Fikiransaya

Oh Televisi Oh Tahajjud

tvvvvvv

Televisi  sudah menjadi kebutuhan primer umat manusia di belahan dunia mana pun. Tanpa pikir panjang, semua orang pasti butuh televisi, dan pasti akan berkata bahwa televisi  membawa kebaikan dan manfaat bagi siapa pun. Mereka berkata, apa jadinya kalau hidup tidak dilengkapi televisi.

Sangat sedikit orang yang memahami, bahwa sebenarnya tanpa televisi pun hidup dapat berjalan dengan normal tanpa kekurangan apa pun. Mungkin seseorang akan berkata bahwa televisi adalah hiburan, namun bukankah manusia itu sendiri hanya butuh keheningan dan ketenangan untuk menyegarkan seluruh urat dan syarafnya? Jadi, sebenarnya manusia tidak butuh hiburan, yang dibutuhkan manusia justru keheningan dan kesahajaan. Dan itu tanpa televisi!

Lihatlah kepada sekelompok anak muda yang berkemah di tengah bentangan Alam. Mereka menikmati kesunyian dan keheningan Alam, dan itu mereka nikmati tanpa kehadiran televisi. Bahkan sebenarnya mereka pergi ke Alam Semesta untuk menikmati keheningan adalah demi dapat menghindari televisi!! Dari sini jelaslah sudah bahwa televisi bukanlah keharusan, bahkan ketiadaan televisi dapat membawa kenikmatan tersendiri.

Mari melihat ke masa lampau. Ketika itu kehidupan tidak dilengkapi televisi. Jangankan televisi, listrik saja tidak ada. Namun justru masa lampau telah berhasil melahirkan Candi Borobudur nan megah. Bahkan tanpa televisi, umat manusia berhasil menemukan benua baru. Jadi sebenarnya di mana posisi televisi? Kalau saja manusia mau memahami, maka sebenarnya siapa saja akan dengan mudah dapat mengesampingkan televisi, dan lebih mengutamakan keheningan dan kedamaian, karena hanya itulah yang dibutuhkan psikologi manusia.

Namun ada satu hal yang mungkin patut untuk direnungkan terkait keberadaan televisi ini. Kalau seseorang mematikan pesawat televisi pada pukul 9 malam dan kemudian pergi tidur, pasti orang itu akan mudah terbangun tengah malam untuk menunaikan salat tahajjud, dan setelah tahajjud pasti orang itu akan tergerak untuk berzikir dan mengaji. Jadi adalah jauh lebih bermanfaat kalau televisi dimatikan lebih awal menjelang tidur.

Namun kebalikannya, kalau seseorang ngotot untuk mempertahankan menonton televisi hingga larut malam demi bisa menonton acara semisal film maupun berita dari aneka channel, maka pasti orang tersebut tidak akan dapat terbangun di tengah malam untuk salat tahajjud (dan ibadah malam lainnya), karena jam tidur nya sudah digerogoti oleh kegiatan nonton berkepanjangan. Di lain pihak pun, menonton televisi hingga larut malam juga tidak ada faedahnya sama sekali buat orang itu, padahal otot dan syaraf mata nya pun menjadi lelah dan letih. Akhirnya, ibadah malam ia keteteran, pun kesehatan fisik dan psikologi nya juga keteteran. Itulah segi racun nya televisi. Namun siapakah yang menyadari aspek toxicitas dari televisi ini?

Seluruh umat faham bahwa salat tahajjud merupakan ibadah emas di segala jaman. Siapa pun pasti ingin salat tahajjud, ingin sekali ….. namun masalahnya bukan pada salat  tahajjud nya, melainkan pada kemampuan untuk terbangun di malam hari untuk salat tahajjud. Hal tersebut disebabkan bukan karena lemahnya Iman, melainkan keberadaan televisi telah membuat jam tidur tergerus dan terserobot oleh keasyikan menonton televisi hingga berjam-jam.

Pada masa lampau, salat tahajjud ditunaikan oleh banyak umat Muslim. Mengapa? Karena pada saat itu belum ada televisi, yang mana hal tersebut membuat setiap insan pergi tidur lebih awal. Tidak ada televisi, artinya pergi tidurnya menjadi selalu lebih awal. Dan kalau pergi tidur lebih awal, maka itu adalah jaminan bahwa kelak nanti tengah malam akan mudah terbangun untuk tahajjud, karena jatah tubuh untuk istirahat sudah terpenuhi. Ah alangkah enaknya hidup ketika jaman belum mengenal televisi!!!

Sulit juga untuk mendeklarasikan gerakan “Matikan Tv Jam 9 Malam Dan Langsung Pergi Tidur”, alias “MTvJ9MDLPT” supaya menjadi gerakan bangsa demi tercapainya pemenuhan jatah istirahat tubuh baik secara fisik maupun psikis, dan sekaligus demi tertunaikannya salat tahajjud berkampung-kampung. Hal tersebut pasti sulit, sesulit mengenyampingkan televisi dari kehidupan umat manusia.

Sebagai perbandingan dan perenungan, mengapa Sultan Muhammad Al Fatih berhasil menaklukan Konstantinopel, dan sekaligus menjadi penggenapan dari hadits Nabi Muhammad bahwa kelak umat Muslim akan menaklukkan kota agung tersebut di bawah kepemipinannya?

“Konstantinopel akan ditaklukkan oleh Islam. Pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan (Nabi Muhammad SAW)”.

Jawabannya adalah jelas, bahwa karena baik Sultan Muhammad Alfatih mau pun seluruh tentaranya tidak pernah meninggalkan shalat sunnah tahajjud ini. Tertulis demikian,

Diceritakan bahwa tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib sejak baligh & separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajjud sejak baligh. Hanya Sulthan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan solat wajib, tahajud & rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya”.

Ini menunjukkan keagungan dan kesaktian dari shalat sunnah tahajjud, sehingga kalau shalat sunnah ini diamalkan secara berkampung-kampung secara konstan, maka kemenangan Allah swt pasti akan turun ke atas kampung tersebut. Kisah Sultan Muhammad Alfatih beserta bala tentaranya yang menaklukkan Konstantinopel adalah bukti akan kegemilangan dan kesaktian shalat sunnah tahajjud. Singkatnya, satu-satunya alasan mengapa Sultan Muhammad Alfatih beserta tentaranya berhasil menaklukkan Konstantinopel, adalah karena sang sultan beserta tentaranya unggul dalam menunaikan shalat sunnah tahajjud.

Ketika Nabi Muhammad saw menyatakan dalam hadistnya bahwa pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara, maka itu artinya Nabi Muhammad saw merujuk kepada tradisi shalat sunnah tahajjud yang selalu ditunaikan sang Sultan beserta bala tentaranya. Jadi, mengapa Nabi Muhammad saw mengatakan bahwa pemimpin dan balatentaranya merupakan yang terbaik? Jawabannya adalah karena sang pemimpin dan balatentaranya selalu shalat sunnah tahajjud! Dan shalat sunnah tahajjud-lah yang membawa kemenangan Allah swt kepada Sultan Muhammad Alfatih beserta tentaranya.

Artinya, adalah rugi besar kalau umat berkampung-kampung sampai meninggalkan amalan shalat sunnah  tahajjud. Namun faktanya, umat Muslim pun jadi menelantarkan dan meninggalkan tradisi shalat sunnah tahajjud berkampung-kampung ini, dan itu hanya karena adanya pesawat televisi dengan berbagai acaranya yang sebenarnya tidak berfaedah sama sekali. Buktinya pun jelas, kekalahan demi kekalahan harus diderita umat Muslim di berbagai penjuru dunia. Jelas, itu semua karena ditinggalkannya shalat sunnah tahajjud, dan itu karena benda yang bernama televisi.

Bagaimana kemenangan Allah swt akan turun kepada umat Muslim, sementara umat Muslim saja tidak mempunyai tekad untuk menunaikan shalat sunnah tahajjud berkampung-kampung? Itu semua karena televisi.

Jadi, singkat kata, televisi sama sekali tidak ada manfaatnya, atau setidaknya lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Dan pada segi ibadah, televisi merupakan musuh bebuyutan-nya salat tahajjud: karena televisi-lah, salat tahajjud menjadi terpinggirkan. Namun yang lebih mendasar adalah, sangat sedikit orang yang menyadari hal tersebut.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Tips Membuat Artikel Di Internet

artikel-internetInternet telah menjadi gaya hidup sebagian besar warga kota dunia. Ketika seseorang membuka internet, banyak artikel yang bisa mereka peroleh untuk memperluas wawasan pemahaman mereka. Dan dari sekedar menemukan artikel kemudian membacanya, banyak para netizen yang beralih dan tertarik untuk menulis artikel juga untuk mengungkapkan isi fikirannya.

Sekarang ini internet telah menyediakan berbagai channel untuk mengungkapkan isi fikiran mereka, mulai dari sekedar ‘say hello’, memberikan komentar, dan pada akhirnya membuat ungkapan yang panjangnya beberapa paragraf. Blogsite gratis telah memungkinkan setiap netizen mengunggah artikel tulisan mereka ke internet, sehingga dapat ditemukan dan kemudian dibaca oleh banyak netizen lainnya.

Adakalanya, artikel yang diunggah ke internet, hadir di dalam kekacauan, baik di dalam penulisan, susunan, urutan, maupun juga gaya bahasa. Artikel seperti ini mau-tidak-mau membuat netizen yang membacanya harus berusaha lebih keras lagi saat membaca artikel tersebut untuk dapat memahami kandungan dari artikel dimaksud. Di bawah ini akan disajikan beberapa panduan yang mungkin dapat dicoba saat membuat / menulis artikel, untuk memudahkan menulis artikel.

Pertama. Berapa jumlah halamannya?

Jumlah halaman, usahakan jumlah halaman untuk setiap artikel yang akan ditayangkan di internet, dibatasi. Minimal 2 halaman Msword, idealnya adalah 6 halaman Msword, dan paling mentok adalah 10 halaman Msword.

Kalau anda membuat sebuah artikel di Msword, dan ternyata halamannya melebihi 10 halaman, maka pecah-pecahlah artikel tersebut sehingga didapat jumlah halaman ideal, yaitu sekitar 6 halaman per artikel. Dan kalau satu artikel tersebut dipecah-pecah, maka judulnya pun harus menyebutkan kata seperti ‘Bag 1’, ‘Bag 2’ dan seterusnya. Hal ini akan membuat pembaca betah untuk membacanya sampai tamat.

Hindari penulisan artikel yang panjangnya hanya satu halaman Msword. Oleh karena itu, suatu artikel minimal panjangnya dua halaman Msword. Intinya, satu halaman adalah ‘kesedikitan’ untuk pembaca, dan lebih dari sepuluh halaman Msword adalah ‘kebanyakan’ buat pembaca.

Kedua. Paragraf yang baik harus seperti apa?

Di dalam penulisan, hindari paragraf yang kelewat panjang. Patut untuk diingat bahwa paragraf yang kelewat panjang akan membuat pembaca sudah merasa pusing dan mumet duluan sebelum membacanya. Kebalikannya, kalau suatu artikel terdiri dari paragraf yang singkat, maka pembaca akan melihat bahwa artikel tersebut menarik untuk dibaca, serasa ringan untuk dibaca. Pembaca akan betah untuk membaca artikel tersebut sampai tamat. Paragraf sebaiknya hanya terdiri dari 5 sampai 6 baris.

Ketiga. Tata-cara membuat judul artikel.

Di dalam hal penulisan judul, hindari kalimat judul yang panjang. Usahakan judulnya paling banyak 7 kata, tidak perduli perkatanya panjang-panjang. Banyak dijumpai judul suatu artikel di internet begitu panjang hingga mencapai dua atau tiga baris. Itu adalah suatu bencana!

Hindari juga penggunaan tanda baca pada kalimat judul, seperti tanda-tanya, tanda-seru, titik-koma, dsb. Tidak dianjurkan menulis judul dengan menggunakan huruf besar / kapital. Ada lagi: judul adalah kalimat yang tidak diakhiri sebuah titik.

Empat. Bahasa apa yang paling baik untuk artikel?

Penggunaan bahasa juga harus diperhatikan. Gunakanlah bahasa yang formal namun santai, sehingga terkesan ringan dan bersahabat. Hindari penggunaan bahasa gaul, lucu-lucuan, dan terkesan sok-akrab. Pembaca menginginkan bahasa penyampaian yang netral / fair, ini artinya bahasa yang digunakan haruslah bahasa formal.

Banyak-banyaklah membaca artikel lain, apakah artikel yang dibuat oleh penulis dalam negeri, maupun penulis luar negeri (yang telah diterjemahkan). Semakin banyak membaca artikel orang lain, maka semakin banyaklah referensi di dalam hal menulis artikel, dan itu akan membantu penulis untuk menemukan gaya bahasanya sendiri di dalam menulis artikel, supaya lebih berkarakter.

Ingatlah, bahwa cara mencurahkan suatu fikiran ke dalam baris kata dan kalimat, bukanlah perkara sepele. Butuh masukan beragam supaya dapat mengetahui bahwa kebanyakan penulis mencurahkan fikiran dengan cara yang unik, diplomatis dan mendalam. Kalau seseorang membaca banyak artikel orang lain, pasti ia akan melihat bahwa ternyata ada ‘politik kata-kata’ untuk menyatakan suatu ide, hal mana itu membuat artikelnya jadi menarik. Dan hal tersebut hanya dapat diketahui melalui banyak membaca artikel orang lain.

Bagaimana mungkin seseorang ingin menulis artikel, dan mengharap artikelnya mengkilap, kalau ia saja tidak pernah membaca artikel orang lain yang telah mapan?

Lima. Bagaimana dengan subjudul?

Usahakan memecah-mecah artikel ke dalam beberapa subjudul. Hal ini akan membuat pembaca merasa ringan saat membaca, dan membuat keinginan membaca dari pembaca lebih tinggi. Satu subjudul mengandung satu isi fikiran / ide. Dengan adanya subjudul, pembaca jadi terangsang untuk tahu kandungan pada teks di bawah subjudul tersebut. Subjudul ini haruslah diketik menggunakan huruf tebal, alias bold. Satu lagi, jangan menulis subjudul dengan menggunakan huruf besar / kapital.

Masalah huruf besar. Kadang dijumpai suatu portal / website yang kolom koment-nya tidak menyediakan fasilitas untuk menebalkan subjudul. Baiklah, untuk kasus seperti ini maka satu-satunya solusi adalah menulis subjudul dengan menggunakan huruf besar pada semua hurufnya.

