Islamitas

Benarkah Nabi Muhammad Saw Memelihara Kucing

hewanpeliharaan

Banyak di antara kita yang suka memelihara dan menyayangi kucing. Tahukah Anda bahwa Nabi Muhammad memiliki seekor kucing kesayangan yang Baginda namakan ‘Mueeza’?

Muezza Kesayangan Rasulullah

Setiap kali Rasulullah menerima tamu di rumah, Baginda selalu menggendong Mueeza dan diletakkan di atas paha Baginda. Salah satu sifat Mueeza yang paling Rasulullah suka ialah Mueeza selalu mengiaw sewaktu mendengar azan, seolah-olah bunyi suaranya seperti mengikuti alunan suara azan tersebut.

Suatu saat Rasulullah hendak mengambil jubahnya, ternyata Muezza sedang tidur dengan santai di atas jubah Baginda. Oleh kerana tidak ingin mengganggu kucing kesayangannya itu, Rasulullah pun memotong lengan jubah Baginda yang dibaringi oleh Mueeza supaya tidak membangunkan Muezza.

Ketika Baginda pulang ke rumah, Muezza terbangun dan menundukkan kepala kepada tuannya. Rasulullah menunjukkan kasih sayangnya dengan mengusap lembut ke badan kucing itu.

Kucing Tidak Najis

Nabi menekankan bahwa kucing itu tidak najis. Bahkan dibenarkan untuk berwudhuk menggunakan air bekas minum kucing karena tidak najis.

Abu Qatadah Radliyallaahu ra berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia adalah termasuk hewan yang suka berkeliaran di rumah (hewan pemeliharaan).” [HR At-Tirmidzi, An-Nasa’I, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah].

Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan bahawa Rasulullah pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah. Lalu, Baginda berkata, “Ya Anas! Tuangkan air wudhuk untukku ke dalam bekas.” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Rasulullah menuju ke arah bekas tersebut.

Namun, seekor kucing datang dan menjilat bekas tersebut. Melihat itu, Rasulullah berhenti sehingga kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhuk.

Rasulullah ditanya mengenai kejadian tersebut, Baginda menjawab, “Ya Anas! Kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, malah tidak ada najis”.

Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang mendirikan solat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk meletakkannya.

Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia terlupa pada buburnya. Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, ‘Aisyah ra. membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah memakannya.

Rasulullah bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliaran di rumah”. Aisyah juga pernah melihat Rasulullah berwudhuk dari sisa jilatan kucing, [Hadis Riwayat alBaihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-Daruquthni].

Hadis ini diriwayatkan dari Malik, Ahmad dan imam hadis yang lain. Oleh karena itu, kucing adalah binatang yang badan, peluh, dan bekas makanannya adalah suci.

Demikianlah kisah tentang kucing Nabi Muhammad yaitu Mueeza. Semoga dengan menghayati kisah di atas, kita akan ketahui betapa kasih dan sayangnya Rasulullah terhadap hewan.

Rasulullah berpesan supaya menyayangi kucing kesayangan sebagaimana kita menyayangi keluarga sendiri. Aisyah binti Abu Bakar As-Shiddiq, isteri Rasulullah juga amat menyayangi kucing dan berasa amat kehilangan jika ditinggal pergi oleh kucingnya. Beberapa orang terdekat Nabi turut memelihara kucing. Abdul Rahman bin Sakhr Al Azdi. diberi gelaran Abu Hurairah (bapa para kucing jantan), karena kegemarannya menjaga dan memelihara berbagai jenis kucing jantan di rumahnya.

Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah berat, dalam sebuah hadis sahih Al-Bukhari, dikisahkan seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan, Nabi SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah neraka.

Abdullah bin Umar ra. juga meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Seorang wanita disiksa karena mengurung kucing sampai mati. Kemudian wanita itu masuk neraka karenanya, yaitu karena ketika mengurungnya dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum sebagaimana dia tidak juga melepasnya mencari makan dari serangga-serangga tanah (Hadis Riwayat Muslimr.a.)”.

Sumber,

http://shafiqolbu.wordpress.com/2013/05/26/mueeza-kucing-kesayangan-nabi-muhammad-saw/ – 22 April 2014.

————————————–

Assalamu ‘alaikum wr wb ….

Tentulah tidak demikian adanya.

Islam tetap melarang umatnya untuk memelihara hewan kesayangan, karena memelihara hewan dengan tujuan untuk kesenangan dan kebanggaan, maka tempatnya adalah di neraka. Kalimat ini merupakah Alhadis dari baginda Muhammad saw.

Adapun kisah Nabi saw mempunyai kucing kesayangan, itu memang benar. Namun tentu saja pemandangannya harus diluruskan. Kucing yang dimaksud dalam kisah Nabi saw, merupakan kucing yang berkeliaran.

Jadi, Nabi saw tidak pernah mempunyai ANGGARAN baik keuangan maupun makanan yang baik-baik, yang tayib, untuk dijatahkan kepada kucing. Karena kalau Nabi saw mempunyai ANGGARAN TERSENDIRI BAIK BERUPA UANG MAUPUN MAKANAN MAUPUN PAKAIAN (DLL) YANG BAIK-BAIK YANG KHUSUS DIJATAHKAN UNTUK KUCING, maka barulah itu akan menjadi HUJJAH bagi kita untuk mengatakan bahwa memelihara kucing merupakan suatu sunnah Nabi saw.

Apakah kita di sini mempunyai Alhadis yang menjelaskan bahwa Nabi saw mempunyai anggaran tersendiri (BAIK DALAM BENTUK UANG, MAKANAN, SELIMUT DLL yang dalam kondisi baik) untuk dijatahkan kepada kucing??? Kalau kita mempunyai Alhadis tersebut, maka tentu saja hal itu akan menjadi hujjah bahwa Muslim dibenarkan untuk mempunyai hewan peliharaan, dan di dalam hal ini memelihara kucing.

Masalah bahwa Nabi saw suka menggendong kucing apalagi menimangnya di atas pangkuannya, maka hal itu adl wajar. Jadi bukan merupakan suatu syariah. Adalah tidak mungkin Nabi saw harus mengingkari perasaan kemanusiaannya terhadap kucing yang lucu-lucu …. NAMUN bukan berarti kucing itu merupakan hewan peliharaan Nabi saw.

Nabi saw akan dikatakan memelihara kucing, KALAU Nabi saw mempunyai anggaran tersendiri untuk memberi makanan, pakaian, perkakas yang baik-baik untuk kucing …. Di satu pihak Nabi saw mengajarkan kita untuk menyediakan anggaran (rancangan keuangan) untuk disedekahkan kepada manusia fakir lain (memanusiakan manusia), ternyata di pihak lain Nabi saw malah memberikan anggaran itu untuk seekor kucing (memanusiakan kucing), dan lebih menelantarkan manusia-manusia fakir lainnya. Apakah mungkin Nabi saw berlaku demikian?

Singkat kata, kita harus dapat membedakan, apakah Muhammad Saw sayang kepada kucing, atau Muhammad Saw memelihara kucing? Karena tentunya ada perbedaan, antara “sayang kucing” dengan “memelihara kucing”.

Sayang kucing memang dibenarkan, namun memelihara kucing tentu saja dilarang. Intinya, memelihara hewan dengan tujuan untuk kebanggaan dan kesenangan, merupakan suatu perbuatan maksiat.

Logikanya saja, kalau kita memelihara hewan kesayangan seperti kucing, burung, musang, hamster, dlll, maka pasti kita akan mengeluarkan uang untuk makanannya, minumannya, kandangnya, dan biaya perawatan medisnya; belum lagi aksesorisnya. Dan uang itu pastilah di dalam jumlah yang lumayan besar. Ingat, bukankah sebaiknya uang itu kita gunakan untuk memberi makan fakir miskin? Atau setidaknya, akan lebih baik kalau uang itu kita belanjakan untuk memberi makan anak, keponakan, cucu dlll?

Pun di lain pihak, ada dua hal yang ada pada hewan-hewan peliharaan tersebut – kalau kita ingin memeliharanya:

Pertama, hewan-hewan kesayangan itu, tanpa kita beri makan, tanpa kita beri kandang, tanpa kita beri minum, toh sudah ada yang memberi makan dan rejekinya, yaitu Allah Swt. Jadi mengapa kita harus bersusah payah memberi makan hewan-hewan tersebut – sementara kita tahu bahwa rejeki hewan itu saja sudah ditanggung oleh Allah Swt? Maka bukankah lebih baik kalau uang yang kita miliki itu kita belanjakan saja untuk kaum fakir miskin?

Kedua, dengan memelihara hewan kesayangan, sebenarnya kita telah mengekang kebebasan hewan tersebut. Dengan memelihara hewan kesayangan, kita telah mengurungnya, telah memenjarakannya, dan telah melanggar kebebasannya untuk bisa bertemu dengan sekawanannya, seperti pasangannya, anak-anaknya, sarang kesayangannya, makanan kesukaannya, dlll. Memelihara hewan di dalam kandang misalnya, tahukah bahwa kita telah mengakibatkan hewan tersebut tidak lagi dapat bebas terbang atau berkeliaran? Tentulah hal ini merupakan dosa.

Tentang jilatan kucing yang tidak najis.

Alhadis di atas menguraikan bahwa bekas jilatan kucing tidak najis. Hal ini bukan menjadi dasar bahwa kucing mempunyai keistimewaan, sehingga dengan demikian kita dianjurkan untuk memelihara kucinng.

Ingatlah, bahwa ayam, musang, hamster, dlll juga tidak najis perihal bekas jilatannya. Di dalam Islam, satu-satunya hewan yang najis adalah ANJING, yang mana adalah najis liurnya, bekas jilatannya, bahkan najis untuk berada di dalam rumah. Memegang mau pun membelai anjing pun juga najis kalau tubuh / bulu si anjing di dalam keadaan basah.

Jadi, kalau ada Alhadis yang menyatakan bahwa jilatan kucing tidak najis, hal tersebut bukanlah keistimewaan untuk kucing, karena hal itu juga berlaku untuk seluruh satwa KECUALI anjing.

Memelihara hewan yang dibenarkan

Muslim dibenarkan memelihara hewan, kalau tujuan dan maksudnya adalah SELAIN kesenangan dan kebanggaan. Hal ini seperti:

  • Memelihara ikan untuk dimakan,
  • Memelihara ayam dan itik untuk dimakan dagingnya mau pun telurnya,
  • Memelihara kuda dan keledai untuk tenaganya,
  • Memelihara kambing, sapi dan kerbau untuk daging, susu dan tenaganya buat membajak sawah mau pun menarik pedati,
  • Memelihara domba untuk diambil daging, susu dan bulunya, dlll.

Memelihara satwa-satwa tersebut dengan tujuan di atas tentu saja dibenarkan di dalam Islam, karena hal itu merupakan nafkah di dalam kehidupan ini. Intinya, memelihara hewan adalah dibenarkan kalau tujuan adalah untuk nafkah mau pun teknis.

Contoh kasus

Memelihara kuda tentu saja dibenarkan di dalam Islam kalau tujuannya adalah untuk kuda beban seperti untuk menarik pedati. Namun lain halnya, kalau seseorang memelihara kuda yang digunakan untuk dipelihara di lingkungan villa-nya, di mana kalau ia berlibur di villa-nya, ia ingin bersenang-senang dengan menunggangi kuda berkeliling desa. Hal ini berbalik menjadi dosa dan maksiat.

Yang dimaksud dibenarkan memelihara kuda sebagai kuda beban atau kuda pedati adalah, kalau pedati yang digunakan adalah untuk mencari nafkah buat keluarganya, atau untuk mempermudahnya bertransportasi di pedesaan yang mobil sulit untuk diaplikasikan. Sedangkan di dalam kasus di atas, si orang kaya ini menunggangi kudanya hanya untuk senang-senang, padahal mobil sudah bisa diaplikasikan, dan pun bukan untuk mencari nafkah buat keluarganya. Itulah sebab dosanya ia memelihara kuda dengan situasi seperti ini.

