Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya

tamanbermainBerikut ini, Alamandang menurunkan satu artikel yang merupakan rubrik tanya-jawab seputar syariah Islam. Kali ini tanya-jawab tersebut seputar Alhadis Nabi bahwa anak-anak dilarang keluar rumah saat Maghrib dan Isya, yang kemudian dikonfrontir dengan ajaran / tradisi yang selama ini dianut umat Muslim bahwa anak-anak harus dibawa keluar rumah untuk shalat di Masjid saat Maghrib dan Isya.

Bagaimanakah akhirnya solusi yang diberikan sang ustadz atas pertanyaan kontradiksi tersebut?

Setelah jawaban sang ustadz dipaparkan, kemudian Alamandang akan memberikan ulasan mengenai jawaban / ajaran yang diberikan oleh sang ustadz. Mudah-mudahan hidayah Allah Swt meliputi seluruh umat Muslim. Amin. ***

Pertanyaan: 

Ya Abaa Fairuz, bagaimana dengan mengajak anak-anak untuk shalat maghrib dan isya’ di Masjid? Karena ada hadits yang memerintahkan untuk menahan  anak-anak keluar pada waktu maghrib datang?

Jawab: 

Nabi saw telah memerintahkan kita untuk menahan anak-anak kita saat datangnya malam, karena para setan ketika itu bertebaran. Maka bagaimana dengan orang yang ingin hadir dars setelah maghrib bersama anaknya misalkan?

Kita jawab dengan taufiq Allah semata:

Nabi saw mengabarkan:

“Bahwasanya jika matahari telah terbenam, para setanpun bertebaran”.

Karena itulah beliau bersabda:

“Maka tahanlah anak-anak kalian, dan tahan juga ternak-ternak kalian sampai hilangnya awal kegelapan Isya”. Hadits riwayat Al Bukhariy (3280) dan Muslim (2012) [dari Jabir ra].

Hadits ini menunjukkan bahwasanya saat datangnya malam adalah waktu diduganya gangguan setan terhadap anak-anak. Tapi telah datang dalil-dalil yang banyak tentang perlindungan dengan dzikir kepada Allah. Di antaranya adalah: perlindungan khusus bagi anak-anak, seperti hadits Ibnu Abbas ra yang berkata:

Dulu Nabi saw melindungi Hasan dan Husain dan berkata: “Sesungguhnya ayah kalian (yaitu Ibrahim as) dulu melindungi Isma’il dan Ishaq dengan doa ini: (yang artinya) “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa dan dari setiap mata pencela” (HR. Al Bukhariy (3371)).

Dan anak-anak diajari dzikrullah ketika keluar rumah.

Dari Ummu Salamah ra. yang berkata:

Tidak pernah Nabi saw keluar dari rumahku sama sekali kecuali beliau mengangkat pandangan mata beliau ke langit seraya berdoa (yang artinya): “Ya Allah sungguh saya berlindung kepadaMu dari tersesat atau disesatkan orang, tergelincir atau digelincirkan orang, atau menzhalimi atau dizhalimi orang, atau berbuat bodoh, atau ada orang berbuat badah terhadapku” (HR. Abu Dawud (5094) dan At Tirmidziy (3427) / shahih).

Dan dari Anas bin Malik ra yang berkata:

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa ketika keluar rumah dia berkata: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal pada Allah. Dan tiada upaya dan tiada daya kecuali dengan pertolongan Allah”. Dikatakan padanya: “Engkau telah dicukupi, dan engkau telah dilindungi”. Dan setan menyingkir darinya” (HR. At Tirmidziy (3426)).

Di dalam sanadnya ada ‘an’anah Ibnu Juraij, dan dia itu mudallis.

Hadits ini punya pendukung dari hadits Ka’b bin Malik ra secara mauquf (ucapan Shahabat saja), diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al Mushannaf” (29203). Dalam sanadnya ada ‘an’anah Al A’masy dari Mujahid.

Tapi Al A’masy didukung oleh Manshur yang meriwayatkan juga dari Mujahid dari Ka’b secara mauquf, diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam “Al Mushannaf” (19827). Dan sanadnya shahih.

Maka hadits ini hasan lighairih.

Ada juga dzikir perlindungan ketika singgah di suatu tempat:

Khaulah binti Hakim As Sulamiyyah ra berkata:

“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa singgah di suatu per-singgahan lalu dia berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan” (HR. Muslim (2708).

Dan termasuk dzikir sore yang mudah dihapalkan oleh anak-anak adalah: hadits Abu Hurairah  ra. yang berkata:

Ada orang datang pada Nabi saw seraya berkata: “Wahai Rasulullah, alangkah menyakitkannya apa yang saya dapati dari kalajengking yang menyengat saya tadi malam”. Maka beliau bersabda: “Adapun andaikata engkau ketika masuk di waktu sore berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan”.  Niscaya dia tak akan membahayakanmu” (HR. Muslim (2709)).

Dan masih banyak dzikir yang lain.

Kemudian sesungguhnya hadits Jabir tadi punya dua hikmah, sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian ulama:

Ibnul Jauziy berkata: “Dan hanyalah dikhawatirkan anak-anak secara khusus akan diganggu setan karena dua perkara.

Yang pertama: karena najis yang ada pada anak-anak, yang mana itulah yang menjadikan setan senang bernaung di situ.

Yang kedua: bahwasanya dzikir yang menjadi perlindungan itu tidak ada pada anak-anak, dan para setan ketika bertebaran, akan bergantung pada tempat-tempat yang memungkinkan untuk mereka bergantung (tempat yang tiada dzikir di situ)” (“Kasyful Musykil Min Haditsish Shahihain” / hal. 691).

