Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim

tarbiyah-anak-shalatMuhammad Saw telah menitahkan melalui beberapa Alhadis yang termahsyur, bahwa shalat di Masjid Al-haram mengandung pahala sebanyak 100.000, shalat di Masjid Nabawi mengandung pahala sebanyak 10.000, dan shalat di Masjid Al-aqsa mengandung pahala sebanyak 1000. Ini artinya shalat di Masjid selain ketiga Masjid tersebut tidak mengandung keistimewaan seperti halnya shalat di ketiga Masjid suci ini.

Hal ini diperkuat oleh satu Alhadis yang juga termahsyur yaitu, “Aku mengutamakan perjalanan ke tiga Masjid ini, yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-aqsa”. Alhadis ini menyiratkan makna, bahwa melangkahkan kaki ke Masjid selain ketiga Masjid suci tersebut bukanlah suatu keutamaan. Oleh karena itu patut dipertimbangkan akan nilai keutamaan untuk shalat di rumah. Penting sekali untuk juga diingat berkenaan dengan kedua Alhadis ini, bahwa Muhammad Saw telah bertitah, “terangilah rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran”. Makna dari Alhadis ini adalah, bahwa penting sekali bagi setiap umat untuk menunaikan shalat di rumah, apalagi bersama keluarga secara berjamaah, sebisa mungkin.

Jangan berpantang untuk shalat di rumah, untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga, itulah makna terpenting dari ketiga Alhadis di atas. Bahkan banyak Alhadis yang menyiratkan, bahwa Muhammad Saw dan para sahabat pun tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah.

Muhammad Saw telah bertitah melalui beberapa Alhadis-nya, bahwa sebaiknya setiap umat berteguh untuk shalat di rumah (khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh), karena justru umat akan dihadiahi hikmat yang begitu Agung melalui ritus shalat berjamaah di rumah. Dan yang terpenting adalah, adanya hikmah tarbiyah keluarga Muslim melalui agenda shalat Maghrib dan Isya dan Shubuh berjamaah di rumah.

Waktu shalat Maghrib dan Isya jika ditunaikan secara berjamaah di rumah di mana sang ayah atau datuk bertindak sebagai Imam shalat, merupakan moment pendidikan Iman dan spiritual anak dan keluarga. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah, khususnya shalat Maghrib dan Isya dan juga Shubuh, tidak boleh ada yang absen. Dan agenda keluarga ini mempunyai arti bahwa telah terjadi pemupukan dan penguatan ruh keagamaan dan kesalehan secara fundamental terhadap jiwa dan mentalitas anak-anak.

Kebalikannya, kalau tidak dibudayakan shalat Maghrib dan Isya (juga Shubuh) di rumah, maka pendidikan iman dan spiritual keluarga (khususnya anak-anak) terkendala, sehingga nasib kesalehan anak-anak dan keluarga tidak ada yang memperhatikan, terkatung-katung tidak menentu. Mereka anak-anak dan keluarga jadi tidak pernah menikmati suasana keagamaan di rumah, karena tidak pernah dilibatkan di dalam kesalehan beribadah.

Shalat Maghrib dan Isya (juga shalat Shubuh) secara berjamaah di rumah, yang menjadi Imam adalah semua anggota keluarga (secara bergantian) sehingga setiap anak tercambuk untuk hafal surah-surah Alquran, dengan demikian ada kaderisasi dan regenerasi Imam. Point ini menjadi kontribusi tersendiri bagi lahirnya generasi yang hafal surah Alquran secara maksimal, karena dengan terus shalat berjamaah di rumah maka anak-anak yang saat itu menjadi makmum akan tertantang dan terinspirasi untuk menjadi Imam kelak saat mereka sudah besar. Itu artinya mereka sejak dini harus hafal surah-surah Alquran, dan ini artinya merupakan landasan untuk membumikan kecenderungan hafal surah-surah Alquran.

Sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam. Sebenarnya tidaklah demikian. Shalat sebenarnya bukanlah perintah, melainkan PEMBIASAAN. Kalau seorang anak sejak kecil sudah dibiasakan shalat berjamaah secara terus menerus, maka sampai kapan pun sang anak akan tetap shalat meski dilempar ke Negeri yang jauh sekali pun.

Dan pembiasaan shalat ini hanya dapat dipastikan melalui tradisi shalat berjamaah di rumah, khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh. Membangun kebiasaan dan pembiasaan shalat yang berujung pada shalat-minded tidak bisa diupayakan hanya di dalam waktu satu minggu atau satu tahun, atau melalui ceramah sedahsyat apapun, melainkan butuh waktu bertahun-tahun di dalam frame shalat berjamaah di rumah, mulai dari sang anak berusia belia hingga remaja dengan cara terus dilibatkan di dalam shalat berjamaah di dalam rentang waktu sekian lama.

