Tips Membuat Artikel Di Internet

artikel-internetInternet telah menjadi gaya hidup sebagian besar warga kota dunia. Ketika seseorang membuka internet, banyak artikel yang bisa mereka peroleh untuk memperluas wawasan pemahaman mereka. Dan dari sekedar menemukan artikel kemudian membacanya, banyak para netizen yang beralih dan tertarik untuk menulis artikel juga untuk mengungkapkan isi fikirannya.

Sekarang ini internet telah menyediakan berbagai channel untuk mengungkapkan isi fikiran mereka, mulai dari sekedar ‘say hello’, memberikan komentar, dan pada akhirnya membuat ungkapan yang panjangnya beberapa paragraf. Blogsite gratis telah memungkinkan setiap netizen mengunggah artikel tulisan mereka ke internet, sehingga dapat ditemukan dan kemudian dibaca oleh banyak netizen lainnya.

Adakalanya, artikel yang diunggah ke internet, hadir di dalam kekacauan, baik di dalam penulisan, susunan, urutan, maupun juga gaya bahasa. Artikel seperti ini mau-tidak-mau membuat netizen yang membacanya harus berusaha lebih keras lagi saat membaca artikel tersebut untuk dapat memahami kandungan dari artikel dimaksud. Di bawah ini akan disajikan beberapa panduan yang mungkin dapat dicoba saat membuat / menulis artikel, untuk memudahkan menulis artikel.

Pertama. Berapa jumlah halamannya?

Jumlah halaman, usahakan jumlah halaman untuk setiap artikel yang akan ditayangkan di internet, dibatasi. Minimal 2 halaman Msword, idealnya adalah 6 halaman Msword, dan paling mentok adalah 10 halaman Msword.

Kalau anda membuat sebuah artikel di Msword, dan ternyata halamannya melebihi 10 halaman, maka pecah-pecahlah artikel tersebut sehingga didapat jumlah halaman ideal, yaitu sekitar 6 halaman per artikel. Dan kalau satu artikel tersebut dipecah-pecah, maka judulnya pun harus menyebutkan kata seperti ‘Bag 1’, ‘Bag 2’ dan seterusnya. Hal ini akan membuat pembaca betah untuk membacanya sampai tamat.

Hindari penulisan artikel yang panjangnya hanya satu halaman Msword. Oleh karena itu, suatu artikel minimal panjangnya dua halaman Msword. Intinya, satu halaman adalah ‘kesedikitan’ untuk pembaca, dan lebih dari sepuluh halaman Msword adalah ‘kebanyakan’ buat pembaca.

Kedua. Paragraf yang baik harus seperti apa?

Di dalam penulisan, hindari paragraf yang kelewat panjang. Patut untuk diingat bahwa paragraf yang kelewat panjang akan membuat pembaca sudah merasa pusing dan mumet duluan sebelum membacanya. Kebalikannya, kalau suatu artikel terdiri dari paragraf yang singkat, maka pembaca akan melihat bahwa artikel tersebut menarik untuk dibaca, serasa ringan untuk dibaca. Pembaca akan betah untuk membaca artikel tersebut sampai tamat. Paragraf sebaiknya hanya terdiri dari 5 sampai 6 baris.

Ketiga. Tata-cara membuat judul artikel.

Di dalam hal penulisan judul, hindari kalimat judul yang panjang. Usahakan judulnya paling banyak 7 kata, tidak perduli perkatanya panjang-panjang. Banyak dijumpai judul suatu artikel di internet begitu panjang hingga mencapai dua atau tiga baris. Itu adalah suatu bencana!

Hindari juga penggunaan tanda baca pada kalimat judul, seperti tanda-tanya, tanda-seru, titik-koma, dsb. Tidak dianjurkan menulis judul dengan menggunakan huruf besar / kapital. Ada lagi: judul adalah kalimat yang tidak diakhiri sebuah titik.

Empat. Bahasa apa yang paling baik untuk artikel?

