Syariah Islam Versus Jam Malam

heningMaha besar Allah Swt Yang telah memperedarkan malam dan siang, malam yang gelap gulita berhiaskan rembulan perak, dan bintang gemintang nan bertaburan; dan siang terang benderang yang berhias mentari yang kilau kemilau.

Tidaklah Allah Swt memperedarkan malam dan siang itu, dua hal yang saling bertolak belakang secara frontal, kecuali pada kedua hal tersebut Allah Swt telah mengiringi keduanya dengan hikmat untuk maslahat umatNya.

Mengapa Allah Swt menciptakan siang sebagai suatu hal yang terang benderang, yang dikawal matahari yang kilau cahayanya tidak dapat dikalahkan oleh pijar lilin mana pun? Dan mengapa pada siang hari itu, seluruh anak manusia berkeinginan untuk bekerja memperoleh rejeki, dan ingin membereskan seluruh pekerjaan mereka sebaik mungkin?

Kemudian, mengapa Allah Swt menciptakan malam gelap gulita, kalaupun ada cahaya maka hanya lamat-lamat yang dipancarkan rembulan perak, sementara gemintang tidak dapat menghempaskan bayang benda ke atas tanah? Dan mengapa, malam membuat manusia ingin berbaring di atas pembaringan? Mengapa ketika malam menjelang anak-anak manusia ingin tidur dan beristirahat, sehingga senyaplah pelataran kampung dan sepanjang jalan kota?

Islam sesuai fitrah.

Secara fitrah, manusia selalu mengasosiasikan siang sebagai tempat / saat untuk bekerja, dan juga untuk memperbaiki keadaan. Seluruh manusia mempunyai nurani, bahwa siang adalah saat untuk melelahkan badan untuk segala hal yang bermanfaat, untuk dirinya, masyarakatnya, negaranya, dan agamanya.

Dan akhirnya, fitrah jugalah, nurani jugalah, yang membuat manusia berfikir bahwa malam merupakan tempat dan saat beristirahat di rumah, berkumpul bersama anak, keluarga dan handai-taulan. Malam-lah saat mereka menikmati rejeki yang mereka peroleh pada siang harinya dengan bersusah payah.

Islam merupakan satu-satunya agama di dalam kehidupan ini yang sesuai fitrah manusia. Di dalam hal ini, fitrah manusia adalah menjadikan siang sebagai tempat untuk bekerja mencari nafkah dan membangun bangsa, kemudian menjadikan malam sebagai tempat untuk beristirahat dan menikmati rejeki yang mereka peroleh pada siang harinya.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Ar-rum, 30:30).

Tidak pernah Islam menghadirkan dirinya untuk menentang fitrah. Dan dari sini, Islam menyerukan umatnya untuk berteguh dengan fitrah. Jadi bukan saja Islam itu selalu bersesuaian dengan fitrah, Islam juga memerintahkan umatnya untuk hidup menurut fitrah, jangan pernah menentang dan melanggar fitrah tersebut.

Oleh karena itu, mengenai siang dan malam ini, manusia sudah sepatutnya konsisten dengan fitrah mereka: jadikanlah siang sebagai tempat untuk bekerja dan mencari nafkah, dan kemudian menjadikan malam sebagai tempat untuk beristirahat dan bercengkrama dengan keluarga di rumah.

Manusia mulai melanggar fitrah.

Terdapat kecenderungan dewasa ini, di mana ada segolongan manusia yang menjadikan malam sebagai kesempatan / peluang mereka untuk bekerja mencari uang dan penghasilan. Mereka banyak yang membuka usaha restoran, membuka usaha transportasi, membuka usaha pertunjukan hiburan, membuka toko dan pasar, menjalankan profesi sebagai tenaga pengaman, dsb.