Kasus berikutnya, seseorang memelihara ikan. Di dalam Islam dibenarkan memelihara ikan kalau tujuannya adalah untuk dimakan atau untuk dijual. Namun lain halnya, ketika seseorang memelihara ikan untuk dilepaskan di dalam aquariumnya yang cantik dan mewah. Hal ini berbalik menjadi dosa. Ikan aquarium tentu saja tidak dapat dimakan, dimakan rasanya tidak enak. Inilah tersebab dosanya kalau memelihara ikan hias, karena jatuhnya adalah mubazir tersebab membeli makanan ikan hias itu yang adalah mahal: lebih baik uang itu diberikan kepada fakir miskin. Dan daripada waktunya dihabiskan untuk memelihara ikan hias di aquarium, lebih baik waktunya dihabiskan untuk memperhatikan anak-anaknya, atau fakir miskin, seperti itu.

Kasus lainnya, seseorang memelihara burung (atau hewan cantik lainnya) untuk dijual sebagai pencarian nafkahnya. Bagaimana hukumnya?

Di satu pihak, menurut logikanya, adalah haram memelihara burung karena dipelihara hanya untuk kesenangan, seperti didengar kicaunya, atau dilihat bulu-bulunya yang menawan. Namun di pihak lain, menjual burung peliharaan (bisa jadi) merupakan nafkah pencarian bagi seseorang. Memelihara burung yang tujuannya adalah untuk dijadikan pencarian karena akan dijual di pasar, merupakan suatu dosa. Ingat, di dalam Islam menurut bab muamalah, adalah terlarang memperjual-belikan benda-benda yang diharamkan, seperti menjual / membeli khamr, babi, patung dan lain lain. Ini juga termasuk menjual hewan (peliharaan) yang tujuan pemeliharaannya adalah hanya untuk kesenangan dan kebanggaan. Hal ini juga berlaku untuk hewan lainnya seperti hamster, musang, kelinci, marmut, aneka unggas cantik dan eksotik, aneka hewan melata seperti kadal, ular, biawak, iguana, mau pun kura-kura, dan lain lain.

Demikianlah tuntunan Islam mengenai hewan peliharaan, antara hewan yang diperbolehkan untuk dipelihara karena tujuannya adalah untuk dimakan, dibeban, mau pun untuk pencarian nafkah, dan hewan yang terlarang untuk dipelihara karena tujuan pemeliharaannya adalah hanya untuk kesenangan dan kebanggaan. Tujuan Islam tentulah mulia dan Agung:

  • Pertama, adalah alasan kemubaziran.
  • Kedua, adalah lebih baik menyantuni sesama manusia daripada membelanjai hewan yang sebenarnya rejekinya sudah ditanggung oleh Allah Swt.
  • Ketiga, menjaga keamanan hewan tersebut untuk bebas hidup di luar kandang, supaya tidak menganiaya hak para hewan.
  • Keempat, menjaga hewan tersebut dari ancaman kepunahan karena diperjualbelikan.

Wallahu a’lam bishawab.

Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid

jalan-ke-masjid

Saya mempunyai seorang sahabat yang tinggal di rumah kontrakan. Di rumah kontrakan itu ia hidup bersama seorang istri dan dua anak gadisnya. Tampaknya mereka keluarga yang bahagia tidak kekurangan suatu apa.

Di dekat rumah (kontrakan)-nya itu ada sebuah Masjid, tidak seberapa jauh. Jadi kalau sang sahabat ingin shalat berjamaah ia tidak perlu berjalan kaki jauh-jauh, karena Masjid sudah ada di pelupuk mata.

Sebenarnya rumah kontrakannya yang sekarang ini adalah kontrakannya yang kedua. Sebelumnya, sang sahabat mengontrak rumah di tempat lain. Dan yang saya perhatikan adalah, rumah kontrakan yang ia tempati pasti berdekatan dengan Masjid. Sahabat ini berkata kepada saya, bahwa ia memang sengaja mencari rumah kontrakan yang dekat dengan Masjid, supaya masalah shalat berjamaahnya tidak keteter. Maklum, sahabat ini termasuk Muslim yang taat.

Sahabat ini adalah seorang Muslim yang mempunyai visi, bahwa shalat yang baik menurut tuntunan Islam adalah shalat yang dilakukan secara berjamaah di Masjid, dan menghindari shalat (berjamaah) di rumah.

Benarkah demikian?

Saya sampaikan kepadanya, bahwa menurut ajaran Rasulullah, shalat (berjamaah) haruslah di rumah, bukan di Masjid. Jadi, menurut ajaran Rasulullah, shalat berjamaah di Masjid itulah yang tidak Islami, dan yang IslamI adalah shalat berjamaah di rumah masing-masing.

  • Shalat berjamaah di Masjid = tidak Islami.
  • Shalat berjamaah di rumah = Islami.

Saya katakan kepadanya, “kalau Anda shalat di Masjid, lantas anak-anak Anda ini, siapa yang meng-imami? Bukankah sebagai ayah mereka Andalah yang harus meng-imami shalat mereka? Dan bukankah anak-anak Anda adalah tanggungjawab Anda Dunia akhirat?”. Sahabat terdiam tidak mempunyai jawaban.

Tidak ada Alhadis Nabi

Tidak ada satu pun Alhadis yang menyatakan bahwa shalat berjamaah harus lah di Masjid. Atau, tidak ada satu pun Alhadis yang menyatakan bahwa shalat berjamaah akan lebih besar pahalanya kalau ditunaikan di Masjid.

Kalau shalat berjamaah yang nilai dan derajatnya lebih tinggi daripada shalat sendiri, memang ada Alhadisnya; semua Muslim pun sudah tahu Alhadis tersebut. Namun kalau Alhadis yang menyatakan bahwa shalat berjamaah adalah lebih besar pahalanya kalau ditunaikan di Masjid, jelas tidak ada Alhadisnya. Atau juga, Alhadis yang menyatakan shalat berjamaah harus ditunaikan di Masjid, tidak ada.

Oleh karena itu, kalau kita melihat kecendrungan kaum bapak atau kaum pria Muslim berduyun-duyun ke Masjid untuk shalat berjamaah, baik shalat Maghrib, Isya mau pun shubuh, maka hal itu dapat dikatakan sebagai suatu hal yang bathil – karena tidak ada dasarnya di dalam fiqih Islam: Muhammad Saw tidak pernah ajarkan hal yang demikian.

Dan terlebih lagi, kalau pria Muslim shalat (berjamaah) di Masjid, maka pertanyaannya adalah, siapakah yang meng-imami shalatnya anak-anak dan istri mereka? Bukankah para lelaki itu adalah ayah dan suami mereka?

Muhammad Saw selalu shalat di Masjid.

Banyak Muslim yang shalat (berjamaah) di Masjid, karena mereka berkeyakinan bahwa hal itu merupakan sunnah Rasulullah. Memang menurut fakta dan sejarahnya, Muhammad Saw dan seluruh sahabatnya selalu menunaikan shalat di Masjid, baik itu Masjid Al-haram, mau pun Masjid Nabawi (dan juga Masjid Al-Aqsa). Dapat dikatakan bahwa Muhammad Saw tidak pernah shalat di rumahnya sendiri. Kisah hidup Nabi dan para sahabat inilah yang dijadikan dasar mengapa seluruh Muslim selalu shalat di Masjid.

Sampai pada level ini, benarkah shalat di Masjid merupakan sunnah Rasulullah karena Rasul dan seluruh sahabatnya selalu shalat di Masjid?

Jawabannya adalah tidak benar. Shalatnya Muhammad Saw dan para sahabat yang selalu di Masjid, bukanlah tuntunan bahwa seluruh Muslim harus shalat di Masjid, karena sebenarnya seluruh Muslim harus shalat di rumahnya untuk menjadi imam atas istri dan seluruh anak-anaknya, keponakannya, dan juga cucu-cucunya.

Alasan pertama.

Nabi Muhammad Saw bersabda,

“Aku mengutamakan perjalanan ke tiga tempat ini, yaitu Masjid Al-Haram di Mekah, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsa (di Yerusalem)”.

Alhadis ini mengajarkan bahwa, tidak ada tempat yang diutamakan untuk dikunjungi selain ketiga tempat tersebut. Artinya, selain ketiga tempat itu tidaklah diutamakan untuk dikunjungi, termasuk di dalam hal ini Masjid selain ketiga Masjid ini.

Mengapa Muhammad Saw dan para sahabatnya selalu shalat di Masjid, adalah karena Masjid Nabawi mau pun Masjid Masjid Al-Haram (dan juga Masjid Al-Aqsa) merupakan keutamaan untuk dikunjungi. Pada bagian lain pun Muhammad Saw bersabda yang kita sudah sama-sama mengetahui,

“Pahala shalat di Masjid Nabawi adalah 10.000 kali dari pada shalat di Masjid lain kecuali di Masjid Al-Haram, dan pahala shalat di Masjid Al-Haram adalah 100.000 kali daripada shalat di tempat lain”.

Alhadis ini menurut permukaannya saja sudah jelas, bahwa hanya shalat di ketiga tempat itu saja yang pahalanya berlipat ganda. Namun ada juga arti lain yang lebih mendalam, yaitu bahwa shalat di Masjid lain selain ketiga tempat itu, tidak mempunyai keutamaan apapun.

Jadi mengapa Muhammad Saw dan seluruh sahabatnya selalu shalat di Masjid, adalah karena ketiga tempat itu merupakan keutamaan untuk dikunjungi. Ketiga tempat itu dikunjungi bukan karena kemesjidannya, melainkan karena kemonumentalan-nya. Harus difahami, bahwa Masjid lain selain ketiga tempat tersebut tentulah tidak monumental.

Maka dari hal ini sudah jelas, mengapa seluruh Muslim tidak mempunyai alasan untuk shalat di Masjid, karena shalatnya Rasulullah di Masjid itu sendiri mempunyai background yang berbeda: bukan karena ketiga tempat itu adalah Masjid, namun karena ketiga tempat tersebut adalah monumental.

jadikan-rmh-t4-shalat

Alasan kedua.

Muhammad Saw bersabda,

“Setiap kamu adalah pemimpin atas istri dan anak-anakmu”.

Alhadis ini menunjukkan, bahwa kehadiran seorang pria, suami mau pun ayah di muka bumi ini adalah untuk menjadi pemimpin dan imam atas istri dan anak-anaknya. Kalau hal ini sudah difahami dengan baik, maka artinya, menjadi imam shalat di rumah atas istri dan anak-anaknya (juga keponakan dan cucu) merupakan hal terpenting dari menjadi pemimpin / imam di dalam Alhadis tersebut, tidak bisa dihindari sama sekali. Tidak masuk akal, seluruh Muslim menerima Alhadis tersebut (bahwa mereka adalah pemimpin dan imam atas istri dan keturunan), sambil menolak untuk menjadi imam shalat di rumah.

Oleh karena itu kalau seorang pria shalat di Masjid, bagaimana ia dapat menunaikan tugasnya sebagai imam atas istri dan anak-anaknya? Kalau seorang pria shalat di Masjid berarti ia menanggalkan kewajibannya sebagai imam atas keluarganya, darah dagingnya. Dan ini merupakan suatu penyimpangan menurut azas-azas Islam.

Alhadis teritorial.

Dari Abu Hurairah, dia berkata,

“Seorang buta menemui Nabi saw dan berujar, “wahai Rasul, saya tidak mempunyai seseorang yang akan menuntunku ke Masjid”. Lalu dia meminta keringanan kepada Muhammad Saw untuk shalat di rumah maka beliau saw pun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar adzan?”. Laki-laki itu menjawab Ya. Muhammad Saw bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri shalat berjamaah di Masjid)”.

Di dalam Alhadis yang lain, ibnu Ummi Maktum (ia buta matanya) berkata,

“Wahai Rasul, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas”. Nabi berkata “apakah kamu mendengar adzan hayya alash shalah, hayya alal falah?”. Jika Ya, penuhilah adzan tersebut”.

Di bagian lain, Muhammad Saw bersabda,

Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka”. – HR Al-Bukhari No. 141 dan Muslim No. 651.

Alhadis di atas menggariskan (dengan tegas) bahwa seluruh Muslim haruslah shalat di Masjid, dan Allah Swt menjanjikan hukuman yang keras bagi Muslim yang menolak untuk shalat di Masjid. Sekaligus, Alhadis di atas (dan banyak Alhadis lainnya yang senada) menjadi dalil dan alasan bahwa seluruh Muslim harus shalat di Masjid, bukan di rumah.

