Betamawini

Haji dan Arab Saudi

pelayanmekah

Sebagai rukun Islam yang kelima, menunaikan haji menjadi dambaan setiap muslim di seluruh dunia. Walaupun membutuhkan biaya yang tidak sedikit, animo kaum muslimin untuk menyambut  panggilan ilahi ini tetap besar. Setiap tahunnya, jumlah jemaah haji dari berbagai negara yang mengunjungi dua tanah suci semakin besar, termasuk Indonesia. Jumlah ini belum ditambah dengan jemaah umrah yang hilir mudik, silih berganti memadati Masjidil Haram setiap harinya, terutama di bulan Ramadhan yang hampir mirip dengan jumlah jemaah haji. Betapa besar upaya dan kesungguhan Arab Saudi dalam melayani para tamu Allah yang datang dari berbagai penjuru dunia itu.

Fluktuasi Jumlah Jemaah Haji

Tahun 2014 yang lalu Arab Saudi memprediksi bahwa jumlah jemaah haji dalam sepuluh tahun terakhir adalah 24,8 juta. Jumlah terbesar terjadi pada tahun 2012. Saat itu, 3,16 juta jemaah haji dari seluruh dunia memadati kota Makkah. Pada tahun 2014, sejumlah 2,1 juta jemaah haji dari seluruh dunia kembali membanjiri Arab Saudi. Dari angka-angka tersebut, jemaah haji Indonesia merupakan jemaah terbanyak.

Jika diprosentase, jumlah jemaah haji Indonesia adalah 21 persen. Peringkat kedua disusul jemaah haji Pakistan. Jumlah di atas dipastikan akan terus meningkat dengan adanya proyek perluasan Masjidil Haram yang sudah menjadi sebuah tuntutan. Wajar, bila sampai tahun 2020 mendatang jumlah total jemaah haji dan umrah diperkirakan mencapai angka 80 juta. Jumlah yang sangat besar, bukan? Jumlah ini adalah angka yang luar biasa. Sebab, terjadi kenaikan yang sangat besar pada jumlah jemaah yang mengunjungi tanah suci dalam kurun seratus tahun terakhir. Data resmi pemerintah Arab Saudi memperlihatkan pada tahun 1920, jumlah jemaah haji dari seluruh dunia hanya 60 ribu orang saja.

Minat Umat Islam Meningkat

Ada beberapa sebab yang menjadikan jumlah jemaah haji semakin membengkak. Tentunya, penyebab utama peningkatan kuantitas jemaah haji adalah semakin tingginya kesadaran beragama umat Islam. Perkembangan teknologi transportasi yang memberikan kemudahan dan kecepatan perjalanan juga menjadi faktor penentu. Hal lain yang tidak kalah menentukan adalah bagusnya pelayanan Arab Saudi terhadap jemaah haji. Faktor inilah yang menjadikan orang yang sudah pernah berkunjung ke tanah suci kembali datang untuk yang kesekian kalinya. Apalagi bagi jemaah yang sama sekali belum pernah berkunjung.

Proyek Masjidil Haram

Permintaan penambahan kuota, baik haji maupun umrah, dari semua negara terus berdatangan. Melihat kenyataan ini pemerintah Arab Saudi berusaha melakukan renovasi perluasan kawasan Masjidil Haram. Tujuannya tidak lain adalah agar jemaah haji, tamu-tamu Allah, bisa mendapatkan pelayanan seoptimal mungkin dan kebutuhan kuota terpenuhi. Dalam hal ini, pemerintah Arab Saudi patut dihargai / diberi nilai positif karena telah berupaya mengakomodir berbagai permintaan tersebut. Sehingga tidak tepat bila  dikatakan bahwa pemerintah Arab Saudi terlalu ambisius dalam proyek perluasan ini. Apalagi, sampai ada yang mengatakan bahwa megaproyek ini demi mengatrol pemasukan devisa Arab Saudi. Cara pandang semacam ini adalah cara pandang sempit, terkesan egois, tendensius dan tidak objektif.

Sekali lagi, langkah Arab Saudi memperluas Masjidil Haram merupakan wujud sambutan dari berbagai permintaan penambahan kuota jemaah haji dan umrah dari berbagai negara dan sama sekali bukan tujuan bisnis. Berbagai fasilitas yang disediakan pemerintah Arab Saudi untuk para jemaah haji adalah fasilitas umum. Dengan kata lain, jemaah haji memanfaatkannya tanpa dipungut biaya. Adapun keuntungan dari hasil sewa hotel, penginapan, produk makanan dan souvenir kembali kepada person-person pengusaha yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kas negara. Sebab, di Arab Saudi tidak ada pajak.

Fakta berbicara

Melihat fakta di atas, agaknya tidak bijak bila ada yang mengatakan bahwa etos yang dibangun pemerintah Arab Saudi adalah etos bisnis, bukan etos melayani. Ungkapan tersebut tentu sangat bertentangan dengan fakta di lapangan. Apalagi sampai mengatakan, kesucian Makkah telah ternodai oleh berbagai bangunan. Bagi Anda yang pernah naik haji, pemerintah Arab Saudi selalu membagikan buku bimbingan haji secara gratis.

Taruhlah biaya cetak satu buku adalah Rp. 3.000,- sedangkan jumlah jemaah haji rata-rata 2 juta, maka untuk buku saja minimalnya pemerintah Arab Saudi harus mengeluarkan 6 milyar rupiah. Jumlah yang tidak sedikit bukan?

Pembaca rahimakumullah, mengurus dan mengatur orang dengan jumlah banyak bukan hal yang mudah.  Saya yakin, ketika mengurus putra-putri kita yang jumlahnya tidak lebih dari 10 orang, pasti terdapat kekurangan di sana-sini. Lalu, bagaimana dengan mengurus jemaah haji dengan jumlah hampir 3 juta orang? Mereka pun berasal dari berbagai negara dengan bahasa, budaya, sifat dan karakter yang tentu sangat heterogen. Pastinya, membutuhkan kerja keras luar biasa, yang didasari ikhlas semata-mata mengharap pahala dari Allah. Bagaimana jika jemaah haji sebanyak itu tidak terlayani dengan optimal?

Keseriusan Arab Saudi

Mari kita menyoroti sejauh mana keseriusan pemerintah Arab Saudi melayani jemaah haji. Melayani jemaah haji membutuhkan manajemen ekstra tinggi dan kerja keras tiada henti. Contoh sederhana keseriusan pemerintah Arab Saudi bisa kita lihat pada kasus-kasus berikut; Bayangkan, jika 1 orang jemaah membutuhkan 20 liter air bersih untuk standar minimal MCK selain air zam-zam, maka dalam sehari Makkah memerlukan sekitar 20 liter x 2 juta orang (40 juta liter air bersih).

Pertanyaannya, bagaimana menyediakan 40 juta liter air bersih setiap hari untuk keperluan MCK jemaah haji, padahal di Makkah tidak ada sumber air selain sumur Zamzam?! Sumber air bersih untuk kebutuhan MCK adalah Laut Merah yang disuling. Itupun harus dialirkan sejauh 60 KM. Anda yang pernah haji atau umrah, pernahkah kesulitan mendapatkan air bersih? Atau pernahkah terdengar keluhan dari jemaah yang kekurangan air atau tandon yang kosong atau kran yang macet? Lalu bagaimana menyediakan 12 juta liter air zam-zam setiap hari untuk kebutuhan minum dan wudhu jemaah, belum lagi air Zamzam yang disediakan pemerintah Arab Saudi untuk dibawa pulang secara gratis?

