Mau Cerita

Kakak Yang Memeras dan Mempersulit Adik

adikaka

Tersebutlah suatu kasus di dalam suatu keluarga, dan pemaparan ini merupakan kisah nyata.

Di dalam keluarga tersebut hidup si anak sulung yang bernama Yusuf. Yusuf mempunyai adik kandung, bernama Fadel. Fadel mempunyai istri bernama Yara, dan Fadel adalah seorang pegawai Negeri. Karena seorang pegawai Negeri, maka uangnya juga banyak alias melimpah.

Yusuf sebenarnya manusia yang kurang beruntung. Dia tidak pernah tercatat sebagai karyawan dari suatu Perusahaan, apalagi pegawai Negeri. Kerjanya tidak jelas. Satu hal yang akhirnya diketahui oleh seluruh keluarga adalah, bahwa Yusuf adalah manusia yang tidak jujur di dalam hal uang. Banyak kasus di mana uang keluarga yang jatuh ke tangan Yusuf, hilang alias menguap begitu saja.

Kasusnya bermula di Tahun 1995an, Yusuf meminjam uang kepada Fadel sebesar Rp. 25 juta. Fadel menyanggupi, dan mengajak Yusuf ke rumah Fadel untuk penyerahan uangnya. Sesampai di rumah, istri Fadel yaitu Yara merasa sedikit kecewa mengenai hal ini, mengapa Fadel tidak berkonsultasi dulu dengan istrinya, karena uang suami pastilah uang istri juga. Namun begitulah, akhirnya uang Fadel sebesar Rp. 25 juta dipindah-tangankan ke Yusuf.

Beberapa tahun kemudian, Fadel dan Yara berniat untuk meminta pengembalian uang yang dulu dipinjam Yusuf yaitu Rp. 25 juta. Fadel dan Yara sudah menyampaikan hal demikian kepada Yusuf, mengharap supaya Yusuf mengembalikan uangnya.

Ternyata saatnya kurang tepat. Yusuf juga mengalami kesulitan keuangan. Sebagai jalan keluar, Yusuf mempunyai sebidang tanah di daerah Bogor, dan tanah itu selama ini dibiarkan mangrak bertahun-tahun. Yusuf menawarkan Fadel dan istrinya untuk mengembalikan uang Rp. 25 juta itu di dalam bentuk tanah Yusuf yang di Bogor tersebut, dan pemberian tanah itu dianggap sebagai pelunasan hutang Yusuf kepada Fadel dan istrinya. Sebenarnya, nilai tanah itu jauh lebih tinggi dari Rp. 25 juta, namun yang penting sudah ada kesepakatan di antara kedua belah pihak.

Singkat kata, Fadel dan istri sepakat. Hal selanjutnya adalah, Yusuf menyerahkan surat tanah milik Yusuf kepada Fadel dan Yara, dan hal itu dianggap sebagai pelunasan hutang. Harap dicatat, bahwa surat tanah itu TETAPLAH atas nama Yusuf, dan Fadel tidak pernah berfikiran untuk BALIKNAMA. Hal itu semua didasari pada rasa kekeluargaan dan saling percaya.

Setelah hari berganti berbilang tahun, Fadel memasuki masa pensiun, uang pemasukan tidak lagi semenggembirakan seperti sedia kala. Fadel dan Yara tentu saja butuh uang, untuk kuliah anak, biaya perbaikan rumah, makan sehari-hari dan lain lain.

Saatnya Fadel ingin menjual tanah miliknya yang berada di Bogor, yang merupakan tanah pelunasan hutang Yusuf. Pembeli tanah sudah datang, dan sepakat dengan harga yang diajukan Fadel. Hal selanjutnya adalah, Fadel harus menyerahkan surat tanah tersebut kepada pembeli, dengan kata lain, pengurusan surat-surat tanah.

Untuk keperluan tersebut, Fadel menghubungi Yusuf, meminta supaya Yusuf menandatangai akta jual beli tanah tersebut, karena secara surat, tanah tersebut adalah milik Yusuf karena masih atasnama Yusuf.

Di sinilah letak kekacauan kisah ini. Jaulbeli tanah itu hanya akan berlangsung dan sah, kalau Yusuf menandatangani akta jual beli. Namun Yusuf menolak menandatangani akta jual beli. Alasan Yusuf adalah, Yusuf TIDAK SETUJU dengan besaran harga per meter yang ditetapkan atas tanah tersebut. Kedua, Yusuf meminta bagian dari hasil penjualan tanah tersebut, dan Yusuf minta bagiannya LEBIH BESAR dari bagian Fadel.

