Fikiransaya

Baru Versus Anyar

anyar

Bahasa mengandung banyak misteri. Dan tidak salah bahwa karena banyaknya misteri itu banyak manusia yang tertarik untuk mempelajarinya. Dan hasil dari mempelajari banyak misteri bahasa suatu bangsa, ditemukan mutiara-mutiara yang indah, dan juga terkadang unik.

Adakalanya bahasa menimbulkan kesulitan, karena adanya misteri itu. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, biasanya para ahli memberi solusi, baik di dalam aspek kosakata, tatabahasa, gaya bahasa dan lain sebagainya.

Di dalam bahasa Indonesia, kata /baru/ mungkin mendatangkan suatu masalah.

Kata /baru/ di dalam bahasa Inggris disamakan dengan /new/. Namun kadang kata /baru/ juga bisa berarti /just/ di dalam bahasa Inggris.

Sebagai contoh,
a. Mobil dinas baru digunakan setelah lebaran.

Di dalam contoh a, kata /baru/ berarti /just/ di dalam bahasa Inggris.

b. Mobil baru digunakan setelah lebaran.

Di dalam contoh b, kata /baru/ berarti /new/ di dalam bahasa Inggris, sebagai kata sifat untuk menerangkan kata /mobil/. Jadi di dalam contoh ini, kata /baru/ merupakan pasangan untuk kata /mobil/: mobil baru, atau new car.
Masalah akan timbul, kalau kalimatnya menjadi begini,

c. Mobil baru baru digunakan setelah lebaran.

Di dalam contoh c ini, terdapat dua kata /baru/ yang diletakkan berturut-turut, namun artinya berbeda. Mungkin di dalam bahasa Inggrisnya sebenarnya kalimat itu ingin menyatakan demikian,

The new car will be used just after lebaran.

Di dalam bahasa Inggris, tidak akan ada masalah, karena makna -baru- dan makna –just- diwakili oleh kata-kata yang berbeda. Namun di dalam bahasa Indonesia tidaklah demikian.
.

Anyar = baru.
Di dalam bahasa Indonesia ada kosa kata /anyar/ yang juga berarti baru. Jadi ada dua kata berbeda yang artinya sama, yaitu /baru/ dan /anyar/.
Pasti akan lebih baik, kalau di dalam berbahasa Indonesia, kata /anyar/ kita ‘pekerjakan’ saja untuk menjadi padanan kata /new/ di dalam bahasa Inggris, sementara kata /just/ kita biarkan dipadankan dengan kata /baru/.
Sehingga kalau begitu, maka kalimatnya akan menjadi lebih mudah untuk difahami dan diucapkan, sebagai berikut,

d. Mobil anyar baru digunakan setelah lebaran.

Di dalam contoh d ini, tidak ada lagi dua kata /baru/ yang berurutan, karena kata /baru/ yang pertama sudah digantikan dengan kata /anyar/ – dengan perincian, kata /mobil baru/ kita ubah menjadi /mobil anyar/.

Mudah-mudahan dengan penggunaan kata /anyar/ ini sebagai pengganti kata /baru/, salah satu masalah di dalam berbahasa Indonesia sudah dapat diatasi dengan baik.

Advertisements

Memahami Kemajuan Kebudayaan Jawa

alamandang-bilal

Pertanyaan:

Atap rumah warga Indonesia, umumnya terbuat dari seng …

Hanya di pulau Jawa dan Bali tampaknya yang atapnya terbuat dari genteng …..

Dan rasanya, atap rumah yang terbuat dari seng membuat pemandangan menjadi sejuk ….

Bagaimana pendapat Anda?

—————————————

Justru Kebalikannya, seng mengakibatkan panas jika tertimpa sinar matahari.

BTW, atap seng di luar Jawa dan atap genteng di Jawa, itu tidak sesederhana sekedar mode atau pilihan bahan bangunan seperti yang lo pikirkan. Perbedaan atap itu dipengaruhi oleh sejarah, atau bahkan perbedaan tingkat peradaban antara Jawa dan luar Jawa.

DI Jawa, atap genteng memang secara tradisional sudah dibuat dan dikenal di Jawa sejak dulu kala, sudah merupakan bagian dari budaya dan peradaban Jawa, mungkin lebih dari seribu tahun, sudah digunakan sebagai alternatif atap ijuk atau jalinan rumput. Sejarah penggunaan atap genteng yang sudah berabad-abad bisa dilihat dari relief candi, atau peninggalan bangunan-bangunan jaman kuno, misalnya bangunan Majapahit, yang menyisakan peninggalan atap genteng, selain bata merah, sebagai elemen bangunan. Jadi, atap genteng sudah jauh sejarahnya di Jawa, sama seperti di Cina atau Jepang yang juga punya tradisi atap genteng (walau bentuk gentengnya beda, disesuaikan dengan iklim dan bentuk atap yang harus lebih curam dibuat untuk meluruhkan salju).

Atap genteng adalah sesuatu yang secara peradaban “lebih tinggi” dibanding atap ijuk atau rumput, karena genteng sudah mengandung “teknologi dan ilmu” dalam pembuatannya, dan biasanya dihasilkan oleh “industri” (“industri” hanya terdapat pada masyarakat dengan peradaban yang lebih tinggi).

Sedangkan di luar Jawa, kemungkinan besar memang tak ada tradisi membuat genteng yang meluas. Atau, pembuatan atap genteng bukan merupakan bagian dari budaya / peradaban di luar Jawa. Kemungkinan besar tradisinya adalah atap ijuk, atap jalinan rumput, atau rumbia. Nah begitu luar Jawa memasuki jaman “modern”, ketika atap ijuk dan sebangsanya dipandang “primitif”, mereka beralih menggunakan atap seng (karena mereka di luar Jawa memang tidak punya tradisi pembuatan genteng seperti di Jawa). DI Jawa, banyak pembuatan genteng tradisional (bukan genteng buatan pabrik modern seperti KIA).