Dengan adanya peluang memperoleh uang pada malam hari ini, yaitu dengan adanya restoran yang buka malam hari, atau bisnis transportasi pada malam hari, atau panggung hiburan, maka pada babak berikutnya mengakibatkan golongan masyarakat lainnya tersedot untuk keluar rumah pada malam hari untuk menikmati malam, menikmati restoran di malam hari, atau berjual-beli, atau menikmati panggung hiburan, yang keseluruhan itu juga ditunjang adanya bisnis transportasi.

Malam, yang seharusnya tempat anak manusia beristirahat, telah diselewengkan oleh segolongan manusia untuk mencari keuntungan finansial. Pada fenomena ini terdapat fakta bahwa pada akhirnya umat manusia sudah tidak lagi istiqomah (konsisten) dengan fitrah. Mereka tampak tergesa-gesa untuk menyimpangi fitrah, yaitu tergesa-gesa keluar rumah pada malam hari untuk memenuhi kerumunan manusia, kemudian melakukan transaksi finansial di tempat-tempat restoran atau hiburan malam. Tidak jarang mereka pulang ke rumah pada saat malam sudah larut sekali, dan sesampai di rumah mereka sudah mendapati tubuh mereka begitu lelah.

Pada awalnya, umat manusia taat akan fitrah, dan pada setiap saat mereka berkata, malam merupakan kuil yang disediakan Tuhan untuk beristirahat. Kala itu mereka teguh memegang pendirian tersebut. Namun, sejak ditemukan listrik, mobil, lampu, manusia mulai membenci fitrah tersebut, bahkan mulai melawan fitrah, dan melawan Hukum alam. Caranya adalah dengan keluar rumah pada malam hari, dan enggan menjadikan malam sebagai tempat untuk beristirahat di rumah. Hanya karena ditemukan listrik dan kendaraan yang hangat, mereka mulai membunuhi fitrah. Dan ini artinya, manusia tidak lagi berminat untuk tetap menjadi ‘seorang penguasa yang konsisten’ dengan kata-katanya sendiri. Hanya segitulah kekuatan manusia dengan kata-katanya sendiri, betapa manusia mahluk rapuh, hanya dengan sedikit hempasan kemajuan jaman berupa listrik dan kendaraan, manusia mulai mengingkari fitrah, dan limbung kepada kehancurannya sendiri.

Bagaimana mereka dapat memelihara kejiwaan mereka? Bagaimana mereka dapat memelihara kebugaran? Dan bagaimana mereka dapat memelihara kewarasan? Malam yang seharusnya tempat mereka mengumpulkan kesegaran dan kewarasan, telah mereka ubah menjadi tempat untuk berhura-hura di luar rumah.

Tanpa mereka sadari, mereka telah melanggar fitrah. Dan tanpa mereka sadari pula, mereka telah mencabik-cabik hak tubuh mereka, yaitu hak untuk beristirahat. Di dalam hal ini, Muhammad Saw telah bersabda,

“Tubuhmu juga mempunyai hak atas dirimu”.

Arti dari Alhadis ini adalah, bahwa tubuh mempunyai hak yang proporsional untuk istirahat di malam hari. Ketika tubuh bekerja di siang hari dengan seluruh kekuatan dan tenaga yang ada, maka pada malam harinya tubuh butuh istirahat, untuk dtempatkan pada suasana yang hening dan tenang. Tempat itu adalah rumah yang dikelilingi anak dan keluarganya. Namun kemudian ternyata manusia telah mengingkari hak tubuh, dengan cara membawa sang tubuh ke luar rumah, hanya untuk mereguk kenikmatan duniawi di malam hari.

Jam malam, amanat Islam.

Sungguh, Allah Swt melalui Alquran dan Alhadis RasulNya, telah menggariskan bahwa malam merupakan tempat untuk beristirahat, bukan tempat untuk bekerja mencari penghasilan. Di dalam kaitan ini, malam hanya dapat digunakan untuk tiga tujuan yang bernuansa penguatan jiwa dan raga, yaitu:

  1. Beristirahat di rumah;
  2. Atau beribadah mendekatkan diri kepada Allah Swt di rumah;
  3. Atau bercengkrama dengan keluarga di rumah;

Adalah suatu kesesatan untuk menggunakan malam di luar ketiga tujuan di atas, seperti keluar rumah untuk mengunjungi restoran, atau menikmati hiburan, atau berbelanja, atau bekerja mencari uang tambahan.