Fadel dan istri tidak bisa memahami fikiran Yusuf. Mengapa Yusuf minta bagian? Dan itu pun mengapa Yusuf minta bagian lebih besar dari bagian Fadel? Bukankah tanah itu adalah sah milik Fadel, sebagai pelunasan hutang Yusuf kepada Fadel dari meminjam uang Rp. 25 juta? Dan bukankah Yusuf sudah menikmati uang Rp. 25 juta itu sendirian? Dan sekarang mengapa ia minta bagian dari (uang) tanah tersebut?

Praktis, penjualan batal. Dan kemudian, hubungan antara Fadel dengan Yusuf menjadi renggang, dendam kesumat. Sampai kini, Yusuf tetap tidak bergeming, tetap menolak menandatangani akta jual beli tanah, untuk membiarkan Fadel di dalam keadaan kesulitan keuangan. Seolah, Yusuf hanya memberi dua pilihan kepada Fadel kalau Fadel ingin menjual tanah tersebut, atau kalau Fadel ingin mendapat uang segar dari menjual tanah tersebut. Dua pilihan itu adalah, Yusuf harus mendapat bagian terbesar dari hasil penjualan tanah tersebut. Atau kedua, kalau Fadel tidak mau memberi bagian terbesar kepada Yusuf, maka Fadel tidak usah sekalian menjual tanah tersebut sampai mati, dan biarkan saja Fadel dan istri dirundung kesulitan uang sampai mati.

Padahal faktanya, Fadel telah berbuat baik kepada Yusuf, dengan meminjamkan uangnya kepada Yusuf Rp. 25 juta. Dan padahal, Fadel tetap percaya bahwa Yusuf tidak akan bermain kotor, karena rasa kekeluargaan dan saling percaya. Namun sekarang nyatanya, jauh terbalik. Yusuf benar-benar bermain kotor, mempersulit orang, memeras harta orang, dan bahkan menahan orang lain untuk menikmati hartanya sendiri yang halal.

Kisah ini berakhir dengan pendiaman dari pihak Fadel; Fadel dan istri tidak tahu harus berbuat apa. Kalau Fadel ingin mengajukan hal ini ke polisi, tentunya Fadel tidak ingin mempolisikan Yusuf. Pun bisa dikatakan bahwa tidak ada bukti bahwa Fadel telah meminjamkan uang kepada Yusuf beberapa tahun sebelumnya. Pun Fadel juga yakin, kalau pun hal ini dilaporkan ke polisi, selain urusannya jadi akan panjang, pasti juga Yusuf akan berkelit kesana kemari.

Siapa pun bisa menerka maksud lain mengapa Yusuf berbuat demikian. Kelak suatu saat Fadel dan Yara wafat, sementara surat tanah tersebut tetap atasnama Yusuf. Kalau Fadel dan Yara sudah wafat, praktis tanah itu akan menjadi sah milik Yusuf lagi.

Hanya kepada Allah Swt Fadel dan istrinya menyerahkan perbuatan Yusuf. Allah Swt tidak pernah tidur. Fadel hanya tidak mengerti, mengapa saudara kandung tega berbuat seperti itu.

Advertisements

Menyelingkuhi Rumah Kontrakan

rumahselingkuh

Pemaparan ini diangkat dari kisah nyata, dan sengaja saya angkat ke blog saya dengan harapan menjadi bagian dari sensitivitas kita di dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

Abdul hidup berbahagia bersama keluarganya di Jakarta. Secara formal Abdul adalah seorang karyawan Perusahaan bonafid. Dengan uang yang banyak, Abdul menjalankan usaha lain yaitu bisnis rumah kontrakan.
Abdul mempunyai beberapa rumah kontrakan, atau dengan bahasa khasnya, mempunyai rumah petakan beberapa pintu. Pun lokasi rumah kontrakan itu ada yang berjauhan.