Enam. Formatting text diperlukan?

Hindari menggunakan huruf tebal / bold (kecuali untuk menebalkan subjudul). Beberapa penulis menebalkan huruf beberapa kata untuk menekankan maksud dari suatu kalimat. Hal ini sepatutnya dihindari di dalam penulisan artikel yang baik. Menekankan maksud dari suatu kalimat / paragraf, maka itu adalah inisiatif pembaca, dan biarlah pembaca sendiri yang me-‘raise’ penekanan suatu maksud yang terkandung di dalam suatu paragraf / kalimat. Kalau suatu artikel mengandung banyak huruf tebal, maka artikel akan terlihat ‘blepotan sana-sini’.

Tujuh. Artikel anda untuk siapa?

Artikel yang akan ditayangkan di internet, berarti artikel tersebut ditujukan untuk kalangan umum, bukan segmented. Maka hindari artikel yang terkesan berat dan ilmiah. Triknya adalah, kalau memang harus menyajikan tabel, maka minimalisir-lah jumlah tabelnya, jangan banyak-banyak. Untuk suatu topik, tabel mungkin membantu untuk memudahkan pemahaman, namun usahakan tabel tersebut ringan, dan janganlah tabel tersebut ditampilkan ‘apa adanya’.

Kalau suatu topik memang mengharuskan adanya tabel, maka terlebih dahulu ‘remake’-lah tabel tersebut, supaya ada data yang bisa dihilangkan, sehingga data yang dihadirkan pada tabel merupakan data yang diperlukan saja untuk kalangan umum.

Kalau tabel yang ingin dikemukakan terlalu panjang, maka pecah-pecahlah tabel menjadi beberapa bagian, guna membuat artikel tampak ringan dan renyah sehingga pembaca betah untuk melahapnya bagian per bagian. Pecahlah tabel berdasarkan jenis datanya. Tabel yang memuat database terlalu panjang, jelaslah membuat pembaca mumet duluan. Pun, tabel yang terlalu panjang, membuat pembaca merasa bahwa data yang disajikan tidak penting untuk diikuti. Sebaliknya, tabel yang dipecah-pecah, pembaca pun akan senang hati mengikutinya, terlepas apakah datanya penting atau tidak. Itulah gunanya memecah-mecah tabel.

Setelah tabel dipecah-pecah, maka kemudian sajikanlah dengan caption atau subjudul masing-masing: satu tabel satu subjudul / caption.

Delapan. Apa kabar dengan gambar artikel?

Akan lebih baik kalau artikel dilengkapi gambar, dan usahakan gambar tersebut adalah full-color, karena kehadiran gambar akan membuat artikel menjadi lebih ringan dan santai untuk dibaca. Bayangkan sebuah artikel yang tidak dilengkapi gambar, suatu hal yang akan membuat artikel terlihat berat, sehingga pembaca sudah mumet duluan sebelum membacanya.

Sembilan. Bolehkan artikel ‘bertanya’ kepada pembaca?

Ya, boleh. Adanya kalimat tanya di dalam suatu artikel, justru membuat artikel terkesan ringan. Kebalikannya, suatu artikel yang tidak mengandung pertanyaan akan terkesan begitu berat, terlalu ilmiah, kaku, dan tidak hidup.

Sebaiknya, untuk membuat artikel menjadi menarik dan terkesan renyah, maka hadirkanlah kalimat tanya, satu, dua, lima atau tujuh. Dengan adanya pertanyaan lengkap dengan tanda-tanya-nya, pembaca merasa seolah diajak berkomunikasi langsung dengan sang penulis. Tentunya ini sangat baik.

Pada point ketujuh di atas, dipaparkan bahwa kesan artikel berat dan ilmiah, harus dihindari. Cara yang lebih mudah untuk menghindari hal tersebut adalah, menghadirkan kalimat-kalimat bergaya pertanyaan ini.

Sepuluh. Ke bawah atau ke samping.

Kalau suatu artikel mengandung data berurut, usahakan data tersebut disusun ke bawah. Hal ini dapat membuat pembaca semakin mudah melihat data apa saja yang disajikan, ketimbang data berurut dipaparkan secara biasa. Contoh, “Negara Indonesia mempunyai lima pulau besar, yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua”. Data berurut ini sebaiknya disusun ke bawah, sehingga menjadi seperti ini,

Negara Indonesia mempunyai lima pulau besar, yaitu,

–    Sumatera.
–    Jawa.
–    Kalimantan.
–    Sulawesi.
–    Papua.

Sebelas. Jangan yang ini.

Beberapa hal di bawah ini harus dihindari di dalam penulisan artikel.

  • Artikel yang keseluruhan atau sebagian teksnya ditulis menggunakan huruf besar / kapital. Perhatikanlah, bahwa huruf besar sama sekali tidak mempunyai tempat di dalam artikel. Huruf besar hanya digunakan di dalam pembuatan banner. Ya, banner adalah pesan (pendek) yang keseluruhan hurufnya adalah huruf besar, alias kapital.
  • Artikel yang keseluruhan atau sebagian teksnya ditulis dengan menggunakan huruf miring / italik. Biasanya, huruf miring hanya cocok untuk penulisan bait-bait syair, atau lagu. Fungsi huruf miring adalah untuk romantisasi tulisan.
  • Artikel yang mengandung banyak teks yang ditulis dengan huruf tebal / bold.
  • Adakalanya suatu artikel menyajikan petikan kalimat, seperti kalimat ayat suci, petikan Alhadis, petikan kalimat filsafat, petikan kalimat tokoh terkenal, dsb. Adalah baik kalau petikan tersebut disajikan di dalam paragraf tersendiri dan ditulis dengan menggunakan huruf miring. Sungguh pun demikian, tidak masalah kalau petikan tersebut tidak disajikan dengan menggunakan huruf miring, cukup dengan memberikan tanda-kutip-ganda di awal dan di akhir kutipan.
  • Artikel yang view-nya terlihat seperti novel, yaitu terdiri dari begitu banyak petikan kalimat pendek tersusun ke bawah, seolah sedang memaparkan percakapan dua orang. Artikel adalah artikel, bukan novel.

Duabelas. Review berulang-ulang.

Ketika seseorang telah selesai menulis artikelnya (atau teks sanggahan maupun komentar), maka hal berikutnya yang akan ia lakukan adalah langsung mengunggahnya ke internet. Itu sebenarnya terlalu cepat.

Seorang siswa yang sudah selesai mengerjakan seluruh soal ujian, apakah ia langsung menyerahkannya kepada guru / dosen pengawas? Pada kenyataannya, seorang siswa pasti akan me-review terlebih dahulu seluruh hasil pekerjaannya -sebelum ia menyerahkan lembar soal dan jawaban kepada guru. Itulah yang tepat!

Harus ada jeda tiga hari, antara waktu diselesaikannya artikelnya, dengan waktu untuk mengunggahnya ke internet. Dan jeda tiga hari itu harus digunakan untuk me-review artikel hasil tulisannya, satu hari usahakan terjadi 50 kali overall-review!

Setiap kali me-review artikel, pasti penulis secara tidak disadari akan menemukan kesalahan demi kesalahan, dan akibatnya penulis akan melakukan perbaikan demi perbaikan …… tentunya itu sangat baik.

Ketahuilah, bahwa bahasa tulisan jauh berbeda dengan bahasa lisan. Bahasa lisan tidak membutuhkan struktur, apakah struktur bahasa, kosakata, struktur point, struktur penekanan, dsb. Di dalam bahasa lisan, struktur tidaklah penting, karena yang terpenting adalah maksud dari pembicaraan dapat sampai kepada lawan bicara. Bahasa tulisan di lain pihak, sangat tergantung pada aneka struktur tersebut. Oleh karena itu, kalau gaya bahasa lisan dituangkan ‘begitu saja’ ke dalam tulisan artikel, maka yang didapat adalah malapetaka bagi pembaca.

Di sini jelaslah, bahasa apa pun yang kita tulis, pasti akan terbaca aneh kalau dibaca lagi pada saat yang lain. Ini mengakibatkan akan terjadi perbaikan saat pembacaan ulang / review, supaya pada akhirnya bahasa artikel tersebut menjadi terstruktur, lebih fair dan manusiawi. Itulah gunanya review.

Tigabelas.

Akhiri artikel dengan subjudul ‘Penutup’. Subjudul ini berisi intisari dari kandungan yang dipaparkan artikel, sehingga pembaca merasa semakin dimudahkan di dalam memahami kandungan artikel, dan sekaligus ‘taktik’ supaya pembaca menyetujui maksud dan kandungan dari artikel. Subjudul ‘Penutup’ dapat saling menggantikan dengan subjudul ‘Kesimpulan’. Namun adakalanya juga, satu artikel mengandung subjudul ‘Kesimpulan’ dan ‘Penutup’, masing-masing dengan muatan yang berbeda.

Penutup.

Di dalam hal membuat artikel, apalagi yang akan diunggah di internet, berlaku juga hukum keabadian intan: “walau pun terkubur di dalam lumpur, toh intan akan bersinar juga”. Artikel yang baik akan banyak memperoleh simpati dari para pembaca, dan artikel yang buruk akan banyak ditinggalkan oleh netizen.

Namun, keseluruhan artikel tersebut, diusahakanlah menerapkan kaidah-kaidah artikel yang baik seperti yang telah dipaparkan di atas.

Ternyata Bahasa Melayu Dan Bahasa Inggris Adalah Seumur

bahasaTidak bisa diingkari bahwa pada jaman sekarang ini, bahasa Inggris merupakan bahasa terunggul di dunia karena penggunaannya yang meluas. Tampaknya ketangguhan angkatan perang Inggris di dunia menjadi satu-satunya alasan bahasa Inggris menjadi bahasa yang paling banyak digunakan di dunia ini.

Kita sebagai bangsa Melayu, tentunya merupakan bangsa yang bangga dengan bahasa Melayu, yang di Indonesia disebut sebagai bahasa Indonesia. Memang harus diakui bahwa porsi yang didapat bahasa Melayu di tengah kancah pergaulan dunia, tidak seluas dan seperkasa bahasa Inggris. Bahasa Melayu paling banyak digunakan sebagai lingua franca di kawasan Asia Tenggara, yang meliputi Malaysia, Indonesia, Brunei, Singapura, sebagian Thailand, dan sedikit Philipina.

Ada satu fakta yang unik, bahwa ternyata bahasa Inggris dan bahasa Melayu mempunyai umur yang sama secara sejarah, tidak berpaut jauh. Baiklah akan dipaparkan di bawah ini sejarah masing-masing sejarah kedua bahasa tersebut.

Bahasa Melayu (Kuno)

Bahasa Melayu tergolong dalam keluarga bahasa Nusantara di bawah golongan bahasa Sumatera. Bahasa Melayu kuno digunakan pada abad ke-7 hingga abad ke-13 pada zaman kerajaan Sriwijaya. Pada waktu itu, BM kuno telah menjadi lingua franca dan bahasa pentadbiran karena sifat bahasa Melayu yang bersifat sederhana dan mudah menerima pengaruh luar. Bahasa Melayu juga tidak terikat kepada perbedaan susun lapis masyarakat dan mempunyai sistem yang lebih mudah dibanding bahasa Jawa.

Oleh sebab agama Hindu menjadi pegangan orang Melayu ketika itu, bahasa Melayu banyak dipengaruhi sistem bahasa Sanskrit yang menyumbang pengayaan kosakata dan ciri-ciri keilmuaan (kesarjanaan) Bahasa Melayu. Bahasa Sanskrit dianggap sebagai bahasa sarjana dan digunakan oleh bangsawan. Bahasa Melayu juga mudah dilentur menurut keadaan dan keperluan.

Bukti penggunaan Bahasa Melayu kuno dapat dilihat pada batu-batu bersurat abad ke-7 yang ditulis dengan huruf Palawa yaitu:

  1. Batu bersurat di Kedukan Bukit, Palembang (683 M)
  2. Batu bersurat di Talang Ruwo, dekat Palembang (684 M)
  3. Batu bersurat di Kota Kampur, Pulau Bangka (686 M)
  4. Batu bersurat di Karang Brahi, Meringin, daerah Hulu Jambi (686 M)

Berdasarkan isinya, penulisan di batu bersurat tersebut dibuat atas arahan raja Srivijaya, sebuah kerajaan yang mempunyai kekuasaan meliputi Sumatera, Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, Segenting Kra dan Sri Lanka. Oleh karena itu, ini menunjukkan bahwa Bahasa Melayu telah digunakan sebagai bahasa resmi dan bahasa pentadbiran kerajaan Srivijaya, sekaligus meluaskan Bahasa Melayu ke tanah jajahan takluknya. Walaupun bahasa pada batu bersurat itu masih berbahasa Sanskrit, akan tetapi masih terdapat pengaruh Bahasa Melayu Kuno di dalamnya.

Istilah Melayu timbul buat pertama kali dalam tulisan Cina pada tahun 644 dan 645 Masehi. Tulisan ini menyebut mengenai orang Mo-Lo-Yue yang mengirimkan utusan ke Negeri China untuk mempersembahkan hasil-hasil bumi kepada Raja China. Letaknya kerajaan Mo-Lo-Yue ini tidak dapat dipastikan tetapi ada yang mencatatkan di Semenanjung Tanah Melayu dan di Jambi, Sumatera.

Sumber, http://bmstpm.blogspot.com/2008/11/sejarah-perkembangan-dan-asal-usul.html?m=1

Dari paparan sejarah di atas, terlihat bahwa bahasa Melayu telah lahir ke dunia ini pada tahun 600-an Masehi, atau sejaman dengan abad di mana Muhammad Saw menjalankan tugas kenabiannya.

Bagaimana dengan umur bahasa Inggris? Berikut paparan sejarahnya.

Sejarah bahasa Inggris

Sejarah bahasa Inggeris bermula dari lahirnya bahasa Inggris di pulau Britania kurang lebih 1.500 tahun yang lalu.

Bahasa Inggris adalah sebuah bahasa Jermanik Barat yang berasal dari dialek-dialek Anglo-Frisia yang dibawa ke pulau Britania oleh para imigran Jermanik dari beberapa bagian barat laut daerah yang sekarang disebut Belanda dan Jerman.

Pada awalnya, bahasa Inggris Kuno adalah sekelompok dialek yang mencerminkan asal usul beragam kerajaan-kerajaan Anglo-Saxon di Inggris. Salah satu dialek ini, Saxon Barat akhirnya yang berdominasi. Lalu bahasa Inggris Kuno yang asli kemudian dipengaruhi oleh dua gelombang invasi.

