Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah

jengkaltanahuntukmesjid

Rumah merupakan tempat suci di mata Allah Swt, karena di rumah tersebutlah Allah Swt mencurahkan seluruh rahmat dan hidayahNya kepada seluruh anggota keluarga yang diam di dalam rumah tersebut. Itu artinya, rumah ini mengharuskan penghuninya untuk terus menunaikan shalat di dalam rumah, bukan di Masjid. Dan kalau dari waktu ke waktu shalat berjamaah terus ditunaikan di dalam suatu rumah, maka akan semakin sucilah rumah tersebut.

Terdapat kondisi dan tradisi di mana kebanyakan Muslim memilih shalat di Masjid, bukannya di rumah. Dan mereka berfikir bahwa shalat di Masjidlah yang merupakan ajaran Muhammad Saw. Tak pelak lagi, pendirian mereka jadi menempatkan rumah bukan lagi sebagai tempat suci. Ini jelas bertentangan dengan kemurahan dan maharahmat Allah Swt.

Di bawah ini akan dipaparkan bahwa tidak ada satu pun dalil / nash agama yang dapat dijadikan landasan untuk shalat di Masjid.

Satu.

Alhadis: Setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu.

Alhadis di atas benar-benar menitahkan, bahwa setiap laki-laki haruslah menjadi Imam shalat di rumah atas seluruh keluarganya. Khususnya yang dimaksud laki-laki di sini adalah para ayah, paman, datuk mau pun suami, yaitu mereka yang sudah dewasa dan dituntut dari mereka kepemimpinan dan tanggungjawab mereka atas kemaslahatan keluarganya. Laki-laki anak kecil tentulah bukan termasuk yang disinggung di dalam Alhadis ini, karena mereka belum mempunyai tanggungjawab, belum dewasa, sehingga oleh karena itu belum dapat dituntut kepemimpinannya atas keluarganya.

Kalau di satu pihak sudah jelas bahwa setiap laki-laki, ayah, paman, datuk mau pun suami merupakan pemimpin atas anak dan keluarganya, maka di pihak lainnya pun jelas, bahwa adalah tugas dan kewajiban setiap dari mereka untuk shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Kalau Muhammad Saw telah bertitah bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin, maka bagian paling perdana dari menjadi pemimpin tersebut adalah menjadi Imam shalat di rumahnya atas anak dan keluarganya. Hal tersebut teramat mudah untuk difahami.

Kalau seorang laki-laki, di dalam hal ini, seorang ayah mau pun paman atau datuk selalu shalat di Masjid, bukan di rumah, maka bagaimana ia dapat menjalankan perannya sebagai Imam atas keluarganya di rumah? Ketika seorang ayah shalat berjamaah di Masjid, maka pada saat itu ia bukanlah pemimpin, melainkan seseorang yang dipimpin (yaitu makmum), sementara sabda Muhammad Saw sudah jelas, bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin, yang arti perdana di sini adalah pemimpin shalat atas anak dan keluarganya.

Tak pelak lagi, adalah penting bagi setiap laki-laki untuk shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya demi mengamalkan titah Baginda Muhammad Saw.

Dua.

Alhadis: Aku mementingkan perjalanan ke tiga Masjid ini yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-aqsa.

Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa, merupakan tiga Masjid suci di dalam agama Islam. Keberadaan Ketiga Masjid ini disinggung di dalam Alquran, yang menandakan keutamaan dan kesucian dari ketiga Masjid ini. Selain itu, ketiga Masjid ini merupakan saksi dari perjalanan seluruh Nabi dan Rasul Allah di dalam menjalankan tugas Surgawi mereka melawan kekafiran umat jahil.

Adalah pada tempatnya Muhammad Saw bersabda yang sedemikian di atas, untuk menegaskan posisi penting dari ketiga Masjid tersebut. Umat akan mendapat keberkahan yang luar biasa kalau berada di dalam Masjid ini, khususnya untuk setiap shalat yang mereka tunaikan di dalam ketiga Masjid tersebut.

Arti lain yang penting dari Alhadis di atas adalah, bahwa seluruh Masjid selain ketiga Masjid Haram, merupakan tempat yang tidak mempunyai keutamaan bagi umat, khususnya untuk setiap shalat yang mereka tunaikan di dalamnya. Kalau Muhammad Saw sendiri telah bersabda bahwa diri-nya hanya mementingkan perjalanan kepada tiga Masjid Haram tersebut, maka itu artinya Muhammad Saw tidak melihat adanya keutamaan dari mengunjungi atau berada di Masjid selainnya, khususnya untuk setiap shalat yang ditunaikan di dalamnya. Bagi umat ini pun jelas, bahwa kalau Muhammad Saw telah berpendirian sedemikian, maka umat pun harus sepakat bahwa berada atau mengunjungi Masjid selain tiga Masjid Haram tidak mempunyai nilai keutamaan, khususnya untuk setiap shalat yang ditunaikan di dalamnya.