Pernahkah terdengar ada jemaah yang mengeluh karena kehausan atau tidak kebagian air Zamzam? Justru yang sering kita dengar, jemaah haji membawa pulang air Zamzam melebihi ukuran yang ditentukan. Pembaca, mari kita beralih ke masalah sampah. Jika seorang jemaah menghasilkan sampah 20 gram saja sehari. Berarti dalam sehari ada 20 gram x 2 juta sampah atau 40 juta gram.

Artinya, setiap hari ada 4 ton sampah kering yang harus dibersihkan dan disediakan tempat penampungan. Tidak harus ke kota Jakarta, berapa banyak sampah di lingkungan sekitar kita yang belum terselesaikan sampai sekarang. Selanjutnya masalah sanitasi. Untuk bisa BAB, tentu membutuhkan sarana dan prasarana. Terus, berapa kotoran padat dan cair manusia di Makkah yang harus dibersihkan? Jika seorang jemaah buang kotoran padat 5 gram dan ½ liter kotoran cair setiap harinya, tentu jumlahnya mencapai sekitar 10 ton kotoran padat dan 1 juta liter kotoran cair setiap harinya.

Adakah jamaah yang mengeluh terkena penyakit akibat sanitasi yang mampet? Atau masalah MCK yang tidak beres?

Pembaca, mungkin Anda perlu tahu bahwa pengelola Masjidil Haram setiap hari harus menumpahkan cairan desinfektan untuk mencegah pencemaran lingkungan. Tenaga kerja pembersih Masjidil Haram terbagi dalam 3 shift dan beberapa jenis pekerjaan. Singkatnya, ratusan tenaga pembersih harus dikerahkan setiap shift agar Masjidil Haram tetap bersih dan nyaman.

Mari kita hitung, jika seorang tenaga kerja dibayar 500 riyal saja per-bulan (ini angka kasar minimal), berapa juta riyal yang harus dikeluarkan untuk biaya tenaga kerja?

Adakah jemaah diminta untuk infak? Atau Anda pernah melihat ada kotak infak diletakkan di area Masjidil Haram?

Jutaan riyal dikeluarkan pengurus Masjidil Haram, sementara kita tidak diminta iuran sepeser pun? Satu lagi yang tidak bisa dihitung dengan uang secara instan, yaitu keamanan dan stabilitas kota Makkah. Tanpa ini, Anda tidak mungkin bisa berhaji atau berangkat umrah dengan aman dan nyaman.

Hal-hal di atas hanya sekelumit penggambaran bagaimana kerja keras dan jerih payah pemerintah Arab Saudi untuk jamaah haji. Jika hanya memperhatikan ini saja, mestinya kita harus banyak berterima kasih dan merasa berhutang budi kepada pemerintah Arab Saudi. Bayangkan, pemerintah Arab Saudi menghabiskan 100 miliar dolar AS untuk meningkatkan fasilitas haji.

Berbagai usaha dan upaya telah dilakukan dan sedang direncanakan oleh raja Arab Saudi untuk melayani para peziarah tanah suci tersebut. Sehingga, gelar sebagai Khadimul Haramain Pelayan Dua Tanah Suci disematkan kepada setiap Raja Arab Saudi. Gelar tersebut bukan hanya sebatas gelar saja, akan tetapi telah diwujudkan dalam berbagai bentuk yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Adalah sebuah ketidakdewasaan berpikir, apabila ada yang justru menuduh bahwa segala upaya pemerintah Arab Saudi selama ini adalah bentuk eksploitasi terhadap jemaah haji. Lebih parah lagi, jika yang menuduh tersebut adalah salah satu dari sekian jemaah yang telah merasakan segala pelayanan Arab Saudi tersebut. Benarlah ungkapan, tidak akan bersyukur kepada Allah orang yang tidak mau berterima kasih kepada orang lain.

Saatnya Jujur

Mungkin, ada yang menjadikan tragedi musim haji 2015 ini sebagai alasan kegagalan Arab Saudi dalam mengelola ibadah haji. Jawabannya, untuk musibah crane pemerintah Arab Saudi sangat bertanggung jawab. Pemerintah memberikan santunan Rp. 3,8 milyar untuk korban meninggal dan korban cacat seumur hidup, dan Rp. 1,9 milyar untuk korban luka-luka. Besarnya santunan ini belum pernah diberikan kepada korban musibah lain di negara manapun di dunia ini.

Kerabat korban yang dirawat di rumah sakit berhak mendapat visa kunjung khusus selama masa penyembuhan hingga kembali ke negara masing-masing. Bahkan, dua kerabat korban meninggal dunia akan mendapat undangan haji khusus pada tahun depan. Cukuplah, ungkapan salah seorang jemaah haji dari Inggris, Taheer Zaman, sebagai bukti dan saksi. Pengaturan (haji, red) dari pemerintah Arab Saudi sangat luar biasa. Saya sudah naik haji beberapa kali dalam 20 tahun terakhir. Langkah  pengamanannya lebih dari cukup, bahkan berlebihan, bebernya.

Ini masih sebatas pelayanan Arab Saudi terhadap jemaah haji dan umrah. Kita belum bicara tentang bagaimana Arab Saudi menerjemahkan al-Qur’an ke dalam berbagai bahasa dan dibagikan cuma-cuma ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Bagaimana Arab Saudi membantu negara-negara yang ditimpa musibah seperti musibah tsunami Aceh tahun 2004 Arab Saudi membantu sebesar US$ 530 juta (sekitar Rp. 4,8 triliun).

Dan masih banyak peran Saudi lainnya yang tidak mungkin kami sebutkan semua di sini. Wallahu a’lam.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah Majdy

Sumber,

http://buletin-alilmu.net/2015/10/23/haji-dan-arab-saudi/

Alamandang,

Alhamdulillah, situs Alamandang mengucap puji syukur ke hadhirat Allah Swt karena menemukan artikel ini di belantara internet, yang kandungannya menyampaikan bahwa Raja Arab Saudi selaku Pelayan Dua Tanah Suci begitu serius dan komit untuk membenahi dua Masjid suci dan sekaligus melayani jemaah haji seluruh dunia, dan itu pun tanpa jemaah haji / umrah harus mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya operasionalnya.

Mengapa Alamandang begitu bersyukur menemuikan artikel ini? Jelas itu ada sebabnya.

Begini. Di internet banyak ditemui artikel sinis yang dilontarkan individu antimuslim, yang kandungannya menghina dan mendiskreditkan Islam, Ka’bah, ibadah haji dan orang Arab.

Orang-orang antimuslim umumnya mencibiri Ka’bah dan ibadah haji / umrahnya. Kata mereka Ka’bah, Mekkah, Islam dan segala hal yang terpaut dengannya tidak lebih dari proyek akal-akalan Nabi Muhammad Saw supaya negeri Arab banyak didatangi jemaah haji saban tahun, dan dengan demikian negeri Arab menjadi kaya karena setiap jemaah haji pasti dimintai duit atau pajak per kepala supaya bisa beribadah di Ka’bah. Hal ini praktis membuat rakyat dan Raja Arab menjadi kaya-raya. Itulah cibiran dan tuduhan kaum antimuslim.

Saya sebenarnya faham sekali bahwa cibiran tersebut sama sekali tidak berdasar, toh seluruh jemaah haji / umrah tidak pernah dimintai uang apa pun ketika mereka akan beribadah. Namun masalahnya sulit bagi saya untuk mengartikulasikan diri saya bahwa saya faham kemegahan Masjidil-haram dan juga Nabawi bukan berasal dari minta-minta uang jemaah.

