Oh Televisi Oh Tahajjud

tvvvvvv

Televisi  sudah menjadi kebutuhan primer umat manusia di belahan dunia mana pun. Tanpa pikir panjang, semua orang pasti butuh televisi, dan pasti akan berkata bahwa televisi  membawa kebaikan dan manfaat bagi siapa pun. Mereka berkata, apa jadinya kalau hidup tidak dilengkapi televisi.

Sangat sedikit orang yang memahami, bahwa sebenarnya tanpa televisi pun hidup dapat berjalan dengan normal tanpa kekurangan apa pun. Mungkin seseorang akan berkata bahwa televisi adalah hiburan, namun bukankah manusia itu sendiri hanya butuh keheningan dan ketenangan untuk menyegarkan seluruh urat dan syarafnya? Jadi, sebenarnya manusia tidak butuh hiburan, yang dibutuhkan manusia justru keheningan dan kesahajaan. Dan itu tanpa televisi!

Lihatlah kepada sekelompok anak muda yang berkemah di tengah bentangan Alam. Mereka menikmati kesunyian dan keheningan Alam, dan itu mereka nikmati tanpa kehadiran televisi. Bahkan sebenarnya mereka pergi ke Alam Semesta untuk menikmati keheningan adalah demi dapat menghindari televisi!! Dari sini jelaslah sudah bahwa televisi bukanlah keharusan, bahkan ketiadaan televisi dapat membawa kenikmatan tersendiri.

Mari melihat ke masa lampau. Ketika itu kehidupan tidak dilengkapi televisi. Jangankan televisi, listrik saja tidak ada. Namun justru masa lampau telah berhasil melahirkan Candi Borobudur nan megah. Bahkan tanpa televisi, umat manusia berhasil menemukan benua baru. Jadi sebenarnya di mana posisi televisi? Kalau saja manusia mau memahami, maka sebenarnya siapa saja akan dengan mudah dapat mengesampingkan televisi, dan lebih mengutamakan keheningan dan kedamaian, karena hanya itulah yang dibutuhkan psikologi manusia.

Namun ada satu hal yang mungkin patut untuk direnungkan terkait keberadaan televisi ini. Kalau seseorang mematikan pesawat televisi pada pukul 9 malam dan kemudian pergi tidur, pasti orang itu akan mudah terbangun tengah malam untuk menunaikan salat tahajjud, dan setelah tahajjud pasti orang itu akan tergerak untuk berzikir dan mengaji. Jadi adalah jauh lebih bermanfaat kalau televisi dimatikan lebih awal menjelang tidur.

Namun kebalikannya, kalau seseorang ngotot untuk mempertahankan menonton televisi hingga larut malam demi bisa menonton acara semisal film maupun berita dari aneka channel, maka pasti orang tersebut tidak akan dapat terbangun di tengah malam untuk salat tahajjud (dan ibadah malam lainnya), karena jam tidur nya sudah digerogoti oleh kegiatan nonton berkepanjangan. Di lain pihak pun, menonton televisi hingga larut malam juga tidak ada faedahnya sama sekali buat orang itu, padahal otot dan syaraf mata nya pun menjadi lelah dan letih. Akhirnya, ibadah malam ia keteteran, pun kesehatan fisik dan psikologi nya juga keteteran. Itulah segi racun nya televisi. Namun siapakah yang menyadari aspek toxicitas dari televisi ini?

Seluruh umat faham bahwa salat tahajjud merupakan ibadah emas di segala jaman. Siapa pun pasti ingin salat tahajjud, ingin sekali ….. namun masalahnya bukan pada salat  tahajjud nya, melainkan pada kemampuan untuk terbangun di malam hari untuk salat tahajjud. Hal tersebut disebabkan bukan karena lemahnya Iman, melainkan keberadaan televisi telah membuat jam tidur tergerus dan terserobot oleh keasyikan menonton televisi hingga berjam-jam.

Pada masa lampau, salat tahajjud ditunaikan oleh banyak umat Muslim. Mengapa? Karena pada saat itu belum ada televisi, yang mana hal tersebut membuat setiap insan pergi tidur lebih awal. Tidak ada televisi, artinya pergi tidurnya menjadi selalu lebih awal. Dan kalau pergi tidur lebih awal, maka itu adalah jaminan bahwa kelak nanti tengah malam akan mudah terbangun untuk tahajjud, karena jatah tubuh untuk istirahat sudah terpenuhi. Ah alangkah enaknya hidup ketika jaman belum mengenal televisi!!!