Jadi, di Jawa banyak rumah menggunakan atap genteng, di luar Jawa atap seng, itu bukan sekedar preferensi bangunan. Itu menyiratkan perbedaan sejarah dan tingkat peradaban di antara keduanya.

Kalau sekarang Jawa lebih maju dari pulau-pulau lain, it’s only natural, sudah  sewajarnya. Bukankah Jawa memang lebih maju dari jaman sejarah, ratusan atau  malah ribuan tahun lalu, dibanding wilayah lain di Asia Tenggara??? Jawa lebih maju bukan baru kemaren, bukan sejak merdeka atau Orba.

Sejak jaman dulu kala, Jawa adalah penguasa politik dan pemegang hegemoni  budaya dan kawasan kepulauan Asia Tenggara (Nusantara). Siapa yang mampu  mendirikan Kerajaan besar dengan pengaruh yang luas (bahkan sampai ke Kamboja,  Thailand) kalau bukan Jawa? Bahkan hegemoni budaya, sehingga sebagian besar  cerita rakyat yang ada di Nusantara bisa ditelusuri sejaranya berakar dari cerita Panji di Jawa, sehingga koreografi tari dan seni di Kamboja dan  Thailand mengambil akarnya dari tari Jawa kuno. Sampai Jaman ketika Malaka (sekarang Malaysia) meminta bantuan kepada kesultanan Demak (sebagai penerus  Mahapahit di era Islam) untuk melindungi dari serangan dan okupasi Portugis.  Kenapa Jawa?

Bukan cuma unggul di jaman Hindu-Buddha, tapi juga sampai well-into-eighteenth  bahkan twentieth century ketika sudah memasuki jaman Islam. Setelah memasuki  jaman Islam (Mataram Islam) pun hegemoni itu masih berlangsung. Jika kita  pelajari buku sejarah, ada jaman-jaman tertentu ketika di keraton-keraton di Sumatera  (Palembang, Jambi dll) orang-orang di keraton diwajibkan berbahasa Jawa, berkiblat pada tata cara pemerintahan Jawa. Bahkan sampai sekarang pun, kalau orang  bicara budaya Indonesia, yang masuk mainstraim adalah budaya-budaya Jawa dan  turunannya (SUnda, Bali, atau yang ada di pulau Jawa), karena tak bisa  dipungkiri kebudayaan di wilayah ini dari segi tingkatan budaya berada satu  tingkat di atas kebudayaan etnis-etnis lain di Nusantara, sehingga produk seninya  (tari, musik, dll) paling advanced dan secara visual paling menarik untuk  ditonton (diakui atau tidak) seperti Gamelan, wayang dll. Di saat tari / musik suku-suku  lain cuma gerakan monoton yang diulang-ulang, musiknya cuma beberapa nada monoton yang diulang-ulang, gamelan menjanjikan kompleksitas nada dan idiom gerak serta idiom nada yang setara dengan musik tradisionalnya orang Eropa.

COba bandingkan mana yang lebih menarik secara visual dan audial: tari dan  musik tradisional orang Eropa dengan gerakan yang indah, dengan musik yang  indah, atau tari dan musik suku di Kendari misalnya yang monoton. Tak bisa  dimugkiri, tari yang merupakan produk peradaban yang lebih tinggi jauh lebih  menarik secara visual dan audial dibanding tari / musik suku yang jauh lebih  primitif. Itu berlaku juga dengan tari Jawa dan Papua (sekedar contoh).

JAWA UBER ALLESS!!!!!!!!

———————————-

Dan mengapa  masyarakat / peradaban Jawa lebih maju dari masyarakat di pulau lain di Indonesia? Jawabannya hanya merujuk kepada hukum alam, khususnya di sini hukum matematika, yaitu, karena populasi Jawa itu lebih banyak dari suku lain ….

Secara logika matematika, jelas bahwa / karena:

4 orang ber-rembuk, dengan 100 orang ber-rembuk untuk mendapat ide cemerlang… Mana yang akan lebih berwarna?? Tentunya ide-ide yang mencuat dari kelompok 100.

Kalau suatu masyarakat jumlah populasinya tinggi, pasti peradabannya tinggi. Bandingkanlah dengan China, India, dan Eropa …. Mereka sejak awal populasinya memang tinggi.

Semakin banyak orang maka makin banyak juga ide-ide yang terlontar. Apalagi  dengan banyaknya orang, maka akan tercipta persaingan. dan untuk menang persaingan setiap yang terlibat harus putar otak sekeras mungkin.

kalau kita renungkan, yang cerdas mungkin orang Minang, dengan melihat pada jumlah intelektualnya yang banyak. Mengapa bukan Jawa? Dan mengapa Jawa yang maju peradabannya? Karena Jawa itu sejak awal memang tinggi populasinya.

Sebagai contoh bandingkanlah dengan masyarakat Bugis. Wiki menulis bahwa Bugis merupakan suku terbesar ketiga setelah Jawa dan Sunda. Dan terbukti, Bugis Lebih  maju ketimbang yang lain. Bugis mempunyai epik mitos terpanjang di dunia yaitu la Galigo ….

Terima kasih.

———————————

Populasi yang tinggi memang mungkin bisa mengakibatkan peradaban suatu kelompok manusia lebih maju. Namun ingatlah bahwa populasi yang banyak itu juga ADA SEBABNYA. Tidak terjadi begitu saja tanpa sebab.