Jika sebabnya adalah anak-anak tidak berlindung dengan dzikir-dzikir, maka kita perintahkan mereka untuk berdzikir, sebagaimana telah lewat. Jika sebab yang kedua adalah najisnya badan dan pakaian anak-anak, kita jaga kesucian mereka, sebagaimana itu memang sunnah ketika keluar menuju Masjid.

Dari Abu Hurairah ra. yang berkata: Rasulullah saw bersabda:

Shalat seorang pria di jamaah itu dilipatkan daripada shalatnya di rumahnya dan di pasarnya sebanyak dua puluh lima lipatan. Yang demikian itu dikarenakan dirinya berwudhu lalu memperbagus wudhunya, lalu keluar ke Masjid, tidak ada yang mengeluarkannya kecuali shalat …” (HR. Al Bukhariy (647) dan Muslim (649)).

Maka tidak apa-apa anak-anak keluar bersama para wali mereka ke Masjidketika matahari terbenam.

Kemudian sesungguhnya mereka itu keluar ke Masjidadalah untuk amalan shaleh, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka insya Allah, bahkan Allah gembira dengan mereka dan menjaga mereka.

Dari Abu Hurairah  ra yang berkata: Rasulullah saw bersabda:

Tidaklah ada satu orang yang berwudhu dan memperbagus wudhunya dan menyempurnakannya, lalu dia mendatangi Masjid, tidak menginginkan kecuali shalat di situ, kecuali Allah menyambutnya dengan gembira sebagaimana orang yang ditinggal pergi menyambut gembira kedatangan orang itu” (HR. Al Imam Ahmad (8051) dan dishahihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy  dalam “Al Jami’ush Shahih Mimma Laisa Fish Shahihain” no. (838)).

Ini adalah dalil untuk jawaban ini dan sekaligus jawaban yang sebelumnya.

Keluarnya mereka adalah untuk ibadah, maka Allah akan mencukupi mereka dan menjaga mereka. Dan pencukupan dan penjagaan Allah itu sesuai kadar ibadah sang hamba. Allah swt berfirman:

“Bukankah Allah itu cukup untuk melindungi hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakutimu dengan yang selain Allah. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka dia tak akan punya pemberi petunjuk. Dan barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tak akan ada yang bisa menyesatkannya. Bukankah Allah itu Maha Perkasa lagi Maha memiliki pembalasan?”

Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Maka kecukupan yang sempurna itu bersama ibadah yang sempurna. Dan kecukupan yang kurang itu bersama ibadah yang kurang. Maka barangsiapa mendapatkan kebaikan, maka hendaknya dia memuji Allah. Dan barangsiapa mendapatkan yang selain itu, maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri” (“Al Wabilush Shayyib” / hal. 11).

(kita lanjutkan besok insya Allah, barakallahu fikum)

Kemudian sesungguhnya mereka itu keluar untuk beramal shalih, maka para malaikat adalah wali dan pelindung mereka dengan seidzin Allah.

Dari Abu Hurairah  ra. yang berkata: Nabi saw bersabda:

Tidak ada orang yang keluar dari rumahnya kecuali di tangannya ada dua bendera: bendera yang ada di tangan malaikat dan bendera yang ada di tangan setan. Jika dia keluar kepada perkara yang dicintai Allah, malaikat akan mengikutinya dengan benderanya. Maka dia senantiasa di bawah bendera malaikat sampai pulang ke rumahnya. Tapi jika dia keluar kepada perkara yang dimurkai Allah, setan akan mengikutinya dengan benderanya. Maka dia senantiasa di bawah bendera setan sampai pulang ke rumahnya” (HR. Ahmad (8269).

Di dalam sanadnya ada Abdullah bin Ja’far, yaitu Bin  Abdurrahman ibnul Miswar bin Makhramah Al Madaniy, shaduq (“Tahdzibut Tahdzib” (5 / hal. 150).

Dan di dalam sanadnya juga ada Utsman bin Muhammad, yaitu Ibnul Mughirah ibnul Akhnas bin Syariq Ats Tsaqafiy, shaduq (“Tahdzibut Tahdzib” (7 / hal. 138)).

Sisa rawinya tsiqat terkenal.

Maka hadits ini hasan.

Maka barangsiapa keluar dari rumahnya untuk ketaatan pada Allah, maka para malaikat adalah wali-walinya dan mereka akan memerangi para setan untuk membelanya

Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Maka tiada seorangpun yang lebih bermanfaat bagi sang hamba daripada persahabatan malaikat untuknya. Dan malaikat adalah walinya di saat terjaga dan tidur, saat hidupnya dan ketika kematiannya, dan di dalam kuburnya, teman akrabnya ketika kesepian, sahabatnya ketika sendirian, membisikinya dalam suasana rahasia, dan memerangi para setan untuk membela dirinya, menolongnya untuk menghadapi setan, menjanjikan kebaikan untuknya, memberinya kabar gembira, mendorongnya untuk membenarkan kebenaran” (“Al Jawabul Kafi” / hal. 74).

Maka hadits Jabir ra tersebut berlaku untuk anak-anak yang sedang bermain-main –dan semisalnya- di luar rumah saat itu. Adapun yang keluar ke Masjid bersama walinya untuk beribadah pada Allah, maka Allah dan para malaikat adalah wali dia.

Oleh karena itulah maka Fadhilatu syaikhina Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy saat ana tanya tentang masalah ini beliau berkata: “Hadits ini mengenai anak-anak yang sedang bermain-main di jalanan dan sebagainya. Adapun orang yang keluar rumah bersama anaknya untuk menunaikan shalat maghrib dan mendengarkan dars di Masjid, maka itu tidak apa-apa”. Selesai jawaban beliau.