Sumber, https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sejarah_bahasa_Inggris

Dari paparan ilmiah yang berasal dari portal wikipedia ini, terungkap bahwa bahasa Inggris terlahir ke dunia ini sekitar 1500 tahun yang lalu (sekarang tahun 2015), yang mana itu berarti bahwa ‘bayi’ bahasa Inggris lahir pada tahun 500-an masehi.

Dapat disimpulkan, bahwa jarak lahir antara bahasa Melayu dengan bahasa Inggris hanya terpaut 100 tahun, di mana bayi bahasa Melayu lahir ke dunia pada tahun 600-an, sementara bayi bahasa Inggris terlahir pada tahun 500-an.

Wallahu a’lam bishawab.

Mengukur Vonis Pidana Untuk Koruptor

hukumSaya yakin. Yakin. Satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas”, kata Anas.

Korupsi merupakan momok menakutkan di dalam kehidupan bernegara bagi bangsa mana pun di dunia ini. Semua negara, tanpa kecuali, pasti memiliki koruptornya masing-masing, tanpa kecuali, apakah ia negara maju, negara miskin, negara industri, negara terbelakang, dsb.

Berbagai cara telah ditempuh oleh banyak kalangan untuk menumpas korupsi, pun juga berbagai teori dan kajian telah banyak diajukan oleh para ilmuwan untuk mengupas akar penyebab korupsi ini, namun toh tetap saja keseluruhan usaha tersebut tampaknya sekarang ini belum membuahkan hasil yang memuaskan: korupsi tetap saja meraja-lela di berbagai belahan dunia.

Di Indonesia khususnya, jelas sekali bahwa runtuhnya Orde Baru terutama disebabkan karena rakyat Indonesia telah muak dengan beranak-pinaknya korupsi di berbagai lini Pemerintahan. Semua sektor dan aspek kehidupan bernegara dan berpolitik telah kadung digerayangi oleh tindak korupsi yang membabi-buta. Pada akhirnya, kesimaharajaan korupsi di Indonesia pada masa Orde Baru mencapai titik anti-klimaksnya, yaitu dengan tumbangnya sumbu Orde Baru, yaitu Presiden Soeharto himself.

Tumbangnya Orba segera diganti dengan diberdirikannya Orde Reformasi, yang salah satu tujuan terpentingnya adalah mengikis habis tindak korupsi sampai ke akar-akarnya.

Pada level ini, akhirnya publik menyadari, bahwa ternyata tidak mudah memerangi korupsi. Dan pada puncak kegalauan seluruh insan Indonesia mengenai merajalelanya korupsi, timbul beberapa pemikiran untuk memberi hukuman terberat kepada koruptor, yang dengan hukuman tersebut diharapkan korupsi dapat segera dimusnahkan dari setiap lini kehidupan ini.

Pemikiran tersebut setidaknya terdari dua ide, yaitu:

  • Pertama, menjatuhkan hukuman mati kepada para koruptor.
  • Kedua, menjatuhkan larangan untuk menshalati jenazah koruptor.

Dengan kedua hukuman ini, bangsa Indonesia menaruh harapan besar akan dapat terwujudnya suatu bangsa yang bebas dari tindak korupsi.

Hukuman mati bagi koruptor.

Banyak kalangan yang menyuarakan diberlakukannya hukuman mati untuk para koruptor. Alasan mereka adalah, bahwa korupsi merupakan kejahatan yang paling keji dan menyengsarakan banyak orang. Oleh karena itu hukuman yang paling setimpal kepada para koruptor adalah hukuman mati. Pun dengan diberlakukannya hukuman mati ini, insan beradab dapat berharap terciptanya efek jera dan rasa takut pada siapa pun untuk melakukan tindak korupsi. Dengan demikian menurut perhitungan insan beradab, pemberlakukan hukuman mati dapat menumpas tindak korupsi dari persada Indonesia ini.

Kalau kita cermati, sebenarnya dunia peradilan tidaklah sembarangan di dalam hal menjatuhkan hukuman mati. Yang tampak jelas pada sistem peradilan di Indonesia mengenai hukuman mati ini adalah, bahwa:

  1. Hukuman mati dijatuhkan kepada pelaku pembunuhan berantai, alias pembunuhan beruntun.
  2. Hukuman mati dijatuhkan kepada pelaku pembunuhan berencana.
  3. Hukuman mati dijatuhkan kepada pengedar narkoba di dalam ukuran tertentu.

Khusus hukuman mati yang dijatuhkan kepada pengedar narkoba, tampaknya alasan menjatuhkan hukuman mati kepada pelaku kejahatan ini adalah, karena kejahatan mereka mengakibatkan kematian yang diderita pengguna narkoba. Kalau pun tidak mati / tewas, maka hidupnya sengsara dan tidak berguna bagi bangsa dan keluarganya. Dan pun, korban mati akibat narkoba ini tidak satu, melainkan lebih dari satu, sehingga dengan demikian kejahatan narkoba dapat dipersamakan atau dianalogikan dengan kejahatan pembunuhan berantai atau pembunuhan berencana. Pantaslah, pelaku pengedar narkoba diganjar hukuman mati.

Dari sini kita dapat melihat, bahwa ternyata hukuman mati hanya dijatuhkan kepada para pelaku yang mengakibatkan kematian orang lain ‘secara sengaja’, yang mana kematiannya merupakan keniscayaan (pasti mati). Kata sengaja dan keniscayaan di sini merupakan kata kunci untuk dijatuhkannya hukuman mati. Atau dengan kata lain, terdapat ‘niat’ untuk melakukan perbuatan menghilangkan nyawa orang lain.

Singkat kata, terdapat hubungan yang kuat antara hukuman mati dengan kejahatan yang dijatuhi hukuman mati, yaitu nyawa. Lebih tepatnya lagi adalah, hukuman mati hanya dijatuhkan kepada pelaku penghilangan nyawa orang lain, yang dilakukan dengan sengaja, atau dengan adanya niat terlebih dahulu.

Sekarang bagaimana dengan koruptor? Apakah kejahatan mereka (yaitu korupsi) ada hubungannya dengan kegiatan menghilangkan nyawa (kematian) orang lain dengan sengaja atau dengan niat, sehingga layak dianalogikan dengan membunuh orang dengan berantai, atau dengan berencana? Dan apakah korupsi merupakan kejahatan yang ‘niscaya / pasti’ mengakibatkan kematian para korbannya?

Jelaslah tidak ada hubungannya sama sekali, sehingga dengan demikian kejahatan korupsi tidak dapat dijatuhi hukuman mati. Tidak masuk akal. Dan tidak proporsional.

Apa yang diakukan koruptor adalah menggelapkan uang publik, dan sungguh menggelapkan uang publik sama sekali tidak dapat menghilangkan nyawa orang lain. Patut untuk direnungkan, bahwa uang seutuhnya adalah masalah rejeki, sementara rejeki sudah ada yang mengatur, yaitu Tuhan. Artinya, kalau publik tidak dapat rejeki (karena uangnya digelapkan oleh koruptor), maka pastilah rejeki publik akan mengalir dari arah lain. Terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa korupsi mengakibatkan kematian, karena bukti statistiknya pun tidak ada.

Oleh karena itu, wacana menjatuhkan hukuman mati kepada para koruptor merupakan suatu tindakan yang kelewat demonstratif yang tidak perlu. Yang terpenting bagi insan beradab adalah, hendaklah mereka melihat titik proporsional dari permasalahan hukuman mati ini: mengapa hukuman mati dijatuhkan. Tentu semua orang harus ingat, bahwa sebaiknya kita tidak semudah itu di dalam hal menjatuhkan hukuman mati. Buktinya, para Hakim dan insan peradilan saja melihat bahwa hukuman mati hanya dapat dijatuhkan kepada tiga jenis kejahatan, yang masing-masingnya berhubungan dengan penghilangan nyawa orang lain secara sengaja dan atau secara terencana.

Kalau korupsi sudah jelas tidak berimplikasi atau berakibat pada kematian orang lain, maka itu artinya tindak korupsi tidak dapat dijatuhi hukuman mati.

Larangan menshalati jenazah koruptor.

TEMPO.CO, Madiun -Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Madiun mewacanakan usulan fatwa tentang larangan salat jenazah untuk koruptor. “Karena koruptor tidak kapok meski sudah dijatuhi hukuman. Maka perlu diberi sanksi sosial seperti ini,” kata Ketua MUI Kota Madiun, Sutoyo, Rabu, 28 Januari 2015.

Menurut dia, wacana pemberian sanksi itu muncul dari aspirasi warga muslim yang disampaikan kepada MUI. Masukan ini melatarbelakalangi MUI menggelar pertemuan dengan sejumlah aktivis anti korupsi dan tokoh agama beberapa hari lalu. “Mereka mengatakan korupsi semakin menggurita ……

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/01/28/173638331/mui-madiun-usulkan-jasad-koruptor-haram-disalati

Wacana berikutnya yang diusung penggiat anti-korupsi adalah mengupayakan larangan menshalati jenazah koruptor. Dengan diberlakukannya larangan ini diharapkan tindak korupsi dapat dihilangkan, dan dapat menimbulkan opini bahwa tindak korupsi merupakan suatu kehinaan sehingga jenazah pelakunya tidak berhak untuk dishalatkan.

Islam mengajarkan bahwa penyelenggaraan jenazah hukumnya adalah fadhu (kifayah) atas seorang Muslim yang wafat, selama Muslim tersebut masih bersyahadat. Kalau ada seorang manusia yang sudah keluar dari syahadat (alias bukan Muslim lagi) maka haramlah hukumnya orang tersebut untuk dishalati jenazah oleh umat Muslim.

Seorang Muslim, yang artinya ia masih bersyahadat, tetaplah seorang Muslim, kendati ia:

  • Tidak (pernah) shalat, atau tidak mengamalkan keempat rukun Islam lainnya.
  • Banyak berbuat dosa, termasuk syirik / musyrik.
  • Munafik, seperti lebih banyak (cenderung) membela umat agama lain, suka mendeskreditkan Islam – agamanya sendiri, dsb.

Walau pun terdapat Muslim seperti yang digambarkan di atas, tetaplah ia seorang Muslim, yang artinya umat Muslim lainnya wajib untuk menshalati jenazahnya saat Muslim tersebut wafat.

Kejahatan, kejahatan apapun, sebesar apapun, yang dilakukan seorang Muslim, selama ia masih bersyahadat, tidak dan tidak pernah menghilangkan haknya untuk dishalati jenazahnya saat wafat. Sama diketahui, bahwa Muhammad Saw tidak pernah mengajarkan bahwa terdapat beberapa dosa yang mengakibatkan seorang Muslim kehilangan haknya untuk dishalatkan jenazahnya (kecuali murtad, tentunya).

Oleh karena itu, tindak kejahatan korupsi yang dilakukan seorang Muslim (sebesar apapun nominal korupsinya), tidak dapat dijadikan alasan untuk diberlakukannya larangan untuk menshalati jenazahnya, karena pada dasarnya ia adalah seorang Muslim, yang tetap bersyahadat hingga akhir hayatnya.

Patut untuk direnungkan, bahwa shalat jenazah bukanlah hak istimewa yang diberikan hanya kepada Muslim sejati yang luarbiasa, yang banyak beramal saleh, yang bertaqwa, dsb. Shalat jenazah adalah hak seluruh Muslim, ini termasuk Muslim-Muslim yang berperangai buruk, termasuk para koruptor, karena sejatinya mereka masih bersyahadat.

Memberlakukan larangan menshalati jenazah koruptor Muslim, justru akan menjadi perbuatan dosa bagi umat Muslim yang masih hidup. Maka apakah seluruh Muslim siap menanggung dosa di akhirat karena menolak menshalati jenazah Muslim lainnya, yang notabene adalah koruptor?

Kalau seorang Muslim faham agama, faham akan bidang Fiqih, terlebih lagi kalau seorang Muslim adalah seorang ulama, maka haruslah ia faham bahwa larangan menshalati jenazah koruptor merupakan suatu bentuk penistaan terhadap ajaran Islam yang luhur. Islam tidak pernah mengajarkan bahwa umat diharamkan untuk menshalati jenazah koruptor. Jadi, larangan menshalati jenazah koruptor merupakan bidah di dalam Islam, dan setiap bidah tempatnya adalah di Neraka.

Penutup.

Setiap umat, setiap bangsa, setiap filsuf, pastilah membenci dan mengutuk korupsi. Harus ada usaha yang besar untuk menumpas tindak korupsi. Namun tentunya harus tetap pada koridor kepantasan dan kepatutan di dalam usaha menggulung tindak korupsi. Proporsionalitas harus dikedepankan, logika haruslah tetap memandu setiap wacana untuk memusnahkan korupsi.

Menjatuhkan hukuman mati kepada koruptor, dan memberlakukan larangan menshalati jenazah koruptor, merupakan bentuk irrasionalitas di dalam menghadapi tindak korupsi.

Wallahu a’lam bishawab.

Mempermasalahkan Dunia Keartisan Indonesia

dunia artisKeberadaan artis di dalam kehidupan suatu masyarakat tentulah merupakan suatu keniscayaan. Dapat dipastikan bahwa tidak mungkin suatu masyarakat dapat mempunyai kehidupan, tanpa adanya artis. Artis-lah yang merupakan ujung tombak pemeragaan budaya, dan itu berarti artislah yang paling bertanggungjawab atas kelangsungan dan kelestarian suatu budaya. Apa jadinya kalau di dalam kehidupan ini tidak ada artis, karena kalau tidak ada artis, maka tidak ada seni dan budaya.

Karena keberadaan artis merupakan keniscayaan di dalam kehidupan ini, maka tentu haruslah ada juga forum untuk membicarakan keartisan, suatu forum yang membahas bagaimana layaknya menjadi artis, apa itu artis, apa itu batasan artis, guna dan fungsi artis, tujuan dari menjadi artis, dsb.

Satu hal yang mungkin harus ditekankan di sini adalah, bahwa artis adalah seorang manusia yang selayaknya merupakan ‘etalase’ kebudayaan. Seorang manusia artis adalah, selayaknya, merupakan tempat di mana suatu budaya diusung, dipamerkan, diperagakan, dipromosikan dan disemarakkan, sebagaimana mestinya.