Sebabnya adalah karena kelompok manusia itu mampu mengembangkan budayanya (termasuk budaya pertanian, budaya menghasilkan pangan / bukan sekedar berburu meramu), sehingga mereka mampu memberi makan banyak mulut, yang pada gilirannya memicu populasi kelompok manusia itu tumbuh menjadi besar, jadi banyak.

Jadi apakah peradaban maju karena populasinya sudah banyak lebih dulu, ataukah peradabannya musti maju dulu supaya populasinya bisa tumbuh menjadi banyak? Itu seperti sebuah teka-teki: “lebih dulu mana, ayam atau telur?”.

Dalam kasus ini (Jawa), mungkin kejadiannya justru terbalik: karena peradabannya maju dan bisa menyediakan pangan dalam jumlah besar, maka memungkinkan populasi untuk tumbuh menjadi banyak, dan pada gilirannya akan makin mempermaju peradaban itu sendiri, karena jumlah populasi yang banyak dan menetap (karena tidak perlu berladang yang berpindah-pindah) memungkinkan suatu kelompok masyarakat mengembangkan kebudayaan yang lebih rumit, kompleks, dan tinggi, serta pranata sosial yang lebih rumit dan kompleks pula, dibanding kelompok masyarakat yang berburu dan meramu, karena masyarakat yang berburu meramu TAK PUNYA WAKTU untuk mengembangkan budayanya, karena tiap hari mereka berkutat mencari sumber pangan. Beda dengan  masyarakat yang pertaniannya sudah maju, mereka tinggal mengolah pertanian, dan setelah itu ada waktu JEDA PANJANG / MENGANGGUR yang bisa digunakan untuk mengembangkan budaya / politik / sosial dll.

Di samping itu, besar kecilnya populasi suatu etnis atau kelompok manusia bukan ditentukan oleh tingginya frekwensi aktivitas seksual dan sebangsanya. Kecendrungan untuk mempunyai banyak atau sedikit anak adalah preferensi individu, yang tidak mempunyai hubungan dengan etnis tertentu.

Di dunia pada masa yang lebih awal yang belum ada rekayasa untuk mengendalikan populasi, banyak sedikitnya pupulasi suatu etnis ditentukan oleh SELEKSI ALAM, FAKTOR-FAKTOR SOSIAL, dan lain lain; tidak ada korelasi sedikit pun dengan aktivitas seksual.

Dan pertanyaannya sekarang adalah mengapa populasi Jawa begitu besar sejak masa awal?

KARENA, seleksi alam dan sosialnya memang memungkinkan tumbuhnya populasi menjadi jumlah yang sangat besar sejak jaman dulu. Sejak masa awal orang di PULAU JAWA (bukan cuma orang Jawa tapi juga Sunda) sudah mengenal pertanian yang sistematis dan intensif, sudah menguasai ilmu bertani (hal yang secara peradaban beberapa tingkat LEBIH TINGGI dibanding sekedar berburu atau berladang seperti orang luar Jawa). Adanya pertanian intensif memungkinkan untuk mendapatkan bahan makanan dalam jumlah besar, dan pasokan persediaan makanan yang terjamin sepanjang tahun – sehingga memungkinkan tumbuhnya populasi besar yang menetap. Petak-petak sawah di PULAU JAWA sudah ada sejak lebih dari dua ribu tahun yang lalu.

Keterjaminan pasokan makanan juga memungkinkan orang di PULAU JAWA untuk tinggal menetap (tidak berpindah-pindah seperti peladang luar Jawa). Dengan menetap, memungkinkan timbulnya masyarakat yang besar, sehingga memungkinkan terbentuknya PRANATA sosial yang lebih kompleks, budaya yang lebih rumit dan kompleks, kerajaan, kabupaten kelurahan dst – sehingga secara politik lebih berkembang dibanding masyarakat peladang luar Jawa.

Dengan adanya PASOKAN MAKANAN yang berlimpah dan terjamin (karena pertanian yang intensif itu), maka memungkinkan adanya hasil pangan yang banyak untuk mencukupi seluruh populasi itu. SEHINGGA, dengan hasil pangan yang mencukupi untuk seluruh populasi, SETIAP ORANG TIDAK TERPAKU PADA TUGAS untuk memproduksi / menghasilkan mencari pangan. Proses menghasilkan pangan cukup ditekuni sebagian orang di populasi itu, dan orang-orang lainnya terbebas dari kewajiban menghasilkan pangan. SEHINGGA lebih berkembang pembagian tugas / pekerjaan dalam masyarakat. TIDAK HARUS SEMUA MENCARI MAKAN, tapi ada yang berprofesi sebagai politikus, ahli tata negara, artis, seniman dll. Bandingkan dengan orang di Dayak atau Papua misalnya, yang semuanya tiap hari harus berkutat ikut mencari makanan untuk kelompoknya.

INILAH YANG PADA GILIRANNYA MEMUNGKINKAn peradaban di Pulau Jawa berkembang lebih tinggi. Kesenian dan kebudayaan juga berkembang dalam tingkatan lebih tinggi, sehingga bisa tercipta karya-karya sastra kuno sejak ratusan bahkan hampir seribu tahun lalu, kerajaan-kerajaan besar dengan pranata masyarakat yang elaborate, repertoar-repertoar klasik semacam tari dengan  koreografi yang rumit, musik tradisional yang rumit (gamelan) dll dll, SEMENTARA DI SAAT YANG SAMA etnis-etnis di pulau lain hanya menghasilkan tari-tari dan kesenian musik yang ala kadarnya.

Itu sesuatu yang tak bisa dicapai masyarakat peladang dan berburu.