Secara permukaan, tampaknya ketiga Alhadis di atas benar-benar mengindikasikan bahwa shalat WAJIB ditunaikan di Masjid, tidak bisa tidak. Satu hal yang harus diperhatikan adalah, bahwa Alhadis tersebut adalah Alhadis TERITORIAL.

Memang benar bahwa ketiga Alhadis di atas mengisyaratkan bahwa shalat harus ditunaikan di Masjid, dan juga berjamaah. Namun ketiga Alhadis di atas tidak bisa dilepaskan dari konteks kewilayahannya, yaitu kota Mekah mau pun Madinah: inilah yang disebut dengan Alhadis teritorial.

Kalau seorang Muslim pria berada di salah satu kota suci Islam (Mekah, Madinah, atau Yerusalem), maka haruslah ia shalat di ketiga Masjid monumental tersebut, apakah dia di Mekah, atau di Madinah mau pun ada di kota Yerusalem. Kalau perjalanan dari tempat kediamannya menuju ke salah satu Masjid monumental tersebut tidak lah menyulitkan, maka hendaklah ia shalat di salah satu ketiga Masjid tersebut.

Aplikasinya, kalau Abdul berada di Mekah, maka haruslah ia shalat di Masjid Al-Haram. Dan kalau perjalanannya dari tempatnya menginap di Mekah menuju Masjid Al-Haram tidaklah menyulitkan, maka hendaklah ia shalat di Masjid monumental tersebut. Begitu pula kalau Abdul berada di Madinah mau pun di Yerusalem.

Kemudian, kalau Abdul berada di Baghdad, dan perjalanan dari rumahnya di Baghdad ke Masjid Al-Haram tidaklah menyulitkannya, maka wajiblah baginya untuk shalat di Masjid Al-Haram; dengan kata lain, wajiblah ia melakukan perjalanannya dari rumahnya di Baghdad ke Masjid Al-Haram untuk menunaikan shalat. Atau kalau Abdul berada di Kuala Lumpur, begitu juga. Namun, karena pada dasarnya perjalanan mana pun dari suatu tempat di Baghdad, Kuala Lumpur, London, atau Netherland, atau Kinsasha dan lain lain, menuju Masjid Al-Haram (mau pun Masjid Nabawi mau pun Masjid Yerusalem) pasti menyulitkan, maka TIDAK ADA KEWAJIBAN atasnya untuk shalat di ketiga tempat monumental tersebut.

Ketiga Alhadis di atas menunjukkan bahwa adalah wajib untuk shalat di Masjid suci bagi umat yang sedang berdomisili di sekitar Masjid suci yang mana perjalanan dari kediamannya ke Masjid suci tidak lah menyulitkan. Jadi, ketiga Alhadis tersebut (dan banyak lagi yang lainnya) hanya menunjukkan betapa wajibnya shalat di Masjid suci khusus bagi umat yang berdomisili di sekitar ketiga Masjid suci. Dengan kata lain, Alhadis tersebut TIDAK BERLAKU untuk Muslim yang tidak berdomisili di sekitar Masjid tersebut, atau yang perjalanan dari rumahnya menuju ketiga Masjid suci tersebut menyulitkan (Islam tidak pernah menyulitkan umat).

Ketiga Alhadis di atas harus diselaraskan dengan satu Alhadis lainnya yaitu,

“Aku mengutamakan perjalanan ke tiga tempat ini, yaitu Masjid Al-Haram di Mekah, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsa (di Yerusalem)”.

Alhadis ini merupakan titik-tengah di dalam pembahasan mengenai di mana sebaiknya seorang Muslim menunaikan salatnya, apakah di rumah atau di Masjid, berkenaan dengan adanya Alhadis bahwa shalat haruslah ditunaikan di Masjid. Ya, Alhadis mengenai betapa wajibnya shalat ditunaikan di Masjid harus selalu diiringi dengan Alhadis ini, bahwa berkunjung ke tiga Masjid ini merupakan suatu keutamaan, yang mana Masjid di luar dari tiga Masjid ini tidaklah merupakan suatu keutamaan untuk dikunjungi. Aplikasinya adalah, untuk seorang Muslim yang berdomisili di Jakarta, mau pun di Bangkok, di Beijing, di Nebraska, di Manila, di Adelaide, di Manchester, di Bronx dlll, tetaplah ia harus shalat di rumah masing-masing untuk menjadi imam atas seluruh anggota keluarganya, bukan di Masjid setempat: itu mutlak.

Ada suatu kontradiksi di dalam pembahasan ini. Kontradiksi itu adalah,

  1. Di satu pihak, terdapat Alhadis yang mewajibkan Muslim untuk shalat di Masjid.
  2. Di pihak lain, terdapat Alhadis yang menyatakan bahwa setiap pria adalah pemimpin atas keluarganya: ia harus menjadi imam di rumahnya.

Kalau seorang Muslim shalat di Masjid, maka bagaimana ia dapat menjadi imam atas keluarganya? Dan kalau seorang Muslim shalat di rumahnya untuk menjadi imam atas keluarganya, maka bagaimana dengan Alhadis yang mewajibkan setiap Muslim untuk shalat di Masjid? Kalau pilihan SATU yang ditunaikan, maka pililhan DUA harus ditinggalkan, begitu juga sebaliknya. Sementara kita Muslim percaya bahwa di dalam Islam tidak pernah ada satu kontradiksi pun.

Jawabannya adalah mudah, yaitu dengan Alhadis di atas yang menerangkan bahwa Muhammad Saw hanya mengutamakan perjalanan ke tiga Masjid suci, yaitu Al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa. Jadi, Alhadis ini hanya berlaku untuk Muslim yang berdomisili di ketiga tempat di sekitar 3 Masjid suci ini. Dengan Alhadis ini, maka jelaslah bahwa merupakan suatu kebathilan untuk beranggapan bahwa seluruh Muslim harus shalat di Masjid, karena dengan demikian maka kewajibannya untuk menjadi imam atas keluarganya harus ditelantarkan. Dan dengan Alhadis ini, maka tidak ada lagi kontradiksi di dalam ajaran Islam.

Nabi tinggal di Beijing.

Sejarah menulis bahwa Muhammad Saw hanya berdomisili di Mekah mau pun di Madinah. Kalau Muhammad Saw sedang tidak berada di Mekah, berarti Muhammad Saw sedang berada di Madinah, begitu juga sebaliknya. Dan di tempat domisilinya itu, Muhammad Saw dan para sahabatnya selalu menunaikan shalat di Masjid suci yaitu di Masjid Al-Haram kalau di Mekah, dan Masjid Nabawi kalau berada di Madinah. Dan dari fakta ini, umat Muslim jadi berpatokan kepada kehidupan Nabi Muhammad Saw dan sahabatnya yang selalu shalat di Masjid, dan menjadikannya dasar untuk shalat selalu di Masjid.

Kalau Muhammad Saw dan para sahabatnya pernah berdomisili di Beijing, maka apakah Muhammad Saw dan sahabatnya akan juga shalat di Masjid? Tentu saja tidak: Muhammad Saw dan para sahabat pasti akan shalat di rumah masing-masing karena di Beijing tidak ada Masjid suci.

Ketika sejarah menunjukkan bahwa Muhammad Saw dan para sahabatnya selalu shalat di Masjid suci, itu sebenarnya karena Muhammad Saw dan para sahabatnya tinggal di dekat Masjid suci ini, atau perjalanannya dari rumah ke Masjid suci tidak lah mempersulit kehidupan. Latar belakang inilah yang menjiwai perkataan Muhammad Saw tadi: “Aku mengutamakan perjalanan pada ketiga tempat ini”. Kalau Muhammad Saw dan para sahabatnya berdomisili tidak di Mekah mau pun di Madinah, atau kalau perjalanannya ke Masjid suci itu merupakan suatu kesulitan, pastilah Muhammad Saw dan para sahabatnya akan shalat di rumah untuk menjadi imam atas seluruh keluarganya.

Bagaimana dengan shalat Zuhur dan Ashar?

Untuk setiap Muslim, khususnya kaum pria yang telah berkeluarga, SEDAPATNYA untuk shalat di rumah untuk menjadi imam atas seluruh anggota keluarganya, karena itu merupakan perintah dan kewajiban di dalam Islam atas seluruh pria Muslim. Kata SEDAPATNYA di sini, adalah diusahakan untuk selalu shalat di rumah supaya menjadi imam: untuk imam shalat shubuh, Zuhur, Ashar, Maghrib dan terakhir Isya.

Namun di siang hari di mana setiap pria biasanya berada di tempat kerja tentulah tidak mungkin untuk shalat Zuhur dan Ashar di rumah dan menjadi imam atas anak-anaknya. Tidak mengapa untuk shalat di Kantor, karena keadaan memang demikian. Namun untuk shalat malam yang meliputi shalat Maghrib, Isya dan shubuh maka sudah sepatutnya seorang pria tetap shalat di rumah sehingga dapat menjadi imam atas keluarganya.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Artikel ini merupakan satu rangkaian di dalam Enam Artikel Serangkai. Dipersilahkan kepada para pembaca untuk lanjut membaca artikel lainnya yang serangkai. yaitu

  1. Mari Shalat Di Rumah Bukan Di Masjid
  2. Dasar Dan Fondasi Untuk Shalat Di Rumah
  3. Keunggulan Menjadi Imam Shalat Berjamaah Di Rumah
  4. Maghrib Dan Isya Adalah Moment Tarbiyah Keluarga Muslim
  5. Syariah Islam Versus Jam Malam
  6. Anak-Anak Jangan Keluar Rumah Saat Maghrib Dan Isya

Masuk Surga Tanpa Hisab

alamandang-nasari

Kabar dari Rasulullah SAW

Wahai saudaraku, Sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas, telah meriwayatkan bahwa Rasululloh SAW bersabda:

“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat. Maka aku melihat seorang nabi disertai oleh beberapa orang, aku juga melihat seorang nabi hanya disertai satu orang, ada lagi yang disertai dua orang, dan ada seorang nabi yang tidak disertai seorang pun. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sejumlah besar orang, aku mengira mereka adalah umatku, ternyata dikatakan kepadaku: “Ini adalah Musa dan kaumnya. Akan tetapi, lihatlah ke arah ufuk.’ Maka aku melihat, ternyata ada sejumlah banyak orang. Kemudian dikatakan kepadaku: Lihatlah ke arah ufuk yang lain.’ Maka aku pun melihat, ternyata (di sana) ada sejumlah besar manusia. Maka dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan adzab”. Kemudian Rasulullah SAW bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Maka orang-orang ramai membicarakan mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Sebagian sahabat ada yang berkata: “Barangkali mereka adalah orang-orang yang menjadi sahabat Rasulullah SAW”. Sebagian lagi ada yang mengatakan: “Barangkali mereka adalah orang-orang yang dilahirkan di dalam masa Islam dan tidak menyekutukan Allah SWT”. Begitulah, mereka menyebutkan banyak kemungkinan. Kemudian Rasulullah SAW keluar menemui mereka seraya bersabda: “Apa yang sedang kalian perbincangkan?”. Para sahabat menceritakan perbincangan mereka. Maka Rasulullah SAW bersabda:

“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah (jampi), tidak meminta di-kayy, tidak ber-tathoyyur, dan mereka bertawakal hanya kepada Robb mereka”. Lalu Ukhasyah bin Mihshon berdiri dan berkata: “(Ya Rasulullah) mohonkanlah kepada Allah SWT agar Dia menjadikan saya termasuk golongan mereka.” Beliau menjawab: “Engkau termasuk mereka.” Kemudian berdirilah seorang yang lain dan berkata: “(Wahai Rasulullah) do’akanlah kepada Allah SWT agar menjadikan saya termasuk mereka”. Rasulullah SAW menjawab: “Kamu sudah didahului Ukasyah” (HR. al-Bukhori: 6541 dan Muslim: 220).

Dan dalam hal yang sama Imam Ahmad dan Imam al-Baihaqi meriwayatkan hadits yang bersumber dari sahabat Abu Huroiroh dengan lafazh: “Maka saya minta tambah kepada Robbku, kemudian Allah SWT memberi saya tambahan setiap seribu orang itu membawa tujuh puluh ribu orang lagi”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata mengomentari sanad hadits ini: “Sanadnya jayyid (bagus)” (Fathul Bari: 11/410).