Jika ada yang berkata: “Hadits Jabir ra. itu umum!”.

Maka kita jawab –dengan taufiq Allah semata: Alangkah banyaknya dalil yang umum itu dimasuki oleh pengkhususan. Yang demikian itu dikarenakan hadits-hadits Rasulullah saw itu satu sama lain saling menjelaskan.

Al Imam Ibnu Qudamah berkata: Tiada satu lafazh umumpun kecuali dia telah dimasuki oleh pengkhususan, kecuali beberapa lafazh saja, seperti firman Allah ta’ala:

Dan tiada satu binatang melatapun di bumi kecuali menjadi tanggungan Allahlah rizqinya”.

Dan:

“Sesungguhnya Allah itu Mahatahu terhadap segala sesuatu” (“Raudhatun Nazhir Wa Jannatul Munazhir” / hal. 238-239).

Maka keumuman hadits Jabir itu dikhususkan dengan dalil-dalil penjagaan Allah untuk orang berdzikir, yang keluar rumah untuk melakukan suatu ketaatan pada-Nya. Telah lewat penyebutan sebagian dari dalil-dalil tersebut. Di antaranya juga hadits Al Harits Al Asy’ariy ra: Bahwasanya Nabi saw bersabda:

Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat untuk beliau menjalankannya dan memerintahkan Bani Israil untuk mengerjakannya: “Dan aku memerintahkan kalian untuk berdzikir pada Allah, karena permisalannya adalah bagaikan orang yang keluar, sementara musuhnya itu mengikuti jejaknya dengan cepat, hingga ketika dia mendatangi benteng yang kokoh, dia melindungi dirinya dari mereka. Demikianlah sang hamba, dia itu tidak bisa melindungi dirinya dari setan kecuali dengan dzikir pada Allah”. Al hadits (HR. At Tirmidziy (2863) / shahih).

Maka barangsiapa keluar dari rumahnya untuk suatu ketaatan kepada Allah di waktu kapanpun, dan dia berdzikir kepada Allah, maka Allah adalah Walinya dan Penjaganya, maka setan tak bisa mengganggunya. Bahkan setan sendiri mengakui hal itu.

Dari Abdullah bin Amr ibnul ‘Ash:

Dari Nabi saw bahwasanya beliau biasa jika masuk Masjid berdoa (yang artinya): “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha agung, dan dengan wajah-Nya yang mulia, dan kekuasaan-Nya yang telah berlangsung sejak dulu, dari setan yang terkutuk”. Dan beliau bersabda: Jika berdoa demikian, setan berkata: “Dia telah dilindungi dariku di sepanjang hari” (HR. Abu Dawud (466) / shahih).

Dan banyak ulama menyebutkan bahwasanya hadits Jabir tersebut bentuknya adalah bimbingan, bukan wajib.

Fatwa Lajnah Daimah Lil Buhutsil ‘Ilmiyyah Wal Ifta (27/69/ no. 21349): “Perintah-perintah yang datang di dalam hadits ini menurut kebanyakan ulama dibawa ke anjuran dan bimbingan, sebagaimana telah ditetapkan oleh sejumlah ulama, di Antara mereka adalah: Ibnu Muflih dalam “Al Furu’” (1/hal. 132) dan Al Hafizh Ibnu Hajar dalam “Fathul Bari” (11/87). Wallahu a’lam.” Selesai.

Dan penunaian shalat maghrib dan mendengarkan dars di Masjid memiliki maslahat-maslahat yang agung, maka tidak mengapa anak dibawa ke Masjid saat itu dan saat yang lain. ***

-o0o-

Alamandang,

Bagian pertama.

Alhadist Nabi, Maka tahanlah anak-anak kalian, dan tahan juga ternak-ternak kalian sampai hilangnya awal kegelapan Isya. Hadits riwayat Al Bukhariy (3280) dan Muslim (2012) [dari Jabir ra].

Makna dari Alhadist ini adalah luar biasa jelas, yaitu bahwa pada saat Maghrib dan Isya, setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah. Maksud dan tujuan dari amanat Nabi Muhammad Saw tersebut pun juga sudah sangat jelas, yaitu bahwa supaya pada saat Maghrib dan Isya, setiap anak harus tetap di rumahnya untuk shalat Maghrib dan Isya berjamaah diimamkan oleh ayah (atau datuk atau paman) masing masing.

Pada bagian lain, terdapat dua hadist lain yang harus diperhatikan.

Pertama,

Setiap kamu adalah pemimpin atas anak Dan keluarga kamu.

Hadist ini mempunyai arti bahwa setiap laki-laki khususnya para ayah atau suami atau kakek atau paman, harus shalat di rumah untuk menjadi imam atas anak dan keluarganya.

Mungkin pada pagi, dan siang hari para ayah tidak bisa berada di rumah karena bekerja di tempat kerja. Maka dari itu sang ayah tidak dapat shalat di rumah untuk menjadi imam atas anak dan keluarganya. Namun sore hari sang ayah pulang dan kembali berada di rumah. Maka itulah saatnya sang ayah harus shalat berjamaah dan menjadi imam atas anak Dan keluarganya.

Kedua.

Aku (Muhammad saw) hanya mementingkan perjalanan ke tiga tempat ini, yaitu Masjid Haram di Mekah, Mesjidku ini Nabawi, dan Masjid Aqsa di Jerusalem.

Hadist ini mempunyai pesan, bahwa Masjid yang wajib untuk dikunjungi hanyalah ketiga Masjid suci tersebut. Artinya, Masjid selain ketiga Masjid suci tersebut tidak mempunyai keutamaan untuk dikunjungi untuk tujuan shalat, kecuali dalam rangka shalat jumat tentunya.

