Aksara Jiwa

Seorang Hamba Versus Allah Swt

menangis

Suatu hari Rasulullah Muhammad SAW sedang tawaf di Kabah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”.

Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”.

Orang itu berhenti di satu sudut Kabah dan menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”. Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”.

Orang itu berasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah dilihatnya.

Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang Badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah”.

Mendengar kata-kata orang Badui itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”.

“Belum,” jawab orang itu.

“Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?”, tanya Rasulullah SAW.

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan kerasulannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya”, jawab orang Arab Badui itu.

Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat”.

Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?”. “Ya”, jawab Nabi SAW.

Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua kaki Rasulullah SAW.

Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab Badui itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur, yang minta dihormati, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

Ketika itulah turun Malaikat Jibril as untuk membawa berita dari langit, lalu berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar”.

Setelah menyampaikan berita itu, Jibril as kemudian pergi. Orang Arab itu berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalaku, maka aku pun akan membuat perhitungan denganNya”.

Orang Arab Badui berkata lagi, “Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosaku, maka aku akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan-ku, maka aku akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan-ku, maka aku akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”

Mendengar ucapan orang Arab Badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab Badui itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril as turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau dari menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”

Betapa sukacita-nya orang Arab Badui itu, saat mendengar berita itu dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa terharu.

-o0o-

Diambil dari,

http://dikikzr.abatasa.co.id/post/detail/28633/ketika-rasulullah-saw-menangis-malaikat-penjaga-arasy-lupa-bacaan-tasbih-dan-tahmidnya

Advertisements

Kauskaki Putih Dan Saya

alamandang-nawir

Wahai kaus-kaki yang ada di seluruh Indonesia …..,

Saya bangga sekali dan tidak menyangka bahwa saya telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah kauskaki putih di Indonesia ini ….

Wahai kauskaki putih ……,

Ijinkanlah saya sekarang untuk memaparkan kisah unik saya berkenaan dengan dominasi kauskaki putih di Indonesia ini, supaya dapat dibaca dan diketahui seluruh bangsa Indonesia ini ……

Begini kisahnya.

Pada awalnya, di dalam kehidupan ini terdapat dikotomi yang tegas di dalam hal kaus-kaki ini. Dikotomi itu adalah berkenaan dengan warna kauskaki. Kauskaki putih, adalah kauskaki yang hanya boleh digunakan oleh anak-anak kecil, khususnya anak-anak sekolah. Oleh karena itu pada masa itu seluruh anak sekolah selalu mengenakan kauskaki berwarna putih. Tidak pada tempatnya kalau ada anak sekolah, baik dari kalangan SD, SMP dan juga SMA untuk mengenakan kauskaki yang tidak berwarna putih, seperti warna hitam, merah, biru tua, biru, dan lain lain.

Di pihak lain, kauskaki berwarna, adalah kauskaki untuk kalangan dewasa dan para karyawan. Istilahnya kala itu adalah ‘kauskaki bapak-bapak’, karena yang mengenakannya adalah kaum bapak. Pokoknya untuk dikenakan oleh mereka yang bekerja, bukan sekolah dasar.

Dikotomi ini diberlakukan secara tegas, seolah hal itu merupakan peraturan yang amat sakral dan tidak boleh dilanggar oleh siapa pun. Lebih pula, pun anak-anak sekolah juga tidak mau mengenakan kauskaki berwarna, karena dari warnanya saja jadi terkesan ‘tua’, ringkih, segala macem deh. Kalau ada anak sekolah yang mengenakan kauskaki yang berwarna (bukan kauskaki putih), bisa-bisa ‘disorakin’ oleh teman-teman sekelasnya: “hey lihat si anu make kauskaki bapaknya … hahahaaa ……”. Maka mana ada anak sekolah yang mau mengenakan kauskaki yang berwarna?

Hingga suatu saat, kala itu Tahun 1995. Saya diterima bekerja di sebuah Perusahaan mulitnasional yang bergerak di bidang toiletris dan kelengkapan sabun bayi, yang kala itu berkantor di sebuah gedung perkantoran di daerah Kuningan, Jakarta. Saya seperti manusia dewasa lainnya tentulah bekerja dengan mengenakan kauskaki yang berwarna, di dalam hal ini saya pilih warna biru tua.

Suatu saat saya sedang shalat Ashar di mushala gedung tersebut. Setelah saya selesai shalat saya bergegas untuk kembali ke meja saya. Saya perhatikan bahwa seluruh sepatu yang ada di mushala itu berikut dengan kauskakinya, seluruhnya berwarna, alias bukan putih. Saya jadi bertanya, apakah ada ayat suci yang menyatakan bahwa kaum pekerja, karyawan, dan apalagi bapak-bapak, harus mengenakan kauskaki warna, dan tidak boleh kauskaki putih? Atau, apakah akan ada kutukan alam semesta kalau kaum pekerja, karyawan dan juga bapak-bapak mengenakan kauskaki putih polos? Kalau memang ada kutukannya, maka apakah ada data statistik mengenai kasus kutukan tersebut? Saya jadi bertanya-tanya di dalam hati.

Saya bertanya, mengapa kaum dewasa tidak diperkenankan mengenakan kaus-kaki putih? Kemudian pun, saya di lain pihak sebenarnya lebih senang mengenakan kauskaki putih, karena terkesan manis dan imut. Kalau pun kala itu saya mengenakan kauskaki berwarna, itu hanya karena saya menganggap bahwa peraturannya memang demikian, bahwa bapak-bapak atau para karyawan harus mengenakan kauskaki warna ……

Saya jadi tergoda untuk memikirkan hal lain berkenaan dengan mengenakan kauskaki putih. Bagaimana kalau saya mengenakan kauskaki putih? Bukankah hal itu tidak ada larangannya? Kalau saya mengenakan kauskaki putih, maka pastilah saya senang karena saya kembali jadi imut dan innocent, seperti halnya anak-anak sekolah itu. Dan yang jelas, kauskaki putih itu memberi kesan bersih dan rapi dan: muda lagi.

Akhirnya saya mantapkan diri saya untuk mengenakan kauskaki putih untuk bekerja. Saya pergi ke pasar dan membeli beberapa pasang kauskaki, keseluruhannya berwarna putih, seolah saya adalah anak sekolahan yang masih bau kencur. Ah tidak mengapa.

Keesokannya saya kenakan kauskaki putih tersebut ke Kantor, dan yang jelas hal itu membuat saya senang. Reaksi pertama dari orang-orang, tentu saja saya tidak mendapat kecaman. Begitu juga di mushala Kantor, tidak ada tuh yang menegur saya, atau jadi bertanya-tanya kepada saya. Ah masasih begitu saja dikecam? Yang jelas saya yakin sekali bahwa sayalah satu-satunya manusia pekerja / karyawan yang kala itu mengenakan kauskaki putih.

Demikianlah, hari pertama, hari kedua, minggu pertama – minggu kedua, bulan pertama – bulan kedua, saya selalu mengenakan kauskaki putih, dan kauskaki berwarna sudah saya tinggal dan saya lupakan di rumah. Dan kalau sedang shalat di mushala Kantor, saya lihat hanya saya dan sepatu saya yang kauskakinya berwarna putih, karena seluruh sepatu lainnya selalu didampingi kauskaki berwarna.

Tidak disangka sama sekali! Ternyata mereka melihat, di mana pun, kapan pun, siapa pun, bahwa saya sebagai karyawan mengenakan kauskaki putih. Dan tidak disangka, ternyata hal itu membuat mereka mendapat insipirasi bahwa kauskaki putih pun juga layak digunakan untuk pergi bekerja. Si A melihat saya mengenakan kauskaki putih, maka di A ikut-ikutan mengenakan kauskaki putih. Kemudian B, C dan D melihat A mengenakan kauskaki putih. Akhirnya mereka pun ikut-ikutan mengenakan kauskaki putih …. Begitu seterusnya … Akhirnya banyaklah para pria dewasa, kaum pekerja atau karyawan yang beralih mengenakan kauskaki putih untuk bekerja …..