Singkat kata, Islam menerapkan sistem jam malam kepada umatnya, jam malam yang berarti bahwa sebaiknya umat pada malam hari tidak keluar rumah, melainkan tetap tinggal di dalam rumah, yang bertujuan untuk beristirahat, atau beribadah bersama keluarga untuk mempertahankan dan meningkatkan kesalehan, atau pun bercengkrama dengan keluarga. Pada malam hari itulah, sang ayah akan memperhatikan anak-anaknya, dan anak-anak pun akan terhindar dari pergaulan malam yang menyesatkan.

Malam untuk bekerja mencari rejeki?

Ada yang berpendirian, bahwa pada siang hari mereka bekerja mencari rejeki, namun malam juga mereka lewatkan untuk mencari rejeki (tambahan). Ingatlah, bahwa rejeki sudah ada yang mengatur, yaitu Allah Swt. Dan kalau dikatakan bahwa rejeki yang didapat pada siang hari tidak mencukupi, maka harus dipertanyakan kepada mereka, apakah uang pernah ada cukupnya? Seberapa banyak uang yang mereka peroleh, toh tidak akan pernah ada cukupnya. Hanya keserakahan-lah yang menggiring manusia keluar rumah pada malam hari untuk bekerja mencari rejeki.

Oleh karena itu, seseorang tidak mempunyai alasan untuk menjadikan malam sebagai saat untuk mencari uang. Sebenarnya-lah, rejeki yang mereka dapat pada siang hari sudah mencukupi mereka, namun keserakahan telah menuntut lain yang berlebihan. Dan itu hanya karena telah ditemukan listrik, lampu dan kendaraan.

Pada jaman yang penuh penyimpangan ini, banyak ditemui manusia yang sudah kehilangan kewarasan, dan juga sudah hilang fleksibilitas. Mulai ditemukan banyak penyakit yang menggejala di tengah masyarakat. Banyak orang yang berkata, bahwa jaman sekarang ini adalah jaman edan, alias jamannya orang sudah gila, gila massal, karena tidak lagi faham mana kaki mana kepala, mana anak dan mana tetangga. Benar sekali, jaman sekarang sudah dapat dikatakan sebagai jaman edan. Itu semua disebabkan pada malam hari mereka tidak beristirahat yang cukup. Yang mereka cari hanya uang, uang dan uang. Padahal Allah Swt telah berfirman bahwa malam hanya untuk beristirahat, bukan untuk bekerja mencari rejeki.

Tinjauan Alquran.

Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha (25:47).

Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (27:86)

Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (28:72).

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya (28:73).

Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (40:61).

Ayat-ayat di atas sudah bertitah, bahwa Allah Swt berkehendak bahwa umat Muslim tidak menjadikan malam kecuali sebagai saat untuk beristirahat, bukan untuk bekerja, karena saat untuk bekerja adalah siang hari.

Apakah ayat-ayat Alquran di atas mempunyai arti lain, yaitu bahwa umat manusia dapat menjadikan malam sebagai saat untuk bekerja dan berusaha mencari uang? Sudah jelas bahwa ayat-ayat Alquran tidak mempunyai arti lain, kecuali bahwa seluruh Muslim harus memperlakukan malam sebagai saat untuk beristirahat (dan juga untuk ibadah), dan ini berarti Allah Swt akan menjatuhkan dosa dan laknatNya kepada siapa saja yang menyalah-gunakan malam.