Sehingga, hadist ini mempunyai arti, bahwa setiap ayah haruslah lebih memilih untuk shalat di rumah untuk menjadi imam atas anak dan keluarganya, ketimbang harus melangkahkan kakinya ke Masjid untuk menunaikan shalat berjamaah di dalamnya, karena Masjid tersebut tidak wajib dijunjungi.

Dengan demikian adalah salah persepsi selama ini yang dianut sebagian besar Muslim bahwa setiap laki-laki harus shalat di Masjid. Kalau setiap laki-laki harus shalat di Masjid, maka kapan mereka menjadi imam atas anak dan keluarganya?

Maka kemudian, bagaimana dengan anak-anak? Nah itulah sebabnya, Nabi menyatakan Alhadist ini, yaitu setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah, supaya dengan demikian sang anak dapat dihimpunkan oleh ayah atau datuk masing-masing di rumah untuk turut shalat berjamaah, khususnya untuk jadwal Maghrib dan Isya.

Alhasil, gabungan ketiga Alhadist ini adalah, bahwa di satu pihak, setiap ayah haruslah shalat di rumah, bukan di Masjid, khususnya untuk jadwal Maghrib, Isya dan subuh, maka di pihak lain, setiap anak pun juga dilarang keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya, supaya dapat shalat berjamaah yang diimamkan oleh ayah atau datuk masing-masing.

Dengan kata lain, tidak ada pertentangan antara ketiga Alhadist tersebut (dan banyak Alhadist lain tentunya). Justru kebalikannya, ketiga Alhadist tersebut malah saling mendukung dan memperkuat shg tercipta satu kesatuan untuk menciptakan satu konsep yang kuat dan jelas, yaitu bahwa setiap keluarga haruslah shalat di rumah, bukan di Masjid.

Maka jelaslah sudah, Alhadist ini (tahanlah anak-anakmu di rumah saat Maghrib dan Isya …. dst), merupakan amanat Muhammad saw supaya setiap keluarga senantiasa shalat di rumahnya dalam keadaan shalat berjamah yang diimamkan oleh ayah mereka masing-masing. Ketiga Alhadist ini merupakan satu kesatuan untuk meneguhkan konsep bahwa sang ayah haruslah shalat di rumah untuk menjadi imam atas anak dan keluarganya.

Kalau masih ada umat yang terus berfikir bahwa setiap laki-laki harus shalat di Masjid (seperti yang selama ini dijalani umat), maka itu berarti ketiga Alhadist ini (dan banyak Alhadist lainnya) akan diingkari dan dilanggar. Dan pada akhirnya, kita harus sampai pada pemahaman final, bahwa setiap rumah umat harus menjadi tempat shalat berjamaah bagi seluruh anggota keluarganya, khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh, demi untuk mengamalkan seluruh amanat dan Alhadist Nabi. Selama ini umat menjadikan Masjid sebagai tempat untuk aktivitas shalat mereka – dengan meninggalkan kewajiban mereka untuk menjadi imam shalat atas anak dan keluarga. Dan tentunya hal ini adalah salah dan sesat, karena yang jelas, hal tersebut tidak logis dan tidak ada dasarnya menurut tuntunan Islam.

Bagian kedua.

Paparan yang dikemukakan pada rubrik tanya-jawab ini menukilkan suatu Alhadist penting di mana Nabi Muhammad saw memerintahkan setiap keluarga untuk menahan anak-anak mereka di dalam rumah khususnya di saat Maghrib dan Isya. Sebenarnya bunyi dan makna dari Alhadist ini sudah begitu jelas, yaitu bahwa setiap keluarga harus memastikan anak-anak mereka tetap berada di dalam rumah saat Maghrib dan Isya (supaya dengan demikian anak-anak dapat berpartisipasi shalat berjamaah dengan ayah mereka, di rumah). Sungguh sangat tidak dibutuhkan ilmu dan daya imaginasi yang tinggi untuk dapat memahami kandungan dan makna Alhadist ini, dikarenakan bunyi dan susunan kata dari Alhadist ini sendiri sudah begitu jelas.

Kalau Alhadist ini berbunyi bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka dalam rumah pada waktu Maghrib dan Isya, maka tentu makna dan pengamalannya jugalah harus demikian, yaitu pada saat datangnya Maghrib dan Isya, maka setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah, supaya tidak keluar rumah. Tidak mungkin ada makna yang lain lagi setelahnya.

Namun pada rubrik ini beberapa ahli tafsir tampak mencoba memberikan tafsir lain, yang mana tafsir tersebut justru menentang makna dan bunyi dari Alhadist yang ditafsir tersebut. Bagaimana mungkin?

Alhadist yang ingin ditafsir berbunyi: tahanlah anak-anakmu di rumah … dst. Dan ternyata kemudian hasil dari penafsiran tersebut adalah: anak-anak boleh keluar rumah …. Ini sungguh menjadi pertanyaan buat logika sehat.

Sama diketahui, bahwa pesan Muhammad saw adalah bahwa supaya setiap keluarga tidak memperbolehkan anak-anak mereka keluar rumah pada jam-jam Maghrib dan Isya. Namun kemudian mengapa tafsir yang diberikan para ahli atas Alhadist tersebut menjadi berupa penentangan nyata atas Alhadist yang ditafsir?

Apakah suatu Alhadist boleh ditentang melalui / oleh penafsirannya sendiri? Haruslah diperhatikan, bahwa kalau memang Muhammad saw merestui dan membenarkan umatnya untuk membiarkan anak-anak mereka keluar rumah saat Maghrib dan Isya, maka mengapa Nabi Muhammad saw harus menyatakan Alhadist tersebut? Bukankah tanpa adanya Alhadist tersebut, umat pun sudah dengan sendirinya membiarkan anak-anak mereka berkeliaran di luar rumah saat Maghrib dan Isya?