Sekarang ini sudah menjadi jamak di mana para pria dewasa mengenakan kauskaki putih untuk bekerja. Dengan kata lain, sekarang kauskaki putih tidak lagi monopoli anak sekolahan ….

Dan itu semua berkat saya yang memulainya ……

Jam tangan.

Kisah dengan jam tangan / arloji pun juga demikian. Kala itu, seolah sudah menjadi peraturan yang sangat sakral bahwa jam tangan hanya boleh dikenakan di tangan kiri. Adalah tidak pada tempatnya untuk mengenakan jam tangan di tangan kanan, karena nanti pasti akan ditertawakan banyak orang, bahkan nanti dianggap orang gila atau apa. Saya masih ingat kala itu, ketika saya dibelikan jam tangan, kakak-kakak saya bilang bahwa mengenakan jam tangan harus di tangan kiri, ‘tidak boleh’ di tangan kanan.

Saya jadi bertanya, mengapa harus di tangan kiri? Apakah mengenakan jam tangan di tangan kanan merupakan suatu kesalahan fatal?

Pada saat itu, saya bertekad untuk mengubah hal itu, dan ingin beralih mengenakan jam tangan di tangan kanan, padahal semua orang mengenakan jam tangan di tangan kiri, tidak ada seorang pun yang berani mengenakan jam tangan di tangan kanan. Berarti sayalah satu-satunya manusia yang mengenakan jam tangan di tangan kanan.

Setelah sekian lama, atau sekian bulan, saya melihat ada kejutan …..

Saya melihat mulai ada beberapa teman saya, atau karyawan lain yang masih satu gedung yang mengenakan jam tangan di tangan kanan. Ikut-ikutan saya? Mudah-mudahan iya, karena toh pada saat itu semua orang mengenakan jam tangan pasti di tangan kiri, kecuali saya.

Mungkin dengan melihat saya mengenakan jam tangan di tangan kanan, hal itu menjadi inspirasi buat mereka bahwa mengenakan jam tangan di tangan kanan juga keren dan cool, istilahnya. Mengenakan jam tangan di  tangan kanan terkesan berwibawa dan berat. Tampaknya memang begitu.

Sejak saat itulah, saya jadi melihat banyak orang mengenakan jam tangan di tangan kanan. Jadi peraturan sakral itu dikemanakan? Bagaimana nasib peraturan tersebut, yaitu bahwa mengenakan jam tangan harus di tangan kiri? Ternyata kesakralan dari peraturan tersebut hanya lah halusinasi, isapan jempol belaka. Dan Alhamdulillah sayalah orang pertama yang mendobrak halusinasi tersebut, berkenaan dengan kauskaki putih dan jam tangan ini. Ruar biasa.

Sepuluh Perintah Agung

Ten Paradox Commandment

alamandang-bayu74

Pertama.

Orang sering bersikap tak logis, tak masuk akal, dan mementingkan diri sendiri – bagaimanapun sayangi mereka.

Kedua.

Bila anda melakukan kebaikan, orang akan menuduh anda memiliki maksud tersembunyi untuk keuntungan sendiri – bagaimanapun tetaplah lakukan kebaikan.

Ketiga.

Jika anda sukses anda akan mengundang banyak sahabat palsu dan menciptakan musuh sejati – bagaimanapun raihlah kesuksesan.

Keempat.

Kebaikan yang anda lakukan hari ini akan dilupakan esok hari – bagaimanapun tetaplah lakukan kebaikan itu.

Kelima.

Kejujuran dan keterbukaan membuat anda mudah diserang – bagaimanapun juga tetaplah jujur dan terbuka.

Keenam.

Orang paling hebat dengan ide paling luar biasa dapat dijatuhkan oleh orang paling rendah dengan pikiran paling picik – bagaimanapun juga tetaplah berpikir besar.

Ketujuh.

Orang bersimpati pada pihak yang lemah, tetapi mendukung pihak yang kuat – bagaimanapun juga tetaplah berjuang bagi pihak yang lemah.

Kedelapan.

Apa yang anda bangun selama bertahun-tahun dapat hancur dalam semalam – bagaimanapun juga tetaplah membangun.

Kesembilan.

Walau semua manusia membutuhkan pertolongan namun mungkin mereka justru menyerang anda jika anda menolongnya – bagaimanapun juga tolonglah mereka.

Kesepuluh.

Berikan yang terbaik pada dunia, dan dunia akan mengecewakan anda – bagaimanapun juga tetap berikan yang terbaik pada dunia.

Indonesia Sejati Yang Menyedihkan

alamandang-frans-umum

Geachte Zev,

Langsung aja… Saya juga ingin berbagi pengalaman, tepatnya keluh kesah (yang aneh). Saya sudah lama tinggal di Belanda, di kota kecil / kota pelajar Leiden yang tenang, sejak 1998. Istri dan anak menyusul tahun 2001.

Kami tinggal di rumah kecil saja. Kemana-mana pakai sepeda. Saya kerja di universitas, tapi gaji tidak begitu besar juga. Istri juga kerja di sebuah restoran, gajinya juga tak besar. Tapi cukuplah buat kami untuk hidup bulan ke bulan. Dan menabung sedikit buat hari tua. Juga ada pensiun sedikit. Kami senang-senang saja, sebab ada jaminan kesehatan (disubsidi lagi oleh pemerintah Belanda); anak juga hampir dibilang gratis masuk sekolah. Kami enjoy-enjoy saja: toh bukan kami sendiri yang hidup dengan cukup-cukupan begitu. Saya sering lihat orang-orang bule, terutama mahasiswa, dengan sisa 20 atau 50 euro di rekeningnya. Malah sering juga minus. Tak ada masalah. Anak-anak SMA atau mahasiswa biasa kerja part-time di restoran, ngantar koran, dan macam-macam lagi. Anak professor saya mengantar koran. Mereka sudah biasa hidup mandiri. Tak ada yg mengetawain: “Eh…ayah professor kok ngantar koran? Malu dong”. Tak ada yg memandang hina mereka yg naik sepeda atau nganggur kurang uang.

Ya, enjoynya di situ: senang saja lihat gadis cantik bahenol pake sepeda omprengan kriuk-kriuk; lihat rektor saya (Rektor Univ. Leiden) jinjing tas sendiri jalan kaki atau pake sepeda ke kantor; lihat orang-orang berperahu hilir mudik di musim panas; lihat orang-orang mabok di taman dengan minta uang sesen-dua dengan sopan: “Mag ik heb een euro Meneer. Ik ben honger”! Kalau tidak diberi, tetap bilang “Als u blijf meneer!”; lihat cewek-cewek putih bule…pacaran sama orang-orang hitam seperti pantat kuali. Ya…senangnya di situ: kalau ketemu orang hampir selalu bilang “goede morgen”, “Goede Middag”; kalau masuk ke gedung, orang di depan kita menahan pintu untuk kita, dan selalu terdengar ucapan “mersi” atau “bedank” kepada kita; kalau berdiri di pinggi jalan dengan zebra cross, otomatis mobil-mobil berhenti sambil sopirnya memberi tanda silakan lewat dari belakang kemudi; kalau ngurus surat di kantor Balaikota tunggu 10-15 menit, dan pegawainya tak sok kuasa.

Ya…enjoynya di situ aja: bukan karena uang banyak; kalau hari agak panas pergi saja ke taman sambil membentangkan tikar atau kain, minum, beri makan remah-remah roti kepada burung-burung yang mendekat. Ya..enjoynya di situ: anak saya bergurau dengan polisi, minta dicobain pakai borgol. Anak kecil 5 tahun itu berani saja nanya orang besar atau orang tua di kereta: ” Hoe oud bent u Meneer? Orang tua jawab seperti dengan temannya saja.