Kalau seorang Muslim berada di kota Mekah, atau perjalanan dari tempatnya berdiam menuju Masjid Al- Haram tidak menyusahkan dirinya, maka berlakulah Alhadis tersebut di atas, yaitu bahwa dia harus mementingkan perjalanannya ke Masjid Al- Haram. Begitu juga kalau ia berada di Madinah mau pun di Yerusalem, yang perjalanannya dari tempatnya berdiam menuju Masjid Haram di masing-masing kota tidak menyusahkan dirinya, maka wajiblah baginya untuk mengunjungi Masjid tersebut untuk beribadah di dalamnya.

Namun sebaliknya, kalau perjalanannya dari tempatnya berdiam menuju ketiga Masjid Haram menyusahkan dirinya, maka tiada wajib baginya untuk shalat di ketiga Masjid tersebut, karena telah berlaku atasnya Alhadis Nabi Muhammad Saw ini, yaitu bahwa siapa pun harus mementingkan perjalanan menuju ketiga Masjid Haram saja, selainnya tidak mempunyai keutamaan.

Kata kuncinya adalah ‘menyusahkan atau tidak menyusahkan’, karena Islam tidak pernah menyusahkan umatnya. Kalau suatu perjalanan dari sebuah tempat berdiam menuju salah satu Masjid Haram tidak menyusahkannya, maka wajiblah ia berperjalanan menuju Masjid Haram tersebut. Namun kebalikannya, kalau perjalanan dari tempatnya berdiam menuju satu Masjid Haram adalah menyusahkannya, maka tidak wajib atasnya untuk mengunjungi Masjid tersebut, cukuplah ia shalat di rumah untuk menjadi Imam atas keluarganya.

Oleh karena itu kalau seorang umat berada di Jakarta atau di Beijing, yang perjalanannya menuju ketiga Masjid Al- Haram tersebut menyusahkan baginya, maka tidak adalah keutamaan dan kepentingan baginya untuk shalat di Masjid tempat kediaman kotanya. Ingatlah, bahwa Muhammad Saw telah bertitah, bahwa hanya ketiga Masjid suci saja yang mempunyai keutamaan, maka itu berarti Masjid selainnya tidak mempunyai kepentingan dan keutamaan.

Konsekwensinya adalah, lebih baik bagi seorang umat yang jauh dari ketiga Masjid Haram tersebut untuk senantiasa shalat di rumah, untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya.

Tiga.

Alhadis: Terangilah rumah kamu dengan shalat dan membaca Alquran.

Alhadis ini mempunyai ketegasan tingkat tinggi mengenai betapa pentingnya bagi umat Muslim untuk shalat di rumah agar dengan demikian dapat menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Tidak dapat lagi disangkal, tidak dapat lagi dicarikan dalih lain, karena Alhadis ini tidak mempunyai arti lain kecuali dengan terang menyebutkan bahwa seluruh Muslim, seluruh ayah, paman dan datuk tetaplah harus shalat di rumah di dalam rangka membawa cahaya shalat bagi rumah mereka masing-masing di dalam rangka menunaikan titah Muhammad Saw ini.

Oleh karena itu dari mana lagi dalih yang ingin dipertahankan seorang umat Muslim untuk berketerusan shalat di Masjid, sehingga dengan demikian ia meninggalkan kewajibannya untuk menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya di rumah masing-masing? Kalau seorang Muslim shalat di Masjid, berarti ia tidak shalat di rumah. Dan kalau ia tidak shalat di rumah, maka bagaimana mungkin rumahnya mendapatkan cahaya Illahiah yang dipancarkan shalat berjamaah di rumah?

Kalau seorang Muslim shalat di Masjid, kalau berketerusan shalat di Masjid, maka jelaslah bahwa ia-nya telah menyimpangi ajaran dan titah Muhammad Saw. Berkata tidak kepada Alhadis Nabi saw merupakan suatu dosa. Ketahuilah, ketika seorang Muslim shalat di Masjid, bukannya di rumah, maka pada saat itu ia bukan seorang hamba yang menjalankan sunnah Rasul.

Empat.

Alhadis: “Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi mereka pada hari tiada naungan selain naungan Allah yaitu -di antaranya- seorang yang terikat (hatinya) dengan Masjid ketika ia keluar hingga ia kembali ke Masjid (HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Banyak Muslim yang senantiasa shalat di Masjid, bukannya di rumah, tersebab adanya Alhadis di atas. Alhadis ini mengisyaratkan, bahwa manusia yang akan mendapat naungan pada hari kiamat adalah manusia yang terikat cintanya kepada Masjid, serta-merta umat menerjemahkannya dengan cara harus senantiasa berada di Masjid selama mungkin, shalat di Masjid, mengaji Alquran di Masjid, dzikir di Masjid, shalawat di Masjid, intinya berada lama di dalam Masjid merupakan tolok-ukur kecintaan dan kesalehan seorang manusia. Luar biasa, kesalehan yang diagung-agungkan Islam ternyata hanya bernuansa satu warna, yaitu berada lebih lama di dalam Masjid.