Dan ternyata artikulasi tersebut sudah ada, yaitu artikel ini. Itulah sebabnya saya begitu bersyukur mendapatkan artikel ini, dan kemudian saya putuskan untuk saya tayang (copas) di situs Alamandang ini, dengan tujuan semoga lebih banyak khalayak yang membaca artikel ini dan akhirnya faham bahwa kaum antimuslim hanya bisa mencibiri dan menuduh umat Muslim dengan Ka’bahnya. Mereka hanya syirik kepada kemegahan Masjidil-haram dan Masjid Nabawi, dan kepada kemegahan ritus haji / umrah yang diselengga-rakan di kedua tempat kudus tersebut, dan juga iri karena jutaan Muslim yang berbondong-bondong mengalir ke Mekkah untuk beribadah saban tahun dan saban bulan, hal yang tidak pernah terwujud di dalam agama mereka, selain Islam.

Wallahu a’lam bishawab.

Obrolan Seputar Pemilu Jokowi dan Prabowo

Saudara-saudara,
Pokok nyaaa ……..!!!!
Pokoknya saya tidak mau kalau Presiden saya wajahnya MIRIP tukang pisang pikulan ……
Kalau Presiden itu, mbokya yang wajahnya ganteng, tegap, dan internasional-face….
Pokoknya saya tidak mau yang wajahnya kayak tukang pisang pikulan ….. Nanti apa kata dunia????
000000000000>>
Terus Anda maunya Presiden kita yang tukang culik, penuh dengan dosa masa lalu, gampang gampar orang dan nanti bersanding dengan Presiden lain tidak ada first lady-nya……
Ya mbok kalau memilih Presiden jangan dilihat dari tampang, memangnya tampang Anda se keren apa?
000000000000>>
Anda tehe tidak, “SOMEONE HAS TO DO WHAT HE HAS TO DO”?
Seseorang harus berbuat itu, atau apakah dia harus berdiam diri saja, PADAHAL ada yang bisa dia perbuat untuk menyelamatkan negara???
Masalah benar salah, itu urusan later!!!! Intinya, pada saat itu, “what he is doing” adalah SATU-SATUNYA HAL YANG PALING BENAR saat itu untuk menyelamatkan negara.
Ingat, ini adalah politik. Dan dalam politik, semuanya adalah RELATIF: yang benar jadi salah, dan yang salah jadi benar, lawan jadi kawan, dan kawan jadi lawan. Tidak ada yang berlaku mutlak dalam politik.
APALAGI dalam hal keselamatan negara, semua (harus) sepakat bahwa nyawa TIDAK ARTINYA, asalkan negara tetap selamat.
Jadi, dalam hal ini, kita harus akui BAHWA “DIA” INNOCENT …..
000000000000>>
Terus itu kalau what he has to do, jadi perbuatan baik?
Coba kalau bapak Anda yang diculik, om Anda yang diculik, bagaimana komentar Anda?
000000000000>>
Sudah saya tulis, benar salah, itu adalah urusan politik, dan urusan later. Dan ini pasti juga ada faktor publikasi. Singkatnya, benar salah itu adalah relatif. Ingat, ini politik ….
Bagaimana kalau bapak saya, om saya, yang diculik ……?
Tergantung, apa yang diperbuat mereka?? Mereka mau cari penyakit apa tidak???? Korban-korban yang sudah tercatat itu, faktualnya MEMANG CARI PENYAKIT ….
Apakah operator penculikan itu sekelas gendruwo, yang menculik tidak berdasarkan kriteria???? Gendruwo saja kalau menculik juga berdasarkan kriteria!
Makanya, siapa suruh cari penyakit??? Siapa suruh jadi sok pahlawan???
000000000000>>
Pahlawan-pahlawan ini yang menbawa kita kepada kebebasan press dan berpendapat.
000000000000>>
KALAU MAU jadi pahlawan, silahkan. Itu hak asasi masing-masing ….
Tapi ingat, kalau mau jadi pahlawan, resiko harus tanggung sendiri … Jangan di belakang hari cengengnya berbuntut panjang, cengeng kok tidak kelar-kelar …. Kalau ingin jadi pahlawan maka ada harga yang harus dibayar …. terima lah itu..
Artinya??? jangan salahkan si-a, si-b, si-c. Itu baru namanya fair.
Intinya, “DOI” TIDAK SALAH……
Bagaimana mau salah??? Wong “dia” hanya perbuat what he had to do,….. Apakah “doi” harus berdiam saja, padahal negara sedang terancam ….?
000000000000>>
Ada alasan kenapa diculik; Ada alasan kenapa dibunuh; Dan ada juga alasan mengapa harus diculik
Dan ada juga alasan mengapa harus dibunuh.. Dan ada juga alasan kenapa Amerika tidak memberikan visa ke dia waktu anaknya akan wisuda di Amerika. Kalau tidak faham sejarah dan sebenarnya seperti apa.., jangan banyak komentar.
Kalau Anda mau memilih yang Anda sukai.. ya sudah coblos sana.., tidak usah caci-caci orang…..
Politik itu udah kotor. Jangan ditambah kotor dengan komentar Anda.
Heran saya….
000000000000>>
Apakah benar saya di sini caci-caci? Saya hanya menyampaikan SAYA TIDAK MAU PRESIDEN SAYA WAJAHNYA SEPERTI TUKANG PISANG PIKULAN ….. Apakah itu yang namanya mencaci????
Masalah penculikan, pembunuhan dlllll …..
Itu semua adalah urusan para tentara ….. Mengapa Anda bertanya kepada saya??? Pada saat itu, tentara ATAS-NAMA Negara BERWENANG untuk menyatakan bersalah kepada siapa saja yang bersalah. Dan wewenang itu bukan ada pada wartawan, aktifis dlllll, apalagi Anda ….
Yang jelas, faktualnya, mereka semua (para korban) melakukan perlawanan kepada tentara cq Negara. Kalau mereka ingin menjadi melawan, itu memang hak asasi mereka. Tapi RESIKO TANGGUNG SENDIRI. ..
Jangan salahkan tentara kalau terjadi apa-apa …. BERANI BERBUAT harus BERANI BERTANGGUNG JAWAB….. jangan main cengeng-cengeng di belakang hari ….
Masalah tidak diberi visa, itu memang tabiat Amerika untuk setir negara orang …..
-o0o-

Usulan Petunjuk Teknis SKB 3 Menteri Tentang Pelarangan Gerakan Ahmadiyah Indonesia

alamandang-rezayuliSKB 2 Menteri dan 1 Pejabat Negara setingkat Menteri mengeluarkan larangan kepada jemaat Ahmadiyah untuk melakukan aktivitasnya dan menyiarkan ajarannya.

Pendahuluan

Ahmadiyah di mana juga, termasuk di Indonesia tetap menjadi duri dalam daging bagi kehidupan Muslim mainstream yaitu Muslim Ahlus Sunnah Waljamaah. Khususnya di Indonesia, keberadaan kaum ini terus menjadi kendala dan dilematis bagi seluruh pihak. Pemerintah NKRI sudah mengeluarkan SKB 3 Menteri mengenai restriksi atas kelompok ini, namun toh tampaknya penyelesaiannya masih jauh dari harapan.

Penyelesaian masalah kaum ini umumnya terkendala pada  level HAM. Penggerak HAM beranggapan bahwa apapun yang menjadi kepercayaan kaum Ahmadiyah harus dihormati dan harus dibela karena merupakan bagian dari kebebasan azazi umat manusia. Dengan demikian umat Ahlus Sunnah Waljamaah tidak berhak melarang aktivitas dan eksistensi kaum Ahmadiyah ini. Di pihak lain, umat Muslim terus meyakinkan semua pihak bahwa kaum Ahmadiyah ini telah melanggar HAM, yaitu pada level penistaan suatu agama yang diakui secara sah di NKRI yaitu Islam. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa ada Rasul setelah Rasul Muhammad Saw. Ini jelas merupakan penistaan, dan penistaan suatu agama sebenarnya dapat diseret ke muka Hukum. SKB 3 Menteri tampaknya bukan merupakan suatu titik paling cerah untuk menyelesaikan masalah Ahmadiyah ini.

