Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah

sujudMuhammad Saw telah menitahkan melalui beberapa Alhadis yang termahsyur, bahwa shalat di Masjid Al-haram mengandung pahala sebanyak 100.000, shalat di Masjid Nabawi mengandung pahala sebanyak 10.000, dan shalat di Masjid Al-aqsa mengandung pahala sebanyak 1000. Ini artinya shalat di Masjid selain ketiga Masjid tersebut tidak mengandung keistimewaan seperti halnya shalat di ketiga Masjid suci ini.

Hal ini diperkuat oleh satu Alhadis yang juga termahsyur yaitu, “Aku mengutamakan perjalanan ke tiga Masjid ini, yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-aqsa”. Alhadis ini menyiratkan makna, bahwa melangkahkan kaki ke Masjid selain ketiga Masjid suci tersebut bukanlah suatu keutamaan. Oleh karena itu patut dipertimbangkan nilai keutamaan untuk shalat di rumah. Penting sekali untuk juga diingat berkenaan dengan kedua Alhadis ini, bahwa Muhammad Saw telah bertitah, “terangilah rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran”. Makna dari Alhadis ini adalah, bahwa penting sekali bagi setiap umat untuk menunaikan shalat di rumah, sebisa mungkin.

Jangan berpantang untuk shalat di rumah, untuk menjadi Imam atas anak dan seluruh keluarga, itulah makna terpenting dari ketiga Alhadis di atas. Bahkan banyak Alhadis yang menyiratkan, bahwa Muhammad Saw dan para sahabat pun tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah. Maka dari itu merupakan suatu ketergesa-gesaan kalau ada individu yang berpantang untuk shalat di rumah, sembari selalu mementingkan untuk melangkahkan kaki ke Masjid untuk menunaikan shalat berjamaah di sana, yang mana ini berarti individu tersebut tidak pernah atau bahkan menolak untuk shalat di rumah.

Muhammad Saw telah bertitah melalui beberapa Alhadis-nya, bahwa sebaiknya setiap umat berteguh untuk shalat di rumah, kalau umat tersebut berada jauh dari jangkauan KETIGA MESJID ALHARAM. Pada sisi yang lain, umat Muslim harus mencermati risalah kenabian tersebut, karena justru umat akan dihadiahi hikmat yang begitu Agung melalui ritus shalat berjamaah di rumah.

Di bawah ini akan dipaparkan beberapa hikmat Agung dari menunaikan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga.

Hikmah shalat di rumah bukan di Masjid,

Pertama. Salat di rumah, maka kampung menjadi sepi karena semua keluarga sedang shalat di rumah masing-masing, karena ayah (atau paman / datuk) shalat di rumah menjadi Imam. Memang sepatutnya demikian karena Muslim merupakan mayoritas di setiap kampung di bumi Allah Swt ini, maka logikanya adalah di saat jam shalat (shalat Maghrib, Isya atau Shubuh wabil khusus) kampung dan tempat tinggal mereka menjadi lengang karena seluruh anak-anak dan remaja sedang menunaikan shalat berjamaah di rumah masing-masing.

Shalat di Masjid: kampung akan tetap ramai dengan hiruk-pikuk keduniawin karena anak-anak dan remaja bukannya shalat berjamaah di rumah masing-masing dengan ayah / datuk / paman sebagai Imam, melainkan tumpah-ruah berhamburan di sepanjang jalan pada jam-jam shalat karena ayah (paman / datuk) mereka justru shalat di Masjid. Kebanyakan kampung di bumi Allah Swt ini adalah mayoritas Muslim, namun gaya hidup mereka tidak mencerminkan umat Muslim, karena asyik bermain kejar-kejaran di sepanjang jalan tidak karu-karuan, pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, shopping, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb.

Dua. Shalat di rumah: lantunan ayat suci terdengar dari setiap rumah di dalam suasana hening karena pada setiap rumah terdapat satu Imam yang sedang memimpin shalat berjamaah. Setiap ayah (atau paman / datuk) yang shalat dan menjadi Imam di rumah, pasti akan melantunkan ayat suci di dalam shalatnya, sementara makmum (yaitu anak dan keluarganya) mengikutinya di dalam keheningan. Dan di luar rumah pun terjadi keheningan karena seluruh anak sedang berada di dalam rumahnya sedang shalat berjamaah. Akibatnya di seantero kampung itu kala jam shalat (seperti Maghrib, Isya dan Shubuh) dilanda keheningan, tidak ada yang terdengar kecuali lantunan ayat suci saling bersahut-sahutan dari rumah-rumah keluarga Muslim. Inilah suasana hening penuh hikmat kesalehan.

Shalat di mesjid: lantunan ayat suci hanya terdengar dari Masjid dari sang Imam besar, itu pun tidak ada yang mendengar karena seantero kampung tetap hiruk-pikuk karena tidak ada yang shalat di rumah, pun anak-anak tetap asyik bermain kejar-kejaran di sepanjang jalan tidak karu-karuan, pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, shopping, nonton konser murahan, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb. Pendek kata, lantunan ayat-suci yang dibacakan di dalam Masjid oleh Imam Masjid hanya didengar oleh makmum Masjid tersebut, tidak mungkin anak-anak dan para remaja yang asyik berhamburan di sepanjang jalan di luar Masjid turut menyimak. Inilah kehidupan yang jauh dari kesalehan, melainkan kehidupan yang penuh dengan huru-hara yang menyesakkan dada.

Tiga. Shalat di rumah: pendidikan Iman dan spiritual anak dan keluarga terjamin karena diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk) sendiri di rumah. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absen. Dan ini artinya telah terjadi pemupukan dan penguatan ruh keagamaan dan kesalehan secara fundamental terhadap jiwa dan mentalitas sang anak.

Shalat di mesjid: pendidikan iman dan spiritual keluarga terkendala karena tidak ada shalat berjamaah di rumah karena ayah (atau paman / datuk) malah shalat di Masjid sehingga nasib kesalehan anak-anak dan anggota keluarga lainnya tidak ada yang memperhatikan, terkatung-katung tidak menentu. Mereka anak-anak dan keluarga jadi tidak pernah menikmati suasana keagamaan di rumah, karena tidak pernah dilibatkan di dalam kesalehan beribadah. Singkat kata, tradisi shalat di Masjid yang dikembangkan dewasa ini mengakibatkan perkembangan rohani kesalehan dan mentalitas imtaq di kalangan anak-anak dan remaja menjadi terhambat dan terpuruk.

Empat. Shalat di rumah: yang menjadi Imam shalat adalah semua anggota keluarga sehingga setiap anak tercambuk untuk hafal surah-surah Alquran karena kelak harus menjadi Imam, dengan demikian ada kaderisasi dan regenerasi Imam. Point ini jadi kontribusi tersendiri bagi lahirnya generasi yang hafal surah Alquran secara maksimal, karena dengan terus shalat berjamaah di rumah (karena sang ayah (atau paman / datuk) selalu menjadi Imam shalat berjamaah) maka anak-anak yang saat itu menjadi makmun akan tertantang dan terinspirasi untuk menjadi Imam kelak saat mereka sudah besar. Itu artinya mereka sejak dini harus hafal surah-surah Alquran, dan ini artinya merupakan landasan untuk membumikan kecenderungan hafal surah-surah Alquran.

Shalat di mesjid: yang hafal ayat-suci hanya para Imam Masjid atau segelintir orang, Muslim lain (di dalam hal ini ayah atau paman / datuk) tidak tercambuk untuk hafal surah Alquran karena mereka tidak akan menjadi Imam. Setiap laki-laki yang shalat di Masjid, tidak akan pernah mempunyai tantangan dan tanggungjawab untuk hafal surah Alquran, karena keperluan mereka akan hal itu untuk shalat sudah dipenuhi oleh Imam Masjid. Mereka para laki-laki yang shalat di Masjid hanya tinggal datang ke Masjid, kemudian ikut shalat berjamaah, kemudian diam saja mendengarkan Imam melantunkan ayat suci, kemudian hanya berkata “Aamiin …….!”, setelah itu selesai, dan kemudian pulang ke rumah. Kalau begini keadaannya buat apa susah-susah berusaha untuk hafal surah Alquran? Dan background ini mengakibatkan tidak ada satu jamaah pun yang tergerak untuk hafal surah Alquran.

Apakah mereka, laki-laki atau para ayah yang selalu shalat dan menjadi makmum di Masjid, merupakan individu-individu yang banyak hafalan surah Alqurannya? Tidaklah demikian. Atau, apakah mereka mempunyai kecenderungan untuk hafal lebih banyak surah Alquran? Tidaklah demikian. Bagi mereka, laki-laki atau para ayah yang selalu shalat berjamaah dan menjadi makmum di Masjid, shalat berjamaah di Masjid adalah sudah teramat baik, jadi tidak perlu lagi menghafal lebih banyak surah Alquran. Akibat dan kerugian yang akan diderita umat Muslim kalau shalat di Masjid adalah, bahwa menghafal lebih banyak surah Alquran bukan prestasi taqwa.

Lima. Shalat di rumah: pembentukan Generasi Shalat Minded terjamin.

Sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam. Sebenarnya tidaklah demikian. Shalat sebenarnya bukanlah perintah, melainkan PEMBIASAAN. Kalau seorang anak sejak kecil sudah dibiasakan shalat berjamaah secara terus menerus, maka sampai kapan pun sang anak akan tetap shalat meski dilempar ke Negeri yang jauh sekali pun. Dan pembiasaan shalat ini hanya dapat dipastikan melalui tradisi shalat berjamaah di rumah, di mana sang ayah (paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak-anak dan keluarga secara simultan dan kontinyu. Membangun kebiasaan dan pembiasaan shalat yang berujung pada shalat-minded tidak bisa diupayakan hanya di dalam waktu satu minggu atau satu tahun, atau melalui ceramah sedahsyat apapun, melainkan butuh waktu bertahun-tahun di dalam frame shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk), mulai dari sang anak berusia belia hingga remaja dengan cara terus dilibatkan di dalam shalat berjamaah di dalam rentang waktu sekian lama.

Singkat kata, suatu frame di mana seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya akan memastikan bahwa kelak sang anak akan menjadi bagian di dalam Generasi Shalat Minded. Kalau dibalik: cara melahirkan Generasi Shalat Minded, atau cara supaya sang anak kelak akan tetap kukuh menunaikan shalat hanyalah dengan melalui frame shalat di rumah yaitu sang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya.

Shalat di mesjid: pembentukan GSM terkendala.

Saat seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di Masjid, maka pada saat yang bersamaan, di rumah, sang anak dan seluruh keluarganya sedang asyik menyia-nyiakan waktu shalat dengan kesenangan duniawi. Bagaimana mungkin anak-anak di dalam suatu keluarga Muslim selalu terlibat di dalam kesempatan shalat berjamaah kalau sang ayah (atau paman / datuk) shalat di Masjid? Dan waktu yang berharga untuk membangun pembiasaan shalat bagi anak-anak terbuang dan tergusur karena di satu pihak ayah (atau paman / datuk) shalat di Masjid, sementara di pihak lain anak-anak pun akibatnya jadi asyik sibuk berhamburan di sepanjang jalan pada jam-jam shalat. Dengan keadaan seperti ini, tidak pernah terjadi pembiasaan shalat atas anak-anak dan keluarga, karena justru mereka dibiasakan berhamburan di jalan-jalan kampung untuk menikmati kesenangan duniawi di dalam kesia-siaan. Kalau sejak kecil tidak diadakan pembiasaan shalat, maka bagaimana kelak mereka akan terbiasa untuk shalat?

Outputnya jelas: di kemudian hari sang anak akan menjadi generasi yang berpantang shalat, mereka bukan bagian dari Generasi Shalat Minded. Mereka bukanlah umat Allah Swt.

Kecil sekali kemungkinannya seorang anak di kala dewasa akan tetap teguh menunaikan shalat di mana pun ia berada – kalau semasa kecilnya ia tidak menerima pembiasaan shalat dari keluarganya; dan pembiasaan shalat yang paling mungkin dan alami di sini adalah pembiasaan shalat melalui frame shalat berjamaah di rumah secara rutin yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk). Oleh karena itu seorang ayah (atau paman / datuk) yang selalu shalat di Masjid akan berparalel dengan jauhnya generasi muda (yaitu anak-anak mereka) dari shalat minded. Itu merupakan kerugian terbesar yang akan diderita seorang ayah (atau paman / datuk) di kemudian hari.

Enam. Shalat di rumah: Muhammad Saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluargamu …..”. Maka dari itu setiap ayah (atau paman / datuk) harus shalat di rumah supaya dapat menjadi Imam pemimpin shalat atas anak dan keluarga. Alhadis ini tidak dapat diartikan lain, kecuali setiap ayah (atau paman / datuk) harus shalat di rumah. Bagaimana seorang ayah (atau paman / datuk) dapat menunaikan amanat Alhadis tersebut yaitu menjadi Imam shalat atas keluarganya kalau ia selalu shalat di Masjid? Mutlak sekali, bahwa tafsir dan interpretasi dari Alhadis tersebut adalah bahwa setiap ayah (atau paman / datuk) harus shalat di rumah, karena dengan demikian setiap anak, setiap wanita, setiap remaja akan terpimpin juga untuk shalat di rumah karena mereka harus menerima dan tunduk pada Imamnya ayah (atau paman / datuk) mereka di rumah-rumah keluarga Muslim.

Shalat di mesjid: tidak ada landasannya. Banyak ayah (atau paman / datuk) yang berupaya untuk shalat di Masjid dengan pertimbangan beberapa Alhadis, misalnya Alhadis yang menyatakan bahwa Muhammad Saw akan membakar rumah umat yang enggan shalat di Masjid. Ketahuilah bahwa implementasi Alhadis tersebut hanya terbatas pada kota tiga Masjid suci, yaitu Mekah, Madinah dan Yerusalem. Di luar ketiga kota tersebut maka Alhadis mengenai pentingnya shalat di Masjid Suci (yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa) tidak berlaku, kebalikannya yang berlaku adalah Alhadis lain dari Baginda Muhammad Saw yaitu “Aku mementingkan perjalanan ketiga tempat ini, yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa …..”.

Ayah (atau paman / datuk) yang lainnya selalu mengupayakan shalat di Masjid dengan mendasarkan fikiran mereka pada ajaran bahwa Masjid dan shalat di Masjid merupakan poros kesalehan dan kedekatan umat kepada Allah Swt. Ketahuilah, bahwa kesalehan itu sendiri pasti berarti patuh pada pesan dan amanat Muhammad Saw. Dan amanat Muhammad Saw di sini adalah bahwa setiap ayah (atau paman / datuk) haruslah shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak-anak dan keluarganya.

Singkat kata, tidak ada landasan baik secara aqli mau pun naqli bagi setiap ayah (atau paman / datuk) untuk shalat di Masjid, selebihnya seluruh umat mempunyai alasan dan landasan logika kuat untuk selalu shalat di rumah, demi menjalankan amanah Muhammad Saw.

Muhammad Saw bertitah, “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu”, namun di lain pihak seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di Masjid. Ini berarti setiap laki-laki (atau ayah atau paman / datuk) bukanlah seorang pemimpin atas anak-anak dan keluarganya – seperti yang dititahkan Muhammad Saw; ini berarti setiap laki-laki adalah makmum. Maka jelaslah bahwa tradisi shalat di Masjid yang sementara ini terus dilakukan para lelaki atau ayah (atau paman / datuk) sehingga dengan tradisi ini para ayah (atau paman / datuk) tidak pernah menjadi Imam atas anak dan keluarganya – merupakan bentuk penyimpangan atas ajaran Rasul Muhammad Saw. Tidak pernah Muhammad Saw bertitah bahwa setiap laki-laki adalah dipimpin oleh laki-laki lainnya, maka mengapa seluruh pria mentradisikan untuk selalu diimamkan oleh laki-laki lainnya di suatu tempat dan bukannya memimpin anak dan keluarga di rumahnya sendiri?

Tujuh. Shalat di rumah: dengan tetapnya seorang ayah (atau paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya maka akan tercipta rumus: “bapak saleh, anak pun jadi saleh”. Hal ini dikarenakan di mana kalau ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah menjadi Imam shalat atas seluruh anak dan keluarganya secara terus-menerus, akan mengakibatkan anak-anak dan keluarganya ikut menjadi saleh. Dengan kata lain, kesalehan yang ada pada diri seorang ayah (atau paman / datuk) akan otomatis turun kepada anak dan keluarganya melalui kegiatan shalat berjamaah di rumah yang mereka imamkan setiap hari sepanjang tahun.

Kesalehan yang bersemi pada diri anak-anak dan keluarga dapat terwujud karena selalu shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk) tersebut adalah terjadi karena tiga hal:

  1. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah. Dengan shalat di rumah, ayah (atau paman / datuk) akan memastikan bahwa anak-anak dan keluarganya harus ikut shalat, harus berada di belakangnya sebagai makmum untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah, tidak boleh ada yang absent apapun alasannya, yang tujuannya adalah untuk beraktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.
  2. Dengan anak-anak dan keluarga terus shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk), maka alokasi waktu yang biasa dilewatkan anak-anak untuk berhamburan dan berceceran di luar rumah di sepanjang jalan kampung TERGANTIKAN dengan duduk khusyuk di belakang Imam yang adalah ayah (atau paman / datuk) mereka sendiri. Ini artinya telah menTIADAkan waktu untuk dihabiskan anak-anak dan keluarga di dalam kesia-siaan duniawi yaitu berkeliaran di luar rumah sepanjang jalan kampung di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, nonton konser murahan, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Kebalikannya, waktu yang dimiliki anak-anak dan keluarga akan digunakan untuk shalat berjamaah di rumah masing-masing dengan ayah (atau paman / datuk) sebagai Imam.
  3. Dengan ayah (atau paman / datuk) terus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak-anak dan keluarganya, maka itu berarti sang ayah terkondisikan untuk terus memperhatikan dan melakukan kontrol perkembangan rohani, jiwa, penerimaan dan intelektualitas sang anak dan keluarganya terhadap bibit iman dan taqwa, dan memang itulah tugas utama sang ayah (atau paman / datuk). Dengan ayah shalat berjamaah di rumah, setiap anak jadi merasa bahwa mereka diperhatikan oleh ayah mereka secara lebih intim dan terus-menerus.

Di siang hari sang anak dan keluarga telah bermain dengan kawan-kawan mereka di sekolah, taman kampung, pasar, di kampus, dan tanah lapang. Cukuplah hal itu merupakan waktu mereka untuk bersosialisasi dan bermain di luar rumah di kala siang. Dan ketika senja dan malam menjelang, bermain di luar rumah sudah berakhir, dan itulah saatnya mereka membangun karakter keagamaan dan rohani melalui shalat berjamaah di rumah dengan sang ayah (atau paman / datuk) menjadi Imam.