Agar Bisa Masuk Surga Tanpa Hisab dan Adzab

Wahai saudaraku, telah kami jelaskan di atas tadi bahwa golongan yang masuk surga tanpa hisab dan adzab adalah mereka yang telah berhasil merealisasikan tauhid secara bersih dan nyata dalam kehidupannya. Dan termasuk bentuk realisasi tauhid adalah bersikap hati-hati terhadap hal-hal yang mungkin dapat merusakkan tauhid. Mereka itu adalah orang-orang yang:

1.   Tidak minta di-ruqyah

Ruqyah artinya memberikan pengobatan dengan cara membacakan ayat al-Qur’an kepada orang yang sakit atau kerasukan jin, dan boleh dilakukan dengan disertai memberikan semburan ludah pada tempat yang terkena gigitan binatang berbisa atau yang lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa mustarqi (orang yang meminta di-ruqyah) adalah orang yang minta diobati, dan hatinya sedikit berpaling kepada selain Allah SWT. Hal ini akan mengurangi nilai tawakalnya kepada Allah SWT. Sedangkan ar-roqi (orang yang me-ruqyah) adalah seorang yang muhsin (murah hati) atau orang yang hanya ingin berbuat baik dan memberi manfaat kepada saudaranya.3 (Majmu’ Fatawa: 1/182, 328)

2.   Tidak minta di-kayy

Kayy adalah menempeli luka dengan besi yang dipanaskan. Tidak minta di-kayy maknanya ialah mereka tidak minta kepada orang lain untuk meng-kayy sebagaimana mereka tidak minta di-ruqyah. Mereka menerima qodho’ (ketentuan) dan menikmati musibah yang menimpanya mereka.

Hukum kayy itu sendiri dalam Islam tidak dilarang. Islam membolehkan selama tidak menjadi pilihan pertama. Hanya, seorang yang tidak minta di-kayy itu menunjukkan akan kesempurnaan tawakalnya kepada Allah SWT.

3.   Tidak melakukan tathoyyur

Tathoyyur adalah beranggapan sial (merasa pesimis) berdasarkan burung-burung, suara-suara burung, arah terbangnya burung, atau berdasarkan tempat-tempat tertentu, lafazh-lafazh tertentu, hari-hari tertentu, angka-angka tertentu, bulan-bulan tertentu dan seterusnya. Ini batil menurut Islam karena termasuk syirik.

4.   Bertawakal kepada Allah SWT

Ini yang paling utama, seseorang harus bertawakal hanya kepada Allah SWT. Insya Allah dengan tawakal yang utuh, tauhid akan dapat terwujud secara bersih dan nyata. Dan ketahuilah bahwa makna hadits di atas tidak menunjukkan bahwa mereka tidak mencari sebab sama sekali. Karena mencari sebab (supaya sakitnya sembuh) termasuk fitrah dan sesuatu yang tidak terpisahkan darinya. Mereka meninggalkan perkara-perkara makruh walaupun mereka sangat butuh dengan cara bertawakal kepada Allah SWT. Seperti kayy dan ruqyah, mereka meninggalkan hal itu karena termasuk sebab yang makruh. Apalagi perkara yang haram.

Adapun mencari sebab yang bisa menyembuhkan penyakit dengan cara yang tidak dimakruhkan, maka hal itu tidak membuat cacat dalam tawakal. Dengan demikian kita tidaklah meninggalkan sebab-sebab yang disyari’atkan sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang bersumber dari Abu Huroiroh bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit melainkan (Dia pun) menurunkan obat untuknya, ada yang mengetahui obat itu dan ada (pula) yang tidak mengetahuinya” (HR. al-Bukhori: 5678 dan Ahmad: 1/377).

Beliau SAW juga bersabda: “Wahai hamba-hamba Allah SWT, bertobatlah kalian. Sesungguhnya Allah SWT tidaklah menimpakan sesuatu melainkan Dia telah meletakkan obat baginya, kecuali satu penyakit saja, yaitu pikun.” (HR. Ahmad: 4/278, Abu Dawud: 3855, dishohihkan Syaikh al-Albani dalam shohih Sunan Abu Dawud: 2/461)

WAllahu A’lam.

http://forum.dudung.net/index.php?topic=18841.0

Orang-Orang yang Dijamin Masuk Surga

alamandang-agungbudi-s

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirahmaanirrahiim…

Keinginan menjadi penghuni surga tidak cukup hanya berdo’a, tapi kita harus berusaha memiliki sifat dan amal calon penghuninya dan usaha itu sekarang dalam kehidupan kita di dunia ini.

Memberi Makan

Rasulullah Saw. bersabda:

“Sembahlah Allah Yang Maha Rahman, berikanlah makan, tebarkanlah salam, niscaya kamu masuk surga dengan selamat ” (HR. Tirmidzi)

Di dalam hadits lain, Rasulullah Saw. juga bersabda:

“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang luarnya dapat dilihat dari dalamnya dan dalamnya dapat dilihat dari luarnya, Allah menyediakannya bagi orang yang memberi makan, menebarkan salam dan shalat malam sementara orang-orang tidur ” (HR. Ibnu Hibban).

Menyambung Silaturrahim

Rasulullah Saw. bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang suka memutuskan, Sufyan berkata dalam riwayatnya: yakni memutuskan tali persaudaraan ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Shalat Malam

Tempat terpuji di sisi Allah SWT. adalah surga yang penuh dengan kenikmatan yang tiada terkira, karenanya salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk bisa diberi tempat yang terpuji itu adalah dengan melaksanakan shalat tahajjud saat banyak manusia yang tertidur lelap, Allah SWT. berfirman:

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji ” (QS Al Isra [17]:79).

Memudahkan Orang Lain

Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya seorang lelaki masuk  surga. Dia ditanya: “Apa yang dulu kamu kerjakan?”. Dia menjawab, dia ingat atau diingatkan, dia menjawab: “Aku berjual beli dengan manusia lalu aku memberi tempo kepada orang yang dalam kesulitan dan mempermudah urusan dengan pembayaran dengan dinar atau dirham”. Maka dia diampuni.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Berjihad

Manakala kaum muslimin hendak berjihad, maka AllahSWT menyediakan surga untuk siapa saja yang berjihad di jalan-Nya, bahkan orang yang berjihad dan mati syahid meskipun dahulunya ia kafir dan pernah membunuh kaum muslimin dijamin masuk surga, Rasulullah Saw. bersabda:

“Allah tertawa kepada dua orang yang saling membunuh yang keduanya masuk surga. Para sahabat bertanya: “Bagaimana yang Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Yang satu (muslim) terbunuh (dalam peperangan) lalu masuk surga. Kemudian yang satunya lagi (si kafir) taubatnya diterima oleh Allah ke dalam Islam, kemudian dia berjihad di jalan Allah lalu mati syahid.” (HR. Muslim dah Abu Hurairah ra).

Tidak Sombong

Manakala seseorang berlaku sombong, sangat kecil peluang baginya untuk bisa masuk ke dalam surga, di dalam hadits, Rasulullah Saw. bersabda:

”Tidak masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan.” (HR. Muslim).

Tidak Memiliki Fanatisme yang Berlebihan

Hal ini terdapat dalam hadits Nabi Saw.:

“Bukan golongan kamu orang yang menyeru kepada ashabiyah, bukan golongan kami orang yang berperang atas ashabiyah dan bukan golongan kami orang yang mati atas ashabiyah ” (HR. Abu Daud)

Terbebas dari Hutang

Rasulullah Saw. bersabda:

“Berhati-hatilah dalam berutang, sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) pada siang hari. ” (HR. Baihaki)

Peka Terhadap Peringatan

Orang seperti ini digambarkan oleh Rasulullah Saw sebagai orang yang berhati seperti burung sebagaimana disebutkan dalam sabdanya:

“Akan masuk surga kelak kaum-kaum yang hati mereka seperti hati burung.” (HR. Ahmad dan Muslim).

Menahan Amarah

Rasulullah Saw. bersabda:

“Marah itu dapat merusak iman seperti pahitnya jadam merusak manisnya madu ” (HR. Baihaki).

Allah SWT. berfirman sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Qudsi:

“Wahai anak Adam, ingatlah kepada-Ku ketika kamu marah. Maka Aku akan mengingatmu jika Aku sedang marah (pada hari akhir) “.

Ikhlas Menerima Kematian Anak dan Orang yang Dicintai

Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda dalam hadits qudsi:

“Tidak ada pembalasan bagi seorang hamba-Ku yang percaya, jika Aku mengambil kekasihnya di dunia, kemudian ia ridha dan berserah kepada-Ku, melainkan surga.” (HR. Bukhari).

Bersaksi Atas Kebenaran Al-Qur’an

Bersaksi atas kebenaran Al-Qur’an juga harus ditunjukkan dengan penyebaran nilai-nilainya dalam kehidupan masyarakat dan yang lebih penting lagi adalah kebenaran Al-Qur’an itu ditunjukkan dalam sikap dan perilakunya sehari-hari. Orang seperti inilah yang mendapat jaminan masuk surga oleh Allah SWT. sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari Kitab-Kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka catatlah Kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Ouran dan kenabian Muhammad saw). Mengapa Kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada Kami, Padahal Kami sangat ingin agar Tuhan Kami memasukkan Kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?”. Maka Allah memberi mereka pahala terhadap Perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).” (QS. Al-Maidah: 5]: 83-85).

Berbagi Kepada Orang Lain

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah Saw.:

“Empat puluh kebaikan yang paling tinggi adalah pemberian seekor kambing yang diperah susunya. Tidak seorangpun yang melakukan salah satu darinya dengan mengharapkan pahala dan membenarkan apa yang dijanjikan karenanya, kecuali Allah memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Bukhari).

Hakim yang Benar

Rasulullah saw bersabda:

“Hakim-hakim itu ada tiga golongan, dua golongan di neraka dan satu golongan di surga: Orang yang mengetahui yang benar lalu memutus dengannya, maka dia di surga. Orang yang memberikan keputusan kepada orang-orang di atas kebodohan, maka dia itu di neraka dan orang yang mengetahui yang benar lalu dia menyeleweng dalam memberikan keputusan, maka dia di neraka.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim).

Mudahan-mudahan kita termasuk orang yang mau berusaha untuk bisa masuk ke dalam surga. Aamiin……

http://ekasepiani.blogspot.com/2012/07/orang-orang-yang-dijamin-masuk-surga.html

Kisah Penciptaan Malaikat Jibril

alamandang-prayoga

Telah bersabda Rasulullah SAW bahwa:

“Sesungguhnya Allah telah menciptakan Malaikat Jibril dengan bentuk yang sangat indah. Jibril as mempunyai 124,000 sayap dan di antara sayap-sayap itu terdapat dua sayap yang berwarna hijau seperti sayap burung merak. Sayap itu antara timur dan barat. Jika Jibril menebarkan hanya satu dari beberapa sayap yang dimilikinya, maka ia sudah cukup untuk menutup dunia ini”.

Setelah memandang dirinya yang tampak begitu indah dan sempurna, maka Malaikat Jibril pun berkata kepada Allah: “Wahai Tuhanku, apakah Engkau menciptakan makhluk lain yang lebih baik daripada aku?”.

Kemudian Allah pun menjawab pertanyaan Malaikat Jibril: “Tidak”.

Mendengar jawapan Allah, maka Malaikat Jibril pun berdiri dan melakukan shalat dua rakaat untuk bersyukur kepada Allah. Pada setiap rakaat shalat yang dikerjakan oleh Malaikat Jibril, dia menghabiskan masa selama 20,000 tahun lamanya.

Setelah Malaikat Jibril selesai melaksanakan shalatnya, kemudian Allah berfirman kepadanya:

“Wahai Jibril, kamu telah menyembah Aku dengan ibadah yang bersungguh-sungguh dan tidak ada seorang pun yang menyembah-Ku seperti ibadah yang kamu lakukan, akan tetapi di akhir zaman nanti akan datang seorang nabi yang mulia, yang paling Aku cintai bernama Muhammad. Dia mempunyai umat yang lemah dan sentiasa berdosa. Seandainya mereka mengerjakan shalat dua rakaat walau hanya sebentar dan dalam keadaan lupa serta serba kurang, dengan fikiran yang melayang-layang dan dosa mereka pun besar, maka demi kemuliaan-Ku dan ketinggian-Ku, sesungguhnya shalat mereka itu lebih Aku sukai daripada shalatmu. Hal itu kerana mereka telah mengerjakan shalat itu atas perintah-Ku sedangkan shalat kamu bukan atas perintah-Ku”.

