu tujuan.

Manusia mempunyai kesalahan, tidak ada manusia yang tidak mempunyai kesalahan. Tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam perjalanan interaksi antar lembaga Pemerintahan / publik kerap terjadi pergesekan dan konflik kepentingan satu dengan yang lainnya, sehingga terkadang solusi yang tersedia hanyalah dengan menyeret pribadi-pribadi yang bersinggungan ke pihak kepolisian, supaya pribadi-pribadi atau lembaga tersebut tidak lagi membahayakan lembaga lainnya.

Hal ini tentunya sangat tidak terpuji, dan sangat merugikan bangsa dan negara, karena biar bagaimana pun kriminalisasi merupakan suatu kata dan semangat yang tidak pada tempatnya. Kriminalisasi akan menjadi suatu bentuk sandungan dan langkah mundur bagi penyelenggaraan negara secara keseluruhan. **

Demikianlah kedua jenis perkara miris ini, biar bagaimana pun harus diawasi dan dikendalikan oleh DPR, karena hanya DPR lah yang paling berhak untuk menilai apakah pemerkaraan kasus ini dapat dilanjutkan atau diaborsi. Intinya adalah, kedua jenis perkara ini sungguh melanggar nurani, nurani manusia waras mana pun. Sementara kita ingat, bahwa DPR merupakan lembaga penjelmaan seluruh rakyat Indonesia, yang tentunya di dalam lembaga tersebut juga tersalurkan nurani dan inspirasi seluruh rakyat Indonesia.

Karakteristik perkara miris.

Perkara-perkara miris yang merupakan domain dan tanggungjawab Mahkamah Ampera DPR RI mempunyai karakter sebagai berikut,

  1. Perkara ini tidak memiliki nilai kerugian yang signifkan, baik kerugian material mau pun immaterial.
  2. Perkara ini merupakan bentuk arogansi satu pihak atas pihak lainnya, atau pihak pelapor. Tidak ada objektivitas. Tidak ada itikad baik.
  3. Perkara ini mempunyai aroma dan potensi untuk melanggar Amanat Penderitaan Rakyat seluruh bangsa Indonesia.
  4. Perkara ini kalau diaborsi oleh Mahkamah Ampera DPR RI, tidak menimbulkan kerugian apalagi guncangan sosial mau pun Hukum yang berarti bagi kehidupan skala mikro mau pun skala makro / berbangsa.
  5. Perkara ini merupakan rekayasa atau grand-design dari pihak tertentu yang erat terkait dengan pergesekan antar lembaga Pemerintahan / publik, dan tentu saja ini dengan sendirinya merupakan bentuk arogansi, seperti point kedua di atas. Ujung-ujungnya, perkara ini akan melanggar Amanat Penderitaan Rakyat seluruh bangsa Indonesia.
  6. Kebalikannya, kalau perkara ini harus tetap / dibiarkan dilanjutkan di tingkat kepolisian hingga ke tahap penuntutan / Kejaksaan, justru akan merugikan dan melukai perasaan keadilan masyarakat yang lebih luas. Perkara ini, kalau dibiarkan berlanjut hingga ke penuntutan dan Pengadilan, justru akan merugikan sosial, pembangunan Hukum, dan juga merugikan bangsa dan negara. Ingatlah, keadilan adalah keadilan yang dilihat oleh lebih banyak manusia; keadilan bukanlah diukur oleh satu orang saja dan menghalangi orang lain untuk turut mengukur. **

Kita harus teringat akan adanya suatu adagium di dalam pembangunan Hukum, yaitu bahwa “Hukum telah menjadi senjata bagi segala jenis kerakusan” – (Frederick Bastiat, 1850). Dan tampaknya adagium ini terlihat nyata pada perkara-perkara miris seperti yang telah diungkapkan di atas. Namun kalau bangsa Indonesia memiliki Mahkamah Ampera yang merupakan satu fungsi DPR RI, kita dapat berharap bahwa mulai sejak saat itu, Hukum tidak lagi menjadi senjata untuk melanggengkan kerasukan, melainkan akan menjadi bahtera Agung untuk perjalanan nurani manusia yang tidak pernah bisa dikooptasi oleh apapun. Sama kita ketahui, bahwa hukum dan keadilan tidak bisa dipisahkan dari nurani manusia. Maka biarlah nurani menjadi Bapak rohani atas hukum dan keadilan.

Demikianlah, semoga cita-cita seluruh bangsa Indonesia untuk mempunyai Mahkamah Ampera yang bertahta di dalam DPR RI segera terwujud, yang dengan lembaga tersebut seluruh bangsa dapat memastikan bahwa Hukum tidak lagi dapat dipergunakan oleh pihak tertentu sebagai senjata untuk melanggengkan kerakusan mereka, dan dengan lembaga ini pun tidak ada lagi pihak yang dapat melanggar Amanat Penderitaan Rakyat. Singkat kata, biarlah nurani yang menentukan.

Wallahu a’lam bishawab.

Seorang Hamba Versus Allah Swt

menangis

Suatu hari Rasulullah Muhammad SAW sedang tawaf di Kabah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”.

Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”.

Orang itu berhenti di satu sudut Kabah dan menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”. Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”.

Orang itu berasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah dilihatnya.

Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang Badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah”.

Mendengar kata-kata orang Badui itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”.

“Belum,” jawab orang itu.

“Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?”, tanya Rasulullah SAW.

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan kerasulannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya”, jawab orang Arab Badui itu.

Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat”.

Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?”. “Ya”, jawab Nabi SAW.

Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua kaki Rasulullah SAW.

Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab Badui itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur, yang minta dihormati, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

Ketika itulah turun Malaikat Jibril as untuk membawa berita dari langit, lalu berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar”.

Setelah menyampaikan berita itu, Jibril as kemudian pergi. Orang Arab itu berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalaku, maka aku pun akan membuat perhitungan denganNya”.

Orang Arab Badui berkata lagi, “Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosaku, maka aku akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan-ku, maka aku akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan-ku, maka aku akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”

Mendengar ucapan orang Arab Badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab Badui itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril as turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau dari menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”

Betapa sukacita-nya orang Arab Badui itu, saat mendengar berita itu dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa terharu.

-o0o-

Diambil dari,

http://dikikzr.abatasa.co.id/post/detail/28633/ketika-rasulullah-saw-menangis-malaikat-penjaga-arasy-lupa-bacaan-tasbih-dan-tahmidnya