Pembangunan kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga: pembangunan rohani dan kesalehan akan mengguyur semua individu di dalam keluarga dan perkampungan Muslim tanpa kecuali, karena teknisnya adalah setiap ayah (atau paman / datuk) akan menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya, ini berarti shalat berjamaah tersebut akan melibatkan seluruh unsur yang ada di dalam kampung Muslim. Tidak akan ada satu anak pun, satu individu pun, yang lolos dan luput dari aktivitas pembangunan rohani ini, karena setiap mereka adalah anggota keluarga yang, akan dipanggil oleh ayah (atau paman / datuk) untuk ikut shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absen satu pun, untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Teramat besar kemungkinannya bahwa setiap anak yang terus shalat berjamaah di rumahnya akan menjadi saleh di kemudian hari seperti salehnya sang ayah (atau paman / datuk), karena shalat berjamaah yang terus diselenggarakan di dalam keluarga mempunyai kekuatan dan wewenang kuat untuk menyentuh dan menundukkan jiwa dan spiritualitas setiap anak sejak kecil.

Shalat di Masjid: bagaimana mungkin anak-anak di dalam suatu keluarga dapat menjadi saleh di saat dewasa, sementara anak-anak tersebut dibiarkan terus berkeliaran di luar rumah di sepanjang jalan kampung tidak memperdulikan masuknya waktu shalat khususnya Maghrib, Isya dan Shubuh? Mereka terus asyik bermain dengan kawan-kawannya malah pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, shopping, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dan itu bukanlah ciri-ciri umat Muslim, melainkan ciri-ciri umat di dalam kekafiran dan kerugian. Dan hal tersebut terjadi karena ayah mereka berketerusan shalat di Masjid, yang mana itu berarti sang ayah (atau paman / datuk) tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan pertum-buhan rohani sang anak, tidak memperdulikan siklus shalat sang anak dan keluarga. Dengan ayah shalat di Masjid, berarti mereka tidak memanfaatkan kesempatan dan peluang untuk menjadikan anak-anak mereka sebagai manusia saleh saat dewasa kelak.

Delapan. Shalat di rumah: kalau setiap ayah (paman / datuk) selalu shalat di rumah maka kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga. Ini artinya pembangunan rohani dan kesalehan seutuhnya merupakan wewenang dan inisiatif sang ayah (paman / datuk) atas seluruh anak dan keluarganya, dan memang demikianlah seharusnya. Ayah, biar bagaimana pun adalah manusia yang paling bertanggungjawab atas perkembangan rohani dan kesalehan seluruh keluarganya, tidak bisa tidak. Itulah sebabnya Muhammad Saw menitahkan bahwa seluruh laki-laki wabil khususnya ayah (paman / datuk) harus senantiasa shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya (selama mereka berdomisili jauh dari lokasi Masjid Al-haram, Nabawi dan Masjid Aqsa).

Shalat di mesjid: kalau setiap ayah selalu shalat di Masjid maka pembangunan rohani dan kehidupan beragama adalah berbasis Masjid (atau rumah ibadah), tak ubahnya seperti kaum kafir atau jahiliyah. Di Dunia ini kita melihat pembangunan rohani umat Katholik berbasis di Gereja, di mana tugas dan wewenang untuk memimpin peribadatan seluruh jemaat berada di tangan pendeta Gereja. Sungguh setiap ayah di dalam lingkungan umat nonmuslim tidak mempunyai wewenang mau pun tanggungjawab untuk membina kebangunan rohani dan kehidupan beragama khususnya keluarganya sendiri. Jangankan membangun / membina rohani dan kehidupan beragama anak dan keluarganya, bahkan pemantapan iman dan rohani diri setiap ayah (paman / datuk) pun juga hanya boleh dikelola oleh staf pendeta di rumah ibadat. Dengan kata lain, setiap ayah dan juga anak dan seluruh keluarga tidak mempunyai hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan di dalam bermunajat kepada Tuhan, karena hak dan wewenang tersebut merupakan hak eksklusif para staf pendeta di rumah ibadat.

Islam tidaklah demikian, Islam mengajarkan bahwa hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan merupakan tugas dan tanggungjawab setiap ayah (paman / datuk), karena memang demikianlah logikanya: ayah yang melahirkan dan memberi makan anak dan keluarganya, maka ayah (paman / datuk) jugalah yang paling bertanggungjawab di dalam pembinaan rohani dan iman anak dan keluarganya, tidak bisa ditawar lagi dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Bagaimana mungkin Islam mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani dan iman seluruh keluarga diserahkan kepada staf rumah ibadat (yaitu Imam Masjid, sebagaimana halnya staf pendeta di Gereja), sementara staf rumah ibadat tersebut tidak mempunyai hubungan darah dan kasihsayang atas mereka (anak dan seluruh keluarga)?

Penting untuk diketahui, bahwa pada umat nonmusiim yang bersistem pembangunan rohani berporos rumah ibadat, telah menjadikan setiap ayah, paman, datuk, anak dan seluruh keluarga tidak mempunyai derajat kesalehan di dalam beragama. Karena lebih tepatnya lagi, derajat kesalehan hanya dimiliki staf rumah ibadat yang jumlahnya hanya segelintir di tengah mereka. Ini menyedihkan. Maka kemudian apakah umat Muslim di seluruh Dunia juga mempunyai takdir yang harus sedemikian sama, dengan cara bahwa hak dan wewenang untuk menyelenggarakan ritus ibadah terletak pada staf rumah ibadat, dalam hal ini Imam Masjid? Ingatlah bahwa Muhammad Saw pun melarang umatnya ber-tasyabuh, yaitu mempersamakan diri dengan kaum kafir di dalam cara dan berfikir, dan bertasyabuh merupakan dosa di sisi Allah Swt.

Dampaknya jelas: umat nonmuslim yang mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani keluarga merupakan wewenang rumah ibadat – melahirkan kesenjangan dan kemiskinan rohani di tengah umat secara akar-rumput, belum lagi ditambah sekuleritas yang menggejala pada masyarakat mereka, masyarakat nonmuslim. Hal seperti ini harus dijauhkan umat Muslim universal, caranya adalah dengan mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani keluarga merupakan hak dan wewenang penuh atas ayah (paman / datuk) masing-masing.

Sembilan. Shalat di rumah: karena para ayah / suami harus menjadi Imam shalat di rumah maka sejak kecil mereka sudah dipersiapkan untuk hafal Alquran. Ini merupakan siklus kebaikan yang akan terwujud di dalam keluarga Muslim kalau mentradisikan shalat berjamaah di rumah dengan ayah (paman / datuk) sebagai Imam. Seorang ayah, ketika ia kecil selalu shalat berjamaah di rumah dengan diimamkan datuknya. Ayah yang masih kecil ini terpacu untuk hafal surah karena kelak ia juga akan harus berperan sebagaimana yang ditunjukkan datuknya. Ini merupakan dinamika Illahiyah yang luar-biasa yang akan memunculkan tahfiz-tahfiz pada usia remaja. Hikmah mentradisikan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan seluruh keluarga menjadi kenyataan dan semakin jelas.

Dengan kata lain, tradisi shalat di rumah di mana para ayah menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya, memunculkan tongkat estafet untuk generasi mendatang, yaitu mengakibatkan anak-anak yang menjadi makmum kala itu akan terpacu juga untuk hafal surah Alquran karena kelak mereka akan menjadi Imam juga atas anak-anak mereka di kemudian hari. Tongkat estafet keimaman dan tahfiz Alquran merupakan kata kunci di sini.

Karena tugas menjadi Imam merupakan tugas seluruh lelaki (karena kelak mereka akan menjadi suami / ayah / paman / datuk) maka tugas keimaman menjadi rata di tengah umat, dan akibatnya semua orang (harus) hafal surah Alquran: inilah moment kemunculan tahfiz publik, yaitu tahfiz yang membumi sampai ke akar-rumput.

Shalat di mesjid: menjadi tahfiz Alquran hanya untuk kalangan tertentu alias segmented, dan hal ini merupakan bentuk penolakan terhadap rahmat Allah Swt. Dengan mentradisikan shalat di Masjid, setiap ayah tidak mempunyai cambuk dan motivasi untuk hafal surah Alquran, karena mereka tidak akan pernah di-rolling-kan untuk menjadi Imam pada saat yang lain. Akibatnya target menghafal surah Alquran hanya bergulir di kalangan tertentu. Pada kenyataannya banyak para ayah (paman / datuk) yang sama sekali tidak hafal banyak surah Alquran, karena sejak kecil mereka tidak melihat senior mereka shalat di rumah menjadi Imam shalat, dan itu akibatnya para ayah (paman / datuk) tersebut tidak mempunyai tongkat estafet untuk menghafal surah Alquran.

Karena tugas menjadi Imam adalah segmented yaitu hanya untuk kalangan staf dan Imam Masjid maka tidak semua orang hafal Alquran, bahkan sedikit. Kalau tugas menjadi Imam hanya berkisar pada Imam Masjid, berarti setiap ayah tidak perlu mempunyai motivasi untuk hafal surah Alquran. Dengan mentradisikan shalat di Masjid, umat tidak akan menemukan moment kemunculan tahfiz publik, karena tradisi ini hanya melahirkan tahfiz yang segmented, yaitu khususnya dari kalangan pesantren dan sejenisnya.