Kalaulah memang Allah Swt ridha umat bekerja di malam hari, umat menggunakan malam hari sebagai tempat untuk berusaha buat penghasilan, maka mengapa Allah Swt menurunkan ayat-ayat sedemikian seperti yang di atas? Sungguh ayat Alquran tidak dapat lagi diubah oleh siapa pun, dan itu artinya siapa pun juga tidak boleh mengubah makna dari ayat-ayat Alquran tersebut.

Ayat berikut ini,

Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, (78:11).

Pada ayat Alquran 78:11 ini, Allah Swt menitahkan, bahwa tempat dan saat untuk mencari penghidupan, yaitu bekerja mencari penghasilan, adalah siang. Ayat ini tidak menyebut malam untuk tujuan tersebut, melainkan siang. Maka dari itu mengapa ada sebagian umat yang mempergunakan malam sebagai tempat dan saat untuk bekerja mencari penghidupan? Nyata sekali, bahwa menggunakan malam sebagai saat untuk bekerja, merupakan penyimpangan terhadap firman Allah Swt. Dan tidak ada satu pun ayat khususnya di dalam Alquran yang menyatakan bahwa umat boleh menggunakan malam sebagai saat untuk bekerja mencari rejeki.

Ayat berikut di bawah ini,

Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, (113:3).

Ayat ini bertitah bahwa malam selalu mempunyai kejahatan bagi siapa saja yang keluar rumah pada malam hari. Tidak ada yang dapat menyangkal kandungan ayat ini, maka dari itu tidak ada juga yang dapat menyangkal makna dari ayat ini, bahwa setiap malam mempunyai kejahatannya sendiri. Terlebih, tidak ada satu pun manusia yang dapat menyangkal fakta bahwa selama ini malam memang selalu mempunyai kejahatan bagi manusia yang keluar rumah padanya.

Terdapat dua jenis kejahatan malam yang telah menunggu umat manusia, yaitu kejahatan sosial dan kejahatan spiritual. Kejahatan spiritual malam adalah, di mana manusia yang selalu keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam (dengan tidak menggunakan malam sebagai moment untuk istirahat dan beribadah di rumah) akan berubah menjadi manusia yang hedonis, manusia yang hanya memikirkan harta dan kekayaan, manusia yang tidak lagi memperdulikan Haram dan halal, manusia yang menganggap agama hanya festival yang diselenggerakan di dalam rumah ibadah, manusia yang gersang dari nilai kesalehan dan ketuhanan, manusia yang egois, dsb.

Malam merupakan saat yang tepat bagi seluruh keluarga untuk beristirahat di dalam rumah, karena pada saat yang bersamaan, di luar rumah, malam telah siap dengan segala jenis kerusakan dan kemaksiatan sosial yaitu:

  • Ajang perzinahan, prostitusi, striptis.
  • Ajang mabuk-mabukan.
  • Ajang menghambur-hamburkan uang.
  • Ajang bermain judi.
  • Penggunaan narkoba.
  • Kehidupan malam menjauhkan umat dari kesalehan, dan mendekatkan kepada keduniawian.
  • Menjauhkan keluarga dari nilai kesederhanaan, ibadah dan kekhusyukan.
  • Menimbulkan kelelahan jiwa dan raga.

Melalui ayat ini Allah Swt bertitah bahwa satu-satunya cara untuk terhindar dari kejahatan malam adalah tidak keluar rumah pada malam hari, melainkan tinggal dan beristirahat di dalam rumah bersama keluarganya hingga fajar menjelang.

Dengan mensyariahkan jam malam ini, maka Allah Swt berkehendak bahwa pada saat malam kota menjadi kota mati, desa menjadi desa mati, karena tidak ada lagi aktivitas di luar rumah, karena pada saat itu seluruh manusia berdiam di dalam rumah untuk beristirahat, atau beribadah mau pun bercengkerama dengan keluarga.

