Mempermasalahkan Dunia Keartisan Indonesia

dunia artisKeberadaan artis di dalam kehidupan suatu masyarakat tentulah merupakan suatu keniscayaan. Dapat dipastikan bahwa tidak mungkin suatu masyarakat dapat mempunyai kehidupan, tanpa adanya artis. Artis-lah yang merupakan ujung tombak pemeragaan budaya, dan itu berarti artislah yang paling bertanggungjawab atas kelangsungan dan kelestarian suatu budaya. Apa jadinya kalau di dalam kehidupan ini tidak ada artis, karena kalau tidak ada artis, maka tidak ada seni dan budaya.

Karena keberadaan artis merupakan keniscayaan di dalam kehidupan ini, maka tentu haruslah ada juga forum untuk membicarakan keartisan, suatu forum yang membahas bagaimana layaknya menjadi artis, apa itu artis, apa itu batasan artis, guna dan fungsi artis, tujuan dari menjadi artis, dsb.

Satu hal yang mungkin harus ditekankan di sini adalah, bahwa artis adalah seorang manusia yang selayaknya merupakan ‘etalase’ kebudayaan. Seorang manusia artis adalah, selayaknya, merupakan tempat di mana suatu budaya diusung, dipamerkan, diperagakan, dipromosikan dan disemarakkan, sebagaimana mestinya.

Tidak ubahnya dengan seorang pelayan toko atau restoran. Haruslah seorang pelayan toko itu seseorang yang mempunyai paras yang indah, enak untuk dipandang mata, mempunyai senyum nan menawan, muda, sehat, ramah, dsb. Begitu juga dengan pelayan restauran, bahkan begitu juga dengan profesi pramugara / pramugari. Keseluruhan sosok tersebut harus merupakan seseorang yang mempunyai penampilan yang menarik, tampan, cantik, segar, muda, dsb.

Apa jadinya kalau sebuah toko mempekerjakan seseorang yang berwajah jelek untuk menjadi pelayannya? Dan apa jadinya kalau suatu pesawat terbang mempekerjakan seseorang yang berwajah jelek, hitam, menyeramkan, tidak ramah, sebagai pramugara / pramugari-nya? Tidak usah dibahas, karena pasti tidak ada orang yang cukup gila untuk mempekerjakan seseorang yang berwajah jelek sebagai pelayan toko, atau pelayan restauran, atau bahkan seorang pramugara, penyiar tv, dsb.

Untuk pemikiran yang sama, maka sudah sepatutnya suatu masyarakat mempekerjakan seseorang yang berwajah menarik sebagai pengusung dan pemeraga budaya pada masyarakat tersebut. Artinya, seorang artis haruslah mempunyai penampilan yang menarik, tampan, cantik, ramah, senyum yang menawan, segar, cerah, muda dan berseri-seri.

Intinya, seorang artis, yang merupakan etalase dari suatu kebudayaan, pastilah akan menjadi ‘pusat perhatian’ dan ‘sasaran pandang’ khalayak ketika sebuah budaya dipamerkan atau diperagakan olehnya. Maka dari itu, artis tersebut harus berwajah yang enak dipandang.

Singkat kata, suatu masyarakat tidak boleh mempekerjakan seseorang manusia yang berwajah jelek, sebagai artis untuk memperagakan kebudayaan masyarakat tersebut. Jadinya, suatu masyarakat (apakah itu stasiun tv, atau production-house, atau paguyuban lawak, gerombolan kesenian, sanggar seni, dsb) haruslah mempekerjakan seseorang yang berwajah indah untuk dijadikan artisnya.

Kenyataannya?

Alangkah sangat menyedihkan, bahwa kenyataannya di tengah masyarakat Indonesia ini, terdapat BANYAK artis yang berwajah jelek, tidak sedap dipandang mata, membuat mata pemirsa dan khalayak, sakit. Banyak sekali individu-individu yang berwajah jelek, ternyata telah didapuk oleh sebagian masyarakat Indonesia ini, untuk dijadikan artis Indonesia, untuk membawakan dan memperagakan budaya Indonesia, entah itu budaya nyanyian, tarian, lawak, drama sinetron, dsb. Jeleknya wajah mereka di lain pihak, tentu tidak dapat disembunyikan oleh kamera mana pun, maka menjadilah kejelekan wajah mereka satu padu dengan budaya Indonesia yang sedang diperagakan tersebut. Ini menyedihkan.