Sepuluh. Shalat di rumah merupakan sumbu / poros dari sistem tahfiz publik yang melahirkan mekanisme pemurnian Alquran. Kemurnian Alquran, pada sejarahnya, terpelihara karena adanya tahfiz publik, yang mana tahfiz publik hanya akan terwujud jika seluruh ayah (paman / datuk) shalat di rumah menjadi Imam atas seluruh keluarganya. Dengan adanya mekanisme yang melahirkan tahfiz publik, keutuhan dan kemurnian Alquran terjaga, karena setiap individu hafal Alquran.

Jika di dalam 1000 orang hanya dua orang yang hafal Alquran, besar kemungkinan kedua orang ini akan mengubah-ubah ayat Alquran sesuka hati mereka, karena toh 998 individu lainnya tidak mengetahui konfigurasi ayat-ayat Alquran yang sebenarnya. Namun kalau ke-1000 individu tersebut hafal Alquran, maka tidak mungkin satu individu dapat leluasa mengubah satu ayat Alquran karena 999 yang lainnya sama-sama mengetahui konfigurasi surah dan ayat Alquran. Satu orang merupakan penjaga kemurnian ayat yang dilantunkan orang lainnya, begitulah seterusnya – karena mereka sama-sama hafal ayat Alquran. Itulah mekanisme pemurnian Alquran yang terjadi secara alami dan matematis!

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa kemurnian Alquran dapat terjaga karena adanya tradisi shalat di rumah di mana para ayah menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya, yang kelak hal ini akan mengakibatkan seluruh laki-laki termotivasi untuk hafal seluruh surah Alquran (karena mereka harus menjadi Imam keluarga di rumah mereka sendiri), demikian juga anak-anak yang satu masa menjadi makmum di rumah, akan juga termotivasi untuk hafal surah Alquran karena kelak mereka akan berperan sebagai Imam di dalam kehidupan mereka mendatang. Maka meratalah, maka membumilah gelora menghafal surah Alquran! Ingatlah, lebih banyak orang yang hafal Alquran, maka lebih banyak manusia yang menjadi penjaga kemurnian Alquran.

Ketahuilah, bahwa tradisi shalat di rumah bagi ayah (paman / datuk) untuk menjadi Imam atas anak-anak dan seluruh keluarganya – pada skala mikro – merupakan sistem yang akan melahirkan tahfiz publik – pada skala makro yang berimbas pada pemurnian Alquran.

Shalat di mesjid: sejarah menunjukkan bahwa kitab-kitab suci pra-Alquran (Perjanjian-lama dan Perjanjian-baru dsb) berhasil dipalsukan karena kehidupan dan ritus agama berbasis rumah-ibadat sehingga kitabsuci menjadi monopoli kaum biarawan. Definisi monopoli di sini adalah, bahwa memiliki, memegang, merawat, membaca dan menghafal kitabsuci merupakan hak istimewa para biarawan, selebihnya umat awam tidak diperkenankan untuk memiliki, memegang, membaca dan menghafal kitabsuci, hal mana semangat ini lahir dari kepercayaan bahwa suatu kitabsuci adalah suci, oleh karena itu kitabsuci hanya boleh dipegang dan disentuh oleh manusia suci, dan manusia suci di sini pastilah berarti para biarawan, sementara umat awam tidak termasuk suci, oleh karena itu umat awam tidak diperkenankan memiliki, memegang, membaca dan menghafal kitabsuci.

Monopoli memungkinkan terjadinya pemalsuan kitab. Kalau satu individu (yaitu biarawan) mengubah ayat kitabsuci sesuka hati, bagaimana mungkin awam dapat mengetahui pengubahan ayat tersebut? Bukankah awam tidak hafal kitabsuci dan tidak juga memegang kitabsuci? Itulah sebabnya kitabsuci pra-Alquran mudah sekali dipalsukan, karena tidak adanya sistem yang melahirkan tahfiz publik di tengah mereka, karena penguasaan kitabsuci terpusat pada segelintir manusia.

Dan bagaimana pula kalau umat Muslim merupakan umat yang mentradisikan dan mensentralisasikan shalat di Masjid, di mana para ayah (paman / datuk) dan juga anak-anaknya menjadi tidak termotivasi untuk hafal Alquran karena urusan menghafal Alquran merupakan tugas para Imam Masjid semata, dan kemudian karenanya sistem ini tidak melahirkan tahfiz publik? Bukankah nasib kemurnian Alquran seutuhnya berada pada kesemena-menaan segelintir manusia yang hafal Alquran itu?

Sebelas. Shalat di rumah: kasih sayang dan pengawasan ayah (paman / datuk) atas anak-anak dan keluarga menjadi efektif dan sistematis, baik pengawasan itu di dalam hal siklus shalat pada khususnya, mau pun di dalam hal mental spiritual pada umumnya. Dengan shalat di rumah menjadi Imam atas anak-anak dan seluruh keluarganya, maka sayang dan kepedulian seorang ayah (paman / datuk) terhadap mereka adalah nyata senyata matahari. Pada dasarnya, shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas anak-anaknya merupakan wujud dan bukti bahwa seorang ayah, Imam tersebut, sayang kepada keluarganya sendiri, dan tidak ada yang lebih pantas dan lebih indah untuk menjadi Imam atas mereka, kecuali sang ayah sendiri, tidak bisa tergantikan.

Setiap anak dan seluruh keluarga akan tetap di dalam siklus shalatnya selama ada yang mengawasi, yaitu ayah mereka, tidak lain dan tidak bukan. Dan seseorang yang paling efektif pengawasannya terhadap siklus shalat anak-anak pastilah ayah (paman / datuk) mereka sendiri. Pengawasan yang dilakukan orang lain atas diri seorang anak terhadap siklus shalatnya, tidak akan mempan, tidak akan mengena, tidak akan efektif, tidak akan bertaji, karena orang lain tersebut bukanlah siapa-siapa bagi sang anak; dan sang anak sendiri akan menganggap dan melihat orang lain tersebut sebagai orang yang tidak berhak untuk mengawasi dan mengontrol siklus shalatnya. Terlebih, sang anak bukannya akan patuh pada pengawasan orang tersebut untuk shalat, malah akan berbalik untuk bergumam, ‘ayah saya tidak menyuruh dan tidak mengawasi saya shalat, lantas mengapa orang ini menyuruh saya shalat?’.

Pendek kata, hanya sang ayah (paman / datuk)-lah yang berada pada posisi untuk mengawasi siklus shalat anak dan keluarganya. Dan hal tersebut hanya dapat diimplementasikan jika seorang ayah (paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam atas keluarganya, seperti yang dititahkan oleh Muhammad Saw di dalam Alhadis: “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu”.

Sayang kepada anak dan keluarganya bukan hanya di dalam bentuk memberi rumah, memberi makan yang banyak, memberi mainan yang handal, melainkan juga terjadi di dalam bentuk ‘mempersembahkan’ mereka ke hadhirat Allah Swt di dalam seremoni shalat berjamaah di rumah. Biarlah Allah Swt dan para MalaikatNya melihat bahwa seorang ayah sedang membawa seluruh anak dan keluarganya ke hadlirat-Nya di dalam suatu shalat berjamaah, dan itulah yang indah dan yang sepatutnya, karena memang itulah tugas seorang ayah (paman / datuk).

Ketika seorang ayah (paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya, maka pada saat itu sang ayah sedang memasukkan keluarganya ke dalam Surga dan menyelamatkan mereka dari jilatan api Neraka sebagai bukti sayang dan pemeliharaan sang ayah yang kuat dan fundamental.

Tidak benar kalau seorang ayah hanya sayang pada dirinya sendiri, melainkan ia harus sayang kepada anak dan keluarganya, dan wujudkanlah itu di dalam bentuk shalat berjamaah di rumah dengan dirinya menjadi Imam shalat atas mereka.

Shalat di mesjid: kasih sayang dan pengawasan ayah (paman / datuk) terhadap anak-anak dan keluarga adalah semu, tidak efektif, dan hanya slogan. Bagaimana mungkin seorang ayah (paman / datuk) dapat dikatakan sayang kepada anak dan keluarganya kalau ayah ini selalu shalat di Masjid yang, itu berarti mereka tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan siklus shalat anak mereka, darah-daging mereka sendiri? Apakah mungkin seorang ayah yang sayang kepada anak-anaknya justru meninggalkan anak-anaknya tersebut di rumah dan membiarkan mereka terkatung-katung sepanjang jalan kampung berhamburan di dalam kesia-siaan duniawi dan tumpah-ruah di pelataran dunia di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb, sementara sang ayah asyik shalat di Masjid? Apakah sang ayah tidak ingin menjadi Imam untuk mengimamkan shalat anak-anak mereka, darah-daging mereka? Kalaulah seorang ayah sayang kepada anak-anak dan keluarganya, maka pastilah lebih mudah untuk mereka mengerti bahwa sebaiknya mereka sendiri yang mengimamkan shalat anak-anak itu.

Tidak mungkin rasa sayang seorang ayah kepada anak-anaknya justru mengakibatkan anak-anak tersebut harus terkatung-katung di dalam hiruk-pikuk duniawi, sementara sang ayah shalat di Masjid.