Tidak ubahnya dengan seorang pelayan toko atau restoran. Haruslah seorang pelayan toko itu seseorang yang mempunyai paras yang indah, enak untuk dipandang mata, mempunyai senyum nan menawan, muda, sehat, ramah, dsb. Begitu juga dengan pelayan restauran, bahkan begitu juga dengan profesi pramugara / pramugari. Keseluruhan sosok tersebut harus merupakan seseorang yang mempunyai penampilan yang menarik, tampan, cantik, segar, muda, dsb.

Apa jadinya kalau sebuah toko mempekerjakan seseorang yang berwajah jelek untuk menjadi pelayannya? Dan apa jadinya kalau suatu pesawat terbang mempekerjakan seseorang yang berwajah jelek, hitam, menyeramkan, tidak ramah, sebagai pramugara / pramugari-nya? Tidak usah dibahas, karena pasti tidak ada orang yang cukup gila untuk mempekerjakan seseorang yang berwajah jelek sebagai pelayan toko, atau pelayan restauran, atau bahkan seorang pramugara, penyiar tv, dsb.

Untuk pemikiran yang sama, maka sudah sepatutnya suatu masyarakat mempekerjakan seseorang yang berwajah menarik sebagai pengusung dan pemeraga budaya pada masyarakat tersebut. Artinya, seorang artis haruslah mempunyai penampilan yang menarik, tampan, cantik, ramah, senyum yang menawan, segar, cerah, muda dan berseri-seri.

Intinya, seorang artis, yang merupakan etalase dari suatu kebudayaan, pastilah akan menjadi ‘pusat perhatian’ dan ‘sasaran pandang’ khalayak ketika sebuah budaya dipamerkan atau diperagakan olehnya. Maka dari itu, artis tersebut harus berwajah yang enak dipandang.

Singkat kata, suatu masyarakat tidak boleh mempekerjakan seseorang manusia yang berwajah jelek, sebagai artis untuk memperagakan kebudayaan masyarakat tersebut. Jadinya, suatu masyarakat (apakah itu stasiun tv, atau production-house, atau paguyuban lawak, gerombolan kesenian, sanggar seni, dsb) haruslah mempekerjakan seseorang yang berwajah indah untuk dijadikan artisnya.

Kenyataannya?

Alangkah sangat menyedihkan, bahwa kenyataannya di tengah masyarakat Indonesia ini, terdapat BANYAK artis yang berwajah jelek, tidak sedap dipandang mata, membuat mata pemirsa dan khalayak, sakit. Banyak sekali individu-individu yang berwajah jelek, ternyata telah didapuk oleh sebagian masyarakat Indonesia ini, untuk dijadikan artis Indonesia, untuk membawakan dan memperagakan budaya Indonesia, entah itu budaya nyanyian, tarian, lawak, drama sinetron, dsb. Jeleknya wajah mereka di lain pihak, tentu tidak dapat disembunyikan oleh kamera mana pun, maka menjadilah kejelekan wajah mereka satu padu dengan budaya Indonesia yang sedang diperagakan tersebut. Ini menyedihkan.

Memang di satu pihak, dapat dikatakan, bahwa individu-individu berwajah jelek tersebut, mempunyai suatu keterampilan di dalam hal tertentu yang pantas untuk dinikmati publik (seperti melawak, menari, menembang, dsb), namun tetap saja hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan dan pembenar untuk mendapuk mereka sebagai artis dan seniman Indonesia.

Harus dipertimbangkan, bahwa sebenarnya masih banyak individu lain yang berwajah menarik, namun di lain pihak mereka juga mempunyai ketrampilan di dalam suatu bidang budaya. Maka bukankah seharusnya individu-individu ini yang didapuk / direkrut untuk menjadi seniman atau selebriti Indonesia?

Bahkan lebih parahnya, terdapat beberapa stasiun tv swasta yang mendapuk atau mengorbitkan seseorang individu yang berwajah jelek, sebagai seniman atau selebriti Indonesia, padahal individu tersebut tidak mempunyai ketrampilan apapun, hanya saja individu tersebut mempunyai ‘keberanian’ dan kesudian untuk menjadi bahan olok-olok dan objek kekonyolan. Mau dibawa kemana dunia keartisan Indonesia ini?

Di lain pihak, ada faktor yang memperparah kekacauan cara berfikir orang Indonesia khususnya di dalam hal rekrut artis ini. Faktor tersebut amat menentukan di dalam kekacauan keartisan Indonesia. Faktor tersebut adalah, bahwa ternyata publik Indonesia pun mempunyai animo dan antusiasme yang tinggi terhadap keberadaan artis-artis yang berwajah jelek ini, hal mana ini membuat rating penampilan artis ini semakin tinggi.

Dengan kata lain, tampaknya justru publik Indonesia gemar melihat manusia-manusia berwajah jelek untuk ditampilkan di atas panggung untuk memperagakan budaya Indonesia. Hal ini terlihat dari rating setiap tivi yang terus meningkat manakala tv tersebut menampilkan artis-artis berwajah jelek.

Bukankah hal seperti ini harus diubah? Bukankah hal seperti ini seharusnya tidak ada?

Mengapa Indonesia, baik sebagai rakyat dan bangsa, sebagai kelompok budaya, mau pun sebagai negara, mempunyai cara berfikir yang aneh dan anomali, menentang cara berfikir lumrah yang berlaku di seluruh dunia? Mengapa bangsa Indonesia ini gemar melakukan suatu hal yang tidak ‘dunia-level’, yaitu hanya merekrut manusia-manusia berwajah menarik dan rupawan untuk dijadikan / diorbitkan sebagai artis pengusung dan pemeraga budaya?

Bukan di dalam hal keartisan saja publik Indonesia ini mempunyai cara berfikir yang aneh dan janggal, sebenarnya di dalam banyak hal dan aspek pun sebenarnya bangsa Indonesia juga janggal cara berfikirnya. Namun untuk menghemat waktu, hal-hal tersebut akan dibahas di lain kesempatan saja, karena kesempatan ini baiklah hanya untuk membahas dunia keartisan in yang kadung kacau.

Selera keartisan di luar negeri.

Baiklah kita perhatikan kehidupan keartisan di luar negeri. Di luar negeri, hanya manusia-manusia yang berwajah menarik dan menawan saja yang didapuk / direkrut untuk menjadi artis, dan tentunya hal tersebut juga disandingkan dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi artis. Jadi dengan kata lain, kalau ada individu mempunyai ketrampilan seni yang mumpuni, namun individu tersebut tidak berwajah rupawan, pastilah individu itu tidak akan direkrut: jangan harap. Alhasil, di luar negeri tidak pernah ada satu pun artis yang berwajah jelek. Semua artis luar negeri berwajah menawan dan sedap dipandang mata.

Mengapa demikian? Itu karena semua punggawa seni-budaya di luar negeri mempunyai fikiran yang waras; mereka tidak neko-neko. Mereka ingat bahwa artis adalah etalase pengusung dan pemeraga budaya masyarakat mereka sendiri. Oleh karena itu seorang artis haruslah berwajah rupawan dan menawan, supaya publik selalu mempunyai waktu dan minat untuk mencurahkan perhatian dan antusiasme-nya.

Publik seni internasional tentunya ingat, bahwa terdapat beberapa video-klip lagu yang begitu terkenal karena lagu-nya sangat diterima oleh publik, ternyata video tersebut tidak menampilkan wajah sang penyanyi. Mengapa demikian? Hal tersebut karena ternyata sang penyanyi tidak mempunyai wajah yang menarik untuk dilihat publik. Dengan kata lain, lagu dan juga video musiknya, hanya mengusung lagu itu sendiri, namun tidak mengusung wajah sang penyanyi.

Apa yang melatar-belakangi hal ini adalah, karena pekerja seni di luar negeri begitu faham bahwa seorang artis (yang mengusung budaya) haruslah mereka yang berwajah molek – sehingga etis untuk ditampilkan dan diperagakan. Dan kalau ternyata ada individu seni yang mempunyai kemampuan musikalitas yang prima, namun tidak didukung wajah yang molek, maka MAU-TIDAK-MAU wajah individu tersebut tidak perlu ditampilkan, tidak perlu diungkapkan; cukuplah musikalitasnya saja yang diusung dan di-apresiasi.

Hal seperti inilah yang tidak ada di Indonesia. Masyarakat panggung Indonesia tidak pernah sadar bahwa artis adalah etalase budaya. Yang ada di dalam fikiran masyarakat-panggung Indonesia adalah hanya memikirkan rating dan pendapatan keuangan, lain tidak. Akibatnya, mereka, para masyarakat-panggung, gemar sekali mengetengahkan artis-artis berwajah jelek, selama artis tersebut dapat mendatangkan keuntungan keuangan. Intinya, tidak ada kewarasan. ***

Ada dua hal yang harus diperhatikan di dalam hal merekrut artis untuk dijadikan etalase seni dan budaya:

  1. Seni dan budaya yang ada pada suatu masyarakat, haruslah ditampilkan semenarik mungkin. Ini mutlak. Oleh karena itu, personel-nya harus juga menarik dan rupawan. Itu artinya personel artis yang direkrut untuk tujuan menampilkan, memperagakan mau pun mempromosikan seni dan budaya Indonesia, haruslah individu-individu yang berwajah menarik, rupawan, menawan, muda, dan sehat.
  2. Publik pun, di lain pihak, juga berhak untuk memperoleh suguhan pentas seni-budaya yang diusung oleh personel-personel yang berwajah molek dan menawan. Jangan biarkan publik terlena melihat personel seni berwajah buruk dan kusam. Publik seni berhak melihat artis-artis berwajah dewa-dewi.

Di luar itu pun, publik juga harus dididik untuk sadar bahwa artis haruslah berwajah molek, bukan personel yang berwajah jelek, karena apa yang mereka (para artis) usung, merupakan suatu hal yang serius dan agung, yaitu budaya leluhur bangsa Indonesia. Publik seni harus diajarkan, bahwa tidak logis dan tidak etis untuk melihat manusia-manusia berwajah jelek disuguhkan dan ditampilkan di atas panggung untuk memperagakan budaya masyarakat Indonesia yang adiluhung. Publik seni, harus protes kalau budaya Indonesia yang luhur ternyata diusung dan diperagakan oleh personel yang tidak mencerminkan budaya itu sendiri.

Bagaimana publik dapat mengenal dan mencintai budaya-nya sendiri, kalau publik itu malas menikmati suguhan budaya, karena suguhan budaya tersebut ditampilkan oleh personel artis yang buruk-rupa? ***

Untuk kedua hal tersebut, tak ayal lagi bahwa seluruh elemen publik Indonesia, khususnya yang berkiprah di dalam hal pentas seni-budaya, haruslah merekrut personel yang berwajah molek dan rupawan sebagai artis. Dan untuk itu, maka seluruh bangsa Indonesia harus begitu komit untuk tidak lagi menampilkan artis-artis berwajah jelek di atas panggung seni-budaya, karena hal tersebut tidak logis, dan juga tidak etis.

Mari Menggagas Mahkamah Ampera

nuranirakyat

DPR merupakan lembaga perwujudan kehendak dan kedaulatan rakyat yang berkedudukan di ibukota negara yaitu Jakarta. Di dalam DPR, karena berisi ratusan manusia yang bermartabat dan dipilih seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, terdapat sumber-sumber daya yang penuh nurani dan nalar, pertimbangan-pertimbangan dan inspirasi kemanusiaan yang dapat dipertanggung-jawabkan.

Selama ini lembaga DPR berfungsi di dalam hal legislasi, yaitu membuat dan mensahkan Undang-undang bersama Pemerintah, di dalam hal ini Presiden. Mengingat DPR merupakan lembaga yang berisi nalar, nurani, inspirasi kemanusiaan dan pertimbangan-pertimbangan, maka sebenarnya masih ada satu lagi fungsi yang seharusnya diemban DPR. Fungsi tersebut mari kita namakan dengan Mahkamah Ampera.

Latar belakang dibentuknya lembaga Mahkamah Ampera.

Mahkamah Ampera mempunyai sasaran-tembak pada lembaga kepolisian negara yaitu Polisi Republik Indonesia, Polri. Yang akan disasar tentu bukan Polri-nya, melainkan sistem pelaporan tindak pidananya.

Sama kita ketahui bahwa di dalam hal penegakan Hukum khususnya pada kasus-kasus pidana, kerap terjadi pelaporan kasus yang menyayat nurani dan perasaan, yang dilaporkan oleh warga masyarakat untuk ditindak-lanjuti oleh kepolisian. Di antaranya, adalah seperti,

  • Pada suatu ketika, seorang nenek dari keluarga miskin yang sedang berjalan di tepi hutan produksi, memungut sebutir buah yang jatuh dari pohonnya dan kemudian ia bawa pulang untuk ia makan. Apa yang terjadi selanjutnya adalah, personel dari Perusahaan hutan produksi tersebut melaporkan sang nenek ke polisi dengan laporan tindak pidana pencurian. Maka hari-hari berikutnya berubah menjadi malapetaka buat si nenek renta nan miskin ini, di mana ia harus bolak-balik ke Kantor polisi untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Publik mengikuti kasus ini melalui media massa, dan sudah barang tentu publik mengikutinya dengan perasaan trenyuh.
  • Pada suatu ketika, seorang karyawan hotel mengambil roti sisa yang basi dari tempatnya bekerja. Apa yang terjadi selanjutnya adalah, bahwa staf hotel melaporkan karyawan tersebut ke polisi dengan laporan tindak pidana pencurian. Sama kita ketahui bahwa harga roti sisa yang basi itu tidak seberapa.
  • Pada suatu ketika, seorang nenek dilaporkan ke polisi oleh anak dan menantunya sendiri dengan laporan tindak pidana memasuki pekarangan rumah orang tanpa izin, padahal semua orang tahu bahwa rumah tersebut adalah rumah ibu dari sang anak sendiri, dan mereka semua adalah satu keluarga. Tidak ayal lagi, sang nenek harus berurusan dengan polisi dan terancam mendapat hukuman pidana untuk suatu hal yang sebenarnya bukan kesalahannya.
  • Seorang anak melaporkan ibunya sendiri yang telah renta ke polisi dengan tuduhan telah mencuri pohon yang tumbuh di pekarangan rumah sang anak. Tak pelak lagi kepolisian harus memanggil sang ibu tua ini dan kemudian menahannya sehingga menjadi sakit-sakitan.