Pokoknya enjoy-nya sulit juga dijelaskan.

Nah masalah timbul kalau kami pulang ke Indonesia, ke Sumatra sana. Kami selalu pulang paling tidak sekali setahun. Kami selalu rindu pulang. Dari Belandanya serasa ingin mati mau pulang; sebulan sebelum berangkat kopernya sudah penuh. Sampai di kampung yang ditanya orang-orang: kapan beli mobil baru? Atau mau pinjam uang buat modal usaha. Wah…hebat! Banyak duitnya. Istri saya biasanya pulang dengan gaya biasa saja (seperti biasa di Belanda). Teman-temanya tanya: sudah jauh merantau gitu kok nggak mampu beli emas? Nggak ada yg kuning di badanmu?

Kami bingung. Sepertinya yang ada dalam pikiran orang-orang kampung kami uang saja. Apa ya yang terjadi dengan masyarakat kita kini? Orang memandang hormat orang lain dengan melihat materi saja. Uang.. .uang… uang.. itu saja ukuran sukses.

Juga di mana-mana: di jalan, di pelabuhan, di kantor-kantor. Kami merasakan sesuatu yang aneh: suatu aroma kekerasan, kasar, tidak jujur, tipu muslihat, kekuasaan yang kuat menindas yang lemah. Semua orang seperti memburu sesuatu dan diburu sesuatu, tak sabar, … pokoknya sulit mencari titik-titik ketulusan, kesederhanaan, tampil apa adanya.

Anak saya lebih bingung lagi: ia pergi ke sekolah sepupunya, lihat gurunya marah-marah. Ia bilang: Ik wil niet gaat naar school hier”. Ia merasakan pengalaman yang lain sama sekali dengan di sekolahnya di Leiden. Sekali ia berteriak marah lihat orang membunuh burung dengan senapan angin, membiarkan bangkai burung itu tergeletak. Itu dilakukan demi kepuasan saja. Lalu kami merasa dikepung oleh sesuatu yang tidak tampak tapi mengerikan. Cepat-cepat kami ingin menghindar darinya.

Biasanya setelah tiga-empat minggu di Indonesia kami kembali ke Belanda. Sampai di Belanda ada rasa lega: kami melihat lagi gadis-gadis cantik dengan sepeda kriuk-kriuk, melihat lagi penghormatan orang-orang kaya kepada pejalan kaki atau pengendara sepeda seperti kami. Tapi setiap tahun kami ingin pulang lagi melihat kampung halaman di Sumatra sana. Tapi yang kami temukan hal yang sama lagi, malah terasa makin parah.

Suatu saat kami ingin pulang. Tapi saya kuatir dengan anak saya. Kami sendiri mungkin dapat berdamai. Mungkin ini sudah nasib kami atau orang-orang Indonesia lain yang punya jalan hidup seperti kami.

Sumber – http://niadilova.blogdetik.com/index.php/archives/200#comment-2616

Papah Mamah Datang Dari Mana?

alamandang-fero

Seorang wanita yang masih muda, memanggil “Bapak … Bapak … masih ada duitnya, ga?” kepada suaminya. Yang dipanggil ‘bapak’ itu menoleh, dan memberi jawaban. Dan ternyata sang suami itu masih berwajah anak muda juga. Pasangan suami istri itu sudah mempunyai satu anak, masih berusia 3 Tahun. Jadinya, umur pernikahan mereka masih belum seberapa.

Yang menjadi perhatian saya bukan kecantikan atau mobil mewah yang dimiliki pasangan suami istri itu. Namun ada hal lain. Apakah itu?

Sang istri itu, memanggil suaminya dengan ‘Bapak’. Dan, kebalikannya, sang suami memanggil sang istri dengan ‘Mama’. Cara mereka memanggil pasangannya, tidakkah terasa janggal dan agak genit? Apakah harus seorang istri yang merupakan seorang wanita muda, alias masih bisa dibilang anak kecil, memanggil suami mereka, yang umurnya sebaya, dengan panggilan ‘Bapak’ atau ‘Papah’, dan lain lain?

Babak Pertama.

Indonesia, di tahun-tahun awal kemerdekaannya. Anggap saja tahun 60an atau 70an. Pada saat itu, dapat dikatakan bahwa rakyat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Maklumlah, baru saja merdeka.

Namun bukan berarti tidak ada sama sekali rakyat Indonesia yang kaya atau berkecukupan. Ada juga rakyat Indonesia yang kaya dan berkecukupan. Apalagi di tahun 1970an, karena pada masa itu Indonesia sudah menemukan ladang minyak, dan juga di Indonesia sudah ada beberapa investor yang beroperasi sehingga dapat mengkayakan para pekerjanya yaitu orang Indonesia. Singkat kata, ada juga yang kaya dan berkecukupan, namun tidak banyak, hanya segelintir saja.

Orang Indonesia yang masih berada di garis kemiskinan, kita namakan saja kelompok A. Sementara orang Indonesia yang kaya berkecukupan, kita namakan saja kelompok B.

Kelompok A, adalah orang Indonesia yang lugu, dan hidup penuh dengan kesejatian, alias tidak ‘bergaya’ atau ‘banyak gaya’. Jadi, di dalam hal rumah tangga, para istri memanggil suami mereka tidak dengan sebutan ‘papa’ atau ‘bapak’ atau yang lainnya, namun dengan sebutan yang wajar dan generik saja, seperti ‘akang’, ‘mas’,  ‘bang’, ‘uda’, ‘kangmas’, dan lain lain. Pun, kebalikannya juga begitu. Sang suami memanggil istri dengan panggilan generik juga, seperti ‘nyai’, ‘dek’, atau bahkan hanya dengan sebut nama saja. Hanya dengan cara itu mereka saling panggil, sederhana saja, tidak macam-macam, tidak bergaya ini-itu.

Namun di luar itu, ada orang Indonesia di kelompok B. Kelompok ini terbiasa hidup dengan kecukupan, dan umumnya mereka kebarat-baratan. Bagaimana tidak? Yang jelas sang suami pastilah terbiasa berhadapan dengan orang luar Negeri di tempat kerja.

Jadinya, di dalam kelompok B ini, seorang istri akan memanggil suami mereka dengan ‘Papa’ atau ‘Papih’. Dan kebalikannya sang suami akan panggil istri mereka dengan ‘Mamih’ atau ‘Mama’. Dengan cara panggil seperti ini, mereka menunjukkan status sosial mereka, yaitu golongan manusia yang mampu secara ekonomi. Secara permukaan, memang diakui, memanggil pasangan dengan sebutan seperti itu terdengar wah. Kalau dibanding dengan memanggil pasangan dengan sebutan-sebutan generik, pastilah memanggil dengan ‘papah’ dan ‘mamah’ akan lebih berkelas dan lebih bergaya.

Itulah perilaku orang Indonesia yang kaya berkecukupan (kala itu), yang penuh gaya, yang kebarat-baratan, yang genit dan di luar nalar.

Demikianlah, kalau kita tengok film-film Indonesia di era tahun 60an atau 70an yang banyak melukiskan kehidupan orang-orang Indonesia yang kaya yang hidup di rumah megah nan mewah, lantai marmer, jendela kaca lebar, mobil sedan mentereng, dan pembantu ibu-ibu gaek yang sederhana dan papa. Banyak orang berpendapat bahwa film Indonesia di era ini adalah film yang berporos pada kehidupan orang Indonesia kayaraya, alias kayaraya-centris. Jarang sekali film Indonesia di era itu yang melukiskan kehidupan orang Indonesia yang miskin, hidup di desa dan lain lain. Jadi, dari film ini terlihat para karakternya di mana para istri memanggil suami mereka dengan sebutan ‘papah’ dan para suami memanggil istri mereka dengan ‘mamah’ atau pun ‘mamih’. Nah itulah gaya mereka.

