Islamitas

Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya

tamanbermainBerikut ini, Alamandang menurunkan satu artikel yang merupakan rubrik tanya-jawab seputar syariah Islam. Kali ini tanya-jawab tersebut seputar Alhadis Nabi bahwa anak-anak dilarang keluar rumah saat Maghrib dan Isya, yang kemudian dikonfrontir dengan ajaran / tradisi yang selama ini dianut umat Muslim bahwa anak-anak harus dibawa keluar rumah untuk shalat di Masjid saat Maghrib dan Isya.

Bagaimanakah akhirnya solusi yang diberikan sang ustadz atas pertanyaan kontradiksi tersebut?

Setelah jawaban sang ustadz dipaparkan, kemudian Alamandang akan memberikan ulasan mengenai jawaban / ajaran yang diberikan oleh sang ustadz. Mudah-mudahan hidayah Allah Swt meliputi seluruh umat Muslim. Amin. ***

Pertanyaan: 

Ya Abaa Fairuz, bagaimana dengan mengajak anak-anak untuk shalat maghrib dan isya’ di Masjid? Karena ada hadits yang memerintahkan untuk menahan  anak-anak keluar pada waktu maghrib datang?

Jawab: 

Nabi saw telah memerintahkan kita untuk menahan anak-anak kita saat datangnya malam, karena para setan ketika itu bertebaran. Maka bagaimana dengan orang yang ingin hadir dars setelah maghrib bersama anaknya misalkan?

Kita jawab dengan taufiq Allah semata:

Nabi saw mengabarkan:

“Bahwasanya jika matahari telah terbenam, para setanpun bertebaran”.

Karena itulah beliau bersabda:

“Maka tahanlah anak-anak kalian, dan tahan juga ternak-ternak kalian sampai hilangnya awal kegelapan Isya”. Hadits riwayat Al Bukhariy (3280) dan Muslim (2012) [dari Jabir ra].

Hadits ini menunjukkan bahwasanya saat datangnya malam adalah waktu diduganya gangguan setan terhadap anak-anak. Tapi telah datang dalil-dalil yang banyak tentang perlindungan dengan dzikir kepada Allah. Di antaranya adalah: perlindungan khusus bagi anak-anak, seperti hadits Ibnu Abbas ra yang berkata:

Dulu Nabi saw melindungi Hasan dan Husain dan berkata: “Sesungguhnya ayah kalian (yaitu Ibrahim as) dulu melindungi Isma’il dan Ishaq dengan doa ini: (yang artinya) “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa dan dari setiap mata pencela” (HR. Al Bukhariy (3371)).

Dan anak-anak diajari dzikrullah ketika keluar rumah.

Dari Ummu Salamah ra. yang berkata:

Tidak pernah Nabi saw keluar dari rumahku sama sekali kecuali beliau mengangkat pandangan mata beliau ke langit seraya berdoa (yang artinya): “Ya Allah sungguh saya berlindung kepadaMu dari tersesat atau disesatkan orang, tergelincir atau digelincirkan orang, atau menzhalimi atau dizhalimi orang, atau berbuat bodoh, atau ada orang berbuat badah terhadapku” (HR. Abu Dawud (5094) dan At Tirmidziy (3427) / shahih).

Dan dari Anas bin Malik ra yang berkata:

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa ketika keluar rumah dia berkata: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal pada Allah. Dan tiada upaya dan tiada daya kecuali dengan pertolongan Allah”. Dikatakan padanya: “Engkau telah dicukupi, dan engkau telah dilindungi”. Dan setan menyingkir darinya” (HR. At Tirmidziy (3426)).

Di dalam sanadnya ada ‘an’anah Ibnu Juraij, dan dia itu mudallis.

Hadits ini punya pendukung dari hadits Ka’b bin Malik ra secara mauquf (ucapan Shahabat saja), diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al Mushannaf” (29203). Dalam sanadnya ada ‘an’anah Al A’masy dari Mujahid.

Tapi Al A’masy didukung oleh Manshur yang meriwayatkan juga dari Mujahid dari Ka’b secara mauquf, diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam “Al Mushannaf” (19827). Dan sanadnya shahih.

Maka hadits ini hasan lighairih.

Ada juga dzikir perlindungan ketika singgah di suatu tempat:

Khaulah binti Hakim As Sulamiyyah ra berkata:

“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa singgah di suatu per-singgahan lalu dia berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan” (HR. Muslim (2708).

Dan termasuk dzikir sore yang mudah dihapalkan oleh anak-anak adalah: hadits Abu Hurairah  ra. yang berkata:

Ada orang datang pada Nabi saw seraya berkata: “Wahai Rasulullah, alangkah menyakitkannya apa yang saya dapati dari kalajengking yang menyengat saya tadi malam”. Maka beliau bersabda: “Adapun andaikata engkau ketika masuk di waktu sore berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan”.  Niscaya dia tak akan membahayakanmu” (HR. Muslim (2709)).

Dan masih banyak dzikir yang lain.

Kemudian sesungguhnya hadits Jabir tadi punya dua hikmah, sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian ulama:

Ibnul Jauziy berkata: “Dan hanyalah dikhawatirkan anak-anak secara khusus akan diganggu setan karena dua perkara.

Yang pertama: karena najis yang ada pada anak-anak, yang mana itulah yang menjadikan setan senang bernaung di situ.

Yang kedua: bahwasanya dzikir yang menjadi perlindungan itu tidak ada pada anak-anak, dan para setan ketika bertebaran, akan bergantung pada tempat-tempat yang memungkinkan untuk mereka bergantung (tempat yang tiada dzikir di situ)” (“Kasyful Musykil Min Haditsish Shahihain” / hal. 691).

Jika sebabnya adalah anak-anak tidak berlindung dengan dzikir-dzikir, maka kita perintahkan mereka untuk berdzikir, sebagaimana telah lewat. Jika sebab yang kedua adalah najisnya badan dan pakaian anak-anak, kita jaga kesucian mereka, sebagaimana itu memang sunnah ketika keluar menuju Masjid.

Dari Abu Hurairah ra. yang berkata: Rasulullah saw bersabda:

Shalat seorang pria di jamaah itu dilipatkan daripada shalatnya di rumahnya dan di pasarnya sebanyak dua puluh lima lipatan. Yang demikian itu dikarenakan dirinya berwudhu lalu memperbagus wudhunya, lalu keluar ke Masjid, tidak ada yang mengeluarkannya kecuali shalat …” (HR. Al Bukhariy (647) dan Muslim (649)).

Maka tidak apa-apa anak-anak keluar bersama para wali mereka ke Masjidketika matahari terbenam.

Kemudian sesungguhnya mereka itu keluar ke Masjidadalah untuk amalan shaleh, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka insya Allah, bahkan Allah gembira dengan mereka dan menjaga mereka.

Dari Abu Hurairah  ra yang berkata: Rasulullah saw bersabda:

Tidaklah ada satu orang yang berwudhu dan memperbagus wudhunya dan menyempurnakannya, lalu dia mendatangi Masjid, tidak menginginkan kecuali shalat di situ, kecuali Allah menyambutnya dengan gembira sebagaimana orang yang ditinggal pergi menyambut gembira kedatangan orang itu” (HR. Al Imam Ahmad (8051) dan dishahihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy  dalam “Al Jami’ush Shahih Mimma Laisa Fish Shahihain” no. (838)).

Ini adalah dalil untuk jawaban ini dan sekaligus jawaban yang sebelumnya.

Keluarnya mereka adalah untuk ibadah, maka Allah akan mencukupi mereka dan menjaga mereka. Dan pencukupan dan penjagaan Allah itu sesuai kadar ibadah sang hamba. Allah swt berfirman:

“Bukankah Allah itu cukup untuk melindungi hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakutimu dengan yang selain Allah. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka dia tak akan punya pemberi petunjuk. Dan barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tak akan ada yang bisa menyesatkannya. Bukankah Allah itu Maha Perkasa lagi Maha memiliki pembalasan?”

Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Maka kecukupan yang sempurna itu bersama ibadah yang sempurna. Dan kecukupan yang kurang itu bersama ibadah yang kurang. Maka barangsiapa mendapatkan kebaikan, maka hendaknya dia memuji Allah. Dan barangsiapa mendapatkan yang selain itu, maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri” (“Al Wabilush Shayyib” / hal. 11).

(kita lanjutkan besok insya Allah, barakallahu fikum)

Kemudian sesungguhnya mereka itu keluar untuk beramal shalih, maka para malaikat adalah wali dan pelindung mereka dengan seidzin Allah.

Dari Abu Hurairah  ra. yang berkata: Nabi saw bersabda:

Tidak ada orang yang keluar dari rumahnya kecuali di tangannya ada dua bendera: bendera yang ada di tangan malaikat dan bendera yang ada di tangan setan. Jika dia keluar kepada perkara yang dicintai Allah, malaikat akan mengikutinya dengan benderanya. Maka dia senantiasa di bawah bendera malaikat sampai pulang ke rumahnya. Tapi jika dia keluar kepada perkara yang dimurkai Allah, setan akan mengikutinya dengan benderanya. Maka dia senantiasa di bawah bendera setan sampai pulang ke rumahnya” (HR. Ahmad (8269).

Di dalam sanadnya ada Abdullah bin Ja’far, yaitu Bin  Abdurrahman ibnul Miswar bin Makhramah Al Madaniy, shaduq (“Tahdzibut Tahdzib” (5 / hal. 150).

Dan di dalam sanadnya juga ada Utsman bin Muhammad, yaitu Ibnul Mughirah ibnul Akhnas bin Syariq Ats Tsaqafiy, shaduq (“Tahdzibut Tahdzib” (7 / hal. 138)).

Sisa rawinya tsiqat terkenal.

Maka hadits ini hasan.

Maka barangsiapa keluar dari rumahnya untuk ketaatan pada Allah, maka para malaikat adalah wali-walinya dan mereka akan memerangi para setan untuk membelanya

Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Maka tiada seorangpun yang lebih bermanfaat bagi sang hamba daripada persahabatan malaikat untuknya. Dan malaikat adalah walinya di saat terjaga dan tidur, saat hidupnya dan ketika kematiannya, dan di dalam kuburnya, teman akrabnya ketika kesepian, sahabatnya ketika sendirian, membisikinya dalam suasana rahasia, dan memerangi para setan untuk membela dirinya, menolongnya untuk menghadapi setan, menjanjikan kebaikan untuknya, memberinya kabar gembira, mendorongnya untuk membenarkan kebenaran” (“Al Jawabul Kafi” / hal. 74).

Maka hadits Jabir ra tersebut berlaku untuk anak-anak yang sedang bermain-main –dan semisalnya- di luar rumah saat itu. Adapun yang keluar ke Masjid bersama walinya untuk beribadah pada Allah, maka Allah dan para malaikat adalah wali dia.

Oleh karena itulah maka Fadhilatu syaikhina Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy saat ana tanya tentang masalah ini beliau berkata: “Hadits ini mengenai anak-anak yang sedang bermain-main di jalanan dan sebagainya. Adapun orang yang keluar rumah bersama anaknya untuk menunaikan shalat maghrib dan mendengarkan dars di Masjid, maka itu tidak apa-apa”. Selesai jawaban beliau.

Jika ada yang berkata: “Hadits Jabir ra. itu umum!”.

Maka kita jawab –dengan taufiq Allah semata: Alangkah banyaknya dalil yang umum itu dimasuki oleh pengkhususan. Yang demikian itu dikarenakan hadits-hadits Rasulullah saw itu satu sama lain saling menjelaskan.

Al Imam Ibnu Qudamah berkata: Tiada satu lafazh umumpun kecuali dia telah dimasuki oleh pengkhususan, kecuali beberapa lafazh saja, seperti firman Allah ta’ala:

Dan tiada satu binatang melatapun di bumi kecuali menjadi tanggungan Allahlah rizqinya”.

Dan:

“Sesungguhnya Allah itu Mahatahu terhadap segala sesuatu” (“Raudhatun Nazhir Wa Jannatul Munazhir” / hal. 238-239).

Maka keumuman hadits Jabir itu dikhususkan dengan dalil-dalil penjagaan Allah untuk orang berdzikir, yang keluar rumah untuk melakukan suatu ketaatan pada-Nya. Telah lewat penyebutan sebagian dari dalil-dalil tersebut. Di antaranya juga hadits Al Harits Al Asy’ariy ra: Bahwasanya Nabi saw bersabda:

Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat untuk beliau menjalankannya dan memerintahkan Bani Israil untuk mengerjakannya: “Dan aku memerintahkan kalian untuk berdzikir pada Allah, karena permisalannya adalah bagaikan orang yang keluar, sementara musuhnya itu mengikuti jejaknya dengan cepat, hingga ketika dia mendatangi benteng yang kokoh, dia melindungi dirinya dari mereka. Demikianlah sang hamba, dia itu tidak bisa melindungi dirinya dari setan kecuali dengan dzikir pada Allah”. Al hadits (HR. At Tirmidziy (2863) / shahih).

Maka barangsiapa keluar dari rumahnya untuk suatu ketaatan kepada Allah di waktu kapanpun, dan dia berdzikir kepada Allah, maka Allah adalah Walinya dan Penjaganya, maka setan tak bisa mengganggunya. Bahkan setan sendiri mengakui hal itu.

Dari Abdullah bin Amr ibnul ‘Ash:

Dari Nabi saw bahwasanya beliau biasa jika masuk Masjid berdoa (yang artinya): “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha agung, dan dengan wajah-Nya yang mulia, dan kekuasaan-Nya yang telah berlangsung sejak dulu, dari setan yang terkutuk”. Dan beliau bersabda: Jika berdoa demikian, setan berkata: “Dia telah dilindungi dariku di sepanjang hari” (HR. Abu Dawud (466) / shahih).

Dan banyak ulama menyebutkan bahwasanya hadits Jabir tersebut bentuknya adalah bimbingan, bukan wajib.

Fatwa Lajnah Daimah Lil Buhutsil ‘Ilmiyyah Wal Ifta (27/69/ no. 21349): “Perintah-perintah yang datang di dalam hadits ini menurut kebanyakan ulama dibawa ke anjuran dan bimbingan, sebagaimana telah ditetapkan oleh sejumlah ulama, di Antara mereka adalah: Ibnu Muflih dalam “Al Furu’” (1/hal. 132) dan Al Hafizh Ibnu Hajar dalam “Fathul Bari” (11/87). Wallahu a’lam.” Selesai.

Dan penunaian shalat maghrib dan mendengarkan dars di Masjid memiliki maslahat-maslahat yang agung, maka tidak mengapa anak dibawa ke Masjid saat itu dan saat yang lain. ***

-o0o-

Alamandang,

Bagian pertama.

Alhadist Nabi, Maka tahanlah anak-anak kalian, dan tahan juga ternak-ternak kalian sampai hilangnya awal kegelapan Isya. Hadits riwayat Al Bukhariy (3280) dan Muslim (2012) [dari Jabir ra].

Makna dari Alhadist ini adalah luar biasa jelas, yaitu bahwa pada saat Maghrib dan Isya, setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah. Maksud dan tujuan dari amanat Nabi Muhammad Saw tersebut pun juga sudah sangat jelas, yaitu bahwa supaya pada saat Maghrib dan Isya, setiap anak harus tetap di rumahnya untuk shalat Maghrib dan Isya berjamaah diimamkan oleh ayah (atau datuk atau paman) masing masing.

Pada bagian lain, terdapat dua hadist lain yang harus diperhatikan.

Pertama,

Setiap kamu adalah pemimpin atas anak Dan keluarga kamu.

Hadist ini mempunyai arti bahwa setiap laki-laki khususnya para ayah atau suami atau kakek atau paman, harus shalat di rumah untuk menjadi imam atas anak dan keluarganya.

Mungkin pada pagi, dan siang hari para ayah tidak bisa berada di rumah karena bekerja di tempat kerja. Maka dari itu sang ayah tidak dapat shalat di rumah untuk menjadi imam atas anak dan keluarganya. Namun sore hari sang ayah pulang dan kembali berada di rumah. Maka itulah saatnya sang ayah harus shalat berjamaah dan menjadi imam atas anak Dan keluarganya.

Kedua.

Aku (Muhammad saw) hanya mementingkan perjalanan ke tiga tempat ini, yaitu Masjid Haram di Mekah, Mesjidku ini Nabawi, dan Masjid Aqsa di Jerusalem.

Hadist ini mempunyai pesan, bahwa Masjid yang wajib untuk dikunjungi hanyalah ketiga Masjid suci tersebut. Artinya, Masjid selain ketiga Masjid suci tersebut tidak mempunyai keutamaan untuk dikunjungi untuk tujuan shalat, kecuali dalam rangka shalat jumat tentunya.

Sehingga, hadist ini mempunyai arti, bahwa setiap ayah haruslah lebih memilih untuk shalat di rumah untuk menjadi imam atas anak dan keluarganya, ketimbang harus melangkahkan kakinya ke Masjid untuk menunaikan shalat berjamaah di dalamnya, karena Masjid tersebut tidak wajib dijunjungi.

Dengan demikian adalah salah persepsi selama ini yang dianut sebagian besar Muslim bahwa setiap laki-laki harus shalat di Masjid. Kalau setiap laki-laki harus shalat di Masjid, maka kapan mereka menjadi imam atas anak dan keluarganya?

Maka kemudian, bagaimana dengan anak-anak? Nah itulah sebabnya, Nabi menyatakan Alhadist ini, yaitu setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah, supaya dengan demikian sang anak dapat dihimpunkan oleh ayah atau datuk masing-masing di rumah untuk turut shalat berjamaah, khususnya untuk jadwal Maghrib dan Isya.

Alhasil, gabungan ketiga Alhadist ini adalah, bahwa di satu pihak, setiap ayah haruslah shalat di rumah, bukan di Masjid, khususnya untuk jadwal Maghrib, Isya dan subuh, maka di pihak lain, setiap anak pun juga dilarang keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya, supaya dapat shalat berjamaah yang diimamkan oleh ayah atau datuk masing-masing.

Dengan kata lain, tidak ada pertentangan antara ketiga Alhadist tersebut (dan banyak Alhadist lain tentunya). Justru kebalikannya, ketiga Alhadist tersebut malah saling mendukung dan memperkuat shg tercipta satu kesatuan untuk menciptakan satu konsep yang kuat dan jelas, yaitu bahwa setiap keluarga haruslah shalat di rumah, bukan di Masjid.

Maka jelaslah sudah, Alhadist ini (tahanlah anak-anakmu di rumah saat Maghrib dan Isya …. dst), merupakan amanat Muhammad saw supaya setiap keluarga senantiasa shalat di rumahnya dalam keadaan shalat berjamah yang diimamkan oleh ayah mereka masing-masing. Ketiga Alhadist ini merupakan satu kesatuan untuk meneguhkan konsep bahwa sang ayah haruslah shalat di rumah untuk menjadi imam atas anak dan keluarganya.

Kalau masih ada umat yang terus berfikir bahwa setiap laki-laki harus shalat di Masjid (seperti yang selama ini dijalani umat), maka itu berarti ketiga Alhadist ini (dan banyak Alhadist lainnya) akan diingkari dan dilanggar. Dan pada akhirnya, kita harus sampai pada pemahaman final, bahwa setiap rumah umat harus menjadi tempat shalat berjamaah bagi seluruh anggota keluarganya, khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh, demi untuk mengamalkan seluruh amanat dan Alhadist Nabi. Selama ini umat menjadikan Masjid sebagai tempat untuk aktivitas shalat mereka – dengan meninggalkan kewajiban mereka untuk menjadi imam shalat atas anak dan keluarga. Dan tentunya hal ini adalah salah dan sesat, karena yang jelas, hal tersebut tidak logis dan tidak ada dasarnya menurut tuntunan Islam.

Bagian kedua.

Paparan yang dikemukakan pada rubrik tanya-jawab ini menukilkan suatu Alhadist penting di mana Nabi Muhammad saw memerintahkan setiap keluarga untuk menahan anak-anak mereka di dalam rumah khususnya di saat Maghrib dan Isya. Sebenarnya bunyi dan makna dari Alhadist ini sudah begitu jelas, yaitu bahwa setiap keluarga harus memastikan anak-anak mereka tetap berada di dalam rumah saat Maghrib dan Isya (supaya dengan demikian anak-anak dapat berpartisipasi shalat berjamaah dengan ayah mereka, di rumah). Sungguh sangat tidak dibutuhkan ilmu dan daya imaginasi yang tinggi untuk dapat memahami kandungan dan makna Alhadist ini, dikarenakan bunyi dan susunan kata dari Alhadist ini sendiri sudah begitu jelas.

Kalau Alhadist ini berbunyi bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka dalam rumah pada waktu Maghrib dan Isya, maka tentu makna dan pengamalannya jugalah harus demikian, yaitu pada saat datangnya Maghrib dan Isya, maka setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah, supaya tidak keluar rumah. Tidak mungkin ada makna yang lain lagi setelahnya.

Namun pada rubrik ini beberapa ahli tafsir tampak mencoba memberikan tafsir lain, yang mana tafsir tersebut justru menentang makna dan bunyi dari Alhadist yang ditafsir tersebut. Bagaimana mungkin?

Alhadist yang ingin ditafsir berbunyi: tahanlah anak-anakmu di rumah … dst. Dan ternyata kemudian hasil dari penafsiran tersebut adalah: anak-anak boleh keluar rumah …. Ini sungguh menjadi pertanyaan buat logika sehat.

Sama diketahui, bahwa pesan Muhammad saw adalah bahwa supaya setiap keluarga tidak memperbolehkan anak-anak mereka keluar rumah pada jam-jam Maghrib dan Isya. Namun kemudian mengapa tafsir yang diberikan para ahli atas Alhadist tersebut menjadi berupa penentangan nyata atas Alhadist yang ditafsir?

Apakah suatu Alhadist boleh ditentang melalui / oleh penafsirannya sendiri? Haruslah diperhatikan, bahwa kalau memang Muhammad saw merestui dan membenarkan umatnya untuk membiarkan anak-anak mereka keluar rumah saat Maghrib dan Isya, maka mengapa Nabi Muhammad saw harus menyatakan Alhadist tersebut? Bukankah tanpa adanya Alhadist tersebut, umat pun sudah dengan sendirinya membiarkan anak-anak mereka berkeliaran di luar rumah saat Maghrib dan Isya?

Kalaulah memberi ijin anak-anak untuk keluar rumah pada jam-jam Maghrib dan Isya merupakan kebolehan yang diberikan Nabi Muhammad saw, maka kemudian mengapa Muhammad saw menyatakan Alhadist yang demikian? Bukankah hal tersebut harus terlebih dahulu dijawab oleh para ahli tafsir sebelum mereka mengeluarkan hasil tafsir yang demikian?

Pada akhirnya, seluruh umat Muslim harus mengambil kesimpulan mandiri untuk menanggapi / menyikapi tafsiran yang dibuat para ahli tersebut, yaitu bahwa apa yang mereka fatwakan itu merupakan kesesatan, dan sekaligus merupakan pemelintiran dan penjungkir-balikan pesan dan ajaran Nabi Muhammad saw.

Maka dari itu, umat Muslim harus kembali kepada Alhadist tersebut (yaitu: tahanlah anak-anakmu di rumahmu pada saat Maghrib dan Isya …. ), yang mana itu berarti pada saat-saat tersebut, anak-anak Muslim harus ditahan di dalam rumah, jangan keluar rumah, yang tujuannya adalah supaya mereka berpartisipasi dalam shalat berjamaah yang diimamkan oleh ayah mereka masing-masing.

Kalau Muhammad saw menyatakan melalui Alhadis-nya bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka jangan keluar rumah saat Maghrib dan Isya, maka akuilah, bahwa makna dan kandungan dari Alhadist tersebut pun juga demikian, yaitu bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka jangan keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya. Itu sudah jelas, dan para ahli tafsir jangan lagi mencari-cari penafsiran lain untuk mengingkari atau mengkudeta Alhadist tersebut.

Analogi.

Sila pertama pada Pancasila berbunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Semua bangsa Indonesia sudah faham bahwa makna dan kandungan dari sila tersebut adalah bahwa negara dan bangsa Indonesia hanya mengakui satu Tuhan. Dengan demikian, melalui sila tersebut bangsa Indonesia menolak dengan tegas setiap faham yang mengakui adanya banyak Tuhan.

Namun kemudian, datang sekelompok manusia yang mengaku sebagai ahli tafsir. Mereka melakukan tafsir atas sila pertama tersebut. Hasil dari penafsiran mereka adalah, bahwa melalui sila pertama tersebut, sebenarnya negara dan bangsa Indonesia mengakui adanya TUJUH TUHAN.

Bagaimana mungkin? Sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, ternyata mempunyai tafsir yang justru berlawanan dengan sila yang ditafsir? Apakah mungkin dan masuk akal, bahwa suatu penafsiran berlawanan dengan yang ditafsir?

Kalau memang benar bahwa NKRI mengakui adanya tujuh Tuhan, maka lantas mengapa negara ini harus mempunyai sila tersebut dalam dasar negaranya? Bukankah itu mubazir? Bukankah itu akan menjadi lelucon murahan?

Bagian ketiga.

Artikel ini mengajukan suatu wacana, di mana adanya suatu Alhadist yang mengajarkan bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah saat Maghrib dan Isya. Kemudian disusul dengan mengusung penafsiran dari para ahli bahwa Alhadist tersebut boleh dan sah untuk dilawan, yaitu dengan menggunakan Alhadis lain untuk menggugurkan Alhadis dimaksud. Bagaimana mungkin logika seperti ini dapat diterima?

Kaum Muslim yang mengaku sebagai ahli tafsir (pada rubrik ini) sengaja dan berniat mengingkari makna dan kandungan dari Alhadis ini, dengan menggunakan Alhadis lainnya. Ini berarti, terdapat gejala di mana para ahli mencoba menggunakan satu Alhadis untuk melawan Alhadis lainnya. Maka kemudian, apakah dapat dibenarkan oleh logika, di mana satu Alhadis dapat digunakan untuk melawan Alhadis lainnya?

Pada satu bagian, mereka para ahli tafsir menulis,

“ …….. Tapi telah datang dalil-dalil yang banyak tentang perlindungan dengan dzikir kepada Allah. Di antaranya adalah: perlindungan khusus bagi anak-anak, seperti hadits Ibnu Abbas ra yang berkata:

Dulu Nabi saw melindungi Hasan dan Husain dan berkata: “Sesungguhnya ayah kalian (yaitu Ibrahim as) dulu melindungi Isma’il dan Ishaq dengan doa ini: (yang artinya) “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa dan dari setiap mata pencela” (HR. Al Bukhariy (3371)). ……”.

Keterangan.

Tampak sekali, bahwa pada bagian ini, para ahli mencoba untuk membenturkan antara:

  1. Alhadis bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya.

………………. dengan ……………….

  1. Alhadis Nabi seperti pada HR. Al Bukhariy (3371) di atas.

Bagaimana mungkin Muhammad Saw mengijinkan umat pengikutnya untuk membenturkan antara satu Alhadis dengan Alhadis lainnya, sementara keseluruhan Alhadis tersebut berasal dari diri Nabi Muhammad Saw sendiri? Apakah mungkin Nabi Muhammad Saw mengajarkan begitu banyak Alhadis yang kelak akan saling berbenturan satu dengan yang lainnya?

Pun sama difahami, bahwa makna dari Alhadis No. 3371 ini adalah bahwa doa tersebut untuk melindungi kanak-kanak Ismail dan Ishak (maknanya untuk seluruh anak Muslim di segala jaman secara umum), namun kemudian, untuk melindungi mereka pada saat Maghrib dan Isya, maka caranya adalah dengan tetap berdiam di dalam rumah.

Intinya, kalau di satu pihak Muhammad Saw menyatakan Alhadis No. 3371 Bukhari ini, maka di lain pihak, Alhadis No. 3280 Bukhari merupakan ajaran yang spesifik mengenai perlindungan terhadap Setan untuk anak-anak. Tidak bisa diperbenturkan.

Pada Alhadis No. 3280 Bukhari ini, Muhammad Saw telah memberi ajaran yang spesifik dan matang mengenai perlindungan anak-anak dari Setan (yaitu dengan diam di dalam rumah saat Maghrib dan Isya), maka kemudian mengapa harus dimentahkan lagi dengan menyosorkan Alhadis No. 3371 Bukhari ini? Kedua Alhadis ini bukanlah untuk diperbenturkan (satu dengan yang lainnya), melainkan untuk (saling) mematangkan.

Kalau sudah jelas bahwa anak-anak akan mendapat perlindungan dari Setan dengan cara diam di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya (Alhadis No. 3280 Bukhari), maka kemudian mengapa anak-anak tersebut harus dikeluarkan dari rumah pada saat tersebut supaya terpapar Setan, dan kemudian supaya harus berdoa supaya tidak diganggu Setan (dengan berdasarkan Alhadis No. 3371 Bukhari)? Apakah hal tersebut efisien menurut logika? ***

Kemudian, pada bagian lain, mereka para ahli tafsir menerangkan lebih lanjut,

“ ……….. Dan anak-anak diajari dzikrullah ketika keluar rumah.

Dari Ummu Salamah ra. yang berkata:

Tidak pernah Nabi saw keluar dari rumahku sama sekali kecuali beliau mengangkat pandangan mata beliau ke langit seraya berdoa (yang artinya): “Ya Allah sungguh saya berlindung kepadaMu dari tersesat atau disesatkan orang, tergelincir atau digelincirkan orang, atau menzhalimi atau dizhalimi orang, atau berbuat bodoh, atau ada orang berbuat badah terhadapku” (HR. Abu Dawud (5094) dan At Tirmidziy (3427) / shahih). …..”.

Keterangan.

Dengan demikian, para ahli tafsir ini, ingin membenturkan antara Alhadis No. 3280 Bukhari ini dengan Alhadis No. 5094 Abu Dawud.

Ingatlah, bahwa Alhadis No. 5094 Abu Daud ini merupakan Alhadis yang cakupannya begitu umum, tidak mengenai saat Maghrib – Isya, dan tidak mengenai anak-anak. Setiap saat umat Muslim memang diajarkan dan diwajibkan untuk memanjatkan doa supaya dilindungi dari godaan Setan, namun yang jelas Alhadis No. 3371 Bukhari ini telah mempunyai autoritas dan cakupannya sendiri, yaitu untuk anak-anak dan di saat Maghrib – Isya. Tidak mungkin menurut logika, anak-anak yang sudah terjamin aman dari Setan dengan cara diam di dalam rumah, tiba-tiba harus dikeluarkan dari rumah supaya terpapar Setan, dan kemudian supaya berdoa diselamatkan dari Setan. Hal tersebut sungguh tidak efisien. Kalau jaminan aman sudah ada, maka mengapa harus ambil resiko untuk mencari bahaya lain? ***

Begitu juga dengan Alhadis lainnya yang digunakan para ahli tafsir untuk menjungkirbalikkan Alhadis bahwa setiap keluarga harus menahan anak-anak mereka di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya.

Pada dasarnya, kalau memang benar bahwa anak-anak boleh keluar rumah saat Maghrib dan Isya – berdasarkan beberapa Alhadis ini:

  1. Dulu Nabi saw melindungi Hasan dan Husain dan berkata: “Sesungguhnya ayah kalian (yaitu Ibrahim as) dulu melindungi Isma’il dan Ishaq dengan doa ini: (yang artinya) “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa dan dari setiap mata pencela” (HR. Al Bukhariy (3371)).
  2. Tidak pernah Nabi saw keluar dari rumahku sama sekali kecuali beliau mengangkat pandangan mata beliau ke langit seraya berdoa (yang artinya): “Ya Allah sungguh saya berlindung kepadaMu dari tersesat atau disesatkan orang, tergelincir atau digelincirkan orang, atau menzhalimi atau dizhalimi orang, atau berbuat bodoh, atau ada orang berbuat badah terhadapku” (HR. Abu Dawud (5094) dan At Tirmidziy (3427) / shahih).
  3. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa ketika keluar rumah dia berkata: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal pada Allah. Dan tiada upaya dan tiada daya kecuali dengan pertolongan Allah”. Dikatakan padanya: “Engkau telah dicukupi, dan engkau telah dilindungi”. Dan setan menyingkir darinya” (HR. At Tirmidziy (3426)).
  4. “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa singgah di suatu per-singgahan lalu dia berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan” (HR. Muslim (2708).
  5. Ada orang datang pada Nabi saw seraya berkata: “Wahai Rasulullah, alangkah menyakitkannya apa yang saya dapati dari kalajengking yang menyengat saya tadi malam”. Maka beliau bersabda: “Adapun andaikata engkau ketika masuk di waktu sore berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan”.  Niscaya dia tak akan membahayakanmu” (HR. Muslim (2709)).

…… maka kemudian mengapa Muhammad Saw pada saat yang lain harus menyatakan Alhadis yang ini:

Maka tahanlah anak-anak kalian, dan tahan juga ternak-ternak kalian sampai hilangnya awal kegelapan Isya”. Hadits riwayat Al Bukhariy (3280) dan Muslim (2012) [dari Jabir ra].

Kalau dicermati dengan baik, sebenarnya Nabi Muhammad Saw tidak perlu mengemukakan Alhadis seperti yang dicatat pada Bukhari No. 3280 ini, karena keselamatan dan keamanan anak-anak dari godaan Setan sudah terjamin melalui Alhadis No. 1 sd No. 5 di atas. Artinya, kalau keselamatan dan keamanan anak-anak sudah terjamin dengan doa, seperti yang dilukiskan melalui Alhadis dari No. 1 sd No. 5 ini, maka Alhadis No. 3280 Bukhari sudah tidak diperlukan lagi. Dan itu artinya, setiap anak-anak boleh dan sah untuk keluar rumah di saat Maghrib dan Isya. Itu jelas.

Namun faktanya, Muhammad Saw telah mengajarkan dan menyatakan Alhadis-nya seperti yang dicatat dengan No. 3280 Bukhari, kendati sudah ada Alhadis lain seperti yang dinomorkan No. 1 sd No. 5 di atas. Ini berarti, Muhammad Saw mengajarkan harus adanya perlakuan berbeda untuk anak-anak pada saat Maghrib dan Isya. … yaitu bahwa setiap anak-anak tidak boleh keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya. Dan ini tidak ada hubungannya dengan titah Nabi Muhammad Saw mengenai doa dan dzikir untuk menjauhkan diri dari gangguan Setan.

Nabi Muhammad Saw tidak pernah memberi peluang dan kemungkinan kepada umatnya untuk dapat mengakali mau pun melawan Alhadis Bukhari 3280 ini (juga Alhadis lainnya). Kalau Muhammad Saw memberi peluang dan idea kepada umatnya untuk melawan Alhadistnya ini, maka buat apa Muhammad Saw menyatakan Alhadis tersebut pada saat pertama? Bukankah itu mubazir?