JIka kita amati, semua peradaban yang mencapai tingkatan tinggi pasti diawali dengan pertanian yang bagus. Tercukupinya kebutuhan pangan yang memungkinkan masyarakat bisa tinggal menetap dan tidak semua orang harus bertugas menghasilkan pangan, pada gilirannya akan memicu peradaban lebih cepat berkembang dalam tingkat yang tak terbayangkan – dibanding masyarakat yang tiap orangnya harus berkutat menghasilkan pangan.

—————————————–

Analisa Anda meleset.

Pertama Anda menulis bahwa ini seperti teka-teki, mana lebih dulu, ayam atau telur ayam?

Kalau mau adil, harusnya Anda bilang, ayam boleh, telur pun boleh. Namun di dalam paparan Anda ini, Anda sudah menegaskan bahwa telur lah yang lebih dulu, baru ayam. Mengapa bisa begitu? Kalau Anda sudah menegaskan hal yang demikian, mengapa Anda melibatkan teka-teki tersebut? Bukankah teka-teki itu hanya to emphasize bahwa segala sesuatu remains confusing all the time?

Kedua, Anda ingin menegaskan bahwa KECERDASAN lah yang lebih dulu ada di pulau Jawa, baru kemudian “populasi tinggi” (kita singkat saja: polgi), begitu kan? Anda ingin memaparkan bahwa masyarakat di pulau Jawa sejak masa awal adalah cerdas, sehingga dengan kecerdasannya itu muncullah skill bertani yang mengakibatkan kelimpahan pangan yang berimbas pada polgi (saya juga tidak bermaksud bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa adalah bodoh).

Anda mengajukan statement begini,

Namun ingatlah bahwa populasi yang banyak itu juga ADA SEBABNYA. Tidak terjadi begitu saja tanpa sebab. Dan sebabnya adalah karena kelompok manusia itu mampu mengembangkan budayanya (termasuk budaya pertanian, budaya menghasilkan pangan / bukan sekedar berburu meramu), sehingga mereka mampu memberi makan banyak mulut, yang pada gilirannya memicu populasi kelompok manusia itu tumbuh menjadi besar, jadi banyak.

Dengan paparan ini Anda mengklaim bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa lah yang lebih cerdas dibanding masyarakat lain. Sumatera tidaklah cerdas, Kalimantan tidaklah cerdas, Sulawesi tidaklah cerdas, Bima tidaklah cerdas dllll …… Anda ingin menegaskan bahwa masyarakat lain tidak mampu mengembangkan budayanya seperti pertanian, pangan dan lain lain – mampunya hanya berkutat pada meramu dan berburu.

Polgi (populasi tinggi), alias banyak anak, seutuhnya merupakan Kuasa Tuhan. Polgi  merupakan hak prerogatif Tuhan, kepada umat mana saja yang Dia kehendaki. Anggap saja kampung a dan b sama-sama mempunyai aktivitas seksual yang tinggi. Namun faktanya hanya kampung a yang memperoleh polgi, sementara b tidaklah demikian. Itulah kehendak Tuhan.

Di dalam hal ini, Tuhan berkehendak bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa lah yang akan memperoleh polgi. Dengan polgi ini masyarakat manusia yang tinggal di pulau Jawa menjadi lebih maju karena lebih banyak otak di dalam ber-rembug dan menuangkan ide bagusnya. Dengan demikian peradaban tinggi tidak mempunyai hubungan dengan skill pertanian dlsb. Apalagi juga tidak ada hubungannya dengan seleksi alam.

Masalah seleksi alam, penempatan Anda sangat primitif. Seleksi alam itu hanya berlaku pada masa pra-sejarah (mungkin pada jaman plestosin), juga berlaku hanya kepada hewan dan tumbuhan. Saat umat manusia sudah mengenal huruf, sistem Pemerintah, agama, dan lain lain, seleksi alam sudah tidak berlaku lagi atas spesies manusia. Kalau pun Anda ingin menempatkan seleksi alam di dalam masalah ini, pertanyaan saya adalah, seleksi alam pada periode Tahun berapa? Tahun 600 Masehi? Tahun 1000 Masehi? Atau Tahun 400 Sebelum Masehi? Ingatlah bahwa pada masa itu pun seleksi alam sudah tidak berlaku lagi atas manusia, karena justru manusia lah yang mengendalikan alam, bukan sebaliknya. Bahkan di gurun ada peradaban manusianya: Arabia, Afrika Utara, Mesir, dlll …. di tempat-tempat itu sudah ada peradaban manusia. Bandingkan juga dengan masyarakat Eskimo yang hidup di alam es membeku. Bukankah itu aneh?

Anda menekankan bahwa polgi di Jawa dikarenakan kecerdasan tinggi yang berimbas pada skill pertanian di Jawa yang tinggi. Kekeliruan Anda adalah Anda tidak mengetahui bahwa di mana-mana pun juga ditemukan petak sawah, bukan di Jawa saja. Tidak  mungkin orang di Sumatera (dllllll) tidak ahli di dalam hal bertani, karena bertani adalah amat mendasar buat mereka.

Anda sudah me-MUTLAK-kan bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa lah yang cerdas, sehingga walau pun populasi masih rendah, teknik dan skillnya sudah tinggi – yang berimbas pada kesuksesan bertani. Dan dengan demikian mendongkrak polgi.

Saya pastikan bahwa Anda sudah me-MUTLAK-kan bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawalah yang cerdas. Mengapa? Karena Rincian logika dari paparan Anda adalah begini:

  • Di dalam waktu yang bersamaan:
  • Sumatera (dllll) populasinya rendah yaitu 50 orang – kala itu.
  • Manusia yang tinggal di pulau Jawa populasinya juga rendah yaitu 50 orang – kala itu.

Karena manusia yang tinggal di pulau Jawa lebih cerdas, yang 50 orang itu berhasil berteknik tani yang tinggi yang akibatnya pasokan pangan melimpah. Konsekswensinya terciptalah polgi. Dan dari polgi ini, majulah peradaban manusia yang tinggal di pulau Jawa.