Kalaulah memberi ijin anak-anak untuk keluar rumah pada jam-jam Maghrib dan Isya merupakan kebolehan yang diberikan Nabi Muhammad saw, maka kemudian mengapa Muhammad saw menyatakan Alhadist yang demikian? Bukankah hal tersebut harus terlebih dahulu dijawab oleh para ahli tafsir sebelum mereka mengeluarkan hasil tafsir yang demikian?

Pada akhirnya, seluruh umat Muslim harus mengambil kesimpulan mandiri untuk menanggapi / menyikapi tafsiran yang dibuat para ahli tersebut, yaitu bahwa apa yang mereka fatwakan itu merupakan kesesatan, dan sekaligus merupakan pemelintiran dan penjungkir-balikan pesan dan ajaran Nabi Muhammad saw.

Maka dari itu, umat Muslim harus kembali kepada Alhadist tersebut (yaitu: tahanlah anak-anakmu di rumahmu pada saat Maghrib dan Isya …. ), yang mana itu berarti pada saat-saat tersebut, anak-anak Muslim harus ditahan di dalam rumah, jangan keluar rumah, yang tujuannya adalah supaya mereka berpartisipasi dalam shalat berjamaah yang diimamkan oleh ayah mereka masing-masing.

Kalau Muhammad saw menyatakan melalui Alhadis-nya bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka jangan keluar rumah saat Maghrib dan Isya, maka akuilah, bahwa makna dan kandungan dari Alhadist tersebut pun juga demikian, yaitu bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka jangan keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya. Itu sudah jelas, dan para ahli tafsir jangan lagi mencari-cari penafsiran lain untuk mengingkari atau mengkudeta Alhadist tersebut.

Analogi.

Sila pertama pada Pancasila berbunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Semua bangsa Indonesia sudah faham bahwa makna dan kandungan dari sila tersebut adalah bahwa negara dan bangsa Indonesia hanya mengakui satu Tuhan. Dengan demikian, melalui sila tersebut bangsa Indonesia menolak dengan tegas setiap faham yang mengakui adanya banyak Tuhan.

Namun kemudian, datang sekelompok manusia yang mengaku sebagai ahli tafsir. Mereka melakukan tafsir atas sila pertama tersebut. Hasil dari penafsiran mereka adalah, bahwa melalui sila pertama tersebut, sebenarnya negara dan bangsa Indonesia mengakui adanya TUJUH TUHAN.

Bagaimana mungkin? Sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, ternyata mempunyai tafsir yang justru berlawanan dengan sila yang ditafsir? Apakah mungkin dan masuk akal, bahwa suatu penafsiran berlawanan dengan yang ditafsir?

Kalau memang benar bahwa NKRI mengakui adanya tujuh Tuhan, maka lantas mengapa negara ini harus mempunyai sila tersebut dalam dasar negaranya? Bukankah itu mubazir? Bukankah itu akan menjadi lelucon murahan?

Bagian ketiga.

Artikel ini mengajukan suatu wacana, di mana adanya suatu Alhadist yang mengajarkan bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah saat Maghrib dan Isya. Kemudian disusul dengan mengusung penafsiran dari para ahli bahwa Alhadist tersebut boleh dan sah untuk dilawan, yaitu dengan menggunakan Alhadis lain untuk menggugurkan Alhadis dimaksud. Bagaimana mungkin logika seperti ini dapat diterima?

Kaum Muslim yang mengaku sebagai ahli tafsir (pada rubrik ini) sengaja dan berniat mengingkari makna dan kandungan dari Alhadis ini, dengan menggunakan Alhadis lainnya. Ini berarti, terdapat gejala di mana para ahli mencoba menggunakan satu Alhadis untuk melawan Alhadis lainnya. Maka kemudian, apakah dapat dibenarkan oleh logika, di mana satu Alhadis dapat digunakan untuk melawan Alhadis lainnya?

Pada satu bagian, mereka para ahli tafsir menulis,

“ …….. Tapi telah datang dalil-dalil yang banyak tentang perlindungan dengan dzikir kepada Allah. Di antaranya adalah: perlindungan khusus bagi anak-anak, seperti hadits Ibnu Abbas ra yang berkata:

Dulu Nabi saw melindungi Hasan dan Husain dan berkata: “Sesungguhnya ayah kalian (yaitu Ibrahim as) dulu melindungi Isma’il dan Ishaq dengan doa ini: (yang artinya) “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa dan dari setiap mata pencela” (HR. Al Bukhariy (3371)). ……”.

Keterangan.

Tampak sekali, bahwa pada bagian ini, para ahli mencoba untuk membenturkan antara:

  1. Alhadis bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya.

………………. dengan ……………….

  1. Alhadis Nabi seperti pada HR. Al Bukhariy (3371) di atas.

Bagaimana mungkin Muhammad Saw mengijinkan umat pengikutnya untuk membenturkan antara satu Alhadis dengan Alhadis lainnya, sementara keseluruhan Alhadis tersebut berasal dari diri Nabi Muhammad Saw sendiri? Apakah mungkin Nabi Muhammad Saw mengajarkan begitu banyak Alhadis yang kelak akan saling berbenturan satu dengan yang lainnya?

Pun sama difahami, bahwa makna dari Alhadis No. 3371 ini adalah bahwa doa tersebut untuk melindungi kanak-kanak Ismail dan Ishak (maknanya untuk seluruh anak Muslim di segala jaman secara umum), namun kemudian, untuk melindungi mereka pada saat Maghrib dan Isya, maka caranya adalah dengan tetap berdiam di dalam rumah.