Anggaplah, bahwa shalat di Masjid memang merupakan kebajikan, sehingga dia yang mengamalkannya akan masuk Surga. Namun kemudian mengapa sang ayah membiar-kan anak-anak dan keluarganya tercecer di sepanjang jalan kampung berhamburan di dalam kesia-siaan Duniawi? Apakah seperti itu yang dinamakan sayang kepada anak dan keluarga? Apakah sang ayah ingin selamat di akhirat sendirian, dan anak-anaknya dibiarkan tumpah ke Neraka, tidak memperdulikan keselamatan-akhirat anak-anaknya? Maka dari sini jelas, bahwa tradisi shalat di Masjid merupakan kesalahan, karena tradisi ini mengakibatkan setiap ayah tidak sempat memikirkan nasib ukhrawi anak-anak dan keluarganya.

Jelas sekali, tradisi shalat di Masjid (yang bukan ajaran kenabian Muhammad Saw) sama sekali tidak mencerminkan rasa sayang seorang ayah (paman / datuk) kepada anak-anak dan keluarganya.

Duabelas. Shalat di rumah: kekuatan spiritualitas keagamaan menjadi nyata dan kuat. Ingatlah, bahwa kekuatan spiritualitas keagamaan (saleh, taqwa, tawadhu, tawakal, jujur, rendah-hati, sederhana, dsb) hanya dapat bangkit dan menjadi fenomena kalau proses pembentukannya terjadi secara:

  1. gotong-royong alias massal,
  2. di dalam jangka waktu yang lama (long-term), dan terakhir,
  3. semua fitnah / kekuatan dan efek negatif ditiadakan.

Di lain pihak, seorang ayah (paman / datuk) yang shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya di dalam jangka waktu yang lama, telah menjadi fondasi dasar pemupukan dan penguatan ruh keagamaan dan kesalehan secara fundamental terhadap jiwa dan mentalitas sang anak. Kuatnya spiritualitas ayah (paman / datuk) yang terlihat saat memimpin shalat berjamaah di rumah, dan kuatnya spiritualitas dari shalat berjamaah itu sendiri akan mempengaruhi spiritualitas anak-anak dan keluarganya.

Dan pada akhirnya seluruh umat yang shalat berjamaah di rumah (dilakukan secara massal atau gotong-royong) karena diimamkan oleh ayah masing-masing, yang karenanya seluruh jalan dan perempatan dan juga Pusat keramaian menjadi sepi (mentiadakan fitnah dan kekuatan negatif), telah menjadi kekuatan spiritualitas tertinggi yang dapat diperoleh umat Allah Swt di muka bumi ini. Dengan terciptanya suasana spiritualitas yang ajaib ini, terlihat jelas bahwa satu individu telah bergotong-royong dengan banyak individu lainnya di dalam gelombang kesalehan yang tiada tara, dan inilah yang memberikan gambaran kekuatan spiritualitas keagamaan yang kental dan prima.

Shalat di mesjid: kekuatan spiritualitas dalam menjalankan agama menjadi pudar: yang tercipta hanyalah poros: “loe loe, gue gue” dikarenakan setiap ayah (paman / datuk) selalu shalat di Masjid yang dampaknya setiap anak dan anggota keluarga lainnya di rumah tidak pernah mendapat sokongan dan dukungan untuk kesalehan. Intinya, tidak pernah terjadi di mana satu individu telah bergotong-royong dengan banyak individu lainnya di dalam gelombang kesalehan. Lebih tepatnya, tidak pernah seorang ayah (paman / datuk) membantu anak dan keluarganya untuk memupuk kesalehan yang shalat merupakan inti dari kesalehan tersebut. Ketika seorang ayah selalu shalat di Masjid (yang dengan demikian meninggalkan anak dan keluarganya di rumah) maka itu berarti sang ayah membiarkan anak-anaknya untuk memilih takdirnya sendiri, dan apakah itu takdir kesalehan yang dipilih sang anak, selamanya akan tetap menjadi misteri, tidak ada satu pun yang dapat menjaminkan. Dan bagaimana mungkin takdir kesalehanlah yang dipilih anak-anaknya, sementara dukungan dan sokongan dari sang ayah tidak mereka dapat?

Intinya, kesalehan tidak datang dengan sendirinya, dan tidak dapat diusahakan orang per-orang, melainkan sebagai suatu usaha bersama, berjamaah, di dalam suatu kedisiplinan dan ketaatan. Pendek kata, kalau seorang ayah tidak ingin anak dan keluarganya saleh, maka cukuplah baginya untuk terus shalat di Masjid, dan biarkan anak dan keluarganya memilih takdirnya sendiri di tengah hingar-bingarnya kehidupan di luar rumah.

Tigabelas. Shalat di rumah: hak wanita dan anak-anak untuk shalat berjamaah berikut untuk memperoleh pahalanya, terpenuhi. Para wanita, yang mereka adalah para anak perempuan, istri, ibu, bibi, nenek, merupakan umat Tuhan yang harus dilibatkan di dalam seremoni shalat berjamaah berkenaan dengan keutamaan pahala shalat berjamaah. Di lain pihak, shalat berjamaah hanya dapat diimamkan oleh laki-laki yaitu para ayah atau suami / paman / datuk. Berarti kalau seorang ayah (paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas seluruh anak dan keluarganya, maka hak, pahala dan takdir para wanita di dalam keluarga tersebut telah terpenuhi.

Intinya, Islam telah mengajarkan bahwa tempat terbaik bagi seorang wanita adalah tetap di rumahnya sendiri, yang mana ini berarti para wanita tidak dianjurkan untuk melangkahkan kaki mereka menuju Masjid untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah. Di satu pihak Islam mengajarkan bahwa para wanita harus turut disertakan di dalam shalat berjamaah, dan juga menitahkan bahwa tempat terbaik bagi wanita untuk beribadah adalah di dalam rumahnya sendiri. Ini berarti bahwa setiap ayah (paman / datuk) haruslah shalat di rumah untuk menjadi Imam atas mereka.

Tidak ada satu kepentingan yang ingin dipenuhi oleh seorang ayah ketika ia memilih untuk shalat di rumah menjadi Imam atas keluarganya, kecuali kepentingan untuk menjadi Imam atas anggota keluarganya khususnya yang perempuan, seperti anak perempuannya, istrinya, ibunya, neneknya, bibinya dsb. Dan memang demikianlah seharusnya pilihan yang harus direnungkan seorang ayah (paman atau datuk). Adalah mutlak seorang ayah untuk harus sayang kepada anak-anaknya yang perempuan, kepada ibunya, neneknya, dsb, dan satu-satunya cara untuk menyayangi mereka adalah dengan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas mereka dari waktu ke waktu.

Shalat di mesjid: dengan para ayah / laki-laki selalu shalat di Masjid, maka kemudian apakah para istri, anak perempuan, para ibu tidak berhak untuk diimamkan oleh ayah / suami, lantaran kaum wanita lebih baik tinggal di rumah?

Ketika seorang ayah memutuskan untuk shalat di Masjid, para wanita (termasuk anak-anak perempuan) yang tinggal di rumah tidak mempunyai gambaran bagaimana hak mereka untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah dapat terpenuhi secara terus menerus. Kenyataannya, para wanita ini untuk dalam jangka waktu yang sekian lama akan tetap shalat sendirian di rumahnya, dan itu pun tidak ada yang dapat memastikan apakah wanita-wanita ini benar-benar menunaikan shalat di rumah – sementara ayah-ayah mereka shalat di Masjid.

Pendek kata, ketika para lelaki shalat di Masjid, kesia-siaan telah terjadi di tengah umat, yaitu pensia-siaan hak para wanita untuk diimamkan di rumah, sementara Muhammad Saw sudah jelas dengan Alhadis-nya, yaitu bahwa “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu”. Satu-satunya cara yang tepat untuk mengamalkan Alhadis tersebut adalah para lelaki (termasuk para ayah, paman, datuk, abang, suami dsb) memilih shalat di rumah, dan menghentikan tradisi untuk shalat di Masjid, karena shalat di Masjid tidak mempunyai landasan argumentasi baik aqli mau pun naqli.

Empatbelas. Shalat di rumah: setiap ayah / suami dapat memastikan sendiri bahwa anggota keluarganya tetap menunaikan shalat karena ayah / suami sendirilah yang mengimamkan mereka. Sudah sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam, dan perintah shalat ini adalah rata untuk seluruh umat tanpa kecuali. Masalah akan timbul kalau ada satu individu tidak menunaikan shalatnya, dan terlebih kalau individu tersebut merupakan anggota keluarga yang, seharusnya tetap memelihara siklus shalatnya. Hal ini seharusnya merupakan kepedulian dan concern seorang ayah atas seluruh anak dan keluarganya. Adalah sulit untuk dicerna bahwa ada seorang ayah begitu memelihara siklus shalatnya sementara anak dan keluarganya tidaklah demikian. Kalau anak dan keluarga tidak serius di dalam siklus shalatnya maka dapat dipastikan itu semua berawal dari tidak adanya perhatian sang ayah (atau paman / datuk). Dan kalau hal ini benar-benar terjadi, seluruh ulama sepakat bahwa kesalahan justru berada pada diri sang ayah (atau paman / datuk), tidak bisa tidak.