Namun, apakah kelompok A juga (ingin) ikut-ikutan panggil pasangan mereka dengan sebutan papah dan mamah seperti yang dilakukan kelompoak B?

Tidak. Tidak ada indikasi ke arah sana, dan tidak ada bukti untuk hal itu. Yang jelas, orang Indonesia di dalam kelompok A adalah orang Indonesia yang hidup dengan penuh kesejatian, tidak blagu, tidak banyak gaya, tidak kebarat-baratan. Alhasil, kelompok A merasa aneh alias melongo saat mereka melihat atau menyaksikan suami istri dari kelompok B panggil pasangan mereka dengan sebutan papah mamah.

Babak Kedua

Fenomena kelompok B yang memanggil pasangan mereka dengan sebutan yang genit dan bergaya itu (yaitu papah-mamah dan yang senada dengan itu) sebenarnya ‘terlokalisir’ di kalangan orang berkecukupan saja. Artinya, cara panggil pasangan dengan sebutan seperti itu tidak meluber ke kelompok A. Kelompok A tetaplah hidup dengan kesejatian dan kesahajaan mereka, dan tidak terpengaruh gaya hidup kelompok B. Pun, kelompok A tidak iri dengan cara mereka panggil pasangan mereka. Amit-amit!

Namun, eng-ing-eng…… Tahun berganti, dan era pun berganti.

Di awal tahun 90an, merebaklah tivi swasta di Indonesia. Pertama kali muncul RCTI. Kemudian tivi swasta lainnya.

Nah, tivi swasta ini banyak menampilkan dan menayangkan film-film Indonesia di era Tahun 70an tersebut. Pun, tivi-tivi swasta ini juga kerap menamplkan gaya hidup yang mentereng, seperti menayangkan sinetron ‘penjual mimpi’ yaitu sinetron yang hanya memamerkan kekayaan dan rumah megah berlantai 10, yang anaknya masih kecil namun sudah menjadi direksi Perusahaan bonafit (ampun!).

Materal-material tayangan tersebut, sudah pasti menawarkan dan memamerkan gaya hidup yang tidak lagi sejati, tidak lagi generik; yang ada hanya gaya yang berlebih-lebihan alias blagu. Sudah pasti, tayangan-tayangan tersebut berpusar pada adegan ‘papah-mamah’ seperti yang sudah-sudah.

Dan tayangan ini ditonton oleh lebih banyak manusia-manusia Indonesia sampai jauh ke pelosok pedalaman. Artinya, kelompok-kekompok masyarakat yang sebenarnya tidak kaya dan berkecukupan, menonton tayangan murahan seperti itu setiap hari.

Akibatnya jelas. Orang Indonesia di dalam kelompok A jadi ikut-ikutan. Sekarang mereka fasih sekali panggil pasangan mereka dengan panggilan ‘papah-mamah’ seperti yang biasa dilakoni orang Indonesia di dalam kelompok B. Itu semua hanya bermula dari merebaknya dan menjamurnya tv swasta yang selalu memamerkan gaya hidup lebay dan genit seperti jualan utama mereka.

Babak Ketiga

Jadi, adegan ‘papahmamah’ itu dibedakan di dalam dua kategori.

Kategori pertama adalah masa pra-tv-swasta. Masa ini adalah masa Indonesia masih pada awal-awal kemerdekaannya, yang tv-nya hanya satu yaitu TVRI. Dan TVRI amat terbatas di dalam hal mengumbar kehidupan kaum mapan karena dikhawatirkan akan menimbulkan cemburu sosial dan berujung pada disintegrasi bangsa.

Pada masa ini, adegan memanggil papahmamah hanya terlokalisir pada kelompok masyarakat atas. Kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah, tidaklah demikian. Justru kelompok ini amat menjauhi lifestyle seperti itu, yang menurut pandangan mereka adalah genit, lebay, dan blagu.

Kategori kedua adalah kategori masa pasca-tv-swasta. Jadinya paling tidak setelah beroperasinya RCTI di Tahun 90an. Masa ini adalah masa di mana tv-tv swasta berparade mengumbar adegan papahmamah dan gaya hidup mentereng yang sudah pasti para karakternya akan memanggil pasangan mereka dengan sebutan seperti itu.

Pada masa ini, adegan papahmamah sudah rata ke seluruh lapisan rakyat Indonesia, tidak lagi pandang bulu. Baik kalangan atas mau pun kalangan menengah ke bawah sudah fasih memanggil pasangan-pasangan mereka dengan panggilan papah-mamah. Berkat tv swasta, ya itu intinya.

.-o0o-.

Setidaknya kita mempunyai 3 pilar untuk berkaca soal memanggil pasangan hidup dengan panggilan papah mamah ini.

Masyarakat Barat.

Masyarakat Barat sama sekali tidak mempraktekkan panggilan papah mamah ini kepada pasangan-pasangan mereka. Setiap istri di Masyarakat Barat memanggil suami mereka dengan ‘honey’ – ‘darling’ – dan lain lain. Bahkan mungkin hanya dengan sebut nama saja. Begitu juga dengan para suami di masyarakat tersebut, tidak pernah panggil istri mereka dengan ‘mamah’ atau yang senada. Mereka panggil istri dengan panggilan mesra dan generik, seperti ‘sweet’ – sweetheart’, ‘sugar’ dan lain lain. Atau juga justru cukup panggil nama saja.

Lantas apa dasarnya orang Indonesia (yaitu orang Indonesia yang super genit dan lebay) panggil pasangan hidup mereka dengan sebutan papah-mamah? Berguru kepada siapakah mereka? Masyarakat Barat saja yang terkenal akan romantisme-annya, tidak pernah panggil pasangan mereka dengan panggilan genit seperti itu.

Ajaran Muhammad Saw / Islam.

Apakah Muhammad Saw memberikan ajaran bahwa seorang istri harus memanggil suami dengan sebutan ‘papa’? Apakah Islam memerintahkan para suami untuk panggil istri dengan sebutan ‘mama’?

Tidak ada. Islam tidak pernah ajarkan gaya hidup yang penuh kegenitan dan blagu seperti itu. Muhammad Saw saja panggil istrinya dengan panggilan-panggilan mesra, seperti ‘ya humaira’ yang artinya ‘wahai merah jambu’. Tidak pernah Muhammad Saw panggil istri nya dengan mamah.

Lebih tegas lagi, di dalam Alquran mau pun fiqih berumah tangga, ada istilah zihar, yaitu menyamakan antara istri dengan ibu kandung. Dapat dikatakan, seorang pria tidak boleh menyamakan panggilan antara memanggil ibu kandung dengan memanggil istri. Jadi, seorang suami Muslim yang panggil istri dengan kata ‘mamah’ dapat dikatakan telah menzihar istrinya.

Kehidupan leluhur.

Sekarang lihat kehidupan para leluhur. Apakah para leluhur panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah? Tidak ada catatan sejarah yang mengkonfirmasi hal itu.

Justru kebalikannya, kita mengetahui bahwa para leluhur panggil pasangan-pasangan mereka dengan panggilan yang generik dan luhur, tidak genit dan tidak lebay. Mereka panggil suami mereka dengan mas, kangmas, akang, uda, abang dan lain lain. Begitu juga sang suami panggil istri mereka dengan panggilan yang normal dan tidak genit.

Paling banter, di masyarakat Jawa misalnya, seorang suami panggil istrinya dengan ‘bune’, dan sang istri panggil suaminya dengan ‘pane’. Arti bune, sebenarnya adalah ‘ibu-nya’; /nya/ di dalam frase ini adalah anak-anak. Jadi, saat seorang suami panggil istrinya dengan sebutan ‘bune’, sebenarnya sang suami panggil istri dengan panggilan ‘wahai ibu-nya anak-anak ….’. Begitu juga kebalikannya, sang istri panggil suaminya dengan sebutan ‘pane’ yang mana itu artinya adalah ‘bapak-nya anak-anak’.