Singkat kata, suatu frame shalat berjamaah khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh di rumah, akan memastikan bahwa kelak sang anak akan menjadi bagian di dalam Generasi Shalat Minded. Kalau dibalik: cara melahirkan Generasi Shalat Minded, atau cara supaya sang anak kelak akan tetap kukuh menunaikan shalat, hanyalah dengan melalui frame shalat di rumah.

Situasi / frame di mana Maghrib, Isya dan Shubuh tidak dijadikan moment untuk shalat berjamaah di rumah, maka pada saat tersebut, sang anak dan seluruh keluarga sedang asyik menyia-nyiakan waktu shalat dengan kesenangan duniawi. Waktu yang berharga untuk membangun pembiasaan shalat bagi anak-anak akhirnya terbuang dan tergusur kalau jadwal Maghrib dan Isya tidak dijadikan agenda shalat berjamaah di rumah, sementara di pihak lain anak-anak pun akibatnya jadi asyik sibuk berhamburan di sepanjang jalan pada jam-jam shalat. Dengan keadaan seperti ini, tidak pernah terjadi pembiasaan shalat atas anak-anak dan keluarga, karena justru mereka dibiasakan berhamburan di jalan-jalan kampung untuk menikmati kesenangan duniawi di dalam kesia-siaan. Kalau sejak kecil tidak diadakan pembiasaan shalat, maka bagaimana kelak mereka akan terbiasa untuk shalat?

Outputnya jelas: di kemudian hari sang anak akan menjadi generasi yang berpantang shalat, mereka bukan bagian dari Generasi Shalat Minded. Mereka bukanlah umat Allah Swt.

Kecil sekali kemungkinannya seorang anak di kala dewasa akan tetap teguh menunaikan shalat di mana pun ia berada – kalau semasa kecilnya ia tidak menerima pembiasaan shalat dari keluarganya; dan pembiasaan shalat yang paling mungkin dan alami di sini adalah pembiasaan shalat melalui frame shalat berjamaah di rumah secara rutin. Oleh karena itu, tidak menunaikan shalat berjamaah di rumah untuk shalat Maghrib dan Isya akan berparalel dengan jauhnya generasi muda (yaitu anak-anak mereka) dari shalat minded. Itu merupakan kerugian terbesar yang akan diderita seorang ayah (atau paman / datuk) di kemudian hari.

Alangkah patut untuk diperhatikan, bahwa shalat Maghrib dan Isya yang ditunaikan secara berjamaah di rumah akan menciptakan rumus: “bapak saleh, anak pun jadi saleh”. Hal ini disebabkan karena shalat berjamah di rumah secara terus-menerus, akan mengakibatkan anak-anak dan keluarganya ikut menjadi saleh.

Kesalehan yang bersemi pada anak-anak dan keluarga dapat terwujud karena selalu shalat berjamaah di rumah tersebut, terjadi karena tiga hal:

  1. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah. Dengan shalat di rumah, ayah (atau paman / datuk) akan memastikan bahwa anak-anak dan keluarganya harus ikut shalat, harus berada di belakangnya sebagai makmum untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah, tidak boleh ada yang absent apapun alasannya, yang tujuannya adalah untuk beraktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.
  2. Dengan anak-anak dan keluarga terus shalat berjamaah di rumah, maka alokasi waktu yang biasa dilewatkan anak-anak untuk berhamburan dan berceceran di luar rumah di sepanjang jalan kampung TERGANTIKAN dengan duduk khusyuk di belakang Imam. Ini artinya telah menTIADAkan waktu untuk dihabiskan anak-anak dan keluarga di dalam kesia-siaan duniawi yaitu berkeliaran di luar rumah sepanjang jalan kampung di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, nonton konser murahan, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Kebalikannya, waktu yang dimiliki anak-anak dan keluarga akan digunakan untuk shalat berjamaah di rumah masing-masing.
  3. Dengan shalat berjamaah di rumah khususnya untuk jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh, maka itu berarti terbangun suatu kondisi untuk memperhatikan dan melakukan kontrol perkembangan rohani, jiwa, penerimaan dan intelektualitas sang anak dan keluarganya terhadap bibit iman dan taqwa, dan memang itulah tujuan utama dari mengapa jadwal Maghrib amat singkat menjelang jadwal Isya. Dengan shalat berjamaah di rumah, setiap anak jadi merasa bahwa mereka diperhatikan oleh keluarga mereka secara lebih intim dan terus-menerus.