Pada saat seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya, maka sebenarnya pada saat tersebut sang ayah telah dapat memastikan bahwa anak dan keluarganya sudah paripurna menunaikan shalat: “dia yakin karena dia melihat”, karena dia sendiri yang mengimamkan mereka. Kepastian merupakan kata kunci di sini, dan tidak ada yang dapat memastikan mereka (anak dan keluarga) menunaikan shalat kecuali adanya perintah, perhatian dan keimaman sang ayah (paman / datuk). Itulah satu-satunya jalan bagi seorang kepala keluarga untuk memastikan bahwa seluruh anggotanya tetap di dalam siklus shalat. Ingatlah bahwa kebanyakan dari anggota keluarga adalah anak-anak manusia yang masih di dalam usia pertumbuhan, yang mana itu berarti bahwa mereka belum mengerti kedisiplinan dan ketaatan. Anak-anak biasanya hanya melewatkan hari-hari dengan bermain dan naluri untuk tidak taat.

Tidak mungkin ada seorang anak kecil yang taat memelihara siklus shalatnya. Sebaliknya, setiap anak hanya memikirkan main bersama kawan-kawannya. Dan kemudian, tidak mungkin ada seorang anak kecil yang ketika ditanya ayahnya apakah sudah shalat, kemudian sang anak akan menjawab “sudah” dengan penuh kebenaran, tanggungjawab, dan bermartabat. Sulit mengharapkan kesalehan tumbuh dan bersemi pada diri seorang anak yang sedang senang-senangnya bermain.

Namun di luar itu semua, tentunya sang ayah mempunyai perhatian yang lebih besar atas mereka. Wujudnya hanya satu: memanggil mereka untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah di rumah, hari demi hari, minggu demi minggu, dan tahun demi tahun, hingga anak-anak tersebut tumbuh menjadi dewasa, yaitu usianya untuk taat dan sadar akan kewajiban dan kesalehan. Dengan terus memanggil mereka untuk berpartisipasi shalat berjamaah, maka tidak perlu sang ayah bertanya kepadanya apakah sudah shalat, karena sang ayah sendirilah yang mengimamkannya. Dengan dipanggil shalat, maka berhentilah mai-mainnya untuk sementara, untuk shalat tersebut. Dan ikut shalat berjamaah tidak akan mencederai haknya untuk bermain.

Shalat di mesjid: dapatkah ayah / datuk memastikan bahwa anak dan keluarganya sudah shalat, sementara ayah tersebut shalat di Masjid? Dan apakah masuk akal ada seorang ayah yang selalu shalat di Masjid sebagai wujud dari kesalehannya, sementara ia menuntut anak-anaknya untuk juga saleh di rumah dengan tetap memelihara siklus shalat?

Ketika seorang ayah bertanya kepada anaknya apakah sudah shalat, dan dijawab “sudah” oleh sang anak, berapa persenkah validitas jawaban sang anak untuk ayah tersebut pertanggung-jawabkan di depan Allah Swt di hari berbangkit kelak? Bukankah ia tidak melihat? Dan bukankah ia tidak boleh yakin akan validitasnya? Apakah mungkin nilai keyakinan dapat disamakan antara “melihat sendiri” dengan “tidak melihat sendiri”? Jelas seorang ayah tidak pernah melihat dengan matanya sendiri bahwa anaknya telah menunaikan shalat, maka bagaimana ia yakin bahwa anak-anak dan keluarganya sudah shalat, cukup hanya dengan mendengar mereka menjawab “kami sudah shalat”?

Apakah membesarkan anak di dalam ketaatan untuk shalat caranya cukup dengan bertanya apakah kamu sudah shalat Maghrib dan Isya tadi, sementara sang ayah selalu shalat di Masjid yang mana itu berarti selalu meninggalkan anak dan keluarganya di dalam ketidakpastian akan memelihara shalat? Dus, berarti meninggalkan tanggung-jawabnya untuk memastikan bahwa anak dan keluarganya tetap memelihara siklus shalat? Ketahuilah, bahwa ketika sang ayah shalat di Masjid, maka semua anak justru sedang asyik berhamburan di pelataran dunia di dalam kesia-siaan larut di dalam kesenangan duniawi yang tidak terperikan.

Limabelas. Shalat di rumah: karena ayah (paman / datuk) menjadi Imam di rumah yang mengakibatkan aktivitas shalat berjamaah berpusat di rumah-rumah maka:

  1. Tarbiyah keluarga berlangsung secara konstan dan intim.
  2. Tarbiyah terhadap keluarga terjadi secara alami, membumi, dan gratis karena tarbiyah merupakan tanggungjawab ayah (paman / datuk).
  3. Ayah (paman / datuk) secara otomatis dan alami harus menjadi pengajar dan pembimbing atas anak-anaknya / ponakannya / sepupunya / cucunya / adik-adiknya, dll, itu semua atas dasar sayang sang dari sang ayah (atau paman / datuk).

Shalat di mesjid: tarbiyah hanya berlangsung terhadap jemaah Masjid, itu pun hanya untuk kalangan para ayah / orang-tua; tarbiyah untuk anak-anak dan keluarga terbengkalai karena Ayah (paman / datuk) pergi shalat ke mesjid. Akibatnya jika memang anak-anak faham agama itu karena mereka disekolahkan, yang artinya Ayah (paman / datuk) lempar tanggung-jawab kepada lembaga sekolah tersebut.

Biar bagaimana pun tarbiyah yang didapat anak dari sekolah adalah bersifat darurat, tidak menyeluruh, tidak permanen, dan serba kaku. Adalah tidak mungkin dapat mempersamakan antara tarbiyah yang didapat anak di rumahnya, dengan tarbiyah yang mereka dapat dari sekolah.

Kalau memang terdapat tarbiyah di dalam kehidupan ini, maka mengapa tarbiyah itu hanya untuk kalangan ayah / paman? Mengapa tarbiyah tidak diperuntukkan bagi anak-anak di rumah? Apakah anak dan keluarga tidak membutuhkan tarbiyah? Mengapa bisa terjadi, di mana para ayah / datuk menikmati tarbiyah di dalam Masjid, sementara anak dan keluarga tidak menikmati tarbiyah tersebut, malah justru asyik tenggelam di dalam kesia-siaan tercecer sepanjang jalan kampung dan tumpah-ruah di pelataran dunia di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main kejar-kejaran, tawuran, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb?

Enambelas. Shalat di rumah: tidak akan mungkin terjadi malapetaka umat, karena ayah / suami shalat berjamaah di rumah menjadi Imam atas seluruh anggota keluarga, maka jelaslah seluruh anggota keluarga sedang berada di belakang mereka sebagai makmum menunaikan shalat bersujud kepada Illahi, sehingga menjadi sepi-lah seluruh hiruk-pikuk keduniawian: jalan-jalan menjadi sepi, lapangan menjadi sepi, mal-mal menjadi sepi, perempatan menjadi sepi, Pusat jajan menjadi sepi, karena anak-anak dan wargakota yang biasa meramaikan tempat-tempat keduniawian tersebut saat itu justru sedang menjadi makmum shalat berjamaah yang diimami oleh ayah-ayah / datuk-datuk mereka di rumah masing-masing.

Dengan ayah / paman shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan seluruh anggota keluarganya, maka kesibukan dan kesenangan keduniawian di pelataran dunia musnah dan terhenti, karena anak-anak manusia yang biasanya meramaikan kesibukan dan kesenangan keduniawian tersebut, saat itu sedang berada di belakang ayah / paman / kakek mereka masing-masing sebagai makmum dalam ketaatan dan kesalehan, penuh ridha Illahi.

Jelas sekali, ketika seorang seorang ayah (paman, datuk, abang, suami) shalat di rumah menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya, maka ia tengah dan telah memusnahkan dan memadamkan hiruk-pikuk duniawi di seluruh perempatan jalan dan Pusat belanja, dan kemudian mengubah dunia menjadi tempat yang penuh ibadat dan taqwa kepada Illahi, karena anak-anak dan warga kota yang biasa meramaikan pelataran dunia tersebut sedang shalat sebagai makmum di belakang sang ayah / paman. Inilak keagungan dan kekuatan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh setiap ayah / datuk. Inilah marwah umat Muslim seluruh Dunia!

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah / paman / datuk merupakan:

  1. satu-satunya kekuatan yang paling misterius dan paling berwibawa yang dapat merontokkan dan mengkudeta huru-hara duniawi khususnya pada malam hari; shalat berjamaah di rumah telah menggulingkan malapetaka dunia.
  2. dan menggantinya dengan suasana ibadat yang hikmat dan kudus,
  3. terakhir, mengklaim anak-anak dunia sebagai anak-anak yang penuh ibadat dan kesalehan.

Terbebaslah umat dan seluruh anak dari malapetaka duniawi dikarenakan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh setiap ayah, itulah titah Nabawi.

Shalat di Masjid: ketika seorang ayah / paman / datuk shalat di Masjid maka terjadilah malapetaka umat. Ketika para ayah / suami shalat berjamaah di Masjid, berarti anak-anak dan anggota keluarga lainnya sedang tumpah-ruah di pelataran dunia di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, tawuran, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb.

Ayah / paman shalat di mesjid maka kesibukan dan kesenangan keduniawian di pelataran dunia tetap menggejala karena terus memikat, menyedot dan dihadiri anak-anak manusia karena mereka tidak diimamkan oleh Ayah (paman / datuk) mereka masing-masing. Ketika seorang ayah shalat di Masjid, maka sama saja sang ayah telah melontarkan anak-anaknya dihambur-hamburkan ke pelataran dunia penuh kesia-siaan.