Banyak sekali kasus yang dipolisikan yang beraroma demikian. Di lain pihak, tentunya kepolisian haruslah menindak-lanjuti laporan tersebut, karena sudah merupakan tanggungjawabnya sebagai penegak Hukum untuk menjamin tegaknya keadilan di tengah masyarakat. Namun tentunya masyarakat dan umat manusia mempunyai nurani dan nalar. Mereka bisa membuat penilaian atas apa yang sebenarnya tengah terjadi. Dan harus diakui bahwa masyarakat tidaklah bodoh, masyarakat tidaklah mati-rasa.

Tentunya hal ini membuat publik menjadi miris dan nelangsa. Namun toh demikian masyarakat juga tidak bisa begitu saja menyerukan kepada kepolisian untuk meng-aborsi perkara tersebut, karena memang tidak ada Undang-undangnya.

Terdapat dua hal yang dapat digaris-bawahi di sini:

  1. Perkara tersebut merupakan perkara yang konyol, tidak masuk akal, tidak sesuai nalar, tidak berperi-kemanusiaan, tidak memihak kepada rakyat, dan terlalu dipaksakan. Perkara tersebut mematikan hubungan silaturahmi antar manusia yang seharusnya ada. Perkara tersebut mencerminkan egosentrisme, mencerminkan pendirian ‘tutup-mata’. Perkara ni mencerminkan arogansi pihak pelapor.
  2. Pihak kepolisian, tentu saja harus menindak-lanjuti laporan tersebut. Adalah salah kalau pihak kepolisian mendiamkan laporan kasus tersebut, karena ‘diwacanakan’ akan melukai hak sang pelapor. Memang sama diketahui, untuk setiap pelaporan tindak pidana yang masuk, maka hal pertama yang dilakukan pihak kepolisian adalah mengajak kedua belah pihak (atau para pihak) untuk berdamai, dengan kata lain mencari kemungkinan agar kasus tersebut tidak dilanjutkan, atau ‘diseriuskan’ ke tingkat Kejaksaan. Namun bukankah fakta yang ada justru menunjukkan bahwa tahap pendamaian kadang ditolak mentah-mentah oleh pelapor. Buktinya, toh kasus tersebut akhirnya terlimpah ke Kejaksaan dan kemudian bergulir di tingkat Pengadilan. Bukankah ini menandakan bahwa tahap pendamaian yang digagas kepolisian tidak bertaji?

Pertanyaannya sekarang adalah, dapatkan perkara-perkara yang beraroma miris tersebut dapat diaborsi di tingkat kepolisian supaya tidak dilimpahkan ke Kejaksaan, demi menjaga dan melegakan nurani setiap manusia?

Dewi keadilan, selalu hadir dengan mata tertutup, satu tangannya memegang pedang keadilan, sementara pada tangan lainnya tergantung timbangan keadilan. Sosok ini merupakan simbol, bahwa keadilan tidak pernah melihat kepada siapa, apakah ia orang miskin, apakah ia orang kaya, apakah ia pejabat, apakah kasus tersebut remeh, apakah kasus tersebut konyol, apakah kasus tersebut tidak mengiris nurani, dsb. Oleh karena itu setiap kasus yang masuk ke kepolisian harus mendapat perlakuan yang sama, karena keadilan haruslah sama antara satu warga dengan warga lainnya. Kalau seorang nenek tua nan miskin mencuri, tetaplah ia harus dihukum dan dipenjara dengan hukuman seberat-beratnya.

Keseluruhan ide tersebut, dikarenakan Dewi Keadilan hadir sebagai sosok dengan mata tertutup, yang menandakan bahwa ia, sang keadilan, tidak memihak kepada siapa pun. Keadilan hanya memihak kepada keadilan.

Namun juga harus diingat, bahwa publik tidaklah bodoh, publik bisa melihat dengan nurani dan nalar. Sering kali publik melihat bahwa sosok Dewi Keadilan ini membawa hal-hal yang outputnya adalah ketidak-berperi-kemanusiaan dan ketidak-berperi-perasaan.

Nah pada level inilah peran Mahkamah Ampera diperlukan, yang mana lembaga Mahkamah Ampera ini merupakan wewenang DPR RI.

Tugas dan wewenang Mahkamah Ampera.

Tugas dan wewenang Mahkamah Ampera DPR adalah menggelar sidang untuk menentukan apakah suatu perkara yang beraroma miris yang tengah bergulir di kepolisian layak dilanjutkan atau sebaliknya, diaborsi, melalui suatu ketetapan Mahkamah Ampera DPR.

Ketika DPR mengetahui, memperhatikan dan mengikuti suatu kasus perkara yang beraroma miris, DPR akan segera bersikap. DPR bersikap, karena suatu kasus perkara dinilai merupakan kasus yang amat miris, tidak masuk akal, mencerminkan arogansi, tidak berperi-kemanusiaan, dan perkara ini melawan kepentingan rakyat miskin yang sengsara. Dan DPR memang harus bersikap untuk menanggapi (atau mengantisipasi) mekanisme kepolisian yang memang tidak dapat mengaborsi kasus suatu perkara. Sesuatu hal yang mendasar harus diperlihatkan oleh DPR untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa suatu kasus tidak selayaknya diperkarakan.

Atas dasar hak inisiatif yang dimiliki DPR, lembaga kedaulatan rakyat ini menggelar sidang Mahkamah Ampera atas perkara sedemikian. Di dalam sidang Mahkamah Ampera DPR ini akan dipaparkan duduk permasalahan perkara tersebut seobjektif mungkin. Dan pada akhirnya, nurani wakil-rakyat inilah yang akan menentukan apakah perkara ini akan dilanjut, atau diaborsi.

Apapun yang menjadi ketetapan (keputusan) Mahkamah Ampera DPR ini atas suatu perkara yang di-Mahkamah Ampera-kan, maka kepolisian wajib mentaati dan mematuhinya.

Pencetus penggelaran sidang Mahkamah Ampera DPR.

Ketika terjadi suatu perkara yang miris dan tidak masuk akal yang sedang ditangani kepolisian, maka DPR dapat menggunakan wewenang dan haknya untuk menggelar Mahkamah Ampera untuk mengantisipasi semakin liarnya perkara tersebut di tingkat kepolisian, demi untuk menunjukkan keberpihakan DPR kepada Amanat Penderitaan Rakyat.

Ada tiga hal yang merupakan pencetus digelarnya sidang Mahkamah Ampera DPR ini:

  1. Adanya permohonan dari pihak terlapor, yang ia-nya merasa sangat dirugikan dan disengsarakan oleh kekuatan yang kelewat besar.
  2. Adanya / menggeloranya demo massa yang bangkit untuk mendesak DPR agar segera menggelar Mahkamah Ampera-nya, supaya keadilan tetap berpihak kepada rakyat yang menderita.
  3. Adanya inisiatif dari DPR sendiri setelah mengetahui, memperhatikan dan mengikuti suatu kasus perkara yang beraroma miris ini.

Mahkamah Ampera sebagai pengawas kepolisian.

Dengan adanya Mahkamah Ampera DPR ini, maka dapat dikatakan bahwa mulai sejak saat itu kepolisian mempunyai lembaga yang menjadi pengendali dan penyeimbang atas dirinya. Sama kita ketahui bahwa semua lembaga negara mempunyai lembaga penyeimbangnya. Hal ini dimaksudkan supaya suatu lembaga tidak menjadi lembaga ‘superbody’ saat menjalankan tugas dan wewenangnya. Sungguh pun demikian, Indonesia tidak / belum mempunyai lembaga yang akan berperan sebagai penyeimbang wewenang kepolisian. Itulah sebabnya banyak kasus yang tidak masuk akal yang tetap bergulir di tingkat kepolisian – karena lembaga kepolisian ini tidak mempunyai kekuatan penyeimbang. Tentunya, yang diseimbangkan bukan kepolisiannya, melainkan alur pelaporan perkaranya.

Dan di luar itu, jelas sekali bahwa DPR merupakan satu-satunya lembaga yang paling berhak untuk menjadi kekuatan penyeimbang lembaga kepolisian, karena pada intinya lembaga kepolisian bekerja atas dasar nurani terdalam anak manusia (ingat, keadilan harus sesuai nurani), sementara nurani itu sendiri ada di dalam DPR, yaitu nurani-nya seluruh rakyat dan bangsa Indonesia. Ingatlah, bahwa yang paling berhak menjadi Hakim yang adil adalah nurani, bukan siapa-siapa. Nurani tidak pernah salah, nurani adalah misi Tuhan yang terus menuntut dan menuntun manusia menuju keadilan.

Juga harus dicermati, bahwa kepolisian merupakan lembaga yang seutuhnya bersinggungan dengan rakyat banyak. Di sisi lain, rakyat banyak inilah yang menjelma di dalam suatu lembaga yang disebut DPR. Maka dari itu patutlah jika DPR merupakan satu-satunya lembaga yang layak menjadi mitra kepolisian (penyeimbang kepolisian), karena sama-sama berbasis rakyat banyak.

Jenis perkara miris yang merupakan domain Mahkamah Ampera.

Terdapat dua jenis perkara miris yang akan menjadi domain atau tanggungjawab Mahkamah Ampera DPR RI.

Pertama.

Perkara miris seperti yang dideskripsikan pada bagian awal, di mana seorang nenek miskin dilaporkan oleh staf Perusahaan dengan tuduhan pencurian buah yang jatuh di tanah, atau seorang nenek renta yang dilaporkan ke polisi oleh anak dan menantunya dengan tuduhan memasuki pekarangan rumah orang tanpa ijin, dsb.

Kedua.

Perkara kriminalisasi atas pribadi-pribadi tertentu yang sebenarnya merupakan grand-design untuk melumpuhkan suatu lembaga Pemerintahan / publik yang di dalam pandangan pihak tertentu, lembaga tersebut telah menghalangi suatu tujuan.

Manusia mempunyai kesalahan, tidak ada manusia yang tidak mempunyai kesalahan. Tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam perjalanan interaksi antar lembaga Pemerintahan / publik kerap terjadi pergesekan dan konflik kepentingan satu dengan yang lainnya, sehingga terkadang solusi yang tersedia hanyalah dengan menyeret pribadi-pribadi yang bersinggungan ke pihak kepolisian, supaya pribadi-pribadi atau lembaga tersebut tidak lagi membahayakan lembaga lainnya.

Hal ini tentunya sangat tidak terpuji, dan sangat merugikan bangsa dan negara, karena biar bagaimana pun kriminalisasi merupakan suatu kata dan semangat yang tidak pada tempatnya. Kriminalisasi akan menjadi suatu bentuk sandungan dan langkah mundur bagi penyelenggaraan negara secara keseluruhan. **

Demikianlah kedua jenis perkara miris ini, biar bagaimana pun harus diawasi dan dikendalikan oleh DPR, karena hanya DPR lah yang paling berhak untuk menilai apakah pemerkaraan kasus ini dapat dilanjutkan atau diaborsi. Intinya adalah, kedua jenis perkara ini sungguh melanggar nurani, nurani manusia waras mana pun. Sementara kita ingat, bahwa DPR merupakan lembaga penjelmaan seluruh rakyat Indonesia, yang tentunya di dalam lembaga tersebut juga tersalurkan nurani dan inspirasi seluruh rakyat Indonesia.

Karakteristik perkara miris.

Perkara-perkara miris yang merupakan domain dan tanggungjawab Mahkamah Ampera DPR RI mempunyai karakter sebagai berikut,

  1. Perkara ini tidak memiliki nilai kerugian yang signifkan, baik kerugian material mau pun immaterial.
  2. Perkara ini merupakan bentuk arogansi satu pihak atas pihak lainnya, atau pihak pelapor. Tidak ada objektivitas. Tidak ada itikad baik.
  3. Perkara ini mempunyai aroma dan potensi untuk melanggar Amanat Penderitaan Rakyat seluruh bangsa Indonesia.
  4. Perkara ini kalau diaborsi oleh Mahkamah Ampera DPR RI, tidak menimbulkan kerugian apalagi guncangan sosial mau pun Hukum yang berarti bagi kehidupan skala mikro mau pun skala makro / berbangsa.
  5. Perkara ini merupakan rekayasa atau grand-design dari pihak tertentu yang erat terkait dengan pergesekan antar lembaga Pemerintahan / publik, dan tentu saja ini dengan sendirinya merupakan bentuk arogansi, seperti point kedua di atas. Ujung-ujungnya, perkara ini akan melanggar Amanat Penderitaan Rakyat seluruh bangsa Indonesia.
  6. Kebalikannya, kalau perkara ini harus tetap / dibiarkan dilanjutkan di tingkat kepolisian hingga ke tahap penuntutan / Kejaksaan, justru akan merugikan dan melukai perasaan keadilan masyarakat yang lebih luas. Perkara ini, kalau dibiarkan berlanjut hingga ke penuntutan dan Pengadilan, justru akan merugikan sosial, pembangunan Hukum, dan juga merugikan bangsa dan negara. Ingatlah, keadilan adalah keadilan yang dilihat oleh lebih banyak manusia; keadilan bukanlah diukur oleh satu orang saja dan menghalangi orang lain untuk turut mengukur. **

Kita harus teringat akan adanya suatu adagium di dalam pembangunan Hukum, yaitu bahwa “Hukum telah menjadi senjata bagi segala jenis kerakusan” – (Frederick Bastiat, 1850). Dan tampaknya adagium ini terlihat nyata pada perkara-perkara miris seperti yang telah diungkapkan di atas. Namun kalau bangsa Indonesia memiliki Mahkamah Ampera yang merupakan satu fungsi DPR RI, kita dapat berharap bahwa mulai sejak saat itu, Hukum tidak lagi menjadi senjata untuk melanggengkan kerasukan, melainkan akan menjadi bahtera Agung untuk perjalanan nurani manusia yang tidak pernah bisa dikooptasi oleh apapun. Sama kita ketahui, bahwa hukum dan keadilan tidak bisa dipisahkan dari nurani manusia. Maka biarlah nurani menjadi Bapak rohani atas hukum dan keadilan.

Demikianlah, semoga cita-cita seluruh bangsa Indonesia untuk mempunyai Mahkamah Ampera yang bertahta di dalam DPR RI segera terwujud, yang dengan lembaga tersebut seluruh bangsa dapat memastikan bahwa Hukum tidak lagi dapat dipergunakan oleh pihak tertentu sebagai senjata untuk melanggengkan kerakusan mereka, dan dengan lembaga ini pun tidak ada lagi pihak yang dapat melanggar Amanat Penderitaan Rakyat. Singkat kata, biarlah nurani yang menentukan.

Wallahu a’lam bishawab.