Berarti tidak genit, kan?

Dari ketiga pilar kehidupan ini saja, tidak ada satu pun yang memberi kita contoh dan inspirasi untuk panggil papah-mamah bagi pasangan suami istri. Lantas dari mana orang Indonesia punya ide untuk panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah?

Lagi pula, apakah sama antara papah yang berarti suami dengan papah yang membenihkan kita? Apakah sama antara mamah yang berarti istri dengan mamah yang melahirkan kita? Tentu saja tidak sama. Lantas mengapa panggilannya sama? Lantas di mana logikanya saat seorang suami panggil istrinya dengan sebutan mamah? Dan di mana juga logikanya saat seorang istri panggil suaminya dengan sebutan papah? Biar bagaimana pun, seorang istri tetaplah seorang istri bagi sang suami, dan seorang suami tetaplah seorang suami bagi sang istri. Lantas mengapa tiba-tiba menjadi papah dan mamah? Itu pun usia mereka masih muda, dan anak-anak masih kecil. Kalau usia mereka sudah tua, dan anak-anak pun sudah besar, sudah berumah-tangga, baiklah panggilan mamah-papah sudah bisa dikompromikan, karena faktor usia dan sudah besarnya anak-anak tadi. Namun kalau pasangan suami istri itu masih muda, dan anak pun masih kecil, apa alasannya panggil papah-mamah?

Berikut adalah paparan artikel islami seputar pemanggilan papah-mamah ini.

-oOo-

HUKUM SEPUTAR ZHIHAR (Larangan Memanggil Ummi atau Ibu Kepada Istri)

Definisi Zhihar

Secara bahasa Zhihar adalah pecahan dari Zhahrun (punggung). Sedangkan menurut Istilah Zhihar adalah ungkapan suami yang menyerupakan istri dengan punggung ibunya. Seperti ungkapan “Anti kazhahri ummi – Engkau bagiku laksana punggung ibuku”.

Hukum Zhihar

Hukum Zhihar berdasarkan kesepakatan para ulama adalah haram. Ini dilandaskan kepada Firman Allah:

Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”. (QS. Al-Mujadalah: 3).

Dalam ayat ini ada frasa kalimat “Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta” adalah indikasi (Qarinah) akan keharaman Zhihar.

Ibnu Katsir menuturkan ayat di atas turun berdasarkan peristiwa yang menimpa Khuwailah Binti Tsa’labah. Dia berkata, demi Allah, karena peristiwa saya dan suami saya Aus bin Shamit. Allah menurunkan surat Al-Almujadalah. Khuwailah melanjutkan ceritanya. “Pada suatu hari, saya berada di sisisuamiku, sedang dia adalah orang yang sudah tua renta. Perangainya menjadi jelek dan suka membentak-bentak saya. Pada suatu saat dia masuk ketempat saya untuk memberikan sesuatu kepada saya. Lalu dia marah-marah seraya berkata “Engkau bagiku laksana punggu Ibuku”. Kemudian dia keluar, lalu duduk-duduk di kebun kurma beberapa lama. Kemudian dia masuk lagi kepada saya, maka tiba-tiba dia sangat menginginkan saya (untuk bersetubuh). Saya berkata kepadanya “jangan kau dekati saya. Demi Allah yang jiwa saya berada ditanganNya, jangan sekali-kali kamu menyentuh saya. Karena kamu telah mengucapkan kata-kata itu (zhihar). Lalu Allah memutuskan perselisihan keduanya”. (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Ungkapan-Ungkapan Zhihar

Sudah lazim diketahui bahwa zhihar adalah penyerupaan Istri dengan ibu. Dalam ayat dan hadist zhihar diidentikkan dengan punggung, maka maksud dari ungkapan tersebut adalah seluruh hal yang bisa menyerupai ibu. Karena kalimat Zhihar (punggung) adalah ungkapan sebagaian yang dimaksudkan untuk seluruhnya.

Maka, menyamakan Istri dengan tangan, rambut, betis dan anggota tubuh lain dari ibu merupakan bentuk zhihar. Ini adalah pendapat mayoritas ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hambaliyah. Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa memanggil istri dengan panggilan ibu, umi, mami, mamah, dan semisalnya adalah haram karena sudah masuk dalam kategori zhihar. Hal ini bisa di fahami dalam sebuah hadits bahwa ada seorang suami yang memanggil isterinya “Wahai ukhti!”. Mendengar hal tersebut Nabi saw bertanya kepadanya, “Apakah dia memang saudarimu?!”. Nabi membenci hal tersebut dan melarangnya. (HR Abu Daud No.  2210 dan 2211).

Ulama’ berbeda pendapat ketika menyamakan Istri dengan mahram-mahram lain selain dari ibu. Seperti kepada kaka perempuan, adik perempuan, bibi, atau saudara perempuan sepersusuan. Imam Maliki, Syafi’ie dan Abu Hanifah berpendapat; bahwa penyerupaan istri dengan mahram selain dari ibu itu menjadi zhihar sekalipun penyerupaannya dengan mahram dari sepersusuan. Imam Ahmad menegaskan “sesungguhnya penyerupaan istri dengan mahram selain dari ibu adalah zhihar”.

Pengharaman penyerupaan kepada mahram selain dari ibu, berdasarkan qiyas di mana yang menjadi ‘Illatnya adalah pengharaman yang abadi, dan pengharaman yang abadi ini hanya ada pada mahram. Penjelasan ini masih menyisakan satu pertanyaan, bagaimana bila suami yang memanggil istrinya dengan sebutan ibu, mamah, Ummi, dan sebagainya, tidak diniatkan untuk zhihar??   Dalam masalah ini adalah bahwa ungkapan zhihar sama dengan ungkapan pada akad-akad muamalah yang lain; sepeti jual jual beli, nikah, cerai, dan sebagainya. Di sini yang dilihat bukan niatnya tetapi apa yang diucapkan. Sehingga walau tidak diniatkan zhihar tetapi ucapannya adalah ucapan zhihar, maka hal tersebut jatuh ke dalam zhihar.

Suami yang telah menzhihar istrinya haram, haram menyetubuhi istrinya sebelum dia membayar kifarat (Denda). Hal ini berdasarkan ayat:

Dan orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan maka (wajib atasnya) memerdekakan orang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur”. ( Al-Mujadalah: 3).

Juga hadist Nabi Saw dari Ibnu Abbas “Sesungguhnya seorang menzhihar istrinya, kemudian dia mencampurinya, kemudian dia datang menghadap Rasulullah SAW seraya berkata “Sesungguhnya saya sudah mencampuri Istri saya sebelum saya kifarat. Rasulullah SAW bersabda “janganlah kamu dekati dia (menyetubuhi istrinya). Sehingga melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan”.( HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Annasa’ie dan Ibnu Majah).

Kifarat (Denda) Bagi Suami yang Menzhihar Istrinya

Suami yang menzhihar Istrinya, maka dia wajib membayar kifarat (Denda) sebelum dia bercampur dengan Istrinya. Sebagaimana yang termaktub dalam surat Al-Mujadalah. Allah SWT Berfirman,

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih”. ( QS. Al-Mujadalah: 3-4).