Seorang ayah yang shalat di Masjid sebenarnya sedang menghidupkan dan menyemarakkan kehidupan huru-hara di seluruh perempatan jalan tempat di mana seluruh anak manusia tumpah ruah di dalam kesia-siaan. Di dalam kancah seperti ini bagaimana mungkin setiap jiwa dan setiap anak tumbuh di dalam kesalehan dan ketaqwaan yang Nabawi?

Tujuhbelas. Shalat di rumah: khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh, ketiga waktu tersebut merupakan waktu tarbiyah untuk anak dan keluarga. Jarak waktu antara Maghrib dan Isya sangat singkat, tidak sampai dua jam. Sengaja Allah Swt menyingkatkan waktu Maghrib supaya dengan demikian dekat jaraknya dengan Isya yaitu hanya berkisar tidak sampai dua jam. Hikmahnya adalah bahwa supaya waktu tersebut digunakan umat Muslim untuk moment tarbiyah di mana sang ayah / datuk / suami menjadi pembimbing rohani bagi seluruh anak dan anggota keluarganya. Cukup dua jam setiap hari (antara Maghrib menuju Isya) merupakan masa tarbiyah yang sangat ampuh bagi anak-anak yang sedang di dalam masa pertumbuhan rohani . Di awal Maghrib sang ayah memanggil anggota keluarga dan seluruh anaknya untuk shalat berjamaah (di rumah). Kemudian sang Imam tidak akan mengijinkan anak-anaknya untuk beranjak kembali kepada aktivitasnya seusai shalat Maghrib berjamaah, melainkan sang Imam (ayah atau datuk atau paman) menyuruh anak-anaknya untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, menghafal surah-surah pendek, dsb. Dan tidak terasa adzan Isya telah berkumandang, maka berakhirlah sesi tarbiyah untuk anak-anaknya pada hari itu. Shalat Isya berjamaah segera didirikan, dan anak-anak sudah mendapatkan pengajaran dan pertumbuhan rohani di dalam rumahnya sendiri. Setelah usai shalat Isya berjamaah, keluarga tersebut langsung ke meja untuk santap malam, mereka makan, dan akhirnya mereka siap untuk beristirahat sampai fajar menjelang.

Shalat Shubuh juga demikian. Sang ayah / datuk / paman akan membangunkan anak-anak dan anggota lainnya untuk shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absent, semua dibangunkan dari tidurnya. Setiap hari berlangsung demikian maka kukuhlah anak-anak di dalam disiplin dan keteguhan shalat.

Demikian agenda anak-anak dan keluarga Muslim setiap hari sehingga tumbuhlah anak-anak itu di dalam persemaian rohani yang kukuh dari keluarganya sendiri. Itu semua karena sang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk memimpin shalat berjamaah atas keluarganya.

Shalat di Masjid: moment tarbiyah yang di-skenariokan Allah Swt supaya setiap Ayah (paman / datuk) menjadi pemimpin shalat dan pengajaran disiplin beragama bagi anak-anak di rumah, menjadi terkendala secara fundamental. Waktu Maghrib, Isya dan Shubuh menjadi sia-sia tidak dapat dioptimalkan untuk moment pengajaran anak-anak, dan anak-anak akhirnya mengalami kemarau-jiwa karena tidak pernah dihadirkan di dalam shalat berjamaah di rumah setiap hari. Hal itu semua karena ayah (atau suami / paman / datuk) pergi shalat di Masjid yang mana itu berarti mereka tidak lagi memperdulikan pertumbuhan rohani anak-anak. Ibarat kata, Pemerintah telah membangun jembatan penyeberangan jalan buat warga, namun ternyata warga lebih memilih menyeberang jalan karena tidak ingin menggunakan jembatan tersebut, akibatnya sering terjadi kecelakaan dan kemacetan lalu-lintas.

Delapanbelas. Shalat di rumah: Ayah (paman / datuk) sadar bahwa keselamatan keluarganya merupakan tanggung-jawabnya di dunia dan akhirat. Dengan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh keluarganya, Ayah (paman / datuk) telah melaksanakan tanggung-jawabnya atas keselamatan keluarganya. Dengan shalat di rumah, seorang ayah akan memastikan bahwa anak-anak dan keluarganya harus shalat, harus berada di belakangnya sebagai makmum untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah, tidak boleh ada yang absent apapun alasannya. Televisi akan dimatikan, komputer akan dimatikan, gamesonline harus dimatikan, chatting internet harus dimatikan, kelayapan dan keluyuran di luar rumah dilarang, karena mereka harus berdiri di belakang Imam untuk shalat berjamah, karena shalat merupakan hal fundamental bagi iman dan ketaqwaan, tidak bisa dikalahkan oleh semua fasilitas keduniawian apapun.

Shalat di Masjid: seorang ayah / datuk yang shalat di Masjid, merupakan individu yang tidak pernah menyadari bahwa anak dan keluarga merupakan tanggungjawab mereka dunia akhirat. Atau, mereka sadar bahwa anak dan keluarga merupakan tanggungjawab dunia akhirat, namun mereka tidak melaksanakan tanggungjawab tersebut dengan semestinya, mereka telah menelantarkan tanggungjawab dunia akhirat yang untuk memastikan bahwa anak dan keluarga tetap shalat untuk memperoleh keselamatan dunia akhirat. Akibatnya, anak dan keluarga menjadi kering, rohani mereka tidak tumbuh dan berkembang dengan baik, dan menjadi pribadi yang tidak menunaikan shalat. Mereka, anak dan keluarga, menjadi keluyuran, terkatung-katung, berceceran dan kelayapan keluar rumah di sepanjang jalan, tidak shalat, tidak mengaji, tidak berzikir, tidak bershalawat, tidak melantunkan doa, tidak bersimpuh di hadapan Illahi, tidak menikmati suasana religius di dalam rumahnya, dan itu mengerikan. Mereka malah pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, shopping, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dan itu bukanlah ciri-ciri umat Muslim, melainkan ciri-ciri umat di dalam kekafiran dan kerugian.

Seorang laki-laki yang selalu shalat di Masjid, tidak berfikir bahwa anak dan keluarganya merupakan tanggungjawabnya untuk diimamkan. Mereka hanya berfikir bahwa shalat merupakan kesalehan, dan merupakan kesalehan prima kalau ditunaikan di Masjid. Itu saja yang ada di dalam fikiran mereka. Para ayah yang shalat di Masjid sehingga tidak pernah menjadi Imam atas anak dan keluarganya, hanya berfikir bahwa shalat di Masjid merupakan kesalehan, kebalikannya tidak pernah berfikir bahwa menjadi Imam atas anak dan keluarganya di rumah merupakan kesalehan. Para ayah ini, berfikir bahwa shalat atau tidaknya anak dan keluarganya, bukanlah urusannya, bukanlah tanggungjawabnya, melainkan urusan masing-masing anak dan keluarganya.

Singkat kata, seorang ayah / suami yang selalu shalat di Masjid, tidak pernah sadar bahwa anak dan keluarganya adalah tanggung-jawabnya dunia akhirat.

Sembilanbelas. Shalat di rumah, adalah gelombang rohani yang akan menjadikan rumah keluarga Muslim sebagai tempat suci dan kudus yang di dalamnya umat Allah Swt sedang bermunajat dan mensucikan diri mereka dari fitnah dunia dan fitnah jaman. Ketahuilah bahwa dengan lebih banyak tinggal di dalam rumah, maka seluruh anggotanya terbebas dari marabahaya dan godaan Iblis, karena Iblis lebih banyak beroperasi di luar rumah, terlebih di malam hari. Jadi dengan demikian dapat dikatakan, bahwa lebih banyak tinggal di dalam rumah di malam hari merupakan perjuangan setiap anggota keluarga untuk tetap suci. Inilah alasan mengapa rumah keluarga Muslim merupakan tempat suci.

Di dalam suatu Alhadis disebutkan bahwa Malaikat Rahmat as tidak akan masuk ke dalam rumah keluarga Muslim kalau di dalam rumah tersebut terdapat seekor anjing. Alhadis ini menyiratkan makna bahwa sejatinya Malaikat Rahmat as selalu berada di dalam rumah-rumah keluarga Muslim untuk menabur rahmat Allah Swt. Dan pada akhirnya Alhadis ini ingin menegaskan bahwa setiap rumah keluarga Muslim adalah tempat suci dan kudus, ditandai dengan bersemayamnya Malaikat Rahmat as di dalam rumah tersebut.

Lebih dari itu, kalau di dalam rumah itu selalu ditunaikan shalat berjamaah maka kesucian dan kekudusan rumah tersebut semakin mudah difahami. Shalat berjamaah di rumahlah yang paling berkontribusi di dalam menjadikan suatu rumah keluarga Muslim suci. Teknisnya, kalau shalat berjamaah sering dan rutin ditunaikan di dalam rumah (karena ayah / paman / datuk selalu menjadi Imam shalat di dalamnya), maka nyatalah rahmat Allah Swt yang ditabur sang Malaikat Rahmat di atas rumah tersebut.

Ada sebagian Muslim yang berfikir bahwa rumah bukanlah tempat suci – sehingga tidak layak untuk dijadikan tempat shalat berjamaah. Ketahuilah, bagaimana rumah tersebut akan menjadi suci kalau di rumah tersebut tidak pernah ditunaikan shalat berjamaah? Semakin sering shalat berjamaah ditunaikan di rumah maka semakin sucilah rumah tersebut di mata Allah Swt dan para MalaikatNya.