Intinya, kalau di satu pihak Muhammad Saw menyatakan Alhadis No. 3371 Bukhari ini, maka di lain pihak, Alhadis No. 3280 Bukhari merupakan ajaran yang spesifik mengenai perlindungan terhadap Setan untuk anak-anak. Tidak bisa diperbenturkan.

Pada Alhadis No. 3280 Bukhari ini, Muhammad Saw telah memberi ajaran yang spesifik dan matang mengenai perlindungan anak-anak dari Setan (yaitu dengan diam di dalam rumah saat Maghrib dan Isya), maka kemudian mengapa harus dimentahkan lagi dengan menyosorkan Alhadis No. 3371 Bukhari ini? Kedua Alhadis ini bukanlah untuk diperbenturkan (satu dengan yang lainnya), melainkan untuk (saling) mematangkan.

Kalau sudah jelas bahwa anak-anak akan mendapat perlindungan dari Setan dengan cara diam di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya (Alhadis No. 3280 Bukhari), maka kemudian mengapa anak-anak tersebut harus dikeluarkan dari rumah pada saat tersebut supaya terpapar Setan, dan kemudian supaya harus berdoa supaya tidak diganggu Setan (dengan berdasarkan Alhadis No. 3371 Bukhari)? Apakah hal tersebut efisien menurut logika? ***

Kemudian, pada bagian lain, mereka para ahli tafsir menerangkan lebih lanjut,

“ ……….. Dan anak-anak diajari dzikrullah ketika keluar rumah.

Dari Ummu Salamah ra. yang berkata:

Tidak pernah Nabi saw keluar dari rumahku sama sekali kecuali beliau mengangkat pandangan mata beliau ke langit seraya berdoa (yang artinya): “Ya Allah sungguh saya berlindung kepadaMu dari tersesat atau disesatkan orang, tergelincir atau digelincirkan orang, atau menzhalimi atau dizhalimi orang, atau berbuat bodoh, atau ada orang berbuat badah terhadapku” (HR. Abu Dawud (5094) dan At Tirmidziy (3427) / shahih). …..”.

Keterangan.

Dengan demikian, para ahli tafsir ini, ingin membenturkan antara Alhadis No. 3280 Bukhari ini dengan Alhadis No. 5094 Abu Dawud.

Ingatlah, bahwa Alhadis No. 5094 Abu Daud ini merupakan Alhadis yang cakupannya begitu umum, tidak mengenai saat Maghrib – Isya, dan tidak mengenai anak-anak. Setiap saat umat Muslim memang diajarkan dan diwajibkan untuk memanjatkan doa supaya dilindungi dari godaan Setan, namun yang jelas Alhadis No. 3371 Bukhari ini telah mempunyai autoritas dan cakupannya sendiri, yaitu untuk anak-anak dan di saat Maghrib – Isya. Tidak mungkin menurut logika, anak-anak yang sudah terjamin aman dari Setan dengan cara diam di dalam rumah, tiba-tiba harus dikeluarkan dari rumah supaya terpapar Setan, dan kemudian supaya berdoa diselamatkan dari Setan. Hal tersebut sungguh tidak efisien. Kalau jaminan aman sudah ada, maka mengapa harus ambil resiko untuk mencari bahaya lain? ***

Begitu juga dengan Alhadis lainnya yang digunakan para ahli tafsir untuk menjungkirbalikkan Alhadis bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya.

Pada dasarnya, kalau memang benar bahwa anak-anak boleh keluar rumah saat Maghrib dan Isya – berdasarkan beberapa Alhadis ini:

  1. Dulu Nabi saw melindungi Hasan dan Husain dan berkata: “Sesungguhnya ayah kalian (yaitu Ibrahim as) dulu melindungi Isma’il dan Ishaq dengan doa ini: (yang artinya) “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa dan dari setiap mata pencela” (HR. Al Bukhariy (3371)).
  2. Tidak pernah Nabi saw keluar dari rumahku sama sekali kecuali beliau mengangkat pandangan mata beliau ke langit seraya berdoa (yang artinya): “Ya Allah sungguh saya berlindung kepadaMu dari tersesat atau disesatkan orang, tergelincir atau digelincirkan orang, atau menzhalimi atau dizhalimi orang, atau berbuat bodoh, atau ada orang berbuat badah terhadapku” (HR. Abu Dawud (5094) dan At Tirmidziy (3427) / shahih).
  3. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa ketika keluar rumah dia berkata: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal pada Allah. Dan tiada upaya dan tiada daya kecuali dengan pertolongan Allah”. Dikatakan padanya: “Engkau telah dicukupi, dan engkau telah dilindungi”. Dan setan menyingkir darinya” (HR. At Tirmidziy (3426)).
  4. “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa singgah di suatu per-singgahan lalu dia berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan” (HR. Muslim (2708).
  5. Ada orang datang pada Nabi saw seraya berkata: “Wahai Rasulullah, alangkah menyakitkannya apa yang saya dapati dari kalajengking yang menyengat saya tadi malam”. Maka beliau bersabda: “Adapun andaikata engkau ketika masuk di waktu sore berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan”.  Niscaya dia tak akan membahayakanmu” (HR. Muslim (2709)).

…… maka kemudian mengapa Muhammad Saw pada saat yang lain harus menyatakan Alhadis yang ini:

Maka tahanlah anak-anak kalian, dan tahan juga ternak-ternak kalian sampai hilangnya awal kegelapan Isya”. Hadits riwayat Al Bukhariy (3280) dan Muslim (2012) [dari Jabir ra].