Ketika seorang manusia harus cinta kepada Masjid – seperti yang dititahkan Muhammad Saw – maka apakah implementasinya adalah dengan terus shalat di Masjid, dengan meninggalkan kewajibannya untuk menjadi imam di rumahnya???

Kalau memang landasannya adalah selalu berada di Masjid untuk mencintai Masjid di dalam rangka untuk mencapai kesalehan dan naungan Allah Swt di hari kiamat, maka itu berarti:

  • Tidak usah kerja sekalian,
  • Tidak usah ngantor sekalian,
  • Tidak usah ke pasar sekalian,
  • Tidak usah maju ke medan pertempuran sekalian,
  • Tidak usah membangun rumah sekalian,
  • Tidak usah menikah sekalian,
  • Tidak usah mengurus anak sekalian,
  • Tidak usah berbakti kepada orang-tua sekalian,
  • Tidak usah menuntut ilmu sekalian,
  • Tidak usah bergotong-royong membersihkan desa sekaian,

Tidur saja di mesjid buat selama-lamanya …. Shalat saja terus-terusan di Masjid, tinggal saja di Masjid sekalian buat selama-lamanya.

Apakah itu yang diinginkan Allah Swt dan RasulNya?

Terdapat suatu Alhadis yang mengisahkan adanya seorang sahabat yang terus-terusan shalat di Masjid, siang, malam, shubuh, sore, fajar …… selalu shalat di Masjid. Hal ini menjadi perhatian Muhammad Saw.

Kemudian Nabi saw bertanya kepada Muslim tersebut, “apakah kamu tidak bekerja mencari nafkah untuk keluarga?”. Muslim tersebut menjawab, “sudah ada kesepakatan antara saya dengan saudara saya, bahwa cukuplah saya shalat terus-menerus di Masjid ini, dan saudara sayalah yang akan bekerja untuk menafkahi keluarga saya”.

Muhammad Saw bersabda, “tidak demikian. Keluarlah kamu untuk bekerja mencari nafkah untuk keperluan kamu sekeluarga. Kalau kamu sudah selesai dengan pencarian nafkahmu, maka kembali lah kamu ke Masjid ini”.

Kisah ini memberi pemikiran segar, bahwa kalau mencintai Masjid berarti setiap Muslim harus lebih banyak melewatkan waktu di Masjid, maka mengapa ada kisah seperti yang termaktub di dalam Alhadis ini? Bukankah Muhammad Saw sendiri yang melarang setiap umat (laki-laki) untuk selalu berada di Masjid, untuk selalu shalat di Masjid? Faktanya sahabat tersebut tengah menunjukkan cintanya kepada Masjid, namun bukankah kemudian Muhammad Saw memerintahkan sahabat tersebut untuk keluar dari Masjid supaya bisa bekerja mencari nafkah, yang merupakan kewajibannya yang lain?

Intinya, cinta kepada Masjid, sama sekali tidak bermakna bahwa seorang Muslim harus terus-terusan berada dan shalat di Masjid. Ingatlah bahwa setiap laki-laki, ayah, paman, datuk, mempunyai kewajiban atas anak dan keluarganya. Maka dari itu wajiblah setiap dari mereka menunaikan kewajiban mereka atas keluarganya yaitu shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas mereka (khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan shubuh). Kalau mereka sudah selesai dengan tugas keimaman mereka, baiklah mereka berada di Masjid.

Kalau seorang Muslim berketerusan berada di Masjid, shalat di Masjid, dzikir di Masjid, shalawat di Masjid, itikaf di Masjid, khatam Alquran di Masjid, demi memenuhi titah Alhadis bahwa mencintai Masjid merupakan jaminan kesalehan dan jaminan akan mendapatkan naungan Allah Swt pada hari kiamat, maka bagaimana Muslim tersebut dapat dikatakan Muslim yang bermanfaat buat sesama? Islam mengajarkan bahwa kesalehan adalah ketika seorang Muslim bermanfaat secara positif bagi sesamanya. Dan itu artinya Muslim tersebut harus berada di luar Masjid untuk menunjukkan sumbangsihnya bagi masyarakat. Artinya, kalau seorang Muslim ingin menjadi saleh, maka adalah salah kalau ia menempuhnya dengan selalu berada di dalam Masjid, karena dengan berada berketerusan di dalam Masjid, maka praktis menjadilah ia tidak berguna buat sesamanya.