Bagan: Cerdas > teknik tani yang tinggi > pangan tinggi > populasi tinggi > peradaban tinggi.

Sumatera (dllll) karena tidak cerdas, yang 50 tidak bisa berbuat apa-apa dengan teknik tani mereka. Akibatnya populasi mereka tidak tinggi.

Bagan: Tidak cerdas > teknik tani primitif > pangan rendah > populasi rendah > peradaban rendah.

Dengan paparan ini, Anda sudah me-MUTLAK-kan bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa lah yang cerdas, sementara Sumatera – Kalimantan – Sulawesi – Bima – Papua – Ambon – Piliphina – Myanmar – Malaysia dlllll tidak cerdas secerdas manusia yang tinggal di pulau Jawa. Anda terlalu jauh di dalam hal ini.

Kita sudah punya fakta dan logika matematika yang tidak bisa dikesampingkan, apalagi dinafikan. Fakta itu adalah, bahwa kalau ada masyarakat dengan polgi, pasti kehidupannya lebih maju, ITU MUTLAK. Karena lebih banyak otak, maka lebih banyak ide yang bermunculan, juga lebih banyak individu yang mempunyai waktu luang untuk menemukan ide. Hal itu terjadi pada masyarakat China, India, Mesopotamia dllll. Hal itu tidak bisa dibantah. Dan di dalam hal ini, masyarakat manusia yang tinggal di pulau Jawa itu merupakan suku dengan populasi tertinggi di Indonesia.

Sebaiknya Anda mencoba menggunakan perspektif ini: mengapa peradaban tinggi selalu paralel dengan polgi? Dan, apakah ada peradaban tinggi yang muncul tanpa adanya polgi? Kalau memang ada peradaban tinggi yang muncul tanpa diparalelkan dengan polgi, konsekwensinya kita bisa percaya bahwa Jawa memang cerdas, karena sudah ada bukti empirisnya.

Kemudian, ini statement Anda di bagian terakhir,

JIka kita amati, semua peradaban yang mencapai tingkatan tinggi pasti diawali dengan pertanian yang bagus. Tercukupinya kebutuhan pangan yang memungkinkan masyarakat bisa tinggal menetap dan tidak semua orang harus bertugas menghasilkan pangan, pada gilirannya akan memicu peradaban lebih cepat dalam tingkat yang tak terbayangkan dibanding masyarakat yang tiap orangnya harus berkutat menghasilkan pangan.

Penjelasan saya: Ya, itu juga berawal karena mereka adalah masyarakat dengan polgi. Dengan polgi lah maka ada sistem pertanian, mulai ada spesialisasi. Pertanian (dan instrumen lain dari masyarakat maju) merupakan hal kedua ada, dan yang pertama ada adalah polgi, bukan kecerdasan, bukan juga seleksi alam. Dan polgi itu urusannya ada di tangan Tuhan.

Dan saya harap Anda jangan lagi meMUTLAKkan bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa-lah yang lebih cerdas ketimbang suku / pulau lain – karena hal itu sangat tidak mendasar. Kalau Anda masih ingin mendasarkan kemajuan Jawa pada allegedly kecerdasan manusia yang tinggal di pulau Jawa, konsekwensinya adalah teori, fakta dan logika matematika yang sudah saya paparkan di sini akan diperlakukan seperti apa?

Saya sangat cemas dengan paragraf Anda yang ini:

Namun ingatlah bahwa populasi yang banyak itu juga ADA SEBABNYA. Tidak terjadi begitu saja tanpa sebab. Dan sebabnya adalah karena kelompok manusia itu mampu mengembangkan budayanya (termasuk budaya pertanian, budaya menghasilkan pangan / bukan sekedar berburu meramu), sehingga dia mampu memberi makan banyak mulut, yang pada gilirannya memicu populasi kelompok manusia itu tumbuh menjadi besar, jadi banyak.

Jawaban saya: apakah hal itu, di dalam fikiran Anda, juga terjadi pada masyarakat Sumatera? Kalimantan? Papua? Sulawesi – Ambon – Bima – Flores? Bukankah Anda  memaparkan bahwa hanya manusia yang tinggal di pulau Jawa-lah yang maju peradabannya?

Terkesan sekali Anda hanya ingin menceritakan bahwa skenario itu hanya terjadi pada masyarakat Jawa yang artinya bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa-lah yang cerdas, dan yang lain tidak.

Rincian dari logika Anda itu adalah begini,

Sumatera (dllll) populasinya hanya 50 orang. Namun yang 50 ini tidak cerdas. Akibatnya Sumatera tidak skillful bertani. Akibatnya populasi tidak berkembang menjadi polgi. Akibatnya peradaban Sumatera (dllll) tidak maju.

Jawa populasinya hanya 50 orang. Namun yang 50 ini cerdas. Akibatnya manusia yang tinggal di pulau Jawa sangat skillful bertani. Akibatnya populasi mereka  menjadi tinggi. Akibatnya peradaban masyarakat manusia yang tinggal di pulau Jawa jadi maju.

Lagi pula, tidak ada yang bermasalah dengan bertani: cukup dengan modal lahan, air, bibit, seseorang sudah dapat bertani. Bertani tidak memerlukan kecerdasan S-3 atau S-4. Itu baru masalah bertaninya, belum yang lain. Bukankah paparan Anda mendasarkan keunggulan manusia yang tinggal di pulau Jawa pada kecerdasan yang ter-refleksi pada skill bertani (sehingga mendatangkan kelimpanan pangan dan kemudian polgi), sementara yang lain (Sumatera dllllll) masih berkutat pada berburu dan meramu? Terlalu banyak kalau Anda memaparkan bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa adalah cerdas yang berimbas pada kesuksesan bertani. Apakah bertani itu susah? Apakah berkebun singkong adalah susah? Apakah mengambil ikan di sungai dan danau adalah susah? Apakah mengusahakan perkebunan jagung akan mendatangkan kesulitan? Sejak kapan?