Penggunaan bahasa juga harus diperhatikan. Gunakanlah bahasa yang formal namun santai, sehingga terkesan ringan dan bersahabat. Hindari penggunaan bahasa gaul, lucu-lucuan, dan terkesan sok-akrab. Pembaca menginginkan bahasa penyampaian yang netral / fair, ini artinya bahasa yang digunakan haruslah bahasa formal.

Banyak-banyaklah membaca artikel lain, apakah artikel yang dibuat oleh penulis dalam negeri, maupun penulis luar negeri (yang telah diterjemahkan). Semakin banyak membaca artikel orang lain, maka semakin banyaklah referensi di dalam hal menulis artikel, dan itu akan membantu penulis untuk menemukan gaya bahasanya sendiri di dalam menulis artikel, supaya lebih berkarakter.

Ingatlah, bahwa cara mencurahkan suatu fikiran ke dalam baris kata dan kalimat, bukanlah perkara sepele. Butuh masukan beragam supaya dapat mengetahui bahwa kebanyakan penulis mencurahkan fikiran dengan cara yang unik, diplomatis dan mendalam. Kalau seseorang membaca banyak artikel orang lain, pasti ia akan melihat bahwa ternyata ada ‘politik kata-kata’ untuk menyatakan suatu ide, hal mana itu membuat artikelnya jadi menarik. Dan hal tersebut hanya dapat diketahui melalui banyak membaca artikel orang lain.

Bagaimana mungkin seseorang ingin menulis artikel, dan mengharap artikelnya mengkilap, kalau ia saja tidak pernah membaca artikel orang lain yang telah mapan?

Lima. Bagaimana dengan subjudul?

Usahakan memecah-mecah artikel ke dalam beberapa subjudul. Hal ini akan membuat pembaca merasa ringan saat membaca, dan membuat keinginan membaca dari pembaca lebih tinggi. Satu subjudul mengandung satu isi fikiran / ide. Dengan adanya subjudul, pembaca jadi terangsang untuk tahu kandungan pada teks di bawah subjudul tersebut. Subjudul ini haruslah diketik menggunakan huruf tebal, alias bold. Satu lagi, jangan menulis subjudul dengan menggunakan huruf besar / kapital.

Masalah huruf besar. Kadang dijumpai suatu portal / website yang kolom koment-nya tidak menyediakan fasilitas untuk menebalkan subjudul. Baiklah, untuk kasus seperti ini maka satu-satunya solusi adalah menulis subjudul dengan menggunakan huruf besar pada semua hurufnya.

Enam. Formatting text diperlukan?

Hindari menggunakan huruf tebal / bold (kecuali untuk menebalkan subjudul). Beberapa penulis menebalkan huruf beberapa kata untuk menekankan maksud dari suatu kalimat. Hal ini sepatutnya dihindari di dalam penulisan artikel yang baik. Menekankan maksud dari suatu kalimat / paragraf, maka itu adalah inisiatif pembaca, dan biarlah pembaca sendiri yang me-‘raise’ penekanan suatu maksud yang terkandung di dalam suatu paragraf / kalimat. Kalau suatu artikel mengandung banyak huruf tebal, maka artikel akan terlihat ‘blepotan sana-sini’.

Tujuh. Artikel anda untuk siapa?

Artikel yang akan ditayangkan di internet, berarti artikel tersebut ditujukan untuk kalangan umum, bukan segmented. Maka hindari artikel yang terkesan berat dan ilmiah. Triknya adalah, kalau memang harus menyajikan tabel, maka minimalisir-lah jumlah tabelnya, jangan banyak-banyak. Untuk suatu topik, tabel mungkin membantu untuk memudahkan pemahaman, namun usahakan tabel tersebut ringan, dan janganlah tabel tersebut ditampilkan ‘apa adanya’.

Kalau suatu topik memang mengharuskan adanya tabel, maka terlebih dahulu ‘remake’-lah tabel tersebut, supaya ada data yang bisa dihilangkan, sehingga data yang dihadirkan pada tabel merupakan data yang diperlukan saja untuk kalangan umum.