Alhadis No. 3280 Bukhari ini melukiskan adanya jaminan keamanan dan keselamatan untuk anak-anak dari gangguan Setan, selama mereka tetap berada di dalam rumah, pada saat Maghrib dan Isya. Maka kemudian mengapa ada sebagian Muslim yang berkeinginan supaya anak-anak dibolehkan keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya, sehingga dengan demikian anak-anak akan terpapar Setan, dan kemudian supaya anak-anak berdoa terhadap gangguan Setan? Bukankah jaminan keselamatan dan keamaan dari gangguan Setan sudah ada dan terjamin di dalam rumah?

Bagian keempat.

Pada saat pertama Nabi Muhammad Saw bersabda, “Tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya …… dst”. Alhadis ini mengajarkan umat Muslim supaya melarang anak-anak mereka keluar rumah pada saat tersebut, supaya mereka justru dapat berpartisipasi di dalam shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah mereka.

Namun pada saat kemudian, beberapa ahli tafsir memfatwakan, bahwa Alhadis Nabi ini dapat dilawan, dapat dilanggar, dapat diakali, dengan menggunakan Alhadis lainnya, yaitu seperti Alhadis membaca doa dan dzikir saat keluar rumah supaya terbebas dari fitnah Setan dan Iblis.

Benarkah demikian?

Sudah jelas Alhadis Nabi saw, bahwa setiap keluarga harus melarang anak-anak mereka keluar rumah saat Maghrib dan Isya, dan perbuatan yang melanggar ajaran tersebut pastilah akan dikatakan sebagai perbuatan yang haram dan nista, karena telah mendurhakai titah Nabi Muhammad Saw.

Dan sekarang ada pertanyaan, dapatkah para ahli fatwa dibenarkan dengan tindakan mereka, yaitu menggunakan satu Alhadis untuk melawan Alhadis lainnya? Dan dapatkah dibenarkan, bahwa suatu perbuatan yang jelas-jelas diharamkan menurut suatu Alhadis, dapat DIHALALKAN dengan memperbanyak doa dan dzikir?

Mudahnya begini.

Jelas sekali Islam mengharamkan umatnya berzina: terdapat banyak Alhadis yang mengutuk zina. Namun kemudian apakah akhirnya berzina dapat dibenarkan dengan cara / melalui memperbanyak doa, membaca Alquran, shalat sunnah, dan dzikir?

Jelas sekali Islam mengharamkan umatnya meminum arak. Namun kemudian apakah akhirnya meminum arak dapat dibenarkan dengan cara / melalui memperbanyak doa, membaca Alquran, shalat sunnah, dan dzikir?

Tidak perlu dijabarkan, bahwa doa, shalawat, mengaji, berdzikir dsb tidak pernah dimaksudkan untuk tujuan menghalalkan kemaksiatan, untuk menentang ajaran Nabi Muhammad Saw sendiri. Kalau sudah jelas bahwa berzina, meminum arak, berjudi, perbuatan syirik dsb merupakan perbuatan maksiat yang terlarang dan dikutuk Nabi Muhammad Saw, maka itu berarti tidak ada satu amalan pun (seperti doa, shalawat, mengaji, berdzikir dsb) yang dapat menghalalkannya.

Kalau ada sebagian ahli tafsir berpendapat ajaran Muhammad Saw menahan anak-anak di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya BOLEH DITENTANG dengan cara memperbanyak doa dan dzikir, maka mau-tidak-mau implementasinya adalah, pengharaman atas berzina, meminum arak, makan daging babi dan kemaksiatan lainnya pun juga dapat dihalalkan dengan memperbanyak doa, dzikir, shalat sunnah, mengaji dsb. Apakah itu mungkin?

Sampai di sini pun sudah jelas, bahwa titah Nabi Muhammad Saw mengenai perintah untuk menahan anak-anak di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya, tidak dapat dijungkirbalikkan sehingga menjadi membolehkan anak-anak keluar rumah, dengan cara memperbanyak doa mau pun zikir. Demikianlah logika bertitah.

Bagian kelima.

Tampaknya para ahli tafsir mempunyai kecenderungan kuat untuk memberikan tafsir / fatwa bahwa anak-anak diperbolehkan keluar rumah saat Maghrib dan Isya, khususnya untuk tujuan menghadiri shalat berjamaah di Masjid, kendati tuntunan dari Muhammad Saw sudah jelas di dalam hal ini, yaitu bahwa setiap anak dilarang keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya, UNTUK TUJUAN APAPUN …. termasuk untuk tujuan shalat berjamaah di Masjid.

Anak-anak jangan keluar rumah saat Maghrib dan IsyaPara ahli tampaknya sudah terlanjur terkooptasi dan terkonsumsi oleh PRA-PERSEPSI oleh suatu faham, yaitu bahwa shalat yang baik dan ideal haruslah ditunaikan di Masjid, bukan di rumah. Inilah kesalahan awal yang diderita para ahli – saat mereka menafsirkan Alhadis “tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya ...” ini.

Dikarenakan mereka terkooptasi oleh pemikiran bahwa shalat yang ideal haruslah ditunaikan di dalam Masjid, maka hal tersebut mengakibatkan mereka berbenturan dengan Alhadis Nabi ini, yaitu “tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya ...” ini. Mereka melihat adanya kontradiksi, antara shalat yang ideal (yaitu ditunaikan di Masjid, menurut fikiran mereka), dengan titah Nabi bahwa anak-anak harus dilarang keluar rumah pada saat Maghrib dan Isya.

Oleh karena itu, untuk ‘mengakali’ titah dari Alhadis tersebut, akhirnya mereka mencari-cari dalih dan dalil untuk melawan Alhadis Nabi tersebut (padahal saat Maghrib dan Isya setiap anak-anak harus dicegah keluar rumah), demi untuk bisa shalat di Masjid. Padahal tidak ada ketentuan dan keharusan bagi setiap Muslim untuk shalat di Masjid, baik untuk para dewasa mau pun anak-anak. Hasilnya, lahirlah beberapa statement dan fatwa dari kalangan mereka, yaitu bahwa anak-anak DIBOLEHKAN keluar rumah saat Maghrib dan Isya, dengan cara mereka harus perbanyak membaca doa dan dzikir.

Umat Muslim, khususnya para ahli tafsir, justru seharusnya melihat, bahwa Alhadis Nabi ini (tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya …) merupakan sinyal bahwa yang dikehendaki oleh Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw mengenai pengamalan shalat adalah, bahwa shalat haruslah ditunaikan di rumah, bukan di Masjid.

Pentup.

Sama diketahui bahwa tidak ada satu pun tuntunan, khususnya berupa Alhadis, yang menekankan bahwa shalat seharusnya (dan sebaiknya) ditunaikan di Masjid. Kebalikannya, terdapat banyak Alhadis yang menyatakan bahwa shalat sebaiknya ditunaikan di rumah, apalagi ditunaikan bersama anak-anak dan keluarga, di dalam apa yang dinamakan dengan shalat berjamaah. Namun melihat begitu banyak umat mau pun ulama yang mempunyai ‘firasat’ alias terkooptasi oleh tradisi shalat terbaik haruslah ditunaikan di Masjid, tentu menjadi perkara lain – yang tidak ada hubungannya dengan tuntunan Nabi Muhammad Saw.

Dan kemudian, Alhadis ini, tahanlah anak-anakmu di dalam rumah pada saat Maghrib dan Isya, merupakan salah satu Alhadis yang meneguhkan ajaran Islam, bahwa shalat idealnya harus ditunaikan di rumah, bersama antara ayah / suami sebagai Imam, dengan anak-anak dan keluarga sebagai makmum shalat.

Tidak pelak lagi, Alhadis ini merupakan petunjuk bahwa shalat harus ditunaikan di rumah, bagi anak-anak. Dan kemudian bagi para orang dewasa (khususnya para ayah dan suami / datuk / paman dsb), shalat pun juga harus di rumah, untuk menjadi Imam atas anak-anak dan keluarga, karena memang sudah ada Alhadisnya untuk itu, yaitu,

  1. Setiap kamu adalah Imam / pemimpin atas anak-anak dan keluarga kamu.
  2. Terangilah rumah-rumah kalian dengan shalat dan mengaji.
  3. Aku (Muhammad saw) hanya mementingkan perjalanan ke tiga tempat ini, yaitu Masjid Haram di Mekah, Mesjidku ini Nabawi, dan Masjid Aqsa di Jerusalem. Makna dari Alhadis ini adalah, bahwa selain dari ketiga Masjid tersebut, adalah tidak mempunyai keutamaan dan fadilah untuk dishalati. Artinya, setiap umat haruslah shalat di rumah, bukan di Masjid, untuk supaya menjadi Imam atas anak-anak dan keluarganya.

Kesimpulan.

Adanya tafsir sementara para ahli, yang memelintir Alhadis Nabi Muhammad Saw “tahanlah anak-anak kalian di rumah pada saat Maghrib dan Isya”, benar-benar harus dijauhi dan dihindari dari kehidupan ini. Semua implementasi yang diberikan kepada tafsir ini pasti mendatangkan dosa di sisi Allah Swt.

Alhadis tersebut, pasti mau-tidak-mau berarti bahwa setiap keluarga harus melarang anak-anak mereka keluar rumah, maka impementasinya jugalah demikian. Bukan sebaliknya, yaitu MEMBOLEHKAN anak-anak keluar rumah, dengan menggunakan berbagai macam dalih dan teori yang dipaksakan.

Kembalikanlah bunyi Alhadis tersebut kepada diri Nabi Muhammad Saw, bukan kepada kehendak dan prasangka para ahli tafsir. Ingatlah, bahwa para ahli tafsir adalah manusia juga adanya, mereka bukanlah para Nabi, dan mereka bukanlah para Malaikat.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.

Syariah Islam Versus Jam Malam

heningMaha besar Allah Swt Yang telah memperedarkan malam dan siang, malam yang gelap gulita berhiaskan rembulan perak, dan bintang gemintang nan bertaburan; dan siang terang benderang yang berhias mentari yang kilau kemilau.

Tidaklah Allah Swt memperedarkan malam dan siang itu, dua hal yang saling bertolak belakang secara frontal, kecuali pada kedua hal tersebut Allah Swt telah mengiringi keduanya dengan hikmat untuk maslahat umatNya.

Mengapa Allah Swt menciptakan siang sebagai suatu hal yang terang benderang, yang dikawal matahari yang kilau cahayanya tidak dapat dikalahkan oleh pijar lilin mana pun? Dan mengapa pada siang hari itu, seluruh anak manusia berkeinginan untuk bekerja memperoleh rejeki, dan ingin membereskan seluruh pekerjaan mereka sebaik mungkin?

Kemudian, mengapa Allah Swt menciptakan malam gelap gulita, kalaupun ada cahaya maka hanya lamat-lamat yang dipancarkan rembulan perak, sementara gemintang tidak dapat menghempaskan bayang benda ke atas tanah? Dan mengapa, malam membuat manusia ingin berbaring di atas pembaringan? Mengapa ketika malam menjelang anak-anak manusia ingin tidur dan beristirahat, sehingga senyaplah pelataran kampung dan sepanjang jalan kota?

Islam sesuai fitrah.

Secara fitrah, manusia selalu mengasosiasikan siang sebagai tempat / saat untuk bekerja, dan juga untuk memperbaiki keadaan. Seluruh manusia mempunyai nurani, bahwa siang adalah saat untuk melelahkan badan untuk segala hal yang bermanfaat, untuk dirinya, masyarakatnya, negaranya, dan agamanya.

Dan akhirnya, fitrah jugalah, nurani jugalah, yang membuat manusia berfikir bahwa malam merupakan tempat dan saat beristirahat di rumah, berkumpul bersama anak, keluarga dan handai-taulan. Malam-lah saat mereka menikmati rejeki yang mereka peroleh pada siang harinya dengan bersusah payah.

Islam merupakan satu-satunya agama di dalam kehidupan ini yang sesuai fitrah manusia. Di dalam hal ini, fitrah manusia adalah menjadikan siang sebagai tempat untuk bekerja mencari nafkah dan membangun bangsa, kemudian menjadikan malam sebagai tempat untuk beristirahat dan menikmati rejeki yang mereka peroleh pada siang harinya.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Ar-rum, 30:30).

Tidak pernah Islam menghadirkan dirinya untuk menentang fitrah. Dan dari sini, Islam menyerukan umatnya untuk berteguh dengan fitrah. Jadi bukan saja Islam itu selalu bersesuaian dengan fitrah, Islam juga memerintahkan umatnya untuk hidup menurut fitrah, jangan pernah menentang dan melanggar fitrah tersebut.

Oleh karena itu, mengenai siang dan malam ini, manusia sudah sepatutnya konsisten dengan fitrah mereka: jadikanlah siang sebagai tempat untuk bekerja dan mencari nafkah, dan kemudian menjadikan malam sebagai tempat untuk beristirahat dan bercengkrama dengan keluarga di rumah.

Manusia mulai melanggar fitrah.

Terdapat kecenderungan dewasa ini, di mana ada segolongan manusia yang menjadikan malam sebagai kesempatan / peluang mereka untuk bekerja mencari uang dan penghasilan. Mereka banyak yang membuka usaha restoran, membuka usaha transportasi, membuka usaha pertunjukan hiburan, membuka toko dan pasar, menjalankan profesi sebagai tenaga pengaman, dsb.

Dengan adanya peluang memperoleh uang pada malam hari ini, yaitu dengan adanya restoran yang buka malam hari, atau bisnis transportasi pada malam hari, atau panggung hiburan, maka pada babak berikutnya mengakibatkan golongan masyarakat lainnya tersedot untuk keluar rumah pada malam hari untuk menikmati malam, menikmati restoran di malam hari, atau berjual-beli, atau menikmati panggung hiburan, yang keseluruhan itu juga ditunjang adanya bisnis transportasi.

Malam, yang seharusnya tempat anak manusia beristirahat, telah diselewengkan oleh segolongan manusia untuk mencari keuntungan finansial. Pada fenomena ini terdapat fakta bahwa pada akhirnya umat manusia sudah tidak lagi istiqomah (konsisten) dengan fitrah. Mereka tampak tergesa-gesa untuk menyimpangi fitrah, yaitu tergesa-gesa keluar rumah pada malam hari untuk memenuhi kerumunan manusia, kemudian melakukan transaksi finansial di tempat-tempat restoran atau hiburan malam. Tidak jarang mereka pulang ke rumah pada saat malam sudah larut sekali, dan sesampai di rumah mereka sudah mendapati tubuh mereka begitu lelah.

Pada awalnya, umat manusia taat akan fitrah, dan pada setiap saat mereka berkata, malam merupakan kuil yang disediakan Tuhan untuk beristirahat. Kala itu mereka teguh memegang pendirian tersebut. Namun, sejak ditemukan listrik, mobil, lampu, manusia mulai membenci fitrah tersebut, bahkan mulai melawan fitrah, dan melawan Hukum alam. Caranya adalah dengan keluar rumah pada malam hari, dan enggan menjadikan malam sebagai tempat untuk beristirahat di rumah. Hanya karena ditemukan listrik dan kendaraan yang hangat, mereka mulai membunuhi fitrah. Dan ini artinya, manusia tidak lagi berminat untuk tetap menjadi ‘seorang penguasa yang konsisten’ dengan kata-katanya sendiri. Hanya segitulah kekuatan manusia dengan kata-katanya sendiri, betapa manusia mahluk rapuh, hanya dengan sedikit hempasan kemajuan jaman berupa listrik dan kendaraan, manusia mulai mengingkari fitrah, dan limbung kepada kehancurannya sendiri.

Bagaimana mereka dapat memelihara kejiwaan mereka? Bagaimana mereka dapat memelihara kebugaran? Dan bagaimana mereka dapat memelihara kewarasan? Malam yang seharusnya tempat mereka mengumpulkan kesegaran dan kewarasan, telah mereka ubah menjadi tempat untuk berhura-hura di luar rumah.

Tanpa mereka sadari, mereka telah melanggar fitrah. Dan tanpa mereka sadari pula, mereka telah mencabik-cabik hak tubuh mereka, yaitu hak untuk beristirahat. Di dalam hal ini, Muhammad Saw telah bersabda,

“Tubuhmu juga mempunyai hak atas dirimu”.

Arti dari Alhadis ini adalah, bahwa tubuh mempunyai hak yang proporsional untuk istirahat di malam hari. Ketika tubuh bekerja di siang hari dengan seluruh kekuatan dan tenaga yang ada, maka pada malam harinya tubuh butuh istirahat, untuk dtempatkan pada suasana yang hening dan tenang. Tempat itu adalah rumah yang dikelilingi anak dan keluarganya. Namun kemudian ternyata manusia telah mengingkari hak tubuh, dengan cara membawa sang tubuh ke luar rumah, hanya untuk mereguk kenikmatan duniawi di malam hari.

Jam malam, amanat Islam.

Sungguh, Allah Swt melalui Alquran dan Alhadis RasulNya, telah menggariskan bahwa malam merupakan tempat untuk beristirahat, bukan tempat untuk bekerja mencari penghasilan. Di dalam kaitan ini, malam hanya dapat digunakan untuk tiga tujuan yang bernuansa penguatan jiwa dan raga, yaitu:

  1. Beristirahat di rumah;
  2. Atau beribadah mendekatkan diri kepada Allah Swt di rumah;
  3. Atau bercengkrama dengan keluarga di rumah;

Adalah suatu kesesatan untuk menggunakan malam di luar ketiga tujuan di atas, seperti keluar rumah untuk mengunjungi restoran, atau menikmati hiburan, atau berbelanja, atau bekerja mencari uang tambahan.

Singkat kata, Islam menerapkan sistem jam malam kepada umatnya, jam malam yang berarti bahwa sebaiknya umat pada malam hari tidak keluar rumah, melainkan tetap tinggal di dalam rumah, yang bertujuan untuk beristirahat, atau beribadah bersama keluarga untuk mempertahankan dan meningkatkan kesalehan, atau pun bercengkrama dengan keluarga. Pada malam hari itulah, sang ayah akan memperhatikan anak-anaknya, dan anak-anak pun akan terhindar dari pergaulan malam yang menyesatkan.

Malam untuk bekerja mencari rejeki?

Ada yang berpendirian, bahwa pada siang hari mereka bekerja mencari rejeki, namun malam juga mereka lewatkan untuk mencari rejeki (tambahan). Ingatlah, bahwa rejeki sudah ada yang mengatur, yaitu Allah Swt. Dan kalau dikatakan bahwa rejeki yang didapat pada siang hari tidak mencukupi, maka harus dipertanyakan kepada mereka, apakah uang pernah ada cukupnya? Seberapa banyak uang yang mereka peroleh, toh tidak akan pernah ada cukupnya. Hanya keserakahan-lah yang menggiring manusia keluar rumah pada malam hari untuk bekerja mencari rejeki.

Oleh karena itu, seseorang tidak mempunyai alasan untuk menjadikan malam sebagai saat untuk mencari uang. Sebenarnya-lah, rejeki yang mereka dapat pada siang hari sudah mencukupi mereka, namun keserakahan telah menuntut lain yang berlebihan. Dan itu hanya karena telah ditemukan listrik, lampu dan kendaraan.

Pada jaman yang penuh penyimpangan ini, banyak ditemui manusia yang sudah kehilangan kewarasan, dan juga sudah hilang fleksibilitas. Mulai ditemukan banyak penyakit yang menggejala di tengah masyarakat. Banyak orang yang berkata, bahwa jaman sekarang ini adalah jaman edan, alias jamannya orang sudah gila, gila massal, karena tidak lagi faham mana kaki mana kepala, mana anak dan mana tetangga. Benar sekali, jaman sekarang sudah dapat dikatakan sebagai jaman edan. Itu semua disebabkan pada malam hari mereka tidak beristirahat yang cukup. Yang mereka cari hanya uang, uang dan uang. Padahal Allah Swt telah berfirman bahwa malam hanya untuk beristirahat, bukan untuk bekerja mencari rejeki.

Tinjauan Alquran.

Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha (25:47).

Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (27:86)

Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (28:72).

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya (28:73).

Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (40:61).

Ayat-ayat di atas sudah bertitah, bahwa Allah Swt berkehendak bahwa umat Muslim tidak menjadikan malam kecuali sebagai saat untuk beristirahat, bukan untuk bekerja, karena saat untuk bekerja adalah siang hari.

Apakah ayat-ayat Alquran di atas mempunyai arti lain, yaitu bahwa umat manusia dapat menjadikan malam sebagai saat untuk bekerja dan berusaha mencari uang? Sudah jelas bahwa ayat-ayat Alquran tidak mempunyai arti lain, kecuali bahwa seluruh Muslim harus memperlakukan malam sebagai saat untuk beristirahat (dan juga untuk ibadah), dan ini berarti Allah Swt akan menjatuhkan dosa dan laknatNya kepada siapa saja yang menyalah-gunakan malam.

Kalaulah memang Allah Swt ridha umat bekerja di malam hari, umat menggunakan malam hari sebagai tempat untuk berusaha buat penghasilan, maka mengapa Allah Swt menurunkan ayat-ayat sedemikian seperti yang di atas? Sungguh ayat Alquran tidak dapat lagi diubah oleh siapa pun, dan itu artinya siapa pun juga tidak boleh mengubah makna dari ayat-ayat Alquran tersebut.

Ayat berikut ini,

Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, (78:11).

Pada ayat Alquran 78:11 ini, Allah Swt menitahkan, bahwa tempat dan saat untuk mencari penghidupan, yaitu bekerja mencari penghasilan, adalah siang. Ayat ini tidak menyebut malam untuk tujuan tersebut, melainkan siang. Maka dari itu mengapa ada sebagian umat yang mempergunakan malam sebagai tempat dan saat untuk bekerja mencari penghidupan? Nyata sekali, bahwa menggunakan malam sebagai saat untuk bekerja, merupakan penyimpangan terhadap firman Allah Swt. Dan tidak ada satu pun ayat khususnya di dalam Alquran yang menyatakan bahwa umat boleh menggunakan malam sebagai saat untuk bekerja mencari rejeki.

Ayat berikut di bawah ini,

Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, (113:3).

Ayat ini bertitah bahwa malam selalu mempunyai kejahatan bagi siapa saja yang keluar rumah pada malam hari. Tidak ada yang dapat menyangkal kandungan ayat ini, maka dari itu tidak ada juga yang dapat menyangkal makna dari ayat ini, bahwa setiap malam mempunyai kejahatannya sendiri. Terlebih, tidak ada satu pun manusia yang dapat menyangkal fakta bahwa selama ini malam memang selalu mempunyai kejahatan bagi manusia yang keluar rumah padanya.

Terdapat dua jenis kejahatan malam yang telah menunggu umat manusia, yaitu kejahatan sosial dan kejahatan spiritual. Kejahatan spiritual malam adalah, di mana manusia yang selalu keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam (dengan tidak menggunakan malam sebagai moment untuk istirahat dan beribadah di rumah) akan berubah menjadi manusia yang hedonis, manusia yang hanya memikirkan harta dan kekayaan, manusia yang tidak lagi memperdulikan Haram dan halal, manusia yang menganggap agama hanya festival yang diselenggerakan di dalam rumah ibadah, manusia yang gersang dari nilai kesalehan dan ketuhanan, manusia yang egois, dsb.

Malam merupakan saat yang tepat bagi seluruh keluarga untuk beristirahat di dalam rumah, karena pada saat yang bersamaan, di luar rumah, malam telah siap dengan segala jenis kerusakan dan kemaksiatan sosial yaitu:

  • Ajang perzinahan, prostitusi, striptis.
  • Ajang mabuk-mabukan.
  • Ajang menghambur-hamburkan uang.
  • Ajang bermain judi.
  • Penggunaan narkoba.
  • Kehidupan malam menjauhkan umat dari kesalehan, dan mendekatkan kepada keduniawian.
  • Menjauhkan keluarga dari nilai kesederhanaan, ibadah dan kekhusyukan.
  • Menimbulkan kelelahan jiwa dan raga.

Melalui ayat ini Allah Swt bertitah bahwa satu-satunya cara untuk terhindar dari kejahatan malam adalah tidak keluar rumah pada malam hari, melainkan tinggal dan beristirahat di dalam rumah bersama keluarganya hingga fajar menjelang.

Dengan mensyariahkan jam malam ini, maka Allah Swt berkehendak bahwa pada saat malam kota menjadi kota mati, desa menjadi desa mati, karena tidak ada lagi aktivitas di luar rumah, karena pada saat itu seluruh manusia berdiam di dalam rumah untuk beristirahat, atau beribadah mau pun bercengkerama dengan keluarga.

Mengapa Islam mensyariahkan jam-malam, karena berdasarkan lima hal:

  1. Malam adalah saat untuk beristirahat. Ini adalah fitrah. Ini adalah Hukum alam.
  2. Rejeki tidak bisa dipaksakan, dan seberapa rejeki yang didapat pada siang hari, harus disyukuri. Ingatlah, bahwa manusia tidak pernah puas dengan seberapa banyak rejeki yang diperoleh.
  3. Malam mempunyai kejahatannya sendiri.
  4. Tidak ada kesalehan yang didapat umat dari kehidupan malam di luar rumah, melainkan justru mendekatkan umat manusia pada hedonisme dan hubud-dunya, yaitu cinta-dunia. Kebalikannya, saat yang tepat bagi umat untuk memperkuat ruhani dan kesalehan adalah malam hari, yaitu banyak beribadah pada malam hari di rumah bersama keluarga.
  5. Ingatlah, bahwa kehidupan malam mempunyai kontribusi terbesar atas terjadinya fenomena jaman-edan. Bagaimana tidak edan? Siang mereka bekerja mencari rejeki, malam pun juga mereka gunakan untuk mencari rejeki. Itu artinya siang malam mereka jungkir-balik mencari rejeki, dan tidak ada lagi waktu untuk mengistirahatkan jiwa-raga mereka, dan tidak ada waktu untuk kesalehan dan ibadah, tidak ada lagi waktu untuk bercengkerama dengan anak dan keluarga, dan tidak ada lagi waktu untuk bermunajat kepada Allah YME. Semakin banyak uang yang mereka peroleh (karena bekerja juga di malam hari) maka semakin tamaklah mereka, apalagi ditunjang dengan putusnya akses mereka dengan santapan rohani berupa istirahat jiwa-raga, ibadah malam dan bermunajat kepada Tuhan, yang membutuhkan suasana hening, maka makin edanlah mereka, makin jauhlah mereka dari Tuhan, kewarasan dan kesalehan.

Biarlah malam menjadi sepi dan senyap, karena memang itulah fitrah manusia, dan karena memang itulah skenario alam semesta.

Biarlah saat malam manusia diam di rumah, untuk istirahat dan bercengkerama dengan keluarga. Dengan berdiam di rumah (mulai senja hingga subuh menjelang), maka terjagalah kesederhanaan dan kesalehan mental dan nurani seluruh manusia.

Dengan adanya jam malam ini maka tercapailah maksud ketuhanan, yaitu efisiensi yang sangat signifikan atas dinamika kehidupan baik kota mau pun desa. Syariah jam-malam akan menghemat bahan bakar, menghemat listrik, energi, tenaga, dan mengurangi polusi. Ketahuilah bahwa jam malam yang dapat menghemat banyak sumberdaya ini, sedikit pun tidak akan mengubah atau mengurangi rejeki.

Malam adalah moment ibadah keluarga.

Pada banyak bagian di dalam Alquran, Allah Swt menurunkan sinyalemen bahwa malam lebih baik digunakan untuk beribadah. Ingatlah, Alquran menegaskan bahwa ibadah-malam mempunyai efek ketenangan yang luarbiasa, oleh karena itu manusia dapat berharap banyak dari malam yang diibadahi, untuk kemapanan dan stabilitas ruhani. Apapun agama yang dianut seorang manusia, ibadah-malam merupakan solusi terindah untuk tujuan tersebut. Demikian seperti yang dititahkan Allah Swt di dalam Alquran,

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) (Alquran 17:78).

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (Alquran 17:79).

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (Alquran 25:64).

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan (Alquran 73:6).

Namun dikarenakan ditemukannya listrik, kendaraan dan berbagai jenis lampu yang indah, manusia telah melupakan saat penciptaan alam semesta, dan kemudian juga melupakan makna dari terjadinya malam. Dengan adanya listrik dan kendaraan, manusia telah berusaha sekeras mungkin keluar rumah untuk menikmati angin-malam, bersenang-senang, makan-makan, menonton hiburan dan konser murahan, yang keseluruhan hal tersebut mengakibatkan manusia-manusia menjauh dari poros kesalehan.

Beribadah di siang hari, sebenarnya memberi efek psikologis yang tidak terlalu signifikan, namun ibadah di malam hari mempunyai pengaruh ketenangan dan kedamaian yang fundamental atas penguatan ruh dan kesalehan. Itulah sebabnya malam merupakan saat terbaik untuk beribadah di tingkat keluarga. Harap diperhatikan, adalah tidak sama citarasanya, antara makan siang di Kantor bersama rekan sejawat, dengan makan malam bersama keluarga di rumah. Mana yang lebih lezat dan berkesan? Tentu santap makan-malam bersama keluarga di rumah, dikelilingi orang-orang yang dicintai, itulah yang lebih berkesan dan yang lebih lezat. Maka demikian jugalah dengan ibadah, antara beribadah di siang hari dengan ibadah di malam hari bersama keluarga di rumah.

Tidak ayal lagi, kehidupan malam di luar rumah yang dengan sendirinya telah menTIADAkan beribadah bersama keluarga, mengakibatkan umat manusia digulung gelombang kekeringan jiwa dan kemiskinan iman. Hal ini merupakan media terbaik bagi munculnya berbagai kejahatan, baik kejahatan kriminal mau pun kejahatan hati (serakah, tamak, egois, cinta-harta, apathis, hedonis, dsb).

Keseluruhan hal tersebut sebenarnya adalah penyakit. Dan satu-satunya cara menyembuhkan manusia dari penyakit tersebut adalah, menarik diri dari aktivitas malam di luar rumah (secara massal), dan kembali berdiam di dalam rumah untuk mengibadahi malam tersebut, untuk kemudian beristirahat bersama keluarga hingga fajar menjelang. Tepat seperti pada masa ketika manusia masih hidup di dalam kesucian dan kepolosan (age of innocence), yaitu ketika belum ditemukannya listrik dan kendaraan berikut lampu-lampu kota yang seronok.

Inilah makna dan urgensi jam malam di dalam syariah Islam.

Implementasi.

  1. Syariah jam-malam ini, menurut fiqih, tidak berlaku untuk Mekah, Madinah dan Yerusalem, karena pada ketiga kota tersebut berlaku Alhadis Nabi saw, “aku mementingkan perjalanan ketiga Masjid ini yaitu Masjid Al- Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Aqsa”. Ini berarti baik siang mau pun malam, maka adalah lebih baik setiap Muslim keluar rumah untuk shalat di ketiga tempat suci tersebut, bukan untuk tujuan lain.
  2. Dua lapis masyarakat sebaiknya tidak keluar rumah di waktu malam. Lapis masyarakat pertama adalah yang keluar rumah untuk mencari uang (sektor usaha seperti buka restoran, hiburan malam, perkuliahan, Pusat kebugaran, Pusat belanja, transportasi, dsb). Masyarakat lapis kedua adalah masyarakat yang keluar rumah sebagai konsumen.
  3. Saat matahari sudah tergelincir ke Barat, itulah saatnya semua orang pulang ke rumah. Dan kemudian seluruh bus berhenti beroperasi, pasar tutup, restoran tutup, dsb.
  4. Tidak juga mempunyai landasan keluar rumah yang tujuannya adalah ke Masjid untuk shalat fardu atau ibadah lainnya. Beribadah malam hari justru dianjurkan untuk ditunaikan di rumah bersama anak dan keluarga, bukan di Masjid.
  5. Shalat tarawih pun, sebenarnya menurut sunnah Nabi, tetap diselenggarakan di rumah, bukan di Masjid, karena Nabi saw dan para sahabat juga selalu shalat tarawih di rumah, bukan di Masjid.
  6. Keluar rumah di malam hari adalah sebaiknya dihindari, karena malam sebenarnya adalah moment penguatan iman dan rohani level keluarga. Namun kalau manusia mempunyai tujuan yang mendesak, pada hematnya tidak mengapa keluar rumah di malam hari, seperti mereka yang bekerja sebagai dokter jaga, atau petugas penjaga gedung, personel rumahsakit, polisi, operator bus antarkota, dsb.
  7. Tidak mengapa keluar rumah di malam hari namun tidak jauh dari rumah, sekedar menikmati sepoi-angin malam, atau menikmati terang-bulan bersama bintang.
  8. Bertamu pun sebaiknya tidak ditunaikan malam hari, melainkan siang hari.

Kesimpulan.

Selama umat manusia (apapun agamanya):

  1. Keluar rumah di malam hari untuk menikmati kehidupan malam dan bekerja mencari rejeki,
  2. Tidak menggunakan malam sebagai moment istirahat total dan juga ibadah bersama keluarga di dalam rumah, …….

Maka selama itu juga kejahatan dan penyakit jiwa akan terus menggerogoti mereka, sedikit demi sedikit. Bagian terpenting dari ajaran Tuhan mengenai malam ini adalah, bahwa tidak ada kesalehan yang dapat dituai satu manusia pun saat mereka keluar rumah di malam hari. Kebalikannya, kesalehan dan penguatan ruhani hanya dapat dituai pada malam hari bersama keluarga di dalam rumah masing-masing.

Dengan tetap tinggal dan beristirahat di malam hari di rumah bersama keluarga, dengan mematikan kehidupan malam, dengan menjadikan kota dan desa sepi dan lengang di malam hari, maka secara permukaan telah terjadi penghematan dan efisiensi atas seluruh sumberdaya, dan itu sedikit pun tidak mengganggu atau mengurangi rejeki.