Di siang hari sang anak dan keluarga telah bermain dengan kawan-kawan mereka di sekolah, taman kampung, pasar, di kampus, dan tanah lapang. Cukuplah hal itu merupakan waktu mereka untuk bersosialisasi dan bermain di luar rumah di kala siang. Dan ketika senja dan malam menjelang, bermain di luar rumah sudah berakhir, dan itulah saatnya mereka membangun karakter keagamaan dan rohani melalui shalat berjamaah di rumah.

Pembangunan kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga: pembangunan rohani dan kesalehan akan mengguyur semua individu di dalam keluarga dan perkampungan Muslim tanpa kecuali, karena teknisnya adalah di dalam setiap rumah akan diselenggarakan shalat berjamaah khususnya Maghrib dan Isya, ini berarti shalat berjamaah tersebut akan melibatkan seluruh unsur yang ada di dalam perkampungan Muslim. Tidak akan ada satu anak pun, satu individu pun, yang lolos dan luput dari aktivitas pembangunan rohani ini, karena setiap mereka adalah anggota keluarga yang, akan dipanggil untuk ikut shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absen satu pun, untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Teramat besar kemungkinannya bahwa setiap anak yang terus shalat berjamaah di rumahnya akan menjadi saleh di kemudian hari seperti salehnya sang ayah (atau paman / datuk), karena shalat berjamaah yang terus diselenggarakan di dalam keluarga mempunyai kekuatan dan wewenang kuat untuk menyentuh dan menundukkan jiwa dan spiritualitas setiap anak sejak kecil.

Bagaimana mungkin anak-anak di dalam suatu keluarga dapat menjadi saleh di saat dewasa, sementara anak-anak tersebut dibiarkan terus berkeliaran di luar rumah di sepanjang jalan kampung tidak memperdulikan masuknya waktu shalat khususnya Maghrib, Isya dan Shubuh? Mereka terus asyik bermain dengan kawan-kawannya malah pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, shopping, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dan itu bukanlah ciri-ciri umat Muslim, melainkan ciri-ciri umat di dalam kekafiran dan kerugian. Dan hal tersebut terjadi karena kg tersebut tidak menjadikan moment Maghrib dan Isya sebagai moment tarbiyah keluarga, yang mana itu berarti keluarga tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan pertumbuhan rohani sang anak, tidak memperdulikan siklus shalat sang anak dan keluarga. Dengan tidak menyelenggarakan shalat berjamaah di rumah, berarti mereka tidak memanfaatkan kesempatan dan peluang untuk menjadikan anak-anak mereka sebagai manusia saleh saat dewasa kelak.

Tarbiyah berbasis keluarga.

Jika setiap keluarga menyelenggarakan shalat berjamaah di rumah, maka kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga. Ini artinya pembangunan rohani dan kesalehan seutuhnya merupakan wewenang dan inisiatif setiap keluarga, dan memang demikianlah seharusnya. Dan di sini, posisi Ayah, biar bagaimana pun adalah manusia yang paling bertanggungjawab atas perkembangan rohani dan kesalehan seluruh keluarganya, tidak bisa tidak. Itulah sebabnya Muhammad Saw menitahkan bahwa seluruh laki-laki wabil khususnya ayah (paman / datuk) harus senantiasa shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya (selama mereka berdomisili jauh dari lokasi Masjid Al-haram, Nabawi dan Masjid Aqsa).

Islam tidak menghendaki pembangunan rohani dan kehidupan beragama mengambil basis di Masjid (atau rumah ibadah), karena hal tersebut tak ubahnya seperti kaum kafir atau jahiliyah. Di Dunia ini kita melihat pembangunan rohani umat Katholik berbasis di Gereja, di mana tugas dan wewenang untuk memimpin peribadatan seluruh jemaat berada di tangan pendeta Gereja. Sungguh setiap keluarga di dalam lingkungan umat nonmuslim tidak mempunyai wewenang mau pun tanggungjawab untuk membina kebangunan rohani dan kehidupan beragama khususnya keluarganya sendiri. Jangankan membangun / membina rohani dan kehidupan beragama anak dan keluarganya, bahkan pemantapan iman dan rohani diri setiap ayah pun juga hanya boleh dikelola oleh staf pendeta di rumah ibadat. Dengan kata lain, setiap anggota keluarga tidak mempunyai hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan di dalam bermunajat kepada Tuhan, karena hak dan wewenang tersebut merupakan hak eksklusif para staf pendeta di rumah ibadat.