Kalau dicermati dengan baik, sebenarnya Nabi Muhammad Saw tidak perlu mengemukakan Alhadis seperti yang dicatat pada Bukhari No. 3280 ini, karena keselamatan dan keamanan anak-anak dari godaan Setan sudah terjamin melalui Alhadis No. 1 sd No. 5 di atas. Artinya, kalau keselamatan dan keamanan anak-anak sudah terjamin dengan doa, seperti yang dilukiskan melalui Alhadis dari No. 1 sd No. 5 ini, maka Alhadis No. 3280 Bukhari sudah tidak diperlukan lagi. Dan itu artinya, setiap anak-anak boleh dan sah untuk keluar rumah di saat Maghrib dan Isya. Itu jelas.

Namun faktanya, Muhammad Saw telah mengajarkan dan menyatakan Alhadis-nya seperti yang dicatat dengan No. 3280 Bukhari, kendati sudah ada Alhadis lain seperti yang dinomorkan No. 1 sd No. 5 di atas. Ini berarti, Muhammad Saw mengajarkan harus adanya perlakuan berbeda untuk anak-anak pada saat Maghrib dan Isya. … yaitu bahwa setiap anak-anak tidak boleh keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya. Dan ini tidak ada hubungannya dengan titah Nabi Muhammad Saw mengenai doa dan dzikir untuk menjauhkan diri dari gangguan Setan.

Nabi Muhammad Saw tidak pernah memberi peluang dan kemungkinan kepada umatnya untuk dapat mengakali mau pun melawan Alhadis Bukhari 3280 ini (juga Alhadis lainnya). Kalau Muhammad Saw memberi peluang dan idea kepada umatnya untuk melawan Alhadistnya ini, maka buat apa Muhammad Saw menyatakan Alhadis tersebut pada saat pertama? Bukankah itu mubazir?

Alhadis No. 3280 Bukhari ini melukiskan adanya jaminan keamanan dan keselamatan untuk anak-anak dari gangguan Setan, selama mereka tetap berada di dalam rumah, pada saat Maghrib dan Isya. Maka kemudian mengapa ada sebagian Muslim yang berkeinginan supaya anak-anak dibolehkan keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya, sehingga dengan demikian anak-anak akan terpapar Setan, dan kemudian supaya anak-anak berdoa terhadap gangguan Setan? Bukankah jaminan keselamatan dan keamaan dari gangguan Setan sudah ada dan terjamin di dalam rumah?

Bagian keempat.

Pada saat pertama Nabi Muhammad Saw bersabda, “Tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya …… dst”. Alhadis ini mengajarkan umat Muslim supaya melarang anak-anak mereka keluar rumah pada saat tersebut, supaya mereka justru dapat berpartisipasi di dalam shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah mereka.

Namun pada saat kemudian, beberapa ahli tafsir memfatwakan, bahwa Alhadis Nabi ini dapat dilawan, dapat dilanggar, dapat diakali, dengan menggunakan Alhadis lainnya, yaitu seperti Alhadis membaca doa dan dzikir saat keluar rumah supaya terbebas dari fitnah Setan dan Iblis.

Benarkah demikian?

Sudah jelas Alhadis Nabi saw, bahwa setiap keluarga harus melarang anak-anak mereka keluar rumah saat Maghrib dan Isya, dan perbuatan yang melanggar ajaran tersebut pastilah akan dikatakan sebagai perbuatan yang haram dan nista, karena telah mendurhakai titah Nabi Muhammad Saw.

Dan sekarang ada pertanyaan, dapatkah para ahli fatwa dibenarkan dengan tindakan mereka, yaitu menggunakan satu Alhadis untuk melawan Alhadis lainnya? Dan dapatkah dibenarkan, bahwa suatu perbuatan yang jelas-jelas diharamkan menurut suatu Alhadis, dapat DIHALALKAN dengan memperbanyak doa dan dzikir?

Mudahnya begini.

Jelas sekali Islam mengharamkan umatnya berzina: terdapat banyak Alhadis yang mengutuk zina. Namun kemudian apakah akhirnya berzina dapat dibenarkan dengan cara / melalui memperbanyak doa, membaca Alquran, shalat sunnah, dan dzikir?

Jelas sekali Islam mengharamkan umatnya meminum arak. Namun kemudian apakah akhirnya meminum arak dapat dibenarkan dengan cara / melalui memperbanyak doa, membaca Alquran, shalat sunnah, dan dzikir?

Tidak perlu dijabarkan, bahwa doa, shalawat, mengaji, berdzikir dsb tidak pernah dimaksudkan untuk tujuan menghalalkan kemaksiatan, untuk menentang ajaran Nabi Muhammad Saw sendiri. Kalau sudah jelas bahwa berzina, meminum arak, berjudi, perbuatan syirik dsb merupakan perbuatan maksiat yang terlarang dan dikutuk Nabi Muhammad Saw, maka itu berarti tidak ada satu amalan pun (seperti doa, shalawat, mengaji, berdzikir dsb) yang dapat menghalalkannya.

Kalau ada sebagian ahli tafsir berpendapat ajaran Muhammad Saw menahan anak-anak di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya BOLEH DITENTANG dengan cara memperbanyak doa dan dzikir, maka mau-tidak-mau implementasinya adalah, pengharaman atas berzina, meminum arak, makan daging babi dan kemaksiatan lainnya pun juga dapat dihalalkan dengan memperbanyak doa, dzikir, shalat sunnah, mengaji dsb. Apakah itu mungkin?

Sampai di sini pun sudah jelas, bahwa titah Nabi Muhammad Saw mengenai perintah untuk menahan anak-anak di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya, tidak dapat dijungkirbalikkan sehingga menjadi membolehkan anak-anak keluar rumah, dengan cara memperbanyak doa mau pun zikir. Demikianlah logika bertitah.

Bagian kelima.