Singkat kata, mencintai Masjid, bukan inspirasi untuk membuat setiap Muslim harus berketerusan berada di Masjid.

Lima.

Alhadis: Shalat berjama’ah itu lebih baik 27 kali lipat daripada shalat sendiri”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

Alhadis ini menitahkan bahwa shalat berjamaah mempunyai derajat 27 kali lebih tinggi dari shalat seorang diri. Namun apakah Alhadis ini menyebutkan bahwa suatu shalat akan bernilai 27 derajat lebih tinggi jika ditunaikan di dalam Masjid? Tidaklah demikian.

Ingatlah, bahwa di mana pun suatu shalat ditunaikan, asalkan ditunaikan secara berjamaah, maka tetaplah nilainya 27 derajat lebih tinggi daripada shalat seorang diri. Tidak perlu suatu shalat berjamaah ditunaikan di dalam Masjid supaya shalat berjamaah tersebut bernilai 27 derajat lebih tinggi. Tidak ada Alhadis mau pun nash lainnya yang menyebutkan, bahwa shalat berjamaah akan bernilai 27 derajat lebih tinggi jika ditunaikan di dalam Masjid, tidak ada Alhadis demikian.

Artinya, kalau suatu shalat ditunaikan secara berjamaah, dan ditunaikan di dalam sebuah rumah keluarga Muslim di mana sang ayah menjadi Imam atas anak dan keluarganya, maka tetaplah shalat tersebut bernilai 27 derajat lebih tinggi.

Enam.

Alhadis: “Sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar” (HR. At-Thabarani dan al-Hakim. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 3271).

Banyak Muslim yang berteguh untuk memilih Masjid sebagai tempat untuk menunaikan seluruh jadwal shalat mereka, dengan menggunakan dalil yang salah satunya adalah Alhadis di atas. Tersebab Masjid merupakan tempat terbaik di dalam pandangan Allah Swt, maka hal ini membuat Muslim berfikir, bahwa shalat haruslah ditunaikan di dalam Masjid.

Sebenarnya-lah, tidak ada hubungan apapun antara Alhadis ini dengan fikiran bahwa shalat harus ditunaikan di dalam Masjid. Alhadis ini hanya menitahkan bahwa sebaik-baik tempat di dunia adalah Masjid, dan seburuk-buruk tempat di dunia ini adalah pasar, itu saja. Alhadis ini tidak menyiratkan bahwa shalat harus ditunaikan di dalam Masjid.

Kalau Masjid merupakan sebaik-baik tempat di bumi ini, dan ini mengakibatkan Muslim berfikir bahwa shalat sebaiknya ditunaikan di dalam Masjid, maka kemudian, apakah yang menghalangi Muslim untuk turut berfikir, bahwa sebaiknya mengurus anak dilakukan di Masjid, memasak sayur dan gulai sebaiknya ditunaikan di Masjid, berbakti kepada orang tua sebaiknya ditunaikan di Masjid? Apakah memang harus demikian?

Tujuh.

Alhadis: “dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun ketentraman kepada mereka; rahmat akan menyelimuti mereka, para Malaikat menaungi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para Malaikat di sisi-Nya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Alhadis ini juga dijadikan salah satu dalih beberapa Muslim untuk terus berteguh untuk shalat di Masjid.

Alhadis ini menitahkan adanya kebaikan atas suatu golongan yang selalu berhimpun di dalam Masjid untuk tujuan mendalami Alquran. Namun apakah Alhadis ini dengan serta-merta berarti bahwa seluruh Muslim harus berketerusan shalat di Masjid? Atau, apakah Alhadis ini merupakan sinyalemen bahwa Allah Swt mengharamkan setiap Muslim untuk shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya?

Kalaulah memang Allah Swt mengharamkan setiap Muslim untuk shalat di rumah menjadi Imam atas keluarganya tersebab adanya Alhadis ini, maka mengapa pada bagian lain Muhammad Saw bersabda bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin dan Imam atas anak dan keluarganya? Mengapa juga pada suatu saat Muhammad Saw bersabda bahwa sebaiknya setiap Muslim menerangi rumah-rumah mereka dengan shalat dan membaca Alquran? Atau, apakah umat Muslim harus melihat ada pertentangan yang keras di dalam Dienullah ini?

Delapan.

Muhammad Saw dan para sahabatnya tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah.

Seluruh buku sejarah yang menghadirkan kisah kehidupan Muhammad Saw dan para sahabatnya memperlihatkan bahwa Muhammad Saw dan hamba-hamba beriman tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa shalat di rumah merupakan suatu kebajikan yang lain di dalam Islam, terlebih misi dari shalat di rumah adalah supaya setiap ayah menjadi Imam atas anak dan keluarganya, karena hal tersebut merupakan bagian terpenting dari menjadi ayah.