Berikut ini mungkin kita sebagai Ahlus Sunnah Waljamaah dapat memberikan suatu set restriksi, suatu titik tengah yang dapat menghancurkan jalan buntu penyelesaian masalah Ahmadiyah ini. Titik tengah ini tetap berbasis pada anti kekerasan, namun juga akan dapat memastikan bahwa Muslim Ahlus Sunnah Waljamaah akan dapat menjalankan fungsi amar maruf nahi mungkarnya terhadap kaum sesat ini. Pun, set restriksi ini tetap mempertahankan pernyataan sikap dari kaum Ahmadiyah sendiri, bahwa mereka tetaplah Muslim.

A. Umum.

Secara umum petunjuk pelarangan ini adalah berdasarkan pembagian antara ranah privat / domestik dan ranah publik. SKB 3 Menteri ini tidak melarang aktivitas keagamaan Ahmadiyah selama kegiatan keagamaan ini berada pada ranah privat. Termasuk tidak melarang jemaat Ahmadiyah untuk mengelola situs internet dengan menggunakan bahasa Qadian sebagai bahasa pengantar mereka di situs internet tersebut, shalat di rumah masing-masing, mengkaji kitabsuci Ahmadiyah di rumah masing-masing dan seterusnya.

B. Jenis Pelarangan.

Pelarangan aktivitas jemaat Ahmadiyah meliputi aktivitas keagamaan yang berifat organisasional / organisatoris dan keumatan. Pelarangan aktivitas Ahmadiyah tidak meliputi praktek / ibadah yang bersifat privat / domestik seperti shalat wajib 5 waktu, puasa, zikir, mengaji Alquran dan seterusnya.

Larangan kegiatan Ahmadiyah yang bersifat organisasional / organisatoris:

  1. Tidak melakukan kegiatan yang bersifat organisasi massa atau organisasi struktural berbasis Ahmadiyah seperti rekruitmen mubaligh Ahmadiyah, kaderisasi, lembaga pendidikan berbasis Ahmadiyah dan lain-lain.
  2. Tidak melakukan kegiatan kepemimpinan massa formal Ahmadiyah (seperti MUI untuk umat Muslim Sunnah Wal Jamaah) – berikut dengan agenda-agenda organisatorisnya.
  3. Tidak melakukan kegiatan kepartaian berbasis Ahmadiyah.
  4. Tidak memasang foto / icon Ahmadiyah di tempat / medua umum untuk tujuan tujuan Ahmadiyah sendiri.
  5. Tidak mengelola lembaga penerbitan Ahmadiyah seperti buku-buku Ahmadiyah, koran, media cetak, lembaran dakwah dan lain lain yang berbasis Ahmadiyah.
  6. Tidak mengelola lembaga media elektronik yang berbasis Ahmadiyah.
  7. Tidak mengelola situs internet baik berbahasa Indonesia (atau bahsa mansa pun yang dimengerti oleh masyarakat secara luas seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Arab, dan lain lain) mau pun berbasis di NKRI yang ditujukan untuk kepentingan Ahmadiyah.
  8. Tidak membina hubungan keorganisasian dan mau pun hubungan struktural dengan Ahmadiyah Dunia.

Larangan kegiatan Ahmadiyah yang bersifat keumatan:

  1. Shalat Jumat.
  2. Shalat Idul Fitri.
  3. Shalat Idul Adha.
  4. Shalat Tarawih.
  5. Mengelola Masjid mau pun mushala.
  6. Penyelenggaraan pemotongan hewan qurban.
  7. Selamatan / tahlilan, pengajian, tabligh dan lain lain yang diselenggarakan di tempat umum mau pun di kediaman pribadi pengikut Ahmadiyah.
  8. Lembaga pengumpulan zakat, infaq, sadaqah dan lain lain.
  9. Perayaan Maulid, perayaan Isra Mikraj, perayaan Tahun Baru Islam, perayaan milad Ahmadiyah.
  10. Sunatan massal.
  11. Mengajarkan faham Ahmadiyah di sekolah-sekolah di dalam bentuk apapun seperti di dalam bentuk kurikulum.

Dalam hal aktivitas keumatan ini maka individu Ahmadiyah DIHARUSKAN bergabung dengan aktivitas keumatan yang diselenggarakan oleh Sunnah Wal-Jamaah seperti shalat Jumat, Idul Fitri dan seterusnya. Menyekolahkan anak-anak kaum Ahmadiyah di sekolah yang dikelola Muslim Ahlus Sunnah Waljamaah merupakan suatu keharusan.

Warga Sunnah Waljamaah WAJIB secara santun dan penuh persaudaraan menerima individu Ahmadiyah ini sebagai saudara mereka (sepanjang mereka masih mengaku Muslim) di setiap kesempatan kegiatan keumatan Sunnah Waljamaah mereka, individu Ahmadiyah adalah individu yang harus dibina.

C. Asset Ahmadiyah.

Asset Ahmadiyah disita / di-klaim oleh negara dan kemudian berdasarkan persetujuan akan difungsikan berdasarkan arahan MUI.

D. Pembinaan Masyarakat.

Di dalam hal masyarakat luas seperti umat Sunnah Waljamaah mempropagandakan atau mensosialisasikan kesesatan Ahmadiyah di tengah masyarakat (khususnya yang ditujukan untuk membina faham ketauhidan masyarakat itu sendiri) setiap individu Ahmadiyah TIDAK BERHAK untuk melakukan gugatan, protes, mau pun memberikan klarifikasi.

Penutup.

  1. Implementasi ini tidak menitik-beratkan atau menyebutkan kata MEMPERTOBATKAN kaum Ahmady mengingat keyakinan individu terhadap suatu hal bersifat pribadi (privat) dan tidak dapat diukur dengan instrumen apapun. Hal terjauh yang dapat dilakukan oleh Ahlus Sunnah Waljamaah (khususnya di dalam hal ini Pemerintah NKRI) terhadap kaum Ahmadiyah adalah dengan membaurkan kehidupan keseharian dan keberagamaan kaum Ahmadiyah ke dalam kehidupan kaum Ahlus Sunnah Waljamaah (seperti bergabung di dalam shalat Jumat bergabung dengan umat Sunnah Waljamaah). Pengkotakan yang selama ini terjadi yaitu kaum Ahmadiyah membatasi kehidupan mereka hanya pada sesama mereka saja harus segera diakhiri dengan dijalankannya implementasi ini yaitu dengan cara pembauran secara merata. Salah satunya adalah pada butir bahwa kaum Ahmadiyah tidak diperkenankan untuk mengelola Masjid mau pun mushala mereka, dengan tujuan agar Masjid mereka dikelola oleh Sunnah Waljamaah dan agar tempat itu tidak lagi dijadikan basis pengajaran ajaran Ahmadiyah.
  2. Implementasi ini seutuhnya menggunakan pendekatan hak azasi manusia dan anti-kekerasan, yang fokusnya adalah menitik-beratkan pada usaha supaya Ahmadiyah tidak dapat established, tidak dapat berkembang dan tidak dapat mandiri. Hal yang paling mendasari implementasi ini adalah adanya pernyataan sikap dari pihak Ahmadiyah sendiri bahwa mereka adalah tetap Muslim. Dengan pernyataan tersebut Sunnah Waljamaah BERHAK DAN WAJIB mengambil tindakan yang perlu (namun tidak mengandung unsur kekerasan dan pelanggaran hak azasi manusia) untuk memastikan mereka adalah Muslim seutuhnya, bukan golongan Muslim yang sesat.
  3. Dengan set restriksi ini, seluruh pihak mempunyai kesempatan dan peluang sistematis untuk memutuskan mata-rantai dan mentiadakan next generation golongan Ahmadiyah ini.
  4. Pada dasarnya SKB 3 Menteri sudah memenuhi aspirasi Muslim NKRI, namun harus diakui bahwa SKB ini jauh dari harapan dilihat dari implementasi realnya. Usulan ini merupakan sikap bahwa mungkin Muslim NKRI (Ahlus Sunah Waljamaah) dapat meng-improvisasikan dan memberdayakan SKB 3 Menteri ini tanpa merugikan pihak mana pun, dan juga tanpa adanya tindak kekerasan dan irrasionalitas yang keji.