  1. Tidak mungkin benar, bahwa hanya karena ditemukan mobil, listrik, lampu dsb, maka budaya keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam menjadi benar.
  2. Tidak mungkin benar, hanya karena ditemukan kemajuan teknologi, maka manusia menjadi berhak untuk menentang Hukum alam, menentang fitrah, menentang firman Tuhan, dan menentang jam biologis mereka sendiri untuk mengistirahatkan jiwa dan raga mereka.
  3. Tidak mungkin benar, firman Tuhan, fitrah dan Hukum alam menjadi jungkirbalik hanya karena ditemukannya mobil, listrik, lampu, dsb.
  4. Tidak mungkin benar, bahwa budaya keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam tidak mengandung kekhawatiran atau efek negatif. Fakta memperlihatkan meningkatnya hedonisme, kegilaan, egoisme, ketidak-warasan dan ketidaksalehan umat manusia sejak berkembangnya kehidupan malam. Banyak terjadi kasus kejahatan di malam hari.
  5. Tidak mungkin benar, tidak bekerja mencari uang di malam hari akan mengakibatkan kemiskinan dan ketertinggalan. Tidak mungkin benar, bahwa uang yang didapat dari bekerja di siang hari tidak mencukupi untuk hidup.
  6. Tidak mungkin benar, bahwa keluar rumah untuk menikmati kehidupan malam juga dibutuhkan untuk kesehatan jiwaraga.
  7. Tidak mungkin benar, kesalehan tidak diperlukan di akhir jaman ini, sehingga oleh karenanya tidak mengapa berlarut-larut di dalam kehidupan malam.
  8. Tidak mungkin benar, kesalehan dan kewarasan dapat berparalel dengan maraknya kehidupan malam. Yang benar adalah, kesalehan dan kewarasan merupakan antitesis dari budaya kehidupan malam.

Penutup.

Kalau Kerajaan Muslim di seluruh muka bumi ini masih menganggap kesalehan sebagai harta jiwa yang lebih berharga dari emas dan intan berlian, maka itulah saatnya bagi seluruh Kerajaan Muslim untuk menerapkan jam-malam bagi kota dan desa-desa mereka, sekaligus untuk menumbangkan dan mengkudeta kehidupan malam, karena hal tersebut seutuhnya benar-benar mendurhakai firman Allah Swt.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.

Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim

tarbiyah-anak-shalatMuhammad Saw telah menitahkan melalui beberapa Alhadis yang termahsyur, bahwa shalat di Masjid Al-haram mengandung pahala sebanyak 100.000, shalat di Masjid Nabawi mengandung pahala sebanyak 10.000, dan shalat di Masjid Al-aqsa mengandung pahala sebanyak 1000. Ini artinya shalat di Masjid selain ketiga Masjid tersebut tidak mengandung keistimewaan seperti halnya shalat di ketiga Masjid suci ini.

Hal ini diperkuat oleh satu Alhadis yang juga termahsyur yaitu, “Aku mengutamakan perjalanan ke tiga Masjid ini, yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-aqsa”. Alhadis ini menyiratkan makna, bahwa melangkahkan kaki ke Masjid selain ketiga Masjid suci tersebut bukanlah suatu keutamaan. Oleh karena itu patut dipertimbangkan akan nilai keutamaan untuk shalat di rumah. Penting sekali untuk juga diingat berkenaan dengan kedua Alhadis ini, bahwa Muhammad Saw telah bertitah, “terangilah rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran”. Makna dari Alhadis ini adalah, bahwa penting sekali bagi setiap umat untuk menunaikan shalat di rumah, apalagi bersama keluarga secara berjamaah, sebisa mungkin.

Jangan berpantang untuk shalat di rumah, untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga, itulah makna terpenting dari ketiga Alhadis di atas. Bahkan banyak Alhadis yang menyiratkan, bahwa Muhammad Saw dan para sahabat pun tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah.

Muhammad Saw telah bertitah melalui beberapa Alhadis-nya, bahwa sebaiknya setiap umat berteguh untuk shalat di rumah (khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh), karena justru umat akan dihadiahi hikmat yang begitu Agung melalui ritus shalat berjamaah di rumah. Dan yang terpenting adalah, adanya hikmah tarbiyah keluarga Muslim melalui agenda shalat Maghrib dan Isya dan Shubuh berjamaah di rumah.

Waktu shalat Maghrib dan Isya jika ditunaikan secara berjamaah di rumah di mana sang ayah atau datuk bertindak sebagai Imam shalat, merupakan moment pendidikan Iman dan spiritual anak dan keluarga. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah, khususnya shalat Maghrib dan Isya dan juga Shubuh, tidak boleh ada yang absen. Dan agenda keluarga ini mempunyai arti bahwa telah terjadi pemupukan dan penguatan ruh keagamaan dan kesalehan secara fundamental terhadap jiwa dan mentalitas anak-anak.

Kebalikannya, kalau tidak dibudayakan shalat Maghrib dan Isya (juga Shubuh) di rumah, maka pendidikan iman dan spiritual keluarga (khususnya anak-anak) terkendala, sehingga nasib kesalehan anak-anak dan keluarga tidak ada yang memperhatikan, terkatung-katung tidak menentu. Mereka anak-anak dan keluarga jadi tidak pernah menikmati suasana keagamaan di rumah, karena tidak pernah dilibatkan di dalam kesalehan beribadah.

Shalat Maghrib dan Isya (juga shalat Shubuh) secara berjamaah di rumah, yang menjadi Imam adalah semua anggota keluarga (secara bergantian) sehingga setiap anak tercambuk untuk hafal surah-surah Alquran, dengan demikian ada kaderisasi dan regenerasi Imam. Point ini menjadi kontribusi tersendiri bagi lahirnya generasi yang hafal surah Alquran secara maksimal, karena dengan terus shalat berjamaah di rumah maka anak-anak yang saat itu menjadi makmum akan tertantang dan terinspirasi untuk menjadi Imam kelak saat mereka sudah besar. Itu artinya mereka sejak dini harus hafal surah-surah Alquran, dan ini artinya merupakan landasan untuk membumikan kecenderungan hafal surah-surah Alquran.

Sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam. Sebenarnya tidaklah demikian. Shalat sebenarnya bukanlah perintah, melainkan PEMBIASAAN. Kalau seorang anak sejak kecil sudah dibiasakan shalat berjamaah secara terus menerus, maka sampai kapan pun sang anak akan tetap shalat meski dilempar ke Negeri yang jauh sekali pun.

Dan pembiasaan shalat ini hanya dapat dipastikan melalui tradisi shalat berjamaah di rumah, khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh. Membangun kebiasaan dan pembiasaan shalat yang berujung pada shalat-minded tidak bisa diupayakan hanya di dalam waktu satu minggu atau satu tahun, atau melalui ceramah sedahsyat apapun, melainkan butuh waktu bertahun-tahun di dalam frame shalat berjamaah di rumah, mulai dari sang anak berusia belia hingga remaja dengan cara terus dilibatkan di dalam shalat berjamaah di dalam rentang waktu sekian lama.

Singkat kata, suatu frame shalat berjamaah khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh di rumah, akan memastikan bahwa kelak sang anak akan menjadi bagian di dalam Generasi Shalat Minded. Kalau dibalik: cara melahirkan Generasi Shalat Minded, atau cara supaya sang anak kelak akan tetap kukuh menunaikan shalat, hanyalah dengan melalui frame shalat di rumah.

Situasi / frame di mana Maghrib, Isya dan Shubuh tidak dijadikan moment untuk shalat berjamaah di rumah, maka pada saat tersebut, sang anak dan seluruh keluarga sedang asyik menyia-nyiakan waktu shalat dengan kesenangan duniawi. Waktu yang berharga untuk membangun pembiasaan shalat bagi anak-anak akhirnya terbuang dan tergusur kalau jadwal Maghrib dan Isya tidak dijadikan agenda shalat berjamaah di rumah, sementara di pihak lain anak-anak pun akibatnya jadi asyik sibuk berhamburan di sepanjang jalan pada jam-jam shalat. Dengan keadaan seperti ini, tidak pernah terjadi pembiasaan shalat atas anak-anak dan keluarga, karena justru mereka dibiasakan berhamburan di jalan-jalan kampung untuk menikmati kesenangan duniawi di dalam kesia-siaan. Kalau sejak kecil tidak diadakan pembiasaan shalat, maka bagaimana kelak mereka akan terbiasa untuk shalat?

Outputnya jelas: di kemudian hari sang anak akan menjadi generasi yang berpantang shalat, mereka bukan bagian dari Generasi Shalat Minded. Mereka bukanlah umat Allah Swt.

Kecil sekali kemungkinannya seorang anak di kala dewasa akan tetap teguh menunaikan shalat di mana pun ia berada – kalau semasa kecilnya ia tidak menerima pembiasaan shalat dari keluarganya; dan pembiasaan shalat yang paling mungkin dan alami di sini adalah pembiasaan shalat melalui frame shalat berjamaah di rumah secara rutin. Oleh karena itu, tidak menunaikan shalat berjamaah di rumah untuk shalat Maghrib dan Isya akan berparalel dengan jauhnya generasi muda (yaitu anak-anak mereka) dari shalat minded. Itu merupakan kerugian terbesar yang akan diderita seorang ayah (atau paman / datuk) di kemudian hari.

Alangkah patut untuk diperhatikan, bahwa shalat Maghrib dan Isya yang ditunaikan secara berjamaah di rumah akan menciptakan rumus: “bapak saleh, anak pun jadi saleh”. Hal ini disebabkan karena shalat berjamah di rumah secara terus-menerus, akan mengakibatkan anak-anak dan keluarganya ikut menjadi saleh.

Kesalehan yang bersemi pada anak-anak dan keluarga dapat terwujud karena selalu shalat berjamaah di rumah tersebut, terjadi karena tiga hal:

  1. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah. Dengan shalat di rumah, ayah (atau paman / datuk) akan memastikan bahwa anak-anak dan keluarganya harus ikut shalat, harus berada di belakangnya sebagai makmum untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah, tidak boleh ada yang absent apapun alasannya, yang tujuannya adalah untuk beraktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.
  2. Dengan anak-anak dan keluarga terus shalat berjamaah di rumah, maka alokasi waktu yang biasa dilewatkan anak-anak untuk berhamburan dan berceceran di luar rumah di sepanjang jalan kampung TERGANTIKAN dengan duduk khusyuk di belakang Imam. Ini artinya telah menTIADAkan waktu untuk dihabiskan anak-anak dan keluarga di dalam kesia-siaan duniawi yaitu berkeliaran di luar rumah sepanjang jalan kampung di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, nonton konser murahan, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Kebalikannya, waktu yang dimiliki anak-anak dan keluarga akan digunakan untuk shalat berjamaah di rumah masing-masing.
  3. Dengan shalat berjamaah di rumah khususnya untuk jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh, maka itu berarti terbangun suatu kondisi untuk memperhatikan dan melakukan kontrol perkembangan rohani, jiwa, penerimaan dan intelektualitas sang anak dan keluarganya terhadap bibit iman dan taqwa, dan memang itulah tujuan utama dari mengapa jadwal Maghrib amat singkat menjelang jadwal Isya. Dengan shalat berjamaah di rumah, setiap anak jadi merasa bahwa mereka diperhatikan oleh keluarga mereka secara lebih intim dan terus-menerus.

Di siang hari sang anak dan keluarga telah bermain dengan kawan-kawan mereka di sekolah, taman kampung, pasar, di kampus, dan tanah lapang. Cukuplah hal itu merupakan waktu mereka untuk bersosialisasi dan bermain di luar rumah di kala siang. Dan ketika senja dan malam menjelang, bermain di luar rumah sudah berakhir, dan itulah saatnya mereka membangun karakter keagamaan dan rohani melalui shalat berjamaah di rumah.

Pembangunan kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga: pembangunan rohani dan kesalehan akan mengguyur semua individu di dalam keluarga dan perkampungan Muslim tanpa kecuali, karena teknisnya adalah di dalam setiap rumah akan diselenggarakan shalat berjamaah khususnya Maghrib dan Isya, ini berarti shalat berjamaah tersebut akan melibatkan seluruh unsur yang ada di dalam perkampungan Muslim. Tidak akan ada satu anak pun, satu individu pun, yang lolos dan luput dari aktivitas pembangunan rohani ini, karena setiap mereka adalah anggota keluarga yang, akan dipanggil untuk ikut shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absen satu pun, untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Teramat besar kemungkinannya bahwa setiap anak yang terus shalat berjamaah di rumahnya akan menjadi saleh di kemudian hari seperti salehnya sang ayah (atau paman / datuk), karena shalat berjamaah yang terus diselenggarakan di dalam keluarga mempunyai kekuatan dan wewenang kuat untuk menyentuh dan menundukkan jiwa dan spiritualitas setiap anak sejak kecil.

Bagaimana mungkin anak-anak di dalam suatu keluarga dapat menjadi saleh di saat dewasa, sementara anak-anak tersebut dibiarkan terus berkeliaran di luar rumah di sepanjang jalan kampung tidak memperdulikan masuknya waktu shalat khususnya Maghrib, Isya dan Shubuh? Mereka terus asyik bermain dengan kawan-kawannya malah pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, shopping, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dan itu bukanlah ciri-ciri umat Muslim, melainkan ciri-ciri umat di dalam kekafiran dan kerugian. Dan hal tersebut terjadi karena kg tersebut tidak menjadikan moment Maghrib dan Isya sebagai moment tarbiyah keluarga, yang mana itu berarti keluarga tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan pertumbuhan rohani sang anak, tidak memperdulikan siklus shalat sang anak dan keluarga. Dengan tidak menyelenggarakan shalat berjamaah di rumah, berarti mereka tidak memanfaatkan kesempatan dan peluang untuk menjadikan anak-anak mereka sebagai manusia saleh saat dewasa kelak.

Tarbiyah berbasis keluarga.

Jika setiap keluarga menyelenggarakan shalat berjamaah di rumah, maka kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga. Ini artinya pembangunan rohani dan kesalehan seutuhnya merupakan wewenang dan inisiatif setiap keluarga, dan memang demikianlah seharusnya. Dan di sini, posisi Ayah, biar bagaimana pun adalah manusia yang paling bertanggungjawab atas perkembangan rohani dan kesalehan seluruh keluarganya, tidak bisa tidak. Itulah sebabnya Muhammad Saw menitahkan bahwa seluruh laki-laki wabil khususnya ayah (paman / datuk) harus senantiasa shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya (selama mereka berdomisili jauh dari lokasi Masjid Al-haram, Nabawi dan Masjid Aqsa).

Islam tidak menghendaki pembangunan rohani dan kehidupan beragama mengambil basis di Masjid (atau rumah ibadah), karena hal tersebut tak ubahnya seperti kaum kafir atau jahiliyah. Di Dunia ini kita melihat pembangunan rohani umat Katholik berbasis di Gereja, di mana tugas dan wewenang untuk memimpin peribadatan seluruh jemaat berada di tangan pendeta Gereja. Sungguh setiap keluarga di dalam lingkungan umat nonmuslim tidak mempunyai wewenang mau pun tanggungjawab untuk membina kebangunan rohani dan kehidupan beragama khususnya keluarganya sendiri. Jangankan membangun / membina rohani dan kehidupan beragama anak dan keluarganya, bahkan pemantapan iman dan rohani diri setiap ayah pun juga hanya boleh dikelola oleh staf pendeta di rumah ibadat. Dengan kata lain, setiap anggota keluarga tidak mempunyai hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan di dalam bermunajat kepada Tuhan, karena hak dan wewenang tersebut merupakan hak eksklusif para staf pendeta di rumah ibadat.

Islam tidaklah demikian, Islam mengajarkan bahwa hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan merupakan tugas dan tanggungjawab setiap keluarga, karena memang demikianlah logikanya: ayah yang melahirkan dan memberi makan anak dan keluarganya, maka ayah (paman / datuk) jugalah yang paling bertanggungjawab di dalam pembinaan rohani dan iman anak dan keluarganya, tidak bisa ditawar lagi dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Bagaimana mungkin Islam mengadopsi sistem di luar Islam di mana pembinaan rohani dan iman seluruh keluarga diserahkan kepada staf rumah ibadat (yaitu Imam Masjid, sebagaimana halnya staf pendeta di Gereja), sementara staf rumah ibadat tersebut tidak mempunyai hubungan darah dan kasihsayang atas mereka (anak dan seluruh keluarga)?

Penting untuk diketahui, bahwa pada umat nonmuslim yang bersistem pembangunan rohani berporos rumah ibadat, telah menjadikan setiap ayah, paman, datuk, anak dan seluruh keluarga tidak mempunyai derajat kesalehan di dalam beragama. Karena lebih tepatnya lagi, derajat kesalehan hanya dimiliki staf rumah ibadat yang jumlahnya hanya segelintir di tengah mereka. Ini menyedihkan. Maka kemudian apakah umat Muslim di seluruh Dunia juga mempunyai takdir yang harus sedemikian sama, dengan cara bahwa hak dan wewenang untuk menyelenggarakan ritus ibadah terletak pada staf rumah ibadat, dalam hal ini Imam Masjid? Ingatlah bahwa Muhammad Saw pun melarang umatnya ber-tasyabuh, yaitu mempersama-kan diri dengan kaum kafir di dalam cara dan berfikir, dan bertasyabuh merupakan dosa di sisi Allah Swt.

Dampaknya jelas: umat nonmuslim yang mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani keluarga merupakan wewenang rumah ibadat – melahirkan kesenjangan dan kemiskinan rohani di tengah umat secara akar-rumput, belum lagi ditambah sekuleritas yang menggejala pada masyarakat mereka, masyarakat nonmuslim. Hal seperti ini harus dijauhkan umat Muslim universal, caranya adalah dengan mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani merupakan hak dan wewenang penuh keluarga masing-masing.

Pembumian hafal Alquran.

Karena shalat berjamaah terus ditunaikan di setiap rumah keluarga Muslim (khususnya jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh) maka sejak kecil mereka sudah dipersiapkan untuk hafal Alquran. Ini merupakan siklus kebaikan yang akan terwujud di dalam keluarga Muslim kalau mentradisikan shalat berjamaah.

Dengan kata lain, tradisi shalat di rumah akan memunculkan tongkat estafet untuk generasi mendatang, yaitu mengakibatkan anak-anak yang menjadi makmum kala itu akan terpacu juga untuk hafal surah Alquran karena kelak mereka akan menjadi Imam juga atas anak-anak mereka di kemudian hari. Tongkat estafet keimaman dan tahfiz Alquran merupakan kata kunci di sini.

Karena tugas menjadi Imam merupakan tugas seluruh lelaki (karena kelak mereka akan menjadi suami / ayah / paman / datuk) maka tugas keimaman menjadi rata di tengah umat, dan akibatnya semua orang (harus) hafal surah Alquran: inilah moment kemunculan tahfiz publik, yaitu tahfiz yang membumi sampai ke akar-rumput.

Tarbiyah kesalehan di dalam pengawasan yang kokoh.

Kasih-sayang dan pengawasan keluarga atas anak-anak menjadi efektif dan sistematis – jika shalat berjamaah terus ditunaikan di rumah khususnya untuk jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh, baik pengawasan itu di dalam hal siklus shalat pada khususnya, mau pun di dalam hal mental spiritual pada umumnya. Dengan shalat berjamaah di rumah, maka sayang dan kepedulian sebuah keluarga terhadap anak-anak adalah nyata senyata matahari. Pada dasarnya, shalat Maghrib dan Isya di rumah merupakan wujud dan bukti bahwa sebuah keluarga sayang kepada anak-anaknya sendiri.

Setiap anak dan seluruh keluarga akan tetap di dalam siklus shalatnya selama ada yang mengawasi, shalat berjamaah di rumah, khususnya untuk jadwal Maghrib dan Isya. Dan seseorang yang paling efektif pengawasannya terhadap siklus shalat anak-anak pastilah keluarga sendiri. Pengawasan yang dilakukan orang lain atas diri seorang anak terhadap siklus shalatnya, tidak akan mempan, tidak akan mengena, tidak akan efektif, tidak akan bertaji, karena orang lain tersebut bukanlah siapa-siapa bagi sang anak; dan sang anak sendiri akan menganggap dan melihat orang lain tersebut sebagai orang yang tidak berhak untuk mengawasi dan mengontrol siklus shalatnya. Terlebih, sang anak bukannya akan patuh pada pengawasan orang tersebut untuk shalat, malah akan berbalik untuk bergumam, ‘keluarga saya tidak menyuruh dan tidak mengawasi saya shalat, lantas mengapa orang ini menyuruh saya shalat?’.

Pendek kata, hanya keluarga-lah yang berada pada posisi untuk mengawasi siklus shalat anak dan keluarganya. Dan hal tersebut hanya dapat diimplementasikan jika seorang keluarga tersebut shalat berjamaah di rumah.

Sayang kepada anak dan keluarganya bukan hanya di dalam bentuk memberi rumah, memberi makan yang banyak, memberi mainan yang handal, melainkan juga terjadi di dalam bentuk ‘mempersembahkan’ mereka ke hadhirat Allah Swt di dalam seremoni shalat berjamaah di rumah. Biarlah Allah Swt dan para MalaikatNya melihat bahwa sebuah keluarga sedang membawa seluruh anak ke hadlirat-Nya di dalam suatu shalat berjamaah, dan itulah yang indah dan yang sepatutnya, karena memang itulah tugas keluarga.

Ketika sebuah keluarga shalat berjamaah di rumah, maka pada saat itu keluarga tersebut sedang memasukkan keluarganya ke dalam Surga dan menyelamatkan mereka dari jilatan api Neraka sebagai bukti sayang dan pemeliharaan keluarga yang kuat dan fundamental.

Alangkah patutnya untuk direnungkan, setiap keluarga akan dapat memastikan bahwa anggota keluarganya tetap menunaikan shalat karena shalat tersebut ditunaikan di rumah khususnya Maghrib dan Isya. Sudah sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam, dan perintah shalat ini adalah rata untuk seluruh umat tanpa kecuali. Masalah akan timbul kalau ada satu individu tidak menunaikan shalatnya, dan terlebih kalau individu tersebut merupakan anggota keluarga yang, seharusnya tetap memelihara siklus shalatnya. Hal ini seharusnya merupakan kepedulian dan concern setiap keluarga atas seluruh anak dan anggota-nya. Adalah sulit untuk dicerna bahwa ada seorang ayah begitu memelihara siklus shalatnya sementara anak dan keluarganya tidaklah demikian. Kalau anak dan keluarga tidak serius di dalam siklus shalatnya maka dapat dipastikan itu semua berawal dari tidak adanya shalat berjamaah di rumah. Dan kalau hal ini benar-benar terjadi, seluruh ulama sepakat bahwa kesalahan justru berada pada diri kepala keluarga, tidak bisa tidak.

Pada saat seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya, maka sebenarnya pada saat tersebut sang ayah telah dapat memastikan bahwa anak dan keluarganya sudah paripurna menunaikan shalat: “dia yakin karena dia melihat”, karena dia sendiri yang mengimamkan mereka. ‘Kepastian’ merupakan kata kunci di sini, dan tidak ada yang dapat memastikan mereka (anak dan keluarga) menunaikan shalat kecuali adanya perintah, perhatian dan keimaman sang ayah (paman / datuk). Itulah satu-satunya jalan bagi seorang kepala keluarga untuk memastikan bahwa seluruh anggotanya tetap di dalam siklus shalat. Ingatlah bahwa kebanyakan dari anggota keluarga adalah anak-anak manusia yang masih di dalam usia pertumbuhan, yang mana itu berarti bahwa mereka belum mengerti kedisiplinan dan ketaatan. Anak-anak biasanya hanya melewatkan hari-hari dengan bermain dan naluri untuk tidak taat.

Tidak mungkin ada seorang anak kecil yang taat memelihara siklus shalatnya. Sebaliknya, setiap anak hanya memikirkan main bersama kawan-kawannya. Dan kemudian, tidak mungkin ada seorang anak kecil yang ketika ditanya ayahnya apakah sudah shalat, kemudian sang anak akan menjawab “sudah” dengan penuh kebenaran, tanggungjawab, dan bermartabat. Sulit mengharapkan kesalehan tumbuh dan bersemi pada diri seorang anak yang sedang senang-senangnya bermain.

Namun di luar itu semua, tentunya keluarga mempunyai perhatian yang lebih besar atas mereka. Wujudnya hanya satu: memanggil mereka untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah di rumah, hari demi hari, minggu demi minggu, dan tahun demi tahun, hingga anak-anak tersebut tumbuh menjadi dewasa, yaitu usianya untuk taat dan sadar akan kewajiban dan kesalehan. Dengan terus memanggil mereka untuk berpartisipasi shalat berjamaah di rumah, maka tidak perlu keluarga bertanya kepadanya apakah sudah shalat, karena keluarganya sendirilah yang mengimamkannya. Dengan dipanggil shalat berjamaah, maka berhentilah main-mainnya untuk sementara, untuk shalat tersebut. Dan ikut shalat berjamaah tidak akan mencederai haknya untuk bermain.

Dengan diselenggarakannya shalat berjamaah di rumah khususnya pada jadwal Maghrib, Isya dan Shubuh, maka:

  1. Tarbiyah keluarga berlangsung secara konstan dan intim.
  2. Tarbiyah terhadap keluarga terjadi secara alami, membumi, dan gratis karena tarbiyah merupakan tanggungjawab keluarga.
  3. Keluarga secara otomatis dan alami harus menjadi pengajar dan pembimbing atas anak-anaknya / ponakannya / sepupunya / cucunya / adik-adiknya, dll, itu semua atas dasar tanggungjawab keluarga tersebut.

Tarbiyah Maghrib dan Isya melumpuhkan malapetaka dunia.

Dengan menyelenggarakan shalat berjamaah di rumah maka tidak mungkin terjadi malapetaka umat, karena dengan shalat berjamaah di rumah, maka jelaslah seluruh keluarga sedang berada di rumah sedang menunaikan shalat bersujud kepada Illahi, sehingga menjadi sepi-lah seluruh hiruk-pikuk keduniawian: jalan-jalan menjadi sepi, lapangan menjadi sepi, mal-mal menjadi sepi, perempatan menjadi sepi, Pusat jajan menjadi sepi, karena anak-anak dan wargakota yang biasa meramaikan tempat-tempat keduniawian tersebut saat itu justru sedang menjadi makmum shalat berjamaah yang diimami oleh ayah-ayah / datuk-datuk mereka di rumah masing-masing.

Jelas sekali, ketika terjadi shalat berjamaah bersama keluarga di rumah (khususnya untuk shalat Maghrib dan Isya), maka keluarga tersebut tengah dan telah mengubah dunia (dari suatu tempat yang penuh malapetaka) menjadi tempat yang penuh ibadat dan taqwa kepada Illahi, karena anak-anak dan warga kota yang biasa meramaikan pelataran dunia tersebut, sedang shalat sebagai makmum di belakang sang ayah / paman. Inilah keagungan dan kekuatan shalat berjamaah di rumah bersama keluarga, khususnya untuk shalat Maghrib dan Isya. Inilah marwah umat Muslim seluruh Dunia!

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa shalat berjamaah di rumah bersama keluarga merupakan:

  1. satu-satunya kekuatan yang paling misterius dan paling berwibawa yang dapat merontokkan dan mengkudeta huru-hara duniawi khususnya pada malam hari; shalat berjamaah di rumah telah menggulingkan malapetaka dunia.
  2. dan menggantinya dengan suasana ibadat yang hikmat dan kudus,
  3. bentuk kasih-sayang orang-tua dan keluarga Muslim kepada anak-anaknya.
  4. terakhir, mengklaim anak-anak dunia sebagai anak-anak yang penuh ibadat dan kesalehan.

Terbebaslah umat dan seluruh anak dari malapetaka duniawi dikarenakan shalat berjamaah di rumah bersama keluarga yang diimamkan oleh setiap ayah, itulah titah Nabawi.

Jarak waktu antara Maghrib dan Isya sangat singkat, tidak sampai dua jam. Sengaja Allah Swt menyingkatkan waktu Maghrib supaya dengan demikian dekat jaraknya dengan Isya yaitu hanya berkisar tidak sampai dua jam.

Hikmahnya adalah bahwa supaya waktu tersebut digunakan umat Muslim untuk moment tarbiyah di mana sebuah keluarga menjadi pembimbing rohani bagi seluruh anak-anaknya. Cukup dua jam setiap hari (antara Maghrib menuju Isya) merupakan masa tarbiyah yang sangat ampuh bagi anak-anak yang sedang di dalam masa pertumbuhan rohani. Di awal Maghrib sang ayah memanggil anggota keluarga dan seluruh anaknya untuk shalat berjamaah (di rumah). Kemudian sang ayah tidak akan mengijinkan anak-anaknya untuk beranjak kembali kepada aktivitasnya seusai shalat Maghrib berjamaah, melainkan sang Imam (ayah atau datuk atau paman) menyuruh anak-anaknya untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, melantunkan doa, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Dan tidak terasa adzan Isya telah berkumandang, maka berakhirlah sesi tarbiyah untuk anak-anaknya pada malam hari itu. Shalat Isya berjamaah segera didirikan, dan anak-anak sudah mendapatkan pengajaran dan pertumbuhan rohani di dalam rumahnya sendiri.

Setelah usai shalat Isya berjamaah, keluarga tersebut langsung ke meja untuk santap malam, mereka makan, dan akhirnya mereka siap untuk beristirahat sampai fajar menjelang.

Shalat Shubuh juga demikian. Sang ayah / datuk / paman akan membangunkan anak-anak dan anggota lainnya untuk shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absent, semua dibangunkan dari tidurnya. Setiap hari berlangsung demikian, maka kukuhlah anak-anak di dalam disiplin dan keteguhan shalat.

Demikian agenda anak-anak dan keluarga Muslim setiap hari sehingga tumbuhlah anak-anak itu di dalam persemaian rohani yang kukuh dari keluarganya sendiri. Itu semua karena shalat berjamaah di rumah.

Tarbiyah keluarga adalah level atomik terhadap kesalehan umat.

Shalat berjamaah di rumah adalah tombol pertama untuk menimbulkan kesalehan tingkat keluarga, tingkat atomik, yang tidak dapat dihindari, merupakan cikal-bakal kesalehan umat secara keseluruhan.

Mudah sekali untuk direnungkan, ketika shalat berjamaah ditunaikan di rumah, maka seluruh keluarga akan mengikuti seremoni tersebut dengan penuh hikmat dan khusyuk, dan itu berarti seluruh keluarga terhindar dari fitnah kota, khususnya di malam hari, dengan cara bermunajat kepada Illahi dan berbuat tindakan yang benar untuk kesejahteraan hati dan jiwa: mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Ketika sang ayah shalat berjamaah di rumah, maka dekat sekali sang ayah kala itu kepada anak-anaknya untuk dapat memperhatikan rona-wajah anak-anak, memperhatikan kesehatannya, mencermati penerimaan sang anak atas pelajaran sekolah, kemajuannya di dalam menghafal surah dan Alhadis, dsb. Dekat sekali, intim sekali ……….

Kesalehan tingkat atomik dengan demikian telah terwujud, maka hal berikutnya akan terwujudlah kesalehan tingkat yang lebih luas, yaitu kesalehan yang menggelora pada tingkat Kerajaan Allah Swt di muka bumi ini. Adalah mustahil mendapatkan kesalehan pada tingkat sosial yang lebih luas, sementara kesalehan tingkat atomik yaitu tingkat keluarga hancur-lebur, ditolak dan dikesampingkan. Kalau kesalehan tingkat atomik telah tercapai, maka otomatis kesalehan tingkat sosial yang lebih luas, tercipta.

Karakteristik shalat Maghrib.

Pada dasarnya, setiap shalat fardu terdari empat rakaat. Namun dari kelima shalat fardu, hanya Isya, Zuhur dan Ashar yang mempunyai empat rakaat. Selebihnya, yaitu shalat Shubuh dan shalat Maghrib, tidak mempunyai empat rakaat sebagaimana yang seharusnya. Apakah tidak harus ada penjelasan mengapa kedua shalat fardu tersebut, yaitu shalat Shubuh dan shalat Maghrib, tidak mempunyai empat rakaat? Kemana perginya-kah rakaat lainnya itu, sehingga hanya menjadi tiga dan dua rakaat?

Sama kita ketahui bahwa shalat Zuhur mempunyai empat rakaat. Ketika di hari Jumat, shalat Zuhur berubah menjadi dua rakaat saja, sementara dua rakaat yang lainnya dikonversi menjadi khotbah Jumat. Oleh karena itu berkhotbah dan mendengar khotbah Jumat sebenarnya merupakan dua rakaat milik shalat Zuhur tersebut, dan setiap jemaah shalat Jumat haruslah turut dan tetap mendengar khotbah tersebut, karena khotbah tersebut merupakan bagian dari shalat Jumat. Kalau seorang jemaah tidak mendengar khotbah Jumat, maka gugurlah shalat Zuhur-nya di hari Jumat tersebut.

Sama kita ketahui bahwa shalat Dhuha, jamaknya, seharusnya, adalah empat rakaat dengan dua salam. Pada shalat Idul Fitri mau pun Idul Adha, shalat Dhuha tersebut hanya ditunaikan sebanyak dua rakaat, karena dua rakaat lainnya telah Allah Swt konversi menjadi khotbah Ied. Dengan kata lain, khotbah Ied merupakan bagian integral dari shalat Dhuha yang ditunaikan pada hari raya tersebut, baik Idul Fitri mau pun Idul Adha.

Allah Swt telah memberi penjelasan mengenai ingredient shalat Jumat (dua rakaat pertama di dalam bentuk shalat, dan dua rakaat lainnya di dalam bentuk khotbah) dan khotbah shalat Ied kepada umat, untuk dapat menerangkan mengapa shalat Maghrib dan shalat Shubuh tidak mempunyai empat rakaat, melainkan tiga dan dua rakaat.

Pada shalat Maghrib, satu rakaat-nya telah Allah Swt konversi menjadi moment tarbiyah keluarga, yaitu dikonversi menjadi aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb. Demikian juga dengan shalat Shubuh, dua rakaatnya telah Allah Swt konversi menjadi moment tarbiyah, di mana salah satunya adalah komitmen untuk bangkit dari tidur, kemudian disempurnakan dengan mengaji Alquran dan dzikir. Subhanallah!

Artinya, kalau shalat Maghrib yang tiga rakaat tidak disandingkan dengan tarbiyah keluarga, maka seutuhnya shalat Maghrib tersebut tidaklah paripurna di mata para MalaikatNya. Demikian juga dengan shalat Shubuh.

Demikianlah Allah Swt telah menerangkan kepada umat Muslim tentang hakikat rakaat shalat dengan menggunakan cara-cara para Malaikat ketika menerangkannya kepada Allah Swt.

Penutup.

Muhammad Saw hanya mengajarkan umatnya untuk shalat di rumah supaya para ayah menjadi Imam shalat berjamaah atas anak dan keluarganya, sesuai dengan titahnya, bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, dan kelak kepemimpinannya harus ia pertanggungjawabkan kepada Allah Swt di Hari Penghakiman kelak.

Selebihnya, shalat berjamaah di rumah mempunyai begitu banyak rahasia keagungan dan kesalehan yang akan tertebar merata atas keseluruhan orang yang beriman, dan kesalehan tersebut kelak akan menjadi gelombang yang akan menghempaskan fitnah dunia tanpa kenal garis perbatasan Negeri dan Pemerintahan.