Setelah mendengar hal tersebut, Jibril pun kembali bertanya kepada Allah:

“Ya Tuhanku, apakah yang Engkau berikan kepada mereka sebagai ganjaran atas ibadah mereka kepadaMu?”.

Maka Allah berfirman yang artinya: “Ya Jibril, akan Aku berikan syurga Ma’waa sebagai tempat tinggal mereka”.

Malaikat Jibril kemudian meminta izin daripada Allah untuk melihat syurga Ma’waa tersebut.

Setelah Allah memberikan izin kepadanya, Malaikat Jibril pun mengembangkan sayapnya dan terbang menuju syurga Ma’waa.

Satu ayunan sayap Malaikat Jibrail adalah sama dengan jarak perjalanan selama 3000 tahun. Terbanglah Malaikat Jibril selama beberapa lama perjalanan, Malaikat Jibril akhirnya kepenatan dan turun untuk singgah dan berteduh di bawah sebuah pohon.

Di sana ia bersujud kepada Allah lalu berkata: “Ya Tuhanku, apakah aku telah menempuh setengah atau seperti ga atau seperempat dari perjalanan menuju ke syurga Ma’waa?”.

Maka Allah pun berfirman:

“Wahai Jibril, meskipun kamu mampu terbang selama 3000 tahun dan meskipun Aku memberikan kekuatan kepadamu seperti kekuatan yang engkau miliki, lalu kamu terbang seperti  yang telah kamu lakukan, nescaya kamu tidak akan sampai kepada sepersepuluh dari beberapa puluhan yang telah Ku berikan kepada umat Muhammad terhadap ganjaran shalat dua rakaat yang mereka kerjakan”.

Sabda Rasulullah SAW:

“Sebelah kanan sayap Jibril terdapat gambar syurga berserta dengan segala isinya termasuk bidadari-bidadari, istana, pelayan dan sebagainya manakala sayapnya yang sebelah kiri terdapat gambar neraka dan segala isinya yang terdiri dari beberapa macam ular yang cukup berbisa, kala jengking dan neraka yang bartingkat-tingkat serta penjaganya yang terdiri dari Malaikat yang garang dan ganas yakni Malaikat Zabaniyah”.

Kata Rasulullah Rasulullah SAW lagi:

“Apabila telah sampai ajal seseorang itu, maka akan masuklah satu kumpulan Malaikat ke dalam lubang kecil pada badan manusia kemudian mereka akan menarik rohnya dari kedua telapak kaki hingga lutut dan mereka pun keluar. Setelah itu datang lagi sekumpulan Malaikat masuk menarik roh dari lutut ke perut. Begitulah seterusnya dari perut ke dada dan dada ke kerongkongnya. Itu saat nazak seseorang”.

“Kalau orang yang nazak itu orang beriman, maka Malaikat Jibril akan menebarkan sayapnya yang sebelah kanan sehingga orang itu dapat melihat kedudukannya di syurga sehingga terlupa orang-orang di sekelilingnya.

Jika orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail akan menebarkan sayap sebelah kiri untuk menunjukkan tempatnya di neraka sehingga ia menjadi sangat takut serta lupa kepada keluarganya”.

Surat Al-Ikhlas Tertulis Pada Sayap Malaikat

alamandang-marwan

Banyak sekali tanda-tanda kebesaran Allah yang ada pada makhluk-Nya, baik pada binatang, tumbuhan, maupun pada manusia. Anda mungkin pernah melihat lafadz Allah pada binatang yang diabadikan dalam sebuah foto, atau kita pernah mendengar sebuah pohon di suatu negara yang membentuk kalimat laa ilaaha illa Allah. Semua ini tidak lain ditujukan kepada kita agar selalu ingat kepada Allah swt.

Salah satu bentuk keagungan Allah juga terlukis pada sayap malaikat. Menurut suatu hadits, pada sayap malaikat terdapat tulisan surat al-Ikhlas. Keterangan ini terdapat dalam riwayat Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,

“Ketika melakukan isra’ ke langit, aku telah melihat Arasy di atas 360.000 sendi di mana jarak tempuh antara satu sendi ke sendi lainnya ialah 300.000 tahun perjalanan. Pada tiap-tiap sendi itu terdapat padang sahara sebanyak 12.000 dan luasnya setiap satu padang sahara itu seluas dari timur hingga ke barat. Pada setiap padang sahara itu terdapat 80.000 malaikat di mana semuanya membaca surah al-Ikhlas”.

Setelah itu Nabi bersabda lagi, “Setelah selesai membaca surat tersebut mereka berkata: Wahai Tuhan kami, sesungguhnya pahala dari bacaan kami ini kami berikan kepada orang yang membaca surat al-Ikhlas, baik ia laki-laki maupun perempuan”.

Ketika para sahabat mendengar keterangan Nabi yang demikian itu, mereka dibuat berdecak kagum. Lalu Nabi bersabda lagi, “Wahai para sahabatku, apakah kamu semua kagum?” Para sahabat menjawab: “Ya, kami sungguh kagum, ya Rasulullah saw.”

Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya:

  • Qul Huwallahu Ahad itu tertulis di sayap malaikat Jibril a.s,
  • Allahush Shamad itu tertulis di sayap malaikat Mikail a.s,
  • Lam Yalid Walam Yuulad tertulis pada sayap malaikat Izrail a.s,
  • Walam Yaqullahu Kufuwan Ahad tertulis pada sayap malaikat Israfil a.s.

Oleh karena itu, barang siapa dari umatku membaca surat al-Ikhlas maka dia diberi pahala membaca kitab Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an yang agung”.

Setelah Rasulullah saw. berkata demikian, baginda bersabda lagi, “Wahai sahabatku, apakah kamu semua kagum?”. Maka para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah saw., kami semua kagum”.

Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh:

  • Qul Huwallahu Ahad itu tertulis di dahi Abu Bakar Ash-Shidiq,
  • Allahush Shamad itu tertulis di dahi Umar al-Faaruq,
  • Lam Yalid Walam Yuulad itu tertulis di dahi Utsman Dzun Nuurain dan,
  • Walam Yakun Lahu Kufuwan Ahad itu tertulis di dahi Ali ra.

Oleh karena itu, siapa yang membaca surat al-Ikhlas maka ia diberi oleh Allah pahala Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali” (Keterangan ini terdapat dalam kitab Hayatun Quluubi).

Demikian agungnya posisi surat al-Ikhlas di antara surat-surat lainnya, hingga ia sampai terlukis di sayap para malaikat. Bahkan ihwal keagungan dan besarnya manfaat surat ini, Nabi pernah bersabda,

Barangsiapa membaca surat al-Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggal dunia, maka dia tidak akan membusuk di dalam kuburnya, ia akan selamat dari kesempitan kuburnya dan para malaikat akan membawanya dengan sayap mereka, melintasi titian siratul mustaqim lalu menuju ke surga.” (Seperti diterangkan dalam kitab Tadzikaratul Qurthuby).

Ada suatu kisah yang menggambarkan keagungan surat al-Ikhlas. Kisah ini terekam dalam hadits. Suatu kali Nabi memberikan sebuah teka-teki kepada para sahabatnya: Siapakah di antara kamu yang dapat mengkhatam Qur’an dalam jangka waktu cepat? Tidak ada seorang sahabat pun yang bisa menjawabnya. Umar lalu berkata bahwa mustahil bisa mengkhatamkan al-Qur’an dalam waktu begitu cepat. Tetapi Ali kemudian mengangkat tangannya. Melihat hal ini, Umar langsung berkata bahwa Ali (yang masih kecil pada waktu itu) tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Lantas Ali membaca surat al-Ikhlas tiga kali. Rasulullah saw. menjawab dengan mengatakan bahwa Ali betul.

Menurut Nabi, membaca surah al-Ikhlas satu kali pahalanya sama dengan membaca 10 juz kitab al-Qur’an. Lalu dengan membaca surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali, maka khatamlah al-Qur’an. Karena hal itu sama dengan membaca 30 juz al-Qur’an.

Ini menunjukkan bahwa surat al-Ikhlas itu memiliki kelebihan dibandingkan surat-surat lainnya. Karena itu, kita sering mengucapkannya pada saat zikir, tahlil, shalat, keadaan takut dan sebagainya. Karena itu pula, Allah mengukirnya pada sayap malaikat.

Kelebihan surat al-Ikhlas juga terlihat dari kisah berikut ini. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa sewaktu ia bersama-sama Rasulullah saw. di Tabuk, suatu ketika cahaya matahari terbit dengan redup, tidak seperti pada hari-hari sebelumnya. Malaikat Jibril lalu datang. Kepada malaikat, Nabi pun menanyakan tentang hal ini. Malaikat menjawab, bahwa matahari tampak redup karena sayap Malaikat terlampau banyak. Para Malaikat sebanyak 70.000 ini diutus Allah karena ada seorang sahabat yang meninggal di Madinah. Sahabat ini banyak membaca surat al-Ikhlas.

Bayangkan, keadaan sahabat itu begitu dihormati di mata malaikat karena seringnya ia membaca surat al-Ikhlas saat hidup. Ini sekali lagi menunjukkan betapa agungnya posisi surat ini dalam kehidupan kita. Semakin sering kita membacanya kian besar pula kita mereguk pahala dari Allah swt..

Hal ini pula yang membuat kenapa surat al-Ikhlas terlukis di sayap malaikat. Kenapa bukan surat yang lain? Toh, sama-sama al-Qur’an. Ini disebabkan surat al-Ikhlas memiliki kemuliaan yang sangat tinggi dibandingkan surat-surat yang lain.

Abu Sa’id al-Khudry berkata, “Ada seorang sahabat Rasul mendengar tetangganya membaca berulang-ulang ayat Qul Huwallahu Ahad. Kemudian keesokan paginya, Abu Sa’id al-Khudry menyampaikan kepada Rasulullah perihal yang didengarnya semalam, yakni seakan-akan sahabat ini menganggap ringan kedudukan surat ini. Maka Nabi pun bersabda,

Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya. Sesungguhnya surat al-Ikhlas benar-benar menyamai sepertiga al-Qur’an” (HR. Bukhari dalam Bab Fadha’il Qur’an No. 5014).

Hadits di atas sekali lagi menunjukkan betapa agungnya posisi surat al-Ikhlas, sehingga harus terlukis di sayap malaikat. Pertanyaannya kemudian adalah kenapa hanya malaikat Jibril, Mikail, Israil dan Izrafil saja yang sayapnya terlukis dengan surat al-Ikhlas?

Inilah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Tapi, bila kita melihat sejarah para malaikat, maka kita tahu bahwa keempat malaikat itu memiliki peran sentral dalam kehidupan makhluk Allah. Malaikat Jibril misalnya, bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad saw. Ia adalah pemimpin para malaikat. Ia juga menjadi tempat keluh kesah Nabi saat dirinya sedang dalam kebingungan dan sebagainya.

Lalu malaikat Mikail, yang bertugas mengatur cuaca hujan, kemarau, rezeki, dan sebagainya. Sedang malaikat Israil bertugas meniup sangkakala dan malaikat Izrail yang mencabut seluruh makhluk yang bernyawa. Bukan berarti, tugas malaikat-malaikat yang lain tidak terlalu sentral dalam kehidupan manusia. Tetapi, dengan diukirnya surat al-Ikhlas pada keempat malaikat di atas, setidaknya menunjukkan akan peran utama mereka dalam kehidupan makhluk Allah, terutama manusia.

Tentu ini hanya sebatas analisa, sebab persoalan gaib ini hakekatnya hanya Allah yang Maha Tahu. Kita pun tidak penting membanding-bandingkan peran malaikat satu sama lain. Yang penting, tugas kita adalah mempercayai bahwa di sayap-sayap malaikat yang empat itu terlukis surat al-Ikhlas, yang berarti mengindikasikan pentingnya surat ini untuk selalu kita baca setiap saat. Karena itu, perbanyaklah kita membaca al-Qur’an, terutama surat al-Ikhlas.

Amien!