Penyakit HIV/AIDS Tak Lagi Mematikan

alamandang-rohadi

Bagaimana Melawan HIV AIDS?

Para Penderita dapat melawan virus ini dengan menguatkan sistem imun, makanan bergizi tinggi, istrihat yang cukup dan hindari stress dan berkonsultasi ke dokter secara rutin. Menguatkan sistem imun dan menjaganya agar tetap kuat adalah sangat penting. Penyakit ini tak lagi mematikan selama penderita memahami dengan baik bagaimana cara penanganannya. Penderita bisa hidup normal dan tidak perlu merasa minder dengan keadaan yang ia alami.

Testimoni Penggunaan “Transfer Factor” Bagi Penderita HIV AIDS.

** Kami pernah merawat seorang anak yang tadinya seorang penderita HIV AID selama 11 tahun. Beberapa tahun terakhir kami beri “Transferfactor Plus”. Sebelumnya terapi retro-viral dan terapi toxic retro-viral tidak membuahkan hasil. Akan tetapi setelah 13 bulan diberi campuran di atas dengan dosis tinggi, HIV anak tersebut negatif dan sekarang sudah benar-benar normal. Kualitas hidupnya benar-benar meningkat drastis. Seperti inilah pengobatan modern seharusnya menurut saya. Ini benar-benar menyenangkan…… R. R., Medical Doctor, Kentucky www.compre4life.com.

** Saya baru tahu terdeteksi HIV setelah terinfeksi kurang lebih 7 tahun. CD4 saya sudah rendah sekali yaitu 22 dan saya tidak mau mengkonsumsi ARV karena takut efek sampingnya. Saya coba konsumsi 3×3 “Transferfactor Plus” Dan 3×2 “Transferfactor Advance” perhari. Dalam beberapa hari saja badan saya terasa segar kembali dan untuk memastikan kerja “Transferfactor”, satu minggu setelah konsumsi saya kembali memeriksa CD4 dan hasilnya naik menjadi 45. Selain itu saya juga selalu menjaga kondisi saya dengan cukup istirahat, makan teratur dan bergizi, berpikiran positif dan menghindari stress. Satu bulan setelah konsumsi saya kembali melakukan pemeriksaan CD4 dan hasilnya meningkat menjadi 123… Andika, 30 tahun-Bekasi.

** Anak saya berusia 32 terkena HIV AID dan sempat dirawat beberapa minggu di rumah sakit. Setelah satu minggu mengkonsumsi ARV, dia tidak punya nafsu makan dan dia bilang rasanya tidak karuan. Akhirnya kami putuskan untuk menghentikan konsumsi ARV. Melalui internet saya dapat informasi tentang “Transfer Factor”. Saya memberinya “Transferfactor Plus” 3×3 sehari dan “transferfactor advance” 3×2 sehari. Dalam waktu 3 minggu TB negatif dan dalam waktu satu bulan CD4 naik dari 70 menjadi 213. Saya terus mensuport anak saya dalam melawan virus ini. Nafsu makannya pun sangat baik dan saya sangat bahagia dengan perkembangan yang signifikan ini. Danny, 56 tahun – Jakarta.

** Saya merasa sakit kepala terus setiap hari, badan saya sering gatal-gatal, buang air besar berdarah, berat badan terus menurun dan tubuh saya terlihat hitam dan tubuh saya penuh dengan bentol-bentol merah seperti cacar air. Dokter saya menyarankan untuk konsumsi “4life Transferfactor”. Saya konsumsi 9 kapsul “Transferfactor plus” sehari dan 6 kapsul “Transferfactor Advance” sehari. Setelah kurang lebih empat bulan konsumsi semua keluhan-keluhan saya hilang. Sebelum konsumsi “Transferfactor” CD4 saya 345 dan sekarang sudah 525… Subroto, 42 tahun-Jakarta. **

Mau tahu Lebih Jauh Manfaat Transfer Factor pada Penderita HIV AIDS? Hubungi Saya, Fitri: Info Detail & Transfer Factor Distributor.

Telp: Fitri 08123 1000 110 / 08 5959 059 057 || Pin BB : 2AE46C68

Email : fitri@4life-4transferfactor.com – Facebook : Fitri Yanti

——————

Sumber – http://www.4life-4transferfactor.com/info_kesehatan_pengobatan/

Hukuman Untuk Artis Mesum

alamandang-wahyu-pn

Indonesia sebagai negara yang tidak berdasarkan Alquran dan Alhadis, sudah tentu tidak akan mengamalkan perintah yang terkandung di dalam kedua kitabsuci umat Islam tersebut. Indonesia hanya menjalankan hukuman pidana untuk para pelaku kejahatan, dan Undang-undang pidana itu pun tidak berbasis Islam.

Di dalam hal berzina misalnya. Islam mengajarkan bahwa para pezina harus diberi hukuman cambuk sebanyak 100 kali, dan hukuman cambuk dengan jumlah sekian itu ‘diarahkan’ untuk mematikan sang pelaku. Itulah sebabnya ketika cambuk dikenakan kepada sang pelaku, sang eksekutor diperkenankan untuk mencambuknya dengan kuat-kuat, supaya sang pelaku dapat segera menemukan ajalnya. Bukan kebalikannya, mencambuknya dengan penuh perasaan dengan harapan semoga sang pelaku dapat bertahan hidup.

Di dalam Hukum pidana di Indonesia hal itu tidak berlaku.

Mereka yang bersenggama di luar nikah dijamin tidak akan terkena hukuman tersebut. Misalnya, persenggamaan antara sepasang kekasih, atau juga antara seorang pria hidung belang dengan PSK, mau pun senggama sesama teman kantor.

Hukum berzina di Indonesia menurut Hukum pidana adalah jika seorang suami melaporkan istrinya telah bersenggama dengan pria lain, atau kebalikannya, seorang istri melaporkan suaminya telah bersenggama dengan wanita lain. Pada saat memberikan laporan tersebut, sang pelapor (baik ia sang istri mau pun suami) terlebih dahulu harus  memperlihatkan buku nikah kepada kepolisian. Buku nikah inilah yang akan menjadi titik tolak pelaporan perzinahan, karena buku nikah menandakan bahwa yang melapor tersebut adalah suami atau istri dari yang dilapori. Kalau tidak ada buku nikah tersebut, maka pelaporan tersebut tidak sah sama sekali.

Di luar itu, kalau tidak ada buku nikah ini, maka hubungan senggama yang dilaporkan tersebut bukanlah urusan polisi. Artinya, kalau bukan atas dasar adanya buku nikah, maka hubungan senggama yang dilaporkan itu pasti akan dianggap sebagai ‘urusan orang lain’, bukan urusan ‘kita’.