Pada moment inilah Muhammad Saw bersabda, “terangilah rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran”. Alhadis ini menegaskan betapa pentingnya menjadikan rumah sebagai ‘pangkalan’ shalat yang permanen untuk seluruh anggota keluarga turun temurun, demi menunaikan makna dari Alhadis Muhammad Saw tersebut.

Dan dengan terus menunaikan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh sang ayah, yang mana seremoni tersebut melibatkan anak dan seluruh anggota keluarga, dan dikarenakan shalat itu sendiri adalah suci dan Agung, dan membuat rumah tempat diselenggarakannya shalat berjamaah itu jadi suci dan Agung juga, maka akibat akhirnya adalah bahwa anak dan keluarga pun menjadi suci dan saleh. Itu sudah jelas, itu sudah logis, itu adalah efek kartu domino-nya!

Praktis, kalau seorang ayah (paman / datuk) selalu shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan keluarganya maka rumah tersebut menjadi tempat suci dan kudus di mata Allah Swt. Dan setiap jiwa yang tinggal di dalam rumah tersebut pun juga menjadi suci dan saleh, jauh dari fitnah dunia. Dengan seorang ayah memilih untuk shalat di rumah, ia telah menegaskan bahwa rumahnya merupakan tempat suci, dan shalat berjamaah adalah pantas untuk ditunaikan di dalamnya.

Shalat di Masjid, adalah suatu gelombang yang didasari oleh kebiasaan berfikir bahwa Masjid adalah tempat suci. Dan ketika para ayah pulang kembali ke rumah dari shalat berjamaah dari Masjid, maka kesucian itu tetaplah berada di Masjid: kesucian tersebut tidaklah ikut terbawa ke rumah, dan tidak juga membuat anak dan keluarganya menjadi suci sesuci Masjid. Anak dan keluarganya tetaplah berhamburan di jalanan kampung asyik bermain kejar-kejaran di sepanjang jalan tidak karu-karuan, pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, godain cewek, nonton bioskop, tawuran, main raket, makan permen karet, nonton bola, bermain futsal, main bola, shopping, jual-beli, main internet, kongkow-kongkow, dsb.

Ketika sang ayah shalat di Masjid berketerusan, maka perbuatan tersebut tidak membuat rumahnya menjadi suci, tidak juga membuat anak dan keluarganya saleh. Masjid tetaplah suci, namun apakah keluarganya menjadi saleh, tetap menjadi misteri yang tidak terpecahkan sepanjang abad.

Duapuluh. Shalat di rumah: adalah tombol pertama untuk menimbulkan kesalehan tingkat keluarga, tingkat atomik, yang tidak dapat dihindari, merupakan cikal-bakal kesalehan umat secara keseluruhan.

Mudah sekali untuk direnungkan, ketika seorang ayah shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya, maka seluruh keluarga akan mengikuti seremoni tersebut dengan penuh hikmat dan khusyuk, dan itu berarti seluruh keluarga terhindar dari fitnah kota, khususnya di malam hari, dengan cara bermunajat kepada Illahi dan berbuat tindakan yang benar untuk kesejahteraan hati dan jiwa: mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Ketika sang ayah shalat dan menjadi Imam atas keluarganya, maka dekat sekali sang ayah kala itu kepada anak-anaknya untuk dapat memperhatikan rona-wajah anak-anak, memperhatikan kesehatannya, mencermati penerimaan sang anak atas pelajaran sekolah, kemajuannya di dalam menghafal surah dan Alhadis, dsb. Dekat sekali, intim sekali ……….

Kesalehan tingkat atomik dengan demikian telah terwujud, maka hal berikutnya akan terwujudlah kesalehan tingkat yang lebih luas, yaitu kesalehan yang menggelora pada tingkat Kerajaan Allah Swt di muka bumi ini. Adalah mustahil mendapatkan kesalehan pada tingkat sosial yang lebih luas, sementara kesalehan tingkat atomik yaitu tingkat keluarga hancur-lebur, ditolak dan dikesampingkan. Kalau kesalehan tingkat atomik telah tercapai, maka otomatis kesalehan tingkat sosial yang lebih luas, tercipta.

Penutup.

Tidak ada kebajikan di dalam tradisi shalat di Masjid untuk para ayah / paman, karena sebaliknya, Muhammad Saw hanya mengajarkan umatnya untuk shalat di rumah supaya para ayah menjadi Imam shalat berjamaah atas anak dan keluarganya, sesuai dengan titahnya, bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, dan kelak kepemimpinannya harus ia pertanggungjawabkan kepada Allah Swt di Hari Penghakiman kelak.

Selebihnya, shalat berjamaah di rumah mempunyai begitu banyak rahasia keagungan dan kesalehan yang akan tertebar merata atas keseluruhan orang yang beriman, dan kesalehan tersebut kelak akan menjadi gelombang yang akan menghempaskan fitnah dunia tanpa kenal garis perbatasan Negeri dan Pemerintahan.

Selama ini umat mentradisikan shalat di Masjid, dan hasilnya terlihat jelas, di mana anak-anak manusia menjadi terkatung-katung di sepanjang jalan kampung berhamburan di tengah huru-hara dunia, dan setiap anak manusia menjadi tidak dapat dihadirkan di dalam seremoni kesalehan keluarga, yang merupakan cikal-bakal kesalehan umat keseluruhan. Ketika seorang ayah shalat di Masjid, maka anak-anak memeriahkan kekacauan duniawi di Pusat keramaian khususnya di malam hari, dan ketika mereka pulang ke rumah, mereka membawa kehancuran yang mereka dapat dari Pusat keramaian tersebut ke rumah masing-masing.

Tidak dapat dihindari untuk diungkapkan, bahwa tradisi shalat di Masjid memberi kontribusi signifikan atas meriahnya kekacauan duniawi di Pusat keramaian, tempat di mana anak-anak manusia terhambur-hambur di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, makan permen karet, tawuran, godain cewek, main raket, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Artinya, kalau kekacauan dan kesia-siaan duniawi tersebut ingin ditumpas habis, maka satu-satunya jalan adalah mentradisikan shalat di rumah di mana sang ayah mengimamkan shalat berjamaah atas anak dan keluarganya. Dan kalau kekacauan bin kesia-siaan duniawi harus tumbuh subur, maka satu-satunya cara untuk mewujudkannya adalah dengan membiarkan para ayah shalat di Masjid sehingga meninggalkan anak dan keluarganya di rumah untuk kemudian berserakan di pelataran dunia di dalam kesia-siaan fitnah kota.

Inilah maksud Nabawi, inilah maksud Illahiah, dengan shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Inilah makna doa yang tertera di dalam Alquran mengenai keluarga Muslim yang penuh dengan agenda shalat berjamaah di mana sang ayah merupakan Imam shalat berjamaah,

QS Furqaan 74: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Ayat ini, tidak dapat tidak, merupakan titah Allah Swt sebagai dasar untuk mewujudkan tradisi shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga. Kata ‘kami’ pada ayat tersebut pastilah posisi seorang ayah, karena dinisbatkan dengan phrase berikutnya ‘anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami’, yang mana itu berarti seorang ayah bermunajat kepada Allah Swt semoga istri dan anak-anaknya menjadi kesenangan hatinya: itulah kesalehan. Sudah dijelaskan melalui paparan ini, bahwa kesalehan hanya terjadi dan tercipta jika sang ayah berteguh untuk shalat di rumah dan menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Phrase berikutnya semakin menegaskan bahwa seorang ayah hendaklah bercita-cita supaya menjadi Imam atas anak dan keluarganya yang penuh taqwa, yaitu phrase “jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Bagaimana mungkin seorang ayah memperoleh keluarganya sebagai kesenangan hatinya, kalau keluarganya tidaklah saleh. Kemudian, kesalehan itu sendiri hanya dapat tercapai dengan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh sang ayah sendiri. Dan kemudian, bagaimana seorang ayah dapat menjadi pemimpin (Imam) atas keluarganya yang saleh dan bertaqwa, kalau keluarganya tidak bertaqwa dan saleh lantaran tidak pernah diimamkan shalat berjamaah di rumah?

Apakah mungkin ayat ini mengandung makna, bahwa seorang ayah ingin agar keluarganya menjadi keluarga yang bertaqwa, sementara ia sendiri tidak mengusahakan hal tersebut (dengan cara menjadi Imam shalat atas mereka di rumah)? Dan apakah mungkin, seorang ayah ingin menjadi pemimpin atas orang-orang yang bertaqwa, sementara orang-orang bertaqwa tersebut bukan keluarganya, melainkan orang lain?

Tepat sekali cara Allah Swt menyusun kata-kataNya di dalam ayat Al-furqan 74 ini untuk mewartakan betapa strategisnya shalat berjamaah di rumah dengan diimamkan oleh seorang ayah di dalam keluarga tersebut.

Shalat berjamaah di Masjid merupakan lawan dari shalat berjamaah di rumah, dan akibat dari kedua frame tersebut juga saling berlawanan, untuk menghemat kata.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.

One comment

  1. Jangan mengajak umat muslim untuk menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam…

    Lantas bagaimana anda menanggapi sabda Rasulullah (Hadits) yg derajatnya Hasan Shahih ini…

    Alamandang,
    Menselisihi rasul saw -yg mana???? bisa lebih jelas??

    menanggapi sabda yg hasan sahih yg mana???? bisa tunjukkan ke sini???

    terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s