Doa Kita Untuk Siapa

alamandang-frans

Sebagai mahluk yang mengenal Tuhan tentunya kita akan banyak berharap pada doa-doa yang kita panjatkan kepada Allah Swt. Dan di dalam Islam doa itu sendiri sebenarnya  merupakan salah satu ibadah, atau juga bagian dari ibadah. Di dalam suatu Alhadis disebutkan bahwa Allah Swt membenci dia yang tidak pernah berdoa kepadaNya: tandanya orang itu sombong terhadap Allah Swt. Dan ada juga Alhadis yang menjelaskan bahwa doa adalah senjata umat Muhammad Saw.

Doa secara bahasa berasal dari kata yang berarti menyeru atau berseru. Jadi doa di dalam Islam sebenarnya berarti seruan seorang umat kepada Allah Swt. Dari akar kata doa ini turun juga kata dakwah (atau da’wah), yang berarti seorang ulama menyeru umatnya untuk menuju jalan Allah Swt. Orang yang menyeru umat disebut dengan da’i yang juga berasal dari akar kata yang sama.

Dengan berdoa maka kita akan mendapat pahala, karena dengan berdoa kita telah beribadah, dan dengan beribadah kita menghambakan diri di hadhirat Allah Swt. Untuk individu-individu yang salih, tentunya doa mereka selalu di-ijabah oleh Allah Swt. Di-ijabah artinya dijawab, dan atau dipenuhi oleh Allah Swt. Dan bagi umat kebanyakan, tentunya mereka berusaha sebaik mungkin supaya doanya di-ijabah oleh Allah Swt, yang pasti usahanya adalah dengan memperbanyak ibadah yang lain.

Islam merupakan agama yang sempurna, maka sempurna jugalah seluruh ajarannya. Termasuk di dalam hal doa ini Islam telah memberikan panduan yang kukuh untuk seluruh umat Nabi Muhammad Saw. Ajaran mengenai doa ini berangkat dari pertanyaan: untuk siapakah kita berdoa?

Doa secara garis besar terbagi ke dalam dua golongan yaitu doa untuk kebaikan (doa berkah) dan doa untuk keburukan atau yang biasa disebut dengan kutukan.

Di dalam hal doa berkah, untuk siapakah umat Muslim memanjatkan doa berkah mereka? Bagaimanakah ajaran dan tuntunan Muhammad Saw mengenai untuk siapa saja doa berkah ini ditujukan?

Pertama. Doa berkah adalah untuk sesama Muslim.

Setiap Muslim berhak mendapatkan doa berkah kita, baik Muslim yang jauh mau pun Muslim yang dekat, Muslim yang masih hidup mau pun Muslim yang sudah wafat (mendoakan arwah mereka), Muslim yang hidup di masa lalu, di masa sekarang mau pun Muslim yang akan hidup di masa mendatang. Dan kita sebagai Muslim pun wajib mendoakan mereka, selama mereka adalah Muslim. Muslim artinya adalah manusia-manusia yang tetap di dalam dua kalimat syahadat.

Pun, Muslim yang durjana, Muslim yang banyak berbuat dosa, Muslim yang masih di dalam kesesatan, tetap berhak mendapatkan doa kita, dan kita wajib mendoakan mereka, mendoakan kebaikan atas mereka, mendoakan supaya ampunan Allah Swt melimpah atas mereka, doa semoga hidayah Allah Swt lebih dulu turun atas mereka ….. Seperti apapun sesatnya mereka, selama mereka adalah Muslim yang tetap di dalam dua kalimat syahadat, tetap kita wajib mendoakan mereka.

Kalau ada seorang Muslim yang berbuat aniaya kepada kita sehingga kita sengsara dan rusak binasa karena kekejian perbuatannya, adalah haram bagi kita untuk mendoakan mereka binasa (yaitu mendoakan kutukan). Kita tidak pernah diutus ke Dunia ini untuk mendoakan kebinasaan atas kaum Muslim walau pun Muslim tersebut telah berbuat aniaya terhadap kita – atau kepada siapa pun. Kebalikannya, ketika kita menghadapi kekejian mereka dan kita sengsara karenanya, maka hendaklah kita:

  1. Bersabar dan bertawakal kepada Allah Swt.
  2. Berdoa semoga Allah Swt melindungi kita dari kejahatan-kejahatan mereka.
  3. Kemudian berdoa semoga Allah Swt mengampuni Muslim-Muslim yang aniaya tersebut,
  4. Dan sekaligus berdoa semoga Allah Swt mencurahkan hidayahNya atas Muslim-Muslim aniaya tersebut sehingga mereka menjadi Muslim yang saleh dan pilihan. Dan sehingga pada akhirnya terjalinlah persaudaraan antara kita dengan mereka sebagai sesama Muslim umat dan pengikut Muhammad Saw.

Muhammad Saw pada saat hendak berdakwah ke Thaif mendapatkan perlakuan yang amat menyengsarakan dari kaum kafir, lemparan batu, caci maki dan hujatan yang keji. Pada saat itulah Malaikat Jibril as turun kepada Muhammad Saw dan berkata bahwa kalau Muhammad Saw menghendaki Jibril as akan mengangkat sebuah bukit dan menimpakannya atas kaum kufar yang ingkar tersebut. Muhammad Saw menjawab Jibril as dengan penuh kelembutan bahwa Muhammad Saw tidaklah diutus untuk mengutuki dan membinasakan manusia, melainkan untuk menebarkan rahmat.

Kedua. Doa berkah adalah untuk para Malaikat.

Bolehkah kita sebagai Muslim memanjatkan doa berkah untuk para Malaikat? Tentu saja boleh, dan lebih dari itu memanjatkan doa berkah untuk para Malaikat juga akan mendatangkan pahala bagi kita.

Mengapa Malaikat harus didoakan berkah? Bukankah Malaikat sudah pasti terbebas dari kebinasaan? Dan bukankah para Malaikat itu sudah pasti mendapat rejeki, berkah dan ridha dari Allah Swt? Pertama, mendoakan para Malaikat merupakan salah satu ibadah yang akan mendatangkan pahala bagi kita. Kedua, dengan memanjatkan doa untuk para Malaikat, kita telah menunjukkan karib dan rahmah kita kepada para Malaikat. Kita harus akui bahwa sebenarnya para Malaikat pun juga selalu mendoakan kebaikan untuk kita, tidak ada satu hari pun berlalu di kalangan para Malaikat, kecuali mereka melewatinya dengan selalu memanjatkan doa kepada Allah Swt untuk kebaikan kita semua, kaum Muslim. Dan sudah sepantasnya umat Muslim berbalik turut mendoakan mereka para Malaikat, itulah yang indah di mata Allah Swt.

Saat seorang Muslim mendoakan berkah untuk para Malaikat, pastilah para Malaikat akan membalas pula doa kita itu dengan mendoakan kebaikan atas kita. Artinya nanti para Malaikat akan berdoa kepada Allah Swt supaya kita selalu mendapatkan karunia dan berkah dari Allah Swt. Dan bukankah doa para Malaikat akan selalu di-ijabah Allah Swt?

Ketiga. Doa berkah adalah untuk anak-anak.

Saat berdoa, jangan kita lupa mendoakan keberkahan untuk anak-anak manusia yaitu anak-anak yang masih di bawah umur. Yang harus diperhatikan di sini adalah, anak-anak yang berhak atas doa berkah kita adalah seluruh anak-anak di Dunia ini, walau pun anak-anak itu merupakan anak-anak dari kalangan umat non-Muslim. Jadi kalau ada kanak-kanak nonmuslim yang masih di bawah umur, sangat baik sekali kalau kita mendoakan mereka supaya kelak mendapat hidayah Allah Swt untuk menerima Islam.

Anak-anak adalah manusia-manusia muda yang masih netral, belum dipandang beragama satu pun. Oleh karena itu adalah hak dan kewajiban kita untuk mendoakan supaya kehidupan mereka kelak dijalani sebagai manusia-manusia Muslim yang saleh yang menjalankan syariah dan risalah Nabi Muhammad Saw. Dan dengan mendoakan mereka tentunya kita akan mendapatkan pahala tersendiri dari Allah Swt.

Keempat. Doa berkah kita adalah untuk benda mati dan mahluk hidup lainnya.

Sebagai manusia yang daif, lemah dan sangat bergantung kepada kemurahan Allah Swt tentunya kita sadar bahwa bukan kita saja yang mengharapkan belas kasihan dari Allah Swt. Benda mati pun juga selalu mengharapkan belas kasih Allah Swt, seperti gunung, angin, awan, air, lembah, planet bumi, matahari, dan lain lain, kesemuanya merupakan mahluk Allah Swt juga yang selalu mengharapkan belas kasih dari Allah Swt. Pun begitu juga, hewan dan pepohonan juga mengharapkan belas kasih dan rahmat dari Allah Swt, karena hanya Allah-lah Yang dapat mencurahkan rahmat dan belaskasihNya kepada seluruh mahluk itu. Kalau tidak ada belaskasih dan rahmat dari Allah Swt tentulah seluruh mahluk itu akan binasa tak berdaya. Maka dari itu mereka pun juga berhak mendapatkan doa berkah kita. Dari pihak kita pun, kalau kita selalu mendoakan keberkahan dan rahmat Allah Swt atas seluruh mahluk lemah itu, pahala Allah Swt yang mulia pasti akan tercurah atas kita karena kita telah berkenan mendoakan kemaslahatan mereka.

Jangan pernah sungkan untuk mendoakan gunung atau bebatuan atau sekawanan burung atau pun juga rengat-rengat yang malang, karena dari mendoakan mereka itu kita akan beroleh pahala dari Allah Swt. Dan kelak di dalam alam ruh seluruh mahluk itu pun akan turut mendoakan kita supaya rahmat dan belaskasih Allah juga tercurah atas kita semua, umat Muhammad Saw.

Kita mengetahui bahwa Allah Swt adalah Maha Pengasih dan Penyayang, dan Allah Swt juga Maha Pemelihara. Tanpa kita mendoakan berkah untuk mahluk-mahluk tersebut tetap Allah Swt selalu merawat – memelihara dan mengasihi seluruh mahlukNya tanpa pembedaan. Yang menjadi penekanan adalah kalau kita mendoakan seluruh mahluk itu, tentulah kita akan memperoleh pahala dari Allah Swt karena sudah berkenan mendoakan mereka.

Doa untuk umat Nonmuslim.

Kepada saudara-saudara kita yang Nonmuslim, Islam mempunyai ajaran yang sangat jelas berkenaan dengan doa ini. Pada dasarnya, ketika seorang manusia menjadi Nonmuslim, maka sebenarnya Allah-lah yang menentukan takdir demikian atas orang tersebut. Jadi hanya karena kehendak Allahlah seseorang menjadi Nonmuslim atau pun menjadi Muslim, bukan karena kehendak mau pun keingingan kita.

Pada segi inilah Islam melarang kaum Muslim untuk mendoakan kebaikan atas mereka – karena nasib mereka seutuhnya berada di tangan Allah Swt.

Pertama, Islam melarang umat Muslim untuk mendoakan kebaikan atas kaum Nonmuslim. Mendoakan kebaikan atas kaum Nonmuslim terbagi dalam dua jenis doa yaitu doa supaya kaum Nonmuslim mendapatkan kebaikan seperti mendapat limpahan rejeki, sukses di dalam berbisnis, sembuh dari penyakit, jauh dari marabahaya dan lain lain. Kemudian jenis doa yang kedua adalah mendoakan supaya kaum Nonmuslim itu mendapat hidayah dari Allah Swt untuk masuk Islam, atau supaya Allah Swt mengampuni seluruh dosa mereka, atau berdoa supaya mereka diperkenankan masuk Surga. Secara bagannya,

Pertama, doa kebaikan untuk Nonmuslim:

  • Mendapat limpahan rejeki,
  • Selalu bahagia.
  • Sukses di dalam bisnis,
  • Sukses di dalam studi,
  • Sembuh dari penyakit, dan lain lain.

Doa jenis pertama ini merupakan doa untuk kemaslahatan hidup di Dunia.

Kedua, doa hidayah – bisa berupa,

  • Semoga mereka masuk Islam,
  • Supaya Allah Swt mengampuni seluruh dosa mereka,
  • Supaya mereka diperkenankan masuk Surga.
  • Supaya Tuhan yang mereka sembah di dalam kekafiran mengampuni dosa mereka.
  • Semoga amal saleh mereka tetap diperkenankan Allah Swt, dan lain lain.

Doa jenis kedua ini merupakan doa yang berhubungan dengan aqidah Islamiyah.