Memang di satu pihak, dapat dikatakan, bahwa individu-individu berwajah jelek tersebut, mempunyai suatu keterampilan di dalam hal tertentu yang pantas untuk dinikmati publik (seperti melawak, menari, menembang, dsb), namun tetap saja hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan dan pembenar untuk mendapuk mereka sebagai artis dan seniman Indonesia.

Harus dipertimbangkan, bahwa sebenarnya masih banyak individu lain yang berwajah menarik, namun di lain pihak mereka juga mempunyai ketrampilan di dalam suatu bidang budaya. Maka bukankah seharusnya individu-individu ini yang didapuk / direkrut untuk menjadi seniman atau selebriti Indonesia?

Bahkan lebih parahnya, terdapat beberapa stasiun tv swasta yang mendapuk atau mengorbitkan seseorang individu yang berwajah jelek, sebagai seniman atau selebriti Indonesia, padahal individu tersebut tidak mempunyai ketrampilan apapun, hanya saja individu tersebut mempunyai ‘keberanian’ dan kesudian untuk menjadi bahan olok-olok dan objek kekonyolan. Mau dibawa kemana dunia keartisan Indonesia ini?

Di lain pihak, ada faktor yang memperparah kekacauan cara berfikir orang Indonesia khususnya di dalam hal rekrut artis ini. Faktor tersebut amat menentukan di dalam kekacauan keartisan Indonesia. Faktor tersebut adalah, bahwa ternyata publik Indonesia pun mempunyai animo dan antusiasme yang tinggi terhadap keberadaan artis-artis yang berwajah jelek ini, hal mana ini membuat rating penampilan artis ini semakin tinggi.

Dengan kata lain, tampaknya justru publik Indonesia gemar melihat manusia-manusia berwajah jelek untuk ditampilkan di atas panggung untuk memperagakan budaya Indonesia. Hal ini terlihat dari rating setiap tivi yang terus meningkat manakala tv tersebut menampilkan artis-artis berwajah jelek.

Bukankah hal seperti ini harus diubah? Bukankah hal seperti ini seharusnya tidak ada?

Mengapa Indonesia, baik sebagai rakyat dan bangsa, sebagai kelompok budaya, mau pun sebagai negara, mempunyai cara berfikir yang aneh dan anomali, menentang cara berfikir lumrah yang berlaku di seluruh dunia? Mengapa bangsa Indonesia ini gemar melakukan suatu hal yang tidak ‘dunia-level’, yaitu hanya merekrut manusia-manusia berwajah menarik dan rupawan untuk dijadikan / diorbitkan sebagai artis pengusung dan pemeraga budaya?

Bukan di dalam hal keartisan saja publik Indonesia ini mempunyai cara berfikir yang aneh dan janggal, sebenarnya di dalam banyak hal dan aspek pun sebenarnya bangsa Indonesia juga janggal cara berfikirnya. Namun untuk menghemat waktu, hal-hal tersebut akan dibahas di lain kesempatan saja, karena kesempatan ini baiklah hanya untuk membahas dunia keartisan in yang kadung kacau.

Selera keartisan di luar negeri.

Baiklah kita perhatikan kehidupan keartisan di luar negeri. Di luar negeri, hanya manusia-manusia yang berwajah menarik dan menawan saja yang didapuk / direkrut untuk menjadi artis, dan tentunya hal tersebut juga disandingkan dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi artis. Jadi dengan kata lain, kalau ada individu mempunyai ketrampilan seni yang mumpuni, namun individu tersebut tidak berwajah rupawan, pastilah individu itu tidak akan direkrut: jangan harap. Alhasil, di luar negeri tidak pernah ada satu pun artis yang berwajah jelek. Semua artis luar negeri berwajah menawan dan sedap dipandang mata.