Selama ini umat mentradisikan shalat di Masjid, dan hasilnya terlihat jelas, di mana anak-anak manusia menjadi terkatung-katung di sepanjang jalan kampung berhamburan di tengah huru-hara dunia, dan setiap anak manusia menjadi tidak dapat dihadirkan di dalam seremoni kesalehan keluarga, yang merupakan cikal-bakal kesalehan umat keseluruhan. Ketika seorang ayah shalat di Masjid, maka anak-anak memeriahkan kekacauan duniawi di Pusat keramaian, khususnya di malam hari, dan ketika mereka pulang ke rumah, mereka membawa kehancuran yang mereka dapat dari Pusat keramaian tersebut ke rumah masing-masing.

Tidak dapat dihindari untuk diungkapkan, bahwa tradisi shalat di Masjid memberi kontribusi signifikan atas meriahnya kekacauan duniawi di Pusat keramaian, tempat di mana anak-anak manusia terhambur-hambur di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, makan permen karet, tawuran, godain cewek, main raket, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Artinya, kalau kekacauan dan kesia-siaan duniawi tersebut ingin ditumpas habis, maka satu-satunya jalan adalah mentradisikan shalat di rumah berjamaah atas anak dan keluarganya.

Dan kalau kekacauan bin kesia-siaan duniawi harus tumbuh subur, maka satu-satunya cara mewujudkannya adalah dengan membiarkan para ayah shalat di Masjid sehingga meninggalkan anak dan keluarganya di rumah untuk kemudian berserakan di pelataran dunia di dalam kesia-siaan fitnah kota.

Inilah maksud Nabawi, inilah maksud Illahiah, dengan shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Inilah makna doa yang tertera di dalam Alquran mengenai keluarga Muslim yang penuh dengan agenda shalat berjamaah di rumah di mana sang ayah merupakan Imam shalat berjamaah,

QS Furqaan 74: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Shalat berjamaah di Masjid merupakan lawan dari shalat berjamaah di rumah, dan akibat dari kedua frame tersebut juga saling berlawanan, untuk menghemat kata.

Alangkah patut untuk direnungkan, bahwa tarbiyah keluarga adalah sarapan pagi bagi rohani anak-anak, sementara tarbiyah keluarga itu telah Allah Swt setting pada jadwal shalat Maghrib menuju Isya.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.

Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah

sujudMuhammad Saw telah menitahkan melalui beberapa Alhadis yang termahsyur, bahwa shalat di Masjid Al-haram mengandung pahala sebanyak 100.000, shalat di Masjid Nabawi mengandung pahala sebanyak 10.000, dan shalat di Masjid Al-aqsa mengandung pahala sebanyak 1000. Ini artinya shalat di Masjid selain ketiga Masjid tersebut tidak mengandung keistimewaan seperti halnya shalat di ketiga Masjid suci ini.

Hal ini diperkuat oleh satu Alhadis yang juga termahsyur yaitu, “Aku mengutamakan perjalanan ke tiga Masjid ini, yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-aqsa”. Alhadis ini menyiratkan makna, bahwa melangkahkan kaki ke Masjid selain ketiga Masjid suci tersebut bukanlah suatu keutamaan. Oleh karena itu patut dipertimbangkan nilai keutamaan untuk shalat di rumah. Penting sekali untuk juga diingat berkenaan dengan kedua Alhadis ini, bahwa Muhammad Saw telah bertitah, “terangilah rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran”. Makna dari Alhadis ini adalah, bahwa penting sekali bagi setiap umat untuk menunaikan shalat di rumah, sebisa mungkin.

Jangan berpantang untuk shalat di rumah, untuk menjadi Imam atas anak dan seluruh keluarga, itulah makna terpenting dari ketiga Alhadis di atas. Bahkan banyak Alhadis yang menyiratkan, bahwa Muhammad Saw dan para sahabat pun tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah. Maka dari itu merupakan suatu ketergesa-gesaan kalau ada individu yang berpantang untuk shalat di rumah, sembari selalu mementingkan untuk melangkahkan kaki ke Masjid untuk menunaikan shalat berjamaah di sana, yang mana ini berarti individu tersebut tidak pernah atau bahkan menolak untuk shalat di rumah.

Muhammad Saw telah bertitah melalui beberapa Alhadis-nya, bahwa sebaiknya setiap umat berteguh untuk shalat di rumah, kalau umat tersebut berada jauh dari jangkauan KETIGA MESJID ALHARAM. Pada sisi yang lain, umat Muslim harus mencermati risalah kenabian tersebut, karena justru umat akan dihadiahi hikmat yang begitu Agung melalui ritus shalat berjamaah di rumah.

Di bawah ini akan dipaparkan beberapa hikmat Agung dari menunaikan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga.

Hikmah shalat di rumah bukan di Masjid,

Pertama. Salat di rumah, maka kampung menjadi sepi karena semua keluarga sedang shalat di rumah masing-masing, karena ayah (atau paman / datuk) shalat di rumah menjadi Imam. Memang sepatutnya demikian karena Muslim merupakan mayoritas di setiap kampung di bumi Allah Swt ini, maka logikanya adalah di saat jam shalat (shalat Maghrib, Isya atau Shubuh wabil khusus) kampung dan tempat tinggal mereka menjadi lengang karena seluruh anak-anak dan remaja sedang menunaikan shalat berjamaah di rumah masing-masing.

Shalat di Masjid: kampung akan tetap ramai dengan hiruk-pikuk keduniawin karena anak-anak dan remaja bukannya shalat berjamaah di rumah masing-masing dengan ayah / datuk / paman sebagai Imam, melainkan tumpah-ruah berhamburan di sepanjang jalan pada jam-jam shalat karena ayah (paman / datuk) mereka justru shalat di Masjid. Kebanyakan kampung di bumi Allah Swt ini adalah mayoritas Muslim, namun gaya hidup mereka tidak mencerminkan umat Muslim, karena asyik bermain kejar-kejaran di sepanjang jalan tidak karu-karuan, pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, shopping, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb.

Dua. Shalat di rumah: lantunan ayat suci terdengar dari setiap rumah di dalam suasana hening karena pada setiap rumah terdapat satu Imam yang sedang memimpin shalat berjamaah. Setiap ayah (atau paman / datuk) yang shalat dan menjadi Imam di rumah, pasti akan melantunkan ayat suci di dalam shalatnya, sementara makmum (yaitu anak dan keluarganya) mengikutinya di dalam keheningan. Dan di luar rumah pun terjadi keheningan karena seluruh anak sedang berada di dalam rumahnya sedang shalat berjamaah. Akibatnya di seantero kampung itu kala jam shalat (seperti Maghrib, Isya dan Shubuh) dilanda keheningan, tidak ada yang terdengar kecuali lantunan ayat suci saling bersahut-sahutan dari rumah-rumah keluarga Muslim. Inilah suasana hening penuh hikmat kesalehan.

Shalat di mesjid: lantunan ayat suci hanya terdengar dari Masjid dari sang Imam besar, itu pun tidak ada yang mendengar karena seantero kampung tetap hiruk-pikuk karena tidak ada yang shalat di rumah, pun anak-anak tetap asyik bermain kejar-kejaran di sepanjang jalan tidak karu-karuan, pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, shopping, nonton konser murahan, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb. Pendek kata, lantunan ayat-suci yang dibacakan di dalam Masjid oleh Imam Masjid hanya didengar oleh makmum Masjid tersebut, tidak mungkin anak-anak dan para remaja yang asyik berhamburan di sepanjang jalan di luar Masjid turut menyimak. Inilah kehidupan yang jauh dari kesalehan, melainkan kehidupan yang penuh dengan huru-hara yang menyesakkan dada.

Tiga. Shalat di rumah: pendidikan Iman dan spiritual anak dan keluarga terjamin karena diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk) sendiri di rumah. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absen. Dan ini artinya telah terjadi pemupukan dan penguatan ruh keagamaan dan kesalehan secara fundamental terhadap jiwa dan mentalitas sang anak.

Shalat di mesjid: pendidikan iman dan spiritual keluarga terkendala karena tidak ada shalat berjamaah di rumah karena ayah (atau paman / datuk) malah shalat di Masjid sehingga nasib kesalehan anak-anak dan anggota keluarga lainnya tidak ada yang memperhatikan, terkatung-katung tidak menentu. Mereka anak-anak dan keluarga jadi tidak pernah menikmati suasana keagamaan di rumah, karena tidak pernah dilibatkan di dalam kesalehan beribadah. Singkat kata, tradisi shalat di Masjid yang dikembangkan dewasa ini mengakibatkan perkembangan rohani kesalehan dan mentalitas imtaq di kalangan anak-anak dan remaja menjadi terhambat dan terpuruk.

Empat. Shalat di rumah: yang menjadi Imam shalat adalah semua anggota keluarga sehingga setiap anak tercambuk untuk hafal surah-surah Alquran karena kelak harus menjadi Imam, dengan demikian ada kaderisasi dan regenerasi Imam. Point ini jadi kontribusi tersendiri bagi lahirnya generasi yang hafal surah Alquran secara maksimal, karena dengan terus shalat berjamaah di rumah (karena sang ayah (atau paman / datuk) selalu menjadi Imam shalat berjamaah) maka anak-anak yang saat itu menjadi makmun akan tertantang dan terinspirasi untuk menjadi Imam kelak saat mereka sudah besar. Itu artinya mereka sejak dini harus hafal surah-surah Alquran, dan ini artinya merupakan landasan untuk membumikan kecenderungan hafal surah-surah Alquran.

Shalat di mesjid: yang hafal ayat-suci hanya para Imam Masjid atau segelintir orang, Muslim lain (di dalam hal ini ayah atau paman / datuk) tidak tercambuk untuk hafal surah Alquran karena mereka tidak akan menjadi Imam. Setiap laki-laki yang shalat di Masjid, tidak akan pernah mempunyai tantangan dan tanggungjawab untuk hafal surah Alquran, karena keperluan mereka akan hal itu untuk shalat sudah dipenuhi oleh Imam Masjid. Mereka para laki-laki yang shalat di Masjid hanya tinggal datang ke Masjid, kemudian ikut shalat berjamaah, kemudian diam saja mendengarkan Imam melantunkan ayat suci, kemudian hanya berkata “Aamiin …….!”, setelah itu selesai, dan kemudian pulang ke rumah. Kalau begini keadaannya buat apa susah-susah berusaha untuk hafal surah Alquran? Dan background ini mengakibatkan tidak ada satu jamaah pun yang tergerak untuk hafal surah Alquran.

Apakah mereka, laki-laki atau para ayah yang selalu shalat dan menjadi makmum di Masjid, merupakan individu-individu yang banyak hafalan surah Alqurannya? Tidaklah demikian. Atau, apakah mereka mempunyai kecenderungan untuk hafal lebih banyak surah Alquran? Tidaklah demikian. Bagi mereka, laki-laki atau para ayah yang selalu shalat berjamaah dan menjadi makmum di Masjid, shalat berjamaah di Masjid adalah sudah teramat baik, jadi tidak perlu lagi menghafal lebih banyak surah Alquran. Akibat dan kerugian yang akan diderita umat Muslim kalau shalat di Masjid adalah, bahwa menghafal lebih banyak surah Alquran bukan prestasi taqwa.

Lima. Shalat di rumah: pembentukan Generasi Shalat Minded terjamin.

Sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam. Sebenarnya tidaklah demikian. Shalat sebenarnya bukanlah perintah, melainkan PEMBIASAAN. Kalau seorang anak sejak kecil sudah dibiasakan shalat berjamaah secara terus menerus, maka sampai kapan pun sang anak akan tetap shalat meski dilempar ke Negeri yang jauh sekali pun. Dan pembiasaan shalat ini hanya dapat dipastikan melalui tradisi shalat berjamaah di rumah, di mana sang ayah (paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak-anak dan keluarga secara simultan dan kontinyu. Membangun kebiasaan dan pembiasaan shalat yang berujung pada shalat-minded tidak bisa diupayakan hanya di dalam waktu satu minggu atau satu tahun, atau melalui ceramah sedahsyat apapun, melainkan butuh waktu bertahun-tahun di dalam frame shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk), mulai dari sang anak berusia belia hingga remaja dengan cara terus dilibatkan di dalam shalat berjamaah di dalam rentang waktu sekian lama.

Singkat kata, suatu frame di mana seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya akan memastikan bahwa kelak sang anak akan menjadi bagian di dalam Generasi Shalat Minded. Kalau dibalik: cara melahirkan Generasi Shalat Minded, atau cara supaya sang anak kelak akan tetap kukuh menunaikan shalat hanyalah dengan melalui frame shalat di rumah yaitu sang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya.

Shalat di mesjid: pembentukan GSM terkendala.

Saat seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di Masjid, maka pada saat yang bersamaan, di rumah, sang anak dan seluruh keluarganya sedang asyik menyia-nyiakan waktu shalat dengan kesenangan duniawi. Bagaimana mungkin anak-anak di dalam suatu keluarga Muslim selalu terlibat di dalam kesempatan shalat berjamaah kalau sang ayah (atau paman / datuk) shalat di Masjid? Dan waktu yang berharga untuk membangun pembiasaan shalat bagi anak-anak terbuang dan tergusur karena di satu pihak ayah (atau paman / datuk) shalat di Masjid, sementara di pihak lain anak-anak pun akibatnya jadi asyik sibuk berhamburan di sepanjang jalan pada jam-jam shalat. Dengan keadaan seperti ini, tidak pernah terjadi pembiasaan shalat atas anak-anak dan keluarga, karena justru mereka dibiasakan berhamburan di jalan-jalan kampung untuk menikmati kesenangan duniawi di dalam kesia-siaan. Kalau sejak kecil tidak diadakan pembiasaan shalat, maka bagaimana kelak mereka akan terbiasa untuk shalat?

Outputnya jelas: di kemudian hari sang anak akan menjadi generasi yang berpantang shalat, mereka bukan bagian dari Generasi Shalat Minded. Mereka bukanlah umat Allah Swt.

Kecil sekali kemungkinannya seorang anak di kala dewasa akan tetap teguh menunaikan shalat di mana pun ia berada – kalau semasa kecilnya ia tidak menerima pembiasaan shalat dari keluarganya; dan pembiasaan shalat yang paling mungkin dan alami di sini adalah pembiasaan shalat melalui frame shalat berjamaah di rumah secara rutin yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk). Oleh karena itu seorang ayah (atau paman / datuk) yang selalu shalat di Masjid akan berparalel dengan jauhnya generasi muda (yaitu anak-anak mereka) dari shalat minded. Itu merupakan kerugian terbesar yang akan diderita seorang ayah (atau paman / datuk) di kemudian hari.

Enam. Shalat di rumah: Muhammad Saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluargamu …..”. Maka dari itu setiap ayah (atau paman / datuk) harus shalat di rumah supaya dapat menjadi Imam pemimpin shalat atas anak dan keluarga. Alhadis ini tidak dapat diartikan lain, kecuali setiap ayah (atau paman / datuk) harus shalat di rumah. Bagaimana seorang ayah (atau paman / datuk) dapat menunaikan amanat Alhadis tersebut yaitu menjadi Imam shalat atas keluarganya kalau ia selalu shalat di Masjid? Mutlak sekali, bahwa tafsir dan interpretasi dari Alhadis tersebut adalah bahwa setiap ayah (atau paman / datuk) harus shalat di rumah, karena dengan demikian setiap anak, setiap wanita, setiap remaja akan terpimpin juga untuk shalat di rumah karena mereka harus menerima dan tunduk pada Imamnya ayah (atau paman / datuk) mereka di rumah-rumah keluarga Muslim.

Shalat di mesjid: tidak ada landasannya. Banyak ayah (atau paman / datuk) yang berupaya untuk shalat di Masjid dengan pertimbangan beberapa Alhadis, misalnya Alhadis yang menyatakan bahwa Muhammad Saw akan membakar rumah umat yang enggan shalat di Masjid. Ketahuilah bahwa implementasi Alhadis tersebut hanya terbatas pada kota tiga Masjid suci, yaitu Mekah, Madinah dan Yerusalem. Di luar ketiga kota tersebut maka Alhadis mengenai pentingnya shalat di Masjid Suci (yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa) tidak berlaku, kebalikannya yang berlaku adalah Alhadis lain dari Baginda Muhammad Saw yaitu “Aku mementingkan perjalanan ketiga tempat ini, yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa …..”.

Ayah (atau paman / datuk) yang lainnya selalu mengupayakan shalat di Masjid dengan mendasarkan fikiran mereka pada ajaran bahwa Masjid dan shalat di Masjid merupakan poros kesalehan dan kedekatan umat kepada Allah Swt. Ketahuilah, bahwa kesalehan itu sendiri pasti berarti patuh pada pesan dan amanat Muhammad Saw. Dan amanat Muhammad Saw di sini adalah bahwa setiap ayah (atau paman / datuk) haruslah shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak-anak dan keluarganya.

Singkat kata, tidak ada landasan baik secara aqli mau pun naqli bagi setiap ayah (atau paman / datuk) untuk shalat di Masjid, selebihnya seluruh umat mempunyai alasan dan landasan logika kuat untuk selalu shalat di rumah, demi menjalankan amanah Muhammad Saw.

Muhammad Saw bertitah, “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu”, namun di lain pihak seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di Masjid. Ini berarti setiap laki-laki (atau ayah atau paman / datuk) bukanlah seorang pemimpin atas anak-anak dan keluarganya – seperti yang dititahkan Muhammad Saw; ini berarti setiap laki-laki adalah makmum. Maka jelaslah bahwa tradisi shalat di Masjid yang sementara ini terus dilakukan para lelaki atau ayah (atau paman / datuk) sehingga dengan tradisi ini para ayah (atau paman / datuk) tidak pernah menjadi Imam atas anak dan keluarganya – merupakan bentuk penyimpangan atas ajaran Rasul Muhammad Saw. Tidak pernah Muhammad Saw bertitah bahwa setiap laki-laki adalah dipimpin oleh laki-laki lainnya, maka mengapa seluruh pria mentradisikan untuk selalu diimamkan oleh laki-laki lainnya di suatu tempat dan bukannya memimpin anak dan keluarga di rumahnya sendiri?

Tujuh. Shalat di rumah: dengan tetapnya seorang ayah (atau paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya maka akan tercipta rumus: “bapak saleh, anak pun jadi saleh”. Hal ini dikarenakan di mana kalau ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah menjadi Imam shalat atas seluruh anak dan keluarganya secara terus-menerus, akan mengakibatkan anak-anak dan keluarganya ikut menjadi saleh. Dengan kata lain, kesalehan yang ada pada diri seorang ayah (atau paman / datuk) akan otomatis turun kepada anak dan keluarganya melalui kegiatan shalat berjamaah di rumah yang mereka imamkan setiap hari sepanjang tahun.

Kesalehan yang bersemi pada diri anak-anak dan keluarga dapat terwujud karena selalu shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk) tersebut adalah terjadi karena tiga hal:

  1. Setiap anak dan keluarga harus ikut shalat berjamaah di rumah. Dengan shalat di rumah, ayah (atau paman / datuk) akan memastikan bahwa anak-anak dan keluarganya harus ikut shalat, harus berada di belakangnya sebagai makmum untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah, tidak boleh ada yang absent apapun alasannya, yang tujuannya adalah untuk beraktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.
  2. Dengan anak-anak dan keluarga terus shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah (atau paman / datuk), maka alokasi waktu yang biasa dilewatkan anak-anak untuk berhamburan dan berceceran di luar rumah di sepanjang jalan kampung TERGANTIKAN dengan duduk khusyuk di belakang Imam yang adalah ayah (atau paman / datuk) mereka sendiri. Ini artinya telah menTIADAkan waktu untuk dihabiskan anak-anak dan keluarga di dalam kesia-siaan duniawi yaitu berkeliaran di luar rumah sepanjang jalan kampung di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, nonton konser murahan, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Kebalikannya, waktu yang dimiliki anak-anak dan keluarga akan digunakan untuk shalat berjamaah di rumah masing-masing dengan ayah (atau paman / datuk) sebagai Imam.
  3. Dengan ayah (atau paman / datuk) terus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak-anak dan keluarganya, maka itu berarti sang ayah terkondisikan untuk terus memperhatikan dan melakukan kontrol perkembangan rohani, jiwa, penerimaan dan intelektualitas sang anak dan keluarganya terhadap bibit iman dan taqwa, dan memang itulah tugas utama sang ayah (atau paman / datuk). Dengan ayah shalat berjamaah di rumah, setiap anak jadi merasa bahwa mereka diperhatikan oleh ayah mereka secara lebih intim dan terus-menerus.

Di siang hari sang anak dan keluarga telah bermain dengan kawan-kawan mereka di sekolah, taman kampung, pasar, di kampus, dan tanah lapang. Cukuplah hal itu merupakan waktu mereka untuk bersosialisasi dan bermain di luar rumah di kala siang. Dan ketika senja dan malam menjelang, bermain di luar rumah sudah berakhir, dan itulah saatnya mereka membangun karakter keagamaan dan rohani melalui shalat berjamaah di rumah dengan sang ayah (atau paman / datuk) menjadi Imam.

Pembangunan kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga: pembangunan rohani dan kesalehan akan mengguyur semua individu di dalam keluarga dan perkampungan Muslim tanpa kecuali, karena teknisnya adalah setiap ayah (atau paman / datuk) akan menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya, ini berarti shalat berjamaah tersebut akan melibatkan seluruh unsur yang ada di dalam kampung Muslim. Tidak akan ada satu anak pun, satu individu pun, yang lolos dan luput dari aktivitas pembangunan rohani ini, karena setiap mereka adalah anggota keluarga yang, akan dipanggil oleh ayah (atau paman / datuk) untuk ikut shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absen satu pun, untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Teramat besar kemungkinannya bahwa setiap anak yang terus shalat berjamaah di rumahnya akan menjadi saleh di kemudian hari seperti salehnya sang ayah (atau paman / datuk), karena shalat berjamaah yang terus diselenggarakan di dalam keluarga mempunyai kekuatan dan wewenang kuat untuk menyentuh dan menundukkan jiwa dan spiritualitas setiap anak sejak kecil.

Shalat di Masjid: bagaimana mungkin anak-anak di dalam suatu keluarga dapat menjadi saleh di saat dewasa, sementara anak-anak tersebut dibiarkan terus berkeliaran di luar rumah di sepanjang jalan kampung tidak memperdulikan masuknya waktu shalat khususnya Maghrib, Isya dan Shubuh? Mereka terus asyik bermain dengan kawan-kawannya malah pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, shopping, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dan itu bukanlah ciri-ciri umat Muslim, melainkan ciri-ciri umat di dalam kekafiran dan kerugian. Dan hal tersebut terjadi karena ayah mereka berketerusan shalat di Masjid, yang mana itu berarti sang ayah (atau paman / datuk) tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan pertum-buhan rohani sang anak, tidak memperdulikan siklus shalat sang anak dan keluarga. Dengan ayah shalat di Masjid, berarti mereka tidak memanfaatkan kesempatan dan peluang untuk menjadikan anak-anak mereka sebagai manusia saleh saat dewasa kelak.

Delapan. Shalat di rumah: kalau setiap ayah (paman / datuk) selalu shalat di rumah maka kehidupan beragama dan rohani akan terjadi dengan berbasis rumah / keluarga. Ini artinya pembangunan rohani dan kesalehan seutuhnya merupakan wewenang dan inisiatif sang ayah (paman / datuk) atas seluruh anak dan keluarganya, dan memang demikianlah seharusnya. Ayah, biar bagaimana pun adalah manusia yang paling bertanggungjawab atas perkembangan rohani dan kesalehan seluruh keluarganya, tidak bisa tidak. Itulah sebabnya Muhammad Saw menitahkan bahwa seluruh laki-laki wabil khususnya ayah (paman / datuk) harus senantiasa shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya (selama mereka berdomisili jauh dari lokasi Masjid Al-haram, Nabawi dan Masjid Aqsa).

Shalat di mesjid: kalau setiap ayah selalu shalat di Masjid maka pembangunan rohani dan kehidupan beragama adalah berbasis Masjid (atau rumah ibadah), tak ubahnya seperti kaum kafir atau jahiliyah. Di Dunia ini kita melihat pembangunan rohani umat Katholik berbasis di Gereja, di mana tugas dan wewenang untuk memimpin peribadatan seluruh jemaat berada di tangan pendeta Gereja. Sungguh setiap ayah di dalam lingkungan umat nonmuslim tidak mempunyai wewenang mau pun tanggungjawab untuk membina kebangunan rohani dan kehidupan beragama khususnya keluarganya sendiri. Jangankan membangun / membina rohani dan kehidupan beragama anak dan keluarganya, bahkan pemantapan iman dan rohani diri setiap ayah (paman / datuk) pun juga hanya boleh dikelola oleh staf pendeta di rumah ibadat. Dengan kata lain, setiap ayah dan juga anak dan seluruh keluarga tidak mempunyai hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan di dalam bermunajat kepada Tuhan, karena hak dan wewenang tersebut merupakan hak eksklusif para staf pendeta di rumah ibadat.

Islam tidaklah demikian, Islam mengajarkan bahwa hak dan wewenang untuk membangun rohani dan menyelenggarakan ritus peribadatan merupakan tugas dan tanggungjawab setiap ayah (paman / datuk), karena memang demikianlah logikanya: ayah yang melahirkan dan memberi makan anak dan keluarganya, maka ayah (paman / datuk) jugalah yang paling bertanggungjawab di dalam pembinaan rohani dan iman anak dan keluarganya, tidak bisa ditawar lagi dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Bagaimana mungkin Islam mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani dan iman seluruh keluarga diserahkan kepada staf rumah ibadat (yaitu Imam Masjid, sebagaimana halnya staf pendeta di Gereja), sementara staf rumah ibadat tersebut tidak mempunyai hubungan darah dan kasihsayang atas mereka (anak dan seluruh keluarga)?

Penting untuk diketahui, bahwa pada umat nonmusiim yang bersistem pembangunan rohani berporos rumah ibadat, telah menjadikan setiap ayah, paman, datuk, anak dan seluruh keluarga tidak mempunyai derajat kesalehan di dalam beragama. Karena lebih tepatnya lagi, derajat kesalehan hanya dimiliki staf rumah ibadat yang jumlahnya hanya segelintir di tengah mereka. Ini menyedihkan. Maka kemudian apakah umat Muslim di seluruh Dunia juga mempunyai takdir yang harus sedemikian sama, dengan cara bahwa hak dan wewenang untuk menyelenggarakan ritus ibadah terletak pada staf rumah ibadat, dalam hal ini Imam Masjid? Ingatlah bahwa Muhammad Saw pun melarang umatnya ber-tasyabuh, yaitu mempersamakan diri dengan kaum kafir di dalam cara dan berfikir, dan bertasyabuh merupakan dosa di sisi Allah Swt.

Dampaknya jelas: umat nonmuslim yang mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani keluarga merupakan wewenang rumah ibadat – melahirkan kesenjangan dan kemiskinan rohani di tengah umat secara akar-rumput, belum lagi ditambah sekuleritas yang menggejala pada masyarakat mereka, masyarakat nonmuslim. Hal seperti ini harus dijauhkan umat Muslim universal, caranya adalah dengan mengadopsi sistem di mana pembinaan rohani keluarga merupakan hak dan wewenang penuh atas ayah (paman / datuk) masing-masing.

Sembilan. Shalat di rumah: karena para ayah / suami harus menjadi Imam shalat di rumah maka sejak kecil mereka sudah dipersiapkan untuk hafal Alquran. Ini merupakan siklus kebaikan yang akan terwujud di dalam keluarga Muslim kalau mentradisikan shalat berjamaah di rumah dengan ayah (paman / datuk) sebagai Imam. Seorang ayah, ketika ia kecil selalu shalat berjamaah di rumah dengan diimamkan datuknya. Ayah yang masih kecil ini terpacu untuk hafal surah karena kelak ia juga akan harus berperan sebagaimana yang ditunjukkan datuknya. Ini merupakan dinamika Illahiyah yang luar-biasa yang akan memunculkan tahfiz-tahfiz pada usia remaja. Hikmah mentradisikan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan seluruh keluarga menjadi kenyataan dan semakin jelas.

Dengan kata lain, tradisi shalat di rumah di mana para ayah menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya, memunculkan tongkat estafet untuk generasi mendatang, yaitu mengakibatkan anak-anak yang menjadi makmum kala itu akan terpacu juga untuk hafal surah Alquran karena kelak mereka akan menjadi Imam juga atas anak-anak mereka di kemudian hari. Tongkat estafet keimaman dan tahfiz Alquran merupakan kata kunci di sini.

Karena tugas menjadi Imam merupakan tugas seluruh lelaki (karena kelak mereka akan menjadi suami / ayah / paman / datuk) maka tugas keimaman menjadi rata di tengah umat, dan akibatnya semua orang (harus) hafal surah Alquran: inilah moment kemunculan tahfiz publik, yaitu tahfiz yang membumi sampai ke akar-rumput.

Shalat di mesjid: menjadi tahfiz Alquran hanya untuk kalangan tertentu alias segmented, dan hal ini merupakan bentuk penolakan terhadap rahmat Allah Swt. Dengan mentradisikan shalat di Masjid, setiap ayah tidak mempunyai cambuk dan motivasi untuk hafal surah Alquran, karena mereka tidak akan pernah di-rolling-kan untuk menjadi Imam pada saat yang lain. Akibatnya target menghafal surah Alquran hanya bergulir di kalangan tertentu. Pada kenyataannya banyak para ayah (paman / datuk) yang sama sekali tidak hafal banyak surah Alquran, karena sejak kecil mereka tidak melihat senior mereka shalat di rumah menjadi Imam shalat, dan itu akibatnya para ayah (paman / datuk) tersebut tidak mempunyai tongkat estafet untuk menghafal surah Alquran.

Karena tugas menjadi Imam adalah segmented yaitu hanya untuk kalangan staf dan Imam Masjid maka tidak semua orang hafal Alquran, bahkan sedikit. Kalau tugas menjadi Imam hanya berkisar pada Imam Masjid, berarti setiap ayah tidak perlu mempunyai motivasi untuk hafal surah Alquran. Dengan mentradisikan shalat di Masjid, umat tidak akan menemukan moment kemunculan tahfiz publik, karena tradisi ini hanya melahirkan tahfiz yang segmented, yaitu khususnya dari kalangan pesantren dan sejenisnya.

Sepuluh. Shalat di rumah merupakan sumbu / poros dari sistem tahfiz publik yang melahirkan mekanisme pemurnian Alquran. Kemurnian Alquran, pada sejarahnya, terpelihara karena adanya tahfiz publik, yang mana tahfiz publik hanya akan terwujud jika seluruh ayah (paman / datuk) shalat di rumah menjadi Imam atas seluruh keluarganya. Dengan adanya mekanisme yang melahirkan tahfiz publik, keutuhan dan kemurnian Alquran terjaga, karena setiap individu hafal Alquran.

Jika di dalam 1000 orang hanya dua orang yang hafal Alquran, besar kemungkinan kedua orang ini akan mengubah-ubah ayat Alquran sesuka hati mereka, karena toh 998 individu lainnya tidak mengetahui konfigurasi ayat-ayat Alquran yang sebenarnya. Namun kalau ke-1000 individu tersebut hafal Alquran, maka tidak mungkin satu individu dapat leluasa mengubah satu ayat Alquran karena 999 yang lainnya sama-sama mengetahui konfigurasi surah dan ayat Alquran. Satu orang merupakan penjaga kemurnian ayat yang dilantunkan orang lainnya, begitulah seterusnya – karena mereka sama-sama hafal ayat Alquran. Itulah mekanisme pemurnian Alquran yang terjadi secara alami dan matematis!

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa kemurnian Alquran dapat terjaga karena adanya tradisi shalat di rumah di mana para ayah menjadi Imam atas seluruh anak dan keluarganya, yang kelak hal ini akan mengakibatkan seluruh laki-laki termotivasi untuk hafal seluruh surah Alquran (karena mereka harus menjadi Imam keluarga di rumah mereka sendiri), demikian juga anak-anak yang satu masa menjadi makmum di rumah, akan juga termotivasi untuk hafal surah Alquran karena kelak mereka akan berperan sebagai Imam di dalam kehidupan mereka mendatang. Maka meratalah, maka membumilah gelora menghafal surah Alquran! Ingatlah, lebih banyak orang yang hafal Alquran, maka lebih banyak manusia yang menjadi penjaga kemurnian Alquran.

Ketahuilah, bahwa tradisi shalat di rumah bagi ayah (paman / datuk) untuk menjadi Imam atas anak-anak dan seluruh keluarganya – pada skala mikro – merupakan sistem yang akan melahirkan tahfiz publik – pada skala makro yang berimbas pada pemurnian Alquran.

Shalat di mesjid: sejarah menunjukkan bahwa kitab-kitab suci pra-Alquran (Perjanjian-lama dan Perjanjian-baru dsb) berhasil dipalsukan karena kehidupan dan ritus agama berbasis rumah-ibadat sehingga kitabsuci menjadi monopoli kaum biarawan. Definisi monopoli di sini adalah, bahwa memiliki, memegang, merawat, membaca dan menghafal kitabsuci merupakan hak istimewa para biarawan, selebihnya umat awam tidak diperkenankan untuk memiliki, memegang, membaca dan menghafal kitabsuci, hal mana semangat ini lahir dari kepercayaan bahwa suatu kitabsuci adalah suci, oleh karena itu kitabsuci hanya boleh dipegang dan disentuh oleh manusia suci, dan manusia suci di sini pastilah berarti para biarawan, sementara umat awam tidak termasuk suci, oleh karena itu umat awam tidak diperkenankan memiliki, memegang, membaca dan menghafal kitabsuci.

Monopoli memungkinkan terjadinya pemalsuan kitab. Kalau satu individu (yaitu biarawan) mengubah ayat kitabsuci sesuka hati, bagaimana mungkin awam dapat mengetahui pengubahan ayat tersebut? Bukankah awam tidak hafal kitabsuci dan tidak juga memegang kitabsuci? Itulah sebabnya kitabsuci pra-Alquran mudah sekali dipalsukan, karena tidak adanya sistem yang melahirkan tahfiz publik di tengah mereka, karena penguasaan kitabsuci terpusat pada segelintir manusia.

Dan bagaimana pula kalau umat Muslim merupakan umat yang mentradisikan dan mensentralisasikan shalat di Masjid, di mana para ayah (paman / datuk) dan juga anak-anaknya menjadi tidak termotivasi untuk hafal Alquran karena urusan menghafal Alquran merupakan tugas para Imam Masjid semata, dan kemudian karenanya sistem ini tidak melahirkan tahfiz publik? Bukankah nasib kemurnian Alquran seutuhnya berada pada kesemena-menaan segelintir manusia yang hafal Alquran itu?