Sekaligus Anda ingin mengesankan bahwa kelahiran BUKAN URUSAN DAN HAK PREROGATIF TUHAN. Anda hanya ingin menandaskan bahwa kelahiran yang banyak (alias polgi) pada masyarakat Jawa seutuhnya adalah Kuasa dan inisiatif manusia yang tinggal di pulau Jawa sejak masa-masa awal.

Pada bagian terdahulu saya sudah menyampaikan, bahwa kalau Anda ingin mengetahui suku mana yang cerdas di Indonesia, saya bisa sampaikan bahwa suku  Minangkabau-lah jawabannya – karena  dengan populasi yang tidak tinggi, suku ini sudah mempunyai intelektual di dalam jumlah yang tinggi.

Artinya, Anda bisa menyatakan bahwa manusia yang tinggal di pulau Jawa lah yang cerdas, asalkan (sekali lagi, ASALKAN) Anda bisa memberi bukti, bahwa saat populasi manusia yang tinggal di pulau Jawa masih rendah, limpahan intelektualnya sudah dilaporkan di mana-mana.

Intinya, jumlah kelahiran adalah hak prerogatif Tuhan. Jadi bukan karena suatu masyarakat lebih cerdas atau yang lainnya. Dan di dalam hal ini, hak Tuhan itu jatuh kepada masyarakat manusia yang tinggal di pulau Jawa sehingga mengakibatkan polgi. Dengan polgi inilah peradaban manusia yang tinggal di pulau Jawa jadi lebih maju: ada batik, gamelan, sastra, gerak tari, sistem musik, sistem pengobatan, sistem kepercayaan, dllllll ……

Kesimpulan finalnya adalah, kebudayaan manusia yang tinggal di pulau Jawa maju hanya karena polgi – alias populasi tinggi, karena memang demikian Hukum alam, dan berlaku di seluruh Dunia.

Jadi teori ini akan kembali kepada ajaran Muhammad Saw: “perbanyaklah anakmu”. Artinya Muhammad Saw berharap banyak pada polgi karena dengan demikian umat Muslim bisa (lebih) menonjol dibanding umat lain.

Sebuah Konflik Di Jalan Raya

alamandang-nawir

Teman saya seorang bapak-bapak pada suatu hari kembali menemui saya dan mengajak ngobrol, setelah sekian lama tidak bertemu dikarenakan kesibukan masing-masing. Ketika asyik ngobrol itu terlihat oleh saya betapa di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka yang cukup mengerikan. Tentulah perhatian saya menjadi beralih.

Saya tanya mengapa. Bapak ini menjelaskan bahwa beberapa minggu lalu ia mengalami kecelakaan luntas (lalu-lintas), lumayan parahlah. Kala itu ia mengendarai sepeda motornya  hendak pulang ke rumah sehabis dari Kantor – sedang melintas di daerah Universitas Indonesia Depok. Jalan kala itu lumayan sepi, karena hanya ia yang melintas di jalan itu. Dari arah berlawanan, melintas juga sepeda motor yang dikendarai anak muda, dan karena suatu alasan, anak muda ini mengambil jalur yang akan dilintasi bapak ini, padahal itu tidak dibenarkan secara peraturan luntas. Mungkin anak muda ini ingin putar-balik. Namun yang jelas bapak ini melintas di dalam keadaan ngebut, sementara anak-muda tidak.

Akibatnya terjadi benturan keras alias tabrakan, antara bapak dengan si anakmuda yang putarbalik ini. Kedua-duanya langsung terpelanting, katanya. Bapak ini merasakan sakit yang luar biasa di daerah rusuk badannya, dan juga di sekitar pundak, tidak ketinggalan luka gores yang banyak di sekitar lengan, kaki dan lain lain.

Bapak si teman saya menuturkan bahwa kala itu ingin sekali ia menggampar si anak muda ini, karena kecelakaan ini timbul karena si anakmuda menyalahi aturan luntas. Si anakmuda sempat berkata “lagian bapak ngebut siiih …..”, katanya menirukan si anakmuda kala yang juga meringis kesakitan itu. Si bapak langsung menimpali dengan lebih sengit, “lha kalau kamu endak salah jalan, endak mungkin saya nabrak kamu!!”.

Si bapak berteori, kalau lah anakmuda itu tidak menyalahi aturan luntas pastilah kecelakaan itu tidak akan terjadi, walau pun sang bapak kita ini melaju dengan ngebut. Singkat kata, kecelakaan itu terjadi murni karena kesalahan si anakmuda, bukan dirinya. Itu kata si bapak.

Benarkah demikian?

Sebenarnya rumit untuk dapat mengetahui, atau ‘menghakimi’ siapa yang paling bersalah di dalam kasus ini. Kalau si anakmuda tidak salah jalur pastilah kecelakaan tidak terjadi. Namun kebalikannya juga: kalau lah si bapak tidak ngebut pastilah kecelakaan itu tidak terjadi. Mana yang benar?

Sekarang mari kita urai permasalahannya secara sendiri-sendiri.

Anggaplah a dan b sama-sama melintas di jalur masing-masing, tidak menyalahi aturan luntas. Namun baik a mau pun b sama-sama ngebut. Dengan ngebut ini, bukankah kecelakaan mungkin terjadi? Ya benar sekali, kendati masing-masing pihak melintas di jalur yang benar sekali pun, namun kalau salah satu atau masing-masing ngebut maka kecelakaan berpotensi terjadi. Silahkan buktikan sendiri kalau tidak percaya.