Rukun Masuk Surga

tanggamasuksurgaAllah Swt memerintahkan umatNya untuk menempuh jalan ketaqwaan. Itu artinya Allah Swt ingin seluruh umatNya masuk Surga, dan Allah Swt pun di lain pihak telah menyediakan dan memudahkan umatNya untuk menempuh jalan ke Surga tersebut. Di dalam Islam terdapat banyak ragam ibadah yang harus ditunaikan seorang Muslim untuk memperoleh pahala sebanyak-banyaknya, karena pahala tersebutlah yang akan memudahkannya masuk Surga. Namun di luar itu juga terdapat perbedaan pandangan dan fikiran di kalangan Muslim mengenai hal mana yang harus mendapat prioritas untuk diamalkan di dalam rangka memperoleh pahala Surga.

Juga tidak dapat diingkari bahwa di dalam menjalankan Islam ini, terdapat beberapa perbedaan dan perselisihan di kalangan ulama mengenai ibadah. Satu ulama menyatakan bahwa ibadah a adalah bidah, sementara ulama lainnya menyatakan bahwa ibadah tersebut merupakan keutamaan. Ini tentunya membingungkan. Namun ingatlah, bahwa Allah Swt tidak akan pernah menyia-nyiakan niat baik umatNya di dalam beribadah.

Sekarang baiklah jalan-jalan yang harus ditempuh umat Muslim tersebut dijadikan satu paket standard sehingga Muslim dengan mudah dapat menjadikannya pedoman di dalam beramal saleh untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya. Paket standard amal saleh ini merupakan ringkasan seluruh bentuk amal saleh / ibadah yang diajarkan di dalam Islam, dan mencakup seluruh aspek kesalehan.

Paket standard amal saleh tersebut dinamakan Rukun Masuk Surga, terdiri atas enam butir, seperti yang dijabarkan di bawah ini.

Pertama. Islam berdiri di atas lima rukun, yaitu,

  1. Mengucapkan dua kalimat syahadat,
  2. Shalat wajib lima kali sehari semalam,
  3. Puasa Ramadhan,
  4. Membayar zakat, dan terakhir
  5. Berhaji ke Mekah minimal sekali seumur hidup kalau mampu.

Kedua. Kemudian iman Islam meliputi enam rukun yaitu,

  1. Percaya kepada Allah Swt,
  2. Percaya kepada MalaikatNya dan mahluk ghaib lainnya,
  3. Percaya kepada kitabsucinya,
  4. Percaya kepada NabiNya,
  5. Percaya kepada takdirNya,
  6. Percaya kepada kiamat.

Ketiga. Di luar itu, ada empat kesalehan prima yang harus diperbuat umat untuk menjamin mudah masuk Surga, yaitu,

  1. Banyak zikir dan salawat,
  2. Banyak memberi makan kaum dhuafa. Dikatakan ‘memberi makan’, bukan uang / modal, karena setepar-teparnya orang, bukan uang atau baju atau rumah yang hangat, atau jabatan yang menguatkan manusia, kecuali makan cukup dan layak, itu sudah lebih dari segala-galanya.
  3. Rajin mengaji karena mengaji akan menjadi cahaya kubur kita,
  4. Shalat tahajud dan terakhir,
  5. Jangan lupa shalat fardhu plus perbanyak shalat sunnah. Hal pertama yang ditanya Allah di hari kebangkitan adalah shalat; kalau bagus shalatnya, maka Allah Swt akan mempermudah urusan kita (artinya masuk Surga); kalau buruk catatan shalat kita, maka Allah Swt akan mempersulit urusan kita.

Keempat. Setelah itu terdapat tiga dosa prima yang harus ditinggalkan dan dijauhi, karena kalau dilakukan maka akan berakibat dilempar ke Neraka, TIDAK PERDULI sebanyak apa pahala amal saleh, yaitu,

  1. Mati di dalam keadan atau karena bunuh diri,
  2. Mati di dalam keadaan durhaka kepada kedua orang-tua, dan terakhir,
  3. Mati di dalam keadaan murtad, kafir atau syirik / mempersekutukan Allah Swt dengan yang lain.

Kelima. Muslim harus menjauhkan diri dari lima perbuatan orang kafir, atau yang menunjukkan kekafiran, yaitu,

  1. Berbuat judi.
  2. Makan riba.
  3. Mengkonsumsi kuliner haram (mengkonsumsi miras, daging babi, anjing, dsb).
  4. Membunuh manusia.
  5. Berbuat zina (di dalam arti luas, yaitu termasuk buka aurat, pacaran, berkhalwat, film pornografi dsb).

Keenam. Dan terakhir, bergaullah dengan orang alim ulama, orang saleh, orang sidiq (orang benar), kaum ahli-ibadah. Jadi dengan kata lain, seorang Muslim harus pandai-pandai memilih teman bergaul.

-o0o-

Kalau seorang Muslim komit untuk memantapkan:

  1. Rukun Islam,
  2. Rukum Iman,
  3. Kemudian berbuat kesalehan prima,
  4. Kemudian menjauhi dosa prima,
  5. Meninggalkan lima kebiasaan dalam kekafiran.
  6. Dan banyak bergaul di tengah orang alim dan saleh, ….

Maka cukuplah Allah Swt ridha kepada Muslim tersebut sehingga kelak Allah Swt akan memasukkannya ke dalam Surga (Amin). Tidak perlu lagi seorang Muslim mencemaskan perbedaan-perbedaan ini dan itu, karena perbedaan itu pun lumrah, merupakan Hukum alam, kalau dibahas tidak akan ada habisnya sampai kiamat.

Kalau seorang Muslim terus mengkhawatirkan perbedaan-perbedaan itu, kapan ia akan ibadah? Isu sentral yang menjadi inti dari Paket Standard Amal Shaleh (PASTAS) ini yang merupakan Rukun Masuk Surga adalah, bahwa Allah Swt adalah Maha Pemurah dan juga Maha Pengampun, bahwa Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan amal saleh umatNya, dan juga tidak akan mempersulit umatNya untuk mendapatkan ampunanNya dan kemudian masuk Surga.

Mungkin seorang Muslim akan perbuat suatu dosa, seperti menghamburkan uang, bergunjing, membunuh binatang secara keji, berprasangka buruk kepada seorang kawan, korupsi kecil-kecilan, berkelahi dengan saudaranya, melirik video porno, mengenakan perhiasan emas bagi laki-laki, mempersulit karir saudaranya di tempat kerja, dan lain lain. Namun selama seorang Muslim berteguh dengan Rukun Masuk Surga ini, insya Allah dosanya akan dihapus oleh Allah Swt.

Namun juga tidak berarti bahwa kalau seorang Muslim sudah berteguh dengan Rukun Masuk Surga ini maka ia BEBAS untuk berbuat dosa lainnya. Tentu saja tidak. Kita juga harus ingat bahwa manusia tidak ada sempurnanya, pasti akan perbuat dosa sedikit banyak: tidak mungkin ada seorang manusia yang terbebas dari dosa dan kesalahan. Namun kalau seorang Muslim selalu ingat akan dosanya sehingga ia melupakan kepemurahan Allah Swt, maka bagaimana mungkin ia akan menjadi Muslim yang berbahagia?

Intinya, Rukun Masuk Surga adalah BATAS MINIMAL bagi seorang Muslim di dalam menjaring pahala sebanyak-banyaknya, dan untuk mempermudah baginya di dalam mencerna rencana ibadatnya di dalam dosis harian. Namun ingatlah, bahwa kalau pun seorang Muslim sudah berteguh dengan Rukun Masuk Surga ini, maka ia pasti tidak mempunyai waktu yang cukup untuk berbuat yang tidak sepantasnya.

Dengan demikian hal itu akan mempermudahnya untuk masuk SurgaNya Allah Swt. Amin.

Wallahu a’lam bishawab.

Hak Asasi Manusia Versus Hak Parlente Manusia

hakparlente

Hak asasi manusia adalah hak yang membuat manusia terlihat sebagai manusia. Penekanan hak asasi manusia sebenarnya adalah pada memanusiakan manusia, selama memanusiakan manusia itu tidak mempersulit manusia lainnya mau pun dirinya sendiri. Dan perbuatan untuk memanusiakan manusia ini akan terus berlangsung tanpa kenal henti, misalnya saat perang, saat bencana, saat ketiadaan Hukum negara, dan lain lain. Di dalam memperoleh hak ini, seorang individu manusia TIDAK DIPERLUKAN MENUNAIKAN KEWAJIBAN TERTENTU terlebih dahulu. Inilah yang membedakan antara hak asasi manusia di satu pihak dengan hak biasa lainnya, di lain pihak, yang pemenuhannya harus didahului dengan menunaikan suatu kewajiban.

Karena hak asasi manusia merupakan hak yang akan memanusiakan manusia, maka hak tersebut HANYA terdiri dari 5 butir, yaitu,

  1. Hak kemerdekaan atas kampung halamannya sendiri.
  2. Hak atas kebutuhan biologis (makan, minum, tempat tinggal, beristirahat, cahaya matahari, udara yang sehat, dan lain lain).
  3. Hak untuk memilih dan menjalankan agama sesuai dengan panggilan hatinya.
  4. Hak untuk menjalankan tradisi warisan leluhurnya.
  5. Hak untuk diperlakukan setara di dalam hal kemerdekaan, kehormatan dan Hukum dengan manusia lain secara proporsional, di mana saja dia berada.

Karena hak asasi manusia tersebut terdiri atas lima butir, maka hak ini dapat disebut dengan PANCA-HAM.

Harus diingat bahwa hak asasi manusia adalah hak mendasar: mendasar artinya tetaplah ‘mendasar’, bukan meluas. Oleh karena itu hak asasi manusia harus benar-benar dibatasi jangan sampai meluas sehingga menimbulkan banyak interpretasi dan tuntutan yang pada akhirnya akan menyusahkan penegakan hak asasi manusia itu sendiri.

Sementara ini ditemukan banyak maklumat dari berbagai badan mau pun institusi baik dari Pemerintahan, lembaga luar Negeri mau pun LSM yang memberikan banyak point dari hak asasi manusia. Dan setelah dipelajari, ternyata point-point yang di-klaim sebagai hak asasi manusia itu bukan merupakan hak mendasar, terlihat dari spiritnya yang tidak mendasar, dan tidak urgent. Hak asasi yang mereka ajukan hanya merupakan klaim supaya kepentingan politik mereka terakomodir dan tidak dihalangi oleh kepentingan politik lainnya yang bertentangan dengan mereka, dan oleh karenanya mereka mempunyai misi supaya hak asasi yang mereka usung dapat melancarkan pandangan politik mereka sendiri.

Hak asasi manusia (atau PANCA-HAM) tidak berhubungan dengan, tidak mengakomodir, tidak menghalangi, tidak mencerminkan, suatu pandangan mau pun ajaran politik dan kemiliteran mana pun. Oleh karena itu hak asasi manusia atau PANCA-HAM ini murni dari aspirasi politik mana pun. Dan sudah jelas, PANCA-HAM tidak dapat dikait-kaitkan dengan grand-design suatu aktivitas kemiliteran.

Di bawah ini adalah beberapa point yang mereka usung dan mereka klaim sebagai hak asasi manusia (padahal sebenarnya bukan):

  • Hak memilih dan dipilih di dalam politik.
  • Hak menyatakan pendapat di muka umum.
  • Hak mengekspresikan diri.
  • Hak berserikat dan berkumpul.
  • Hak informasi.
  • Hak pendidikan, dan lain lain.

Butir-butir tersebut di atas sebenarnya tidak dapat dihubungkan dengan hak asasi manusia untuk memanusiakan manusia yang beradab dan sempurna. Dan oleh karena itu butir-butir di atas bukanlah bagian dari hak asasi manusia, melainkan HAK PARLENTE MANUSIA yang mereka siapkan untuk meluluskan agenda politik dan kemiliteran mereka.

Oleh karena itu butir-butir di atas sebenarnya harus ditolak sebagai bagian dari HAM karena HAM versi parlente ini sangat berbahaya, terindikasi dari afiliasi politik dan kemiliteran mereka kepada pihak tertentu. Kalau HAM tidak dapat dihubung-hubungkan dan mendukung aliran politik dan kemiliteran, maka butir-butir di atas sudah menjelaskan agenda politik mau pun kemiliteran, akibatnya HAM versi ini sudah tidak lagi memurnikan kemanusiaan. Bahaya, karena butir-butir HAM ini di dalam implementasinya dapat membahayakan manusia lain, menyusahkan kelompok manusia lain. HAM tentunya tidak dapat ditahbis sebagai malapetaka atas kelompok manusia lainnya. Untuk itulah HAM harus netral dan membahagiakan semua manusia tanpa pandang latar belakang masing-masing.

Dikatakan hak parlente, karena hak tersebut terlahir dan tercetus dari manusia yang menghendaki lebih dari sekedar manusia, padahal sebenarnya manusia hanya butuh kemurnian untuk dapat hidup damai dan bersahaja. Dapat dikatakan hak parlente lahir dari individu-individu yang berpendidikan terlalu tinggi yang sudah tidak dapat membedakan mana yang urgen dan mana yang kesia-siaan. Oleh karena itu hak parlente sebenarnya dinyatakan secara subjektif dari mereka yang terlalu banyak idealisme. Hak parlente mereka nyatakan hanya untuk meng-gol-kan kepentingan mereka, dan kepentingan (fikiran) mereka itu pun sudah terkontaminasi oleh aliran politik dan cita-cita milliteristik mereka. Jadi, hak parlente tidak ditujukan untuk umat manusia keseluruhan.

Kesimpulan.

Hak Parlente Manusia terdiri atas:

  • Hak memilih dan dipilih di dalam politik.
  • Hak menyatakan pendapat.
  • Hak menyatakan pendapat di muka umum.
  • Hak mengekspresikan diri.
  • Hak berserikat dan berkumpul.
  • Hak informasi.
  • Hak pendidikan, dan lain lain.

Seluruh butir di atas berkebalikan dengan Hak Asasi Manusia yang hanya menegaskan kebutuhan manusia sebagai manusia, yang terbebas dari afiliasi politik dan kemiliteran tertentu. Dan Hak Asasi Manusia di dalam implementasinya tidak akan membahayakan manusia lainnya.

Pada intinya, semua pihak harus dapat membedakan mana yang merupakan hak asasi manusia, dan mana yang merupakan hak parlente manusia. Lebih dari itu, siapa pun tidak dapat memaksakan diri untuk menuntut pemenuhan hak parlente manusia karena hak tersebut merupakan urusan pribadi masing-masing individu, tidak ada kewajiban Pemerintah mana pun untuk mewujudkannya.