Sebelas. Shalat di rumah: kasih sayang dan pengawasan ayah (paman / datuk) atas anak-anak dan keluarga menjadi efektif dan sistematis, baik pengawasan itu di dalam hal siklus shalat pada khususnya, mau pun di dalam hal mental spiritual pada umumnya. Dengan shalat di rumah menjadi Imam atas anak-anak dan seluruh keluarganya, maka sayang dan kepedulian seorang ayah (paman / datuk) terhadap mereka adalah nyata senyata matahari. Pada dasarnya, shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas anak-anaknya merupakan wujud dan bukti bahwa seorang ayah, Imam tersebut, sayang kepada keluarganya sendiri, dan tidak ada yang lebih pantas dan lebih indah untuk menjadi Imam atas mereka, kecuali sang ayah sendiri, tidak bisa tergantikan.

Setiap anak dan seluruh keluarga akan tetap di dalam siklus shalatnya selama ada yang mengawasi, yaitu ayah mereka, tidak lain dan tidak bukan. Dan seseorang yang paling efektif pengawasannya terhadap siklus shalat anak-anak pastilah ayah (paman / datuk) mereka sendiri. Pengawasan yang dilakukan orang lain atas diri seorang anak terhadap siklus shalatnya, tidak akan mempan, tidak akan mengena, tidak akan efektif, tidak akan bertaji, karena orang lain tersebut bukanlah siapa-siapa bagi sang anak; dan sang anak sendiri akan menganggap dan melihat orang lain tersebut sebagai orang yang tidak berhak untuk mengawasi dan mengontrol siklus shalatnya. Terlebih, sang anak bukannya akan patuh pada pengawasan orang tersebut untuk shalat, malah akan berbalik untuk bergumam, ‘ayah saya tidak menyuruh dan tidak mengawasi saya shalat, lantas mengapa orang ini menyuruh saya shalat?’.

Pendek kata, hanya sang ayah (paman / datuk)-lah yang berada pada posisi untuk mengawasi siklus shalat anak dan keluarganya. Dan hal tersebut hanya dapat diimplementasikan jika seorang ayah (paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam atas keluarganya, seperti yang dititahkan oleh Muhammad Saw di dalam Alhadis: “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu”.

Sayang kepada anak dan keluarganya bukan hanya di dalam bentuk memberi rumah, memberi makan yang banyak, memberi mainan yang handal, melainkan juga terjadi di dalam bentuk ‘mempersembahkan’ mereka ke hadhirat Allah Swt di dalam seremoni shalat berjamaah di rumah. Biarlah Allah Swt dan para MalaikatNya melihat bahwa seorang ayah sedang membawa seluruh anak dan keluarganya ke hadlirat-Nya di dalam suatu shalat berjamaah, dan itulah yang indah dan yang sepatutnya, karena memang itulah tugas seorang ayah (paman / datuk).

Ketika seorang ayah (paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya, maka pada saat itu sang ayah sedang memasukkan keluarganya ke dalam Surga dan menyelamatkan mereka dari jilatan api Neraka sebagai bukti sayang dan pemeliharaan sang ayah yang kuat dan fundamental.

Tidak benar kalau seorang ayah hanya sayang pada dirinya sendiri, melainkan ia harus sayang kepada anak dan keluarganya, dan wujudkanlah itu di dalam bentuk shalat berjamaah di rumah dengan dirinya menjadi Imam shalat atas mereka.

Shalat di mesjid: kasih sayang dan pengawasan ayah (paman / datuk) terhadap anak-anak dan keluarga adalah semu, tidak efektif, dan hanya slogan. Bagaimana mungkin seorang ayah (paman / datuk) dapat dikatakan sayang kepada anak dan keluarganya kalau ayah ini selalu shalat di Masjid yang, itu berarti mereka tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan siklus shalat anak mereka, darah-daging mereka sendiri? Apakah mungkin seorang ayah yang sayang kepada anak-anaknya justru meninggalkan anak-anaknya tersebut di rumah dan membiarkan mereka terkatung-katung sepanjang jalan kampung berhamburan di dalam kesia-siaan duniawi dan tumpah-ruah di pelataran dunia di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb, sementara sang ayah asyik shalat di Masjid? Apakah sang ayah tidak ingin menjadi Imam untuk mengimamkan shalat anak-anak mereka, darah-daging mereka? Kalaulah seorang ayah sayang kepada anak-anak dan keluarganya, maka pastilah lebih mudah untuk mereka mengerti bahwa sebaiknya mereka sendiri yang mengimamkan shalat anak-anak itu.

Tidak mungkin rasa sayang seorang ayah kepada anak-anaknya justru mengakibatkan anak-anak tersebut harus terkatung-katung di dalam hiruk-pikuk duniawi, sementara sang ayah shalat di Masjid.

Anggaplah, bahwa shalat di Masjid memang merupakan kebajikan, sehingga dia yang mengamalkannya akan masuk Surga. Namun kemudian mengapa sang ayah membiar-kan anak-anak dan keluarganya tercecer di sepanjang jalan kampung berhamburan di dalam kesia-siaan Duniawi? Apakah seperti itu yang dinamakan sayang kepada anak dan keluarga? Apakah sang ayah ingin selamat di akhirat sendirian, dan anak-anaknya dibiarkan tumpah ke Neraka, tidak memperdulikan keselamatan-akhirat anak-anaknya? Maka dari sini jelas, bahwa tradisi shalat di Masjid merupakan kesalahan, karena tradisi ini mengakibatkan setiap ayah tidak sempat memikirkan nasib ukhrawi anak-anak dan keluarganya.

Jelas sekali, tradisi shalat di Masjid (yang bukan ajaran kenabian Muhammad Saw) sama sekali tidak mencerminkan rasa sayang seorang ayah (paman / datuk) kepada anak-anak dan keluarganya.

Duabelas. Shalat di rumah: kekuatan spiritualitas keagamaan menjadi nyata dan kuat. Ingatlah, bahwa kekuatan spiritualitas keagamaan (saleh, taqwa, tawadhu, tawakal, jujur, rendah-hati, sederhana, dsb) hanya dapat bangkit dan menjadi fenomena kalau proses pembentukannya terjadi secara:

  1. gotong-royong alias massal,
  2. di dalam jangka waktu yang lama (long-term), dan terakhir,
  3. semua fitnah / kekuatan dan efek negatif ditiadakan.

Di lain pihak, seorang ayah (paman / datuk) yang shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya di dalam jangka waktu yang lama, telah menjadi fondasi dasar pemupukan dan penguatan ruh keagamaan dan kesalehan secara fundamental terhadap jiwa dan mentalitas sang anak. Kuatnya spiritualitas ayah (paman / datuk) yang terlihat saat memimpin shalat berjamaah di rumah, dan kuatnya spiritualitas dari shalat berjamaah itu sendiri akan mempengaruhi spiritualitas anak-anak dan keluarganya.

Dan pada akhirnya seluruh umat yang shalat berjamaah di rumah (dilakukan secara massal atau gotong-royong) karena diimamkan oleh ayah masing-masing, yang karenanya seluruh jalan dan perempatan dan juga Pusat keramaian menjadi sepi (mentiadakan fitnah dan kekuatan negatif), telah menjadi kekuatan spiritualitas tertinggi yang dapat diperoleh umat Allah Swt di muka bumi ini. Dengan terciptanya suasana spiritualitas yang ajaib ini, terlihat jelas bahwa satu individu telah bergotong-royong dengan banyak individu lainnya di dalam gelombang kesalehan yang tiada tara, dan inilah yang memberikan gambaran kekuatan spiritualitas keagamaan yang kental dan prima.

Shalat di mesjid: kekuatan spiritualitas dalam menjalankan agama menjadi pudar: yang tercipta hanyalah poros: “loe loe, gue gue” dikarenakan setiap ayah (paman / datuk) selalu shalat di Masjid yang dampaknya setiap anak dan anggota keluarga lainnya di rumah tidak pernah mendapat sokongan dan dukungan untuk kesalehan. Intinya, tidak pernah terjadi di mana satu individu telah bergotong-royong dengan banyak individu lainnya di dalam gelombang kesalehan. Lebih tepatnya, tidak pernah seorang ayah (paman / datuk) membantu anak dan keluarganya untuk memupuk kesalehan yang shalat merupakan inti dari kesalehan tersebut. Ketika seorang ayah selalu shalat di Masjid (yang dengan demikian meninggalkan anak dan keluarganya di rumah) maka itu berarti sang ayah membiarkan anak-anaknya untuk memilih takdirnya sendiri, dan apakah itu takdir kesalehan yang dipilih sang anak, selamanya akan tetap menjadi misteri, tidak ada satu pun yang dapat menjaminkan. Dan bagaimana mungkin takdir kesalehanlah yang dipilih anak-anaknya, sementara dukungan dan sokongan dari sang ayah tidak mereka dapat?

Intinya, kesalehan tidak datang dengan sendirinya, dan tidak dapat diusahakan orang per-orang, melainkan sebagai suatu usaha bersama, berjamaah, di dalam suatu kedisiplinan dan ketaatan. Pendek kata, kalau seorang ayah tidak ingin anak dan keluarganya saleh, maka cukuplah baginya untuk terus shalat di Masjid, dan biarkan anak dan keluarganya memilih takdirnya sendiri di tengah hingar-bingarnya kehidupan di luar rumah.

Tigabelas. Shalat di rumah: hak wanita dan anak-anak untuk shalat berjamaah berikut untuk memperoleh pahalanya, terpenuhi. Para wanita, yang mereka adalah para anak perempuan, istri, ibu, bibi, nenek, merupakan umat Tuhan yang harus dilibatkan di dalam seremoni shalat berjamaah berkenaan dengan keutamaan pahala shalat berjamaah. Di lain pihak, shalat berjamaah hanya dapat diimamkan oleh laki-laki yaitu para ayah atau suami / paman / datuk. Berarti kalau seorang ayah (paman / datuk) shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas seluruh anak dan keluarganya, maka hak, pahala dan takdir para wanita di dalam keluarga tersebut telah terpenuhi.

Intinya, Islam telah mengajarkan bahwa tempat terbaik bagi seorang wanita adalah tetap di rumahnya sendiri, yang mana ini berarti para wanita tidak dianjurkan untuk melangkahkan kaki mereka menuju Masjid untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah. Di satu pihak Islam mengajarkan bahwa para wanita harus turut disertakan di dalam shalat berjamaah, dan juga menitahkan bahwa tempat terbaik bagi wanita untuk beribadah adalah di dalam rumahnya sendiri. Ini berarti bahwa setiap ayah (paman / datuk) haruslah shalat di rumah untuk menjadi Imam atas mereka.

Tidak ada satu kepentingan yang ingin dipenuhi oleh seorang ayah ketika ia memilih untuk shalat di rumah menjadi Imam atas keluarganya, kecuali kepentingan untuk menjadi Imam atas anggota keluarganya khususnya yang perempuan, seperti anak perempuannya, istrinya, ibunya, neneknya, bibinya dsb. Dan memang demikianlah seharusnya pilihan yang harus direnungkan seorang ayah (paman atau datuk). Adalah mutlak seorang ayah untuk harus sayang kepada anak-anaknya yang perempuan, kepada ibunya, neneknya, dsb, dan satu-satunya cara untuk menyayangi mereka adalah dengan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas mereka dari waktu ke waktu.

Shalat di mesjid: dengan para ayah / laki-laki selalu shalat di Masjid, maka kemudian apakah para istri, anak perempuan, para ibu tidak berhak untuk diimamkan oleh ayah / suami, lantaran kaum wanita lebih baik tinggal di rumah?

Ketika seorang ayah memutuskan untuk shalat di Masjid, para wanita (termasuk anak-anak perempuan) yang tinggal di rumah tidak mempunyai gambaran bagaimana hak mereka untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah dapat terpenuhi secara terus menerus. Kenyataannya, para wanita ini untuk dalam jangka waktu yang sekian lama akan tetap shalat sendirian di rumahnya, dan itu pun tidak ada yang dapat memastikan apakah wanita-wanita ini benar-benar menunaikan shalat di rumah – sementara ayah-ayah mereka shalat di Masjid.

Pendek kata, ketika para lelaki shalat di Masjid, kesia-siaan telah terjadi di tengah umat, yaitu pensia-siaan hak para wanita untuk diimamkan di rumah, sementara Muhammad Saw sudah jelas dengan Alhadis-nya, yaitu bahwa “setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu”. Satu-satunya cara yang tepat untuk mengamalkan Alhadis tersebut adalah para lelaki (termasuk para ayah, paman, datuk, abang, suami dsb) memilih shalat di rumah, dan menghentikan tradisi untuk shalat di Masjid, karena shalat di Masjid tidak mempunyai landasan argumentasi baik aqli mau pun naqli.

Empatbelas. Shalat di rumah: setiap ayah / suami dapat memastikan sendiri bahwa anggota keluarganya tetap menunaikan shalat karena ayah / suami sendirilah yang mengimamkan mereka. Sudah sama diketahui bahwa shalat merupakan perintah di dalam Islam, dan perintah shalat ini adalah rata untuk seluruh umat tanpa kecuali. Masalah akan timbul kalau ada satu individu tidak menunaikan shalatnya, dan terlebih kalau individu tersebut merupakan anggota keluarga yang, seharusnya tetap memelihara siklus shalatnya. Hal ini seharusnya merupakan kepedulian dan concern seorang ayah atas seluruh anak dan keluarganya. Adalah sulit untuk dicerna bahwa ada seorang ayah begitu memelihara siklus shalatnya sementara anak dan keluarganya tidaklah demikian. Kalau anak dan keluarga tidak serius di dalam siklus shalatnya maka dapat dipastikan itu semua berawal dari tidak adanya perhatian sang ayah (atau paman / datuk). Dan kalau hal ini benar-benar terjadi, seluruh ulama sepakat bahwa kesalahan justru berada pada diri sang ayah (atau paman / datuk), tidak bisa tidak.

Pada saat seorang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya, maka sebenarnya pada saat tersebut sang ayah telah dapat memastikan bahwa anak dan keluarganya sudah paripurna menunaikan shalat: “dia yakin karena dia melihat”, karena dia sendiri yang mengimamkan mereka. Kepastian merupakan kata kunci di sini, dan tidak ada yang dapat memastikan mereka (anak dan keluarga) menunaikan shalat kecuali adanya perintah, perhatian dan keimaman sang ayah (paman / datuk). Itulah satu-satunya jalan bagi seorang kepala keluarga untuk memastikan bahwa seluruh anggotanya tetap di dalam siklus shalat. Ingatlah bahwa kebanyakan dari anggota keluarga adalah anak-anak manusia yang masih di dalam usia pertumbuhan, yang mana itu berarti bahwa mereka belum mengerti kedisiplinan dan ketaatan. Anak-anak biasanya hanya melewatkan hari-hari dengan bermain dan naluri untuk tidak taat.

Tidak mungkin ada seorang anak kecil yang taat memelihara siklus shalatnya. Sebaliknya, setiap anak hanya memikirkan main bersama kawan-kawannya. Dan kemudian, tidak mungkin ada seorang anak kecil yang ketika ditanya ayahnya apakah sudah shalat, kemudian sang anak akan menjawab “sudah” dengan penuh kebenaran, tanggungjawab, dan bermartabat. Sulit mengharapkan kesalehan tumbuh dan bersemi pada diri seorang anak yang sedang senang-senangnya bermain.

Namun di luar itu semua, tentunya sang ayah mempunyai perhatian yang lebih besar atas mereka. Wujudnya hanya satu: memanggil mereka untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah di rumah, hari demi hari, minggu demi minggu, dan tahun demi tahun, hingga anak-anak tersebut tumbuh menjadi dewasa, yaitu usianya untuk taat dan sadar akan kewajiban dan kesalehan. Dengan terus memanggil mereka untuk berpartisipasi shalat berjamaah, maka tidak perlu sang ayah bertanya kepadanya apakah sudah shalat, karena sang ayah sendirilah yang mengimamkannya. Dengan dipanggil shalat, maka berhentilah mai-mainnya untuk sementara, untuk shalat tersebut. Dan ikut shalat berjamaah tidak akan mencederai haknya untuk bermain.

Shalat di mesjid: dapatkah ayah / datuk memastikan bahwa anak dan keluarganya sudah shalat, sementara ayah tersebut shalat di Masjid? Dan apakah masuk akal ada seorang ayah yang selalu shalat di Masjid sebagai wujud dari kesalehannya, sementara ia menuntut anak-anaknya untuk juga saleh di rumah dengan tetap memelihara siklus shalat?

Ketika seorang ayah bertanya kepada anaknya apakah sudah shalat, dan dijawab “sudah” oleh sang anak, berapa persenkah validitas jawaban sang anak untuk ayah tersebut pertanggung-jawabkan di depan Allah Swt di hari berbangkit kelak? Bukankah ia tidak melihat? Dan bukankah ia tidak boleh yakin akan validitasnya? Apakah mungkin nilai keyakinan dapat disamakan antara “melihat sendiri” dengan “tidak melihat sendiri”? Jelas seorang ayah tidak pernah melihat dengan matanya sendiri bahwa anaknya telah menunaikan shalat, maka bagaimana ia yakin bahwa anak-anak dan keluarganya sudah shalat, cukup hanya dengan mendengar mereka menjawab “kami sudah shalat”?

Apakah membesarkan anak di dalam ketaatan untuk shalat caranya cukup dengan bertanya apakah kamu sudah shalat Maghrib dan Isya tadi, sementara sang ayah selalu shalat di Masjid yang mana itu berarti selalu meninggalkan anak dan keluarganya di dalam ketidakpastian akan memelihara shalat? Dus, berarti meninggalkan tanggung-jawabnya untuk memastikan bahwa anak dan keluarganya tetap memelihara siklus shalat? Ketahuilah, bahwa ketika sang ayah shalat di Masjid, maka semua anak justru sedang asyik berhamburan di pelataran dunia di dalam kesia-siaan larut di dalam kesenangan duniawi yang tidak terperikan.

Limabelas. Shalat di rumah: karena ayah (paman / datuk) menjadi Imam di rumah yang mengakibatkan aktivitas shalat berjamaah berpusat di rumah-rumah maka:

  1. Tarbiyah keluarga berlangsung secara konstan dan intim.
  2. Tarbiyah terhadap keluarga terjadi secara alami, membumi, dan gratis karena tarbiyah merupakan tanggungjawab ayah (paman / datuk).
  3. Ayah (paman / datuk) secara otomatis dan alami harus menjadi pengajar dan pembimbing atas anak-anaknya / ponakannya / sepupunya / cucunya / adik-adiknya, dll, itu semua atas dasar sayang sang dari sang ayah (atau paman / datuk).

Shalat di mesjid: tarbiyah hanya berlangsung terhadap jemaah Masjid, itu pun hanya untuk kalangan para ayah / orang-tua; tarbiyah untuk anak-anak dan keluarga terbengkalai karena Ayah (paman / datuk) pergi shalat ke mesjid. Akibatnya jika memang anak-anak faham agama itu karena mereka disekolahkan, yang artinya Ayah (paman / datuk) lempar tanggung-jawab kepada lembaga sekolah tersebut.

Biar bagaimana pun tarbiyah yang didapat anak dari sekolah adalah bersifat darurat, tidak menyeluruh, tidak permanen, dan serba kaku. Adalah tidak mungkin dapat mempersamakan antara tarbiyah yang didapat anak di rumahnya, dengan tarbiyah yang mereka dapat dari sekolah.

Kalau memang terdapat tarbiyah di dalam kehidupan ini, maka mengapa tarbiyah itu hanya untuk kalangan ayah / paman? Mengapa tarbiyah tidak diperuntukkan bagi anak-anak di rumah? Apakah anak dan keluarga tidak membutuhkan tarbiyah? Mengapa bisa terjadi, di mana para ayah / datuk menikmati tarbiyah di dalam Masjid, sementara anak dan keluarga tidak menikmati tarbiyah tersebut, malah justru asyik tenggelam di dalam kesia-siaan tercecer sepanjang jalan kampung dan tumpah-ruah di pelataran dunia di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main kejar-kejaran, tawuran, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb?

Enambelas. Shalat di rumah: tidak akan mungkin terjadi malapetaka umat, karena ayah / suami shalat berjamaah di rumah menjadi Imam atas seluruh anggota keluarga, maka jelaslah seluruh anggota keluarga sedang berada di belakang mereka sebagai makmum menunaikan shalat bersujud kepada Illahi, sehingga menjadi sepi-lah seluruh hiruk-pikuk keduniawian: jalan-jalan menjadi sepi, lapangan menjadi sepi, mal-mal menjadi sepi, perempatan menjadi sepi, Pusat jajan menjadi sepi, karena anak-anak dan wargakota yang biasa meramaikan tempat-tempat keduniawian tersebut saat itu justru sedang menjadi makmum shalat berjamaah yang diimami oleh ayah-ayah / datuk-datuk mereka di rumah masing-masing.

Dengan ayah / paman shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan seluruh anggota keluarganya, maka kesibukan dan kesenangan keduniawian di pelataran dunia musnah dan terhenti, karena anak-anak manusia yang biasanya meramaikan kesibukan dan kesenangan keduniawian tersebut, saat itu sedang berada di belakang ayah / paman / kakek mereka masing-masing sebagai makmum dalam ketaatan dan kesalehan, penuh ridha Illahi.

Jelas sekali, ketika seorang seorang ayah (paman, datuk, abang, suami) shalat di rumah menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya, maka ia tengah dan telah memusnahkan dan memadamkan hiruk-pikuk duniawi di seluruh perempatan jalan dan Pusat belanja, dan kemudian mengubah dunia menjadi tempat yang penuh ibadat dan taqwa kepada Illahi, karena anak-anak dan warga kota yang biasa meramaikan pelataran dunia tersebut sedang shalat sebagai makmum di belakang sang ayah / paman. Inilak keagungan dan kekuatan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh setiap ayah / datuk. Inilah marwah umat Muslim seluruh Dunia!

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh ayah / paman / datuk merupakan:

  1. satu-satunya kekuatan yang paling misterius dan paling berwibawa yang dapat merontokkan dan mengkudeta huru-hara duniawi khususnya pada malam hari; shalat berjamaah di rumah telah menggulingkan malapetaka dunia.
  2. dan menggantinya dengan suasana ibadat yang hikmat dan kudus,
  3. terakhir, mengklaim anak-anak dunia sebagai anak-anak yang penuh ibadat dan kesalehan.

Terbebaslah umat dan seluruh anak dari malapetaka duniawi dikarenakan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh setiap ayah, itulah titah Nabawi.

Shalat di Masjid: ketika seorang ayah / paman / datuk shalat di Masjid maka terjadilah malapetaka umat. Ketika para ayah / suami shalat berjamaah di Masjid, berarti anak-anak dan anggota keluarga lainnya sedang tumpah-ruah di pelataran dunia di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, tawuran, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dsb.

Ayah / paman shalat di mesjid maka kesibukan dan kesenangan keduniawian di pelataran dunia tetap menggejala karena terus memikat, menyedot dan dihadiri anak-anak manusia karena mereka tidak diimamkan oleh Ayah (paman / datuk) mereka masing-masing. Ketika seorang ayah shalat di Masjid, maka sama saja sang ayah telah melontarkan anak-anaknya dihambur-hamburkan ke pelataran dunia penuh kesia-siaan.

Seorang ayah yang shalat di Masjid sebenarnya sedang menghidupkan dan menyemarakkan kehidupan huru-hara di seluruh perempatan jalan tempat di mana seluruh anak manusia tumpah ruah di dalam kesia-siaan. Di dalam kancah seperti ini bagaimana mungkin setiap jiwa dan setiap anak tumbuh di dalam kesalehan dan ketaqwaan yang Nabawi?

Tujuhbelas. Shalat di rumah: khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan Shubuh, ketiga waktu tersebut merupakan waktu tarbiyah untuk anak dan keluarga. Jarak waktu antara Maghrib dan Isya sangat singkat, tidak sampai dua jam. Sengaja Allah Swt menyingkatkan waktu Maghrib supaya dengan demikian dekat jaraknya dengan Isya yaitu hanya berkisar tidak sampai dua jam. Hikmahnya adalah bahwa supaya waktu tersebut digunakan umat Muslim untuk moment tarbiyah di mana sang ayah / datuk / suami menjadi pembimbing rohani bagi seluruh anak dan anggota keluarganya. Cukup dua jam setiap hari (antara Maghrib menuju Isya) merupakan masa tarbiyah yang sangat ampuh bagi anak-anak yang sedang di dalam masa pertumbuhan rohani . Di awal Maghrib sang ayah memanggil anggota keluarga dan seluruh anaknya untuk shalat berjamaah (di rumah). Kemudian sang Imam tidak akan mengijinkan anak-anaknya untuk beranjak kembali kepada aktivitasnya seusai shalat Maghrib berjamaah, melainkan sang Imam (ayah atau datuk atau paman) menyuruh anak-anaknya untuk tetap di tempat shalatnya untuk aktivitas rohani seperti mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, menghafal surah-surah pendek, dsb. Dan tidak terasa adzan Isya telah berkumandang, maka berakhirlah sesi tarbiyah untuk anak-anaknya pada hari itu. Shalat Isya berjamaah segera didirikan, dan anak-anak sudah mendapatkan pengajaran dan pertumbuhan rohani di dalam rumahnya sendiri. Setelah usai shalat Isya berjamaah, keluarga tersebut langsung ke meja untuk santap malam, mereka makan, dan akhirnya mereka siap untuk beristirahat sampai fajar menjelang.

Shalat Shubuh juga demikian. Sang ayah / datuk / paman akan membangunkan anak-anak dan anggota lainnya untuk shalat berjamaah di rumah, tidak boleh ada yang absent, semua dibangunkan dari tidurnya. Setiap hari berlangsung demikian maka kukuhlah anak-anak di dalam disiplin dan keteguhan shalat.

Demikian agenda anak-anak dan keluarga Muslim setiap hari sehingga tumbuhlah anak-anak itu di dalam persemaian rohani yang kukuh dari keluarganya sendiri. Itu semua karena sang ayah (atau paman / datuk) selalu shalat di rumah untuk memimpin shalat berjamaah atas keluarganya.

Shalat di Masjid: moment tarbiyah yang di-skenariokan Allah Swt supaya setiap Ayah (paman / datuk) menjadi pemimpin shalat dan pengajaran disiplin beragama bagi anak-anak di rumah, menjadi terkendala secara fundamental. Waktu Maghrib, Isya dan Shubuh menjadi sia-sia tidak dapat dioptimalkan untuk moment pengajaran anak-anak, dan anak-anak akhirnya mengalami kemarau-jiwa karena tidak pernah dihadirkan di dalam shalat berjamaah di rumah setiap hari. Hal itu semua karena ayah (atau suami / paman / datuk) pergi shalat di Masjid yang mana itu berarti mereka tidak lagi memperdulikan pertumbuhan rohani anak-anak. Ibarat kata, Pemerintah telah membangun jembatan penyeberangan jalan buat warga, namun ternyata warga lebih memilih menyeberang jalan karena tidak ingin menggunakan jembatan tersebut, akibatnya sering terjadi kecelakaan dan kemacetan lalu-lintas.

Delapanbelas. Shalat di rumah: Ayah (paman / datuk) sadar bahwa keselamatan keluarganya merupakan tanggung-jawabnya di dunia dan akhirat. Dengan shalat di rumah untuk menjadi Imam atas seluruh keluarganya, Ayah (paman / datuk) telah melaksanakan tanggung-jawabnya atas keselamatan keluarganya. Dengan shalat di rumah, seorang ayah akan memastikan bahwa anak-anak dan keluarganya harus shalat, harus berada di belakangnya sebagai makmum untuk berpartisipasi di dalam shalat berjamaah, tidak boleh ada yang absent apapun alasannya. Televisi akan dimatikan, komputer akan dimatikan, gamesonline harus dimatikan, chatting internet harus dimatikan, kelayapan dan keluyuran di luar rumah dilarang, karena mereka harus berdiri di belakang Imam untuk shalat berjamah, karena shalat merupakan hal fundamental bagi iman dan ketaqwaan, tidak bisa dikalahkan oleh semua fasilitas keduniawian apapun.

Shalat di Masjid: seorang ayah / datuk yang shalat di Masjid, merupakan individu yang tidak pernah menyadari bahwa anak dan keluarga merupakan tanggungjawab mereka dunia akhirat. Atau, mereka sadar bahwa anak dan keluarga merupakan tanggungjawab dunia akhirat, namun mereka tidak melaksanakan tanggungjawab tersebut dengan semestinya, mereka telah menelantarkan tanggungjawab dunia akhirat yang untuk memastikan bahwa anak dan keluarga tetap shalat untuk memperoleh keselamatan dunia akhirat. Akibatnya, anak dan keluarga menjadi kering, rohani mereka tidak tumbuh dan berkembang dengan baik, dan menjadi pribadi yang tidak menunaikan shalat. Mereka, anak dan keluarga, menjadi keluyuran, terkatung-katung, berceceran dan kelayapan keluar rumah di sepanjang jalan, tidak shalat, tidak mengaji, tidak berzikir, tidak bershalawat, tidak melantunkan doa, tidak bersimpuh di hadapan Illahi, tidak menikmati suasana religius di dalam rumahnya, dan itu mengerikan. Mereka malah pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, shopping, nonton tv, nonton bioskop, main raket, main bola, jual-beli, kongkow-kongkow, dan itu bukanlah ciri-ciri umat Muslim, melainkan ciri-ciri umat di dalam kekafiran dan kerugian.

Seorang laki-laki yang selalu shalat di Masjid, tidak berfikir bahwa anak dan keluarganya merupakan tanggungjawabnya untuk diimamkan. Mereka hanya berfikir bahwa shalat merupakan kesalehan, dan merupakan kesalehan prima kalau ditunaikan di Masjid. Itu saja yang ada di dalam fikiran mereka. Para ayah yang shalat di Masjid sehingga tidak pernah menjadi Imam atas anak dan keluarganya, hanya berfikir bahwa shalat di Masjid merupakan kesalehan, kebalikannya tidak pernah berfikir bahwa menjadi Imam atas anak dan keluarganya di rumah merupakan kesalehan. Para ayah ini, berfikir bahwa shalat atau tidaknya anak dan keluarganya, bukanlah urusannya, bukanlah tanggungjawabnya, melainkan urusan masing-masing anak dan keluarganya.

Singkat kata, seorang ayah / suami yang selalu shalat di Masjid, tidak pernah sadar bahwa anak dan keluarganya adalah tanggung-jawabnya dunia akhirat.

Sembilanbelas. Shalat di rumah, adalah gelombang rohani yang akan menjadikan rumah keluarga Muslim sebagai tempat suci dan kudus yang di dalamnya umat Allah Swt sedang bermunajat dan mensucikan diri mereka dari fitnah dunia dan fitnah jaman. Ketahuilah bahwa dengan lebih banyak tinggal di dalam rumah, maka seluruh anggotanya terbebas dari marabahaya dan godaan Iblis, karena Iblis lebih banyak beroperasi di luar rumah, terlebih di malam hari. Jadi dengan demikian dapat dikatakan, bahwa lebih banyak tinggal di dalam rumah di malam hari merupakan perjuangan setiap anggota keluarga untuk tetap suci. Inilah alasan mengapa rumah keluarga Muslim merupakan tempat suci.

Di dalam suatu Alhadis disebutkan bahwa Malaikat Rahmat as tidak akan masuk ke dalam rumah keluarga Muslim kalau di dalam rumah tersebut terdapat seekor anjing. Alhadis ini menyiratkan makna bahwa sejatinya Malaikat Rahmat as selalu berada di dalam rumah-rumah keluarga Muslim untuk menabur rahmat Allah Swt. Dan pada akhirnya Alhadis ini ingin menegaskan bahwa setiap rumah keluarga Muslim adalah tempat suci dan kudus, ditandai dengan bersemayamnya Malaikat Rahmat as di dalam rumah tersebut.

Lebih dari itu, kalau di dalam rumah itu selalu ditunaikan shalat berjamaah maka kesucian dan kekudusan rumah tersebut semakin mudah difahami. Shalat berjamaah di rumahlah yang paling berkontribusi di dalam menjadikan suatu rumah keluarga Muslim suci. Teknisnya, kalau shalat berjamaah sering dan rutin ditunaikan di dalam rumah (karena ayah / paman / datuk selalu menjadi Imam shalat di dalamnya), maka nyatalah rahmat Allah Swt yang ditabur sang Malaikat Rahmat di atas rumah tersebut.

Ada sebagian Muslim yang berfikir bahwa rumah bukanlah tempat suci – sehingga tidak layak untuk dijadikan tempat shalat berjamaah. Ketahuilah, bagaimana rumah tersebut akan menjadi suci kalau di rumah tersebut tidak pernah ditunaikan shalat berjamaah? Semakin sering shalat berjamaah ditunaikan di rumah maka semakin sucilah rumah tersebut di mata Allah Swt dan para MalaikatNya.

Pada moment inilah Muhammad Saw bersabda, “terangilah rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran”. Alhadis ini menegaskan betapa pentingnya menjadikan rumah sebagai ‘pangkalan’ shalat yang permanen untuk seluruh anggota keluarga turun temurun, demi menunaikan makna dari Alhadis Muhammad Saw tersebut.

Dan dengan terus menunaikan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh sang ayah, yang mana seremoni tersebut melibatkan anak dan seluruh anggota keluarga, dan dikarenakan shalat itu sendiri adalah suci dan Agung, dan membuat rumah tempat diselenggarakannya shalat berjamaah itu jadi suci dan Agung juga, maka akibat akhirnya adalah bahwa anak dan keluarga pun menjadi suci dan saleh. Itu sudah jelas, itu sudah logis, itu adalah efek kartu domino-nya!

Praktis, kalau seorang ayah (paman / datuk) selalu shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan keluarganya maka rumah tersebut menjadi tempat suci dan kudus di mata Allah Swt. Dan setiap jiwa yang tinggal di dalam rumah tersebut pun juga menjadi suci dan saleh, jauh dari fitnah dunia. Dengan seorang ayah memilih untuk shalat di rumah, ia telah menegaskan bahwa rumahnya merupakan tempat suci, dan shalat berjamaah adalah pantas untuk ditunaikan di dalamnya.

Shalat di Masjid, adalah suatu gelombang yang didasari oleh kebiasaan berfikir bahwa Masjid adalah tempat suci. Dan ketika para ayah pulang kembali ke rumah dari shalat berjamaah dari Masjid, maka kesucian itu tetaplah berada di Masjid: kesucian tersebut tidaklah ikut terbawa ke rumah, dan tidak juga membuat anak dan keluarganya menjadi suci sesuci Masjid. Anak dan keluarganya tetaplah berhamburan di jalanan kampung asyik bermain kejar-kejaran di sepanjang jalan tidak karu-karuan, pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, godain cewek, nonton bioskop, tawuran, main raket, makan permen karet, nonton bola, bermain futsal, main bola, shopping, jual-beli, main internet, kongkow-kongkow, dsb.