Baik doa jenis pertama (doa untuk kemaslahatan hidup) mau pun doa jenis kedua (doa yang berkaitan dengan aqidah / theologi) adalah terlarang atas seluruh Muslim untuk dipanjatkan kepada umat Nonmuslim. Adalah sudah jelas mereka menolak untuk beriman kepada Allah Swt dan Rasulullah saw, dan sudah jelas mereka menginginkan kebinasaan atas seluruh umat Muslim, maka adalah jauh lebih logis untuk menjelaskan bahwa mendoakan kebaikan atas mereka merupakan suatu kesia-siaan.

Pada dasarnya laknat Allah Swt sudah mutlak atas mereka (dikarenakan kekafiran mereka terhadap Allah Swt dan Rasul Muhammad Saw), maka bukankah itu berarti suatu kelancangan mendoakan kebaikan untuk mereka? Kalau Allah Swt sudah menetapkan laknatNya atas mereka maka berarti tidak ada lagi harapan bagi kita untuk mendoakan kebaikan atas mereka.

Kedua, Islam melarang kaum Muslim mendoakan kutukan kepada Allah Swt atas mereka. Kutukan, adzab mau pun laknat Allah Swt atas mereka seutuhnya merupakan urusan Allah Swt – bukan urusan kaum Muslim. Banyak terdapat ayat di dalam Alquran yang mengajarkan bahwa Muslim dilarang untuk mendoakan kutukan mau pun adzab – dan juga mempercepat azab Allah Swt untuk ditimpakan atas mereka. Allah Swt sudah berkehendak bahwa biarlah mereka mendapatkan kenikmatan Dunia ini selama yang Allah Swt kehendaki – oleh karena itu Muslim dilarang untuk mendoakan kebinasaan atas mereka.

Nasib mereka, nasib baik (kenikmatan, kesehatan, kesejahteraan) mau pun nasib buruk (kutukan, laknat, masuk Neraka dan lain lain) hanya diserahkan kepada tangan dan kehendak Allah Swt semata – dan Muslim dilarang untuk turut campur di dalam urusan Allah Swt.

Daripada Muslim mendoakan laknat, adzab dan kutuk Allah Swt atas mereka – lebih baik Muslim memperkuat iman dan ibadah mereka sebagai Muslim kepada Allah Swt.

Walau pun kaum Nonmuslim tersebut berbuat aniaya terhadap umat Muslim, tetaplah umat Muslim dilarang untuk mendoakan kutukan dan kebinasaan atas mereka. Berarti kalau kaum Nonmuslim menjatuhkan aniaya mereka terhadap umat Muslim itulah saatnya Muslim untuk,

  1. Bersabar dan tawakal kepada Allah Swt – dan berdoa semoga Allah Swt mempertebal iman kaum Muslim di dalam menghadapi aniaya mereka.
  2. Berdoa kepada Allah Swt semoga Allah Swt menjauhkan Muslim dari aniaya mereka.

Dengan demikian di dalam kondisi kaum Nonmuslim menganiaya kaum Muslim, tidak boleh ada doa yang,

  1. Bernada semoga Allah menurunkan hidayah kepada Nonmuslim tersebut supaya mereka tidak lagi aniaya terhadap Muslim, tidak  boleh.
  2. Juga tidak boleh ada doa kaum Muslim supaya Allah Swt mengampuni Nonmuslim itu yang telah menganiaya kaum Muslim, tidak boleh ada.

Muslim hanya diajarkan untuk berdoa supaya sabar, tawakal, berdoa semoga dikuatkan iman, dan berdoa semoga Allah Swt menjauhkan seluruh Muslim dari kejahatan kaum Nonmuslim tersebut.

Singkat kata, terhadap kaum Nonmuslim, Muslim dilarang mendoakan kebaikan mau pun mendoakan kebinasaan (doa kutukan). Urusan kaum Nonmuslim (kaum kafir) seutuhnya adalah urusan Allah Swt, bukan urusan kaum Muslim. Kalau Muslim mendoakan kebaikan / keselamatan atas mereka, maka sesungguhnya kutukan dan laknat Allah Swt atas mereka sudah jelas: adalah lancang untuk mendoakan kebaikan untuk mereka sementara kita sudah jelas bahwa kutukan dan laknat Allah pun sudah jelas akan menimpa mereka. Kebalikannya, kalau Muslim mendoakan kutukan (kebinasaan) atas kaum kafir (Nonmuslim), bukankah Allah Swt sudah menetapkan bahwa biarlah mereka mendapat kenikmatan di Dunia ini sampai batas waktu yang Allah Swt telah tentukan?

Serahkanlah nasib kaum kufar kepada Allah Swt; milik Allah lah kaum kufar tersebut, terserah hendak Allah diperbuat seperti apa mereka seluruhnya.

Doa kutukan untuk siapa?

Islam mengajarkan bahwa Muslim dilarang memanjatkan doa kutukan untuk kaum Muslim, walau pun mereka adalah manusia-manusia yang jahat dan keji. Pun Islam mengajarkan bahwa Muslim dilarang memanjatkan doa kutukan untuk kaum Nonmuslim, karena atas mereka Allah Swt telah berkehendak biarlah mereka menikmati hidup di Dunia ini sampai batas waktu yang Allah Swt sudah tentukan sejak jaman azali, dan Allah juga tidak akan mengurangi sedikit pun rezekiNya atas mereka; adalah Allah Swt maha adil dan penuh rahmat atas seluruh mahluk.

Kemudian untuk siapakah doa kutukan dari kaum Muslim dipanjatkan?

Adalah wajib sekali bagi Muslim untuk memanjatkan doa supaya kutukan Allah Swt dijatuhkan atas Iblis dan sekutu-sekutunya: jin, dan Setan. Hanya Iblis, Setan dan jin-lah yang harus mendapatkan doa kutuk kaum Muslim. Iblis, jin dan Setan-lah awal malapetaka yang ada di atas Dunia ini; jin, Iblis dan Setan amat memusuhi kita manusia, sangat menginginkan supaya seluruh manusia terjerumus ke Neraka, sangat menginginkan agar seluruh manusia binasa dan merugikan diri sendiri. Iblis, Setan dan jin adalah mahluk yang tidak suka dan tidak ridha melihat manusia taat dan memelihara diri mereka dari dosa dan aniaya.

Kalau Muslim melihat ada manusia yang berhasil dijerumuskan oleh bisikan Iblis untuk melakukan kekejian (pekerjaan-pekerjaan ahli Neraka), bukan manusia itu yang dikutuk oleh Muslim, melainkan Iblisnya lah yang harus dikutuk dengan sekutuk-kutuknya.

Kesimpulannya adalah, bahwa hanya Iblis, jin dan Setan (Setan dari kalangan jin, bukan Setan dari kalangan manusia) lah yang harus mendapatkan kutukan dari kaum Muslim. Muslim diperbolehkan bahkan diperintahkan untuk mendoakan kutuk kepada hanya Iblis saja.

Prasangka kepada siapa?

Islam sudah tegas di dalam ajarannya mengenai doa, mengenai untuk siapa saja doa kaum Muslim ditujukan. Tidak ubahnya dengan doa, prasangka pun juga demikian. Muslim diajarkan untuk selalu berprasangka baik kepada siapa pun. Islam juga mengajarkan bahwa Muslim harus senantiasa berprasangka baik kepada kaum Nonmuslim. Sejahat dan sekeji apapun kaum Nonmuslim, adalah berdosa jika Muslim melancarkan prasangka buruknya kepada mereka. Kaum Nonmuslim biar bagaimana pun adalah manusia juga yang sewaktu-waktu fikiran dan niatnya bisa saja berubah. Menghormati kaum Nonmuslim adalah termasuk tidak berprasangka buruk terhadap mereka. Berprasangka baiklah terhadap mereka – sekali pun mereka adalah kaum kuffar yang mengingkari keesaan Allah Swt dan kerasulan Muhammad Saw.

Satu-satunya mahluk yang harus mendapatkan prasangka buruk kita adalah Iblis dan sekutu-sekutunya yaitu jin dan Setan (Setan dari kalangan jin, bukan Setan dari kalangan manusia). Justru, melancarkan prasangka buruk kepada Iblis dan sekutunya merupakan suatu ibadah yang akan mendatangkan pahala bagi kita kaum Muslim.

Wallahu alam bishawab.

Misteri Nama Muhammad

Banyak makna yang tersirat dalam kebesaran nama Muhammad yang sederhana itu. Entah apakah ini merupakan salah satu mukjizat atau sekedar kebetulan saja, bahwa ada fakta menarik di balik abjad / huruf-huruf yang tersusun dari nama itu:

1. Kata Muhammad, jika kita gabungkan dalam bentuk normal mim ha mim dal, maka akan menjadi sebuah sketsa seorang manusia. Sudah maklum adanya bahwa sebaik-baik mahluk / ciptaan yang pernah diciptakan oleh Tuhan di alam semesta ini adalah manusia dengan kelebihan aqal mereka, sementara mahluk lain hanyalah hewan dan planet-planet yang penuh rahasia.

alamandang-bowo-saputro

2. Kata Ahmad, jika kita cermati satu-persatu hurufnya mak huruf-huruf itu akan menggambarkan sosok orang yang sedang melakukan sholat, tahukah kita bahwa sholat merupakan sebaik-baik doa dan ibadah yang pernah diperintahkanNya?

alamandang-ulay

3. Kata Muhammad jika digabungkan huruf-hurufnya maka akan berbentuk layaknya manusia yang sedang sujud dalam shalat. Dalam ritual sholat Sujud merupakan inti dari semua rukun-rukunnya, karena pada saat sujud manusia menundukkan 8 bagian tubuhnya di bumi sebagai bukti kepasrahan total kepada sang pencipta. Betapa rahasia Tuhan sangat menggetarkan hati, saya yakin masih banyak tersirat rahasia-rahasia lain di balik sosok Rasulullah Muhammad Saw.

alamandang-haryo-par

Adab Muhammad Saw Di Hari Idul Fitri.

alamandang-yitno

Seorang Muslim hendaknya memperhatikan adab berhari raya. Rasulullah SAW telah memberi contoh dan teladan tentang adab berhari raya. Ada banyak hal yang harus diperhatikan dari Rasulullah SAW kala merayakan hari raya Idul Fitri.

Pertama.

Rasulullah menganjurkan bagi kaum Muslimin untuk terus mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid, sejak matahari terbenam di malam Idul Fitri, hingga imam shalat Idul Fitri naik mimbar. Ini menjadi sunnah sebagai tanda kemenangan kita yang kembali fitri.

Kedua.

Rasulullah selalu mandi sebelum shalat Idul Fitri. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, bahwa ia mandi pada hari raya Idul Fitri, sebelum berangkat ke tempat shalat. (HR Malik dalam kitab al-Muwaththa).

Ketiga.

Setelah mandi, Rasulullah SAW kemudian memakai wewangian saat akan shalat Idul Fitri. Hal ini dimaksudkan agar saat berkumpul bersama keluarga dan sesama kaum Muslimin, tampak harum dan bersih.

Keempat.

Memakai pakaian baru. Jika seseorang mampu, disunahkan memakai pakaian baru pada hari raya Idul Fitri atau pakaian yang paling baru (bagus) di antara pakaian yang ada. Hal itu menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dan menunjukkan kegembiraan pada hari raya. Ibnu Umar RA memakai pakaian terbaiknya pada kedua hari raya. (HR Al-Baihaki).

Kelima.

Mengeluarkan zakat fitrah sebelum melaksanakan shalat. Sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, seorang Muslim hendaknya mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat untuk menggembirakan fakir-miskin dan orang yang membutuhkan pada hari Ied tersebut. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk mengeluarkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk shalat (HR Bukhari-Muslim).

Keenam.

Memakan kurma sebelum berangkat dari rumah pada hari raya Idul Fitri. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ath-Thabrani, Rasulullah SAW sebelum berangkat shalat pada hari raya Idul Fitri memakan kurma terlebih dahulu. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi SAW tak berangkat shalat Idul Fitri kecuali setelah makan, sedangkan beliau tidak makan pada hari raya Idul Adha, kecuali setelah pulang dan makan dari hewan kurbannya (HR at-Tirmidzi).

Ketujuh.

Bersegera menuju tempat shalat. Pada hari raya Idul Fitri, hendaknya setiap Muslim bergegas menuju tempat dilakukannya shalat Id.