Mengapa Islam mensyariahkan jam-malam, karena berdasarkan lima hal:

  1. Malam adalah saat untuk beristirahat. Ini adalah fitrah. Ini adalah Hukum alam.
  2. Rejeki tidak bisa dipaksakan, dan seberapa rejeki yang didapat pada siang hari, harus disyukuri. Ingatlah, bahwa manusia tidak pernah puas dengan seberapa banyak rejeki yang diperoleh.
  3. Malam mempunyai kejahatannya sendiri.
  4. Tidak ada kesalehan yang didapat umat dari kehidupan malam di luar rumah, melainkan justru mendekatkan umat manusia pada hedonisme dan hubud-dunya, yaitu cinta-dunia. Kebalikannya, saat yang tepat bagi umat untuk memperkuat ruhani dan kesalehan adalah malam hari, yaitu banyak beribadah pada malam hari di rumah bersama keluarga.
  5. Ingatlah, bahwa kehidupan malam mempunyai kontribusi terbesar atas terjadinya fenomena jaman-edan. Bagaimana tidak edan? Siang mereka bekerja mencari rejeki, malam pun juga mereka gunakan untuk mencari rejeki. Itu artinya siang malam mereka jungkir-balik mencari rejeki, dan tidak ada lagi waktu untuk mengistirahatkan jiwa-raga mereka, dan tidak ada waktu untuk kesalehan dan ibadah, tidak ada lagi waktu untuk bercengkerama dengan anak dan keluarga, dan tidak ada lagi waktu untuk bermunajat kepada Allah YME. Semakin banyak uang yang mereka peroleh (karena bekerja juga di malam hari) maka semakin tamaklah mereka, apalagi ditunjang dengan putusnya akses mereka dengan santapan rohani berupa istirahat jiwa-raga, ibadah malam dan bermunajat kepada Tuhan, yang membutuhkan suasana hening, maka makin edanlah mereka, makin jauhlah mereka dari Tuhan, kewarasan dan kesalehan.

Biarlah malam menjadi sepi dan senyap, karena memang itulah fitrah manusia, dan karena memang itulah skenario alam semesta.

Biarlah saat malam manusia diam di rumah, untuk istirahat dan bercengkerama dengan keluarga. Dengan berdiam di rumah (mulai senja hingga subuh menjelang), maka terjagalah kesederhanaan dan kesalehan mental dan nurani seluruh manusia.

Dengan adanya jam malam ini maka tercapailah maksud ketuhanan, yaitu efisiensi yang sangat signifikan atas dinamika kehidupan baik kota mau pun desa. Syariah jam-malam akan menghemat bahan bakar, menghemat listrik, energi, tenaga, dan mengurangi polusi. Ketahuilah bahwa jam malam yang dapat menghemat banyak sumberdaya ini, sedikit pun tidak akan mengubah atau mengurangi rejeki.

Malam adalah moment ibadah keluarga.

Pada banyak bagian di dalam Alquran, Allah Swt menurunkan sinyalemen bahwa malam lebih baik digunakan untuk beribadah. Ingatlah, Alquran menegaskan bahwa ibadah-malam mempunyai efek ketenangan yang luarbiasa, oleh karena itu manusia dapat berharap banyak dari malam yang diibadahi, untuk kemapanan dan stabilitas ruhani. Apapun agama yang dianut seorang manusia, ibadah-malam merupakan solusi terindah untuk tujuan tersebut. Demikian seperti yang dititahkan Allah Swt di dalam Alquran,

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) (Alquran 17:78).

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (Alquran 17:79).

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (Alquran 25:64).

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan (Alquran 73:6).

Namun dikarenakan ditemukannya listrik, kendaraan dan berbagai jenis lampu yang indah, manusia telah melupakan saat penciptaan alam semesta, dan kemudian juga melupakan makna dari terjadinya malam. Dengan adanya listrik dan kendaraan, manusia telah berusaha sekeras mungkin keluar rumah untuk menikmati angin-malam, bersenang-senang, makan-makan, menonton hiburan dan konser murahan, yang keseluruhan hal tersebut mengakibatkan manusia-manusia menjauh dari poros kesalehan.