Sejarah mengakui bahwa Muhammad Saw dan para sahabatnya tidak pernah berpantang shalat di rumah, maka mengapa kemudian umat Muslim justru berpendirian seolah mereka berpantang shalat di rumah, demi untuk berketerusan shalat di Masjid? Dan kalau mereka berpendirian bahwa Masjid merupakan simbol kesalehan Islami, maka ketahuilah bahwa mereka salah. Kesalehan yang Islami adalah bahwa setiap ayah menjadi Imam shalat di rumah atas anak dan keluarganya secara berketerusan.

Harus dipertanyakan, apakah mereka mendapatkan sumber pendirian mereka tersebut dari perikehidupan Muhammad Saw dan para sahabatnya?

Sembilan.

Islam mengajarkan bahwa setiap jengkal tanah di muka bumi merupakan Masjid, yang mana itu merupakan ajaran bahwa setiap jengkal tanah adalah tempat sujud. Kalau jengkal tanah itu adalah rumah keluarga Muslim, maka bukankah teramat baik kalau rumah dijadikan tempat untuk shalat bagi keluarga tersebut?

Terdapat Muslim yang berpendirian bahwa shalat harus ditunaikan di Masjid – dengan berpantang shalat di rumah. Pendirian tersebut jelas tidak mempunyai dalil dari nash agama. Dan kalau setiap jengkal tanah merupakan tempat untuk sujud, maka mereka telah menolak untuk menjadikan jengkal tanah di rumah mereka sebagai tempat untuk sujud kepada Allah Swt. Maka bukankah hal tersebut merupakan pendurhakaan terhadap ajaran Illahi?

Tidak ada larangan syariah untuk menjadikan jengkal tanah yang ada di rumah sebagai tempat untuk sujud kepada Allah Swt. Maka shalatlah di rumah, karena tempat tersebut telah Allah Swt tetapkan sebagai tempat untuk bersujud. Dan bersujudlah bersama anak dan keluarga.

Sepuluh.

Alquran: “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam Masjid-Masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (Masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (QS. al-Baqarah:114).

Tidak ada satu huruf pun di dalam ayat Al-baqarah 114 ini yang mengindikasikan baik secara implisit mau pun eksplisit bahwa setiap laki-laki Muslim harus shalat di Masjid mana pun (kecuali ketiga Masjid Al-haram).

Ingatlah bahwa ayat Al-baqarah 114 ini TIDAK SPESIFIK menyatakan Masjid yang mana, apakah hanya sebatas @ketiga Masjid Al-haram (yaitu Masjid alharam, Masjid nabawi dan Masjid aqsa), atau hanya sebatas @Masjid di luar ketiga Masjid Al-haram, atau @keseluruhan Masjid yang mencakup ketiga Masjid Al-haram dan Masjid universal lainnya?

Karena Allah Swt tidak spesifik di dalam ayat Al-baqarah 114 ini, maka itu berarti bahwa yang dimaksud di dalam ayat tersebut ADALAH HANYA SEBATAS PADA KETIGA MESJID ALHARAM YAITU MESJIDIL HARAM, MESJID NABAWI DAN MESJID AQSA. Ini berarti ayat ini tidak mencakup untuk Masjid lainnya.

Ingatlah bahwa domain yang disinggung oleh ayat Al-baqarah 114 adalah terlalu luas. Di situ ada kata MENGHALANG-HALANGI MANUSIA DARI MENYEBUT NAMA ALLAH DI DALAM MESJID-NYA.

Apakah ini berarti bahwa di sini ada yang menghalang-halangi manusia dari menyebut nama Allah di dalam MasjidNya? Ingat, setiap Jumat seluruh Muslim akan ke Masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Apakah mereka akan dihalangi? Saat Muslim bepergian jauh pasti mereka akan mampir ke Masjid untuk shalat. Apakah mereka akan dihalangi? Saat Muslim laki-laki berada di tempat kerja / Kantor dan mereka shalat Zuhur dan Ashar di Masjid, apakah mereka akan dihalangi? Jawabannya adalah, TIDAK.

Intinya, makna dari phrase MENGHALANG-HALANGI MANUSIA DARI MENYEBUT NAMA ALLAH DI DALAM MESJID-NYA adalah, bahwa,

  • Ada manusia jahat, yang melarang Muslim menyebut nama Allah Swt di dalam Masjid.
  • Ada manusia jahat, yang ingin agar Muslim di dalam Masjid tidak menyebut nama Allah Swt, melainkan menyebut seluruh urusan dunia saja.
  • Ada manusia jahat, yang tidak ingin umat Muslim menyebut-nyebut nama Allah Swt dalam Masjid.

Manusia-manusia jahat inilah yang disasar Allah Swt melalui ayat Al-baqarah 114.