Islam tidaklah demikian, Islam mengajarkan bahwa hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan merupakan tugas dan tanggungjawab setiap keluarga, karena memang demikianlah logikanya: ayah yang melahirkan dan memberi makan anak dan keluarganya, maka ayah (paman / datuk) jugalah yang paling bertanggungjawab di dalam pembinaan rohani dan iman anak dan keluarganya, tidak bisa ditawar lagi dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Bagaimana mungkin Islam mengadopsi sistem di luar Islam di mana pembinaan rohani dan iman seluruh keluarga diserahkan kepada staf rumah ibadat (yaitu Imam Masjid, sebagaimana halnya staf pendeta di Gereja), sementara staf rumah ibadat tersebut tidak mempunyai hubungan darah dan kasihsayang atas mereka (anak dan seluruh keluarga)?

Penting untuk diketahui, bahwa pada umat nonmuslim yang bersistem pembangunan rohani berporos rumah ibadat, telah menjadikan setiap ayah, paman, datuk, anak dan seluruh keluarga tidak mempunyai derajat kesalehan di dalam beragama. Karena lebih tepatnya lagi, derajat kesalehan hanya dimiliki staf rumah ibadat yang jumlahnya hanya segelintir di tengah mereka. Ini menyedihkan. Maka kemudian apakah umat Muslim di seluruh Dunia juga mempunyai takdir yang harus sedemikian sama, dengan cara bahwa hak dan wewenang untuk menyelenggarakan ritus ibadah terletak pada staf rumah ibadat, dalam hal ini Imam Masjid? Ingatlah bahwa Muhammad Saw pun melarang umatnya ber-tasyabuh, yaitu mempersama-kan diri dengan kaum kafir di dalam cara dan berfikir, dan bertasyabuh merupakan dosa di sisi Allah Swt.

Dampaknya jelas: umat nonmuslim yang mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani keluarga merupakan wewenang rumah ibadat – melahirkan kesenjangan dan kemiskinan rohani di tengah umat secara akar-rumput, belum lagi ditambah sekuleritas yang menggejala pada masyarakat mereka, masyarakat nonmuslim. Hal seperti ini harus dijauhkan umat Muslim universal, caranya adalah dengan mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani merupakan hak dan wewenang penuh keluarga masing-masing.

Pembumian hafal Alquran.

Karena shalat berjamaah terus ditunaikan di setiap rumah keluarga Muslim (khususnya jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh) maka sejak kecil mereka sudah dipersiapkan untuk hafal Alquran. Ini merupakan siklus kebaikan yang akan terwujud di dalam keluarga Muslim kalau mentradisikan shalat berjamaah.

Dengan kata lain, tradisi shalat di rumah akan memunculkan tongkat estafet untuk generasi mendatang, yaitu mengakibatkan anak-anak yang menjadi makmum kala itu akan terpacu juga untuk hafal surah Alquran karena kelak mereka akan menjadi Imam juga atas anak-anak mereka di kemudian hari. Tongkat estafet keimaman dan tahfiz Alquran merupakan kata kunci di sini.

Karena tugas menjadi Imam merupakan tugas seluruh lelaki (karena kelak mereka akan menjadi suami / ayah / paman / datuk) maka tugas keimaman menjadi rata di tengah umat, dan akibatnya semua orang (harus) hafal surah Alquran: inilah moment kemunculan tahfiz publik, yaitu tahfiz yang membumi sampai ke akar-rumput.

Tarbiyah kesalehan di dalam pengawasan yang kokoh.

Kasih-sayang dan pengawasan keluarga atas anak-anak menjadi efektif dan sistematis – jika shalat berjamaah terus ditunaikan di rumah khususnya untuk jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh, baik pengawasan itu di dalam hal siklus shalat pada khususnya, mau pun di dalam hal mental spiritual pada umumnya. Dengan shalat berjamaah di rumah, maka sayang dan kepedulian sebuah keluarga terhadap anak-anak adalah nyata senyata matahari. Pada dasarnya, shalat Maghrib dan Isya di rumah merupakan wujud dan bukti bahwa sebuah keluarga sayang kepada anak-anaknya sendiri.