Salah satu rumah kontrakan milik Abdul berada di Jl. Sujud. Seseorang yang bernama Benny mendatangi Abdul untuk mengontrak di rumah kontrakan Abdul ini. Abdul menerima keinginan Benny, karena kebetulan rumah kontrakan di Jl. Sujud memang di dalam keadaan kosong.
Singkat kata, Benny segera menempati rumah kontrakannya di Jl. Sujud tersebut. Rumah kontrakan ini lokasinya dapat dikatakan berjauhan dari kediaman Abdul.

Karena jauhnya lokasi antara kediaman Abdul dengan rumah kontrakannya di Jl. Sujud ini, Abdul jarang sekali meninjau kontrakannya ini yang sekarang ditempati / disewa oleh Benny.

Benny adalah manusia jahat, dia akan berbuat jahat kalau memang ada kesempatan dan kemungkinan. Di dalam kasus ini, Benny melihat bahwa Abdul jarang sekali bertandang ke Jl. Sujud. Timbullah niat jahat di dalam fikiran Benny.

Seorang kawan yang bernama Cecep, di suatu tempat mendatangi Benny. Cecep mengutarakan isi hatinya kepada Benny bahwa ia ingin membeli rumah. Mendengar hal itu, Benny menyatakan bahwa ia bersedia menjual rumahnya yang sekarang ia tempati itu kepada Cecep dengan harga yang menarik. Tentu saja Cecep tertarik, dan menyatakan bersedia untuk membeli rumah Benny.

Harap diketahui, bahwa yang dimaksud rumah Benny adalah, rumah kontrakan yang ia tempati sekarang ini, yang merupakan property milik Abdul.

Benny segera memalsukan seluruh surat yang berkenaan dengan tanah dan bangunan rumah kontrakan di Jl. Sujud tersebut. Di dalam hal ini, Benny memang lihai di dalam hal mengatur dokumen dari satu Kantor ke Kantor lain. Setelah seluruh surat (palsu) selesai dibuat, maka siapa pun pasti akan terkecoh, pasti akan diyakinkan bahwa tanah dan bangunan rumah kontrakan yang berada di Jl. Sujud memang benar milik Benny.

Transaksi dengan Cecep pun dilakukan. Cecep menyerahkan uang pembelian rumah kepada Benny sekian ratus juta, dan Benny menyerahkan seluruh surat tanah dan bangunan yang berlokasi di Jl. Sujud tersebut. Setelah seluruhnya selesai, Benny segera mengemasi barang-barangnya, dan kemudian angkat kaki dari rumah kontrakan Jl. Sujud, beserta uang ratusan juta rupiah yang ia peroleh dari Cecep. Dan setelah itu, Cecep langsung mengisi dan menempati rumah barunya itu, yang sebenarnya adalah sah milik Abdul. Singkat kata, Benny segera pergi dan menghilang entah kemana dengan uang ratusan juta rupiah.

Sampai pada suatu titik, Abdul hendak bertandang ke rumah kontrakannya yang berlokasi di Jl. Sujud tersebut, maksud hati ingin bersilaturahmi dengan Benny, rekan bisnisnya.

Sesampainya di lokasi, Abdul tidak melihat Benny. Justru Abdul melihat ada orang lain yang menempati rumah kontrakannya. Orang itu memperkenalkan dirinya sebagai Cecep, pemilik baru atas rumah itu. Abdul tercenung; ia tegaskan bahwa rumah itu adalah kontrakan miliknya, dan ia kontrakkan kepada Benny. Namun hal berbeda dinyatakan Cecep; ia tegaskan bahwa tanah dan rumah itu adalah sah miliknya, karena telah ia beli secara sah dari Benny. Cecep dapat menunjukkan surat-surat tanah dan bangunan yang sah yang berasal dari Benny. Dengan kata lain, terdapat ketidak-sepahaman antara Abdul dengan Cecep mengenai kepemilikan tanah dan bangunan rumah petakan yang berlokasi di Jl. Sujud tersebut.
Abdul meminta Cecep untuk keluar dan meninggalkan rumahnya, sementara Cecep berkeras bahwa rumah itu adalah miliknya, berdasarkan surat-surat tanah yang sah. Akhirnya kedua pihak sepakat untuk berbicara di Kantor polisi.

Di Kantor polisi, Abdul melaporan Cecep sebagai pihak yang telah menempati rumah milik Abdul secara tidak sah. Setelah melalui beberapa tahap interogasi dan pemberkasan, akhirnya kasus tanah dan bangunan rumah yang berlokasi di Jl. Sujud bergulir di meja hijau.