Ketika sang ayah shalat di Masjid berketerusan, maka perbuatan tersebut tidak membuat rumahnya menjadi suci, tidak juga membuat anak dan keluarganya saleh. Masjid tetaplah suci, namun apakah keluarganya menjadi saleh, tetap menjadi misteri yang tidak terpecahkan sepanjang abad.

Duapuluh. Shalat di rumah: adalah tombol pertama untuk menimbulkan kesalehan tingkat keluarga, tingkat atomik, yang tidak dapat dihindari, merupakan cikal-bakal kesalehan umat secara keseluruhan.

Mudah sekali untuk direnungkan, ketika seorang ayah shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya, maka seluruh keluarga akan mengikuti seremoni tersebut dengan penuh hikmat dan khusyuk, dan itu berarti seluruh keluarga terhindar dari fitnah kota, khususnya di malam hari, dengan cara bermunajat kepada Illahi dan berbuat tindakan yang benar untuk kesejahteraan hati dan jiwa: mengaji, mengisahkan kehidupan para Nabi, berzikir, bershalawat, tadabur Alquran, memberi wejangan, sesi tanya-jawab, melantunkan doa, pendalaman Islam, menghafal surah-surah pendek, dsb.

Ketika sang ayah shalat dan menjadi Imam atas keluarganya, maka dekat sekali sang ayah kala itu kepada anak-anaknya untuk dapat memperhatikan rona-wajah anak-anak, memperhatikan kesehatannya, mencermati penerimaan sang anak atas pelajaran sekolah, kemajuannya di dalam menghafal surah dan Alhadis, dsb. Dekat sekali, intim sekali ……….

Kesalehan tingkat atomik dengan demikian telah terwujud, maka hal berikutnya akan terwujudlah kesalehan tingkat yang lebih luas, yaitu kesalehan yang menggelora pada tingkat Kerajaan Allah Swt di muka bumi ini. Adalah mustahil mendapatkan kesalehan pada tingkat sosial yang lebih luas, sementara kesalehan tingkat atomik yaitu tingkat keluarga hancur-lebur, ditolak dan dikesampingkan. Kalau kesalehan tingkat atomik telah tercapai, maka otomatis kesalehan tingkat sosial yang lebih luas, tercipta.

Penutup.

Tidak ada kebajikan di dalam tradisi shalat di Masjid untuk para ayah / paman, karena sebaliknya, Muhammad Saw hanya mengajarkan umatnya untuk shalat di rumah supaya para ayah menjadi Imam shalat berjamaah atas anak dan keluarganya, sesuai dengan titahnya, bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, dan kelak kepemimpinannya harus ia pertanggungjawabkan kepada Allah Swt di Hari Penghakiman kelak.

Selebihnya, shalat berjamaah di rumah mempunyai begitu banyak rahasia keagungan dan kesalehan yang akan tertebar merata atas keseluruhan orang yang beriman, dan kesalehan tersebut kelak akan menjadi gelombang yang akan menghempaskan fitnah dunia tanpa kenal garis perbatasan Negeri dan Pemerintahan.

Selama ini umat mentradisikan shalat di Masjid, dan hasilnya terlihat jelas, di mana anak-anak manusia menjadi terkatung-katung di sepanjang jalan kampung berhamburan di tengah huru-hara dunia, dan setiap anak manusia menjadi tidak dapat dihadirkan di dalam seremoni kesalehan keluarga, yang merupakan cikal-bakal kesalehan umat keseluruhan. Ketika seorang ayah shalat di Masjid, maka anak-anak memeriahkan kekacauan duniawi di Pusat keramaian khususnya di malam hari, dan ketika mereka pulang ke rumah, mereka membawa kehancuran yang mereka dapat dari Pusat keramaian tersebut ke rumah masing-masing.

Tidak dapat dihindari untuk diungkapkan, bahwa tradisi shalat di Masjid memberi kontribusi signifikan atas meriahnya kekacauan duniawi di Pusat keramaian, tempat di mana anak-anak manusia terhambur-hambur di dalam hiruk-pikuk keduniawian: pacaran, makan bakso, ngobrol, ngerumpi, bergerombol di perempatan jalan, main gamesonline, bbm-an, nonton tv, nonton bioskop, makan permen karet, tawuran, godain cewek, main raket, main bola, jual-beli, shopping, kongkow-kongkow, dsb. Artinya, kalau kekacauan dan kesia-siaan duniawi tersebut ingin ditumpas habis, maka satu-satunya jalan adalah mentradisikan shalat di rumah di mana sang ayah mengimamkan shalat berjamaah atas anak dan keluarganya. Dan kalau kekacauan bin kesia-siaan duniawi harus tumbuh subur, maka satu-satunya cara untuk mewujudkannya adalah dengan membiarkan para ayah shalat di Masjid sehingga meninggalkan anak dan keluarganya di rumah untuk kemudian berserakan di pelataran dunia di dalam kesia-siaan fitnah kota.

Inilah maksud Nabawi, inilah maksud Illahiah, dengan shalat di rumah menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Inilah makna doa yang tertera di dalam Alquran mengenai keluarga Muslim yang penuh dengan agenda shalat berjamaah di mana sang ayah merupakan Imam shalat berjamaah,

QS Furqaan 74: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Ayat ini, tidak dapat tidak, merupakan titah Allah Swt sebagai dasar untuk mewujudkan tradisi shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga. Kata ‘kami’ pada ayat tersebut pastilah posisi seorang ayah, karena dinisbatkan dengan phrase berikutnya ‘anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami’, yang mana itu berarti seorang ayah bermunajat kepada Allah Swt semoga istri dan anak-anaknya menjadi kesenangan hatinya: itulah kesalehan. Sudah dijelaskan melalui paparan ini, bahwa kesalehan hanya terjadi dan tercipta jika sang ayah berteguh untuk shalat di rumah dan menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Phrase berikutnya semakin menegaskan bahwa seorang ayah hendaklah bercita-cita supaya menjadi Imam atas anak dan keluarganya yang penuh taqwa, yaitu phrase “jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Bagaimana mungkin seorang ayah memperoleh keluarganya sebagai kesenangan hatinya, kalau keluarganya tidaklah saleh. Kemudian, kesalehan itu sendiri hanya dapat tercapai dengan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh sang ayah sendiri. Dan kemudian, bagaimana seorang ayah dapat menjadi pemimpin (Imam) atas keluarganya yang saleh dan bertaqwa, kalau keluarganya tidak bertaqwa dan saleh lantaran tidak pernah diimamkan shalat berjamaah di rumah?

Apakah mungkin ayat ini mengandung makna, bahwa seorang ayah ingin agar keluarganya menjadi keluarga yang bertaqwa, sementara ia sendiri tidak mengusahakan hal tersebut (dengan cara menjadi Imam shalat atas mereka di rumah)? Dan apakah mungkin, seorang ayah ingin menjadi pemimpin atas orang-orang yang bertaqwa, sementara orang-orang bertaqwa tersebut bukan keluarganya, melainkan orang lain?

Tepat sekali cara Allah Swt menyusun kata-kataNya di dalam ayat Al-furqan 74 ini untuk mewartakan betapa strategisnya shalat berjamaah di rumah dengan diimamkan oleh seorang ayah di dalam keluarga tersebut.

Shalat berjamaah di Masjid merupakan lawan dari shalat berjamaah di rumah, dan akibat dari kedua frame tersebut juga saling berlawanan, untuk menghemat kata.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid.
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah.
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah.
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim.
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam.
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya.

Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah

jengkaltanahuntukmesjid

Rumah merupakan tempat suci di mata Allah Swt, karena di rumah tersebutlah Allah Swt mencurahkan seluruh rahmat dan hidayahNya kepada seluruh anggota keluarga yang diam di dalam rumah tersebut. Itu artinya, rumah ini mengharuskan penghuninya untuk terus menunaikan shalat di dalam rumah, bukan di Masjid. Dan kalau dari waktu ke waktu shalat berjamaah terus ditunaikan di dalam suatu rumah, maka akan semakin sucilah rumah tersebut.

Terdapat kondisi dan tradisi di mana kebanyakan Muslim memilih shalat di Masjid, bukannya di rumah. Dan mereka berfikir bahwa shalat di Masjidlah yang merupakan ajaran Muhammad Saw. Tak pelak lagi, pendirian mereka jadi menempatkan rumah bukan lagi sebagai tempat suci. Ini jelas bertentangan dengan kemurahan dan maharahmat Allah Swt.

Di bawah ini akan dipaparkan bahwa tidak ada satu pun dalil / nash agama yang dapat dijadikan landasan untuk shalat di Masjid.

Satu.

Alhadis: Setiap kamu adalah pemimpin atas anak dan keluarga kamu.

Alhadis di atas benar-benar menitahkan, bahwa setiap laki-laki haruslah menjadi Imam shalat di rumah atas seluruh keluarganya. Khususnya yang dimaksud laki-laki di sini adalah para ayah, paman, datuk mau pun suami, yaitu mereka yang sudah dewasa dan dituntut dari mereka kepemimpinan dan tanggungjawab mereka atas kemaslahatan keluarganya. Laki-laki anak kecil tentulah bukan termasuk yang disinggung di dalam Alhadis ini, karena mereka belum mempunyai tanggungjawab, belum dewasa, sehingga oleh karena itu belum dapat dituntut kepemimpinannya atas keluarganya.

Kalau di satu pihak sudah jelas bahwa setiap laki-laki, ayah, paman, datuk mau pun suami merupakan pemimpin atas anak dan keluarganya, maka di pihak lainnya pun jelas, bahwa adalah tugas dan kewajiban setiap dari mereka untuk shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Kalau Muhammad Saw telah bertitah bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin, maka bagian paling perdana dari menjadi pemimpin tersebut adalah menjadi Imam shalat di rumahnya atas anak dan keluarganya. Hal tersebut teramat mudah untuk difahami.

Kalau seorang laki-laki, di dalam hal ini, seorang ayah mau pun paman atau datuk selalu shalat di Masjid, bukan di rumah, maka bagaimana ia dapat menjalankan perannya sebagai Imam atas keluarganya di rumah? Ketika seorang ayah shalat berjamaah di Masjid, maka pada saat itu ia bukanlah pemimpin, melainkan seseorang yang dipimpin (yaitu makmum), sementara sabda Muhammad Saw sudah jelas, bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin, yang arti perdana di sini adalah pemimpin shalat atas anak dan keluarganya.

Tak pelak lagi, adalah penting bagi setiap laki-laki untuk shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya demi mengamalkan titah Baginda Muhammad Saw.

Dua.

Alhadis: Aku mementingkan perjalanan ke tiga Masjid ini yaitu Masjid Al-haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-aqsa.

Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa, merupakan tiga Masjid suci di dalam agama Islam. Keberadaan Ketiga Masjid ini disinggung di dalam Alquran, yang menandakan keutamaan dan kesucian dari ketiga Masjid ini. Selain itu, ketiga Masjid ini merupakan saksi dari perjalanan seluruh Nabi dan Rasul Allah di dalam menjalankan tugas Surgawi mereka melawan kekafiran umat jahil.

Adalah pada tempatnya Muhammad Saw bersabda yang sedemikian di atas, untuk menegaskan posisi penting dari ketiga Masjid tersebut. Umat akan mendapat keberkahan yang luar biasa kalau berada di dalam Masjid ini, khususnya untuk setiap shalat yang mereka tunaikan di dalam ketiga Masjid tersebut.

Arti lain yang penting dari Alhadis di atas adalah, bahwa seluruh Masjid selain ketiga Masjid Haram, merupakan tempat yang tidak mempunyai keutamaan bagi umat, khususnya untuk setiap shalat yang mereka tunaikan di dalamnya. Kalau Muhammad Saw sendiri telah bersabda bahwa diri-nya hanya mementingkan perjalanan kepada tiga Masjid Haram tersebut, maka itu artinya Muhammad Saw tidak melihat adanya keutamaan dari mengunjungi atau berada di Masjid selainnya, khususnya untuk setiap shalat yang ditunaikan di dalamnya. Bagi umat ini pun jelas, bahwa kalau Muhammad Saw telah berpendirian sedemikian, maka umat pun harus sepakat bahwa berada atau mengunjungi Masjid selain tiga Masjid Haram tidak mempunyai nilai keutamaan, khususnya untuk setiap shalat yang ditunaikan di dalamnya.

Kalau seorang Muslim berada di kota Mekah, atau perjalanan dari tempatnya berdiam menuju Masjid Al- Haram tidak menyusahkan dirinya, maka berlakulah Alhadis tersebut di atas, yaitu bahwa dia harus mementingkan perjalanannya ke Masjid Al- Haram. Begitu juga kalau ia berada di Madinah mau pun di Yerusalem, yang perjalanannya dari tempatnya berdiam menuju Masjid Haram di masing-masing kota tidak menyusahkan dirinya, maka wajiblah baginya untuk mengunjungi Masjid tersebut untuk beribadah di dalamnya.

Namun sebaliknya, kalau perjalanannya dari tempatnya berdiam menuju ketiga Masjid Haram menyusahkan dirinya, maka tiada wajib baginya untuk shalat di ketiga Masjid tersebut, karena telah berlaku atasnya Alhadis Nabi Muhammad Saw ini, yaitu bahwa siapa pun harus mementingkan perjalanan menuju ketiga Masjid Haram saja, selainnya tidak mempunyai keutamaan.

Kata kuncinya adalah ‘menyusahkan atau tidak menyusahkan’, karena Islam tidak pernah menyusahkan umatnya. Kalau suatu perjalanan dari sebuah tempat berdiam menuju salah satu Masjid Haram tidak menyusahkannya, maka wajiblah ia berperjalanan menuju Masjid Haram tersebut. Namun kebalikannya, kalau perjalanan dari tempatnya berdiam menuju satu Masjid Haram adalah menyusahkannya, maka tidak wajib atasnya untuk mengunjungi Masjid tersebut, cukuplah ia shalat di rumah untuk menjadi Imam atas keluarganya.

Oleh karena itu kalau seorang umat berada di Jakarta atau di Beijing, yang perjalanannya menuju ketiga Masjid Al- Haram tersebut menyusahkan baginya, maka tidak adalah keutamaan dan kepentingan baginya untuk shalat di Masjid tempat kediaman kotanya. Ingatlah, bahwa Muhammad Saw telah bertitah, bahwa hanya ketiga Masjid suci saja yang mempunyai keutamaan, maka itu berarti Masjid selainnya tidak mempunyai kepentingan dan keutamaan.

Konsekwensinya adalah, lebih baik bagi seorang umat yang jauh dari ketiga Masjid Haram tersebut untuk senantiasa shalat di rumah, untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya.

Tiga.

Alhadis: Terangilah rumah kamu dengan shalat dan membaca Alquran.

Alhadis ini mempunyai ketegasan tingkat tinggi mengenai betapa pentingnya bagi umat Muslim untuk shalat di rumah agar dengan demikian dapat menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Tidak dapat lagi disangkal, tidak dapat lagi dicarikan dalih lain, karena Alhadis ini tidak mempunyai arti lain kecuali dengan terang menyebutkan bahwa seluruh Muslim, seluruh ayah, paman dan datuk tetaplah harus shalat di rumah di dalam rangka membawa cahaya shalat bagi rumah mereka masing-masing di dalam rangka menunaikan titah Muhammad Saw ini.

Oleh karena itu dari mana lagi dalih yang ingin dipertahankan seorang umat Muslim untuk berketerusan shalat di Masjid, sehingga dengan demikian ia meninggalkan kewajibannya untuk menjadi Imam shalat atas anak dan keluarganya di rumah masing-masing? Kalau seorang Muslim shalat di Masjid, berarti ia tidak shalat di rumah. Dan kalau ia tidak shalat di rumah, maka bagaimana mungkin rumahnya mendapatkan cahaya Illahiah yang dipancarkan shalat berjamaah di rumah?

Kalau seorang Muslim shalat di Masjid, kalau berketerusan shalat di Masjid, maka jelaslah bahwa ia-nya telah menyimpangi ajaran dan titah Muhammad Saw. Berkata tidak kepada Alhadis Nabi saw merupakan suatu dosa. Ketahuilah, ketika seorang Muslim shalat di Masjid, bukannya di rumah, maka pada saat itu ia bukan seorang hamba yang menjalankan sunnah Rasul.

Empat.

Alhadis: “Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi mereka pada hari tiada naungan selain naungan Allah yaitu -di antaranya- seorang yang terikat (hatinya) dengan Masjid ketika ia keluar hingga ia kembali ke Masjid (HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Banyak Muslim yang senantiasa shalat di Masjid, bukannya di rumah, tersebab adanya Alhadis di atas. Alhadis ini mengisyaratkan, bahwa manusia yang akan mendapat naungan pada hari kiamat adalah manusia yang terikat cintanya kepada Masjid, serta-merta umat menerjemahkannya dengan cara harus senantiasa berada di Masjid selama mungkin, shalat di Masjid, mengaji Alquran di Masjid, dzikir di Masjid, shalawat di Masjid, intinya berada lama di dalam Masjid merupakan tolok-ukur kecintaan dan kesalehan seorang manusia. Luar biasa, kesalehan yang diagung-agungkan Islam ternyata hanya bernuansa satu warna, yaitu berada lebih lama di dalam Masjid.

Ketika seorang manusia harus cinta kepada Masjid – seperti yang dititahkan Muhammad Saw – maka apakah implementasinya adalah dengan terus shalat di Masjid, dengan meninggalkan kewajibannya untuk menjadi imam di rumahnya???

Kalau memang landasannya adalah selalu berada di Masjid untuk mencintai Masjid di dalam rangka untuk mencapai kesalehan dan naungan Allah Swt di hari kiamat, maka itu berarti:

  • Tidak usah kerja sekalian,
  • Tidak usah ngantor sekalian,
  • Tidak usah ke pasar sekalian,
  • Tidak usah maju ke medan pertempuran sekalian,
  • Tidak usah membangun rumah sekalian,
  • Tidak usah menikah sekalian,
  • Tidak usah mengurus anak sekalian,
  • Tidak usah berbakti kepada orang-tua sekalian,
  • Tidak usah menuntut ilmu sekalian,
  • Tidak usah bergotong-royong membersihkan desa sekaian,

Tidur saja di mesjid buat selama-lamanya …. Shalat saja terus-terusan di Masjid, tinggal saja di Masjid sekalian buat selama-lamanya.

Apakah itu yang diinginkan Allah Swt dan RasulNya?

Terdapat suatu Alhadis yang mengisahkan adanya seorang sahabat yang terus-terusan shalat di Masjid, siang, malam, shubuh, sore, fajar …… selalu shalat di Masjid. Hal ini menjadi perhatian Muhammad Saw.

Kemudian Nabi saw bertanya kepada Muslim tersebut, “apakah kamu tidak bekerja mencari nafkah untuk keluarga?”. Muslim tersebut menjawab, “sudah ada kesepakatan antara saya dengan saudara saya, bahwa cukuplah saya shalat terus-menerus di Masjid ini, dan saudara sayalah yang akan bekerja untuk menafkahi keluarga saya”.

Muhammad Saw bersabda, “tidak demikian. Keluarlah kamu untuk bekerja mencari nafkah untuk keperluan kamu sekeluarga. Kalau kamu sudah selesai dengan pencarian nafkahmu, maka kembali lah kamu ke Masjid ini”.

Kisah ini memberi pemikiran segar, bahwa kalau mencintai Masjid berarti setiap Muslim harus lebih banyak melewatkan waktu di Masjid, maka mengapa ada kisah seperti yang termaktub di dalam Alhadis ini? Bukankah Muhammad Saw sendiri yang melarang setiap umat (laki-laki) untuk selalu berada di Masjid, untuk selalu shalat di Masjid? Faktanya sahabat tersebut tengah menunjukkan cintanya kepada Masjid, namun bukankah kemudian Muhammad Saw memerintahkan sahabat tersebut untuk keluar dari Masjid supaya bisa bekerja mencari nafkah, yang merupakan kewajibannya yang lain?

Intinya, cinta kepada Masjid, sama sekali tidak bermakna bahwa seorang Muslim harus terus-terusan berada dan shalat di Masjid. Ingatlah bahwa setiap laki-laki, ayah, paman, datuk, mempunyai kewajiban atas anak dan keluarganya. Maka dari itu wajiblah setiap dari mereka menunaikan kewajiban mereka atas keluarganya yaitu shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat atas mereka (khususnya untuk shalat Maghrib, Isya dan shubuh). Kalau mereka sudah selesai dengan tugas keimaman mereka, baiklah mereka berada di Masjid.

Kalau seorang Muslim berketerusan berada di Masjid, shalat di Masjid, dzikir di Masjid, shalawat di Masjid, itikaf di Masjid, khatam Alquran di Masjid, demi memenuhi titah Alhadis bahwa mencintai Masjid merupakan jaminan kesalehan dan jaminan akan mendapatkan naungan Allah Swt pada hari kiamat, maka bagaimana Muslim tersebut dapat dikatakan Muslim yang bermanfaat buat sesama? Islam mengajarkan bahwa kesalehan adalah ketika seorang Muslim bermanfaat secara positif bagi sesamanya. Dan itu artinya Muslim tersebut harus berada di luar Masjid untuk menunjukkan sumbangsihnya bagi masyarakat. Artinya, kalau seorang Muslim ingin menjadi saleh, maka adalah salah kalau ia menempuhnya dengan selalu berada di dalam Masjid, karena dengan berada berketerusan di dalam Masjid, maka praktis menjadilah ia tidak berguna buat sesamanya.

Singkat kata, mencintai Masjid, bukan inspirasi untuk membuat setiap Muslim harus berketerusan berada di Masjid.

Lima.

Alhadis: Shalat berjama’ah itu lebih baik 27 kali lipat daripada shalat sendiri”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

Alhadis ini menitahkan bahwa shalat berjamaah mempunyai derajat 27 kali lebih tinggi dari shalat seorang diri. Namun apakah Alhadis ini menyebutkan bahwa suatu shalat akan bernilai 27 derajat lebih tinggi jika ditunaikan di dalam Masjid? Tidaklah demikian.

Ingatlah, bahwa di mana pun suatu shalat ditunaikan, asalkan ditunaikan secara berjamaah, maka tetaplah nilainya 27 derajat lebih tinggi daripada shalat seorang diri. Tidak perlu suatu shalat berjamaah ditunaikan di dalam Masjid supaya shalat berjamaah tersebut bernilai 27 derajat lebih tinggi. Tidak ada Alhadis mau pun nash lainnya yang menyebutkan, bahwa shalat berjamaah akan bernilai 27 derajat lebih tinggi jika ditunaikan di dalam Masjid, tidak ada Alhadis demikian.

Artinya, kalau suatu shalat ditunaikan secara berjamaah, dan ditunaikan di dalam sebuah rumah keluarga Muslim di mana sang ayah menjadi Imam atas anak dan keluarganya, maka tetaplah shalat tersebut bernilai 27 derajat lebih tinggi.

Enam.

Alhadis: “Sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar” (HR. At-Thabarani dan al-Hakim. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 3271).

Banyak Muslim yang berteguh untuk memilih Masjid sebagai tempat untuk menunaikan seluruh jadwal shalat mereka, dengan menggunakan dalil yang salah satunya adalah Alhadis di atas. Tersebab Masjid merupakan tempat terbaik di dalam pandangan Allah Swt, maka hal ini membuat Muslim berfikir, bahwa shalat haruslah ditunaikan di dalam Masjid.

Sebenarnya-lah, tidak ada hubungan apapun antara Alhadis ini dengan fikiran bahwa shalat harus ditunaikan di dalam Masjid. Alhadis ini hanya menitahkan bahwa sebaik-baik tempat di dunia adalah Masjid, dan seburuk-buruk tempat di dunia ini adalah pasar, itu saja. Alhadis ini tidak menyiratkan bahwa shalat harus ditunaikan di dalam Masjid.

Kalau Masjid merupakan sebaik-baik tempat di bumi ini, dan ini mengakibatkan Muslim berfikir bahwa shalat sebaiknya ditunaikan di dalam Masjid, maka kemudian, apakah yang menghalangi Muslim untuk turut berfikir, bahwa sebaiknya mengurus anak dilakukan di Masjid, memasak sayur dan gulai sebaiknya ditunaikan di Masjid, berbakti kepada orang tua sebaiknya ditunaikan di Masjid? Apakah memang harus demikian?

Tujuh.

Alhadis: “dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun ketentraman kepada mereka; rahmat akan menyelimuti mereka, para Malaikat menaungi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para Malaikat di sisi-Nya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Alhadis ini juga dijadikan salah satu dalih beberapa Muslim untuk terus berteguh untuk shalat di Masjid.

Alhadis ini menitahkan adanya kebaikan atas suatu golongan yang selalu berhimpun di dalam Masjid untuk tujuan mendalami Alquran. Namun apakah Alhadis ini dengan serta-merta berarti bahwa seluruh Muslim harus berketerusan shalat di Masjid? Atau, apakah Alhadis ini merupakan sinyalemen bahwa Allah Swt mengharamkan setiap Muslim untuk shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya?

Kalaulah memang Allah Swt mengharamkan setiap Muslim untuk shalat di rumah menjadi Imam atas keluarganya tersebab adanya Alhadis ini, maka mengapa pada bagian lain Muhammad Saw bersabda bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin dan Imam atas anak dan keluarganya? Mengapa juga pada suatu saat Muhammad Saw bersabda bahwa sebaiknya setiap Muslim menerangi rumah-rumah mereka dengan shalat dan membaca Alquran? Atau, apakah umat Muslim harus melihat ada pertentangan yang keras di dalam Dienullah ini?

Delapan.

Muhammad Saw dan para sahabatnya tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah.

Seluruh buku sejarah yang menghadirkan kisah kehidupan Muhammad Saw dan para sahabatnya memperlihatkan bahwa Muhammad Saw dan hamba-hamba beriman tidak pernah berpantang untuk shalat di rumah. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa shalat di rumah merupakan suatu kebajikan yang lain di dalam Islam, terlebih misi dari shalat di rumah adalah supaya setiap ayah menjadi Imam atas anak dan keluarganya, karena hal tersebut merupakan bagian terpenting dari menjadi ayah.

Sejarah mengakui bahwa Muhammad Saw dan para sahabatnya tidak pernah berpantang shalat di rumah, maka mengapa kemudian umat Muslim justru berpendirian seolah mereka berpantang shalat di rumah, demi untuk berketerusan shalat di Masjid? Dan kalau mereka berpendirian bahwa Masjid merupakan simbol kesalehan Islami, maka ketahuilah bahwa mereka salah. Kesalehan yang Islami adalah bahwa setiap ayah menjadi Imam shalat di rumah atas anak dan keluarganya secara berketerusan.

Harus dipertanyakan, apakah mereka mendapatkan sumber pendirian mereka tersebut dari perikehidupan Muhammad Saw dan para sahabatnya?

Sembilan.

Islam mengajarkan bahwa setiap jengkal tanah di muka bumi merupakan Masjid, yang mana itu merupakan ajaran bahwa setiap jengkal tanah adalah tempat sujud. Kalau jengkal tanah itu adalah rumah keluarga Muslim, maka bukankah teramat baik kalau rumah dijadikan tempat untuk shalat bagi keluarga tersebut?

Terdapat Muslim yang berpendirian bahwa shalat harus ditunaikan di Masjid – dengan berpantang shalat di rumah. Pendirian tersebut jelas tidak mempunyai dalil dari nash agama. Dan kalau setiap jengkal tanah merupakan tempat untuk sujud, maka mereka telah menolak untuk menjadikan jengkal tanah di rumah mereka sebagai tempat untuk sujud kepada Allah Swt. Maka bukankah hal tersebut merupakan pendurhakaan terhadap ajaran Illahi?

Tidak ada larangan syariah untuk menjadikan jengkal tanah yang ada di rumah sebagai tempat untuk sujud kepada Allah Swt. Maka shalatlah di rumah, karena tempat tersebut telah Allah Swt tetapkan sebagai tempat untuk bersujud. Dan bersujudlah bersama anak dan keluarga.

Sepuluh.

Alquran: “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam Masjid-Masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (Masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (QS. al-Baqarah:114).

Tidak ada satu huruf pun di dalam ayat Al-baqarah 114 ini yang mengindikasikan baik secara implisit mau pun eksplisit bahwa setiap laki-laki Muslim harus shalat di Masjid mana pun (kecuali ketiga Masjid Al-haram).

Ingatlah bahwa ayat Al-baqarah 114 ini TIDAK SPESIFIK menyatakan Masjid yang mana, apakah hanya sebatas @ketiga Masjid Al-haram (yaitu Masjid alharam, Masjid nabawi dan Masjid aqsa), atau hanya sebatas @Masjid di luar ketiga Masjid Al-haram, atau @keseluruhan Masjid yang mencakup ketiga Masjid Al-haram dan Masjid universal lainnya?

Karena Allah Swt tidak spesifik di dalam ayat Al-baqarah 114 ini, maka itu berarti bahwa yang dimaksud di dalam ayat tersebut ADALAH HANYA SEBATAS PADA KETIGA MESJID ALHARAM YAITU MESJIDIL HARAM, MESJID NABAWI DAN MESJID AQSA. Ini berarti ayat ini tidak mencakup untuk Masjid lainnya.

Ingatlah bahwa domain yang disinggung oleh ayat Al-baqarah 114 adalah terlalu luas. Di situ ada kata MENGHALANG-HALANGI MANUSIA DARI MENYEBUT NAMA ALLAH DI DALAM MESJID-NYA.

Apakah ini berarti bahwa di sini ada yang menghalang-halangi manusia dari menyebut nama Allah di dalam MasjidNya? Ingat, setiap Jumat seluruh Muslim akan ke Masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Apakah mereka akan dihalangi? Saat Muslim bepergian jauh pasti mereka akan mampir ke Masjid untuk shalat. Apakah mereka akan dihalangi? Saat Muslim laki-laki berada di tempat kerja / Kantor dan mereka shalat Zuhur dan Ashar di Masjid, apakah mereka akan dihalangi? Jawabannya adalah, TIDAK.

Intinya, makna dari phrase MENGHALANG-HALANGI MANUSIA DARI MENYEBUT NAMA ALLAH DI DALAM MESJID-NYA adalah, bahwa,

  • Ada manusia jahat, yang melarang Muslim menyebut nama Allah Swt di dalam Masjid.
  • Ada manusia jahat, yang ingin agar Muslim di dalam Masjid tidak menyebut nama Allah Swt, melainkan menyebut seluruh urusan dunia saja.
  • Ada manusia jahat, yang tidak ingin umat Muslim menyebut-nyebut nama Allah Swt dalam Masjid.

Manusia-manusia jahat inilah yang disasar Allah Swt melalui ayat Al-baqarah 114.

Pun yang DIHALANG-HALANGI manusia jahat ini BUKAN PERGI KE MASJIDNYA, melainkan MENYEBUT NAMA ALLAHSWT – NYA yang dihalang-halangi oleh manusia jahat ini.

Ayat ini bermakna, jangan ada manusia jahat yang menghalangi Muslim untuk meyebut nama Allah Swt di dalam Masjid, dan berarti AYAT INI TIDAK BERARTI BAHWA SELURUH MUSLIM LAKI-LAKI HARUS SHALAT DI MASJID.

Kemudian, kalau ayat ini berarti ada kebinasaan buat siapa saja yang menghalangi manusia dari mengunjungi Masjid, maka itu berarti bahwa setiap Muslim boleh ke Masjid kapan pun. Nah sekarang pertanyaannya adalah, kalau memang setiap Muslim boleh ke Masjid kapan pun, maka berarti setiap Muslim tinggal di Masjid saja seumur hidup, tidak usah bekerja, tidak usah sekolah, tidak usah berbakti kepada orang tua, tidak usah mengurus anak, tidak usah menikah, tidak usah mengurus kampung, tidak usah mengunjungi saudaranya yang sakit, dsb. Apakah memang demikian yang dikehendaki Allah Swt dan RasulNya?

Harus ditegaskan, bahwa ayat Al-baqarah 114 tersebut cakupannya terlalu luas. Oleh karena itu ayat Al-baqarah ini tidak bisa dijadikan argumentasi untuk menyatakan bahwa setiap Muslim harus shalat di Masjid, karena kebalikannya, yang benar adalah bahwa setiap Muslim harus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya.

Dan sekarang anggaplah bahwa MEMANG ayat Al-baqarah ini mempunyai makna bahwa seluruh laki-laki harus shalat di Masjid mana pun, tidak boleh dihalang-halangi, tidak boleh dilarang. Maka bukankah itu berarti AKAN ADA PERTENTANGAN DAN KONTRADIKSI antara Alquran dengan Alhadis Muhammad Saw bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin? Bukankah ini berarti ada pertentangan antara Alquran dengan Alhadis bahwa Muhammad Saw hanya mementingkan perjalanan ketiga Masjid suci? Bagaimana Muslim dapat menjawab pertanyaan ini?

Ingatlah bahwa nash Islam tidak mempunyai pertentangan. Maka kalau di satu pihak Muhammad Saw bersabda bahwa,

  1. Setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, yang mana itu berarti setiap laki-laki harus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas mereka,
  2. Muhammad Saw hanya mementingkan perjalanan ke tiga Masjid Al-haram yaitu masjidil haram, Masjid nabawi dan Masjid aqsa, yang ke selainnya tidaklah penting,

……. yang mana kedua point ini berarti setiap laki-laki harus shalat di rumah untuk menjadi Imam keluarga ………… maka di pihak lain tidak ada satu pun ayat di dalam Alquran yang menyatakan bahwa setiap laki-laki harus shalat di Masjid.

Maka jelaslah sekarang, bahwa tidak ada satu nash pun dapat Islam yang memerintahkan laki-laki Muslim untuk shalat di Masjid, karena kebalikannya, seluruh Muslim laki-laki harus shalat di rumah untuk menjadi Imam shalat di rumahnya sendiri atas anak dan keluarganya.

Sebelas.

Alquran: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka mereka-lah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. at-Taubah:18).

Memakmurkan Masjid di sini, BUKAN BERARTI, DAN TIDAK SELALU BERARTI harus shalat di Masjid sehingga anak-anak dan keluarga terlantar di rumah! Harus diingat, bahwa Muhammad Saw telah bersabda bahwa setiap laki-laki adalah pemimpin atas anak dan keluarganya, maka mengapa masih ada manusia yang berpendapat lain? Bukankah Alhadis tersebut berarti setiap laki-laki harus menjadi Imam atas anak dan keluarganya di rumah? Bukankah itu berarti setiap laki-laki Muslim harus shalat di rumah?