Kebalikannya, anggap saja di suatu perempatan yang amat rumit dan luas, arus luntas mengarah ke berbagai titik dan volumenya menjadi begitu semrawut tidak berketentuan arah, namun kalau setiap kendaraan melaju dengan lambat (sekali lagi, dengan lambat) pasti kecelakaan tidak akan pernah terjadi. Buktikan sendiri kalau tidak percaya.

Jadi kesimpulannya, kalau lah pengendara melintas dengan melewati jalur yang salah (sekali pun), namun melintasnya dengan lambat, pasti kecelakaan tidak akan terjadi. Jadi di sini yang menjadi masalah bukan salah jalur, melainkan ngebut, atau tidak ngebutnya.

Rumus Luntas alamandang ©:

Romawi I.

Jalur benar x ngebut = kecelakaan.

Jalur salah x ngebut = kecelakaan.

Jalur benar x tidak ngebut = tidak terjadi kecelakaan.

Jalur salah x tidak ngebut = tidak terjadi kecelakaan.

Romawi II.

Kendaraan lambat + kendaraan lambat = tidak terjadi kecelakaan.

Kendaraan lambat + kendaraan ngebut = kecelakaan.

Kendaraan ngebut + kendaraan ngebut = kecelakaan.

———————

Ingatlah, kalau kita melintas di jalur yang benar, pun tidak ada kendaraan lain selain kita, itu tidak menjadi pembenar bagi kita untuk ngebut. Ngebut adalah mata-uang yang tidak berlaku di negara mana pun. Artinya, untuk setiap kasus, kalau ada unsur ngebutnya, maka kasus itu menjadi salah. Ngebut tidak pernah membawa keuntungan.

Namun kebalikannya, kalau pun kita melintas di jalur yang salah, namun kita tidak ngebut, kecelakaan tidak akan terjadi.

Jadi dapat saya simpulkan, bahwa yang salah di dalam kasus si bapak ini adalah, bahwa si bapak lah yang salah karena ia ngebut di jalanan. Ia kala itu berkilah bahwa ia berada di jalurnya, dan tidak ada kendaraan lain. Oleh karena itu ia berfikir ia berhak untuk ngebut. Wah ini salah sekali.

Mengapa ia harus ngebut? Kalau lah bapak ini tidak ngebut pasti ia mempunyai waktu yang cukup untuk mengantisipasi manuver si anakmuda yang putarbalik itu dengan menge-rem kendaraannya sehingga yang terpenting benturan tidak terjadi. Namun faktanya ia ngebut sehingga ketika ia melihat si anakmuda nongol, bapak ini tidak lagi sempat untuk menge-rem motornya. Jangan salahkan si anakmuda; salahkanlah dia yang ngebut.

Insomnia Mengapa Bagaimana

alamandang-fatih

Insomnia adalah nama penyakit yang menyerang manusia di mana sang pasien tidak dapat tidur. Tentu saja penyakit ini sangat menyengsarakan, mengingat tidur itu sebenarnya merupakan kenikmatan hidup, semua orang tentunya ingin selalu dapat memperoleh kenikmatan tidur, khususnya di malam hari. Apalagi, tidur itu sebenarnya adalah saat istirahat bagi tubuh; tubuh butuh tidur untuk mengistirahatkan seluruh otot dan syarafnya. Itulah sebabnya, orang yang bangun dari tidurnya merasakan kesegaran pada tubuh, dan merasakan kesejukan di dalam berfikirnya.

Maka bagaimanakah nasib mereka yang terserang insomnia? Yang jelas mereka tidak dapat memperoleh kenikmatan hidup yang satu ini. Dan, mereka tidak akan dapat merasakan kesegaran saat bangun dari tidur, karena tidur saja mereka tidak bisa. Dan kalau sudah begitu, bagaimana mereka dapat merasakan kesejukan fikiran?

Sudah banyak obat yang ditawarkan untuk mengatasi penyakit insomnia ini, yang tujuannya adalah supaya sang pasien dapat tidur. Namun toh terkadang obat juga tidak dapat mengatasi masalah mereka secara permanen.

Filosofi Tidur

Sebenarnya apakah tidur itu? Mengapa kita butuh tidur? Dan apakah benar bahwa manusia harus tidur supaya hidupnya bermutu?

Kalau tidur didefinisikan dengan tanda di mana mata terpejam dan hilangnya kesadaran, maka tidur sebenarnya adalah bonus, tidak lebih. Yang terpenting adalah tubuh berbaring dengan relaks di dalam jangka waktu yang cukup lama. Karena tidur adalah bonus, maka sebenarnya tidur bukanlah kebutuhan mutlak bagi tubuh, karena yang dibutuhkan adalah berbaringnya.

Ada beberapa individu di Dunia ini yang tidak pernah tidur seumur hidupnya. Namun toh individu-individu tersebut tetap dapat hidup dengan normal, bisa bekerja, bisa berfikir, dan lain lain. Hal itu disebabkan individu tersebut tidak pernah melewatkan kesempatan untuk berbaring dengan relaks di dalam jangka waktu yang cukup lama.

Yang harus diketahui adalah, bahwa karena tidur dianggap sebagai kebutuhan, akibatnya jadi banyak pasien insomnia yang semakin stress dan tertekan manakala mereka tidak dapat tidur, padahal mereka sudah siap untuk tidur, seperti sudah hinggap di atas kasur, sudah mengganti baju, sudah sikat gigi, dan lain lain. Dengan tidak dapat tidur, praktis pasien menjadi begitu tertekan dan kecewa. Singkatnya, fikiran menjadi bertambah mumet. Apalagi kalau mereka melihat ke sekitar, di mana orang-orang sudah jauh terlelap tidur berlayar ke alam mimpi yang indah, dan kelak akan bangun dengan tubuh yang segar dan fikiran yang sejuk.