Dengan konsep ini, banyak orang yang bebas berzina asalkan mereka bukanlah suami-istri. Jadi, sepasang kekasih, atau seorang wanita PSK dengan pria hidung belang, atau TTM / HTS sekalipun, mereka bebas bersenggama karena di dalam Undang-undang Pidana Indonesia, hal tersebut tidak termasuk zina. Lebih parah lagi, seorang laki-laki yang sebenarnya seorang suami, bebas berzina karena sang istri tidak akan melaporkannya ke polisi. Kebalikannya juga, seorang wanita yang sebenarnya sudah berstatus istri, bebas berzina dengan pria mana saja karena sang suami tidak akan melaporkannya ke polisi. Bisa jadi karena di antara suami istri itu memang sudah ada ‘kesepakatan’, atau mungkin juga sudah ada ‘saling pengertian’. Atau lebih parah lagi, mereka tidak akan melaporkannya ke polisi, karena di dalam pandangan mereka, berzina adalah ‘lumrah’ dan ‘manusiawi’. Maka jadilah perbuatan zina menjadi begitu bebasnya di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas adalah Muslim ini.

Namun apakah ini berarti pelaku zina dapat bebas di Negeri ini dengan dalih bahwa Indonesia merupakan negara Hukum, bukan negara Islam? Tampaknya memang ya.

Kasus Ariel Peterpan / Ariel Noah

Ariel ini terbukti melalui serangkaian video telah berbuat zina dengan beberapa wanita. Menyedihkan memang, bahwa Ariel ini adalah seorang Muslim, dan hidup di negara mayoritas Muslim. Terlebih, Ariel ini pernah menyanyikan lagu-lagu Islami. Namun kemudian terungkap bahwa orang yang sama telah melakukan tindak zina yang terkutuk di dalam agama yang ia yakini.

Memang benar bahwa dengan hal itu orang ini dimejahijaukan. Namun bukan karena berzinanya, melainkan karena video zinanya bebas beredar di tengah masyarakat sebagai material pornografi yang jelas-jelas merupakan tindak pidana. Jadi, kalau si Ariel ini berzina namun videonya tidak tersebar luas, maka orang ini tidak akan berurusan dengan pihak berwajib sedikit pun.

Satu-satunya kata yang tepat untuk kasus ini bagi umat Muslim Indonesia yang mayoritas ini adalah, ‘kecolongan’. Kecolongan, karena Ariel telah berzina. Kecolongan, karena Ariel adalah seorang Muslim. Kecolongan, karena Ariel adalah tokoh, seorang selebriti. Kecolongan, karena Indonesia adalah negara Muslim mayoritas terbesar di Dunia. Dan akhirnya, kecolongan karena tindakan si Ariel yang terkutuk ini ‘sama sekali tidak membuatnya dihukum secara layak dan moral’.

Tidak dapat diingkari bahwa biar bagaimana pun perbuatan Ariel ini adalah pelanggaran moral dan nilai agama. Tidak dapat diingkari bahwa perbuatan Ariel ini telah menyinggung perasaan umat Muslim Indonesia pada khususnya, dan seluruh bangsa Indonesia pada umumnya. Maka bukankah seharusnya ada suatu sanksi tegas terhadap Ariel atas perbuatan zina-nya? Namun faktanya sanksi tegas itu tidak ada. Ariel ternyata menikmati kebebasan yang hakiki, padahal dia telah berzina. Ia masih bebas mengembangkan karirnya sebagai penyanyi tanah air, dan masih bebas mengadakan konser di kota-kota seluruh Indonesia.

Sebenarnya ada satu sanksi tegas yang dapat dijatuhkan kepada Ariel ini dari seluruh bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim dan berbudaya ketimuran ini. Sanksi itu adalah ‘mencekal’ Ariel untuk tampil di kota-kota di Indonesia. Setiap propinsi yang warganya merasa resah atas perbuatan zina sang Ariel yang terkutuk ini, sebenarnya dapat mengajukan ‘cekal’ atas Ariel kalau penyanyi ini ingin konser di propinsi tersebut. MUI daerah, atau ormas setempat, mau pun gerakan kepemudaan di propinsi yang bersangkutan, berhak untuk mengajukan cekal terhadap Ariel, supaya Ariel tidak tampil di kota / propinsi mereka. Dan cekal itu adalah layak bagi Ariel, karena hal itu merupakan hukuman yang setimpal atas perbuatannya melanggar nilai agama dan nilai ketimuran.

Sebagai perbandingan, cekal ini pernah dijatuhkan terhadap artis Inul dan juga Dewi Perssik, karena kedua artis wanita ini telah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang melanggar nilai agama dan nilai ketimuran yang luhur dan mulia. Tidak kurang juga, cekal pernah dijatuhkan terhadap artis luar Negeri Lady Gaga karena artis ini disinyalir mengumumkan dirinya sebagai artis Setan alias Mother Monster.

Singkat kata, tindakan pencekalan adalah wajar dan sah menurut Hukum, khususnya Hukum masyarakat Indonesia. Jadi, kalau masyarakat Indonesia memutuskan untuk mencekal Ariel untuk tampil di kota-kota Indonesia, maka itu memang sudah pada tempatnya untuk dilakukan. Dan lebih lagi, jangan ada diskriminasi. Artinya, Inul telah menjadi korban keperkasaan tradisi pencekalan masyarakat Indonesia. Dewi Perssik pun telah pula merasakan keperkasaan tradisi pencekalan masyarakat Indonesia ini. Dan kemudian, artis luar Negeri Lady Gaga juga dipaksa menelan pil pahit dengan dijatuhkannya tradisi pencekalan ini untuk tampil di Indonesia.

Lantas mengapa tidak demikian halnya dengan Ariel? Apakah Ariel begitu istimewa sehingga tidak dapat dikenakan sanksi pencekalan dari masyarakat Indonesia? Apakah Ariel memang berhak untuk melakukan pelanggaran norma agama dan nilai ketimuran? Namun Inul, Dewi Perssik, dan Lady Gaga, tidak boleh? Sebegitu lemahkah masyarakat Indonesia yang berbasis pada nilai agama dan ketimuran?

Preseden Kasus Ariel.

Kalau Ariel tidak segera mendapatkan sanksi pencekalan, maka sebenarnya itu akan membawa preseden yang buruk bagi generasi muda Indonesia. Orang Indonesia akan melihat bahwa kalau laki-laki, khususnya kalau ia adalah artis, berzina, maka hal itu adalah wajar dan tidak melanggar Hukum mana pun. Bahkan akan banyak orang yang beranggapan bahwa kalau seorang artis laki-laki berzina, maka hal itu merupakan kebanggaan dan nilai positif yang akan mendukung karirnya sebagai selebriti. Hal inilah yang harus dihindari oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Singkat kata, tradisi pencekalan terhadap artis Ariel ini teramat mendesak dan teramat penting, fundamental. Dan jangan sampai ada orang Indonesia yang mencium adanya aroma diskriminasi, di mana masyarakat Indonesia begitu kaku saat menjatuhkan cekal untuk artis wanita, sementara tidak demikian halnya ketika kasusnya menimpa artis pria. Hal ini tidak boleh terjadi pada bangsa Indonesia yang beradab ini.

Berkuda Di Jalan Sudirman Mungkinkah

alamandang-endarbsi

Dewasa ini Jakarta mempunyai agenda yang berbasis lingkungan hidup yaitu Car Free Day, alias Hari Bebas Kendaraan yang diselenggarakan di hari Minggu. Banyak pihak menyambut positif agenda rutin ini.