Mengapa demikian? Itu karena semua punggawa seni-budaya di luar negeri mempunyai fikiran yang waras; mereka tidak neko-neko. Mereka ingat bahwa artis adalah etalase pengusung dan pemeraga budaya masyarakat mereka sendiri. Oleh karena itu seorang artis haruslah berwajah rupawan dan menawan, supaya publik selalu mempunyai waktu dan minat untuk mencurahkan perhatian dan antusiasme-nya.

Publik seni internasional tentunya ingat, bahwa terdapat beberapa video-klip lagu yang begitu terkenal karena lagu-nya sangat diterima oleh publik, ternyata video tersebut tidak menampilkan wajah sang penyanyi. Mengapa demikian? Hal tersebut karena ternyata sang penyanyi tidak mempunyai wajah yang menarik untuk dilihat publik. Dengan kata lain, lagu dan juga video musiknya, hanya mengusung lagu itu sendiri, namun tidak mengusung wajah sang penyanyi.

Apa yang melatar-belakangi hal ini adalah, karena pekerja seni di luar negeri begitu faham bahwa seorang artis (yang mengusung budaya) haruslah mereka yang berwajah molek – sehingga etis untuk ditampilkan dan diperagakan. Dan kalau ternyata ada individu seni yang mempunyai kemampuan musikalitas yang prima, namun tidak didukung wajah yang molek, maka MAU-TIDAK-MAU wajah individu tersebut tidak perlu ditampilkan, tidak perlu diungkapkan; cukuplah musikalitasnya saja yang diusung dan di-apresiasi.

Hal seperti inilah yang tidak ada di Indonesia. Masyarakat panggung Indonesia tidak pernah sadar bahwa artis adalah etalase budaya. Yang ada di dalam fikiran masyarakat-panggung Indonesia adalah hanya memikirkan rating dan pendapatan keuangan, lain tidak. Akibatnya, mereka, para masyarakat-panggung, gemar sekali mengetengahkan artis-artis berwajah jelek, selama artis tersebut dapat mendatangkan keuntungan keuangan. Intinya, tidak ada kewarasan. ***

Ada dua hal yang harus diperhatikan di dalam hal merekrut artis untuk dijadikan etalase seni dan budaya:

  1. Seni dan budaya yang ada pada suatu masyarakat, haruslah ditampilkan semenarik mungkin. Ini mutlak. Oleh karena itu, personel-nya harus juga menarik dan rupawan. Itu artinya personel artis yang direkrut untuk tujuan menampilkan, memperagakan mau pun mempromosikan seni dan budaya Indonesia, haruslah individu-individu yang berwajah menarik, rupawan, menawan, muda, dan sehat.
  2. Publik pun, di lain pihak, juga berhak untuk memperoleh suguhan pentas seni-budaya yang diusung oleh personel-personel yang berwajah molek dan menawan. Jangan biarkan publik terlena melihat personel seni berwajah buruk dan kusam. Publik seni berhak melihat artis-artis berwajah dewa-dewi.

Di luar itu pun, publik juga harus dididik untuk sadar bahwa artis haruslah berwajah molek, bukan personel yang berwajah jelek, karena apa yang mereka (para artis) usung, merupakan suatu hal yang serius dan agung, yaitu budaya leluhur bangsa Indonesia. Publik seni harus diajarkan, bahwa tidak logis dan tidak etis untuk melihat manusia-manusia berwajah jelek disuguhkan dan ditampilkan di atas panggung untuk memperagakan budaya masyarakat Indonesia yang adiluhung. Publik seni, harus protes kalau budaya Indonesia yang luhur ternyata diusung dan diperagakan oleh personel yang tidak mencerminkan budaya itu sendiri.

Bagaimana publik dapat mengenal dan mencintai budaya-nya sendiri, kalau publik itu malas menikmati suguhan budaya, karena suguhan budaya tersebut ditampilkan oleh personel artis yang buruk-rupa? ***

Untuk kedua hal tersebut, tak ayal lagi bahwa seluruh elemen publik Indonesia, khususnya yang berkiprah di dalam hal pentas seni-budaya, haruslah merekrut personel yang berwajah molek dan rupawan sebagai artis. Dan untuk itu, maka seluruh bangsa Indonesia harus begitu komit untuk tidak lagi menampilkan artis-artis berwajah jelek di atas panggung seni-budaya, karena hal tersebut tidak logis, dan juga tidak etis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s