Setiap anak dan seluruh keluarga akan tetap di dalam siklus shalatnya selama ada yang mengawasi, shalat berjamaah di rumah, khususnya untuk jadwal Maghrib dan Isya. Dan seseorang yang paling efektif pengawasannya terhadap siklus shalat anak-anak pastilah keluarga sendiri. Pengawasan yang dilakukan orang lain atas diri seorang anak terhadap siklus shalatnya, tidak akan mempan, tidak akan mengena, tidak akan efektif, tidak akan bertaji, karena orang lain tersebut bukanlah siapa-siapa bagi sang anak; dan sang anak sendiri akan menganggap dan melihat orang lain tersebut sebagai orang yang tidak berhak untuk mengawasi dan mengontrol siklus shalatnya. Terlebih, sang anak bukannya akan patuh pada pengawasan orang tersebut untuk shalat, malah akan berbalik untuk bergumam, ‘keluarga saya tidak menyuruh dan tidak mengawasi saya shalat, lantas mengapa orang ini menyuruh saya shalat?’.

Pendek kata, hanya keluarga-lah yang berada pada posisi untuk mengawasi siklus shalat anak dan keluarganya. Dan hal tersebut hanya dapat diimplementasikan jika seorang keluarga tersebut shalat berjamaah di rumah.

Sayang kepada anak dan keluarganya bukan hanya di dalam bentuk memberi rumah, memberi makan yang banyak, memberi mainan yang handal, melainkan juga terjadi di dalam bentuk ‘mempersembahkan’ mereka ke hadhirat Allah Swt di dalam seremoni shalat berjamaah di rumah. Biarlah Allah Swt dan para MalaikatNya melihat bahwa sebuah keluarga sedang membawa seluruh anak ke hadlirat-Nya di dalam suatu shalat berjamaah, dan itulah yang indah dan yang sepatutnya, karena memang itulah tugas keluarga.

Ketika sebuah keluarga shalat berjamaah di rumah, maka pada saat itu keluarga tersebut sedang memasukkan keluarganya ke dalam Surga dan menyelamatkan mereka dari jilatan api Neraka sebagai bukti sayang dan pemeliharaan keluarga yang kuat dan fundamental.

Alangkah patutnya untuk direnungkan, setiap keluarga akan dapat memastikan bahwa anggota keluarganya tetap menunaikan shalat karena shalat tersebut ditunaikan di rumah khususnya Maghrib dan Isya. Sudah sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam, dan perintah shalat ini adalah rata untuk seluruh umat tanpa kecuali. Masalah akan timbul kalau ada satu individu tidak menunaikan shalatnya, dan terlebih kalau individu tersebut merupakan anggota keluarga yang, seharusnya tetap memelihara siklus shalatnya. Hal ini seharusnya merupakan kepedulian dan concern setiap keluarga atas seluruh anak dan anggota-nya. Adalah sulit untuk dicerna bahwa ada seorang ayah begitu memelihara siklus shalatnya sementara anak dan keluarganya tidaklah demikian. Kalau anak dan keluarga tidak serius di dalam siklus shalatnya maka dapat dipastikan itu semua berawal dari tidak adanya shalat berjamaah di rumah. Dan kalau hal ini benar-benar terjadi, seluruh ulama sepakat bahwa kesalahan justru berada pada diri kepala keluarga, tidak bisa tidak.

Pada saat seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya, maka sebenarnya pada saat tersebut sang ayah telah dapat memastikan bahwa anak dan keluarganya sudah paripurna menunaikan shalat: “dia yakin karena dia melihat”, karena dia sendiri yang mengimamkan mereka. ‘Kepastian’ merupakan kata kunci di sini, dan tidak ada yang dapat memastikan mereka (anak dan keluarga) menunaikan shalat kecuali adanya perintah, perhatian dan keimaman sang ayah (paman / datuk). Itulah satu-satunya jalan bagi seorang kepala keluarga untuk memastikan bahwa seluruh anggotanya tetap di dalam siklus shalat. Ingatlah bahwa kebanyakan dari anggota keluarga adalah anak-anak manusia yang masih di dalam usia pertumbuhan, yang mana itu berarti bahwa mereka belum mengerti kedisiplinan dan ketaatan. Anak-anak biasanya hanya melewatkan hari-hari dengan bermain dan naluri untuk tidak taat.

Tidak mungkin ada seorang anak kecil yang taat memelihara siklus shalatnya. Sebaliknya, setiap anak hanya memikirkan main bersama kawan-kawannya. Dan kemudian, tidak mungkin ada seorang anak kecil yang ketika ditanya ayahnya apakah sudah shalat, kemudian sang anak akan menjawab “sudah” dengan penuh kebenaran, tanggungjawab, dan bermartabat. Sulit mengharapkan kesalehan tumbuh dan bersemi pada diri seorang anak yang sedang senang-senangnya bermain.