Di dalam persidangan yang digelar beberapa tahap, Hakim memutuskan bahwa tanah dan bangunan yang berlokasi di Jl. Sujud adalah SAH MILIK Cecep. Dengan kata lain, Abdul kalah di Pengadilan. Alasan Majelis Hakim adalah, pertama, Abdul lalai dari kewajibannya memelihara hartanya sendiri sehingga bisa jatuh ke tangan orang lain yang tidak berhak. Kedua, Majelis Hakim melihat tidak ada satu pun indikasi bahwa Cecep mempunyai itikad buruk di dalam pembelian objek yang diperkarakan.

Abdul langsung lemas mendapati putusan Hakim yang tidak berpihak kepadanya, padahal Abdul telah menunjukkan surat-surat sah bahwa objek yang diperkarakan memang miliknya. Dan Abdul pun dapat menunjukkan bahwa Benny telah memalsukan surat tanah sehingga akhirnya dijual kepada Cecep. Namun toh akhirnya Majelis Hakim tidak memberi perhatian kepada argumentasi Abdul.

Mengapa Abdul kalah di persidangan?
Sebenarnya, dan seharusnya, Abdul menang di Pengadilan, karena kebenaran tetaplah kebenaran sampai kapan pun. Semua orang di sekitar Jl. Sujud pun mengetahui bahwa tanah dan rumah di Jl. Sujud itu memang sah milik Abdul, dan semua orang pun melihat bahwa Benny lah yang bersalah.

Namun Abdul telah salah langkah.
Di dalam kasus ini, Abdul melaporan Cecep. Kalau Abdul melaporan Cecep, maka tentu saja Cecep tidak bersalah sama sekali.

Seharusnya, Abdul melaporkan Benny, karena seluruh kekacauan ini berasal dari Benny. Kalau Abdul melaporkan Benny, maka pastilah Majelis Hakim akan menyatakan bahwa Benny telah bersalah karena telah memalsukan surat-surat, dan akibatnya tanah dan bangunan tersebut akan jatuh ke pihak Abdul. Konsekwensinya, Cecep harus keluar dari tanah dan bangunan yang diperkarakan. Abdul jangan melaporan Cecep, karena Cecep sama sekali tidak bersalah. Benny lah yang harus dilaporkan ke polisi.

Mengenai menghilangnya Benny sehingga tidak mungkin diajukan ke Kantor polisi mau pun Pengadilan, maka itu adalah hal lain. Yang penting Abdul melaporkan Benny atas tuduhan telah memalsukan surat. Dan untuk itu, kepolisian mau pun Kejaksaan dan juga Pengadilan dapat mengeluarkan surat panggilan kepada Benny melalui media cetak. Kalau ternyata Benny tidak muncul juga, maka Pengadilan dapat menggelar sidang secara in absentia, yaitu sidang tanpa kehadiran terlapor.

Dan dari sidang in absentia itulah, Majelis Hakim akan memutuskan bahwa Benny telah bersalah atas tuduhan memalsukan surat-surat. Dan akibat dari putusan yang memenangan Abdul ini, otomatis Cecep harus keluar dari tanah dan rumah tersebut. Abdul menang.

Nangka Dan Kisah Aki-Aki

alamandang-angga-rahardja

Pohon nangka (artocarphus heterophillus), tidak lah semua rumah mempunyainya. Apalagi kata orang, pohon nangka termasuk pohon yang paling diminati oleh kalangan jin untuk ditinggali. Buahnya terasa enak dan gurih. Buah nangka sebenarnya terbagi dua jenis, yaitu nangka buah dan nangka sayur. Nangka buah, maksudnya adalah bahwa nangka itu enak untuk dimakan sebagai buah, karena mungkin ukuran buahnya besar-besar. Sementara nangka sayur adalah nangka yang ukuran buahnya kecil-kecil sehingga lebih enak untuk disayur saja. Jangan pernah terbalik: nangka buah dijadikan nangka sayur karena nanti hasilnya tidak terasa enak saat disantap dengan nasi.

Di Tahun 80an atau menjelang 90an, rumah saya masih mempunyai pohon nangka di pekarangan. Maklumlah kala itu tempat kediaman saya masih banyak kebonnya, jadi masih rimbun – tidak seperti sekarang yang sudah menjadi hutan beton yang banyak mengorbankan pohon-pohon ditebang untuk dibangun rumah. Itulah jaman.