Fenomena dewasa ini menunjukkan di mana Negara-negara kuat mengambil tindakan untuk menekan Negara-negara lemah lainnya untuk menegakkan hak asasi manusia, padahal sebenarnya hak asasi manusia ‘versi’ mereka adalah hak parlente manusia, seperti menyatakan pendapat di muka umum, hak mendapatkan informasi dan lain sebagainya. Tindakan Negara-negara kuat tersebut, jelas sekali, sebenarnya merupakan agenda mereka untuk dapat mendikte Negara lain. Hal ini jelas merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang paling inti. Di balik itu, ironisnya, banyak Negara-negara kuat telah melanggar hak asasi manusia di Negara mereka, namun mereka tutup mata terhadap jeritan dari pihak luar. Pelanggaran hak asasi manusia tersebut antara lain seperti pelarangan pembangunan mesjid di Negara mayoritas nonmuslim, memberi perlakuan berbeda terhadap pendatang yang di Negara mereka para pendatang tersebut merupakan minoritas, dan lain sebagainya.

Adalah memprihatinkan, isu hak asasi manusia telah dijadikan Negara-negara kuat sebagai alasan untuk mendikte dan mengintervensi kedaulatan / integritas Negara lain. Kalau hal tersebut memang harus terjadi (mengintervensi kedaulatan Negara lain), maka sebelumnya adalah lebih baik kalau hak asasi manusia tersebut dijernihkan terlebih dahulu, supaya dengan demikian, intervensi Negara kuat terhadap Negara lemah, tidak pernah berarti atau menjadi agenda hegemoni suatu Negara atas Negara lain.

Mari Meredefinisi Hak Asasi Manusia.

hakasasimanusia

Banyak tokoh yang mencoba untuk mendefinisikan hak asasi manusia di dalam berbagai konsep, dan pada intinya keseluruhan definisi itu mempunyai kesamaan.

Secara perkata, penekanan hak asasi manusia ada pada kata ‘asasi’ yang berarti ‘mendasar’. Berarti hak asasi manusia adalah hak manusia yang sangat mendasar. Dengan demikian sebenarnya hak asasi manusia sudah dapat dijelaskan, karena sebenarnya hak asasi ini pastilah hak-hak mendasar bagi seorang manusia, yang bukan merupakan hak tambahan, atau hak dapatan, atau hak di dalam bernegara.

Namun kemudian juga harus diakui, bahwa kebanyakan dari definisi hak asasi manusia yang diusung banyak tokoh itu, umumnya tetap mengandung kesalahan dan ketidakjelasan. Banyak artikel di internet mengenai hak asasi ini menulis bahwa definisi hak asasi manusia masih dalam perdebatan sengit, dan oleh karena itu definisi yang sudah ada juga tidak jelas.

Ironisnya adalah, ketika seluruh (kebanyakan) tokoh filsafat Hukum masih berada di dalam kebingungan dan juga perdebatan sengit mengenai definisi hak asasi manusia, negara dan aparat sudah menerapkan sanksi dan hukuman atas beberapa individu yang dianggap melanggar HAM. Bagaimana mungkin? Kalau definisi hak asasi manusia saja masih belum jelas, maka bagaimana definisi tersebut dapat di-implementasikan di dalam bentuk penjatuhan hukuman kepada pelanggar HAM?

Hak asasi manusia adalah:

  1. Hak yang membuat manusia itu terlihat sebagai manusia. Penekanan hak asasi manusia sebenarnya adalah pada memanusiakan manusia, selama memanusiakan manusia itu tidak mempersulit manusia lainnya mau pun dirinya sendiri. Dan perbuatan untuk memanusiakan manusia ini akan terus berlangsung tanpa kenal henti, misalnya saat perang, saat bencana, saat ketiadaan Hukum negara, dan lain lain.
  2. Di dalam memperoleh hak ini, seorang individu manusia TIDAK DIPERLUKAN MENUNAIKAN KEWAJIBAN TERTENTU terlebih dahulu. Inilah yang membedakan antara hak asasi manusia di satu pihak dengan hak biasa lainnya, di lain pihak, yang pemenuhannya harus didahului dengan menunaikan suatu kewajiban.

Karena hak asasi manusia merupakan hak yang akan memanusiakan manusia, maka hak tersebut HANYA terdiri dari 5 butir, yaitu,

  1. Hak kemerdekaan atas kampung halamannya sendiri.
  2. Hak atas kebutuhan biologis (makan, minum, tempat tinggal, beristirahat, butuh cahaya matahari, udara yang sehat, dan lain lain).
  3. Hak untuk memilih dan menjalankan agama sesuai dengan panggilan hatinya.
  4. Hak untuk menjalankan tradisi warisan leluhurnya.
  5. Hak untuk diperlakukan setara dengan orang lain di dalam hal kemerdekaan, kehormatan dan Hukum dengan manusia lain secara proporsional, di mana saja dia berada.

Karena hak asasi manusia tersebut terdiri atas lima butir, maka hak ini dapat disebut dengan PANCA-HAM.

Perlakuan atas PANCA-HAM.

Atas PANCA-HAM ini, terdapat tiga perlakuan, yaitu,

  1. Setiap butir pada PANCAHAM ini harus di-implementasikan atau dijabarkan secara arti sempit, bukan arti luas. Dengan demikian setiap butir pada PANCA-HAM ini tidak dapat lagi diinterpretasikan supaya meluas. Hak asasi adalah hak mendasar, tentu saja ‘mendasar’ berarti ‘mendasar’, bukan meluas. Itulah sebabnya setiap butir pada PANCA-HAM ini tidak dapat lagi diperluas.
  2. Hak asasi manusia (atau PANCA-HAM) tidak berhubungan, tidak mengakomodir, tidak menghalangi, tidak mencerminkan, terhadap suatu pandangan mau pun ajaran politik mana pun. Oleh karena itu hak asasi manusia atau PANCA-HAM ini murni dari aspirasi politik mana pun. Dan sudah jelas, PANCA-HAM tidak dapat dikait-kaitkan dengan perpolitikan mau pun grand-design suatu aktivitas kemiliteran.
  3. PANCAHAM, atau hak asasi manusia, hanya dibahas secara konstruktif dan ideal, bukan secara destruktif dan kriminal.

Pembahasan Panca-HAM secara konstruktif dan ideal.

Hak asasi manusia yang hanya terdiri dari lima point tersebut, merupakan suatu wacana dan batasan yang hanya dibahas secara konstruktif dan di dalam situasi ideal. Hak asasi haruslah merupakan suatu program dari Pemerintah mau pun masyarakat yang beradab (atau ingin beradab). Hak asasi manusia jadinya tidak ada hubungannya dengan insiden pidana mau pun kasus kekerasan dan ketidakadilan. Dikarenakan hak asasi manusia dibicarakan di dalam situasi konstruktif dan ideal, maka hak asasi manusia ini bukanlah suatu komoditas untuk dihubung-hubungkan dengan suatu tindak pidana mau pun insiden kekerasan lainnya.

Insiden pidana mau pun kekerasan tetaplah suatu kasus pidana, suatu insiden yang pada dasarnya merugikan individu lain, dan hal tersebut jelas berbeda dari apa yang dinamakan dengan pelanggaran hak asasi manusia.

Dengan demikian dapat dijelaskan, bahwa di dalam suatu insiden kekerasan misalnya, tidak dapat dikatakan bahwa telah terjadi ‘pelanggaran hak asasi manusia’. Yang terjadi sebenarnya hanya kasus pidana biasa.

Contoh kasus 1.

Kasus Tanjung Priok (1984) >> Kasus tanjung Priok terjadi tahun 1984 antara aparat dengan warga sekitar yang berawal dari masalah SARA dan unsur politis. Dalam peristiwa ini diduga terjadi pelanggaran HAM dimana terdapat ratusan korban meninggal dunia akibat kekerasan dan penembakan (Diambil dari http://kasusham.blogspot.com/ ).

Paragraf di atas yang melaporkan kasus Tanjung Priok oleh banyak pihak (khususnya pihak berwenang) telah dikategorikan sebagai ‘pelanggaran HAM’, di mana pada insiden tersebut jatuh banyak korban jiwa, dan juga terjadi kekerasan yang dilakukan aparat Pemerintah terhadap warga sipil.

Kasus Tanjung Priok adalah kasus kekerasan biasa, kasus pidana biasa, dan oleh karenanya penanganannya hanya dapat dilakukan dengan pemidanaan (biasa) atas para pelaku. Dan karena kasus ini merupakan kasus pidana biasa, maka selanjutnya kasus Tanjung Priok ini tidak ada hubungannya, dan tidak dapat dihubungkan dengan HAM, baik apakah pelanggaran HAM, kesenjangan HAM, dan lain lain.

Apa yang terjadi pada kasus Tanjung Priok tidak ada hubungannya dengan HAM yang terdiri atas 5 butir tersebut. Dapat diakui bahwa dengan pecahnya insiden Tanjung Priok, beberapa individu / warga telah kehilangan hak atas kemerdekaannya di kampung halamannya sendiri, namun sebenarnya situasinya tidaklah demikian.

Adalah lebih tepat untuk menyatakan bahwa insiden tersebut hanyalah insiden kekerasan, kekerasan biasa antara beberapa individu, di mana terjadi kericuhan atas suatu hal mendasar (di dalam hal ini kesucian Masjid), dan oleh karenanya insiden ini tidak bisa dibahas kecuali sebagai tindak pidana biasa.

Contoh kasus 2.

Kasus terbunuhnya Marsinah, seorang pekerja wanita PT Catur Putera Surya Porong, Jatim (1994) >> Marsinah adalah salah satu korban pekerja dan aktivitas yang hak-hak pekerja di PT Catur Putera Surya, Porong Jawa Timur. Dia meninggal secara mengenaskan dan diduga menjadi korban pelanggaran HAM berupa penculikan, penganiayaan dan pembunuhan (diambil dari http://kasusham.blogspot.com/ ).

Di dalam kasus Marsinah pun, pihak berwenang dan pihak berkompeten lainnya telah mengkategorikan kasus ini sebagai tindak pelanggaran HAM. Bila dicermati, kasus terbunuhnya Marsinah merupakan kasus pidana biasa, dan tidak ada hubungannya dengan hak asasi manusia: tidak ada bagian mana pun di dalam kasus ini yang merefleksikan salah satu butir pada PANCA-HAM.

Demikian juga dengan kasus lainnya, seperti insiden kekerasan Ahmadiyah di Cikeusik, insiden kekerasan yang melibatkan aparat keamanan dengan warga di dalam sengketa lahan, dan lain lainnya, tidak dapat dikatakan sebagai pelanggaran HAM.

HAM hanya dibahas di dalam situasi konstruktif dan ideal, artinya bahwa HAM dibahas di dalam nafas pembangunan suatu negara, konsep dan grand design yang diinginkan suatu negara dan Pemerintah dan disetujui oleh seluruh rakyat. Jadi HAM tidak ada hubungannya dengan insiden kekerasan, apalagi seluruh insiden yang dikategorikan pelanggaran HAM tersebut tidak mengandung butir-butir PANCA-HAM.

Pada kedua contoh kasus di atas, sebenarnya terdapat beberapa pertanyaan.

  • Mengapa insiden tersebut dikatakan sebagai pelanggaran HAM?
  • Bagian mana pada kedua insiden tersebut yang merupakan bukti pelanggaran HAM?
  • Dan apakah insiden tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai pelanggaran pidana biasa?
  • Mengapa insiden tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai pelanggaran pidana biasa?

Jelas sekali bahwa kedua insiden tersebut hanya merupakan pelanggaran pidana biasa, bukan dan tidak ada hubungannya dengan pelanggaran HAM, karena HAM hanya dibahas di dalam situasi konstruktif dan ideal.

Adalah tidak mungkin satu hal dapat dikategorikan ke dalam dua hal yang berbeda, yaitu pidana biasa dan pelanggaran HAM. Kedua Insiden tersebut di atas sebenarnya adalah kasus pidana biasa, maka kemudian mengapa juga bisa dikategorikan sebagai pelanggaran HAM? Itu pun HAM sebenarnya tidak dapat dihubungkan dengan insiden kekerasan mana pun.

Sebagai permisalan, bagian tumbuhan yang masuk ke dalam tanah dan berfungsi menyerap air dan unsur hara dari tanah, disebut akar. Namun kemudian bagian ini juga disebut batang tanaman. Adalah sudah jelas mana yang akar dan mana yang batang tanaman, maka mengapa bagian yang dinamakan akar juga dikatakan batang tanaman? Tidak mungkin bagian tumbuhan yang masuk ke dalam tanah mempunyai dua nama yang berbeda, sementara masing-masing nama tersebut mempunyai makna, penjelasan dan fungsi yang berbeda pula.

Maka demikian juga dengan insiden kekerasan tersebut, bahwa hal tersebut sebenarnya adalah kasus pidana biasa, bukan pelanggaran HAM. Kalau insiden tersebut merupakan insiden pidana, kemudian mengapa insiden tersebut juga dinamakan pelanggaran HAM? Adalah mutlak terdapat perbedaan antara kasus pidana dan pelanggaran HAM.

Atau, kalau kedua insiden tersebut dikategorikan sebagai pelanggaran HAM, maka itu artinya kedua insiden tersebut BUKAN KASUS PIDANA. Pertanyaannya adalah, apakah yang menjadi batasan kasus pidana, sehingga kedua kasus tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai kasus pidana?

Intinya, apapun yang mendasari kedua kasus tersebut tidak ada hubungannya dengan butir-butir pada PANCA-HAM. Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa kedua insiden tersebut bukan pelanggaran HAM, melainkan kasus pidana biasa.

Inilah Cara Jitu Mengatasi Masalah Sampah.

sampahdddd

Sampah merupakan masalah lingkungan yang sangat mengganggu masyarakat, kendati masyarakat itu sendiri yang menghasilkan sampah. Dan masalah sampah ini tampaknya justru tidak menarik minat para pemangku Pemerintah sehingga terkesan sampah dibiarkan ada tanpa ada penanganan holistik dari pihak pemerintah. Pun juga harus disadari bahwa penanganan sampah biar bagaimana pun merupakan tanggungjawab semua pihak, bukan tanggungjawab pemerintah saja.