Namun di luar itu semua, tentunya keluarga mempunyai perhatian yang lebih besar atas mereka. Wujudnya hanya satu: memanggil mereka untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah di rumah, hari demi hari, minggu demi minggu, dan tahun demi tahun, hingga anak-anak tersebut tumbuh menjadi dewasa, yaitu usianya untuk taat dan sadar akan kewajiban dan kesalehan. Dengan terus memanggil mereka untuk berpartisipasi shalat berjamaah di rumah, maka tidak perlu keluarga bertanya kepadanya apakah sudah shalat, karena keluarganya sendirilah yang mengimamkannya. Dengan dipanggil shalat berjamaah, maka berhentilah main-mainnya untuk sementara, untuk shalat tersebut. Dan ikut shalat berjamaah tidak akan mencederai haknya untuk bermain.

Dengan diselenggarakannya shalat berjamaah di rumah khususnya pada jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh, maka:

  1. Tarbiyah keluarga berlangsung secara konstan dan intim.
  2. Tarbiyah terhadap keluarga terjadi secara alami, membumi, dan gratis karena tarbiyah merupakan tanggungjawab keluarga.
  3. Keluarga secara otomatis dan alami harus menjadi pengajar dan pembimbing atas anak-anaknya / ponakannya / sepupunya / cucunya / adik-adiknya, dll, itu semua atas dasar tanggungjawab keluarga tersebut.

Tarbiyah Maghrib dan Isya melumpuhkan malapetaka dunia.

Dengan menyelenggarakan shalat berjamaah di rumah maka tidak mungkin terjadi malapetaka umat, karena dengan shalat berjamaah di rumah, maka jelaslah seluruh keluarga sedang berada di rumah sedang menunaikan shalat bersujud kepada Illahi, sehingga menjadi sepi-lah seluruh hiruk-pikuk keduniawian: jalan-jalan menjadi sepi, lapangan menjadi sepi, mal-mal menjadi sepi, perempatan menjadi sepi, Pusat jajan menjadi sepi, karena anak-anak dan wargakota yang biasa meramaikan tempat-tempat keduniawian tersebut saat itu justru sedang menjadi makmum shalat berjamaah yang diimami oleh ayah-ayah / datuk-datuk mereka di rumah masing-masing.

Jelas sekali, ketika terjadi shalat berjamaah bersama keluarga di rumah (khususnya untuk shalat Maghrib dan Isya), maka keluarga tersebut tengah dan telah mengubah dunia (dari suatu tempat yang penuh malapetaka) menjadi tempat yang penuh ibadat dan taqwa kepada Illahi, karena anak-anak dan warga kota yang biasa meramaikan pelataran dunia tersebut, sedang shalat sebagai makmum di belakang sang ayah / paman. Inilah keagungan dan kekuatan shalat berjamaah di rumah bersama keluarga, khususnya untuk shalat Maghrib dan Isya. Inilah marwah umat Muslim seluruh Dunia!

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa shalat berjamaah di rumah bersama keluarga merupakan:

  1. satu-satunya kekuatan yang paling misterius dan paling berwibawa yang dapat merontokkan dan mengkudeta huru-hara duniawi khususnya pada malam hari; shalat berjamaah di rumah telah menggulingkan malapetaka dunia.
  2. dan menggantinya dengan suasana ibadat yang hikmat dan kudus,
  3. bentuk kasih-sayang orang-tua dan keluarga Muslim kepada anak-anaknya.
  4. terakhir, mengklaim anak-anak dunia sebagai anak-anak yang penuh ibadat dan kesalehan.

Terbebaslah umat dan seluruh anak dari malapetaka duniawi dikarenakan shalat berjamaah di rumah bersama keluarga yang diimamkan oleh setiap ayah, itulah titah Nabawi.

Jarak waktu antara Maghrib dan Isya sangat singkat, tidak sampai dua jam. Sengaja Allah Swt menyingkatkan waktu Maghrib supaya dengan demikian dekat jaraknya dengan Isya yaitu hanya berkisar tidak sampai dua jam.

Hikmahnya adalah bahwa supaya waktu tersebut digunakan umat Muslim untuk moment tarbiyah di mana sebuah keluarga menjadi pembimbing rohani bagi seluruh anak-anaknya. Cukup dua jam setiap hari (antara Maghrib menuju Isya) merupakan masa tarbiyah yang sangat ampuh bagi anak-anak yang sedang di dalam masa pertumbuhan rohani. Di awal Maghrib sang ayah memanggil anggota keluarga dan seluruh anaknya untuk shalat berjamaah (di rumah). Kemudian sang ayah tidak akan mengijinkan anak-anaknya untuk beranjak kembali kepada aktivitasnya seusai shalat Maghrib berjamaah, melainkan sang Imam (ayah atau datuk atau paman) menyuruh anak-anaknya untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, melantunkan doa, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Dan tidak terasa adzan Isya telah berkumandang, maka berakhirlah sesi tarbiyah untuk anak-anaknya pada malam hari itu. Shalat Isya berjamaah segera didirikan, dan anak-anak sudah mendapatkan pengajaran dan pertumbuhan rohani di dalam rumahnya sendiri.