Dan juga hadist Nabi SAW,

“Dari Salamah bin Shakhr al-Bayadhl bercerita, Dahulu aku adalah laki-laki yang mempunyai hasrat besar kepada wanita tidak seperti kebanyakan orang. Ketika tiba bulan Ramadhan, aku pernah menzhihar isteriku hingga bulan Ramadhan berakhir. Pada suatu malam tatkala ia berbincang-bindang denganku, tiba-tiba tersingkaplah kepadaku kain yang menutupi sebagian dari anggota tubuhnya maka akupun melompatinya lalu kucampuri ia. Dan pada pagi harinya aku pergi menemui kaumku lalu aku memberitahukan mengenai diriku kepada mereka. Aku berkata kepada mereka, ”Tanyakanlah kepada Rasulullah saw. mengenai persoalan ini. Maka jawab mereka, ’kami tidak mau. Kami khawatir jangan-jangan ada wahyu yang turun mengenai kita atau Rasulullah saw bersabda tentang sesuatu mengenai diri kita sehingga tercela selamanya. Tetapi nanti akan kamu serahkan sepenuhnya kepadamu persoalan ini. Pergilah dan sebutkanlah urusanmu itu kepada Rasulullah saw. ”Maka akupun langsung berangkat menghadap Nabi saw. kemudian aku utarakan hal tersebut kepada Beliau. Maka Beliau saw bertanya ”Apakah benar kamu melakukan hal itu?” Saya jawab ”Ya, dan inilah supaya Rasulullah aku akan sabar dan tabah menghadapi putusan Allah atas diriku,” Sabda Beliau ”Merdekakanlah seorang budak.” Saya jawab, ”Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa yang haq, aku tidak pernah memiliki (seorang budak) kecuali diriku ini.” Sabda Beliau, ”Kalau begitu puasalah dua bulan berturut-turut.” Saya jawab, ”Ya Rasulullah, bukankah cobaan yang telah menimpaku ini terjadi ketika aku sedang berpuasa”, Sabda Beliau, ”Kalau begitu bershadaqahlah, atau berilah makan kepada enam puluh orang miskin.” Saya jawab, ”Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa yang Haq sesungguhnya kami telah menginap semalam (tatkala terjadi perselisihan itu sedang kami akan makan malam. ’Maka sabda Beliau ”Pergilah kamu kepada siapa saja yang akan bershadaqah dari Bani Zuraiq. Kemudian katakanlah kepada mereka supaya memberikannya kepadamu. Lalu (dari shadaqah itu) berilah makan enam puluh orang miskin, dan selebihnya gunakanlah (untuk dirimu dan keluargamu).”( Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1677, Ibnu Majah I : 665 no:2062 dan ’Aunul Ma’bud VI:298 no:2198, Tirmidzi.

Sumber – http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/15/hukum-seputar-zihar/

-oOo-

Kesimpulan.

  1. Suami istri yang panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah, tidak mempunyai dasar sama sekali.
  2. Satu-satunya dasar dan penyebab suami istri panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah adalah psikologi genit, dan blagu. Hal ini terlihat pada masa pra-tivi-swasta, di mana keluarga-keluarga kaya berkecukupan panggil pasangan mereka dengan panggilan papah-mamah tersebut, sementara keluarga-keluarga pra-sejahtera tidak mempunyai perilaku tersebut. Itu pun akhirnya keluarga pra-sejahteria ikut-ikutan panggil pasangan mereka dengan sebutan papah-mamah setelah merebaknya tivi swasta yang memamerkan kehidupan berkelimpahan.
  3. Oleh karena itu, memanggil pasangan dengan papah-mamah, tidak boleh ditiru dan tidak boleh dijadikan nilai di dalam kehidupan ini, khususnya kehidupan berumah tangga. Intinya, genit dan blagu bukanlah nilai kehidupan. Justru hal itu harus dihindari.

Menuju Umat Anti-Freesex

alamandang-wijisitami

Manusia jelaslah berbeda dari binatang. Manusia mempunyai akal, yang dengan keberakalannya itu diharapkan manusia menjadi santun, alias mempunyai etika dan estetika. Dan kemudian dengan kesantunannya itu, manusia mampu menunjukkan keagungan dan keanggunannya. Dan dari keagungan dan keanggunannya itu, manusia akan segera membuktikan posisinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi.

Singkat kata, dengan keberkalannya itu, manusia – diharapkan – mampu  menunjukkan perannya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, pengganti Tuhan di muka bumi.

Akal >> santun / etika dan estetika >> agung dan anggun >> khalifah Tuhan.

Manusia yang Menjadi khalifah Tuhan, adalah berangkat dari keinginan dua pihak. Pihak pertama yang ingin manusia menunjukkan perannya sebagai khalifah Tuhan, adalah Allah Swt sendiri. Allah Swt lah Yang paling berkepentingan supaya manusia itu segera menunjukkan kekhalifahannya di bumi ini. Jadi, kalau Allah Swt adalah suci, maka manusia hendaknya juga suci. Kemudian, pihak kedua yang ingin manusia menjadi khalifah Allah, tentunya adalah manusia itu juga. Seluruh manusia sudah pasti ingin menjadi khalifah Allah, karena jabatan tersebut adalah jabatan yang paling mulia dan suci. Jadi, bukan Allah atau manusia saja yang ingin manusia itu menjadi khalifah Tuhan.

Namun masalahnya adalah, apakah seluruh manusia dapat dengan mudah mewujudkan perannya sebagai khalifah Tuhan dengan bantuan akal tersebut? Ingatlah, Allah Swt juga sudah memperlengkapi kehidupan ini dengan ‘instrumen’ yang disebut godaan. Godaan lah yang akan membuat manusia terpelanting jauh dari tujuan semula. Jadi, adalah tidak semudah itu manusia dapat membuktikan dirinya sebagai khalifah Tuhan, karena godaan yang maha dahsyat telah menunggu tepat di depan mereka.

Dari pihak Allah Swt sendiri pun, Allah Swt tidak kurang-kurangnya menurunkan ‘instrumen’-Nya yang lain untuk membantu manusia dapat menjalani kehidupan yang agung tersebut. Hal ini memperlihatkan, bahwa Allah Swt TIDAK SAJA menuntut, namun sebenarnya Allah Swt pun juga sudah ‘berbuat’ untuk membantu manusia untuk mencapai tujuan tersebut. Allah Swt berbuat, tentunya sesuai dengan porsi, alias proporsional.

Satu hal atau rintangan yang paling besar yang membuat manusia terpelanting jauh dari maksud ketuhanan tersebut, adalah freesex. Bermula dari perbuatan zina (sex di luar nikah ). Kemudian dari zina ini biasanya akan berkembang menjadi hubungan freesex. Freesex (sex bebas) adalah bentuk kekejian di dalam hal seksual di mana satu orang akan bersenggama dengan siapa saja yang dia kehendaki, tanpa ada bentuk tanggungjawab apapun setelah hubungan senggama tersebut. Freesex menjamin bahwa siapa pun dapat bersenggama dengan siapa saja tanpa ada penghalang.

Freesex membuat manusia dengan seluruh derajat dan martabatnya TERJUN BEBAS ke derajat binatang yang tidak berakal sedikit pun. Manusia jadi tidak berharga sama sekali di mata Allah Swt, bahkan di mata para MalaikatNya yang suci.

Allah Swt sangat mengutuk fenomena freesex, setelah mengutuk fenomena zina. Terlebih, dengan zina dan freesex ini, runtuhlah satu-satunya tonggak besar yang menyokong manusia sebagai khalifah Allah Swt di muka bumi.

Allah Swt mengutuk, namun tidak tinggal diam setelah mengutuk tersebut. Allah Swt sudah menurunkan beberapa instrumen supaya fenomena tersebut tidak wujud di dalam kehidupan ini. Dan di dalam hal ini, instrumen tersebut diharapkan dapat menjauhkan manusia dari fenomen zina dan freesex. Berikut ini adalah instrumen-instrumn yang telah Allah Swt turunkan supaya manusia terbebas dari segala kejatuhan moral, dan dengan demikian manusia dapat membuktikan perannya sebagai khalifah Allah Swt.

1. Moral.

Kepada kerajaan manusia itu, pertama-tama Allah turunkan seperangkat aturan moralitas. Tujuannya jelas, untuk membendung wujudnya fenomena zina dan terkhusus lagi freesex. Dengan moralitas, manusia dapat dipandu untuk berkeyakinan, bahwa zina dan freesex adalah kekejian dan kekonyolan. Sebenarnya, dengan moralitas ini manusia jadi dapat berfikir bahwa kehidupan yang ideal adalah kehidupan yang berpantang dari zina dan apalagi freesex.