Pun yang DIHALANG-HALANGI manusia jahat ini BUKAN PERGI KE MASJIDNYA, melainkan MENYEBUT NAMA ALLAHSWT – NYA yang dihalang-halangi oleh manusia jahat ini.

Ayat ini bermakna, jangan ada manusia jahat yang menghalangi Muslim untuk meyebut nama Allah Swt di dalam Masjid, dan berarti AYAT INI TIDAK BERARTI BAHWA SELURUH MUSLIM LAKI-LAKI HARUS SHALAT DI MASJID.

Kemudian, kalau ayat ini berarti ada kebinasaan buat siapa saja yang menghalangi manusia dari mengunjungi Masjid, maka itu berarti bahwa setiap Muslim boleh ke Masjid kapan pun. Nah sekarang pertanyaannya adalah, kalau memang setiap Muslim boleh ke Masjid kapan pun, maka berarti setiap Muslim tinggal di Masjid saja seumur hidup, tidak usah bekerja, tidak usah sekolah, tidak usah berbakti kepada orang tua, tidak usah mengurus anak, tidak usah menikah, tidak usah mengurus kampung, tidak usah mengunjungi saudaranya yang sakit, dsb. Apakah memang demikian yang dikehendaki Allah Swt dan RasulNya?

Harus ditegaskan, bahwa ayat Al-baqarah 114 tersebut cakupannya terlalu luas. Oleh karena itu ayat Al-baqarah ini tidak bisa dijadikan argumentasi untuk menyatakan bahwa setiap Muslim harus shalat di Masjid, karena kebalikannya, yang benar adalah bahwa setiap Muslim harus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya.

Dan sekarang anggaplah bahwa MEMANG ayat Al-baqarah ini mempunyai makna bahwa seluruh laki-laki harus shalat di Masjid mana pun, tidak boleh dihalang-halangi, tidak boleh dilarang. Maka bukankah itu berarti AKAN ADA PERTENTANGAN DAN KONTRADIKSI antara Alquran dengan Alhadis Muhammad Saw bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin? Bukankah ini berarti ada pertentangan antara Alquran dengan Alhadis bahwa Muhammad Saw hanya mementingkan perjalanan ketiga Masjid suci? Bagaimana Muslim dapat menjawab pertanyaan ini?

Ingatlah bahwa nash Islam tidak mempunyai pertentangan. Maka kalau di satu pihak Muhammad Saw bersabda bahwa,

  1. Setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, yang mana itu berarti setiap laki-laki harus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas mereka,
  2. Muhammad Saw hanya mementingkan perjalanan ke tiga Masjid Al-haram yaitu masjidil haram, Masjid nabawi dan Masjid aqsa, yang ke selainnya tidaklah penting,

……. yang mana kedua point ini berarti setiap laki-laki harus shalat di rumah untuk menjadi Imam keluarga ………… maka di pihak lain tidak ada satu pun ayat di dalam Alquran yang menyatakan bahwa setiap laki-laki harus shalat di Masjid.

Maka jelaslah sekarang, bahwa tidak ada satu nash pun dapat Islam yang memerintahkan laki-laki Muslim untuk shalat di Masjid, karena kebalikannya, seluruh Muslim laki-laki harus shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat di rumahnya sendiri atas anak dan keluarganya.

Sebelas.

Alquran: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka mereka-lah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. at-Taubah:18).

Memakmurkan Masjid di sini, BUKAN BERARTI, DAN TIDAK SELALU BERARTI harus shalat di Masjid sehingga anak-anak dan keluarga terlantar di rumah! Harus diingat, bahwa Muhammad Saw telah bersabda bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, maka mengapa masih ada manusia yang berpendapat lain? Bukankah Alhadis tersebut berarti setiap laki-laki harus menjadi Imam atas anak dan keluarganya di rumah? Bukankah itu berarti setiap laki-laki Muslim harus shalat di rumah?

Alangkah baiknya untuk diperhatikan dengan baik. Pada ayat Attaubah 18 itu disebutkan ciri Muslim yang memakmurkan Masjid, yaitu:

  • Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,
  • Serta tetap mendirikan sholat,
  • Menunaikan zakat,
  • Dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah.

Nah perhatikan, apakah ada tersebut di atas bahwa ciri Muslim yang memakmurkan Masjid adalah manusia yang selalu shalat di Masjid (kecuali ketiga Masjid Haram)? Keempat ciri yang diterangkan di dalam Alquran sama sekali tidak menjelaskan bahwa Muslim yang memakmurkan Masjid merupakan Muslim yang selalu shalat di Masjid.

Ini berarti menguatkan suatu pandangan, bahwa setiap Muslim laki-laki harus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya, karena itu pun merupakan amanah Muhammad Saw (kecuali kalau Muslim tersebut berada dekat dengan ketiga Masjid Al- Haram).