Setelah usai shalat Isya berjamaah, keluarga tersebut langsung ke meja untuk santap malam, mereka makan, dan akhirnya mereka siap untuk beristirahat sampai fajar menjelang.

Shalat Shubuh juga demikian. Sang ayah / datuk / paman akan membangunkan anak-anak dan anggota lainnya untuk shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absent, semua dibangunkan dari tidurnya. Setiap hari berlangsung demikian, maka kukuhlah anak-anak di dalam disiplin dan keteguhan shalat.

Demikian agenda anak-anak dan keluarga Muslim setiap hari sehingga tumbuhlah anak-anak itu di dalam persemaian rohani yang kukuh dari keluarganya sendiri. Itu semua karena shalat berjamaah di rumah.

Tarbiyah keluarga adalah level atomik terhadap kesalehan umat.

Shalat berjamaah di rumah adalah tombol pertama untuk menimbulkan kesalehan tingkat keluarga, tingkat atomik, yang tidak dapat dihindari, merupakan cikal-bakal kesalehan umat secara keseluruhan.

Mudah sekali untuk direnungkan, ketika shalat berjamaah ditunaikan di rumah, maka seluruh keluarga akan mengikuti seremoni tersebut dengan penuh hikmat dan khusyuk, dan itu berarti seluruh keluarga terhindar dari fitnah kota, khususnya di malam hari, dengan cara bermunajat kepada Illahi dan berbuat tindakan yang benar untuk kesejahteraan hati dan jiwa: mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Ketika sang ayah shalat berjamaah di rumah, maka dekat sekali sang ayah kala itu kepada anak-anaknya untuk dapat memperhatikan rona-wajah anak-anak, memperhatikan kesehatannya, mencermati penerimaan sang anak atas pelajaran sekolah, kemajuannya di dalam menghafal surah dan Alhadis, dsb. Dekat sekali, intim sekali ……….

Kesalehan tingkat atomik dengan demikian telah terwujud, maka hal berikutnya akan terwujudlah kesalehan tingkat yang lebih luas, yaitu kesalehan yang menggelora pada tingkat Kerajaan Allah Swt di muka bumi ini. Adalah mustahil mendapatkan kesalehan pada tingkat sosial yang lebih luas, sementara kesalehan tingkat atomik yaitu tingkat keluarga hancur-lebur, ditolak dan dikesampingkan. Kalau kesalehan tingkat atomik telah tercapai, maka otomatis kesalehan tingkat sosial yang lebih luas, tercipta.

Karakteristik shalat Maghrib.

Pada dasarnya, setiap shalat fardu terdari empat rakaat. Namun dari kelima shalat fardu, hanya Isya, Zuhur dan Ashar yang mempunyai empat rakaat. Selebihnya, yaitu shalat Shubuh dan shalat Maghrib, tidak mempunyai empat rakaat sebagaimana yang seharusnya. Apakah tidak harus ada penjelasan mengapa kedua shalat fardu tersebut, yaitu shalat Shubuh dan shalat Maghrib, tidak mempunyai empat rakaat? Kemana perginya-kah rakaat lainnya itu, sehingga hanya menjadi tiga dan dua rakaat?

Sama kita ketahui bahwa shalat Zuhur mempunyai empat rakaat. Ketika di hari Jumat, shalat Zuhur berubah menjadi dua rakaat saja, sementara dua rakaat yang lainnya dikonversi menjadi khotbah Jumat. Oleh karena itu berkhotbah dan mendengar khotbah Jumat sebenarnya merupakan dua rakaat milik shalat Zuhur tersebut, dan setiap jemaah shalat Jumat haruslah turut dan tetap mendengar khotbah tersebut, karena khotbah tersebut merupakan bagian dari shalat Jumat. Kalau seorang jemaah tidak mendengar khotbah Jumat, maka gugurlah shalat Zuhur-nya di hari Jumat tersebut.

Sama kita ketahui bahwa shalat Dhuha, jamaknya, seharusnya, adalah empat rakaat dengan dua salam. Pada shalat Idul Fitri mau pun Idul Adha, shalat Dhuha tersebut hanya ditunaikan sebanyak dua rakaat, karena dua rakaat lainnya telah Allah Swt konversi menjadi khotbah Ied. Dengan kata lain, khotbah Ied merupakan bagian integral dari shalat Dhuha yang ditunaikan pada hari raya tersebut, baik Idul Fitri mau pun Idul Adha.