Pohon nangka mempunyai spesifikasi biologis di mana pohon ini akan terus berbuah; jadi berbuahnya tidak mengenal istilah musim atau periode. Jadinya seperti pohon belimbing yang terus berbuah. Karena terus berbuah, maka pastilah kita akan selalu melihat ada buah-buah nangka bergelantungan di kayu sang pohon, dari berbagai ukuran. Kalau ada yang sudah matang ya sudah dipetik saja untuk disantap. Tuhan memang maha pemurah!

Kala itu, ada seorang aki-aki lalu-lalang mondar-mandir di depan rumah. Dan kalau sedang melintas tepat di depan rumah pasti si aki-aki itu mendongakkan wajahnya ke pohon nangka. Kebetulan kala itu ibu saya (almh) sedang nangkring-nangkring di pekarangan menikmati desau angin siang. Kala itu saya masih kecil lagi lucu-lucunya.

Sang aki-aki itu menyapa sang ibu dengan gaya bahasa lokal. Kemudian aki-aki itu berkata bahwa ia ingin menawarkan bisnis, yaitu si aki-aki akan memberikan sejumlah uang kepada ibu saya, dan sebagai imbalannya aki-aki akan mengambil / memetik buah nangka itu untuk dia jual di pasar. Begini dia bilang kala itu kepada ibu saya, “Bu, saya bayarin deh buah nangkanya. Ibu mau saya bayar berapa? Daripada tidak dipetik-petik lebih baik saya beli ….. Bagaimana?”.

Ibu saya tentu saja menolak. Pertama karena tidak butuh uang (Alhamdulillah kami keluarga kerkecukupan dengan papah sebagai PNS). Kedua, karena kami sekeluarga memang tidak mempunyai niat berdagang atau menjual sesuatu. Ketiga, konsep bisnis model tersebut masih membuat kami terheran-heran: kok ada sih ya bisnis gaya seperti itu?

Keesokan harinya aki-aki itu kembali lagi, tampaknya dia masih penasaran dengan jawaban ibu saya. Berkali-kali dengan bahasa standar ibu saya menegaskan bahwa nangka di pekarangannya tidak dijual. Ternyata aki-aki itu insist sekali ingin membayar ibu saya untuk memetiki buah nangka.

Setelah berdiskusi dengan papah, akhirnya disepakati untuk menerima saja tawaran bisnis si aki-aki ini. Daripada setiap hari direcoki oleh si aki-aki ini, akhirnya ibu saya menerima tawaran si aki-aki. Keesokan harinya, benar saja si aki-aki datang lagi dan memberikan penawaran yang sama dengan yang kemarin, itu pun dengan gaya bahasa yang sangat insist. Sekejap aki-aki itu langsung menyebut nilai rupiah – saya tidak tahu persis. Ibu saya minta ditambah. Ya sudah daripada tawar-menawar alot, disepakati saja nilai rupiahnya pada level sekian. Uang pun beralih ke tangan ibu saya. Setelah itu, si aki-aki langsung menyingsingkan lengan bajunya, dan dengan sigap memanjat kayu-kayu kekar dari sang pohon sambil menenteng karung goni yang kosong.

Ibu saya langsung masuk saja ke rumah mencari tempat yang teduh, dan membiarkan si aki-aki sendirian memetiki buah nangka yang sudah menjadi miliknya. Tak lama kemudian aki-aki turun dari pohon sambil menggotong karung goni yang terlihat sudah penuh. Aki-aki minta pamit kepada ibu saya karena ia sudah selesai dengan pekerjaannya.

Ibu saya keluar menemui aki-aki itu. Namun ibu terheran-heran memandangi karung goni itu, mengapa penuh sekali? Ia intip sedikit karung goni itu untuk melihat berapa banyak buah yang sudah diambil si aki-aki. Ibu saya semakin terheran-heran. Kemudian ibu saya mengalihkan pandangannya ke atas ke pohon nangka itu. Ya Tuhan! Semua buah nangka yang masih kecil, alias masih pentil pun juga digasak habis oleh sang aki-aki, tidak bersisa sebutir pun! Apa urusannya dengan buah yang kecil-kecil? Bukankah belum enak dimakan?