Tampaknya para ahli tafsir mempunyai kecenderungan kuat untuk memberikan tafsir / fatwa bahwa anak-anak diperbolehkan keluar rumah saat Maghrib dan Isya, khususnya untuk tujuan menghadiri shalat berjamaah di Masjid, kendati tuntunan dari Muhammad Saw sudah jelas di dalam hal ini, yaitu bahwa setiap anak dilarang keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya, UNTUK TUJUAN APAPUN …. termasuk untuk tujuan shalat berjamaah di Masjid.

Anak-anak jangan keluar rumah saat Maghrib dan IsyaPara ahli tampaknya sudah terlanjur terkooptasi dan terkonsumsi oleh PRA-PERSEPSI oleh suatu faham, yaitu bahwa shalat yang baik dan ideal haruslah ditunaikan di Masjid, bukan di rumah. Inilah kesalahan awal yang diderita para ahli – saat mereka menafsirkan Alhadis “tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya ...” ini.

Dikarenakan mereka terkooptasi oleh pemikiran bahwa shalat yang ideal haruslah ditunaikan di dalam Masjid, maka hal tersebut mengakibatkan mereka berbenturan dengan Alhadis Nabi ini, yaitu “tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya ...” ini. Mereka melihat adanya kontradiksi, antara shalat yang ideal (yaitu ditunaikan di Masjid, menurut fikiran mereka), dengan titah Nabi bahwa anak-anak harus dilarang keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya.

Oleh karena itu, untuk ‘mengakali’ titah dari Alhadis tersebut, akhirnya mereka mencari-cari dalih dan dalil untuk melawan Alhadis Nabi tersebut (padahal saat Maghrib dan Isya setiap anak-anak harus dicegah keluar rumah), demi untuk bisa shalat di Masjid. Padahal tidak ada ketentuan dan keharusan bagi setiap Muslim untuk shalat di Masjid, baik untuk para dewasa mau pun anak-anak. Hasilnya, lahirlah beberapa statement dan fatwa dari kalangan mereka, yaitu bahwa anak-anak DIBOLEHKAN keluar rumah saat Maghrib dan Isya, dengan cara mereka harus perbanyak membaca doa dan dzikir.

Umat Muslim, khususnya para ahli tafsir, justru seharusnya melihat, bahwa Alhadis Nabi ini (tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya …) merupakan sinyal bahwa yang dikehendaki oleh Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw mengenai pengamalan shalat adalah, bahwa shalat haruslah ditunaikan di rumah, bukan di Masjid.

Pentup.

Sama diketahui bahwa tidak ada satu pun tuntunan, khususnya berupa Alhadis, yang menekankan bahwa shalat seharusnya (dan sebaiknya) ditunaikan di Masjid. Kebalikannya, terdapat banyak Alhadis yang menyatakan bahwa shalat sebaiknya ditunaikan di rumah, apalagi ditunaikan bersama anak-anak dan keluarga, di dalam apa yang dinamakan dengan shalat berjamaah. Namun melihat begitu banyak umat mau pun ulama yang mempunyai ‘firasat’ alias terkooptasi oleh tradisi shalat terbaik haruslah ditunaikan di Masjid, tentu menjadi perkara lain – yang tidak ada hubungannya dengan tuntunan Nabi Muhammad Saw.

Dan kemudian, Alhadis ini, tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya, merupakan salah satu Alhadis yang meneguhkan ajaran Islam, bahwa shalat idealnya harus ditunaikan di rumah, bersama antara ayah / suami sebagai Imam, dengan anak-anak dan keluarga sebagai makmum shalat.

Tidak pelak lagi, Alhadis ini merupakan petunjuk bahwa shalat harus ditunaikan di rumah, bagi anak-anak. Dan kemudian bagi para orang dewasa (khususnya para ayah dan suami / datuk / paman dsb), shalat pun juga harus di rumah, untuk menjadi Imam atas anak-anak dan keluarga, karena memang sudah ada Alhadisnya untuk itu, yaitu,

  1. Setiap kamu adalah Imam / pemimpin atas anak-anak dan keluarga kamu.
  2. Terangilah rumah-rumah kalian dengan shalat dan mengaji.
  3. Aku (Muhammad saw) hanya mementingkan perjalanan ke tiga tempat ini, yaitu Masjid Haram di Mekah, Mesjidku ini Nabawi, dan Masjid Aqsa di Jerusalem. Makna dari Alhadis ini adalah, bahwa selain dari ketiga Masjid tersebut, adalah tidak mempunyai keutamaan dan fadilah untuk dishalati. Artinya, setiap umat haruslah shalat di rumah, bukan di Masjid, untuk supaya menjadi Imam atas anak-anak dan keluarganya.

Kesimpulan.

Adanya tafsir sementara para ahli, yang memelintir Alhadis Nabi Muhammad Saw “tahanlah anak-anak kalian di rumah pada saat Maghrib dan Isya”, benar-benar harus dijauhi dan dihindari dari kehidupan ini. Semua implementasi yang diberikan kepada tafsir ini pasti mendatangkan dosa di sisi Allah Swt.

Alhadis tersebut, pasti mau-tidak-mau berarti bahwa setiap keluarga harus melarang anak-anak mereka keluar rumah, maka impementasinya jugalah demikian. Bukan sebaliknya, yaitu MEMBOLEHKAN anak-anak keluar rumah, dengan menggunakan berbagai macam dalih dan teori yang dipaksakan.

Kembalikanlah bunyi Alhadis tersebut kepada diri Nabi Muhammad Saw, bukan kepada kehendak dan prasangka para ahli tafsir. Ingatlah, bahwa para ahli tafsir adalah manusia juga adanya, mereka bukanlah para Nabi, dan mereka bukanlah para Malaikat.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s