Beribadah di siang hari, sebenarnya memberi efek psikologis yang tidak terlalu signifikan, namun ibadah di malam hari mempunyai pengaruh ketenangan dan kedamaian yang fundamental atas penguatan ruh dan kesalehan. Itulah sebabnya malam merupakan saat terbaik untuk beribadah di tingkat keluarga. Harap diperhatikan, adalah tidak sama citarasanya, antara makan siang di Kantor bersama rekan sejawat, dengan makan malam bersama keluarga di rumah. Mana yang lebih lezat dan berkesan? Tentu santap makan-malam bersama keluarga di rumah, dikelilingi orang-orang yang dicintai, itulah yang lebih berkesan dan yang lebih lezat. Maka demikian jugalah dengan ibadah, antara beribadah di siang hari dengan ibadah di malam hari bersama keluarga di rumah.

Tidak ayal lagi, kehidupan malam di luar rumah yang dengan sendirinya telah menTIADAkan beribadah bersama keluarga, mengakibatkan umat manusia digulung gelombang kekeringan jiwa dan kemiskinan iman. Hal ini merupakan media terbaik bagi munculnya berbagai kejahatan, baik kejahatan kriminal mau pun kejahatan hati (serakah, tamak, egois, cinta-harta, apathis, hedonis, dsb).

Keseluruhan hal tersebut sebenarnya adalah penyakit. Dan satu-satunya cara menyembuhkan manusia dari penyakit tersebut adalah, menarik diri dari aktivitas malam di luar rumah (secara massal), dan kembali berdiam di dalam rumah untuk mengibadahi malam tersebut, untuk kemudian beristirahat bersama keluarga hingga fajar menjelang. Tepat seperti pada masa ketika manusia masih hidup di dalam kesucian dan kepolosan (age of innocence), yaitu ketika belum ditemukannya listrik dan kendaraan berikut lampu-lampu kota yang seronok.

Inilah makna dan urgensi jam malam di dalam syariah Islam.

Implementasi.

  1. Syariah jam-malam ini, menurut fiqih, tidak berlaku untuk Mekah, Madinah dan Yerusalem, karena pada ketiga kota tersebut berlaku Alhadis Nabi saw, “aku mementingkan perjalanan ketiga Masjid ini yaitu Masjid Al- Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Aqsa”. Ini berarti baik siang mau pun malam, maka adalah lebih baik setiap Muslim keluar rumah untuk shalat di ketiga tempat suci tersebut, bukan untuk tujuan lain.
  2. Dua lapis masyarakat sebaiknya tidak keluar rumah di waktu malam. Lapis masyarakat pertama adalah yang keluar rumah untuk mencari uang (sektor usaha seperti buka restoran, hiburan malam, perkuliahan, Pusat kebugaran, Pusat belanja, transportasi, dsb). Masyarakat lapis kedua adalah masyarakat yang keluar rumah sebagai konsumen.
  3. Saat matahari sudah tergelincir ke Barat, itulah saatnya semua orang pulang ke rumah. Dan kemudian seluruh bus berhenti beroperasi, pasar tutup, restoran tutup, dsb.
  4. Tidak juga mempunyai landasan keluar rumah yang tujuannya adalah ke Masjid untuk shalat fardu atau ibadah lainnya. Beribadah malam hari justru dianjurkan untuk ditunaikan di rumah bersama anak dan keluarga, bukan di Masjid.
  5. Shalat tarawih pun, sebenarnya menurut sunnah Nabi, tetap diselenggarakan di rumah, bukan di Masjid, karena Nabi saw dan para sahabat juga selalu shalat tarawih di rumah, bukan di Masjid.
  6. Keluar rumah di malam hari adalah sebaiknya dihindari, karena malam sebenarnya adalah moment penguatan iman dan rohani level keluarga. Namun kalau manusia mempunyai tujuan yang mendesak, pada hematnya tidak mengapa keluar rumah di malam hari, seperti mereka yang bekerja sebagai dokter jaga, atau petugas penjaga gedung, personel rumahsakit, polisi, operator bus antarkota, dsb.
  7. Tidak mengapa keluar rumah di malam hari namun tidak jauh dari rumah, sekedar menikmati sepoi-angin malam, atau menikmati terang-bulan bersama bintang.
  8. Bertamu pun sebaiknya tidak ditunaikan malam hari, melainkan siang hari.