Kedelapan.

Wanita diminta untuk hadir ke tempat (lapangan) dilaksanakannya shalat Id. Sehingga, mereka dapat menyaksikan dan mendapat kemuliaan hari raya serta merasakan kebahagiaan bersama orang lain. Bagi wanita yang haid tetap dianjurkan hadir dengan memisahkan diri dari tempat shalat. Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim, Nabi SAW memerintahkan gadis-gadis pingitan, anak-anak, serta wanita haid untuk keluar, namun wanita haid yang menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Mukminin, hendaklah mereka memisahkan diri dari tempat shalat.

Kesembilan.

Anak-anak juga dianjurkan hadir di tempat (lapangan) dilaksanakannya shalat Id, sehingga mereka ikut merasakan kebahagiaan hari raya, bersenang-senang dengan pakaian baru, dan menyaksikan jamaah kaum Muslimin walaupun mereka tidak shalat karena masih kecil. Ibnu Abbas RA berkata, ‘’Aku keluar bersama Nabi SAW pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, kemudian beliau shalat dan berkhutbah…’’ (HR Bukhari-Muslim). Ibnu Abbas kala itu masih anak kecil (Mod).

Kesepuluh.

Keluar untuk shalat dengan berjalan kaki. Keluar berjalan kaki untuk shalat termasuk sunah. Sebagaimana Nabi SAW keluar pada dua hari raya dengan berjalan kaki dan pulang berjalan kaki melalui jalan lain. (HR Ibnu Majah). Tentu selama tak memberatkan baik karena uzur atau halangan lainnya.

Kesebelas.

Disunahkan bertasbih, bertahmid, dan tahlil mulai dari keluar rumah sampai ke tempat shalat. Hal ini untuk menunjukkan syi’ar Islam.

Keduabelas.

Bersalaman dan saling mengucapkan kata-kata yang baik, misalnya selamat semoga kebahagiaan bersama kita di hari raya, atau, “Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian” (taqabbalallah minna wa minkum).

Ketigabelas.

Menjalin silaturahim wajib pada setiap waktu. Namun, semakin dianjurkan pada saat hari raya Idul Fitri.

Keempatbelas.

Saling berbagi dan memberi sebagai bentuk kasih sayang kita pada sesama. Sudah menjadi tradisi, pada hari raya setiap kita berbagi dan memberi makanan dan hidangan pada tetangga atau orang lain sebagai bentuk kegembiraan dan kepedulian pada sesama.

Itulah beberapa tuntunan yang bisa dilakukan pada hari Raya sebagai upaya penemuan kembali fitrah kita sebagaimana Rasulullah contohkan. Semoga kita dapat mencontohnya dan mendapatkan kesucian di hari yang fitri ini.

Hatta Rajasa | Menko Perekonomian RI | Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN)

Sumber alamandang – http://ramadan.okezone.com/read/2012/08/19/330/679632/redirect

Definisi Ulama Adalah

alamandang-irawan

Apakah mudah bagi siapa pun untuk menjadi atau dikatakan sebagai ulama? Dan apakah yang harus dilakukan oleh seseorang agar dapat menjadi ulama?

Seseorang adalah ulama, jika dia mempunyai dua properti, yaitu kesalehan dan tausiyah.

Kesalehan.

Seorang ulama harus mempunyai kesalehan. Dan kesalehan ini mempunyai dua bentuk:

  1. Ahli ibadah. Seorang ulama haruslah seorang yang ahli ibadah: rajin shalatnya, rajin mengajinya, rajin khatam Alqurannya, rajin puasanya, rajin zikirnya, rajin salawatnya, dst.
  2. Menjauhi kesia-siaan. Seorang ulama pasti akan menghindari kesia-siaan, seperti berbicara ngalor ngidul berpanjang-panjang, begadang, tampil dengan celana pendek, menjauhi maksiat, tertawa terbahak-bahak dengan suara yang mengguntur, dan lain lain. Seorang ulama akan lebih memilih pulang ke rumah kalau urusannya sudah selesai. Dan kalau malam, seorang ulama hanya mempunyai dua pilihan: kalau tidak tidur, maka dia akan memperbanyak ibadah seperti shalat, mengaji atau pun berzikir. Di dalam hal penampilan, selain dia selalu menutup auratnya dengan rapi, ulama pun pasti akan selalu mengenakan busana yang bersih, dan tidak lupa mengenakan wewangian. Seorang ulama biasanya akan lebih menyenangi busana yang berwarna putih, dan busana yang tidak bercorak ramai penuh gaya.

Tausiyah.

Seorang ulama ketika memberi tausiyah (ceramah agama mau pun khotbah), maka point tausiyahnya hanya berkisar pada dua hal:

  1. Sang ulama hanya mengajarkan, menganjurkan dan mempromosikan kesalehan kepada umat. Dan tentunya kesalehan itu sangat luas cakupannya, dari shalat, puasa, naik haji, berbakti kepada kedua orang tua, menghormati tetangga, toleransi beragama, makanan dan usaha yang halal, nilai kepahlawanan dan cinta Negeri, hal berumah tangga, dan lain lain, sampai kepada hal-hal menuntut ilmu, perlakuan terhadap hewan, pemahaman yang benar soal jin, perdukunan, dan masih banyak lagi. Ibadah, akidah dan syariah selalu menjadi tanggungjawab seorang ulama untuk disampaikan kepada umat karena ketiga hal tersebut mengakomodasi seluruh kesalehan.
  2. Seorang ulama pasti akan selalu menekankan cinta Rasul Muhammad Saw. Seorang ulama selalu menekankan bahwa Rasul Muhammad Saw (dan juga Rasul lain sebelum baginda Muhammad Saw) merupakan tokoh panutan dan junjungan umat sepanjang masa.

Ulama secara perkata berasal dari kata ‘alama’ yang dari kata tersebut turun kata ‘ilmu’. Jadi, ulama berarti ‘paling tahu’ atau ‘lebih tahu’. Ulama terdiri dari ustadz, mubaligh, dai dan juga mufti. Ustadz berarti seorang guru, guru pengajar Islam. Mubaligh berarti penyampai, yaitu penyampai pesan Illahi, berasal dari kata ‘balagha’ yang artinya sampai. Dai, berarti seorang penyeru yaitu menyeru umat ke jalan Tuhan; berasal dari akar kata yang turun juga kata ‘doa’: menyeru Tuhan. Kemudian mufti, yang berarti ‘pemberi fatwa’; fatwa sendiri berarti nasihat.

Pemikir

Ulama harus dibedakan dari pemikir, di dalam hal ini pemikir keislaman, sekali pun. Sekilas seorang pemikir keislaman tampak seolah dia adalah seorang ulama, namun sesungguhnya dia bukanlah seorang ulama dikarenakan orang itu tidak mempunyai dua properti yang harus dimiliki seorang ulama yaitu kesalehan dan tausiyah.

Ulama pastilah selalu benar (dan tidak pernah salah), karena dia hanya menyampaikan apa yang sudah dikunyah para pendahulunya. Harus lah dipahami bahwa seorang ulama biar bagaimana pun adalah manusia juga yang pasti akan berbuat salah. Oleh karena itu pasti ulama bisa salah. Namun ketika seorang guru SD mengajar di depan kelas bahwa 1 + 1 = 2, apakah sang guru bisa salah di depan kelas? Dapat dikatakan bahwa guru SD itu tidak pernah salah. ‘Tidak pernah salah’ adalah ketika ia berada di depan kelas ketika mengajar 1 + 1 = 2. Maka demikian juga lah halnya dengan seorang ulama.

Kebalikannya, seorang pemikir bisa saja salah. Pada dasarnya, seorang pemikir akan memikirkan atau memperjuangkan banyak hal. Itu artinya seorang pemikir bisa saja salah, mengingat point / muatan ide yang dikandung seorang pemikir dapat dipastikan hal yang baru karena selalu tergantung pada perkembangan jaman. Tidak lah demikian halnya dengan ulama, karena seluruh ucapannya tidak pernah merupakan hal baru, melainkan sudah menjadi tema ulangan yang sudah dibawakan oleh para ulama pendahulu.

Kalau seseorang sudah dapat dikatakan ulama, maka kemudian umat harus dapat menempatkan ulama pada tempatnya, dan menempatkan pemikir pada tempatnya pula, jangan terbalik.

Tempat ulama adalah untuk mengisi atau menjadi (1) khatib shalat Jumat dan (2) khatib shalat idul fitri mau pun (3) khatib idul adha. Dan juga menjadi (4) khatib pada acara pernikahan dan (5) khotbah arafah. Sementara seorang pemikir dapat diundang hanya untuk menjadi penceramah pada shalat tarawih, mau pun Majelis taklim biasa.

Ulama mempunyai medan yang fleksibel, yaitu bahwa dia juga dapat mengisi acara yang biasa diisi oleh pemikir, yaitu menjadi penceramah pada shalat tarawih, menjadi ustad pengisi ceramah Majelis taklim, dan lain lain. Namun di lain pihak, posisi pemikir tidak dapat mengisi acara yang harus diisi para ulama, yaitu menjadi khotib shalat Jumat, shalat idul fitri / idul adha, memberi khotbah nikah, dan khotbah arafah. Dengan demikian, seolah jabatan ulama adalah lebih tinggi dari jabatan pemikir. Memang demikian adanya.

Seorang ulama pastilah seorang pria dewasa dan (biasanya) sudah menikah, sementara seorang pemikir bisa jadi seorang wanita, apalagi bisa juga seorang anak remaja yang masih sangat muda, dan terkadang belum menikah.

Guru spiritual?

Islam tidak pernah mengajarkan adanya guru spiritual, mau pun pembimbing spiritual, semacam itu.  Islam hanya mengajarkan adanya ulama, ustadz, dai mau pun mubaligh. Dan keempat hal tersebut adalah posisi publik, artinya tokoh tersebut mengajari umat secara publik, tidak secara privat. Sementara, guru spiritual adalah tokoh yang mengajarkan Islam kepada individu-individu tertentu secara privat. Islam tidak mengenal teknik pengajaran Islam dengan cara privat ini. Tentunya harus dibedakan kalau peserta didiknya adalah anak-anak kecil. Kalau anak kecil, dapat dibenarkan kalau pengajar Islamnya diselenggarakan secara privat, itu tidak mengapa.

Seluruh ulama sepakat atas hirarki pengajaran Islam, demikian:

(1) – Nabi.

(2) – Sahabat.

(3) – Tabi’in.

(4) – Tabi’ut – Tabi’in.

(5) – Ulama.

(6) – Ulama.

(7) – Ulama dst sampai hari Kiamat.

Di dalam hirarki di atas tidak termaktub posisi guru spiritual sekali pun. Itu menandakan bahwa Islam tidak mengenal guru spiritual mau pun yang sejenisnya.

Guru spiritual terkesan seolah, bahwa antara dirinya dengan peserta didiknya terbentuk hubungan yang amat intens dan pribadi, serta permanen. Hal ini amat tidak diinginkan di dalam Islam. Oleh karena itu guru spiritual tidak dikenal di dalam Islam. Sementara untuk ulama saja, tidak dikenal bentuk hubungan seperti itu – karena pasti hal itu tidak akan terjadi. Bentuk hubungan yang terjadi antara seorang ulama (atau ustadz, juga) dengan peserta didiknya (di dalam hal ini umat, jemaah) pastilah tidak intens, apalagi pribadi dan permanen.

Karena Islam tidak mengenal dan mengajarkan adanya guru spiritual, berarti Muslim mana pun harus menghindari pemanfaatan jasa guru spiritual ini. Dan di luar itu, posisi guru spiritual adalah bathil di mata Illahi.

Harap diketahui, bahwa yang menjadi ‘benda termahal’ di dalam hal ke-ulama-an mau pun menjadi guru spiritual, tentunya adalah pengetahuan. Sekali lagi: pengetahuan. Jadi mengapa harus sampai terjadi suatu hubungan yang intens, pribadi dan permanen antara seorang jemaah dengan gurunya (di dalam hal ini ulama mau pun guru spiritual)? Kalau yang dipentingkan hanya pengetahuan, maka seharusnya bentuk hubungan yang intens dan pribadi tidak perlu terbentuk. Maka dari itu, sudah final, bahwa guru spiritual tidak dikenal di dalam Islam.