Ibu saya langsung menukas kepada si aki-aki, “kok yang kecil-kecil juga dipetik, bang? Kan belum enak dimakan?”. Apa jawab si aki-aki itu? Begini katanya, “kan seluruh buah itu sudah saya bayar. Jadi semua buah itu adalah hak saya, terserah saya mau saya ambil atau tidak”.

Ibu saya pun langsung tercekat, tidak bisa lagi berkata-kata. Marah.

Kesimpulan.

Aki-aki pun segera berlalu, dan cerita berakhir sampai di situ.

Mengapa aki-aki itu juga menggasak buah nangka yang masih kecil-kecil? Bukankah mereka belum terasa enak dimakan? Pahit, sepet, kelet, getir, segala macam yang berhubungan dengan tidak enak.

Jawaban untuk pertanyaan tersebut hanya satu: kepicikan. Picik.

Pertama.

Aki-aki itu berbuat demikian karena ia merasa seluruh buah yang ada di pohon sudah ia bayar; artinya sudah ia beli. Dengan kata lain, seluruh buah ini adalah termasuk buah-buah yang masih kecil, yang masih pentil. Jadi di dalam fikirannya, seluruh buah itu dan yang masih kecil-kecil sekali pun, adalah miliknya. Jadi dia berhak berbuat demikian.

Kedua.

Seluruh buah yang ada di pohon itu sudah ia beli, yang mana itu artinya seluruh buah di pohon adalah miliknya, sang aki-aki. Dengan kata lain, ibu saya jadi tidak boleh memiliki lagi. Konsekwensinya adalah, kalau ada buah-buah yang kecil itu tidak diambil oleh aki-aki, buah itu akan kembali menjadi milik ibu saya, padahal buah-buah itu sudah dibayar oleh aki-aki kepada ibu saya.

Di sinilah letak kepicikan si aki-aki. Aki-aki tetap akan menggasak buah-buah yang masih kecil, hanya karena supaya buah-buah itu tidak memberi keuntungan kepada ibu saya, dengan dalih bahwa aki-aki sudah membelinya. Bisa dipastikan di tengah jalan buah-buah yang kecil itu pasti akan dibuang oleh aki-aki itu karena memang tidak berguna, dan hanya memberatkan perjalanannya saja. Yang penting, buah-buah itu sudah dibayar si aki-aki, dan ibu saya tidak boleh mendapat keuntungan dari buah-buah itu …….. Picik.

Keuntungan buat si aki-aki tidak ada – dari menggasak buah-buah yang kecil itu, memang benar. Namun kemudian toh aki-aki itu juga tidak ingin membuat ibu saya mendapat keuntungan dari buah-buah kecil itu, karena buah-buah itu sudah dibayar oleh aki-aki. Jadi solusinya, menurut si aki-aki, buah yang kecil-kecil itu akan tetap ia gasak, namun kemudian akan ia buang di tengah jalan …. picik – picik – picik ….

Kontra picik.

Kalau kita mau berfikir secara dewasa, tentulah kejadiannya tidak akan jadi seperti itu. Si aki-aki tidak akan memetik buah yang masih kecil-kecil itu karena toh tidak enak rasanya. Dan kalau toh buah yang kecil-kecil itu akan tumbuh besar sehingga menjadi keuntungan buat ibu saya, maka apakah itu salah? Kita harus ingat bahwa semua orang pasti sudah ada rejekinya, yang penting kita tidak berbuat aniaya.

Kalau toh buah-buah yang kecil itu di kemudian hari menjadi keuntungan buat ibu saya, artinya buah itu akan menjadi rejeki ibu saya. Kita ingat bahwa kita tidak boleh menghalangi rejeki orang (asalkan dengannya rejeki kita tidak terganggu). Sementara aki-aki di dalam kasus ini tidaklah demikian. Aki-aki itu merasa bahwa ia tidak ingin buah-buah itu kelak akan menjadi rejeki buat ibu saya. Pertanyaannya adalah, mengapa aki-aki itu mensiriki rejeki orang lain? Dan pun mensiriki rejeki orang itu dengan cara berbuat aniaya dan kerusakan? Supaya ibu saya tidak dapat rejeki, aki-aki ini berbuat kerusakan (yaitu membuangi buah-buah yang masih kecil), padahal objek itu sendiri tidak mendatangkan keuntungan buat dirinya.

Inilah yang disebut dengan picik.