Jadi, berdasarkan perspektif ayat Attaubah 18 ini, dapat disimpulkan bahwa Muslim mana pun yang selalu mempertahankan siklus shalatnya, alias rajin shalat, maka ia termasuk Muslim yang memakmurkan Masjid. Jadi tidak ada urusannya dengan Muslim tersebut harus shalat di Masjid.

Sungguh tidak dapat dipertanggungjawabkan adanya Muslim yang menyerukan bahkan ngotot bahwa shalat harus di Masjid (kecuali di ketiga Masjid Al-Haram). Ingatlah bahwa setiap Muslim harus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Itu saja yang harus dicerna baik-baik.

Duabelas.

QS Furqaan 74: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Ayat ini, tidak dapat tidak, merupakan titah Allah Swt sebagai dasar untuk mewujudkan tradisi shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga.

Kata ‘kami’ pada ayat tersebut pastilah posisi seorang ayah, karena dinisbatkan dengan phrase berikutnya ‘anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami’, yang mana itu berarti seorang ayah bermunajat kepada Allah Swt semoga istri dan anak-anaknya menjadi kesenangan hatinya: itulah kesalehan. Sudah dijelaskan melalui paparan ini, bahwa kesalehan hanya terjadi dan tercipta jika sang ayah berteguh untuk shalat di rumah dan menjadi Imam atas anak dan keluarganya.

Phrase berikutnya semakin menegaskan bahwa seorang ayah hendaklah bercita-cita supaya menjadi Imam atas anak dan keluarganya yang penuh taqwa, yaitu phrase “jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Bagaimana mungkin seorang ayah memperoleh keluarganya sebagai kesenangan hatinya, kalau keluarganya tidaklah saleh. Sementara, kesalehan itu sendiri hanya dapat tercapai dengan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh sang ayah sendiri. Dan kemudian, bagaimana seorang ayah dapat menjadi pemimpin (Imam) atas keluarganya yang saleh dan bertaqwa, kalau keluarganya tidak bertaqwa dan saleh lantaran tidak pernah diimamkan shalat berjamaah di rumah?

Apakah mungkin ayat ini mengandung makna, bahwa seorang ayah ingin agar keluarganya menjadi keluarga yang bertaqwa, sementara ia sendiri tidak mengusahakan hal tersebut (dengan cara menjadi Imam shalat atas mereka di rumah)? Dan apakah mungkin, seorang ayah ingin menjadi pemimpin atas orang-orang yang bertaqwa, sementara orang-orang bertaqwa tersebut bukan keluarganya, melainkan orang lain?

Kesimpulannya adalah, bahwa ayat Al-furqan 74 ini benar-benar mendeskripsikan suatu keluarga yang shalatnya selalu diimamkan oleh sang ayah di rumah, dan oleh karena itu keluarga ini menjadi keluarga yang saleh sehingga menjadi kesenangan mata sang ayah, dan pada akhirnya sang ayah inilah yang menjadi pemimpin atas keluarganya sendiri yang penuh taqwa.

Tepat sekali cara Allah Swt menyusun kata-kataNya di dalam ayat Al-furqan 74 ini untuk mewartakan betapa strategisnya shalat berjamaah di rumah dengan diimamkan oleh sang ayah di dalam keluarga tersebut.

Alangkah baiknya untuk diperhatikan, bahwa sementara banyak Muslim yang berdalih bahwa shalat harus ditunaikan di Masjid (kecuali tiga Masjid Haram), maka sebaliknya ayat Al-furqan 74 ini menjadi argumentasi terdepan untuk berteguh dengan shalat di rumah bagi setiap ayah atau laki-laki agar menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Shalat di rumah kata kuncinya adalah pemeliharaan keluarga, sementara ayat Al-furqaan 74 ini kata kuncinya pun juga keluarga. Intinya adalah keluarga, pemeliharaan keluarga, sementara keluarga pastilah menempati rumah, rumah kediaman, bukan Masjid atau pasar sekali pun.

Penutup.

Demikianlah, Alquran mau pun Alhadis, dan juga kisah kehidupan Muhammad Saw, tidak memberi satu dalil pun bagi umat Muslim untuk berketerusan shalat di Masjid (kecuali tiga Masjid Haram) sehingga meninggalkan anak dan keluarganya di rumah di dalam keadaan tidak terimamkan shalat mereka. Kebanyakan Muslim berfikir bahwa Masjid merupakan episentrum kesalehan, maka dari itu mereka mempertahankan keterlibatan mereka kepada aktivitas Masjid dari waktu ke waktu, dan itu artinya mereka meninggallkan kewajiban mereka untuk menjadi Imam atas keluarga, yang sebenarnya merupakan amanah dan titah Baginda Muhammad Saw.