Di dalam event ini seluruh warga Jakarta mempunyai kesempatan dan keleluasaan untuk menikmati jalan-jalan di Jakarta tanpa harus takut akan kemacetan dan polusi yang menyesakkan dada dan mata. Sepanjang jalan, dari kawasan Ratu Plaza sampai kawasan Harmoni Jakarta Pusat, akan menjadi ajang tetenger bagi warga Jakarta untuk menikmati pagi yang indah di hari libur itu.

Beragam acara dapat digelar dan dinikmati warga Jakarta, seperti lari pagi, bersepeda, berjalan kaki, skateboard dan lain lain. Dengan adanya event ini, diharapkan Jakarta dengan seluruh warganya mendapatkan keuntungan yang strategis. Bagi Jakarta, Jakarta untuk sementara terbebas dari polusi dan penyedotan BBM. Sementara bagi warga, warga dapat berolahraga dan relax, sembari mengurangi tingkat stress karena setiap hari terlanjur menelan mentah-mentah pemandangan macet dan kendaraan yang bejubel.

Lebih dari itu, menurut saya moment itu juga teramat sayang kalau tidak dimanfaatkan untuk acara berkuda. Saya mendambakan Car Free Day juga dijadikan ajang untuk berkuda untuk warga Jakarta, karena pastilah akan menjadi lebih unik dan sehat.

Pastilah akan menarik di mana salah satu kota besar di Dunia ini mempunyai event berkuda rutin yang melintas di salah satu jalan utamanya secara berkala. Dengan adanya event ini, diharapkan sasana berkuda yang ada di sekitar Jakarta (seperti Depok, Puncak Bogor dan lain lain) akan turut berpartisipasi menerjunkan kuda-kuda kebanggaan mereka berikut dengan para petunggang-petunggangnya yang handal ke Jakarta untuk turut meramaikan event tersebut.

Kalau kita adalah individu-individu yang selama ini larut di dalam fantasi masa silam di mana berkuda merupakan kegagahan dan status yang wah, dan sebagian besar pahlawan Dunia –dan Indonesia- merupakan para petunggang kuda yang kharismatik, maka patut sekali event CFD ini juga dimeriahkan dengan acara berkuda untuk mewujudkan nostalgia masa silam. Dan kalau selama ini kita berfikir bahwa berkuda hanya boleh dilakukan di alam liar dan atau pegunungan, maka kita akan merasa ‘terbebas’ sekali kalau kita melihat puluhan kuda ‘ternyata’ sedang berlari bebas di lintasan jalan panjang yang membentang dari kawasan Ratu Plaza sampai Simpang Harmoni.

Bagi kuda-kuda itu pun event ini pasti akan menjadi ‘pembebas naluri’ alamiahnya. Selama ini satwa-satwa ini ‘terkungkung’ di dalam kandang-kandang sasana berkuda, dan itu pun dilarang berlari dengan kencang menempuh jarak yang panjang. Para kuda itu sebenarnya mendambakan hak asasinya, yaitu diperbolehkan untuk merefleksikan naluri alamiahnya yaitu berlari kencang melintasi jalan yang panjang tanpa henti-hentinya. Pendek kata, berkuda di CFD itu, baik bagi para manusia-nya (para petunggang), dan juga baik bagi satwa itu sendiri.

Dengan adanya acara berkuda di event CFD ini, tentunya akan meningkatkan minat warga Jakarta untuk olahraga berkuda, dan lebih positifnya lagi adalah, bahwa berkuda biar bagaimana pun juga merupakan olahraga yang menyehatkan. Dengan  berkuda di CFD ini, kita akan memperoleh keuntungan yang berlipat karena olahraga berkuda itu sendiri mengandung unsur olahraga, pariwisata, hiburan, global warming, ketangkasan, dan pelestarian semangat perjuangan.

Semoga saja acara berkuda di event Car Free Day ini dapat segera terwujud sehingga memberi keuntungan yang amat banyak bagi Jakarta dengan seluruh warganya. Amin.

Teks Berita Mungkin Lebih Baik Kalau Begini

alamandang-ray

Di dalam menikmati berita di dalam bentuk tulisan (bukan media dengar), pasti teks dari berita tersebut harus menyisipkan narasumber. Bagi saya, untuk membaca atau melahap informasi tentang narasumber, cukup membuat kenikmatan membaca berita jadi kacau dan membingungkan. Mungkin akan lebih baik kalau di dalam teks suatu berita, narasumber ‘disembunyikan’ saja, atau juga dijadikan seperti ‘catatan kaki’ saja, supaya pembacaan teks berita menjadi lancar. Hal ini didasarkan pada, bahwa informasi narasumber sebenarnya tidak lah begitu penting. Penting memang penting, namun menurut saya, kelancaran di dalam menikmati suatu berita harus didahulukan daripada mengetahui si narasumber.

Sebagai contoh.

Berikut ini adalah teks berita yang biasa disuguhkan yang saya ambil dari http://id.berita.yahoo.com/arab-saudi-minta-moratorium-tki-dicabut-070938309.html , 20 Maret 2013. Perhatikan teks yang saya bold yang merupakan informasi narasumber.

Arab Saudi Minta Moratorium TKI Dicabut

Kuta (ANTARA) – Arab Saudi meminta Pemerintah Indonesia untuk segera mencabut moratorium pengiriman tenaga kerja asal Tanah Air ke negeri tersebut.

“Hal itu karena mereka membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia yang dikenal pekerja keras dan merasa sudah sangat dekat” kata Deputi Bidang Koordinasi Kerja sama Ekonomi dan Pembiayaan Internasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dr Rizal Affandi Lukman, di sela-sela pertemuan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dengan pengusaha dari Arab Saudi, di Kuta, Senin.

Dia mengatakan, pihak Pemerintah Arab Saudi menjamin dan melindungi hak-hak yang diperoleh para tenaga kerja Indonesia selama berada di negara tersebut.

“Saya rasa mereka telah berupaya memperbaiki serta melindungi apa yang menjadi hak para TKI selama bekerja di sana, dan tampaknya komitmen itu ditunjukkan dengan cukup serius,” ujarnya.

Rizal menuturkan, dengan dicabutnya moratorium pengiriman TKI tersebut, akan memberikan peluang bagi tenaga kerja dari Tanah Air yang lainnya menjajaki sektor formal, seperti di bidang jasa dan perhotelan.

Seperti diketahui, lanjut dia, banyak warga Indonesia yang datang untuk melaksanakan ibadah haji atau umroh sehingga hotel-hotel di sana membutuhkan tenaga profesional untuk melayani para jemaah tersebut.

“Hampir sepertiga jumlah jemaah yang akan melaksanakan ibadah haji berasal dari Indonesia sehingga akan lebih enak jika mereka dilayani oleh pekerja hotel dari Tanah Air juga,” ucapnya.

Rizal menjelaskan, jumlah TKI di Arab Saudi sampai sekarang sekitar 1,5 juta orang dengan pemasukan dari pekerja itu selama 2011 sebesar Rp5,7 triliun. (rr)

Demikian asli dari teks beritanya.

Di bawah ini adalah format dari teks berita di atas yang menurut saya pasti lebih nyaman untuk dibaca, karena informasi mengenai narasumber dijadikan catatan kaki saja yaitu di dalam simbol bintang di dalam tanda kurung.

Arab Saudi Minta Moratorium TKI Dicabut

Kuta (ANTARA) – Arab Saudi meminta Pemerintah Indonesia untuk segera mencabut moratorium pengiriman tenaga kerja asal Tanah Air ke negeri tersebut.