Allah Swt telah memberi penjelasan mengenai ingredient shalat Jumat (dua rakaat pertama di dalam bentuk shalat, dan dua rakaat lainnya di dalam bentuk khotbah) dan khotbah shalat Ied kepada umat, untuk dapat menerangkan mengapa shalat Maghrib dan shalat Shubuh tidak mempunyai empat rakaat, melainkan tiga dan dua rakaat.

Pada shalat Maghrib, satu rakaat-nya telah Allah Swt konversi menjadi moment tarbiyah keluarga, yaitu dikonversi menjadi aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb. Demikian juga dengan shalat Shubuh, dua rakaatnya telah Allah Swt konversi menjadi moment tarbiyah, di mana salah satunya adalah komitmen untuk bangkit dari tidur, kemudian disempurnakan dengan mengaji Alquran dan dzikir. Subhanallah!

Artinya, kalau shalat Maghrib yang tiga rakaat tidak disandingkan dengan tarbiyah keluarga, maka seutuhnya shalat Maghrib tersebut tidaklah paripurna di mata para MalaikatNya. Demikian juga dengan shalat Shubuh.

Demikianlah Allah Swt telah menerangkan kepada umat Muslim tentang hakikat rakaat shalat dengan menggunakan cara-cara para Malaikat ketika menerangkannya kepada Allah Swt.

Penutup.

Muhammad Saw hanya mengajarkan umatnya untuk shalat di rumah supaya para ayah menjadi Imam shalat berjamaah atas anak dan keluarganya, sesuai dengan titahnya, bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, dan kelak kepemimpinannya harus ia pertanggungjawabkan kepada Allah Swt di Hari Penghakiman kelak.

Selebihnya, shalat berjamaah di rumah mempunyai begitu banyak rahasia keagungan dan kesalehan yang akan tertebar merata atas keseluruhan orang yang beriman, dan kesalehan tersebut kelak akan menjadi gelombang yang akan menghempaskan fitnah dunia tanpa kenal garis perbatasan Negeri dan Pemerintahan.

Selama ini umat mentradisikan shalat di Masjid, dan hasilnya terlihat jelas, di mana anak-anak manusia menjadi terkatung-katung di sepanjang jalan kampung berhamburan di tengah huru-hara dunia, dan setiap anak manusia menjadi tidak dapat dihadirkan di dalam seremoni kesalehan keluarga, yang merupakan cikal-bakal kesalehan umat keseluruhan. Ketika seorang ayah shalat di Masjid, maka anak-anak memeriahkan kekacauan duniawi di Pusat keramaian, khususnya di malam hari, dan ketika mereka pulang ke rumah, mereka membawa kehancuran yang mereka dapat dari Pusat keramaian tersebut ke rumah masing-masing.

Tidak dapat dihindari untuk diungkapkan, bahwa tradisi shalat di Masjid memberi kontribusi signifikan atas meriahnya kekacauan duniawi di Pusat keramaian, tempat di mana anak-anak manusia terhambur-hambur di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, makan permen karet, tawuran, godain cewek, main raket, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Artinya, kalau kekacauan dan kesia-siaan duniawi tersebut ingin ditumpas habis, maka satu-satunya jalan adalah mentradisikan shalat di rumah berjamaah atas anak dan keluarganya.

Dan kalau kekacauan bin kesia-siaan duniawi harus tumbuh subur, maka satu-satunya cara mewujudkannya adalah dengan membiarkan para ayah shalat di Masjid sehingga meninggalkan anak dan keluarganya di rumah untuk kemudian berserakan di pelataran dunia di dalam kesia-siaan fitnah kota.

Inilah maksud Nabawi, inilah maksud Illahiah, dengan shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Inilah makna doa yang tertera di dalam Alquran mengenai keluarga Muslim yang penuh dengan agenda shalat berjamaah di rumah di mana sang ayah merupakan Imam shalat berjamaah,

QS Furqaan 74: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Shalat berjamaah di Masjid merupakan lawan dari shalat berjamaah di rumah, dan akibat dari kedua frame tersebut juga saling berlawanan, untuk menghemat kata.

Alangkah patut untuk direnungkan, bahwa tarbiyah keluarga adalah sarapan pagi bagi rohani anak-anak, sementara tarbiyah keluarga itu telah Allah Swt setting pada jadwal shalat Maghrib menuju Isya.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s