Kemudian, penting untuk diketahui, bahwa adalah berbeda antara tidur, dengan berbaring relax.

Tidur.

Tidur adalah kondisi di mana mata terpejam secara permanen, dan kesadaran pun hilang. Nafas berlangsung dengan sangat stabil, denyut jantung pun juga stabil. Dan biasanya pada saat tidur, biji mata terlihat bergerak-gerak, itu tandanya orang tersebut sedang mengalami mimpi. Tidur ini dapat terjadi dengan posisi tubuh yang bermacam-macam, terkadang berbaring sempurna, di dalam keadaan duduk, baik duduk di kursi mau pun duduk di lantai, bahkan juga di dalam keadaan berdiri.

Berbaring.

Berbaring, adalah kondisi di mana kita membaringkan tubuh kita, dan dengan demikian merasakan relax; di mana tubuh merasa santai, tidak sedang di dalam membawa beban.

Yang harus diperhatikan adalah, bahwa sebenarnya kita dan tubuh kita hanya lah membutuhkan berbaring tersebut, bukan tidur. Penting sekali tubuh untuk berbaring, karena dengan berbaring maka tubuh memperoleh kesempatan untuk relaksasi, santai, mengendurkan otot dan syaraf, sehingga tubuh dapat meremajakan sel-sel dan tenaganya.

Ketika berbaring, maka usahakanlah untuk serelaks mungkin. Memang dengan berbaring, tubuh sudah relaks dengan sendirinya. Namun usahakan relaks itu semaksmimal mungkin. Kalau saku baju mau pun celana masih berisi benda-benda yang besar, seperti kunci mobil, hape, dompet, saputangan, kertas-kertas tebal yang terlipat, singkirkanlah. Dan juga, celana mau pun baju yang ketat, lepaskanlah supaya tubuh semakin relaks. Lepas juga sepatu dan kaus kakinya. Adalah lebih baik kalau sebelum berbaring itu, tangan dan kaki dibasuh terlebih dahulu karena itu akan mendatangkan perasaan segar dan ringan.

Kemudian, untuk memaksimalkan relaks-nya, patut juga diusahakan untuk men-setting pencahayaan sesuai dengan keinginan kita. Biar kan juga musik kegemaran kita mengambil peran untuk merelaksasi tubuh kita saat berbaring. Dan kalau sudah begitu, biarkan fikiran berenang-renang kemana saja, biarkan ngelantur tidak karu-karuan, namun usahakan fikirkanlah hal yang indah-indah; syukur-syukur dari penerawangan fikiran itu ditemukan ide-ide yang briliyan.

Biarkan tubuh di dalam keadaan seperti itu, berbaring, sampai berjam-jam, karena tubuh membutuhkan hal itu. Kalau mata tidak terpejam, itu sama sekali tidak masalah. Sekali lagi, kalau mata tidak terpejam juga, maka itu sama sekali tidak masalah, karena yang terpenting adalah bahwa tubuh berbaring dan relaks.

Karena tubuh harus berbaring selama berjam-jam di dalam rangka mengistirahatkan tubuh dan mempertahankan mutu kesehatan, maka bisa jadi orang tersebut merasakan kebosanan. Itu tidak masalah. Usahakanlah untuk berganti-ganti posisi, berguling kian kemari, karena hal itu juga akan meningkatkan kadar relaksasi, itu baik sekali. Kalau sekali-sekali ingin bangkit, tidak mengapa, semisal untuk mengambil minum, namun kembali lah lagi ke ranjang tempat berbaring.

Biarkanlah keadaan seperti itu tetap demikian hingga fajar menjelang, walau pun mata sama sekali tidak terpejam. Dengan tetap berbaring dan merelaksasi tubuh, maka tubuh sudah mendapatkan moment istirahat yang amat dibutuhkan tubuh untuk peremajaan sel dan energi.

Maka dari pemaparan ini, jelaslah sudah bahwa tidur bukanlah tujuan di dalam merelaksasi tubuh. Tidur sebenarnya adalah efek samping dari bagian terpenting, yaitu membaringkan tubuh supaya relaks dan santai. Artinya, kalau mata tidak terpejam sedetikpun, tidak mengapa, karena yang terpenting adalah, tubuh berbaring di dalam waktu yang telah diproporsionalkan.

Perasaan Segar Saat Bangun Tidur.

Kalau kita tidak dapat memejamkan mata, maka kita tidak tidur. Dan kalau tidak tidur, maka kita tidak dapat merasakan kesegaran tubuh saat bangun dari tidur. Bagaimana kita mendapatkan kesegaran tubuh kalau kita hanya berorientasi pada membaringkan tubuh serelaks mungkin (bukannya tidur)?

Sebenarnya tidak masalah. Pada dasarnya, perasaan segar saat bangun dari tidur, ternyata hanya lah persepsi, bukan suatu hal yang mutlak. Namun yang terpenting adalah, tubuh sudah kembali segar karena sudah direlaksasi dengan cara dibaringkan.

Dan yang harus dihindari adalah, karena kita menjadikan tidur sebagai orientasi, dan malangnya kita tidak tidur, maka fikiran kita jadi mumet, stress dan penuh tekanan. Itulah yang menyengsarakan para penderita insomnia, yaitu ekspektasi yang terlalu tinggi, dan itu pun keliru. Namun kalau kita ubah orientasinya, yaitu hanya membaringkan tubuh (karena itulah esensi dan yang terpenting) maka akibatnya kita kembali mendapatkan kesegaran tersebut, kendati kita tidak tidur sedetik pun.