Kesimpulan.

Selama umat manusia (apapun agamanya):

  1. Keluar rumah di malam hari untuk menikmati kehidupan malam dan bekerja mencari rejeki,
  2. Tidak menggunakan malam sebagai moment istirahat total dan juga ibadah bersama keluarga di dalam rumah, …….

Maka selama itu juga kejahatan dan penyakit jiwa akan terus menggerogoti mereka, sedikit demi sedikit. Bagian terpenting dari ajaran Tuhan mengenai malam ini adalah, bahwa tidak ada kesalehan yang dapat dituai satu manusia pun saat mereka keluar rumah di malam hari. Kebalikannya, kesalehan dan penguatan ruhani hanya dapat dituai pada malam hari bersama keluarga di dalam rumah masing-masing.

Dengan tetap tinggal dan beristirahat di malam hari di rumah bersama keluarga, dengan mematikan kehidupan malam, dengan menjadikan kota dan desa sepi dan lengang di malam hari, maka secara permukaan telah terjadi penghematan dan efisiensi atas seluruh sumberdaya, dan itu sedikit pun tidak mengganggu atau mengurangi rejeki.

  1. Tidak mungkin benar, bahwa hanya karena ditemukan mobil, listrik, lampu dsb, maka budaya keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam menjadi benar.
  2. Tidak mungkin benar, hanya karena ditemukan kemajuan teknologi, maka manusia menjadi berhak untuk menentang Hukum alam, menentang fitrah, menentang firman Tuhan, dan menentang jam biologis mereka sendiri untuk mengistirahatkan jiwa dan raga mereka.
  3. Tidak mungkin benar, firman Tuhan, fitrah dan Hukum alam menjadi jungkirbalik hanya karena ditemukannya mobil, listrik, lampu, dsb.
  4. Tidak mungkin benar, bahwa budaya keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam tidak mengandung kekhawatiran atau efek negatif. Fakta memperlihatkan meningkatnya hedonisme, kegilaan, egoisme, ketidak-warasan dan ketidaksalehan umat manusia sejak berkembangnya kehidupan malam. Banyak terjadi kasus kejahatan di malam hari.
  5. Tidak mungkin benar, tidak bekerja mencari uang di malam hari akan mengakibatkan kemiskinan dan ketertinggalan. Tidak mungkin benar, bahwa uang yang didapat dari bekerja di siang hari tidak mencukupi untuk hidup.
  6. Tidak mungkin benar, bahwa keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam juga dibutuhkan untuk kesehatan jiwaraga.
  7. Tidak mungkin benar, kesalehan tidak diperlukan di akhir jaman ini, sehingga oleh karenanya tidak mengapa berlarut-larut di dalam kehidupan malam.
  8. Tidak mungkin benar, kesalehan dan kewarasan dapat berparalel dengan maraknya kehidupan malam. Yang benar adalah, kesalehan dan kewarasan merupakan antitesis dari budaya kehidupan malam.

Penutup.

Kalau Kerajaan Muslim di seluruh muka bumi ini masih menganggap kesalehan sebagai harta jiwa yang lebih berharga dari emas dan intan berlian, maka itulah saatnya bagi seluruh Kerajaan Muslim untuk menerapkan jam-malam bagi kota dan desa-desa mereka, sekaligus untuk menumbangkan dan mengkudeta kehidupan malam, karena hal tersebut seutuhnya benar-benar mendurhakai firman Allah Swt.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s