Moralitas adalah akar dan sumber seluruh cabang filosofi / filsafat. Dengan filsafat seluruh guru mampu menerangkan bahwa zina dan freesex adalah kebangkrutan. Oleh karena itu, dengan moralitas, manusia jadi dapat menyimpulkan bahwa zina dan freesex harus dimusuhi dan dimusnahkan.

Namun kemudian, moralitas ternyata TIDAK TERLALU KUAT untuk membendung zina dan freesex. Setelah bertahun-tahun dan berabad-abad kerajaan manusia hidup berdampingan dengan moralitas yang agung sekali pun, toh akhirnya zina dan freesex tetap membeludak ke permukaan. Untuk pertama kalinya, umat manusia jatuh ke dalam lembah paling menjijikkan, bahkan lebih menjijikkan dari sekawanan binatang berbulu mana pun digabung jadi satu, walau pun kerajaan manusia tersebut sudah dikawal moralitas pemberian Tuhan.

Jadinya, kala itu moralitas tidak mampu membendung arus freesex.

2. Agama.

Setelah moralitas gagal membendung meruapnya freesex, kemudian Tuhan menurunkan perangkatNya yang lain, yaitu agama.

Dengan menurunkan agama, manusia dapat kembali memperoleh penguatan untuk terus berkeyakinan bahwa zina dan freesex adalah tertolak.

Namun ternyata, agama yang diturunkan Tuhan pun (agama mana saja: Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, Zoroaster, Konghucu, Shinto dll) tidak sanggup membendung arus freesex. Bahkan menyedihkannya, ada beberapa agama tersebut yang berhasil dipelintir oleh pendetanya sehingga agama tersebut menjadi agama yang mengabsahkan freesex.

3. Penyakit Kelamin.

Setelah moralitas dan agama gagal membendung arus freesex, Tuhan menurunkan instrumen berikutnya untuk membendung freesex, yaitu wabah penyakit kelamin, seperti Rajasinga, sipilis, gonorrhea, herpes dan lain lain. Dengan wabah penyakit kelamin ini, Tuhan mem-plot-kan bahwa efeknya umat manusia akan menjauhi zina dan freesex sehingga dengan demikian manusia akan mudah menjadi khalifahNya di muka bumi ini.

Namun sungguh ternyata Iblis jauh lebih kuat dari penyakit kelamin yang diturunkan Tuhan. Kerajaan manusia kala itu menemukan alat yang dinamakan kondom, dan juga manusia berhasil menemukan obat untuk menjinakkan penyakit ini. Dengan kondom ini, manusia mana pun tetap bisa tumpah ruah untuk menikmati sexbebas di mana saja tanpa harus takut akan tertular penyakit kelamin ini.

Singkat kata, instrumen Tuhan kali ini yaitu penyakit kelamin, akhirnya juga jebol – karena toh akhirnya manusia tetap larut di dalam perbuatan freesex. Dan itu semua berkat adanya kondom dan metode penyembuhan yang ampuh untuk mengatasi penyakit tersebut.

4. HIV/AIDS.

Moral gagal. Agama gagal. Penyakit kelamin pun gagal. Ketiga instrumen tersebut gagal, dan berhasil dijebol oleh manusia untuk tetap dapat berasyikria menikmati zina dan freesex.

Tuhan menurunkan instrumenNya yang terakhir, yaitu HIV/AIDS. Dengan instrumen ini, diharapkan manusia menjauhi zina dan freesex, atau setidaknya mengurangi merebaknya fenomena tersebut.

HIV/AIDS adalah wabah penyakit yang berasal dari kalangan virus. Dan virus ini ketika menginfeksi manusia, akan menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia dalam menghadapi penyakit apapun. Dan properti lainnya dari virus ini adalah, bahwa pada tahun-tahun pertama penderita virus ini (resipien) tidak akan menyadari bahwa dirinya sudah kemasukan (terinfeksi) virus ini. Dengan kata lain, si penderita / resipien akan tetap merasa sehat segar bugar, padahal di dalam tubuhnya virus HIV/AIDS ini sudah bercokol dan sedang ‘menggerogoti’ kemampuan tubuh di dalam melawan berbagai penyakit, secara perlahan-lahan. Diistilahkan, pada masa ini sang resipien berada di dalam fase ‘sehat-semu’. Dikatakan sehat-semu, karena sebenarnya resipien sudah mengandung virus yang mematikan ini, namun sang resipien tetap merasa sehat.

Pada masa sehat-semu ini, sang resipien akan terus bersenggama dengan kekasih-kekasihnya. Baik si resipien mau pun para kekasihnya, tidak menyadari bahwa si resipien tersebut sudah membawa virus tersebut yang siap untuk ditransfer ke kekasih-kekasihnya, untuk menjadi resipien berikutnya.

Virus ini masih mempunyai properti lain yang lebih mengerikan, yaitu virus ini tidak dapat disembuhkan, tidak dapat diatasi. Belum ada satu pun tindakan mau pun obat yang dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS ini. Artinya, manusia mana pun yang terinfeksi HIV/AIDS ini, maka kematian sebenarnya sudah di ambang mata.

Apakah kondom dapat membendung kedahsyatan virus ini?

Menurut teori, kondom dapat membendung transfer virus HIV/AIDS. Namun para ahli sepakat bahwa virus ini berukuran amat kecil sehingga dapat menembus lubang terkecil sekali pun yang ada pada kondom. Bahkan kondom pun juga tidak dapat dipercaya 100%, karena di dalam penggunaannya kondom bisa saja pecah sehingga virus dapat mengekspos ke tubuh seberang.

Itu pun, banyak manusia yang ENGGAN menggunakan kondom. Menurut sekelompok manusia, menggunakan kondom adalah suatu keterlaluan, dan tidak alami.

Ingat, bagian yang paling membahayakan dari virus ini adalah, bahwa penderita akan melewati fase sehatsemu. Dengan fase ini, banyak penderita yang tidak sadar dan tidak mengetahui bahwa dirinya sebenarnya adalah penderita / resipien HIV/AIDS. Dengan ketidaktahuan ini, sang penderita / resipien akan tenang-tenang saja untuk bersenggama dengan orang yang lain lagi yang sebenarnya masih sehat. Dengan kasus ini, maka orang yang sehat tanpa sadar segera terekspos HIV/AIDS ini dari pasangan senggamanya.

Pemerintah setiap negara telah menyerukan warganya untuk melakukan test HIV/AIDS. Test ini amat penting untuk mengetahui status setiap warga, apakah HIV/AIDS positif atau pun negatif. Kalau seseorang mengetahui bahwa dirinya adalah HIV/AIDS positif, setidaknya dia akan berhenti untuk terus meluapkan kecendrungan zina mau pun freesexnya, karena hal itu akan mentransfer virus ke orang lain. Pun, orang lain akan berhati-hati jika ingin bersenggama dengan penderita, karena statusnya sudah jelas yaitu HIV/AIDS positif. Itu semua berkat test HIV/AIDS.

Namun faktanya, tidak semua orang bersedia untuk menjalani test HIV/AIDS. Kebalikannya, setiap orang (dengan predikat berresiko tinggi, seperti PSK, playboy dan lain lain) justru merasa bahwa dirinya TERBEBAS dari virus tersebut. Itu semua dikarenakan orang-orang tersebut sedang di dalam fase sehatsemu (kalau orang tersebut memang resipien HIV/AIDS).

Maka dari ‘modus’ inilah, HIV/AIDS menjadi benteng milik Tuhan yang paling ampuh untuk membendung zina dan freesex. Dengan wujudnya HIV/AIDS, umat pelaku zina dan freesex terpaksa berfikir berulang-ulang untuk meluapkan kecendrungan mereka yaitu zina dan freesex.