Alangkah baiknya untuk diperhatikan dengan baik. Pada ayat Attaubah 18 itu disebutkan ciri Muslim yang memakmurkan Masjid, yaitu:

  • Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,
  • Serta tetap mendirikan sholat,
  • Menunaikan zakat,
  • Dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah.

Nah perhatikan, apakah ada tersebut di atas bahwa ciri Muslim yang memakmurkan Masjid adalah manusia yang selalu shalat di Masjid (kecuali ketiga Masjid Haram)? Keempat ciri yang diterangkan di dalam Alquran sama sekali tidak menjelaskan bahwa Muslim yang memakmurkan Masjid merupakan Muslim yang selalu shalat di Masjid.

Ini berarti menguatkan suatu pandangan, bahwa setiap Muslim laki-laki harus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya, karena itu pun merupakan amanah Muhammad Saw (kecuali kalau Muslim tersebut berada dekat dengan ketiga Masjid Al- Haram).

Jadi, berdasarkan perspektif ayat Attaubah 18 ini, dapat disimpulkan bahwa Muslim mana pun yang selalu mempertahankan siklus shalatnya, alias rajin shalat, maka ia termasuk Muslim yang memakmurkan Masjid. Jadi tidak ada urusannya dengan Muslim tersebut harus shalat di Masjid.

Sungguh tidak dapat dipertanggungjawabkan adanya Muslim yang menyerukan bahkan ngotot bahwa shalat harus di Masjid (kecuali di ketiga Masjid Al-Haram). Ingatlah bahwa setiap Muslim harus shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Itu saja yang harus dicerna baik-baik.

Duabelas.

QS Furqaan 74: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Ayat ini, tidak dapat tidak, merupakan titah Allah Swt sebagai dasar untuk mewujudkan tradisi shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarga.

Kata ‘kami’ pada ayat tersebut pastilah posisi seorang ayah, karena dinisbatkan dengan phrase berikutnya ‘anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami’, yang mana itu berarti seorang ayah bermunajat kepada Allah Swt semoga istri dan anak-anaknya menjadi kesenangan hatinya: itulah kesalehan. Sudah dijelaskan melalui paparan ini, bahwa kesalehan hanya terjadi dan tercipta jika sang ayah berteguh untuk shalat di rumah dan menjadi Imam atas anak dan keluarganya.

Phrase berikutnya semakin menegaskan bahwa seorang ayah hendaklah bercita-cita supaya menjadi Imam atas anak dan keluarganya yang penuh taqwa, yaitu phrase “jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Bagaimana mungkin seorang ayah memperoleh keluarganya sebagai kesenangan hatinya, kalau keluarganya tidaklah saleh. Sementara, kesalehan itu sendiri hanya dapat tercapai dengan shalat berjamaah di rumah yang diimamkan oleh sang ayah sendiri. Dan kemudian, bagaimana seorang ayah dapat menjadi pemimpin (Imam) atas keluarganya yang saleh dan bertaqwa, kalau keluarganya tidak bertaqwa dan saleh lantaran tidak pernah diimamkan shalat berjamaah di rumah?

Apakah mungkin ayat ini mengandung makna, bahwa seorang ayah ingin agar keluarganya menjadi keluarga yang bertaqwa, sementara ia sendiri tidak mengusahakan hal tersebut (dengan cara menjadi Imam shalat atas mereka di rumah)? Dan apakah mungkin, seorang ayah ingin menjadi pemimpin atas orang-orang yang bertaqwa, sementara orang-orang bertaqwa tersebut bukan keluarganya, melainkan orang lain?

Kesimpulannya adalah, bahwa ayat Al-furqan 74 ini benar-benar mendeskripsikan suatu keluarga yang shalatnya selalu diimamkan oleh sang ayah di rumah, dan oleh karena itu keluarga ini menjadi keluarga yang saleh sehingga menjadi kesenangan mata sang ayah, dan pada akhirnya sang ayah inilah yang menjadi pemimpin atas keluarganya sendiri yang penuh taqwa.

Tepat sekali cara Allah Swt menyusun kata-kataNya di dalam ayat Al-furqan 74 ini untuk mewartakan betapa strategisnya shalat berjamaah di rumah dengan diimamkan oleh sang ayah di dalam keluarga tersebut.

Alangkah baiknya untuk diperhatikan, bahwa sementara banyak Muslim yang berdalih bahwa shalat harus ditunaikan di Masjid (kecuali tiga Masjid Haram), maka sebaliknya ayat Al-furqan 74 ini menjadi argumentasi terdepan untuk berteguh dengan shalat di rumah bagi setiap ayah atau laki-laki agar menjadi Imam atas anak dan keluarganya. Shalat di rumah kata kuncinya adalah pemeliharaan keluarga, sementara ayat Al-furqaan 74 ini kata kuncinya pun juga keluarga. Intinya adalah keluarga, pemeliharaan keluarga, sementara keluarga pastilah menempati rumah, rumah kediaman, bukan Masjid atau pasar sekali pun.

Penutup.

Demikianlah, Alquran mau pun Alhadis, dan juga kisah kehidupan Muhammad Saw, tidak memberi satu dalil pun bagi umat Muslim untuk berketerusan shalat di Masjid (kecuali tiga Masjid Haram) sehingga meninggalkan anak dan keluarganya di rumah di dalam keadaan tidak terimamkan shalat mereka. Kebanyakan Muslim berfikir bahwa Masjid merupakan episentrum kesalehan, maka dari itu mereka mempertahankan keterlibatan mereka kepada aktivitas Masjid dari waktu ke waktu, dan itu artinya mereka meninggallkan kewajiban mereka untuk menjadi Imam atas keluarga, yang sebenarnya merupakan amanah dan titah Baginda Muhammad Saw.

Banyak Muslim yang berkeyakinan bahwa saleh adalah Masjid, sehingga mereka berfikir bahwa semakin banyak waktu yang mereka luangkan di Masjid, maka akan semakin salehlah mereka di mata Allah Swt. Kalau kesalehan itu tidak memberi manfaat bagi sesama manusia, khususnya keluarga sendiri, maka dapat dipastikan bahwa hal tersebut bukanlah kesalehan, untuk menghemat kata. Kesalehan adalah suatu hal yang bermanfaat buat sesama, dan kalau seorang ayah selalu shalat di rumah untuk menjadi Imam atas anak dan keluarganya – sehingga mendatangkan manfaat yang penuh hikmat, maka itulah kesalehan, tepat pada intinya.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya

Inilah Kronologis dan Penyebab Munculnya Faham Atheisme

penolakanApakah Allah / Tuhan benar-benar ada?

Allah Swt, Tuhan semesta alam, benar-benar ada, dan berkuasa.

Bukti yang paling mudah yang dapat digunakan untuk membuktikan bahwa Allah Swt ada adalah Alquran.

Pertama dari segi nubuat: nubuat yang terkandung baik di dalam Alquran mau pun Alhadis, seluruhnya terbukti. Kalau Allah Swt / Tuhan tidak ada, mustahil nubuat itu ada, dan kemudian terbukti. Terlalu sulit untuk menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, sementara nubuat Alquran mau pun Alhadis satu per satu terbukti di depan mata.

Kedua, Alquran merupakan karya ilmiah intelektual yang paling mencengangkan. Satu contohnya, Alquran dirancang dengan design 19 (miraculous 19). Dari sini sudah jelas bahwa Alquran bukan buatan Muhammad. Seluruh jumlah ayat di dalam Alquran habis dibagi 19, seluruh jumlah huruf Alquran habis dibagi 19, jumlah basmalah habis dibagi 19, jumlah ayat pendek habis dibagi 19, jumlah ayat panjang habis dibagi 19, seluruh surah yang dimulai dengan huruf hijaiyah, jumlahnya habis dibagi 19, DAN SETERUSNYA ……

Adalah mustahil untuk menyatakan bahwa Tuhan / Allah Swt tidak ada, sementara Muhammad sendiri tidak mungkin membuat Alquran. Kalau bukan Tuhan, maka Muhammad Saw mau pun manusia lainnya “semakin tidak mungkin lagi” berada di belakang keajaiban Alquran.

Dari teori-teori tentang pencahayaan kemudian dilanjutkan penginderaan mata berlanjut lagi ke otak, yang saya baca, entahlah disebut teori apa itu, mengarahkan segala sesuatu itu bersumber dari otak kita sendri.

Seorang bayi yang baru keluar dari rahim, langsung ingin menyusu ke ibunya, seolah sang bayi sudah tahu bahwa di dalam kehidupan di luar rahim terdapat organ susu. Pengetahuan itu sebenarnya BUILT-IN di dalam fikiran sang bayi. Sang bayi tidak butuh citra apapun dari dunia ini untuk masuk dulu ke otaknya hanya untuk bisa menyusu!!! Memang benar instink itu datang dari otak. Namun kemudian akan jelas bahwa sang bayi tidak perlu menunggu masukan ke otaknya. Jadi pemahaman sang bayi akan organ susu sifatnya BUILT-IN.

Berikutnya: menangis. Manusia mau pun bayi tidak butuh suatu citra terlebih dulu untuk masuk ke otaknya, yang kemudian diproses oleh otak, dan produknya adalah MENANGIS. Kemampuan menangis adalah BUILT-IN di dalam diri seorang manusia.

Hal yang sama juga menjelaskan hubungan antara Tuhan dengan manusia. Sejak jaman dahulu kala manusia sudah mempunyai wacana mengenai Tuhan, sense mereka sudah mengenal dan membutuhkan Tuhan, dan sense itu datangnya dari internal mereka sebagai manusia yang waras. Itu namanya BUILT-IN. Hal senada sebenarnya sudah dijelaskan oleh Tuhan sendiri di dalam Alquran:

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya – -QS. Qaaf : 16..”.

Ayat ini menegaskan bahwa eksistensi Tuhan / Allah sudah BUILT-IN di dalam fikiran manusia, itulah sebabnya dikatakan bahwa Tuhan itu lebih dekat daripada batang leher manusia itu sendiri.

Jadi agama bukan bikinan manusia, melainkan sudah BUILT-IN di dalam fikiran manusia. Sebelum manusia mampu membuat karya apapun, maka agama TERLEBIH DULU sudah BUILT-IN di dalam kemanusiaan. Dengan demikian mudah difahami bahwa tidak ada satu pun manusia yang dapat menyatakan bahwa agama merupakan bikinan otak manusia.

Kaum atheis berpendapat bahwa agama adalah karya otak manusia. Teori mereka ada kurangnya, yaitu bahwa mereka belum mengenai apa itu BUILT-IN.

Apakah Tuhan hasil pemikiran manusia sendiri?

Tuhan bukanlah hasil pemikiran manusia, melainkan sesuatu yang keberadaannya sudah BUILT-IN di dalam kemanusiaan: sebelum sempat manusia menghasilkan (merekayasa) Tuhan melalui fikiran mereka, Tuhan tersebut sudah terlebih dulu ada di dalam fikiran manusia, dan tidak dapat diingkari dengan cara apapun.

Siapa pun tidak dapat mengajukan bukti mau pun teori bahwa atheisme (faham yang menolak keberadaan Tuhan) sudah muncul di tengah manusia pada tahun 1700an, atau 1600an. Atau bahkan 900an Masehi. Atau lebih awal lagi. Pada masa itu belum ada masyarakat atheis yang tidak mengakui Tuhan. Diketahui bahwa atheisme muncul HANYA di tahun 1800an, tidak pernah lebih awal lagi dari tahun itu.

1 + 1 = 2 adalah suatu kebenaran, dan itu munculnya seiring kemunculan manusia. Dan itu pun universal, artinya 1 + 1 = 2 berlaku di seluruh muka bumi, bukan di Jawa saja, atau di Inggris saja.

Itulah sebabnya, agama, yang merupakan kebenaran akan Tuhan, sudah setua umur manusia di bumi (walau pun agama-agama tersebut masih primitif, belum sesempurna Islam, karena Islam disempurnakan pada saat Haji Wada’).

Cinta seorang anak kepada ibu, merupakan suatu kebenaran: tidak ada satu peradaban yang mengharamkan cintakasih seorang anak kepada ibunya. Maka dari itu cintakasih anak-anak kepada ibu mereka sudah eksis setua manusia: itulah kebenaran. Dan itu universal.

Sementara itu atheisme muncul di Dunia ini paling cepat di akhir tahun 1700an. Kalau atheisme merupakan kebenaran maka tidak mungkin hadirnya HANYA DIMULAI TAHUN 1700AN.

Siapa pun TIDAK AKAN DAPAT mengajukan bukti bahwa atheisme telah muncul di bumi ini jauh di jaman purba. Pun atheisme itu tidak universal, karena dikatakan bahwa atheisme muncul hanya di Eropa – kala itu. Bagaimana kemudian atheisme dapat dikatakan kebenaran?

Di tahun 1700an ada peristiwa penting yang mengubah wajah Dunia secara fundamental, yaitu Revolusi Industri (Revolusi Industri) dengan pemicu ditemukannya mesin-uap oleh James Watt. Dengan ditemukannya mesin uap manusia mulai mempunyai alat yang dapat bergerak sendiri sesuai dengan mekanisme yang diinginkan -selama ada penggeraknya yaitu kayu bakar, api dan air untuk dididihkan (kemudian kayu bakar ini akan diganti dengan listrik) supaya menghasilkan uap yang mempunyai daya dorong yang kuat.

Tahap pertama: Mesin uap ini digunakan di banyak aplikasi (sesuai design yang diinginkan), maka muncullah Industri untuk menghasilkan banyak barang kebutuhan seperti sepatu, tas, pelana kuda, baju, pemintal benang, perajut kain, kuali, kompor, kertas, pemotong kayu, pencetak adonan batu dsb.

Tahap kedua: muncul dan mudah dihasilkannya barang kebutuhan hidup, akibatnya adalah, muncul dinamika ekonomi: arus uang mengalir deras dari satu orang ke lainnya. Selain uang melimpah, manusia Eropa kala itu berlimpah harta kebutuhan, karena mudah dibuat.

Tahap ketiga: karena Industri / pabrik menjamur di mana-mana, maka banyak menimbulkan orang kaya baru, yang ring pertamanya adalah para pemodal. Ring kedua adalah buruh pabrik. Ring ketiga adalah para pelaku pasar. Ring keempat adalah masyarakat biasa yang mempunyai banyak barang karena tersedia di pasar.

Orang kaya baru ini, menjadi fenomena sosial yang paling menggila yang berkait dengan Revolusi Industri. Sebelumnya, harta kekayaan dunia hanya berputar di kalangan bangsawan, sementara kalangan jelata tidak mungkin mempunyai harta dunia yang melimpah, karena kalau pun melimpah pasti sudah dikenakan pajak berlipat dari para Raja. Yang semula orang kaya hanya para bangsawan, kini orang kaya telah meluber definisinya.

Tahap keempat: kekayaan (duit) yang didapat oleh lebih banyak manusia (karena bukan lagi monopoli bangsawan) tentu saja tidak dianggurkan begitu saja. Uang banyak yang mereka miliki – mereka kelola untuk manfaat yang lebih besar. Maka muncullah penemuan-penemuan dan terobosan yang tujuan keseluruhannya adalah untuk (1) mempermudah hidup manusia, dan juga untuk (2) memperkaya manusia.

Tahap kelima: akhirnya kehidupan manusia mulai diwarnai kelapangan hidup, baik dari segi (1) uang, (2) banyaknya barang kebutuhan, dan juga (3) peralatan yang mempermudah hidup, seperti mobil, penghangat ruang, mesin cuci, kereta api, lampu dsb.

Tahap keenam: Pada tahap kelima inilah, manusia mulai lupa seluruh kesulitan hidup, lupa seluruh kepapaan di dalam hidup. Manusia mulai menikmati dunia lebih dari sebelumnya. Tidak ada lagi rakyat jelata, karena mereka telah mempunyai akses setara dengan para bangsawan untuk menjadi orang kaya. Hidup mulai ringan, karena sudah ada kereta, mobil, penghangat ruang, lampu penerang berbahan gas, dsb. Musim dingin / salju yang tadinya menakutkan, kini sudah berganti menjadi menyenangkan, karena mobil yang mereka miliki bisa menahan hempasan salju, pun juga tersedia penghangat ruang yang bisa mengusir dinginnya salju. Tadinya musim salju dianggap penebar maut, kini musim salju dianggap sebagai musim rekreasi keluarga.

Tahap ketujuh: manusia sudah jauh dari kepapaan hidup, hidup sudah tidak lagi menyengsarakan, pun itu merata ke seluruh Negeri Eropa. Sekarang sudah banyak manusia yang hidup BERLEHA-LEHA, yang tadinya hanya monopoli kaum bangsawan. Uang banyak, pekerjaan ringan karena mesinisasi, barang pun banyak, waktu luang pun juga banyak.

Saat itulah manusia mulai mengarahkan perhatian mereka kepada filsafat, memikirkan segala hal khususnya tentang kehidupan dan Tuhan. Itu semua karena mereka telah mempunyai banyak waktu luang dan hidup dalam kelapangan.

Pada tahap ketujuh inilah manusia mulai merasakan bahwa Tuhan tidak lagi mempunyai peran signifikan. Mudah dan nikmatnya hidup telah membuat manusia MEREMEHKAN Tuhan, mereka tidak lagi butuh Tuhan, karena seluruh kebutuhan mereka telah dipenuhi oleh hasil Revolusi Industri seperti barang yang banyak, uang yang banyak, dan perkakas yang mudah digunakan. Mereka mulai merasa setara dan sehebat Tuhan. Mereka mempunyai banyak pelayan, mempunyai banyak kebun, mempunyai banyak persediaan makanan, mempunyai banyak tentara! Singkatnya, mereka tidak lagi mempunyai ruang untuk Tuhan.

Inilah saat lahirnya ATHEISME di muka bumi!!!

Dari sini dapat difahami bahwa atheisme lahir sebagai ekses negatif dari Revolusi Industri, di saat manusia mulai merasa sudah tidak lagi butuh Tuhan karena seluruh kebutuhan hidup sudah dipenuhi oleh kemajuan jaman. Atheisme bukanlah kebenaran, namun ATHEISME ADALAH TAIK-NYA REVOLUSI INDUSTRI!!!

Revolusi Industri mempunyai banyak ekses negatif, satu di antaranya adalah melahirkan kelompok manusia yang mabuk kepayang oleh keajaiban yang dibawa Revolusi Industri. Kelompok manusia inilah yang menamai diri mereka ATHEISME.

Apakah mungkin kebenaran adalah tidak lebih dari ekses negatif dari suatu hal? Apakah mungkin kebenaran adalah TAIK dari proses jaman? Seharusnya kebenaran adalah tujuan dari suatu proses, bukannya ampas dari proses.

Apakah Tuhan merupakan hasil pemikiran manusia? Jawabannya: BUKAN. Sebaliknya, atheisme yang menolak keberadaan Tuhan ternyata adalah teori sempalan, ekses negatif dari keangkuhan manusia yang sudah merasa setara dengan Tuhan, dan itu semua GARA-GARA Revolusi Industri yang mengakibatkan manusia menjadi lebih powerful. Kalau atheisme memang kebenaran, maka mengapa tidak muncul sebelum pecahnya Revolusi Industri?

Sekali lagi: apakah Tuhan merupakan hasil pemikiran manusia sendiri? Bukan. Kebalikannya, atheisme –lah yang merupakan hasil pemikiran manusia-manusia yang mabuk kepayang oleh kemudahan jaman yang diakibatkan oleh Revolusi Industri.

Setidaknya, agama mempunyai satu keunggulan dibanding atheisme, yaitu bahwa agama ‘keluar’ dari hasil fikiran manusia yang waras, sementara atheisme merupakan hasil pemikiran manusia yang mabuk kepayang akibat begitu kuatnya tekanan Revolusi Industri.

Kesimpulan.

  1. Eksistensi Tuhan di dalam kemanusiaan adalah BUILT-IN pada kemanusiaan itu sendiri. Dengan demikian mustahil untuk menyatakan bahwa Tuhan merupakan hasil pemikiran manusia. Sesuatu dianggap karya fikiran manusia selama fikiran manusia sebelumnya mendapat masukan dari luar otak untuk kemudian berproses. Sementara itu, untuk menyatakan “Tuhanku!”, fikiran manusia tidak membutuhkan masukan terlebih dahulu untuk diproses. Sesuatu yang BUILT-IN tidak membutuhkan masukan terlebih dahulu dari luar environment-nya.
  2. Kaum atheis berpendapat bahwa atheisme merupakan kebenaran, untuk kemudian dibenturkan kepada agama (yang dianggap tidak lebih dari karya fikiran manusia). Adalah penting untuk menempatkan kesepakatan, bahwa kalau sesuatu hal adalah kebenaran, maka seharusnya hal tersebut sudah ada ribuan tahun seiring eksisnya umat manusia itu sendiri. Sementara itu, athisme muncul belakangan yaitu pada tahun 1700an akhir. Dugaan bahwa atheisme merupakan kebenaran – sudah meleset jauh.
  3. Adalah fakta bahwa atheisme muncul setelah pecahnya Revolusi Industri yang mana revolusi tersebut membuat seluruh manusia mabuk-kepayang tidak kepalang-tanggung karena begitu banyak kelapangan dan gegap gempita kehidupan yang diakibatkan olehnya. Mengapa atheisme muncul pada moment yang teramat salah tersebut? Apakah atheisme yang di-klaim sebagai kebenaran tidak bisa muncul di suatu masa yang tidak dapat dihubungkan dengan Revolusi Industri? Setelah nyata bahwa atheisme muncul berbarengan dengan Revolusi Industri maka jelaslah sudah bahwa atheisme merupakan kesesatan dan ekspresi kemabukan.
  4. Atheisme, dengan demikian adalah TAIK-JAMAN, saat di mana kondisi manusia diliputi kelebihan-kelapangan. Sementara itu, agama (atau percaya kepada Tuhan) muncul dari eksistensi manusia tanpa pandang kondisi, baik kondisi susah mau pun kondisi senang.
  5. Apapun yang sudah BUILT-IN di dalam fikiran manusia tidak bisa diingkari – apalagi ditolak, termasuk di dalam hal ini hubungan antara manusia dengan Tuhan. Kalau kaum atheis meminta umat manusia untuk menolak dan menyingkirkan Tuhan, maka cara termudah dan paling masuk akal adalah dengan mengingkari kemanusiaan itu sendiri: bunuh-diri.

Dan karena atheisme (sudah terbukti) merupakan hasil fikiran manusia yang sesat dan disesatkan oleh kemajuan jaman, maka jelaslah sudah bahwa atheisme merupakan kesesatan dan kekafiran di mata Tuhan Pencipta Alam.

Kaum atheis sesumbar bahwa mereka ingin memusnahkan agama dan Tuhan, karena kedua hal tersebut mereka anggap sebagai karangan dan khayalan manusia. Dan mereka sendiri sebagai atheist, telah lebih dulu memusnahkan Tuhan dan agama dari fikiran mereka. Ingatlah, sampai kapan pun mereka tidak akan dapat memusnahkan Tuhan dari fikiran mereka, karena keberadaan Tuhan itu sudah BUILT-IN di dalam fikiran mereka sendiri. Dan dengan demikian juga, adalah mustahil Tuhan dan seluruh agama dapat dimusnahkan, karena tempat kedua hal tersebut bukan di muka bumi, melainkan di dalam fikiran manusia itu sendiri.

Satu-satunya cara untuk memusnahkan seluruh agama dan Tuhan, gampang: musnahkan dulu manusia dengan fikirannya dari muka bumi, niscaya agama dan Tuhan akan ikut musnah. Dan kelompok pertama yang seharusnya musnah untuk tujuan tersebut, ya tentu saja kelompok atheis dulu, sebagai bentuk penghormatan kepada mereka atas ide mereka, bahwa Tuhan hanyalah karangan fikiran manusia. Monggo!

Wallahu a’lam bishawab.

Mendefinisikan kemesjidan sebuah Masjid

mesjid dan masjid jamikMasjid adalah sebuah bangunan publik yang mencirikan umat Muslim di seluruh Dunia, dengan ciri utamanya kubah besar dan kemudian satu atau beberapa menara. Ada juga beberapa Masjid yang tidak menggunakan kubah, melainkan bentuk atap biasa, bahkan ada juga yang atapnya menyerupai piramida Mesir, seperti halnya Masjid Raya Pondok Indah di Jakarta Selatan.

Secara perkata, Masjid terambil dari kata sa-ja-da, yang dari akar kata ini turun kata ‘sujud’. Dengan mendapat awalan ‘mim’ maka menjadilah ‘ma-sa-ja-da’ dan diucapkan Masjid. Awalan ‘mim’ membuat kata sa-ja-da menjadi berarti tempatnya, atau orangnya. Maka, Masjid bukan lagi berarti sujud, melainkan ‘tempat’ sujud.

Masjid sebagai tempat ibadah kaum Muslim, akan lebih ‘afdol’ lagi kalau di depan bangunannya dipampang nama kata ‘Masjid’, maka genaplah bangunan tersebut dikatakan sebagai Masjid.

Selain Masjid, juga terdapat bangunan lain yang dinamakan mushala dan langgar. Mushala identik dengan langgar, suatu bangunan publik digunakan untuk menunaikan shalat. Kemudian, apakah bedanya antara Masjid dengan mushala?

Masjid dan shalat Jumat.

Secara syariah, Masjid adalah bangunan publik untuk ibadah yang di dalamnya boleh diselenggarakan shalat Jumat. Lebih tepat lagi, menurut syariah shalat Jumat hanya boleh diselenggarakan di Masjid; shalat Jumat tidak dibenarkan diselenggarakan di tempat selain Masjid, jadi shalat Jumat tidak boleh diselenggarakan di mushala.

Umat Muslim mempunyai logika: karena suatu bangunan merupakan Masjid, maka di tempat itulah diselenggarakan shalat Jumat. Dan karena logika tersebut, shalat Jumat tidak boleh ditunaikan di tempat lain selain Masjid.

Benarkah demikian?

Masjid bukanlah bangunan yang ‘ditahbiskan’ oleh seluruh umat sebagai Masjid. Masjid bukan status perdata yang diberikan kepada suatu gedung, juga bukan karena di depan bangunan tersebut terdapat tulisan besar ‘Masjid’, mempunyai kubah, beberapa menara dan kemudian tempat wudhu. Bukan.

Ketika umat menunaikan shalat Jumat di suatu tempat, maka praktis tempat tersebut mendapat status Illahiah yang baru: Masjid. Dan shalat Jumat tersebut akan menjadi shalat Jumat perdana di tempat Masjid tersebut. Jadi, shalat Jumat-lah yang membuat suatu tempat (atau bangunan) menjadi Masjid: shalat Jumat-lah yang ‘mentahbis’ suatu tempat sebagai Masjid. Bukan karena suatu tempat dikatakan Masjid maka dari itu di sana dapat ditunaikan shalat Jumat, namun kebalikannya: karena shalat Jumat ditunaikan di tempat tersebutlah, maka tempat itu menjadi Masjid di sisi Allah Swt.

Itulah sebabnya, di dalam syariah diajarkan, bahwa shalat Jumat tidak boleh ditunaikan dengan ‘berpindah’. Arti berpindah di sini adalah, shalat Jumat tidak boleh ditunaikan di segala tempat secara sembarangan, dan bahwa kepanitiaan shalat Jumat di sebuah Masjid haruslah selalu membuka Masjidnya untuk shalat Jumat umat, tidak boleh libur misalnya. Tidak dibenarkan kepanitiaan shalat Jumat di sebuah Masjid mengeluarkan pengumuman: “shalat Jumat untuk minggu depan akan diselenggarakan di lapangan Parkir Timur; bus transportasi disediakan gratis oleh pihak Masjid”.

Kalau shalat Jumat ditunaikan ‘berpindah’ maka tempat baru tersebut praktis akan menjadi Masjid. Itulah bahayanya.

Konsekwensi Masjid.

Kalau shalat Jumat ditunaikan di suatu tempat secara serampangan, tetap tempat tersebut akan tertahbis menjadi Masjid di mata Allah Swt. Dan kalau tempat tersebut sudah menjadi Masjid maka berlakulah seluruh Hukum Masjid, seperti:

  1. Di tempat tersebut harus terus ditunaikan shalat Jumat.
  2. Di tempat tersebut tidak boleh ada najis. Manusia yang lewat harus lepas alas kaki, dan nonmuslim tidak diperkenankan masuk. Tidak boleh ada yang meludah, buang sampah, berkata keji dan lain sebagainya.
  3. Di tempat tersebut tidak boleh masuk atau melintas wanita haid, nifas, dan manusia yang berhadas besar lainnya.
  4. Di tempat inilah diselenggarakan itikaf.
  5. Muslim yang memasukinya disunnahkan untuk menunaikan shalat sunnah tahiyatul-mesjid.

Ketika shalat Jumat ditunaikan di suatu tempat yang mengakibatkan tempat tersebut tertahbis sebagai Masjid, maka selanjutnya tempat tersebut (yang sudah menjadi Masjid) ‘menuntut’ untuk terus ditunaikan shalat Jumat pada (di dalam)-nya untuk seterusnya.

Oleh karena itu, umat Muslim harus faham bahwa shalat Jumat tidak dibenarkan untuk ditunaikan di sembarang tempat, seperti di lapangan olahraga, tempat parkir, dan lain sebagainya. Kalau shalat Jumat ditunaikan di tempat-tempat seperti itu praktis tempat tersebut menjadi Masjid dan berlakulah seluruh Hukum kemesjidan. Dan kalau setelahnya umat tidak memperlakukan tempat tersebut sebagai layaknya Masjid, maka seluruh dosa harus ditanggung umat.

Contoh kasus.

Di suatu gedung gelanggang olahraga yang di dalamnya mempunyai lapangan yang luas, seperti lapangan bola basket, badminton, bola volley dan lain sebagainya, pada hari Jumat disulap menjadi tempat untuk shalat Jumat untuk umat Muslim sekitarnya. Panitia menggelar karpet, kemudian menempatkan mimbar portable, dan menyiapkan soundsystem. Kemudian satu per satu umat Muslim berdatangan ke tempat tersebut, menuju tempat berwudhu, kemudian mengambil tempat di atas karpet yang sudah rapi tergelar. Setelah umat memenuhi seluruh karpet maka shalat Jumat pun dimulai.

Contoh berikutnya, lapangan parkir di sebuah basement gedung, pada hari Jumat juga diperlakukan demikian. Mereka menggelar karpet panjang berwarna hijau, kemudian menempatkan mimbar portable. Tidak lama satu demi satu jemaah shalat Jumat berdatangan, dan kemudian shalat Jumat pun digelar.

Yang lebih aneh lagi adalah, ketika / kalau terjadi demo mahasiswa yang bertepatan dengan hari Jumat. Ketika hari telah menunjukkan jam 11-an, para mahasiswa memutuskan untuk menggelar shalat Jumat di tengah jalan aspal tempat di mana mereka menggelar aksi unjuk rasa. Untuk keperluan wudhu mereka mencari toilet di gedung sekitar, dan kemudian mereka duduk bersimpuh di tengah jalan aspal tersebut, entah dari mana mereka dapat sajadah sebagai alas untuk shalat, atau mungkin mereka shalat tanpa alas apapun, atau mungkin juga hanya cukup menggelar koran bekas yang memang mudah didapat. Mereka tinggal memilih rekan mereka yang senior atau alim untuk didaulat menjadi khatib Jumat. Demikianlah mereka menggelar shalat Jumat di tempt yang tidak semestinya.

Ingatlah, shalat Jumat yang mereka lakukan – yang bukan di Masjid – dengan sendirinya akan MENTAHBIS tempat tersebut sebagai Masjid. Dan kalau sudah tertahbis menjadi Masjid maka berlakulah Hukum Masjid atas tempat tersebut, dengan kata lain seluruh umat harus MEMPERLAKUKAN TEMPAT TERSEBUT sebagai Masjid sebagaimana layaknya. Dan kalau umat tidak memperlakukan demikian, maka umat tersebut harus menanggung dosa di kemudian hari.

Adanya fenomena ini haruslah menjadi KEPRIHATINAN seluruh umat, khususnya para pemangku umat seperti Imam, para Ulama, dewan Mesjid, dan lain sebagainya. Semua elemen masyarakat harus dapat memastikan supaya tidak ada lagi kelompok masyarakat yang sembarangan memilih tempat untuk penyelenggaraan salat Jumat.

Mushala, Masjid, dan Masjid Jamik.

Apa bedanya antara ketiganya?

Mushala adalah bangunan publik untuk shalat, atau untuk menumpang shalat, namun di dalamnya umat tidak boleh menunaikan shalat Jumat. Kalau di bangunan mushala tersebut ditunaikan shalat Jumat, maka mushala itu akan meningkat statusnya, yaitu Masjid. Oleh karena itu umat tidak akan menunaikan shalat Jumat di sebuah mushala – supaya bangunan tersebut tetap menjadi mushala.

Masjid dan Masjid Jamik? Ada beberapa ahli yang menyatakan bahwa Masjid merupakan nama lain untuk mushala. Dengan demikian mereka berpendapat bahwa Masjid hanya tempat untuk shalat mau pun menumpang shalat, dan tidak boleh digunakan untuk shalat Jumat. Sementara itu, Masjid Jamik itulah yang merupakan bangunan publik untuk ibadah shalat Jumat. Untuk point ini sebenarnya para ahli masih berselisih pendapat.

Intinya, kalau mushala adalah bangunan publik untuk menumpang shalat namun tidak boleh digunakan untuk shalat Jumat, maka Masjid adalah bangunan publik untuk penyelenggaraan shalat Jumat. Dengan demikian terdapat beberapa perbedaan antara Masjid dengan Masjid Jamik.

Istilah Masjid Jamik tidak dikenal pada masa Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad Saw hanya mengajarkan istilah ‘Masjid’, lain tidak. Jadi, kalau Masjid dan Masjid Jamik sama-sama digunakan untuk shalat Jumat, maka letak perbedaannya hanyalah pada ukurannya. Masjid Jamik adalah bangunan publik untuk shalat Jumat yang berukuran sangat besar, sementara Masjid, ukurannya cukup untuk skala lokal: Masjid biasanya untuk ukuran kampung. Walau pun begitu, tidak dipermasalahkan kalau suatu Masjid yang berukuran besar TIDAK DINAMAKAN Masjid Jamik, dan sebaliknya. Itu semua karena istilah Masjid Jamik tidak dikenal pada masa Nabi Muhammad Saw.

Kesimpulan.