Sulit juga untuk mendeklarasikan gerakan “Matikan Tv Jam 9 Malam Dan Langsung Pergi Tidur”, alias “MTvJ9MDLPT” supaya menjadi gerakan bangsa demi tercapainya pemenuhan jatah istirahat tubuh baik secara fisik maupun psikis, dan sekaligus demi tertunaikannya salat tahajjud berkampung-kampung. Hal tersebut pasti sulit, sesulit mengenyampingkan televisi dari kehidupan umat manusia.

Sebagai perbandingan dan perenungan, mengapa Sultan Muhammad Al Fatih berhasil menaklukan Konstantinopel, dan sekaligus menjadi penggenapan dari hadits Nabi Muhammad bahwa kelak umat Muslim akan menaklukkan kota agung tersebut di bawah kepemipinannya?

“Konstantinopel akan ditaklukkan oleh Islam. Pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan (Nabi Muhammad SAW)”.

Jawabannya adalah jelas, bahwa karena baik Sultan Muhammad Alfatih mau pun seluruh tentaranya tidak pernah meninggalkan shalat sunnah tahajjud ini. Tertulis demikian,

Diceritakan bahwa tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib sejak baligh & separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajjud sejak baligh. Hanya Sulthan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan solat wajib, tahajud & rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya”.

Ini menunjukkan keagungan dan kesaktian dari shalat sunnah tahajjud, sehingga kalau shalat sunnah ini diamalkan secara berkampung-kampung secara konstan, maka kemenangan Allah swt pasti akan turun ke atas kampung tersebut. Kisah Sultan Muhammad Alfatih beserta bala tentaranya yang menaklukkan Konstantinopel adalah bukti akan kegemilangan dan kesaktian shalat sunnah tahajjud. Singkatnya, satu-satunya alasan mengapa Sultan Muhammad Alfatih beserta tentaranya berhasil menaklukkan Konstantinopel, adalah karena sang sultan beserta tentaranya unggul dalam menunaikan shalat sunnah tahajjud.

Ketika Nabi Muhammad saw menyatakan dalam hadistnya bahwa pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara, maka itu artinya Nabi Muhammad saw merujuk kepada tradisi shalat sunnah tahajjud yang selalu ditunaikan sang Sultan beserta bala tentaranya. Jadi, mengapa Nabi Muhammad saw mengatakan bahwa pemimpin dan balatentaranya merupakan yang terbaik? Jawabannya adalah karena sang pemimpin dan balatentaranya selalu shalat sunnah tahajjud! Dan shalat sunnah tahajjud-lah yang membawa kemenangan Allah swt kepada Sultan Muhammad Alfatih beserta tentaranya.

Artinya, adalah rugi besar kalau umat berkampung-kampung sampai meninggalkan amalan shalat sunnah  tahajjud. Namun faktanya, umat Muslim pun jadi menelantarkan dan meninggalkan tradisi shalat sunnah tahajjud berkampung-kampung ini, dan itu hanya karena adanya pesawat televisi dengan berbagai acaranya yang sebenarnya tidak berfaedah sama sekali. Buktinya pun jelas, kekalahan demi kekalahan harus diderita umat Muslim di berbagai penjuru dunia. Jelas, itu semua karena ditinggalkannya shalat sunnah tahajjud, dan itu karena benda yang bernama televisi.

Bagaimana kemenangan Allah swt akan turun kepada umat Muslim, sementara umat Muslim saja tidak mempunyai tekad untuk menunaikan shalat sunnah tahajjud berkampung-kampung? Itu semua karena televisi.

Jadi, singkat kata, televisi sama sekali tidak ada manfaatnya, atau setidaknya lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Dan pada segi ibadah, televisi merupakan musuh bebuyutan-nya salat tahajjud: karena televisi-lah, salat tahajjud menjadi terpinggirkan. Namun yang lebih mendasar adalah, sangat sedikit orang yang menyadari hal tersebut.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s