Secara alami, sebenarnya sampah dapat terurai oleh mekanisme pembusukan, yang mana proses tersebut akan menghasilkan pupuk untuk kesuburan tanah itu sendiri. Sampai di sini tentunya sampah tidak akan menjadi masalah, karena sebanyak apa pun sampah, toh akan diuraikan oleh alam semesta dan kemudian menjadi pupuk.
Namun kemudian, masalah sampah dewasa ini tidaklah sesederhana itu.
Tampaknya sampah sekarang ini tidak lagi mengalami pembusukan, melainkan tetap tertahan dalam ujud awalnya. Dari sinilah awal munculnya tragedi sampah.
Sebenarnya definisi sampah adalah apapun yang tidak diperlukan manusia, dan kemudian diuraikan oleh alam sehingga terjadilah proses pembusukan yang pada akhirnya berubah menjadi pupuk yang akan menyuburkan tanah.

Sampah plastik.

Seluruh sampah yang non-plastik, sudah pasti akan mengalami pembusukan alami sehingga di dalam waktu relatif singkat akan musnah menjadi pupuk yang bermanfaat untuk alam semesta. Sampah non plastik antara lain adalah bahan makanan, daun-daunan, kue, kayu, besi, seng, alumunium, kertas. Keseluruhan jenis sampah ini merupakan sampah organik, yaitu jenis yang berasal murni dari alam, bukan kimiawi.

Kebalikannya, jenis plastik merupakan jenis yang tidak dapat diuraikan oleh alam semesta, sehingga tidak akan dapat berproses di dalam pembusukan. Akibatnya alam menjadi tercemar, dan juga akan menghambat pembusukan unsur lain yang menyertai sampah plastik ini.

Karena sampah plastik tidak ikut berproses dalam siklus pembusukan, maka ujud sampah ini akan tetap sepanjang waktu. Gilirannya, kelak sampah ini akan menghambat saluran air, dan juga terus menumpuk di tempat sampah sehingga menimbulkan bau dan berbagai penyakit, terlebih lagi merusak keasrian lingkungan. Inilah sebenarnya yang merupakan masalah sampah: YAITU PLASTIK.

Pra industrial.

Keberadaan Barang yang terbuat dari plastik dapat ditarik keberadaannya dari masa industri, karena plastik tidak bisa dilepaskan dari pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan khususnya bidang kimia, dan kemudian diperbanyak di dalam siklus industri. Industri lah kemudian yang memperbanyak barang-barang plastik ini untuk mengejar keuntungan uang. Perusahaan melalui pabrik yang industrialis menawarkan barang-barang yang terbuat dari plastik kepada seluruh warga kota yang menjanjikan kepraktisan, ringan dan awet karena tidak akan membusuk selama ribuan tahun.

Pada saat inilah plastik mulai membanjiri kehidupan manusia, mulai di dalam bentuk kantong plastik, piring plastik, kursi plastik, tas plastik, sendal plastik, dan masih banyak lagi.

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa bencana sampah dimulai dengan munculnya PLASTIK melalui bangkitnya industri dan pesatnya ilmu pengetahuan, karena keseluruhan hal tersebut seutuhnya berawal dari keinginan untuk mengejar kepraktisan dan murah, dan plastik merupakan jawaban yang paling tepat.

Praktis, pada masa pra-industri kehidupan manusia belum mengenal benda yang bernama plastik ini – karena memang tidak ada plastiknya. Dan sungguh indah, pada masa itu tentunya limbah tidak pernah menjadi masalah lingkungan, karena kala itu umat manusia hanya mengenal sampah organik, yaitu sampah yang pada awalnya terbuat dari alam secara murni, kemudian ketika dibuang ke tempat sampah, ikut dan larut di dalam siklus pembusukan sehingga di dalam waktu yang tidak relatif lama musnah menjadi pupuk yang menyuburkan tanah.

Masa itu adalah masa penuh keindahan, karena tidak ada sampah yang bertebaran, apalagi yang menumpuk di tempat sampah sehingga menimbulkan bau busuk dan sumber penyakit; jangan pula memikirkan tumpukan sampah yang menyumbat saluran pembuangan air, karena biang keladinya, yaitu sampah plastik, tidak ada.

Kalau jaman sekarang ini (Tahun 2014) tidak ada plastik di Dunia, pastilah seluruh umat manusia tidak akan pernah mempunyai masalah lingkungan hidup yang bernama sampah ini. Adalah benar manusia pasti memproduksi sampah, namun sampah yang diproduksi manusia merupakan sampah organik belaka, yang ketika dicampakkan ke tempat sampah akan segera terlibat di dalam siklus pembusukan alami sehingga pada akhirnya lenyap menjadi pupuk. Dengan tidak adanya plastik, keasrian lingkungan akan tetap terjaga, bersih, bebas bau, bebas penyakit, bebas penyumbatan saluran air pembuangan, dan juga bebas banjir karena jalur pelepasan air tidak terhambat oleh sampah.

Bakda Industrial.

Kisah indah itu berakhir dengan pecahnya jaman industri yang gegap gempita khususnya ketika para ahli kimia berhasil menemukan zat baru yang dinamakan plastik. Mulailah mereka mengaplikasikan plastik hasil temuan mereka ke dalam berbagai barang kebutuhan dikarenakan sifat unggul yang dimiliki plastik ini, ringan, murah, tidak bisa pecah atau rusak, mudah dibentuk, dapat diwarnai, dan fleksibel. Dengan gegap gempita umat manusia menyambut benda-benda plastik di dalam kehidupan mereka. Mulailah plastik merajai kehidupan manusia di dalam sektor home appliances.

Ekses negatif dari plastik sungguh tidak diperkirakan sebelumnya. Benda-benda dari plastik yang tidak berguna, mereka buang ke tempat sampah, dan malang sekali sampah plastik tersebut tidak dapat ikut terlibat di dalam proses pembusukan alami. Dan akhirnya sampah plastik menjadi masalah lingkungan karena merusak keasrian pemandangan, meningkatkan eskalasi bau dan sumber penyakit, dan juga menghambat proses pembusukan sampah organik lainnya.

Kebutuhan versus kerusakan.

Tidak dapat diingkari bahwa manusia butuh benda yang terbuat dari plastik, dan ingatlah bahwa apapun di Dunia ini dibutuhkan oleh manusia walau pun manusia faham bahwa hal tersebut berbahaya. Fikiran manusia sulit untuk mengendalikan produksi plastik karena kebutuhan mereka jauh lebih kuat dari kesadaran akan bahayanya.

Tampaknya mereka lebih memilih untuk memperbanyak produksi plastik, dan kehancuran lingkungan sebagai akibat plastik tersebut – walau pun mereka benci dan tidak menginginkannya – mereka serahkan pengendaliannya kepada pihak lain yang sama tidak kompetensinya dengan mereka.

Gerakan antiplastik.

Pada masa pra-industrial, manusia dapat menjalani hidup kendati pada masa itu mereka hidup tanpa plastik. Dan ternyata kehidupan mereka sama sekali tidak terganggu, bahkan kehidupan mereka jauh lebih baik dan indah, dan sehat dengan ketiadaan plastik. Namun keberadaan plastik membuat manusia merasa ketergantungan terhadap plastik, seolah tanpa plastik kehidupan mereka akan berakhir lebih cepat.

Sebenarnya kehidupan akan dapat berlangung dengan baik, tanpa plastik: walau pun tidak ada plastik. Dan demi memperoleh kehidupan yang bermutu tanpa adanya masalah sampah, sumber penyakit dan hal lain yang menyertainya, hidup yang anti-plastik harus menjadi pilihan utama bagi kita semua.

Produksi plastik harus dihentikan, dan tidak ada pilihan lain kecuali menghentikan produksi plastik sama sekali.

Pilihan kedua.

Pemanfaatan plastik dapat dibijaksanakan untuk meminimalisir dampak lingkungan yang destruktif dan merugikan. Di dalam penggunaan plastik di dalam kehidupan yang terkait dengan kadar kesampahannya, maka Plastik dapat dibedakan menjadi dua kategori.

Kategori aman.

Produk plastik dengan kadar kesampahan yang berkategori aman, adalah produk plastik dengan kriteria:

  1. Ukuran besar,
  2. Pemakaian untuk jangka panjang.
  3. Diproduksi atau di-launch ke masyarakat di dalam populasi yang sedikit.

Contoh produk plastik dengan kategori aman ini adalah seperti kursi plastik dan ember plastik. Produk dengan kategori ini dapat ditoleransi untuk terus diproduksi, karena kriterinya yang dipergunakan di dalam waktu lama, dapat meminimalisir tercetusnya sampah nonorganik yang menyengsarakan lingkungan.

Kategori bahaya.

Produk sampah dengan kadar kesampahan yang berkategori bahaya adalah produk plastik dengan kriteria:

  1. Ukuran kecil;
  2. Pemakaian untuk jangka waktu singkat.
  3. Diproduksi atau di-launch ke masyarakat di dalam populasi yang tinggi / banyak.

Contoh produk plastik dengan kategori bahaya ini adalah seperti kantong plastik, plastik kemasan untuk berbagai produk eceran, perkakas rumahtangga plastik yang berukuran kecil, kotak plastik, sachet plastik, mainan anak-anak plastik, air minum di dalam kemasan plastik, dan lain lain.

Produk plastik dengan kriteria ini merupakan ancaman yang sangat mengerikan atas kelestarian lingkungan mau pun kesehatan. Produk plastik dengan kategori inilah yang sebenarnya sumber malapetaka, dan harus dihentikan siklus produksinya.

Dengan menghentikan jalur produksi plastik yang berkriteria bahaya ini, dapat dipastikan bahwa masalah sampah di tengah masyarakat dapat segera teratasi dengan baik dan murah. Proses pembusukan yang terjadi pada alam semesta akan terjadi tanpa hambatan atas seluruh jenis sampah, sehingga dengan demikian sampah di dalam bentuk apapun – minus sampah plastik, cepat terurai menjadi pupuk. Tidak akan ada lagi masalah bau busuk, sumber penyakit mau pun malapetaka banjir yang menyengsarakan. Hal itu semua karena sudah tidak ada lagi materi sampah yang terbuat dari plastik.

Pengganti plastik.

Banyak orang yang sudah telanjur tergantung pada plastik sebagai pemudah kebutuhan mereka, seperti untuk kemasan minum, tempat makan dan minum yang ringan, sebagai kemasan makanan, sebagai alat pengemas yang mudah untuk dibawa, dan sebagai kemasan yang sekali pakai bisa langsung dibuang (disposable).

Dengan ketiadaan produksi plastik, akan banyak orang yang bertanya, tanpa plastik, dengan apa mereka akan memperoleh kemudahan di dalam mengemas seperti pengemas makanan, minuman, alat yang ringan dan anti-pecah, dan lain lain. Pihak pabrik makanan (ringan) akan mempunyai pertanyaan besar kalau plastik ditiadakan, bahwa bagaimana mereka akan mengemas produk mereka kalau tidak ada plastik, bahwa mengemas makanan mereka dengan unsur lain seperti besi mau pun kaca tentunya akan membutuhkan biaya tambahan, dan juga berat di dalam pengangkutan, dan juga tidak praktis dan tidak efisien.

Ketiadaan (atau penghilangan produksi) plastik yang berfokus pada penyelamatan lingkungan dan kebutuhan untuk dapat mengatasi masalah sampah, akan merupakan awal kehidupan dengan ritme dan paradigma yang baru. Jangan takut dengan akan datangnya kehidupan dengan ritme baru, paradgma baru, di mana plastik sudah tidak ada di dalam hidup tersebut. Kehidupan akan menjadi lebih baik dan asri, sejuk, dan juga sehat, berapa banyak uang yang akan bisa dihemat karena tidak ada lagi masalah sampah.

Masyarakat, pengusaha, LSM dan Pemerintah.

Untuk mencapai kondisi ini di mana tidak ada lagi sampah plastik di dalam kategori bahaya, maka tekad dan pemahaman yang baik dari seluruh komponen baik masyarakat, pegusaha, LSM dan juga Pemerintah akan menjadi penentu keberhasilan di dalam usaha mengeliminir bahaya sampah. Harus ditekankan bahwa sebenarnya hidup dapat tetap berjalan dengan baik walau pun tidak ada plastik, dan kehidupan di masa lalu yang tidak diwarnai plastik, merupakan babak di mana kehidupan berjalan dengan baik dan asri, yang kala itu seluruh masyarakat dan kota tidak pernah mempunyai masalah sampah yang menumpuk di tengah kota dengan seluruh ekses negatifnya. Dengan ketiadaan sampah plastk, kualitas hidup dapat terpelihara, dan keseimbangan alam pun dapat terjaga.

Pada akhirnya, masalah sampah yang menghantui seluruh kota, ternyata hanya berujung pada satu kata kunci, tidak lebih: yaitu sampah plastik. Sementara ketiadaan sampah plastik membuat masalah sampah tidak pernah tercetus dari jaman ke jaman, maka sebaliknya eksistensi sampah plastik telah mencetus masalah sampah yang teramat pelik untuk diatasi. Dan satu kata kunci ini, membuat logika sampah menjadi teramat mudah untuk difahami, yaitu seluruhnya hanya berpangkal dari memproduksi sampah plastik atau TIDAK. Satu hal yang mendasar: bahwa tanpa plastik pun hidup juga mudah untuk dinikmati, adalah tidak benar ketiadaan plastik membuat hidup menjadi mustahil.

Kesimpulan.

  1. Masalah sampah ternyata hanya berpangkal pada keberadaan sampah plastik.
  2. Seluruh sampah dapat diuraikan oleh alam secara alami, untuk selanjutnya akan menjadi pupuk yang menyuburkan tanah. Seluruh sampah akan teruraikan dengan baik, KECUALI SAMPAH PLASTIK.
  3. Untuk mengatasi masalah sampah, maka komponen plastik harus dihilangkan dari sampah.
  4. Hidup akan tetap dapat berjalan dengan baik kendati tidak diwarnai dengan kebutuhan akan plastik.
  5. Pada masa pra-industri, seluruh kota tidak mempunyai masalah dengan sampah. Pada masa itu, plastik belum muncul. Sebenarnya terdapat hubungan paralelitas yang kuat antara ketiadaan masalah sampah dengan ketiadaan unsur plastik.
  6. Seluruh kota, seluruh Pemerintahan, seluruh masyarakat harus menghentikan produksi plastik, karena pertama, kehidupan tidak membutuhkan plastik, dan yang kedua, plastik merupakan biang masalah sampah yang menghancurkan seluruh kota di Dunia.