  • Jangan berpatokan bahwa Masjid adalah bangunan yang secara sosial dikatakan sebagai Masjid.
  • Shalat Jumat mempunyai kekuatan dan wewenang untuk mentahbis tempatnya sebagai Masjid.
  • Shalat Jumat harus ditunaikan di Masjid. Dan kalau tempat tersebut bukan Masjid, maka shalat Jumat tersebut akan mentahbis tempat tersebut sebagai Masjid.
  • Dan kalau tempat tersebut sudah tertahbis sebagai Masjid (karena ditunaikan shalat Jumat di atas tempat tersebut) maka konsekwensinya umat harus memperlakukan tempat tersebut sebagai Masjid dengan seluruh tatakrama syariah-nya. Salah satu perlakuan terhadap Masjid itu adalah, bahwa setiap minggu harus diselenggarakan shalat Jumat.
  • Dan kalau kemudian umat tidak memperlakukan tempat tersebut sebagai Masjid, maka umat akan menanggung dosa.

Wallahu a’lam bishawab.

Jangan Mendewakan Imam Mahzab Mau Pun Para Ahli Fiqih

mendewakanparafakih

al-Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata,

  1. Apabila aku berkata satu perkataan yang menyelisihi kitabullah (Alqur’an) dan khabar Rasulullah (hadits), maka tinggalkanlah perkataanku.
  2. Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil pendapat kami selama ia tidak mengetahui dari mana kami telah mengambilnya.
  3. Haram bagi seseorang yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan perkataanku.
  4. Celakalah engkau wahai Ya’kub (yaitu Abu Yusuf). Janganlah engkau selalu mencatat semua yang kamu dengar dariku. Karena aku pada hari ini berpendapat dengan suatu pendapat namun aku akan meninggalkannya esok. Atau aku esoknya berpendapat suatu pendapat lalu lusanya aku meninggalkannya pula.
  5. Apabila hadits itu shahih maka ia adalah madzhab (pendirian)-ku. (Shifat Sholat an-Nabiy halaman 46).

al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,

  1. Aku ini hanyalah manusia, bisa salah dan bisa juga benar. Oleh sebab itu perhatikanlah pendapatku itu dengan seksama. Maka semua yang sesuai dengan Alquran dan sunnah maka ambillah. Dan semua yang tidak sesuai dengan Alquran dan sunnah maka tinggalkanlah.
  2. Tidak ada seseorang sesudah Nabi yang diambil dan ditinggalkan kecuali Nabi saw.

al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

  1. Apabila kalian mendapatkan di dalam kitabku ada yang menyelisihi sunnah Rasulullah maka hendaklah kalian berkata dengan sunnah Rasulullah dan tinggalkan apa yang telah aku katakan. Di dalam satu riwayat: Maka ikutilah sunnah tersebut dan janganlah kalian berpaling kepada perkataan seseorang.
  2. Kaum muslimin telah ber-ijmak bahwasanya orang yang telah jelas baginya satu sunnah dari Rasulullah, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya lantaran pendapat seseorang.
  3. Setiap persoalan yang telah shahih hadits tentangnya dari Rasulullah menurut ahli naql (ahli hadits) yang berselisih dengan apa yang kukatakan. Maka aku merujuk kepadanya di masa hidupku dan setelah kematianku.
  4. Apabila kalian melihat aku mengatakan suatu perkataan sedangkan telah shahih dari Nabi yang menyelisihinya maka ketahuilah bahwasanya telah hilang akalku.
  5. Semua yang kukatakan sedangkan yang shahih dari Nabi menyelisihi ucapanku maka hadits Nabi adalah yang lebih utama. Janganlah kalian taklid kepadaku.
  6. Semua hadits dari Nabi adalah ucapanku meskipun kalian tidak mendengarnya dariku.

al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata,

  1. Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Awza’iy dan juga ats-Tsauriy. Tetapi ambillah dari arah mana mereka mengambil.
  2. Pendapat al-Awza’iy, pendapat Malik dan pendapat Abu Hanifah, semuanya itu hanyalah pendapat. Di sisiku semuanya itu sama. Hujjah itu hanyalah ada pada atsar.
  3. Berkata Abu Dawud, Aku pernah bertanya kepada Imam Ahmad, ”Apakah al-Awza’iy itu pengikut Imam Malik?”. Ia menjawab, ”Janganlah engkau taklid kepada seseorang dari mereka di dalam agamamu. Apa yang datang dari Nabi dan para shahabatnya maka ambillah”.
  4. Sebahagian dari minimnya pemahaman seseorang terhadap agamanya adalah ia taklid kepada orang-orang di dalam agamanya.
  5. Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah maka berarti ia berada di tepi jurang kebinasaan.

Sumber,

http://cintakajiansunnah.wordpress.com/2012/06/06/perlukah-ber-ashobiyah-fanatisme-golongan/

Nasib Ramadhan Di Tahun 2014

ramadhan2014

Saya adalah Muslim, warga Jakarta, lahir di Jakarta dan bekerja di Jakarta. Bisa saya katakan bahwa saya dan keluarga berasal dari keluarga Muslim yang taat, karena sejak kecil saya sekeluarga selalu diajarkan untuk selalu shalat berjamaah, apalagi kalau bulan suci Ramadhan, selalu ambil bagian untuk ikut shalat tarawih di Masjid Agung Al-azhar, Kebayoran Baru. Saya dan kakak-kakak pun semuanya disekolahkan di madrasah, sehingga dapat mengerti pelajaran-pelajaran keislaman seperti sejarah Islam, sejarah para Nabi, fiqih, ibadah-syariah, akidah akhlak, bahasa Arab, khat (kaligrafi Arab) dan lain lain.

Sebagai Muslim taat, tentulah saya dan sekeluarga menyambut Ramadhan dengan penuh suka-cita, ribuan rindu selama 11 bulan serasa terbayar sudah ketika memasuki hari pertama Ramadhan. Tidak terperikan kebahagian Ramadhan yang menyentuh sanubari kami sekeluarga melalui agenda shalat tarawihnya, berebut tempat di Masjidnya, sahur bersamanya, berbuka puasanya, tadarus Alqurannya, menonton tausiyah Ramadhan di tv-nya, dan masih banyak lagi, itu semua merupakan berkah Ramadhan yang akan siap mengguyur kami sekeluarga dan sekampung …….

Tampaknya, kebahagiaan ini bukanlah milik saya sekeluarga. Di sepanjang jalan menuju Masjid yang kami lalui pun, juga dipenuhi umat Muslim yang larut dalam kesemarakan dan kegairahan dalam menyambut dan menyemarakkan malam-malam Ramadhan. Singkat kata, kebahagiaan dan keberkahan Ramadhan ternyata milik seluruh Muslim, khususnya di Jakarta ini, tempat hidup saya dan sekeluarga.

Jadi, seluruh umat menyambut Ramadhan dengan penuh kebahagiaan dan kesemarakan yang menggugah jiwa. Tidak ada semenit pun lewat dari malam-malam Ramadhan kecuali dengan memperbanyak ibadah, di Jakarta ini. Pada jam-jam setelah berbuka, tidak ada saudara-saudara seiman yang nongkrong-nongkrong di pinggir jalan dengan mengobrol tidak karu-karuan, karena semuanya justru sedang sibuk mencari tempat di Masjid untuk ikut shalat tarawih.

Namun itu dulu, sekira tiga atau empat tahun yang lalu. Dan bagaimana dengan sekarang ini (tahun 2014) jiwa dan psikologi umat Muslim dalam menyambut Ramadhan?

Jawabannya amatlah negatif, amatlah suram. Pada hari-hari pertama Ramadhan, tampak sekali Masjid ternyata sepi, banyak shaf yang kosong karena ketiadaan umat Muslim. Biasanya pada tahun-tahun sebelumnya, Masjid mana pun selalu kelimpahan jemaah tarawih hingga meluber ke pekarangan. Itu pun seluruh Muslim berebut tempat di dalam Masjid dengan cara buru-buru berangkat ke Masjid. Di sepanjang jalan tidak terlihat warga yang ongkang-ongkang kaki, semuanya sibuk mencari kain sarung, sajadah dan mukenah untuk dibawa ke Masjid. Namun sekarang, hal tersebut sudah tidak ada lagi. Masjid sekarang menjadi kosong, kebalikannya, jalan-jalan selalu penuh dengan hiruk-pikuk warga yang sibuk dan asyik dengan kehidupan malam seperti makan somay, bbm-an, bocah-bocah main bola, memenuhi warnet untuk main game-online dan masih banyak lagi.

Jadi tampaknya sekarang seluruh umat sudah tidak lagi tertarik dengan kehidupan ukhrawi, dan lebih tergiur pada pemuasan keduniawian, itulah yang tampak. Jelas sekali hal ini terasa, di mana Masjid kosong melompong, jumlah shaf-nya amat menyedihkan. Singkat kata, sudah terjadi kebangkrutan iman umat Muslim di tahun 2014 ini, terlihat dari penyambutan Ramadhan-nya.

Setidaknya kebangkrutan iman ini terlihat pada tiga hal:

Pertama, Masjid terlihat kosong dan sepi. Tidak ada lagi terlihat limpahan jemaah yang membanjir hingga ke pekarangan Masjid. Shaf jemaah hanya sampai pada baris ke-enam, itu sudah paling banyak.

Kita lihat ke tahun-tahun silam. Beberapa menit setelah berbuka puasa, Masjid langsung dipenuhi dan disesaki jemaah. Warga Muslim terlihat begitu gesit mencari sajadah, kain sarung dan mukenah untuk segera dikenakan ke Masjid supaya tidak kehabisan tempat di Masjid. Tidak ada acara ongkang-ongkang kaki di pinggir jalan, atau menikmati jajanan malam, seluruh warga justru sibuk mencari tempat di Masjid untuk melaksanakan shalat Isya dan tarawih berjamaah di Masjid.

Tahun ini (2014) adalah kebalikannya. Warga Muslim tidak ada lagi yang sibuk dan tergesa-gesa mencari tempat di Masjid, malah asyik tercerai-berai di sepanjang jalan, ada yang ongkang-ongkang kaki, asyik mengobrol, makan jajanan malam, bbm-an, bahkan main game online di warnet, pacaran, main bola di lapangan erte, dan lain lain. Mereka tidak lagi antusias untuk mensesaki Masjid untuk melaksanakan shalat Isya dan tarawih berjamaah supaya dapat pahala dan masuk Surga bersama Muhammad Saw Nabi junjungan seluruh umat.

Kedua, jalan-jalan, persimpangan dan perempatan menjadi ajang seluruh warga untuk menikmati malam-malam Ramadhan, bukannya tumpah-ruah di dalam Masjid. Tampaknya konsentrasi umat sudah berpindah di bulan Ramadhan di tahun 2014 ini, dari yang semula terkonsentrasi di Masjid-Masjid mau pun mushalla, kini berpindah ke sepanjang jalan, sepanjang persimpangan dan perempatan, bahkan di sekitar Pusat jajanan ringan. Di tempat-tempat itu mereka perbuat apa saja asalkan dapat memenuhi kepuasan Duniawi mereka, seperti makan jajanan, berpacaran, bbm-an, ngobrol, mencari teman kencan, bercanda semalaman, dan lain lain.

Kalaulah seluruh warga terkonsentrasi di Masjid (sebagaimana memang seharusnya, seperti tahun-tahun silam), tentunya tempat-tempat terbuka di seluruh kota menjadi sepi, hanya ada satu-dua warga saja yang menampakkan diri. Jelas sekali kebangkrutan iman umat Muslim sudah menggejala di Jakarta ini, dan terlihatnya konsentrasi warga di sepanjang jalan ini merupakan indikator yang sama sekali tidak bisa diingkari.

Warga Muslim sudah tidak lagi melihat Ramadhan sebagai bulan penuh berkah untuk mencari dan menjaring pahala sebanyak-banyaknya guna bekal di hari kebangkitan, bahkan mungkin sekali, mereka jadi berfikir bahwa ‘tarawih-sentris’ yang menggejala pada tahun-tahun silam merupakan ‘kesalahan’? Dan oleh karena itu tahun ini mereka tidak ingin mengulangi kesalahan itu lagi?

Ketiga, kebangkrutan iman kaum Muslim juga dimulai dari media, baik media elektronik (televisi) mau pun media cetak (surat kabar).

Pada Ramadhan tahun ini (2014) sudah terlihat keengganan televisi-televisi Nasional dalam mensemarakkan bulan suci Ramadhan. Sudah jarang televisi-televisi yang menawarkan acara bernuansa Ramadhan, karena kalau pun ada, program mereka hanya sedikit, sekena-nya saja.

Yang lebih menyedihkan adalah, kalau ada sebuah program bernuansa Ramadhan di sebuah televisi, maka program itu justru merupakan acara mengumbar canda dan tawa yang konyol, bukannya program untuk mengajak kepada kekhusyukan di dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Hal ini diperparah, dengan maraknya tivi-tivi swasta yang meluncurkan program konser musik gila-gilaan, di mana para penyanyi dibebaskan untuk melenggok-lenggok di atas panggung di dalam balutan jubah Timur Tengah lengkap dengan sorban, dan para penontonnya pun juga dibebaskan untuk ikut asyik bergoyang-goyang joget tidak karu-karuan, persis seperti umat Nabi Musa yang asyik gila-gilaan menyembah patung sapi ketika sang Nabi bermunajat kepada Allah Swt di bukit Thursina! Mungkin benar lagu-lagu yang mereka bawakan merupakan lagu-lagu bernuansa Islami, namun pembawaan dan konsepsi mereka SEUTUHNYA mengadopsi konsep jahiliyah yang menjijikkan. Namun toh harus diakui, itu juga lagu-lagu yang mereka bawakan sama sekali tidak membawa pesan-pesan Islami (dakwah)!

Juga terungkap, bahwa terdapat tivi-tivi swasta yang meluncurkan program acara yang bertajuk Ramadhan, namun toh ternyata substansi dari acara yang dimaksud sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ramadhan: demikianlah, ada tivi swasta meluncurkan tajuk “FILM BIOSKOP SPECIAL RAMADHAN”, yang substansinya menyajikan film Hollywood. Namun kemudian apakah film yang dimaksud ada kaitannya dengan keberkahan Ramadhan? Tidak sama sekali. Film yang dimaksud ternyata film Hollywood biasa, yang menampilkan adegan kekerasan, wanita membuka aurat atas-bawah, kehidupan sekuler, balap-balapan, dar-der-dor sana sini, adegan ciuman, minum sempein (champanye) dlsb …….. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Singkat kata, sudah pun tivi-tivi swasta sedikit sekali mengusung acara bertema Ramadhan, pun dari program yang sedikit itu saja juga sudah membawa aroma kebangkrutan iman bagi seluruh umat Muslim, khususnya kalangan muda yang belum mengerti apa-apa.

Ada lagi yang membuat miris jiwa iman ini. Pada Ramadhan tahun-tahun silam, beberapa tivi swasta menghadirkan pembaca berita wanita di dalam balutan kerudung untuk paket acara berita. Hal ini merupakan sinyal cukup kuat untuk menunjukkan bahwa Ramadhan masih mempunyai kharisma untuk diguyurkan kepada seluruh umat melalui tivi-tivi. Namun tahun ini, hal itu sudah sirna! Tidak ada lagi tampak tivi-tivi swasta yang mengetengahkan pembaca berita wanita yang mengenakan kerudung saat membaca berita. Lengkaplah sudah bahwa tahun ini, Ramadhan sudah tidak lagi sesemarak tahun-tahun silam. Sudah sekulerkah bangsa ini?

Di tengah-tengah kebangkrutan iman umat Muslim di tahun 2014 ini, kita melihat antusiasme yang tinggi pada bagian mudik lebaran, ini cerita lain lagi. Ketika umat sudah tidak lagi memandang Ramadhan sebagai berkah di dalam kehidupan agamis, toh umat tetap MENGGILA di dalam hal pulang kampung untuk berlebaran di tanah kelahiran. Dan banyak media memberitakan agenda ini dengan berapi-api secara berkala. Itu pun mudik lebaran yang mereka lakukan, SAMA SEKALI tidak mereka kaitkan dengan nuansa Ramadhan: seolah mereka tidak lagi menganggap bahwa mereka mudik lebaran dikarenakan adanya bulan Ramadhan, melainkan sebagai rutinitas untuk ‘memanfaatkan’ libur Ramadhannya.

Bisa dikatakan bahwa kebangkrutan iman Muslim di bulan Ramadhan tahun 2014 ini tidak bisa dipisahkan dari pengaruh agenda Piala Dunia 2014, dan kemudian Pilpres 2014. Kedua agenda akbar ini tentu saja tidak beres hanya di dalam satu hari, melainkan berhari-hari sehingga utuh menyita perhatian publik, khususnya publik Muslim di dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Dengan adanya kedua agenda akbar ini, fokus umat menjadi terbelah, dan konsentrasi mereka pun terpecah sehingga tidak bisa diingkari keintiman mereka dengan keagungan Ramadhan 2014 menjadi luntur dan payau.

Namun sungguh pun begitu, kita tidak bisa secara ‘saklek’ dan begitu saja menghubungkan dua agenda akbar ini dengan kebangkrutan umat, atau mengkambing-hitam-kan kebangkrutan umat kepada dua agenda besar ini. Pada dasarnya kalau-lah iman umat Muslim kuat dan romantis, pasti sepuluh agenda besar sekali pun tidak akan mempengaruhi kekhusyukan mereka menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Dengan kata lain, terlalu cepat untuk menuding dua agenda besar tersebut sebagai biangkerok kebangkrutan iman umat di bulan Ramadhan 2014 ini.

Intinya, tetap saja indikasi kebangkrutan iman umat Muslim tetap terasa dan harus mendapat perhatian kita semua. Minimnya acara bernuansa Ramadhan di tivi-tivi tetap merupakan alarm bagi pemangku umat untuk mulai merasa khawatir. Terlebih, tidak bisa diingkari, bahwa semakin tahun pun sebenarnya kebangkrutan iman umat sudah menggejala, dan tampaknya tahun ini sudah melewati kewajaran. Intinya, Ramadhan sudah tidak lagi senikmat dan selezat tahun-tahun 90-an, di mana Masjid kelimpahan jemaah, dan seluruh anak muda di sepanjang jalan sibuk mencari sarung dan sajadah untuk berebut tempat di Masjid.

Saran untuk restorasi dan rehabilitasi iman umat Muslim.

Keprihatinan seluruh Muslim sudah nyata mengenai kebangkrutan iman Muslim Jakarta yang terindikasi di bulan Ramadhan 2014 ini. Hal ini tentulah harus dicegah sedini mungkin, dan seluruh pemimpin serta pemangku umat harus mengambil tindakan untuk dapat merestorasi serta merehabilitasi kualitas iman Muslim Jakarta yang sudah kadung karatan. Keintiman antara umat Muslim dengan Ramadhan harus dipulihkan, karena mereka hidup tidak di Dunia ini saja, melainkan akan dihadirkan pula di hari akhirat, ini artinya umat Muslim harus memanfaatkan kehadiran Ramadhan untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya, dan jangan disia-siakan dengan cara berhura-hura di sepanjang jalan dan perempatan dengan bermain game online mau pun ber-bbm ria berkepanjangan. Tugas para pemimpin dan pemangku umatlah untuk menyelamatkan nasib umat Muslim yang kebanyakan berasal dari kalangan muda-mudi yang tidak mengetahui apa-apa.

Pertama, di setiap level RT pengurus Masjid harus menggalakkan tadarus bersama secara bergilir dari satu rumah ke rumah warga yang lainnya sebulan penuh, baik tadarus untuk kalangan anak sekolah, anak muda, untuk kalangan ibu-ibu mau pun untuk kalangan bapak-bapak.

Dengan menggalakkan tadarus RT ini, maka terbendunglah juga kecendrungan kaum muda dari kebiasaan kongkow-kongkow di pinggir jalan semalam suntuk secara sia-sia. Dan dengan menggalakkan tadarus RT ini, kekhusyukan pasti akan menggejala dan bersemi di jiwa setiap anak muda.

Kedua, menggalakkan dan mengintensifkan pesantren kilat di sekolah-sekolah yang selama ini memang digiatkan. Penambahan durasi dan penambahan paket materi sebaiknya dipertimbangkan demi memupuk kekhusyukan dan keintiman jiwa dengan Ramadhan yang berkah ini.

Ketiga, untuk Masjid yang berukuran lebih besar, agenda tarawih sebaiknya ditambah dengan agenda yang lebih menarik dan serius karena akan dapat memupuk kekhusyukan umat, misalnya dengan cara mendatangkan qory dari luar Negeri, mendatangkan khatib kharismatik dari luar Negeri, mungkin juga dengan mengetengahkan perbincangan yang hangat yang merangsang atensi umat khususnya dari kalangan muda.

Keempat, pemangku umat (ulama) bersama Pemerintah mengarahkan media elektronik khususnya televisi untuk mentiadakan atau mengurangi sajian acara tivi yang berbau mengumbar kekonyolan canda yang biasanya diusung artis-artis muda. Tivi diarahkan untuk menyajikan acara keislaman yang bernuansa khusyuk dan serius, terlebih tanpa adanya sentilan tawa senda gurau yang lepas kendali. Konsep ini dijamin akan dapat memupuk kembali jiwa khusyuk dan intim terhadap keberkahan Ramadhan.

Contoh ideal untuk point ini adalah sajian acara “Tafsir Misbah” di Metrotv yang dibawakan oleh KH. Quraisy Shihab, yang mana acara itu disajikan dengan tingkat keseriusan dan kesakralan yang pas sehingga dapat memupuk jiwa khusyuk dan intim kepada keberkahan Ramadhan. Program acara seperti ini harus diperbanyak di seluruh tivi nasional untuk tujuan kemaslahatan umat Dunia akhirat.

Sebenarnya-lah, sajian acara tivi yang bernuansa penuh sentilan tawa senda gurau telah membuat pemirsa – khususnya dari kalangan muda- menjadi mati rasa terhadap kesakralan dan keagungan. Dengan banyaknya sajian acara tivi yang penuh kekonyolan dengan sentilan tawa, pemirsa (khususnya kalangan muda) jadi merasa bahwa tidak ada yang penting di dalam beragama; tentu saja ini berbahaya.

Sebagai perbandingan: upacara bendera Merah Putih digelar dengan penuh keseriusan, keagungan dan kesakralan. Upacara pelantikan pejabat digelar dengan penuh nuansa Agung dan sakral. Seluruh upacara tersebut (dan lain lainnya) digelar dengan mengedepankan keseriusan, keagungan dan kesakralan, jauh dari sentilan tawa canda yang konyol. Pertanyaan sekarang adalah, kalau upacara bendera dan pelantikan pejabat saja digelar dengan nuansa keseriusan dan keagungan, maka mengapa dakwah agama digelar dengan nuansa kebalikannya, yaitu penuh sentilan tawa canda yang konyol yang memabukkan? Apakah dakwah agama dapat dijadikan main-main yang tidak ada artinya sama sekali?

Jadikanlah acara dakwah keislaman di tivi (apalagi dakwah di bulan Ramadhan) menyerupai kesakralan dan keagungan dakwah saat shalat Jumat, di mana dakwah dan khotbah shalat Jumat digelar penuh dengan suasana sakral, Agung dan serius.

Kalau pesan di dalam point ini (dan point-point lainnya) dapat dicapai / dipenuhi, dapat dipastikan keintiman dan kekhusyukan umat di dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah dapat kembali bersemi seperti tahun-tahun silam.

Kelima, pemangku umat (ulama) bersama Pemerintah menyerukan kepada tivi swasta untuk mengentikan sementara tayangan acara yang jauh dari keberkahan Ramadhan, seperti acara pertandingan bola, konser musik, sinetron ngebodor, dan lain lain.

Sama diketahui bahwa pada tahun-tahun silam, tivi-tivi Nasional banyak yang menghentikan sementara penayangan tivi yang jauh dari nuansa keberkahan Ramadhan. Dan tampaknya sikap tersebut tahun ini sudah pupus sama sekali secara paripurna, artinya seluruh tayangan tivi yang jauh dari nuansa keberkahan Ramadhan TETAP SIARAN tanpa ada tedeng aling-aling. Hal ini memicu lunturnya kekhusyukan umat di dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Efek psikologis yang negatif atas jiwa seluruh umat Muslim segera terlihat di mana-mana. Buktinya, iman umat di dalam menyambut Ramadhan betul-betul terpuruk, terlihat dari sepinya Masjid saat tarawih, dan justru membeludaknya anak-anak muda di sepanjang jalan dan perempatan dengan melakukan segala hal yang sia-sia. Pertanyaannya adalah, mengapa sikap tivi-tivi swasta yang biasa menghentikan secara sementara atas tayangan yang jauh dari nuansa keberhakan Ramadhan sekarang sudah tidak ada lagi?

Keenam, sama diketahui bahwa acara anak muda berupa konser musik (yang pasti hingar-bingar dan jauh dari kesan kesalehan) benar-benar berperan sebagai racun dari kesalehan itu sendiri. Konser musik pasti digelar dengan aura yang mengerahkan massa penonton untuk turut bergoyang di depan panggung semalam suntuk tidak karu-karuan seperti kesetanan.

Di lain pihak, sama diketahui bahwa konser musik, musik itu sendiri, bergoyang joget, dan bergoyang joget semalam suntuk merupakan suatu kebathilan dalam Islam. Kesalehan tidak dapat dipupuk melalui acara koser musik berikut dengan tetek-bengeknya yang sama-sama keji dan jahiliyah.

Ironis, terdapat event organizer yang menggelar konser musik untuk konsumsi anak muda di malam Ramadhan / malam tarawih. Akibatnya jelas, banyak anak muda yang berduyun-duyun menyaksikan konser musik tersebut, yang konsekwensinya adalah anak muda yang mayoritas Muslim itu MASA-BODOH dengan keberkahan Ramadhan. Mereka justru asyik bergoyang joget dan bersorak-sorak di depan panggung konser seperti orang kesetanan semalam suntuk, sementara Masjid-Masjid di sekitarnya kosong melompong dengan hanya segelintir jemaah yang khusyuk shalat tarawih.

Belum lagi dengan aksi panggung yang benar-benar maksiat, seperti artis-artis berambut gondrong, bertelanjang dada, melantunkan lagu-lagu birahi, artis-artis wanita yang berlenggak-lenggok dengan busana yang menjijikkan, melantunkan nada-nada birahi yang murahan dan jahiliyah. Itu masih ditambah dengan lengkingan suara gitar elektrik yang membahana di malam tarawih, gebukan drum yang hancur-hancuran membuat massa penonton yang mayoritas Muslim makin menggila.

Di tempat lain, masih di bulan Ramadhan, juga digelar konser musik, yang kali ini thema konsernya adalah bernada reliji, yang melantunkan lagu-lagu keislaman. Sama saja: kesalehan tidak dapat dipupuk melalui konser musik, sekali pun konser musik tersebut digelar oleh para ulama dan ustadz, astaghfirullah!

Oleh karena itu, para pemangku umat bersama Pemerintah mengeluarkan larangan untuk diadakannya konser musik selama bulan suci Ramadhan, APAPUN TEMA-NYA, demi terciptanya kekhusyukan dan keintiman terhadap bulan yang penuh barokah ini.

 -o0o-

Demikianlah beberapa point yang dapat dilakukan demi kebaikan umat Muslim Dunia akhirat ini di dalam kaitannya menghidupkan kembali kegairahan dan kesemarakan bulan suci Ramadhan. Ingatlah bahwa umat berhak untuk mendapat bimbingan dari umara dan ulama, sementara di lain pihak umat (massa) selalu hadir sebagai komponen yang tidak mengetahui / menyadari apa-apa. Kalau bukan ulama dan umara yang menyelamatkan umat / massa, siapa lagi?

Hukum Mendoakan Nonmuslim

Hukum Mendoakan Nonmuslim

Nonmuslim merupakan kelompok manusia yang jelas-jelas mengingkari keesaan Allah Swt melalui kerasulan Muhammad Saw. Dan oleh karenanya nonmuslim merupakan manusia-manusia yang berbuat kerusakan di bumi Allah Swt ini, karena dengan menjadi nonmuslim, mereka sebenarnya telah beragama kepada agama yang tidak mengajarkan kesantunan terhadap diri sendiri, seluruh manusia, kepada para Nabi, kepada para Malaikat as, dan terhadap alam semesta.

Islam mengajarkan, bahwa karena mereka yang selalu berbuat kerusakan di bumi Allah Swt ini, maka sudah jelas laknat dan kutuk Allah Swt tertimpa atas mereka buat selama-lamanya (kecuali mereka bertobat). Dengan latar belakang hal ini, maka bagaimana mungkin Muslim dapat dibenarkan untuk mendoakan kaum nonmuslim (kafir) ini? Sebenarnya-lah, mendoakan kaum nonmuslim merupakan suatu perbuatan zalim yang dicatat Allah Swt sebagai dosa. Dengan kata lain, seorang Muslim akan berdosa kalau mendoakan (kebaikan) kaum nonmuslim ini. Sejatinya, bagaimana kita bisa mendoakan kebaikan untuk kaum nonmuslim, sementara kutuk dan laknat Allah Swt saja sudah pasti tertimpa atas mereka buat selama-lamanya? Maka bukankah mendoakan kaum non Muslim merupakan suatu kelancangan terhadap ketetapan Allah Swt?

Di lain pihak, kita semua adalah umat manusia yang harus saling berbagi karunia, dan saling menghormati satu sama lain. Islam juga mengajarkan supaya kita senantiasa menjalin hubungan yang baik dan harmonis dengan siapa saja, dan khususnya di dalam hal ini kepada kaum nonmuslim. Islam sama sekali tidak mengajarkan kita supaya selalu berwajah bengis kepada kaum non-Muslim. Ramah dan santun tetaplah merupakan kata yang terbersit di wajah kita saat menemui mereka. Itulah Islam: agama yang diturunkan kepada umat manusia untuk membuat manusia tetap pada nilai kemanusiaannya yang agung, bukan yang bertujuan untuk membuat manusianya menjadi monster yang tidak berakal sehat sama sekali.

Islam mengajarkan bahwa Muslim adalah terlarang untuk mendoakan kaum non-Muslim. Dan pada situasi tertentu semisal saudara non-Muslim kita sedang sakit, kita pun terlarang untuk mendoakan kesembuhan mereka. Benarkah demikian?

Di dalam berbahasa, terdapat kosakata “ingin”, atau “menginginkan”, atau “keinginan”; padanan katanya adalah cita-cita, mau, semoga, dan lain lain. Kata “menginginkan” ini terbagi menjadi dua jenis yaitu HARAP dan DOA. Dua kata ini tentulah ada perbedaannya dan juga ada persamaannya.

Persamaan antara kedua kata ini adalah, sama-sama suatu keinginan, yang terbersit di dalam jiwa seorang manusia. Dan baik harap mau pun doa, merujuk pada suatu hal yang belum ada di masa depan.

Perbedaaannya adalah, bahwa suatu “keinginan” akan dikatakan DOA, kalau pada ungkapan “keinginan” itu dilibatkan (atau disisipkan, disebutkan) nama Allah Swt. Dan kebalikannya, kalau pada ungkapan “keinginan” tidak disebutkan nama Allah Swt, maka keinginan tersebut adalah harap.

HARAP = ungkapan “keinginan” yang tidak mengandung nama Allah.

DOA = ungkapan “keinginan” yang mengandung nama Allah Swt.

HARAPDANDOA

Contoh 1,

Versi HARAP = semoga Anda lekas sembuh.

Versi DOA = semoga Allah Swt segera menurunkan kesembuhan kepada Anda, amin!

Contoh 2,

Versi HARAP = semoga bisnis Anda selalu sukses buat selama-lamanya.

Versi DOA = semoga Allah Swt selalu mensukseskan bisnis Anda buat selama-lamanya, amin!

Contoh 3,

Versi HARAP = semoga Anda sekeluarga selalu sehat dan bahagia.

Versi DOA = semoga Allah Swt selalu menurunkan kesehatan dan kebahagiaan untuk Anda sekeluarga, amin!

Contoh 4,

Versi HARAP = semoga Anda berdua menjadi suami istri yang selalu bahagia, rukun dan banyak keturunan.

Versi DOA = semoga Allah Swt menjadikan Anda suami istri yang selalu rukun, bahagia, sakinah, mawaddah, marrohmah dan segera mendapatkan keturunan yang sehat dan saleh salehah. Amin!

Contoh kasus.

Abdul adalah seorang Muslim. Ia mempunyai dua kawan Hasan dan Frans. Hasan adalah Muslim, dan Frans adalah nonmuslim. Suatu saat Hasan dan Frans dirawat di rumahsakit. Abdul mengunjungi dua kawannya itu untuk memberi dukungan moral.

Kepada Hasan, Abdul akan berkata, “Semoga Allah Swt menurunkan kesehatan kepada Anda, dan mengampuni seluruh dosa Anda dan kita semua. Semoga Allah Swt membalas seluruh kesabaran Anda selama sakit ini dan menggantikannya dengan rejeki yang melimpah. Amin!”.

Sementara itu, kepada Frans, kawannya yang nonmuslim, Abdul akan berkata, “semoga Anda cepat sembuh seperti sedia kala”.

-o0o-

Harus difahami, bahwa DOA adalah suatu keinginan yang dipanjatkan kepada Allah Swt. Jadi dengan kata lain, DOA adalah permintaan kepada Allah Swt, meminta supaya Allah Swt berkenan untuk mengabulkan DOA-nya. Dengan background ini, maka sudah pasti, hanya DOA yang dipanjatkan Muslim saja yang akan didengar Allah Swt, dan DOA itu pun hanya boleh ditujukan kepada sesama Muslim. Singkat kata, DOA adalah sakral, karena merupakan ruh yang menjiwai hubungan antara Muslim dengan Allah Swt.

Di lain pihak, HARAP, merupakan suatu ungkapan yang umurnya setua umat manusia, yang tinggal di muka bumi ini. HARAP adalah ungkapan yang universal, melebihi keuniversalan DOA. HARAP adalah suatu pertalian yang tidak dapat diingkari dan tidak dapat diputus oleh agama mana pun, karena manusia itu sendiri mempunyai kehormatan di sisi Allah Swt sejak semula. Tidak mungkin Allah Swt berkehendak memutus TALI HARAP antara satu manusia dengan manusia lain, karena Allah Swt sendirilah Yang memerintahkan manusia untuk hidup rukun di bumi. HARAP-lah yang menghubungkan satu manusia dengan manusia lainnya secara rohani, dan keridhaannya bangkit di sisi Allah Swt: suatu Hablum Minannas yang diridhai Allah Swt.

Kembali ke pertanyaan semula, bolehkah kita mendoakan kesembuhan untuk saudara kita yang nonmuslim? Jawabannya adalah, bahwa mengharapkan kesembuhan, boleh, bahkan dianjurkan. Namun Muslim tetaplah terlarang untuk MENDOAKAN orang tersebut.

Wallahu a’lam bishawab.

Untuk melengkapi pemahaman antara doa dan harap ini, silahkan lanjut membaca artikel ini, Doa Kita Untuk Siapa