Banyak Muslim yang berkeyakinan bahwa saleh adalah Masjid, sehingga mereka berfikir bahwa semakin banyak waktu yang mereka luangkan di Masjid, maka akan semakin salehlah mereka di mata Allah Swt. Kalau kesalehan itu tidak memberi manfaat bagi sesama manusia, khususnya keluarga sendiri, maka dapat dipastikan bahwa hal tersebut bukanlah kesalehan, untuk menghemat kata. Kesalehan adalah suatu hal yang bermanfaat buat sesama, dan kalau seorang ayah selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya – sehingga mendatangkan manfaat yang penuh hikmat, maka itulah kesalehan, tepat pada intinya.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya

2 comments

  1. Bisa disimpulkan bahwa hukum shalat jama’ah itu wajib. Karena ada ancaman berat bagi yang meninggalkan shalat jama’ah. Namun demikian banyak yang tidak memperhatikan shalat jama’ah, sampai-sampai masjid-masjid kaum muslimin sering kosong, lebih-lebih pada shalat Shubuh.

    Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    ﺇِﻥَّ ﺃَﺛْﻘَﻞَ ﺻَﻼَﺓٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﺻَﻼَﺓُ ﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀِ ﻭَﺻَﻼَﺓُ
    ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﻭَﻟَﻮْ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﻓِﻴﻬِﻤَﺎ ﻷَﺗَﻮْﻫُﻤَﺎ ﻭَﻟَﻮْ ﺣَﺒْﻮًﺍ ﻭَﻟَﻘَﺪْ
    ﻫَﻤَﻤْﺖُ ﺃَﻥْ ﺁﻣُﺮَ ﺑِﺎﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻓَﺘُﻘَﺎﻡَ ﺛُﻢَّ ﺁﻣُﺮَ ﺭَﺟُﻼً ﻓَﻴُﺼَﻠِّﻰَ
    ﺑِﺎﻟﻨَّﺎﺱِ ﺛُﻢَّ ﺃَﻧْﻄَﻠِﻖَ ﻣَﻌِﻰ ﺑِﺮِﺟَﺎﻝٍ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺣُﺰَﻡٌ ﻣِﻦْ ﺣَﻄَﺐٍ
    ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﻻَ ﻳَﺸْﻬَﺪُﻭﻥَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻓَﺄُﺣَﺮِّﻕَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑُﻴُﻮﺗَﻬُﻢْ
    ﺑِﺎﻟﻨَّﺎﺭِ
    “Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh. Kalau mereka mengetahui keutamaan yang terdapat dalam kedua shalat tersebut, mereka akan mendatanginya walau pun dengan merangkak.

    Aku sangat ingin memerintahkan shalat (dikerjakan), lalu dikumandangkan iqomat dan kuperintahkan seseorang untuk mengimami para jama’ah. Sementara itu aku pergi bersama beberapa orang yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak ikut shalat berjama’ah dan membakar rumah-rumah mereka dengan api. ” (HR. Bukhari no. 644 dan Muslim no. 651)

    Hadits ini menunjukkan wajibnya shalat Jama’ah. Inilah pendapat yang tepat dari pendapat para ulama yang ada. Dikatakan wajib karena yang sampai tidak shalat Jama’ah diancam dibakar rumahnya sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

    Sebenarnya tidaklah terhalang untuk membakar rumah-rumah mereka yang tidak berangkat berjama’ah, namun karena adanya perempuan dan anak-anak yang tidak wajib shalat berjama’ah, akhirnya pembakaran tersebut diurungkan. Sebagaimana halnya jika wanita yang hamil yang mesti kena hukuman had, hukuman tersebut dikenakan setelah ia melahirkan.

    Shalat berjama’ah di sini wajib bagi laki-laki, mukallaf yaitu sudah baligh dan dewasa. Hadits di atas pun sekaligus menunjukkan keutamaan shalat Isya dan shalat Shubuh.

    Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi hidayah untuk menjaga shalat jamaah.

    Alamandang,
    artikel ini menekankan ajaran bhw salat berjamaah harus ditunaikan di rumah umat, bukan di mesjid. dan tidak ada satu pun dari kalimat yg sdr. ajukan mempunyai point / hujjah bhw salat berjamaah harus ditunaikan di mesjid.

    silahkan baca keseluruhan rangkaian artikel ini …. untuk dapat memahami bhw islam mengajarkan umatnya utk salat berjamaah di rumah, bukan di mesjid. dan hikmat terbesar akan didapat umt kalau umat salat berjamaah di rumah, bukan di mesjid.

    terima kasih.

  2. Berbicara mengenai masalah agama harus ada dalil. Beragama itu sesuai tuntunan syariat bukan berdasarkan pemikiran kita sendiri. Komentar saya sydah jelas dalilnya, silakan di renungi…

    Alamandag,
    dalil sdr apa?? bisa diajukana di sini???

    terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s