Kalau tabel yang ingin dikemukakan terlalu panjang, maka pecah-pecahlah tabel menjadi beberapa bagian, guna membuat artikel tampak ringan dan renyah sehingga pembaca betah untuk melahapnya bagian per bagian. Pecahlah tabel berdasarkan jenis datanya. Tabel yang memuat database terlalu panjang, jelaslah membuat pembaca mumet duluan. Pun, tabel yang terlalu panjang, membuat pembaca merasa bahwa data yang disajikan tidak penting untuk diikuti. Sebaliknya, tabel yang dipecah-pecah, pembaca pun akan senang hati mengikutinya, terlepas apakah datanya penting atau tidak. Itulah gunanya memecah-mecah tabel.

Setelah tabel dipecah-pecah, maka kemudian sajikanlah dengan caption atau subjudul masing-masing: satu tabel satu subjudul / caption.

Delapan. Apa kabar dengan gambar artikel?

Akan lebih baik kalau artikel dilengkapi gambar, dan usahakan gambar tersebut adalah full-color, karena kehadiran gambar akan membuat artikel menjadi lebih ringan dan santai untuk dibaca. Bayangkan sebuah artikel yang tidak dilengkapi gambar, suatu hal yang akan membuat artikel terlihat berat, sehingga pembaca sudah mumet duluan sebelum membacanya.

Sembilan. Bolehkan artikel ‘bertanya’ kepada pembaca?

Ya, boleh. Adanya kalimat tanya di dalam suatu artikel, justru membuat artikel terkesan ringan. Kebalikannya, suatu artikel yang tidak mengandung pertanyaan akan terkesan begitu berat, terlalu ilmiah, kaku, dan tidak hidup.

Sebaiknya, untuk membuat artikel menjadi menarik dan terkesan renyah, maka hadirkanlah kalimat tanya, satu, dua, lima atau tujuh. Dengan adanya pertanyaan lengkap dengan tanda-tanya-nya, pembaca merasa seolah diajak berkomunikasi langsung dengan sang penulis. Tentunya ini sangat baik.

Pada point ketujuh di atas, dipaparkan bahwa kesan artikel berat dan ilmiah, harus dihindari. Cara yang lebih mudah untuk menghindari hal tersebut adalah, menghadirkan kalimat-kalimat bergaya pertanyaan ini.

Sepuluh. Ke bawah atau ke samping.

Kalau suatu artikel mengandung data berurut, usahakan data tersebut disusun ke bawah. Hal ini dapat membuat pembaca semakin mudah melihat data apa saja yang disajikan, ketimbang data berurut dipaparkan secara biasa. Contoh, “Negara Indonesia mempunyai lima pulau besar, yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua”. Data berurut ini sebaiknya disusun ke bawah, sehingga menjadi seperti ini,

Negara Indonesia mempunyai lima pulau besar, yaitu,

–    Sumatera.
–    Jawa.
–    Kalimantan.
–    Sulawesi.
–    Papua.

Sebelas. Jangan yang ini.

Beberapa hal di bawah ini harus dihindari di dalam penulisan artikel.

  • Artikel yang keseluruhan atau sebagian teksnya ditulis menggunakan huruf besar / kapital. Perhatikanlah, bahwa huruf besar sama sekali tidak mempunyai tempat di dalam artikel. Huruf besar hanya digunakan di dalam pembuatan banner. Ya, banner adalah pesan (pendek) yang keseluruhan hurufnya adalah huruf besar, alias kapital.
  • Artikel yang keseluruhan atau sebagian teksnya ditulis dengan menggunakan huruf miring / italik. Biasanya, huruf miring hanya cocok untuk penulisan bait-bait syair, atau lagu. Fungsi huruf miring adalah untuk romantisasi tulisan.
  • Artikel yang mengandung banyak teks yang ditulis dengan huruf tebal / bold.
  • Adakalanya suatu artikel menyajikan petikan kalimat, seperti kalimat ayat suci, petikan Alhadis, petikan kalimat filsafat, petikan kalimat tokoh terkenal, dsb. Adalah baik kalau petikan tersebut disajikan di dalam paragraf tersendiri dan ditulis dengan menggunakan huruf miring. Sungguh pun demikian, tidak masalah kalau petikan tersebut tidak disajikan dengan menggunakan huruf miring, cukup dengan memberikan tanda-kutip-ganda di awal dan di akhir kutipan.
  • Artikel yang view-nya terlihat seperti novel, yaitu terdiri dari begitu banyak petikan kalimat pendek tersusun ke bawah, seolah sedang memaparkan percakapan dua orang. Artikel adalah artikel, bukan novel.