Kalau di Dunia ini TIDAK ada HIV/AIDS, pastilah zina dan freesex tetap marak, bahkan makin menjadi-jadi. Namun dengan wujudnya HIV/AIDS, fenomena zina dan freesex dapat  di-rem dan ditekan seoptimal mungkin.

Sampai detik ini, instrumen ini telah berhasil membendung fenomena freesex tersebut. Dan sampai detik ini, HIV/AIDS belum dapat dijebol oleh manusia.

–o0o–

Adalah fair sekali jika Tuhan menurunkan HIV/AIDS ini. Memang terdengarnya Tuhan amat kejam saat menurunkan instrumenNya yang bernama HIV/AIDS ini. Namun sisi fairnya adalah, apakah manusia pantas untuk menjadi pelaku-pelaku zina dan freesex? Mengapa manusia selalu berbuat segala sesuatu yang menurunkan kemuliaan dan martabatnya sebagai manusia khalifah Allah Swt di muka bumi?

Sudah berkali-kali Tuhan menurunkan instrumenNya supaya manusia menjauhi zina dan freesex. Namun tampaknya manusia tetap tidak mengerti bahwa menjauhi hal tersebut adalah suatu kehormatan dan keagungan. Dan saat Tuhan menurunkan HIV/AIDS ini, adalah saat-saat di mana Tuhan ingin melihat manusia tetap berjalan di muka bumi ini sebagai khalifahNya di muka bumi ini. Bagaimana seorang manusia dapat mengemban tugasnya sebagai khalifah Allah, kalau perilakunya selalu berhubungan dengan aktivitas zina dan freesex, yang tidak beda dari sekawanan binatang yang tidak berakal?

Allah Swt sudah berhasil dengan instrumenNya kali ini, sehingga zina dan freesex berhasil dibendung secara signifikan. Namun yang jelas, tampaknya manusia masih tidak mengerti betapa zina dan freesex adalah keji dan tidak bermartabat. Itulah sebabnya, wacana Dunia dewasa ini selalu berkisar pada usaha untuk menemukan cara untuk menyembuhkan dan mengatasi HIV/AIDS ini. Seharusnya, umat manusia mempunyai wacana yang berkisar pada isu Tuhan, yaitu apakah manusia pantas untuk dikatakan sebagai khalifah Allah Swt di muka bumi ini? Bukannya pada usaha untuk menemukan obat HIV/AIDS.

Kalau seluruh umat manusia sadar bahwa dirinya berakal, pasti dia akan bersikap santun penuh etika dan estetika. Kemudian, kalau manusia menjadi santun, pasti dia akan menjadi anggun dan agung. Kemudian, kalau manusia sudah agung dan anggun, maka dia akan menjauhi zina dan freesex. Pada akhirnya, kalau manusia sudah menjauhi zina dan freesex, pasti HIV/AIDS akan lenyap dari muka bumi ini.

Akal >> santun / etika dan estetika >> agung dan anggun >> khalifah Tuhan menjauhi zina dan freesex >> terbebas dari HIV/AIDS >> khalifah Tuhan.

Wallahu alam bishawab.

Cara Menyiram Pohon Yang Bijak dan Bajik

Bagaimana cara Anda menyiram pohon kesayangan Anda?

Apakah dengan cara mengguyur air ke pohon tersebut dari bagian atasnya sehingga membasahi seluruh bagian pohon tersebut? Banyak saudara-saudara kita yang menyiram pohon kesayangan kita dengan cara begitu. Lebih tepatnya, mereka menyiram pohon dari atas ke bawah, dan memastikan bahwa seluruh daunnya menjadi basah terkena siraman air. Mereka yakin bahwa dengan cara seperti itu, sang pohon akan kembali menjadi segar karena air yang dibutuhkan sudah diguyurkan ke setiap daunnya.

Kita biasanya meniru ‘perbuatan’ sang hujan ketika membasahi pepohonan. Air hujan yang turun akan membasahi pepohonan, sampai ke daun-daunnya, bahkan sampai ke ranting-rantingnya. Dan dengan demikian maka sang pohon telah paripurna mendapatkan air yang amat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kesegarannya.

Cara menyiram pohon yang salah.

Kita sering melihat saudara-saudara kita menyiram pohon kesayangan mereka dengan cara menyiramkan air ke ‘tubuh’ pohon tersebut. Umumnya orang berfikir bahwa kalau ingin merawat tanaman mereka, maka mereka menyiramkan air ke pohonnya, apalagi menyiramkan air itu langsung ke daun-daunnya sehingga seluruh daunnya harus basah. Itu adalah cara menyiram air yang keliru.

Tumbuhan atau pohon jelas membutuhkan air. Nah dari manakah pohon tersebut mengambil air atau mendapatkan air? Apakah dari air yang menempel di daun-daunnya atau dari air yang membasahi ranting dahannya? Tidak sama sekali.

Tetes-tetes air yang tinggal atau berada di dedaunan misalnya, tidak lah akan diambil oleh pohon tersebut untuk proses kelangsungan hidupnya. Tetes-tetes air yang ada terdapat di dedaunan, pastilah akan lenyap diterpa angin alias kering menguap. Jadi, tidak ada sepeserpun dari tetes air itu yang berada di dedaunan yang bermanfaat bagi sang tumbuhan.

Selain keliru, menyiram pohon dengan cara menyiramkan air ke pohon itu sendiri juga akan dianggap sebagai perbuatan yang MUBAZIR karena pasti akan membuang air di dalam jumlah yang cukup banyak. Sayang, kan kalau kita membuang air dengan cara sia-sia?

Cara menyiram pohon yang benar.

Sebenarnya tidak lah demikian. Menyiram pohon yang baik dan benar, adalah dengan pertama-tama memperhatikan bahwa pohon itu butuh air ‘untuk apa’. Ya, tentunya untuk kelangsungan hidupnya. Buat apa lagi.

Kalau Anda hendak menyiram pohon, maka TUANGKANLAH air ke tanah tempat pohon itu tumbuh atau  berdiri. Sekali lagi, siramkanlah air tersebut ke TANAH tempat pohon itu tumbuh dan berdiri.

Pohon akan mengambil air DARI AKARnya YANG BERADA DI DALAM TANAH. Keseluruhan air yang berada dan berproses di dalam tubuh pepohonan adalah berasal dan diambil dari akar, dan akar itu mengambil air dari tanah. Maka dari itu, jika kita ingin menyiram pohon, maka tuangkan saja airnya ke tanah tempat pohon itu berdiri. Dijamin, seluruh air yang masuk ke dalam tanah itulah yang akan diserap akar sang pohon.

Kalau kita menyiram pohon dengan cara menuangkan air ke tanahnya, maka dua hal akan diperoleh,

Pertama, bahwa sang pohon akan mendapat air secara maksimal.

Kedua, tentunya, kita terhindar dari perbuatan mubazir. Bayangkan, air seember misalnya, disiramkan keseluruhan bagian pohon. Yang mencapai tanah hanya 1 per 10 nya, sementara 9 per 10 nya NYANGSANG ke bagian pohon bagian atas sebagai daun, batang, ranting, pucuk dan lain lain. Sementara yang masuk ke tanah untuk diserap oleh sang pohon hanya 1 per 10 nya. Bukankah tindakan itu hanya akan merugikan kita sebagai pemilik air, dan sekaligus merugikan sang pohon itu sendiri? Seharusnya pohon itu mendapatkan air secara utuh yaitu SEEMBER. Namun karena menyiramnya dengan cara yang sembrono, maka sang pohon hanya mendapatkan 1 per 10 dari air seember.

Kalau kita menyiram pohon dengan cara menuangkan air ke tanahnya, maka dengan demikian kita tidak perlu lagi menuangkan keseluruhan air yang di ember. Cukup 1 per 3 saja, itu sudah cukup. Asalkan airnya merembes ke tanahnya dengan baik, maka dijamin sang akar akan mendapatkan pasokan airnya secara memadai.

Selamat mengikuti.