“Hal itu karena mereka membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia yang dikenal pekerja keras dan merasa sudah sangat dekat,” (*)

Pihak Pemerintah Arab Saudi menjamin dan melindungi hak-hak yang diperoleh para tenaga kerja Indonesia selama berada di negara tersebut.(*)

“Saya rasa mereka telah berupaya memperbaiki serta melindungi apa yang menjadi hak para TKI selama bekerja di sana, dan tampaknya komitmen itu ditunjukkan dengan cukup serius,” (*)

Dengan dicabutnya moratorium pengiriman TKI tersebut, akan memberikan peluang bagi tenaga kerja dari Tanah Air yang lainnya menjajaki sektor formal, seperti di bidang jasa dan perhotelan.(*)

Seperti diketahui, banyak warga Indonesia yang datang untuk melaksanakan ibadah haji atau umroh sehingga hotel-hotel di sana membutuhkan tenaga profesional untuk melayani para jemaah tersebut.(*)

“Hampir sepertiga jumlah jemaah yang akan melaksanakan ibadah haji berasal dari Indonesia sehingga akan lebih enak jika mereka dilayani oleh pekerja hotel dari Tanah Air juga,” (*).

jumlah TKI di Arab Saudi sampai sekarang sekitar 1,5 juta orang dengan pemasukan dari pekerja itu selama 2011 sebesar Rp5,7 triliun. (rr) (*).

* – Deputi Bidang Koordinasi Kerja sama Ekonomi dan Pembiayaan Internasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dr Rizal Affandi Lukman, di sela-sela pertemuan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dengan pengusaha dari Arab Saudi, di Kuta, Senin.

Bagaimana? Dengan format penulisan berita seperti ini, dijamin pembaca jadi lebih lancar dan mudah di dalam menikmati suatu berita karena informasi mengenai narasumber dijadikan catatan kaki saja, dan itu pun ditulis sekali saja yaitu di bagian paling bawah dari badan teks berita.

Mudah-mudahan ‘jeritan’ saya ini dibaca dan disambut baik oleh insan pers para penulis berita. Amin.

Fenomena Mubaligh Teriak-Teriak

alamandang-frans-pn

Jumat ini saya shalat Jumat di salah satu Masjid di Jakarta Pusat. Seperti biasa saya selalu menyimak pesan-pesan Islam yang disampaikan oleh sang khatib.

Kali ini, sang khatib berbicara mengenai kisah kehidupan Rasul Muhammad Saw yang ditawari oleh kaum kafir akan kekuasaan dan jabatan, asalkan Muhammad Saw bersedia meninggalkan dakwah Islamiyahnya. Terlihat sekali bahwa kaum kafir sudah mulai ketakutan akan daya-pancar cahaya Islam yang semakin hari semakin jaya  dan tidak dapat dibendung oleh siapa pun. Jawaban Muhammad Saw pun sudah jelas, bahwa tidak ada satu pun di Dunia ini yang dapat menghentikan dan menghancurkan komitmen Muhammad Saw untuk meratakan pesan Allah Swt di muka bumi ini yaitu Islam; hanya Islam agama yang hak di muka bumi ini. Oleh karena itu adalah hak seluruh manusia untuk mendapat hidayah Islam ini. Tercatatlah pernyataan sang Nabi ketika menjawab tawaran kaum kafir itu:

Walau pun Anda letakkan matahari di tangan kananku, rembulan di tangan kiriku, maka sungguh aku tidak akan meninggalkan dakwah Islam ini, sampai kalimat Allah benar-benar tegak di muka bumi ini, atau aku hancur karenanya …..

Sungguh luar biasa kehebatan dan ketangguhan mental sang Nabi. Dan pada akhirnya memang terbukti, Islam sebagai jalan Tuhan, rata di muka bumi ini. Dapat dikatakan, bahwa hal itu berkat kegigihan dan sifat istiqomah sang Nabi Muhammad Saw.

Namun sebenarnya yang ingin saya sampaikan di dalam tulisan ini bukanlah sejarah kenabian ini. Ada hal lain yang saya rasa amat urgent untuk disampaikan.

Sang khatib, di dalam menyampaikan pesan Islam tersebut dari atas mimbarnya, sungguh mengganggu. Sang khatib (saya tidak ingat nama beliau. Kalau pun ingat, tidak akan saya nyatakan di sini) menyampaikan khutbahnya di dalam nada suara yang teramat tinggi, bahkan dapat dikatakan ‘dengan berteriak’ sehingga memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya.

Sebenarnya fenomena ‘khatib teriak’ ini sudah umum di tengah masyarakat kita. Kerap kali kita menghadiri suatu acara tabligh agama, di mana sang ulama mau pun penceramah menyampaikan tausiyahnya dengan cara berteriak-teriak, menjerit-jerit tidak karu-karuan. Padahal tanpa berteriak pun para hadirin sudah dapat mendengar seluruh pesannya karena acara tersebut sudah didukung oleh sound system yang baik.

Bukan itu saja. Bukan saat menyampaikan pesan agama saja mereka teriak-teriak dengan suara yang memekakkan telinga. Bahkan saat memimpin doa pun mereka juga teriak-teriak di depan mikrophon. Tidak jarang, ada sebagian hadirin yang terpaksa menutup liang telinga mereka dengan ujung jari supaya suara yang memekakkan itu tidak menyakiti gendang telinga.

Mengapa tetap ada khatib atau penceramah atau mubaligh yang teriak-teriak dari atas mimbarnya di dalam menyampaikan ajaran agama? Kalau beliau-beliau menyampaikannya dengan suara yang biasa-biasa saja, dengan suara yang lemah lembut, bukankah justru akan lebih menyejukkan bagi para hadirin? Sebenarnya mikrophon yang ada di depan mereka sudah cukup membantu untuk memastikan bahwa seluruh pembicaraan dapat didengar oleh hadirin.

Ada kemungkinan, bahwa cara penyampaian yang teriak-teriak, sudah merupakan ‘style’ atau bahkan ‘trademark’ dari sang mubaligh. Mungkin saja sang mubaligh mafhum dengan baik bahwa tanpa teriak pun, hadirin tetap dapat mendengar penyampaiannya. Namun bisa jadi sang mubaligh merasa ‘kurang pas’ atau ‘kurang afdol’ kalau tidak teriak-teriak di depan mikrophon. Jangan-jangan ada mubaligh yang berpendapat, bahwa dengan teriak-teriak, maka seluruh pesan dan penyampaiannya akan mudah resap ke dalam sanubari para hadirin. Jelas itu salah.

Untuk itu, saya berharap pejabat-pejabat mau pun tokoh yang membidangi masalah ini, seperti MUI, mengeluarkan fatwa mengenai hal ini. Ada baiknya MUI mengeluarkan fatwa yang melarang para mubaligh berteriak-teriak apalagi menjerit-jerit tidak karu-karuan di depan mikrophon saat memberikan tausiyah kepada umat. MUI harus memberi pengarahan kepada para mubaligh bahwa menyampaikan tausiyah harus lah dengan bahasa dan suara yang penuh dengan kelembutan, bukannya dengan teriak-teriak. Kita yakin, bahwa Muhammad Saw pun tidak pernah teriak-teriak saat memberi ajaran Islam kepada para pengikutnya. Lebih dari itu, kelembutan merupakan bagian dari ajaran Islam.

Maka akhir kata, fenomena mubaligh yang teriak-teriak di dalam memberikan tausiyahnya merupakan suatu kesalahan yang harus diakhiri. Dan oleh karena itu, MUI sebaiknya mengeluarkan fatwa pelarangan menyampaikan tausiyah dengan cara-cara seperti itu. Dan saya yakin, hanya fatwa MUI seperti itulah yang dapat menghentikan ‘kecendrungan’ yang sebenarnya negatif ini.