Duabelas. Review berulang-ulang.

Ketika seseorang telah selesai menulis artikelnya (atau teks sanggahan maupun komentar), maka hal berikutnya yang akan ia lakukan adalah langsung mengunggahnya ke internet. Itu sebenarnya terlalu cepat.

Seorang siswa yang sudah selesai mengerjakan seluruh soal ujian, apakah ia langsung menyerahkannya kepada guru / dosen pengawas? Pada kenyataannya, seorang siswa pasti akan me-review terlebih dahulu seluruh hasil pekerjaannya -sebelum ia menyerahkan lembar soal dan jawaban kepada guru. Itulah yang tepat!

Harus ada jeda tiga hari, antara waktu diselesaikannya artikelnya, dengan waktu untuk mengunggahnya ke internet. Dan jeda tiga hari itu harus digunakan untuk me-review artikel hasil tulisannya, satu hari usahakan terjadi 50 kali overall-review!

Setiap kali me-review artikel, pasti penulis secara tidak disadari akan menemukan kesalahan demi kesalahan, dan akibatnya penulis akan melakukan perbaikan demi perbaikan …… tentunya itu sangat baik.

Ketahuilah, bahwa bahasa tulisan jauh berbeda dengan bahasa lisan. Bahasa lisan tidak membutuhkan struktur, apakah struktur bahasa, kosakata, struktur point, struktur penekanan, dsb. Di dalam bahasa lisan, struktur tidaklah penting, karena yang terpenting adalah maksud dari pembicaraan dapat sampai kepada lawan bicara. Bahasa tulisan di lain pihak, sangat tergantung pada aneka struktur tersebut. Oleh karena itu, kalau gaya bahasa lisan dituangkan ‘begitu saja’ ke dalam tulisan artikel, maka yang didapat adalah malapetaka bagi pembaca.

Di sini jelaslah, bahasa apa pun yang kita tulis, pasti akan terbaca aneh kalau dibaca lagi pada saat yang lain. Ini mengakibatkan akan terjadi perbaikan saat pembacaan ulang / review, supaya pada akhirnya bahasa artikel tersebut menjadi terstruktur, lebih fair dan manusiawi. Itulah gunanya review.

Tigabelas.

Akhiri artikel dengan subjudul ‘Penutup’. Subjudul ini berisi intisari dari kandungan yang dipaparkan artikel, sehingga pembaca merasa semakin dimudahkan di dalam memahami kandungan artikel, dan sekaligus ‘taktik’ supaya pembaca menyetujui maksud dan kandungan dari artikel. Subjudul ‘Penutup’ dapat saling menggantikan dengan subjudul ‘Kesimpulan’. Namun adakalanya juga, satu artikel mengandung subjudul ‘Kesimpulan’ dan ‘Penutup’, masing-masing dengan muatan yang berbeda.

Penutup.

Di dalam hal membuat artikel, apalagi yang akan diunggah di internet, berlaku juga hukum keabadian intan: “walau pun terkubur di dalam lumpur, toh intan akan bersinar juga”. Artikel yang baik akan banyak memperoleh simpati dari para pembaca, dan artikel yang buruk akan banyak ditinggalkan oleh netizen.

Namun, keseluruhan artikel tersebut, diusahakanlah menerapkan kaidah-kaidah artikel yang baik seperti yang telah dipaparkan di atas.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s